Anda di halaman 1dari 23

1

PENINGKATAN PEMUKIMAN KUMUH SEBAGAI DAMPAK PEMBANGUNAN


DI PPERKOTAAN
PROPOSAL
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Teori-Teori Pembangunan
yang dibina oleh
Abdullah Said
Oleh
Waming Okinawa : 115030107111076


UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
OKTOBER 2012


2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke khadirat Allah SWT, Alhamdulillah penyusun telah diberi
kesempatan untuk memberikan argumentasinya yang dituangkan dalam makalah ini, tujuan
penulis dalam menyusun makalah ini, penulis berasumsi bahwa pembaca harus tahu dan
mengerti apa yang dimaksud PENINGKATAN PEMUKIMAN KUMUH SEBAGAI
DAMPAK PEMBANGUNAN DI PPERKOTAAN dan mengapa perlu sekali untuk dipelajari
dan dipahami.
Mengingat banyaknya topik yang harus dibahas dan disesuaikan dengan silabus Mata
Kuliah TEORI-TEORI PEMBANGUNAN diperguruan tinggi, maka penulis memberikan
pengertian secara terperinci agar pembaca bisa cepat paham dengan maksud penulisan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mengandung banyak kekurangan. Oleh
karena itu penulis sangat berterimakasih apabila pembaca bersedia memberikan kritik dan
saran,sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan makalah berikutnya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih banyak kepada Dosen Teori-teori
pembangunan yang telah memberikan tugas makalah ini,karena dengan adanya makalah ini
penulis bias lebih paham arti dan makna Peningkatan Pemukiman Kumuh Sebagai Dampak
Pembangunan Di Perkotaan. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.Amiin







3

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ...................................................................................... 1
KATA PENGANTAR .................................................................................... 2
DAFTAR ISI ................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 4
A. Latar Belakang ......................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................. 6
C. Tujuan ...................................................................................
BAB II KAJIAN TEORI .......................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN .......................................................................... 12
A. Permasalahan Pemukiman Kumuh .......................................
B. Pemukiman Kumuh di Perkotaan ........................................... 14
C. Dampak Pembangunan Di Perkotaan Dan Implikasinya ....... 16
BAB III PENUTUP .................................................................................... 20
A. Peranan PLS ...........................................................................
B. Kesimpulan ........................................................................... 21
C. Saran ...................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23





4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh suatu masyarakat untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat.
1
Tujuan pembangunan adalah untuk mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan bagi setiap individu. Dalam melakukan proses pembangunan
terdapat berbagai kendala untuk bisa tercapai. Pembangunan yang dilakukan hanya dirasakan
oleh sebagian kecil orang saja. Ini berarti bahwa pembangunan yang dilakukan oleh bangsa
ini hasilnya harus dirasakan dan dinikmati oleh rakyat indonesia tanpa terkecuali sehingga
kesejahteraan rakyat indonesia baik fisik maupun psikis dapat terwujud.
Pembangunan yang dilakukan saat ini, hanya dirasakan oleh sebagian kecil orang
saja, mereka yang memiliki modal banyak akan terus bertengger dalam strata atas. Sedangkan
mereka yang tidak memiliki modal menjadi semakin terpuruk dalam jurang yang dalam yakni
lembah kemiskinan. Demikianlah ketimpangan dalam pembangunan yang selama ini
terjadi.
Sebagai contoh pembangunan jalan lingkar luar Jakarta, dimana pada saat ini
sebagian sudah dibuka untuk lalu lintas Dapat dilihat bahwa pada awalnya pembangunannya
proporsi terbesar penggunaan lahan pada suatu koridor 3 km dapat dikategorikan sebagai
kampung atau permukiman kumuh yaitu sekitar 132 km2. atau sekitar 70 %. Daerah industri
dan komersil masih sangat rendah yaitu dibawah 5 %.





1
Zulkarimen Nasution., Komunikasi Pembangunan : Pengenalan dan Pengharapannya, Jakarta, Rajawali Pers,
1992, hal. 35
5

Tabel. Tata guna tanah pada Awal Pembangunan jalan Lingkar Luas Jakarta (3 km
koridor)Tata guna lahan Luas (km) Proporsi (%)
Tata guna lahan Luas (km) Proporsi (% )
Komersil
Industri
Perumahan
Fasilitas pemerintah &
Umum
Rekreasi
Kawasan kumuh
Lainya
0.29
7.06
11.50
2.36
1.50
132.00
23.29
0.1
4.0
6.5
1.5
0.8
74.1
13.0
Sumber : www.google.co.id/imglanding?q=grafik+pertumbuhan+pemukiman+kumuh
Sekitar 80% dari perumahan penduduk asli atau para migran tidak memiliki Izin
Mendirikan Bangunan dan tidak mengikuti pola tata kota yang dikaitkan dengan daerah asal-
usul warga kota.Fenomena ini menjadikan pemukiman kumuh di perkotaan. Pemukiman
kumuh (slums area) adalah daerah-daerah yang padat dengan penduduk berpenghasilan
rendah. Kebanyakan yang menjadi daerah kumuh adalah wilayah perkotaan yang menerima
migrasi penduduk dari desa.Sedangkan menurut Edwin Eames. dan David Goode,
mengatakan bahwa :
lingkungan kumuh yaitu daerah pemukiman yang sangat padat penduduknya dan
rumah-rumah didalamnya dibangun dengan tehnik konstruksi yang buruk dan
menggunakan bahan-bahan yang bermutu rendah. Pola pemukiman tidak
berstruktur dan tidak dilengkapi dengan sarana-sarana umum seperti fasilitas air
bersih, pembuangan sampah, saluran pembuangan air dan kotoran serta jalan-jalan
yang bersih, dan sering kali kondisi ini dihubungkan dengan ongkos sewa yang relatif
mahal dan bahaya penggusuran.
Perkembangan kota yang lebih cepat menimbulkan berbagai masalah terhadap
penyediaan prasarana, sarana dan lingkungan perumahan kota, karena tidak diimbangi
dengan pengadaan lapangan kerja yang memadai. Akibatnya penduduk yang berpenghasilan
rendah akan menempati lingkungan pemukiman yang sesuai dengan penghasilannya.
Disamping penghasilan yang rendah, ketidak pastian tanah yang mereka tempati, menjadikan
6

