Anda di halaman 1dari 21

Makalah

SIKAP DAN PENGEMBANGAN SIKAP


Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Psikologi
Sosial
Dosen Pengampu : Sigit Hariyadi


Disusun oleh Kelompok 6 :
1. Tegar Aji Pamungkas (1301413048)
2. Novi Wahyu Wulandari (1301413051)
3. Reza Rizky Gunawan (1301413062)
4. Maria Ulva (1301413066)
5. Krisnowati (1301413071)


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sikap dan perilaku merupakan salah satu unsur yang terdapat pada
manusia. Manusia sejak lahir sudah mempunyai ciri-ciri khusus,
mempunyai potensi, ketentuan-ketentuan, predisposisi, bakat, bentuk dan
semacamnya yang telah berkembang dengan sendirinya. Lingkungannya
hanya mewarnai saja, tidak ikut membentuk atau mengarahkan gerak
aktualisasi potensi tersebut. Sikap merupakan kegiatan individu yang
menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Pengembangan sikap dapat terjadi melalui sedikitnya empat cara.
Pengembangan itu berupa sikap seseorang yang berkembang dalam rangka
memuaskan suatu keinginan, sikap individu dibentuk melalui informasi
yang diterima, kerjasama individu dalam kelompok membantu
menentukan pembentukan sikap seseorang terhadap objek sikap, dan sikap
individu merupakan pencerminan dari kepribadiannya. Dan pada akhirnya
pengembangan sikap ini membentuk hubungan sikap dengan perilaku,
yang mencangkup pembentukan sikap dan pengukuran sikap tersebut.
Karena sikap dan perilku saling terkait satu sama lain.






B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengembangan sikap bisa terjadi ?
2. Apa sajakah hubungan sikap dengan perilaku ?
3. Bagaimana pembentukan sikap bisa terjadi ?
4. Apa saja cara pengukuran sikap yang bisa dilakukan ?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui mengapa perkembangan sikap bisa terjadi
2. Mengetahui hubungan sikap dengan perilaku
3. Mengetahui terjadinya pembentukan sikap
4. Mengetahui cara pengukuran sikap













BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengembangan Sikap
Pengembangan sikap dapat terjadi melalui sedikitnya empat cara. Hal ini
dikatakan oleh Krech dkk (1988:213) yang secara ringkas sebagai berikut :
1. Sikap Seseorang Berkembang dalam Rangka Memuaskan Suatu
Keinginan
Ia akan mengembangkan sikap terhadap objek dan orang-orang yang
memuaskan keinginannya, begitu pula objek tujuan akan dievaluasi
sebagai sesuatu yang baik (menyenangkan) bila tujuan tersebut baik.
Individu akan mengembangkan sikap tidak menyenangkan terhadap
objek atau pribadi yang merintangi pencapaian tujuannya.
Selanjutnya ia mengembangkan dalam upaya merespon situasi-situasi
atau masalah dan mencoba mencapai atau memuaskan keinginannya
yang berbeda-beda. Dari penjelasan rersebut dapat disimpulkan bahwa
seseorang akan mengembangkan sikap positif terhadap apa atau siapa
yang menyenangkan atau memuaskan baginya. Sebaliknya dia akan
mengembangkan sikap negatif terhadap apa atau siapa yang
merintangi upaya pencapaian keinginan tujuan.
2. Sikap Individu Dibentuk Melalui Informasi yang Diterima
Sikap tidak hanya dikembangkan untuk memenuhi keinginannya,
sikap juga dibentuk oleh informasi-informasi yang diterimanya.
Informasi memegang peranan yang penting dalam pembentukan sikap.
Informasi yang diterima akan mempengaruhi kognitif seseorang dan
perubahan kognitif akan mempengaruhi komponen afektif dan
behavioral. Informasi yang dapat membentuk dan mengembangkan
sikap adalah bila informasi itu diberikan oleh informan yang
mempunyai kredabilitas tinggi, pakar dalam bidangnya, dapat
dipercaya dan disenangi oleh seseorang.
Informasi yang diterima oleh orang yang mempunyai kredabilitas
tinggi telah dibuktikan oleh Havlan dan Weiss (1952) dalam Marat
(1981:58). Informasi yang diberikan oleh sumber-sumber yang
mempunyai kredabilitas tinggi menimbulkan lebih banyak perubahan
sikap daripada oleh sumber-sumber yang kredabilitasnya rendah.
Demikian pula informasi yang diberikan oleh seseorang pakar akan
dapat mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap. Para pakar
tersebut bisa orang tua bagi anak-anaknya, guru bagi murid-muridnya.
Namun deraja kesahihan tergantung pada kesahihan sang pakar.
Seperti yang dikatakan pleh Krech dkk (1988:189) bahwa pakar
tersebut mungkin benar, mungkin jujur dan mungkin dengan sengaja
memalsukan fakta. Dengan demikian halnya maka kebenaran,
kejujuran dari para pakar menentukan terjadinya pembentukan dan
perubahan sikap.
3. Kerjasama Individu dalam Kelompok Membantu Menentukan
Pembentukan Sikap Seseorang terhadap Objek Sikap

