Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Penentuan Potensial Air Jaringan


Tumbuhan



Nama Kelompok:



Disusun oleh:
Putri Mayang Sari
NIM. 12030244024



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2014



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plasma sel (sitoplasma) dibungkus oleh selaput tipis yang disebut membran
plasma. Selaput ini merupakan membrandwi lapis yang mampu mengatur secara
selektif aliran cairan dari lingkungan suatu sel kedalam sel dan sebaliknya.
Pada dasarnya pengangkutan membran sel dapat terjadi secara pasif maupun
secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah gradien
konsentrasi, artinya dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggimenuju larutan yang
memiliki konsentrasi rendah tanpa memerlukan energi hasil metabolisme seperti ATP
karena prosesnya searah gradien konsentrasi.
Proses difusi dan osmosis merupakan contoh proses pengangkutan secara
pasif. Proses osmosis merupakan proses difusi yang sifatnya khusus karena melalui
membran selektif permeabel. Terjadinya proses osmosis sangat ditenukan oleh
adanya perbedaan potensial kimia air atau potensial air (PA).
Dari latar belakang diatas, maka tujuan dari praktikum ini ialah untuk
menghitung besarnya potensial air yang dilihat dari pengaruh konsentrasi larutan
terhadap perubahan panjang jaringan tumbuhan yang membuktikan terjadinya
peristiwa osmosis yang terjadi pada jaringan umbi ubi jalar.

1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang
potongan jaringan umbi ubijalar?
2) Berapakah konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan perubahan
panjang irisan jaringan umbi ubijalar?
3) Berapakah nilai konsentrasi potensial air jaringan umbi ubijalar?


