Anda di halaman 1dari 20

TUMOR MEDULA SPINALIS

A. Pendahuluan
Tumor medula spinalis memang merupakan salah satu penyakit yang
jarang terjadi dan karena itulah banyak masyarakat yang belum mengetahui
gejala-gejala serta bahaya dari penyakit ini. Pada umumnya, penderita yang
datang berobat ke dokter atau ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah (stadium
lanjut) sehingga cara penanggulangannya hanya bersifat life-saving.
1

Tumor medula spinalis terbagi menjadi dua, yaitu tumor primer dan tumor
sekunder. Tumor primer merupakan tumor yang berasal dari medula spinalis itu
sendiri sedangkan tumor sekunder merupakan anak sebar (mestastase) dari tumor
di bagian tubuh lainnya. Tumor medula spinalis umumnya bersifat jinak (onset
biasanya gradual) dan dua pertiga pasien dioperasi antara 1-2 tahun setelah onset
gejala. ejala pertama dari tumor medula spinocerebellar penting diketahui
karena dengan tindakan operasi sedini mungkin, dapat mencegah kecacatan.
1,!
B. Anatomi
"edula spinalis merupakan struktur yang paling penting antara tubuh dan otak.
"edula spinalis memanjang dari foramen magnum hingga #ertebra lumbalis
pertama atau kedua. $ni penghubung penting antara otak dan tubuh, dan dari
tubuh ke otak. Panjang medula spinlais adalah %& sampai '& cm dan
diameternya 1 cm sampai 1,' cm. (ua baris berturut-turut akar saraf muncul di
masing-masing sisinya. )kar-akar saraf bergabung distal untuk membentuk !1
pasang saraf tulang belakang."edula spinalis dibagi menjadi empat *ilayah+
ser#iks (,), toraks (T), lumbal (-) dan sakral (.), yang masing-masing terdiri
dari beberapa segmen. .araf tulang belakang mengandung serabut saraf
sensorik motorik dan ke dan dari seluruh bagian tubuh. .etiap segmen sumsum
tulang belakang mempersarafi suatu dermatom.
/alur ini terorganisir. )da !1 segmen, yang didefinisikan oleh !1 pasang saraf
keluar jalurnya. .araf ini dibagi menjadi 0 ser#iks, 12 toraks, ' lumbal, '
sacral, dan 1 saraf coccygeal (ambar !.2). )kar dorsal dan #entral masuk dan
meninggalkan #ertebra masing-masing melalui foramen inter#ertebralis di
segmen tulang belakang yang sesuai dengan segmen tulang belakang.
1ertebra terdiri dari tulang indi#idu (#ertebrae) ditumpuk satu di atas yang lain
dalam kolom. .etiap #ertebra memiliki tubuh yang silindris, yang berpartisipasi
dalam bantalan berat dan lengkungan tulang (lamina dan proses spinosus) yang
melindungi medulla spinalis dan penutup nya. -engkungan tulang terhubung ke
tubuh dengan dua kolom kecil tulang (pedikel). 2anal melingkar antara tubuh,
lengkungan, dan pedikel medulla spinalis dan disebut kanalis medulla spinalis.
"edula spinalis terkandung dalam kanal dan ditutupi oleh lapisan jaringan ikat,
dura mater. Tumor yang terletak di luar dura disebut e3tradural. $ni biasanya
2
tumor metastasis dan paling sering timbul pada tulang belakang itu sendiri. Tumor
yang timbul di dalam dura, tetapi di luar substansi sebenarnya dari medulla
spinalis yang disebut intradural-e3tramedullary. $ni biasanya tumor selubung saraf
atau meningioma. Tumor yang timbul dalam substansi dari sumsum tulang
belakang itu sendiri disebut tumor intramedulla. $ni biasanya astrocytomas atau
ependymomas. 4erbagai jenis tumor sering berperilaku berbeda dan memerlukan
pera*atan yang berbeda.
C. Epidemiologi
(i $ndonesia. jumlah penderita tumor medula spinalis belum diketahui
secara pasti. /umah kasus tumor medula spinalis di )merika .erikat mencapai
1'5 dari total jumlah tumor yang terjadi pada susunan saraf pusat dengan
perkiraan insidensi sekitar &,'-2,' kasus per 1&&.&&& penduduk per tahun. /umlah
penderita pria hampir sama dengan *anita dengan sebaran usia antara !& hingga
'& tahun. (iperkirakan 2'5 tumor terletak di segmen ser#ikal, ''5 di segmen
thorakal dan 2&5 terletak di segmen lumbosakral.
