Anda di halaman 1dari 17

1 | P a g e

MAKALAH ILMU SATWA LIAR & HEWAN


AQUATIK
Tingkah Laku Keseharian dan Populasi Lutung
Jawa di Indonesia

Disusun Oleh :
Rahadian Satrio Prabowo (125130101111016)
PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014



2 | P a g e

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam saya sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya
membahas tentang Tingkah Laku Keseharian dan Populasi Lutung Jawa di Indonesia.
Makalah ini dibuat dalam rangka melengkapi tugas yang di berikan dari mata kuliah Ilmu Satwa Liar
dan Hewan Aquatik.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun
selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.




Malang, 20 April 2014





ii

3 | P a g e

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................4
1.2 Tujuan .............................................................................................................5
BAB II ISI
2.1 Klasifikasi Lutung Jawa ....6
2.2 Morfologi, Anatomi dan Fisiologi 7
2.3 Tingkah Laku dan Makanan ....8
2.4 Habitat ..10
2.5 Populasi ........11
2.6 Potensi Ancaman dan Gangguan.12
2.7 Pelestarian Lutung Jawa...13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................,................................15
3.2 Saran ...15
DAFTAR PUSTAKA
iii

4 | P a g e

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Satwa liar adalah binatang yang hidup di dalam ekosistem alam. Pola pengelolaan satwa liar
telah berkembang dengan pesat, yaitu bukan saja untuk keperluan perlindungan tetapi juga
pemanfaatan yang lestari. Pemanfaatan satwa liar ini meliputi untuk kegiatan penelitian,
pendidikan , pariwisata , rekreasi, bahkan jika memungkinkan untuk beberapa jenis satwa tertentu dapat
dilakukan pemanenan sebagai komoditi ekspor.Pada kenyataannya satwa liar memiliki nilai dan manfaat
yang sangat besar bagi kehidupan manusia, maka ruang lingkup pengelolaannya pun harus
diperluas (Ikrar,2011)
Jumlah satwa liar pada habitatnya di alam bebas (hutan), merupakan salah satu
bentuk kekayaan dan keanekaragaman (biodiversity) sumberdaya alam hayati, karena itu
perlu dilakukan perlindungan. Untuk dapat melakukan perlindungan perlu diketahui
jumlah dan sebarannya pada habitat satwaliar. Penentuan jumlah satwaliar tersebut dapat
dilakukan dengan berbagai metoda sensus yang memudahkan kita untuk melakukan
estimasi populasinya. Walaupun belum dapat diketahui jumlahnya secara pasti, namun
metode ini merupakan cara untuk mendata populasi mendekati jumlah sebenarnya di
habitat hidup satwa liar (Kurniawan,2007).
Air dapat dikatakan sumber dari segala kehidupan, tidak ada makhluk hidup yang
survive dalam kehidupan di alam tanpa keberadaan air, termasuk manusia. Begitu banyak
makhluk hidup yang manggantungkan hidupnya di air, dari mulai untuk kebutuhan
minum sampai sebagai habitat/ tempat hidup. Sebagian besar makhluk hidup
menggunakan air sebagai habitat hidup, baik mikroflora, mikrofauna maupun
makrofauna. Dengan demikian tumbuhan aquatic juga disebut tumbuhan hidrophytic atau
hydrophytes adalah tumbuhan yang telah disesuaikan untuk tinggal di lingkungan
perairan. Ekosistem perairan di bagi atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
Habitat lutung Jawa meliputi hutan primer, hutan sekunder, hutan pantai, hutan
mangrove maupun hutan hujan tropis. Lutung Jawa memiliki daerah jelajah yang cukup
luas sehingga memerlukan koridor untuk pergerakannya. Menurut Supriatna dan