Hal ini mengisyaratkan tentang pengaruh interkasi tentang pengaryh
interaksi antara anggota kelompok terhadap kelompok. Anggota-
anggota kelompok akan mempengaruhi pembentukan sikap individu
bila individu memandang kelompok tersebut sebagai kelompok
pedomannya atay acuannya. Individu akan mengidentifikasikan
dirinya kepada kelompok yang selanjutnya akan dipergunakan sebagai
standard evaluasi diri dan sumber-sumber nilai serta tujuan
pribadinya. Atau juga dapat dikatakan bahwa salah satu efek pengaruh
kelompok pada perkembangan sikap adalah menghasilkan
keseragaman sikap di antara naggota-anggota dan kelompok sosial
dari yang berbeda-beda .

4. Sikap Individu Merupakan Pencerminan dari Kepribadiannya
Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa sikap individu satu dengan
individu lain berbeda karena adanya perbedaan dalam kepribadiannya.
Individu akan menunjukan suatu sikap tertentu sebagai bagian dari
kepribadiannya. Dengan adanya sikap yang berbeda-beda tersebut
maka muncullah berbagai macam sikap seperti: sikap terhadap bangsa
(suku), sikap terhadap ras, sikap terhadap politik, sikap terhadap antar
bangsa, dll. Kesemuanya itu mencerminkan bahwa sikap seseorang
terhadap objek tergantung pada kepribadiannya.

2. Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku
Pembahasan hubungan antara sikap dengan perilaku memperoleh porsi
yang cukup dari pakar psikologi sosial . banyak para pakar menanyakan
apakah hubungan antara sikap dengan perilaku merupakan hubungan yang
linier ?
Dari pernyataan tersebut Fisbein dan Ajzein (1980) mengemukakan bahwa
sikap akan menjadi tingkah laku apabila pada diri orang tersebut
mempunyai intensi yang kuat . pendapat lain yang menyatakan bahwa
hubungan antara sikap dan tingkah laku kurang kuat atau bahkan tidak ada
dinyatakan oleh Triandis (1971: 14) . tingkah laku tidak hanya di tentukan
oleh apa yang mereka pikirkan untuk dilakukan seperti norma norma
sosial yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh mereka dan oleh konsekuensi
yang diharapkan dari tingkah lakunya .
Kendatipun demikian banyak pula pakar yang mencoba mengadakan
penelitian tentang hubungan antara sikap dengan tingkah aku . Wicher
(1969) dalam Feldman (1985 : 148) menyimpulkan bahwa hubungan
antara sikap dengan tingkah laku jarang sekali mencapai 0,30 . Dengan
kesimpulan yang demikian itu berarti agak meremehkan konsistensi sikap
dengan tingkah laku .
Berdasarkan kesimpulan penelitianWicher ini banyak peneliti berikutnya
yang memfokuskan pada konsistensi sikap dengan perilaku . Akhirnya,
banyak hasil penelitian yang dapat disimpulkan konsistensi sikap tingkah
laku cukup baik di bawah beberapa kondisi . Sears(1994) mengemukakan
sejumlah kondisi yang menunjukkan tingkat konsistensi sikap perilaku .
Pertama , kekuatan pakan sikap yang kuat atau lemah ketidak konsistenan
justru timbul dari sikap yang lemah atau ambivalen . sikap yang lemah
atau ambivalen ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Kelly
dan Mirer (1974). Ia menemukan bahwa sebagian besar
ketidakkonsistenan sikapsering muncul dari pemilih yang mulai dengan
sikap yang lemah atau bertentangan . demikian pula , perilaku yang
konsisten tidak akan muncul bila komponen afeksi dan kognisi sikap
bertentangan (Norman, 1975) .
Kedua , Stabilitas sikap . kita sering mengamati sikap berubah setiap
waktu . sikap yang dimiliki oleh seseorang beberapa bulan atau beberapa
tahun lalu sudah tentu tidak akan memberikan akibat tingkah laku sebesar
pengaruh sikap seseorang pada saat ini . oleh karena itu agar antara sikap
dengan tingkah laku konsisten maka hendaknya dilakukan pengukuran
pada waktu yang sama . Kelly dan Mirer (1974) menemukan bahwa
kekeliruan dalam memprediksi pemberian suara merosot dengan sangat
tajam bila pelaksanaan wawancara semakin mendekati hari pemilihan .
jadi dengan tingkah laku karena sikap mengalami perubahan .
Ketiga Relevansi sikap terhadap tingkah laku . semakin besar relevansi
spesifik sikapterhadap tingkah laku , semakin tinggi korelasi antara sikap
dengan tingkah laku .
Pada umumnya tingkah laku cenderung lebih konsisten dengan sikap yang
mempunyai relevansi spesifik dengan tingkah laku tersebut dari pada
dengan sikap yang sangat umum . hal ini telah dilakukan penelitian oleh
Weigel , Vernon dan Tognacci (1974) yang mengemukakan bahwa sikap
lingkungan yang sangat umum tidak berkaitan secara signifikan dengan
keinginan untuk bertindak atas nama Klub Sierra , tetapi sikap yang
spesifik terhadap Klub Sierra mempunyai kaitan dengan keinginan itu
(korelasi 0 , 68) .
Keempat , penonjolan sikap . dalam kebanyakan situasi beberapa sikap
tertentu bisa relevan dengan perilaku . misalnya , saja tak mau membantu
melaksanakan bimbingan dan konseling disekolah , hal ini mungkin
ditentukan oleh lemahnya sikap terhadap keinginan untuk membantu atau
oleh kuatnya keinginan untuk mangkir dari tugas membantu melaksanakan
kegiatan . oleh karena itu dalam pengertian penonjolan sikap ini adalah
bila sikap yang mempunyai relevansi spesifik yang terutama menonjol ,
kemungkinan besar sikap itu akan berkaitan dengan tingkah laku .
Kelima , Tekanan Situasi . orang yang bertingkah laku akan dipengaruhi
oleh sikap mereka dan oleh situasi . bila tekanan situasi sangat kuat pada
umumnya sikap tidak mempengaruhi perilaku . pernyataan ini
menandakan bahwa hubungan antara sikap dan tingkah laku bukan
hubungan linier .
Penelitian yang mendukung pernyataan tersebut di atas dikemukakan oleh
(Rokceach, 1968 , 1972 , Wicker : 1971 . Warner dan Fleur : 1969) dalam
Zanden (1984 : 166) yang menyatakan bahwa tingkah laku itu merupakan
fungsi paling sedikit dari dua sikap yaitu sikap terhadap objek dan sikap
terhadap situasi . jadi faktor situasi mempunyai sumbangan terhadap
konsistensi sikap dengan tingkah laku . apabila pernyataan ini
diimplememtasikan para partisipasi guru dalam bimbingan konseling
ditentukan oleh sikap guru terhadap bimingan konseling dan oleh situasi
yaitu bagaimana para guru yang lain apakah berpartisipasi atau tidak , bila
berpartisipasi maka guru tersebut akan berpartisipasi pula . sebaliknya bila
guru guru di sekolah tidak berpartisipasi (partisipasi rendah) maka guru
tersebut partisipasi juga rendah walaupun sikap mereka terhadap
bimbingan konselin positif .
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsistensi
hubungan antara sikap dengan tingkah laku ditentukan oleh dua sikap yaitu
sikap terhadap objek dan sikap terhadap situasi .
3. Pembentukan Sikap
Sikap individu tidak dibawa sejak lahir, melainkan terbentuk seiring
dengan perkembangan individu tersebut. Sikap memiliki beberapa fungsi
yang berbeda dan bermanfaat bagi kita dalam banyak hal. Pembentukan
sikap dapat dilakukan dengan cara :
A. Mengadopsi Sikap Orang Lain
Salah satu sumber penting yang jelas-jelas memebentuk sikap kita
adalah mengadopsi sikap tersebut dari orang lain melalui proses
pembelajaran sosial. Dengan kata lain, banyak pandangan kita
dibentuk saat kita berinteraksi dengan orang lain atau hanya dengan
mengobservasi tingkah laku mereka. Pembelajaran ini terjadi melalui
beberapa proses :

