Anda di halaman 1dari 26

EKSTRAKSI SENYAWA GINGEROL DARI RIMPANG JAHE

DENGAN METODE MASERASI BERTINGKAT


FATIA TRIRIZQI
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013







PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Ekstraksi Senyawa
Gingerol dari Rimpang Jahe dengan Metode Maserasi Bertingkat adalah benar
karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2013

Fatia Tririzqi
NIM F34090027



ABSTRAK
FATIA TRIRIZQI. Ekstraksi Senyawa Gingerol dari Rimpang Jahe dengan
Metode Maserasi Bertingkat. Dibimbing oleh ERLIZA NOOR.

Jahe (Zingiber officinale) adalah rempah penting yang banyak digunakan
baik pada industri makanan, minuman dan farmasi. Komponen bioaktif jahe yang
diekstrak adalah 6-, 8-, 10-gingerol dan 6-shogaol. Penelitian ini bertujuan
membuat ekstrak jahe dengan metode maserasi bertingkat menggunakan 3 pelarut,
yaitu heksana, etil asetat dan etanol dan perlakuan waktu yang berbeda.
Pengukuran dilakukan terhadap ekstrak jahe dan rendemen bioaktif. Analisis
proksimat serbuk jahe kering menunjukkan kadar karbohidrat yang tinggi. Ekstrak
jahe tertinggi diperoleh saat menggunakan pelarut etanol selama 6 jam dan
kandungan senyawa bioaktif tertinggi diperoleh saat ekstraksi menggunakan
pelarut heksana selama 6 jam namun kadar masing-masing senyawa bioaktif
tertinggi diperoleh pada jenis pelarut dan waktu ekstrak yang berbeda. Kadar
senyawa 6-, 8-, 10-gingerol dan 6-shogaol tertinggi berhasil diekstrak secara
berurutan 24%, 32%, 46% dan 29%.

Kata kunci: jahe, gingerol, maserasi bertingkat

ABSTRACT

FATIA TRIRIZQI. Extraction Gingerol Compounds from Ginger Rhizome with
Multistage Maceration Method. Supervised by ERLIZA NOOR.

Ginger (Zingiber officinale) is important spice that use for food, drink,
pharmacy industries. The extracted bioactive components are 6-, 8-, 10-gingerol
dan 6-shogaol. The purpose of this research was to make ginger extract with
multistage maceration and different time treatments. Measurement done to ginger
extract and bioactive yield. The proximate analysis of ginger dried powder
showed that high carbohydrate content. Moreover, the highest ginger extract
obtained when 6 hours extraction by ethanol solvent. The highest bioactive
compound content obtained when 6 hours extraction by hexane solvent.
Nevertheless each of the highest bioactive compound content obtained by
different type of solvent and time. The content of 6-, 8-, 10- gingerol and 6-
shogaol are 24%, 32%, 46%, and 29%, respectively.

Keywords: ginger, gingerol, multistage maceration




Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknologi Pertanian
pada
Departemen Teknologi Industri Pertanian
EKSTRAKSI SENYAWA GINGEROL DARI RIMPANG JAHE
DENGAN METODE MASERASI BERTINGKAT
FATIA TRIRIZQI
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013





Judul Skripsi : Ekstraksi Senyawa Gingerol dari Rimpang Jahe dengan Metode
Maserasi Bertingkat
Nama : Fatia Tririzqi
NIM : F34090027








Disetujui oleh









Prof Dr Ir Erliza Noor
Pembimbing




Diketahui oleh





Prof Dr-Ing Ir Suprihatin
Plh. Ketua Departemen







Tanggal Lulus:


PRAKATA


Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 sampai Juli
2013 ini ialah ekstraksi jahe, dengan judul Ekstraksi Senyawa Gingerol dari
Rimpang Jahe dengan Metode Maserasi Bertingkat.
Penulis mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungannya kepada
1. Prof. Dr. Ir Erliza Noor selaku dosen pembimbing yang selalu memberi
masukan, arahan dan bimbingannya kepada penulis selama penelitian dan
penyelesaian tugas akhir ini.
2. Ibu Egnawati, Ibu Rini dan seluruh laboran Departemen TIN yang membantu
selama penelitian.
3. Ibu, Bapak, Umi, kakak-kakak dan adik tercinta atas doa dan cintanya.
4. Syarifah Aini, Liza Harmi, Nina Jusnita, Lisa Silvia, Nur Faizah atas bantuan
dan dukungannya.
5. Fanty Rachmah, Aulia Anggraini, Agus Nurjani, Ariska Duti dan keluarga
besar TIN 46 atas kekompakannya.
6. Mina Ervani dan penghuni Wisma Cantik Bara 4 atas canda tawanya
7. Seluruh teman-teman dan pihak yang turut membantu dan mendukung
penulisan karya ilmiah ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca.