5 | P a g e

wahyono (2000), daerah jelajahnya berkisar antara 15-23 ha. Hal ini dipengaruhi oleh
jenis pakannya, menurut Clutton-Brock and Harvey (1977), primata yang hanya
memakan daun akan memiliki daerah jelajah dan bentuk tubuh yang kecil dibandingkan
dengan primata yang memakan beraneka ragam seperti daun, bunga dan buah.
Penyebaran lutung Jawa di Indonesia meliputi Pulau Jawa, Bali dan Lombok. Salah
satunya berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di TNBTS,
lutung Jawa ditemukan pada Blok Ireng-Ireng yang merupakan habitat Lutung jawa asli
dan Lutung jawa hasil pelepasliaran oleh PPS Petung Sewu akibat overpopulasi pada
tahun 2006 sebanyak 41 ekor yang dilepas pada 14 titik. Selain ditemukan di Blok Ireng-
Ireng, lutung Jawa dapat ditemukan pada jalur wisata Coban Trisula, Resort Coban
Trisula.
Ancaman yang dapat mengganggu kondisi habitat lutung Jawa di TNBTS yang
disebabkan oleh manusia yaitu pengambilan hasil hutan kayu, sedangkan yang
disebabkan oleh alam antara lain longsor dan pohon tumbang. Cover merupakan salah
satu komponen habitat yang penting bagi kehidupan Lutung jawa karena cover
merupakan tempat Lutung jawa dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti makan,
minum, berkembang biak, bermain, melindungi diri dari serangan predator, manusia
bahkan kelompok primata lainnya.
Apabila covernya terganggu atau rusak maka lutung Jawa tidak dapat melakukan
aktivitas hariannya dan akan berpindah ke tempat lain yang dapat menyediakan
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apabila tidak ada tempat yang dapat menyediakan
kebutuhan hidup lutung Jawa maka jumlah populasinya akan semakin menurun.
Berdasarkan hal tersebut, maka penting dilakukan suatu penelitian mengenai karakteristik
cover lutung Jawa sebagai salah satu acuan dalam menentukan pengelolaan cover agar
populasi dan habitatnya tetap lestari sampai masa yang akan datang (Idris,2004).

1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui karekteristik keseharian dari lutung jawa
b. Untuk mengetahui populasi dan cara pelestarian lutung jawa



6 | P a g e

BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi Lutung Jawa
Klasifikasi lutung Jawa menurut Grove (2001) adalah sebagai berikut.
Kingdom : Animalia
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Sub ordo : Arthropoidea
Famili : Cercopithecidae
Sub famili : Colobinae
Genus : Trachypithecus
Spesies : T. auratus Geoffroy 1812
Lutung Jawa dalam bahasa latin disebut Trachypithecus auratus merupakan
salah satu jenis lutung asli (endemik) Indonesia. Sebagaimana spesies lutung lainnya,
lutung jawa yang bisa disebut juga lutung budeng mempunyai ukuran tubuh yang kecil,
sekitar 55 cm, dengan ekor yang panjangnya mencapai 80 cm. Lutung jawa atau lutung
budeng terdiri atas dua subspesies yaitu Trachypithecus auratus auratus dan
Trachypithecus auratus mauritius. Subspesies Trachypithecusauratus auratus (Spangled
Langur Ebony) bisa di dapati di Jawa Timur, Bali, Lombok, Palau Sempu dan Nusa
Barung. Sedangkan subspesies yang kedua, Trachypithecus auratus mauritius (Jawa
Barat Ebony Langur) dijumpai terbatas di Jawa Barat dan Banten. Lutung jawa atau
lutung budeng dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan Lutung, Ebony Leaf Monkey,
Javan Langur. Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin) lutung ini dikenal sebagai
Trachypithecusauratus yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti
Trachypithecuskohlbruggei (Sody, 1931), Trachypithecus maurus (Horsfield, 1823),
Trachypithecuspyrrhus (Horsfield, 1823), Trachypithecus sondaicus (Robinson & Kloss,
1919), danTrachypithecus stresemanni Pocock, 1934. Lutung memiliki warna rambut
hitam diselingi warna keperakan. Di kepalanya terdapat helaian rambut yang menjuantai

