Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

HYDRAULIC RAM PUMP






Disusun Oleh :
DAMAR DWI SAPUTRA MARKUS (115214041)


LABORATORIUM MEKANIKA FLUIDA
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2013

PENDAHULUAN
Sekilas Sejarah Hidram
Hidram yang ada sekarang merupakan hasil dari pengembangan dan penyempurnaan dari
teknologi pompa yang telah dimulai sekitar lebih dari 200 tahun yang lalu.
Hidram pertama kali dirncang dan dibuat oleh John Whitehurst dari Chesire, Inggris pada
tahun 1772. Hidram ini dioperasikan secara manual dengan membuka dan menutup sebuah
kran (stopcock) dan diberi nama pulsation engine. Pada tahun 1775 ia memasang instalasi
hidramnya yang pertama di Outlon, Inggris untuk menaikkan air setinggi 4,9 meter (16 feet).
Pada tahun 1783 dia juga memasang induksi hidram di Irlandia.
Hidram yang pertama kali bekerja secara otomatis dirancang dan dibuat oleh Joseph
Montgolfier dari Voiron, Perancis pada tahun 1796. Hidramnya yang pertama dirancang ini
dipergunakan untuk mengangkat air di pabrik kertasnya. Namun demikian, hidram ini masih
sering mengalami kemacetan. Udara yang ada didalam tabung udara akhirnya selalu habis
karena larut dalam air yang disebabkan oleh mekanisme pukulan air. Maslah ini dapat
diselesaikan oleh putranya, Pierce Francois Montgolfier yang merancang katub udara
(snifter) untuk menghirup/memasukkan udara ke dalam tabung udara. Pengembangannya ini
dipatenkannya pada tahun 1816.
Hidram yang sangat besar dengan diameter 300 mm dibuat oleh Pierce tahun 1816 di
Amerika Serikat. Hidram ini menghasilkan debit 1700 liter per menit dengan ketinggian 43
m.
Easton dan James (1820) adalah orang pertama yang membuat hidram dalam skala yang
besar dengan tujuan komersial. Pompa hidramnya digunakan intuk mencukupi kebutuhan air
di rumah-rumah di pedesaan dan untuk keperluan pertanian dan peternakan.
Bilamana hidram dipakai?
Secara teoritis, setiap air yang mengalir baik disaluran air, selokan maupun disungai dapat
dinaikkan dengan menggunakan pompa hidram. Semakin curam saluran dan semakin besar
debit airnya maka akan semakin besar debit yang dapat dihasilkan dan akan semakin tinggi
pula head (tinggi tekan) yang dapat dapat dicapai oleh pompa hidram.

WATER HAMMER DAN SURGE TANK
Untuk mengetahui prinsip kerja sebuah hidram, ada baiknya jika melihat sejenak fungsi
sebuah surge tank. Surge tank ini biasa terdapat pada rangkaian sistem pembangkit tenaga
air.
Pada sistem pembangkit tenaga air, biasa dilengkapi peralatan untuk mengatasi perubahan
beban yang mendadak/tiba-tiba. Paling banyak, sistem pembangkit tenaga air digunakan
sebagai penggerak atau sumber gerak generator listrik. Pada saat ada perubahan beban listrik
yang mendadak, turbine governors akan mengatur debit air yang masuk kedalam trubin
dalam beberapa detik saja untuk menjaga agar frekuensi listrik tetap stabil.










