Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

I. a. latar belakang :

Menristek menyatakan, kebutuhan BBM nasional cenderung meningkat


setidaknya enam persen/tahun. Produksi BBM nasional tahun 2004 sekitar 44,5
juta kiloliter, sedangkan konsumsi sekitar 62,3 kiloliter. Dengan demikian
diperkirakan ada defisit sekitar 17,8 juta kiloliter yang harus diimpor. Potensi
migas nasional cenderung berkurang dalam beberapa tahun lagi. Pengembangan
energi alternatif sangat dibutuhkan, salah satunya adalah mengembangkan
tanaman untuk dijadikan alternative pengganti migas.
Dari penelitian yang dilakukan, telah ditemukan 60 jenis tanaman pangan,
perkebunan dan non pangan yang berpotensi menjadi bio energi. Untuk tanaman
pangan yang bisa menjadi bioetanol, antara lain leguminosa (kacang tanah,
kedelai dan sejenisnya), umbi-umbian (singkong, ubi jalar dan sejenis), serta biji-
bijian (jagung, tan, serealia, dan bunga matahari). Tanaman perkebunan yang bisa
menjadi biodiesel dan bioetanol, yaitu jenis palma seperti kelapa, kelapa sawit,
sagu serta berbagai tanaman berjenis tebu. Tanaman non pangan yang potensial
menjadi biodiesel, antara lain jarak pagar, jarak kepyar dan kapuk randu. Jika
untuk satu jenis tamanan bioenergi mampu menjadi subtitusi lima persen saja
kebutuhan BBM, maka akan terjadi penghematan sekitar dua juta kiloliter atau
setara dengan Rp. 9 triliun. Aspek positifnya, membuka lapangan kerja dan
lapangan usaha bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman yang berpotensi
menjadi subtitusi BBM.
Tabel 1. Jenis Tumbuhan Penghasil Energi
Jenis Tumbuhan Produksi Ekivalen Energi
Minyak (Liter (kWh per Ha)
per Ha)
Elaeis guineensis (kelapa sawit) 3.600-4.000 33.900-37.700
Jatropha curcas (jarak pagar) 2.100-2.800 19.800-26.400
Aleurites fordii (biji kemiri) 1.800-2.700 17.000-25.500
Saccharum officinarum (tebu) 2.450 16.000
Ricinus communis (jarak kepyar) 1.200-2.000 11.300-18.900
Manihot esculenta (ubi kayu) 1.020 6.600
Sumber : Business Week edisi 15 Maret 2006
Oleh karena itu, untuk menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM
di Indonesia, minyak jarak pun mulai mendapatkan perhatian serius dari
Pemerintah. Pengembangan minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah
di Indonesia, dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi
Bandung (ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ektraksi minyak dari tanaman
jarak.

I. b. tujuan
Untuk menginformasikan produk jarak pagar dalam kegiatan pemasaran.
Selain itu untuk memenuhi nilai ujian tengah semester pada mata kuliah
pemasaran agribisnis.
II. PEMBAHASAN
II. a. Karakteristik Produk
Jarak pagar
Klasifikasi ilmiah
Jarak
Kerajaan: Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malpighiales
Familia: Euphorbiaceae
Genus: Jatropha
Spesies: J. curcas

Warna Batang Warna Daun

Bentuk Buah Jumlah Biji

Jarak pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan


semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal
sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah
lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat
perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena
kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh
kerabat dekatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan
minyak campuran untuk pelumas.
Berdasarkan pengamatan terhadap keragaman di alam, tumbuhan ini
diyakini berasal dari Amerika Tengah, tepatnya di bagian selatan Meksiko,
meskipun ditemukan pula keragaman yang cukup tinggi di daerah Amazon.
Penyebaran ke Afrika dan Asia diduga dilakukan oleh para penjelajah Portugis
dan Spanyol berdasarkan bukti-bukti berupa nama setempat.
Meskipun termasuk tanaman pionir yang dapat tumbuh disegala tempat,
untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal Jarak Pagar
menghendaki persyaratan tumbuh sebagai berikut :