1.3 Tujuan
1) Menjelaskan pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan
panjang potongan jaringan tumbuhan.
2) Mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan
perubahan panjang irisan jaringan umbi.
3) Menghitung nilai potensial air jaringan tumbuhan.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umbi Ubi Jalar
Ubi jalar termasuk famili convolvulaceae dan merupakan tanaman palawija.
Bentuk daunnya sangat bervariasi dari bentuk lonjong sampai bentuk seperti jari,
dengan lekukan tepi yang banyak dan dalam. Bentuk ubi jalar biasanya bulat sampai
lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Bentuk ubi yang ideal adalah
lonjongn agak panjang dengan berat antara 200-250 gram per ubi. Ubi jalar dapat
berwarna putih, kuning, orange, sampai merah bahkan ada yang berwarna kebiruan,
violet atau berbintik-bintik biru. Ubi yang berwarna kuning, orange sampai merah
banyak mengandung karotenoid yang merupakan precursor bagi vitamin A. Ubi jalar
ini mengandung protein kadar rendah tetapi kualitas protein cukup baik dengan
protein score 81. Timbunan kalori dalam ubi jalar berbentuk karbohidrat. (Rukmana,
1997).
Ubi jalar merupakan jenis yang banyak dibudidayakan dan diolah menjadi
berbagai jenis bahan olahan karena mengandung antosionin yang tinggi dan sebagai
bahan pangan sumber kalori, contohnya: es krim, campuran selai buah, kue kering,
kripik dan lain sebagainya, banyak dibudidayakan di kabupaten malang. Adapun dari
jenis ubi jalar yaitu ubi jalar jingga merupakan sumber vitamin C dan -karoten
(provitamin A) yang sangat baik, kandungan -karotennya lebih tinggi dibandingkan
ubi jalar lainnya, dan juga mengandung vitamin B yang sedang(tengah-tengah).
2.2 Sistem Transportasi Melalui Membran Sel pada Jaringan Tumbuhan
Pada dasarnya pengangkutan membran sel dapat terjadi secara pasif maupun
secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah gradien
konsentrasi, artinya dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggimenuju larutan yang
memiliki konsentrasi rendah tanpa memerlukan energi hasil metabolisme karena
prosesnya searah gradien konsentrasi. Sedangkan pada proses pengangkutan secara
aktif memerlukan energy hasil metabolisme seperti ATP (Adenosin Tri Phospat)
kerena prosesnya melawan gradien konsentrasi.
Difusi dan osmosis merupakan contoh proses pengangkutan secara pasif. Difusi
adalah pergerakan partikel dari daerah tempat partikel itu lebih pekat ke daerah yang
partikelnya kurang pekat, lalu terjadi sebaliknya hingga partikel-partikel tersebut
tersebar merata.(loveles, 1987).
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium.
Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi
lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat
pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui
stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses
fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan
konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui
stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan
untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan
air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin,
dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses
difusi.(Anonymous a, 2009)
Osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeable secara differensial dari
satu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah.
Maksud dari konsentrasi adalah konsentrasi pelarutnya yaitu air dan bukan
konsentrasi dari zat terlarut (molekul atau ion) dalam air itu. Oleh karena itu, osmosis
juga bisa diartikan sebagai perpindahan molekul air dari konsentrasi air yang tinggi
ke konsentrasi air yang rendah melalui membran semi permeabel. Membran semi
permeabel adalah membran yang hanya mengijinkan lalunya air dan menghambat
lalunya zat-zat terlarut.
Osmosis pada Jaringan Tumbuhan
Pada struktur sel tumbuhan, ditengah protoplasma terdapt vakuola yang dilapisi
oleh lapisan protoplasma yang sifatnya semipermeabel, di sebelah luar terdapat
dinding sel. Cairan sel tumbuhan pada umunya merupakan larutan hipertonis
dibandingkan dengan cairan disekelilingnya, misalnya pada bulu akar dibandingkan
dengan air tanah. Cairan ini sebagaian besar menempati vakuola.
Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran.
Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi
tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang
diperlukan untuk mencegah osmosis.
Sel tumbuhan mengambil air dari sekelilingnya dengan cara osmosis. Air masuk
vakuola dan menekan protoplasma, protoplasma menekan dinding sel, tekanan pada
dinding sel ini disebut tekanan turgor. Karena tekanan turgor dinidng sel sedikit
mengembang pada saat tekanan turgor dinding sel mengembang secara maksimum
dikatakan sel mempunyai turgor penuh atau turgid penuh. Jika tumbuhan kekurangan
air akan terjadi plasmolisis pada sel-selnya, makan tumbuhan akan menjadi layu. Di
dalam kehidupan sehari-hariperistiwa terjadinya plasmolisis jika tanaman layu karena
kekurangan air, sedangkan tegaknya tumbuhan muda atau daun disebabkan sel-selnya
dalam keadaan turgor penuh.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potensial Osmotik
Meskipun potensial osmotik tidak dipengaruhi oleh tekanan, tetapi ada faktor lain
yang dapat mempengaruhinya, yaitu :
a. Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial
osmotiknya. Bila zat terlarut buka elektrolit dan molekulnya tidak mengikat air
hidrasi, maka potensial osmotik larutan tersebut akan sebanding dengan
konsentrasi molalnya.
b. Ionisasi molekul zat terlarut
Potensial osmotik suatu larutan tidak ditentukan oleh macam zatya, tetapi
ditentukan oleh jumlah zat partikel (ion, molekul dan partikel koloid) yang
terdapat di dalam larutan tersebut. PO lebih bergantung pada perbandingan
antaraa jumlah pelarut dengan partikel yang dikandungnya.

c. Hidrasi molekul zat terlarut
Air yang berionisasi dengan partikel zat terlarut biasanya disebut air hidrasi.
Air dapat berionosasi dengan ion, molekul atau pertikel koloid. Dampak dari air
hidrasi adalah larutan menjadi lebih pekat.
d. Suhu
Potensial osmotik suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu.
Potensial osmotik suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan suhu
absolutnya.

