Anda di halaman 1dari 58

Perencanaan Regional

VI-1

Modul VI
Prosedur dan Proses Perencanaan Regional
Oleh : Dr. Ir. Bagdja Muljarijadi, SE, ME.


TIU : Setelah selesai membaca modul ini diharapkan mahasiswa mampu
menjelaskan bagaimana prosedur dan proses penyusunan
perencanaan regional serta paham bagaimana pelaksanaan koordinasi
antar sektor dalam perencanaan pembangunan

TIK :
1. Mampu menjelaskan prosedur perencanaan yang bersifat bottom up
2. Mampu menjelaskan prosedur perencanaan yang bersifat top down
3. Mampu menjelaskan proses perencanaan dalam otonomi
4. Mampu menjelaskan ruang lingkup pelaksanaan koordinasi
pembangunan
5. Menyadari kendala pelaksanaan koordinasi pembangunan

Perencanaan Regional

VI-2

Perencanaan pembangunan di Indonesia saat ini secara umum di atur
dengan UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional. Undang-undang tersebut mengatu sistem perencanaan
pembangunan baik pada tingkatan nasional maupun tingkatan regional. Baik
pada tingkatan nasional maupun regional proses perencanaan pembangunan
di Indonesia dilakukan secara bertahap berdasarkan tahapan waktu, dari
perencanaan jangka panjang hingga perencanaan pembangunan tahunan.
Berdasarkan jangka waktu perencanaan UU No. 25/2004 membagi
perencanaan kedalam beberapa tahap, yaitu:
a.) Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), adalah dokumen
perencanaan untuk periode 20 tahun.
b.) Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), adalah dokumen
perencanaan untuk periode 5 tahun.
c.) Rencana Pembangunan Tahunan, adalah dokumen perencanaan untuk
periode 1 tahun. Pada tingkat nasional rencana ini disebut dengan
Rencana Kerja Pemerintah (RKP), sedangkan pada tingkatan wilayah
disebut dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Masing-masing unit kerja (baik pada tingkatan nasional yaitu kementerian
atau lembaga dan tingkatan daerah yaitu satuan kerja perangkat daerah)
akan memiliki rencana tahunan masing-masing, yang disebut sebagai
Rencana kerja (RENJA-KL dan RENJA-RKPD).
Sebelum melakukan rencana pembangunan setiap tingkatan
pemerintahan diwajibkan membuat suatu komponen perencanaan
pembangunan yang terdiri atas visi, misi, strategi dan kebijakan. Setelah
kebijakan ditetapkan, maka langkah terakhir yang harus dilakukan oleh
pemerintah adalah membuat suatu program sebagai dasar untuk tindakan
Perencanaan Regional

VI-3

yang akan dilakukan oleh pemerintah tiap tahunnya, agar tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya oleh perencanaan bisa dicapai.
Agar menjadi jelas apa yang dimaksud dengan komponen-komponen
perencanaan pembangunan tersebut, di bawah ini diuraikan definisi masing-
masing dari komponen tersebut, sesuai dengan UU No. 25 tahun 2004,
yaitu:
a.) Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada
akhir periode perencanaan.
b.) Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan
dilaksanakan untuk mewujudkan visi.
c.) Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif
untuk mewujudkan visi dan misi.
d.) Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah
Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.
e.) Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih
kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk
mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau
kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

Modul ini bertujuan untuk menjelaskan prosedur dan proses
perencanaan yang dilakukan pada tingkat regional yang berlaku sejak
dikeluarkannya UU pemerintahan daerah yang baru No. 22 tahun 1999 (yang
kemudian berganti menjadi UU No. 32 tahun 2004). Penjelasan modul ini
mencakup dua hal utama yaitu proses perencanaan, khususnya dalam
kerangka kerja otonomi daerah, serta mekanisme koordinasi antar lembaga
dalam penyusunan dan implementasi rencana.

Perencanaan Regional

VI-4

1. Prosedur dan Proses Menyusun Perencanaan Regional
Sebelum membicarakan tentang perencanaan regional, terlebih dahulu
akan dijelaskan tentang hirarki pemerintahan yang ada di Indonesia, sejak
diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Berdasarkan UU tersebut sistem pemerintahan di Indonesia dibagi atas 2
hirarki yaitu Pemerintah Pusat (yang biasa disebut pemerintah) dan
Pemerintah Daerah. Menurut UU No. 32/2004 yang dimaksud dengan
Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia, sedangkan Pemerintah
Daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahaan menurut asas otonomi
dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya. Setiap
Pemerintah Daerah di Indonesia merupakan daerah otonom (daerah), yang
menurut undang-undang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Sejak diberlakukannnya UU pemerintahaan daerah (yaitu UU No. 5
tahun 1974, UU No. 22 tahun 1999 hingga UU No. 32 tahun 2004)
pelaksanaan perencanaan pembangunan di Indonesia menggunakan 3 buah
asas, yaitu:
a.) Asas desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
b.) Asas dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau
kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
Perencanaan Regional

VI-5

c.) Asas tugas pembantuan, yaitu penugasan dari Pemerintah kepada
daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota
dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk
melaksanakan tugas tertentu
Kaitan antara hirarki pemerintahan dan pelaksanaan asas
pembangunan khususnya sejak diberlakukannya UU No 22 tahun 1999
dapat dijelaskan seperti gambar VI-1 berikut ini:












Gambar VI-1
Kaitan Antara Hirarki Pemerintahan dan Penerapan Asas
Pembangunan

Berdasarkan gambar VI-1 tersebut terlihat bahwa Propinsi dan
Kabupaten/Kota memiliki kedudukan yang sejajar, berdiri sendiri, dan tidak
lagi memiliki hubungan hirarki satu dengan lain sebagai Pemerintah Daerah.
Perbedaan utama diantara keduanya adalah bahwa Propinsi selain berfungsi
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah
Propinsi Kabupaten/
Kota
Dekonsentrasi
Desentralisasi
Tugas
Pembantuan

Perencanaan Regional

VI-6

sebagai wilayah otonom juga berfungsi sebagai wilayah administrasi, oleh
karenanya propinsi mengemban amanat asas dokonsentrasi.
Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa Undang-Undang Pemerintahan
Daerah nomor 22 tahun 1999 telah mengubah arah pelaksanaan
pembangunan di Indonesia, atau dengan kata lain telah terjadi evolusi dalam
pelaksanaan pembagunan. Secara sederhana evolusi pelaksaaan
pembangunan yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini dapat
dijelaskan seperti pada gambar VI-2 berikut ini.


KEKUATAN


PUSAT

DAERAH

RAKYAT

PENDEKATAN


SEKTORAL

REGIONAL

MASYARAKAT

PERENCANAAN


TOP-DOWN

BOTTOM-UP

PARTICIPATORY


Gambar VI-2.
Evolusi Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia


Berdasarkan gambar VI-2 terlihat bahwa evolusi pelaksanaan
pembangunan di Indonesia dapat dilihat dari 3 buah sisi, yaitu:
a.) Dilihat dari sisi kekuatan pelaksana pembangunan.
Berdasarkan kekuatan pelaksanaan pembangunan telah terjadi
pergeseran kekuatan pelaksana dari pemerintah pusat menjadi
pemerintah daerah. Sesuai dengan penjelasan Undang-Undang
Pemerintah Daerah, fokus utama pelaksanaan pembangunan ada di
OTDA
Perencanaan Regional

VI-7

kabupaten/kota. Dalam pengertian bahwa pelaksanaan pembangunan di
Indonesia saat ini lebih menitik beratkan pada pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah khususnya pemerintah
kabupaten/kota. Kondisi tersebut diperlukan untuk menjamin bahwa
pelaksanaan kegiatan pembangunan benar-benar dapat dinikmati oleh
masyarakat, hal ini disebabkan karena dalam proses perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan tahun-tahun sebelumnya masyarakat masih
merasa belum menikmati bahkan mereka memandang bahwa
pembangunan yang dilaksanakan bukan merupakan aspirasi masyarakat
itu sendiri. Akibat dari hal tersebut maka pembangunan yang dilakukan
tidak bisa berjalan dengan baik karena keterlibatan, rasa tanggung
jawab dan rasa memiliki dari pelaksaaan pembangunan tidak mendapat
dukungan dari masyarakat sepenihnya. Oleh sebab itu perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan harus dilakukan didaerah, khususnya
daerah yang paling dekat dengan masyarakat, agar aspirasi masyarakat
bisa terpenuhi sehingga diharapkan mampu menjamin keberhasilan
pembangunan lebih baik lagi. Konsepsi inilah yang mendasari peralihan
kekuasaan pelaksanaan pembangunan dari Pemerintah Pusat ke
Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota,
karena pemerintah kabupaten/kota merupakan pemerintahan yang
paling dekat degan masyarakat.
Akan tetapi satu hal yang mesti diingat bahwa pembangunan yang
dilaksanakan di daerah harus sesuai dengan arah pembangunan
nasional yang akan dituju. Dalam pelaksanaan otonomi daerah tugas
utama dari Pemerintah Pusat ditujukan pada dua hal, pertama, dibidang
perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro,
sedangkan yang kedua, Pemerintah pusat masih memegang kendali
Perencanaan Regional

VI-8

pembangunan terutama pada segala sesuatu yang terkait dengan
kepentingan nasional atau strategis nasional, seperti:
- Hukum
- Pertahanan dan Keamanan nasional (Hankamnas)
- Permasalahan keagamaan
- Politik Luar Negeri
- Kebijakan Fiskal & Moneter Nasional
Dalam prosesnya kemudian diharapkan bahwa kekuatan pelaksanaan
pembangunan ada di tangan rakyat, sehingga benar-benar mampu
mewujudkan pembangunan yang berasal dari rakyat, dilaksanakan oleh
rakyat dan untuk rakyat itu sendiri.