• Lahan yang dikehendaki adalah Lahan Kering Dataran Rendah Beriklim Kering
(LKDRIK)
• Ketinggian tanah 0 - 500 m diatas permukaan laut
• Suhu < 20 º
• Curah hujan 300 - 1000 mm / tahun
• pH tanah 5,5 - 6,5
Kondisi iklim yang tidak mendukung mengakibatkan produktivitas
menjadi tidak optimal hal ini terlihat dari tingginya variasi produktivitas antara
lakosai satu dengan lokasi lainnya. Gambar di bawah ini adalah lokasi yang cocok
untuk di jadikan tempat budidaya jarak :

Lahan pantai merupakan salah satu jenis lahan marginal yang dimiliki
Indonesia sebagai negara kepulauan. Tanaman jarak yang dikenal mampu tumbuh
di lahan-lahan marginal perlu dikaji potensi adaptasinya, khususnya di lahan pasir
pantai, mengingat lahan pasir pantai memiliki karakteristik cekaman lingkungan
berupa cekaman uap garam dan angin kencang disamping cekaman-cekaman lain
seperti miskin hara, temperatur tinggi, kekeringan. Tanaman jarak pagar sebagai
tanaman bergetah diharapkan tahan cekaman uap garam sehingga mampu
beradaptasi baik di lingkungan lahan pasir pantai.
Kandungan, Biji (dengan cangkang) jarak pagar mengandung 20-40%
minyak nabati, namun bagian inti biji (biji tanpa cangkang) dapat mengandung
45-60% minyak kasar. Berdasarkan analisis terhadap komposisi asam lemak dari
11 provenans jarak pagar, diketahui bahwa asam lemak yang dominan adalah
asam oleat, asam linoleat, asam stearat, dan asam palmitat. Komposisi asam oleat
dan asam linoleat bervariasi, sementara dua asam lemak yang tersisa, yang
kebetulan merupakan asam lemak jenuh, berada pada komposisi yang relatif tetap
(Heller 1996).

Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L) sebagai bahan bakar


alternatif ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak dan
penghematan penggunaan cadangan devisa.

II. b. Keunggulan Jarak Pagar

Keunggulan Jarak Pagar sebagai sumber potensial bahan bakar nabati menurut
(Hasnam dan Mahmud, 2006) adalah: (1) Relatif sudah dibudidayakan oleh petani
kecil, dapat ditanam sebagai batas kebun, ditanam secara monokultur atau
campuran cocok di daerah beriklim kering, dapat ditanam sebagai tanaman
konservasi lahan, dapat tumbuh di lahan marjinal dan juga dapat ditanam di
pekarangan atau di sekitar rumah sehingga basis sumber bahan bakarnya sangat
luas, (2) Pemanfaatan biji atau minyak jarak pagar tidak berkompetisi dengan
penggunaan lain seperti CPO dengan minyak makan atau industri oleokimia,
sehingga harganya diharapkan relatif stabil. Jika harga BBM tetap bertahan di atas
US$ 60 per barrel maka dapat diperkirakan banyak negara yang akan
menggunakan CPO dan minyak kelapa sebagai bahan diesel sehingga akan
mengganggu suplai bagi industri minyak makan dan oleokimia. Situasi ini akan
mendorong harga CPO meningkat dan fluktuatif, atau menyebabkan goncangan
pada pasokan minyak makan dalam negeri sehingga menimbulkan masalah baru
dan (3) Proses pengolahan minyak jarak kasar (CJO = Crude Jathropha Oil) untuk
kebutuhan rumah tangga pengganti minyak tanah dan untuk pembakaran tungku
atau boiler sangat sederhana sehingga dapat dimanfaatkan sampai pelosok daerah
terpencil. Pengolahan untuk bahan bakar pengganti minyak solar juga tidak
memerlukan teknologi tinggi sehingga biaya investasinya relatif murah.
Kelebihan lainnya dari jarak pagar menurut (Hendriadi et al., 2005, dalam
Kemala, 2006) yaitu : (1) berperan sebagai penyangga ekonomi rakyat, dan (2)
mempunyai rendemen cukup tinggi 15 – 35 persen CJO (Crude Jatropha Oil).
Beberapa negara, seperti Zambia dan Amerika Tengah telah lama menggunakan
jarak pagar sebagai bahan bakar, disamping sebagai bahan bakar juga digunakan
untuk pembuatan sabun detergen, mentega, dan makanan ternak. Dengan tren
harga minyak yang terus meningkat serta cadangan bahan bakar minyak fosil
yang makin terbatas seyogianya Indonesia memanfaatkan biofuel mengingat
sumber bahan bakar yang banyak tersedia, terutama jarak pagar. Tanaman jarak
pagar selama ini ditanam petani dan masyarakat sebagai tanaman konservasi yaitu
sebagai tanaman pagar dan belum sebagai komoditas komersil. Belakangan
setelah ditetapkan sebagai komoditas alternatif penghasil minyak bakar, sesuai
dengan Inpres No 1, Tahun 2006 dan Peraturan Presiden No 5 tahun 2006,
pemerintah mulai mengembangkan dengan melibatkan masyarakat seperti dalam
bentuk pembuatan kebun bibit, petak percontohan, areal produktif terbatas.
II. c. Pemasaran produk komoditas Jarak di Indonesia

