Anda di halaman 1dari 23

POLARIMETRIS

I. TUJUAN
A. Mempelajari Dan Memahami Prinsip Kerja Alat Polarimetris.
B. Menentukan Konsentrasi Larutan Tugas Dengan Metoda Polarimetris

II. TEORI
Menurut Kolthoff, I.M., (1958), polarimeter adalah alat untuk mengukur besarnya
putaran berkas cahaya terpolarisasi oleh suatu zat optis aktif. Zat yang bersifat optis
aktif adalah zat yang memiliki struktur transparan dan tidak simetris sehingga mampu
memutar bidang polarisasi radiasi. Materi yang bersifat optis aktif contohnya adalah
kuarsa, gula, dan sebagainya. Pemutaran dapat berupa dextrorotatory (+) bila arahnya
sesuai dengan arah putar jarum jam ataupun levo-rotatory bila arahnya berlawanan
dengan jarum jam.
Derajat rotasi perputaran bidang polarisasi bergantung pada :
1. Struktur molekul
2. Temperatur
3. Panjang gelombang
4. Konsentrasi
5. Panjang tabung polarimeter
6. Banyaknya molekul pada jalan cahaya
7. Pelarut
Polarimeter adalah salah satu instrumen analisis yang dapat dipergunakan
untuk menganalisis keaktifan optik suatu molekul. Polarimetri adalah suatu metoda
analisa yang berdasarkan pada pengukuran daya putaran optis dari suatu larutan.
Daya putaran optis adalah kemampuan suatu zat untuk memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Sinar terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah
bidang getar dan arah tersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. Senyawa optis
aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang getar sinar terpolarisir. Zat yang
optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau atom C kiral dalam senyawa
organik, contoh : kuarsa ( SiO
2
) dan fruktosa.
Polarimeter dapat digunakan untuk ; menganalisa zat yang optis aktif,
mengukur kadar gula, dan penentuan antibiotik dan enzim. Terdapat beberapa syarat
senyawa yang dapat dianalisis dengan polarimetri, adalah; memiliki struktur bidang
kristal tertentu (dijumpai pada zat padat); memiliki struktur molekul tertentu atau
biasanya dijumpai pada zat cair. Struktur molekul adalah struktur yang asimetris,
seperti pada glukosa.
Polarimetri adalah sensitif, teknik yang nondestructive untuk mengukur
aktivitas optik yang ditunjukkan oleh senyawa organik dan anorganik. Senyawa
dianggap aktif secara optis jika cahaya terpolarisasi secara linier dan terputar ketika
melewatinya. Jumlah rotasi optik ditentukan oleh struktur molekul dan konsentrasi
chiral molecules pada senyawa. Setiap zat aktif optik memiliki rotasi sendiri yang
spesifik sebagaimana ditetapkan dalam Hukum Biots:



[] = specific rotation (rotasi spesifik), T =
temperature (suhu),
= wavelength (panjang gelombang), = optical
rotation (rotasioptik),
c = konsentrasi, dalam g/100ml,
l = panjang lintasan optic, dalam dm.