1. Pembelajaran Berdasarkan Asosiasi
Merupakan prinsip dasar psikologi bahwa ketika stimulus muncul
berulang-ulang diikuti oleh stimulus yang lain, stimulus pertama
akan segera dianggap sebagai tanda-tanda bagi munculnya
stimulus yang mengikutinya. Dengan kata lain, ketika stimulus
pertama terjadi, seseorang akan menduga stimulus kedua akan
seger muncul. Hasilnya, secara bertahap mereka akan memberikan
reaksi yang sama pada stimulus pertama, seperti reaksi yang
mereka tujukan pada stimulus kedua, terutama jika stimulus kedua
adalah stimulus yang menyebabkan reaksi yang cukup kuat dan
otomatis. Contohnya, jam radio saya mengeluarkan suara klik
yang keras, sesaat sebelum alarm berbunyi. Pertama kali, saya
tidak menunjukan reaksi atau bereaksi sedikit pada suara klik
tersebut. Akan tetapi sekarang, karena suara klik selalu diikuti
dengan bunyi alarm atau (berupa musik yang keras), biasanya saya
bangun ketika mendengar suara klik tersebut, bahkan sebelum
musik mulai terdengar.

2. Belajar untuk mempertahankan Pandangan yang Benar
Cara lain bagaimana sikap diadopsi oleh orang lain adalah melalui
proses instrumental conditioning, yang merupakan belajar untuk
mempertahankan pandangan yang benar. Dengan memberikan
anak senyuman, persetujuan, atau pelukan untuk menyatakan hal
yang benar, hal-hal yang disetujui oleh orang tua, maka orang tua
(dan orang dewasa lainnya) menginginkan peran aktif dalam
pembentukan sikap kaum muda. Berdasarkan alasan inilah
sebagian besar anak-anak mengepresikan pandangan politik,
religius, dan sosial yang sangat serupa dengan keluarganya hingga
masa remaja mereka. Oleh karena kuatnya efek rein for cement
terhadap tingkah laku, akan sangat mengejutkan bila anak tidak
menunjukan perilaku yang dibentuk oleh keluarga.

3. Pembelajaran Melalui Observasi : Belajar dari Contoh
Pembelajaran melalui observasi terjadi ketika individu mempelajari
bentuk tingkah laku atau pemikiran tingkah laku atau pemikiran
baru hanya dengan mengobservasi tingkah laku orang lain.
Berbicara mengenai pembentukan sikap, pembelajaran melalui
observasi memainkan peran yang penting. Dalam banyak kasus,
anak mendengar orang tua mereka mengatakan sesuatu yang
seharusnya tidak mereka dengar, atau memperhatikan orang tua
mereka saat melakukan sesuatu yang dilarang oleh orang tua untuk
dilakukan si anak. Contohnya, orang tua yang merokok
memperingatkan anak mereka untuk tidak merokok saat mereka
sedang menyalakan rokoknya. Adapun pesan yang diperoleh anak
dari contoh tersebut jelas bahwa mereka sering kali belajar
melakukan apa yang orang tua lakukan, bukan apa yang orang tua
katakan.