2,!
Tumor intradural intramedular yang tersering adalah ependymoma,
astrositoma dan hemangioblastoma. 6pendimoma lebih sering didapatkan pada
orang de*asa pada usia pertengahan (!&-!7 tahun) dan jarang terjadi pada usia
anak-anak. $nsidensi ependidoma kira-kira sama dengan astrositoma. (ua per tiga
dari ependydoma muncul pada daerah lumbosakral.
8
(iperkirakan !5 dari frekuensi astrositoma pada susunan saraf pusat
tumbuh pada medula spinalis. Tumor ini dapat muncul pada semua umur, tetapi
3
yang tersering pada tiga dekade pertama. )strositoma juga merupakan tumor
spinal intramedular yang tersering pada usia anak-anak, tercatat sekitar 7&5 dari
tumor intramedular pada anak-anak diba*ah umur 1& tahun, dan sekitar 8&5 pada
remaja. (iperkirakan 8&5 dari astrositoma spinalis berlokasi di segmen ser#ikal
dan ser#ikotorakal. Tumor ini jarang ditemukan pada segmen torakal,
lumbosakral atau pada conus medularis. 9emangioblastoma merupakan tumor
#askular yang tumbuh lambat dengan pre#alensi !5 sampai 1!5 dari semua
tumor intramedular medula spinalis. :ata-rata terdapat pada usia !8 tahun, namun
pada pasien dengan von Hippel-Lindau syndrome (19-.) biasanya muncul pada
dekade a*al dan mempunyai tumor yang multipel. :asio laki-laki dengan
perempuan 1,0 + 1.
%,'
Tumor intradural ekstramedular yang tersering adalah sch*anoma, dan
meningioma. .ch*anoma merupakan jenis yang tersering ('!,;5) dengan
insidensi laki-laki lebih sering dari pada perempuan, pada usia %&-8& tahun dan
tersering pada daerah lumbal. "eningioma merupakan tumor kedua tersering pada
kelompok intradural-ekstramedullar tumor. "eningioma menempati kira-kira
2'5 dari semua tumor spinal. .ekitar 0&5 dari spinal meningioma terlokasi pada
segmen thorakal, 2'5 pada daerah ser#ikal, !5 pada daerah lumbal, dan 25 pada
foramen magnum.
%,'
D. Klai!i"ai
4erdasarkan asal dan sifat selnya, tumor pada medula spinalis dapat dibagi
menjadi tumor primer dan tumor sekunder. Tumor primer dapat bersifat jinak
maupun ganas, sementara tumor sekunder selalu bersifat ganas karena merupakan
metastasis dari proses keganasan di tempat lain seperti kanker paru-paru,
payudara, kelenjar prostat, ginjal, kelenjar tiroid atau limfoma. Tumor primer
yang bersifat ganas contohnya adalah astrositoma, neuroblastoma, dan kordoma,
sedangkan yang bersifat jinak contohnya neurinoma, glioma, dan ependimoma.
1

4erdasarkan lokasinya, tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu tumor intradural dan ekstradural, di mana tumor intradural itu
4
sendiri dibagi lagi menjadi tumor intramedular dan ekstramedular. "acam-macam
tumor medula spinalis berdasarkan lokasinya dapat dilihat pada Tabel 1.
ambar 2.1 ()) Tumor intradural-intramedular, (4) Tumor intradural-
ekstramedular, dan (,) Tumor 6kstradural
.umber+ http+<<***.draryan.com<Portals<&<spinal52&cord52&tumors.jpg
Tabel 1. Tumor "edula .pinalis 4erdasarkan ambaran 9istologisnya
E"t#a du#al Int#adu#al e"t#amedula# Int#adu#al int#amedula#
,hondroblastoma
,hondroma
9emangioma
-ipoma
-ymphoma
"eningioma
"etastasis
=euroblastoma
=eurofibroma
>steoblastoma
>steochondroma
>steosarcoma
.arcoma
6pendymoma, tipe
my3opapillary
6pidermoid
-ipoma
"eningioma
=eurofibroma
Paraganglioma
.ch*anoma
)strocytoma
6pendymoma
anglioglioma
9emangioblastoma
9emangioma
-ipoma
"edulloblastoma
=euroblastoma
=eurofibroma
>ligodendroglioma
Teratoma
5
1ertebral
hemangioma
E. Etiologi dan Patogenei
Penyebab tumor medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui
secara pasti. 4eberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam
tahap penelitian adalah #irus, kelainan genetik, dan bahan-bahan kimia yang
bersifat karsinogenik. )dapun tumor sekunder (metastasis) disebabkan oleh sel-
sel kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain melalui aliran darah yang
kemudian menembus dinding pembuluh darah, melekat pada jaringan medula
spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru di daerah tersebut.
