Anda di halaman 1dari 38

KEBUTUHAN PENGATURAN KEHAMILAN

(KELUARGA BERENCANA)
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Kebutuhan Seksualitas
Koordinator : Ns. Dwi Susilowati, S.Kep. M.Kep. Sp. Mat



Disusun oleh Kelompok 1:
1. Murti Ayu Rosyono 22020111150004
2. Sukardi 22020111150009
3. Sunardi 22020111150014
4. Sio Andi 22020111150020
5. Agustin Ayu Setyaningsih 22020111150030

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga berencana menurut Undang-Undang nomor 10 tahun 1992
(tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera)
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan
sejahtera. (Arum, 2008)
Adanya program Keluarga Berencana diharapkan ada keikutsertaan dari
seluruh pihak dalam mewujudkan keberhasilan KB di Indonesia. Program KB
yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga kecil sejahtera yang
serasi dan selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kebijakan
operasional dikembangkan berdasarkan empat misi gerakan KB Nasional yaitu
pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan
keluarga dan peningkatan kesejahteran keluarga, yang selanjutnya secara garis
besar dapat diklasifikasi menjadi pelayanan kesehatan reproduksi, pemberdayaan
ekonomi keluarga dan ketahanan keluarga gerakan KB Nasional (Depkes RI,
1999).
Pelayanan keluarga berencana bertujuan untuk mewujudkan keluarga
berkualitas melalui pengaturan jumlah keluarga secara terencana dalam upaya
mewujudkan keluarga kecil. Keluarga berencana memiliki peranan dalam
menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, menunda
kehamilan, menjarangkan kehamilan atau membatasi kehamilan bila anak sudah
dianggap cukup. Dengan demikian pelayanan keluarga berencana merupakan
upaya pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama.
Salah satu cara yang dipakai dalam mengendalikan angka kelahiran dan
pertumbuhan penduduk Indonesia adalah dengan memakai alat kontrasepsi,
termasuk didalamnya adalah kontrasepsi hormonal (suntik, pil kombinasi dan
susuk). Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat menimbulkan efek samping
yang merugikan akseptornya, antara lain adalah terjadinya peningkatan berat
badan. (Maryani, 2003)
Di Indonesia, sasaran program Keluarga Berencana dibagi menjadi 2
yaitu sasaran langsung dan sasaran tidak langsung, tergantung dari tujuan yang
ingin dicapai. Sasaran langsungnya adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan
kontrasepsi secara berkelanjutan. Sasaran tidak langsungnya adalah pelaksana
dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui
pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai
keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera.

B. Rumusan Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak
penduduk, hal ini disebabkan karena tidak terkontrolnya pengaturan kehamilan
yang menyebabkan angka kelahiran semakin meningkat. Salah satu program
yang ditetapkan dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 1992 adalah tentang
pengaturan kehamilan, yaitu melalui Program Keluarga Berencana.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi tentang kebutuhan pengaturan kehamilan (Keluarga
Berencana) yang dapat dilakukan oleh individu.
2. Tujuan Khusus
a. Memahami tentang keluarga berencana
b. Mengidentifikasi tujuan dari keluarga berencana
c. Mengidentifikasi sasaran program keluarga berencana
d. Mengidentifikasi manfaat keluarga berencana
e. Mengidentifikasi akseptor keluarga berencana
f. Memahami Jenis-jenis akseptor keluarga berencana
g. Memahami tentang Kontrasepsi
h. Mengidentifikasi syarat-syarat kontrasepsi yang dapat digunakan
i. Mengidentifikasi metode, jenis, cara kerja, indikasi, kontra indikasi,
kekurangan dan kelebihan, serta cara penggunaan alat kontrasepsi.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keluarga Berencana
1. Pengertian
Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997,
keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri
untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran
yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri
serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008).
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992
(tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera)
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan
sejahtera (Arum, 2008).
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha
yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak
positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan
menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut.
Diharapkan dengan adanya perencanaan keluarga yang matang kehamilan
merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar
dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi (Suratun, 2008).

2. Tujuan Keluarga Berencana
Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:
a. Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan
menekan laju pertumbuhan penduduk (LLP) dan hal ini tentunya akan
diikuti dengan menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate)
dari 2,87 menjadi 2,69 per wanita. Pertambahan penduduk yang tidak
terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan menurunkan sumber
daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan kesenjangan
penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah penduduk. Hal ini
diperkuat dengan teori Malthus (1766-1834) yang menyatakan bahwa
pertumbuhan manusia cenderung mengikuti deret ukur, sedangkan
pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung.
b. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan
anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama
serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
c. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah
lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini
memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.
d. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan
yang akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk
keluarga yang bahagia dan berkualitas.
e. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil
Bahagia dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga
berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang,
pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi (Suratun,
2008).

3. Sasaran program KB
a. Sasaran Langsung
Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara
15 - 49 tahun, Karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif
melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat
mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi
peserta KB yang aktif lestari sehingga memberi efek langsung penurunan
fertilisasi (Suratun, 2008).
b. Sasaran Tidak Langsung
1) Kelompok remaja usia 15 - 19 tahun, remaja ini memang bukan
merupakan target untuk menggunakan alat kontrasepsi secara langsung
tetapi merupakan kelompok yang beresiko untuk melakukan hubungan
seksual akibat telah berfungsinya alat-alat reproduksinya. Sehingga
program KB disini lebih berupaya promotif dan preventif untuk
mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta kejadian
aborsi.
2) Organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansi-
instansi pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim
ulama, wanita, dan pemuda), yang diharapkan dapat memberikan
dukungannya dalam pelembagaan NKKBS (Hartanto, 2004).
3) Sasaran wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi
(Prawirohardjo, 2005 A).

