Anda di halaman 1dari 6

ISSN 1410-1998

Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV


PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998

PENURUNAN KADAR URANIUM DALAM LIMBAH FASA AIR
DENGAN PROSES KOAGULASI FLOKULASI
DENGAN GARAM FERRI

Prayitno, Raharjo, M.E Budiyono*) dan Puji Lestari**)

*) Pusat Penelitian Nuklir Yogyakarta - BATAN
**) Alumni Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan
ABSTRAK

PENURUNAN KADAR URANIUM DALAM LIMBAH FASA AIR DENGAN PROSES
KOAGULASI FLOKULASI DENGAN GARAM FERRI. Pada pemben-tukan flok, diharapkan
akan terjadi penyerapan permukaan dan penyerapan dalam terhadap senyawa-senyawa
uranium yang ada dalam larutan. Percobaan ini dilakukan dengan menambahkan natrium
hidroksida dan ferri khlorida pada volume tertentu terhadap limbah uranium cair dalam jar test.
Diteliti pengaruh pH, kecepatan pengadukan dan lama pengadukan terhadap efisiensi
pemisahan dan faktor dekontaminasi. Kondisi terbaik dicapai pada pH 9, kecepatan
pengadukan 250 rpm dan lama pengadukan lambat 50 menit, dengan efisiensi pemisahan
98,92 % dan faktor dekontaminasi 92,20.

ABSTRACT

RECOVERY OF URANIUM IN THE AQUEOUS WASTE BY USING COAGULATION DAN
FLOCCULATION PROCESS WITH FERRIC SALT. Adsorption of uranium compounds
contained in the solution are expected to occur during the formation of floc. This experiment
was done by adding sodium hydroxide and certain volume of ferric chloride in the aqueous
phase of uranium waste in jar test. The influence of pH, stirring rate and stirring time on the
separation efficiency and factor of decontamination have been investigated. The best condition
obtained was pH 9, stirring speed was 250 rpm and stirring time was 50 minutes with the
separation efficiency of 98.92% and decontamination factor of 92,20.

PENDAHULUAN
Limbah uranium fasa air yang
berasal dari laboratorium penelitian masih
mengandung uranium cukup tinggi sehingga
diusahakan untuk memisahkan/menurunkan
kadar uranium dengan salah satu metoda
pengendapan, yaitu menggunakan garam feri
dengan proses koagulasi-flokulasi
(kopresipitasi)
Pengendapan kimia adalah umum
digunakan untuk pengolahan limbah yang
banyak mengandung air dan juga
menguntungkan untuk mengolah limbah
radioaktif dengan radioaktivitas rendah.
Pengolahan awal limbah radioaktif cair
sebelum diolah dengan cara penukar ion,
evaporasi, meskipun FD tidak lebih dari 100
sulit dicapai, maka cara ini tetap dijalankan
(KRAUSE, H., 1986; IAEA, 1964).
Para peneliti telah banyak melakukan
penelitian yang berkaitan dengan proses
kimia limbah

cair pemancar alpha ( U, Pu dan
Am) didekontaminasi dengan proses
kopresipitasi dengan menggunakan
hidroksida dan kalsium fosfat pada pH tinggi,
menghasilkan efisiensi pemisahan antara
97,00 - 99,50%.