mereka ragu untuk memperbaiki rumah yang dihuninya. Hal ini menjadikan lingkungan
pemukiman kumuh tersebut semakin memburuk.
Selain itu keberadaan pemukiman kumuh seringkali dianggap sebagai sumber
timbulnya berbagai perilaku menyimpang, seperti kejahatan, dan sumber penyakit sosial
lainnya. Karenapemukiman yang padat dan banyaknya pendatang disana telah membuat
daerah tersebut menjadi tidak ada aman untuk di tinggali. Ditambah dengan tingginya jumlah
pengangguran di pemukiman kumuh sehingga memudahkan terjadinya aktivitas kejahatan.
Karena itulah saya tertarik untuk membahas tentang pemukiman kumuh dan upaya untuk
mengatasinya di perkotaan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja permasalahan di pemukiman kumuh?
2. Bagaimana pemukiman kumuh di perkotaan?
3. Bagaimana dampak pembangunan di perkotaan dan implikasinya?
C. Tujuan
1. Mendiskripsikan tentang permasalahan di pemukiman kumuh
2. Akibat mendiskripsikan pemukiman kumuh di perkotaan
3. Mendiskripsikan dampak pembangunan di perkotaan dan implikasiny








7

BAB II
KAJIAN TEORI

Analisa dilakukan dengan menggunakan dasar 2 (dua) kelompok teori, yaitu teori
perencanaan kota dan teori pengembangan perumahan dan permukiman.Pengertian kota
sebagaimana dikemukakan oleh Amos Rapoportter dapat 10 kriteria yaitu : 1) ukuran dan
jumlah penduduk, 2) bersifat permanen, 3) kepadatan, 4) sruktur dan tata ruang , 5) sebagai
tempat tinggal dan berkerja, 6) fungsi perkotaan 7) heter oginitas dan pembedaan masyarakat,
8) hubungan pusat ekonomi perkotaan dan pertanian di tepi kota serta proses pemasaran, 9)
pusat pelayanan dan 10) pusat penyebaran. Selanjutnya Northam (1979) berpendapat, bahwa
terdapat perbedaan antara batas fisik kota dan batas administrasi kota, dimana hubungan
keduanya dapat dibedakan dalam tiga kondisi, yaitu : under bounded city, over bounded city
dan true bouded city.
Bila ditinjau dari pengertian kota sebagaimana dikemukakan oleh Rapoport di atas,
dapat di pastikan dari waktu ke waktu suatu kota akan selalu berkembang atau dengan kata l
ain kota mempunyai sifat dinamis. Kekuatan-kekuatan dinamis kota ini dapat bergerak dari
bagian dalam kota menuju ke luar (centrifugal forces) atau sebaliknya dari bagian luar kota
ke bagian dalam (centripetal force) sebagaimana pendapat Charles Colby (1959).
Dinamika kota di atas akan mengaitkan antara bagian kota yang satu dengan yang lain
dan bahkan dapat mengaitkan antara wilayah per kotaan dan perdesaan dalam berbagai aspek
diantara keduanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Douglass (1991) dan Rondinelli
(1985),bahwa kawasan perdesaan dan perkotaan pada dasarnya merupakan lansekap wilayah
yang saling berhubungan melalui keterkaitan kekuatan ekonomi, sosial, politik dan
lingkungan yang sangat kompleks, oleh karenanya ketimbang menganggap desa dan kota
sebagai suatu dikotomi, akan lebih sesuai untuk menjelaskan desa - kota sebagai suatu
fenomena yang bertautan (continuum), dimana masyarakat di dalamnya secara bersama
memecahkan masalah kemiskinan, perkembangan ekonomi, lingkungan yg berkelanjutan,
dan dalam perkembangan kerangka kelembagaan, Dalam keterkaitan kota dan desa (urban-
rurallinkage) ini, keduanya mempunyai peran dan kedudukan sebagai berikut :
a. kota, merupakan lokasi kegiatan non pertanian mempunyai peranan sebagai : 1) tempat
pemasaran produksi pertanian, 2) pusat pengolahan produk pertanian dan perkebunan serta
8