Bogor, Desember 2013

Fatia Tririzqi




DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 1
Ruang Lingkup Penelitian 1
METODE 2
Waktu dan Tempat Penelitian 2
Bahan 2
Alat 2
Prosedur Penelitian 2
HASIL DAN PEMBAHASAN 4
Analisis Proksimat Serbuk Jahe 4
Komponen Bioaktif Jahe 4
Komponen Bioaktif Serbuk Jahe Kering 5
Maserasi Bertingkat 6
Rendemen Ekstrak Kasar 6
Komponen Bioaktif Ekstrak Jahe 8
Persentasi Ekstraksi 10
SIMPULAN DAN SARAN 12
Simpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 12
LAMPIRAN 14
RIWAYAT HIDUP 16






DAFTAR TABEL

1 Komposisi pelarut yang digunakan dalam kolom HPLC 4
2 Analisis proksimat serbuk jahe kering 4
3 Nama rantai gingerol dan jumlah karbon atomnya 5
4 Nama rantai shogaol dan jumlah karbon atomnya 5
5 Karakteristik pelarut heksana, etil asetat dan etanol 7
6 Perbandingan hasil rendemen ekstrak kasar 8


DAFTAR GAMBAR

1 Skema pembuatan serbuk jahe kering 3
2 Skema ekstraksi jahe 3
3 Gingerol 5
4 Shogaol 5
5 Konsentrasi senyawa aktif pada serbuk jahe kering 6
6 Rendemen ekstrak kasar 7
7 Konsentrasi 6-gingerol pada ekstrak jahe 8
8 Konsentrasi 8-gingerol pada ekstrak jahe 9
9 Konsentrasi 10 gingerol pada ekstrak jahe 9
10 Konsentrasi 6-shogaol pada ekstrak jahe 10
11 Persentasi ekstraksi senyawa 6-gingerol 10
12 Persentasi ekstraksi senyawa 8-gingerol 11
13 Persentasi Ekstraksi Senyawa 10-gingerol 11
14 Persentasi Ekstraksi Senyawa 6-shogaol 11


DAFTAR LAMPIRAN

Prosedur pengujian analisis proksimat serbuk jahe kering 14






PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masyarakat Indonesia memanfaatkan tanaman obat tradisional sebagai salah
satu pengobatan yang tidak membahayakan tubuh. Penggunaan tanaman obat
tradisional meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap dampak
negatif penggunaan obat sintetik. Satu di antara tanaman obat yang sering
digunakan adalah jahe (Zingiber officinale). Jahe mengandung minyak atsiri yang
bersifat menghangatkan tubuh. Selain itu kandungan oleoresin jahe akan
memberikan rasa pedas.
Produksi jahe Indonesia tahun 2011 mencapai 94 745 159 kg (BPS 2012)
dan merupakan komoditas tanaman obat-obatan yang diandalkan setiap tahunnya.
Oleh karena itu penggunaan jahe harus dikembangkan tidak hanya sebagai
sediaan obat biasa melainkan menjadi sediaan obat yang memiliki nilai tambah
yang tinggi. Jahe diketahui memiliki aktivitas analgesik, antiaggregan,
antialkohol, antiallergik, antimikroba, antikanker, antidepresan, antiedemik,
antiemetik, antiinflamasi, antimutagenik, antinarkotik, antioksidan,
antiserotonigenik, antipiretik, antitrombik, antitusif, immunostimulan (Duke et al.
2002).
Nilai ekonomi tanaman ini terletak pada bagian rimpangnya. Rimpang jahe
digunakan dalam bentuk jahe segar ataupun jahe olahan. Jahe segar digunakan
sebagai rempah obat tradisional. Jahe olahan dapat berupa jahe kering, jahe asin,
jahe dalam sirup, jahe kristal, bubuk jahe, minyak atsiri dan oleoresin.
Komponen bioaktif yang dapat ditemukan dalam jahe antara lain gingerol,
shogaol dan paradol. Gingerol memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan
antiinflamasi. Penggunaan gingerol di industri salah satunya ialah dalam
crosslinking pati untuk mengikatsilangkan rantai karbon pada pati. Oleh karena itu
ekstraksi gingerol dan shogaol dari jahe merupakan hal yang menarik untuk
dilakukan.

Perumusan Masalah
Gingerol perlu diekstrak karena senyawa murni dari jahe akan lebih mudah
untuk diketahui aktivitas biologinya. Diperlukan metode ekstraksi terbaik untuk
mendapatkan senyawa gingerol dari jahe.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan ekstrak dengan rendemen
tertinggidari pelarut berpolaritas berbeda dan mengetahui persentasi ekstraksi
senyawa gingerol.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mencakup ekstraksi senyawa gingerol dari
rimpang jahe dan metode ekstraksi yang digunakan untuk mendapat konsentrasi
gingerol tertinggi.

2
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juli 2013 di Laboratorium
Dasar Ilmu Terapan dan Laboratorium Teknik Kimia, Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan
Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka.

Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jahe (Zingiber officinale)
yang dipanen pada umur 9 bulan diperoleh dari Pusat Studi Biofarmaka IPB,
pelarut heksana, etil asetat, etanol, kertas saring dan standar gingerol.

Alat
Peralatan yang digunakan untuk maserasi adalah blender, labu erlenmeyer,
magnet stirrer, rotary evaporator, hot plate, neraca analitik, pompa vakum.
Peralatan yang digunakan untuk analisis konsentrasi senyawa gingerol adalah
HPLC (Shimpack ODS VP C18 150Lx4.6).


Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap ekstraksi
dan tahap analisis. Tahap persiapan adalah tahap pembuatan serbuk jahe kering.
Jahe kering didapatkan dari jahe segar yang dicuci bersih, diiris tipis dengan
ketebalan 50 mm, dikeringkan dengan sinar matahari selama 2 hari, selanjutnya
dihaluskan dengan blender hingga didapatkan serbuk jahe dengan ukuran 50
mesh. Rendemen serbuk jahe kering dihitung berdasarkan pada persentase antara
bobot serbuk jahe yang didapat dengan bobot rimpang jahe awal yang digunakan.
Tahap persiapan dilakukan seperti skema yang ditunjukkan pada Gambar 1.
Serbuk jahe dianalisis proksimat untuk mengetahui kandungan utama dalam
serbuk jahe kering. Prosedur analisis proksimat dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tahap ekstraksi mengacu pada Fathia (2011) dengan modifikasi pada waktu
ekstraksi dan kecepatan putaran yang digunakan. Serbuk jahe sebanyak 100 gram
diekstrak dengan metode maserasi bertingkat menggunakan tiga jenis pelarut yang
berbeda, yaitu heksana, etil asetat, dan etanol. Serbuk jahe diekstrak dengan 400
ml heksana selanjutnya residu diekstrak dengan 400 ml etil asetat dan selanjutnya
residu diekstrak dengan 400 ml etanol. Proses ekstraksi dilakukan pada suhu
ruang dengan kecepatan putaran 450 rpm setiap tingkat dan tiga perlakuan waktu
3, 4, dan 6 jam. Tiap-tiap filtrat dipisahkan dari pelarutnya dengan cara
penguapan dalam rotary evaporator. Pelarut pertama dan kedua diuapkan pada
suhu 50C dan pelarut ketiga pada suhu 70C. Skema ekstraksi dapat dilihat pada
Gambar 2. Pengujian komposisi kandungan 6-, 8-, 10- gingerol dan 6 shogaol
pada jahe dilakukan dengan LC-PDA (Liquid chromatographyphotodiode array
detection). Ekstrak dan simplisia jahe disonikasi menggunakan metanol pada suhu

3
ruang. Ekstrak kemudian dianalisis dengan HPLC (Shimpack ODS VP C18
150Lx4.6). suhu kolom oven 40 C. panjang gelombang 280nm dan laju alir gerak
1 ml/menit. Pelarut yang digunakan dalam kolom C-18 adalah air (fase diam) dan
asetonitril (fase gerak).Komposisi air dan asetonitril yang digunakan ditunjukkan
pada Tabel 1.





Gambar 1 Skema pembuatan serbuk jahe kering
Gambar 2 Skema ekstraksi jahe

4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Proksimat Serbuk Jahe
Komposisi kimia jahe sudah diketahui sejak lama. Komponen-komponen
yang bertanggung jawab atas rasa pedas dan tajam, yaitu gingerol, gingerdiol, dan
shogaol, membentuk oleoresin sebanyak 8% (Ramji 2007). Gingerol memiliki
kemampuan sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Penggunaan gingerol di
industri salah satunya ialah dalam crosslinking pati untuk mengikatsilangkan
rantai karbon pada pati (Kikuzaki 2000). Oleh karena itu ekstraksi gingerol dari
jahe merupakan hal yang menarik untuk dilakukan.
Pada tahap persiapan didapatkan bobot serbuk jahe kering sebanyak 3.71
kg. Dari bobot jahe segar sebanyak 35.5 kg. Sehingga rendemen yang didapatkan
ialah 10.45%. Rendemen serbuk jahe kering berhubungan dengan kadar air yang
terkandung pada kadar air rimpang. Kandungan air pada rimpang akan teruapkan
selama pengeringan. Analisis proksimat dilakukan pada serbuk jahe kering
mengetahui kandungan utama dalam serbuk jahe kering. Hasil analisis proksimat
serbuk jahe kering ditunjukkan pada Tabel 2.
Analisis proksimat menunjukkan kadar karbohidrat by difference sebesar
67.69%. Hal ini sesuai dengan Koswara (1995) yang menyebutkan bahwa dalam
100 gram jahe kering terdapat 70 gram karbohidrat.

Komponen Bioaktif Jahe
Komponen bioaktif yang terdapat pada ekstrak jahe antara lain gingerol,
shogaol, paradol dan yang lainnya. Komponen fenolik ini bertanggung jawab
terhadap flavor jahe. Gingerol atau 1-(3-metoksi-4-hidroksifenil)-5-
hidroksialkan-3-ones memiliki rantai samping yang variatif. Rantai samping
senyawa gingerol yang telah diidentifikasi adalah (3)-,(4)-,(5)-,(6)-,(8)-,(10)-, dan
Tabel 2 Analisis proksimat serbuk jahe kering
Kadar Nilai (%)
Air 6.57
Abu 5.68
Protein 11.25
Lemak 8.62
Karbohidrat (by difference) 67.68

Tabel 1 Komposisi pelarut gradien yang digunakan dalam kolom HPLC
Waktu (menit) Air (%) Asetonitril (%)
0 60 40
10 60 40
40 10 90

5
(12)-gingerol memiliki karbon atom berturut-turut 7, 8, 9, 10, 12, 14, dan 16
(Araona et al 1999). Struktur molekul dan penamaan rantai karbon gingerol
ditunjukkan pada Gambar 3 dan Tabel 3.
Selama proses pengolahan jahe seperti pengeringan dan penyimpanan akan
mengubah gingerol menjadi shogaol. Tingkat kepedasan jahe akan berkurang
karena perubahan tersebut. homolog-homolog shogaol yang telah diketahui antara
lain (1)-, (4)-, (6)-, (14)-, dan (19)-shogaol. Struktur molekul dan penamaan rantai
karbon shogaol ditunjukkan pada Gambar 4 dan Tabel 4.