7 | P a g e

kedepan membentuk jambul. Anak lutung yang baru lahir berwarna kuning jingga dan
tidak berjambul. Setelah meningkat dewasa warnanya berubah menjadi hitam kelabu.
Bekantan adalah monyet serupa lutung yang hidungnya panjang dan rambutnya berwarna
coklat kemerahan. Monyet ekor panjang juga serupa dengan lutung namun memiliki
warna tubuh abu-abu tidak berjambul. Setelah meningkat dewasa warnanya berubah
menjadi hitam kelabu. Lutung hanya melahirkan satu ekor anak setiap kelahiran.
2.2 Morfologi, Anatomi dan Fisiologi
Secara umum cirri - ciri morfologi pada lutung dewasa di tandai dengan rambut
penutup berwarna hitam sampai hitam keperakan. Bagian atas tubuh dari lutung berwarna
kelabu kecokelat - cokelatan gelap sampai kehitam-hitaman,dengan masing masing
rambut putih di ujungnya,memberikan warna kilap perak mantep kulit. Rambut rambut
pada kaki bawah dan punggung paha adalah kelabu dan kaki dapat berwarna keperak-
perakan dari pada punggung. Perut dan bagian sebelah dalam dari paha kelabu pucat.
Tangan dan kaki berwarna hitam. Daerah muka yang tidak berambut berwarna hitam.
Pada beberapa individu dapat mempunyai moncong yang berwarna putih, tidak terdapat
cincin yang mengelilingi mata. Cambang keputih-putihan dan cukup panjang, hamper
menutupi telinga, jambul rapid an tinggi, sangat jelas pada jantan dewasa . Lutung jawa
jantan dan betina memiliki perbedaan yang terletak pada bagian pelvic (selangkangan),
yang mana pada betina berwarna putih pucat, sedangkan jantan berwarna hitam
(Suwono,2006).
Lutung Jawa mempunyai keistimewaan yaitu, perutnya besar dan menggantung
ke bawah. Ini karena jenis makanannya yang terdiri dari daun-daunan, pucuk daun serta
tidak mempunyai kantung makanan pipi. Jantan dewasa pemimpin kelompok mempunyai
ukuran tubuh yang relatif lebih besar dari pada betina dewasa, tetapi kadang-kadang juga
tidak. Gigi taring jantan dewasa lebih keras dan tajam, serta gigi geraham yang besar
yang sudah terspesialisasi untik pemakan daun.

8 | P a g e

Lutung memiliki anatomi tubuh dengan susunan tulang pada tubuhnya yang
panjang dan lebar. Lutung memiliki kelenjar air ludah yang besar dan saluran pencernaan
yang kompleks. Trachypithecus auratus soncaidus sama seperti jenis-jenis lainnya yang
termasuk colobinae, yaitu memiliki ciri khas pada struktur lambung yang kompleks dan
merupakan bentuk dasar pemisahan taksonomis.


2.3 Tingkah Laku dan Makanan
Lutung hidup berkelompok dengan dengan jumlah teman antara 6-23 ekor. Dalam
setiap kelompok terdapat jantan sebagai pimpinan kelompok, dan beberapa betina serta
anak-anak yang masih dalam asuhan induknya. Lutung merupakan hewan yang aktif di
siang hari. Jantan dominan mendominasi anggota kelompok dalam hal perlindungan,
pengamanan dalam pergerakan, dan merawat. Jantan selalu menjaga anggota
kelompoknya dari berbagai gangguan yang berasal dari luar atau dari kelompok lain.
Umumnya jantan mengeluarkan suara dan melakukan gertakan dengan suara dan
perubahan mimik yang menunjukkan marah. Lutung jantan terkadang ditemukan

9 | P a g e

menyendiri. Hal ini karena lutung tersebut terusir dari kelompoknya dan belum
menemukan anggota kelompok. Ketika sedang marah, lutung akan memperingatkan
lawannya dengan menggerakkan kepalanya naik turun dan matanya menjadi sangat bulat.
Jantan dominan melindungi anggota kelompoknya bila ada pemburu yaitu dengan cara
berteriak untuk menarik perhatian pemburu. Selagi pemburu memusatkan perhatiannya
ke jantan tersebut, anggota kelompok akan bergerak menjauh dari pemburu. Setelah
anggota kelompok menjauh, jantan mendekat kepada anggota kelompoknya dengan
mengambil jalan pintas (Kurniawan,2007).
Menurut beberapa penelitian, lutung memakan lebih dari 66 jenis tumbuhan yang
berbeda. Sebagian besar makanan lutung adalah daun, sebagian kecil adalah buah dan
bunga. Terkadang memakan serangga dan bagian lain dari tumbuhan seperti kulit kayu.
Beberapa jenis tumbuhan yang disukai lutung antara lain kaliandra, sapen, dadap
cangkring dan anggrung. Lutung sangat suka memakan daun dan buah yang berasa asam
dan sepat. Lutung sedikit sekali memerlukan air untuk minum karena kebutuhan air
hariannya sudah terpenuhi dari daun dan buah-buahan yang dimakannya (Clitton,1977).
Selain memakan daun, lutung Jawa juga memakan buah yaitu pada Ficus dan
Jaraan (Castanopsis sp). Tidak jarang pula ditemui lutung Jawa turun ke bawah untuk
memakan kecubung gunung (Brugmansia Montana) yang banyak terdapat di pinggir
jalan. Selain itu, ditemukan di permukaan tanah bekas gigitan lutung Jawa pada bongkol
Anggrek epifit yang banyak terdapat di atas pohon dan daun Surenan (Garuga
floribunda). Daun Pohon Surenan mengandung tanin yang banyak khususnya pada tunas
daun sehingga daun mudanya yang baru tumbuh banyak disukai lutung Jawa. Daun
mudanya lebih lembut dan lebih tipis dibandingkan dengan daun tuanya. Tata daunnya
spiral (berseling). Daun Pohon Anggrung banyak mengandung zat besi seperti yang
dimiliki Bayam. Tata daunnya alternate dan merupakan daun tunggal. Daun mudanya
keras dan berbulu sedangkan daun tuanya lebih lembut. Buah pada pohon Anggrung
jarang dimakan oleh lutung Jawa karena bentuknya yang sangat kecil dengan diameter 13
mm (Davies,1988).