4. Manfaat KB dipandang dari segi kesehatan
Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan
salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang
semakin tinggi akibat kehamilan yang dialami wanita (Suratun, 2008).

B. Akseptor Keluarga Berencana
1. Pengertian
Akseptor Keluarga Barencana (KB) adalah Pasangan Usia Subur
(PUS) yang menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi (BKKBN, 2007)

2. Jenis-jenis Akseptor KB
a. Akseptor Aktif adalah: Akseptor yang ada pada saat ini menggunakan salah
satu cara/alat kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri
kesuburan.
b. Akseptor Aktif Kembali adalah : Pasangan Usia Subur yang telah
menggunakan kontrasepsi selama tiga bulan atau lebih yang tidak diselingi
suatu kehamilan, dan kembali menggunakan cara alat kontrasepsi baik
dengan cara yang sama maupun berganti cara setelah berhenti/istirahat
kurang lebih tiga bulan berturut-turut dan bukan karena hamil.
c. Akseptor KB Baru adalah: Akseptor yang baru pertama kali menggunakan
alat/obat kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan alat kontrasepsi
setelah melahirkan atau abortus.
d. Akseptor KB Dini adalah: Para ibu yang menerima salah satu cara
kontrasepsi dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan atau abortus.
e. Akseptor Langsung : Para Istri yang memakai salah satu cara kontrasepsi
dalam waktu 40 hari setelah melahirkan atau abortus.
f. Akseptor dropout adalah: Akseptor yang menghentikan pemakaian
kontrasepsi lebih dari 3 bulan (BKKBN, 2007).

C. Kontrasepsi
1. Pengertian
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra
berarti melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah pertemuan
antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan.
Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk
itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan
kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-
duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan
(Suratun, 2008).
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan
kontrasepsi merupakan variabel yang mempengaruhi fertilitas (Prawirohardjo,
2005). Kontrasepsi atau antikonsepsi (conception control) adalah cara untuk
mencegah terjadinya konsepsi, alat atau obat-obatan.

2. Akseptor KB menurut sasarannya
Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu
a. Fase menunda kehamilan
Masa menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh
pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Karena umur
dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu
karena berbagai alasan. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu
kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi, artinya kembalinya
kesuburan dapat terjamin 100%. Hal ini penting karena pada masa ini
pasangan belum mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi
yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana.
b. Fase mengatur/menjarangkan kehamilan
Periode usia istri antara 20-30 tahun merupakan periode usia paling
baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara
kelahiran adalah 24 tahun. Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah
usia antara 20-30 tahun. Kriteria kontrasepsi yang perlukan yaitu :
efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena pasangan masih
mengharapkan punya anak lagi, dapat dipakai 34 tahun sesuai jarak
kelahiran yang direncanakan, serta tidak menghambat produksi air susu ibu
(ASI). Kontrasepsi yang cocok dan disarankan menurut kondisi ibu yaitu :
AKDR, suntik KB, Pil KB atau Implan
c. Fase mengakhiri kesuburan/tidak hamil lagi
Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih
dari 30 tahun tidak hamil lagi. Kondisi keluarga seperti ini dapat
menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi, karena jika
terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kehamilan dengan
resiko tinggi bagi ibu dan anak. Disamping itu jika pasangan akseptor tidak
mengharapkan untuk mempunyai anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan
disarankan adalah metode kontap, AKDR, Implan, Suntik KB dan Pil KB
(Suratun, 2008).

3. Syarat-Syarat Kontrasepsi
Hendaknya Kontrasepsi memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya
b. Efek samping yang merugikan tidak ada
c. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
e. Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama
pemakaiannya
f. Cara penggunaannya sederhana
g. Harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas
h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri.

4. Cara-Cara Kontrasepsi
Cara-cara kontrasepsi dapat dibagi menjadi beberapa metode :
a. Pembagian menurut jenis kelamin pemakai
1) Cara atau alat yang dipakai oleh suami (pria)
Cara atau alat yang dipakai oleh pria yaitu kondom,
pengendalian hubungan seks (pantang berkala dan senggama terputus),
pemakaian hormon, penutupan vasdeferen reversible dengan karet
silikon (silikon rubber), dan metode operasi vasektomi.
(a) Kondom
Cara kerja kondom adalah menghalangi tertumpahnya sperma ke
dalam vagina dengan cara menampung kedalam kondom.
Beberapa keuntungan dari penggunaan kondom antara lain
adalah sebagai berikut:
(1) Murah
(2) Mudah didapatkan/gratis
(3) Tidak memerlukan pengawasan medis
(4) Berfungsi ganda
(5) Dipakai dikalangan masyarakat berpendidikan
Beberapa kerugian dari penggunaan kondom antara lain adalah
sebagai berikut:
(1) Kenikmatan terganggu
(2) Alergi terhadap karet dan jelli yang mengandung spermiside
(3) Sulit dipasarkan di masyarakat yang berpendidikan rendah
(4) Angka kegagalan cukup tinggi karena karet bocor

(b) Pantang berkala
Metode kontrasepsi ini adalah tidak melakukan hubungan seks
selama masa usia subur. Syarat utama metode pantang berkala
adalah siklus mentruasi yang teratur dan kerja sama dengan suami
yang baik. Metode pantang berkala dikenal 2 sistem, yaitu:
(1) Pantang berkala dengan sistem kalender. Metode ini
memerlukan sistem menstruasi yang teratur sehingga dapat
memperhitungkan masa subur. Sistem ini dikenal dengan nama
Ogino-Knaus, yang memperhitungkan terjadinya ovulasi
sekitar 12 sampai 16 hari sebelum menstruasi. Sehingga 3 hari
sebelum masa subur pasangan usia subur sudah tidak boleh
melakukan hubungan seks karena masa hidup spermatozoa
adalah 72 jam di dalam tubuh wanita.
(2) Pantang berkala dengan sistem suhu basal. Penurunan suhu
basal terjadi sebanyak sampai 1
0
C pada hari ke 12 sampai ke
13 mentruasi, dimana ovulasi terjadi pada hari ke 14. Setelah
mentruasi suhu akan naik lebih dari suhu basal yang disertai
ovulasi yang terdapat temperatur bifasik. Kelemahan sistem ini
adalah pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat,
hanya dapat digunakan oleh mereka yang terdidik, dan hanya
pada siklus menstruasi 20-30 hari.

