Anda di halaman 1dari 58

Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman

Empirik)

Written by Mudjia Rahardjo, Prof. Dr. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Friday, 11 June 2010 01:32
Pekerjaan paling berat yang dilakukan peneliti setelah data terkumpul adalah analisis data.
Analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian, karena dari analisis ini akan
diperoleh temuan, baik temuan substantif maupun formal. Selain itu, analisis data kualitatif
sangat sulit karena tidak ada pedoman baku, tidak berproses secara linier, dan tidak ada aturan-
aturan yang sistematis.
Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan,
mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu
temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Melalui serangkaian aktivitas
tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk bisa disederhanakan
untuk akhirnya bisa dipahami dengan mudah.
Analisis data kualitatif sesungguhnya sudah dimulai saat peneliti mulai mengumpulkan data,
dengan cara memilah mana data yang sesungguhnya penting atau tidak. Ukuran penting dan
tidaknya mengacu pada kontribusi data tersebut pada upaya menjawab fokus penelitian. Di
dalam penelitian lapangan (field research) bisa saja terjadi karena memperoleh data yang sangat
menarik, peneliti mengubah fokus penelitian. Ini bisa dilakukan karena perjalanan penelitian
kualitatif bersifat siklus, sehingga fokus yang sudah didesain sejak awal bisa berubah di tengah
jalan karena peneliti menemukan data yang sangat penting, yang sebelumnya tidak
terbayangkan. Lewat data itu akan diperoleh informasi yang lebih bermakna. Untuk bisa
menentukan kebermaknaan data atau informasi ini diperlukan pengertian mendalam, kecerdikan,
kreativitas, kepekaan konseptual, pengalaman dan expertise peneliti. Kualitas hasil analisis data
kualitatif sangat tergantung pada faktor-faktor tersebut.
Dari pengalaman melakukan penelitian kualitatif beberapa kali, model analisis data yang
dikenalkan oleh Spradley (1980), dan Glaser dan Strauss (1967) bisa dipakai sebagai pedoman.
Kendati tidak baku, artinya setiap peneliti kualitatif bisa mengembangkannya sendiri, secara
garis besar model analisis itu diuraikan sebagai berikut:
1. Analisis Domain (Domain analysis). Analisis domain pada hakikatnya adalah upaya peneliti
untuk memperoleh gambaran umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya
ialah dengan membaca naskah data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh domain
atau ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti belum perlu
membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya hanya untuk memperoleh
domain atau ranah. Hasil analisis ini masih berupa pengetahuan tingkat permukaan tentang
berbagai ranah konseptual. Dari hasil pembacaan itu diperoleh hal-hal penting dari kata, frase
atau bahkan kalimat untuk dibuat catatan pinggir.
2. Analisis Taksonomi (Taxonomy Analysis). Pada tahap analisis taksonomi, peneliti berupaya
memahami domain-domain tertentu sesuai fokus masalah atau sasaran penelitian. Masing-
masing domain mulai dipahami secara mendalam, dan membaginya lagi menjadi sub-domain,
dan dari sub-domain itu dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus lagi hingga tidak
ada lagi yang tersisa, alias habis (exhausted). Pada tahap analisis ini peneliti bisa mendalami
domain dan sub-domain yang penting lewat konsultasi dengan bahan-bahan pustaka untuk
memperoleh pemahaman lebih dalam.
3. Analisis Komponensial (Componential Analysis). Pada tahap ini peneliti mencoba
mengkontraskan antar unsur dalam ranah yang diperoleh . Unsur-unsur yang kontras dipilah-
pilah dan selanjutnya dibuat kategorisasi yang relevan. Kedalaman pemahaman tercermin dalam
kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami
karakteristik tertentu yang berasosiasi. Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami
kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh
pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai pokok permasalahan.
4. Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes). Analisis Tema Kultural adalah
analisis dengan memahami gejala-gejala yang khas dari analisis sebelumnya. Analisis ini
mencoba mengumpulkan sekian banyak tema, fokus budaya, nilai, dan simbol-simbol budaya
yang ada dalam setiap domain. Selain itu, analisis ini berusaha menemukan hubungan-hubungan
yang terdapat pada domain yang dianalisis, sehingga akan membentuk satu kesatuan yang
holistik, yang akhirnya menampakkan tema yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada
tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan
penting, (2) memberikan kode pada topik-topik penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca
pustaka yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian. Berdasarkan seluruh analisis,
peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Sekali lagi di
sini diperlukan kepekaan, kecerdasan, kejelian, dan kepakaran peneliti untuk bisa menarik
kesimpulan secara umum sesuai sasaran penelitian.
ANALISIS DATA KUALITATIF
Analisis data dalam kualitatif sebenarnya peneliti tidak harus menutup diri terhadap
kemungkinan penggunaan data kualitatif, karena data ini bermanfaat bagi pengembangan analisis
itu sendiri. Prosedur penelitian lapangan yang lain yang umum ialah memeriksa apa yang
dikatakan oleh partisipan atau pengamat yang berbeda-beda itu tentang satu kenyataan setelah itu
terjadi. Peneliti perpustakaan seringkali tidak mengalami kesulitan besar dalam menggunakan
taktik ini. Tiga taktik yang lebih paralel dalam penelitian lapangan atau penelitian perpustakaan.
Pertama, tentu saja sangat mungkin kita mengikuti sekuen-sekuen tertentu dari kejadian-
kejadian yang berkaitan. Kedua, seorang peneliti lapangan berharap biasa menentukan siapa
yang terlibat dalam satu kejadian dan siapa yang tidak atau siapa yang mungkin tahu tentang hal
itu dan siapa yang mungkin tidak tahu; peneliti perpustakaan harus pula menemukan bagaimana
informan yang bermacam-macam itu mengukur dan menilai hal-hal semacam itu. Ketiga,
seringkali peneliti lapangan terjerumus oleh makna kata kunci yang mereka lihat digunakan
secara konstan oleh masyarakat.

Teknik Analisis Kualitatif
1. Teknik Analisis Isi (Content Analysis)
Teknik ini merupakan strategi verifikasi kualitatif, teknik analisis data ini dianggap
sebagai teknik analisis data yang sering digunakan. Artinya teknik ini adalah yang paling abstrak
untuk analisis data-data kualitatif. Secara teknik, content analysis mencakup upaya-upaya,
klasifikasi lambang-lambang yang dipakai dalam komunikasi, menggunakan kriteria dalam
klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu dalam membuat produksi. Analisis ini
sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis ini
sesungguhnya sama dengan kebanyakan analisis data kualitatif. Peneliti memulai analisis dengan
menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasi data tersebut dengan kriteria-kriteria
tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang tertentu pula.
2. Teknik Analisis Domain (Domain Analysis)
Analisis domain digunakan untuk menganalisis gambaran objek peneliti secara umum
atau di tingkat permukaan, namun relatif utuh tentang objek penelitian tersebut. Teknik analisis
ini terkenal sebagai teknik yang dipakai dalam penelitian yang bertujuan eksplorasi. Artinya,
analisis hasil penelitian ini hanya ditargetkan untuk memperoleh gambaran seutuhnya dari objek
yang diteliti, tanpa harus diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan objek
penelitian tersebut.
Seorang peneliti misalnya menganalisa lembaga sosial, maka domain atau kategori
simbolik dari lembaga sosial antara lain: keluarga, perguruan tinggi, rumah sakit. Sehubungan
dengan kemungkinan bervariasinya domain, maka disarankan menggunakan hubungan semantik
(semantik relationship) yang bersifat universal dalam analisis domain, yakni:
1. Jenis,
2. Ruang,
3. Sebab akibat,
4. Rasional,
5. Lokasi kegiatan,
6. Cara ke tujuan,
7. Fungsi,
8. Urutan,
9. Atribut.

Terdapat 6 langkah dalam mengaplikasikan analisis domain, yakni:
1. Memilih pola hubungan semantik tertentu atas dasar informasi atau fakta yang tersedia
dalam catatan harian peneliti di lapangan,
2. Menyiapkan kerja analisis domain,
3. Memilih kesamaan-kesamaan data dari catatan harian peneliti di lapangan,
4. Mencari konsep-konsep induk dan kategori-kategori simbolik dari tertentu yang sesuai
dengan suatu pola hubungan semantik,
5. Menyusun pertanyaan-pertanyaan struktural untuk masing-masing domain,
6. Membuat daftar keseluruhan domain dari seluruh data yang ada.

3. Teknik Analisis Taksonomi (Taksonomi Analysis)
Teknik analisis domain memberikan hasil analisis yang luas dan umum, tetapi belum
terperinci serta masih bersifat menyeluruh. Apabila yang diinginkan adalah suatu hasil dari
analisis yang terfokus pada suatu domain atau sub-sub domain tertentu maka peneliti harus
menggunakan teknik analisis taksonomi. Teknik ini terfokus pada domain-domain tertentu,
kemudian memilih domain tersebut menjadi sub-sub domain serta bagian-bagian yang lebih
khusus dan terperinci, yang umumnya merupakan satu rumpun yang memiliki kesamaan. Hal
yang perlu diketahui pula bahwa banyak sedikit pecahan-pecahan domain menjadi subdomain
dan seterusnya, tergantung pada kompleksnya domain itu sendiri atau tergantung pada peneliti
mengembangkan kompleksitas domain tertentu.

4. Teknik Analisis Komponensial (Componential Analysis)
Teknik analisis komponensial adalah teknik analisis yang cukup menarik dan paling
mudah dilakukan karena menggunakan pendekatan kontras antarelemen. Kedua teknik analisis
tersebut pada umumnya digunakan dalam ilmu-ilmu sosial karena dua cara ini adalah yang
termudah untuk gejala-gejala sosial. Teknik analisis komponensial secara keseluruhan memiliki
kesamaan kerja dengan teknik analisis taksonomik, hal yang membedakan kedua teknik analisis
ini hanyalah pada pendekatan yang dipakai oleh masing-masing teknik analisis.
Teknik analisis komponensial digunakan dalam analisis kualitatif untuk menganalisis
unsur-unsur yang memiliki hubungan-hubungan yang kontras satu sama yang lain dalam
domain-domain yang telah ditentukan untuk dianalisis secara lebih terperinci. Kegiatan analisis
dapat dimulai dengan menggunakan beberapa tahap yaitu: (a) penggelaran hasil observasi dan
wawancara; (b) pemilihan hasil observasi dan wawancara; dan (c) menemukan elemen-elemen
kontras.

5. Teknik Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes Analysis)
Teknik analisis tema memiliki bentuk yang sama dengan teknik analisis domain, tetapi
muatan analisis berbeda dengan yang tersirat dalam nama masing-masing teknik tersebut. Teknik
analisis tema mencoba mengumpulkan sekian banyak tema-tema, fokus budaya, etos budaya,
nilai dan simbol budaya yang terkonsentrasi pada domain-domain tertentu.
Selain itu, analisis tema berusaha menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada
domain-domain yang dianalisis sehingga akan membentuk suatu kesatuan yang holistik, dalam
suatu complex pattern yang akhirnya akan menampakkan ke permukaan tentang tema-tema atau
faktor yang paling mendominasi domain tersebut dan mana yang kurang mendominasi. Ada
beberapa hal yang secara prinsip paling menonjol pada analisis ini yaitu dalam melakukan
analisis. Peneliti harus kegiatan sebagai berikut:
1. Peneliti harus mampu melakukan analisis komponensial antar domain,
2. Membuat skema sarang laba-laba untuk dapat terbentuk pada domain satu dengan
lainnya,
3. Menarik makna dari hubungan-hubungan yang terbentuk pada masing-masing domain,
4. Menarik kesimpulan secara universal dan holistik tentang makna persoalan sesungguhnya
yang sedang dianalisis.

Sebelum hasil analisis ini dibuat dalam sebuah laporan, maka peneliti sekali lagi harus
melakukan komparasi hasil analisisnya dengan berbagai macam literatur yang ada serta
kelompok atau masyarakat lain sehubungan dengan persoalan yang ditelitinya.

6. Teknik Analisis Komperatif Konstan (Constant Comperatif Analysis)
Teknik ini adalah yang paling ekstrim menerapkan strategi analisis deskriptif. Dikatakan
ekstrim karena teknik ini betul-betul menerapkan logika induktif dalam analisisnya, hal tersebut
jarang kita jumpai dalam penelitian-penelitian sosial. Esensinya bahwa teknik analisis
komparatif adalah teknik yang digunakan untuk membandingkan kejadian-kejadian yang terjadi
pada saat peneliti menganalisa kejadian tersebut dan dilakukan secara terus-menerus sepanjang
penelitian ini dilakukan. Langkah-langkah dalam teknik komparatif konstan, yakni:
1. Tahap membandingkan kejadian yang dapat diterapkan pada tiap kategori,
2. Tahap memandukan kategori dan ciri-cirinya,
3. Tahap membatasi lingkup teori,
4. Tahap menulis teori,
5. Peneliti harus memublikasikan teori yang ditemukannya dengan penuh keyakinan.

7. Analisis Induksi (I nduction Analysis)
Pengujian intensif pada strategi yang memilih beberapa kasus yang di bangun dengan
pengalaman menyebabkan suatu fenomena. Analisis induksi ini digunakan untuk mengeliminasi
kasus negatif. Langkah-langkah dari analisis induksi, yakni:
1. Definisi kasar dari fenomena harus sudah dirumuskan,
2. Salah satu masalah diuji dengan apakah obyektif atau tidak hipotesis sesuai dengan hasil
fakta observasi,
3. Jika hipotesisi tidak sama atau hipotesis ditulis ulang atau fenomena yang dijelaskan
didefinisikan ulang kasus itu ditiadakan,
4. Prosedur dari pengujian suatu kasus dan di luar kasus negatif dari formulasi hipotesis
atau fenomena yang didefinisikan ulang dilanjutkan sampai hubungannya ada.



TEKNIK ANALISIS KUALITATIF
ANALISIS DATA KUALITATIF

Pengenalan Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam,
kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak
berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis
kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.
Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum
Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi
yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan

beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan
dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk
mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan
penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada
umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari
pengumpulan data dimulai.
Tugas analisis data adalah selalu hebat, tetapi itu yang terutama sekali menantang untuk peneliti
kualitatif, tiga pertimbangan utama, yaitu:
1. Tidak ada aturan-aturan sistematis untuk meneliti dan penyajian data kualitatif. Ketiadaan
prosedur analitik sistematis, menjadi sulit bagi peneliti untuk menyajikan kesimpulan.
2. Aspek analisis kualitatif yang kedua yang menantang adalah jumlah besar pekerjaan. Analis
kualitatif harus mengorganisir dan bisa dipertimbangkan dari halaman dan bahan-bahan naratif.
Halaman itu harus dibaca ulang dan kemudian diorganisir, mengintegrasikan, dan menafsirkan.
3. Tantangan akhir adalah pengurangan data untuk tujuan-tujuan pelaporan. Hasil-hasil utama
dari riset kuantitatif dapat diringkas. Jika satu data kualitatif dikompres terlalu banyak, inti dari
integritas bahan-bahan naratif sepanjang tahap analisa menjadi hilang. Sebagai konsekuensi,
adalah kadang sukar untuk melakukan satu presentasi hasil riset kualitatif dalam suatu format
yang kompatibel dengan pembatasan ruang dalam jurnal professional.
Model-Model Analisa
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah
mengenal empat pola analisa utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan
pada ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan interpretive.
empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai berikut:
Model Quasi-statistical. Peneliti menggunakan statistik secara khas mulai dengan
pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk memilih jenis data. Pendekatan ini adalah
kadang dikenal sebagai analysis peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema
atau kata tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah informasi
yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik. Sebagai contoh, analis dapat
menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema spesifik. Model ini adalah serupa dengan
pendekatan kwantitatif tradisional sampai melakukan analisa isi.
Model Analisa Template. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan untuk data
naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas perilaku-perilaku, kejadian, dan
ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan dapat menyesuaikan diri dibanding suatu
codebook di dalam model Quasi statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat
elementer sebelum mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data
dikumpulkan. Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh
peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan ethnoscience.
Model Analisa Editing . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai interpreter
yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan unit-unit. Suatu ketika
segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter dikembangkan satu rencana pengelompokan dan
kode-kode sesuai yang dapat digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti
kemudian mencari-cari struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok.
Pendekatan teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti
fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola analisa editing.
Model Immersion/crystallisasi. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di dalam dan
cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang intuitif. Terjemahan yang
interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah
sedikit ditemui di dalam literatur riset dibanding tiga model yang lain.