Dasar pemakaian perlakuan kimia
pada pengolahan limbah cair adalah kecilnya
konsentrasi atau kandungan radionuklida
yang akan didekontaminasi, sehingga
dengan cara pemisahan kimia melalui
pengendapan tidak dapat dilakukan
berhubung hasil kali kelarutannya tidak
terlampaui. Cara pengolahan limbah
radioaktif sangat berbeda dengan cara kimia
biasa karena pengolahan yang akan dibuang
ke lingkungan harus memenuhi beberapa
syarat-syarat batasnya adalah harga
konsentrasi tertinggi yang diijinkan (KTD) dari
cara pengendapan biasa akan tidak
memberikan hasil yang diinginkan, karena
hasil kelarutan zat tersebut tidak terlampaui.
Pemisahan/penurunan zat yang sangat kecil
konsentrasinya ini bisa dilaksanakan dengan
penambahan zat pengemban yaitu zat yang
bila diendapkan dapat mengikut sertakan zat
radioaktif yang ada dalam larutan. Salah satu
cara yang ditempuh adalah menggunakan
mekanisme koagulasi-flokulasi dan
kopresipitasi. Setelah melalui proses
penyaringan atau sentrifugasi untuk
mempercepat penyerapan, hasil olah yang
berupa lumpur dan beningan dapat
291
Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV
PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998
ISSN 1410-1998

dipisahkan. (KRAUSE, H, 1986). Selanjutnya
diteruskan ke proses berikutnya bila
aktivitasnya masih di atas batas aman untuk
dibuang atau didispersi ke lingkungan.
Secara sistematik, reaksi penyerapan
dapat ditulis sebagai berikut : mekanisme
yang berperan, dimana hasil kali kelarutan
(K
sp
) untuk elektrolit biner Ap dan Bq yang
terionisasi menjadi pA
+
dan qB
-
dimana
K
sp
=[A
+
]
p
x [B
-
]
q


Apabila suatu elektrolit sukar larut,
karena hasil kali konsentrasi ion-ionnya
dalam larutan dibuat melampui harga K
sp
nya,
misalnya dengan menambahkan suatu garam
yang mengandung ion sejenis dengan ion
yang terdapat dalam larutan, maka sistem
akan menyesuaikan diri ke arah
keseimbangan dengan jalan menghasilkan
endapan garam padatnya sehingga tercapai
harga K
sp
, atau jika hal ini tidak mungkin
sampai garam padatnya terlarut. Koagulasi,
flokulasi dan kopresipitasi adalah proses
kimia yang bertujuan untuk mengikut
sertakan unsur-unsur dalam proses
pengendapan kimia. Berbagai macam kation
termasuk juga kation hasil fisi dalam bentuk
senyawa-senyawa hidroksida, fosfat dan
lainnya dengan daya larut sangat rendah
dapat membentuk endapan kimia.
Koagulasi didefinisikan sebagai
penggumpalan butir-butir sol menjadi butir-
butir dispersi dalam media cair. Flokulasi
merupakan tahapan kelanjutan dari
koagulasi, yaitu tahap dimana terjadi
pertumbuhan/perkembangan dari partikel
koagulan ke dalam bentuk flok setelah
mengalami pengadukan lambat, sehingga
memungkinkan partikel-partikel mengadakan
kontak yang cukup diantara partikel-partikel
koagulan tersebut (IAEA, 1968).
Oleh karena kecilnya konsentrasi
radionuklida dalam larutan, maka cara
pengendapan tidak akan memberikan hasil
yang diinginkan, karena hasil kali kelarutan
zat tersebut tidak akan terlampaui.
Pemisahan atau pengambilan zat yang
sangat kecil ini dapat dilaksanakan dengan
penambahan zat pengemban yaitu zat yang
bila diendapkan dapat mengikutsertakan zat
radioaktif (zat yang akan diambil) yang ada
dalam larutan. Mekanisme ini lazim disebut
kopresipitasi (IAEA, 1968). Dan (NYO-1571,
1951) antara lain :

1. Mekanisme reaksi yang terjadi antara flok
dan logam yang dipisahkan akan
dipengaruhi oleh kecepatan terjadinya
tumbukan, atau bahwa semakin cepat
reaksi , makin besar yang dipisahkan,
sehingga efisiensi pemisahan dan faktor
dekontaminasi juga semakin besar.
2. Mekanisme reaksi akan dipengaruhi oleh
kondisi larutan yaitu pH, makin tinggi pH
maka hasil pemisahan semakin besar,
sehingga faktor dekontaminasi semakin
besar.
3. Mekanisme reaksi tersebut juga
dipengaruhi oleh waktu terjadinya reaksi,
atau bahwa semakin lama terjadinya
reaksi maka hasil pemisahan semakin
besar, sehingga faktor dekontaminasi dan
efisiensi pemisahan makin besar.
Perhitungan untuk menentukan
harga-harga faktor dekontaminasi (FD) dan
efisiensi pemisahan (Ef) adalah :
A
o
FD = ------------------ (1)
A
b