;
Patogenesis dari neoplasma medula spinalis belum diketahui, tetapi
kebanyakan muncul dari pertumbuhan sel normal pada lokasi tersebut. :i*ayat
genetik kemungkinan besar sangat berperan dalam peningkatan insiden pada
anggota keluarga (syndromic group) misal pada neurofibromatosis. )strositoma
dan neuroependimoma merupakan jenis yang tersering pada pasien dengan
neurofibromatosis tipe 2 (=?2), di mana pasien dengan =?2 memiliki kelainan
pada kromosom 22. .pinal hemangioblastoma dapat terjadi pada !&5 pasien
dengan Von Hippel-Lindou Syndrome sebelumnya, yang merupakan abnormalitas
dari kromosom !.
8
6
$. Mani!etai Klini
"enurut ,assiere, perjalanan penyakit tumor medula spinalis terbagi
dalam tiga tahapan
!
, yaitu+
1. (itemukannya sindrom radikuler unilateral dalam jangka *aktu yang lama
2. .indroma 4ro*n .e@uard
!. 2ompresi total medula spinalis atau paralisis bilateral
2eluhan pertama dari tumor medula spinalis dapat berupa nyeri radikuler,
nyeri #ertebrae, atau nyeri funikuler. .ecara statistik adanya nyeri radikuler
merupakan indikasi pertama adanya space occupying lesion pada kanalis spinalis
dan disebut pseudo neuralgia pre phase. (ilaporkan 805 kasus tumor spinal sifat
nyerinya radikuler, laporan lain menyebutkan 8&5 berupa nyeri radikuler, 2%5
nyeri funikuler dan 185 nyerinya tidak jelas
!
. =yeri radikuler dicurigai
disebabkan oleh tumor medula spinalis bila+
1. =yeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus
piramidalis
2. -okasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi 9=P
seperti ,'-;, -!-%, -' dan .1
Tumor medula spinalis yang sering menyebabkan nyeri radikuler adalah
tumor yang terletak intradural-ekstramedular, sedang tumor intramedular jarang
menyebabkan nyeri radikuler. Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya
biasanya hebat dan mengenai beberapa radiks.
!
Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga dia*ali
dengan gejala T$2 seperti+ hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah,
papiledema, gangguan penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor
neurinoma dan ependimoma mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor,
yang dapat menghambat aliran likuor di dalam kompartemen subarakhnoid spinal,
dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu hipotesa yang menerangkan kejadian
hidrosefalus sebagai gejala klinis dari neoplasma intraspinal primer.
'
ejala umum
akibat adanya kompresi, antara lain+
7
A =yeri
2ompresi dari suatu tumor dapat merangsang jaras-jaras saraf yang
terdapat dalam medula spinalis dan menimbulkan nyeri yang seakan-akan berasal
dari berbagai bagian tubuh (nyeri difus). =yeri ini biasanya menetap, kadang
bertambah berat dan terasa seperti terbakar.
A Perubahan sensori
2ebanyakan pasien dengan tumor medula spinalis mengalami kehilangan
sensasi. 4iasanya mati rasa dan hilangnya sensiti#itas kulit terhadap suhu.
A Problem "otorik
ejala a*alnya dapat berupa kelemahan otot, spastisitas, dan
ketidakmampuan untuk menahan kencing atau buang air besar. /ika tidak diterapi
gejala dapat memburuk termasuk diantaranya atrofi otot dan kelumpuhan.
4ahkan, pada beberapa orang dapat berkembang menjadi ataksia.
