Anda di halaman 1dari 55

65

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan


Bab. III
ANALISA PERMASALAHAN

3.1. Angka Kematian
Mortalitas atau kematian dapat menimpa siapa saja, tua, muda, kapan dan
dimana saja. Kasus kematian terutama dalam jumlah banyak berkaitan dengan
masalah sosial, ekonomi, adat istiadat maupun masalah kesehatan lingkungan.
Indikator kematian berguna untuk memonitor kinerja pemerintah pusat maupun
daerah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai
sasaran Millenium Development Goals (MDG) untuk menurunkan angka kematian
anak menjadi 20 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2015 dan menurunkan kematian
Ibu sebesar 124 per 100.000 kelahiran. Indikator mortalitas atau angka kematian
yang umum dipakai adalah Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate
(CDR); Angka Kematian Bayi (AKB); Angka Kematian Balita (AKBa 0-5 tahun);
Angka Kematian Anak (AKA 1-5 tahun); Angka Kematian IBU (AKI) dan Umur
Harapan Hidup (UHH) atau Life Expectancy. (http://www.datastatistik-
indonesia.com)

3.1.1. Angka Kematian Kasar
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian
per 1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) menunjukkan berapa besarnya kematian
yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut
kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai
risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
66

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Kegunaan Angka Kematian Kasar adalah sebagai indikator sederhana yang
tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator
kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai
keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila
dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan
pertumbuhan penduduk alamiah. Di tahun 2013 belum ada data yang jelas untuk
angka kematian kasar di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan.

3.1.2. Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia
dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian
bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat satu tahun. Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial
ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung
Sasaran Millenium Development Goals (MDG) adalah menurunkan angka
kematian anak menjadi 20 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2015. Banyak faktor
yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya,
kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal
adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, umumnya
disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari
orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Kegunaan Angka
Kematian Bayi adalah untuk pengembangan perencanaan yang berbeda karena
kematian neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan
kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neonatal
adalah yang berkaitan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil.
67

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Pada tahun 2013 telah terjadi 7 kematian bayi neonatal dengan perincian 5
kematian perinatal (usia 0-7 hari) dan 2 kematian neonatal (usia 8-28 hari)
Tabel 22
Penyebab Kematian Neonatal Tahun 2013
No Penyebab Kematian Jumlah Desa Keterangan
1 Kelainan Kongenital 2
Sukadadi perinatal
Bogorejo perinatal
2 Asfiksia 2
Pampangan perinatal
Bagelen perinatal
3 Kelainan jantung 1 Way Layap perinatal
4 Asfiksia 2
Karang Anyar neonatal
Way Layap neonatal
Sumber : Data KIA Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Kematian bayi eksogen atau kematian post neonatal, adalah kematian bayi
yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Sedangkan Angka Kematian post neonatal dan Angka Kematian Anak serta
Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta
program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program
penyuluhan gizi dan pemberian makanan tambahan untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Pada tahun 2013 telah terjadi 2 kematian bayi post neonatal, jadi total
kematian bayi yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
adalah 9 kematian bayi.
Tabel 23
Penyebab Kematian Post-Neonatal Tahun 2013
No Penyebab Kematian Jumlah Desa Keterangan
1 Suspek diare 1 Bagelen bayi
2 Suspek intra cranial haematoma 1 Bogorejo bayi
Sumber : Data KIA Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan kedua tabel diatas diketahui bahwa kasus kematian bayi tertinggi
terjadi pada kelompok perinatal (usia 0-7 hari), dan penyebab kematian tertinggi
adalah karena asfiksia sebanyak 4 kasus. Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru
lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Adapun data kematian bayi di
68

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2011, 2012 dan tahun
2013 dapat dilihat pada grafik 1 berikut ini :

Grafik 1
Kematian Bayi di Wilayah Kerja Tahun 2009, 2010 dan 2011

Sumber : Data KIA Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Dari grafik 1 diketahui bahwa kasus kematian bayi di wilayah Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan dalam tiga tahun cenderung berfluktuasi, tahun 2011
terjadi 8 kasus kematian bayi, jumlah tersebut turun menjadi 5 kasus kematian bayi
ditahun 2012, kemudian pada tahun 2013 jumlah kasus kematian bayi meningkat
menjadi 9 kasus. Berdasarkan data yang ada pula diketahui bahwa angka kematian
bayi masih berada dibawah Sasaran Millenium Development Goals (MDG) yaitu 20
per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2015.

3.1.3. Angka Kematian Balita
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru
lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari).
Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Angka Kematian Balita adalah
adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000
anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
Berdasarkan data yang ada pada tahun 2011 dan tahun 2013 tidak dijumpai
kasus kematian balita namun pada tahun 2012 telah terjadi 1 kasus kematian balita
suspeck encephalitis terjadi di Desa Cipadang.
0
10
8
5
9
2011 2012 2013
69

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
3.1.4. Angka Kematian Ibu
Definisi Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan
pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang
lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
(Budi, Utomo. 1985 dalam http://www.datastatistik-indonesia.com).
Kegunaan dari AKI adalah untuk pengembangan program peningkatan
kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang
aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah
kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistim rujukan dalam
penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam
menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka
Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.
Pada tahun 2013 tidak terjadi kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Rawat
Inap Gedong Tataan, namun pada tahun sebelumnya terjadi kematian ibu Jumlah dan
penyebab kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
tahun 2011, 2012, 2013 dapat dilihat pada tabel 24 berikut:
Tabel 24
Penyebab Kematian Ibu tahun 2011 sd 2013
No Penyebab Kematian
Tahun
2011 2012 2013
1 Perdarahan 1 2 0
2 Eklamsia 0 0 0
3 Emboli air ketuban 0 0 0
4 Anemia 0 0 0
5 Diabetes Melitus 0 1 0
6 Jantung 0 1 0
Total 1 4 0
Sumber : Data KIA Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Dari tabel diatas diketahui bahwa kasus kematian ibu di wilayah Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 cenderung
70

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
turun, pada tahun 2011 ditemukan 1 kasus kematian ibu karena perdarahan dan pada
tahun 2012 kasus kematian ibu meningkat dimana terjadi 4 kasus kematian ibu yang
disebabkan oleh 2 kasus perdarahan yang terjadi di Desa Sukadadi dan Desa
Cipadang, 1 kasus karena Diabetes Melitus di Desa Padang Ratu dan 1 kasus karena
penyakit Jantung di Desa Cipadang dan pada tahun 2013 tidak ada kasus kematian
ibu.

3.1.5. Umur Harapan Hidup (UHH)
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi
pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari
suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya
daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan,
mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang
lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang
pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan
memperpanjang usia harapan hidupnya.
Definisi Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun
hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x,
pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan
masyarakatnya. Angka Harapan Hidup Saat Lahir adalah rata-rata tahun hidup yang
akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu
Kegunaan adalah sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam
meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya dan meningkatkan derajat
kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus
diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya
termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program
pemberantasan kemiskinan. Belum ada data yang pasti mengenai Umur Harapan
71

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Hidup di Kabupaten Pesawaran, adapun UHH untuk Propinsi Lampung adalah 65
tahun.

3.2. Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka kesakitan adalah angka insidensi yang dipakai untuk menyatakan
jumlah keseluruhan orang yang menderita penyakit yang menimpa sekelompok
penduduk pada periode waktu tertentu. Sekelompok penduduk bisa mengacu pada
jenis kelamin tertentu, umur tertentu atau yang mempunyai cirri-ciri tertentu. Angka
kesakitan dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan kesehatan secara umum,
mengetahui keberahasilan program pemberantasan penyakit dan sanitasi lingkungan
serta memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap pelayanan kesehatan.
(http://dr-suparyanto.blogspot.com). Angka kesakitan di Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan pada tahun 2013 dapat dilihat dari pola penyakit terbesar, penyakit
menular dan penyakit tidak menular.

3.2.1. 10 Pola Penyakit Terbesar.
10 Pola Penyakit terbesar Puskesmas adalah 10 jenis penyakit dengan
kunjungan pasien rawat jalan di Puskesmas dan jaringannya baik Puskesmas
Pembantu maupun Puskesmas Keliling. Pola penyakit berdasarkan kunjungan
masyarakat ke Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan yang dikategorikan dalam 10
besar penyakit tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 22 berikut.
Pada tahun 2013 urutan pertama dari 10 pola penyakit terbesar adalah
Nasopharingitis akut (Common Cold) dengan jumlah 5.361 kasus. Nasopharingitis
akut tergolong dalam Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) bagian atas, Pada urutan
kedua adalah penyakit influenza dengan 2.931 kasus . Inflienza atau yang lebih
dikenal dengan sebutan flu, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
72

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
virus. Urutan ketiga dari 10 pola penyakit terbesar di puskesmas adalah Rhemathoid
Atritis yaitu 2.614 kasus.
Tabel 25
Distribusi 10 Besar Penyakit Tahun 2013
No Variable
Kode
Penyakit
Jumlah Kasus
L P Jumlah
1
Nasopharingitis akut (Common
Cold)
J00 2.469 2.892 5.361
2 Influenza J11.8 1.420 1.511 2.931
3 Rhemathoid Atritis M06.9 1.262 1.352 2.614
4
Dispepsia (gangguan fungsi
Lambung)
K30 1.132 1.283 2.415
5 Hipertensi I.10 1.026 1.045 2.071
6 Dermatitis Atopic L.20 507 576 1.083
7 Diare A.09 414 418 832
8 Caries gigi K02.9 217 305 522
9 Infeksi gigi A.09 188 262 450
10 Demam tifoid A01.0 163 194 357
Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan 2013
Rhemathoid Atritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan
proses inflamasi pada sendi yang dapat terjadi pada semua golongan umur dengan
resiko akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia.
Tabel 23
Distribusi 10 Penyakit Terbesar Tahun 2012
No Variable
Kode
Penyakit
Jumlah Kasus
L P Jumlah
1
Penyakit infeksi pd saluran nafas
bagian atas
1303 4.225 5.197 9.422
2 Gastritis 2201 2.562 3.094 5.656
3
Penyakit system otot dan jaringan
pengikat
21 1.317 1.399 2.716
4 Penyakit kulit infeksi 2001 980 1002 1982
5 Diare 0102 940 985 1.925
6 Penyakit Tekanan Darah Tinggi 12 950 975 1.925
7 Penyakit kulit alergi 2002 701 730 1.431
8
Penyakit infeksi pd saluran nafas
bagian atas lainya
1302 652 702 1.354
9 Influenza 1304 406 532 938
10 Karies gigi 1501 397 523 920
Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Bila membandingkan 10 pola penyakit terbesar tahun 2013 dengan tahun
2012 (tabel 23) diketahui bahwa tidak ada perubahan pola penyakit yang signifikan,
dimana diketahui bahwa pada tahun 2012 urutan pertama ditempati oleh penyakit
73

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
infeksi pada saluran nafas akut, urutan kedua gastritis dan pada urutan ketiga
penyakit system otot dan jaringan pengikat.