Proses Analisa
Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif. Peneliti-
peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan
pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif
adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi
nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan
dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field (1995)
mengenali empat proses-proses:

1. Memahami
Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan
belajar mencari apa yang terjadi. Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara
deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain,
pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.

2. Sintesis
Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan
pengertian dari apa yang khas mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada
akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa
mengenai peserta studi.

3. Teoritis
Meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan
alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah
cocok dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik dan
penjelasan paling hemat diperoleh.

4. Recontextualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk
kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori
harus generalisasi dan sesuai konteks.
Manajemen Dan Organisasi Data Kualitatif

Pengembangan skema pengelompokan
Langkah awal analisa data kualitatif penelitian adalah untuk mengorganisir, tanpa beberapa
sistem dari organisasi, ada hanya kekacauan. Tugas utama di dalam mengorganisir data kualitatif
mengembangkan metoda untuk menggolongkan dan memberi index. Yaitu, peneliti harus
mendisain mekanisme untuk memperoleh akses sampai bagian-bagian data, tanpa harus
berulang-kali membaca himpunan data keseluruhannya. Tahap ini sangat utama, suatu data harus
dikonversi menjadi lebih kecil, lebih dapat dikendalikan, dan lebih banyak manipulatable unit-
unit yang dapat dengan mudah didapat kembali dan review. Prosedur secara luas yang digunakan
adalah mengembangkan skema pengelompokan dan kemudian mengkode data menurut kategori.

Kode topik digunakan di dalam penelitian Gagliardis ( I991) studi pengalaman keluarga tentang
penyesuaian diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot. Ini adalah suatu contoh
dari sistem pengelompokan konkrit dan deskriptif. Sebagai contoh, itu mengijinkan coders untuk
mengkode hubungan-hubungan spesifik antar anggota-anggota keluarga, dan kejadian yang
terjadi di dalam lokasi spesifik.
Dalam mengembangkan satu rencana kategori, konsep-konsep yang terkait sering
dikelompokkan bersama-sama untuk memudahkan proses koding.. Sebagai contoh, semua
kutipan yang menggambarkan bagaimana keluarga merasakan tentang menyesuaikan diri
seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot dikelompokan sebagai Kode perasaan.

Studi-studi yang dirancang untuk mengembangkan teori lebih mungkin untuk pengembangan
abstrak dan kategori konseptual. Dalam merancang kategori konseptual, peneliti harus merinci
data ke dalam segmen-segmen, menguji dan membandingkan dengan segmen-segmen lain untuk
perbedaan dan persamaan. Untuk menentukan apa tipe fenomena yang dicerminkan dan apa arti
dari fenomena tersebut. Peneliti menanyakan pertanyaan tentang kejadian berbeda, peristiwa-
peristiwa, atau pemikiran yang ditandai pernyataan, seperti berikut:
Apakah ini?
Apa yang terjadi?
Untuk apa ini?

Diposkan oleh ARIEF. B (EBD.S.Comp


ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA KUALITATIF SERTA PEMERIKSAAN
KEABSAHAN DATA
PendahuluanDalam penelitian kualitatif proses analisis dan interpretasi data memerlukan
cara berfikir kreatif, kritis dan sangat hati-hati. Kedua proses tersebut merupakan prosesyang
saling terkait dan sangat erat hubungannya. Analisis data merupakan prosesuntuk
pengorganisasian data dalam rangka mendapatkan pola-pola atau bentuk-bentuk keteraturan.
Sedangkan interpretasi data adalah proses pemberian makna terhadap pola-pola atau keteraturan-
keteraturan yang ditemukan dalam sebuah penelitian.Data yang terkumpul diharapkan dapat
merupakan jawaban dari pertanyaan penelitianyang telah dirumuskan. Proses penyusunan data
dapat berbeda-beda antar penelititergantung selera, pengalaman dan kreatifitas berfikir sehingga
data yang terkumpuldapat mempengaruhi pemilihan alat analisis data. Dalam penelitian kualitatif
tidak adaformula yang pasti untuk menganalisis data seperti formula yang dipakai
dalam penelitian kuantitatif. Namun, pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan langkah yang
ditempuh untuk menganalisis dan interpretasi data. Proses analisis data diawali dengan
menelaahseluruh data yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber yaitu
wawancara, pengamatan lapangan, dan kajian dokumen (pustaka). Langkah berikutnya
reduksidata yang dilakukan dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan upaya
membuatrangkuman dari segala data yang ada. Kemudian, menyusunnya dalam satuan-
satuan.Satuan-satuan ini dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Pengkategorian
inidilakukan dengan cara koding. Selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan keabsahandata.
Langkah terakhir, penafsiran data yang telah untuk diuji (verifikasi) untuk dijadikan teori
substansif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.Taylor dan Bogdan berpendapat
bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif adalahsebuah proses yang terus menerus.
Pengumpulan data dan analisis data berjalan bersamaan (hand in hand).Ii. PembahasanA.
Analisis dan Interpretasi Data1. Robert C. Bogdan & Sari Knopp Biklen (2007)
CodingAnalisis data kualitatif adalah proses secara sistematis mencari dan mengolah berbagai
data yang bersumber dari wawancara, pengamatan lapangan, dan kajiandokumen (pustaka) untuk
menghasilkan suatu laporan temuan penelitian. Sedangkaninterpretasi data merujuk pada
pengembangan ide-ide atas hasil penemuan untuk kemudian direlasikan dengan kajian teoretik
(teori yang telah ada) untuk menghasilkan konsep-konsep atau teori-teori substansif yang baru
dalam rangkamemperkaya khazanah ilmu.Berikut ini merupakan beberapa saran dalam
penganalisisan dan interpretasi data menurut Bogdan dan Biklen

pertanyaan penelitian dan hipotesis peneliti, misalnya, apakah menggambarkan
tren,membandingkan, atau mengkorelasikan. Uji statistik juga ditentukan dari jumlahvariabel
bebas dan terikat, tipe skala yang digunakan mengukur variabel, dan apakah populasinya telah
terdistribusi secara normal atau tidak.Sedangkan prosedur dalam penelitian kualitatif dilakukan
dengan coding/pengkodeandata, membagi teks ke dalam unit kecil seperti frasa, kalimat dan
paragraph, lalumemberi label ke tiap unit kecil tadi. Setelah itu mengelompokkan kode ke
dalamtema atau kategori, lalu menghubungkan tema atau kategori tersebut
ataumengabstraksikannya ke dalam tema yang lebih kecil. Terakhir adalah koding datayang
dapat dilakukan dengan program analisis data untuk kualitatif.4. Mempresentasikan analisis
dataLangkah yang dilakukan dalam penelitian kuantitatif adalah denganmempresentasikan
temuan penelitian dalam bentuk ringkasan yaitu berupa pernyataantemuan, dan menyediakan
temuan dalam bentuk tabel dan gambar. Namun dalam penelitian kualitatif, presentasi temuan
penelitian dilakukan dalam bentuk mendiskusikan tema atau kategori yang dipakai, kemudian
jugamenyiapkannya secara visual dalam bentuk model, gambar dan tabel.5. Memvalidasi
dataValidasi data dilakukan dengan memakai standar external, lalu memvalidasi danmemeriksa
reliabilitas skor dari instrument yang lama, kemudian menentukanvaliditas dan reliabilitas data.
Walaupun validasi data berbeda dalam kedua penelitian,tetapi tujuan keduanya adalah sama
yakni memeriksa kualitas data dan temuannya.Dalam penelitian kuantitatif, validitas berarti
bahwa peneliti mampu menyimpulkanhasil yang berdasarkan temuan ke populasi, dan reliabilitas
bermakna skor dari partisipan selalu bersifat konsisten dan stabil.Dalam penelitian kualitatif,
vaidasi data dilakukan dari hasil analisis peneliti daninformasi partisipan di lapangan dan juga
penguji luar. Reliabilitas berperan kecildalam penelitian kualitatif dan sangat tergantung pada
reliabilitas pemberi kode dalammenganalisis kode teks yang diteliti. Sehingga, dalam langkah
selanjutnya, validasidata dilakukan dengan memakai pendekatan member checking, triangulasi,
dan peer review.B. Kriteria dan Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan Data (Trustworthiness)1.
Kriteria Keterpercayaan DataSetelah menganalisis data, peneliti harus memastikan apakah
interpretasi dan temuan penelitian akurat. Validasi temuan dalam penelitian kualitatif menurut
Guba dalamMills meliputi beberapa kriteria, yakni: Credibility, Transferability, Dependability
danCofirmability.Credibility (kredibilitas) digunakan untuk mengatasi kompleksitas data yang
tidak mudah untuk dijelaskan oleh sumber data, peneliti harus berpartisipasi aktif
dalammelakukan tindakan, berada di latar penelitian sepanjang waktu penelitian (prolonged

participation at study site), guna menghindari adanya bias dan persepsi yang salah.Hal ini
dilakukan dengan cara melakukan tindakan secara aktif (pada MetodePenelitian Tindakan (MPT)
misalnya mengajar), Dengan demikian semua masalahdapat diatasi langsung di lapangan.
Melakukan observasi yang cermat (persistentobservation) untuk mengamati perilaku informan
(siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung), diskusi dengan sejawat selama proses
penelitian berlangsung (peer debriefing).Transferability (keteralihan) merupakan konsep
validitas yang menyatakan bahwageneralisasi suatu penemuan penelitian dapat berlaku atau
diterapkan pada kontekslain yang berkarakteristik sama (representatif). Hal ini juga dilakukan
untuk membuktikan bahwa setiap data sesuai konteks artinya peneliti membuat deskripsidata
secara detail dan mengembangkannya sesuai konteks.Dependability (kebergantungan) untuk
menunjukkan stabilitas data, penelitimemeriksa data dari beberapa metode yang digunakan
sehingga tidak terjadi perbedaan antara data yang satu dengan yang lain.Confirmability
(kepastian) untuk menunjukkan netralitas dan objektivitas data, peneliti dapat menggunakan
jurnal guna melakukan refleksi terhadap data yangdikumpulkan. b. Teknik Pemeriksaan
Keterpercayaan DataSetelah menganalisis data, peneliti harus memastikan apakah interpretasi
dan temuan penelitian akurat. Validasi temuan menurut Creswell berarti bahwa
penelitimenentukan keakuratan dan kredibilitas temuan melalui beberapa strategi, antara
lainmember checking. triangulasi dan auditing.1. Member checkingPeneliti perlu mengecek
temuannya dengan partisipan demi keakuratan temuan.Member checking adalah proses peneliti
mengajukan pertanyaan pada satu atau lebih partisipan untuk tujuan seperti yang telah dijelaskan
di atas. Aktivitas ini jugadilakukan untuk mengambil temuan kembali pada partisipan dan
menanyakan padamereka baik lisan maupun tertulis tentang keakuratan laporan penelitian.
Pertanyaandapat meliputi berbagai aspek dalam penelitian tersebut, misalnya apakah
deskripsidata telah lengkap, apakah interpretasi bersifat representatif dan dilakukan
tanpakecenderungan.2. TriangulasiMerupakan proses penyokongan bukti terhadap temuan,
analisis dan interpretasi datayang telah dilakukan peneliti yang berasal dari: 1) individu
(informan) yang berbeda(guru dan murid), 2) tipe atau sumber data (wawancara, pengamatan dan
dokumen),serta 3) metode pengumpulan data (wawancara, pengamatan dan dokumen).3.
External AuditUntuk menghindari bias atas hasil temuan penelitian, peneliti perlu melakukan
cek silang dengan seseorang di luar penelitian. Seseorang tersebut dapat berupa pakar

yang dapat memberikan penilaian imbang dalam bentuk pemeriksaan laporan penelitian yang
akurat. Hal ini menyangkut deskripsi kelemahan dan kekuatan penelitian serta kajian aspek yang
berbeda dari hasil temuan penelitian. Schwandt danHalpern memberikan gambaran pertanyaan
yang dapat diajukan oleh auditor, antaralain:1. Apakah temuan berdasarkan data?2. Apakah
simpulan yang dihasilkan logis?3. Apakah tema tepat?4. Sejauhmana peneliti melakukan bias?5.
Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan kredibilitas?Sementara itu, Michael Quinn
Patton mengajukan beberapa teknik pemeriksaanketerpercayaan data yang lebih bervariasi,
antara lain:1. Perpanjangan keikutsertaanHal ini berarti bahwa peneliti berada pada latar
penelitian pada kurun waktu yangdianggap cukup hingga mencapai titik jenuh atas pengumpulan
data di lapangan.Waktu akan berpengaruh pada temuan penelitian baik pada kualitas
maupunkuantitasnya. Terdapat beberapa alasan dilakukannya teknik ini, yaitu untuk membangun
kepercayaan informan/subjek dan kepercayaan peneliti sendiri,menghindari distorsi (kesalahan)
dan bias, serta mempelajari lebih dalam tentang latar dan subjek penelitian.2. Ketekunan
pengamatanMengandung makna mencari secara konsisten dengan berbagai cara dalam
kaitandengan proses analisis yang konstan atau tentatif dan menemukan ciri-ciri dan unsur yang
relevan dengan fokus penelitian untuk lebih dicermati. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan
kedalaman penelitian yang maksimal.3. TriangulasiTriangulasi adalah teknik yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap temuan data. Denzin dalam Moleongmengajukan empat macam triangulasi: sumber,
metode, penyidik dan teori.4. Pengecekan sejawatMengekspos hasil penelitian kepada sejawat
dalam bentuk diskusi untuk menghasilkan pemahaman yang lebih luas, komprehensif, dan
menyeluruh. Hal ini perlu dilakukan agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan jujur
atastemuan, dapat menguji hipotesis kerja yang telah dirumuskan, menggunakannyasebagai alat
pemgembangan langkah penelitian selanjutnya serta sebagai pembanding.5. Kajian kasus
negatif Dilakukan dengan cara mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola
dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai pembanding.

7. Uraian rinciTeknik ini berkaitan erat dengan kriteria keteralihan, yakni peneliti dapat
menuliskaninterpretasi data atau laporan temuan sejelas dan secermat mungkin sehingga
dapatmenggambarkan konteks yang sesungguhnya agar pada gilirannya dapat digunakan pada
konteks lain yang sejenis (berkarakteristik sama)8. AuditingTeknik ini berkaitan erat dengan
kriteria kebergantungan dan kepastian data. Hal itudilakukan terhadap proses dan hasil
penelitian. Proses auditing terdiri dari: pra-entri, penetapan hal-hal yang dapat diaudit,
kesepakatan formal dan penentuan keabsahandata.

