Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN HEWAN

FERTILISASI MENCIT







Nama : Rifki Muhammad Iqbal
NIM : 1211702067
Nama Asisten : Dewi Yulinda
Nama Dosen : Ucu Julita, M.Si.
Tanggal Praktikum : 16 November 2013
Tanggal Pengumpulan : 13 Desember 2013



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Semua mahluk hiup mempunyai kemampuan untuk menghasilkan oraganisme baru
yng sama dengan dirinya, ini berkaitan dengan reproduksi. Kata reproduksi menyiratkan
replikasi, memang benar bahwa reproduksi biologis hampir selalu menghasilkan semacam
duplikat induknya. Akan tetapi reproduksi seksual yang dilakukan oleh mayoritas hewan
menghasilkan keanekaragaman yang diperlukan untuk kelestarian jeninya di dunia yang terus
menerus berubah.
Fertilisasi merupakan peleburan antara inti sel telur dengan inti spermatozoa
sehingga tumbuh menjadi individu baru yang disebut zigot. Sel gamet, yaitu sperma dan sel
telur yang menyatu selama fertilisasi atau pembuahan, merupakan jenis sel yang sangat
terspesialisasi yang dihasilkan melalui serangkaian peristiwa perkembangan yang kompleks
dalam testes dan ovarium induk. Fungsi utama fertilisasi adalah untuk menyatukan kumpulan
kromosom haploid dari dua individu menjadi sebuah sel diploid tunggal, yaitu zigot
(Campbell, 2004).
Beberapa tahap fertilisasi pada mamalia yaitu, sperma bermigrasi melalui lapisan
pembungkus sel folikel dan berikatan dengan molekul reseptor pada zona pelusida sel telur.
Pengikatan tersebut menginduksi reaksi akrosomal, di mana sperma membebaskan enzim-
enzim pencernaan ke dalam zona pelusida. Dengan bantuan enzim hidrolitik ini , sperma
mencapai membran plasma sel telur, dan protein membran sperma berikatan dengan reseptor
pada membran sel telur. Membran plasma menyatu, yang memungkinkan isi sel sperma
memasuki sel telur. Enzim yang dibebaskan selama reaksi kortikal sel telur mengeraskan
zona pelusida, yang sekarang berfungsi sebagai penghambat terjadinya polispermia
(Campbell, 2004).
Fertilisasi merupakan proses peleburan sel keamin jantan dengan sel kelamin betina
menghasilkan zygote. Proses fertilisasi melaui beberapa aktivitas yaitu:
1. Hubungan (kontak), serta pengenalan sperma dan sel telur
2. Pengaturan pemasukan sperma ke dalam sel telur
3. Peleburan bahan genetik dari sperma ke dalam sel telur
4. Aktivasi metabolik telur untuk untuk memulai perkembangan
Ada dua jenis fertilisasi, yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal. Fertilisasi
eksternal terjadi di luar tubuh, sedangkan fertilisasi internal terjadi di dalam tubuh. Pada
kebanyakan fertilisasi, bagian kepala spermatozoa masuk ke bagian tengah sel telur (miedle
piece). Terjadi penggabungan inti dan sitoplasma. Sitoplasma spermatozoon sangat sedikit
melebur dengan ooplasma yang dapat menyebebkan perubahan fisiologis untuk menunjang
proses fertilisasi. Setelah inti spermatozoon di dalam telur menjadi besar, kromosomnya
bergabung dengan sel telur. Terjadi pembelahan mitosis dengan terbentuknya amphiaster
pembelahan yang timbul dari bagian tengah spermatozoon (Nurhayati, 2004).
Setelah inti spermatozoon di dalam telur menjadi besar dan kromosom bergabung
dengan kromosom telur. Pembelahan mitosis terjadi denag terbentuknya amphiaster
pembelahan yang timbul dari bagian tengah spermatozoon ( middle piece ) (Nurhayati, 2004).
Tempat fertilisasi pada hampir semua ternak adalah bagian awal ampula tuba fallopi.
Sewaktu masuk dalam ampula, selubung ovum, zona pelucida, masih dikelilingi oleh
sekelompok sel-sel granulosa yang disebut sel-sel cummulus. Pada ternak-ternak mamalia
kecuali babi, sel-sel cummulus menghilang dari ovarium dalam beberapa jam setelah ovulasi
(Nurhayati, 2004).
Fertilisasi pada berbagai jenis dapat dibedakan berdasarkan tempat berlangsungnya,
yaitu fertilisasi secara internal, dan fertilisasi secara eksternal. Fertilisasi secara eksternal
adalah fertilisasi yang berlangsung di luar tubuh induknya. Jenis fertilisasi ini banyak