Produk jarak pagar seperti halnya dengan produk-produk pertanian lainnya


selalu menghadapi resiko pasar berupa fluktuasi harga. Untuk itu, dalam
agribisnis jarak pagar, salah satu alternatif untuk menghindari resiko pasar adalah
dengan membentuk sistem yang terintegrasi secara vertikal pada sub-sistem
produksi, pengolahan dan pemasaran produk-produknya. Dalam sistem agribisnis
ini, KUD dapat mengambil peranannya mulai dari tahap pengolahan produk
hingga pendistribusiannya (Gambar 1).

Gambar 1. Peran KUD dalam sistem pemasaran (Marketing System) dari aneka produk jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Pada tingkat sub-sistem produksi, diperlukan sejumlah petani yang


tergabung dalam suatu kelompok yang akan menyediakan biji jarak kepada pihak
KUD sebagai Perusahaan Pengolah, dengan harga yang sudah disepakati.
Sebaliknya KUD dapat pula menyediakan benih jarak pagar atau setek dan bila
perlu juga menyediakan bantuan teknis kepada petani dalam bercocok tanam.
Pada tahap pengolahan awal, KUD sebagai Perusahaan mengolah biji
jarak pagar menjadi minyak jarak (crude jatropha oil) yang dapat diolah lebih
lanjut menjadi beberapa produk turunannya. Minyak jarak ini sebagian dapat
dijual kepada petani jarak binaan atau anggota KUD lainnya untuk memenuhi
kebutuhan minyak bakar pengganti minyak tanah. Minyak jarak juga merupakan
bahan baku penghasil biodiesel dan gliserin. Pada proses awal ini diperoleh ampas
biji jarak (seed cake) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Pada tahap sistem pemasaran selanjutnya, KUD menghasilkan sabun
dengan bahan baku gliserin, yang merupakan hasil samping (by-product) dari
pengolahan minyak jarak pagar (crude jatropha oil) menjadi biodiesel, dan
menyediakan sabun bagi pedagang besar ataupun para pedagang pengecer. KUD
juga dapat berperan sebagai penyedia gliserin sebagai bahan baku kepada pabrik-
pabrik pembuat sabun. Ampas biji jarak dapat dijual kepada pedagang pupuk atau
kepada petani untuk pupuk organik.
Kemungkinan lain adalah menjualnya untuk kebutuhan pakan ternak,
apabila sudah terdapat perusahaan yang dapat mengolah ampas biji tersebut
(detoksifikasi) menjadi pakan ternak atau ikan. Sedangkan produk biodiesel dapat
dijual untuk kebutuhan lokal atau kepada Konsumen atau Distributor Biodiesel
yang lebih besar, seperti Pertamina, PLN atau Swasta lainnya. Sehingga pihak
KUD dalam sistem pemasaran ini secara terintegrasi memproduksi minyak jarak,
biodiesel, sabun dan pupuk organik . selain itu, pemerintah memiliki rencana
pengembangan pabrik biodesel di Indonesia, bias di lihat di table 1.

