Anda di halaman 1dari 14

TUGAS EKOLOGI LAUT

KERAGAMAN DAN ADAPTASI BIOTA INTERTIDAL







Disusun Oleh :
GABELLA OKTAVIORA HARYONO 26020210130093
ISHAK PUTRAP 26020210130095
BARA YANWAR HADI NUGROHO 26020210130098
WINONA ABIGAIL SIMAMORA 26020210130102
ARGIAN NISYAR AMIRULLAH 26020210130105

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2014
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut
air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam
wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan
habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter. Morfologi di zona
intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari
faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik
komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada
wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari
dengan substrat berlumpur. Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami
melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan
utamanya serta hubungan antara komponen biotik (parameter fisika-kimia
lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen makhluk atau organisme)
yang berasosiasi di dalamnya. Dari keregaman factor tersebut maka dibutuhkan suatu
adaptasi khusus yang harus dimiliki oleh biota yang berada pada daerah intertidal
untuk dapat terus bertahan dalam kondisi lingkungan yang cukup ekstrim dimana
beberapa parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, kadar oksigen, dan habitat
dapat berubah secara signifikan.
Dalam bidang ekologi, adaptasi berarti suatu proses evolusi yang
menyebabkan organisme mampu hidup lebih baik dibawah kondisi lingkungan
tertentu dan sifat genetik yang membuat organisme menjadi lebih mampu untuk
bertahan hidup.
Organisme yang terdapat pada zona intertidal ini telah beradaptasi terhadap
lingkungan yang ekstrim. Pasokan air secara reguler tercukupi dari pasang-surut air
laut, namun air yang didapat bervariasi dari air salin dari laut, air tawar dari hujan,
hingga garam kering yang tertinggal dari inundasi pasang surut, membuat biota yang
berada di zona ini harus beradaptasi dengan kondisi salinitas yang variatif. Suhu di
zona intertidal bervariasi, dari suhu yang panas menyengat saat wilayah terekspos
sinar matahari langsung, hingga suhu yang amat rendah saat iklim dingin. Zona
intertidal memiliki kekayaan nutrien yang tinggi dari laut yang dibawa oleh ombak.


II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kawasan Intertidal


Menurut Nybakken (1988) menyatakan bahwa zona intertidal (pasang-surut)
merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia.
Merupakan pinggiran yang sempit sekali hanya beberapa meter luasnya. Terletak di
antara air tinggi dan air rendah. Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling
banyak dikenal dan dipelajari karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya di daerah
inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakan secara langsung
selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona intertidal telah
diamati dan dimanfaatkan oleh manusia sejak prasejarah.
Menurut Nybakken, 1988. Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang
dijumpai dizona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada diudara terbuka
selama waktu tertentu dalam setahun, dan kebanyakan faktor fisiknya menunjukkan
kisaran yang lebih besar di udara daripada di air. Selain itu, faktor-faktor lain adalah
adanya substrat yang berbeda-beda yaitu pasir, batu dan lumpur menyebabkan
perbedaan fauna dan struktur komunitas didaerah intertidal sama seperti lingkungan
air tawar. Serangga menjadi hal umum dicruger island. Serangga yang terdapat adalah
epheraroptera, trichoptera, coleoptera dan diptera.
Menurut Prajitno, 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi
lingkungan zona intertidal diantaranya adalah :
Pasang-surut yaitu naik turunnya permukaan air laut secara periodik selam
interval waktu tertentu. Pasang-surut merupakan faktor lingkungan paling
penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Tanpa adanya
pasang-surut secara periodik zona ini tidak berarti dan faktor lain akan
kehilangan pengaruhnya. Penyebab terjadinya pasang surut dan kisaran
berbeda sangat kompleks dan berhubungan degan interaksi tenaga penggerak
pasang surut, matahari, bulan, rotasi bumi dan geomorfologi samudra.
Suhu mempengaruhi zona intertidal selama harian/ musiman. Kisaran ini
dapat melebihi batas toleransi.
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di zona
intertidal melalui dua cara. Pertama, karena zona intertidal terbuka pada saat
pasang urun kemudian digenangi air atau aliran air akibat ujan lebat, salinitas
yang turun. Kedua, ada hubungannya dengan genangan pasang surut, yaitu
daerah yang menampung air laut ketika pasang turun.
Gelombang merupakan parameter utama dalam proses erosi atau sedimentasi
besarnya erosi tergantung pada besarnya energi dihempaskan oleh gelombang.
Gelombang/ ombak dibagi 2 macam yaitu ombak terjun dan ombak landai
Ombak terjun biasanya terlihat dipantai yang lautnya terjal. Ombak ini
mengulung tinggi. Kemudian jatuh dengan bunyi yang keras dan bergemuruh.
Ombak landai terbentuk di pantai yang dasar lautnya di landai. Sehingga
bergulung ke pantai agak jauh sebelum pecah.