dijumpai pada hewan-hewan akuatik, antara lain berbagai jenis ikan, katak, dan sebagainya.
Fertilisasi secara internal adalah fertilisasi yang berlangsung di dalam tubuh induknya.
Fertilisasi memiliki beberapa fungsi antara lain transmisi gen dari paternal dan maternal
kepada keturunannya, merangsang sel telur untuk berkembang lebih lanjut, menghasilkan
terjadinya syngami, yaitu peleburan sifat genetis paternal dan maternal, mempertahankan
kondisi diploiditas suatu species tertentu dari jenisnya, penentuan jenis kelamin secara
genetis. Pada dasarnya fertilisasi bukan merupakan proses tunggal, melainkan rangkaian
proses yang melibatkan kedua gamet (Adnan, 2008).
Mamalia merupakan salah satu contoh yang fertilisasinya secara internal. Sebagian
mamalia dilahirkan dan bukan ditetaskan. Fertilisasi secara internal an embrio berkembang
di dalam uterus dari saluran reproduksi betina. Pada mamalia eutheria (berplasenta) lapisan
uterus induk dan membran ekstra embrionik yang berasal dari embrio bersama-sama
membentuk plasenta, tempat nutrien berdifusi masuk ke dalam darah embrio. Mamalia
eutherina umunmya disebut mamalia berplasenta karena plasentanya paling kompleks dan
memperlihatkan hubungan yang lebih intim dan berlangsung lebih lama antara induk dan
anak yang sedang berkembang (Campbell, 2004).
Pada saat sebelum pembuahan ovum mengeluarkan gynogamon, yang terdiri dari
fertilizin dan zat penelur. Fertilizin berguna untuk:
1. Mengaktifkan spermatozoa bergerak
2. Menarik spermatozoa secara kemotaxis pasif
3. Mengaglutinasi spermatozoa sekitar ovum
Fertilizin terdiri dari glikoprotein. Rangkaian asam-asam amino dan
monosakaridanya berbeda-beda pada berbagai spesies. Fertilizin tak berfungsi terhadap
spermatozoa spesies lain dari si betina. Molekulnya memiliki Binding site (tempat
mengikat) lebih dari satu. Karena itu molekul fertilizin dapat mengikat 2 atau lebih
spermatozoa. Fertilizin dapat diekstrak dari selubung jeli telur bulu babi. Kalau diteteskan ke
semen jantannya, terjadi aglutinasi spermatozoa. Terbukti pula fertilizin tak terdapat pada
oolemma sendiri. Sebab kalau ovum dicuci dan dilepaskan dari selubung jellynya, ia tak
dapat menarik spermatozoa. Karena sifatnya yang mengaglutinasi spermatozoa, maka
fertilizin dapat dianggap sebagai antigen dalam sistem immunologi. Zat penelur bekerja
untuk merangsang jantan agar mengeluarkan spermatozoanya. Ini terjadi pada pembuahan
external di air (Yatim, 1994).
Sedangkan sperma mengeluarkan androgamon, yang terdiri dari hyaluronidase,
antifertilizin, akrosin, dan zat penelur. Hyaluronidase merupakan enzim yang dihasilkan
dalam testis, untuk melarutkan asam hyaluronad yang menyemen sel-sel granulosa sekeliling
ovum (corona radiata). Pada hewan yang ovumnya berselaput jelly, untuk menghidrolisanya
sampai mencair (Yatim, 1994).
Antifertilizin, sebagai lawan dari fertilizin yang dihasilkan ovum. Jika fertilizin
bertindak sebagai antigen, maka antifertilizin sebagai antibodinya. Oleh interaksi kedua zat
itu terjadi aglutinasi spermatozoa sekitar ovum, sehingga ada sebagian yang menumbuk
ovum sendiri, lalu menerobus masuk. Sebagaimana fertilizin, antifertilizin juga spesies
spesific. Sukar sekali terjadinya reaksi aglutinasi jika pertemuan gamet itu beda spesies. Beda
spesies berarti susunan asam amino dan monosakarida molekulnya berbeda, dan binding-
sitenya pun beda (Yatim, 1994).
Akrosin, semacam protease, memecah protein. Mirip tripsin yang dihasilkan
pankreas, untuk mencernakan protein dalam usus. Zat ini keluar dari akrosom spermatozoa,
ketika terjadi apa yang disebut reaksi akrosom. Zat ini menghancurkan zona pelucida.
Tidak seluruh zona dihasilkan, hanya disuatu tempat kecil, cukup untuk menerobosnya
masuk spermatozoa (Yatim, 1994).
Zat penelur, bekerja untuk merangsang betina agar mengeluarkan telur, sebagai
imbangan zat yang sama dikeluarkan betinanya. Ini terdapat pada hewan yang pembuahannya
