Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN

HEWAN
SIKLUS ESTRUS (APUSAN VAGINA) DAN SISTEM REPRODUKSI HEWAN
JANTAN DAN BETINA (ANATOMI DAN HISTOLOGI)







Nama : Rifki Muhammad Iqbal
NIM : 1211702067
Nama Asisten : Dewi Yulinda
Nama Dosen : Ucu Julita, M.Si.
Tanggal Praktikum : 28 Oktober 2013
Tanggal Pengumpulan : 06 November 2013



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu ciri-ciri makhluk hidup yaitu dapat berkembang biak, sebagaimana yang
kita ketahui, dengan berkembang biak maka makhluk hidup dapat mempertahankan
speciesnya. Makhluk hidup seperti hewan dan manusia mampu berkembang biak karena
memiliki alat atau organ-organ reproduksi yang akan berfungsi pada saat hewan dan manusia
telah dewasa. Pada hewan-hewan dengan taksa yang tinggi seperti mamalia, alat-alat
reproduksinya biasanya lebih terspesialisasi dan dilengkapi dengan kelamin luar.
Hewan jantan dan betina memiliki organ-organ reproduksi khusus dimana bentuk
dan fungsinya berbeda satu sama lain. Pada hewan tertentu memiliki organ reproduksi internal
dan juga eksternal. Organ-organ reproduksi yang letaknya di dalam tubuh hewan dinamakan
sistem reproduksi internal, adapun yang berada di luar tubuh disebut sistem reproduksi
eksternal. Sistem reproduksi eksternal pastinya mudah diamati menggunakan mata telanjang,
namun untuk mengamati sistem reproduksi internal perlu dilakukan suatu pembedahan agar
organ organ reproduksi tersebut bisa terlihat dengan jelas.
Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat
dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu
organisme berbeda antara jantan dan betina. Sistem reproduksi pada perempuan berpusat
di ovarium. Alat reproduksi pada pria a. Sepasang testis, yang terbungkus dalam kantong
skrotum, testis berfungsi sebagai penghasil sperma dan hormon testosteron b. Sepasang
epididimis, saluran panjang berkelok-kelok terdapat di dalam skrotum. Pada wanita ovarium
berfungsi menghasilkan ovum dan hormon (estrogen dan progestron) jika sel telur pada
ovarium telah masak, akan dilepaskan dari ovarium, pelepasan telur dari ovarium
disebut ovulasi (Machmudin, 2008).
Alat-alat reproduksi adalah alat-alat yang mendukung reproduksi seksual pada hewan
mamalia. Selain itu, tubuh mamalia pun telah dilengkapi dengan alat-alat tubuh lainnya.
Organ genital pada suatu individu merupakan kelengkapan alat reproduksi yang berfungsi
untuk berkembang biak dan memperoleh keturunan. Organ kelamin jantan dan organ kelamin
betina berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing (Cartono, 2004).
Sistem reproduksi pada betina terdiri dari ovarium bagian kiri dan kanan serta
oviduktus, lazimnya uterus bikornua, reproduksi, serviks, vagina, vestibulum dan kelenjar
yang berkaitan. Berperan dalam produksi dan transport ovum, transport yang lainnya yaitu