(c) Senggama terputus
Konsep metode senggama terputus adalah mengeluarkan kemaluan
menjelang ejakulasi. Kekurangan metode ini mengganggu kepuasan
kedua belah pihak, dan dapat menimbulkan ketegangan jiwa kedua
belah pihak, serta seringnya terlambat mengeluarkan kemaluan.
(d) Pemakaian hormon
Penggunaan spermizide dapat melumpuhkan sampai mematikan
spermatozoa yang digunakan menjelang hubungan seks.
Kekurangan dari pemakaian hormon adalah merepotkan, nilai,
kepuasan berkurang, dan menimbulkan iritasi atau alergi.
(e) Penutupan vasdeferen reversible dengan karet silikon
(f) Metode operasi vasektomi

2) Cara atau alat yang dipakai oleh istri (wanita)
Cara atau alat yang dipakai oleh wanita yaitu Hormonal (pil KB,
suntikan KB, dan alat kontrasepsi bawah kulit), AKDR (alat kontrasepsi
dalam rahim), kontrasepsi Mantap atau sterilisasi (tubektomi)

b. Menurut pelayanannya
1) Cara medis dan non-medis
2) Cara klinis dan non-klinis
c. Pembagian menurut efek kerjanya
1) Tidak mempengaruhi fertilitas
2) Menyebabkan infertilitas temporer (sementara)
3) Kontrasepsi permanen dengan infertilitas menetap
d. Pembagian menurut cara kerja alat/cara kontrasepsi
1) Menurut keadaan biologis: senggama terputus, metode kalender, suhu
badan dll
2) Memakai alat mekanis : kondom, diafragma,
3) Memakai obat kimiawi : spermisida
4) Kontrasepsi intrauterina : IUD
5) Hormonal : pil KB, suntikan KB, dan alat kontrasepsi bawah kulit
(AKBK)
6) Operatif : tubektomi dan vasektomi
e. Pembagian umum dan banyak dipakai adalah
1) Metode merakyat : senggama terputus, pembilasan pasca senggama,
perpanjangan masa laktasi
2) Metode tradisional : pantang berkala, kondom, diafragma dan
spermisida
3) Metode moderen
a) Kontrasepsi hormonal : pil KB, suntik KB, alat kontrasepsi bawah
kulit.
b) Kontrasepsi intrauterina : IUD
4) Metode permanen operasi : tubektomi pada wanita dan vasektomi pada
pria (Mochtar, 1998).

Secara garis besar ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara
kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern (metode efektif) :
a. Kontrasepsi Sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan
kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat
dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan
kontrasepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan
kondom, diafragma atau cup, cream, jelly atau tablet berbusa (vaginal
tablet).

b. Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif
Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan
kontrasepsi permanen. Kontrasepsi tidak permanen dapat dilakukan dengan
pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan dan implant.
Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode
mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) dan
vasektomi (sterilisasi pada pria).
Beberapa cara kontrasepsi modern, baik permanen maupun tidak
permannen adalah sebagai berikut:
1) Kontrasepsi Pil KB
a) Pengertian
Microginon adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21
tablet, mengandung hormon aktif estrogen/progesteron dalam dosis
yang sama dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. (Sarwono, 2003)
b) Kriteria Pil KB
(1) Efektif dan reversibel
(2) Harus diminum setiap hari
(3) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan
perdarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang.
(4) Efek samping serius jarang terjadi
(5) Dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi baik yang sudah
punya anak/belum
(6) Dapat mulai diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil.
c) Cara Kerja
(1) Menekan ovulasi
(2) Mencegah implantasi
(3) Lendir servik mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma
(4) Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan
sendirinya akan terganggu pula.
d) Manfaat
(1) Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas
tubektomi), 1 kehamilan / 1000 wanita dalam tahun pertama
penggunaan.
(2) Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
(3) Tidak mengganggu hubungan sex
(4) Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang
(5) Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin
menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
(6) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga monopause
(7) Mudah digunakan setiap saat
(8) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan
(9) Dapat digunakan kontrasepsi darurat
e) Keterbatasan
(1) Mahal dan membosankan karena harus menggunakan setiap hari
(2) Mual, terutama pada 3 bulan pertama
(3) Spotting
(4) Pusing
(5) Nyeri payudara
(6) BB naik
(7) Amenorhea (jarang)
(8) Depresi
(9) Tidak mencegah IMS
f) Indikasi
Pada prinsipnya hampir semua boleh menggunakan:
(1) Usia reproduksi
(2) Telah memiliki anak atau belum
(3) Gemuk atau kurus
(4) Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi
(5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
(6) Pasca keguguran
g) Kontra Indikasi
(1) Hamil atau dicurigai hamil
(2) Menyusui eksklusif
(3) Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya
(4) Hepatitis
(5) Perokok dengan usia > 35 tahun
(6) Riwayat penyakit jantung, stroke, hipertensi, DM
(7) Kanker payudara
(8) Epilepsi/riwayat epilepsi
(9) Tidak bisa menggunakan pil secara teratur setiap hari
h) Waktu Mulai Menggunakan
(1) Setiap saat selagi haid untuk meyakinkan kalau perempuan
tersebut tidak hamil
(2) Hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid
(3) Setelah melahirkan
(a) Setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif
(b) Setelah 3 bulan dan tidak menyusui
(c) Pasca keguguran (seberapa atau dalam waktu 7 hari)
(d) Bila berhenti menggunakan kontrasepsi infeksi dan ingin
menggantikan dengan pil, pil dapat segera diberikan tanpa
perlu menunggu haid.