terjadi di luar tubuh (Yatim, 1994).
Masuknya spermatozoa dalam ovum, yaitu dengan bereaksinya gamon kedua macam
gamet menyebankan terjadi aglutinasi di dekat ovum. Lalu memudahkan beberapa ekor
bertumbukan dengan ovum. Kemudian seekor akan dapat menerobos masuk. Komponen sel
bergabung antara kedua gamet. Pada Mamalia dan Echinodermata, hanya kepala sampai
middle piece ekor yang masuk, sedangkan principal piece dan end piece tinggal di luar zona
pellucida dan hancur (Yatim, 1994).
Pada Evertebreta air, sebagai contoh Echinodermata, spermatozoon itu masuk tegak
lurus pada zona pellucida. Tapi pada Mamalia, seperti diamati pad tikus, kelinci dan babi,
spermatozoa itu masuk menyamping, sedikit sejajar dengan zona. Ternyata ekor giat bergerak
untuk mendorong spermatozoa itu lancar masuk. Setelah lewat zona, gerakan ekor berhenti
(Yatim, 1994).
Ketika akrosom menumbuk zona, terjadi reksi akrosom, dimana akrosin dilepaskan,
bila membran depan akrosom itu hancur, dan membran akrosom dibelakangnya akan bersatu
dengan oolemma, sehingga inti spermatozoa terbuka jalan untuk masuk. Sementara itu dalam
pengamatan pada banyak hewan, terbentuk tonjolan dari oolemma, disebut fertilization cone.
Tonjolan ini ada yang pseudopodia, berguna untuk merangkul kepala spermatozoa.
Masuknya inti spermatozoa ke dalam ooplasma ada yang mengamati, ialah dengan ditelan
oleh ovum, ada pula karena dorongan dari spermatozoon sendiri (Yatim, 1994).
Sampai dalam ooplasma kromatin jadi benang-benang kromosom. Kemudian
terbentuk gelembung-gelembung kecil menyelaputinya, membentuk selaput pronukleus
jantan. Pengamatan in-vitro sel-sel corona radiata tetap hadir dalam jumlah besar sekeliling
ovum, meski adhesi antara sesamanya sudah hilang dan filopodia pun sudah lepas dan hilang
dari dalam pellucida. Kemudian sel-sel corona ini membuat pseudopodia, lalu
mengfagositosis spermatozoa sekeliling ovum. Jadi sel corona ini berfungsi untuk
membersihkan sekeliling ovum dari spermatozoa yang tidak membuahi (Yatim, 1994).
Inti ovum berubah jadi pronukleus betina, selaput intinya hilang lalu mengalami
meiosis II. Polosit yang berada dibawah zona pellucida juga mengalami meiosis, akhirnya
terbentuk 3 polosit. Pronukleus betina kini sudah haplont seperti pronukleus jantan. Pada
masing-masing pronukleus timbul berpuluh-puluh nukleoli, yang kemudian bergabung jadi 1-
2 nukleoli besar. Sentriol pronukleus betina hilang, dan untuk pembelahan berikutnya hanya
sentriol jantan yang berada di middle piece yang jadi titik kutub gelendong. Pronuklei saling
mendekat di poros telur, sedikit lebih dekat ke kutub animal, lalu terjadilah proses
karyogamy. Yakni bergabungnya pronuklei. Mula-mula nukleoli masing-masing hilang,
selaput inti hilang, dan besar pronuklei sendiri menciut. Masing-masing kromosom jadi
mengganda jadi dua kromatid, yang sentromernya jadi satu, mengakibatkan mitosis
berlangsung. Bahan spermatozoa lain selain inti, yakni mitokondria dan sisa membran
selnya, hancur dan menyebar dalam ooplasma, lalu hilang sebelum mulai pembelahan zigot
jadi 2 sel (Yatim, 1994).
Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil, yang disebut
blastomere. Pembelahan itu bisa meliputi seluruh bagian, bisa pula hanya pada sebagian kecil
zigot. Pada umumnya pembelahan itu secara mitosis. Meski sewaktu-waktu dapat juga
disertai oleh adanya pembelahan inti yang terus menerus tanpa diikuti sitoplasma
Ada 4 macam bidang pembelahan :
1. Meredian
2. Vertikal
3. Ekuator
4. Latitudinal
Bidang meridian, melewati poros kutub animal-vegetal. Bidang vertical, lewat tegak
sejak dari kutub animal sampai vegetal. Bedanya dengan bidang meredian, tak melewati
poros kutub animal-vegetal zigot. Bidang vertical sejajar dengan atau mungkin juga
melintang bidang meredian. Bidang ekuator, Tegak lurus terhadap poros kutub animal-
vegetal dan di pertengahan antara kedua kutub. Bidang latitudinal , sejajar bidang ekuator
(Yatim, 1994).