4agian tubuh yang menimbulkan gejala ber#ariasi tergantung letak tumor
di sepanjang medula spinalis. Pada umumnya, gejala tampak pada bagian tubuh
yang sele#el dengan lokasi tumor atau di ba*ah lokasi tumor. ,ontohnya, pada
tumor di tengah medula spinalis (pada segmen thorakal) dapat menyebabkan nyeri
yang menyebar ke dada depan (girdleshape pattern) dan bertambah nyeri saat
batuk, bersin, atau membungkuk. Tumor yang tumbuh pada segmen cer#ical
dapat menyebabkan nyeri yang dapat dirasakan hingga ke lengan, sedangkan
tumor yang tumbuh pada segmen lumbosacral dapat memicu terjadinya nyeri
punggung atau nyeri pada tungkai.
;

4erdasarkan lokasi tumor, gejala yang muncul adalah seperti yang terihat
dalam Tabel 2 di ba*ah ini.
Tabel 2. Tanda dan ejala Tumor "edula .pinalis
Lo"ai Tanda dan %e&ala
8
$o#amen
Magnum
ejalanya aneh, tidak laBim, membingungkan, dan tumbuh lambat
sehingga sulit menentukan diagnosis. ejala a*al dan tersering
adalah nyeri ser#ikalis posterior yang disertai dengan hiperestesia
dalam dermatom #ertebra ser#ikalis kedua (,2). .etiap akti#itas
yang meningkatkan T$2 (misal C batuk, mengedan, mengangkat
barang, atau bersin) dapat memperburuk nyeri. ejala tambahan
adalah gangguan sensorik dan motorik pada tangan dengan pasien
yang melaporkan kesulitan menulis atau memasang kancing.
Perluasan tumor menyebabkan kuadriplegia spastik dan hilangnya
sensasi secara bermakna. ejala-gejala lainnya adalah pusing,
disartria, disfagia, nistagmus, kesulitan bernafas, mual dan muntah,
serta atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapeBius. Temuan
neurologik tidak selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia,
rigiditas nuchal, gaya berjalan spastik, palsi =.$D hingga =.D$, dan
kelemahan ekstremitas.
Se#'i"al "enimbulkan tanda-tanda sensorik dan motorik mirip lesi radikular
yang melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga menyerang
tangan. 2eterlibatan tangan pada lesi ser#ikalis bagian atas (misal,
diatas ,%) diduga disebabkan oleh kompresi suplai darah ke kornu
anterior melalui arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat
kelemahan dan atrofi gelang bahu dan lengan. Tumor ser#ikalis
yang lebih rendah (,', ,8, ,;) dapat menyebabkan hilangnya
refleks tendon ekstremitas atas (biseps, brakioradialis, triseps).
(efisit sensorik membentang sepanjang tepi radial lengan ba*ah
dan ibu jari pada kompresi ,8, melibatkan jari tengah dan jari
telunjuk pada lesi ,;, dan lesi ,; menyebabkan hilangnya sensorik
jari telunjuk dan jari tengah.
To#a"al .eringkali dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada
ekstremitas bagian ba*ah dan kemudian mengalami parestesia.
Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada
dada dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat
9
gangguan intratorakal dan intraabdominal. Pada lesi torakal bagian
ba*ah, refleks perut bagian ba*ah dan tanda 4ee#or (umbilikus
menonjol apabila penderita pada posisi telentang mengangkat kepala
mela*an suatu tahanan) dapat menghilang.
Lum(oa"#al .uatu situasi diagnostik yang rumit timbul pada kasus tumor yang
melibatkan daerah lumbal dan sakral karena dekatnya letak segmen
lumbal bagian ba*ah, segmen sakral, dan radiks saraf desendens
dari tingkat medula spinalis yang lebih tinggi. 2ompresi medula
spinalis lumbal bagian atas tidak mempengaruhi refleks perut,
namun menghilangkan refleks kremaster dan mungkin menyebabkan
kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai ba*ah. /uga terjadi
kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki dan tanda
4abinski bilateral. =yeri umumnya dialihkan keselangkangan. -esi
yang melibatkan lumbal bagian ba*ah dan segmen-segmen sakral
bagian atas menyebabkan kelemahan dan atrofi otot-otot perineum,
betis dan kaki, serta kehilangan refleks pergelangan kaki. 9ilangnya
sensasi daerah perianal dan genitalia yang disertai gangguan kontrol
usus dan kandung kemih merupakan tanda khas lesi yang mengenai
daerah sakral bagian ba*ah.
Kauda
E"uina
"enyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tnda-tanda
khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum atau perineum, yang
kadang-kadang menjalar ke tungkai. Paralisis flaksid terjadi sesuai
dengan radiks saraf yang terkena dan terkadang asimetris.