3.2.2. Pola Penyakit Menular
Penyakit menular dapat didefinisikan sebagai suatu penyakit yang dapat
ditularkan atau berpindah dari orang satu ke orang yang lain, baik secara langsung
maupun dengan perantara. Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agent atau
penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah serta menyerang host atau inang
atau penderita dan bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia
(seperti keracunan). (http://www.penyakitkesehatan.com.) Penyakit menular yang
berpotensi dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dan mempunyai kontribusi
besar pada kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong
Tataan, antara lain:

3.2.2.1.Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium
yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini
ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Diagnosis malaria dapat dilakukan
dengan pemeriksaan Rapid Diagnositik Test (RDT) dengan mekanisme kerja
berdasarkan deteksi antigen parasit malaria.
Pemeriksaan dengan RDT bermanfaat untuk digunakan pada unit gawat
darurat, saat kejadian luar biasa dan pada daerah terpencil yang tidak terdapat
fasilitas laboratorium, kemudian diagnosis malaria dapat dilakukan dengan
pemeriksaan mikroskopis yaitu dilakukan dengan menemukan parasit dalam pulasan
darah baik pulasan darah tipis maupun pulasan darah tipis yang diwarnai dengan
Giemsa dan diperiksa dengan mikroskop.
74

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tidak ada vaksin yang efektif untuk melawan malaria pengobatan malaria
dilakaukan dengan memberikan ACT atau artemisin pada penderita. Cara
pencegahan yang yang dapat dilakukan adalah dengan dengan menjauhkan nyamuk
dari manusia dengan memakai obat nyamuk, jaring nyamuk, pengasapan dan
menantau tempat perindukan nyamuk. Kasus malaria di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2011, 2012 dan tahun 2013 dapat dilihat pada
grafik 2 berikut :
Grafik 2
Kasus Malaria Tahun 2011, 2012, dan 2013

Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan Tahun 2013
Dari grafik 2 diketahui bahwa cakupan malaria klinis di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan cenderung berfluktuasi, tahun 2011 jumlah
penderita malaria klinis 93 penderita dari jumlah tersebut 93 orang telah diperiksa
darahnya, satu orang dinyatakan ditemukan Plasmodium vivak atau terkena malaria
dan sisanya 92 dinyatakan tidak ditemukan parasit malaria dalam sediaan darahnya.
Tahun 2012 jumlah suspek malaria meningkat menjadi 95 orang, semua
penderita telah diperiksa darahnya dari jumlah tersebut 1 orang dinyatakan
ditemukan Plasmodium vivak atau terkena malaria dan sisanya 94 dinyatakan tidak
ditemukan malaria dalam sediaan darahnya. Kemudian pada tahun 2013 jumlah
penderita malaria kembali turun menjadi 17 penderita, setelah diperiksa darahnya 1
penderita dinyatakan positif malaria Plasmodium falcifarum atau terkena malaria dan
16 orang tidak ditemukan malaria dalam sediaan darahnya.
0
50
100
2011 2012 2013
93
95
17
1 1 1
klinis mal post
75

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Annual Malaria Incidences (AMI) atau jumlah penderita malaria klinis di
suatu wilayah atau desa pada setiap 1000 penduduk, untuk wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan masuk dalam low incidence area yaitu < 5
0
/
00 .
Angka
AMI di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013 adalah
0.35
0
/
00 .
Distribusi penderita klinis malaria tahun 2013 di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan sebagai berikut Desa Sukaraja 13 penderita dan satu
penderita dinyatakan positif, Desa Karang Anyar dengan 2 penderita dan Desa
Bagelen dengan 2 penderita.

3.2.2.2.Demam Berdarah
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan
demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama
2 7 hari, manifestasi perdarahan seperti petekie, purpura, perdarahan konjungtiva,
epistaksis, ekimosis, perdarahan mukosa, perdarahan gusi, hematemesis, melena,
hematuri, termasuk uji Tourniquet (Rumple Leede) positif, trombositopeni (jumlah
trombosit 100.000/l, hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit >20%), juga disertai
dengan atau tanpa pembesaran hati. Penyakit demam berdarah dengue disebabkan
virus dengue, dengan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Data
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun 2011, 2012 dan 2013 dapat dilihat
pada grafik berikut
Grafik 3
Demam Berdarah Dengue Tahun 2011, 2012, dan 2013

Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan 2012
0
50
100
8
83
18
2011 2012 2013
76

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa penderita Demam Berdarah
Dengue di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan dari tahun 2011
sampai dengan 2013 cenderung berfluktuasi. Tahun 2011 jumlah penderita hanya 8
orang dan pada tahun 2012 jumlah penderita demam berdarah dengue meningkat
menjadi 83 orang dengan 1 penderita demam berdarah meninggal dunia. Namun
pada tahun 2013 jumlah penderita demam berdarah dengue turun menjadi 18
penderita. Distribusi penderita demam berdarah dengue perdesa di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013 adalah sebagai berikut :
Grafik 4
Distribusi Demam Berdarah Dengue Tahun 2013

Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan 2012
Berdasarkan grafik tersebut diketahui bahwa tahun 2013 jumlah penderita 13
orang, dengan jumlah penderita terbanyak di Desa Sukaraja dengan jumlah penderita
6 orang, Desa Kutoarjo dengan 5 penderita, Desa Bagelen, Sukadadi dan Desa
Pampangan dengan 2 penderita dan Desa Gedong Tataan dengan 1 penderita. Tidak
ada penderita DBD di Desa Bagorejo, Karang Anyar, Way Layap, Padang Ratu dan
Desa Cipadang.
Desa endemis demam berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Rawat
Inap Gedong Tataan adalah Desa Sukaraja, Desa Bagelen dan Desa Gedong Tataan.
Tindak lanjut penanggulangan demam berdarah dengue adalah dilakukan
penyelidikan epidemiologis atau PE dan dilakukan 3 M yaitu Menguras tempat
6
2
1
0
5
0
2
0
2
0 0
18
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
s
k
r
j
b
g
l
g
d
t
a
b
g
r
j
k
t
a
j
k
r
a
y
s
k
d
d
w
l
y
p
p
p
n
g
p
d
r
t
c
p
d
g
p
k
m
77

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
penampungan air secara rutin, seperti bak mandi dan kolam sebab bisa mengurangi
perkembangbiakan dari nyamuk itu sendiri atau memasukan beberapa ikan kecil
kedalam bak mandi atau kolam. Menutup tempat-tempat penampungan air, jika
setelah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan tempat air sebaiknya ditutup
agar nyamuk tidak bisa meletakan telurnya kedalam tempat penampungan air.
Kemudian mengubur barang-barang yang tidak terpakai yang dapat memungkinkan
terjadinya genangan air. Cara pengendalian lain adalah dengan pengasapan atau
fogging dan pemberian bubuk abate. Fogging dilakukan bila dalam 1 area ditemukan
2 penderita DBD atau lebih dan angka bebas jentik 20%.

3.2.2.3.Diare
Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan dan merupakan
gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lain. Diagnosa ditegakan bila
gejala buang air besar berulang kali lebih sering dari biasanya dengan
konsistensinya yang lembek dan cair. Cara sederhana untuk menghindari penyakit
diare adalah menggunakan merebus air sebelum diminum, membiasakan untuk cuci
tangan pakai sabun dan air bersih diantaranya dilakukan setelah buang air besar,
sebelum makan dan sebelum memberi makan bayi, menutup makanan dan mencuci
bahan makanan dengan menggunakan air bersih serta buang air besar di jamban,
atau dengan kata lain menerapkan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kriteria Kejadian Luar Biasa Diare (KLB Diare) adalah terjadi peningkatan
kejadian kesakitan atau kematian karena diare secara terus menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut (jam, hari, minggu). Peningkatan kejadian kematian kasus diare
2 kali atau lebih dibandingkan jumlah kesakitan atau kematian karena diare yang
biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu) atau Case Fatality
Rate (CFR) karena diare dalam kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50%
atau lebih dibandingkan priode sebelumnya.
78

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Penyakit diare yang terjadi di Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun
2011, 2012 dan 2013 dapat dilihat pada grafik 5 berikut ini:
Grafik 5
Kejadian Diare Tahun 2011, 2012 dan 2013


Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa kasus diare dari tahun 2011
sampai dengan tahun 2013 untuk semua golongan umur cenderung meningkat,
demikian pula halnya dengan kasus diare per golongan umur yang juga cenderung
meningkat. Untuk kasus diare pada golongan umur <1 tahun, cenderung meningkat
tahun 2011 terdapat 195 penderita, tahun 2012 jumlah tersebut meningkat menjadi
449 dan tahun 2013 jumlah penderita diare meningkat kembali menjadi menjadi 801
kasus.
Untuk kasus diare pada golongan umur 1 4 tahun, cenderung meningkat
tahun 2011 terdapat 200 penderita, tahun 2011 jumlah tersebut meningkat menjadi
503 dan tahun 2013 jumlah penderita diare meningkat kembali menjadi 890 kasus.
Untuk kasus diare pada golongan umur > 5 tahun, cenderung meningkat tahun 2011
terdapat 232 penderita, tahun 2011 jumlah tersebut meningkat menjadi 281 dan tahun
2013 jumlah penderita diare meningkat menjadi 319 kasus.
Angka kesakitan diare adalah 411/1000 penduduk, bila dibandingkan dengan
jumlah penduduk yang ada maka jumlah angka kesakitan diare untuk semua
golongan umur dengan jumlah penduduk 48.751 adalah 20.037 penderita. Distribusi
penyakit diare untuk tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 27 berikut ini
0
200
400
600
800
1000
<1 thn 1-4 thn >5 thn
1
9
5

4
4
9

8
0
1

2
0
0

5
0
3

8
9
0

2
3
2

2
8
1

3
1
9

2011 2012 2013
79

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tabel 27
Distribusi Penderita Diare Perdesa Tahun 2013
No Desa
Jumlah
Penduduk
Distribusi Diare
(Klompok Umur/tahun)
Jumlah
Angka
kesakitan
Diare <1 1 4 >5
1 Suka Raja 8.268 22 29 27 78 3.398
2 Bagelen 7.405 23 27 33 83 3.043
3 Gedong Tataan 4.982 24 22 22 68 2.048
4 Bogorejo 4.469 23 26 22 71 1.837
5 Karang Anyar 2.877 20 16 19 55 1.182
6 Kutoarjo 2.825 19 23 25 67 1.161
7 Suka Dadi 4.537 20 28 30 78 1.865
8 Way Layap 3.012 16 26 28 70 1.238
9 Pampangan 1.951 21 23 24 68 802
10 Padang Ratu 1.638 25 31 27 83 673
11 Cipadang 6.787 19 30 62 111 2.789
Puskesmas 48.751 232 281 319 832 20.037
Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa angka kesakitan diare masih
berada dibawah standar angka kesakitan. Berdasarkan tabel tersebut diketahui pula
bahwa Desa Cipadang memiliki penderita diare teringgi yaitu 111 untuk semua
golongan umur.

3.2.2.4.Campak
Penyakit campak adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dan
sangat menular, penyakit ini ditandai dengan demam, batuk, peradangan pada selaput
ikat mata (konjungtivitis) dan ruam pada kulit. Beberapa faktor yang dapat
meningkatkan resiko penyakit campak antara lain, umur keterkaitannya dengan
pemberian imunisasi dimana cakupan imunisasi yang intensif menghasilkan
perubahan distribusi umur penyakit campak dimana kasus lebih banyak pada anak
dengan usia yang lebih tua, tingkat pendidikan dan status gizi dimana kasus kemtian
campak tinggi pada anak-anak dengan kondisi mal nutrisi.
Penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi berupa pneumonia,
menurunnya jumlah trombosit bahkan dapat pula terjadi ensefalitis. Kekebalan
80

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
untuk penyakit ini diperoleh dengan memberikan imunisasi campak pada anak usia
9-11 bulan dan pada saat anak duduk di kelas I SD. Kejadian penyakit campak di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan dari tahun 2011 sampai dengan
tahun 2013 dapat dilihat pada grafik 6 berikut ini.
Grafik 6
Temuan Kasus Campak Tahun 2011, 2012, dan 2013


Sumber:Data Program Surveylance tahun 2013
Berdasarkan grafik diatas, diketahui bahwa kasus campak di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan cenderung turun, tahun 2011 ditemukan tiga
orang penderita campak, tahun 2012 ditemukan satu orang penderita campak yang
berasal dari Desa Suka Dadi dan pada tahun 2013 tidak ditemukan penderita campak.

3.2.2.5. Tuberkulosis Paru
Penyakit tubercolosis paru atau Tbc Paru, adalah penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium tubercolosis. Penyakit ini biasa menyerang paru-paru,
namun dapat pula menyerang organ organ lain. Gejala penyakit ini diantaranya
berupa batuk berdahak lebih dari 2 minggu, terkadamg disertai darah, berat badan
turun dan berkeringat dimalam hari.
Untuk menegakkan diagnosa tbc paru adalah dengan memeriksa dahak
seseorang yang diduga mengidap tbc. Pemeriksan dahak di lakukan secara SPS yaitu
Sewaktu saat kontak pertama; Pagi hari kedua dan Sewaktu juga saat hari kedua.
0
5 3
1
0
2011 2012 2013
81

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Hasil pemeriksaan mikroskopis ini sangat dijaga kualitas dengan melakukan cros cek
atau uji silang untuk menjaga hasil pemeriksaan sedian sputum.
Selain dengan pemeriksaan microskopis identifikasi terhadap bakteri
Mycobacterium tubercolosis dapat ditegakkan dengan foto rotgen. Usaha untuk
mencegah dan mengendalikan penyakit Tbc dapat dilakukan dengan memberikan
vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin). Sedangkan untuk pengobatan penderita
tuberkolosis paru dilakukan dengan memberikan Obat Pake Anti Tuberkolosis
(OAT) FDC (Fixed Dose Combination) berupa kombinasi beberapa jenis obat dalam
jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6 8 bulan, pengobatan ini terdiri dari 2
fase yaitu Fase Intensif dengan minum obat setiap hari selama 2 bulan dan Fase
Lanjutan dimana obat diminum seminggu 3 kali. Hasil kegiatan program P2 TBC
Paru tahun 2011, 2012 dan tahun 2013 sebagai berikut
Grafik 7
Hasil Kegiatan P2 TBC Paru Tahun 2011, 2012, dan 2013


Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013
Berdasarkan grafik 7 diketahui bahwa penemuan penderita tuberkolosis paru
dari tahun 2011 sampai tahun 2013 berfluktuasi. Tahun 2011 ditemukan 122
(18,92%) dan turun pada tahun 2012, dimana pada tahun tersebut hanya didapatkan
115 suspek tuberkolosis paru (15,61%) kemudian pada tahun 2013 jumlah suspek
kembali meningkat menjadi 175 (22.43%) orang.
0
50
100
150
200
2011 2012 2013
122
115
175
19
28 29
suspek Bta (+)
82

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Penemuan penderita tuberkulosis paru dengan kategori BTA (+) pun
cenderung meningkat, pada tahun 2011 ditemukan 19 (29,69%) penderita, tahun
2012 ditemukannya 28 (36,36%) penderita dan pada tahun 2013.
Grafik 8
Distribusi Penderita TBC 2013

Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013
Selain ditemukan 29 orang penderita tuberkolosis paru BTA (+), pada tahun
2013 juga ditemukan 6 penderita tuberkolosis paru BTA (-) RO (+), 1 penderita
ekstra paru dan 2 orang penderita tuberkolosis anak. Semua penderita Tuberkolosis
paru mengikuti pengobatan dan selama menjalakan proses pengobatan mereka
diawasi oleh PMO (Pengawas Menelan Obat) dengan hasil akhir pengobatan 25
orang dinyatakan sembuh, 8 orang dinyatakan sembuh dengan pengobatan lengkap,
3 orang pindah wilayah, 2 orang meninggal dunia.

3.2.2.6. Practical Approch to Lung Health (PAL)
Pendekatan Praktis Kesehatan Paru-paru atau Practical Approch to
Lung Health (PAL) mer upakan pendekat an t er padu dal am
penanganan gangguan pernapasan yang akan diterapkan di Indonesia. Sebagai
pendekatan baru, PAL perlu diperkenalkan, dipahami dan dilaksanakan dengan
benar, berdasarkan pendekatan sindrom dalam tatalaksana pasien gangguan saluran
pernafasan, PAL terdiri dari penyakit-penyakit seperti asma, tubercolosis,
6
4
2
0
5
1
2
4
1 1
3
29
0
1
0 0 0 0 0 0 0 0 0
1 1
2
0 0 0 0 0
1
0
2
0
6
0 0 0
1
0
1
0 0 0 0
1
3
0
2
0 0 0 0 0 0 0 0 0
2
0
5
10
15
20
25
30
35
s
k
r
j
b
g
l
g
d
t
a
b
g
r
j
k
t
a
j
k
r
a
y
s
k
d
d
w
l
y
p
p
p
n
g
p
d
r
t
c
p
d
g
p
k
m
TBC BTA + Kambuh RO + ekst paru anak
83

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
pneumonia dan paru-paru obstruksi kronis atau PPOK. Hasil kegiatan PAL di
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan adalah :
Tabel 25
Hasil Kegiatan PAL Tahun 2013
No Kegiatan PAL Hasil
1 Tbc Paru 29 penderita
2 Pneumonia 0 penderita
3 Asma 124 penderita
4 Paru-paru obstruksi kronis 32 penderita
Sumber : SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan tabel diatas diketahui untuk program Pendekatan Praktis
Kesehatan Paru, asma memiliki penderita paling tinggi 124 penderita,
dan belum ditemukannya penderita pneumonia.

3.2.2.7. HIV AIDS
Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang sel
darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh
manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat menularkan virusnya
kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik
dengan orang lain. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah
sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS
disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang
maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis,
berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium
AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah
virus HIV dalam tubuh.(http://www.aidsindonesia.or.id).
Tahun 2013 telah ditemukan 1 orang suspek HIV AIDS di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan dan telah dirujuk ke klinik VCT RS Abdul
Muluk Kota Bandar Lampung. Klinik Voluntary Counseling Test (VCT) Merupakan
pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV. VCT merupakan proses
84

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang
bersifat confidential dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.