Komponen Bioaktif Serbuk Jahe Kering
Konsentrasi senyawa tertinggi pada serbuk jahe ialah 6-gingerol kemudian
10-gingerol, 6-shogaol dan konsentrasi senyawa terendah ialah 8-gingerol.
Fathona (2011) mengemukakan bahwa kandungan 6-, 8-, 10-gingerol dan 6-
shogaol jahe emprit ialah 22.57, 4.73, 6.68 dan 2.24 mg/g sedangkan hasil

Gambar 3 Gingerol

Tabel 3 Nama rantai gingerol dan jumlah karbon atomnya
n nama
4 (6)-gingerol
6 (8)-gingerol
8 (10)-gingerol



Gambar 4 Shogaol

Tabel 4 Nama rantai shogaol dan jumlah karbon atomnya
n nama
4 (6)-shogaol
6 (8)-shogaol
8 (10)-shogaol


6
penelitian ini menunjukkan kandungan 6-, 8-, 10-gingerol dan 6-shogaol ialah
11.73, 1.55, 2.49, dan 2.10 mg/g secara berturut-turut. Kadar 6-, 8-, 10-gingerol
lebih besar daripada kadar 6-shogaol karena gingerol bersifat termostabil.
Gingerol bisa saja berubah menjadi zingeron dan heksanal melalui reaksi
retroaldol serta menjadi shogaol melalui dehidrasi pada pemanasan di atas 200C
(Purseglove et al. 1981). Selain itu kadar gingerol jahe juga meningkat seiring
dengan bertambahnya usia panen rimpang jahe (Vernin dan Parkanyi 2005).
Komponen senyawa aktif pada serbuk jahe kering ditunjukkan pada Gambar 5.


Gambar 5 Konsentrasi senyawa aktif pada serbuk jahe kering
Maserasi Bertingkat
Serbuk jahe kering diekstrak dengan metode maserasi bertingkat sesuai
dengan metode Fathia (2011) dan modifikasi pada volume pelarut yang
digunakan, waktu ekstraksi dan kecepatan putaran yang digunakan. Fathia (2011)
mendapatkan rendemen ekstrak heksana sebanyak 3.57%, rendemen ekstrak etil
asetat sebanyak 3.17%, dan ekstrak etanol sebanyak 3.02%. Waktu ekstraksi dan
kecepatan putaran yang digunakan pada penelitian ini merujuk pada metode
Ramadhan dan Phaza (2010), yang mendapatkan oleoresin jahe 12.65% pada
ekstraksi menggunakan pelarut etanol pada suhu 40C selama 6 jam dengan
kecepatan putaran 450 rpm.
Maserasi dilakukan dengan merendam serbuk jahe dalam pelarut. Prinsip
metode maserasi yaitu terjadinya peristiwa leaching pada komponen aktif dalam
bahan yang memiliki sifat kelarutan yang sama dengan pelarut yang digunakan
(Singh 2008). Maserasi yang berulang untuk memperoleh ekstrak yang semakin
banyak. Metode ini tergolong metode konvensional namun masih populer
digunakan karena kemudahan pengerjaan dan biaya pengerjaan yang cukup murah
dibandingkan metode lainnya (Yang et al. 2010). Maserasi bertingkat merupakan
metode ekstraksi bertahap dengan menggunakan pelarut yang berbeda.

Rendemen Ekstrak Kasar
Rendemen ekstrak kasar tertinggi diperoleh saat ekstraksi tingkat ketiga
menggunakan pelarut etanol dengan durasi 6 jam sebesar 15.12%. Gambar 6
menunjukkan rendemen ekstrak kasar yang dihasilkan. Rendemen yang dihasilkan

7
meningkat seiring dengan peningkatan tingkat ekstraksi. Namun rendemen ekstrak
kasar yang diperoleh selama ekstraksi 4 jam lebih kecil dibandingkan ekstraksi
selama 3 dan 6 jam. Hal ini disebabkan oleh kepolaran pelarut yang digunakan.
Ekstraksi dapat dilakukan menggunakan pelarut dengan polaritas yang
berbeda untuk memperoleh komponen terlarut pada kisaran yang luas (Cowan
1999). Sifat komponen yang akan diekstrak bergantung pada polaritas,
termostabilitas dan pH. Sifat pelarut yang akan digunakan bergantung pada
polaritas, toksisitas, kemudahan terbakar, reaktivitas, ketersediaan dan harga.
Berdasarkan perbandingan polaritasnya, heksana tergolong sebagai pelarut non
polar, etil asetat tergolong sebagai pelarut semi polar dan etanol tergolong sebagai
pelarut polar (Carey dan Sundberg 2007). Derajat polaritas bergantung pada
ketetapan dielektrik (), semakin besar tetapan dielektrik semakin polar pelarut
tersebut. Tabel 5 menunjukkan karakteristik pelarut yang digunakan.
Ekstrak kasar mengandung minyak atsiri dan komponen-komponen resin
yang larut dalam pelarut yang digunakan. Komponen resin di antaranya
komponen bioaktif yang memberikan rasa pedas, warna, fixed oil, dan resin alami
(Koswara 1995). Komponen minyak atsiri seperti zingiberol yang terkandung di
dalam jahe termasuk golongan terpen yang memiliki polaritas mendekati etanol
sedangkan komponen bioaktif seperti gingerol dan shogaol bersifat non-polar.
Sehingga ekstraksi menggunakan etanol akan mendapatkan lebih banyak ekstrak
kasar dibandingkan ekstraksi menggunakan heksana maupun etil asetat.