A
o
- A
b

Ef = ------------------ x 100 % (2)
A
o
FD =faktor dekontaminasi
Ef =efisiensi pemisahan
A
o
=aktivitas awal limbah sebelum
perlakuan
A
b
= aktivitas beningan setelah perlakuan

TATA KERJA
1. Alat dan Bahan
- Limbah uranium fasa air
(3,65 x 10
-4
Ci/ml)
- FeCl
3
.6H
2
O
- NaOH
- Aquadest
- Peralatan gelas
- Lampu pemanas
- Timbangan elektronik
- pH meter
- Pengaduk / jart test
- Pengukur waktu
- Alat cacah / latar rendah
2. Cara Kerja
a. Menentukan pH
- Limbah uranium fasa air aktivitasnya
3,65 x 10
-4
Ci/ml, dimasukkan dalam
beker gelas 100 ml dengan volume
masing-masing 50 ml dimana pH
divariasi dari 5 sampai 12 (pH diatur
292
ISSN 1410-1998
Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV
PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998

dengan menambahkan NaOH
kedalamnya).
- Tiga ratus ppm FeCl
3
.6H
2
O dimasuk-
kan dalam 50 ml limbah dicampurkan.
- Kemudian larutan diaduk dengan
kecepatan 250 rpm selama 5 menit
setelah itu pengadukan diperlambat
menjadi 30 rpm selama 50 menit dan
diendapkan.
- Beningan dan endapan yang terjadi
kemudian dipisahkan dengan meng-
gunakan pipet sedot.
- Endapan yang tertinggal disimpan
untuk dilakukan proses pemadatan,
sedangkan beningan masing-masing
diambil sebanyak 1 ml untuk dicacah
dengan menggunakan Alpha/Beta
latar rendah.
- Menentukan kondisi terbaik, yaitu
menghasilkan aktivitas terkecil atau
faktor dekontaminasi dan efisiensi
pemisahan.
b. Menentukan kecepatan pengadukan
awal/cepat. Seperti pada penentuan
variabel pH, hanya yang divariasikan
adalah kecepatan pengadukan dari 50-
400 rpm.
c. Menentukan lama pengadukan
awal/cepat. Seperti pada penentuan
pengadukan cepat hanya yang
divariasikan lama pengadukan lambat 10
sampai dengan 80 menit.
d. Beningan dari hasil percobaan b. dan c.,
diambil dilakukan dalam planset stainless
kemudian dikeringkan dengan lampu
pemanas.
e. Dilakukan pencacahan menggunakan
alat / latar rendah dengan 3 kali
pengulangan.

HASIL DAN BAHASAN

Pada Gambar 1. terlihat bahwa hasil
yang baik pada pH 9. Penambahan FeCl
3
ke
dalam limbah yang disertai dengan
pengaturan pH 7 sampai pH 9 melalui
penambahan NaOH akan terjadi reaksi kimia-
fisika bersama dengan pengendapan
senyawa yang tidak larut. Reaksinya sebagai
berikut :
NaOH