TEKNIK ANALISIS KUALITATIF ANALISIS DATA KUALITATIF
4 January 2012
Pengenalan Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam,
kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak
berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis
kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.
Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum
Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi
yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan
beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan
dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk
mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan
penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada
umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari
pengumpulan data dimulai.
Tugas analisis data adalah selalu hebat, tetapi itu yang terutama sekali menantang untuk peneliti
kualitatif, tiga pertimbangan utama, yaitu:
1. Tidak ada aturan-aturan sistematis untuk meneliti dan penyajian data kualitatif. Ketiadaan
prosedur analitik sistematis, menjadi sulit bagi peneliti untuk menyajikan kesimpulan.
2. Aspek analisis kualitatif yang kedua yang menantang adalah jumlah besar pekerjaan. Analis
kualitatif harus mengorganisir dan bisa dipertimbangkan dari halaman dan bahan-bahan naratif.
Halaman itu harus dibaca ulang dan kemudian diorganisir, mengintegrasikan, dan menafsirkan.
3. Tantangan akhir adalah pengurangan data untuk tujuan-tujuan pelaporan. Hasil-hasil utama
dari riset kuantitatif dapat diringkas. Jika satu data kualitatif dikompres terlalu banyak, inti dari
integritas bahan-bahan naratif sepanjang tahap analisa menjadi hilang. Sebagai konsekuensi,
adalah kadang sukar untuk melakukan satu presentasi hasil riset kualitatif dalam suatu format
yang kompatibel dengan pembatasan ruang dalam jurnal professional.
Model-Model Analisa
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah
mengenal empat pola analisa utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan
pada ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan interpretive.
empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai berikut:
Model Quasi-statistical. Peneliti menggunakan statistik secara khas mulai dengan
pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk memilih jenis data. Pendekatan ini adalah
kadang dikenal sebagai analysis peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema
atau kata tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah informasi
yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik. Sebagai contoh, analis dapat
menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema spesifik. Model ini adalah serupa dengan
pendekatan kwantitatif tradisional sampai melakukan analisa isi.
Model Analisa Template. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan untuk data
naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas perilaku-perilaku, kejadian, dan
ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan dapat menyesuaikan diri dibanding suatu
codebook di dalam model Quasi statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat
elementer sebelum mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data
dikumpulkan. Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh
peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan ethnoscience.
Model Analisa Editing . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai interpreter
yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan unit-unit. Suatu ketika
segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter dikembangkan satu rencana pengelompokan dan
kode-kode sesuai yang dapat digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti
kemudian mencari-cari struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok.
Pendekatan teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti
fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola analisa editing.
Model Immersion/crystallisasi. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di dalam dan
cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang intuitif. Terjemahan yang
interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah
sedikit ditemui di dalam literatur riset dibanding tiga model yang lain.
Proses Analisa
Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif. Peneliti-
peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan
pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif
adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi
nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan
dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field (1995)
mengenali empat proses-proses:
1. Memahami
Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan
belajar mencari apa yang terjadi. Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara
deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain,
pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.
2. Sintesis
Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan
pengertian dari apa yang khas mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada
akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa
mengenai peserta studi.
3. Teoritis
Meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan
alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah
cocok dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik dan
penjelasan paling hemat diperoleh.
4. Recontextualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk
kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori
harus generalisasi dan sesuai konteks.
Manajemen Dan Organisasi Data Kualitatif
Pengembangan skema pengelompokan
Langkah awal analisa data kualitatif penelitian adalah untuk mengorganisir, tanpa beberapa
sistem dari organisasi, ada hanya kekacauan. Tugas utama di dalam mengorganisir data kualitatif
mengembangkan metoda untuk menggolongkan dan memberi index. Yaitu, peneliti harus
mendisain mekanisme untuk memperoleh akses sampai bagian-bagian data, tanpa harus
berulang-kali membaca himpunan data keseluruhannya. Tahap ini sangat utama, suatu data harus
dikonversi menjadi lebih kecil, lebih dapat dikendalikan, dan lebih banyak manipulatable unit-
unit yang dapat dengan mudah didapat kembali dan review. Prosedur secara luas yang digunakan
adalah mengembangkan skema pengelompokan dan kemudian mengkode data menurut kategori.
Kode topik digunakan di dalam penelitian Gagliardis ( I991) studi pengalaman keluarga tentang
penyesuaian diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot. Ini adalah suatu contoh
dari sistem pengelompokan konkrit dan deskriptif. Sebagai contoh, itu mengijinkan coders untuk
mengkode hubungan-hubungan spesifik antar anggota-anggota keluarga, dan kejadian yang
terjadi di dalam lokasi spesifik.
Dalam mengembangkan satu rencana kategori, konsep-konsep yang terkait sering
dikelompokkan bersama-sama untuk memudahkan proses koding.. Sebagai contoh, semua
kutipan yang menggambarkan bagaimana keluarga merasakan tentang menyesuaikan diri
seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot dikelompokan sebagai Kode perasaan.
Studi-studi yang dirancang untuk mengembangkan teori lebih mungkin untuk pengembangan
abstrak dan kategori konseptual. Dalam merancang kategori konseptual, peneliti harus merinci
data ke dalam segmen-segmen, menguji dan membandingkan dengan segmen-segmen lain untuk
perbedaan dan persamaan. Untuk menentukan apa tipe fenomena yang dicerminkan dan apa arti
dari fenomena tersebut. Peneliti menanyakan pertanyaan tentang kejadian berbeda, peristiwa-
peristiwa, atau pemikiran yang ditandai pernyataan, seperti berikut:
Apakah ini?
Apa yang terjadi?
Untuk apa ini?
Diposkan oleh ARIEF. B (EBD.S.Comp)
=============
ANALISIS KUALITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL
ANALISIS KUALITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL
Penulis: S. Eko Putro Widoyoko, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo
A. Pendahuluan
Berdasarkan aspek filosofi yang mendasarinya penelitian secara garis besar dapat dikategorikan
menjadi dua dua macam, yaitu penelitian yang berlandaskan pada aliran atau paradigma filsafat
positivisme dan aliran filsafat postpositivisme. Apabila penelitian yang dilakukan mempunyai
tujuan akhir menemukan kebenaran, maka ukuran maupun sifat kebenaran antara kedua
paradigma filsafat tersebut berbeda satu dengan yang lain. Pada aliran atau paradigma
positivisme ukuran kebenarannya adalah frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat
probalistik. Kalau dalam sampel benar maka kebenaran tersebut mempunyai peluang berlaku
juga untuk populasi yang lebih besar. Pada filsafat postpositivisme kebenaran didasarkan pada
esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik. Pengertian fakta
maupun data dalam filsafat positivisme dan postpossitivisme juga memiliki cakupan yang
berbeda. Dalam postivisme fakta dan data terbatas pada sesuatu yang empiri sensual (teramati
secara indrawi), sedangkan dalam postpositivisme selain yang empiri sensual juga mencakup apa
yang ada di balik yang empiri sensual (fenomena dan nomena). Menurut istilah Noeng Muhadjir
(2000: 23) positivisme menganalisis berdasar data empirik sensual, postpositivisme mencari
makna di balik yang empiri sensual.
Kedua aliran filsafat tersebut mendasari bentuk penelitian yang berbeda satu dengan yang lain.
Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma
kuantitatif. Sedangkan postpositivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan
paradigma kualitatif. Karakteristik utama penelitian kualitatif dalam paradigma postpositivisme
adalah pencarian makna di balik data (Noeng Muhadjir. 2000: 79). Penelitian kualitatif dalam
aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma
phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam
paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam
paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu
yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
B. Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif
Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada
pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan
kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu
dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu
pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya.
Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian
kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan
perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada
perhitungan atau angka atau kuantitas.
Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau
jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya
diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian
tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang
memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala
yang diteliti.
Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang
metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded
research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik,
hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi
penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian
kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan
makna dari aspek desain penelitian.
1. Filosofi Penelitian
Dari aspek filosofi, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Penelitian kualitatif dalam paradigma kuantitatif (positivisme)
Penelitian kualitatif jenis pertama ini menggunakan paradigma positivisme. Kriteria kebenaran
menggunakan ukuran frekwensi tinggi. Data yang terkumpul bersifat kuantitatif kemudian dibuat
kategorisasi baik dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik. Hasil kategorisasi tersebut
kemudian dideskripsikan, ditafsirkan dari berbagai aspek, baik dari segi latar belakang,
karakteristik dan sebagainya. Dengan kata lain data yang bersifat kuantitatif ditafsirkan dan
dimaknai lebih lanjut secara kualitatif. Penelitian di jenjang pendidikan strata satu (S1) istilah
penelitian kualitatif lebih banyak menunjuk pada pengertian jenis pertama ini. Beberapa peneliti
menyebut dengan istilah penelitian deskriptif kualitatif.
b. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa
Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa (dan sastra) menggunakan paradigma post
positisme. Penelitian kualitatif jenis kedua ini berusaha mencari makna, baik makna di balik
kata, kalimat maupun karya sastra. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa ini masih dapat
dibendakan menjadi :
1) Sosiolinguistik yang berupaya mempelajari teori linguistik atau studi kebahasaan atau studi
perkembangan bahasa.
2) Strukturalisme Linguistik yang berupaya mempelajari struktur dari suatu karya sasta. Pada
awalnya strukturalisme linguist disebut struturalisme otonom atau struturalisme obyektif karena
menganalisis karya sastra hanya dari struktur karya sastra itu sendiri, tidak dikaitkan dengan
sesuatu di luar karya sastra. Strukturalisme linguist berkembang lebih lanjut menjadi
strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik dan strukturalisme semiotik.
3) Strukturalisme Genetik. Analisis karya sastra (dan bahasa) dalam strukturalisme genetik lebih
menekankan makna sinkronik dari pada makna lain, seperti makna ikonik, simbolik, ataupun
indeksikal. Oleh karena itu menurut Prof. Noeng Muhadjir (2000: 304) analis struturalisme
genetik perlu mencakup tiga unsur kajian, yaitu: a) intrinsik karya sastra itu sendiri, b) latar
belakang pengarangnya, dan c) latar belakang sosial serta latar belakang sejarah masyarakatnya.
4) Strukturalisme Dinamik. Strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subyektif dari
pengarang, mengakui peran sejarah serta lingkungan sosialnya, meski titik berat analisis harus
tetap pada karya sastra itu sendiri. Analisis karya sastra menurut struturalisme dinamik
mencakup dua hal, yaitu: a) karya sastra itu sendiri yang merupakan tampilan pikiran, pandangan
dan konsep dunia dari pengarang itu sendiri dengan menggunakan bahasa sebagai tanda-tanda
ikonik, simbolik, dan indeksikal dari beragam makna, dan b) analisis keterkaitan pengarang
dengan realitas lingkungannya.
5) Strukturalisme Semiotik. Strukturalisme semiotik adalah struturalisme yang dalam membuat
analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiologi. Semiologi atau semiotik adalah
ilmu tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra. Strukturalisme semiotik mengenal dua
cara pembacaan, yaitu heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik mencoba menelaah
mencari makna dari kata-kata, dari bagian- bagian, seperti Said Mahmud (Noeng Muhadjir.
2001: 101) mencari amal shaleh menurut Al-Quran dengan cara mencari kata-kata kunci dalam
Al-Quran, dan dia menemukan 13 kata kunci. Berdasarkan 13 kata kunci tersebut dia
mendeskripsikan karakteristik amal shaleh menurut Al-Quran. Pembacaan hermeneutik
mencoba menelaah makna dengan melihat keseluruhan karya sastra. M. Radhi Al-Hafid (Noeng
Muhadjir. 2001: 101) mencoba mengklasterkan kisah edukatif dalam Al- Quran, secara
hermeneutik, dan menemukan tiga klaster, yaitu kisah sejumlah Nabi, kisah para kaum dan kisah
sketsa kehidupan.
c. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi
Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi berusaha memahami arti (mencari makna)
dari peristiwa dan kaitan-kaitannya dengan orang-orang biasa dalam situasi tertentu (Moleong.
2001: 9). Dengan kata lain penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi adalah
penelitian yang berusaha mengungkap makna terhadap fenomena perilaku kehidupan manusia,
baik manusia dalam kapasitas sebagai individu, kelompok maupun masyarakat luas.
Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi telah mengalami perkembangan mulai dari
model Interpretif Geertz, model grounded research, model Ethnographik, model paradigma
naturalistik dari Guba dan model interaksi simbolik. Model paradigma naturalistik (the
naturalistic method of inquiry, menurut istilah Guba) menurut Noeng Muhadjir (2000: 147)
disebut sebagai model yang telah menemukan karakteristik kualitatif yang sempurna, artinya
bahwa kerangka pemikiran, filsafat yang melandasinya, ataupun operasionalisasi metodologinya
bukan reaktif atau sekedar merespons dan bukan sekedar menggunggat yang kuantitatif,
melainkan membangun sendiri kerangka pemikirannya, filsafatnya dan operasionalisasi
metodologinya. Para ahli metodologi penelitian kualitatif pada umumnya mengikuti konsep
model naturalistik yang dikemukan oleh Guba. Begitu juga uraian lebih lanjut dalam tulisan ini
pengertian penelitian kualitatif menunjuk pada makna kualitatif naturalistik. Moleong
menggunakan istilah paradigma alamiah untuk menunjuk pada paradigma kualitatif naturalistik
sebagai kebalikan dari paradigma ilmiah untuk menunjuk pada paradigma kuantitatif (Moleong.
2001: 15).
Guba (1985: 39 44) mengetengahkan empat belas karakteristik penelitian naturalistik, yaitu :
a. Konteks natural (alami), yaitu suatu konteks keutuhan (entity) yang tak akan dipahami dengan
membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya.
b. Manusia sebagai instrumen. Hal ini dilakukan karena hanya manusia yang mampu
menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas dan menangkap makna, sedangkan instrumen
lain seperti tes dan angket tidak akan mampu melakukannya.
c. Pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan. Sifat naturalistik memungkinkan mengungkap hal-
hal yang tak terkatakan yang dapat memperkaya hal-hal yang diekspresikan oleh responden.
d. Metoda kualitatif. Sifat naturalistik lebih memilih metode kualitatif dari pada kuantitatif
karena lebih mampu mengungkap realistas ganda, lebih sensitif dan adaptif terhadap pola-pola
nilai yang dihadapi.
e. Pengambilan sample secara purposive.
f. Analisis data secara induktif, karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah
dideskripsikan. Yang dimaksud dengan analisis data induktif menurut paradigma kualitatif
adalah analisis data spesifik dari lapangan menjadi unit-unit dan dilanjutkan dengan kategorisasi.
g. Grounded theory. Sifat naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori diangkat dari empiri,
bukan dibangun secara apriori. Generalisasi apriorik nampak bagus sebagai ilmu nomothetik,
tetapi lemah untuk dapat sesuai dengan konteks idiographik.
h. Desain bersifat sementara. Penelitian kualitatif naturalistik menyusun desain secara terus
menerus disesuaikan dengan realita di lapangan tidak menggunakan desain yang telah disusun
secara ketat. Hal ini terjadi karena realita di lapangan tidak dapat diramalkan sepenuhnya.
i. Hasil dirundingkan dan disepakati bersama antara peneliti dengan responden. Hal ini dilakukan
untuk menghindari salah tafsir atas data yang diperoleh karena responden lebih memahami
konteksnya daripada peneliti.
j. Lebih menyukai modus laporan studi kasus, karena dengan demikian deskripsi realitas ganda
yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari bias. Laporan semacam
itu dapat menjadi landasan transferabilitas pada kasus lain.
k. Penafsiran bersifat idiographik (dalam arti keberlakuan khusus), bukan ke nomothetik (dalam
arti mencari hukum keberlakuan umum), karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih
memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya.
l. Aplikasi tentatif, karena realitas itu ganda dan berbeda.
m. Ikatan konteks terfokus. Dengan pengambilan fokus, ikatan keseluruhan tidak dihilangkan,
tetap terjaga keberadaannya dalam konteks, tidak dilepaskan dari nilai lokalnya.
n. Kriteria keterpercayaan. Dalam penelitian kuantitatif keterpercayaan ditandai dengan adanya
validitas dan reliabilitas, sedangkan dalam kualitatif naturalistik oleh Guba diganti dengan
kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas.
2. Desain Penelitian
Berdasarkan desain penelitian yang disusun, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu :
a. Desain penelitian kualitatif non standar
Desain penelitian dalam paradigma positivistik kuantitatif bersifat terstandar, artinya ada aturan
yang sama yang harus dipenuhi oleh peneliti untuk mengadakan penelitian dalam bidang apapun
juga. Pelaksanaan penelitian dimulai dari adanya masalah, membatasi obyek penelitian, mencari
teori dan hasil penelitian yang relevan, mendesain metode penelitian, mengumpulkan data,
menganalisis data, membuat kesimpulan, ada yang menambah dengan implikasi, saran dan atau
rekomendasi. Sebelum data diolah, perlu diuji terlebih dulu validitas dan reliabilitasnya, baik
dari segi konstrak teori, isi maupun empiriknya. Sistematika penulisan sudah terstandar, yaitu:
Bab I. Pendahuluan (latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan/batasan masalah,
dst.). Bab II. Kajian teori atau kajian pustaka (kajian teori yang sesuai dengan masalah yang
diteliti, hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir, hipotesis/pertanyaan penelitian). Bab III.
Metode penelitian (Desain, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, variabel
penelitian, instrumen dan teknik analisis data). Bab IV. Hasil penelitian. Bab V. Kesimpulan (ada
yang menambah, implikasi, keterbatasan penelitian dan saran).
Desain penelitian kualitatif non standar sebetulnya menggunakan standar seperti kuantitatif tetapi
bersifat flesibel (tidak kaku). Dengan kata lain model ini merupakan modifikasi dari model
penelitian paradigma positivistik kuantitatif dengan menyederhanakan sistematika ataupun
menyatukan bebarapa bagian dalam bab yang sama, misalnya memasukkan metode penelitian
dalam bab I . Desain penelitian kualitatif non standar ini digunakan untuk penelitian kualitatif
dalam paradigma positivistik dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa.
b. Desain penelitian kualitatif tentatif
Model ini sama sekali berbeda dari model-model di atas. Desain penelitian terstandar dan non
standar disusun sebelum peneliti terjun ke lapangan dan dijadikan sebagai acuan dalam
mengadakan penelitian, sedangkan desain penelitian tentatif disusun sebelum ke lapangan juga
tetapi setelah peneliti memasuki lapangan penelitian, desain penelitian dapat berubah-ubah untuk
menyesuaikan dengan kondisi realitas lapangan yang dihadapi. Acuan pelaksanaan penelitian
tidak sepenuhnya tergantung pada desain yang telah disusun sebelumnya, tetapi lebih
memperhatikan kondisi realitas yang dihadapi.
Dalam desain penelitian terstandar maupun non standar dapat dibakukan dengan istilah-istilah:
masalah, kerangka teori, metode penelitian, analisis dan kesimpulan dan lainnya. Model tentatif
menggunakan dasar sistematika yang berbeda. Sistematika model ini unit-unitnya atau bab-
babnya disesuaikan dengan sistematika substantif obyeknya. Misalnya: penelitian tentang
perilaku anak Bab I. Pendahuluan termasuk metode penelitian. Bab II. Fantasi. Bab III. Bermain.
Bab IV. Sosialisasi, dst. Model ini digunakan dalam penelitian kualitatif naturalistik.
C. Analisis Penelitian Kualitatif
Pengertian penelitian kualitatif dalam uraian lebih lanjut menunjuk pada penelitian kualitatif
naturalistik (naturalistic inquiry dari Guba)
1. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan
keandalan (reliabilitas) menurut versi positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan,
kriteria dan paradigmanya sendiri. Penelitian kualitatif memiliki tiga kriteria untuk memeriksa
keabsahan data, yaitu: credibility, trasferability, dan dependability .
a. Kredibilitas (kepercayaan), yang dapat dilakukan dengan cara :
Memperpanjang waktu pengamatan (tinggal dengan responden)
Pengamatan secara tekun dan terus menerus (untuk memperoleh data secara lebih mendalam).
Triangulasi, yang dapat dilakukan dengan :
Menggunakan sumber ganda (berbeda-beda).
Menggunakan metode ganda (berbeda-beda).
Menggunakan peneliti ganda (berbeda-beda).
Peer debriefing (diskusi dengan teman sejawat)
Member check (pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam pengumpulan data)
b. Transferabilitas (keteralihan). Analog dengan generalisasi bagi positivisme.
c. Dependabilitas atau auditabilitas, yang dapat dilakukan dengan:
Pengamatan oleh dua atau lebih pengamat
Checking data
Audit trail atau menelusur dari data kasar (Sayekti. 2001: 2)
2. Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan
pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang
lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang
terkumpul dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam
catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Catatan
dibedakan menjadi dua, yaitu yang deskriptif dan yang reflektif (Noeng Muhadjir.2000: 139).
Catatan deskriptif lebih menyajikan kejadian daripada ringkasan. Catatan reflektif lebih
mengetengahkan kerangka pikiran, ide dan perhatian dari peneliti. Lebih menampilkan komentar
peneliti terhadap fenomena yang dihadapi.
Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi
data dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang
inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya.
Langkah selanjutnya adalah menyusun dalam satuan-satuan dan kategorisasi dan langkah
terakhir adalah menafsirkan dan atau memberikan makna terhadap data.
a. Pemrosesan Satuan (Unitying)
Satuan adalah bagian terkecil yang mengandung makna yang utuh dan dapat berdiri sendiri
terlepas dari bagian yang lain. Satuan dapat berwujud kalimat faktual sederhana, misalnya:
Responden menunjukkan bahwa ia menghabiskan sekitar sepuluh jam seminggu untuk
melakukan perjalanan keliling dari satu sekolah ke sekolah lain sebagai pelaksanaan peranannya
selaku guru lepas di beberapa sekolah. Selain itu satuan dapat pula berupa paragraf penuh.
Satuan ditemukan dalam catatan pengamatan, wawancara, dokumen, laporan dan sumber
lainnya. Agar satuan-satuan tersebut mudah diidentifikasi perlu dimasukkan ke dalam kartu
indeks dengan susunan satuan yang dapat dipahami oleh orang lain.
b. Kategorisasi
Kategorisasi disusun berdasarkan kriteria tertentu. Mengkategorisasikan kejadian-kejadian
mungkin saja mulai dari berdasarkan namanya, fungsinya atau kriteria yang lain. Pada tahap
kategorisasi peneliti sudah mulai melangkah mencari ciri-ciri setiap kategori. Pada tahap ini
peneliti bukan sekedar memperbandingkan atas pertimbangan rasa-rasanya mirip atau sepertinya
mirip, melainkan pada ada tidaknya muncul ciri berdasarkan kategori. Dalam hal ini ciri jangan
didudukkan sebagai kriteria, melainkan ciri didudukkan tentatif, artinya pada waktu hendak
memasukkan kejadian pada kategori berdasarkan cirinya, sekaligus diuji apakah ciri bagi setiap
kategori sudah tepat.
c. Penafsiran /Pemaknaan Data
Langkah ketiga Moleong (2001: 197) menggunakan istilah penafsiran data,. Noeng Muhadjir
(2000: 187) menggunakan istilah pemaknaan, karena penafsiran merupakan bagian dari proses
menuju pemaknaan. Beliau membedakan antara 1) terjemah atau translation, 2) tafsir atau
inerpretasi, 3) ekstrapolasi dan 4) pemaknaan atau meaning. Membuat terjemah berarti upaya
mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda; media tersebut
mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya. Pada
penafsiran, peneliti tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konsteksnya
agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan
pada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal di balik yang tersajikan. Memberi
makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran dan mempunyai kesejajaran dengan
ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integratif manusia: indriawinya, daya
pikirnya dan akal budinya. Di balik yang tersajikan bagi ekstrapolasi terbatas dalam arti empirik
logik, sedangkan pada pemaknaan menjangkau yang etik maupun yang transendental. Dari
sesuatu yang muncul sebagai empiri dicoba dicari kesamaan, kemiripan, kesejajaran dalam arti
individual, pola, proses, latar belakang, arah dinamika dan banyak lagi kemungkinan-
kemungkinan lainnya.
Dalam langkah kategorisari dilanjutkan dengan langkah menjadikan ciri kategori menjadi
eksplisit, peneliti sekaligus mulai berupaya untuk mengintegrasikan kategori-kategori yang
dibuatnya. Menafsirkan dan memberi makna hubungan antar kategori sehingga hubungan antar
kategori menjadi semakin jelas. Itu berarti telah tersusun atribut-atribut teori.
d. Perumusan Teori
Perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki
rumusan dan integrasinya. Modifikasi rumusan semakin minimal, sekaligus isi data dapat terus
semakin diperbanyak. Atribut terori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi
terus dengan data baru, dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus
dipersempit kategorinya. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan
hasilnya, pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya.
D. Kesimpulan
Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua
pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan
tersebut memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan
pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih menekankan pada esensi dari
fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasil analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik
dan dapat digeneralisasi sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik,
tidak dapat digeneralisasi. Hasil analisis penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat
membangun, mengembangkan maupun menemukan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis
kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.
Daftar Pustaka :
Guba, Egon G. & Lincoln, Yvonna S. (1981). Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey-Bass
Publishers
Kirk, J. & Miller, M.I. (1986). Reability and Validity in Qualitative Research, Vol.1, Beverly
Hills: Sage Publication
Lincoln, Yvonna S. & Guba, Egon G. (1985). Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills:
Sage Publications
Moleong, L. J. (2001). Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosydakarya
Noeng Muhadjir. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Yogyakarta: Rake
Sarasin Noeng Muhadjir. (2001). Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme dan Post
Modernisme. Edisi II. Yogyakarta: Rake Sarasin

ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF MODEL MILES DAN HUBERMAN
( Rahmat Sahid, Pasca UMS. 2011)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan dunia pendidikan menuntut kita untuk selalu berinovasi
dalam pembelajaran. Dengan pembelajaran yang terstruktur, terarah, terinci dan
inovatif tentunya akan menghasilkan kualtitas pembelajaran sesuai dengan yang kita
harapkan. Inovasi-inovasi tersebut tidak muncul serta merta tetapi dibutuhkan suatu
penelitian yang tidak gampang. Dibutuhkan ketekunan, ketelitian dan kemauan
yang keras untuk dapat menghasilkan inovasi yang mutakhir.
Keseriusan tersebut juga diwujudkan oleh pemerintah dengan ikut ambil
bagian dalam usaha menemukan inovasi baru dalam dunia pendidikan. Salah satunya
dengan adanya peraturan bahwa untuk mencapai golongan tetentu dalam strata
PNS, seseorang harus mengusulkan suatu pengembangan profesi yang berupa
penelitian dalam bidangnya masing-masing. Selain itu lembaga-lembaga di bidang
pendidikan juga sedang gencar-gencarnya mengadakan seleksi sebagai usaha
mencari inovasi-inovasi baru hasil penelitian yang untuk selanjutnya dikembangkan
dan disosialisasikan.
Untuk menghasilkan penelitian yang inovatif, banyak hal yang perlu kita
perhatikan yaitu sebelum pelaksanaan penelitian, saat penelitian sampai pada
penulisan hasil penelitian. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan kunci
keberhasilan dalam suatu penelitian. Dengan kata lain, rencana penelitian, proses
penelitian dan penulisan hasil penelitian harus menjadi fokus utama penelitian.
Berbagai tahapan dalam penelitian perlu kita cermati mulai dari ide
penelitian, jenis penelitian yang kita pilih, sampel yang diambil, proses pengambilan
data, cara menganalisa data selama proses penelitian, metode dalam menganalisa
data sampai pada pengambilan kesimpulan hasil penelitian. Analisis data dianggap
sebagai kunci utama dalam suatu penelitian, karena dengan cara menganalisis data
yang benar dan sesuai kita dapat menuangkan hasil penelitian sebagai suatu laporan
ilmiah yang dapat diambil manfaatnya. Sehingga peneliti yang bijak harus
mengetahui segala teori-teori yang berkaiatan dengan analisis data agar dapat
melakukan penelitian sesuai yang mereka inginkan.
Dalam dunia pendidikan kita lebih familier bentuk penelitian kuantitatif dan
penelitian kualitatif. Dimana kedua penelitian tersebut mempunyai perbedaan nyata.
Mulai dari ide, sudut pandang, pengambilan sampel, saat pengambilan data di
lapangan sampai pada penulisan hasil penelitiaan sangat berbeda jelas.

B. PERMASALAHAN
Permasalahan yang ingin penulis kupas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana cara menganalisa data kualitatif dengan model Miles dan Huberman?
2. Mengkaji analisis data model Miles dan Hubermen dalam menjawab permasalahan
penelitian kualitatif ?

C. TUJUAN
Dari permasalahan yang penulis pilih, penulis mempunyai tujuan :
1. Menjelaskan cara menganalisa data dengan model Miles dan Huberman
2. Mengkaji analisis data model Miles dan Hubermen dalam menjawab permasalahan
penelitian kualitatif ?

BAB II
ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF MODEL MILES DAN
HUBERMAN

Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Penelitian
kualitatif sering disebut dengan penelitian naturalistik, etnografik, studi kasus atau
fenomenologi. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan tentang orang-orang atau perilaku yang dapat di amati. Data
kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka
(Depdiknas,2008).
Penelitian kualitatif umumnya mengambil sampel lebih kecil, dan
pengambilannya cenderung memilih yang purposif daripada acak. Penelitian
kualitatif lebih mengarah ke penelitian proses daripada produk; dan biasanya
membatasi pada satu kasus.
Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data
misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfolus, atau observasi yang telah
dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah
gambar yang peroleh melalui pemotretan atau rekaman video.
A. ANALISIS DATA KUALITATIF
Pada awalnya para peneliti kualitatif tidak menjelaskan secara rinci kegiatan
analisis dalam penelitiannya. Pada perkembangan selanjutnya para peneliti sejenis
telah berupaya untuk menjelaskan proses analisisnya secara rinci, meskipun masih
beragam caranya. Namun, hal itu dapat dipahami sesuai dengan sifat keterbukaan
dan kelenturan metode ini (Sutopo, 2002).
Data-data yang diperoleh selama melaksanakan penelitian tidak memiliki arti
apapun jika tidak diolah, dianalisis dan disajikan dengan cermat dan sistematis.
Analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan. Tujuan
akhir analisis data kualitatif adalah untuk memperoleh makna, menghasilkan
pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori
baru. Analisis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistematis
data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan
lainnya sehingga mudah dipahami agar dapat diinformasikan kepada orang lain.
Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data,
menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,
memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum
peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangan secara
interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh.
Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru.
B. ANALISIS DATA KUALITATIF SEBELUM DI LAPANGAN
Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder,
yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun hal ini bersifat
sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.
Semisal penelitian difokuskan pada pohon jati, setelah peneliti masuk ke hutan
beberapa lama, ternyata hutan tersebut tidak ada pohon jati. Bagi peneliti kuantitatif
tentu akan membatalkan penelitiannya, tetapi kalau peneliti kualitatif tidak, karena
fokus penelitiannya bersifat sementara dan akan berkembang setelah di lapangan.
Bagi peneliti kualitatif kalau fokus penelitian yang dirumuskan pada proposal tidak
ada di lapangan, maka peneliti akan merubah fokusnya.
C. ANALISIS DATA KUALITATIF SELAMA DI LAPANGAN MODEL MILES
DAN HUBERMAN
Miles dan Hubermen (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis
data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus
sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak
diperolehnya lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi
data (data reduction), penyajian data (data display) serta Penarikan kesimpulan
dan verifikasi (conclusion drawing / verification).
Sejumlah peneliti kualitatif berupaya mengumpulkan data selama mungkin
dan bermaksud akan menganalisis setelah meninggalkan lapangan. Cara tersebut
untuk peneliti kualiatatif salah, karena banyak situasi atau konteks yang tak terekam
dan peneliti lupa penghayaatan situasinya, sehingga berbagai hal yang terkait dapat
berubah menjadi fragmen-fragmen tak berarti. Sehingga pekerjaan pengumpulan
data bagi peneliti kaulitatif harus langsung diikuti dengan pekerjaan menuliskan,
mengedit, mengklasifikasikan, mereduksi, dan menyajikan; yang selanjutnya
Analisis data kualitatif model Miles dan Hubermen terdapat 3 (tiga) tahap:
1. Tahap Reduksi Data
Sejumlah langkah analisis selama pengumpulan data menurut Miles dan Huberman
adalah :
Pertama, meringkaskan data kontak langsung dengan orang, kejadian dan
situasi di lokasi penelitian. Pada langkah pertama ini termasuk pula memilih dan
meringkas dokumen yang relevan.
Kedua, pengkodean. Pengkodean hendaknya memperhatikan setidak-
tidaknya empat hal :
a. Digunakan simbul atau ringkasan.
b. Kode dibangun dalam suatu struktur tertentu.
c. Kode dibangun dengan tingkat rinci tertentu
d. Keseluruhannya dibangun dalam suatu sistem yang integratif.
Ketiga, dalam analisis selama pengumpulan data adalah pembuatan catatan
obyektif.Peneliti perlu mencatat sekaligus mengklasifikasikan dan mengedit jawaban
atau situasi sebagaimana adanya, faktual atau obyektif-deskriptif.
Keempat, membuat catatan reflektif. Menuliskan apa yang terangan dan
terfikir oleh peneliti dalam sangkut paut dengan catatan obyektif tersebut diatas.
Harus dipisahkan antara catatan obyektif dan catatan reflektif
Kelima, membuat catatan marginal. Miles dan Huberman memisahkan
komentar peneliti mengenai subtansi dan metodologinya. Komentar subtansial
merupakan catatan marginal.
Keenam, penyimpanan data. Untuk menyimpan data setidak-tidaknya ada
tiga hal yang perlu diperhatikan :
a. Pemberian label
b. Mempunyai format yang uniform dan normalisasi tertentu
c. Menggunakan angka indeks dengan sistem terorganisasi baik.
Ketujuh, analisis data selama pengumpulan data merupakan pembuatan
memo. Memo yang dimaksud Miles dan Huberman adalah teoritisasi ide atau
konseptualisasi ide, dimulai dengan pengembangan pendapat atau porposisi.
Kedelapan, analisis antarlokasi. Ada kemungkinan bahwa studi dilakukan
pada lebih dari satu lokasi atau dilakukan oleh lebih satu staf peneliti. Pertemuan
antar peneliti untuk menuliskan kembali catatan deskriptif, catatan reflektif, catatn
marginal dan memo masing-masing lokasi atau masing-masing peneliti menjadi
yang konform satu dengan lainnya, perlu dilakukan.
Kesembilan, pembuatan ringkasan sementara antar lokasi. Isinya lebih
bersifat matriks tentang ada tidaknya data yang dicari pada setiap lokasi.
Mencermati penjelasan di atas, seorang peneliti dituntut memiliki
kemampuan berfikir sensitif dengan kecerdasan, keluasan serta kedalaman wawasan
yang tertinggi. Berdasarkan kemampuan tersebut peneliti dapat melakukan aktivitas
reduksi data secara mandiri untuk mendapatkan data yang mampu menjawab
pertanyaan penelitian. Bagi peneliti pemula, proses reduksi data dapat dilakukan
dengan mendiskusikan pada teman atau orang lain yang dipandang ahli. Melalui
diskusi tersebut diharapkan wawasan peneliti akan berkembang, data hasil reduksi
lebih bermakna dalam menjawab pertanyaan penelitian.
2. Tahap Penyajian Data/ Analisis Data Setelah Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti banyak terlibat dalam kegiatan penyajian atau
penampilan (display) dari data yang dikumpulkan dan dianalisis sebelumnya,
mengingat bahwa peneliti kualitatif banyak menyusun teks naratif. Display adalah
format yang menyajikan informasi secara tematik kepada pembaca. Miles dan
Huberman (1984) memperkenalkan dua macam format, yaitu : diagram konteks
(context chart) dan matriks.
Penelitian kualitatif biasanya difokuskan pada kata-kata, tindakan- tindakan
orang yang terjadi pada konteks tertentu. Konteks tersebut dapat dilihat sebagai
aspek relevan segera dari situasi yang bersangkutan, maupun sebagai aspek relevan
dari sistem sosial dimana seseorang berfungsi (ruang kelas, sekolah, departemen,
keluarga, agen, masyarakat lokal), sebagai ilustrasi dapat dibaca Miles dan
Huberman (1984:133)
Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisirkan, tersusun
dalam pola hubungan, sehingga makin mudah dipahami dan merencanakan kerja
penelitian selanjutnya. Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang yang
relevan sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna
tertentu. Prosesnya dapat dilakukan dengan cara menampilkan data, membuat
hubungan antar fenomena untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi dan apa
yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapi tujuan penelitian. Penyajian data yang baik
merupakan satu langkah penting menuju tercapainya analisis kualitatif yang valid
dan handal.
Miles and Hubermen (1984) menyatakan : the most frequent form of display
data for qualitative research data in the post has been narrative text/yang paling
sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan
teks yang bersifat naratif. Miles dan Huberman membantu para peneliti kualitatif
dengan model-model penyajian data yang analog dengan model-model penyajian
data kuantitatif statis, dengan menggunakan tabel, grafiks, amatriks dan
semacamyan; bukan diisi dengan angka-angka melainkan dengan kata atau phase
verbal.
Dalam bukunya Qualitative Data Analysis disajikan mengenai model-model
penyajian data untuk analisis kualitatif. Miles dan Huberman dengan model-
modelnya itu dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya kreativitas membuat
modelnya sendiri, bukan hanya sekedar konsumen model Miles dan Huberman.
Miles dan Huberman menyajikan 9 model dengan 12 contoh penyajian data kualitatif
bentuk matriks, gambar atau grafik analog dengan model yang biasanya digunakan
dalam metodologi penelitian kuantitatif statistik.
Model 1 adalah model untuk mendeskripsikan model penelitian. Dapat
berupa sosiogram, organigram atau menyajikan peta geografis.
Model 2 adalah model yang dipakai untuk memantau komponen atau
dimensi penelitian, yaitu dengan checklist matrik. Karena matriks itu tabel dua
dimensi, maka pada barisnya dapat disajikan komponen atau dimensinya, pada
kolom disajikan kurun waktunya. Isi checklist hanyalah tanda-tanda singkat.
Model 3 adalah model untuk mendeskripsikan perkembangan antar waktu.
Isinya bukan sekedar tanda cek, melainkan ada diskripsi verbal dengan satu kata atau
phase.
Model 4 adalah matriks tataperan, yang mendeskripsikan pendapat, sikap,
kemampuan atau lainnya dari berbagai pemeranan.
Model 5 adalah matriks konsep terklaster. Digunakan untuk meringkas
berbagai hasil penelitian dari berbagai ahli yang pokok perhatiannya berbeda.
Model 6 adalah matriks tentang efek atau pengaruh. Model ini hanya
mengubah fungsi-fungsi kolom-kolomnya, diganti untuk mendeskripsikan perubahan
sebelum dan sesudah mendapat penyuluhan, sebelum dan sesudah deregulasi dan
yang semacamnya.
Model 7 adalah matriks dinamika lokasi. Melalui model ini diungkap
dinamika lokasi untuk berubah. Model ini berguna bagi peneliti yang memang
hendak melihat dinamika sosial suatu lokasi, tetapi memang tidak banyak peneliti
yang mengungkap hal tersebut cukup sulit.
Model 8 adalah menyusun daftar kejadian. Daftar kejadian dapat disusun
kronologis atau diklasterkan.
Model 9 adalah jaringan klausal dari sejumlah kejadian yang ditelitinya. Dari
deskripsi atau sajian yang diringkaskan dalam berbagai model tersebut dapat
diharapkan agar mempermudah kita untuk merumuskan prediksi kita.
Selanjutnya disarankan dalam melakukan display data, selain dengan teks
yang naratif juga dapat berupa : bagan, hubungan antar kategori, diagram alur (flow
chart), pictogram, dan sejenisnya. Kesimpulan yang dikemukakan ini masih bersifat
sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap
pengumpulan data berikutnya.
3. Tahap Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Langkah selanjutnya adalah tahap penarikan kesimpulan berdasarkan temuan
dan melakukan verifikasi data. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kesimpulan
awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan
bukti-bukti buat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk
mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut sebagai verifikasi data. Apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat
dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali ke
lapangan maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel.
Langkah verifikasi yang dilakukan peneliti sebaiknya masih tetap terbuka
untuk menerima masukan data, walaupun data tersebut adalah data yang tergolong
tidak bermakna. Namun demikian peneliti pada tahap ini sebaiknya telah
memutuskan anara data yang mempunyai makna dengan data yang tidak diperlukan
atau tidak bermakna. Data yang dapat diproses dalam analisis lebih lanjut seperti
absah, berbobot, dan kuat sedang data lain yang tidak menunjang, lemah, dan
menyimpang jauh dari kebiasaan harus dipisahkan.
Kualitas suatu data dapat dinilai melalui beberapa metode, yaitu :
a. mengecek representativeness atau keterwakilan data
b. mengecek data dari pengaruh peneliti
c. mengecek melalui triangulasi
d. melakukan pembobotan bukti dari sumber data-data yang dapat dipercaya
e. membuat perbandingan atau mengkontraskan data
f. menggunakan kasus ekstrim yang direalisasi dengan memaknai data negatif
Dengan mengkonfirmasi makna setiap data yang diperoleh dengan
menggunakan satu cara atau lebih, diharapkan peneliti memperoleh informasi yang
dapat digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. Penarikan
kesimpulan penelitian kualitatif diharapkan merupakan temuan baru yang belum
pernah ada. Temuan tersebut dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang
sebelumnya remang-remang atau gelap menjadi jelas setelah diteliti. Temuan
tersebut berupa hubungan kausal atau interaktif, bisa juga berupa hipotesis atau teori.


BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
1. Analisis data penelitian kualitatif menurut Miles dan Hubermen ada tiga tahap, yaitu
:
a. Tahap reduksi data
b. Tahap penyajian data
c. Tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi data
Langkah-langkah dalam tahap reduksi, yaitu :
1. Meringkaskan data kontak langsung dengan orang, kejadian dan situasi di lokasi
penelitian.
2. Pengkodean.
3. Pembuatan catatan obyektif.
4. Membuat catatan reflektif.
5. Membuat catatan marginal.
6. Penyimpanan data.
7. Pembuatan memo.
8. Analisis antarlokasi.
9. Pembuatan ringkasan sementara antar lokasi.
Tahap penyajian, pada tahapan ini dikembangkan model-model:
1. Mendeskripsikan konteks dalam penelitian.
2. Cheklist matriks
3. Mendeskripsikan perkembangan antar waktu.
4. Matriks tata peran
5. Matriks konsep terklaster.
6. Matriks efek dan pengaruh
7. Matriks dinamika lokasi
8. Daftar Kejadian
Tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Kesimpulan hasil penelitian yang
diambil dari hasil reduksi dan panyajian data adalah merupakan kesimpulan
sementara. Kesimpulan sementara ini masih dapat berubah jika ditemukan bukti-
bukti kuat lain pada saat proses verifikasi data di lapangan. Jadi proses verifikasi
data dilakukan dengan cara peneliti terjun kembali di lapangan untuk mengumpulkan
data kembali yang dimungkinkan akan memperoleh bukti-bukti kuat lain yang dapat
merubah hasil kesimpulan sementara yang diambil. Jika data yang diperoleh
memiliki keajegan (sama dengan data yang telah diperoleh) maka dapat diambil
kesimpulan yang baku dan selanjutnya dimuat dalam laporan hasil penelitian.
2. Analisis penelitian kualitatif menurut Miles dan Hubermen dapat disimpulkan
mampu menjawab permasalahan penelitian kualitatif. Hal ini didasarkan pada
tahapan-tahapan penelitian yang tersusun secara sistematis dan runtut, alamiah
(tanpa memanipulasi data), logis, aktual dan dapat dipertanggungjawabkan. Di
samping itu, kesimpulan yang diambil pada penelitian kualitatif menggunakan
analisis data Miles dan Hubermen dapat dipertanggungjawabkan karena telah
melalui tahapan verifikasi data.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, Pengolahan dan Analisis Data Penelitian; 2008
Milles, M.B. and Huberman, M.A. 1984. Qualitative Data Analysis. London: Sage
Publication
Patilima, Hamid. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Muhadji, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif.Yogyakarta:
Sonhaji, Ahmad.1994.Penelitian Kualitatif dalam Bidang Ilmu-Ilmu Sosial dan
Keagamaan.Malang:Kalimasada Press


TAHAPAN ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF
20 Jan
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang
penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
orang lain. (Bogdan & Biklen, 1982). Analisis adalah penelaahan untuk mencari pola
(paterns). Pola disini lebih mengacu pada pola budaya (cultural patterns) bukan
semata-mata situasi sosial suatu domain cultural (cultural domain) adalah katagori
makna cultural yang menyangkut katagori-katagori yang lebih kecil.
Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan,
mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga
diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Melalui
serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan
bertumpuk-tumpuk bisa disederhanakan untuk akhirnya bisa dipahami dengan
mudah. Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara
sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain
agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan,
pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan
hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif,
analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik
misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis
tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika,
etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh
yang operasional, misalnya matriks dan logika.
Analisis data kualitatif sesungguhnya sudah dimulai saat peneliti mulai
mengumpulkan data, dengan cara memilah mana data yang sesungguhnya penting
atau tidak. Ukuran penting dan tidaknya mengacu pada kontribusi data tersebut pada
upaya menjawab fokus penelitian. Di dalam penelitian lapangan (field research) bisa
saja terjadi karena memperoleh data yang sangat menarik, peneliti mengubah fokus
penelitian. Ini bisa dilakukan karena perjalanan penelitian kualitatif bersifat siklus,
sehingga fokus yang sudah didesain sejak awal bisa berubah di tengah jalan karena
peneliti menemukan data yang sangat penting, yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Lewat data itu akan diperoleh informasi yang lebih bermakna. Untuk bisa
menentukan kebermaknaan data atau informasi ini diperlukan pengertian mendalam,
kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, pengalaman dan expertise peneliti.
Kualitas hasil analisis data kualitatif sangat tergantung pada faktor-faktor tersebut.
Menurut Prof. Dr. Sugiyono, analisis data terdiri dari Analisis Data Sebelum di
lapangan dan Analisis Data Selama di lapangan.
Miles dan Huberman (1984) menyebutkan bahwa analisis data selama pengumpulan
data membawa peneliti mondar-mandir antara berpikir tentang data yang ada dan
mengembangkan strategi untuk mengumpulkan data baru. Melakukan koreksi
terhadap informasi yang kurang jelas dan mengarahkan analisis yang sedang berjalan
berkaitan dengan dampak pembangkitan kerja lapangan. Langkah yang ditempuh
dalam pengumpulan data yaitu penyusunan lembar rangkuman kontak (contact
summary sheet), pembuatan kode-kode, pengkodean pola (pattern codding) dan
pemberian memo.