Gambar 6 Rendemen ekstrak kasar

Hasil rendemen ekstrak kasar yang diperoleh penelitian ini lebih besar
dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Namun bila dibandingkan
Anam (2010), rendemen ekstrak kasar yang diperoleh penelitian ini lebih kecil,
hal ini bisa saja terjadi karena rendemen ekstrak kasar yang dihasilkan dari suatu
Tabel 5 Karakteristik pelarut heksana, etil asetat dan etanol
Pelarut T
d
(C) Kelarutan dalam air (%) Ketetapan dielektrik ()
Heksana 69 <0.01 1.9
Etil asetat 77 80 6.0
Etanol 78 Sangat larut 24.5
Sumber: Carey dan Sundberg (2007)


8
ekstraksi dipengaruhi beberapa hal, misalnya ukuran serbuk jahe, pelarut yang
digunakan, waktu ekstraksi, suhu ekstraksi, metode yang digunakan dan rasio
bahan : pelarut. Tabel 6 menunjukkan perbandingan hasil rendemen kasar yang
diperoleh pada penelitian sebelumnya.
Tabel 6 Perbandingan hasil rendemen ekstrak kasar
Peneliti Tahun Ukuran
serbuk
jahe
Metode
ekstraksi
Pelarut Suhu Kecepatan
putar
Waktu
ekstraksi
Rasio
bahan:
pelarut
Rende-
men
Ramadhan
et al.
2010 0.5 mm Maserasi Etanol
99.98%
40C 450 rpm 6 jam 1 : 7.5 12.65%
Fathia 2011 20 mesh Maserasi
tingkat 1
Heksana 25C 150 rpm 24 jam 1 : 4 3.57%
Fathia 2011 20 mesh Maserasi
tingkat 2
Etil asetat 25C 150 rpm 24 jam 1 : 4 3.17%
Fathia 2011 20 mesh Maserasi
tingkat 3
Etanol 25C 150 rpm 24 jam 1 : 4 3.02%
Daryono 2012 40 mesh Maserasi Etanol
70%
40C 60 rpm 3 jam 1 : 5 9.98%
Anam 2010 40 mesh Maserasi Etanol 40C - 3 jam 1 : 5 22.12%
Penelitian
ini
2013 40 mesh Maserasi
tingkat 3
Etanol 25C 450 rpm 6 jam 1 : 4 15%

Komponen Bioaktif Ekstrak Jahe
Ekstrak jahe yang diperoleh dari maserasi bertingkat diuji komposisi
kandungan 6-, 8-, 10- gingerol dan 6 shogaol. Konsentrasi 6-gingerol pada ekstrak
heksana meningkat seiring peningkatan durasi ekstraksi.Sedangkan konsentrasi 6-
gingerol pada ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat durasi 4 jam menurun dari
durasi 3 jam dan kemudian meningkat pada durasi ekstraksi 6 jam.
Selanjutnya pada ekstraksi menggunakan pelarut etanol konsentrasi 6-
gingerol mengalami peningkatan pada seiring peningkatan durasi ekstraksi.
Konsentrasi senyawa 6-gingerol tertinggi diperoleh pada ekstrak menggunakan
pelarut heksana durasi 6 jam, yaitu 2.81 mg/g serbuk sedangkan konsentrasi
terendahnya diperoleh pada ekstrak tingkat ketiga durasi waktu 3 jam, yaitu 0.04
mg/g serbuk. Perubahan konsentrasi 6-gingerol pada berbagai tingkat dan waktu
ekstraksi ditunjukkan pada Gambar 7.


Gambar 7 Konsentrasi 6-gingerol pada ekstrak jahe


9
Serupa dengan konsentrasi senyawa 6-gingerol, konsentrasi senyawa 8-
gingerol pada ekstrak heksanamengalami peningkatan seiring peningkatan durasi.
Sedangkan konsentrasi senyawa 8-gingerol ekstrak etil asetat dan etanol durasi 4
jam menurun dari durasi 3 jam dan konsentrasinya meningkat saat durasi 6 jam.
Konsentrasi senyawa 8-gingerol tertinggi diperoleh pada ekstrak heksana
durasi waktu 6 jam, yaitu 0.50 mg/g serbuk, sedangkan konsentrasi terendahnya
diperoleh pada ekstrak etanol durasi waktu 4 jam, yaitu 0.03 mg/g serbuk.
Perubahan konsentrasi 8-gingerol pada berbagai tingkat dan durasi ekstraksi
ditunjukkan pada Gambar 8.