Polarisasi oleh refleksi ditemukan pada 1808 oleh Etienne Malus (1775-
1812). Malus, yang telah melakukan pekerjaan eksperimental tentang refraksi ganda
saat bekerja pada teori efek, mengamati cahaya matahari terbenam, tercermin dari
jendela jendela di dekatnya, melalui kristal Iceland Spar. Ketika ia memutar kristal,
dua gambar matahari bergantian menjadi kuat dan lemah, meskipun tidak pernah ada
kepunahan lengkap (complete extinction). Hampir 1 jam sekali ia mengulangi
percobaan dalam kondisi yang terkendali, dan menemukan bahwa sudut di mana
kepunahan lengkap dari refleksi sinar diperoleh untuk air dan kaca.
Sebuah polarimeter adalah perangkat untuk mempelajari suatu sampel
transparan antara perangkat polarisasi menyeberang (crossed polarizing devices).
Jean-Baptiste Biot (1774-1862) mengembangkan polarimeter di bagian kanan, yang
telah dibuat oleh Soliel/Duboscq of Paris ca.1850. Polarizer yang di bagian tangan
kanan menggunakan kaca piring tunggal, sementara analyzer di sebelah kiri
menggunakan tumpukan piring kaca.
Interferensi dan difraksi dapat terjadi pada semua jenis gelombang, misalnya
gelombang bunyi, gelombang tali, gelombang pada permukaan cairan ataupun
gelombang cahya. Polarisasi hanya dapat diamati pada gelombang trasnversal yang
terdapat pada gelombang tali dan cahaya dan tidak terdapat pada gelombang bunyi,
karena gelombang bunyi termasuk gelombang longitudinal.
Percobaan sederhana yang membuktikan bahwa cahaya adalah gelombang
trasnversal yang paling mudah yaitu dengan menggunakan lempeng polaroid identis
seperti yang digunakan pada kaca mata hitam. Setiap lempeng cukup trans paran. Dan
bila suatu lempeng ditempatkan diatas yang lain, maka yang terlihat masih transparan
tetap bila salah satu diputar perlahan-lah daerah yang ditumpang tindih akan menjadi
gelap.
Berabad-abad sebelum penemuan lempeng Polaroid, peristiwa tersebut diamati
dengan menggunakan kristal tertentu yang secara alamiah seperti kalsit. Dalam
kenyataannya , Newton meninjau peristiwa ini sebagai bukti melawan teori
gelombang cahaya karena setiap orang mengandaikan bahwa cahaya adalah
gelombang longitudinal. Namun demikian tidak seorangpun dapat menjelaskan
bagaimana identitas gelombang longitudinal dapat tepengaruh dengan perputaran
sesuatu disekitar sumbu sejajar pada arah gerak gelombang.
Filter polarisasi cahaya dikenal dengan nama Polaroid. Polaroid digunakan
pada kaca mata pelindung sinar matahari (sun glasses) dan pada filter polarisasi lensa
kamera. Pola kerja Polaroid berdasarkan prinsip penyerapan yaitu, meneruskan 80%
atau lebih gelombang-gelombang yang terpolarisasi sejajar dengan sumbu polarisasi,
serta hanya melewatkan 1% atau kurang gelombang yang tegak lurus dengan sumbu
polarisasi. Menurut C.Huygen cahaya adalah gerak gelombang yang terpancar dari
suatu sumber dalam semua arah. Cahaya termasuk temasuk gelombang transversal
yaitu gelombang yang arah rambatnya tegak lurus arah getaran , sehingga cahaya
dapat terpolarisasi.
Polarisasi adalah terserapnya sebagian arah getar cahaya. Cahaya yang
sebagian arah getarnya terserap disebut cahaya terpolarisasi. Dan jika cahaya hanya
memiliki satu arah getar maka disebut sebagai cahaya terpolarisasi linier. Cahaya
terpolarisasi dapat diperoleh dari cahaya yang tidak terpolarisasi yaitu dengan
memindahkan dan menghilangkan semua arah getar dan melewatkan salah satu arah
getar saja. A dan 4 cara untuk melakukan hal tersebut ;
a) Penyerapan selektif
b) Pemantulan
c) Pembiasan ganda
d) Hamburah
Pengukuran daya putar optis suatu zat yang menimbulkan terjadinya putaran
bidang getar sinar terpolarisir. Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah
melewati prisma Nicol pertama yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi
kemudian melewati senyawa optis aktif yang akan memutar bidang cahaya
terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol kedua yang disebut analisator
akan membuat cahaya dapat melalui celah secara maksimum. Rotasi optis yang
diamati atau diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah senyawa dalam
tabung sampel, panjang jalan atau larutan yang dilalui cahaya, temperatur
pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan.
Jenis jenis polarimeter :
1. Spektropolarimeter
Merupakan satu jenis polarimeter yang dapat digunakan untuk mengukur
aktifitas optik dan besarnya penyerapan. Pada alat ini mula mula sinar berada dari
lampu akan melalui suatur monokromator dan melewati suatu polarisator untuk
menghasilkan sinar terpolarisir. Polarisator ini berhubungan langsung dengan
modulator yang berguna untuk menghatur tingkat sinar yang terpolarisasi secara
elektris yang dapat diamati pada servo amplifier. Kemudian sinar melewati sampel
dan analisator sebelum mencapai tabung pengadaan sinar, dan dapat dilakukan
dengan pengamatan pada indikator.
2. Optical rotatory dispersion ( ORD )
Alat ini merupakan modifikasi dari spektropolarimeter, prinsipnya sama
dengan spektropolarimeter, tetapi terdapat perbedaan yaitu pada ORD ini sinar diatur
berdasarkan tingkat polarisasinya, yaitu pada frekuensi 12 Hz oleh motor driven yang
menyebabkan polarisator bergerak gerak dan membentuk sudut 1 atau 2 derajat atau
lebih. Selain itu servoamplifiernya hanya dapat merespon pada frekuensi 12 Hz
sehingga servomotor akan mengatur analisator secara kontinu dan servomotor juga
memposisikan penderkorder untuk menghasilkan suatu grafik.
3. Circular Dichroism Apparatus ( CDA )
CDA ini merupakan modifikasi dari spektrofotometer konfensional yang
digunakan untuk menentukan dua serapan atau absorban. Nilai polarisasi sekular ini
dapat ditentukan dalam 2 langkah, yaitu yang pertama sinar harus mengalami
polarisasi bidang dan kedua yaitu sinar terpolarisasi tersebut diubah menjadi
komponen terpolarisasi sirkular kanan dan sirkular kiri. Untuk mengubah komponen
menjadi terpolarisasi sekular kanan dan kiri, dapat digunakan tiga tipe alat, yaitu the
Fresnel rhomb, modulator pockets elektro-optik dan modulator tekanan photo-elastic.
4. Saccarimeter
Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan kadar gula. Sinar
mempunyai arah getar atau arah rambat kesegala arah dengan variasi warna dan
panjang gelombang yang dikenal dengan sinar polikromatis. Untuk menghasilkan
sinar monokromatis, maka digunakan suatu filter atau sumber sinar tertentu. Sinar
monokromatis ini akan melewati suatu prisma yang terdiri dari suatu kristal yang
mempunyai sifat seperti layar yang dapat menghalangi jalannya sinar.