Gambar 1 : Instalasi dengan surge tank

Pada saat beban tiba-tiba berkurang, turbine governor akan menutup katup input
secara tiba-tiba pula. Sehingga debit air akan berkurang secara tiba-tiba pula.penutupan katup
input secara tiba-tiba ini akan menyebabkan getaran di dalam saluram masuk yang disertai
dengan suara pukulan yang sangat keras yang biasanya disebut dengan water hammer.
Untuk mengatasi water hammer ini, dipasang sebuah surge tank pada saluran masuk
antara dam penampung sumber air dan turbin yang berada dalam power house. Fungsi utama
surge tank ini adalah melindungi bagian-bagian yang lemah di dalam saluran input dari
tekanan air yang sangat tinggi. Dengan surge tank ini dimungkinkan menggunakan
menggunakan dinding pipa yang lebih tipis. Untuk saluran input yang panjangnya sampai
beberapa kilometer, hal ini akan mengurangi biaya yang cukup banyak.
Meskipun tidak dapat dihindari, saluran input harus dirancang mampu menahan
tekanan tinggi yang diakibatkan oleh water hammer, sehingga hanya diperlukan saluran
dengan pipa yang tipis. Pada sistem pembangkit tenaga ait ini water hammer mengakibatkan
dampak negatif. Namun demikian, fenomena inilah yang menaikkan air pada hidram.



INSTALASI HIDRAM
Instalasi sebuah pompam hidram pada dasarnya sangalah sederhana karena hanya
terdiri dari sebuah saluran input, pompa hidram, sebuah saluran outpu dan sebuah saluran
pembuangan/limbah.













Gambar 2 : Skema Rangkaian Hydraulic Ram (Hidram)


DASAR TEORI
Pada dasarnya ada 5 persamaan dasar yang dipergunakan mesin fluida, yaitu :
1. Hukum kekekalan massa.
2. Hukum kedua Newton tentang gerak.
3. Prinsip kekekalan momentum,
4. Hukum pertama Termodinamika.
5. Hukum kedua Termodinamika.
Tidak semua hukum/persamaan tersebut selalu dipakai bersama-sama untuk menyelesaikan
suatu persoalan fluida. Pada pompa hidram ini juga tidak mengaplikasikan semua hukum
tersebut.
Hukum Pertama Termodinamika
Hukum Pertama Termodinamika berisi tentang prinsip kekekalan energi : energi tidak
dapat dimusnahkan dan tidak dapat diciptakan. Energi hanya dapat berubah bentuk.
Pompa hidram merupakan sistem terbuka dengan volume yang selalu konstan. Dikatakan
volume konstan karena ukuran pompa hidram selalu tetap. Untuk keadaan air (suhu dan
tekanan) yang sama maka massa air di dalam pompa hidram akan selalu sama, total air
yan
g
_ masuk akan sama dengan total air yang keluar. Dikatakan sistem terbuka karena ada
fluida yang mengalir ke dalam dan keluar pompa hidram.
Fluida dapat mengalir masuk atau keluar suatu ruangan karena ada kerja yang
mendorongnya. Kerja ini disebut dengan kerja aliran (flow work/flow energy). Besarnya
flow energy adalah :
e=Pu+u+1/2V
2
+gz (kJ/kg)
P = tekanan
= volume jenis
V = kecepatan
g = percepatan gravitasi
z = e l e v a s i
Suhu air saat masuk dan keluar pompa hidram dianggap sama, sehingga persamaan
kekekalan energinya adalah :



m = laju aliran massa (kg/detik)
= volume jenis
V = kecepatan
g

= percepatan gravitasi
z = elevasi
Hukum kekekalan Massa
Seperti halnya den
g
an ener
g
i, massa tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan,
hanya bisa berubah bentuk.
Perubahan massa yan
g
terjadi di dalam suatu ruang adalah selisih dari jumlah massa
yang masuk can jumlah massa van
g
keluar dari ruang.








Jika dalam ruang tidak terjadi penambahan massa atau pengurangan massa, maka m
th
= mom. Karena pada pompa hidram hanya ada satu saluran input dan dua saluran output
(saluran limbah dan saluran tekan/output) maka persamaan kekekalan massa untuk
pompa hidram adalah :
m
input
= m
limbah
+ m
out

Hukum Kedua Newton
Secara lengkap rumusan Hukum Kedua Newton adalah Percepatan sebuah benda
sebanding dengan resultante (jumlahan) gaya yang dikerjakan pada benda tersebut,
berbanding terbalik dengan massa benda dan arahnya sama dengan arah resultante
(jumlahan) gaya.
Secara matematis biasa dituliskan :
F = m . a
F = resultante gaya yang bekerj a pada benda
m = massa benda
a = percepatan
Persamaan tersebut merupakan persamaan vektor sehingga arah F dan a sama.
Secara fisis, gerak dengan percepatan konstan ialah gerak yang dipengaruhi oleh aksi
sebuah kaya konstan. Seandainya gaya itu berubah-ubah, maka percepatannya juga
akan berubah-ubah karena massa benda m itu konstan.