2.2 Ekologi Daerah Intertidal (pasang-surut)
Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona
intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu tertentu
dalam setahun. Kebanyakan factor menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara
daripada di air.
Secara umum daerah intertidal sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan
surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona. Zona pertama merupakan
daerah diatas pasang tertinggi dari garis laut yang hanya mendapatkan siraman air
laut dari hempasan riak gelombang dan ombak yang menerpa daerah tersebut
backshore (supratidal), zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan pasang
tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal) dan zona ketiga adalah batas bawah
dari surut terendah garis permukaan laut (subtidal).
Sebagai akibat adanya perubahan kondisi pasang dan kondisi surut airlaut
dan akibat aktifitas ombak pantai, menyebabkan kondisi fisik pantai akan selalu
berubah baik secara temporal maupun secara spasial. Perubahan secaratemporal
membuat kondisi fisik pantai akan berbeda dalam rentang waktu jam, hari, bulan
maupun tahun. Perubahan secara spasialmembuat kondisi fisik dapat berubah-
ubahpada berbagai tempat sekalipun jaraknya cukup berdekatan.

2.3 Biota pada zona intertidal


Menurut Prajitno, 2009. Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah
satu daerah ekologi yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui
oleh ilmuan, penelitian diadakan di pulau cruger yang pantai utaranya merupakan
(freshwater) air tawar dan berbatu. Fauna pada pantai berbatu pulau cruger
berkarakteristik dominan pada binatang air tawar. Sebagian besar berupa Dipterans,
Nematodes, Microannelida, Gastropoda,Bivalves dan Flatworms secara keseluruhan,
macroinvertebrate yang ada di pantai ini berasal dari golongan Tubellaria, Nematoda,
Oligochaeta, Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda, Ephemeroptera, Trichoptera,
coteoptera, Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti lingkungan air tawar,
serangga menjadi hal umum dicruger Island. Serangga yang terdapat adalah
Epheraroptera, Trichoptera, coleoptera dan diptera.
Menurut Nybakken, 1988. Dilingkungan laut khususnya diintertidal. Spesies
yang berumur panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata.hewan-
hewan intertidal dominan yang menguasai ruang selain Mytilus californianus yang
terdapat dalam jumlah banyak di pesisir pasifik adalah teritip Balanus Cariogus dan
Balanus glandula. Dua spesies tersebut terdapat melimpah di wilayah intertidal
walaupun kenyataannya mereka bersaing dengan M.californianus hal ini
menyebabkan pertumbuhan teritip dapat berlangsung dengan baik. Pisaster Ochraceus
merupakan predator kerang yang rakus sehingga secara efektif mencegah kerang
menempati seluruh ruang.
Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang
sangat baik nagi hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan
diri pada lapisan ini. Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan
tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius
malaccensis, tinggal dan hidup di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-
turut ditempati oleh jenis spesies lain monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian
oleh cerithium morus dan turbo intercostalis. Akhirnya pada batas yang paling bawah
terdapat lambis-lambis dan trochus gibberula (Hutabarat, 2008).

2.4 Pola adaptasi organism intertidal

Bentuk adaptasi adalah mencakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hdup untuk menyesuaikan
dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh
sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya.
Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan
dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dngan kondisi
lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi,
a) Daya Tahan terhadap Kehilangan air
Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan
air.Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada
hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon.


