Anda di halaman 1dari 11

OUTSOURCING DAN HUKUM KETENAGAKERJAAN YANG BERKEADILAN

Oleh: Dr Th. Andari Yuri!"ari# SH.MH.


$
A. %endahuluan
Hubungan kerja yang terjadi antara buruh dengan pengusaha yang timbul
karena adanya suatu perjanjian kerja sebenarnya secara teoritis merupakan hak
pengusaha dan hak pekerja untuk memulai maupun mengakhirinya. Akan tetapi
bagi pekerja hubungan hukum yang terjadi dengan pengusaha selalu berada
dalam hubungan subordinatif atau hubungan di mana kedudukan pekerja lebih
rendah dari pengusaha atau majikan. Bagi pekerja outsourcing hal tersebut
menjadi semakin parah karena pekerja tidak mempunyai hubungan kerja dengan
perusahaan pemberi kerja.
2
Pelaksanaan outsourcing
3
dalam beberapa tahun setelah terbitnya
Undang-undang omor !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan masih
mengalami berbagai kelemahan% terutama hal ini disebabkan oleh kurangnya
regulasi yang dikeluarkan Pemerintah maupun sebagai ketidakadilan dalam
pelaksanaan hubungan kerja antara pengusaha dengan pekerja. amun
demikian& pada dasarnya praktek outsourcing tidak dapat dihindari oleh
1
Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta, Ketua Pusat Studi Hubungan
Industrial dan Perlindungan Tenaga Kerja Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta !akala"
disampaikan pada Kulia" Umum #utsour$ing dan Hukum Ketenagakerjaan %ang &erkeadilan, Fakultas
Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Pur'okerto, ( #ktober )*11
)
+PHK dan Perlindungan ,egara -tas Hak Pekerja,. diakses dari
"ttp/00'''pemantauperadilan$om pada )* ,ovember )**(
1
Pengertian atau de2inisi mengenai outsour$ing tidak ditemukan dalam Undang3undang ,o 11
Ta"un )**1 tentang Ketenagakerjaan 4i"at 5r -ni 6ija7ati, +Pen7era"an Sebagian Pelaksanaan
Pekerjaan Kepada Perusa"aan 4ain 8#utsour$ing9 dalam Undang3undang ,o 11 Ta"un )**1,. dalam
Bunga Rampai Masalah-masalah Hukum Masa Kini, Jakarta/ UKI Press, )**:, ";;
1
pengusaha apalagi oleh pekerja. Hal tersebut dikarenakan pengusaha dengan
berlakunya Pasal '( sampai dengan Pasal '' Undang-undang o. !3 "ahun
2##3 tentang $etenagakerjaan& mendapat legalisasi memberlakukan praktek
outsourcing tanpa mengindahkan hal-hal yang dilarang oleh undang-undang.
Persoalan hukum dalam pelaksanaan outsourcing antara lain disebabkan
oleh adanya perbedaan kepentingan oleh para pihak. Pada praktek outsourcing&
terdapat tiga pihak yang berhubungan hukum yaitu perusahaan pemberi kerja&
perusahaan penerima kerja dan pekerja outsourcing itu sendiri. $epentingan
ketiga pihak dalam outsourcing tersebut berbeda-beda. Pemberi kerja
mengharapkan kualitas barang atau jasa yang tinggi dengan harga yang
serendah-rendahnya. )edangkan penerima pekerjaan mengharapkan kualitas
barang atau jasa yang terendah dengan harga yang tertinggi. Pada sisi lain&
pengusaha mengharapkan pekerja agar melakukan pekerjaan dengan sungguh-
sungguh untuk menghasilkan produksi yang maksimal& sebaliknya pekerja
mengharapkan kerja yang ringan dengan penghasilan atau upah yang tinggi.
(
Pemahaman mengenai pekerja outsourcing sebenarnya mulai terbit sejak
diaturnya masalah outsourcing dalam Undang-undang omor !3 "ahun 2##3
tentang $etenagakerjaan *alaupun di dalam undang-undang tersebut tidak
pernah disebutkan mengenai istilah outsourcing. Perusahaan dapat
menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja atau buruh yang dibuat
secara tertulis. $etentuan tersebut merupakan pilihan bebas sehingga
sebenarnya penggunaan pekerja outsourcing tergantung kepada pengusaha.
Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain
dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara
tertulis. Akan tetapi tidak semua pekerjaan dapat diserahkan untuk dikerjakan
oleh perusahaan lainnya& melainkan harus memenuhi syarat-syarat dilakukan
secara terpisah dari kegiatan utama& dilakukan dengan perintah langsung atau
:
Se"at Damanik, #utsour$ing dan Perjanjian Kerja !enurut Undang3undang ,o 11 Ta"un )**1
tentang Ketenagakerjaan, Jakarta/ DSS Publis"ing, )**(, $et), "<=
)
tidak langsung dari pemberi kerja& merupakan kegiatan penunjang perusahaan
secara keseluruhan dan tidak menghambat proses produksi secara langsung.
)edangkan syarat lain yang harus dipenuhi adalah perusahaan
pemborong harus berbadan hukum serta perlindungan kerja dan syarat-syarat
kerja pada perusahaan tersebut harus sekurang-kurangnya sama dengan
perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan
atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pelaksanaan penga*asan atas pemenuhan syarat-syarat outsourcing
sangat sulit dilakukan& oleh karena itu banyak pelanggaran-pelanggaran yang
kerap terjadi. Pelanggaran yang banyak terjadi adalah rendahnya perlindungan
kerja dan syarat-syarat kerja terhadap pekerja. Perlindungan dan syarat-syarat
kerja yang diberikan pengusaha kepada pekerja umumnya di ba*ah standar
yang berlaku di mana pekerja dipekerjakan. +eskipun realisasi hubungan kerja
dibuat secara tertulis antara perusahaan outsourcing dengan pekerja akan tetapi
perusahaan pengerah jasa tenaga kerja mendapatkan keuntungan melalui
pemotongan sebagian hak yang diterima pekerja pada perusahaan di mana
pekerja ditempatkan.
Adanya pro kontra terhadap pengaturan outsourcing di dalam Undang-
undang omor !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan tidak menyurutkan
pembentuk undang-undang untuk mengatur mengenai masalah outsourcing. Hal
tersebut dikarenakan sebelum berlakunya Undang-undang o. !3 "ahun 2##3
tentang $etenagakerjaan& lebih banyak terjadi penyele*engan hukum dalam
mengatur hubungan kerja dan syarat kerja antara perusahaan outsourcing
dengan pekerja. Berlakunya Undang-undang o. !3 "ahun 2##3 tentang
$etenagakerjaan yang berupaya melindungi pekerja dari ketidakpastian hukum
dalam hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan outsourcing tetap
tidak menghentikan masalah pekerja outsourcing& bahkan di satu sisi semakin
menjadi pilihan pengusaha untuk mengatur hubungan kerja dengan pekerja
outsourcing dengan alasan efisiensi biaya& *aktu dan tenaga bagi pengusaha.
1
$ritik tajam terhadap pemberlakuan outsourcing dalam Undang-undang
o. !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan juga tercermin dari pasal-pasal
yang mengaturnya. Pada Pasal '( Undang-undang o. !3 "ahun 2##3 tentang
$etenagakerjaan diatur bah*a perusahaan dapat menyerahkan sebagian
pekerjaan kepada perusahaan lain dan perjanjian penyedia jasa buruh. )elain itu
diatur bah*a perjanjian pemborongan pekerjaan diatur dalam Pasal ', Ayat -2.
Undang-undang o. !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan juga menyebutkan
bah*a pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain sebagaimana
dimaksud dalam Ayat -!. harus memenuhi syarat bah*a pekerjaan itu harus
dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan.
$etentuan dalam pasal ini telah menimbulkan kritik karena bagaimana mungkin
perusahaan yang telah menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada
orang lain masih memiliki ke*enangan untuk memberikan perintah langsung
atau tidak langsung terhadap pelaksanaan pekerjaan yang telah diborongkan
kepada perusahaan lain. /alam hal ini terhadap inkonsistensi antara Pasal '(
dan Pasal ', Ayat -!. sub b Undang-undang o. !3 "ahun 2##3. )ebab hal
tersebut akhirnya menimbulkan konsekuensi hukum bah*a perusahaan yang
memborongkan pekerjaan dengan pekerja pelaksana pekerjaan terhadap
hubungan kerja. )ebaliknya antara pekerja dengan perusahaan yang
memborongkan pekerjaan tidak terdapat hubungan kerja.