10 | P a g e

Pakan lutung Jawa kelompok kedua lebih bervariasi yaitu meliputi daun dan buah,
sedangkan pada kelompok pertama pakannya hanya meliputi daun. Daun memiliki nilai
gizi lebih rendah jika dibandingkan dengan bunga dan buah namun karena daun memiliki
kelimpahan yang tinggi dan mudah didapat, maka lutung Jawa cenderung memilih
memakan daun. Nilai gizi yang rendah pada daun menyebabkan lutung Jawa harus
memakan jumlah daun yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energi khususnya
pada pagi hari untuk memulai aktivitas dan sore hari pada saat menjelang tidur
(Kool,1986).


2.4 Habitat
Lutung hidup di hutan dengan berbagai macam variasi mulai dari hutan bakau di pesisir,
hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi. Terkadang lutung juga mendiami daerah
perkebunan. Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Terkadang lutung juga turun ke
tanah untuk mencari serangga tetapi hal ini sangat jarang terjadi. Daerah jelajah Lutung minimal
15 Ha atau setara dengan 350 kali luas lapangan basket. Area bermain dan mencari makan Lutung
dapat mencapai 1.300 meter atau setara dengan tiga kali lapangan basket. Lutung lebih sering

11 | P a g e

meloncat saat berpindah pohon. Kadang-kadang mereka juga berjalan dengan keempat
anggota tubuhnya saat bergerak di cabang pohon yang besar atau saat turun di tanah.
Ekornya yang panjang menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak jatuh saat berjalan di
cabang pohon. Lutung akan memilih pohon tidur yang dekat dengan sungai atau sumber
air (bila ada). Mereka akan duduk di dahan atau percabangan pohon sambil melipat kedua
kakinya dan menundukkan kepalanya tanpa berpegangan. Lutung ini relatif lebih mudah
ditemukan di beberapa hutan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Lombok. Umumnya
mereka masih aman hidup di dalam kawasan pelestarian seperti Taman Nasional Baluran,
Meru Betiri, Alas Purwo, Bali Barat dan Rinjani (Suwelo,1982).
2.5 Populasi
Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu primata endemik
pulau Jawa yang berstatus vulnerable (rentan) dan termasuk salah satu jenis satwa yang
terdaftar dalam Appendiks II dokumen CITES (Massicot, 2000), yakni satwa yang
dibatasi perdagangannya. Namun demikian, keberadaan lutung jawa semakin terancam
karena penurunan luas habitat alami bagi lutung jawa dari tahun ke tahun dan maraknya
perdagangan lutung di kota-kota Pulau Jawa. Total jumlah lutung yang diperdagangkan
selama lima bulan pengamatan (Januari - Mei 1999) di pasar-pasar Jawa Timur
diperkirakan 222 ekor (Konservasi Satwa Bagi Kehidupan, 2000). Saat ini populasi
lutung jawa terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki habitat yang relatif tidak
terganggu, salah satu diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGP) di Jawa Barat. Lutung jawa merupakan salah satu bagian dari total
keanekaragaman hayati Indonesia yang terdegradasi secara terus-menerus. Melihat
kondisi keanekaragaman hayati dan lingkungan yang semakin memburuk dari tahun ke
tahun, maka perlu dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan
konservasi keanekaragaman hayati di masa sekarang maupun masa mendatang.
Pulau Jawa dan Bali yang kondisi populasi dan habitatnya semakin
memprihatinkan akibat perambahan hutan, perdagangan illegal dan perburuan liar.
Menurut red list IUCN tahun 2004, status konservasi lutung Jawa adalah endanger dan