2.3 PotensialAir
Potensial kimia adalah energi bebas per mol substansi di dalam suatu system
kimia. Oleh karena itu, potensial kimia suatu senyawa di bawah kondisi tekanan dan
temperatur konstan tergantung kepada jumlah mol substansi yang ada. Dalam hal
hubungan air dan tanaman, potensial kimia dari air sering dinyatakan dengan istilah
potensial air . Selanjutnya, bila potensial kimia dapat dinyatakan sebagai ukuran
energi dari suatu substansi yang akan bereaksi atau bergerak, maka potensial air
merupakan ukuran dari enegi yang tersedia di dalam air untuk bereaksi atau bergerak.
Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat kemampuan molekul-molekul air
untuk molekul difusi.
Potensial air murni adalah nol (0), adanya beberapa substansi yang terlarut di
dalam air tersebut akan menurunkan potensial airnya, sehingga potensial air dari
suatu larutan adalah kurang dari nol. Definisi ini hanya berlaku pada tekanan
atmosfir. Apabila tekanan di sekitar sistem di tingkatkan atau di turunkan, maka
secara otomatis potensial air akan naik atau turun sesuai dengan perubahan tekanan
tersebut. Di dalam suatu sel, potensial air memiliki dua komponen, yaitu potensial
tekanan dan potensial osmosis. Potensial tekanan dapat menambah atau mengurangi
potensial air, sedangkan potensial osmosis menujukkan setatus larutan di dalam sel
tersebut. Dengan memasukkan suatu jaringan tersubut ke dalam seri larutan yang
telah di ketahui potensial airnya, maka potensial air jaringan tunbuhan tersebut dapat
diketahui
Potensial air merupakan alat diagnosis yang memungkinkan penentuan secara
tepat keadaan status air dalam sel atau jaringan tumbuhan. Semakin rendah potensial
dari suatu sel atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman
untuk menyerap air dari dalam tanah. Sebaliknya, semakin tinggi potensial air,
semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan air kepada sel yang
mempunyai kandungan air lebih rendah.
Huruf yunani psi(), digunakan untuk menyatakan potensial air dari suatu
system, apakh system itu berupa sampel tanah tempat tumbuhan, atau berupa suatu
larutan. Potensial air dinyatakan dalam bar.Pada umumnya nilai potensial air dalam
tumbuhan mempunyai nilai yang lebih kecil dari 0 bar, sehingga mempunyai nilai
yang negative. Nilai potensial air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan
mempengaruhi difusi air dari dan ke dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada
tiga faktor yang menetukan nilai potensial airnya, yaitu matriks sel, larutan dalam
vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan potensial air
dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu potensial matriks,
potensial osmotik dan potensial tekanan (Wilkins, 1992).







BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis percobaan yang dilakukan adalah percobaan eksperimental, karena
percobaan dilakukan di laboratorium dan pada percobaan ini terdapat variabel
manipulasi, variabel kontrol dan variabel respon untuk memperoleh data.

3.2 Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan yaitu:
a. Variabel Manipulasi : Konsentrasi larutan sukrosa (0 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6
M; 0,8 M dan 1 M).
b. Variabel kontrol : Jenis umbi ubi jalar, ukuran awal potongan silinder
umbi ubi jalar, volume air, alat pengebor gabus dan lama perendaman
c. Variabel respon : Perubahan panjang potongan umbi ubi jalar
3.3 Alat dan Bahan
a. Alat
- Gelas kimia 100 ml 6 buah
- Gelas ukur 50 ml 1 buah
- Alat pengebor gabus
- Penggaris
- Pisau Tajam
- Pinset
- Plastik
- Karet Gelang
b. Bahan
- Umbi ubi jalar secukupnya
- Larutan sukrosa 0 M, 0,2 M, 0,4 M, 0,6 M, 0,8 M dan 1 M


3.4 Langkah Kerja
1) Mengukur dan mengidentifikasi. Isilah gelas kimia ke-1 dengan larutan
sukrosa 0 M, gelas kimia ke-2 dengan larutan sukrosa 0,2 M dan seterusnya
sampai gelas kimia ke-6, masing-masing 25 ml. beri label pada masing-
masing gelas kimia tersebut.
2) Mengerjakan praktikum. Pilih umbi ubijalar yang cukup besar dan baik,
buatlah silinder umbi dengan alat pengebor gabus. Potong-potong silinder
umbi tersebut sepanjang 2 cm.
3) Masukkan potongan umbi tersebut kedalam gelas kimia yang telah diisi
dengan larutan sukrosa pada berbagai konsentrasi, masing-masing 4 potongan.
Catat waktu pada saat memasukkan potongan umbi ke dalam gelas kimia.
Bekerjalah dengan cepat untuk mengurangi penguapan, dan tutup rapat gelas
kimia selama percobaan.
4) Menghitung. Hitung nilai rata-rata pertambahan panjang mbi untuk setiap
konsentrasi larutan sukrosa.
3.5 Alur Kerja