Hukum Kekekalan Momentum
Secara matematis momentum benda merupakan hasil perkalian antara kecepatan
benda ( v ) tersebut dengan massa benda ( m ).
Momentum = m v
Dari persamaan momentum tersebut terlihat bahwa semakin besar massa fluida,
makan semakin besar pula momentum yang dihasilkan. Demikian juga dengan kecepatan
fluidanya.

Peningkatan tekanan pada hidram
Te1ah diungkapkan sebelumnva, hidram dirancang untuk memanfaatkan aliran air yang
berhenti secara tiba-tibal/mendadak (water hammer) di dalam pipa menjadi hentakan
tekanan fluida yang tinggi. Jika aliran fluida di dalam saluran tidak elastis dihentikan
.
.ecara tiba-tiba, secara teoritis peningkatan beda tekanan yang dapat dicapai adalah :
dH = V C / g (1)
dH kenaikan tekanan [ m
V kecepatan fluida dalam saluran [ m/detik ]
C kecepatan gelombang akustik dalam fluida [ m/detik ]
Cl percepatan gravitasi [ = 9,81 midetik
2
]

Kecepatan gelombang akustik pada suatu fluida adalah (David and Edward) :
(

(2)
Ev adalah bulk modulus elastisitas, yang merupakan ungkapan kompresibilitas
(kemampumampatan) fluida. Modulus elastisitas air adalah Ev = 2,07 x 10' N/m
2
.
Bulk modulus elastisitas adalah perbandingan perubahan tekanan terhadap perubahan
volume tiap satuan volume.
adalah masa jenis fluida [ kg/ m
2
]
Untuk air keadaan standar, = 1000 kg/ m
2
.
Persamaan (1) di atas merupakan peningkatan tekanan maksimum secara teoritis.
Peningkatan tekanan yang sesungguhnya akan lebih kecil dari peningkatan tekanan yang
diperoleh dari persamaan (1). Hal ini terjadi karena pada kenyataannya semua jenis pipa
mempunyai elastisitas dan secara teknis tidak dapat menghentikan aliran fluida daiam
pipa benar-benar secara mendadak.















Gambar XXX : skema rangkaian Hydralic Ram (hidram)
Karena memiliki beda ketinggian ( H / head ), aliran air akan dipercepat di dalam saluran
pipa input dan meninaaalkan hidram melalui katub buang. Percepatan fluida yang
mengalir di dalam pipa didapatkan dengan menggunakan persamaan berikut :

) (

(3)
H = beda ketinggian permukaan air dengan katup buang [m]

= rugi-rugi aliran dalam pipa


f = faktor gesekan (persamaan Darcy-Weibach) [-]
(

) = jumlah rugi-rugi minor lainnya [m]


K = faktor kontraksi atau enlargement [-]
L = panjang saluran pipa input [m]
D = diameter saluran pipa input [m]
V = kecepatan aliran didalam pipa [m/detik]
t = waktu [detik]

= percepatan yang dialami oleh fluida


Besarnya harga K dan f dapat dicari dari buku-buku teks tentang mekanika fluida. Pada
akhirnya aliran ini cukup mampu untuk mulai menggerakkan dan menutup katub buang.
Hal ini akan terjadi jika gaya drag dan gaya tekan air sama atau lebih besar dari berat katub
buang.
Gaya grag Fd diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut :

(4)
Fd = gaya drag dari katup buang [N]
A
v
= luas saluran katup buang [m
2
]
rho
w
= massa jenis fluida [ =1000kg/m
2
]
C
d
= koefisien drag dari katup buang [-]
Besarnya koefisien drag Cd tergantung pada besarnya angka Reynold dari aliran
dan bentuk katub buang. Untuk bentuk piringan bulat, Cd = 1,12
Penerapan hukum Bernoulli untuk titik (0) dan (3) dari gambar 1 akan diperoleh :
(