12 | P a g e

termasuk dalam daftar apendiks II CITES. Penyebaran lutung Jawa di Indonesia meliputi
Pulau Jawa, Bali dan Lombok. Salah satunya berada di Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru (TNBTS). Ancaman bagi populasi dan habitat lutung Jawa di TNBTS yaitu
pengambilan hasil hutan kayu, longsor dan pohon tumbang. Adanya ancaman tersebut
akan menyebabkan habitatnya terganggu. Cover merupakan salah satu komponen habitat
yang penting karena cover merupakan tempat lutung Jawa dalam melakukan aktivitasnya
sehari-hari (Suwelo 1982).
2.6 Potensi Ancaman dan Gangguan
Potensi ancaman dan gangguan yang terjadi di TNBTS adalah adanya aktivitas
manusia yang melintasi jalan dari Ranupani ke Burno atau sebaliknya dengan
menggunakan sepeda motor maupun truk sehingga memudahkan akses untuk melakukan
perambahan kayu. Upaya dalam mengatasi perambahan kayu telah dilakukan oleh pihak
pengelola dengan mengadakan patroli gabungan. Perambahan kayu kerap dilakukan
karena kebutuhan masyarakat akan hasil hutan kayu yang masih tinggi khususnya bagi
masyarakat Desa Ranupani untuk menghangatkan badan dan memasak. Selain manusia,
ancaman lainnya adalah Macan tutul dan Babi hutan. Lutung Jawa memiliki tingkat
adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya sehingga aktivitas manusia yang
melintasi jalan raya tidak mengganggu kehidupannya. Namun apabila manusia terlihat
mengamati lutung Jawa dan membuatnya terganggu, maka lutung Jawa akan berlindung
dan menjauhi manusia. Menurut Idris (2004), lutung Jawa yang sudah terbiasa dengan
keberadaan manusia tidak akan memperlihatkan rasa takutnya dengan menjauhi manusia
seperti pada daerah jelajahnya di Blok Barubenteng, Taman Nasional Gede Pangrango
yang merupakan jalur untuk rekreasi berupa kegiatan pendakian dan perkemahan.
Berdasarkan informasi petugas dan pengamatan yang dilakukan, tidak ditemukan adanya
perburuan liar yang dilakukan oleh masyarakat terhadap lutung Jawa. Kesibukan di lahan
pertanian menyebabkan masyarakat tidak berupaya melakukan perburuan liar.
Masyarakat Desa Ranupani lebih membutuhkan kayu Dari pada daging lutung Jawa yang
dapat dikonsumsi atau diperjual belikan (Idris,2004).


13 | P a g e

2.7 Pelestarian Lutung Jawa
Keberadaan lutung Jawa akan semakin mendekati kepunahan. Hal ini terbukti dari
rusaknya habitat alaminya akibat perambahan hutan, masih tingginya perburuan liar dan
perdagangan satwa secara ilegal. Menurut Profauna Indonesia (2007) masih tersisa
delapan titik habitat asli lutung Jawa di Jawa Timur yakni di gunung Semeru sisi Barat,
Coban Kelurahan Paranglejo Kecamatan Dau, Hutan Cangar bagian bawah, Cemoro
Kandang Gunung Kawi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Alas
Purwo, Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Pada umumnya, tingkat perburuan liar terhadap lutung Jawa yang masih relatif
tinggi. Menurut Profauna Indonesia (2007), daging lutung Jawa biasanya dijual ke Bali
dan sedikitnya 2500 ekor lutung Jawa setiap tahunnya diperdagangakan secara ilegal di
Pulau Jawa, Bali dan Lombok. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 150.000-
250.000/ekor. Lutung Jawa adalah satwa yang dilindungi dan sesuai UU Nomor 5 tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sehingga tidak
boleh diperjualbelikan kecuali diberikan izin oleh Menteri Kehutanan dengan jumlah
kuota tertentu. Di TNBTS, tidak ditemukannya perburuan liar baik yang dilakukan
masyarakat setempat maupun masyarakat luar.
Ketegasan aparat dalam mengatasi permasalahan perdagangan lutung Jawa secara
ilegal perlu dilakukan mengingat kondisi populasi dan habitat yang semakin memburuk.
Pemerintah, masyarakat serta LSM domestik dan mancanegara bekerjasama dan berusaha
dalam menjaga kelestarian lutung Jawa sehingga perdagangan illegal, perambahan hutan
dan perburuan liar dapat diminimalisir. Usaha yang telah dilakukan meliputi penggagalan
perdagangan ilegal oleh pemerintah melalui bea cukai pada saat pemeriksaan di bandara
dan masyarakat yang melaporkan adanya pemeliharaan lutung Jawa yang tidak melalui
prosedur (Alikodra,1990).
Kegiatan lainnya sebagai upaya penyelamatan lutung Jawa adalah kerjasama
antara LSM domestik dengan LSM mancanegara dalam mengembangkan habitat ex-situ
(penangkaran) untuk meningkatkan populasi dan setelah berhasil berkembangbiak dapat