spermatozoa, pembuahan dan akomodasi ovum yang telah dibuahi (conceptus) sampai lahir
(partus). Dan gonad berbentuk penebalan memanjang disebut punggungnya gonad (gonadal
ridges), terletak pada batas tepi ventrome epitel kubus atau pipih selapis, disebut epitel
permukaan (Brown, 2001).
Pada mamalia alat kelamin jantan terdiri atas sepasang testis, saluran deferen,
vesikula seminalis, kelenjar prostata, uretra dan penis. Testis berjumlah sepasang, bentuknya
bulat telur dan di bungkus oleh skrotum, Skortum berbentuk sebuah kantung yang
membungkus testis. Testis tersusun oleh bentukan menyerupai cacing yang disebut epididimis
yang merupakan wadah sperma. Epididimis mengeluarkan material yag mampu
mempertahankan kehidupan sperma selama penyimpanan didalam testis. dibungkus dengan
jaringan ikat fibrosa, tunika albugenia. Ukuran testis tergantung pada hewannya. Jika testis
tidak turun ke skrotum disebut Cryptorchydism yang menyebabkan sterilitas. Lintasan antara
rongga abdomen dan rongga skrotum disebut saluran inguinal (Brown, 2001).
Siklus yang terjadi pada tubuh betina meliputi siklus ovarium, siklus endometrium,
siklus dinding vagina, dan siklus kelenjar susu. Proses aktivitas sexual dari awal sampai akhir
dan diulangi lagi disebut siklus estrus. Siklus estrus merupakan siklus reproduksi dari hewan
mamalia betina dewasa. Pada primata,dan manusia siklus ini disebut siklus mentruasi. Pada
siklus estrus dan menstruasi, ovulasi terjadi pada suatu waktu setelah endometrium mulai
menebal dan dialiri banyak darah karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantasi
embrio. Panjang waktu 1 siklus estrus itu berbeda-beda pada mamalia. Pada tikus 4-5 hari,
babi 17-20 hari, dan marmot 16 hari (Yatim, 1992).
Siklus estrus terdiri dari empat tahap, yaitu diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus.
Fase diestrus merupakan tingkat sexual yang apabila tidak terjadi fertilisasi atau kehamilan.
Fase proestrus merupakan tingkatan pembentukan folikel sampai pertumbuhan maksimum.
Fase estrus menyatakan tingkat folikel yang masak dan tinggal menunggu ovulasi. Fase
metestrus adalah tingkatan setelah estrus dalam pembentukan corpus luteum dan sekresi
progesteron. Perubahan dalam siklus estrus dapat diamati dengan cara pembuatan preparat
sitologis apusan vagina. (Sutyarso, 1996).
Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-
40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan.
Durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada iklus
estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus,
metestrus,dietrus, dan proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan
serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin. (Yatim,
1994)


Setiap fase estrus dapat diketahui dengan membuat preparat apusan vagina. Ciri-ciri
pengenal pada setiap fase sebagai berikut :
Pro-estrus
- Bentuk sel epitel bulat dan berinti
- Leukosit tidak ada atau sedikit
Estrus
- Sel epitel menanduk sangat banyak
- Sel epitel dengan inti berdegenerasi
Meso-estrus
- Sel epitel menanduk sedikit
- Leukosit banyak
Di-estrus
- Sel epitel yang berinti sedikit
- Leukositnya banyak
- Terdapat mucus/lendir
Terdapat macam-macam bentuk sel yang dapat dibedakan dengan memperhatikan
ciri-ciri sebagai berikut :
1. Sel Epitel
Bentuk bulat, lonjong, sitoplasmanya banyak dengan inti terletak di tengah
2. Sel Epitel Menanduk
Sel yang paling besar pada apusan vagina, bentuk selnya pipih dengan tepi yang tidak rata dan
tidak berinti.
3. Sel Leukosit
Ukuran selnya kecil dan bentuk nukleuspolimorfi (Djuhanda, 1981).


1.2. Tujuan
- Membedakan kondisi dan warna vagina pada berbagai fase siklus estrus.
- Membuat preparat apusan vagina.
- Membedakan sel epitel, epitel bertanduk dan sel leukosit pada apusan vagina.
- Menentukan fase-fase siklus estrus berdasarkan data pengamatan.
- Mempelajari struktur anatomi sistem reproduksi tikus jantan dan betina.
- Bagaimana struktur anatomi sistem reproduksi tikus jantan dan betina.
- Bagaimana struktur mikroskopis dari testis.
- Bagaimana struktur mikroskopis dari ovarium.