4. Perbandingan Sosial dan pembentukan Sikap : Sebuah Dasar untuk
Pembelajaran Melalui Observasi
Merupakan proses kecenderungan kita untuk membandingkan diri
kita sendiri dengan orang lain untuk menetukan apakah pandangan
kita terhadap kenyataan sosial benar atau salah. Sejauh pandangan
kita disetjui oleh orang lain, kita akan menganggap bahwa ide atau
sikap kita tepat. Sementara jika orang lain memiliki ide, sikap, atau
pendapat yang sama dengan kita, maka kita menganggap bahwa
pandangan itu pasti benar. Karena proses ini, kita sering kali
mengubah sikap kita dengan sikap yang hampir mendekati sikap
orang lain. Dan dalam beberapa kesempatan, perbandingan sosial
dapat berkontribusi pada pembentukan sikap baru. Sebagi contoh
ketika kita mendengar seseorang yang kita sukai dan kita hormati
menunjukan pandangan negatif terhadap sebuah kelompok yang
belum pernah kita kenal. Kita pasti ingin menyatakan Tentu saja
Tidak ! Namun, hasil penelitian mengindikasikan bahwa
mendengar orang lain menyatakan pandangan negatif tentang
kelompok tersebut dapat saja membuat kita mengadopsi sikap yang
serupa tanpa harus bertemu dengan anggota kelompok yang
dibicarakan. Dalam banyak kasus, sikap terbentuk dari informasi
sosial yang berasal dari orang lain (apa yang kita lihat tentang apa
yang mereka katak atau lakukan), dan keinginan kita sendiri untuk
menjadi serupa dengan orang yang kita sukai atau kita hormati.

B. Faktor Genetik : Beberapa Temuan yang Mengejutkan
Bukti yang terus bertambah menunjukan bahwa faktor genetik dapat
berperan dalam sikap, walaupun sedikit (misalnya, Arvey dkk., 1989;
Keller dkk., 1992). Pada umumnya bukti yang ada melibatkan
perbandingan antara kembar identik (monozigot) dan kembar
nonidentik (dizigot). Karena kembar identik berbagi warisan genetik
yang sama, sementara kembar nonidentik tidak, korelasi yang lebih
tinggi antar sikap kembar identik daripada kembar nonidentik akan
menunjukan bahwa faktor genetik memainkan peran dalam
membentuk sika-sikap tertentu. Hasil lain dari penelitian menunjukan
bahwa tidak aneh bila faktor genetik memainkan peran yanglebih kuat
dalam membentuk sikap-sikap tertentu dibanding faktor lain dengan
kata lain, sikap-sikap tertentu lebih dapat diwariskan dibanding sikap
yang lain. Walaupun terlalu awal untuk menyimpulkan, namun
bebrapa hasil penelitian menunjukan bahwa sikap yang berkenaan
dengan tingkat kecenderungan (contohnya, kecenderungan untuk
menyukai menyukai jenis musik tertentu atau jenis makanan tertentu)
lebih kuat dipengaruhi oleh faktor genetik daripada sikap yang
sifatnya lebih kognitif (contohnya, sikap terhadap isu kompleks
seperti hukuman, denda atau situasi dan objek dimana individu tidak
memilik pengalaman langsung seperti kelompok sosial yang jarang
atau tidak pernah berhubungan dengan mereka.

C. Fungsi Sikap : Alasan Dasar Mengapa Kita Membentuk Sikap
Sikap memiliki beberapa fungsi yang berguna. Pertama, sikap tampaknya
beroperasi sebagai skema, merupakan kerangka kerja mental yang
membantu kita untuk menginterpretasi dan memproses berbagai jenis
informasi. Selain itu, sikap mempengaruhi persepsi dan pemikiran kita
terhadap isu, orang, objek atau kelompok dengan kuat. Sebagai contoh
hasil penelitian mengindikasikan bahwa kita memandang informasi yang
mendukung sikap kita sebagai informasi yang lebih akurat dan
meyakinkan daripada informasi yang bertolak belakang dengan sikap
tersebut. Namun, yang mengejutkan kita tidak ingat informasi yang
mendukung pandangan kita dengan lebih baik daripada informasi yang
menolak pandangan tersebut.Begitu juga, kita memandang sumber bukti
yang berbeda dengan pandangan kita sebagai sumber yang patut dicurigai,
bias dan tidak dapat dipercaya.
Kedua, sikap sering kali memiliki fungsi self-esteem (self-esteem
fungtion), membantu kita untuk mempertahankan atau meningkatkan
perasaan harga diri, contohnya banyak orang semakin percaya diri ketika
sikap yang mereka miliki adalah sikap yang benar, sikap yang dimiliki
oleh orang yang cerdas, berbudaya, dan sensitif. Mengekspresikan
pandangan ini kadang membantu orang-orang tertentu merasa lebih baik
dari orang lain. Akhirnya sikap juga berfungsi sebagai motivasi untuk
menimbulkan kekaguman atau motivasi (impresiont motivation function).
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa semakin besar fungsi sikap
sebagai motivasi untuk menimbulkan impresi pada orang lain, maka
semakin kuat pula individu berusaha menghasilkan argument yang
mendukung pandangan tersebut.