b.) Dilihat dari sisi pendekatan pembangunan.
Dalam pendekatan pembangunan telah terjadi evolusi dari pendekatan
sektoral yang sangat dominan dilakukan pada periode-periode
sebelumnya menjadi pendekatan regional. Dengan diberikannya
kewenangan yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah, maka fokus
pembangunan menjadi ada di tingkat daerah. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya kewenangan pemerintah pusat menjadi sangat
terbatas, yaitu hanya pada segala sesuatu yang terkait dengan
kepentingan nasional saja yang bisa diurus oleh pemerintah pusat.
Pentingnya peran pembangunan regional merupakan suatu keniscayaan,
karena pembangunan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat yang nota bene berada di daerah. Sesuai dengan tujuan dari
perencanaan pembangunan regional (yang telah dibahas pada modul I),
maka salah satu cara untuk dapat mengetahui aspirasi sebenarnya dari
masyarakat, maka pelaksanaan pembangunan harus dilakukan oleh
Perencanaan Regional

VI-9

pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakatnya, yaitu
pemerintah daerah yang akan melakukan pendekatan pembangunannya
berdasarkan pendekatan yang ada di regionnya masing-masing.
Seperti juga yang telah dijelaskan di atas, bahwa

c.) Dilihat dari sisi perencanaan pembangunan
Penyerahan kewenangan dalam pelaksanaan pembangunan ke
Pemerintah Daerah (otonomi) memiliki konsekuensi bahwa pendekatan
pembangunan yang dilaksanakan juga harus berorientasi kepada
pendekatan daerahnya masing-masing. Pendekatan pembangunan yang
berorientasi kepada pembangunan regional akan berdampak kepada
perubahan dalama sisi perencanaannya. Jika pusat memiliki
kewenangan yang besar dalam penentuan pelaksanaan pembangunan
(seperti kewenangan yang diberikan berdasarkan UU Pemerintahan
Daerah No. 5 tahun 1974), maka perencanaan yang bersifat Top-Down
(sectoral planning) menjadi lebih dominan, karena perencanaan dan
kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan oleh instansi-instansi
vertikal di pusat hingga di daerah. Semetara itu sebaliknya jika
pendekatan pembangunan regional maka perencanaan yang bersifat
Bottom-Up Planning menjadi lebih besar, karena cara inilah yang
mampu menjaring aspirasi yang ada pada masyarakat untuk
kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Sebenarnya perencanaan tersebut juga merupakan suatu proses transisi
untuk mengarah kepada perencanaan yang bersifat partisipatory,
dimana pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dalam
pembangunan menjadi inti utama proses pembangunan itu sendiri. Oleh
Perencanaan Regional

VI-10

sebab itu proses ini akan membawa kepada perencanaan pembangunan
yang berbasis masyarakat (community base development planning).

1.1. Bottom up planning
Evolusi pembangunan di Indonesia akibat adanya otonomi daerah,
seperti yang telah dijelaskan di atas, telah membawa perubahan yang cukup
besar bagi perencanaan pembangunan di negara ini. Kegiatan pembangunan
yang tadinya menekankan pada kekuatan pemerintah pusat (dengan
pendekatan sektoral sebagai penggerak utama pembangunan dan proses
perencanaan yang lebih mengarah kepada top-down planning) mulai berubah
pada pembangunan yang menekankan pada kekuatan daerah sebagai inti
pembangunan (dengan perencanaan regional sebagai penggerak utama dan
proses perencanaan yang dititikberatkan pada proses bottom-up planning).
Kondisi ini diharapkan hanya sebagai batu loncatan bagi upaya pembangunan
yang lebih menekankan pada upaya pemberdayaan msyarakat dimana
kekuatan pembangunan ditekankan pada kekuatan rakyat, dengan
pendekatan pembangunan yang mengarah kepada pemberdayaan
masyarakat dan proses perencanaan yang bersifat partisipasif .
Perencanaan pembangunan yang bersifat dari bawah ke atas (Bottom
Up Planning) akan dimulai dari penjaringan aspirasi masyarakat. Dimulai dari
masyarakat yang paling kecil, yaitu pada tingkatan desa atau kelurahan
melalui forum Musbangdes, kemudian ditarik ke atas pada tingkatan
kecamatan (melalui forum temu karya UDKP), terus ketingkat kabupaten
(melalui forum Musrenbang Kabupaten/kota) dan propinsi, hingga pada
akhirnya akan kembali ke pemerintah pusat dalam forum Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Nasional. Adapun yang dimaksud dengan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) adalah forum
Perencanaan Regional

VI-11

antarpelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan baik ditingkat
nasional maupun daerah. Proses perencanaan pembangunan yang bersifat
bottom-up diilustrasikan seperti gambar VI-3. Pendekatan perencanaan
bottom-up di Indonesia ditempuh melalui mekanisme Pedoman Penyusunan
Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan di Daerah (P5D).




















Gambar VI-3.
Proses Perencanaan Berdasarkan Bottom-Up
MUSRENBANG
(Tingkat Desa)
MUSRENBANG
(Tingkat Kecamatan)
MUSRENBANG
(Tingkat kab/kota)
DUP
DAERAH
KONREG
MUSRENBANG
(Tingkat Propinsi)
MUSRENBANG
NASIONAL
Perencanaan Regional

VI-12


Pelaksanaan perencanaan yang berasal dari bawah ke atas (bottom-up
planning) memiliki beberapa keunggulan, terutama yang berkaitan dengan
penerimaan masyarakat terhadap pembangunan yang dilaksanakan,
diantaranya adalah:
a.) Bottom-up planning lebih menekankan peran masyarakat dalam
menentukan keputusan dan penyelesaian permasalahan pembangunan
yang mereka hadapi. Karena masyarakat yang merumuskan dan
memutuskan kegiatan-kegiatan pembangunan, maka pelaksanaan
kegiatannya diharapkan akan memberikan rasa tanggung jawab yang
lebih besar untuk mencapai dan menjaga hasil-hasil pembangunan.
b.) Peran pemerintah pusat dalam perencanaan jenis ini tidak terlalu
besarnya. Tugas pemerintah pusat hanya sebagai fasilitator, regulator
dan motivator, terutama yang terkait dengan penyediaan prasarana
dasar pembangunan.
c.) Pelaksanaan perencanaan yang bersifat bottom-up akan menimbulkan
penguatan bagi institusi-institusi lokal yang ada di daerah.
Berkembangnya institusi lokal akan mendorong peningkatan
pembangunan di wilayah tersebut. Institusi-institusi lokal inilah yang
nantinya diharapkan akan dapat memecahkan masalah di wilayah
setempat.

1.2.Top down planning
Meskipun perencanaan yang bersifat bottom-up merupakan suatu
yang diprioritaskan dalam praktek perencanaan wilayah di Indonesia saat ini,
tidak berarti harus menghilangkan perencanaan yang bersifat dari bawah ke
atas (Top-down planning). Perencanaan yang bersifat top-down masih
Perencanaan Regional

VI-13

diperlukan, hanya saja penekanannya harus dikurangi. Perencanaan yang
bersifat top-down pada dasarnya adalah pendekatan perencanaan yang
menetapkan penjabaran rencana induk kedalam rencana rinci (Iwan Nugroho
& Rochim Dahuri, 2005). Dalam pelaksanaannya perencanaan yang bersifat
top-down sering dilakuka untuk perencanaan sektoral, dimana rencana induk
berasal dari pemerintah pusat sedangkan rencana rincinya ada di tingkat
daerah. Pada perencanaan sektoral seringkali target-target disusun ditingkat
nasional untuk kemudian dijabarkan dalam rencana kegiatan diseluruh
daerah, untuk mencapai target nasional yang telah disusun oleh pemerintah
pusat.
Contoh kasus dari perencanaan jenis ini adalah pelaksanaan
perencanaan di Departemen Kesehatan. Pemerintah pusat membuat suatu
target program peningkatan angka harapan hidup masayarakat Indonesia,
yang nantinya akan berakibat pada peningkatan pada nilai Indek
Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia. Kemudian setiap unsur
Departemen kesehatan yang ada di daerah akan mencoba menjabarkan
terget tersebut sesuai dengan kondisi masing-masing daerahnya, sehingga
akan dicapai peningkatan angka harapan hidup di masing-masing daerah
yang berarti akan terjadi peningkatan angka harapan hidup di tingkat
nasional.
Penerapan perencanaan yang bersifat top-down dimulai dari proses
usulan kegiatan atau proyek yang berasal dari instansi-instansi sektoral yang
ada di daerah, seperti Kandep (di tingkat kabupaten/kota) untuk kemudian
dilanjutkan ke tingkat Kanwil (ditingkat propinsi). Selanjutnya perencanaan
yang disusun di tingkat bawahan tersebut dibahas dalam forum rapat teknis
departemen untuk diusulkan menjadi daftar usulan proyek (DUP) dari
masing-masing lembaga tersebut (tahapan perencanaan yang bersifat top-
Perencanaan Regional

VI-14

down dijabarkan seperti gambar VI-4). Berdasarkan UU No. 25 tahun 2004,
setiap tahun masing-masing departemen atau lembaga yang ada di tingkat
nasional wajib membuat Rencana Pembangunan Tahunan
Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
Kementerian/Lembaga (Renja-KL), yang merupakan dokumen perencanaan
Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun.
