Ada 3 macam pembelahan :
1. Holoblastik : pembelahan mengenai seluruh daerah zigot, terdapat pada telur
homolechital dan mesolechital
2. Meroblastik : Pembelahan hanya pada sebagian zigot, yakni di daerah germinal disk.
Terdapat pada telur megalechital.
3. Perantaraan holoblastik dan meroblastik : pembelahan yang tak seluruhnya mencapai
ujung daerah kutub vegetal. Terdapat pada telur megalechital yang berlapis yolk yang
tebalnya sedang, terdapat pada ganoid dan dipnoid (Yatim, 1994).
Holoblastik dibedakan atas :
1. Holoblastik teratur : terdapat pada bintang laut, Amphioxus dan katak. Disebut teratur
karena pembelahan berlangsung secara teratur dilihat dari bidang pembelahan maupun
waktu tahap-tahap pembelahan itu
2. Holoblastik tak teratur : terdapat pada mamalia. Bidang dan waktu tahap-tahap
penmbelahan tak sama dan tak serentak terjadi pada berbagai daerah zigot (Yatim, 1994).
Proses pembentukan blastula disebut blastulasi. Berdasarkan bentuk dan susunan
blastomernya, blastula dibagi atas tiga macam yaitu : Coeloblastula, Discoblastula, dan
Stereoblastula. Coeloblastula berbentuk bola atau disebut juga blastula bundar. Tipe
Coeloblastula berasal dari telur homolecithal dan mesolechital. Discoblastula berbentuk
cakram atau disebut juga blastula gepeng. Blastula ini berasal dari telur homolechital yang
mengalami perubahan holoblastik tak teratur, dan telur megalechital yang membelah secara
meroblastik (Yatim, 1994).
Blastula memiliki daerah-daerah sel yang akan menjadi bakal pembentuk alat. Pada
embriogenesis selanjutnya daerah-daerah itu akan bergerak menyusun diri untuk menjadi
lapisan-lapisan sel tersendiri. Dikenal 5 daerah bakal pembentuk alat :
a. bakal ectoderm epidermis
b. bakal ectoderm saraf
c. bakal notochord
d. bakal mesoderm
e. bakal endoderm
Balstula awal memiliki sifat totipotent, yakni kemampuan menumbuhkan segala
macam bakal pembentuk alat. Melalui proses differensiasi maka kemampuan sekelompok sel
bertotipotent akan menurun, sampai sama sekali hanya mampu menumbuhkan sejenis
jaringan tertentu (Yatim, 1994).
Pada fase blastula, terbentuk dua lapis benih, yaitu epiblast dan hypoblast. Pada
gastrula dua lapis benih itu menjadi tiga lapis: ectoderm, endoderm, dan mesoderm. Dalam
proses gastrulasi terjadi berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan
menderetkan mereka sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari species
bersangkutan. Ada dua kelompok gerakan, yaitu epiboli dan emboli. Gerakan epiboli
merupakan gerakan melingkup, terjadi di sebelah luar embrio. Berlangsung pada bakal
ectoderm epidermis dan saraf. Gerakan yang besar berlangsung menurut proses bakal
anterior-posterior tubuh. Sementara bakal mesoderm dan endoderm bergerak, epiboli
menyesuaikan diri sehingga ectoderm terus menyelaputi seluruh embrio. Gerakan emboli
adalah gerakan menyusup, terjadi di sebelah dalam embrio. Berlangsung pada daerah-daerah
bakal mesoderm, notochord, pre-chorda, dan endoderm. Daerah-daerah itu bergerak ke arah
blastocoel. Gerakan emboli ada tujuh macam, yaitu:
a. Involus : gerakan membelok ke dalam
b. Konvergensi : gerakan menyempit
c. Invaginasi : gerakan mencekuk dan melipat suatu lapisan
d. Evaginasi : gerakan menjulur suatu lapisan
e. Delaminasi : gerakan memisahkan diri sekelompok sel dari kelompok utama atau
lapisan asal
f. Divergensi : gerakan memencar
g. Extensi : gerakan meluas (Yatim, 1994).