4. Pengukuran sikap

4.1 Pengukuran Sikap Secara Langsung dan Tidak Langsung
Para ahli psikologi social telah berusaha untuk mengukur sikap
dengan berbagai cara. Beberapa bentuk pengukuran sudah mulai
dikembangkan sejak diadakannya penelitian sikap yang pertama yaitu
pada tahun 1920. Kepada subjek diminta untuk merespon objek sikap
dalam berbagai cara.
Pengukuran sikap ini dapat dilakukan secara:
1. Secara langsung (direct measures of attitudes)
2. Secara tidak langsung (indirect measures of attitudes). (whittaker.
1970, hal. 594-596)

4.1.1 Pengukuran sikap secara langsung
Pada umum nya digunakan untuk tes psikologi yang berupa
sejumlah item yang telah disusun secara hati-hati, seksama,
selektif sesuai dengan criteria tertentu, tes psikologi ini
kemudian dikembangkan sebagai skala sikap.
Pengukuran secara langsung yang sering dilakukan :

1. Skala Thurstone
L.L. Thurstone (1928) percaya bahwa sikap dapat diukur
dengan skala pendapat. Pada awalnya usaha mengukur
sikap ini terdiri atas sejumlah daftar pertanyaan yang diduga
berhubungan dengan sikap.
Pada tahun 1929 L.L. Thurstone dibantu oleh E.J. Chave
mengembangkan dengan lebih mengembangkan metode
skala pernyataan tersebut yang disebut the method
subjectively appearing equal intervals (1931). Metode
thurstone terdiri atas kumpulan pendapat yang memiliki
rentangan dari sangat positif kea rah sangat negative
terhadap objek sikap. Pernyataan-pernyataan itu kemudian
diberikan sekelompok individu yang diminta untuk
meminta pendapatnya ada suatu rentangan sampai 11
diamana angka 1 mencerminkan paling positif
(menyenangkan) dan angka 11 mencerinkan paling
negative, (tidak menyenangkan) prosedur Thurstone untuk
menciptakan sejumlah pertanyaan ini cukup kompleks.