Hal-hal yang dapat mempengaruhi sudut putar suatu larutan adalah sebagai berikut :
1. Jenis zat.
Masing masing zat memberikan sudut putaran yang berbeda terhadap bidang
getar sinar terpolarisir.
2. Panjang lajur larutan dan panjang tabung.
Jika lajur larutan diperbesar maka putarannya juga makin besar.
3. Suhu.
Makin tinggi suhu maka sudut putarannya makin kecil, hal ini disebabkan karena
zat akan memuai dengan naiknya suhu sehingga zat yang berada dalam tabung
akan berkurang.
4. Konsentrasi zat
Konsentrasi sebanding dengan sudut putaran, jika konsentrasi dinaikkan maka
putarannya semakin besar.
5. Jenis sinar ( panjang gelombang)
Pada panjang gelombang yang berbeda zat yang sama mempunyai nilai putaran
yang berbeda.
6. Pelarut
Zat yang sama mempunyai nilai putaran yang berbeda dalam pelarut yang
berbeda.

Komponen-komponen alat polarimeter adalah:
1. Sumber Cahaya monokromatis
Yaitu sinar yang dapat memancarkan sinar monokromatis. Sumber cahaya yang
digunakan biasanya adalah lampu D Natrium dengan panjang gelombang 589,3
nm. Selain itu juga dapat digunakan lampu uap raksa dengan panjang gelombang
546 nm.
2. Lensa kolimator
Berfungsi mensejajarkan sinar dari lampu natrium atau dari sumber cahaya
sebelum masuk ke polarisator.