Gambar VI-4.
Proses Perencanaan Berdasarkan Top-down



KANDEP
DUP
KANWIL/KANDEP
RAPAT TEKNIS
DEPT/LEMBAGA
DUP
DEPT/LEMBAGA
MUSRENBANG
NASIONAL

Perencanaan Regional

VI-15

1.3. Proses Perencanaan Dalam Otonomi
Berdasarkan penjelasan terdahulu terlihat bahwa ada hubungan yang
erat antara perencanaan wilayah dengan otonomi daerah. Pemberian
otonomi kepada daerah-daerah dalam suatu perekonomian nasional
memperbesar peluang bagi penerapan perencanaan wilayah dalam
pembangunan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa proses perencanaan
otonomi pada dasarnya merupakan proses perencanaan wilayah itu sendiri.
Perencanaan wilayah, menurut Hoover & Giarratani (1985), memiliki tiga ciri
utama, yaitu:
a.) Pada dasarnya didapati kenyataan bahwa sesungguhnya pergerakan
faktor-faktor produksi (seperti tenaga kerja, dan modal) tidak bisa
berpindah secara bebas (imperfect mobility of factor). Beberapa
sumber-sumber daya tertentu secara fisik relatif sulit atau memiliki
hambatan untuk digerakkan antarwilayah. Hal ini disebabkan adanya
faktor-faktor yang bersifat lokasional (yang bersifat khas atau
endemic, misalnya iklim dan budaya) yang mengikat mekanisme
produksi. Faktor inilah yang membuat bahwa suatu wilayah memiliki
keunikan masing-masing yang bisa dijadikan dasar sebagai keunggulan
komparatif dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sejauh ini
karakteristik tersebut senantiasa berhubungan dengan produksi
komoditas dari sumber daya alam, antara lain pertanian, perikanan,
pertambangan, kehutanan, dan kelompok usaha sektor primer lain.
b.) Ciri dasar kedua dari perencanaan wilayah (yang juga telah banyak
dibicarakan pada modul IV) adalah bahwa pada dasarnya setiap
aktivitas kegiatan usaha cenderung untuk melakukan aglomerasi
dalam suatu lokasi tertentu. Aglomerasi merupakan fenomena
eksternal yang berpengaruh terhadap pelaku ekonomi berupa
Perencanaan Regional

VI-16

meningkatnya keuntungan-keuntungan sebagai akibat pemusatan eko-
nomi secara spasial. Hal ini terjadi karena berkurangnya biaya-biaya
produksi akibat penurunan jarak dalam pengangkutan bahan baku dan
distribusi produk. Oleh karena itu pada dasarnya kegiatan
perkembangan aktivitas perekonomian tidak dapat secara sempurna
dipilah-pilah berdasarkan wilayah administratifnya (imperfect
divisibility).
c.) Ciri khas yang ketiga dari perencanaan wilayah adalah bahwa pada
dasarnya pergerakan barang dan jasa antar wilayah juga tidak bisa
bergerak secara sempurna (imperfect mobility of good and services)
karena perlu mempertimbangkan berapa besar biaya transportasi
untuk mendistribusikan komoditi tersebut. Biaya transport adalah salah
satu komponen penting yang mempengaruhi aktivitas perekonomian
(hal ini telah banyak dibahas dalam modul III). Implikasi dari biaya
transport adalah biaya yang ditimbulkan yang terkait dengan jarak
dan lokasi tidak dapat lagi diabaikan dalam proses produksi dan
pembangunan wilayah.
Ketiga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan wilayah,
karena akan berdampak pada keberhasilan pembangunan wilayah itu sendiri.
Selain itu pertimbangan organisasi dalam perencanaan wilayah juga menjadi
point tersendiri yang harus dipertimbangkan. Seperti yang telah dibahas di
atas bahwa otonomi daerah memerlukan peningkatan pada institusi di daerah
agar dapat memecahkan masalah-masalah yang ada di wilayahnya masing-
masing.
Amanat UU No. 32/2004 (sebagai pengganti UU N0. 22/1999)
tentang Pemerintahan Daerah juga menekankan bahwa, Pemerintahan
daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya dengan tujuan meningkatkan
Perencanaan Regional

VI-17

kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah
(pasal 2 ayat (3)), yang berarti bahwa pembangunan yang dilaksanakan
harus bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari masyarakatnya.
Tidak seperti UU No. 22/1999 maka UU No. 32/2004 lebih mengandung
kepastian mengenai kewenangan antar tingkat pemerintahan, seperti yang
diatur dalam pasal 10 ayat (3) tentang kewenangan pusat, pasal 13 ayat (1)
tentang kewenangan propinsi, serta pasal pasal 14 ayat (1) tentang
kewenangan kabupaten/kota, pasal 126 ayat (3) tentang kewenangan camat
dan pasal 206 tentang kewenangan desa. Dengan adanya kepastian
kewenangan tersebut maka semakin jelas pula peran antar tingkatan institusi
dalam proses pembangunan. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan iklim
yang lebih kondusif dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia.
Tabel VI-1 menggambarkan tentang peran masing-masing tingkat
pemerintahan dalam pelaksanaan pembangunan. Berdasarkan tabel tersebut
terlihat titik berat perencanaan untuk masing-masing tingkat pemerintahan
berbeda-beda, begitu juga dengan pelaku dan sasarannya. Semakin kebawah
sifat perencanaan menjadi semakin operasional dan menuju kearah
perencanaan pada kegiatan-kegiatan riil dari berbagai aktivitas yang ada di
masyarakat. Peran pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana publik
semakin mendorong pelaksanaan perencanaan yang bersifat bottom-up,
karena pada dasarnya pemerintahan yang paling dekat dengan
masyarakatlah yang paling mengerti tentang kebutuhan-kebutuhan apa saja
yang memang diingini oleh masyarakat yang ada diwilayahnya masing-
masing. Oleh sebab itu proses perencanaan dalam otonomi daerah dapat
dipandang sebagai proses pemberdayaan institusi-institusi lokal yang ada di
wilayahnya masing-masing, untuk berusaha memberikan hal yang terbaik
dari setiap aspirasi yang ada di masyarakat.
Perencanaan Regional

VI-18

Tabel VI-1
Skema Perencanaan Pembangunan
Di Masing-Masing Tingkatan Pemerintahan

No. JENIS PEMERINTAHAN PELAKU SASARAN TITIK BERAT
I. PUSAT Perencana Pembangunan Nasional - Pemerintah
- Swata
- Masyarakat

- Ekonomi makro nasional
- Kebijakan moneter dan fiscal (stabilisator)
- Distribusi dan pemerataan pendapatan
- Jaminan sosial masyarakat
- Pemersatu bangsa
- Kegiatan bersifat nasional
- Kegiatan antar sektor
- Kegiatan internasional
- Kegiatan antar daerah
- Tata Ruang Nasional
- Pelestarian lingkungan hidup
- Standarisasi
II. PROPINSI Perencana Pembangunan Propinsi - Pemerintah
- Swata
- Masyarakat

- Ekonomi makro propinsi
- Kegiatan antar kabupaten/kota
- Koordinasi antar kabupaten/kota
- Tata ruang propinsi
III. KABUPATEN/KOTA Perencana Pembangunan
Kabupaten/Kota
- Pemerintah
- Swata
- Masyarakat

- Perekonomian sektor riil
- Tata ruang dan tata guna tanah
- Penyediaan sarana dan prasarana perkotaan
(alokasi barang publik)
- Pelayanan masyarakat (alokasi jasa)
IV. DESA Masyarakat Desa Dibantu Perencana
Pembangunan Kabupaten
Masyarakat - Perekonomian sektor riil pedesaan
- Pelayanan masyarakat
- Pemberdayaan masyarakat

Perencanaan Regional

VI-19



















Gambar VI-5.
Diagram Sistem Perencanaan Pembangunan
RPJP RPJM
ASPEK
LINGKUNGAN
RTRWN
KERANGKA
MAKRO
EKONOMI
NASIONAL
Renstra-KL


RKP
(APBN)
Renja-KL
RTRWP
RENCANA
EKONOMI
PROPINSI
Renstra-
SKPD
PROPINSI
RKPD
(APBD
PROPINSI)
RTRWK
RENCANA
EKONOMI
KAB/KOTA
Renstra-SKPD
KAB/KOTA

RKPD
(APBD
KOTA/KAB)
PEMB NAS & DAERAH
RPJM
PROPINSI
RPJM
KAB/KOTA
PAD
PAD
PUSAT
PROPINSI
KAB/KOTA
Renja-
RKPD
Propinsi
Renja-
RKPD
Kota/Kab
RPJP
RPJP
UUD 45
Perencanaan Regional

VI-20

Agar proses perencanaan pembangunan daerah dapat berjalan dengan
baik maka perlu disusun beberapa dokumen perencanaan. Dokumen-
dokumen perencanaan tersebut disusun untuk masing-masing tingkatan
pemerintahan, selain itu dokumen tersebut juga harus disusun berdasarkan
jangka waktu perencanaannya (mulai perencanaan jangka panjang, jangka
menengah hingga jangka pendek). Gambar VI-5 menggambarkan susunan
dokumen perencanaan berdasarkan tingkatan pemerintahan, serta
menggambarkan keterkaitan diantara masing-masing dokumen perencanaan
tersebut untuk tiap tingkatan pemerintahan maupun antar tingkatan
pemerintahan.
Undang-undang No. 4/1999 tentang GBHN (yang saat ini bernama
RPJM) menyatakan bahwa langkah awal dari perencanaan pembangunan
daerah adalah dengan membuat pola dasar (yang menurut UU No. 25/2004
disebut sebagai RPJM propinsi dan kabupaten/kota) sebagai garis besar
arah pembangunan daerah selama 5 tahun kedepan yang bisa terlihat
melalui visi, misi, serta strategi dan arah kebijakan pembangunan masing-
masing daerah. Selanjutnya berdasarkan UU No. 25/2000 tentang Propenas
ditetapkan bahwa setiap daerah harus memiliki Program Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) dan Program Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) yang berisi sasaran dan program perencanaan pembangunan yang
akan dilaksanakan di daerah. Bersama RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah)
dan kerangka Makro Ekonomi maka RPJP menjadi dasar dari visi, misi, serta
strategi dan arah kebijakan pembangunan yang ada pada Renstra (Rencana
Strategis). Terkait dengan RPJM maka PP No. 108/2000 mengharuskan
daerah/unit kerja daerah membuat Rencana Strategis (Renstra) sebagai
wujud keterukuran sasaran dan program yang telah ditetapkan pada RPJM.
Renstra merupakan perecanaan yang bersifat indikatif dalam artian bahwa
Perencanaan Regional

VI-21

informasi, baik tentang sumber daya yang diperlukan maupun keluaran dan
dampak yang tercantum di dalam dokumen rencana ini, hanya merupakan
indikasi yang hendak dicapai dan bersifat tidak kaku. Semua dokumen
perencanaan tersebut merupakan dokumen perencanaan jangka menengah.
Produk terakhir dari dokumen perencanaan pembangunan adalah dokumen
perencanaan jangka pendek. UU No. 33/2004 menyatakan bahwa setiap
daerah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai rencana
tahunan kegiatan pembangunan di daerah. Selanjutnya setiap unit
kerja/perangkat daerah akan menyusun Rencana Kerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renja SKPD) yang merupakan detilasi dari RKPD.
Seperti rencana operasional pada umumnya hal-hal yang diatur dalam
RKPD dan Renja SKPD sangat detail dan akurat, dan sangat fokus hanya
berisi berbagai rencana kegiatan yang menjadi kewenangan dari masing-
masing SKPD saja. Misalkan saja Dinas Kesehatan hanya memfokuskan diri
pada perencanaan berbagai kegiatan yang menjadi kewenagannya, begitu
juga dengan dinas-dinas yang lain. Hanya saja untuk beberapa program yang
saling berkaitan (contohnya saja seperti program peningkatan kesehatan
lingkungan masyarakat, maka Dinas Kesehatan harus berkoordinasi dengan
Dinasa Pekerjaan Umum untuk misalkan membangun MCK dan sarana air
minum bagi masyarakat). Satu hal lain yang menjadi ciri dari rencana
operasional (renja SKPD) adalah bahwa setiap rencana kegiatan yang disusun
didalamnya sudah termasuk rencana alokasi biaya yang dibutuhkan, serta
target hasil yang hendak dicapai selama periode perencanaan. Biasanya
semua kegiatan dari renja SKPD akan tertuang dalam dokumen perencanaan
keuangan daerah yang dikenal sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) dan nota keuangan daerah.