14 | P a g e

di Restrocking ke habitat aslinya. Selain itu, hasil keturunan F2 dapat diperjualbelikan
sesuai dengan kebutuhan pasar dengan izin tertentu. Kerjasama ini perlu terus dilakukan
sehingga keberadaan lutung Jawa dapat lestari sampai masa yang akan datang.




























15 | P a g e

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lutung Jawa dalam bahasa latin disebut Trachypithecus auratus merupakan
salah satu jenis lutung asli (endemik) Indonesia. Sebagaimana spesies lutung lainnya,
lutung jawa yang bisa disebut juga lutung budeng mempunyai ukuran tubuh yang kecil,
sekitar 55 cm, dengan ekor yang panjangnya mencapai 80 cm. Lutung memiliki warna
rambut hitam diselingi warna keperakan. Di kepalanya terdapat helaian rambut yang
menjuantai kedepan membentuk jambul. Anak lutung yang baru lahir berwarna kuning
jingga dan tidak berjambul. Setelah meningkat dewasa warnanya berubah menjadi hitam
kelabu. Bekantan adalah monyet serupa lutung yang hidungnya panjang dan rambutnya
berwarna coklat kemerahan. Lutung hidup berkelompok dengan dengan jumlah teman
antara 6-23 ekor. Dalam setiap kelompok terdapat jantan sebagai pimpinan kelompok,
dan beberapa betina serta anak-anak yang masih dalam asuhan induknya. Lutung
merupakan hewan yang aktif di siang hari. Jantan dominan mendominasi anggota
kelompok dalam hal perlindungan, pengamanan dalam pergerakan, dan merawat. , lutung
memakan lebih dari 66 jenis tumbuhan yang berbeda. Sebagian besar makanan lutung
adalah daun, sebagian kecil adalah buah dan bunga. Terkadang memakan serangga dan
bagian lain dari tumbuhan seperti kulit kayu.
3.2 Saran
Untuk mengatasi permasalahan habitat yang menyebabkan cover lutung Jawa
terganggu ataupun rusak dapat dilakukan upaya penanaman. Jenis pohon yang dapat
ditanam adalah Pohon Anggrung yang merupakan tumbuhan pioneer, cepat tumbuh,
percabangan melebar dan sesuai untuk daerah peralihan (edge). Selain itu, Pohon
Anggrung merupakan salah satu jenis pohon pakan yang disukai lutung Jawa di TNBTS.



16 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwa-liar Jilid I. Departemen Pendidikandan
Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat
Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Per-tanian Bogor.
Clutton-Brock and Harvey. 1977. Colobine Diet and Social Organization. Journal.
10:93-98

Davies AG, Bennett EL and Waterman PG. 1988. Food selection by two south-east Asian
colobine monkeys (Presbytis rubicund and Presbytis melalophos) in
relation to plant chemistry. Biological Journal of the Linnean Society.
Vol. 34, 33-56.

Idris I. 2004. Pola Pergerakan Lutung Jawa di Pos Selabintana, Taman Nasional Gede
Pangrango, Jawa Barat. Program Diploma Konservasi Sumber daya
Hutan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Kool KM. 1986. Ranging and feeding behaviour of the silver-leaf monkey Presbytis
cristata at Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. (abstract) Primate
Report. Vol. 14, 244.

Kurniawan. SM. 2007. Studi Populasi Lutung (Presbytis cristata Raffles) di Taman
Nasional Baluran. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Profauna Indonesia. 2007. Lutung Jawa. Available URL : Http/www.google.com (Di
akses tanggal 19 april 2014)

Suwono. 2006. Analisis Habitat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Terhadap
Pelepasliaran Lutung Jawa (Tracypithecus auratus) . Institut Pertanian
Malang.

Suwelo IS. 1982. Pola Pengelolaan Lutung (P. cristata) di Habitat Alaminya di
Indonesia . Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam. Bogor.



17 | P a g e