3. Polarisator dan Analisator.
Polarisator berfungsi untuk menghasilkan sinar terpolarisir. Sedangkan analisator
berfungsi untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi. Yang digunakan sebagai
polarisator dan analisator adalah prisma nikol. Prisma setengah nikol merupakan
alat untuk menghasilkan bayangan setengah yaitu bayangan terang gelap dan
gelap terang.
4. Skala lingkar.
Merupakan skala yang bentuknya melingkar dan pembacaan skalanya dilakukan
jika telah didapatkan pengamatan tepat baur-baur.
5. Wadah sampel ( tabung polarimeter )
Wadah sampel ini berbentuk silinder yang terbuat dari kaca yang tertutup dikedua
ujungnya berukuran besar dan yang lain berukuran kecil, biasanya mempunyai
ukuran panjang 0,5 ; 1 ; 2 dm. Wadah sampel ini harus dibersihkan secara hati-
hati dan tidak bileh ada gelembung udara yang terperangkap didalamnya.
6. Detektor.
Pada polarimeter manual yang digunakan sebagai detektor adalah mata,
sedangkan polarimeter lain dapat digunakan detektor fotoelektrik.
Sinar monokromatis dari lampu natrium akan melewati lensa kolimator
sehingga berkas sinarnya dibuat paralel. Kemudian dipolarisasikan oleh prisma
kalsit atau prisma nikol polarisator. Sinar yang terpolarisasi akan diteruskan
keprisma setengah nikol untuk mendapatkan bayangan setengah dan akan
melewati sampel yang terdapat dalam tabung kaca yang tertutup pada kedua
ujungnya yang panjangnya diketahui. Sampel tersebut akan memutar bidang getar
sinar terpolarisasi ke kanan atau ke kiri dan dianalisa oleh analisator. Besarnya
sudut putaran oleh sampel dapat dilihat pada skala lingkar yang diiamati dengan
mata.



III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a. Peralatan Polarimeter : Untuk mengukur daya putaran
optis suatu senyawa
b. Labu Ukur 50 mL : Tempat mengencerkan larutan
c. Buret 50 mL : Tempat mengambil larutan

3.1.2 Bahan
a. Larutan Sukrosa 25% : Larutan Uji
b. Larutan Fruktosa 25% : LarutanUji
c. Aquadest : Pelarut
















3.2 Cara Kerja
a. Pembuatan Larutan Standar
1. Dibuat larutan standar sukrosa A 0,2,4,6,8,10% dari larutan
standar sukrosa 25% dalam labu ukur 50mL
2. Disikan cuvet/ tabung polarimeter dengan akuades. Diusahakan
jangan ada gelembung udara terperangkap didalam tabung.
3. Dilakukan pengukuran dengan alat polarimeter, dimana sasaran
yang harus dicapai adalah pengamatan tepat baur-baur pada kedua
belah sisi lingkaran pengamatan indikatornya.
4. Diamati nilai posisi skala analisator dan dinyatakan dalam satu
decimal. Pengamatan minimal harus dilakukan untuk dua kali dari
arah datang pencapaian sasaran yang berbeda, lalu dapatkan nilai
rata-ratanya.
5. Diganti dengan larutan standar, dengan larutan sampel/ tugas
saudara. Dilakukan hal yang sama.
6. Dibuat kurva kalibrasi standar nilai putaran optis dari larutan ini vs
konsentrasi
7. Ditentukan Cx dari larutan tugas











3.3 Skema Kerja

Larutan Standar Sukrosa
- Dibuat larutan standar sukrosa 0 ,2, 4, 6, 8, 10 % dalam
labu ukur 50 mL
- Diisikan kedalam cuvet / tabung polarimeter dengan
akuades. Diusahakan jangan ada gelembung udara
terperangkap didalam tabung.
- Dilakukan pengukuran dengan alatpolarimeter, dimana
sasaran yang harus dicapai adalah pengamatan tepat baur-
baur pada kedua belah sisi lingkaran pengamatan
indikatornya.
- Diamati nilai posisi skala analisatornya dan nyatakan
dalam satu desimal. Pengamatan minimal harus dilakukan
untuk dua kali dari arah datang pencapaian sasaran yang
berbeda.
- Didapatlam nilai rata-ratanya
- Diganti larutan standar dengan larutan sampel sdr.
- Dilakukan pengukuran yang sama
Hasil
- Dibuat kurva kalibrasi standar nilai putaran optis dari
larutan ini
- Ditentukan Cx dari larutan