ekspor, 3) pusat jasa pelayanan bagi produksi pertanian, 4) pusat perdagangan barang
kebutuhan rumah tangga dan lainnya, serta fasilitas sosial dan hiburan, 5) investasi lokal bagi
sektor pengolahan dan jasa pendukung kegiatan pertanian, 6) Sektor tenaga kerja non
pertanian.
b. desa, merupakan lokasi kegiatan pertanian dan sumber daya alam yang lain mempunyai
peranan sebagai : 1) tempat produksi makanan, 2) produksi tanaman pertanian dan
perkebunan dan sumber daya alam lainnya, 3) permintaan input kegiatan pertanian dan jasa
pelayanan pertanian, 4) permintaan barang dan jasa, pelayanan kesehatan, pendidikan,
perdagangan, hiburan, keuangan, 5) transfer surplus ke sektor non pertanian, 6) sektor tenaga
kerja on farm dan off farm
Perkembangan urban-rural linkage selanjutnya akan membawa perubahan karakter
daerah-daerah pinggiran kota, yang tadinya mempunyai karaktersitik perdesaan sedikit demi
sedikit akan berubah menjadi karakteristik perkotaan yang biasanya diawali dengan
tumbuhnya permukiman di daerah pinggiran yang diikuti pengadaan prasarana dan sarana
pendukungnya, dan seiring dengan berjalannya waktu permukiman pinggiran kota ini akan
menyatu (terintegrasi) dengan wilayah kota yang menjadi induknya,
Tumbuhnya perumahan di daerah pinggiran kota sering menimbulkan berbagai
masalah, terutama terbentuknya permukiman kumuh (slum) dan permukiman liar (squatter),
mengingat fungsi, dimensi, kualitas dan karakter istik rumah yang dibangun oleh
penghuninya di lapangan cukup bervariasi. Sehingga beberapa ahli dan pemerintah
mendefinisikan rumah dalam berbagai dimensi.
Menurut pandangan John F.C. Turner (1972), pengertian tentang perumahan ada dua,
yaitu sebagai kata benda dan kata kerja. Sebagai kata benda perumahan dapat diartikan
sebagai sebuah komoditi atau produk, sedangkan sebagai kata kerja perumahan berarti
sebagai suatu proses atau aktivitas. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Johan Silas
(1993), rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman dan bukan semata-mata hasil fisik
yang sekali jadi. Perumahan bukan (kata) benda melainkan merupakan suatu (kata) kerja
yang berupa proses berlanjut dan terkait dengan mobilitas sosial ekonomi penghuninya.
Perumahan lebih dari hanya sebagai hunian (atau omah), terutama berkaitan dengan para
penghuninya. Konsep perumahan seharusnya selalu satu, utuh dan imbang antara manusia,
rumah, dengan alam sekitarnya. Perumahan bukan rumah karena tidak dapat berdiri sendiri,
melainkan saling membutuhkan serta ada prasarana dan saranya.
9

Sedang menurut Amos Rapoport (1969), rumah diartikan sebagai suatu lembaga dan
bukannya hanya sebagai struktur, yang dibuat untuk berbagai tujuan yang kompleks dan
karena membangun suatu rumah merupakan gejala budaya maka bentuk dan pengaturannya
sangat dipengaruhi budaya lingkungan di mana bangunan itu berada. Dalam hal bentuk,
rumah bukan merupakan hasil kekuatan faktor fisik dan faktor tunggal lainnya, tetapi
merupakan konsekuensi dari cakupan faktor-faktor budaya yang terlihat dalam pengertian
yang luas. Bentuk rumah dapat berubah menurut kondisi iklim, metode konstruksi, material
yang tersedia dan teknologi. Yang utama adalah faktor sosial budaya sedangkan lainnya
merupakan faktor kedua atau melengkapi/memodifikasi. Hubungan antara bentuk rumah dan
permukiman, yaitu bahwa bentuk rumah dalam suatu permukiman merupakan gambaran fisik
dari budaya, agama, material, dan aspek sosial serta merupakan alam simbolik dari
permukiman tersebut. Dalam suatu permukiman rumah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor
fisik semata atau dipengaruhi oleh faktor yang berdiri sendiri, tetapi lebih merupakan akibat
dari keseluruhan faktor sosio kultural yang dapat dilihat dari pola-polanya secara luas.
Lingkungan yang terbentuk akan mencoba mencerminkan kekuatan-kekuatan sosio kultural
termasuk kepercayaan, hubungan kekerabatan, organisasi sosial, cara hidup dan hubungan
sosial antar individu.

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan Dan
Permukiman, yang dimaksud dengan : a) rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai
tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga, b) perumahan adalah kelompok
rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, dan c) permukiman adalah bagian dari
lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun
pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan
tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Dilandasi oleh pendapat tiga ahli di atas dan kriteria yang ditetapakan oleh
Pemerintah diatas, dapat dikatakan bahwa permukiman kumuh (slum) dan permukiman liar
(squatter) seharusnya tidak hanya ditinjau dari sisi aspek fisik lingkungan permukiman saja,
namun harus ditinjau pula dari aspek non-fisik lingkungan permukiman.
Dari aspek fisik lingkungan permukiman, kondisi perumahan dan permukiman yang
kumuh cenderung dikaitkan dengan kelayakan kualitasnya, penanganan terkait dengan hal ini
10