Perencanaan Regional

VI-22




Gambar VI-6.
Keterkaitan Produk Perencanaan Pada
Pemerintah Daerah
RPJM :
- Strategi pembangunan
- Kebijakan umum
- Program prioritas
- Arah Kebijakan Keuangan

RENSTRA SKPD :
- Strategi
pembangunan
- Kebijakan umum
- Program prioritas
- Arah Kebijakan
Keuangan
-
Rencana Kerja Pemerintah Daerah/RKPD:
- Arah & Kebijakan
- Prioritas
- Program
- Kegiatan
Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Nota Keuangan):
- Arah & Kebijakan
- Prioritas
- Program & Kegiatan
APBD
RENCANA
PEMBANGUNAN 5
TAHUNAN

RENCANA
PEMBANGUNAN
TAHUNAN

Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renja SKPD)
- Arah & Kebijakan
- Prioritas
- Program & Kegiatan

Perencanaan Regional

VI-23

Pada tingkat pemerintah daerah keterkaitan antar dokumen-dokumen
perencanaan serta materi-materi yang ada pada setiap dokumen tersebut
dijelaskan seperti pada gambar VI-6. Berdasarkan gambar tersebut terlihat
bahwa perencanaan jangka menengah dapat dikategorikan sebagai
perencanaan strategik (strategic planning), dimana perencanaan tersebut
memfokuskan pada penjabaran visi, misi pembangunan di masing-masing
daerah sebagai tujuan akhir yang hendak dicapai dalam pembangunan. Untk
pencapaian visi dan misi pembangunan RPJM akan memuat rencana-rencana
strategi pembangunan, kebijakan umum pembangunan, serta program-
program prioritas yang disusun sebagai dasar pijakan untuk mencapai visi
dan misi yang telah ditetapkan. Sedangkan rencana tahunan merupakan
rencana operasional (operational planning) dari pembangunan itu sendiri,
dimana pada dokumen perencanaan tersebut telah dituangkan prioritas,
program dan kegiatan untuk masing-masing aktivitas kegiatan yang mungkin
dilakukan pada tahun yang bersangkutan. Selain itu juga rencana tahunan
telah memuat rencana anggaran dari tiap kegiatan yang diusulkan yang
tercantum pada nota keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD).


Latihan :
1. Sebutkan 3 buah asas dalam pembangunan yang dilaksanakan di
Indonesia?
2. Berdasarkan Undang-undang nomor 25 tahun 2004 tentang sistem
perencanaan pembangunan nasional, ada 3 tahapan perencanaan
pembangunan yang harus dijalankan. Jelaskan ketiga tahapan
perencanaan tersebut!
Perencanaan Regional

VI-24

3. Jelaskan urutan perencanaan pembangunan yang didasarkan pada proses
perencanaan yang bottom-up!
4. Jelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses
perencanaan pembangunan yang didasarkan pada perencanaan yang
bersifat top-down!
5. Sebutkan titik berat kegiatan perencanaan pembangunan di tingkat
kabupaten/kota dalam kerangka otonomi daerah!


Petunjuk jawaban latihan:
1. Lihat penjelasan mengenai asas-asas pembangunan berdasarkan UU
nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
2. Perhatikan pembahasan tahapan perencanaan pembangunan
berdasarkan UU nomor 25 tahun 2004
3. Perhatikan penjelasan tahapan perencanaan seperti yang digambarkan
pada Gambar VI-3 tentang proses perencanaan berdasarkan bottom-up
planning
4. Perhatikan penjelasan tahapan perencanaan seperti yang digambarkan
pada gambar VI-4 tentang proses perencanaan berdasarkan top-down
planning
5. lihat penjelasan mengenai 4 titik berat atau fokus perencanaan
pembangunan ditingkat kabupaten/kota seperti yang dijelaskan pada
tabel VI-1.


Perencanaan Regional

VI-25

Rangkuman

Penetapan UU No, 22 dan 25 tahun 1999 merupakan titik tolak dari
perubahan dalam sistem perencanaan pembangunan di Indonesia. Meskipun
dalam pelaksanaannya perencanaan pembangunan masih tetap
menggunakan 3 asas, yaitu:
- Asas desentralisasi
- Asas dekonsentrasi
- Asas tugas pembantuan
Akan tetapi berkat kedua undang-undang tersebut pembangunan di
Indonesia telah mengalami pergeseran, baik dari sisi kekuatan, pendekatan,
maupun perencanaannya.
Proses perencanaan saat ini lebih dititik beratkan pada perencanaan
yang bersifat bottom-up. Proses perencanaan pembangunan yang bersifat
dari bawah ke atas diawali dari penjaringan aspirasi masyarakat, yaitu
dimulai dari masyarakat yang paling kecil, yaitu pada tingkatan desa atau
kelurahan melalui forum Musbangdes, kemudian ditarik ke atas pada
tingkatan kecamatan,terus ketingkat kabupaten dan propinsi, hingga pada
akhirnya akan kembali ke pemerintah pusat dalam forum Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Nasional.
Berbeda dengan proses perencanaan yang didasarkan pada metode
top-down yang memfokuskan penjabaran rencana induk (yang biasanya
berasal dari pusat) kedalam rencana rinci (yang ada didaerah). Metode
Bottom-up diharapkan bisa dijadikan batu loncatan bagi upaya pembangunan
yang lebih menekankan pada upaya pemberdayaan masyarakat .

Perencanaan Regional

VI-26

Agar proses perencanaan pembangunan daerah dapat berjalan
dengan baik maka perlu disusun beberapa dokumen perencanaan. Dokumen-
dokumen perencanaan tersebut dapat disusun untuk masing-masing
tingkatan pemerintahan, maupun berdasarkan jangka waktu
perencanaannya. Jika perencanaan di dasarkan pada tingkatan pemerintahan
daerah, maka akan ditemukan dokumen perencanaan, nasional, propinsi atau
perencanaan kabupaten/kota. Sedangkan jika perencanaan didasarkan dari
jangka waktu perencanaannya, maka dapat disusun berdasarkan hirarki
sebagai berikut:
- Rencana Jangka Panjang
- Rencana Jangka Menengah
- Rencana Jangka Pendek
Karena dasar kebijakan perencanaan pembangunan di Indonesia saat
ini adalah otonomi daerah, yang memberikan kewenangan kepada daerah
untuk melaksanakan kegiatan pembangunannya diwilayah masing-masing,
maka proses perencanaan otonomi tidak lain adalah perencanaan wilayah
itu sendiri, yang menurut Hoover punya 3 ciri utama, yaitu:
- imperfect mobility of factor
- imperfect divisibility
- imperfect mobility of good and services

Perencanaan Regional

VI-27

Test Formatif Modul VI Bagian 1:
Pilihlah satu jawaban yang anda anggap tepat !

1. Dalam sistem perundang-undangan pemerintahan daerah di Indonesia
saat ini, susunan pemerintahan dibagi kedalam beberapa tingkatan
yaitu
a) Pemerintah Pusat sebagai atasan dan Pemerintah Daerah sebagai
daerah bawahan
b) Pemerintah sebagai atasan, Provinsi sebagai bawahan pemerintah
dan Kabupaten/Kota sebagai bawahan Provinsi
c) Pemerintah sebagai atasan dan kabupaten/kota sebagai daerah
bawahan
d) Pemerintah sebagai atasan dan Provinsi sebagai daerah bawahan

2. Yang merupakan pengertian yang salah dari istilah dalam perencanaan
pembangunan dibawah ini adalah.....
a) Visi dan Misi adalah rumusan umum mengenai keadaan dan
upaya-upaya yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.
b) Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program
indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.
c) Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah
Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.
d) Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih
kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga
untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi
anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh
instansi pemerintah.
Perencanaan Regional

VI-28

3. Dibawah ini yang bukan merupakan tugas utama pemerintah dalam
perencanaan pembangunan adalah......
a) Segala kegiatan yang berkaitan dengan Yustisi
b) Pengendalian pembangunan secara makro
c) Permasalahan keagamaan
d) Permasalahan sektor riil

4. Perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh departemen teknis
terkait di Indonesia saat ini dilakukan berdasarkan sistem ........
a) Bottom-up planning
b) Asas tugas perbantuan
c) Top-down planning
d) Asas desentralisasi

5. Istilah dibawah ini yang pengertiannya sama dengan Pola dasar
pembangunan adalah .......
a) Renstra RKPD
b) RPJM
c) RKPD
d) RPJP

Pilihlah jawaban anda sesuai dengan aturan seperti dibawah ini:
- Jika jawaban, (1), (2), dan (3) benar maka pilih A
- Jika jawaban (1) dan (3) benar maka pilih B
- Jika jawaban (2) dan (4) benar maka pilih C
- Jika seluruh jawaban salah maka pilih D

Perencanaan Regional

VI-29

6. Dibawah ini merupakan beberapa hal yang merupakan keunggulan dari
pelaksanaan perencanaan yang berasal dari bawah ke atas kecuali.......
(1) Perencanaan yang berasal dari bawah ke ata menekankan peran
masyarakat
(2) Tidak ada peranan dari pemerintah pusat dalam pelaksanaan
perencanaan jenis tersebut
(3) Perencanaan itu akan menumbuhkan penguatan bagi institusi-
institusi lokal yang ada di daerah
(4) Partisipasi masyarakat dijamin pasti akan terlaksana dalam
perencanaan tersebut