Pada kebanyakan hewan, reproduksi hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dalam
setahun. Hal ini berlaku untuk semua daerah, biarpun dengan iklim yang mantap seperti di
dalam hutan hujan tropis. Walaupun pada manusia dan kera tidak terdapat siklus reproduksi
tahunan, tetapi suatu siklus pada wanita dan kera betina ada (Idjah, 1990).
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk memahami dan memiliki keterampilan dalam
mengawinkan mencit, memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai proses fertilisasi pada
mamalia, untuk mempelajari cara mengawinkan mencit dan memelihara mencit, dan untuk
memperlajari perkembagan embrio mencit secara morfologi selama periode kehamilan.
BAB II
METODE
2.1. Alat dan Bahan
Pada praktikum ini alat yang digunakan diantaranya, kandang mencit lengkap
dengan botol minumnya yang digunakan untuk menyimpan mencit pada saat pemeliharaan
mencit yang akan dikawinkan, timbangan yang digunakan untuk menibang berat badan
mencit dari hari ke hari dari saat mencit betina yang dipelihara dinyatakan hamil atau dari
awal mencit tersebut dipelihara, baki bedah digunakan untuk tempat membedah mencit yang
akan dibedah untuk diamati fetus yang ada didalam rahim mencit betina, dan alat bedah yang
digunakan untuk membedah mencit yang akan diamati.
Sedangkan alat yang digunakan diantaranya, mencit jantan dan betina dengan
jumlah mencit jantan sebanyak 1-2 ekor dan mencit betina 3-4 ekor, pakan mencit yang
digunakan sebagai makanan untuk mencit selama proses pemeliharaan, sekam yang
digunakan sebagai media kandang mencit, air untuk minum mencit, dan larutan untuk
pengawetan preparat (FAA 12 mL + aquadest 230 mL).
2.2. Cara Kerja
1.3. Mengawinkan Mencit
Dilakukan dengan cata memelihara 2-3 mencit betina yang sedang estrus dengan 1-2
mencit jantan dalah satu kandang, agar mencit tersebut dapat berkopulasi. Kemudian
emeriksa sumbat vagina mencit betina pada pagi hari, yang menandakan bahwa mencit telah
kawin. Kemudian berat badan mencit betina yang telah hamil ditimbang setiap hari, untuk
memastikan bahwa mencit telah mengalami proses kehamilan. Mencit diberi makanan berupa
pelet dan air minum secukupnya serta sekam pada kandang mencit diganti secara periodik
untuk menjaga sanitasi lingkungan.
2.3. Pengamatan Fertilisasi Mencit Betina
Dilakukan dengan cara mencit betina yang telah hamil pada hari yang telah
ditentukan dimatikan, kemudian diamati jumlah fetus hidup dan mati, implantasi korpus
luteum dan mencit betina yang lainnya dibiarkan melahirkan alami.
Untuk pengamatan jumlah fetus hidup dan korpus luteum, dilakukan pembedahan
mencit yang telah dimatikan pada bagian abdomennya, sehingga uterusnya kelihatan, lalu
dihitung jumlah fetus pada uterus dan dicatat jumlah untuk masing-masing tanduk uterus.
Untuk mengetahui apakah fetus mati atau hidup dilakukan dengan menyentuh fetus tersebut.
Kemudian bagian uterus dibuka dan dicatat/ dicari implantasi yang responsi, lalu dihitung
jumlah dari masing-masing tanduk uterus. Kemudian diambil kedua ovarium mencit tersebut
dan dihitung jumlah korpus luteum dari masing-masing ovarium.
Untuk menghitung jumlah anakan dilakukan dengan menghitung jumlah anak yang
lahir pada mencit yang dibiarkan melahirkan secara alami dan mencatat data yang diperoleh,
lalu dibuat grafik hubungan antara berat badan mencit dengan hari penimbangannya.








BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Hubungan Antara Berat Badan Mencit Dengan Hari Penimbangan
Hari Ke
Berat Mencit ( gram )
Jantan Betina ke-1
Betina ke-2
(Bunting)
Berita ke-3
0 30,3 17,4 21,7 21,8
1 - - - -
2 29,3 16,9 22,11 20,5
3 29,3 17,1 22,1 21,3
4 29,9 18,2 22,4 22,1
5 30,2 19,5 22,5 21,8
6 30,1 20,3 23,2 22,6
7 31,3 21,0 23,8 23,6
8 30,8 21,1 23,7 22,8
9 - - - -
10 30,2 21,1 24,6 23,8
11 29,5 20,8 24,4 23,7
12 31,2 21,1 23,3 23,2
13 30,4 20,8 25,7 23,4
14 31,2 21,4 26,0 23,4
15 29,3 22,7 26,2 24,3
16 - - - -
17 30,6 24,2 27,6 25,9
18 31,1 25,5 28,,0 26,5
19 31,7 25,8 27,7 26,8
20 31,6 26,3 27,9 27,4
21 32 27,8 28,2 28,6
Grafik Hbungan Antara Berat Badan Mencit Dengan Hari Penimbangan
Grafik 1. Mencit Betina 1



















17.4
16.9
17.1
18.2
19.5
20.3
21
21.1 21.1
20.8
23.3
20.8
21.4
22.7
24.2
25.5
25.8
26.3
27.8
15
20
25
30
0 2 3 4 5 6 7 8 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21
B
e
r
a
t