Lembar rangkuman kontak merupakan lembar yang berisi serangkaian pemfokusan
atau rangkuman pertanyaan tentang kontak lapangan tertentu. Dalam hal ini, peneliti
menelaah catatan-catatan lapangan, dan menjawab setiap pertanyaan secara singkat
untuk mengembangkan rangkuman secara keseluruhan dari hal pokok dalam kontak.
Pertanyaan itu dapat dirumuskan :
1) Orang, peristiwa atau situasi apa yang akan diungkap?
2) Tema dan isu apa dalam kontak?
3) Tempat mana yang paling energi pada kontak berikutnya, dan informasi apa
saja yang akan dilacak?
Lembar rangkuman kontak dapat dibuat secara lebih spesifik dan tidak begitu open-
ended, dengan disertai kode-kode. Persoalan yang dihadapi dalam pengumpulan
data adalah banyaknya catatan-catatan lapangan dan dokumen yang terkumpul,
sehingga dapat menyulitkan peneliti dalam menangkap makna yang esensial dan
menata kembali, serta merampingkan menjadi satuan-satuan yang siap dianalisis.
Pengkodean diawali dengan penyusunan daftar kode. Dalam daftar kode yang dapat
disimak dalam Miles & Huberman, 1984 :58-59; terdapat 3 kolom, yakni kolom
yang memuat label deskriptif untuk kategori umum dan kode-kode yang
bersangkutan dengan kategori, berikutnya kolom yang memuat kode-kode secara
rinci, sedangkan terakhir adalah kolom yang memuat kunci-kunci yang mengacu
pada pertanyaan atau sub pertanyaan penelitian, dari mana kode diderivasi.
Pemberian kode biasanya dilakukan pada tepi kiri dan tepi kanan pada catatan
lapangan. Kode pola adalah kode eksplanatori atau inferensial yaitu kode yang
mengidentifikasi suatu tema, pola atau eksplanasi yang muncul untuk kepentingan
analisis selanjutnya. Pengkodean pada dasarnya menarik sejumlah besar bahan
bersama menjadi lebih bermakna dan dapat teridentifikasi. Proses ini dapat dikatakan
merupakan pengkodean-meta. Pengkodean dimaksudkan sebagai alat untuk
merangkum segmen-segmen data, selain itu pengkodean pola merupakan cara untuk
mengelompokkan rangkuman-rangkuman data tersebut menjadi sejumlah kecil tema
atau konstruk. Pengumpulan data merupakan pekerjaan yang sangat menarik dan
pengkodean biasanya memakan energi yang besar sekali, dimana peneliti dibanjiri
dengan berbagai informasi. Hal ini memungkinkan peneliti untuk lupa menangkap
makna atau gejala umum dari apa yang sedang terjadi. Pembuatan memo adalah
salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut.
Analisa data setelah pengumpulan data, pada tahap ini peneliti banyak terlibat dalam
kegiatan penyajian atau penampilan (display) dari data yang dikumpulkan dan
dianalisis sebelumnya Peneliti kualitatif banyak menyususn teks naratif. Display
adalah format yang menyajikan informasi secara sistimatik kepada pembaca.
Penelitian kualitatif memfokuskan pada kata-kata, tindakan-tindakan orang yang
terjadi pada konteks tertentu, konteks mana dapat dilihat sebagai aspek relevan
segera dari situasi yang bersangkutan, maupun sebagai aspek relevan dari sistem
sosial di mana seseorang berfungsi seperti contohnya : ruang kelas, sekolah,
departemen, perusahaan, keluarga, agen, masyarakat lokal dan sebagainya.
Dari pengalaman melakukan penelitian kualitatif beberapa kali, model analisis data
yang dikenalkan oleh Spradley (1980), dan Glaser dan Strauss (1967) bisa dipakai
sebagai pedoman. Kendati tidak baku, artinya setiap peneliti kualitatif bisa
mengembangkannya sendiri, secara garis besar model analisis itu diuraikan sebagai
berikut:
1. Analisis Domain (Domain analysis).
Analisis domain pada hakikatnya adalah upaya peneliti untuk memperoleh gambaran
umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya ialah dengan
membaca naskah data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh domain atau
ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti belum perlu
membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya hanya untuk
memperolehdomain atau ranah. Hasil analisis ini masih berupa pengetahuan tingkat
permukaan tentang berbagai ranah konseptual. Dari hasil pembacaan itu diperoleh
hal-hal penting dari kata, frase atau bahkan kalimat untuk dibuat catatan pinggir.
Terdapat 3 elemen dasar domain yaitu Cover term, Included term dan Semantic
relationship. Ada enam tahap yang dilakukan dalam analisis domain yaitu:
(a) Memilih salah satu hubungan semantik untuk memulai dari sembilan hubungan
semantik yang tersedia; (b) Menyiapkan lembar analisis domain; (c) Memilih salah
satu sampel catatan lapangan yang dibuat terakhir, untuk memulainya; (d) Mencari
istilah acuan dan istilah bagian yang cocok dengan hubungan semantik dari catatan
lapangan; (e) Mengulangi usaha pencarian domain sampai semua hubungan
semantik habis; (f) Membuat daftar domain yang ditemukan (teridentifikasikan).
1. Analisis Taksonomi (Taxonomy Analysis).
Taksonomi adalah himpunan kategori-katagori yang di organisasi berdasarkan suatu
semantic relationship. Jadi taksonomi merupakan rincian dari domain cultural. Pada
tahap analisis taksonomi, peneliti berupaya memahami domain-domain tertentu
sesuai fokus masalah atau sasaran penelitian. Masing-masing domain mulai
dipahami secara mendalam, dan membaginya lagi menjadi sub-domain, dan dari sub-
domain itu dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus lagi hingga tidak
ada lagi yang tersisa, alias habis (exhausted). Pada tahap analisis ini peneliti bisa
mendalami domain dan sub-domain yang penting lewat konsultasi dengan bahan-
bahan pustaka untuk memperoleh pemahaman lebih dalam. Tujuh langkah yang
dilakukan dalam analisis taksonomi yaitu: (a) Memilih salah satu domain untuk
dianalisis;
(b) Mencari kesamaan atas dasar hubungan semantik yang sama yang digunakan
untuk domain itu; (c) Mencari tambahan istilah bagian; (d) Mencari domain yang
lebih besar dan lebih inklusif yang dapat dimasukkan sebagai sub bagian dari domain
yang sedang dianalisis; (e) Membentuk taksonomi sementara; (f) Mengadakan
wawancara terfokus untuk mencek analisis yang telah dilakukan; (g) Membangun
taksonomi secara lengkap.
3. Analisis Komponensial (Componential Analysis).
Pada tahap ini peneliti mencoba mengkontraskan antar unsur dalam ranah yang
diperoleh. Unsur-unsur yang kontras dipilah-pilah dan selanjutnya dibuat
kategorisasi yang relevan. Kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan
untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami
karakteristik tertentu yang berasosiasi. Dengan mengetahui warga suatu ranah,
memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu
ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai
pokok permasalahan. Ada delapan langkah dalam analisi komponen ini yaitu: (a)
Memilih domain yang akan dianalisis; (b) Mengidentifikasi seluruh kontral yang
telah ditemukan; (c) Menyiapkan lembar paradigm; (d) Mengidentifikasi demensi
kontras yang memiliki dua nilai; (e) Menggabungkan demensi kontras yang
berkaitan erat menjadi satu; (f) Menyiapkan pertanyaan kontras untuk ciri yang tidak
ada; (g) Mengadakan pengamatan terpilih untuk melengkapi data; (h) Menyiapkan
paradigma lengkap.
4. Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes).
Analisis Tema Kultural adalah analisis dengan memahami gejala-gejala yang khas
dari analisis sebelumnya. Analisis ini mencoba mengumpulkan sekian banyak tema,
fokus budaya, nilai, dan simbol-simbol budaya yang ada dalam setiap domain. Selain
itu, analisis ini berusaha menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada
domain yang dianalisis, sehingga akan membentuk satu kesatuan yang holistik, yang
akhirnya menampakkan tema yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada
tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah: (1) membaca secara cermat
keseluruhan catatan penting, (2) memberikan kode pada topik-topik penting, (3)
menyusun tipologi, (4) membaca pustaka yang terkait dengan masalah dan konteks
penelitian. Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam
bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Sekali lagi di sini diperlukan kepekaan,
kecerdasan, kejelian, dan kepakaran peneliti untuk bisa menarik kesimpulan secara
umum sesuai sasaran penelitian. Tujuh cara untuk menemukan tema yaitu: (a)
Melebur diri; (b) Melakukan analisis komponen terhadap istilah acuan; (c)
Menemukan perspektif yang lebih luas melelui pencarian domain dalam
pemandangan budaya; (d) Menguji demensi kontras seluruh domain yang telah
dianalisis; (e) Mengidentifikasi domain terorganisir; (f) Membuat gambar untuk
memvisualisasi hubungan antar domain; (g) Mencari tema universal, dipilih satu dari
enam topik: konflik sosial, kontradiksi budaya, teknik kontrol sosial, hubungan
sosial pribadi, memperoleh dan menjaga status dan memecahkan masalah. Sesuai
dengan topik penelitian maka yang dipilih adalah memecahkan masalah.
5. Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research)
Dalam pendekatan teori grounded ini, peneliti mengkosentrasikan dirinya pada
deskripsi yang rinci tentang sifat/ ciri dari data yang dikumpulkan, sebelum berusaha
menghasilkan pernyataan-pernyataan teoritis yang lebih umum. Di saat telah
memadainya rekaman cadangan deskripsi yang akurat tentang fenomena sosial yang
relevan, barulah peneliti dapat mulai menghipotesiskan jalinan hubungan di antara
fenomena-fenomena yang ada, dan kemudian mengujinya dengan menggunakan
porsi data yang lain. Tiga aspek kegiatan yang penting untuk dilakukan, yaitu:
- Menulis catatan atau note writing.
- Mengidentifikasi konsep-konsep atau discovery or identification of concepts.
- Mengembangkan batasan konsep dan teori atau development of concept
definition and the elaboration of theory.
Analisis Data Kualitatif adalah suatu proses yang meliputi:
Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar
sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat
ikhtisar dan membuat indeksnya,
Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari
dan menemukan pola,hubungan-hubungan dan temuan-temuan umum. (Seiddel,
1998).
Pada analisis data kualitatif, kata-kata dibangun dari hasil wawancara dan diskusi
kelompok terfokus terhadap data yang dibutuhkan untuk dideskripsikan dan
dirangkum. Tahapan-tahapan analisis data kualitatif sebagai berikut:
1. Membiasakan diri dengan data melalui tinjauan pustaka;
2. Membaca, mendengar, dan melihat;
3. Transkrip wawancara dari perekam;
4. Pengaturan dan indeks data yang telah diidentifikasi;
5. Anonim dari data yang sensitif;
6. Koding;
7. Identifikasi tema;
8. Pengkodingan ulang;
9. Pengembangan kategori;
10. Eksplorasi hubungan antara kategori;
11. Pengulangan tema dan kategori;
12. Membangun teori dan menggabungkan pengetahuan yang sebelumnya;
13. Pengujian data dengan teori lain; dan
14. Penulisan laporan, termasuk dari data asli jika tepat (seperti kutipan dari
wawancara).
Pelaksanaan analisis memiliki empat sifat dasar, yaitu: (1) analisis induktif, (2)
dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, (3) interaktif, (4) proses
siklus. Analisis dalam penelitian kualitatif bersifat induktif. Informasi yang
dikumpulkan di lapangan digunakan untuk membuat simpulan akhir, bukan untuk
membuktikan hipotesis. Oleh karenanya peneliti harus menggali informasi selengkap
mungkin. Proses analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.
Artinya, analisis harus sudah dilakukan sejak awal, tidak sama dengan dengan
analisis data dalam penelitian kuantititatif yang dilakukan setelah semua data
terkumpul. Proses interaktif juga dilakukan baik pada waktu pengumpulan data
masih berlangsung, misalnya dalam bentuk perbandingan antar unit data,
pengelompokan data, maupun pengumpulan data sudah berakhir, dalam penyusunan
laporan yang melibatkan analisis tahap akhir. Proses siklus dilakukan sejak awal
pengumpulan data sampai akhir sebagai kelanjutan proses refleksi (Sutopo, 2005).
Menurut Lexy J. Moleong, dalam penelitian kualitatif ada tiga model analisis data,
yakni (1) metode perbandingan tetap (constant comparative method) seperti yang
dikemukakan oleh Glaser & Strauss dalam buku mereka the Discovery of Grounded
Research. (2) Metode analisis data menurut Miles & Huberman seperti yang mereka
kemukakan dalam buku Qualitative Data Analysis). (3) metode analisis data menurut
Spradley sebagai yang ditemukan dalam bukunya Participant Observation.
Dinamakan metode perbandingan tetap atau constant comparative method karena
dalam analisa data, secara tetap membandingkan satu datum dengan datum yang
lainnya, dan kemudian secara tetap membandingkan katagori dengan katagori
lainnya. Secara umum proses analisis datanya mencakup: reduksi data, katagorisasi
data, sintesisasi, dan diakhiri dengan penyusunan hipotesis kerja.
Miles and Huberman, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas,
sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya
lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data (data
reduction), penyajian data (data display), serta penarikan kesimpulan dan verifikasi
(conclusion drawing/ verification).
Pada analisa data, peneliti harus mengerti terlebih dahulu tentang konsep dasar
analisa data. Analisa data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.
Analisa data dalam penelitian kualitatif sudah dapat dilakukan semenjak data
diperoleh di lapangan. Usahakan jangan sampai data tersebut sudah terkena
bermacam-macam pengaruh, antara lain pikiran peneliti sehingga menjadi terpolusi.
Apabila terlalu lama baru dianalisa maka data menjadi kadaluwarsa.
Dari analisa data dapat diperoleh tema dan rumusan hipotesa. Untuk menuju pada
tema dan mendapatkan rumusan hipotesa, tentu saja harus berpatokan pada tujuan
penelitian dan rumusan masalahnya.
Analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang harus dilewati oleh seorang
penelitian. Adapun urutannya terletak pada tahap setelah tahap pengumpulan data.
Dalam arti sempit, analisis data di artikan sebagai kegiatan pengolahan data, yang
terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data.
Tabulasi data dinyatakan sebagai proses pemaduan atau penyatupaduan sejumlah
data dan informasi yang diperoleh peneliti dari setiap sasaran penelitian, menjadi
satu kesatuan daftar, sehingga data yang diperoleh menjadi mudah dibaca atau
dianalisis. Rekapitulasi merupakan langkah penjumlahan dari setiap kelompok
sasaran penelitian yang memiliki karakter yang sama, berdasar kriteria yang telah
dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti.
Dalam proses pelaksanaannya, tahap pengolahan data tidak cukup hanya terdiri atas
tabulasi dan rekapitulasi saja, akan tetapi mencakup banyak tahap. Di antaranya
adalah tahap reduksi data, penyajian data, interpretasi data dan penarikan
kesimpulan/verifikasi. Lebih dari sekedar itu, pengolahan data, yang tidak lain
merupakan tahap analisis dan interpretasi data mencakup langkah-langkah reduksi
data, penyajian data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan /verifikasi.
Reduksi data diartikan secara sempit sebagai proses pengurangan data, namun dalam
arti yang lebih luas adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan terhadap
data yang kurang perlu dan tidak relevan, maupun penambahan terhadap data yang
dirasa masih kurang.
Penyajian data merupakan proses pengumpulan informasi yang disusun berdasar
kategori atau pengelompokan-pengelompokan yang diperlukan.
Interpretasi data merupakan proses pemahaman makna dari serangkaian data yang
telah tersaji, dalam wujud yang tidak sekedar melihat apa yang tersurat, namun lebih
pada memahami atau menafsirkan mengenai apa yang tersirat di dalam data yang
telah disajikan..
Penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan proses perumusan makna dari hasil
penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang singkat-padat dan mudah
difahami, serta dilakukan dengan cara berulangkali melakukan peninjauan mengenai
kebenaran dari penyimpulan itu, khususnya berkaitan dengan relevansi dan
konsistensinya terhadap judul, tujuan dan perumusan masalah yang ada.
Tahap analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang pasti akan dilalui oleh
para peneliti termasuk peneliti kualitatif. Dalam uraian pokok di atas telah
dikemukakan bahwa tahap dan proses analisis dan interpretasi data, setidak-tidaknya
terdiri atas tiga komponen penting yang meliputi (1) reduksi, (2) penyajian, dan (3)
kesimpulan/ verifikasi.
Sedangkan tahap dan proses selengkapnya meliputi (1) Pengolahan data, yang terdiri
dari kategorisasi dan reduksi data, (2) penyajian data, (3) interpretasi data dan (4)
penarikan kesimpulan-kesimpulan/verifikasi. Tahap tahap di atas hendaknya
dilakukan sedemikian rupa sehingga proses analisis dan Intepretastasi tersebut dapat
menghasilkan suatu kesimpulan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Reduksi data diartikan sebagi proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan,
pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan
tertulis di lapangan. Tahapan-tahapan meliputi:
Membuat ringkasan
Mengkode
Menelusur tema
Membuat gugus-gugus
Membuat partisi
Menulis Memo