(5)
P
0
= tekanan di titik (0), sama dengan nol (atmosfer) [ Nim
2
]
P
3
= tekanan di titik (3)
Vo = kecepatan fluida di titik (0), sama dengan nol [ m/detik ]
Zo = ting
g
i (head) titik (0)
V
3
= kecepatan fluida di titik (3), sama dengan nol [ m/detik ]
(pada saat katub buang tertutup penuh secara tiba-tiba)
Z
3
=

tinggi (head) titik (3)
H
L
= rugi-rugi ( h e a d l o s s ) [ m]
Jika besaran yang diketahui dimasukkan ke dalam persamaan 5, akan diperoleh :

) (6)
Gaya yang mempercepat aliran fluida dapat dituliskan dengan menggunakan persamaan
Newton :
(

) (7)
F gaya yang mempercepat aliran fluida (N)
M massa fluida dalam saluran yang dipercepat (kg)
A percepatan (m/detik
2
)
A luas penampang pipa saluran (m
2
)
L panjang pipa saluran (m)
Tekanan di titik (3), P3 diperoleh dengan membagi gaya F pada persamaan 7 dengan luas
penampang saluran A.


Sehingga,

Dari persamaan 6 dan 9

Siklus Kerrja Puma Hidram
Dalam menganalisa proses pemompaan, siklus kerja hidram dibagi dalam empat periode
utama. Gambar 3 menunjukkan grafik kecepatan aliran dalam pipa saluran dan posisi
katub buang yang terbagi dalam 3 tahap/fase.
Fase A.
Katub buang terbuka. Air akan mulai mengalir dari bak air bawah menuju dan
melewati katub buang. Aliran air akan dipercepat (semakin lama semakin cepat)
karena adanya beda ketinggian / head bak air bawah dan katub buang, H.
Kecepatan aliran air di dalam saluran akan mencapai Vo.
Fase B.
Katub buang mulai bergerak menutup dan akhirnya tertutup penuh. Pada rancangan
hidram yang baik, katub buang dapat bergerak dengan tiba-tiba dan cepat.











Gamabar 3 gafik hubungan kecepatan fluida pada saluran input dengan waktu
Fase C.
Setelah katub buang tertutup, tetap akan tertutup. Proses penutupan katub buang secara
tiba-tiba akan menimbulkan tekanan yang sangat tinggi di dalam hidram. Tekanan
statik yang berlebih ini juga akan dialami fluida yang berada di sekitar check valve.
Check valve akan terbuka dan terjadilah proses pemompaan air yang
sesung
g
uhnya. Proses ini akan berhenti pada saat kecepatan fluida yang masuk ke dalam
tabung udara/yang melewati check valve sama dengan nol. Check valve akan menutup
kembali karena penurunan tekanan di dalam hidram.
Tekanan yang besar di bagian atas check valve, yang lebih besar dari tekanan statis
sebelumnya, akan menyebabkan fluida terdorong ke pipa output.
Fase D.
Check valve tertutup.
Tekanan yang masih tinggi dalam hidram, lebih besar dari tekanan statis inputan
(permukaan bak air bawah), menyebabkan pembalikan arah aliran fluida. Aliran dari
hiram menuju ke bak air bawah. Proses/kejadian/tahap ini disebut masa
pembalikan/recoil.
Tahap/masa pembalikan arah aliran ini akan menyebabkan tekanan vakum di dalam
hidram. Sejumlah kecil udara akan terhisap masuk ke dalam hidram melalui
katub/lubang udara.
Tekanan fluida di bagian bawah katub buang juga berkurang dan karena berat dari katub
buang itu sendiri maka katub buang akan terbuka dengan sendirinya (secara otomati s).
Air di dalam pipa saluran masuk kembali ke tekanan semula. Air akan kembali
mengalir seperti semula / pada awalnya. Siklus selanjutnya dimulai lagi. Tahap-tahap
ini terus berlan
g
sung secara otomatis dengan frekwensi bebera papukulan /
langkah/ beats per menit, bisa sampai 300 beats per menit.
Efisiensi Hidram
Ada dua cara yang biasa dipergunakan untuk menentukan efisiensi suatu instalasi
hidram, yaitu dengan metode Rankine dan metode D'Aubuisson.