B
a
d
a
n

(
g
r
a
m
)

Hari Ke-
Grafik 2. Mencit Betina 2
















21.7
22.1 22.1
22.4
22.5
23.2
23.8
23.7
24.6
24.4
23.3
25.7
26
26.2
27.6
28
27.7
27.9
28.2
15
20
25
30
0 2 3 4 5 6 7 8 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21
B
e
r
a
t

B
a
d
a
n

(
g
r
a
m
)

Hari Ke-
Grafik 3. Mencit Betina 3
















21.8
20.5
21.3
22.1
21.8
22.6
23.6
22.8
23.8
23.7
23.2
23.4 23.4
24.3
25.9
26.5
26.8
27.4
28.6
15
20
25
30
0 2 3 4 5 6 7 8 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21
B
e
r
a
t

B
a
d
a
n

(
g
r
a
m
)

Hari Ke-
Tabel 2. Gambar Mencit Betina yang Dibedah
Gambar Keterangan
(A)


(A) Bagian fetus pada uterus mencit betina
yang hamil.

Jumlah fetus 11 buah, fetus yang hidup 4,
dan fetus yang mati 7.

(A) (A) Uterus mencit betina yang tidak hamil.

Pada uterus mencit betina yang tidak hamil
tidak terdapat fetus.