BAB II
METODE

2.1. Alat dan Bahan
Pada praktikum ini digunakan alat-alat : Mikroskop, yang gunanya untuk melihat
preparat apusan vagina. Kaca objek, untuk penempatan preparat apusan vagina yang akan di
amati dibawah mikroskop. Kaca penutup, untuk menutupi objek yang ada diatas kaca objek.
Pipet, untuk mengambil cairan. Seperangkat alat bedah, untuk membedah tikus untuk melihat
organ sistem reproduksinya. Penyungkup, untuk tempat pembiusan tikus yang akan dibedah.
Papan bedah, untuk menyimpan tikus yang dibedah. Kapas, untuk membersihkan darah atau
untuk dibasahi dengan kloroform untuk membius tikus. Sedangkan bahan yang digunakan :
Mencit Jantan dan Betina, sebagai objek penelitian. Larutan NaCl 0,9 %, untuk mengambil sel
pada vagina agar tidak rusak. Larutan metilen blue, untuk memberi warna pada preparat
apusan vagina agar dapat terlihat jelas dibawah mikroskop. Kloroform, digunakan untuk
membius tikus yanga akan dibedah. Dan preparat awetan ovarium dan testis, yang akan
digunakan untuk pengamatan sel-sel ovarium dan testis.

2.2. Prosedur Kerja
A. Siklus Estrus (Apusan Vagina)
Pada praktikum pertama ini, seekor mencit diambil, kemudian dipegang dengan
tangan kiri, ibu jari dan telunjuk memegang tengkuknya atau leher dorsal. Kemudian bagian
badan dan ekor dipegang dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking. Kemudian pada
bagian vagina disemprot dengan NaCl 0,9 % dengan pipet yang tumpul, kemudian dihisap 3
sampai 4 kali dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Lalu cairan yang berada pada pipet dari
hasil penyemprotan / penghisapan yang berwarna keruh diteteskan pada kaca objek 1 sampai
2 tetes, kemudian dibiarkan kering.
Setelah kering, preparat dicoba untuk dilihat dibawah mikroskop. Jika sudah terlihat
maka difoto hasil pengamatan tersebut, namun jika belum maka pada preparat diteteskan
pewarna metilen blue 1 %, dan biarkan 5 sampai 10 menit. Kemudian diamati dibawah
mikroskop, jika zat warna berlebih, bilas dengan air dengan cara meneteskan air. Kemudian
difoto hasil pengamatan.





B. Sistem Reproduksi Hewan Jantan dan Betina
Pada praktikum ini, pertama tikus dibius dengan menggunakan kloroform yang sudah
disiapkan di dalam penyungkup dengan cara memasukan tikus kedalam penyungkup tersebut.
Kemudian setelah tikus tersebut dibius, dilakukan pembedahan terhadap tikus tersebut,
kemudian diamati bentuk dan posisi organ penyusun sistem reproduksinya. Dan gambar organ
penyusun sistem reproduksinya. Kemudian dilakukan juga pengamatan histologis testis dan
ovarium dengan dilakukan pengamatan terhadap preparat awetan ovarium dan testis,
kemudian digambar.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan
A. Pengamatan Apusan Vagina
Gambar hasil pengamatan Literatur Keterangan







Gambar 1
(dokumentasi pribadi)












Larutan NaCL







Gambar 2
(dokumentasi pribadi)



Proses pemasukan larutan
NaCL pada lubang vagina
mencit betina









Gambar 3
(dokumentasi pribadi)





Preparat Apusan vagina






Gambar 4
(dokumentasi pribadi)




Apusan vagina yang
ditambahkan larutan metilen
blue




Gambar 5
Apusan vagina
(dokumentasi pribadi)








Gambar 4
Apusan vagina
(dokumentasi pribadi)





















Gambar 6
(dokumentasi pribadi)





Mencit jantan yang dibius
sebelum dibedah






Gambar 7
(dokumentasi pribadi)



Proses pembedahan mencit
jantan




Gambar 8
(dokumentasi pribadi)













Penumbukan bagian testes






Gambar 9
(dokumentasi pribadi)




Preparat apusan testes








Gambar Preparat Testis Jadi
(dokumentasi pribadi)












B. Pengamatan Sistem Reproduksi Jantan dan Betina (Anatomi dan Histologi)
Gambar hasil pengamatan Literatur Keterangan



Gambar 1.
Mencit jantan
(dokumentasi pribadi)







Sampel Mencit Jantan



a. b
gambar 2.
Alat reproduksi bagian luar
pada mencit jantan
(dokumentasi pribadi)