+engenai perjanjian penyedia jasa buruh pada Pasal '' Undang-undang
o !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan disebutkan bah*a pekerja dari
perusahaan penyedia jasa tidak boleh digunakan oleh perusahaan pengguna
untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung
dengan proses produksi kecuali untuk kegiatan penunjang atau kegiatan yang
tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. $alimat pertama pasal
tersebut memberikan pemahaman seakan-akan antara perusahaan penyedia
jasa tenaga kerja dengan perusahaan pemberi kerja terjadi perjanjian se*a
menye*a buruh. Hal tersebut yang menyebabkan kemudian memicu
pertentangan oleh elemen masyarakat sebagai salah satu bentuk praktek
perbudakan modern.
:
+eskipun dianggap sebagai timbulnya praktek perbudakan modern di
0ndonesia& hampir disemua sektor pekerjaan melibatkan pekerja outsourcing.
Banyak perkara juga diajukan ke Pengadilan Hubungan 0ndustrial mengenai
tuntutan pekerja outsourcing yang diputus hubungan kerjanya secara sepihak
untuk mendapatkan kompensasi pemutusan hubungan kerja dari perusahaan
pengguna atau bahkan agar dapat dipekerjakan pada perusahaan pengguna
sebagai pekerja di perusahaan tersebut.
,
B. Ma"alah&'a"alah di dala' %ela"anaan Ou("!ur)in* %a")a Berlaun+a
Undan*&undan* N!. $, Tahun -.., (en(an* Ke(ena*aer/aan
$. Berlaun+a Ou("!ur)in* Mele*alan %erda*an*an dan %er0udaan
Manu"ia
)ebelum berlakunya Undang-undang o. !3 "ahun 2##3 tentang
$etenagakerjaan& praktik penyediaan jasa pekerja untuk dipekerjakan di
perusahaan lain sudah terjadi. Bidang-bidang pekerjaan seperti satuan
pengamanan -satpam.& sekuriti dan cleaning ser1ice merupakan pekerjaan
yang diserahkan perusahaan untuk dikerjakan oleh tenaga kerja dari
perusahaan lain. Praktik pelaksanaannya pun tidak berbeda dengan yang
diatur dalam Undang-undang o !3 "ahun 2##3 tentang $etenagakerjaan.
Praktek outsourcing di 0ndonesia ditilik dari sejarahnya telah dilakukan
bertahun-tahun yang lampau. Pada Putusan P(P omor ',2,32002#22c ,
Agustus !3,3 mengenai tuntutan pekerja kontrak dari $ontraktor 4irma
)emesta yang bekerja di Pacific Bechtel. Pekerja dipekerjakan dengan
=
!engenai Pasal ;= -7at 8>9 Undang3undang ,o 11 Ta"un )**1 tentang Ketenagakerjaan 7ang
mengatur dalam "al pekerja outsour$ing tidak mendapatkan "ak3"akn7a dalam "ubungan kerja dengan
perusa"aan pen7edia jasa berali" "ubungan kerjan7a kepada perusa"aan pengguna jasa Djimanto dari
-PI,D# men7ebutkan ba"'a "al ini sangat merugikan dan memberatkan pengusa"a ole" karena
maksud semula dari perusa"aan mempekerjakan pekerja outsour$ing memang demi alasan e2isiensi,
dikutip dari pendapat Djimanto dalam a$ara 6orks"op Pen7usunan 5an$ang &angun Hubungan
Industrial, diselenggarakan ole" Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan
Tenaga Kerja, Hotel Kartika ?"andra Jakarta, 1: Juli )**<
=
sistem seperti yang dilakukan pada pekerjaan outsourcing& sehingga pada
saat kontrak diputus begitu saja antara kontraktor 4irma )emesta dengan
Pacific Bechtel& pekerja outsourcing tidak dapat menuntut hak-haknya kepada
kedua perusahaan tersebut.
