Anda di halaman 1dari 2

2.2.1. Dactylogylus sp.

Adapun klasifikasi dari parasit Dactylogyrus sp menurut Gusrina (2008) adalah sebagai berikut:
Filum : Vermes
Sub filum : Platyhelminthes
Klas : Trematoda
Ordo : Monogenea
Famili : Dactylogyridae
Sub family : Dactylogyrinae
Genus : Dactylogyrus

Gambar 2.4.1. Parasit Dactylogylus sp.
Family Dactylogyridae tidak kurang dari 7 Genus dan lebih dari 150 Spesies yang termasuk di
dalamnya baik pada air tawar maupun air laut. Orgnisme ini panjangnya berukuran tidak lebih dari 2
mm. dan yang paling sering ditemukan berukuran antara 0.2 0.5 mm. Memiliki 7 pasang jangkar
ditepi dan biasanya sepasang jangkar paling tengah pada opishaptor. Kadang-kadang pada
beberapa spesies memiliki 2 pasang. Dactylogyrus memiliki 2 hingga 4 titik pigmen (mata). Ovarinya
berbentuk bulat oval, dan testisnya sepasang. Semua Dactylogyrus adalah ovipar tanpa uterus hanya
struktur ootype pada waktunya berisi satu telur. Genus yang biasanya ditemukan pada ikan adalah
spesies Dactylogyrus, spesies ini kadang-kadang ditemukan sebagai penyerang insang karena paling
sering ditemukan pada insang di inangnya.
Dactylogyrus sendiri adalah hewan yang kedalam golongan cacing-cacingan. Berukuran sangat kecil
dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi hanya bisa dilihat lewah mikroskop. Dalam tubuh
ikan, hewan ini digolongkan sebagai parasit. Artinya hewan yang mengambil makanan untuk
hidupnya dari hewan yang ditumpanginya. Keadaan itu menimbulkan kerusakan (Anonim, 2009)
Dactylogyrus sp. merupakan parasit yang menyerang ikan air tawar dan ikan air laut. Parasit ini juga
merupakan parasit yang sering menyerang ikan carp. Hidup di insang. Insang yang terserang parasit
ini berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan dan memproduksi lendir yang berlebih,
tentunya ini akan mengganggu pertukaran gas oleh insang. Parasit yang matang melekat pada
insang dan bertelur disana. Distribusinya luas, memiliki siklus hidup langsung dan merupakan parasit
eksternal pada insang, sirip, dan rongga mulut. Intensitas reproduksi dan infeksi memuncak pada
musim panas (Gusrina, 2008).
Irawan (2004) mengemukakan bahwa ikan yang terserang Dactylogyrus sp biasanya akan menjadi
kurus, berenang menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutupi dengan sempurna karena
insangnya rusak, dan kulit ikan kelihatan tak bening lagi selanjutnya Gusrina, (2008), mengemukakan
gejala infeksi Dactylogyrus sp pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir
berlebih, Insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan.
Penyerangan parasit Dactylogylus sp. ini dimulai dengan cacing dewasa menempel pada insang atau
bagian tubuh lainnya. Setelah matang gonad, telurnya akan jatuh ke perairan. Dalam 23 hari dengan
suhu 2428 O C, telur yang jatuh akan menjadi larva infektif kemudian membentuk dua tonjolan di
bagian anterior. Pecahnya telur tersebut terjadi akibat adanya tekanan dari dalam dorongan
perkembangan larva. Kemudian larva akan keluar dan berenang bebas mencari inang untuk tumbuh
menjadi dewasa. Namun apabila pada suhu 2028OC larva Dactylogyrus sp. tidak bisa menemukan
inangnya, ia tetap bisa bertahan sampai 12 jam karena telur Dactylogyrus sp. termasuk salah satu
telur yang sangat resisten terhadap lingkungan. Pada suhu 23OC telur akan menetas dalam 2,5 4
hari dan pada suhu 13 14OC larva akan menjadi dewasa dalam 4,5 minggu (Sahlan, 1974).
Sebagai langkah pencegahan parasit ini adalah dengan memberi pakan yang bergizi tinggi.
kepadatan dikurangi, dan sirkulasi air harus berjalan lancar, untuk ikan yang terlanjur sakit bisa
diobati dengan larutan formalin 100-200 ppm, sedangkan untuk ikan yang sudah terlanjur parah
sebaiknya disingkirkan dan dibakar agar tidak menulari ikan lain yang sehat (Irawan, 2004).
2.2.2. Gyrodactylus sp.
Klasifikasi Gyrodactylus sp. menurut Anonim (2011) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Monogenea
Order : Monopisthocotylea
Family : Gyrodactylogyridae
Genus : Gyrodactylus

Gambar 2.2.2.1. Parasit Gyrodactylus sp.
Gyrodactylus memiliki badan yang berbentuk bulat dan panjang dan memilki ukuran 0,2 0,5 mm.
Pada ujung anterior terdapat dua cuping. Setiap cuping memiliki kepala dan memiliki usus bercabang
dua dimana ujungnya tidak bersatu. Parasit ini tidak memiliki vitelaria atau bersatu dengan ovari.
Siklus Gyrodactylus sp. dari larva hingga menjadi dewasa membutuhkan waktu kira-kira 60 jam. Itu
terjadi pada suhu 25 27 O C (Anonim, 2009).
Gyrodactylus sp. ini sering ditemukan menginfeksi ikan-ikan air tawar seperti Ikan Mas (Cyprinus
carpio), Betutu (Oxyeleotris marmorata) Nila (Oreochromis niloticus) dan lainnya. Pada umumnya
berkumpul/bergerombol di sekitar kulit dan sirip ikan, meskipun kadang-kadang juga ditemukan di
insang (secara umum Dactylogyrus lebuh menyukai insang) (Dedi, 2010).
Menurut Anonim (2009) Sifat-sifat Gyrodactylus sp. yaitu :
Merupakan ekto-parasit, bersifat obligat parasitik dan berkembang biak dengan beranak.
Gyrodactylus sp. tidak memiliki titik mata, dan pada ujung kepalanya terdapat 2 buah tonjolan
Penularan terjadi secara horizontal, pada saat anak cacing lahir dari induknya
Menginfeksi semua jenis ikan air tawar, terutama ukuran benih dan organ target meliputi seluruh
permukaan tubuh ikan, terutama kulit dan sirip.
Infeksi berat dapat mematikan 30-100% dalam tempo beberapa minggu; terutama sebagai akibat
infeksi sekunder oleh bakteri dan cendawan. Adapun gejalagejala klinis yang ditimbulkan yaitu :
Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, pertumbuhan lambat, dan produksi lendir
berlebih.
Peradangan pada kulit disertai warna kemerahan pada lokasi penempelan cacing
Menggosok-gosokkan badannya pada benda di sekitarnya
Adapun cara pengendaliannya Pengendalian yaitu : Mempertahankan kualitas air terutama stabilisasi
suhu air > 29C, mengurangi kadar bahan organik terlarut, meningkatkan frekuensi pergantian air.
Adapun untuk ikan yang terserang Gyrodactylus dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang
rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman beberapa jenis desinfektan, antara lain:
Larutan garam dapur pada konsentrasi 500-10.000 ppm (tergantung jenis dan umur ikan) selama 24
jam, Larutan Kalium Permanganate (PK) pada dosis 4 ppm selama 12 jam serta Larutan formalin
pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih (Dirjen Kelautan dan Perikanan, 2010).