2) Kontrasepsi Suntik
a) Pengertian
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya
kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal
jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena
kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif
murah dan aman.
Sebelum disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu untuk
memastikan kecocokannya. Suntikan diberikan saat ibu dalam
keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai
persyaratan sama dengan pemakai pil, begitu pula bagi orang yang
tidak boleh memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB
hormonal selama maksimal 5 tahun.
b) Jenis-jenis KB suntik
(1) Suntikan per 1 bulan / Kombinasi : contoh : cyclovem
(a) Kandungan
Suntikan kombinasi mengandung hormon esterogen
dan progesteron, yang diberikan satu bulan sekali. jenis
suntikan kombinasi ini terdiri dari 25 mg Depo
Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estrogen Sipionat
yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Cyclovem).
(b) Cara kerja
Pemberian hormon progestin akan menyebabkan
pengentalan mukus serviks sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga
mencegah pematangan dan pelepasan sel telur.
Endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya
aktifitas kelenjar. Selain itu akan merangsang timbulnya
haid setiap bulan.
(c) Efektifitas
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara,
macam-macam suntikan tersebut telah dibuktikan sangat
baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1 % per 100
wanita selama tahun pertama penggunaan.
(d) Keuntungan & Kerugian
Keuntungan dari KB suntik 1 bulan diantaranya
adalah sangat efektif (99,6%), risiko kesehatan kecil, tidak
berpengaruh terhadap hubungan suami isteri, periksa dalam
tidak dibutuhkan pada saat pemeriksaan awal, klien tidak
perlu menyimpan obat suntik, tidak mempengaruhi
pemberian ASI, kecuali suntikan Cyclofem, reaksi suntik
sangat cepat (<24 jam), dapat digunakan oleh wanita tua
(>35 tahun) kecuali Cyclofem, mencegah kehamilan
ektopik, jangka panjang, sangat efektif walaupun klien
terlambat suntik 1 minggu dari jadwal yang telah ditentukan,
dan sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi,
tetapi belum bersedia untuk mengikuti sterilisasi
(tubektomi).
Kerugian KB suntik 1 bulan diantaranya adalah
kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah
penghentian pemakaian, harus kembali ke sarana pelayanan,
tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan
berikutnya, permasalahan berat badan merupakan efek
samping tersering, dapat menyebabkan ketidakteraturan
masalah haid, tidak menjamin perlindungan terhadap
penularan penyakit menular seksual, hepatitis B, atau infeksi
HIV, mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan
seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga,
efektivitas berkurang bila digunakan bersamaaan dengan
obat-obat epilepsi dan obat tuberklosis, dapat terjadi efek
samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke,
bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinan
timbulnya tumor hati, dan kemungkinan terlambat
pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.
(e) Indikasi & kontraindikasi
Indikasi dari KB suntik 1 bulan diantaranya adalah
sebagai berikut:
((1)) Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka
panjang atau telah mempunyai cukup anak sesuai
keinginan tetapi belum ingin, belum siap atau belum
bisa ikut tubektomi saat ini.
((2)) Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi yang tidak
perlu dipakai setiap hari atau setiap bersenggama.
((3)) Klien tidak dapat memakai kontrasepsi yang
mengandung esterogen, atau kalau meminumnya maka
akan timbul gejala-gejala komplikasi pemakaian
esterogen.
((4)) Klien sedang menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
yang sesuai.
((5)) Usia reproduksi, telah memiliki anak, ataupun yang
belum memiliki anak, ingin mendapatkan kontrasepsi
dengan efektivitas yang tinggi.
((6)) Menyusui ASI pascapersalinan lebih dari 6 bulan,
pascapersalinan dan tidak menyusui.
((7)) Anemia, nyeri haid hebat, haid teratur, riwayat
kehamilan ektopik, dan sering menggunakan pil
kontrasepsi.
Kontraindikasi KB suntik 1 bulan diantaranya adalah
sebagai berikut:
((1)) Hamil atau diduga hamil
((2)) Menyusui di bawah 6 minggu pascapersalinan
((3)) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
((4)) Penyakit hati akut
((5)) Usia lebih dari 35 tahun yang merokok
((6)) Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan
darah tinggi (lebih dari 180/110 mmHg).
((7)) Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit
kepala atau migraine.
((8)) Keganasan payudara