3.2.2.8. Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR)
Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit Zoonosa yang
terpenting di Indonesia karena penyakit tersebut tersebar luas di 18 propinsi, dengan
jumlah kasus gigitan yang cukup tinggi setiap tahunnya sekitar 16.000 kasus gigitan,
belum diketemukan obat atau cara pengobatan untuk penderita rabies ini sehingga
hampir semua penderita rabies berakhir dengan kematian.
Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan ditularkan melalui gigitan
hewan penular terutama anjing, kucing dan kera. Penderita gigitan hewan pembawa
rabies dapat ditanggulangi dengan memberikan Vaksin Anti Rabies atau VAR. Hasil
kegiatan program P2 Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR) tahun 2011, 2012
dan 2013 dapat dilihat pada grafik 9 berikut :
Grafik 9
Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies Tahun 2011, 2012, dan 2013

Sumber : Data Program P2 Rabies Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan grafik 8 diketahui bahwa kasus Gigitan Hewan Pembawa Rabies
(GHPR) cenderung berfluktuasi, dimana pada tahun 2011 terjadi 5 kasus GHPR,
tahun 2012 kasus gigitan hewan tersangka rabies meningkat menjadi 9 kasus, dan
pada tahun 2013 jumlah kasus GHPR turun menjadi 5 kasus.
Distribusi kasus gigitan hewan pembawa rabies dapat dilihat pada tabel 29
berikut ini :
0
2
4
6
8
10
2011 2012 2013
5
9
5
85

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tabel 29
Distribusi Kasus GHPR tahun 2013
No Desa
Gigitan Hewan Tersangka Rabies Tindakan
anjing kucing kera Jumlah cuci luka var
1 Sukaraja 1 0 0 1 1 1
2 Bagelen 0 0 1 1 1 1
3 Gedong Tataan 0 0 0 0 0 0
4 Bogorejo 0 0 0 0 0 0
5 Karang Anyar 0 0 0 0 0 0
6 Kutoarjo 1 0 0 1 1 1
7 Sukadadi 0 0 0 0 0 0
8 Way Layap 0 0 1 1 1 1
9 Pampangan 0 0 0 0 0 0
10 Padang Ratu 0 0 0 0 0 0
11 Cipadang 0 1 0 1 1 1
Puskesmas
2 1 2 5 5 5
Sumber : Data Program P2 Rabies Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
distribusi penderita gigitan hewan pembawa rabies di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013 adalah dua orang penderita
digigit anjing berasal dari Desa Suka Raja dan Desa Kutoarjo. Satu penderita digigit
kucing berasal dari Desa Cipadang dan dua orang penderita digigit oleh kera berasal
dari Desa Bagelen dan Desa Way Layap, semua pennderita telah cuci luka dan
dirujuk ke RS untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR).

3.2.2.9.Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, yang
meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.
Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari saluran napas
mulai dari hidung (saluran bagian atas) hingga jaringan di dalam paru-paru (saluran
bagian bawah).
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.
86

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan
yaitu pneumonia (radang paru-paru) dan yang bukan pneumonia.
Hasil kegiatan program P2 ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) tahun
2012 dan tahun 2013 dapat dilihat pada grafik 10 berikut :
Grafik 10
Infeksi Saluran Pernapasan Akut Tahun 2011 sd 2013

Sumber : Data Program P2 ISPA Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa penderita Infeksi Saluran
Pernapasan bagian Atas non pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan dari tahun 2012 dan tahun 2013 untuk semua kelompok umur
cenderung mengalami penurunan.
Untuk ISPA non pneumonia kelompok umur <1 tahun mengalami penurunan
dari 939 penderita tahun 2012 menjadi 815 Kasus ISPA non pneumonia pada tahun
2013. ISPA non peneumonia kelompok umur 1-4 tahun cenderung mengalami
penurunan, pada tahun 2012 terjadi 3.317 kasus ISPA non pneumonia jumlah
tersebut turun menjadi 1.526 pada tahun 2013. Dan pada kelompok umur >5 tahun
kasus ISPA non pneumonia cenderung meningkat, dimana pada tahun 2012 terjadi
5.974 jumlah tersebut turun menjadi 1.479 di tahun 2013.
Sedangkan distribusi penderita ISPA non pneumonia berdasarkan jenis
kelamin adalah penderita ISPA umur <1 tahun terdiri atas laki-laki 392 dan
perempuan 423 dengan total penderita 815; penderita ISPA umur 1-5 tahun terdiri
0
2000
4000
6000
2012 2013
939
815
3317
1526
5974
1479
0 0
<1 thn 1-4 thn >5 thn Pneumonia
87

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
atas laki-laki 769 dan prempuan 757 dengan total penderita 1.526 dan penderita
ISPA kelompok umur > 5 tahun terdiri dari laki-laki 771 dan perempuan 708 dengan
total penderita 1.479.

3.2.2.10. Chikungunya
Chikungunya adalah penyakit sejenis demam virus yang disebabkan
alphavirus. Virus ini masih satu keluarga dengan Virus Dengue, penyebab Demam
Berdarah Dengue (DBD). Demam Chikungunya sering rancu dengan DBD karena
mempunyai gejala yang awal yang hampir sama, tetapi gejala nyeri sendi merupakan
gejala yang penting pada demam Chikungunya, untuk membedakannya adalah
dengan melakukan pemeriksaan laboratorium darah pada demam hari ke 3. Serangan
demam Chikungunya dalam bentuk KLB (kejadian luar biasa) sudah sering terjadi,
terutama pada musim penghujan. (http://www.inicaraku.com).
Chikungunya disebarkan melalui gigitan nyamuk spesies Aedes aegypti.
Nama Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita,
yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita
yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia).
Grafik 11
Kasus Chikungunya Tahun 2010 sampai Tahun 2013

Sumber : Data Surveylance Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan 2013
Grafik 13 menunjukkan hasil kegiatan penemuan dan pengobatan penyakit
cikungunya di Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2011, 2012 dan tahun
2013. Berdasarkan grafik tersebut diketahui bahwa dalam tiga tahun terakhir, tidak
0
0.5
1
0 0 0
2011 2012 2013
88

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
terjadi penemuan kasus chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan

3.2.2.11. Demam Tifoid
Demam tifoid dikenal juga sebagai penyakit tifus, merupakan infeksi berat
pada saluran cerna yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini
dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi karena
penanganan yang tidak bersih atau higienis. Bakteri Salmonella typhi akan masuk ke
dalam saluran cerna dan masuk ke peredaran darah hingga terjadi peradangan pada
usus halus dan usus besar.
Gejala penyakit demam tifoid adalah demam, sakit kepala, mual, muntah,
nafsu makan menurun, sakit perut, diare pada anak-anak atau sembelit pada orang
dewasa. lidah ditutupi selaput putih kotor, pembesaran hati dan limpa serta terasa
nyeri bila diraba dan perut kembung.
Diagnosa demam tifoid selain dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter, juga
sangat diperlukan pemeriksaan laboratorium seperti Kultur Gal dan pemeriksaan
Widal. Pengobatan untuk penderita demam tifoid berupa obat anti diare dan
antibiotika. Pencegahan terhadap penyakit demam tifoid dilakukana dengan pola
makan sehat, menjaga kebersihan dan rajin mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun. (http://prodia.co.id).
Hasil kegiatan penemuan penderita demam tifoid tahun 2013 dapat dilihat
pada tabel 30. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa pada tahun 2013
ditemukan 401 penderita demam tifoid dan penderita demam tifoid tertinggi ada pada
kelompok umur 15-44 tahun yaitu 190 penderita, dan berdasarkan jenis kelamin
penderita demam tifoid banyak menyerang kaum perempuan yaitu 238 penderita.



89

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tabel 30
Distribusi Penderita Demam Tifoid Tahun 2013
No
Penderita Demam Tifoid Berdasarkan
Golongan Umur
Jumlah Penderita
L P T
1 1 4 tahun 2 2 4
2 5 - 14 tahun 51 85 136
3 15 44 tahun 77 113 190
4 >45 tahun 33 38 71
Jumlah 163 238 401
Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan

3.2.2.12. Kusta
Penyakit kusta merupakan penyakit yang ditandai dengan gejala infeksi
kronis yang terjadi pada jaringan saraf dan juga kulit. Penyebab penyakit ini adalah
Mycobacteriym leprae. Basil penyakit kusta atau lepra ini mirip dengan basil pada
penyakit Tubercolosis, Ada 3 tingkatan dalam penularan penyakit kusta itu yakni :
1. Seseorang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang tinggi terhadap bakteri
kusta, maka orang tersebut akan lebih resisten terhadap bakteri kusta.
2. Seseorang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah, lebih cenderung
lebih mudah terinfeksi bakteri kusta dengan penderita kusta lainnya, namun
penyakit kusta ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya.
3. Seseorang yang memiliki pertahanan tubuh yang sangat lemah, maka
kemungkinan risiko lebih besar terhadap penularan kusta. Jika orang yang
terkena kusta melakukan kontak langsung dan dalam kurun waktu yang cukup
lama sekitar 2-5 tahun akan membawa bakteri kusta dan bila tidak segera
diobati, maka orang tersebut akan menderita kusta. Dan memiliki risiko tinggi
untuk menularkan bakteri kusta kepada orang lain disekitarnya.
http://penyakitkusta.com).
Hasil kegiatan penemuan dan pengobatan penyakit kusta di Puskesmas Rawat
Inap Gedong Tataan tahun 2011, 2012 dan tahun 2013 dapat dilihat pada grafik
berikut.
90

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Grafik 12
Kasus Penyakit Kusta Tahun 2011, 2012, dan 2013

Sumber : Data Surveylance Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan 2013
Berdasarkan grafik 12 diketahui penderita kusta di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan cenderung berfluktuasi. Tahun 2011 ditemukan 6
penderita kusta, jumlah tersebut turun menjadi 1 penderita di tahun 2012 dan
penderita kusta turun kembali meningkat menjadi 3 pada tahun 2013.
Distribusi penderita kusta tahun 2011 adalah berasal dari Desa Gedong
Tataan 2 orang, Desa Bogorejo 2 orang dan dari Desa Way Layap 2 orang. Tahun
2012 jumlah penderita kusta turun menjadi hanya 1 orang yang berasal dari Desa
Gedong Tataan. Kemudian Tahun 2013 distribusi penderita kusta adalah 3 penderita
berasal dari Desa Bogorejo, 2 penderita dari Desa Gedong Tataan dan 1 penderita
berasal dari Desa Way Layap. Semua penderita diobati dengan Multy Drug Therapy
(MDT).