7. Dibawah ini merupakan beberapa hal yang menjadi fokus pembangunan
yang dilaksanakan di tingkat provinsi kecuali......
(1) Perencanaan ekonomi makro wilayahnya
(2) Kegiatan antar kabupaten/kota
(3) Koordinasi antar kabupaten/kota
(4) Tata ruang wilayahnya

8. Dibawah ini yang merupakan hal yang tidak benar dalam hirarki
perencanaan pembangunan di Indonesia adalah......
(1) Setiap perencanaan pembangunan di daerah harus menyesuaikan
diri dengan perencanaan pembangunan nasional
(2) RPJM tingkat kabupaten/kota perlu mempertimbangkan semua
produk perencanaan yang ada di tingkat propinsi
(3) Renja RKPD merupakan penjabaran lebih detail dari RKPD pada
tahun yang sesuai
Perencanaan Regional

VI-30

(4) RPJM yang dibuat harus mempertimbangkan rencana tata ruang
yang ada diwilayahnya masing-masing

9. Dibawah ini yang bukan merupakan bagian dari kegiatan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) adalah......
(1) Menyusun arah dan kebijakan umum pembangunan untuk tahun
yang bersangkut
(2) Membuat prioritas-prioritas pembangunan
(3) Menyusun program-program pembangunan
(4) Membuat kegiatan-kegiatan pembangunan

10. Beberapa hal dibawah ini adalah hal-hal yang mengalami evolusi karena
diberlakukannya UU No. 22/1999, diantaranya adalah........
(1) Kekuatan pelaksana pembangunan
(2) Pendekatan pembangunannya
(3) Sistem perencanaan pembangunannya
(4) Idiologi dasar pembangunannya


Cocokan semua jawaban anda dengan kunci jawaban Tes formatif
modul VI. Kemudian hitunglah jumlah jawaban anda yang benar, kemudian
gunakan rumus dibawah ini sejalan dengan proses administratif yang sedang
berjalan.
Rumus tingkat penguasaan materi dalam modul ini adalah sebagai
berikut:
Tingkat Penguasaan = 100% x
10
benar yang Jawaban Jumlah

Perencanaan Regional

VI-31

Pengertian tingkat penguasaan yang anda capai:
a.) 90% - 100% = sangat baik
b.) 80% - 89% = baik
c.) 70% - 79% = cukup
d.) Kurang dari 70%= kurang

Apabila tingkat penguasaan anda pada materi ini mencapai lebih dari
80% maka anda dapat melanjutkan ke tingkat pelajaran berikutnya. Bagus !
Akan tetapi jika tingkat penguasan materi anda kurang dari 80% maka
dianjurkan bagi anda untuk mempelajari kembali materi ini, terutama pada
bagian-bagian yang anda belum pahami dan kuasai.
Perencanaan Regional

VI-32

2. Koordinasi Lintas Sektoral
2.1. Pentingnya koordinasi lintas sektoral
Pelaksanaan perencanaan pembangunan selalu akan melibatkan
berbagai unsur karena pada dasarnya pembangunan itu sendiri merupakan
suatu proses yang multidimensi (lihat kembali penjelasan dari makna
perencanaan pembangunan pada modul I). Keterlibatan masing-masing
unsur sangat bervariasi bergantung pada tugas pokok dan fungsinya
(Tupoksi) masing-masing. Perbedaan dalam tugas pokok dan fungsi
mengakibatkan perbedaan pada sudut pandang dalam menilai suatu
permasalahan dalam pembangunan. Untuk mengatasi potensi perbedaan
tersebut itulah maka koordinasi menjadi sangat diperlukan.
Salah satu tujuan utama dari koordinasi yang dilakukan dalam proses
perencanaan pembangunan adalah agar proses pembangunan dapat
dijalankan secara sinergis dan harmonis, masing-masing unsur yang terlibat
dalam proses perencanaan diharapkan memberikan informasi mengenai
dasar pemikiran, rasionalisasi dan tujuan yang hendak dicapai dari setiap
aktivitas rencana kegiatan yang akan dilakukan agar dapat diselaraskan
dengan aktivitas-aktivitas rencana kegiatan yang lainnya. Beberapa alasan
yang dapat menjelaskan pentingnya koordinasi dalam proses pembangunan
dikemukakan oleh Riyadi dan Deddy Supriady sebagai berikut:
a.) Koordinasi dalam pembangunan sangat diperlukan sebagai suatu
konsekuensi logis dari adanya aktivitas dan kepentingan yang berbeda
b.) Aktivitas dan kepentingan yang berbeda juga membawa konsekuensi
logis terhadap adanya tanggung jawab yang secara fungsional berbeda
pula
c.) Ada institusi, badan, lembaga yang menjalankan peran dan fungsinya
masing-masaing
Perencanaan Regional

VI-33

d.) Ada unsur sentralisasi dan desentralisasi yang dijalankan dalam proses
pembangunan yang melibatkan institusi pusat maupun daerah
e.) Koordinasi merupakan alat sekaligus upaya untuk melakukan
penyelarasan dalam proses pembangunan, sehingga akan tercipta suatu
aktivitas yang harmonis, sinergis, dan serasi untuk mencapai tujuan
pembangunan.

Seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa dalam
perakteknya pelaksanaan perencanaan pembangunan di Indonesia masih
tetap mempertimbangkan keterkaitan antara perencanaan yang bersifat
bottom-up dan perencanaan yang bersifat top-down, meskipun pelaksanaan
pembangunan di Indonesia saat lebih menekankan pada peran pemerintah
daerah sebagai pelaksana utama pembangunan. Kedua jenis perencanaan
tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena keduanya tetap
dibutuhkan untuk menjamin adanya sinkronisasi dalam pembangunan.
Kejadian yang ada saat ini adalah bahwa penekanan dari pelaksanaan kedua
jenis perencanaan tersebut berbeda, dalam pengertian perencanaan yang
bersifat bottom-up dalam otonomi daerah saat ini lebih menjadi prioritas
dibanding dengan perencanaan yang bersifat top-down.
Proses perencanaan yang bersifat top-down biasanya diwujudkan
dalam perencanaan sektoral, sedangkan perencanaan yang bersifat bottom-
up lebih banyak terkait dengan perencanaan regional. Dengan demikian
koordinasi dan sinkronisasi antar kedua proses perencanaan tersebut
menggambarkan adanya koordinasi lintas sektoral. Bagaimana koordinasi
lintas sektoral tersebut berjalan dijelaskan oleh gambar VI-7. Berdasarkan
gambar tersebut terlihat bahwa proses koordinasi terjadi pada setiap acara
musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) baik pada tingkat
Perencanaan Regional

VI-34

pemerintahan kabupaten/kota, tingkat propinsi maupun tingkat pusat
(nasional). Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun rencana
pembangunan dan diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara negara (baik yang
berasal dari instansi daerah maupun yang berasal dari instansi sektoral)
dengan mengikutsertakan masyarakat.
Proses koordinasi yang dijelaskan pada gambar VI-7 tersebut berupaya
untuk menghindari adanya ego sektoral diantara berbagai unsur
penyelenggara negara, lembaga swasta dan masyarakat. Dengan adanya
koordinasi tersebut diharapkan akan terjalin saling pengertian dan kesadaran
diantara berbagai pihak yang berkepentingan dalam pembangunan, sehingga
diharapkan pelaksanaan pemabngunan tersebut dapat menjadi lebih baik
lagi, dalam pengertian tercipta peningkatan efisiensi dalam
pengalokasian/pemanfaatan sumber daya pembangunan yang diikuti dengan
efektivitas pelaksanaa pembangunan.
Berdasarkan ruang lingkup materinya, pelaksanaan koordinasi
diperlukan untuk menjamin adanya sinkronisasi antara perencanaan makro,
perencanaan sektoral, perencanaan regional serta perencanaan mikro.
Perencanaan makro adalah perencanaan nasional secara menyeluruh
(aggregate) meliputi seluruh kegiatan dalam skala nasional, seperti berapa
besar target pertumbuhan yang bisa dicapai, berapa besar investasi yang
dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, bagaimana dengan
besarnya pendapatan yang diperoleh negara dari sektor pajak. Model
perencanaan makro sering juga disebut sebagai Aggregate Consistency
Model.


Perencanaan Regional

VI-35




















Gambar VI-7.
Koordinasi Lintas Sektoral Dalam Pencanaan Pembangunan

Sedangkan perencanaan sektoral dan perencanaan regional sering
disebut sebagai Disagrregate Consistency Model, karena pada dasarnya
perencanaan tersebut merupakan penjabaran dan penguraian lebih rinci dari
perencanaan makro. Ruang lingkup kegiatan perencanaan sektoral
diantaranya adalah berusaha mencapai target pertumbuhan dan kebutuhan
investasi sektoral dalam pengertian bahwa perekonomian secara nasional
MUSRENBANG
(Tingkat Desa)
MUSRENBANG
(Tingkat Kecamatan)
MUSRENBANG
(Tingkat kab/kota)
DUP
DAERAH
KONREG
MUSRENBANG
(Tingkat Propinsi)
MUSRENBANG
NASIONAL
KANDEP
DUP
KANWIL/KANDEP
RAPAT TEKNIS
DEPT/LEMBAGA
DUP
DEPT/LEMBAGA
Perencanaan Regional

VI-36

dapat dibagi-bagi kedalam kegiatan yang lebih rinci yang disebut dengan
sektor dan sub sektor, sedangkan ruang lingkup perencanaan regional lebih
pada pertumbuhan perekonomian dan investasi wilayah, serta
mengupayakan pendayagunaan ruang di wilayahnya untuk kemudian mengi-
sinya dengan berbagai kegiatan sehingga menghasilkan alternatif
pembangunan yang terbaik bagi wilayah tersebut. Perencanaan regional
membagi perencanaan makro kedalam beberapa wilayah/lokasi. Sehingga
aspek lokasi dan kegiatan usaha menjadi dua hal penting dalam perencanaan
regional.
Perencanaan mikro adalah perencanaan operasional yang dilakukan
pada skala yang sangat rinci. Perencanaan ini mencakup pelaksanaan proyek-
proyek dan kegiatan-kegiatan yang disertai dengan rencana pembiayaannya
yang tergambar dalam Daftar Isian Proyek (DIP), Petunjuk Operasional (PO),
dan rancangan kegiatan. Menurut Iwan Nugroho dan Rochmin Dahuri (2004)
perencanaan mikro merupakan unsur yang sangat penting, karena pada
dasarnya pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan, baik untuk PJP II
maupun yang tertulis dalam Repelita VI, seluruhnya diandalkan pada
implementasi dari rencana-rencana di tingkat mikro. Efektivitas dan efisiensi
yang menjadi masalah nasional sehari-hari dapat ditelusuri penanganannya
dalam perencanaan dan pelaksanaan rencana di tingkat mikro. Keterkaitan
antara perencanaan makro, sektoral, regional, dan mikro dapat dilihat dalam
Gambar VI-8.