(f) Waktu pemberian
((1)) Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari
siklus haid. Tidak diperlukan kontrasepsi tambahan.
((2)) Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7
siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan
seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi
lain untuk 7 hari.
((3)) Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan
setiap saat, asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak
hamil.
((4)) Bila klien pascapersalinan 6 bulan, menyusui, serta
belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal
saja dapat dipastikan tidak hamil.
((5)) Bila pascapersalinan lebih dari 6 bulan, menyusui,
serta telah mendapat haid, maka suntikan pertama
diberikan, asal saja dipastikan tidak hamil.
((6)) Bila pascapersalinan kurang dari 6 bulan dan
menyusui, jangan beri suntikan kombinasi.
((7)) Bila pascapersalinan 3 minggu, dan tidak menyusui,
suntikan kombinasi dapat diberi.
((8)) Ibu yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal
yang lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi
hormonal kombinasi. Selama ibu tersebut
menggunakan kontrasepsi sebelumnya secara benar,
suntikan kombinasi dapat diberikan tanpa perlu
menunggu haid
((9)) Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi
hormonal, dan ibu tersebut ingin menggantinya
dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi
tersebut dapat diberikan sesuai jadwal kontrasepsi
sebelumnya.
(g) Manfaat kesehatan
((1)) Menurunnya jumlah darah haid setiap bulan,
menurunkan nyeri perut.
((2)) Mengurangi kemungkinan penyakit kurang darah
akibat kekurangan zat besi.
((3)) Mengurangi tanda atau gejala sindroma haid
((4)) Dapat melindungi kemungkinan penyakit radang
panggul dan kanker indung telur karena progestin
menyebabkan mukus serviks menebal, sehingga
memepersulit penularan infeksi dari liang senggama
atau serviks untuk mencapai saluran telur (penekanan
ovulasi akan menyebabkan berkurangnya stimulasi
dari sel epitel ovarium).
((5)) Mencegah terjadinya kanker endomertrium
((6)) Dapat digunakan pada wanita yang mempunyai
penyakit darah sickle cell anemia.
((7)) Dapat meningkatkan jumlah ASI pada ibu yang
menyusui.

(2) Suntikan per 3 bulan : contoh : Depo provera, Depogeston
(a) Kandungan
((1)) Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA),
mengandung 150mg DMPA yang diberikan tiap 3
bulan dengan cara disuntik Intro Muskuler (di daerah
bokong). Depo provera atau depo metroxy
progesterone asetat adalah satu sintesa progestin yang
mempunyai efek seperti progesterone asli dari tubuh
wanita. Obat ini dicoba pada tahun 1958 untuk
mengobati abortus habitualis dan endometriosis
ternyata pada pengobatan abortus habitualis seringkali
terjadi kemandulan setelah kehamilan berakhir. Depo
provera sebagai obat kontrasepsi suntikan ternyata
cukup manjur dan aman dalam pelayanan keluarga
berencana. Anggapan bahwa depo provera dapat
menimbulkan kanker pada leher rahim atau payudara
pada wanita yang mempergunakannya, belum didapat
bukti-bukti yang cukup tegas, bahkan sebaliknya.
((2)) Depo Nonsterat Enontat (Depo Nonsterat) yang
mengandung 200mg noratin dion anontat, diberikan
setiap 2 bulan dengan cara disuntik intra muskuler.
Norigest adanah obat yang disuntikkan (secara Depot).
1 ampul Norigest berisi 200 mg Norethindore
enenthate dalam larutan minyak. Larutannya
merupakan campuran benzyl benzoate dan castor oil
dalam perbandingan 4:6. Efek kontrasepsinya terutama
mencegah masuknya sperma melalui lender cervix.
Sesudah pengobatan dihentikan, keadaan fertilitas
biasanya kembali dalam waktu beberapa minggu.
Karena pada beberapa kasus mungkin akan terjadi
perdarahan-perdarahan yang atypis, maka perlu
diberitahukan terlebih dahulu kepada setiap calon
akseptor akan kemungkinan hal ini.
(b) Cara kerja
Kontrasepsi suntik progestin memiliki efektivitas
yang sangat tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100
perempuan per tahun, asal penyuntikan dilakukan sesuai
jadwal dan secara teratur. Cara kerjanya antara lain:
((1)) Mencegah ovulasi
((2)) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma.
((3)) Menjadikan selaput lendir rahim tipis
((4)) Menghambat pengangkutan gamet oleh tuba
((5)) Efektifitas
(c) Keuntungan & kerugian
Keuntungan KB suntik 3 bulan, diantaranya sebagai
berikut: sangat efektif, pencegahan kehamilan jangka
panjang, tidak berpengaruh terhadap hubungan seksual,
tidak mengandung esterogen sehingga tidak berdampak
serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan
darah, tidak memiliki pengaruh terhadap ASI, sedikit efek
samping, klien tidak perlu menyimpan obat suntik, dapat
digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun sampai
perimenopause, membantu mencegah kanker endometrium
dan kehamilan ektopik, menurunkan kajadian penyakit jinak
payudara, mencegah beberapa penyebab penyakit radang
panggul, dan menurunkan krisis anemia bulan sabit.
Kerugian KB suntik 3 bulan antara lain sebagai
berikut: sering ditemukan gangguan haid (siklus haid yang
memendek atau memanjang, perdarahan yang banayk atau
sedikit, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak,
tidak haid sama sekali), klien sangat bergantung pada tempat
sarana pelayanan kesehatan, idak dapat dihentikan sewaktu-
waktu sebelum suntikan berikutnya, permasalahan berat
badan merupakan efek samping tersering, tidak menjamin
perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual,
hepatitis B, atau infeksi virus HIV, terlambatnya kembali
kesuburan setelah penghentian pemakaian, dan terlambatnya
kembali kesuburan bukan karena terjadinya kerusakan atau
kelainan pada organ genitalia, melainkan karena belum
habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya.
(d) Indikasi & kontraindikasi
Indikasi KB suntik 3 bulan antara lain adalah usia
reproduksi, menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan
memiliki efektivitas tinggi, menyusui dan membutuhkan
kontrasepsi yang sesuai, setelah melahirkan dan tidak
menyusui, setelah abortus atau keguguran, perokok, tekanan
darah kurang dari 180/110 mmHg, dengan masalah
gangguan pembekuan darah atau anemia, menggunakan obat
untuk epilepsi atau obat tuberklosis, tidak dapat
menggunakan kontrasepsi yang mengandung esterogen,
sering lupa menggunakan pil kontrasepsi, dan mendekati
usia menopause.
Kontraindikasi KB suntik 3 bulan antar lain adalah
hamil atau dicurgai hamil, perdarahan pervaginam yang
belum jelas penyebabnya, tidak dapat menerima terjadinya
gangguan haid, menderita kanker payudara, dan diabetes
mellitus.