akan didasarkan pada konsep yang telah ditetapakan oleh beberapa lembaga internasional dan
pendapat ahli terkait diantaranya :
a. Konsep rumah layak menurut ECOSOC PBB pada keputusan Sidang Umum PBB no. 4
tahun 1991, adalah : 1) Jaminan kepemilikan yang dilindungi hukum, 2) Ketersediaan
service, bahan, fasilitas dan prasarana, 3) Kemampuan beli dari masyarakat, 4) Layak huni
atau habitable, 5) Dapat dicapai oleh siapa saja, 6) Lokasinya yang mendukung bagi
kehidupan dan 7) Kelayakan budaya, termasuk menjalankan keyakinan yang luas
b. The Habitat Agenda yang dihasilkan pada KTT Habitat II di Istanbul mendifinisikan
bahwa Rumah Layak terkait dengan : 1) kelayakan privacy, 2) ruang, 3) pencapaian atau
akses fisik, 4) keamanan, 5) kepemilikan, 6) kestabilan dan ketahanan struktur bangunan, 7)
kecukupan penerangan, 8) pemanasan (pendinginan bagi kita), 9) ventilasi, dan 10) PSD
seperti ketersediaan air minum, sanitasi dan pengelolaan air buangan.
c. Definisi rumah layak layak sebagaimana ketetapan PBB : 12/1988 pada forum Global
Strategy for Shelter to the year 2000 (GSS 2000), yaitu : 1) Kelayakan privacy, 2) Kelayakan
ruang, 3) Kelayakan sekuriti, 4) Kelayakan penerangan dan ventilasi, 5) Kelayakan PSD, 6)
Kedekatannya terhadap berbagai sarana dasar, dan 7) Semua dalam batas keterjangauan
mencapainya.
Ditinjau dari aspek non-fisik lingkungan permukiman, kenyataan di lapangan rumah
tidak hanya berfungsi sebagai hunian semata, potensi rumah dapat dikembangkan oleh
penguninya dalam berbagai fungsi. Sebagaimana dikemukakan oleh Johan Silas (1996),
fungsi pokok rumah menurut orang Indonesia ada tiga, yaitu sebagai tempat berlindung,
membina keluarga, dan mengusahakan kesejahteraan penghuninya. Masih menurut Johan
Silas (1993), pada umumnya konsep rumah dan kerja termasuk dimensi sosial dan budaya.
Terkait dengan konsep rumah dan kerja ini, Keith Hart (1973) pada sebuah seminar
menyatakan bahwa Konsep HBEs merupakan bagian dari sektor informal dan bagian dari
kegiatan ekonomi (Kellet, 1996 : 1)
Secara umum Home Based Enterprises ( HBEs) atau Usaha yang Bertumpu pada
Rumah Tangga (UBR) adalah kegiatan usaha rumah tangga yang pada dasarnya merupakan
kegiatan ekonomi rakyat yang dijalankan oleh keluarga. Dimana kegiatannya bersifat
fleksible dan tidak terlalu terikat oleh aturan-aturan yang berlaku umum. Termasuk jam kerja
yang dapat diatur sendiri serta hubungan yang longgar antara modal dengan tempat usaha.
11

Salah satu pola penataan perumahan dan permukiman dengan menggabungkan aspek
fisik dan non-fisik lingkungan permukiman yang per nah diterapkan di Indonesia dan layak
untuk diadopsi adalah konsep KIP Komprehensip yang berazaskan pada tribina, yang
meliputi bina manusia, bina lingkungan dan bina usaha.




















12

BAB III
PEMBAHASAN

A. Permasalahan Pemukiman Kumuh
Salah satu problem sosial yang sering melanda masyarakat lapisan menengah ke
bawahadalah ancaman penggusuran tempat tinggal mereka. Pesatnya pertumbuhan sektor
ekonomi dengan berbagai dampak lainnya telah menciptakan kesempatan berkembang
sektor industri, khususnya industri properti. Fenomena penggusuran pemukiman kumuh
untuk berbagai kepentingan telah menjadi kisah klasik yang memiliki kadar risiko sosial,
ekonomi, politik, dan budaya yang tinggi di ibu kota,. Alasan klasik yang sering
dikemukakan yaitu karena lingkungan pemukiman yang demikian rentan terhadap
kriminalitas dan mengganggu keindahan tata kota yang tengah berkembang menuju
metropolis.
Keberadaan pemukiman kumuh tidak pantas dipandang semata-mata sebagai
physicalfabric, melainkan juga sebagai social fabric. Artinya dari generasi ke generasi
penghuni pemukiman kumuh telah memiliki bentuk kohesi sosial yang khas. Dari sudut
struktur aglomerasi ekonomi perkotaan maupun sosial, mereka adalah sebuah self contained
neigborhoodyang utuh. Upaya transformasi fisik lingkungan dan perumahan seharusnya
tetap mampu mendukung karakteristik sosial ekonomi penghuninya.
Dua faktor kunci yang bisa menjadi determinan untuk mengatasi problem
sosialpemukiman kumuh di perkotaan penyediaan ruang publik (public space) dan
pengaturan teritorialitas para penghuni area itu. Representasi paling riil dari rakyat berada di
dalam public space. Public space memberikan kesempatan ketika manusia tidak dibedakan
status sosial ekonominya sekaligus dalam hal itu melekat konsep freedom dan equality.
Sedangkan, teritorialitas memungkinkan penghuni slums mendisain struktur lingkungan
permukiman tanpa harus mengeluarkan ongkos mahal. Teritori dimaksud adalah upaya
menuntun banyak orang agar memikirkan perilaku teritori sebagai sesuatu yang bisa
menyebabkan timbulnya konflik dan agresi.
Pada satu sisi intervensi pemerintah tetap dibutuhkan untuk memberikan good
willkepada masyarakat agar punya kesempatan menata lingkungan mereka sendiri. Di sisi
13

lain membuat masyarakat tersebut merasa terintimidasi oleh berbagai kebijakan penataan
wilayah yang terkesan represif.
Bagi kalangan remaja dan pengangguran, biasanya penyimpangan perilakunya bisa
mengarah kepada tindakan kriminal seperti pencurian, pemerkosaan, penipuan, penodongan,
pembunuhan, pengrusakan fasilitas umum, melakukan pungutan liar, mencopet dan perbuatan
kekerasan lainnya.