3.4 Skema Kerja Alat


POLARIMETER
- Diyalakan lampu natrium dan dikondisikan ruangan antara
polarisator dan analisator dalam keadaan gelap.
- Diputar sekrup polariosator sambil mengamati lewat
teropong okuler
- Diatur kedudukan analisator sehingga muncul medan
pandang yang sama terang antara tengah dan kedua
sisinya,catat skala yang ada (untuk ketelitian gunakan kaca
pembesar)
- Diisi tabung gelas dengan aquadest dan letakkan di
analisator dan polarisator (usahakan tidak ada gelembung
udara).
- Diamati perubahan medan pandang melalui lensa okuler,jika
berubah maka atur kedudukan analisator sehingga muncul
medan pandang semula.
- Dicatat kedudukan skala analisator dan mengulangi sampai
5 kali.
- Diulangi langkah 4 dan 5 untuk larutan lainnya dengan
konsentrasi sembarang (sekitar 1%).
- Dicuci tabung gelas dengan air bersih lalu bilas dengan
aquades
Hasil

3.5 Gambar Alat


IV. DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data dan Perhitungan
a. Pembuatan larutan standar Sruktosa 25%
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25% x V
1
= 0% x 50 ml
V
1
= 0 mL
Larutan standar 0 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 0 %

x 50 mL
V
1
= 0 mL
Larutan standar 2 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 2 %

x 50 mL
V
1
= 2 mL
Larutan standar 4 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 4 %

x 50 mL
V
1
= 8 mL
Larutan standar 6 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 6 %

x 50 mL
V
1
= 10 mL
Larutan standar 8 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 8 %

x 50 mL
V
1
= 16 mL
Larutan standar 10 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

25 % x V
1
= 10 %

x 50 mL
V
1
= 20 mL
b. Rata-rata dari analisator polarimeter
- Larutan Sukrosa
0% = 0 + 0 = 0
2

2% = 43,5 + 62,9 = 53,2
2
4% = 44,2 + 63,7 = 53,95
2

6% = 66,8 + 70,7 = 68,75
2
8% = 68,8 + 72,6 = 70,70
2
10% = 7,26 + 76,6 = 41,93
2

- Larutan Sampel
60,9 + 65,1 = 63,00
2
c. . Data pengukuran putaran
No Konsentrasi D (
o
) R (
o
) Rata-rata
1
2
3
4
5
6
7
0
2 %
4 %
6 %
8 %
10 %
Sampel
0,0
62,9
63,7
70,7
72,6
76,6
50,6
0,0
43,5
44,2
66,8
68,8
72,7
45,1
0,00
53,20
53,95
68,75
70,70
74,65
47,85

d. Persamaan regresi
x = Konsentrasi
y = Daya putaran optis
x Y Xy x
2
0 0,00 0 0
2 53,20 106,4 4
4 53,95 215,8 16
6 68,75 412,5 36
8 70,70 565,6 48
10 74,65 746,5 100
x = 30
x = 5
y = 321,25
y = 53,54
xy = 2046,8 x
2
= 220

B = n XY X . Y = (6 x 2046,8) (30 x 321,25 ) = 6,293
n X
2
( X)
2
(6 x 220) (30)
2

A = Y BX
= 53,54 (6,29 x 5)
= 22,075
Maka persamaan regresi : Y = A + Bx
Y = 22,075 + 6,293x
e. Konsentrasi larutan tugas
- Daya putaran optis y = 63,00
- Konsentrasi = x
y = A + Bx
= 22,075 + 6,293 x
63,00 = 22,075 + 6,293 x
x = 6,5032
- Volume sampel
V
1
. N
1
= V
2
. N
2
V
1
. 25% = 50mL . 6,5032%
V = 13,0064 mL

f. Grafik Konsentrasi vs Nilai Putaran Optis


g. Persentase kesalahan
Persen kesalahan =


x 100 %
=

x 100 % = 160,12 %










y = 6.2936x + 22.074
R = 0.7224
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 5 10 15
A
x
i
s