Testis Hemi Penis





a. hemi penis
b. testis






a b
Gambar 3.
Alat reproduksi bagian luar
pada mencit betina
(dokumentasi pribadi)













Lubang anus
Lubang Vagina





a. lubang anus
b. lubang vagina









a b
gambar 4
alat reproduksi pada mencit
jantan
(dokumentasi pribadi)







a. testis
b. hemi testis







Gambar 5
Histologi preparat permanen
jadi dari penis



















Gambar 6
Histologi preparat permanen
jadi dari vagina



























Gambar 7
Histologi preparat permanen
jadi dari spermatozoa















Gambar 8
Histologi preparat permanen
jadi dari ovarium











Gambar 9
Histologi preparat permanen
jadi dari testes









a c
d b




a) Seminiferous tubules
b) Developing spermatozoa
within the seminiferous
tubules
c) Leydig/Interstitial cells
(produce testosterone)
d) Supporting connective
tissue


3.2. Pembahasan
A. Siklus Estrus (Apusan Vagina)
Mencit memiliki masa estrus selama 4-5 hari. Siklus estrus, terutama yang polyestrus
dapat dibedakan menjadi 4 fase yaitu Proestrus, Estrus, Met-estrus dan Di-estrus.
Proestrus ialah periode pertama pertumbuhan folikel dan dihasilkannya banyak
estrogen. Estrogen ini merangsang pertumbuhan seluler pada alat kelamin tambahan, terutama
pada vagina dan uterus. Fase ini ditandai dengan banyaknya sel epitel yang bulat dan berinti.
Selain itu, pada fase ini juga terdapat sedikit sel kornifikasi dan leukosit.


Estrus merupakan klimaks fase folikel. Pada fase inilah, betina siap menerima jantan
dan pada saat ini pula terjadi ovulasi (kecuali pada hewan yang memerlukan rangsangan
sexuil lebih dulu untuk terjadinya ovulasi). Waktu ini betina jadi berahi atau panas. Pada
apusan vagina mencit, fase ini ditandai dengan adanya sel kornifikasi atau sel epitel
menanduk yang sangat banyak. Sel epitel dengan inti berdegenerasi.
Meso-estrus atau met-estrus adalah perpanjangan dari fase estrus. Pada apusan vagina,
fase ini ditandai dengan jumlah sel leukosit yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah
sel yang lain. Disini, juga ditemukan sel kornifikasi.
Terakhir adalah fase Di-estrus, yaitu suatu fase istirahat dan tenang. Fase ini ditandai
dengan jumlah leukosit, sel epitel menanduk sedikit. Ciri khas dari fase ini adalah terdapat
mucus atau lendir.
Berdasarkan hasil pengamatan yang didapatkan fase yang terjadi pada mencit yang
diamati tidak dapat diketahui, karena pada hasil pengamatan preparat apusan vagina tidak
terlihat ciri-ciri dari keempat fase estrus yang dialami oleh mencit ini.

B. Sistem Reproduksi Jantan dan Betina (Anatomi dan Histologi)
1. Mencit Jantan
Sistem reproduksi Mencit jantan tersusun atas organ genital eksternal dan internal.
Pada organ genital eksternal terdapat skrotum yang terletak didepan anus mencit. Pada Mencit
jantan terdapat hemipenis yang digunakan sebagai alat kopulasi sebagian besar hewan
mamalia. Dapat terlihat di gambar hasil pengamatan dimana sangat jelas terlihat adanya
skrotum dan penis.
Sistem reproduksi Mencit jantan tersusun atas sepasang testis yang merupakan lokasi
pembuatan sel gamet jantan, selanjutnya terdapat epididimis yang merupakan tempat
pemasakan spermatozoa Mencit, selanjutnya terdapat saluran panjang yang disebut vas
deferens yang menghubungkan testis dengan kelenjar aksesori. Di dalam sistem reproduksi
Mencit terdapat beberapa kelanjar aksesori seperti vesikula seminalis dan prostate. Sistem
reproduksi Mencit jantan berakhir pada penis.
Testis merupakan gonad hewan yang dapat memproduksi sperma dan hormone
reproduksi (testosterone). Testis berada didalam skrotum dan digantung oleh spermatic cord.
Testis sebelah kiri cenderung lebih rendah. Permukaan testis dilapisi oleh lapisan visceral
tunika vaginalis kecuali bagian testis yang menempel dengan epididimis dan spermatic cord.
Testis mempunyai lapisan luar berupa fibrosa yang kuat yang disebut tunika albuginea.
Tunika albuginea akan menebal membentuk mediastinum testis dan akan memanjang
membentuk septa. Septa membatasi lobula yang berada didalam testis (Partodihardjo, 1985).