Keadaan seperti itu cenderung menimbulkan masalah-masalah baru yang
menyangkut:
1. Masalah persediaan ruang yang semakin terbatas terutama masalah permukiman untuk
golongan ekonomi lemah dan masalah penyediaan lapangan pekerjaan di daerah perkotaan
sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya perilaku menyimpang.
2. Masalah adanya kekaburan norma pada masyarakat migran di perkotaan dan adaptasi
penduduk desa di kota.
3. Masalah perilaku menyimpang sebagai akibat dari adanya kekaburan atau ketiadaan
norma pada masyarakat migran di perkotaan.
4. Disamping itu juga pesatnya pertumbuhan penduduk kota dan lapangan pekerjaan di
wilayah perkotaan mengakibatkan semakin banyaknya pertumbuhan pemukiman-
pemukiman kumuh yang menyertainya dan menghiasi areal perkotaan tanpa penataan yang
berarti.
Masalah yang terjadi akibat permukiman kumuh terutama di kota-kota besar diantara
lainwajah perkotaan menjadi memburuk dan kotor, planologi penertiban bangunan sukar
dijalankan, banjir, penyakit menular dan kebakaran sering melanda permukiman ini. Disisi
lain bahwa kehidupan penghuninya terus merosot baik kesehatannya, maupun sosial
kehidupan mereka yang terus terhimpit jauh dibawah garis kemiskinan (Sri Soewasti Susanto,
1974)Secara umum permasalahan yang sering terjadi di daerah permukiman kumuh adalah :
1. Ukuran bangunan yang sangat sempit, tidak memenuhi standard untuk bangunan layak
huni
14

2. Rumah yang berhimpitan satu sama lain membuat wilayah permukiman rawan akan
bahaya kebakaran
3. Jaringan listrik yang semrawut sehingga rawan akan konsleting
4. Sarana jalan yang sempit dan tidak memadai
5. Tidak tersedianya jaringan drainase
6. Kurangnya suplai air bersih
7. Fasilitas MCK yang tidak memadai
8. Banyak timbul berbagai penyakit
9. Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya
B. Pemukiman Kumuh di Perkotaan
Kehidupan di perkotaan memiliki persaingan ketat. Tanpa memiliki keahlian khusus
maka akan sulit untuk dapat bersaing. Hal demikian mengakibatkan mereka yang
beruntung memiliki modal sendiri (pas-pasan) atau memiliki koneksi terpaksa bekerja di
sektor-sektor informal seperti menjual bakso, tukang becak, dan lain-lain. Sedangkan yang
tidak memiliki modal atau tidak memiliki keahlian sama sekali akhirnya terpaksa menjadi
pengangguran atau bila sudah kepepet terpaksa melakukan tindak kriminal .
Pesatnya pertumbuhan daerah perkotaan telah menyebabkan terjadinya kompetisi dalam
penggunaan lahan yang pada gilirannya akan menimbulkan permasalahan dalam
perencanaan penggunaan lahan misalnya antara penggunaan lahan untuk perumahan dengan
penggunaan lahan untuk industri atau penggunaan l ahan untuk ruang terbuka hijau dan
pemukiman atau perkantoran. Sementara itu, secara bersamaan terjadi penciutan luas lahan
pertanian akibat dari perluasan lahan untuk perkantoran, pusat perbelanjaan, pertokoan dan
lainnya. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penggunaan lahan di wilayah perkotaan
menunjukan adanya perubahan lahan yang cukup besar dari penggunaan untuk pertanian
menjadi untuk bangunan dan jenis-jenis penggunaan lainnya.
Kegiatan ekonomi sebagian besar dari luas wilayah perkotaan dimanfaatkan untuk
pemukiman penduduk. Bahkan masih terdapatnya lingkungan pemukiman kumuh,
diantaranya berkategori kumuh berat yang lokasinya tersebar hampir diseluruh wilayah.
15

Berikut ini adalah data table lingkungan pemukiman kumuh yang berada pada seluruh
provinsi di Indonesia:

No Provinsi Pemukiman Kumuh (Slum
Area)
Jumlah
Keluarga
Jumlah
Desa
Jumlah
Lokasi
Jumlah
Banguna
n
Jumlah
Keluarg
a
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
ACEH
SUM.UTARA
SUM.BARAT
RIAU
JAMBI
SUM.SELATAN
BENGKULU
LAMPUNG
BANGKA BELITUNG
RIAU
DKI JAKARTA
JAWA BARAT
JAWA TENGAH
D.I. YOGYAKARTA
JAWA TIMUR
BANTEN
BALI
NTB
NTT
KAL.BARAT
KAL.TENGAH
KAL.SELATAN
KAL.TIMUR
SUL.UTARA
299
898
79
143
128
619
123
155
16
118
580
2848
1048
37
496
596
65
166
109
345
111
8
312
159
4959
46570
2575
7543
3600
21958
3837
8809
563
7741
86417
88879
31076
398
15867
19748
1357
9083
3403
10432
6195
157
12041
4951
5857
51287
2972
8438
3771
31523
4233
11986
590
8981
121884
109716
38553
565
19414
21220
2248
10527
4447
12241
9380
246
15622
5533
1126488
2989384
1154180
1230336
763386
1826918
458092
1909355
300526
388183
203586
10955436
9117179
928230
10600718
2384253
878917
1314372
1049723
1081171
545425
926738
879471
614928
6424
5767
924
1604
1303
3079
1351
2339
344
326
267
5871
8574
438
8505
1504
712
913
2803
1791
1448
1974
1417
1494
16

