Anda di halaman 1dari 5

Sistem Kardiovaskular

Pada minggu ke-5 cardiac output akan meningkat dan perubahan ini akan
terjadi untuk mengurangi resistensi vaskular sistemik. Selain itu juga akan terjadi
peningkatan denyut jantung. Antara minggu ke-10 dan 20 terjadi peningkatan
volume plasma sehingga juga terjadi peningkatan preload. Performa ventrikel
selama kehamilan dipengaruhi oleh penurunan resistensi vaskular sistemik dan
perubahan pada aliran pulsasi arterial. Kapasitas vaskular juga akan meningkat
untuk memenuhi kebutuhan. Peningkatan estrogen dan progesteron juga akan
menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan resistensi vaskular perifer.
Ventrikel kiri akan mengalami hipertrofi dan dilatasi untuk memfasilitasi
perubahan cardiac output tetapi kontraktilitasnya tidak akan berubah. Sejak
pertengahan kehamilan pembesaran uterus akan menekan vena kava inferior dan
aorta bawah ketika dalam posisi terlentang yang akan mengurangi darah balik
vena ke jantung. Akibatnya terjadi penurunan preload dan cardiac output sehingga
akan menyebabkan terjadinya hipotensi arterial yang dikenal dengan sindrom
hipotensi supine dan pada keadaan yang cukup berat akan mengakibatkan ibu
kehilangan kesadaran. Penekanan pada aorta ini juga akan mengurangi aliran
darah uteroplasenta ke ginjal. Selama trimester terakhir posisi terlentang akan
membuat fungsi ginjal menurun dibandingkan dengan posisi miring.
Volume darah akan meningkat secara progresif mulai minggu ke-6 sampai
8 kehamilan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 sampai 34 dengan
perubahan kecil setelah minggu tersebut. Volume darah akan meningkat kira-kira
40-45 %. Hal ini dipengaruhi oleh aksi progesteron dan estrogen pada ginjal yang
diinisisasi oleh jalur renin-angiostensin dan aldosteron. Penambahan volume
darah ini sebagian besar berupa plasma dan eritrosit. Eritropoietin ginjal akan
meningkatkan jumlah sel darah merah sebanyak 20-30 %, tetapi tidak sebanding
dengan peningkatan volume plasma sehingga akan mengakibatkan hemodilusi dan
penurunan konsentrasi hemoglobin dari 15g/dl menjadi 12,5 g/dl, dan pada 6%
perempuan bisa mencapai di bawah 11 g/dl. Pada kehamilan lanjut kadar
hemoglobin di bawah 11 g/dl itu merupakan suatu hal yang abnormal dan
biasanya lebih berhubungan dengan defisisensi zat besi daripada hipervolemia.
Hipervolemia selama kehamilan mempunyai fungsi sebagai berikut:
Untuk menyesuaikan pembesaran uterus terhadap hipertrofi sistem
vaskular.
Untuk melindungi ibu dan janin terhadap efek yang merusak dari arus
balik vena dan posisi terlentang dan berdiri.
Untuk menjaga ibu dari efek kehilangan darah yang banyak pada saat
persalinan.
Terjadi suatu autotranfusi dari sistem vaskularisasi dengan
mengompensasi kehilangan darah 500-600 ml pada persalinan pervaginum
tunggal atau 1.000 ml pada persalinan dengan seksio sesaria atau persalinan
pervaginum gemeli. Volume darah ini akan kembali seperti sedia kala pada 2-6
minggu setalah persalinan.
Selama kehamilan jumlah leukosit akan meningkat yakni sebesar 5.000-
12.000/l dan mencapai puncaknya pada saat persalinan dan masa nifas berkisar
14.000-16.000/l. Penyebab peningkatan ini belum diketahui. Distribusi tipe sel
juga akan mengalami perubahan. Pada kehamilan terutama trimester ketiga terjadi
peningkatan jumlah granulosit dan limfosit CD8 T dan secara bersamaan
penurunan limfosit dan monosit CD4 T. Pada awal kehamilan aktivitas leukosit
alkalin fosfatase juga meningkat. Demikian juga konsentrasi dari penanda
inflamasi seperti C-reactive protein (CPR). Suatu reaktan serum akut dan
erythrocyte sedimentation rate (ESR) juga akan meningkat karena peningkatan
plasma globulin dan fibrinogen.
Kehamilan juga mempengaruhi keseimbangan koagulasi intravaskular dan
fibrinolisis sehingga menginduksi suatu keadaan hiperkoagulasi. Dengan
pengecualian pada faktor XI dan XIII, semua konsentrasi plasma dari faktor-
faktor pembekuan darah dan fibrinogen akan meningkat. Produksi platelet juga
meningkat tetapi karena adanya dilusi dan konsumsinya, kadarnya akan menurun.
Selama kehamilan sirkumferensia torak akan bertambah kurang 6 cm, tetapi
tidak mencukupi penurunan kapasitas residu fungsional dan volume residu paru-
paru karena pengaruh difragma yang naik 4 cm selama kehamilan. Frekuensi
pernapasan hanya mengalami sedikit perubahan selama kehamilan, tetapi volume
tidal, volume ventilasi per menit dan pengambilan oksigen per menit akan
bertambah secara signifikan pada kehamilan lanjut. Perubahan ini akan mencapai
puncaknya pada minggu 37 dan akan kembali hampir seperti sedia kala apda 24
minggu setelah persalinan.