Isi 6 gelas kimia dengan larutan sukrosa (0 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M dan
1 M )
Umbi ubi jalar buat silinder dengan pelubang gabus potong silinder
2 cm
Potongan umbi dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi larutan sukrosa
masing-masing 4 potong.
Setelah 1,5 jam keluarkan setiap potongan umbi ukur kembali
panjangnya
Hitung nilai rata-rata pertambahan pemanjangan ubi padasetiap konsentrasi
larutan sukrosa
Rata-rata penambahan panjang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada praktikum yang kami lakukan didapatkan hasil pertambahan potongan
umbi ubi jalar semakin berkurang dengan konsentrasi larutan sukrosa yang terus
meningkat. (tabel 1)
Pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang jaringan
umbi ubijalar
Konsentrasi
sukrosa (M)
Panjang awal
(cm)
Panjang akhir
(cm)
Pertambahan
panjang (cm)
Rata-rata
pertambahan
panjang (cm)
0
2 2,2 0,2
0,125
2 2 0
2 2,2 0,2
2 2,1 0,1
0,2
2 2,2 0,2
0,1
2 2 0
2 2,1 0,1
2 2,1 0,1
0,4
2 2,2 0,2
0,075
2 2,1 0,1
2 2 0
2 2 0
0,6
2 1,9 -0,1
-0,025
2 2 0
2 2 0
2 2 0
0,8
2 2 0
-0,075
2 1,9 -0,1
2 1,9 -0,1
2 1,9 -0,1
1
2 1,8 -0,2
-0,175
2 1,8 -0,2
2 1,8 -0,2

2 1,9 -0,1
Tabel 1.
4.2 Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh diatas, maka dibuat grafik untuk mengatahui
pengaruh konsentrasi terhadap perubahan panjang umbi ubi jalar dengan
menggunakan data rata-rata pertambahan panjang pada setiap konsentrasi larutan
sukrosa.


0.125
0.1
0.075
-0.025
-0.075
-0.175
-0.175
-0.125
-0.075
-0.025
0.025
0.075
0.125
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
R
a
t
a
-
r
a
t
a

p
e
r
t
a
m
b
a
h
a
n


p
a
n
j
a
n
g

(
c
m
)

Konsentrasi larutan (M)
Pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang unbi
ubi jalar
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa perubahan penjang umbi umbi
jalar semakin menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan sukrosa.
Pada konsentrasi 0 M rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,125 cm dari ukuran
semula, pada 0,2 M rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,1 cm, pada 0,4 M rata-
rata pertambahan panjang sebesar 0,075 cm, dan semakin menurun hingga pada
konsentrasi 0,6 M panjang umbi ubi jalar mulai berkurang rata-rata 0,025 cm dari
ukuran semula, pada 0,8 M rata-rata pertambahan panjang berkurang hingga 0,075
cm, serta pada 1 M rata-rata pertambahan panjang berkurang hingga 0,175 cm.
Besarnya konsentrasi yang tidak menyebabkan perubahan panjang juga dapat
dilihat dari grafik diatas, yakni sebesar 0,56 M. Kemudian dihitung nilai potensial air
jaringan tumbuhan ubi jalar pada suhu ruang sebesar 301 K dengan rumus;
PA = -TO
PA= -(