E efisiensi hidram [ - ]
Q debit aliran fluida yang dipompakan [ 1/menit ]
Q
w
debit aliran fluida yang terbuang [ 1/menit ]
h selisih tinggi permukaan air bak atas dan bak bawah [ m ]
H tinggi permukaan air bak bawah dari katub buang [ m
Hd

tinggi permukaan air bak atas dari katub buang = H + h [m]

METODE PRAKTIKUM
Langkah Praktikum
1. Periksa terlebih dahulu semua pipa saluran input dan semua selang output.
Pastikan semua sambungan sudah terpasang dengan benar.
2. Nyalakan pompa air dan buka kran air pengisi bak air untuk mengisi bak air input.
3. Tunggu beberapa saat sampai air keluar dari saluran buang bak air input.
4. Ukurlah :
a. Selisih tinggi permukaan air dalam bak air input dengan pompa hidram (h
in
).
b. Selisih pompa hidram dengan saluran output Lantai 2 (h
out-2
).
c. Selisih pompa hidram dengan saluran output Lantai 3 (h
out-3
).
d. Selisih pompa hidram dengan saluran output Lantai 4 (h
out-4
).
5. Ukurlah panjang langkah katub buang (s).
6. Operasikan hidram.
7. Buka kran buang saluran output.
8. Tutup kran buang saluran output jika sudah keluar airnya.
9. Buka kran saluran output yang ada di lantai 2. Tunggu beberapa saat sampai keluar
airnya.
10. Ukurlah :
a. Debit air yang berasal dari pompa air (Q
in-p
).
b. Debit air yang berasal dari kran pengisi bak air (Q
in-k
).
c. Debit air yang keluar lewat saluran buang bak air input (Q
in-o
).
d. Debit air yang keluar lewat saluran output (Q
out
).
e. Jumlah beats tiap menit (n).
f. Lakukan pengukuran 10.a s/d 10.e masing-masing sebanyak 3 kali.
11. Pindahkan saluran output ke lantai 3 dan ulangi langkah 10.
12. Pindahkan saluran output ke lantai 4 dan ulangi langkah 10.
13. Lakukan langkah 10 s/d 12 dua kali lagi dengan beats yang berbeda-beda (50 s/d 90
beats tiap menit), dengan cara mengatur panjang langkah hidram.
14. Setelah selesai mengumpulkan data, matikan pompa air dan tutup kran air bak air.
15. Buka kran buang saluran output.
16. Bereskan semua peralatan dan kembalikan seperti sebelum praktikum.
PEMBAHASAN DAN PERHITUNGAN

H
d
= 3 meter
H = 0.66 meter
h = H
d
H
= 2.34 meter

Mencari Efisiensi Hidram dengan metode Rankine :
E (Rankine) = Q h
(Q+Qw) H
= 170 x 2.34
(170+15) 0.66
= 3.26 %

volumetris
=


= 11.33


Dari perhitungan didapat hasil seperti tabel dibawah ini :

NO Tekanan Q
L/Detik
Qw
(L)
h
(m)
H
(m)
Hd
(m)
Beat/Menit Efisiensi
(%)
H
volumentris
1 16 Psi 170 15 2.34 0.66 3 250 3.26 11.33
2 18 Psi 172 15.5 2.34 0.66 3 250 3.25 11.09
3 20 Psi 188 16.5 2.34 0.66 3 264 3.26 11.39
4 22 Psi 182 17 2.34 0.66 3 283 3.24 10.70
5 24 Psi 180 17.5 2.34 0.66 3 266 3.23 10.28





KESIMPULAN
Semakin besar effisiensi maka semakin baik pompa hidram yang ada. Dan semakin
banyak ketukan yang terjadi, maka semakin kecil debit air yang dipompa. Semakin besar
tekanan semakin besar pula debit air yang dibutuhkan.