25
26
27
28
29
30
31
32
33
SUL.TENGAH
SUL.SELATAN
SUL.TENGGARA
GORONTALO
SUL.BARAT
MALUKU
MALUKU UTARA
PAPUA BARAT
PAPUA
24
797
0
0
60
92
26
21
100
614
27287
0
0
1316
1382
574
673
3801
860
35726
0
0
1574
1842
651
944
5708
625107
1918726
526287
265513
276228
325472
237183
261833
671101
1686
2946
2028
584
536
906
1036
1205
3311
10578 433806 548539 60566705 75410
Sumber : Potensi Desa 2008 BPS (Special tabulation by Swastika Andi)
andi.stk31.com
Kawasan kumuh terbanyak di propinsi Jawa Barat yaitu lebih dari dua ribu lokasi
pemukiman kumuh sedangkan yang paling sedikit pada provinsi Tenggara dan Gorontalo
yaitu masih bersih dari pemukiman kumuh. Umumnya kawasan kumuh serta gubuk liar
berada Diarsipkan oleh PLS UM untuk Imadiklus.comdisekitar perumahan penduduk
golongan menengah ke atas dan juga sekitar gedung-gedung perkantoran maupun lokasi
perdagangan, sehingga semakin memperlihatkan adanya perbedaan sosial-ekonomi dan turut
pula memperburuk kualitas lingkungan visual kota.
Sementara di kota mengalami ledakan penduduk, boom konstruksi gedung-gedung
serta pergejolakan politik dikotomi antara Jakarta dengan bagian-bagian lain Indonesia terus
bergejolak. Kontradiksi antara realitas kehidupan kampung dengan ideologi tentang kota
metropolitan yang glamor mengundang mereka untuk mengadu nasib ke ibu kota.
C. Dampak Pembangunan Di Perkotaan Dan Implikasinya
Pembangunan sering salah satunya dikaitkan dengan modernisasi. Menurut Tehranian
(1979) mengartikan kemajuan (progress), pembangunan (development), dan modernisasi,
sebagai suatu fenomena historis yang sama, yaitu suatu transisi dari suatu masyarakat agraris
ke masyarakat industrial.
2
Konsep tersebut diadopsi dari teori modernisasi yang menganggap
bahwa negara-negara terbelakang akan menempuh jalan sama dengan negara industri maju di
Barat sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang pula melalui proses modernisasi.

2
Zulkarimen, go.Cit, hal. 35
17

Proses pembangunan yang dilakukan telah mendorong terjadinya arus urbanisasi
pada masyarakat di pedesaan dengan harapan perbaikan ekonomi. Hal ini menunjukkan suatu
kecenderungan yang selalu melekat (inheren) dalam latar (setting) historis yang berbeda, ke
arah alinasi tenaga kerja, atomisasi masyarakat, birokratisasi penguasa, dan hegemonisasi
kebudayaan.
Modernisasi merupakan suatu hasil interaksi akibat adanya interelasi antara
fenomena yang ada dan saling mempengaruhi.Hal ini berkaitan karena pembangunan terjadi
sebagai hasil dari interaksi dengan mengadopsi teknologi dari negara maju / Barat. Hal ini
selanjutnya bisa mempengaruhi kondisi dari negara yang bersangkutan dalam menerima
perubahan yang terjadi yakni perubahan pada faktor eksternal maupun faktor internal dari
negara yang bersangkutan.
Perubahan eksternal yang terjadi adalah perubahan dengan adanya pengadopsian
teknologi canggih dari negara barat guna meningkatkan produktivitas sumber daya yang ada
di negara yang bersangkutan. Sedangkan perubahan pada faktor internal adalah peningkatan
kualitas sumber daya pada negara yang bersangkutan untuk melakukan persaingan dengan
negara lain.
Tetapi tidak semua perubahan yang dilakukan sesuai dengan keinginan. Terdapat
ketimpangan yang terjadi sebagai ekses dari proses pembangunan yang dilakukan. Salah
satunya adalah timbulnya pemukiman kumuh yang disebabkan karena kurangnya lahan yang
ada di perkotaan dan banyaknya mereka yang tidak mampu untuk berkompetisi dalam
persaingan untuk hidup di kota besar tanpa mempunyai keterampilan.
Seiring dengan adanya pemukiman kumuh tersebut, maka dipercaya terdapat korelasi
antara lingkungan kumuh dengan kriminalitas ataupun perilaku menyimpang, ini menurut
Mardjono Reksodiputro
3
adalah :
Daerah kumuh sering dikategorikan sebagai daerah rawan. Kerawanannya terletak
pada potensi tinggi yang dipunyai daerah-daerah ini meningkatkan perilaku
menyimpang dan meninggikan angka kriminalitas kota yang bersangkutan Meskipun
hal ini mempunyai kebenarannya, namun kenyataannya adalah bahwa tidak semua
penduduk daerah-daerah kumuh terlibat dalam perilaku menyimpang atau perilaku