'
amun demikian& ketiadaan perlindungan bagi
pekerja telah membuat pandangan masyarakat menjadi negatif. Pekerja
dianggap sebagai barang komoditi yang dapat dijual& dipindah tangankan&
ditukar& yang hanya diperhatikan apabila pengusaha menganggap dapat
mempekerjakan pekerja yang bersangkutan dan dapat disingkirkan begitu
saja apabila pengusaha tidak memerlukannya lagi. Pada kenyataannya
hingga masa-masa sekarang ini di mana pekerja kesulitan mencari
pekerjaan& pekerja dihadapkan pada pilihan take it or leave it terhadap
ta*aran peluang pekerja outsourcing atau tidak bekerja sama sekali.
-. Beralihn+a Hu0un*an Huu' dala' Ou("!ur)in* Meru*ian %eer/a
Hubungan hukum dalam outsourcing bagi pekerja dan perusahaan penerima
pekerjaan menurut Undang-undang o. !3 "ahun 2##3 tentang
$etenagakerjaan bisa beralih menjadi hubungan hukum antara pekerja
dengan perusahaan pemberi kerja untuk pekerjaan yang sifatnya
berlangsung terus menerus dalam hal terjadi pergantian perusahaan
penyedia jasa tenaga kerja. Hubungan hukum yang dimaksud tidak terbatas
pada pemberian upah dan pesangon ketika pekerja diputus hubungan
kerjanya melainkan juga perlindungan hak-hak pekerja& di antaranya
keikutsertaan pekerja dan keluarganya dalam program 5amsostek& program
perlindungan pensiun dan lain-lain. +enurut ketentuan undang-undang&
perusahaan pemberi kerja harus mengambil alih tanggung ja*ab terhadap
pekerja dalam hal terjadi perusahaan pemberi kerja telah memberi pekerjaan
kepada perusahaan penyedia jasa tenaga kerja yang tidak berbadan hukum.
;
-ndari %urikosari, Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia, Jakarta/ Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta )*1*, " >13>:
;
Akan tetapi masalah yang sering timbul terjadi pada masalah perjanjian kerja
antara pekerja outsourcing dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja
yang harus berakhir karena perjanjian kerja sama antara perusahaan
pemberi kerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerjanya telah
berakhir. Akibatnya perusahaan pemberi kerja tidak lagi mempekerjakan
pekerja outsourcing dan perusahaan penyedia jasa juga tidak mau membayar
sisa upah yang diperjanjikan dalam kontrak perjanjian kerja sama. Pada
banyak kasus seperti yang tersebut di atas bermuara pada tuntutan di
Pengadilan Hubungan 0ndustrial. Akan tetapi hingga tingkat kasasi pun
pekerja outsourcing tidak dapat menuntut hak-haknya yang menurut undang-
undang ketenagakerjaan kedudukannya beralih dari menjadi pekerja di
perusahaan pemberi kerja apabila perusahaan penyedia jasa tenaga kerja
tidak melakukan ke*ajibannya sesuai dengan hubungan kerja yang terjadi
antara perusahaan dengan pekerja. $asus karya*an koperasi )etia $a*an
mela*an P" Bakrie "osan 5aya karena buruh menuntut agar dibayarkan
upah pesangon sesuai dengan yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan kepada P" Bakrie "osan 5aya oleh karena hubungan
kerja diputus secara sepihak oleh perusahaan penyedia jasanya yaitu
$operasi )etia $a*an. /asar pemikiran para karya*an tersebut yang
berjumlah '# orang adalah karena diatur bah*a buruh yang dipekerjakan
melalui perusahaan penyedia jasa berubah status hukumnya menjadi
pekerja di perusahaan pengguna dengan segala hak dan ke*ajibannya.
$elemahan kedudukan dan hak pekerja outsourcing tersirat dalam Putusan
$asasi o.!32 $2PH022##6 yang memenangkan P" Bakrie "osan 5aya oleh
karena pada dasarnya buruh outsourcing tersebut tidak mempunyai
hubungan hukum dengan perusahaan pengguna& sehingga tidak mendapat
perlindungan karena terjadi pengakhiran hubungan kerja.