c) Cara pemberian KB suntik 1 bulan dan 3 bulan
(1) Waktu pemberian
(a) Setelah melahirkan : 6 minggu pasca salin
(b) Setelah keguguran : segera setelah dilakukan kuretase atau
30 hari setelah keguguran (asal ibu belum hamil lagi)
(c) Dalam masa haid : Hari pertama sampai hari ke-5 masa haid
(2) Lokasi penyuntikan IM sampai daerah glutus
(a) Daerah bokong/pantat
(b) Daerah otot lengan atas



d) Cara penggunaan
(1) Kontrasepsi suntik DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara
disuntik intromuskuler dalam di daerah pantat. Apabila suntik
diberikan setiap 90 hari pemberian kontrasepsi suntikannonsterat
untuk 3 injeksi berikutnya diberikan setiap 8 minggu mulai
dengan injeksi kelimadiberikan setiap 12 minggu.
(2) Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang
dibasahi oleh etil atau iso propil alkohol 60-90% biarkan kulit
kering sebelum disuntik.
(3) Kocok dengan baik dan hindarkan terjadinya gelembung-
gelembung udara, kontrasepsi tidak perlu di dinginkan. Bila
terdapat endapan putih pada dasar vial, upayakan
menghilangkannyadengan cara menghangatkannya.

e) Peringatan bagi akseptor
(1) Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan
kehamilan.
(2) Nyeri abdomen bawah yang berat, kemungkinan gejala
kehamilan ektopik tergantung.
(3) Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi.
(4) Sakit kepala, migrain, sakit kepala berulang yang berat/kaburnya
penglihatan.
(5) Peredarahan berat yang 2x lebih panjang dari masa haid atau 2
kali lebih banyak dalam waktu1 periode masa haid.






3) Intrauterine device (IUD)
a) Pengertian
Intrauterine device (disingkat IUD) adalah alat kecil
berbentuk-T terbuat dari plastik dengan bagian bawah-nya terdapat
tali halus yang juga terbuat dari plastik. Sesuai dengan namanya IUD
dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan.
Pemasangan bisa dengan rawat jalan dan biasanya akan tetap terus
berada dalam rahim sampai dikeluarkan lagi.
Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim
terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya
konsepsi atau kehamilan (BKKBN, 2003).

b) Manfaat
IUD mencegah sperma tidak bertemu dengan sel telur dengan
cara merubah lapisan dalam rahim menjadi sulit ditempuh oleh
sperma. Terdapat2 jenis IUD : IUD dengan tembaga dan IUD dengan
hormon (dikenal dengan IUS = Intrauterine System). IUD tembaga
(copper) melepaskan partikel tembaga untuk mencegah kehamilan
sedangkan IUS melepaskan hormon pregestin.

c) Jenis-jenis IUD
Jenis IUD yang ada di Indonesia antara lain :
(1) Cooper - T
Berbentuk T terbuat dari bahan polyethelen dimana
dibagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan
ini mempunyai efek anti fertilisasi (anti pembuahan) yang cukup
baik.
(2) Cooper - 7
Berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan
pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang
vertikal 32 mm, ditambahkan gulungan tembaga yang fungsinya
sama seperti lilitan tembaga halus pada jenis Cooper - T.
(3) Multi Load
Terbuat dari plastik atau polyethelen dengan dua tangan,
kiri dan kanan terbentuk sayap yang fleksibel. Batangnya diberi
gulungan kawat tembaga untuk menambah efektifitas.
(4) Lippes Loop
Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral atau huruf S
bersambung. Untuk memudahkan kontrol diberi benang pada
ekornya. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah,
keuntungan lain dari AKDR/IUD jenis ini adalah jarang terjadi
luka atau porforasi, sebab terbuat dari bahan plastik (Maryani,
2004).

d) Waktu Pemasangan
IUD dipasang diluar hamil dan saat selesai menstruasi.
Pemasangan program post partum belum memuaskan karena banyak
terjadi ekspulsi dan masyarakat segan untuk kembali.
(1) IUD dapat dipasang pada saat:
(a) Bersamaan dengan menstruasi
(b) Segera setelah bersih menstruasi
(c) Pada masa akhir menstruasi
(d) Tiga bulan pasca puerperium
(e) Bersamaan dengan seksio secaria
(f) Bersamaan dengan abortus dan kuretage
(g) Hari kedua - ketiga pasca persalinan (Manuaba, 1998)
(2) Tidak dapat dipasang pada :
(a) Terdapat infeksi genetalia
(b) Menimbulkan eksaserbasi (kambuh) infeksi
(c) Keadaan patologis lokal : flungkle, stenosis vagina, infeksi
vagina.
(d) Dugaan keganasan serviks
(e) Perdarahan dengan sebab yang tidak jelas
(f) Pada kehamilan : terjadi abortus, mudah perforasi,
perdarahan, infeksi (Manuaba, 1998).

e) Keuntungan
IUD memiliki banyak keuntungan antara lain adalah sangat
efektif mencegah kehamilan, sekali pakai terus berfungsi sampai
dibuka, pencegahan kehamilan untuk jangka yang panjang sampai 5-
10 tahun, relatif tidak mahal, nyaman (tidak perlu diingat2 seperti
kalau pakai pil), dapat dibuka kapan saja (oleh dokter), segera
berfungsi, efek samping yang rendah, dapat menyusui dengan aman,
dan tidak dirasakan oleh pemakai ataupun pasangannya.