Perencanaan Regional

VI-37
















Gambar VI-8.
Sinkronisasi Perencanaan Berdasarkan Ruang Lingkup


2.2. Langkah dan prosedur
Setiap tahun kedua jenis proses perencanaan tersebut (bottom-up dan
top-down planning) seperti yang diuraikan pada gamabarVI-7 dilakukan oleh
pemerintah untuk dapat memastikan bahwa koordinasi diantara dua proses
perencanaan tersebut. Bagian ini akan mencoba menjelaskan tentang
bagaimana langkah-langkah dan prosedur koordinasi tersebut dilakukan.
Langkah awal dari proses koordinasi adalah pada saat kegiatan
Musrenbang tingkat Kabupaten/Kota (Forum ini dahulu lebih dikenal dengan
nama Rapat Koordinasi Pembangunan/Rakorbang Tingkat II). Pada forum
PERENCANAAN MAKRO
PERENCANAAN
SEKTORAL
Keterkaitan
Regional
PERENCANAAN
REGIONAL
Keterkaitan
Sektoral
Koordinasi spasial
Efisiensi/efektivitas
Keperluan
sektor
Kemungkinan
sumber
Keperluan
spasial
Sumber
regional
Alokasi spasial di wilayah/daerah
PERENCANAAN MIKRO
1. Kebijakan Operasional
2. Sasaran
3. Proyek Kegiatan
4. Lokasi
5. Anggaran
Perencanaan Regional

VI-38

Musrenbang tersebut Bappeda (Badan Perencana Pembangunan Daerah) dan
bagian keuangan Sekretaris Daerah (Sekda) bertindak sebagai koordinator
dari perencanaan ditingkat kabupaten/kota mengumpulkan semua dinas yang
ada diwilayahnya untuk secara bersama-sama dengan DPRD membahas
program dan rencana kegiatan dari masing-masing dinas serta usulan-usulan
kegiatan perencanaan yang berasal dari masyarakat (yang dilaksanakan
melalui forus Musbangdes dan Murenbang kecamatan). Forum ini juga
membicarakan tentang rencana biaya yang tersedia untuk melaksanakan
berbagai kegiatan-kegiatan tersebut.
Selain membahas koordinasi berbagai program dan kegiatan yang
dihasilkan dari proses penjaringan aspirasi masyarakat, forum ini juga
berusaha untuk mengkoordinasikan program-program dan rencana kegiatan
yang berasal dari kebijakan pusat. Berdasarkan informasi yang ada dari
instansi teknis terkait (seperti Kandep) maka dapat diketahui program-
program dan rencana kegiatan pusat yang bisa dilaksanakan di daerahnya.
Kemudian program dan rencana kegiatan pusat tersebut akan
disinkronisasikan dengan program dan rencana kegiatan yang berasal dari
semua dinas yang ada, agar tidak tumpang tindih baik dari sisi kegiatan
maupun dari sisi pendanaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut terlihat bahwa tujuan utama dari
diadakannya koordinasi tersebut adalah agar kegiatan pembangunan menjadi
lebih efisien dan efektif, selain itu juga agar terjadi keharmonisan antara
rencana kegiatan yang berasal dari pusat dengan rencana kegiatan yang
berasal dari daerah itu sendiri. Dengan adanya ketiga hal tersebut (efisiensi,
efektifitas, dan harmonisasi) diharapkan pertumbuhan pembangunan yang
ada di daerah bisa lebih ditingkatkan.
Perencanaan Regional

VI-39

Pada dasarnya langkah dan prosedur yang di lakukan di tingkat
propinsi (melalui forum Musrenbang Propinsi) maupun ditingkat pusat
(melalui forum Musrenbang Nasiona), memiliki langkah-langkah dan prosedur
yang sama dengan yang ada di tingkat kabupaten. Yang menjadi perbedaan
utama adalah para aktor yang terlibat, misalkan saja pada forum Musrenbang
Propinsi maka yang terlibat dalam pembahasan adalah perwakilan dari
kabupaten/kota masing-masing dalam satu propinsi (yang biasanya diwakili
oleh Bappeda masaing-masing kabupaten/kota) serta instansi teknis terkait di
wilayah propinsi (kanwil). Kedua forum tersebut hanya membahas hal-hal
yang bersifat koordinasi program dan rencanan kegiatan lintas daerah
kabupaten/kota (untuk forum Musrenbang Propinsi) dan koordinasi program
dan rencana kegiatan lintas propinsi (untuk forum Musrenbang Propinsi).Hal
tersebut dilakukan untuk menjamin adanya harmonisasi kegiatan dan
mencegah adanya ego kedaerahan, mengingat saat ini perencanaan
pembangunan lebih ditekankan kepada daerah kabupaten/kota
Proses penilaian kelayakan program dan usulan kegiatan di masing-
masing forum musyawarah tersebut didasarkan pada dua hal, pertama akan
dinilai bagaimana kesesuaian program dan usulan kegiatan atersebut dengan
tujuan dan ouput, sedangkan yang kedua penilaian akan dilakukan dari sisi
biaya yang dibutuhkan. Prosedur pemilihan usulan kegiatan tersebut
dijelaskan pada gambar VI-9. Berdasarkan prosedur tersebut akan dapat
ditentukan penilaian dari masing-masing usulan tersebut, dan
rekomendasinya jika usulan kegiatan tersebut bisa dilaksanakan.




Perencanaan Regional

VI-40















Gambar VI-9.
Keputusan Pemilihan Program dan Usulan Kegiatan


Usulan-usulan kegiatan yang bisa dilaksanakan adalah usulan kegiatan
dengan penilaian biaya rendah dan kesesuaian tinggi (dengan rekomendasi
hasil yang diharapkan), sedangkan usulan usulan program yang ditolak
(rekomendasi di eliminasi) adalah usulan kegiatan yang penilaian
pembiayaannya tinggi akan tetapi memiliki kesesuaian yang rendah. Usulan-
usulan kegiatan dengan penilaian biaya tinggi dan kesesuaian tinggi harus
dimodifikasi melalui usaha-usaha penurunan biaya agar bisa dijadikan
kegiatan yang dapat direalisasikan, sedangkan untuk usulan-usulan kegiatan
dengan biaya rendah dan kesesuaian rendah perlu dirancang ulang
Kesesuaian dengan tujuan strategis dan
output
Biaya
Pembiayaan Tinggi
Kesesuaian Rendah
Biaya Tinggi
Kesesuaian Tinggi
Biaya Rendah
Kesesuaian Rendah
Biaya Rendah
Kesesuaian Tinggi

Eliminasi
Eliminasi atau
Redesign
Penurunan Biaya
Hasil yang Diharapkan
Perencanaan Regional

VI-41

(redesign) usulan kegiatannya, dan jika tidak memungkinkan maka harus
dieliminasi.

2.3. Kendala dan Solusinya
Pelaksanaan proses dan koordinasi perencanaan yang dijelaskan di
atas semasa belum diberlakukannya UU No. 22/1999 pada tanggal 1 Januari
2001, tampaknya masih memiliki berbagai masalah. Banyak ditemui berbagai
kekurangan dan ketidaktaatan asas, seperti kuatnya peran instansi
sektoral/departemen dibandingkan dengan pemerintah di daerah. Kondisi ini
juga disinyalir oleh Riyadi dan Deddy S Bratakusumah, mereka mengatakan
bahwa masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan koordinasi
proses perencanaan seperti yang dijelaskan pada gambar VI-7 tersebut,
diantaranya adalah:
a.) Desentralisasi tidak berjalan dengan baik dan benar, terbukti dengan
masih banyaknya wewenang atau urusan yang sudah diserahkan
kepada daerah masih tetap ditangani oleh pusat
b.) Meskipun dana pembangunan dari pusat untuk daerah ada yang bersifat
block grant, namun pada pelaksanaan masih penuh dengan berbagai
intervensi dari pusat yang disalurkan melalui pedoman umum, jukalh
dan juknis dan berbagai pengarahan lainnya
c.) Partisipasi masyarakat selaku penerima manfaat dan penanggung resiko
sangat lemah, walaupun secara legal aspirasi masyarakat sudah
dicerminkan atau disuarakan oleh wakil rakyat di DPR
d.) Hasil-hasil dari berbagai forum koordinasi di daerah seringkali tidak
digubris oleh instansi pusat dengan berbagai alasan. Forum koordinasi
hanya merupakan ajang kenduri yang bersifat ritual setiap tahun
Perencanaan Regional

VI-42

e.) Forum Koordinasi seperti gambar VI-7 lebih banyak ke arah forum
penyelarasan shopping list atau daftar kemauan ketimbang proses
perencanaan
f.) Mengingat proses birokrasi yang ditempuh cukup memakan waktu yang
panjang, masyarakat tidak mendapatkan kepastian kapan keinginannya
akan terwujud
Hal tersebut terjadi karena proses pembangunan lebih menekankan pada
paradigma pertumbuhan sebagai tujuan utamanya.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses koordinasi, seperti yang
telah diungkapkan di atas ini, berakibat pada ketidakpuasan masyarakat. Para
tokoh masyarakat di Indonesia menilai bahwa aspirasi mereka tidak pernah
terwujud dalam pelaksanaan pembangun. Mereka menilai jauhnya jenjang
antar pemerintah pusat (yang menjadi kekuatan utama dalam pembangunan)
dengan masyarakat merupakan salah satu sebab dari sedikitnya aspirasi
masyarakat yang bisa terpenuhi dalam pembangunan.
Berdasarkan kondisi tersebut maka diusulkanlah evolusi perencanaan
pembangunan seperti yang telah dijelaskan pada gambar VI-2, dimana fokus
perencanaan akan ada pada pemerintahan yang paling dekat dengan
masyarakat (yaitu pemerintah kabupaten/kota). Adanya perbaikan
pelaksanaan dalam sistem otonomi di Indonesia diharpakan mampu
menyelesaikan kendala-kendala yang selama ini ada. Paling tidak dengan
sistem pemerintahan daerah yang didasarkan pada UU No. 22/1999 yang
kemudian diubah menjadi UU No. 33/2004 beserta aturan turunannya secara
materiel sistem perencanaan dan dan pengendalian pembangunan akan
memiliki standar aturan, prosedur dan norma-norma substantif yang lebih
jelas dan transparan yang menjamin bahwa kebutuhan masyarakat akan
terakomodasi dalam pelaksanaan pembangunan.
Perencanaan Regional