6
(
Ibid, "1;*31;1
(
,. %eer/a K!n(ra dan Rendahn+a %erlindun*an Huu' Ba*i %eer/a
Ou("!ur)in*
+asalah-masalah mengenai pelaksanaan outsourcing sebenarnya dalam
penerapannya banyak terkait dengan $itab Undang-undang Hukum Perdata
dan bidang hukum ketenagakerjaan. Bidang hukum ketenagakerjaan berlaku
untuk mengatur hubungan antara pengusaha dan pekerja pada saat mereka
sepakat untuk melakukan suatu pekerjaan yang menghasilkan barang atau
jasa. )edangkan fungsi Hukum Perdata terutama menata hubungan antara
perusahaan dengan perusahaan dalam perjanjian kerja sama. 7leh karena
perjanjian kerja yang bersifat *aktu tertentu -P$8". antara pemberi kerja
dengan penerima kerja pada umumnya dibatasi masa berlakunya& maka tidak
ada kepastian kesinambungan dalam pekerjaan sehingga pekerja merasa
terancam. Persoalan yang muncul adalah bah*a setelah pekerjaan yang
diperjanjikan selesai& maka otomatis para pekerja akan berhenti bekerja. 7leh
karena itu untuk menghindar dari ke*ajiban membayar gaji kepada pekerja
dalam hal tidak ada pekerjaan bagi pekerja& pengusaha mensyaratkan
kontrak kerja. Pada pelaksanaannya kontrak kerja dapat berlangsung secara
bertahun-tahun dan *alaupun hal tersebut bertentangan dengan undang-
undang& pengusaha menempuh jalan pekerja yang selesai masa kontraknya
diistirahatkan dulu selama beberapa bulan& kemudian masuk kembali ke
perusahaan yang sama dengan status sebagai pekerja baru dari perusahaan
penyedia jasa tenaga kerja. Pekerja dalam hal ini tidak dapat menentukan
pena*aran dan mengajukan persyaratan kepada pengusaha oleh karena
sempitnya lapangan kerja yang tersedia. Pengusaha dengan mudah dapat
menolak pekerja outsourcing yang menuntut haknya terlalu banyak oleh
karena masih banyak pelamar lain yang bersedia bekerja dengan syarat-
syarat yang memberatkan pekerja yang ditetapkan oleh pengusaha.
1. Rendahn+a Ha&ha %eer/a Ou("!ur)in*
>
Pada kegiatan outsourcing& perjanjian kerja sama bukan ditandatangani oleh
pekerja dengan perusahaan pemberi kerja& akan tetapi antara perusahaan
pengguna dengan perusahaan pemberi kerja& maka negosiasi mengenai
upah dan hak-hak pekerja outsourcing lainnya hanya diperjanjikan di antara
kedua perusahaan tersebut tanpa diketahui oleh pekerja. 7leh karena bisnis
perusahaan penerima pekerjaan adalah dengan mempekerjakan pekerja
untuk kepentingan perusahaan lain& maka dari jasa tersebut perusahaan
pemberi kerja memperoleh keuntungan. $euntungan perusahaan penyedia
jasa tersebut diperoleh dari selisih antara upah yang diberikan perusahaan
pengguna dengan upah yang harus dibayarkan kepada pekerja outsourcing.
7leh karenanya upah yang diterima oleh pekerja outsourcing biasanya
sangat kecil dan paling tinggi hanya untuk memenuhi ketentuan upah
minimum. Berdasarkan hal tersebut pula& maka banyak perusahaan penyedia
jasa yang semakin kaya raya dan para pekerja tetap hidup dengan upah di
ba*ah standar atau maksimal dengan upah sesuai dengan ketentuan
mengenai upah minimum. Beberapa kasus menggambarkan hal tersebut
seperti kasus petugas kebersihan atau cleaning ser1ice dari Pemerintah
Pro1insi /$0 5akarta hanya menerima upah antara 9p ('#.###&- sampai 9p
6##.###&- perbulan yang jauh lebih rendah dari upah minimum pro1insi /$0
tahun 2##' yang mencapai 9p :!3.###&- perbulan untuk pekerja lajang.