)
Dengan :
M = konsentrasi larutan yang tidak menyebabkan pertambahan panjang (0,56 M)
T = suhu ruangan (301 K)
Dari perhitungan diatas, potensial air jaringan umbi ubi jalar sebesar -13,83 atm.
4.3 Pembahasan
Osmosis ialah proses pergerakan molekul pelarut (air) dari satu larutan yang
cair (larutan hipotonik) ke satu larutan yang lebih pekat (larutan hipertonik) melalui
membran semipermiabel. Potensial osmosis selalu bernilai negative.Karena titik nol
dari potensial osmosis di ambil dari air murni yang bebas ion.
Hubungan antar potensial air adalah dengan melibatkan peristiwa osmosis
karena osmosis merupakan peristiwa difusi dimana antara dua tempat tersedianya
difusi dipisahkan oleh membran atau selaput. Difusi merupakan perpindahan molekul
atau ion yang berbeda konsentrasinya, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah sedangkan osmosis merupakan proses difusi air (perpindahan air) pada
organisme dimana molekul yang berdifusi harus menerobos pori-pori membran
plasma yang bersifat semi permeabel (Kustiyah: 2007)
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini, dapat diketahui bahwa
terjadi perubahan panjang umbi ubi jalar yang di rendam pada larutan sukrosa.
Peningkatan panjang umbi ubi jalar terjadi pada rendaman larutan sukrosa dengan
molaritas 0 sampai 0,4 sedangkan penurunan panjang umbi ubi jalar terjadi pada
rendaman larutan sukrosa dengan molaritas 0,6 sampai 1. Untuk potensial air sel
umbi ubi jalar sendiri, dengan semakin meningkatnya molaritas larutan sukrosa maka
semakin negatif pula nilai potensial air sel umbi jalar tersebut.
Peningkatan panjang umbi ubi jalar terjadi disebabkan oleh masuknya air di
dalam larutan sukrosa ke dalam sel umbi ubi jalar dengan cara osmosis. Namun,
perendaman umbi ubi jalar dengan larutan sukrosa tidak selalu meningkatkan
panjangnya.Panjang umbi ubi jalar yang telah mengalami perendaman dapat menjadi
lebih kecil daripada panjang umbi ubi jalar semula.Hal ini juga disebabkan oleh
keluarnya air dari sel ubi jalar secara osmosis pula. Keluarnya air ini disebabkan oleh
larutan sukrosa tersebut memiliki potensial air yang lebih negatif daripada potensial
air sel, sehingga air akan berpindah dari dalam sel ke larutan sukrosa. Air
meninggalkan sel, dan volume sel mengecil. Potensial air sel akan terus menurun
sehingga mencapai kesetimbangan dengan potensial air larutan sukrosa.
Umbi ubi jalar bersifat hipotonik dan gula bersifat hipertonik maka air yang
berada pada ubi jalar bergerak keluar sehingga kadar air pada ubi jalar berkurang dan
semakin besar zat terlarut yang diserap oleh umbi ubi jalar, makin besar air yang
keluar dari umbi ubi jalar tersebut. Dan jika hal tersebut terjadi pada tanaman yang
masih aktif bertumbuh, maka tanaman bisa mengalami cekaman akibat terganggunya
proses absorbsi air. Ini terjadi karena banyaknya zat terlarut di dalam sel atau jaringan
tumbuhan akan meningkatkan nilai potensial osmotik dari tumbuhan itu sendiri,dan
menurunkan nilai potensial airnya.
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan panjang umbi ubi jalar
setelah perendaman menjadi berkurang, selain perbedaan potensial air yang telah
dijelaskan di atas.Faktor-faktor tersebut diantarannya yaitu sewaktu pengukuran
panjang umbi ubi jalar setelah direndam, banyak praktikan yang mengeringkan
sample dengan ditekan-tekan sehingga ada kemungkinan bahwa air yang terserap
oleh sel keluar kembali (terserap oleh kertas tissue). Kemungkinan yang kedua
adalah waktu perendaman yang tidak seragam antar sample kentang yang akan di
uji.
Nilai potensial air (PA) pada potongan umbi ubi jalar adalah -13,83 atm
yang berarti pada kondisi tersebut tidak terjadi pertambahan panjang pada konsentrasi
0,56 M.