3.2.3. Pola Penyakit Tidak Menular
Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit kronik atau bersifat
menahun (degeneratif) dapat pula disebut penyakit non-Infeksi karena penyebabnya
bukan mikroorganisme, bila PTM tidak ditangani dengan baik maka bisa saja terjadi
komplikasi dengan penyakit infeksi.
Penyakit Tidak Menular disebabkan beberapa hal seperti perubahan struktur
masyarakat yaitu dari agraris ke industri, dan perubahan struktur penduduk yaitu
0 1 2 3 4 5 6
2011
2012
2013
91

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
penurunan anak usia muda dan peningkatan jumlah penduduk usia lanjut karena
keberhasilan KB.
Perkembangan PTM di masyarakat umumnya disebabkan faktor keturunan,
kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran, maupun akibat pola hidup yang tidak
sehat, seperti dampak dari konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok,
mengonsumsi alkohol, narkoba, obat-obat perangsang ataupun penenang, kurangnya
olah raga, tipe pekerjaan yang banyak duduk, dan pola makanan berkolesterol tinggi
serta kurang serat mulai banyak dilakukan oleh angkatan muda, terutama di
perkotaan, perilaku yang serba kompetitif akan meningkatkan stres dan menaikkan
tekanan darah serta faktor lingkungan yang tidak sehat dan udara yang tercemar asap
rokok, asap knalpot dan asap industri.
Penyakit Tidak Menular yang banyak berkembang di masyarakat adalah
penyakit hipertensi atau darah tinggi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, asam
urat, penyakit jantung, paru-paru kronis, bahkan kanker. PTM dapat juga disebabkan
karena kecelakaan termasuk cedera, luka dan benturan akibat kecelakaan. Upaya
pencegahan Penyakit Tidak Menular dengan menggunakan prinsip: upaya
pencegahan penyakit lebih baik dari mengobati juga tetap berlaku.
Upaya pencegahan ini ditujukan kepada faktor resiko yang telah
diidentifikasi. Ada empat tingkat pencegahan dalam epidemiologi, antara lain
1. Pencegahan primordial dimaksudkan untuk memberikan kondisi pada masyarakat
yang memungkinkan PTM ini tidak didukung dari kebiasaan, gaya hidup dan
faktor resiko lainnya.
2. Pencegahan tingkat pertama, meliputi Promosi kesehatan masyarakat, seperti:
kampanye kesadaran masyarakat, promosi kesehatan, pendidikan kesehatan
masyarakat. Selain itu juga berupa pencegahan khusus, yaitu pencegahan
keterpaparan.
92

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
3. Pencegahan tingkat kedua meliputi diagnosis dini, misalnya dengan melakukan
screening.
4. Pencegahan tingkat ketiga meliputi rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sakit.
Untuk menekan angka kematian akibat epidemi PTM ini sebenarnya bukan
tergantung pada obat saja, tetapi diperlukan juga kesadaran masyarakat untuk
mengubah pola hidup menjadi pola hidup yang sehat, termasuk juga mengendalikan
pencemaran udara dan lingkungan hidup. (http://apotekerbercerita.wordpress.com).
Berdasarkan data yang ada pola penyakit tidak menular di wilayah kerja
Puskesmas Gedong Tataan tahun 2013 adalah sebagai berikut :
Tabel 31
Distribusi Penyakit Tidak Menular Tahun 2013
No Jenis Penyakit Tidak Menular Jumlah
1 Hipertensi 527 penderita
2 Asma 124 penderita
3 PPOK 32 penderita
4 Diabetes mellitus 8 penderita
5 Obesitas 7 penderita
6 Stroke 6 penderita
7 Osteoporosis 3 penderita
Jumlah
Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Berdasarkan tabel 28, jenis penyakit tidak menular dengan jumlah penderita
tertinggi adalah hipertensi 527 penderita, kemudian asma 124 penderita dan terakhir
Paru-paru Obstruksi Kronis dengan 3 penderita.

3.3.Sarana dan Prasarana Kesehatan
3.3.1. Sarana
Sarana dan prasarana merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sarana dan prasarana yang
terdapat di Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan terbagi dalam peralatan non medis
dan peralatan medis.
93

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Peralatan medis yang dimiliki oleh Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
adalah diagnostik set baik di Puskesmas Induk maupun di Puskesmas Pembantu;
peralatan untuk pemeriksaan kesehatan gigi, peralatan untuk pelayanan persalinan,
pelayanan kontasepsi, peralatan untuk pemeriksaan laboratorium sederhana,
Puskesmas keliling, ambulance dan kendaraan roda dua baik untuk pengelola
program maupun yang digunakan oleh THLS Perawat Home Care.
Sedangkan peralatan non medis yang dimiliki oleh Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan adalah meubelair berupa kursi, lemari dan meja, kendaraan roda dua,
kendaraan roda empat dan peralatan penunjang kegiatan administrasi seperti
komputer dan mesin tik. Sarana kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan dapat dilihat pada tabel 32 berikut ini :
Tabel 32
Data Sarana Kesehatan Tahun 2013
No Sarana Jumlah
Keadaan
Baik
Rusak
ringan
Rusak
berat
1 Gedung Puskesmas 1 0 1 0
2 Gedung Pustu 3 0 3 0
3 Pos Kesehatan Desa 4 4 0 0
4 Kendaraan roda 4 3 2 1 0
5 Kendaraan roda 2 12 5 4 3
Sumber : Data SP2TP Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Agar pelayanan kesehatan dan administrasi lebih optimal, maka Puskesmas
Rawat Inap Gedong Tataan memerlukan tambahan alat-alat diagnostik dan alat
penunjang kegiatan lain. Diagnostik kit yang diperlukan diantaranya adalah balai
pengobatan umum kit, balai pengobatan gigi kit, kesehatan ibu dan anak (KIA) kit,
perawatan kesehatan masyarakat kit, Kesehatan Lingkungan kit serta imunisasi kit.
Sedangkan alat penunjang kegiatan lain yang diperlukan diantaranya seperti alat
penunjang kegiatan promosi kesehatan, bahan dan alat penunjang pemeriksaan
laboratorium sederhana, peralatan administrasi kantor seperti komputer, laptop,
printer, stabilizer, kalkulator, mesin tik dan peralatan meubelair seperti meja, kursi,
94

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
meja computer, papan visual, papan pengumuman, lemari, peralatan audio visual dan
peralatan sound system.
Selain itu agar pelayanan kesehatan yang diberikan menjangkau dan
terjangkau oleh masyarakat, maka Puskesmas mempunyai jejaring yang terdiri dari :
1. Puskesmas Pembantu sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana dan berfungsi
menunjang serta membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
Puskesmas dalam wilayah kerja yang lebih kecil. Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan memiliki tiga Puskesmas Pembantu atau Pustu yaitu Pustu Way
Layap, Pustu Sukadadi dan Pustu Cipadang, masing-masing Puskesmas
pembantu mempunyai koordinator. Kondisi semua bangunan Puskesmas
Pembantu adalah baik.
2. Puskesmas Keliling sebagai unit pelayanan kesehatan keliling, terdiri dari
kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan peralatan kesehatan serta sejumlah
tenaga kesehatan yang berasal dari Puskesmas, bertugas memberikan pelayanan
kesehatan di daerah terpencil, melakukan penyelidikan Kejadian Luar Biasa dan
transport rujukan pasien. Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan memiliki 1 unit
Puskesmas Keliling. Kondisi Puskesmas Keliling atau Pusling adalah rusak
ringan.
3. Bidan Desa adalah tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa, Puskesmas
Gedong Tataan memiliki sebelas tenaga bidan desa yang ditempatkan di sebelas
desa binaan. Sarana tempat tinggal bidan di desa adalah Pos Kesehatan Desa
atau Poskedes, di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan ada
empat Poskesdes yang berada di Desa Karang Anyar, Desa Bogorejo, Desa
Pampangan dan Desa Kutoarjo. Kondisi Poskesdes adalam keadaan baik.



95

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
3.3.2. Tenaga
Keadaan ketenagaan di Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan dapat dilihat
pada tabel 33 berikut ini:
Tabel.33
Data Tenaga Kesehatan Tahun 2013
No Tenaga Kesehatan
Status
Jumlah
PNS PTT THLS Magang
1 Dokter Umum 4 0 0 0 4
2 Dokter Gigi 1 0 0 0 1
3 Apoteker 1 0 0 0 1
4 Perawat 21 0 4 7 32
5 Bidan 23 11 2 2 38
6 Perawat Gigi 1 0 0 1 2
7 Penyuluh 1 0 0 0 1
8 Nutrisionis 1 0 0 0 1
9 Sanitarian 1 0 0 0 1
10 Analis Kesehatan 2 0 0 0 2
11 Asisten Apoteker 2 0 0 0 2
12 Pengemudi 0 0 0 0 0
13 Umum 0 0 1 0 1
14 Peramu Husada 0 0 2 0 2
Jumlah 58 11 7 6 82
Sumber : Data TU Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013
Sumber daya manusia atau ketenagaan merupakan bagian penting bagi suatu
organisasi kesehatan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan kesehatan. Meningkatnya
mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh sumber daya ketenagaan, baik
kualitas maupun kuantitas. Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Rawat Inap
Gedong Tataan, baik di Puskesmas induk maupun di Puskesmas pembantu terbagi
menjadi dua, yaitu:
1. Manajerial Puskesmas, merupakan tenaga struktural, meliputi Kepala Puskesmas
dan unit tata usaha, keduanya berada di Puskesmas Induk. Kepala Puskesmas
bertugas sebagai penanggung jawab pembangunan kesehatan di tingkat
kecamatan dan Unit Tata Usaha yang bertanggung jawab membantu Kepala
96