Testis terdiri dari beberapa jaringan yaitu tubulus seminiferus, sel stroma, dan sel
interstitial. Tubulus seminiferus yaitu epitel yang terdiri dari dua macam sel yang bebrbeda
yaitu sel sertoli dan sel germinatif. Selsertoli adalah yang mempunyai bentuk panjang dan
kadang-kadang seperti pyramid. Sel ini terletak dekat atau di antara sel-sel germinatif. Sel ini
bersifat fagosit karena mereka memakan sel-sel mani yang telah mati atau yang telah
mengalami degenerasi. Sel germinatif adalah yang akan mengalami perubahan-perubahan
selama proses spermatogenesis, sebelum mereka siap untk mengadakan fertilisasi. Tingkat
perkembangannya adalah sebagai berikut; spermatogonia (sel paling muda) akan mengalami
pembagian mitosis beberapa kali menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer membagi
diri menjadi spermatosit sekunder. Tiap sel spermatosit sekunder akan membagi lagi dirinya
menjadi spermatid, pada saat ini jumlah kromosom akan menjadi setengahnya (haploid).
Tiap-tiap sel spermatid akan mendewasakan diri menjadi sel-sel spermatozoa (Frandson,
1993).
Uretra hewan jantan dibagi dalam segmen prostat, membranosa, dan spingiosa.
Segmen prostat menjulur dari kandung kemih ke pinggir caudal kelenjar prostat. Segmen
membranosa berawal dari daerah tersebut dan berakhir di uretra yang memasuki bulbus penis,
dari permukaan di mana segmen spongiosa berlanjut ke gerbang luar uretra (Suripto, 1994).
Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Penis adalah alat
kopulasi yang terbentuk oleh jaringan erektil, yang disebut corpus covernous. Penis berbentuk
silindris yang terdapat didalam praeputium. Penis terdiri atas 3 bagian yaitu radix penis,
corpus penis dan gland penis. Penis adalah alat untuk menyalurkan semen kedalam tubuh
betina. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut
dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi sel-
sel dengan substrat yang kayaakan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam
sitrat, fruktosa, asamaskorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit (trace) vitamin-
vitamin serta enzmi-enzim (Frandson, 1993).

2. Mencit Betina
Ovarium, terletak berdekatan dengan saluran telur dan berfungsi untuk mengahasilkan
ovum.Infudibulum, sebagai tempat terbentuknya kalaza. Oviduct, merupakan saluran yang
berkelok-kelok yang berfungsi sebagai saluran telur. Uterus, sebagai saluran telur dan
merupakan pelebaran dari oviduk. Vagina, merupakan organ hewan betina dan sebagai jalan
keluar anak. Vulva yang berupa tonjolan pada bagian luar vagina yang merupakan organ
genitalia eksterna.