b) Pemeliharaan Keseimbangan Panas
Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan
dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur
tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.
c) Tekanan mekanik
Gerakan ombakmempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan
pada pantai berpasir. Untukmempertahankan posisi menghadapi gerakan
ombak, organism intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
d) Pernapasan
Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang
mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah
kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang
terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang.
e) Cara Makan
Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-
bagian berdaging dari tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya
aktif jika pasang naik dan tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh
hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan
detritus maupun predator.
f) Tekanan Salinitas
Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan
masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat
menyesuaikan diri denagn air laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme
untuk mengontrol kadar garam cairantubuhnya dan disebutosmokonformer.
Adaptasi satu-satunya samadengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan
g) Reproduksi
Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkanmelekat,
sehingga dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang
terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur
perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang surut
tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa daerah intertidal merupakan daerah
yang memiliki variasi pasang-surut yang regular, dimna di daerah tersebut pada suatu
waktu terendam oleh air laut dan pada awaktu yang lain akan surut dan terpapar ke
udara bebas. Hal ini menjadikan daerah tersebut memiliki salinitas dan suhu yang
cukup bervariasi, dan juga perubahan habitat saat terendam dan saat surut, sehingga
dibutuhkan suatu strategi adaptasi untuk dapat terus bertahan hidup. Adaptasi yang
dilakukan oleh kerang di daerah mangrove seperti Polymesoda erosa, P.coaxans dan
jenis lainnya biasanya meliputi adaptasi morfologi, fisilogi, dan tingkah laku. Sebagai
contoh, Polymesoda coaxans seperti halnya hewan dari kelas Bivalvea lainnya
mempunyai kemampuan hidup di daerah intertidal karena memiliki kemampuan
untuk mencegah kehilangan air. Kerang akan menutup rapat cangkangnya yang kedap
air, sehingga air tidak keluar dari tubuhnya Muslih (2008). Kerang ini juga
mempunyai kemampuan untuk membenamkan diri ke dalam substrat sebagai upaya
mengindarkan diri dari predator dan untuk mencari tempat yang lebih lembab.
Nybakken et al (1988) menyatakan bahwa beberapa jenis kerang, seperti
Donax sp. dan Mytilus edulis, mempunyai kemampuan hidup di daerah intertidal
karena mempunyai kemampuan untuk mencegah kehilangan air dengan cara
membenamkan diri. Pada P. coaxans korelasi ini terdapat pada ukuran lebar dan tebal
cangkang dengan habitat hidupnya. P. coaxans yang hidup pada tempat terbuka
memiliki ukuran lebar dan tebal cangkang yang lebih besar dibandingkan dengan P.
coaxans yang hidup pada tempat tertutup, dari hal tersebut dapat diasumsikan
semakin besar dan tebal ukuran cangkang maka kemungkinan untuk dimangsa
predatornya rendah.




2.4.1 Adaptasi terhadap suhu
Temperatur perairan merupakan salah satu faktor abiotik yang
mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan pertumbuhan, sebab
temperatur berperan langsung dalam aktivitas dan proses metabolisme
bivalvia (Manzi dan Castagna, 1989; Bayne, 1976). Ironisnya temperatur
berbanding terbalik dengan kelarutan oksigen dalam air, padahal
meningkatnya temperatur akan meningkatkan aktivitas metabolisme dan
konsekuensinya akan meningkatkan kebutuhan oksigen. Proses perubahan
temperatur juga berpengaruh terhadap proses fisika dan kimia badan air.
Temperatur juga sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem
perairan.
Menurut Suprapto (2011) reaksi dari perubahan tingkat metabolisme
bivalvia ini menyebabkan respirasi meningkat dan energi yang dikeluarkan
turut meningkat. Bivalvia akan meningkatkan filtrasi atau konsumsi
makannya untuk mengimbangi energi yang hilang dan untuk mengantisipasi
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dari perubahan temperatur
yang ekstrim. Jadi angka kecepatan filtrasi ikut dipengaruhi pula oleh kondisi
temperatur lingkungannya. Dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa
temperatur dalam batasan normal tidak akan banyak memberikan pengaruh
terhadap laju filtrasi. Pada temperatur rendah, misalnya 5C bivalvia memiliki
laju filtrasi 1,64 l/jam, sementara pada temperatur tinggi (28C) laju
filtrasinya sebesar 5,82 l/jam. Pada akhirnya peningkatan temperatur
menyebabakan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme
air yang selanjutnya akan mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen

2.4.2 Adaptasi saat kekurangan oksigen keadaan anaerobiosis
Anaerobiosis sering terjadi saat suasana pasang surut yang akan
mengakibatkan naik turunnya permukaan laut. Pada waktu surut, kelompok
bivalvia tertentu akan terekspos ke udara terbuka dan harus menyesuaikan diri
karena tidak adanya makanan maupun oksigen. Menurut Suprapto (2011) jika
dalam kondisi ini maka memaksa bivalvia menyediakan energinya dengan
mengoksidasi secara enzimatis persediaan makanan yang berupa jaringan
tubuhnya. Proses perombakan jaringan akan diawali dengan membakar
karbohidrat, lemak, dan diakhiri dengan protein.
Dengan demikian, bivalvia masih bisa bertahan hidup untuk jangka waktu
tertentu dan apabila bivalvia telah mengoksidasi protein, maka periode ini sudah
tahapan yang berbahaya, karena dapat menyebabkan mortalitas.
Kondisi anaerobiosis dapat juga terangsang oleh adanya fluktuasi ekstrim
temperatur, salinitas, serta ketersediaan oksigen. Pada kerang Polymesoda
cozxans dan bivalvia lainnya aktifts yang akan dilakukan adalah dengan menutup
cangkang agar tidak terjadi dehidrasi. Hal ini setara dengan pernyataan Suprapto
(2011) dimana pada kondisi ini kedua cangkangnya akan menutup rapat-rapat
sehingga metabolisme didalam menyediakan energi dilaksanakan dengan kondisi
anaerob, karena insang (branchie) tidak berfungsi sehingga oksigen tidak dapat
masuk ke dalam tubuh.
Dalam suasana anaerobiosis, tingkat metabolisme akan menurun drastis.
Demikian juga tingkat proses penyediaan energi, seperti pencernaan, penyerapan
makanan, aktivitas otot, serta pertumbuhan. Dengan kondisi ini dapat pula terjadi
suatu proses yang disebut konservasi energi.Menurut Bayne et al. (1976) untuk
perubahan temperatur yang sangat ekstrim, menyebabkan terjadinya metabolisme
anaerobik secara cepat.


III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia, dan
mmeiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini sangat
rentan terhadap gangguan. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap
kehidupan di dalamnya. Pengaruh tersebut salah satunya dapat berupa cara
beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada lingkungan
di zona intertidal. Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan
organisme di zona intertidal.
Bentuk adaptasi adalah mncakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hdup untuk menyesuaikan
dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh
sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya.
Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan
dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Pada kerang Polymesoda coaxans pada umumnya beradaptasi pada lingkungan
intertidal dengan cara menutup rapat-rapat cangkang agar terhindar dari dehidrasi,
menampung sejumlah air dalam cangkangnya yang besar sebagai persediaan hidup,
saat seperti itu kerang tersebut melakukan adapatsi fisiologi dengan reaksi enzimatis,
dan pernafasan anaerob, serta mengkonversi bagian dalam tubuhnya untuk bahan
metabolisme.



DAFTAR PUSTAKA

Bayne, B.L., Thompson, R.J. and Widdows, J. 1976b. Physiology: I. In: Marine Mussels: Their
Ecology and Physiology (ed. B.L. Bayne), pp. 121-206. Cambridge University Press,
Cambridge
Hartati, R.I Widowato, dan Y. Ristiadi. 2005. Histologi Gonad Kerang Totok (Polymesoda erosa)
dari Laguna Segara Anakan Cilacap. Ilmu Kelautan, Vol. 10 (3): 119-125
Hutabarat,s dan Steward,M.E.2008.Pengantar oseanografi.Universistas Indonesia.Jakarta.
Jueg, U. & Zettler, M.L. (2004). Die Mollusca en fauna der Elbe in Mecklenburg-Vorpommern
mit Erstnachweis der Grobgerippten Krbchenmuschel Corbicula fluminea (O. F.
Mller 1756). Mitteilungen der NGM 4(1):85-89.
Muslih. 2006. Biologi Kerang Totok (Donax sp.). Jurusan Perikanan dan Kelautan FST Unsoed.
Nybakken,J.W.1988.Biologi Laut . Pt Gramedia . Jakarta.
Prajitno.A.2009.Biologi Laut.Universitas Brawijaya.Malang.
Sahirman, 1997. Keragaman dan Distribusi Mollusca di Kawasan Hutan Mangrove Nusa Karang
Kobar
Segara Anakan Kbupaten Cilacap, Skripsi. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.
Suprapto,Joko. 2011. Ekofsisiologi Bivalvia, Ekologi dan Konsumsi Oksigen. Undip Press,
UniversitasDiponegoro, Semarang.