Gambar 8 Konsentrasi 8-gingerol pada ekstrak jahe
Perubahan konsentrasi 10-gingerol pada berbagai tingkat dan waktu
ekstraksi ditunjukkan pada Gambar 9. Konsentrasi senyawa 10-gingerol pada
ekstrak heksana meningkat seiring peningkatan durasi. Sedangkan konsentrasi
senyawa 8-gingerol pada ekstrak etil asetat dan etanol durasi 4 jam menurun dari
durasi 3 jam dan konsentrasinya meningkat saat durasi 6 jam.
Konsentrasi tertinggi senyawa 10-gingerol juga diperoleh ekstrak heksana
pada durasi 6 jam, yaitu 1.16 mg/g serbuk dan konsentrasi terendahnya saat
ekstraksi menggunakan etanol pada durasi 4 jam, yaitu 0.04 mg/g serbuk.


Gambar 9 Konsentrasi 10 gingerol pada ekstrak jahe
Konsentrasi senyawa 6-shogaol pada ekstrak heksana durasi 4 jam lebih
tinggi daripada konsentrasi senyawa pada ekstrak heksana baik dengan durasi 3
maupun 6 jam. Sedangkan konsentrasi senyawa 6-shogaol pada ekstrak etil asetat

10
dan etanol durasi 4 jam menurun dari durasi 3 jam dan konsentrasinya meningkat
saat durasi 6 jam. Konsentrasi tertinggi senyawa 6-shogaol juga diperoleh pada
ekstrak heksana durasi 4 jam, yaitu 0.62 mg/g serbuk dan konsentrasi terendah
diperoleh saat ekstraksi tingkat ketiga durasi 4 jam, yaitu 0.02 mg/g serbuk.
Perubahan konsentrasi 6-shogaol pada berbagai tingkat dan waktu ekstraksi
ditunjukkan pada Gambar 10.



Gambar 10 Konsentrasi 6-shogaol pada ekstrak jahe
Secara umum konsentrasi senyawa bioaktif tertinggi diperoleh ekstrak
heksana dan konsentrasi terendahnya diperoleh pada ekstrak etanol. Hal ini
disebabkan oleh penggunaan heksana pada ekstraksi tingkat pertama. Heksana
yang bersifat nonpolar akan lebih mudah mengekstrak senyawa bioaktif. Di
ekstraksi tingkat kedua penggunaan etil asetat sebagai pelarut mampu
mengekstrak hanya sebagian kecil komponen bioaktif.

Persentasi Ekstraksi
Persentasi ekstraksi dihitung dari perbandingan kandungan komponen
bioaktif yang terdapat dalam ekstrak dengan total kandungan komponen bioaktif
yang terdapat dalam serbuk. Ekstraksi senyawa 6-gingerol terbesar didapatkan
pada ekstraksi menggunakan heksana dengan durasi 6 jam, yaitu sebesar 23.96%.
Persentasi ekstraksi senyawa 6-gingerol ditunjukkan pada Gambar 11. Ekstraksi
senyawa 8-gingerol terbesar didapatkan pada ekstraksi meggunakan heksana
dengan durasi 6 jam sebesar 32.39%. Persentasi ekstraksi senyawa 8-gingerol
ditunjukkan pada Gambar 12.

Gambar 11 Persentasi ekstraksi senyawa 6-gingerol

11


Gambar 12 Persentasi ekstraksi senyawa 8-gingerol
Ekstraksi senyawa 10-gingerol terbesar didapat pada ekstraksi
menggunakan pelarut heksana dengan durasi 6 jam sebesar 46.62%. Hal ini
ditunjukkan pada Gambar 13. Persentasi ekstraksi terbesar senyawa 6-shogaol
didapatkan pada ekstraksi menggunakan heksana dengan durasi 6 jam sebesar
29.37%. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 14. Persentasi ekstraksi keempat
senyawa diperoleh pada saat ekstraksi yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
untuk mendapatkan masing-masing senyawa diperlukan metode ekstraksi yang
berbeda juga. Ekstraksi senyawa 10-gingerol merupakan persentasi ekstraksi
terbesar dibandingkan 3 senyawa lainnya.


Gambar 13 Persentasi ekstraksi senyawa 10-gingerol


Gambar 14 Persentasi ekstraksi senyawa 6-shogaol


12
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Konsentrasi senyawa tertinggi pada serbuk jahe kering ialah 6-gingerol,
kemudian 10-gingerol, 6-shogaol dan konsentrasi senyawa terendah ialah 8-
gingerol dengan nilai berturut-turut 11.73 mg/g, 2.9 mg/g, 2.10 mg/g dan 1.55
mg/g.
Rendemen ekstrak kasar terbaik diperoleh saat ekstraksi menggunakan
pelarut etanol 6 jam yaitu 15%. Senyawa aktif yang terkandung dalam jahe dapat
diekstrak dengan metode yang berbeda. Ekstraksi senyawa 6-, 8-, 10-gingerol
tertinggi terjadi saat ekstraksi 6 jam menggunakan pelarut heksana, yaitu masing-
masing 24%, 32%, dan 46%. Sedangkan ekstraksi senyawa 6-shogaol tertinggi
terjadi saat ekstraksi 4 jam menggunakan pelarut heksana, yaitu 29%.

Saran
Perlu dilakukan analisis sifat fisikokimia ekstrak yang dihasilkan untuk
mendukung karakteristiknya yang lebih spesifik.