1. Tumor Ekstradural
.ebagian besar merupakan tumor metastase, yang menyebabkan kompresi
pada medula spinalis dan terletak di segmen thorakalis. =yeri radikuler dapat
merupakan gejala a*al pada !&5 penderita tetapi kemudian setelah beberapa hari,
minggu<bulan diikuti dengan gejala mielopati. =yeri biasanya lebih dari 1 radiks,
yang mulanya hilang dengan istirahat, tetapi semakin lama semakin
10
menetap<persisten, sehingga dapat merupakan gejala utama, *alaupun terdapat
gejala yang berhubungan dengan tumor primer. =yeri pada tumor metastase ini
dapat terjadi spontan, dan sering bertambah dengan perkusi ringan pada #ertebrae,
nyeri demikian lebih dikenal dengan nyeri #ertebrae.
Tumor "etastasis 2eganasan 6kstradural
'
"emiliki ciri-ciri sebagai berikut+
1. .ebagian besar tumor spinal (E0& 5) merupakan metastasis
keganasan terutama dari paru-paru, payudara, ginjal, prostat, kolon,
tiroid, melanoma, limfoma, atau sarkoma.
2. Fang pertama dilibatkan adalah korpus #ertebra. Predileksi lokasi
metastasis tumor paru, payudara dan kolon adalah daerah toraks,
sedangkan tumor prostat, testis dan o#arium biasanya ke daerah
lumbosakral.
!. ejala kompresi medula spinalis kebanyakan terjadi pada le#el
torakal, karena diameter kanalisnya yang kecil (kira-kira hanya 1
cm).
%. ejala akibat metastasis spinal dia*ali dengan nyeri lokal yang
tajam dan kadang menjalar (radikuler) serta menghebat pada
penekanan atau palpasi.
2. Tumor Intradural-Ekstramedular
3
Tumor ini tumbuh di radiks dan menyebabkan nyeri radikuler kronik
progresif. 2ejadiannya G ;&5 dari tumor intradural, dan jenis yang terbanyak
adalah neurinoma pada laki-laki dan meningioma pada *anita.
a. =eurinoma (.ch*annoma)
"emiliki karakteristik sebagai berikut+
1. 4erasal dari radiks dorsalis
2. 2ejadiannya G !&5 dari tumor ekstramedular
11
!. 2<! kasus keluhan pertamanya berupa nyeri radikuler, biasanya pada
satu sisi dan dialami dalam beberapa bulan sampai tahun, sedangkan
gejala lanjut terdapat tanda traktus piramidalis
%. !75 lokasinya disegmen thorakal
b. "eningioma
"emiliki ciri-ciri sebagai berikut+
1. G 0&5 terletak di regio thorakalis dan G8&5 pada *anita usia
pertengahan
2. Pertumbuhan lambat
!. Pada G 2'5 kasus terdapat nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan
gejala traktus piramidalis diba*ah lesi, dan sifat nyeri radikuler
biasanya bilateral dengan jarak *aktu timbul gejala lain lebih pendek
!. Tumor Intradural-Intramedular
3!
-ebih sering menyebabkan nyeri funikuler yang bersifat difus seperti rasa
terbakar dan menusuk, kadang-kadang bertambah dengan rangsangan ringan
seperti electric shock like pain (-hermitte sign).
a. 6pendimoma
"emiliki karakteristik sebagai berikut+
1. :ata-rata penderita berumur di atas %& tahun
2. Hanita lebih dominan
!. =yeri terlokalisir di tulang belakang
%. =yeri meningkat saat malam hari atau saat bangun
'. =yeri disestetik (nyeri terbakar)
8. "enunjukkan gejala kronis
;. /enis miksopapilari rata-rata pada usia 21 tahun, pria lebih dominan
b. )strositoma
"emiliki ciri-ciri sebagai berikut+
12
1. Pre#alensi pria sama dengan *anita
2. =yeri terlokalisir pada tulang belakang
!. =yeri bertambah saat malam hari
%. Parestesia (sensasi abnormal)
c. 9emangioblastoma
"emiliki karakter sebagai berikut+
1. ejala muncul pertama kali saat memasuki usia %& tahun
2. Penyakit herediter (misal, Von Hippel-Lindau Syndrome) tampak
pada 1<! dari jumlah pasien keseluruhan.