DAFTAR PUSTAKA
http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/221-analisis-data-penelitian-kualitatif-
sebuah-pengalaman-empirik.html
http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kupas-tuntas-metode-penelitian-kualitatif-
bag-2/
http://www.infoskripsi.com/Proposal/Proposal-Penelitian-Kualitatif-Skripsi.html
http://anannur.wordpress.com/2010/07/08/analisis-data-dalam-penelitian-kualitatif-
model-spradley-studi-etnografi/
http://mudjiarahardjo.com/curriculum-vitae/221.html?task=view
http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/221-analisis-data-penelitian-kualitatif-
sebuah-pengalaman-empirik.html diakses pada 13 Desember 2010 pukul 13.40
Penelitian Kualitatif
OPINI | 11 February 2011 | 07:53 Dibaca: 17315 Komentar: 10 3 dari 3
Kompasianer menilai bermanfaat
(Pengertian Data, Analisis Data dan Cara Menganalisis Data Kualitatif)
Oleh: HALIM MALIK
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung
menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih
ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai
pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan
teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian
dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara
peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam
penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada
penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam
penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai
bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.
Penelitian kualitatif lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan
menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama
individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat
dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir
dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara
mendalam(Wikipedia: 2009)
Menurut Brannen (1997: 9-12), secara epistemologis memang ada sedikit perbedaan
antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian kuantitatif selalu
menentukan data dengan variabel-veriabel dan kategori ubahan, penelitian kualitatif
justru sebaliknya. Perbedaan penting keduanya, terletak pada pengumpulan data.
Tradisi kualitatif, peneliti sebagai instrument pengumpul data, mengikuti asumsi
cultural, dan mengikuti data.
Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif) adalah penelitian
yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses
penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan
digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya
diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk
memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang
dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat
peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau
deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu
sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan
tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian
lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik,
penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan
studi kasus.
Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip
wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya.
Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang
memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk
memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional.
Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif.
1. Pengertian Data Kualitatif
Data kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristk
berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata. Data ini biasanya didapat dari
wawancara dan bersifat subjektif sebab data tersebut ditafsirkan lain oleh orang yang
berbeda (Riduan, 2003: 5-7). Data kualitatif dapat diberi dalam bentuk ordinal atau
rangking (skala yang diurutkan dari jenjang terendah atau sebaliknya).
Setiap peneliti selalu melakukan kegiatan pengumpulan data atau informasi dari
lapangan dan kemudian mereka akan memperoleh data kualitatif yang banyak. Yang
dimaksud data kualitatif menurut Ryan dan Bernard (2002), adalah semua informasi
yang berupa test, sit com, email, cerita rakyat, sejarah kehidupan, yang berguna
untuk membangun dan mengarahkan pada pengembangan pengertian yang
mendalam atas dasar setting orang-orang yang diteliti.
Data tersebut biasanya masih berupa data kasar di antaranya seperti: catatan kancah
yang sumbernya bermacam-macam, termasuk sebagai tulisan tangan, tape recorder,
ringkasan dokumen dan sebagainya. Data yang ada tanpa melalui angka administrasi
secara sistematis dan selanjutnya dianalisis. Analisis data dalam penelitian kualitatif,
pada prinsipnya berbeda dengan analisis pada data kuantitatif. Jika pada penelitian
kuantitatif, analisis data dilakukan setelah proses pengumpulan data dari lapangan,
maka pada penelitian kualitatif, langkah analisis telah dimulai sejak peneliti terjun ke
kancah untuk mengambil data yang pertama kali melalui kegiatan refleksi. Pada saat
itu secara kontinyu atau on going peneliti mulai menggunakan data yang ada untuk
mencapai tujuan penelitian yaitu memecahkan fokus penelitian.
Menurut Lofland & Lofland (1984: 47) sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lain-lain.
Sementara Barney G. Glasser dan Anselm L. Strauss mengatakan bahwa sumber-
sumber data kualitatif baru, oleh para ilmuwan sosial untuk tujuan tertentu mereka
kebanyakan menggunakan dokumen yang dihasilkan oleh orang lain seperti: surat-
surat, biografi, otobiografi, catatan memori bahan pidato, novel serta berbagai bentuk
non fiksi cenderung dipakai untuk penggunaan tujuan-tujuan tertentu.
Penggunaannya bermacam-macam seperti: (1) materi itu bisa dipakai terutama pada
hari-hari permulaan penelitian, untuk membantu peneliti memahami bidang
substantive yang telah ditentukan untuk dikaji, (2) sumber-sumber kualitatif ini
dipakai untuk analisis deskriptif, seperti dalam penelitian tentang kewiraswastaan
atau partai politik, misalnya menganalisis tradisi ilmu pengetahuan politik dan
sejarah, tapi sudah diarahkan pada sosiologi. Penggunaan data kualitatif ini sudah
meluas dan sangat bermanfaat, (3) dibentuklah kajian-kajian khusus yang sangat
empiris, seperti bila isi novel atau surat kabar dikaji tentang apa yang ditampilkan
dari satu zaman, satu kelompok, atau cita rasa yang sedang berubah di satu negara.
Rangkaian terbatas dari materi kualitatif yang digunakan oleh para sosiolog ini
sebagian besar karena mereka kebetulan memfokuskan diri pada verifikasi. Untuk
sebagian besar peneliti, data kualitatif ini sebenarnya mirip dengan hasil kerja
lapangan dan interview, yang dikombinasikan dengan dokumen latar belakang apa
saja yang mungkin diperlukan untuk membuat penelitian itu sejajar dengan konteks.
Sebagian sosiolog tidak pernah memikirkan perpustakaan sebagai satu sumber data
riil untuk penelitian mereka.
Data kualitatif merupakan sumber-sumber dari deksripsi yang sangat luas dan
berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi
dalam lingkup setempat. Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami
alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran orang-
orang setempat, dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat. Data
kualitatif lebih condong dapat membimbing kita untuk memperoleh penemuan-
penemuan yang tak diduga sebelumnya dan untuk membentuk kerangka teoritis
baru, data tersebut membantu para peneliti untuk melangkah lebih jauh dari praduga
dan kerangka kerja awal. Seperti yang dikemukakan oleh Smith 1978 (Miles &
Huberman, 1992: 1), penemuan-penemuan dari penelitian kualitatif mempunyai
mutu yang tak dapat disangkal. Kata-kata, khususnya bilamana disusun ke dalam
bentuk cerita atau peristiwa, mempunyai kesan yang lebih nyata, hidup, dan penuh
makna, seringkali jauh lebih meyakinkan pembacanya, peneliti lainnya, pembuat
kebijakan, praktisi daripada halaman-halaman yang penuh dengan angka-angka.
2. Yang terpenting dalam analisis data kualitatif
Menurut Miles & Huberman (1992: 16) Bahwa analisis terdiri dari tiga alur
kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan
kesimpulan/verifikasi.
- Reduksi Data; reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstakan, dan transformasi data kasar yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung terus-
menerus selama proyek yang berorientasi penelitian kualitatif berlangsung.
Antisipasi akan adanya reduksi data sudah tampak waktu penelitiannya memutuskan
(acapkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual wilayah penelitian,
permasalahan penelitian, dan pendekatan pengumpulan data mana yang dipilihnya.
Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilan tahapan reduksi selanjutnya
(membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat
partisi, membuat memo). Reduksi data/transfoemasi ini berlanjut terus sesudah
penelian lapangan, sampai laporan akhr lengkap tersusun.
Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk
analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak
perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-
kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
Dengan reduksi data peneliti tidak perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi.
Data kualitatif dapat disederhanakan dan transformasikan dalam aneka macam cara,
yakni: melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat,
menggolongkan-nya dalam satu pola yang lebih luas, dsb. Kadangkala dapat juga
mengubah data ke dalam angka-angka atau peringkat-peringkat, tetapi tindakan ini
tidak selalu bijaksana.
- Penyajian Data; Miles & Huberman membatasi suatu penyajian sebagai
sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan
kesimpulan dan pengambilan tindakan. Mereka meyakini bahwa penyajian-penyajian
yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid,
yang meliputi: berbagai jenis matrik, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya
dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang
padu dan mudah diraih. Dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa
yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik kesimpulan yang benar
ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikisahkan
oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna.
- Menarik Kesimpulan; Penarikan kesimpulan menurut Miles & Huberman hanyalah
sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga
diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat
pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis (peneliti) selama ia
menulis, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, atau mungkin menjadi
begitu seksama dan makan tenaga dengan peninjauan kembali serta tukar pikiran di
antara teman sejawat untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif atau juga
upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat
data yang lain. Singkatnya, makna-makna yang muncul dari data yang lain harus
diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakan
validitasnya.
Pendapat di atas sejalan dengan pendapat Moleong (1989: 190), bahwa analisis data
pada umumnya mengandung tiga kegiatan yang saling terkait yaitu (a) kegiatan
mereduksi data, (b) menampilkan data, dan (c) melakukan verifikasi untuk membuat
kesimpulan.
Sementara Sukardi (2006: 72), mengatakan Bahwa Ada beberapa elemen penting
dalam analisis data yang penting dalam analisis data kualitatif yang perlu terus
diingat oleh setiap peneliti dalam melakukan kegiatan analisis data adalah sebagai
berikut:
a. Reduksi Data
Proses analisis data mestinya dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia
dari berbagai sumber. Setelah dikaji, langkah berikutnya adalah membuat
rangkuman untuk setap kontak atau pertemuan dengan responden. Dalam
merangkum data biasanya ada satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dengan
kegiatan tersebut. Kegiatan yang tidak dapat dipisahkan ini disebut membuat
abstraksi, yaitu membuat ringkasan yang inti, proses, dan persyaratan yang berasal
dari responden tetap dijaga. Dari rangkuman yang dibuat ini kemudian peneliti
melakukan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur spesifik termasuk
(1) proses pemilihan data atas dasar tingkat relevansi dan kaitannya dengan setiap
kelompok data, (2) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis. Pengelompokkan
data dalam satuan yang sejenis ini juga dapat diekuivalenkan sebagai kegiatan
kategorisasi/variable, (3) membuat koding data sesuai dengan kisi-kisi kerja
penelitian. Kegiatan lain yang masih termasuk dalam mereduksi data yaitu kegiatan
memfokuskan, menyederhanakan dan mentransfer dari data kasar ke catatan
lapangan. Dalam penelitian kualitatif-naturalistik, ini merupakan kegiatan kontinyu
dan oleh karena itu peneliti perlu sering memeriksa dengan cermat hasil catatan yang
diperoleh dari setiap terjadi kontak antara peneliti dengan responden.
b. Menampilkan Data
Pada proses ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan, sehingga menjadi
informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan cara
menampilkan dan membuat hubungan antar variabel agar peneliti lain atau pembaca
laporan penelitian mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti
untuk mencapai tujuan penelitian. Penampilan atau display data yang baik dan
tampak jelas alur pikirnya, adalah merupakan hal yang sangat didambakan oleh
setiap peneliti karena dengan display yang baik merupakan satu langkah penting
untuk menuju kea rah jalan lancer untuk mencapai analisis kualitatif yang valid dan
handal.
c. Verifikasi Data
Pada langkah verifikasi peneliti sebaiknya masih tetap mampu, di samping tetap
menuju ke arah kesimpulan yang sifatnya terbuka, juga peneliti masih dapat
menerima masukan data dari peneliti lain. Bahkan pada langkah verifikasi ini
sebagian peneliti juga masih kadang ragu-ragu untuk meyakinkan dirinya apakah
mereka dapat mencapai pada tingkat final, di mana langkah pengumpulan data
dinyatakan berakhir. Untuk dapat menggambarkan dan menjelaskan kesimpulan
yang memiliki makna, seorang peneliti pada umumnya dihadapkan pada dua
kemungkinan strategi atau taktik penting, yaitu: (1) memaknai analisis spesifik, (2)
menarik serta menjelaskan kesimpulan.
1. Taktik untuk Memaknai
Menurut Huberman bahwa manusia merupakan penemu makna, yaitu mereka bisa
mendapatkan arti suatu gejala yang semula berserakan menjadi memiliki makna arti
mendalam tertentu dalam waktu relative cepat. Dan bila dicermati lebih jah Dia
mengatakan bahwa ada beberapa cara cepat untuk menggerakkan dari semula gejala
yang ada dan bergerak sehingga memiliki makna. Beberapa cara tersebut di
antaranya yaitu (1) counting atau menghitung untuk menjelaskan apa yang ada di
sama, (2) melihat kemungkinannya, (3) mengelompokkan atau clustering, (4)
membantu para peneliti melihat what goes with what (apa yang terjadi dengan
apa), dan kemudian dikaitkan dengan methapore gejala yang ada, (5) mencapai
integrasi antara di antara data-data yang berbeda, (6) melihat keterkaitan mereka
secara abstrak, termasuk dalam hal ini menjumlahkan dari particular kea rah general,
(7) factoring, (8) analisis analogi seperti yang dilakukan dalam teknik kuantitatif, (9)
menentukan variebel perantara atau intervening variable, (10) membangun rantai
logika dari data yang ada, (11) akhirnya membangun konsep-konsep dari teori yang
bervariasi.
2. Mengkonfirmasi Makna
Untuk mengetahui kualitas data, seorang peneliti dapat menilai melalui beberapa
metode seperti: mengecek representativenes atau keterwakilan data, mengecek dari
pengaruh peneliti, mengecek melalui triangulasi, melakukan pembobotan bukti dari
sumber data-data yang dapat dipercaya, membuat perbandingan atau
mengkontraskan antara variabel, dan penggunaan kasus ekstrim yang direalisasi
dengan memaknai data out liers. Dengan mengkonfirmasi makna dari data-data yang
diperoleh dengan menggunakan satu cara atau lebih, diharapkan peneliti akan
memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan
penelitian.