Dari table di atas, NTT merupakan rencana yang paling besar untuk
membangun proyek pabrik biodesel Jarak Pagar. Adapun peertimbangan tersebut
karena Pengembangan oleh Pemerintah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
Timur untuk menindaklanjuti Deklarasi para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
tanggal 12 Oktober 2005 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 serta
Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 dengan langkah-langkah kongkrit sebagai
berikut:

Luas lahan tanaman jarak yang dikembangkan oleh pemerintah pada tahun 2006 :

Pengembangan pabrik dalam Skala besar tersebut biasanya memilki pola


atau alur komersil yang ditekankan kepada efisiensi dan daya saing produk dan
ditujukan kepada perusahan-perusahaan besar. Pola dan alurnya dapat dilihat sebagai
berikut :
II. d. Permintaan dan penawaran produk komoditas Jarak

Menurut penelitian dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional


(Lapan), biji jarak yang diolah menjadi minyak dapat digunakan sebagai bahan
bakar pesawat jet. Beberapa negara telah mengimpor biji jarak untuk keperluan
pembuatan bahan-bahan tersebut. Negara-negara itu adalah Brasil, Jerman Barat,
Jepang, Cina, Italia, Thailand, Korea Selatan, Argentina, Hong Kong, dan
Singapura. Oleh karena itu, saat terjadi fluktuasi harga BBM maka pemerintah
pun segera memanfaatkan situasi dan kondisi Indonesia yang cocok dengan
tanaman jarak pagar. Hal ini bisa kita amati dari areal yang mulai di canangkan
untuk memproduksi jarak pagar, antara lain :
Biodiesel Pengembangan jarak di berbagai provinsi tidak lepas dari
potensinya sebagai minyak biodisel. Itu dipicu kenaikan harga bahan bakar dunia
yang mencapai $70/barrel pada 2006. Sebab, biodiesel asal kelapa sawit (CPO)
pun harganya kian melambung mencapai US$389/ton atau sekitar Rp3, 5-juta/ton.
Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) kenaikan harga CPO
akan terus berlanjut selama 2006 lantaran produksi terus menurun. Sementara
kebutuhannya di Belanda dan Jerman semakin meningkat.
Di luar negeri, perusahaan biodiesel Eropa juga mulai melirik minyak
jarak sebagai bahan baku. Kebutuhan biodiesel di sana mencapai 5.950 kiloton
pada 2006 dan diprediksi akan meningkat hingga 13. 450 kilo ton pada 2010.
Perancis malah menargetkan penggunaan biodiesel mencapai 700-ributon pada
2006. Minyak jarak tidak bakal kelebihan pasokan. Kebutuhan akan terus
meningkat, kata Adri Soebiyakto, staf D1, perusahaan pengolah minyak jarak.
Permintaan ekspor yang masuk ke D1 sejak 1 tahun ke belakang meningkat 10%.
Itu pula yang menyebabkan investor dari Inggris, Jerman, dan Perancis tertarik
menanam modal di tanahair. Mereka berencana membuka pabrik pengolahan
minyak jarak di NTB dan NTT, serta mengembangkan penanaman jarak di
seluruh wilayah nusantara. Kesempatan itu terbuka lebar lantaran luasan lahan
kering di Indonesia yang potensial untuk penanaman jarak mencapai 21.944.595,7
ha.
Meninjau banyaknya investor asing yang membutuhkan biji jarak untuk
biodesel maka Untuk bibit Permintaan biji Jatropha curcas itu memang kian
meroket. Bila dibandingkan setahun silam, lonjakan permintaan biji jarak naik
hingga 50 -100%. Jika diambil contoh, Biji jarak yang dikumpulkan dari 600
pekebun di seluruh NTB dan NTT bisa sampai dijual dengan harga Rp7.000
-Rp10.000/kg. Harga biji jarak sekarang ini memang tergolong tinggi. tingginya
harga biji jarak semata karena untuk dijadikan bibit oleh calon pekebun.
Sementara industri-industri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk
diolah sebagai biodiesel hanya mematok harga pembelian Sementara industri-
industri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel
hanya mematok harga pembelian Rp1.500 -Rp2.000/kg untuk dalam negeri (harga
petani), kecuali untuk pekebun-pekebun tertentu yang mempunyai akses ke
pabrik pengolahan yang bisa mendapatkan harga baik (untuk di ekspor).
Jika Inpres No 1/2006 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan
Bakar Nabati yang dikeluarkan pada 25 Januari 2006 berjalan lancar, tidak
mustahil kesejahteraan petani-petani jarak di kantong kemiskinan akan
meningkat. Mereka yang menanam jarak dengan sistem tumpang sari minimal
bisa memperoleh pendapatan Rp4-juta -Rp5-juta/tahun. Bagi negara, jarak mampu
menghemat devisa sebesar US$17,2 miliar/tahun dengan penggantian 40-juta
kiloliter solar, diesel, minyak tanah setiap tahun.