T
i
t
l
e

Axis Title
KONSENTRASI VS NILAI PUTARAN OPTIS
Series1
Linear (Series1)
4.2 Pembahasan
Prinsip dari polarimeter adalah memutar bidang polarisasi dari suatu senyawa
optis aktif oleh sinar terpolarisir. Senyawa optis aktif yang digunakan dalam
percobaan ini adalah sruktosa dengan berbagai variasi konsentrasi.
Polarimeter digunakan untuk mencari putaran optis dari fruktosa dan juga
untuk menentukan konsentrasi sampel. Pada tabung polarimeter terdapat dua ujung
yang berbeda diameter. Ujung yang lebih kecil diameternya dihadapkan dengan
cahaya, sedangkan yang lebih besar ke detektor. Hal demikian dilakukan supaya
memudahkan sinar dari sumber mengenai sampel karena resiko untuk pemantulan
sinar tidak terjadi disebabkan sinar masuk dari bidang sempit ke bidang lebar,
sehingga sinar dapat diteruskan dan hasilnya dapat terbaca pada skala.
Ada hal lain yang juga penting untuk dicermati, yakni gelembung udara pada
tabung polarimeter. Jika ini terjadi pada sampel yang akan kita uji, maka akan
menyebabkan terganggunya sinar yang masuk karena sinar dapat menghindari dan
melewati daerah lain (ruang yang lebih lebar pada tabung) yang berakibat sinar tidak
dapat diteruskan menuju detektor. Jadi sebaiknya saat memasukkan sampel pada
tabung, pastikan tidak adanya gelembung udara yang terbentuk.
Pengamatan polarimeter dilihat tepat baur-baur. Hasil yang terlihat pertama
kalinya adalah daerah gelap terang. Oleh karena itu, temukan hingga tidak ada lagi
perbedaan gelap terang tersebut (baur-baur), putaran optis ke kanan akan bernilai +
(dekstro) dan putaran ke kiri akan bernilai (levo).
Berdasarkan percobaan tersebut, bahwa nilai putaran optis akan berbanding
lurus dengan konsentrasi. Semakin besar konsentrasi, maka nilai putaran optis juga
semakin besar. Hasil yang diperoleh dari percobaan pada larutan tugsa, konsentrasi
dari larutan tugas dicari menggunakan persamaan regresi dari nilai perbandingan
konsentrasi dengan putaran optis sukrosa berbagai variasi, persen kesalahan sampel
yang sebesar 160,12 %. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh detektor yang kita gunakan
yang kurang akurat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut :
Nilai yang didapatkan dari alat polarimeter merupakan nilai putaran optis.
Semakin tinggi konsentrasi suatu sampel maka semakin tinggi sudut putar bidang
optisnya.
Larutan sukrosa mempunyai kemampuan untuk memutar bidang optis ke arah
kanan (dekstro)
Persen kesalahan pada sampel sebesar 160,12 %

5.2 Saran
Untuk praktikan yang selanjutnya disarankan untuk:
Agar memahami betul prosedur kerja yang akan dilakukan agar tidak terjadi
kesalahan nantinya.
Hati-hati dalam mengencerkan larutan agar tidak lewat konsentrasinya.
Dalam memasukkan kuvet kedalam polarimeter agar dibersihkan terlebih
dahulu agar tidak terjadi kesalahan.
Bekerjasama dalam melakukan praktikum.






ANALISA JURNAL
6.1 Judul :
Uji Kualitas Minyak Goreng Berdasarkan Perubahan Sudut Polarisasi Cahaya
Menggunakan Alat Semiautomatic Polarymeter
6.2 Tujuan :
1. Metitikberatkan perubahan sudut polarisasi cahaya pada minyak goreng dan
minyak goreng kelapa.
2. Memvariasikan jumlah pemanasan yang diberikan pada dua jenis minyak
goreng yaitu minyak goreng kelapa sawit dan minyak goring kelapa

6.3 Metoda yang Digunakan :
Menggunakan alat semiautomatic polarymeter. Dari penelitian ini nantinya
akan diketahui hubungan antara kualitas minyak goreng dan perubahan sudut
polarisasi cahaya,

6.4 Hasil dan Kesimpulan
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang terdiri dari getaran
medan listrik dan getaran medan magnet yang saling tegak lurus. Bidang getar
kedua medan ini tegak lurus terhadap arah rambatnya. Sinar biasa secara umum
dapat dikatakan gelombang elektromagnetik yang vektor-vektor medan listrik dan
medan magnetnya bergetar ke semua arah pada bidang tegak lurus arah rambatnya
dan disebut sinar tak terpolarisasi. Apabila sinar ini melalui suatu polarisator maka
sinar yang diteruskan mempunyai getaran listrik yang terletak pada satu bidang saja
dan dikatakan sinar terpolarisasi bidang.
Rotasi optis yang diamati atau diukur dari suatu bahan bergantung pada jumlah
senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan atau bahan yang dilalui cahaya,
temperatur pengukuran, panjang gelombang cahaya yang digunakan, kekentalan
bahan, dan warna bahan yang ada di dalam tabung sampel.
Hasil pengamatan perubahan sudut polarisasi pada minyak goreng kelapa sawit
dapat dilihat seperti pada tabel berikut:

Tabel 1. Pengamatan Perubahan Sudut Polarisasi
Minyak Kelapa Sawit
Pemanasan Sudut Polarisasi Titik Gelap
(Kali)
0 33,38

-33,38


1 34,39

-34,39


2 34,98

-34,98


3 35,05

-35,05


4 37,05

-37,05


5 37,51 -37,51
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa semakin sering minyak goreng
dipanaskan maka sudut polarisasinya akan semakin besar, hal ini terjadi karena
proses pemanasan telah mengubah sifat-sifat fisik dari minyak goreng itu sendiri
sehingga sifat optis dan sudut polarisasi pada minyak juga mengalami perubahan.
Setelah dipanaskan, tingkat kekentalan minyak akan menurun. Secara langsung tidak
terlihat perbedaan tingkat kekeruhan atau kejernihan dari minyak goreng antara 1 kali
pemanasan, 2 kali pemanasan, 3 kali pemanasan, sampai 5 kali pemanasan.
Tetapi sudut polarisasinya berubah.
Tabel 2. Pengamatan Sudut Polarisasi cahaya pada minyak kelapa
Pemanas
an
Sudut
Polarisasi Titik Gelap
(Kali)
0 26,83

-26,83


1 27,14

-27,14


2 28,54

-28,54


3 28,88 -28,88
4 29,12
0
-29,12
5 29,55
0
-29,55

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa sudut polarisasi pada minyak kelapa
lebih kecil dibandingkan dengan sudut polarisasi minyak kelapa sawit. Hal ini terjadi
karena warna minyak kelapa yang digunakan sebagai sampel memiliki warna yang
lebih terang dibandingkan dengan minyak kelapa sawit. Pada minyak kelapa juga
terjadi perubahan sudut polarisasi setelah minyak dipanaskan. Semakin sering minyak
goreng dipanaskan sudut polarisasinya juga semakin besar. hal ini karena setelah
dipanaskan kekentalan minyak mengalami penurunan, proses pemanasan yang
dilakukan juga telah mengubah sifat-sifat fisik pada minyak goreng, sehingga sudut
polarisasinya semakin besar.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa,
perubahan sudut polarisasi cahaya dapat digunakan sebagai parameter uji kualitas
minyak goreng. Semakin sering minyak goreng dipanaskan maka sudut polarisasinya
akan semakin besar. hal ini menunjukkan bahwa minyak goreng yang mempunyai
kualitas yang paling baik adalah minyak goreng dengan sudut polarisasi yang paling
kecil. Fenomena ini berlaku sama antara minyak goreng dari kelapa maupun minyak
goreng dari kelapa sawit.
6.5 Kelebihan Jurnal :
Penelitian ini metitikberatkan pada perubahan sudut polarisasi cahaya pada
minyak goreng dengan memvariasikan jumlah pemanasan yang diberikan. Pada
penelitian ini digunakan dua jenis minyak goreng yaitu minyak goreng kelapa sawit
dan minyak goreng kelapa. Setelah dipanaskan diukur sudut polarisasi minyak goreng
menggunakan alat semiautomatic polarymeter. Dari penelitian tersebut akan
diketahui hubungan antara kualitas minyak goreng dan perubahan sudut polarisasi
cahaya,
Walaupun Penelitian tentang minyak goreng sebelumnya telah dilakukan
yaitu dengan parameter viskositas dan indeks bias. Dari penelitian tersebut secara
kualitatif ditunjukkan bahwa minyak goreng yang paling baik adalah minyak goreng
dengan viskositas dan indeks bias yang besar


DAFTAR PUSTAKA
http://oerleebook.files.wordpress.com/2009/10/polarimeter-oerlee.pdf
http://polarimeter-farmasi. /2012/12/vbehaviorurldefaultvmlo.html
http://fisika.lab.gunadarma.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/O3.pdf
https://www.academia.edu/5622396/polarimeter

Anda mungkin juga menyukai