3
Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan-Karangan Buku
Kedua, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia,
Jakarta, 1994. hal. 43
18

yang melanggar hukum pidana. Kemungkinan besar hanya sebagian kecil saja yang
hidup dari kejahatan. Yang mungkin benar adalah bahwa sering ada rasa apathy dan
fatalism untuk merubah kehidupan sendiri ataupun lingkungannya. Juga umumnya
mereka cenderung mempunyai toleransi yang lebih besar terhadap perilaku
menyimpang pada umumnya, khususnya apabila dilakukan terhadap dunia luar
mereka
Penduduk di permukiman kumuh tersebut memiliki persamaan terutama dari segi
latar belakang sosial ekonomi-pendidikan yang rendah, keahlian terbatas dan kemampuan
adaptasi lingkungan (kota) yang kurang memadai. Kondisi kualitas kehidupan yang serba
marjinal ini ternyata mengakibatkan semakin banyaknya penyimpangan perilaku penduduk
penghuninya. Hal ini dapat diketahui dari tatacara kehidupan sehari -hari, seperti mengemis,
berjudi, mencopet dan melakukan berbagai jenis penipuan. Terjadinya perilaku menyimpang
ini karena sulitnya mencari atau menciptakan pekerjaan sendiri dengan keahlian dan
kemampuan yang terbatas, selain itu juga karena menerima kenyataan bahwa impian yang
mereka harapkan mengenai kehidupan di kota tidak sesuai dan ternyata tidak dapat
memperbaiki kehidupan mereka.
Mereka pada umumnya tidak cukup memiliki kamampuan untuk mendapatkan
pekerjaan yang layak, disebabkan kurangnya keterampilan, tanpa modal usaha, tempat
tinggal tak menentu, rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, rendahnya daya
adaptasi sosial ekonomi dan pola kehidupan kota. Kondisi yang serba terlanjur, kekurangan
dan semakin memprihatinkan itu mendorong para pendatang tersebut untuk hidup seadanya,
termasuk tempat tingga l yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Menurut Sudjono D.
4
Menjelaskan bahwa ada beberapa faktor lingkungan yang
menyebabkan terjadinya kejahatan, yaitu :
1. Lingkungan yang memberi kesempatan akan timbulnya kejahatan;
2. Lingkungan pergaulan yang memberi contoh/tauladan;
3. Lingkungan ekonomi (kemiskinan/kemelaratan);
4. Lingkungan pergaulan yang berbeda-beda

4
Sudjono D, Konsepsi Kriminologi dalam Usaha Penanggulangan Kejahatan, Bandung, alumni, 1978, Hal. 22
19

Kemudian W.A Bonger
5
menyatakan bahwa ada 7 (tujuh) faktor lingkungan sebagai
penyebab terjadinya kejahatan, yaitu :
1. Terlantarnya anak-anak
2. Kesengsaraan
3. Nafsu ingin memilki
4. Demoralisasi sexuil
5. Alkoholisme
6. Kurangnya peradaban
7. Perang
Dan tiap kejahatan tersebut adalah hasil unsur-unsur yang terdapat didalam individu
masyarakat dan keadaan fisik.
Terbentuknya Segregasi dan Spesialisasi di Pemukiman Kumuh Sebagai Akibat dari
Urbanisasi bila kita menghubungkan antara pemukiman kumuh seiring dengan adanya arus
urbanisasi, maka berdasarkan teori Sosial Disorganization yang mengatakan bahwa :
Teori disorganisasi memandang dari aturan atas keragaman masyarakat dalam
sumber daya ekonomi dan sosial, dan kemampuan hubungan dari masyarakat untuk
menghasilkan dan mempertahankan bagian/peranan aturan melalui tingkah laku kontrol
sosial informal dan sosialisasi. Sosial disorganisasi pada dasarnya memandang keragaman
dalam aturan dan sumber daya sebagai akibat dari proses dan pola urbanisasi dan segregasi /
pemisahan daerah pemukiman.
Secara sosial maupun spasial terbagi secara jelas, dengan kawasan kampung kelas
bawah dicirikan oleh kepadatan penduduk yang luar biasa dan kegiatan-kegiatan sektor
informal. Itulah sebabnya mengapa di perkotaan banyak terdapat nama-nama daerah
pemukiman asal pendatang (segregasi pemukiman). Selain itu pula segregasi pemukiman
membuat spesialisasi dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu khususnya dalam bidang
informal seperti tukang kredit biasanya dilakukan oleh orang Sunda, Pedagang kaki lima
oleh orang Padang, Tukang sate pada orang Madura dan lain-lain.

5
Soerjono Soekanto, Doktrin-doktrin Krimonologi, Bandung, alumni 1970 hal. 17
20

BAB IV
PENUTUP

A. Peranan PLS
Penduduk desa bermigrasi ke kota untuk memperbaiki kehidupan ekonomi mereka
tetapi dengan tidak disertai keahlian dan kemampuan sehingga menjadi pengangguran dan
gelandangan kemudian terbentuk suatu komunitas atau pemukiman yang kumuh. Oleh
karena itu diperlukan teori -teori PLS untuk memberdayakan masyarakat pada pemukiman
kumuh tersebut agarterbentuk pemukiman yang bersih dan tidak menjadi masalah social di
perkotaan.Program PLS
1. Informasional yaitu menyebarluaskan informasi baru baik peraturan, temuan-temuan baru
dan etika, bahaya baru bagi khalayak ramai. Informasi yang disebarkan bukan sekedar
informasi tetapi mampu mengubah pengetahuan, motivasi, sikap dan mungkin keterampilan
sederhana yang dilakukan terus menerus karena informasi selalu bertambah.
Kegitan berupa penyuluhan kepeda masyarakat kumuh akan dampak negative
bertempat tinggal di pemukiman dan memberikan solusi untuk berpindah dan mengarah agar
mngikuti program pemerintah yaitu program perbaikan kampung dan peremajaan
lingkungan kumuh.
a.Program Perbaikan Kampung, yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi
kesehatanlingkungan dan sarana lingkungan yang ada.
b.Program peremajaan lingkungan kumuh, yang dilakukan dengan membongkar lingkungan
kumuh dan perumahan kumuh yang ada serta menggantinya dengan rumah susun yang
memenuhi syarat. Bentuk Bentuk Peremajaan Kota Di Indonesia :
1.Perbaikan lingkungan permukimanDisini kekuatan pemerintah/public investment
sangat dominan, atau sebagai faktor tunggal pembangunan kota.
2.Pembangunan rumah susun sebagai pemecahan lingkungan kumuh.
3.Peremajaan yang bersifat progresif oleh kekuatan sektor swasta seperti munculnya
super blok (merupakan fenomena yang menimbulkan banyak kritik dalam aspek
21