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Puskesmas dalam pengelolaan data dan informasi, perencanaan dan penilaian,
keuangan, umum dan kepegawaian.
2. Kelompok Jabatan Fungsional, terdiri atas jabatan fungsional dokter umum,
apoteker, perawat, bidan, penyuluh kesehatan, analis, farmasi, sanitarian,
nutrisionis dan tehnik gigi.
Berdasarkan tabel 29 diketahui distribusi tenaga kesehatan terutama yang
berstatus Pegawai Negeri Sipil yang ada di Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
yaitu 23 bidan, 21 perawat, 3 dokter umum, dimana 1 orang tenaga dokter sedang
menempuh pendidikan spesialis, 2 analis laboratorium, 1 orang dokter gigi, 1 orang
apoteker, 1 nutrisionis, 1 penyuluh kesehatan dan 1 sanitarian. Berdasarkan indikator
kinerja bidang kesehatan di luar standar pelayanan minimal yang dikeluarkan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran bahwa idealnya jumlah tenaga kesehatan
yang ada di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan dengan jumlah penduduk
48.751 jiwa adalah sebagai berikut :
Tabel. 34
Estimasi Kebutuhan Tenaga Kesehatan
No Kegiatan
Kriteria
Indikator
Target Hasil
1
Rasio dokter umum
30 dr/100.000 penduduk
Non SPM 15 2
2
Rasio dokter gigi
11 drg/100.000 penduduk
Non SPM 5 1
3
Rasio bidan
100 bidan/100.000 penduduk
Non SPM 49 35
4
Rasio perawat
118 perawat/100.000 penduduk
Non SPM 57 31
5
Rasio nutrisionis
22 nutrisionis/100.000 pendududk
Non SPM 11 1
6
Rasio sanitarian
40 sanitarian/100.000 penduduk
Non SPM 20 1
7
Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat
40/100.000 penduduk
Non SPM 20 3
Sumber : Data TU Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan tahun 2013
Berdasarkan tabel 30 diketahui bahwa terdapat beberapa tenaga kesehatan
yang masih kurang seperti tenaga dokter umum, dokter gigi, nutrisionisi, sanitarian
dan tenaga kesehatan masyarakat. Selain tenaga kesehatan Puskesmas Rawat Inap
97

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Gedong Tataan juga memerlukan tenaga administrasi, dengan harapan ditahun
mendatang kebutuhan akan tenaga medis dan tenaga administrasi akan terpenuhi
sehingga pelayanan kesehatan menjadi optimal.

3.3.3 Pembiayaan
Terselenggaranya berbagai upaya kesehatan, perlu ditunjang dengan
tersedianya pembiayaan yang cukup, yang bersumber dari pemerintah baik pusat
maupun pemerintah daerah, dari Puskesmas sendiri maupun pembiayaan dari sumber
lain. Upaya monitoring manajemen keuangan di Puskesmas yang bertujuan untuk
memantau pembiayaan Puskesmas telah dilakukan pembuatan catatan bulanan uang
masuk keluar dalam buku kas dan setiap tiga bulan telah dilakukan pemeriksaan
keuangan secara berkala oleh Ka.UPT Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan.
a. Pemerintah
Pembiayaan yang berasal dari pemerintah baik pemerintah Pusat maupun
pemerintah daerah terdiri Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), jaminan
persalinan (Jampersal), Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (Jamkesmas),
Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) difokuskan untuk pencapaian
Millinium Development Goals (MDGs) Bidang Kesehatan melalui berbagai
kegiatan upaya kesehatan promotif dan preventif yang berdaya ungkit tinggi pada
pemberantasan kemiskinan dan kelaparan; mengurangi jumlah kematian anak;
meningkatkan kesehatan ibu; memeranggi HIV/AIDS, malaria, TB dan penyakit lain
dan menjamin kelestarian lingkungan yang diharapkan akan tercapai pada tahun
2015. Pada tahun 2013 Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan menerima Bantuan
Operasional Kesehatan sebesar Rp. 102.000.000,-
Jaminan Persalinan diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses
pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemerikasaan nifas dan pelayanan
98

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
KB oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga pada gilirannya dapat
menekan angka kematian ibu dan bayi.
Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin adalah program bantuan sosial untuk
pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini
menjaga masyarakat miskin agar tetap sehat dan produktif.
Jaminan kesehatan daerah Propinsi Lampung adalah jaminan kesehatan yang
diberikan kepada seluruh masyarakat di Propinsi Lampung yang belum memiliki
jaminan kesehatan (ASKES, JAMSOSTEK, ASABRI, JAMKESMAS) adanya
Jamkesta diharapkan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan umur harapan
hidup, penurunan angka kematian ibu, penurunan angka kematian anak dan
terlayaninya masalah-masalah kesehatan peserta.
b. Pendapatan Puskesmas
Pada tahun 2013, tidak ada pendapatan Puskesmas yang berasal dari retribusi
yang dibayar oleh masyarakat sebagai kewajiban mereka dalam membiayai upaya
kesehatan perseorangan, karena masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan
berupa berobat gratis untuk penduduk Kabupaten Pesawaran.
c. Sumber lain
Puskesmas juga menerima dana dari sumber lain yaitu dari PT. ASKES
(Persero), pada tahun 2013 jumlah dana yang diperoleh sebesar Rp.72.000.000,-
dengan peruntukan 60% digunakan untuk jasa sarana dan 40% digunakan sebagai
jasa medis.

3.4. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dibuat berdasarkan daftar masalah yang dikelompokan
menurut jenis program, cakupan, mutu dan ketersedian sumber daya. Identifikasi
masalah dapat dilihat pada tabel berikut

99

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tabel 35. Identifikasi Masalah Tahun 2013
No Program Target Pencapaian
Sarana dan Prasarana Kesehatan
a Tenaga Kesehatan
dokter umum 4 2
dokter gigi 2 1
nutrisionis 11 1
sanitarian 20 1
Tenaga Kes Masyarakat 20 3
tenaga administrasi 7 0

b Ketersediaan obat
Reagen Laboratorium tersedia Tidak tersedia
vaksin anti rabies (VAR) tersedia Tidak tersedia
anti bisa ular (ABU). tersedia Tidak tersedia

Peralatan Kesehatan
Kesehatan Lingkungan kit tersedia Tidak tersedia
perawatan kesehatan masyarakat kit tersedia Tidak tersedia
alat penunjang promosi kesehatan tersedia Tidak tersedia

c Peralatan administrasi
komputer 5 unit 1 unit
laptop 2 unit 1 unit
printer 5 unit 2 unit
mesin tik 2 unit 0
Meubelair Tersedia cukup Tersedia
tidak cukup

UKBM
47 Posyandu Balita 12 posy mandiri
24 posy purnama
27 posy pratama
10 posy madya
11 Posbindu Aktif Belum optimal
Desa Siaga 6 desa 4 desa

Status Kesehatan
Mortalitas
Angka kematian kasar ada Tidak ada
Angka kematian bayi 34/100.000
lahir hidup
9

Kesakitan Morbiditas
10 Pola Penyakit Terbesar 12 laporan/tahun 12 laporan/tahun
Pola penyakit menular
Diare Angka kesakitan
411/1.000
20.037
1.401
Tbc paru CDR 70% CDR 37.66%
AFP 2/100.000
usia <15 thn
0
Peneumonia
pada bayi adalah 2,2 % dan balita 3%,
Bayi 2.2% (20)
Balita 3% (251)
0
0

100

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
No Program Kesehatan Target Pencapaian
a. Promosi Kesehatan
Penyuluhan PHBS rumah tangga 65% 19,4%
Cakupan Desa Siaga 60% 36.4%

b Kesehatan Lingkungan
Inspeksi dan pembinaan sanitasi
sarana air bersih
7.114 (85%) 2.749 (33%)
Keluarga menggunakan air bersih 2.326 (85%) 2.284 (83,5%)
Sarana air bersih diperiksa
bakteriologis
0 0
Sarana air bersih memenuhi syarat
bakteriologis.
0 0
Inspeksi dan pembinaan sanitasi
tempat pengolahan makanan
70% 25,9%
Tempat pengolahan makanan
memenuhi syarat kesehatan


20,7%
Inspeksi dan pembinaan jamban
keluarga
85% 32,27%
Jamban keluarga yang memenuhi
syarat
75% 27,11%
Inspeksi dan pembinaan rumah
sehat
25.4%

Cakupan rumah sehat (70%)

19,4%
Inspeksi dan pembinaan SPAL
sehat


42,7%
Cakupan SPAL sehat 35,1%
Inspeksi dan pembinaan tempat
pembuangan sampah
39.68%
tempat pembuangan sampah yang
memenuhi syarat
75% 35.65%
Inspeksi dan pembinaan sanitasi
tempat-tempat umum
75% 38.2%
Cakupan tempat ibadah sehat 36,3%
Cakupan Pelayanan deteksi dan
stimulasi dini tumbuh kembang
balita dan anak pra sekolah
90%
6.758
(80,7%)
Cakupan pelayanan
kesehatan remaja
0 0
Cakupan Pelayanan deteksi dan
stimulasi dini tumbuh kembang
balita dan anak pra sekolah
90%
6.758
(80,7%)
Persentase balita yang di timbang
(D/S)
70% 3.916 (68,30%)







101

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
















B Kesehatan bayi

Jumlah bayi

1 Cakupan kunjungan bayi 826
897
(99,9%)
2
Cakupan neonatal resti
ditangani
772
11
(1,2%)
Sub variabel 50.55%


2













f. Peran serta masyarakat Pembinaan terhadap UKBM atau Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat, meliputi
102

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
dengan jumlah kader posyandu yang aktif sekitar 230 kader. Dari jumlah
tersebut, ,.
13 posyandu lansia yang kesemuanaya aktif dengan jumlah kader sekitar 65
kader.
11 Posbindu atau Pos Pembinaan Terpadu yang belum optimal.
19 dukun bayi terlatih yang bermitra dengan bidan. Kepada dukun bayi
terlatih tersebut diberikan pembinaan secara rutin setiap bulan sebanyak 1
kali.
UKBM lain seperti Polindes atau pondok bersalin desa Pos Obat Desa,
Pondok Sayang Ibu dan Saka Bhakti Husada yang kurang berfungsi secara
optimal.
g. Jumlah penduduk 48.751 jiwa, jumlah penduduk pria 24.865 jiwa (51%) dan
wanita berjumlah 23.886 jiwa (48.9%). Rata-rata kepadatan penduduk 5
jiwa/Ha. Jumlah jiwa masyarakat miskin 19.799 (40.61%) jiwa, dengan jumlah
kepala keluarga miskin 7.420 KK. Mata pencaharian sebagian besar penduduk
adalah petani 41,78%; Mayoritas penduduk beragama Islam yaitu 95.8%, dan
penduduk berusia 10 tahun keatas menurut tingkat pendidikan yang pernah
ditamatkan, yang tertinggi adalah tamat SLTP/MTs 25.6%.