Adapun lankah-langkahnya sebagai berikut:
1. Langkah pertama Thurstone memilih dan
mengidentifikasi setepat mungkin sikap yang akan
diukur
2. Kemudian merumuskan sejumlah pernyataan tentang
objek sikap. Dalam hal ini perlu diadakan perbaikan serta
editing untuk penyempurnaan pernyataan itu.
Dalam proses editing ini Thurstone mengemukakan 5
kriteria, yaitu:
a. Pernyataan harus pendek
b. Pernyataan harus merumuskan sedemikian rupa
sehingga responden dapat membenarkan atau
menolak
c. Pernyataan harus relevan dengan masalahnya
d. Pernyataan harus tidak mengandung pengertian
ganda
e. Pernyataan harus dapat menggambarkan semua
kemungkinan secara lengkap suatu pendapat
terhadap masalah
3. Langkah berikutnya Thurstone membagi daftar
pertanyaan itu kepada sejumlah responden yang secara
objektif dan bebas akan menyatakan pendapatnya baik
positif maupun negative
Setelah mengevaluasi pernyataan-pernyataan, kemudian
stiap respnden ditempatkan dalam angka 1 dan 11 yang
menggambarkan suatu continuum atau skala. 1 (paling
positif), 11 (paling negative), dan 6 pertengahan skala
(netral/ tidak positif dan tidak negative).
4. Kemudian, nilai skala menunjukkan tingkat kepositifan
atau kenegatifan data objek, yang dihitung untuk setiap
pertanyaan. Cara ini dlikakukan dengan mengambi rata-
amean score dari semua responden untuk setiap
pernyataan (item).
Seperti telah dikemukakan oleh C. Selltiz dan teman-
temannya (1959) bahwa skala Thurstone telah digunakan
secara efektif untuk mengukur sikap terhadap objek
sikap secara luas termasuk perang, berbagai kelompok
etnik, dan lembaga keagamaan. Keterbatasan yang
terpenting adalah pengaruh perasaan dan latar belakang
social ekonomi responden.
Para ahli Psikologi Sosial bertahun-tahun telah berusaha
menyederhanakaannya.
2. Skala Likert
Rensis Likert mengembangkan suatu skala beberapa tahun
setelah Thurstone. Linkert juga menggunakan sejumlah
pernyataan untuk mengukur sikap yang mendasarkan pada
rata-rata jawaban Likert dai dalam pernyataannya
menggambarkan pandangan yang ekstren pada masalahnya.
Setelah pernyataan itu dirumuskan, Linkert membagikannya
kepada sejumlah responden yang akan diteliti. Kepada
responden diminta untuk menunjukkan tingkata dimana
mereka setuju atau tidak setuju pada setiap pernyataan
dengan 5 (lima) :
Sangat setuju, setuju, netral, tidak stuju, sangat tidak setuju.
Salah satu pernyataan sikap "terhadap kulit hitam berbunyi:
Saya tidak akan pernah kawin dengan orang kulit hitam.
Skala Likert sangat popular saat ini karena skala ini
termasuk mudah dalam penyusunannya. Sudah banyak
peneliti yang telah mempergunakan dan
menyempurnakannya.


3. Skala Bogardus
Emery Bogardus tahun 1925 menemukan suatu skala ynag
disebut skala jarak social (social distance scale) yang secara
kuantitatif mengukur tingkatan jarak seseorang yang
diharapkan untuk mememlihara hubungan orang dengan
kelompok- kelompok lain. Dengan skala Bogardus
responden diminta untuk mengisi atau menjawab
pernyataan satu atau semua dari tujuh pernyataan untuk
melihat secara social terhadap kelompok etnik group
lainnya.
Salah satu item skala sosial Bogardus untuk mengukur
sikap:
Sesuai dengan reaksi perasaan saya yang pertama, saya
mau mengakui atau mengizinkan orang kulit hitam (sebagai
satu kelas yang satu kenal sebagai tidak yang terbaik atau
yang terjelek) pada satu atau lebih klasifikasi sebagai
berikut:
4. Skala Perbedaan Semantik (The Semantic Different Scale).
Skala ini dikembangkan oleh Osgood, suci dan Tannerbaum
(1957 ) yang meminta responden untuk menentukan
sikapnya terhadap objek sikap, pada ukuran yang sangat
berbeda dengan ukuran yang terdahulu. Responden diminta
untuk menentukan suatu ukuran skala yang bersifat
berlawanan yaitu positif atau negative yaitu: baik-buruk,
aktif-pasif, bijaksana-bodoh dan sebagainya. Skala ini
terbagi atas 7 (tujuh) ukuran, dan angka 4 (empat) akan
menunjukkan ukuran yang secara relative netral. Skor sikap
dari individu diperoleh dengan mentalis (menjumlah) semua
jawaban. Skor yang lebih tinggi berarti lebih positif
sikapnya terhadap objek, orang atau masalah lain yang
ditanyakan.
Usaha penyempurnaan yang lebih akhir adalah
dikembangkannya 3 kategori perbedaan dimensi, sikap
sebagai berikut:
1. Kategori perasaan, misalnya: baik/buruk disebut
dimensi yang bersufat menilai (evaluative dimension)
2. Kategori kekuatan, misalnya: kuat/lemah disebut
dimensi kemampuan (potency dimension)
3. Kategori sifat, misalnya: cepat/lambat disebut dimensi
aktivitas (activity dimension)
Skala ini dapat digunakan untuk mengukur sikap terahdap
seluruh gejala dari kelompok etnik sampai kelompok
partai serta keinginan memiliki anak.
Contoh: salah satu item skala perbeadan semantik yang
dikembangkan oleh Osgood, suci dan Thannerbaum