!. Penurunan sensasi kolumna posterior
%. =yeri punggung terlokalisir di sekitar lesi
%. Diagnoi
)
.elain dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis tumor medula
spinalis dapat ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti di
ba*ah ini.
a. -aboratorium
,airan spinal (,.?) dapat menunjukkan peningkatan protein dan
3antokhrom, dan kadang-kadang ditemukan sel keganasan. (alam
mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor
medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat berubah
menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang
komplit.
b. ?oto Polos 1ertebrae
?oto polos seluruh tulang belakang 8;-0'5 abnormal.
2emungkinan ditemukan erosi pedikel (defek menyerupai Imata burung
hantuJ pada tulang belakang lumbosakral )P) atau pelebaran, fraktur
kompresi patologis, scalloping badan #ertebra, sklerosis, perubahan
osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, ,a prostat, hodgkin, dan biasanya
,a payudara).
13
c. ,T-scan
,T-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor,
bahkan terkadang dapat memberikan informasi mengenai tipe tumor.
Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter mendeteksi adanya edema,
perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan. ,T-scan juga dapat
membantu dokter menge#aluasi hasil terapi dan melihat progresifitas
tumor.
d. ":$
Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan
yang mengalami kelainan secara akurat. ":$ juga dapat memperlihatkan
gambar tumor yang letaknya berada di dekat tulang lebih jelas
dibandingkan dengan ,T-scan.
14
*. Diagnoi Banding
+
1. )myotrophic -ateral .clerosis ()-.)
2. -umbar ($nter#ertebral) (isk (isorders
!. "echanical 4ack Pain
%. 4ro*n-.e@uard .yndrome
'. $nfeksi "edula .pinalis
8. ,auda 6@uina .yndrome
I. Penatala"anaan
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun
ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis
secara maksimal. 2ebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi
secara total dengan gangguan neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada post
operatif. Tumor-tumor yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif
secara histologis dan tidak secara total dihilangkan melalui operasi dapat diterapi
dengan terapi radiasi post operasi.
1
Terapi yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah +
a. De"amethaon+ 1&& mg (mengurangi nyeri pada 0' 5 kasus,
mungkin juga menghasilkan perbaikan neurologis).
15
(. Penatala"anaan (e#daa# e'aluai #adiog#a!i"

4ila tidak ada massa epidural+ ra*at tumor primer (misalnya
dengan sistemik kemoterapi)C terapi radiasi lokal pada lesi
bertulangC analgesik untuk nyeri.
4ila ada lesi epidural, lakukan bedah atau radiasi (biasanya !&&&-
%&&& cy pada 1&3 pera*atan dengan perluasan dua le#el di atas
dan di ba*ah lesi)C radiasi biasanya seefektif seperti laminektomi
dengan komplikasi yang lebih sedikit.
,. Penatala"anaan da#u#at -pem(edahan. #adiai/ (e#daa#"an
de#a&at (lo" dan "e,epatan dete#io#ai
bila E 0& 5 blok komplit atau perburukan yang cepat+
penatalaksanaan sesegera mungkin (bila mera*at dengan radiasi,
teruskan deksamethason keesokan harinya dengan 2% mg $1
setiap 8 jam selama 2 hari, lalu diturunkan (tappering) selama
radiasi, selama 2 minggu.
bila K 0& 5 blok+ pera*atan rutin (untuk radiasi, lanjutkan
deksamethason % mg selama 8 jam, diturunkan (tappering) selama
pera*atan sesuai toleransi.
d. Radiai
Terapi radiasi direkomendasikan umtuk tumor intramedular yang
tidak dapat diangkat dengan sempurna. (osisnya antara %' dan '% y.
e. Pem(edahan
Tumor biasanya diangkat dengan sedikit jaringan sekelilingnya
dengan teknik myelotomy. )spirasi ultrasonik, laser, dan mikroskop
digunakan pada pembedahan tumor medula spinalis.
Indikasi pem"edahan#
16
Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi
bila lesi dapat dijangkau). ,atatan+ lesi seperti abses epidural dapat
terjadi pada pasien dengan ri*ayat tumor dan dapat disalahartikan
sebagai metastase.
"edula spinalis yang tidak stabil (unstable spinal).
2egagalan radiasi (percobaan radiasi biasanya selama %0 jam,
kecuali signifikan atau terdapat deteriorasi yang cepat)C biasanya
terjadi dengan tumor yang radioresisten seperti karsinoma sel ginjal
atau melanoma.
:ekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal.
0. Kompli"ai
+
2omplikasi yang mungkin pada tumor medula spinalis antara lain+
Paraplegia
Luadriplegia
$nfeksi saluran kemih
2erusakan jaringan lunak
2omplikasi pernapasan
2omplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah+
(eformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi
pada anak-anak dibanding orang de*asa. (eformitas pada tulang
belakang tersebut dapat menyebabkan kompresi medula spinalis.
.etelah pembedahan tumor medula spinalis pada ser#ikal, dapat
terjadi obstruksi foramen -uschka sehingga menyebabkan
hidrosefalus.
K. P#ognoi
1
17
Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai
prognosis yang buruk terhadap terapi. Pembedahan radikal mungkin dilakukan
pada kasus-kasus ini. Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya
pasien dapat terkontrol dalam *aktu yang lama. ?ungsi neurologis setelah
pembedahan sangat bergantung pada status pre operatif pasien. Prognosis semakin
buruk seiring meningkatnya umur (E8& tahun).
B. SIMPULAN
Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi
pada daerah cervical pertama hingga sacral$ Tumor medula spinalis dapat dibagi
menjadi tiga kelompok, berdasarkan letak anatomi dari massa tumor. Pertama,
kelompok ini dibagi dari hubungannya dengan selaput menings spinal,
diklasifikasikan menjadi tumor intradural dan tumor ekstradural. .elanjutnya,
tumor intradural sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu tumor yang
tumbuh pada substansi dari medula spinalis itu sendiri (tumor intramedular) serta
tumor yang tumbuh pada ruang subarachnoid (ekstramedular).
,airan spinal, ,omputed Tomographic (,T) myelography, dan ":$
spinalis merupakan tes yang paling sering digunakan dalam menge#aluasi pasien
dengan lesi pada medula spinalis. ":$ merupakan modalitas pencitraan primer
untuk penyebaran ke medula, reduksi ruang ,.? disekitar tumor.
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun
ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk
18
menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis
secara maksimal.
Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai
prognosis yang buruk terhadap terapi. Pembedahan radikal mungkin dilakukan
pada kasus-kasus ini. Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya
pasien dapat terkontrol dalam *aktu yang lama. ?ungsi neurologis setelah
pembedahan sangat bergantung pada status pre operatif pasien. Prognosis semakin
buruk seiring meningkatnya umur (E8& tahun).
DA$TAR PUSTAKA
1. 9akim, ).). 2&&8. %ermasalahan serta %enanggulangan Tumor &tak dan
Sumsum Tulang 'elakang. "edan+ Mni#ersitas .umatera Mtara
2. 9uff, /... 2&1&. Spinal (ord )eoplasma. Nserial onlineO.
http+<<emedicine.medscape.com<article<;;70;2-print. N1 )pril 2&11O.
!. /apardi, $skandar. 2&&2. *adikulopati Thorakalis. Nserial onlineO.
http+<<repository.usu.ac.id<bitstream<12!%'8;07<177%<1<bedah-iskandar
52&japardi%!.pdf. N1 )pril 2&11O.
%. )merican ,ancer .ociety. 2&&7. 'rain and Spinal (ord Tumor in +dults.
Nserial onlineO. http+<<***.cancer.org<acs<groups<cid<documents<
*ebcontent<&&!&00-pdf. N% )pril 2&11O.
'. "umenthaler, ". and "attle, 9. 2&&8. ,undamental of )eurology. =e*
Fork+ Thieme. Page 1%8-1%;.
19
8. 9arrop, (... and .haran, ).(. 2&&7. Spinal (ord Tumors - -anagement of
Intradural Intramedullary )eoplasms. Nserial onlineO.
http+<<emedicine.medscape.com<article<2%7!&8-print. N1 )pril 2&11O.
;. =ational $nstitute of =eurological (isorders and .troke. 2&&'. 'rain and
Spinal (ord Tumors - Hope Through *esearch. Nserial onlineO.
http+<<***.ninds.nih.go#<disorders<brainandspinaltumors<detailPbrainands
pinaltumors.htm. N1 )pril 2&11O.
0. =eil : "alhotra, (eb 4ho*mik, (ouglas 9ardesty, Peter Hhitfield. 2&1&.
)eurosurgery +rticle Intramedullary Spinal (ord Tumors # .iagnosis
Treatments and &utcomes$ N.eptember<>ctober 2&1&O
20