f) Efek Samping
Ada beberapa efek samping dari penggunaan IUD ini,
diantaranya:
(1) Perubahan siklus haid pada 3bulan pertama, dan akan berkurang
setelah 3 bulan.
(2) Haid akan lebih lama dan lebih banyak.
(3) Kadang-kadang terjadi pendarahan (spotting) diantara masa
menstruasi.

g) Kekurangan
Selain ketiga efek samping di atas, ada pula beberapa
komplikasi lainnya yang merupakan kekurangan dari IUD ini, yaitu:
(1) Akan terasa sakit dan kejang selama 3 hingga 5 hari setelah
pemasangan.
(2) Mungkin dapat menyebabkan anemia jika pendarahan pada saat
haid sangat banyak.
(3) Jika pemasangan tidak benar, bisa saja terjadi perforasi dinding
uterus.
(4) Tidak bisa mencegah infeksi penyakit menular seksual
(5) Tidak baik digunakan pada perempuan yang rentan terkena
penyakit menular seksual karena sering berganti pasangan
(6) Jika perempuan yang terkena IMS (infeksi menular seksual)
memakai IUD, dikhawatirkan akan memicu penyakit radang
panggul.
(7) Memerlukan prosedur medis, termasuk diantaranya adalah
pemeriksaan pelvik sebelum dipasang IUD. Sedikit nyeri setelah
pemasangan, namun biasanya akan hilang dalam jangka waktu 1-
2 hari.
(8) Ada kemungkinan IUD bisa keluar dengan sendirinya dari rahim.
Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang baru saja melahirkan
dan segera dilakukan pemasangan IUD. Selain itu, posisi IUD di
dalam rahim juga dapat mempengaruhi apakah IUD dapat
terlepas atau tidak.
(9) IUD tidak mencegah kehamilan ektopik atau kehamilan di luar
kandungan, karena IUD ini hanya mencegah kehamilan normal.

4) Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap terdiri dari kontrasepsi mantap wanita dan
kontasepsi mantap pria.
a) Kontrasepsi mantap wanita : Medis Operatif Wanita (MOW)
(1) Pengertian
MOW merupakan oklusi tuba fallopii sehingga
spermatozoa dan ovum tidak dapat bertemu. (Hanafi, 2004)
MOW merupakan prosedur bedah sukarela untuk
menghentikan fertilisasi (kesuburan) seorang wanita. (Saifuddin,
dkk, 2006)
(2) Efektifitas
MOW sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 prempuan
selama tahun pertama penggunaan), dan efektif 6 10 minggu
setelah operasi. (Hanafi, 2004, hal 322).
(3) Jenis dari MOW adalah Minilaparatomi dan Laparoskopi.
(4) Mekanisme kerja
Dengan mengoklusi tuba fallopi ( mengikat dan
memotong atau memasang cincin ) sehingga sperma tidak dapat
bertemu dengan ovum.
(5) Manfaat
(a) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
(b) Tidak bergantung pada factor senggama.
(c) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko
kesehatan yang
(d) serius.
(e) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi
lokal.
(f) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang.
(g) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek
pada produksi hormone ovarium) (Hanafi, 2004,)
(6) Keterbatasan
(a) Harus mempertimbangkan sifat permanen metode
kontrasepsi ini (tidak
(b) dapat dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi
rekanalisasi.
(c) Klien dapat menyesal kemudian hari.
(d) Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan
anestesi umum)
(e) Rasa sakit/ ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan.
(f) Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter
(g) spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk proses
laparoskopi)
(h) Tidak melindungi dari IMS termasuk HIV/AIDS (Hanafi,
2004).
(7) Indikasi MOW
(a) Usia > 26 tahun
(b) Paritas > 2
(c) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan
kehendaknya.
(d) Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan
yang serius.
(e) Pasca persalinan
(f) Pasca keguguran
(g) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini.
(8) Kontraindikasi MOW
(a) Sedang hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
(b) Perdarahan pervaginal yang belum terjelaskan (hingga harus
di evaluasi)
(c) Infesi sistemik atau pelvic yang akut (hingga masalah itu
disembuhkan atau dikontrol)
(d) Tidak boleh menjalani proses pembedahan.
(e) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa
depan.
(f) Belum memberikan persetujuan tertulis.
(9) Waktu dilakukan
(a) Setiap waktu selama silus haid apabila diyankini secara
rasional klien tersebut tidak hamil.
(b) Hari ke 6 hingga ke 13 dari siklus menstruasi (fase
proliferasi)
(c) Pascapersalinan
(d) Minilap : dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12
minggu.
(e) Laparoskopi : tidak tepat untuk klien-klien pascapersalinan.
(f) Pacsa keguguran
(g) Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada
bukti infeksi pelvic (minilap atau laparoskopi)
(h) Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada
bukti infeksi pelvic (minilaparatomi saja)

(10) Komplikasi dan penanganan
No Komplikasi Penanganan
1. Infeksi luka.


Apabila terlihat luka, obati dengan
antibiotic. Bila terdapat abses,
lakukan drainase dan obati seperti
yang terindikasi
2. Demam pasca Obati infeksi berdasarkan apa yang
ditemukan.
3. Luka pada
kandung kemih,
intestina (jarang
terjadi)
Mengacu ke tingkat asuhan yang
tepat. Apabila kandung kemih atau
usus luka dan diketahui sewaktu
operasi, lakukan reparasi primer.
Apabila ditemukan pascaoperasi,
dirujuk ke RS yang tepat bila perlu.
4. Hematoma
(subkutan)
Gunakan packs yang hangat dan
lembab tsb. Amati : hal yang
biasanya akan berhenti dengan
berjalannya waktu tetapi dapat
membutuhkan drainase bila ekstensif.