II. e. Fluktuasi produk komoditas Jarak

Fluktuasi Harga jarak, biasanya diakibatkan oleh pengepul / tengkulaknya


yang memainkan harga pembelian jarak petani dalam negeri untuk ekspor. Selain
itu, bisa pula di sebabkan oleh Ketika terjadi panen jarak, harga BBM juga
ternyata turun, jadi penjualan bijih jarak ikut merosot. Atau ketika terjadi
kelangkaan jarak, BBM naik lagi, maka harga jarak bisa sangaat tinggi.
Produk komoditas jarak pagar bisa juga terjadi fluktuasi karena musim.
Jika musim hujan, maka pasokan jarak akan turun, hal itu menjadi persaingan para
pencari jarak sehingga petani bisa mematok harga yang baik. Sedangkan ketika
musim kemarau, dimana jarak pagar bisa berkembang dengang baik, maka
supply lebih banyak dan harga jarak pagar bisa di tawar / merosot. Hal ini sesuai
dengan teori para ahli ekonomi spertibnu Taimiyyah, misalnya, berhasil
mengeluarkan teori yang dikenal dengan ‘price volatility’ atau naik turunnya
harga di pasar. Bunyinya: “Sebab naik turunnya harga di pasar bukan hanya
karena adanya ketidakadilan yang disebabkan orang atau pihak tertentu, tetapi
juga karena panjang singkatnya masa produksi (khalq) suatu komoditi. Jika
produksi naik dan permintaan turun, maka harga di pasar akan naik, sebaliknya
jika produksi turun dan permintaan naik, maka harga di pasar akan turun.

III. PENUTUP
III . a. Kesimpulan :
Tingginya harga minyak mentah dunia mengakibatkan beban pemerintah
dalam menyediakan subsidi BBM semakin meningkat. Karena sebagian besar
BBM tersebut digunakan untuk sektor transportasi maka perlu segera dicari bahan
bakar alternatif sebagai substitusi BBM. BBN merupakan salah satu alternatif
yang dipandang banyak mempunyai keunggulan karena ramah lingkungan.
Biodiesel dari jarak pagar merupakan salah satu jenis BBN yang sudah
dikembangkan secara intensif . NTT merupakan rencana yang paling besar untuk
membangun proyek pabrik biodesel Jarak Pagar untuk memenuhi produksi dalam
negeri dan Beberapa negara impor biji jarak seperti Brasil, Jerman Barat, Jepang,
Cina, Italia, Thailand, Korea Selatan, Argentina, Hong Kong, dan Singapura.
Sementara industri-industri dalam negeri bersedia menampung biji jarak untuk
diolah sebagai biodiesel dengan hanya mematok harga pembelian Rp1.500
-Rp2.000/kg. Harga jarak pagar ini, bisa pula mengalami fluktuasi di karenakan
oleh pengepul / tengkulaknya yang memainkan harga pembelian jarak petani
dalam negeri untuk ekspor. Selain itu, bisa pula di sebabkan oleh Ketika terjadi
panen jarak, harga BBM juga ternyata turun, jadi penjualan bijih jarak ikut
merosot. Atau ketika terjadi kelangkaan jarak, BBM naik lagi, maka harga jarak
bisa sangaat tinggi. Fluktuasi juga bisa diakibatkan oleh perubahan musim yang
tidak kondusif mendukung tanaman ini berkembang dengan baik, sehingga
produksi menurun padahal permintaan sedang tinggi, maka harga bisa mencapai
titik tertinggi, atau sebaliknya.