KUALITATIF
March 6th, 2012 | Author: rizkyriris
Jenis dan strategi penelitian
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Metode Penelitian Kualitatif
Kelas B
Disusun oleh:
RIZKY RACHMAWATI
D.0310058
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
PENELITIAN KUANTITATIF
Proses Penelitian Kuantitatif
1. Memilih problem dan merumuskan hipotesa
2. Merumuskan rancangan penelitian
3. Mengumpulkan data
4. Mengolah dan menganalisis data
5. Menulia laporan dan menarik kesimpulan
Analisis Data Penelitian Kuantitatif
Untuk penelitian kuantitatif, pengumpulan data umumnya menggunakan angket.
Angget ini bisa langsung ditanyakan pada pengumpul data atau melalui pos dan
terakhir ada yang menggunakan email. Untuk penyusunan angket ini, sangat erat
kaitannya dengan bentuk permasalahan penelitian, tujuan penelitian, variabel
penelitian, definisi operasional variabel, indikator variabel dan model pertanyaan
penelitian.
Penyusunan pertanyaan angket perlu diperhatikan pilihan jawaban yang terukur.
Sebagai contoh dalam suatu penelitian, peneliti memberikan pertanyaan sebagai
berikut :
Anda mengikuti kuliah untuk mata kuliah X dalam satu bulan lalu :
1. Kadang-kadang
2. Sering
3. Sering kali
Akan lebih terukur jika alternatif jawabannya dirubah menjadi :
1. Satu kali
2. Dua kali
3. Tiga kali
4. Empat kali
Berdasarkan pertanyaan tersebut, maka pengolahan data dapat menggunakan koding
yaitu pembobotan terhadap data dengan pola ukur tertentu. Misalnya bila menjawab
(a. Satu kali) maka skor yang diberikan 1. Bila menjawab (b. dua kali) maka skor
yang diberikan 2 dan seterusnya.
Jika jumlah seluruh pertanyaan ada 50 pertanyaan, maka skor terendah adalah 50
(501 skor) dan skor tertinggi 200 (50x4skor). Sementara kategori aktif dalam teori
ditemukan aktif sekali, aktif dan tidak aktif. Maka interpolasi baru dengan
menetapkan interpolasi sebagai berikut :
(skor tertinggi skor terendah) : Kategori
Pada contoh diatas menjadi: (200 50) : 3 = 50 (interval/ rentang kelas)
Dengan demikian : 151 > =untuk kategori aktif sekali
101 50 = untuk aktif, dan
50-100 = untuk tidak aktif
Pengkodean data atau yang lebih dikenal dengan koding merupakan langkah awal
yang harus dilakukan pada saat data telah terkumpul. Selanjutnya data hasil koding
dimasukkan ke dalam tabel sesuai dengan nomor itemnya. Cara ini dikenal dengan
istilah tabulasi. Banyak peneliti memasukkan data yang masih mentah ke dalam
tabel, maka tabulasi ini dikenal dengan data mentah. Data tersebut kemudian diolah
menggunakan interpolasi statistik yang dapat dibantu komputer atau manual saja.
Langkah berikutnya adalah analisis data. Yang menjadi patokan disini adalah tujuan
penelitian. Jika analisis ingin mengetahui pengaruh, maka analisis data
menggunakan pola pengaruh. Jika tujuan ingin melihat hubungan, maka
menggunakan pola hubungan (Sudjarwo, 2001 : 69-72).
PENELITIAN KUALITATIF
Proses Penelitian Kualitatif
1. Pemilihan proyek suatu masalah
2. Merumuskan pertanyaan
3. Mengumpulkan data
4. Mentabulasi data
5. Menganalisis data
Analisis Data Penelitian Kualitatif
Pengumpulan data untuk model kualitatif pada umumnya langsung mengadakan
analisis saat begitu mendapatkan data. Oleh sebab itu, dalam laporan penelitian
kualitatif laporan dan pembahasan menjadi satu. Perlu diingat, saat ini banyak
peneliti yang menggunakan model penelitian kualitatif dan kuantitatif sekaligus.
Yaitu pada saat melihat hubungan antar variabel menggunakan model kuantitatif dan
pada tahap analisis data menggunakan model kualitatif.
Akhir-akhir ini, teknik pengumpulan data dengan observasi menjadi sangat menarik.
Teknik ini dikenal dengan teknik pengamatan langsung berstruktur. Caranya ialah
mengalihkan indikator variabel ke dalam suatu lembar observasi. Fenomena yang
diamati ditulis dengan ketat dengan bahasa yang ringkas dan padat. Kemudian
alternatif pemberian jawaban penelitian hanya memberi kode tertentu, jika peristiwa
itu terjadi. Jika tidak terjadi, diberikan kode yang berbeda. Analisis data hendaknya
dilakukan secara bersama begitu selesai wawancara (Sudjarwo, 2001 :73-75).
Analisis data penelitian kuantitatif dilakukan diakhir pengumpulan data dengan
menggunakan perhitungan statistik, sedangkan penelitian kualitatif, analisis datanya
dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara
mengangsur atau menabung informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya
sampai memberikan interpretasi (Hamidi, 2004 : 16).
Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif
ASUMSI PERTANYAAN KUANTITATIF KUALITATIF
Asumsi
ontologis
Apakal realitas itu? Realitas itu objektif,
tunggal, dan terpisah dari
penelitinya.
Realitas itu subyektif,
ganda dan sebagai dilihat
oleh penelitinya.
Asumsi
epistemologis
Bagaimanakah
hubungan antara
Peneliti itu independent
terhadap yang diteliti.
Peneliti berinteraksi
dengan yang diteliti.
peneliti dengan yang
diteliti?
Asumsi
aksiologis
Bagaimanakah
peranan nilai?
Bebas nilai dan tidak bias. Terikat nilai dan bias.
Asumsi
retorik
Bagaimanakah bahasa
penelitian itu?
- Formal-
Berdasarkan seperangkat
definisi
- Suaranya
impersonal
- Menggunakan
kata-kata kuantitatif
yang telah diterima.
- Informal-
Melibatkan keputusan-
keputusan
- Suaranya
personal
- Menggunakan
kata-kata kualitatif yang
telah diterima.
Asumsi
metodologis
Bagaimanakah proses
penelitiannya?
- Proses deduktif-
Hubungan sebab-
akibat
- Rancangan statis
: kategori- kategorinya
terpisah sebelum
penelitian
- Bebas konteks
- Generalisasi
yang mengarah pada
prediksi, eksplorasi dan
pemahaman
- Akurat dan
reliabel melalui uji
reliabilitas dan validitas.
- Proses induktif-
Faktor-faktor yang
terbentuk secara stimulan
dan timbal balik
- Rancangan
berkembang; kategori-
kategorinya
diidentifikasi selama
proses penelitian
- Terikat konteks
- Pola=pola dan
teori dikembangkan
untuk pemahaman
- Akurat dan
reliabel melalui
pembuktian.
Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif
Perbedaan Paradigma Ilmiah dan Alamiah
Poster tentang PARADIGMA
Ilmiah Alamiah
Teknik yang
digunakanKriteria kualitas
Sumber teori
Persoalan kausalitas
Tipe pengetahuan yang
digunakan
Pendirian
Maksud
KuantitatifRigor
A priori
Dapatkah X menyebabkan
Y?
Proposisional
Reduksionis
Verifikasi
KualitatifRelevansi
Dari-dasar (grounded)
Apakah X menyebabkan Y
dalam latar alamiah?
Proporsional yang
diketahui bersama
Ekspansionis
Ekspaksionis
KARAKTERISTIK METODOLOGIS
InstrumenWaktu penetapan
pengumpulan data dan
analisis
Desain
Gaya
Latar
Perlakuan
Satuan kajian
Unsur kontekstual
Kertas-pensil atau alat fisik
lainnyaSebelum penelitian
Pasti (preordinate)
Intervensi
Laboratorium
Stabil
Variabel
Kontrol
Orang sebagai penelitiSelama
dan sesudah pengumpulan
data
Muncul-berubah
Seleksi
Alam
Bervariasi
Pola-pola
Turut campur atas
undangan
JENIS PENELITIAN
1. Penelitian Eksploratoris
Penelitian ini dilakukan bilamana peneliti tidak familiar dengan masalah yang dia
teliti. Topik yang dia teliti masih relatif baru. Literatur atau hasil penelitian yang
membahas masalah tersebut masih langka. Peneliti ibaratnya masuk ke hutan yang
belum pernah ia masuki. Peneliti mengidentifikasi orang-orang yang berdasarkan ciri
sosiologis dan perannya dalam masyarakat. Peneliti mencatat kejadian-kejadian.
Kemudian dia menyusun kategori atas subyek-subyek pelaku dan juga
mengkategorikan kejadian-kejadian. Dari kategori-kategori ini peneliti
mengembangkan konsep sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan, dan mungkin
juga merevisi konsep-konsep ilmiah yang pernah dia peroleh dalam literatur-literatur
ilmiah.
1. Penelitian Deskriptif
Penelitian ini bermaksud memberikan uaraian mengenai suatu gejala sosial yang
diteliti. Peneliti mendeskripsikan suatu gejala berdasarkan pada indikator-indikator
yang dia jadikan dasar dari ada tidaknya suatu gejala yang dia teliti. Misalnya
peneliti mendeskripsikan kemiskinan pada suatu masyarakat, maka dia
mendeskripsikan berdasarkan indikator-indikator kemiskinan, misalnya keadaan
tempat tinggal, konsumsinya, pakaiannya, pendapatannya.
Deskripsi dapat dilakukan dengan dua cara : deskkripsi kuantitatif (dengan
menggunakan ukuran kuantitatif misalnya berapa kalori yang dikonsumsi, berapa
rupiah yang dikeluarkan untuk belanja) dan deskripsi kualitatif (dengan
mendeskripsikan kualitas suatu gejala yang menggunakan ukuran perasaan sebagai
dasar penilaian)
1. Penelitian Eksplanatoris
Penelitian ini ialah menjawab apakah suatu gejala sosial tertentu berhubungan
dengan gejala sosial yang lain. Atau jelasnya apakah suatu variabel berhubungan
dengan variabel lain. Maksud dari penelitian ini ialah untuk menguji hipotesis yang
diketengahkan oleh peneliti. Oleh karena sifatnya yang menguji itu, penelitian
eksplanatoris lazim disebut juga penelitian uji atau testing research (Y. Slamet, 2006
: 7-8).
STRATEGI PENELITIAN KUALITATIF
Beberapa strategi atau teknik penelitian kualitatif antara lain :
1. A. Sumber dan Jenis Data
1. Kata-kata dan tindakan. Kata-kata atau tindakan dari orang yang di
wawancarai merupakan sumber yang paling utama. Sumber data utama ini
dicatat melalui catatan tertulis, rekaman video, pengambilan foto atau
rekaman suara.
2. Sumber tertulis. Dilihat dari segi sumber data, bahan tambahan yang
berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah
ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.
3. Foto. Sekarang ini foto sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif,
karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Foto menghasilkan data
yang deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah
segi-segi subyektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif.
4. Data statistik. Peneliti kualitatif juga sering menggunakan data statistik
yang telah tersedia sebagai sumber data tambahan bagi keperluannya.
Statistik misalnya dapat membantu memberi gambaran tentang
kecenderungan subyek pada latar penelitian.
1. B. Peranan Manusia Sebagai Instrumen Penelitian dan Pengamatan
Berperanserta
1. Pengamatan Berperanserta adalah pengamatan yang dilakukanoleh
peneliti terhadap lingkungan yang diteliti. Namun tidak hanya sekedar
mengamati tetapi juga ingin mengetahui banyak hal sampai sekecil apapun.
Bogdan (1972:3) mendefinisikan secara tepat pengamatan berperanserta
sebagai penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu
cukup lama antara peneliti dengan subyek dalam lingkungan subyek, dan
selama itu data dalam bentuk cacatan lapangan dikumpulkan secara
sistematis dan berlaku tanpa gangguan.
2. Manusia sebagai instrumen penelitian. Dimana ciri-ciri umum manusia
sebagai instrumen antara lain : responsif terhadap lingkungan dan pribadi-
pribadi yang menciptakan lingkungan; dapat menyesuaikan diri pada
keadaan apapun; menekankan keutuhan yaitu memandang dunia sebagai
keutuhan dan semua yang dialaminya adalah real; mendasarkan diri pada
perluasan pengetahuan; memproses data secepatnya; memanfaatkan
kesempatan untuk mengklarifikasikan dan mengihtisarkan; memanfaatkan
kesempatan untuk mecari respons yang tidak lazim dan idiosinkratik.
1. C. Pengamatan
1. Alasan pemanfaatan pengamatan antara lain : teknik pengamatan ini
berdasarkan pengalaman secara langsung; teknik pengamatan juga
memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat
perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi; pengamatan
memungkinkan peneliti mencatat secara langung maupun melalui data;
teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi
yang rumit; dapat menggunakan alat-alat lain yang bermanfaat jika alat
komunikasi lainnya tidak dimungkinkan.
2. Macam-macam pengamatan dan derajat peranan pengamat. Peranan
peneliti sabagai pengamat antara lain : berperanserta secara lengkap
dengan menjadi anggota penuh dalam kelompok yang diamatinya, dengan
demikian dapat memperoleh informasi apapun termasuk yang
dirahasiakan; pemeranserta sebagai pengamat, dalam hal ini pengamat
tidak sepenuhnya sebagai pemeranserta tetapi masih melakukan fungsi
pengamatan; pengamat sebagai pemeranserta sehingga dapat
memperoleh informasi yang dirahasiakan sekalipun; pengamat penuh yaitu
penelitibebas melakukan pengamatan.
3. Apa yang diamati ? manusia tidak mungkin mengamati segala sesuatu.
Fokus dalam pengamatan penelitian kualitatif pada dasarnya sudah
dirumuskan sejak studi itu dirancang dan merupakan suatu unsur studi
yang penting. Setelah berada di lapangan, peneliti hendaknya mengatur
agar kerumitan perilaku pada latar penelitian dapat direkam melalui
pngamatan.
4. Pengamatan dan pencatatan data. Beberapa petunjuk penting mengenai
pembuatan catatan : buatlah catatan setelah melakukan pengamatan; buat
buku harian pengalaman lapangan yang diisi setiap hari; catatan tentang
satuan-satuan tematis yang berisi catatan yang mendetail tentang tema;
catatan kronologis dibuat secara sistematis dari waktu ke waktu; peta
konteks bisa berupa peta, diagram, sketsa tentang latar penelitian;
taksonomi dan sistem kategori dibuat pada pengamatan terstruktur; jadwal
pengamatan berisi tentang apa yang akan dilakukan, dimana, bilaman, apa
yang diamati; sosiometrik adalah diagram hubungan pembicaraan pada
subyek, siapa berbicara dengan siapa; panel yaitu pengamatan yang
dilakukan secara berkala pada suatu kelompok; balikan melalui kuesioner,
kuesioner diisi oleh pengamat bukan subyek; balikan melalui pengamat
lainnya; daftar cek; alat elektronika yang disembunyikan.
5. Pengamat yang diamati. Pertama, pengamat yang pasif, hanya diam dan
mencatat, tnpa ekspresi muka apapun, hal ini tidak efektif dalam menjaring
data. Kedua, sebaliknya sebagai pengamat ia selalu aktif seperti berbicara,
berkelakar bukan hanya mengamati, maka ia akan diamati oleh subyek dan
diharapkan dapat mempengaruhi pekerjaannya. Pengamat yang aktif akan
menimbulkan perubahan dibandingkan pengamat yang pasif.
1. D. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan
oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang di
wawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Jenis wawancara antara
lain :
1. Wawancara pembicaraan informal. Pertanyaan yang diberikan secara spontanitas
kepada yang diwawancarai sehingga pihak yang di wawancara tidak merasa bahwa
ia sedang di wawancarai.
2. Pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara. Jenis wawancara ini
menentukan pokok-pokok wawancara sebelum mengadakan wawancara. Tidak
semua pertanyaan diajukan, hanya yang mewakili pokok-pokok tersebut.
3. Wawancara baku terbuka. Yaitu wawancara dengan seperangkat pertanyaan baku.
Urutan pertanyaan, kata-kata dan penyajiannya pun sama terhadap setiap
responden.
4. Wawancara oleh tim atau panel. Yaitu wawancara tidak hanya dilakukan oleh
seseorang tetapi oleh dua orang atau lebih.
5. Wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Wawancara tertutup adalah
wawancara yang biasanya yang di wawancarai tidak tahu kalau sedang dilakukan
wawancara. Wawancara terbuka adalah wawancara yang setiap orang yang
siwawancarai sadar jika sedang diwawancarai.
6. Wawancara riwayat secara lesan. Yaitu wawancara terhadap orang yang telah
membuat sejarah atau karya ilmiah, sosial, pembangunan, dan sebagainya.
7. Wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur
adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan
pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Sedangkan wawancara tidak
terstruktur adalah sebaliknya dari wawancara terstruktur. Perntanyaan telah
disusun erlebih dahulu dan bersifat lebih bebas.
1. E. Catatan Lapangan
Catatan lapangan sangat berbeda dengan catatan yang dibuat di lapangan. Catatan
yang dibuat di lapangan berupa coretan yang dibuat saat berada dalam lapangan.
Sedagkan catatan lapangan adalah catatan yang dibuat dilapangan yang disusun
kembali setelah berada dirumah. Catatan ini berguna sebagai perantara tentang apa
yang kita lihat, dengar, rasa, cium dan raba. Isi dari catatan lapangan ini adalah
bagian deskriptif yang berisi tentang gambaran pengamatan, orang, tindakan dan
pembicaraan; dan bagian reflektif yang berisi kerangka berfikir dan pendapat
penelitian, gagasan dan kepeduliannya.
1. F. Penggunaan Dokumen
Dokumen dan record digunakan untuk keperluan penelitian karena alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan seperti berikut ini :
1. Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan
mendorong
2. Berguna sebagai bukti untuk pengujian
3. Berguna dan sesuai untuk peneitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai
dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks
4. Record relatif murah dan tidak sukar diperoleh, tetapi dokumen harus dicari dan
ditemukan
5. Keduanya tidak rekatif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi
6. Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh
pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
1. G. Sampling dan Satuan Kajian (Unit of Analysis)
Dalam penelitian kualitatif peneliti sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor
kontekstual. Jadi maksud sampling dalam hal ini ialah untuk menjaring sebanyak
mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya. Tujuannya
adalah untuk merinci kekhususan yang ada kedalam ramuan konteks yang unik.
Selain itu ialah menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori
yang muncul. Oleh sebab itu dalam penelitian kualitatif tidak ada sampel acak tetapi
sampel bertujuan. Sampel bertujuan dapat ditandai denga ciri-ciri sebagai berkut :
1. Rancangan sampel yang muncul : sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik
terlebih dahulu
2. Pemilihan sampel secara berurutan
3. Penyesuaian berkelanjutan dari sampel : pada awalnya fungsi sampel adalah sama,
namun dengan semakin banyaknya informasi, maka semakin berkembang.
4. Pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan.
DAFTAR PUSTAKA :
Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Malang : Universitas Muhamadyah
Press.
Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial : Buku Sumber untuk
Penelitian Kualitatif.
Sudjarwo. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Bandung : Mandar Maju.
Susanto. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta : LPP UNS dan UNS Press.
Y,Slamet. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta : Sebelas Maret University
Press.
Posted in Uncategorized