Ovarium merupakan alat reproduksi betina yang berfungsi menghasilkan ovum (sel
telur) dan menghasilkan hormon esterogen dan progesteron. Menurut Widayati (2008),
ovarium terletak di rongga perut, tidak turun seperti halnya testes dan berfungsi untuk
menghasilkan sel telur dan hormon, yaitu estrogen, progesteron, dan inhibin. Hal itu
sesuai dengan pendapat Santoso (2010), bahwa ovarium mempunyai dua fungsi, sebagai
organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang
mensekresikan hormon kelamin betina estrogen dan progesteron.
Kemudian pada organ reproduksi betina terdapat tuba falopii (Oviduct). Tuba falopii
dibagi menjadi: infundibulum tubae yang mempunyai pintu ke rongga abdominal disebut
osteum tubae abdominale. Ampula tubae adalah tempat terjadi pembuahan. Isthmus
mempunyai rongga sempit dan berkelok-kelok serta sangat panjang. Extremitas uterinae
dengan osteum tubae uterinae yang bermuara pada kornua uteri. Pada osteum ini terdapat
benjolan-benjolan atau papilla yang disebut papilla uterinae, khususnya pada kuda dan anjing
memiliki jumlah yang besar (Hardjopranjoto, 1995).
Fungsi oviduct antara lain pertemuan ovum dengan spermatozoa atau tempat
terjadinya fertilisasi di bagian ampula. Blakely dan Bade (1991) berpendapat bahwa
pembuahan yaitu persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi disepertiga bagian atas dari
oviduct. Transport ovum yang telah dibuahi (zygot) menuju ke uterus. Hal itu sesuai dengan
pendapat Dellman dan Brown (1991), bahwa dalam ampula aktivitas silia merupakan
kekuatan utama untuk menggerakkan ovum ke arah isthmus, tetapi pada beberapa spesies
kontraksi otot juga sangat berperan.
Uterus adalah suatu saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang
telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus dan stadium permulaan ekspulasi pada waktu
kelahiran. Uterus terdiri dari cornua, corpus dan cervix (Feradis, 2010).
Uterus terdiri dari struktur yang menyerupai dua tanduk yang melengkung menyerupai tanduk
domba, dengan satu badan yang sama. Uterus pada sapi membentuk suatu puntiran spiral
yang lengkap sebelum kemudian bersambung dengan tuba fallopi. Tanduk-tanduk uterus
biasanya berkembang dengan baik, salah satunya akan merupakan tempat perkembangan
fetus (Blakely and Bade, 1991).
Vagina adalah dalah organ reproduksi hewan betina yang terletak didalam pelvis
diantara uterus dan vulva. Vagina berbentuk pipa, berdinding tipis dan elastis. Lapisan luar
berupa tunika serosa yang diikuti oleh lapisan otot polos yang mengandung serabut otot
longitudinal dan sirkularis. Umumnya lapisan mukosa terbentuk dari stratified
squamousnepithelial cells. Sel epitel ini berubah menjadi sel epitel yang tanpa nukleus karena
pengaruh estrogen (Widayati, 2008).


Vagina memiliki membran mukosa disebut epitel squamosa berstrata namun tidak
berkelenjar, tapi pada sapi berkelenjar. Vagina ada dua yaitu, vestibulum yang letaknya dekat
dengan vulva yang merupakan saluran reproduksi dan tempat saluran keluarnya urin, dan
portio vaginalis cevixis yang letaknya dari batas keduanya hingga cervix, antara keduanya
dibatasi oleh himen. Fungsi vagina adalah sebagai alat kopulasi dan alat-alat tempat sperma
dideposisikan, saluran keluarnya sekresi cervix, uterus dan oviduct, sebagai jalan peranakan
pada saat beranak (Widayati, 2008).

DAFTAR PUSTAKA
Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Cartono, 2005. Biologi Umum. Prisma Press: Bandung.
Dellman, H. Dieter, Esther M. Brown. 1992. Histology Veteriner. Universitas Indonesia
Press: Jakarta.
Djuhanda, Tatang. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico : Bandung
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta: Bandung.
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press: Surabaya.
Machmudin, Dadang dan Tim. 2008. Embriologi Hewan. Biologi FMIPA UPI: Bandung.
Partodihardjo, S. 1985. Ilmu Produksi Hewan, Produksi Mutiara. Binarupa Aksara: Jakarta.
Santoso, B.W. 2010. Sistem Reproduksi Sapi Termasuk Perbandingan dengan Ruminansia
Lainnya. Citra Pustaka: Surakarta.
Suripto. 1994. Struktur Hewan. Penerbit ITB: Bandung.
Sutyarso. 1996. Reproduksi Hewan. Gita Karya: Jakarta.
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.
Yatim, W. 1992. Histologi. Tarsito: Bandung.
Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Handout Ilmu Reproduksi Ternak.
Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.