Anda di halaman 1dari 3

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Maloklusi adalah keadaan gigi yang tidak harmonis secara estetik
mempengaruhi penampilan seseorang dan mengganggu keseimbangan fungsi,
baik fungsi pengunyahan maupun bicara. Maloklusi umumnya bukan merupakan
proses patologis tetapi proses penyimpangan dari perkembangan normal (Proffit
& Fields, 2007).
Dibiase menyatakan beberapa kasus maloklusi pada anak sangat
berpengaruh terhadap psikologis dan perkembangan sosial yang disebabkan oleh
penindasan yang berupa ejekan atau hinaan dari teman sekolahnya. Pengalaman
psikis yang tidak menguntungkan dapat sangat menyakitkan hati sehingga remaja
korban penindasan tersebut akan menjadi sangat depresi. Dilihat dari segi fungsi,
gigi berjejal sangat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi ini dapat
menyebabkan gigi berlubang dan penyakit gusi bahkan kerusakan jaringan
pendukung gigi sehingga gigi menjadi goyang dan terpaksa harus dicabut. Dari
segi rasa sakit fisik, maloklusi yang parah pada tulang penunjang dan jaringan
gusi, menimbulkan kesulitan dalam menggerakkan rahang (gangguan otot dan
nyeri), gangguan sendi temporomandibular dan dapat menimbulkan sakit kepala
kronis atau sakit pada wajah dan leher. Dari segi hambatan sosial, maloklusi dapat
mempengaruhi kejelasan bicara seseorang.
Berdasarkan penelitian di US yang dilaporkan oleh Proffit (2000), sebesar
35% populasi memiliki oklusi normal. Sementara itu, sebanyak 65% mengalami
maloklusi, dengan proporsi 5% memiliki penyebab yang diketahui dan 60%
maloklusi dengan penyebab kompleks dari kombinasi faktor lingkungan dan
herediter yang tidak diketahui pasti detail kombinasinya. Adapun berdasarkan
penelitian Trie Erri Astoeti dkk (2003) dilaporkan bahwa 51,6% murid-murid
kelas 4-6 SD di DKI Jakarta menderita gigi berjejal.
2

Menurut Proffit dkk menyatakan bahwa gigi berjejal, tidak teratur dan gigi
yang maju telah menjadi masalah bagi beberapa individu sejak zaman dahulu dan
upaya untuk memperbaiki gangguan ini kembali setidaknya sampai 1000 SM.
Selanjutnya seperti kedokteran gigi berkembang diabad 18 dan 19, sejumlah
perangkat untuk pengaturan dari gigi digunakan oleh dokter gigi pada masa itu.
Menurut British Dental Association yang dikutip dari penelitian Agusni
tujuan dari perawatan ortodonti adalah untuk meningkatkan fungsi dengan
memperbaiki ketidakteraturan dan untuk menciptakan tidak hanya pertahanan
yang kuat tetapi juga untuk meningkatkan penampilan, dimana hal ini nantinya
akan berkontribusi terhadap mental dan fisik seseorang. Dental dan penampilan
wajah merupakan faktor yang besar dalam persepsi terhadap kebutuhan untuk
perawatan ortodonti.
Menurut Isaacson dkk menyatakan bahwa alat ortodontik lepasan adalah
alat yang pemakaiannya bisa dipasang dan dilepas oleh pasien. Alat ini
mempunyai kemampuan perawatan yang lebih sederhana dibanding dengan alat
cekat.

Alat ortodontik lepasan dianggap sebagai alat fungsional, karena alat ini
hampir selalu dilepas. Alat ini mempengaruhi baik otot-otot orofasial dan
pengembangan dentoalveolar. Berdasarkan penelitian Y. Powes dan Cook yang
dikutip oleh Jazaldi dkk kemungkinan dikatakan bahwa hasil perawatan
ortodontik dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu morfologi dan keparahan
maloklusi, mekanoterapi perawatan ortodontik, pola pertumbuhan dan
keterampilan operator.
Sejak dahulu para ahli ortodonti sudah berpikir membuat suatu acuan
penilaian untuk melakukan perawatan ortodonti. Acuan yang baik adalah suatu
penilaian objektif dan baku, sehingga setiap dokter gigi bisa melakukan standar
penilaian yang sama terhadap pasien berdasarkan kriteria yang ada. Richmond
memperkenalkan Peer Assessment Rating Index (PAR Index) untuk menilai
keparahan maloklusi yang diharapkan dapat merupakan sarana untuk menentukan
keparahan maloklusi secara obyektif.
3

Dibanding dengan indeks maloklusi yang lain, Indeks PAR memberikan
skor yang spesifik untuk berbagai parameter oklusal, dan dapat diterapkan untuk
mengevaluasi jenis maloklusi yang berbeda dengan perawatan yang berbeda pula.
Selain itu indeks ini telah menunjukan tingkat reabilitas (R>0.91) dan validitas
(r=0,85) yang tinggi.
Perawatan ortodontik di bagian Ortodonsia RSGM Universitas Jember
menggunakan alat ortodontik lepasan. Selama ini belum pernah dilakukan
evaluasi tingkat keberhasilan perawatan ortodontik terhadap pasien yang telah
selesai dirawat yang diukur dengan Indeks PAR.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk
mengetahui tingkat keberhasilan perawatan ortodontik dengan alat ortodontik
lepasan di bagian Ortodonsia RSGM UNEJ terhadap keberhasilan perawatan
ortodontik dengan menggunakan Indeks PAR.