5. Emboli gas yang
diakibatkan oleh
laparoskopi
(sangat jarang
terjadi)
Ajukan ke tingkat asuhan yang tepat
dan mulailah resusitasi intensif,
termasuk
Cairan intravena, resusitasi kardio
pulmunar dan tindakan penunjang
kehidupan lainnya.
6. Rasa sakit pada
lokasi
pembedahan.
Pastikan adanya infeksi atau abses
dan obati berdasarkan apa yang
ditemukan.
7. Perdarahan
superficial (tepi-
tepi kulit atau
subkutan)
Mengontrol perdarahan dan obati
berdasarkan apa yang ditemukan.


b) Kontrasepsi mantap pria : medis operasi pria (MOP).
(1) Pengertian
MOP merupakan suatu metode kontrsepsi pada pria yang
aman, sederhana dan efektif, memakan waktu operasi yang
singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. (Hanafi, 2004)
(2) Efektifitas
MOP sangat efektif setelah 20 ejakulasi atau 3 bulan.
(Saifuddin, 2006)
(3) Jenis MOP ada 2 yaitu jenis standar dan VTP
(4) Mekanisme kerja
Dengan mengoklusi tuba fallopi ( mengikat dan memotong
atau memasang cincin ) sehingga sperma tidak dapat bertemu
dengan ovum.


(5) Manfaat
(a) Efektif
(b) Aman, morbidibitas rendah dan hamper tidak ada mortalitas.
(c) Sederhana
(d) Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit
(e) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi
lokal saja.
(f) Biaya rendah (Hanafi, 2004, hal 308)
(6) Keterbatasan
(a) Diperlukan suatu tindakan operatif
(b) Kadang-kadang menyebabkan kompilkasi seperti
perdarahan atau infeksi
(c) Kontap-pria belum memberikan perlindungan total sampai
semua spermatozoa, yang sudah ada di dalam system
reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan
(d) Problem psikologis yang berhubungan dengan prilaku
seksual mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif
yang menyangkut system reproduksi pria.
(7) Indikasi MOP
MOP merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas di
mana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau ganguan
terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan
ketahanan dan kualitas keluarga.
(8) Kontra Indikasi MOP
(a) Infeksi kulit local dan infeksi traktus genitalia
(b) Kelainan scrotum dan sekitarnya ( varicocele, hydrocele
besar, filariasis, hernia inguinalis, orchiopexy, luka parut
bekas operasi hernia, skrotum yang sangat tebal)
(c) Penyakit sistemik, riwayat perkawinan, dan psikologis atau
seksual yang tidak stabil.
(9) Komplikasi dan penanganan
(a) Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau
beberapa saat setelah tindakan. Komplikasi akibat reaksi
mafilaksis yang disebabkan oleh pengguanaan lidokain atau
manipulasi berlebihan terhadap anyaman pembuluh darah di
sekitar vasa deferensia.
(b) Komplikasi pasca tindakan dapat berupa hematoma
skrotalis, infeksi atau abses pada testis, atrofi testis,
epididimis kongestif atau peradangan kronik granuloma di
tempat insisi, penyulit jangka panjang yang dapat
mengganggu upaya pemulihan fungsi reproduksi adalah
terjadinya antibody sperma.


















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah
upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan
usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Arum, 2008).
Tujuan Keluarga Berencana adalah mencegah terjadinya ledakan
penduduk, mengatur kehamilan, mengobati kemandulan atau infertilitas bagi
pasangan yang telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai
keturunan, Married Conseling, dan tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil
Bahagia dan Sejahtera).
Sasaran program KB terdiri dari sasaran langsung (Pasangan usia subur),
dan sasaran tidak langsung (Kelompok remaja, Organisasi-organisasi, lembaga-
lembaga kemasyarakatan, sasaran wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk
yang tinggi).
Akseptor Keluarga Barencana (KB) adalah Pasangan Usia Subur (PUS)
yang menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi. Jenis-jenis akseptor KB
meliputi akseptor aktif, akseptor aktif kembali, akseptor KB baru, akseptor KB
dini, akseptor langsung, dan akseptor dropout.
Kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai
akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Syarat-syarat
kontrasepsi adalah aman pemakaiannya dan dapat dipercaya, efek samping yang
merugikan tidak ada, lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan, tidak
mengganggu hubungan persetubuhan, tidak memerlukan bantuan medik atau
kontrol yang ketat selama pemakaiannya, dan lain sebagainya.
Cara-cara kontrasepsi dapat dibagi menjadi beberapa metode, diantaranya
menurut jenis kelamin pemakai, menurut pelayanannya (cara medis dan non-
medis, cara klinis dan non-klinis), pembagian menurut efek kerjanya, pembagian
menurut cara kerja alat/cara kontrasepsi, dan pembagian umum dan banyak
dipakai. Untuk pria dapat berupa kondom, pantang berkala, senggama terputus,
pemakaian hormon, penutupan vasdeferen reversible dengan karet silikon,
metode operasi vasektomi. Wanita dapat berupa Hormonal (pil KB, suntikan KB,
dan alat kontrasepsi bawah kulit), AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim),
kontrasepsi Mantap atau sterilisasi (tubektomi). Secara garis besar ada dua
pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara
kontrasepsi modern (metode efektif)

B. Saran
Gunakan metode pemakaian alat kontrasepsi sesuai dengan persyaratan
dengan mempertimbangkan indikasi dan kontraindikasi yang ada.














DAFTAR PUSTAKA

Arum, S., Sujiyatini. 2008. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Jogjakarta:
Mitra Cendikia Press.

Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana Dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka
Harapan.

Notodiharjo, Riano. 2002. Reproduksi, Kontrasepsi, dan Keluarga Berencana.
Yogyakarta: Kanisius.

Sarwono, Purwohardjo. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Suratun., dkk. 2008. Pelayanan Keluarga Berencana Dan Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: Trans Info Media.