VI-43

Latihan :
1. Jelaskan tujuan utama dari pelaksanaan koordinasi yang dilakukan
dalam proses perencanaan pembangunan!
2. Ada 5 alasan pentingnya koordinasi dalam proses pembangunan seperti
yang dikemukakan oleh Riyadi dan Deddy Supriady, sebutkanlah kelima
alasan penting tersebut!
3. Jelaskan pengertian proses koordinasi yang didasarkan atas ruang
lingkup materinya!
4. Jelaskan bagaimana proses seleksi dan pemilihan program-program dan
usulan-usulan kegiatan yang dianggap layak untuk dilaksanakan?
5. Sebutkan minimal 3 hal yang sering menjadi kendala dalam
pelaksanaan koordinasi perencanaan pembangunan di Indonesia selama
ini!

Petunjuk jawaban latihan:
1. Lihat penjelasan mengenai tujuan utama pelaksanaan koordinasi
perencanaan pembangunan!
2. Lihat uraian dari pentingnya koordinasi dalam proses pembangunan
seperti yang dikemukakan oleh Riyadi dan Deddy Supriady!
3. Perhatikan penjelasan mengenai pengertian proses koordinasi ang
didasarkan pada ruang lingkup materi perencanaan.
4. Perhatikan penjelasan tentang proses seleksi dan pemilihan program-
program dan usulan-usulan kegiatan seperti pada gambar VI-9.
5. lihat penjelasan mengenai permasalahan yang sering dihadapi dalam
proses perencanaan pembangunan menurut Riyadi dan Deddy S
Bratakusumah.
Perencanaan Regional

VI-44

Rangkuman

Tujuan utama dari koordinasi yang dilakukan dalam proses
perencanaan pembangunan adalah agar proses pembangunan dapat
dijalankan secara sinergis dan harmonis, masing-masing unsur yang terlibat
dalam proses perencanaan diharapkan memberikan informasi mengenai
dasar pemikiran, rasionalisasi dan tujuan yang hendak dicapai dari setiap
aktivitas rencana kegiatan yang akan dilakukan agar dapat diselaraskan
dengan aktivitas-aktivitas rencana kegiatan yang lainnya. Beberapa alasan
yang memandang koordinasi merupakan suatu yang sangat penting, adalah:
a.) Koordinasi dalam pembangunan sangat diperlukan sebagai suatu
konsekuensi logis dari adanya aktivitas dan kepentingan yang berbeda
b.) Aktivitas dan kepentingan yang berbeda juga membawa konsekuensi
logis terhadap adanya tanggung jawab yang secara fungsional berbeda
pula
c.) Ada institusi, badan, lembaga yang menjalankan peran dan fungsinya
masing-masaing
d.) Ada unsur sentralisasi dan desentralisasi yang dijalankan dalam proses
pembangunan yang melibatkan institusi pusat maupun daerah
e.) Koordinasi merupakan alat sekaligus upaya untuk melakukan
penyelarasan dalam proses pembangunan, sehingga akan tercipta suatu
aktivitas yang harmonis, sinergis, dan serasi untuk mencapai tujuan
pembangunan.
Pelaksanaan proses dan koordinasi perencanaan yang dijelaskan di atas
semasa belum diberlakukannya UU No. 22/1999 pada tanggal 1 Januari
2001, tampaknya masih memiliki berbagai masalah, seperti diantaranya:

Perencanaan Regional

VI-45
























Test Formatif Modul VI Bagian 2:
Pilihlah satu jawaban yang anda anggap tepat !

1. Keterlibatan suatu instansi dalam kegiatan koordinasi pembangunan
harus selalu dikaitkan dengan .......
b) Kedudukannya dalam proses perencanaan
c) Tugas pokok dan fungsi dari masing-masing instansi
a.) Desentralisasi saat ini belum berjalan dengan baik dan benar, terbukti
dengan masih banyaknya wewenang atau urusan yang sudah
diserahkan kepada daerah masih tetap ditangani oleh pusat
b.) Masih banyak intervensi dari pusat dalam bentuk pedoman umum,
jukak dan juknis dan berbagai pengarahan lainnya
c.) Partisipasi masyarakat masih lemah, walaupun secara legal aspirasi
masyarakat sudah dicerminkan atau disuarakan oleh wakil rakyat di
DPR
d.) Hasil-hasil dari berbagai forum koordinasi di daerah seringkali tidak
digubris oleh instansi pusat dengan berbagai alasan. Forum tersebut
sepertinya lebih ke arah forum penyelarasan shopping list atau daftar
kemauan ketimbang proses perencanaan
e.) Hingga saat ini proses birokrasi masih cukup panjang, sehingga
masyarakat tidak mendapatkan kepastian kapan keinginannya akan
terwujud

Perencanaan Regional

VI-46

d) Besarnya kontribusi instansi terebut dalam perekonomian daerah
e) Struktur organisasi institusi tersebut

2. Yang merupakan komposisi yang benar dalam melakukan koordinasi
antara pendekatan bottom up dengan top-down adalah
a) Kandep berkoordinasi dalam kegiatan temu Karya UDKP
b) Kanwil berkoordinasi dengan daerah dalam rangka Musrenban
Provinsi
c) Kementrian akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam
Konsultasi regional (Konreg)
d) Musrenbangnas merupakan koordinasi diantara seluruh daerah
yang ada di Indonesia

3. Perencanaan regional dan perencanaan sektoral memerlukan koordinasi,
terutama dalam pertimbangan .......
a) Koordinasi sumber-sumber spasial
b) Koordinasi keperluan sektoral
c) Koordinasi dalam bidang spasial
d) Koordinasi kemungkinan sumber

4. Jika anda merupakan penilai dari berbagai usulan kegiatan yang akan
dilakukan oleh pemerintah daerah, maka apa yang ada harus lakukan
jika didapati kenyataan bahwa usulan kegiatan tersebut memiliki sifat
membutuhkan biaya yang rendah akan tetapi juga memiliki kesesuaian
yang rendah....
a) Usulan kegiatan tersebut langsung di hapus
Perencanaan Regional

VI-47

b) Usulan kegiatan tersebut perlu diperbaiki terutama dari sisi
kesesuaiannya
c) Usulan tersebut langsung diterima, karena memiliki biaya yang
rendah
d) Kemungkinan kegiatan tersebut di tunda hingga tahun depan

5. yang dimaksud dengan Agrregate Consistency Model adalah
perencanaan ....
a) Perencanaan sektoral
b) Perencanaan makro regional
c) Perencanaan Makro nasional
d) Perencanaan mikro

Pilihlah jawaban anda sesuai dengan aturan seperti dibawah ini:
- Jika jawaban, (1), (2), dan (3) benar maka pilih A
- Jika jawaban (1) dan (3) benar maka pilih B
- Jika jawaban (2) dan (4) benar maka pilih C
- Jika seluruh jawaban salah maka pilih D

6. dibawah ini merupakan beberapa kendala dalam pelaksanaan koordinasi
proses perencanaan, kecuali ....
(1) Desentralisasi masih belum berjalan dengan baik
(2) Masih adanya intervensi dari pusat yang cukup besar
(3) Partisipasi masyarakat masih sangat lemah
(4) Lamanya proses birokrasi yang ditempuh

Perencanaan Regional

VI-48

7. Koordinasi sangat penting dalam proses perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan karena ....
(1) Adanya kepentingan dan fungsi yang berbeda beda dari setiap
institusi
(2) Adanya unsur sentralisasi dan desentralisasi yang secara bersama-
sama mesti dijalankan
(3) Adanya upaya penyelarasan dalam proses pembangunan
(4) Agar perencanaan menjadi semakin mendekati keinginan
masyarakat

8. Yang menjadi ruang lingkup dari perencanaan mikro diantaranya adalah
sebagai berikut, kecuali ......
(1) Penentuan anggaran dan lokasi kegiatan
(2) Penentuan organisasi yang akan melaksanakan
(3) Menentukan jenis kegiatan proyek yang akan dilaksanakan
(4) Peningkatan output produksi

9. Perencanaan sektoral dan perencanaan regional termasuk dalam
kategori jenis perencanaan .......
(1) Perencanaan yang melaksanakan sistem bottom up atau top down
planning
(2) Termasuk dalam kategori aggregate consistency model
(3) Termasuk dalam kategori disaggregate consistency model
(4) Perencanan yang hanya menerapkan satu sistem top-down
planning saja

Perencanaan Regional

VI-49

10. Musrenbang tingkat Kabupaten/kota akan dihadiri oleh beberapa
stakeholder untuk mengkoordinasikan pembangunan di tingkat
kabupaten/kota. Beberapa stakeholder yang akan hadir diantaranya
adalah .......
(1) Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten/kota
(2) Sekretariat Daerah
(3) DPRD
(4) Seluruh komponen masyarakat


Cocokan semua jawaban anda dengan kunci jawaban Tes formatif
modul VI. Kemudian hitunglah jumlah jawaban anda yang benar, kemudian
gunakan rumus dibawah ini sejalan dengan proses administratif yang sedang
berjalan.
Rumus tingkat penguasaan materi dalam modul ini adalah sebagai
berikut:
Tingkat Penguasaan = 100% x
10
benar yang Jawaban Jumlah

Pengertian tingkat penguasaan yang anda capai:
e.) 90% - 100% = sangat baik
f.) 80% - 89% = baik
g.) 70% - 79% = cukup
h.) Kurang dari 70%= kurang

Apabila tingkat penguasaan anda pada materi ini mencapai lebih dari
80% maka anda dapat melanjutkan ke tingkat pelajaran berikutnya. Bagus !
Akan tetapi jika tingkat penguasan materi anda kurang dari 80% maka
Perencanaan Regional

VI-50

dianjurkan bagi anda untuk mempelajari kembali materi ini, terutama pada
bagian-bagian yang anda belum pahami dan kuasai.