:
Para pekerja outsourcing dalam hal upah ini tidak dapat berbuat banyak
untuk menuntut pengusaha. )ebab pada satu sisi upah yang diberikan telah
memenuhi ketentuan mengenai upah minimum& akan tetapi di sisi lain
pengusaha tidak akan menerima tuntutan pekerja outsourcing untuk
disamakan kedudukannya dalam menerima upah dengan pekerja yang lain&
karena status dan kedudukannya hanya tergantung kepada perusahaan
pemberi kerja.
2. %en*a0aian %en*e'0an*an Ke'a'3uan %eer/a Ou("!ur)in*
>
Kompas, )( !ei )**;, " )(
<
$esulitan lain yang dihadapi oleh pekerja outsourcing adalah peningkatan
kemampuan seorang pekerja yang sulit diperolehnya dari pengusaha. )ebab
pada umumnya pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja outsourcing adalah
pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang. )elain itu pengembangan
kemampuan dan karier pada pekerja outsourcing juga dibatasi oleh adanya
spesialisasi yang dilakukan perusahaan pemberi kerja sehingga yang
dihasilkan perusahaan memberi kesan kuat pada perusahaan pengguna
untuk menggunakan jasa tenaga kerja yang ada pada perusahaan pemberi
kerja.
C. %enu(u3
Pembatasan atau bahkan penolakan terhadap pemberlakuan ketentuan
perundang-undangan mengenai pekerja outsourcing tidak dapat dilakukan *alau
seberapa kuat pekerja maupun serikat pekerja dari unit kerja sampai federasi
memperjuangkannya. Hal ini disebabkan oleh karena perkembangan dari
outsourcing itu sendiri yang menyebutkan bah*a bidang-bidang spesialisasi
terutama dalam hal pengembangan produk barang dan pengembangan keahlian
jasa semakin berkembang. 7leh karenanya memba*a dampak bagi pekerja
outsourcing untuk terbukanya lapangan kerja yang lebih luas.
Pada banyak negara industri di dunia seperti Amerika dan 0nggris
perkembangan outsourcing telah jauh lebih maju. Bahkan di egara-negara
tersebut& batas antara kegiatan utama dan yang bukan kegiatan utama atau
kegiatan pokok semakin sulit dilihat. )emua kegiatan pekerjaan bahkan
diserahkan kepada outsourcing sedangkan yang menjadi pekerjaan utama
perusahaan lebih dititikberatkan pada sistem peri;inan& penga*asan dan
pengorganisasian kegiatan perusahaan yang dioutsource. $egiatan utama
perusahaan industri misalnya& juga hanya mengerjakan pekerjaan yang perlu
1*
kemampuan mengolah desain produk dan teknologi mesin yang andal
sedangkan sisanya diserahkan kepada perusahaan outsourcing.
Hal-hal yang menjadi masalah pelaksanaan outsourcing di 0ndonesia
memang terletak pada perlunya penegasan pengaturan mengenai batasan
mengenai kegiatan pekerjaan apa yang dapat dilaksanakan pekerja outsourcing&
besaran upah yang harus ditetapkan atau setidaknya kalaupun sudah
ditetapkan& diketahui oleh pekerja sebelum menandatangani perjanjian kerja& hal
mana yang paling menjadi pokok masalah pekerja outsourcing& di samping
sistem kontrak bagi pekerja outsourcing yang harus dikaitkan dengan
keberadaan perjanjian kerja sama antara perusahaan pemberi kerja dengan
perusahaan pengguna yang harus disinkronkan satu dengan yang lain% sehingga
kepastian akan berlangsungnya dan jaminan adanya pekerjaan bagi pekerja
outsourcing dapat memberikan rasa aman bagi pekerja outsourcing. Pemerintah
sebagai pengusul perubahan regulasi dan pemegang kendali penga*asan
dalam pelaksanaan praktek outsourcing juga sebaiknya memperhatikan
kepentingan para pihak dalam hal ini& sebab pada dasarnya pelaksanaan
outsourcing akan dapat menguntungkan semua pihak yang berkaitan asalkan
masing-masing pihak mengetahui hak dan ke*ajiban masing-masing dan berada
dalam koridor penegakan hukum ketenagakerjaan.
11