1.2. Pembahasan
Pada praktikum ini, yaitu praktikum Fertilisasi Mencit yang bertujuan untuk lebih
memahami proses fertilisasi pada mamalia dan mempelajari perkembangan embio mencit
secara morfologi selama periode kehamilan. Menurut Campbell, dkk (2007), Fertilisasi
merupakan peleburan antara inti sel telur dengan inti spermatozoa sehingga tumbuh menjadi
individu baru yang disebut zigot. Sel gamet, yaitu sperma dan sel telur yang menyatu selama
fertilisasi atau pembuahan, merupakan jenis sel yang sangat terspesialisasi yang dihasilkan
melalui serangkaian peristiwa perkembangan yang kompleks dalam testes dan ovarium
induk. Fungsi utama fertilisasi adalah untuk menyatukan kumpulan kromosom haploid dari
dua individu menjadi sebuah sel diploid tunggal, yaitu zigot.
Mencit yang digunakan pada praktiku ini yaitu mencit jantan yang berjumlah 1 ekor
dan mencit betina yang berjumlah 3 ekor, penggunaan mencit betina yang lebih banyak
ditujukan untuk pengamatan perkembangan embrio dan anakan. Mencit-mencit ini dipelihara
selama 21 hari, dan setiap harinya ditimbang dengan menggunakan neraca analitik,
penimbangan ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan berat badan mencit yang jika
mencit tersebut hamil, berat badannya dari hari ke hari akan terus bertambah sejalan dengan
bertambahnya ukuran dan berat embrio yang dikandungnya. Berdasarkan pengamatan pada
hari ke-2, pada mencit betina 2 terdapat sumbat vagina pada bagian vaginanya yang
menandakan mencit betina 2 ini telah mengalami perkawinan dan dianggap sedang hamil,
sedangkan pada mencit betina 1 dan 3 selama pengamatan 21 hari tidak terdapat sumbat
vagina dan dinyatakan tidak hamil atau tidak mengalami perkawinan.
Berdasarkan pada data Tabel 1. diatas dapat dilihat perkembangan berat badan setiap
harinya, namun pada hari ke-1, ke-9 dan ke-16 tidak dilakukan penimbangan berat badan
pada mencit-mencit ini, dikarenakan ada hal yang menghalangi untuk dilakukannya
penimbangan. Pada grafik diatas dapat terlihat kenaikan dan penurunan berat badan dari hari
ke hari selama 21 hari, dapat terlihat dari grafik pada masing-masing mencit betina yang
ditimbang mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan, hal ini mungkin
dikarenakan pada saat pemeliharaan pemeberian makanan yang kurang teratur dan kurang
mencukupi kebutuhan makanan harian mencit-mencit ini sehingga dapat berpengaruh pada
berat badan masing-masing mencit.
Pada mencit betina 2 yang dianggap hamil berat badannya terus mengalami
pertambahan walaupun kadang kala mengalami penurunan (terlihat pada Grafik 2.), ini
mengindikasikan bahwa mencit betina 2 ini benar-benar hamil. Pada hari ke-0 (awal) berat
badan mencit betina ini sebesar 21,7 gram dan setelah 21 hari berat badan mencit ini menjadi
28,2 gram, yang berarti mencit ini mengalami pertambahan berat badan sebesar 6,5 gram,
pertambahan berat badan yang cukup besar.
Pada mencit betina 1 dan 3 yang dianggap tidak hamil pertambahan berat badan juga
mengalami pertambahan yang sama dengan mencit betina 2 yang dianggap hamil akan tetapi
pada bagian perut mencit betina 1 dan 3 ini tidak terlihat pembesaran pada abdomen (perut)
juga tidak ditemukan adanya sumbat vagina selama pemeliharaan 21 hari, hal tersebut yang
mengindikasikan dugaan bahwa mencit betina 1 dan 3 ini tidak melakukan perkawinan dan
sedang tidak hamil. Berat badan mencit betina 1 mengalami pertambahan yang cukup
signifikan dari berat awal (hari ke-0) sebesar 17,4 gram setelah dipelihara selama 21 hari
berat badan mencit bertambah menjadi 27,8 gram, berarti pertambahan berat badan mencit ini
sebesar 10,4 gram lebih besar dibandingkan dengan pertambahan berat badan mencit 2 yang
dianggap hamil. Kemudian mencit betina 3 juga mengalami pertambahan berat badan yang
cukup besar namun tidak sebesar mencit betina 1, dari berat badan awal (hari ke-0) sebesar
21,8 gram lalu setelah dipelihara selama 21 hari berat badan mencit ini menjadi 28,6 gram
yang berarti pertambahan berat badan mencit betina 3 ini sebesar 6,8 gram, lebih besar 0,3
gram dibandingkan dengan pertambahan berat badan mencit betina 2 yang sebesar 6,5 gram.
Kemudian setelah dilakukan pemeliharaan selama 21 hari, pada hari ke-21 dilakukan
pembedahan pada salah satu mencit betina, yaitu dipilih mencit betina 1. Setelah dilakukan
pembedahan, terlihat tidak terdapat fetus pada uterus mencit yang dibedah. Namun, pada
pembedahan mencit dari kelompok lain (kelompok 1) terdapat adanya fetus pada mencit
betina yang dibedah, pada mencit tersebut terdapat 11 buah fetus pada uterus mencit. Fetus
(Calon anak) ini berbentuk bulat berwarna ungu tua / ungu agak kemerahan yang berderet
sepanjang uterus seperti tasbeh, fetus ini sepertinya masih muda karena masih berbentuk bola
dan hanya berukuran sebesar biji kedelai (sedikit lebih besar), dari ke 11 fetus ini, hanya
terdapat 4 buah fetus yang hidup dan 7 fetus sisanya mati. Juga pada mencit ini terdapat 11
buah korpus luteum, dan yang terimplantasi sebanyak 11 buah juga.
Setelah dilakukan pembedahan dan pengamatan, mencit sisanya dibiarkan hidup dan
mencit betina 2 yang dari awal dianggap hamil dibiarkan hingga melahirkan secara alami,
namun sampai pada hari ke-25 belum ada mencit yang melahirkan termasuk mencit betina 2
yang dianggap hamil itu, sehingga tidak dapat dilakukan pengamatan dan perhitungan
terhadap anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mencit ini.
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan pada hasil pengamatan dan pembahasan dari praktikum ini dapat
disimpulkan bahwa pada praktikum ini tidak terdapat mencit yang melahirkan, hanya saja ada
mencit yang diduga hamil yaitu mencit betina 2. Sedangkan pada pembedahan mencit betina
1, tidak terdapat fetus / calon anak pada uterus mencit. Namun pada mencit lain (kelompok 1)
yang dibedah, pada uterusnya terdapat 11 buah fetus, yang 4 buah diantaranya hidup dan 7
buah lainnya mati.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Jurusan Biologi FMIPA UNM: Makassar.
Campbell, N. A, J. B. Reece dan L. G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid II.
Erlangga: Jakarta.
Idjah, Soemarwoto. 1990. Biologi Umum III. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Nurhayati, Awik Pudji Diah. 2004. Perkembangan Hewan. Program Studi Biologi ITS:
Surabaya.
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.