4.1.2 Pengukuran sikap secara tidak langsung
Teknik pengukuran sikap secara langsung yang telah
dibicarakn di muka bertumpu pada kesadaran subjek akan
sikap dan kesiapannya untuk dikomunikasikan secara (verbal).
Dengan teknik demikian subjek akan tahu bahwa sikapnya
sedang diukur, dan pengetahuan atas ini mungkin akan
dipengaruhi jawabannya. Ini salah satu problem yang sering
dihadapi dalam penggunaan teknik pengukuran secara
langsung.
Berdasar atas problem tersebut beberapa ahli berusaha
mengembangkan suatu teknik mengukur secara langsung. Di
dalam teknik tidak langsung ini subjek tidak tahu bahwa
tingkah laku atau sikapnya sedang diteliti. Teknik tidak
langsung khususnya berguna bagi responden kelihatan enggan
mengutarakan sikapnya secara jujur.
Dalam suatu teknik tidak langsung, seorang peneliti
memberikan gambar-gamabar terhadap subjek, subjek diminta
untk menceritakan apa yang dia lihat di gambar tersebut.
Jawaban subjek kemudian diskor yang memperlihatkan
sikapnya terhadap orang atau situasi yang terdapat pada
gambar tersebut. Sperti yang telah dilakukan oleh Proshansky
(1943), yang menyelidiki tentang sikap terhadap buruh. Disini
pengukuran sikap dilakukan secara tidak langsung, yaitu
kepada subjek diperlihatkan gambar-gambar dari para pekerja
dalam berbagai konflik situasi. Subjek diminta untuk
menceritakan tentang gambar-gambar tersebut dalam suatu
karangan atau cerita.
Namun teknik pengukuran sikap tidak langsung ini
menimbulkan beberapa masalah penting bagi para ahli
psikologi. Sejauh mana sikap inidividu diungkap, bila ia
menyadarinya akan hal itu, disamping itu apakah bukan suatu
pelanggaran mengungkap suatu yang bersifat pribadi di luar
pengetahuan dan kesadaraannya? Apakah ini bukan suatu
pelanggaran etik? Apakah kita selalu memerlukan izin atau
persetujuan dari responden? Hal inilah yang menimbulkan
masalah bagi para peneliti tidak hanay pada teknik tidak
langsung tetapi juga pada hamper semua penelitian psikologi.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengembangan sikap terjadi melalui empat cara, yaitu sikap seseorang
berkembang dalam rangka memuaskan suatu keinginan, sikap individu
dibentuk melalui informasi yang diterima, kerja sama individu dalam
kelompok membantu pembentukan sikap seseorang terhadap objek sikap, dan
sikap individu merupakan pencerminan dari kepribadiannya. Hubungan
antara sikap dengan perilaku terjadi karena beberapa kondisi, yaitu kekuatan
sikap, stabilitas sikap, relevansi sikap terhadap tingkah laku, penonjolan sikap
dan tekanan situasi. Hal ini disimpulkan bahwa konsistensi hubungan antara
sikap dengan tingkah laku ditentukan oleh dua sikap yaitu sikap terhadap
objek dan sikap terhadap situasi.
Dalam pembentukan sikap, dapat dilakukan dengan mengadopsi sikap orang
lain, adanya temuan dasar yang mengejutkan dan alasan dasar mengapa kita
menentukan sikap. Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya sikap benar-
benar bisa dibentuk dengan cara itu. Sedangkan pengukuran sikap terjadi
secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran sikap secara langsung
digunakan untuk tes psikologi yang berupa sejumlah item yang telah disusun
secara hati-hati, seksama, selektif sesuai dengan criteria tertentu, tes psikologi
ini kemudian dikembangkan sebagai skala sikap, sedangkan pengukuran
sikap tidak langsung bertumpu pada kesadaran subjek akan sikap dan
kesiapannya untuk dikomunikasikan secara (verbal)




DAFTAR PUSTAKA

Sugiyo.2006.Psikologi Sosial.Semarang: Universitas Negeri Semarang
Baron, Robert A., Byrne,Done.2003.Psikologi Sosial.Jakarta: Erlangga
Ahmadi, Abu. 1999.Psikologi Sosial.Jakarta: PT Rineka Cipta