sosial yaitu penggusuran, kurang adanya integrasi jaringan dan aktifitas trafik yang
sering menciptakan problem diluar super blok). Faktor tunggalnya adalah pihak
swasta besar.
2. Pelatihan yaitu usaha memperbaiki kecakapan, keterampilan, dan kinerja individu agar
kehidupan lebih berkualitas. Program ini diberikan kepada masyarakat yang berusia kerja tapi
belum bekerja karena tidak mampu bersaing.
Dengan memberikan pelatihan-pelatihan pada masyarakat di pemukiman kumuh akan
memberi kesempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan pada persaingan yang sangat
ketat sehingga bisa mengurangi pengangguran dan tindak kriminalitas di perkotaan. Dengan
pendapatan yang cukup semua pendapatan mereka bisa tercukupi sehingga kehidupan mereka
bisa sejahtera.
B. Kesimpulan
Pembangunan yang telah dilakukan selama ini ternyata tidak menjangkau seluruh
lapisan dari masyarakat. Tetapi pembangunan hanya dinikmati oleh beberapa orang saja.
Kondisi semacam ini sangat memprihatinkan bila tidak segera cepat di atasi
Salah satu sebab berkembangnya pemukiman kumuh adalah adanya arus urbanisasi ke
ibu kota. Daya tarik dari metropolitan yang memikat mengundang setiap orang untuk
mengadu nasib disana. Mereka yang kebanyakan datang ke ibu kota tidak memiliki keahlian
yang memadai, akhirnya mereka terpaksa beralih pada pekerjaan disektor informal,
sedangkan mereka yang tidak memiliki kealian apa-apa serta tidak memiliki modal akhirnya
terpaksa melakukan tindakan penyimpangan seperti pencurian, perjudian bahkan prostitusi.
Faktor lain dari pemukiman kumuh juga terjadi karena keterbatasan lahan yang
dipergunakan untuk aktivitas ekonomi seperti untuk industri dan perkantoran, pusat
perbelanjaan, pertokoan sehingga lahan yang ada semakin sempit.
Walaupun demikian keberadaan pemukiman kumuh tidak dapat dipandang sebelah
mata, karena biar bagaimanapun mereka merupakan bagian dari masyarakat kota. Dimana
mereka yang tinggal disana telah cukup lama bisa beberapa generasi. Untuk itulah,
diperlukan suatu penanganan yang bijak dari pihak pemerintah dalam penanganannya agar
tidak menggunakan cara yang represif. Hal ini mengingat bahwa pemukiman kumuh terjadi
22

akibat ekses dari proses pembangunan dan juga pemukiman kumuh merupakan korban dari
pembangunan yang dilaksanakan sendiri oleh pemerintah.
C. Saran
Upaya mengatasi permukiman kumuh :
1. Program Perbaikan Kampung, yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi
kesehatanlingkungan dan sarana lingkungan yang ada.
2. Program uji coba peremajaan lingkungan kumuh, yang dilakukan dengan
membongkar lingkungan kumuh dan perumahan kumuh yang ada serta menggantinya
dengan rumah susun yang memenuhi syarat.
Hal penting yang perlu diusahakan pemerintah adalah perkembangan ekonomi
makro, pembangunan ekonomi, pembangunan prasarana, pembangunan sumber daya
manusia, pembangunan regional dan sumber daya alam, pembangunan hukum, penerangan,
politik, hankam dan administrasi negara, kerja sama luar negeri, pembiayaan dalam bidang
pembangunan, pusat data dan informasi perencanaan pembangunan, pusat pembinaan
pendidikan dan pelatihan perencanaan pembangunan program pembangunan nasional,
badan koordinasi tata ruang nasional, landasan/acuan/dokumen pembangunan nasional,
hubungan eksternal.
Dengan demikian ketimpangan social tidak akan bisa teratasi karena pembangunan
yang merata akan menciptakan suatu tatanan kota yang baru. Hal tesebut akan menciptakan
lapangan pekerjaan yang luas dan bisa meminimalkan jumlah pengangguran serta tidak akan
membuat penumpukan orang untuk mencari pekerjaan ke kota yang menyebabkan kawasan
pemukiman kumuh di perkotaan.






23

Daftar Pustaka

D. Sudjono. 1978. Konsepsi Kriminologi dalam Usaha Penanggulangan Kejahatan.
Bandung : alumni
Marbun. B. N.1990. Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek. Jakarta : Erlangga
Nasution, Zulkarimen. 1992. Komunikasi Pembangunan, Pengenalan dan
Pengharapanny.Jakarta : Rajawali Pers
Shadily, Hassan. 1984. Ensiklopedia Indonesia, Ikhtiar Baru-Hoove. Jakarta
Soekanto, Soerjono. 1970. Doktrin-doktrin Krimonologi. Bandung : Alumni
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Lembaga Penerbit Lembaga
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Susanto, Sri Soewasti. 1974. Sanitasi Lingkungan di Kota-kota Besar, Prisma 5. Jakarta :
LP3ES
Potensi Desa 2008 BPS (Special tabulation by Swastika Andi) andi.stk31.com Diakses
Oktober 2012