Traktus Digestivus
Seiring dengan makin besarnya uterus, lambung dan usus akan bergeser.
Demikian juga dengan yang lainnya seperti apendiks yang akan begeser ke arah
lateral atas. Perubahan yang nyata akan terjadi pada penurunan motilitas otot
polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam hidroklorid dan peptin
di lambung sehingga akan menimbulkan gejala berupa pyrosis (heartburn) yang
disebabkan oleh refluks asam lambung ke esofagus bawah sebagai akibat
perubahan posisi lambung dan menurunnya tonus sfingter esofagus bagian bawah.
Mual terjadi akibat penurunan asam hidroklorid dan penurunan motilitas, serta
konstipasi sebagai akibat penurunan motilitas usus besar.
Gusi akan menjadi hiperemis dan lunak sehingga dengan trauma sedang
saja bisa menyebabkan perdarahan. Epulis selama kehamilan akan muncul, tetapi
setelah persalinan akan berkurang secara spontan. Hemorroid juga merupakan
suatu hal yang sering terjadi sebagai akibat konstipasi dan peningkatan tekanan
vena pada bagian bawah karena pembesaran uterus. Hati tidak mengalami
perubahan secara anatomik dan morfologik. Fungsi hati kadar alkalin fosfatase
akan meningkat hampir dua kali lipat, sedangkan serum aspartat transamin, alani
transamin, -glutamil tranferase, albumin, dan bilirubin akan menurun.

Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh
uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih. Keadaan
ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga
panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun ke pintu atas
panggul, keluhan itu akan timbul kembali. Ginjal akan membesar, glomerular
filtrastion rate, dan renal plasma flow juga akan meningkat. Pada ekskresi akan
dijumpai kadar asam amino dan vitamin larut air dalam jumlahyang lebih banyak.
Glukosuria juga merupakan suatu hal yang umum, tetapi kemungkinan adanya
diabetes mellitus juga tetap harus diperhitungkan. Sementara itu, proteinuria dan
hematuria meruapakan suatu hal yang abnormal. Pada fungsi renal akan dijumpai
peningkatan creatinine clearance lebih tinggi 30%.
Pada ureter akan terjadi dilatasi di mana sisi kanan akan lebih membesar
dibandingkan ureter kiri. Hal ini diperkirakan karena ureter kiri dilindungi oleh
kolon sigmoid trorotasi uterus. Ovarium kanan dengan posisi melintang di atas
ureter kanan juga diperkirakan sebagai faktor penyebabnya. Penyebab lainnya
diduga karena pengaruh hormon progesteron.

Sistem Endokrin.
Selama kehamilan normal kelenjar hipofisis akan membesar 135%.
Akan tetapi, kelelnjar ini tidak begitu mempunyai arti penting dalam kehamilan.
Pada perempuan yang mengalami hipofisektomi persalinan dapat berjalan dengan
lancar. Hormon prolaktin akan meningkat 10x lipat pada saat kehamilan aterm.
Sebaliknya, setelah persalinan konsentrasinya pada plasma akan menurun. Hal ini
juga ditemukan pada ibu-ibu yang menyususi. Kelenjar tiroid akan mengalami
pembesaran hingga 15,0 ml pada saat persalinan akibat dari hiperplasia kelenjar
dan peningkatan vaskularisasi.
Pengaturan konsentrasi kalsium sangat berhubungan erat dengan
magnesium, fosfat, hormon paratiroid, vitamin D, dan kalsitonin. Adanya
gangguan pada salah satu faktor itu akan menyebabkan perubahan pada yang
lainnya. Konsentrasi plasma hormon paratiroid akan menurun pada trimester
pertama dan kemudian meningkat secara progresif. Aksi yang penting dari
hormon paratiroid ini adalah untuk memasok janin dengan kalsium yang adekuat.
Selain itu juga diketahui mempunyai peran dalam produksi peptida pada janin,
plasenta, dan ibu. Kelenjar adrenal pada kehamilan normal akan mengecil
sedangkan hormon androstenedion, testosteron, dioksikortikosteron, aldosteron,
dan kortisol akan meningkat. Sementara itu, dehidroepiandrosteron sulfat akan
menurun.

Sistem Muskuloskeletal
Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum pada kehamilan.
Akibat kompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior, lordosis menggeser
pusat daya berat ke belakang ke arah dua tungkai. Sendi sakroiliaka,
sakrokoksigis dan pubis akan meningkat mobilitasnya, yang diperkirakan karena
pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat mengakibatkan perubahan sikap ibu
dan pada akhirnya menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah
punggung terutama pada akhir kehamilan.