Perencanaan Regional

VI-51

Kunci Jawaban Tes Formatif Bagian 1:
1. Jawab A
Dalam sistem perundang-undangan pemerintahan daerah di Indonesia
saat ini, yaitu UU No. 32/2004, dikatakan bahwa hirarki pemerintahan di
Indonesia terbagi atas Pemerintah Pusat yang kemudian disebut
sebagai Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Adapun Pemerintahan
Daerah di Indonesia saat ini adalah Provonsi dan Kabupaten/Kota. Tidak
ada perbedaan Hirarki antara Provinsi dan Kabupaten/Kota, akan tetapi
Pemerintah Daerah merupaka daerah bawahan dari Pemerintah.

2. Jawab A
Visi dan misi adalah dua buah istilah yang berbeda, dimana Visi adalah
rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode
perencanaan. Sedangkan misi adalah rumusan umum mengenai upaya-
upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

3. Jawab D
Beberapa tugas utama pemerintah adalah dalam hal perencanaan
nasional dan pengendalian pembangunan secara makro, dan segala
sesuatu yang terkait dengan kepentingan nasional atau strategis
nasional, seperti hukum, pertahanan dan keamanan nasional
(Hankamnas), permasalahan keagamaan, politik luar negeri, kebijakan
fiskal & moneter nasional

4. Jawab C
Perencanaan sektoral merupakan perwujudan dari dilaksanakannya
perencanaan yang didasarkan pada top down planning.
Perencanaan Regional

VI-52


5. Jawab B
Undang-undang No. 4/1999 tentang GBHN menyatakan bahwa langkah
awal dari perencanaan pembangunan daerah adalah dengan membuat
pola dasar sebagai garis besar arah pembangunan daerah selama 5
tahun kedepan yang bisa terlihat melalui visi, misi, serta strategi dan
arah kebijakan pembangunan masing-masing daerah.

6. Jawab C
Beberapa keuntungan dari pelaksanaan bottom-up adalah bahwa
perencanaan tersebut menekankan pada peran masyarakat dalam
menentukan keputusan dan penyelesaian permasalahan pembangunan
yang dihadapi, peran pemerintah pusat dalam perencanaan tidak terlalu
besarnya (bukannya berarti tidakada), dan yang terakhir perencanaan
berdasarkan bottom-up akan menimbulkan penguatan bagi institusi-
institusi lokal yang ada di daerah. Bottom-up planning tidak menjamin
bahwa partisipasi masyarkat pasti terjadi.

7. Jawab D
Fokus utama atau titik berat kegiatan pembangunan yang ada di tingkat
provinsi adalah perencanaan ekonomi makro propinsi, kegiatan
pembangunan yang terjadi antar kabupaten/kota, mengkoordinasikan
berbagai kegiatan antar kabupaten/kota, serta menyusun tata ruang
propinsi.



Perencanaan Regional

VI-53

8. Jawab C
Lihat skema diagram alur yang ada pada gambar VI-5 diagram sistem
perencanaan pembangunan. Maka akan terlhiat bahwa rencana tata
ruang harus mempertimabangkan RPJM untuk masing-masing wilayah,
sedangkan untuk mencapai sinkronisasi pembangunan maka RPJM
tingkat kabupaten/kota harus mempertimbangkan RPJM yang ada di
tingkat Propinsi dan Nasional.

9. Jawab D
Ada 4 hal yang menjadi kewajiban pemerintah daerah dalam menyusun
RKPD, yaitu:
- Menyusun arah dan kebijakan umum pembangunan untuk tahun
yang bersangkut
- Membuat prioritas-prioritas pembangunan
- Menyusun program-program pembanguna
- Membuat kegiatan-kegiatan pembangunan

10. Jawab A
Evolusi perencanaan pembangunan di Indonesia mencakup 3 hal
penting yaitu kekuatan pembangunan berubah dari pusat ke daerah,
pendekatan pembangunannya berubah dari sektoral ke regional,
sedangka sistem perencanaannya berubah menjadi dititikberatkan pada
bottom-up planning dibandingkan dengan top-down planning.

Perencanaan Regional

VI-54

Kunci Jawaban Tes Formatif Bagian 2:
1. Jawab B
Keterlibatan suatu instasi dalam koordinasi disesuaikan dengan
tupoksinya masing-masing, sehingga tidak akan overlapping dengan
tugas pokok dan fungsi dari instansi lainnya.

2. Jawab B
Seperti yang terlihat pada gambar VI-7 maka proses koordinasi
dilakukan pada saat musrenbang kabupaten/kota, yaitu antara Kandep
dan jajaran Pemda Kabupaten/Kota, juga pada Musrenbang Provinsi
antara kanwil dan jajaran pemda propinsi, Konsultasi regional (konreg)
merupakan koordinasi antar propinsi-propinsi dalam suatu region.
Sedangkan Musrenbangnas merupakan koordinasi antara kementrian
teknis dengan pemda.

3. Jawab C
Lihat gambar VI-8, terlihat bahwa proses koordinasi antara perencanaan
regional dan perencanaan sektoral terjadi pada saat
mempertimbangkan aspek spasial dalam penentuan kegiatan
pembangunan







Perencanaan Regional

VI-55

4. Jawab B
Perhatikan kriteria keputusan pemilihan pogram dan usuan kegiatan
yang diusulkan












5. Jawab B
Yang dinamakan dengan Agrregate Consistency Model adalah
perencanaan makro yaitu perencanaan nasional secara menyeluruh
(aggregate) yang meliputi seluruh kegiatan dalam skala nasional,
seperti berapa besar target pertumbuhan yang bisa dicapai, berapa
besar investasi yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan
tersebut, bagaimana dengan besarnya pendapatan yang diperoleh
negara dari sektor pajak



Kesesuaian dengan tujuan strategis dan
output
Biaya
Pembiayaan Tinggi
Kesesuaian Rendah
Biaya Tinggi
Kesesuaian Tinggi
Biaya Rendah
Kesesuaian Rendah
Biaya Rendah
Kesesuaian Tinggi

Eliminasi
Eliminasi atau
Redesign
Penurunan Biaya
Hasil yang Diharapkan
Perencanaan Regional

VI-56

6. Jawab D
Riyadi dan Deddy S Bratakusumah mengungkapkan bahwa kedala
dalam koordinasi proses perencanaan lebih disebabkan karena:
- Desentralisasi belum berjalan dengan baik dan benar
- intervensi dari pusat masih besar
- Partisipasi masyarakat sangat lemah
- Forum-forum koordinasi di daerah seringkali tidak sihirUKn oleh
pemerintah pusat
- Proses birokrasi yang ditempuh dari daerah ke pusat memakan
waktu yang lama

7. Jawab A
koordinasi merupakan suatu yang sangat penting untuk dilaksanakan
hal ini disebabkan karena adanya kepentingan yang berbeda, ada
institusi, badan, lembaga yang menjalankan peran dan fungsinya
masing-masaing, Ada unsur sentralisasi dan desentralisasi yang
dijalankan dalam proses pembangunan serta diperlukan sebagai upaya
penyelarasan dalam proses pembangunan

8. Jawab C
Dibawah ini merupakan ruang lingkup dari perencanaan mikro yang
dilakukan di suatu daerah, yaitu:
- Kebijakan Operasional
- Sasaran
- Proyek Kegiatan
- Lokasi
- Anggaran
Perencanaan Regional

VI-57


9. Jawab B
Perencanaan sektoral akan menerapkan sistem top-down planning,
sedangkan perencanaan regional akan menerapkan sistem bottom-up
planning. Akan tetapi keduanya termasuk kedalam kategori
disaggregate consistency model karena keduanya merupakan
penjabaran dari perencanaan makro nasional (aggregate consistency
model )

10. Jawab A
Musrenbang tingkat kabupaten/kota akan dihadiri oleh Bappeda
(Badan Perencana Pembangunan Daerah) dan bagian keuangan
Sekretaris Daerah (Sekda) bertindak sebagai koordinator dari
perencanaan ditingkat kabupaten/kota, semua dinas yang ada
diwilayahnya, bersama-sama dengan DPRD membahas program dan
rencana kegiatan dari masing-masing dinas serta usulan-usulan
kegiatan perencanaan yang berasal dari masyarakat (yang dilaksanakan
melalui forus Musbangdes dan Murenbang kecamatan).


Perencanaan Regional

VI-58

Daftar Pustaka

Bagdja Muljarijadi, Pembangunan Daerah di Indonesia ; Paradigma Baru
Menghadapi Era Desentralisasi, Semiloka Desentralisasi Fiskal di Indonesia
Grand Ballroom Savoy Homann, 29 Juni 1 juli 2000

Bagdja Muljarijadi, Perencanaan Pembangunan di Indonesia, Bahan ajar
Ekonomi Perencanaan, Fakultas Ekonomi UNPAD

Bagdja Muljarijadi, Strategi dan Penyusunan APBD Berbasis Anggaran Kinerja,
Disampaikan pada In House Training bagi anggota DPRD Pemerintah
Daerah Kabupaten Purwakarta, Graha Vidya Jatiluhur, 28 Desember 2004

Blakely , Edward J (1989). Planning Local economic Development, Theory
and Practice, Sage Publications

Gregorio, Mila V, Kerangka Umum Pengelolaan Keuangan Daerah, Refreshing
Workshop P2TPD, 26 Juni 2003

Harris, Jody L., Performance Budgeting in Maine, Maine State Planning Office,
Baltimore, 2001

Iwan Nugroho dan Rochmin Dahuri (2004). Pembangunan Wilayah Perspektif
Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan. Jakarta,LP3ES

Kirkpatrick, Colin, at all (1994). Development Policy and Planning, Routledge,

Riyadi dan Deddy Supriady Bratakusumah (2005). Perencanaan
Pembangunan Daerah : Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan
Otonomi Daerah. Jakarta : Gramedia.