1. Status Kesehatan
a. Data Kematian
Belum ada data yang jelas untuk angka kematian kasar,
Usia Harapan Hidup dimana Usia Harapan Hidup yang digunakan adalah
UHH Propinsi Lampung yaitu 65 tahun.
103

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tidak ada kasus kematian Balita dan Kematian Ibu. Namun telah terjadi 9
kematian bayi dengan perincian 5 kematian perinatal (usia 0-7 hari), 2
kematian neonatal (usia 8-28 hari) dan 2 kematian bayi
b. Data Kesakitan
10 Pola Penyakit Terbesar adalah nasopharingitis akut (Common Cold)
5.361 kasus; influenza 2.931 kasus; Rhemathoid Atritis 2.614 kasus,
Dispepsia atau gangguan fungsi lambung 2.415 kasus; Hipertensi 2.071
kasus; Dermatitis Atopic 1.083 kasus; Diare 832; Caries gigi 522 kasus,
Infeksi gigi 450 kasus dan Demam tifoid 357 kasus.
Pola penyakit menular, penderita malaria 17 penderita setelah diperiksa
darahnya 1 penderita dinyatakan positif malaria Plasmodium falcifarum;
jumlah penderita demam berdarah dengue 18 penderita dan penderita
tertinggi berasal dari Desa Sukaraja (6 penderita); jumlah penderita diare 832
dengan perincian golongan umur <1 tahun 801 kasus, golongan umur 1 4
tahun 281 kasus dan golongan umur >5 tahun 319 dengan penderita diare
tertinggi berasal dari Desa Cipadang yaitu 111 penderita untuk semua
golongan umur. Tidak ditemukan penderita campak; ditemukan 29 penderita
tuberkolosis paru BTA (+), 6 penderita tuberkolosis paru BTA (-) RO (+), 1
penderita ekstra paru dan 2 orang penderita tuberkolosis anak. Pelaksanaan
program PAL atau Pendekatan Praktis Kesehatan Paru/Practical Approch to
lung health sudah berjalan cukup baik dengan ditemukan 124 penderita asma,
32 penderita PPOK dan 29 penderita tbc paru BTA (+) namun belum
ditemukan pneumonia. Untuk penderita infeksi saluran napas akut tercatat
3.820 dengan perincian ISPA non pneumonia kelompok umur <1 tahun 815,
kelompok umur 1-4 tahun 1.526 kelompok umur >5 tahun 1.479. Ditemukan
1 suspek HIV/AID dan sudah dirujuk ke klinik VCT RSAM. Ditemukan 5
penderita gigitan hewan pembawa rabies (GHPR) semua penderita telah
104

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
dicuci luka dan dirujuk untuk mendapatkan vaksin anti rabies. Tidak ada
kasus chikungunya; ditemukan 401 penderita demam tifoid dan penderita
demam tifoid tertinggi ada pada kelompok umur 15-44 tahun 190 penderita,
dan berdasarkan jenis kelamin penderita demam tifoid banyak menyerang
kaum perempuan yaitu 238 penderita. penderita kusta adalah 3 penderita
berasal dari Desa Bogorejo, 2 penderita dari Desa Gedong Tataan dan 1
penderita berasal dari Desa Way Layap semuanya mengikuti pengobatan
MDT.
Pola penyakit tidak menular adalah hipertensi 527 penderita, asma 124
penderita, PPOK 32 penderita, diabetes mellitus 8 penderita, obesitas 7
penderita, stroke 6 penderita dan osteoporosis 3 penderita.
c. Tidak terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)

2. Cakupan Program Pelayanan Kesehatan
a. Upaya Kesehatan Wajib
Promosi Kesehatan
Pencapaian penyuluhan PHBS rumah tangga 2.112 (19,4%) dari 10.904
rumah tangga yang ada, penyuluhan PHBS ditempat kerja 40% dari 70
tempat kerja yang ada, penyuluhan NAPZA pada anak sekolah tingkat SMP,
SMU/SMK mencapai 40% dan belum pernah dilakukan penyuluhan di sarana
kesehatan.
Cakupan Desa Siaga 36.4% dan pembinaan terhadap UKBM atau Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat meliputi pembinaan pada 47 posyandu
balita dan 13 posyandu lansia,
Polindes atau pondok bersalin desa Pos Obat Desa, Pondok Sayang Ibu dan
Saka Bhakti Husada yang kurang berfungsi secara optimal.

105

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Hasil kegiatan kesehatan lingkungan mencakup
Jumlah rumah 10.904 unit dan rumah yang memenuhi syarat kesehatan hanya
19,4%;
Jumlah tempat pengolahan makanan ada 58 unit dengan tempat pengolahan
makanan yang memenuhi syarat kesehatan hanya 20,7%,
Jumlah tempat pembuangan sampah 6.931 unit dan 35.65% tempat
pembuangan sampah memenuhi syarat kesehatan. Untuk pengelolaan
sampah rumah tangga, masyarakat masih mengolah secara tradisional, seperti
dikubur atau dibakar. Namun masih banyak masyarakat yang membuang
sampah di sungai. Di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan belum ada
tempat pembuangan akhir sampah, yang tersedia hanyalah tempat
pembuangan sampah sementara yang ada di Desa Sukaraja;
Jumlah sarana pembuangan air limbah 6.433 unit dengan sarana pembuangan
air limbah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 35,1%; Jumlah jamban
8.177 unit
Jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan hanya 27,11%;
Hasil Kesehatan Ibu dan Anak Termasuk Keluarga Berencana,
Belum dilakukan secara optimal pelayanan kesehatan bagi remaja.
Hasil Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
32.3% bayi mendapatkan ASI Eksklusif
ditemukan 1,2% balita di-Bawah Garis Merah,
ditemukan 28 ibu hamil kurang energi kronis dan 100% ibu hamil KEK
mendapatkan konseling dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
dengan Desa Padang Ratu memiliki KEK tertinggi (4 bumil).
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
106

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Tidak ada data kasus penyakit chikungunya dan penyakit filariasis,
penyakit frambusia, penyakit kecacingan dan penyakit menular seksual
(PMS).
Pengamatan penyakit khusus AFP = Acute Flaccid Paralysis diketahui
bahwa belum ditemukan penderita Accute Flacyd Paralisis (AFP) pada
tahun 2013
Upaya Pengobatan
Kunjungan rawat jalan gigi belum mencapai target yang telah ditetapkan
hanya 2.29%,
Telah diselenggarakan Puskesmas Keliling sebanyak 4 kali, yaitu di Desa
Karang Anyar, Pampangan, Cipadang dan Desa Bogorejo.

2. Upaya Pengembangan
Mencakup kegiatan yang sudah dilakukan seperti lansia, kesehatan gigi,
UKS, perkesmas, kesehatan mata, kesehatan telinga, kesehatan jiwa.
Belum dilakukan secara optimal pembinaan kesehatan tradisional
kesehatan kerja,

3. Upaya Kesehatan Penunjang
Pencatatan dan pelaporan obat sudah baik dengan menerapkan FIFO (first in
first out)
Beberapa pemeriksaan laboratorium belum dilakukan secara optimal karena
keterbatasana peralatan dan reagensia.
Sistem pencatatan pelaporan juga sudah cukup baik, diantaranya telah
dibuat 10 penyakit terbesar dan diadakan mini lokakarya lintas sektor.

3.5. Prioritas Masalah
107

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Prioritas masalah yang akan ditetapkan di Puskesmas Rawat Inap Gedong
Tataan berkaitan dengan pelaksanaan program kesehatan yang telah dilaksanakan
pada tahun 2013, baik upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan dan
upaya kesehatan penunjang.
Penetapan prioritas masalah didasari bahwa adanya keterbatasan sumber daya
yang tersedia dan tidak dimungkinkannya menyelesaikan semua masalah. Selain itu
prioritas masalah ditetapkan karena ada hubungan antara satu masalah dengan
masalah yang lain, sehingga tidak perlu semua masalah tersebut diselesaikan.
Pemilihan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan teknik kriteria
matrik (criteria matrix technique), kriteria yang digunakan adalah pentingnya
masalah (importancy) yang meliputi besarnya masalah, akibat yang ditimbulkan
(prevalence), kenaikan masalah (rate of increase), keuntungan sosial (social benefit),
perhatian masyarakat (public concern) dan suasana politik (political climate). Selain
importancy, kriteria lain yang digunakan adalah kelayakan teknologi dan sumber
daya yang tersedia. Maksud dari kelayakan teknologi adalah adanya teknologi yang
tersedia yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan
maksud dari sumber daya yang tersedia adalah sumber daya yang dapat digunakan
untuk mengatasi masalah tersebut terdiri dari manusia (man), sumber dana (money)
dan sarana (material).
Dengan menggunakan modifikasi skala likert, untuk setiap kriteria diberi nilai
sebagai berikut
1 = tidak penting
2 = penting
3 = sangat penting.
Proritas masalah dipilih dari item masalah yang memiliki skor tertinggi.