4.4 Diskusi
1. Mengapa perlu dicari nilai konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan
pertambahan panjang potongan umbi ubi jalar dalam menentukan potensial air
(PA)?
Jawab : karena dalam menentukan PA perlu diketahui potensial tekanan (PT)
dan potensial osmosis (PO). Dalam hal ini diketahui bahwa PT = 0 karena tidak
terjadi pertambahan panjang potongan silinder wortel sehingga PA dapat
diketahui sama dengan PO (PA = PO + PT PA = PO + 0 PA = PO) yang
berarti pada larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang
mempunyai nilai PO yang sama dengan PA yang dimiliki oleh potongan silinder
wortel. Sehingga wortel panjangnya tetap, yaitu tidak terjadi keluar atau masuk
air ke dalam sel.
2. Mengapa nilai potensial air sel umbi ubi jalar yang tidak berubah panjangnya
sama dengan nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang tidak menyebabkan
pertabahan panjang potongan umbi ubi jalar tersebut ?
Jawab : karena PA = PO maka PT = 0, hal ini terjadi karena tekanan turgor pada
dinding sel terjadi dan disebabkan karena PA pada ubi jalar bernilai sama dengan
PO yang dimiliki larutan sukrosa, sehingga tidak terjadi keluar atau masuk air ke
dalam sel atau keluar sel.



















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa:
1) Semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa, maka pertambahan panjang
potongan jaringan umbi ubi jalar akan semakin berkurang.
2) Konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebakan perubahan irisan jaringan
umbi ubi jalar adalah sebesar 0,56 M.
3) Nilai potensial aiar jariangn tumbuhan umbi ubi jalar adalah -13,83 atm.

5.2 Saran
Pada praktikum Penentuan Potensial Air Jaringan Tumbuhan perlu
ditingkatkan kehatia-hatian para praktikan dalam melakukan semua langkah kerja,
seperti pemotongan silinder umbi ubi jalar agar benar-benar tepat ukurannya.Waktu
lama perendaman juga harus benar-benar diperhatikan, karena selisih waktu beberapa
menit dapat mengurangi keakuratan data yang dihasilkan. Serta pada saat pengiringan
hendaknya jangan terlalu lama,karena air yang telah terserap masuk dalam jaringan
umbi ubi jalar bisa keluar karena diserap oleh kertas tisu, sehingga perubahan
panjangnya tidak sesuai dengan yang diharapkan..





DAFTAR PUSTAKA
Rahayu, Yuni Sri. 2012. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Jurusan
Biologi FMIPA UNESA
Rukmana R., 1997. Ubi Kayu Budi daya dan Paska Panen.Kanisius.Yogyakarta.
Kustiyah.2007. Miskonsepsi Difusi dan Osmosis pada Siswa MAN Model
Palangkaraya. Jurnal Ilmiah Guru Kanderang Tingang, Volume 01,
Nomor 01.
Salisbury, F.b dan Ross, C.W.1995.FISIOLOGI TUMBUHAN jilid 1 edisi IV.Alih
bahasa Luqman, RR dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung
Wilkins, M.B., 1992. Fisiologi Tanaman. Penerjemah Sutedjo M.M dan
Kartasapoetra A.G. penerbit Bumi Aksara: Jakarta.
Loveles, A.R., 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.
Penerjemah Kuswata Kartawinata Ph.D, Sarkat Danimiharja M.Sc dan Usep
Soetisna Ph.D. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta











Lampiran 1
- Menghitung rata-rata pertambahan panjang potongan silinder wortel
Konsentrasi 0 M = 0,125 cm
Konsentrasi 0,2 M = 0,1 cm
Konsentrasi 0,4 M = 0,075 cm
Konsentrasi 0,6 M = -0,025
Konsentrasi 0,8 M = -0,075
Konsentrasi 1 M = -0,175

- Menghitung nilai PA
Diketahui : M = 0,56 M
T = 273 + 28 = 301 K
Ditanya : PA ?
Jawab :
PA = PO + PT PT = 0
PA = PO PO = -TO
PA = -
273
4 , 22 xMxT

= -


= -13,83 atm
Jadi, PA = -13,83atm