DAFTAR PUSTAKA
Anam, C. 2010. Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber officinale) Kajian dari Ukuran
Bahan, Pelarut, Waktu dan Suhu. Jurnal Pertanian MAPETA, Vol XII. No
2. 72-144.
[AOAC] Association of Official Analytical Chemists International. 1995. Official
Methods of Analysis of AOAC International. Maryland (US). AOAC
International.
Araona K, Elisabetsky E, Farnsworth N, Fong H, dan Hargono D. 1999. WHO
Monographs on Selected Medicinal Plants Volume 1. World Health
Organization. Geneva
[BPS] Badan Pusat Statisik. 2012. Produksi tanaman obat-obatan menurut
provinsi. Jakarta (ID).
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 1992. Bumbu dan Rempah-rempah:
Penentuan Kadar Air (Metode Pemisahan dan Cara Penyulingan) SNI 01-
3181-1992. Jakarta (ID)
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 1992. Bumbu dan Rempah-rempah,
Penentuan Abu Total SNI 01-3187-1992. Jakarta (ID)
Carey FA dan Sundberg RJ. 2007. Advance Organic Chemistry. Fifth
edition.Virginia (US). Springer.
Cowan MM. 1999. Plant product as antimicrobial agents. Clinical Microbiology
Reviews12 (4): 564-568.

13
Daryono, ED. 2011. Oleoresin dari Jahe menggunakan Proses Ekstraksi dengan
Pelarut Etanol. Jurnal Teknik Kimia, Vol 6, No 1.
Duke JA, Bogenschutz-Godwin J. duCellier M.J, dan Duke PAK. 2002.
Handbook of medicinal herbs second edition. Florida (US). CRC Press.
Fathia S. 2011. Aktivitas Antimikroba ekstrak jahe (Zingiber officinale Roscoe)
terhadap beberapa bakteri patogen. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Houghton PJ dan Raman A. 1998. Laboratory Handbook for The Fractionation
of Natural Extracts. London (GB). Thomson Science Publ.
Kikuzaki H. 2000. Ginger for drug and spice purpose. Di dalam:Herbs, Botanicals
and Tea Mazza G dan Oomah BD (Ed). Canada (CN). Technomic.
Koswara. S. 1995. Jahe dan Hasil Olahannya. Jakarta (ID). Pustaka Sinar
Harapan.
Purseglove JW, Brown EG, Green CL dan Robbins SRJ. 1981. Spices Volume II.
New York (US). Longman Inc.
Ramadhan AE dan Phaza HA. 2010. Pengaruh konsentrasi etanol, suhu dan
jumlah stage pada ekstraksi oleoresin jahe (Zingiber officinale rosc) secara
batch [Skripsi]. Semarang (ID): Universitas Diponegoro.
Ramji D. 2007. Isolation of gingerols and shogaols from ginger and evaluation of
their chemopreventive activity on prostate cancer cells and anti-
inflammatory effect on 12-o-tetradecanoyl-phorbol-13acetate (tpa)-induced
mouse ear inflammation [Disertasi]. New Jersey (US): Graduate School
New Brunswick Rutgers, The State University of New Jersey.
Singh J. 2008. Maceration, Percolation and Infusion Techniques for the Extraction
of Medicinal and Aromatic Plants. Di dalam: Extraction Technologies for
Medicinal and Aromatic Plants. Handa SS, Khanuja SPS, Longo G, Rakesh
DD (Eds.). Italia (IT). International Centre for Science and High
Technology.
Vermin G dan Parkanyi C. 2005. Chemistry of Ginger. Di dalam Ravindran PN
dan Babu KN (eds). Ginger The Genus Zingiber. Washington DC (US);
CRC Press.
Yang B, Jiang Y, Shi J, Chen F dan Ashraf M. 2010.Extraction and
pharmacological properties of bioactive compounds from longan
(Dimocarpus longan Lour.) fruit - A review.Journal Food Research
International, doi:10.1016/j.foodres.2010.10.019.


14
Lampiran 1 Prosedur pengujian analisis proksimat serbuk jahe kering
a) Kadar Air (SNI 01-3181-1992 yang dimodifikasi)
Labu didih dan tabung Bidwell-Sterling dikeringkan dalam oven
bersuhu 105C sebelum digunakan dan didinginkan dalam desikator.
Bubuk jahe ditimbang sebanyak 5 gram dan dimasukkan ke dalam labu
didih yang telah dikeringkan dan ditambakan 60-80 ml toluena. Setelah
alat dirangkai, refluks pada suhu rendah selama 45 menit kemudian
suhunya dinaikkan dan dipanaskan selama 60-90 menit. Volume yang
terdestilasi dibaca. Penetapan faktor destilasi diperoleh dengan
mengganti sampel ekstrak jahe dengan air (4gram). Kadar air bahan
dihitung dengan rumus sebagai berikut
adar air

s

Keterangan: W
s
= bobot contoh (g)
V
s
= volume air yang didestilasi dari contoh (ml)
FD = faktor destilasi (g/ml)
Faktor destilasi dihitung dengan rumus sebagai berikut:


Keterangan: W = bobot air yang akan didestilasi (g)
V = volume air yang terdestilasi (ml)

b) Kadar Abu (SNI 01-3187-1992 yang dimodifikasi)
Cawan dikeringkan dalam oven bersuhu 105C sebelum digunakan dan
didinginkan dalam desikator. Bubuk jahe ditimbang sebanyak 1.5 gram.
Sebanyak 2 ml etanol dituang ke dalam cawan dan dibakar sampai
etanol habis terbakar. Cawan dipanaskan menggunakan nyala api kecil
lalu dipijarkan dalam tanur pada suhu 600C selama 2 jam. Abu
didinginkan dan dibasahi dengan beberapa tetes air, dikisatkan dan
dipanaskan kembali dalam tanur selama satu jam pada suhu 600C. Bila
pada pembasahan ternyata abu telah bebas karbon, cawan dipindahkan
ke dalam desikator dan dibiarkan dingin dan ditimbang.
Bila pada pembasahan masih terlihat adanya karbon, pembasahan dan
pemanasan diulangi sampai tidak terlihat lagi bintik-bintik karbon, lalu
cawan dipijarkan kembali dalam tanur selama satu jam.Bila masih
terlihat adanya karbon, abu diaduk dengan air panas, disaring dengan
kertas saring. Kertas saring dicuci dengan sempurna lalu kertas saring
serta isinya dipindahkan ke dalam cawan untuk pengabuan. Cawan
dikeringkan dan dipijarkan pada tanur dengan suhu 600C selama satu
jam sampai abu menjadi putih.
Cawan didinginkan, ditambah filtrat, dikisatkan sampai kering pada
penangas air. Cawan dipanaskan lagi selama satu jam dalam tanur
dengan suhu 600C, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Kadar
abu contoh dihitung dengan rumus sebagai berikut
adar bu


Keterangan: M
0
= bobot cawan kosong (g)

15
M
1
= bobot cawan dan contoh (g)
M
2
= bobot cawan dan abu (g)
H = kadar air contoh (%)

c) Kadar Protein (AOAC 1995)
Penentuan kadar protein dilakukan dengan metode mikro-kjeldahl.
Sampel dihomogenkan, kemudian sampel sebanyak 0.1 gram
dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 100 ml lalu ditambahkan katalis
(CuSO
4
dan Na
2
SO
4
) dan 2.5 ml H
2
SO
4
pekat 98%. Selanjutnya sampel
didekstruksi selama 30-40 menit sampai berwarna hijau bening.Setelah
didinginkan, sampel ditambahkan dengan air suling hingga tanda
tera.Sebanyak 5 ml larutan hasil pengenceran ditambahkan dengan 10
ml NaOH 40%, disuling selama 5 menit. Hasil penyulingan ditampung
dalam erlenmeyer yang berisi 10 ml asam borat (2%) dan 0.1 ml
campuran indikator hijau bromkresol 0,1% dengan merah metal 0,1%
(5:1), kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0.1 N sampai berwarna
merah muda. Kadar protein dihitung dengan rumus sebagai berikut
adar
l 4

s


Keterangan: A = selisih volume HCl yang digunakanuntuk menitrasi
blanko dan contoh (ml)
N = normalitas larutan HCl
W
s
= bobot contoh (mg)

d) Kadar Lemak (AOAC 1995)
Sebanyak 2 gram contoh bebas air diekstraksi dengan pelarut organik
heksana dalam alat soxhlet selama 6 jam. Contoh hasil ekstraksi
diuapkan dengan cara diangin-anginkan dalam over bersuhu 105

C.
Contoh didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga diperoleh
bobot tetap.
adar lemak
bobot lemak
bobot conto


e) Kadar Karbohidrat (by difference)
Pada analisis bahan baku, kadar karbohidrat dihitung dengan cara by
different, yaitu pengurangan jumlah komponen bahan total dengan
jumlah kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan kadar serat.
Kadar karbohidrat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

adar karboidrat ( ir bu emak
rotein )


16
RIWAYAT HIDUP


Penulis lahir di Jakarta pada tanggal 2 November 1991, dari ayah Ahmad
Budiman dan ibu Lilis Imamah Ichdayati. Penulis adalah anak ketiga dari empat
bersaudara. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 34 Jakarta dan pada tahun
yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB di Departemen Teknologi Industri Pertanian,
Fakultas Teknologi Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum Peralatan
Industri Pertanian pada tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013, asisten praktikum
Perhitungan Dasar Rekayasa Proses pada tahun ajaran 2011/2012, asisten
praktikum Satuan Operasi pada tahun ajaran 2012/2013, dan asisten praktikum
Teknik Penyimpanan dan Penggudangan pada tahun 2012/2013. Penulis juga aktif
mengajar mata kuliah Kalkulus TPB di bimbingan belajar dan privat mahasiswa
Express Course IAAS LC.
Penulis bersama rekan menjadi juara empat dalam Espriex Bussiness Model
Competition yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas
Brawijaya di Malang pada bulan Februari tahun 2013. Penulis juga pernah aktif
sebagai staf Departemen Minat dan Bakat Mahasiswa BEM Fakultas Teknologi
Pertanian pada tahun 2011 dan sebagai sekretaris departemen yang sama pada
tahun 2012. Bulan Juli-Agustus 2012 penulis melaksanakan Praktik Lapangan di
PT Belfoods Indonesia dengan judul Mempelajari Proses Produksi Pengolahan
Daging Ayam Menjadi Produk Daging Olahan di PT Belfoods Indonesia.