108

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan



























109

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan



























110

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan



























111

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan



























112

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan



























113

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan























4. Tabel. 4
5. Data Sarana Kesehatan
6. Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan Tahun 2013
No Sarana Jumlah
Keadaan
Baik
Rusak
ringan
Rusak
berat
1 Gedung Puskesmas 1 1 0 0
114

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
2 Gedung Pustu 3 3 0 0
3 Pos Kesehatan Desa 4 4 0 0
4 Pos Pelayanan terpadu
Balita
47 47 0 0
Pos Pelayanan terpadu
Lanjut Usia
11 11 0 0
5 Warung Obat Desa 11
7 Kendaraan roda 4 3 2 1 0
8 Kendaraan roda 2 6 2 2 2
9 Rumah Bersalin Swasta 0
10 Bidan praktik swasta 12
11 Poliklinik swasta 4
12 Dokter praktik swasta 4

6.3. Identifikasi Masalah
1. Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kesehatan Kabupaten Pesawaran yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan pada 11 desa binaan dengan luas wilayah kerja 9.176
Ha, jumlah penduduk 48.068 jiwa dengan perincian penduduk pria berjumlah
24.587 jiwa (51,15%) dan wanita berjumlah 23.481 jiwa (48.85%). Rata-rata
kepadatan penduduk adalah 6 jiwa/Ha. Penduduk miskin berjumlah 19.799
jiwa, dengan jumlah KK Gakin 7.420 KK. Sebagian besar penduduk berprofesi
sebagai petani 41,78%; mayoritas penduduk beragama Islam 95.8% dan
diketahui sebagian besar penduduk usia 10 tahun keatas adalah tamat SD/MI
yaitu 32.8%.
2. Untuk menjalankan fungsinya, Puskesmas rawat Inap Gedong Tataan
mempunyai visi Mitra Anda Untuk Sehat yang diharapkan dapat dicapai
melalui misi Promosi kesehatan disetiap tatanan masyarakat, Perbaikan
lingkungan yang sehat, Meningkatkan kesehatan ibu dan anak, Meningkatkan
pengetahuan gizi masyarakat, Memberikan pelayanan pengobatan yang terpadu
dan bermutu, Memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan, Meningkatkan
kemitraan lintas sektoral dalam pelaksanaan program-program kesehatan.
Dengan moto PUSKESMAS SANTUN (Senyum petugas Puskesmas dalam
115

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
melayani para pemakai jasa Puskesmas, SopAN dalam memberikan pelayanan
kesehatan, Terampil dalam melakukan tindakan medis dan non medis, TerpadU
dalam melaksanakan program-program kesehatan, Nyaman dalam lingkungan
kerja). Program kesehatan yang dijalankan meliputi Upaya Kesehatan Wajib
yang terdiri dari Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan
Anak serta Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengobatan. Upaya Kesehatan
Pengembangan yang terdiri dari Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan
Olah Raga, Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat, Upaya Kesehatan Kerja,
Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, Upaya Kesehatan Jiwa, Upaya Kesehatan
Mata, Upaya Kesehatan Lanjut Usia, Upaya Kesehatan Pengobatan Tradisional
dan Upaya Pelayanan Penunjang yang terdiri atas Sistem Pencatatan dan
Pelaporan serta Laboratorium Kesehatan.
3. Hasil pencapaian program kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas Rawat
Inap Gedong Tataan adalah
a. Promosi Kesehatan; pencapaian penyuluhan PHBS rumah tangga 2.884
(30%) dari 9.613 rumah tangga yang ada. Pencapaian penyuluhan PHBS
institusi pendidikan 39 (66,1%) dari 59 institusi pendidikan yang ada dan
Pencapaian penyuluhan PHBS institusi tempat-tempat umum 154 (71,4%)
dari 217 institusi tempat-tempat umum yang ada. Pencapaian pemberian bayi
Air Susu Ibu Eksklusif hanya 21,1%. Tidak dilakukan penyuluhan NAPZA,
cakupan posyandu mandiri 14.9%, cakupan posyandu purnama 6,4% dan
cakupan desa siaga aktif 36,4%. Serta belum penyuluhan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat di sarana kesehatan swasta dan tempat kerja.
b. Penyehatan Lingkungan; cakupan keluarga menggunakan air bersih 39,1%;
inspeksi pembinaan sarana air bersih belum mencapai target hanya 39,1%,
inspeksi dan pembinaan sanitasi tempat pengolahan makanan belum
116

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
mencapai target hanya 25,9%, jamban keluarga yang memenuhi syarat
kesehatan 33%, rumah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 25,2%, sarana
pembuangan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 28,3%,
penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah belum dilaksanakan
dengan optimal dan belum ada data tempat pembuangan sampah.
c. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB; terjadi 5 kasus kematian bayi, 4 kasus
kematian ibu dan 1 kasus kematian balita, pelayanan rujukan ibu hamil resiko
tinggi hanya mencapai 41.15% dari target 68%, belum dilaksanakan Cakupan
pelayanan kesehatan remaja.
d. Perbaikan Gizi; cakupan ASI Ekslusif 21,7% masih di bawah target yaitu
80%, cakupan pemberian Vitamin A 73,6% masih dibawah target 90% dan
cakupan Fe ibu hamil 81,54% masih dibawah target 90%.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular; urutan pertama dari 10
penyakit terbanyak adalah ISPA dengan 9.422 kasus, peningkatan penyakit
diare menjadi 2,244 kasus, tidak ada data penderita HIV AIDS, belum
ditemukan penyakit AFP, cakupan Case Detection Rate TBC paru 36,36%
berada dibawah target 70%, peningkatan kasus demam berdarah dengue
dengan 83 kasus, dan belum ditemukan kasus pneumonia. Untuk pola
penyakit tidak menular adalah gastritis 5.656 kasus, penyakit system otot dan
jaringan pengikat dengan jumlah kasus 2.716 dan penyakit penyakit tekanan
darah tinggi 1.925 kasus.
f. Pengobatan; kunjungan rawat jalan gigi 4,47% masih dibawah target
kunjungan 5%.
g. Telah dilakukan upaya kesehatan pengembangan meski belum optimal seperti
UKS, Perkesmas, kesehatan jiwa, kesehatan kerja, Battra, kesehatan mata,
kesehatan jiwa, kesehatan gigi
117

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
h. Kesehatan penunjang; belum dilakukan pelayanan laboratorium kesehatan
secara optimal karena keterbatasan peralatan dan reagensia.
i. Sarana prasarana kesehatan terdiri dari gedung rawat jalan, gedung rawat
inap, Pustu Sukadadi dan Pustu Way Layap serta Pusling dalam kondisi rusak
ringan. Tidak dimiliki laboratorium yang representatife dan gudang obat.
Peralatan yang diperlukan adalah pengobatan kit, pengobatan gigi kit,
kesehatan ibu dan anak (KIA) kit, perawatan kesehatan masyarakat kit,
sanitarian kit serta imunisasi kit. Sedangkan alat penunjang kegiatan lain
yang diperlukan diantaranya seperti alat penunjang kegiatan promosi
kesehatan, bahan dan alat penunjang pemeriksaan laboratorium sederhana,
peralatan administrasi kantor seperti komputer, laptop, printer, stabilizer,
kalkulator, mesin tik dan peralatan meubelair seperti meja, kursi, meja
computer, papan visual, papan pengumuman, lemari, peralatan audio visual
dan peralatan sound system. beberapa tenaga kesehatan masih kurang yaitu
dokter umum, dokter gigi, ahli gizi dan ahli sanitasi dengan harapan ditahun
mendatang jumlah tenaga tersebut dapat ditambah.

6.4. Prioritas Masalah
Prioritas masalah yang akan ditetapkan di Puskesmas rawat Inap Gedong
Tataan berkaitan dengan pelaksanaan program kesehatan yang telah dilaksanakan
pada tahun 2012, baik upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan dan
upaya kesehatan penunjang.
Penetapan prioritas masalah didasari bahwa adanya keterbatasan sumber daya
yang tersedia dan tidak dimungkinkannya menyelesaikan semua masalah. Selain itu
prioritas masalah ditetapkan karena ada hubungan antara satu masalah dengan
masalah yang lain, sehingga tidak perlu semua masalah tersebut diselesaikan.
118

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
Pemilihan prioritas masalaha dilakukan dengan menggunakan teknik kriteria
matrik (criteria matrix technique), kriteria yang digunakan adalah pentingnya
masalah (importancy) yang meliputi besarnya masalah, akibat yang ditimbulkan
(prevalence), kenaikan masalah (rate of increase), keuntungan sosial (social benefit),
perhatian masyarakat (public concern) dan suasana politik (political climate). Selain
importancy, kriteria lain yang digunakan adalah kelayakan teknologi dan sumber
daya yang tersedia. Maksud dari kelayakan teknologi adalah adanya teknologi yang
tersedia yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan
maksud dari sumber daya yang tersedia adalah sumber daya yang dapat digunakan
untuk mengatasi masalah tersebut terdiri dari manusia (man), sumber dana (money)
dan sarana (material).
Untuk setiap kriteria diberi nilai : 1 = tidak penting; 2 = cukup penting; 3 =
penting; 4 = sangat penting. Proritas masalah dipilih dari item masalah yang
memiliki skor tertinggi.








Berdasarkan tabel diatas, diketahui 10 besar prioritas masalah yang ada di
Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan adalah sebagai berikut :
1. Kasus kematian ibu
2. Kasus kematian bayi
3. Peningkatan kasus DBD
119

Puskesmas Rawat Inap Gedong Tataan
4. Pemberian vitamin A
5. CDR tb paru
6. Jamban keluarga
7. Diare
8. ASI Eksklusif
9. Fe bumil
10. Rumah sehat