III . b. Saran :
Melihat potensi yang cukup menjanjikan untuk komoditas Jarak Pagar dan
Pmerintah terus mencanangkan perluasan untuk lahan biodesel ini, saya setuju.
Namun perluasan ini tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah pengembangan
lahan yang berwawasan lingkungan, agar tidak menimbulkan bencana-bencana
berikutnya karena ketidakseimbangan ekosistem alam yang dipaksakan.

DAFTAR PUSTAKA

• Prana, M.S. 2006. ”Budi Daya Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sumber
Biodesel, Menunjang ketahanan Enargi Nasional”. LIPI Press, Jakarta,
Indonesia.
• http://masenchipz.com/60-jenis-tanaman-bisa-jadi-alternatif
• http://www.mail-archive.com/teknologi@terranet.or.id/msg00038.html
• http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/ekonomi-syariah/1075-
kontribusi-para-ilmuwan-muslim-terhadap-perkembangan-ilmu-ekonomi
• http://wikipedia .com/Jarak-pagar.htm
Manajemen Pemasaran Agribisnis
“ Komoditas Jarak Pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae)
sebagai Sumber Biodesel ”
(Diajukan untuk memenuhi tugas ujian tengah semester Mata Kuliah Pemasaran
Agribisnis tanggal 3 November 2009)

Disusun Oleh :

Juwita (150310080014)

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2009
Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan Makalah dengan judul “ Komoditas Jarak Pagar (Jatropha curcas L.,
Euphorbiaceae) sebagai Sumber Biodesel ”. ucapan terimaksih disampaikan
kepada Bu yozi yang telah berkenan sebagai Dosen materi Pemasaran Agribisnis
Makalah ini disusun berdasarkan penelusuran kepustakaan dari berbagai
sumber dalam rangka memenuhi proses belajar mengajar dalam mata kuliah
Pemasaran Agribisnis dimana kompetensi dari Makalah ini merupakan dasar dari
pemahaman ruang lingkup Pemasaran Agribisnis yang akan berlaku untuk seluruh
kegiatan kewirausahaan.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan pada penulisan
Makalah ini, sehingga diharapkan saran dan kritik demi penyempurnaannya.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
pembacanya.

Jatinangor, Nopember 2009

Penulis,

DAFTAR ISI
Kata pengantar ....................................................................................................... ii
I. PENDAHULUAN.................................................................................1
I. a. Latar belakang .....................................................................................1
I. b. Tujuan ................................................................................................ 2

II. PEMBAHASAN................................................................................... 3
II. a. Karakteristik Produk ......................................................................... 3
II. b. Keunggulan Jarak Pagar ................................................................... 5
II. c. Pemasaran produk komoditas Jarak di Indonesia ............................ 7
II. d. Permintaan dan penawaran produk komoditas Jarak .......................10
II. e. Fluktuasi produk komoditas Jarak ................................................... 12

III. PENUTUP .......................................................................................... 13


III. a. Kesimpulan .................................................................................... 13
III. b. Saran .............................................................................................. 13

IV. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 14