FeCl
3
+ H
2
O Fe(OH)
3

+ 3H
+
+ Cl
-

Fe(OH)
3

Fe
3+
+ OH
-


Apabila hasil kali kelarutan (K
sp
)
terlampaui, maka terbentuklah partikel
dispersi endapan (proses nukleasi) dari
Fe(OH)
3
. Penambahan FeCl
3
yang berle-
bihan atau penambahan NaOH menjadi
alkalis akan menghasilkan

ion-ion Fe
3+
berfungsi sebagai elektron positip dan
negatip pada destabilisasi partikel koloid.
Kelebihan koloid kation dalam larutan akan
menyebabkan perubahan pH perubahan
muatan pada permukaan endapan dan
muatan di dalam inti flok yang terjadi. Hal ini
disebabkan karena kondisi larutan semakin
alkalis, konsentrasi ion OH
-,
semakin besar,
sehingga jumlah inti endapan

Fe(OH)
3

secara kualitatif semakin besar. Alkalinitas air
dapat memberikan proses pembentukan flok
dengan peranannya memproduksi ion OH
-

dalam reaksi hidrolisa koagulan. Pertam-
bahan jumlah inti pengendap Fe(OH)
3
serta
pertumbuhannya akan membuat luas bidang
adsorben semakin besar, sehingga daya
serapnya semakin besar, juga semakin besar
ukuran dan muatan elektrik partikel primer inti
endapan Fe(OH)
3
sangat dipengaruhi oleh
konsentrasi ion hidrogen atau hidroksida
Tetapi tidak selamanya peningkatan
harga pH pengolahan akan meningkatkan
harga FD dan EP, sebab pada harga pH
tertentu pengendapan akan mencapai
optimum. Meningkatnya konsentrasi ion-ion
dalam larutan yang akan menambah banyak-
nya butir endapan yang terbentuk pada pH 8
ke pH 9, dimana perubahan muatan elektrik
inti endapan dari positip ke negatip dan
kation-kation tidak lagi terdifusi ke dalam inti
endapan tetapi terserap ke lapisan. Setelah
mencapai harga tertinggi cenderung turun
kembali, karena konsentrasi ion OH
-
yang
berlebihan akan menempati lapisan difusi
butir-butir endapan sehingga mempertebal
lapisan terluar tersebut. Mekanisme reaksi
yang terjadi tumbukan muatan antar partikel.


Umpan 50 ml limbah uranium aktivitas 3,65x10
-4
Ci/ml,
FeCl
3
300 ppm 2 ml, kecepatan pengadukan cepat
250 rpm, 5 menit dan kecepatan pengadukan lambat
30 rpm 50 menit.

293
Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV
PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998
ISSN 1410-1998

Muatan listrik partikel adalah
merupakan fungsi dari pH larutan, karena
ion-ion hidrogen dan ion OH
-
dapat diserap
dengan mudah ke dalam inti endapan.
Serapan pada lapisan seluruh butir dipers
cenderung menyebabkan kopresipitasi pada
pH tinggi. Kopresipitasi ini terjadi dengan
sistem rangkap, faktor yang sangat penting
adalah pH dalam larutan, serta kelebihan
berbagai ion yang ada dalam larutan.
Kelebihan kation/anion dalam larutan selain
menyebabkan pH juga sangat penting
perubahan muatan di dalam permukaan
endapan yang terjadi. Dengan demikian
bahwa semakin tinggi pH, maka semakin
besar hasil penurunan kontaminan uranium
dari limbah uranium atau bahwa penurunan
kontaminan uranium yang paling baik pada
pH tinggi. Ternyata hasil pengamatan dari
Gambar 1. bahwa apabila pH larutan sama
dengan 9 hasil yang diperoleh faktor
dekontaminasi = 92,20 dan efisiensi
pemisahan =98,92 %

Umpan limbah uranium 50 ml, pH 9, FeCl
3
300 ppm,2 ml
pengadukan cepat 5 menit, kecepatan pengadukan
lambat 30 rpm, 50 menit.

Gambar 2. Pengaruh kecepatan pengadukan
terhadap efisiensi pemisahan dan
faktor dekontaminasi.

Dari Gambar 2. terlihat bahwa
kecepatan pengadukan cepat 250 rpm
memberikan harga EP dan FD terbaik.
Pengadukan cepat pada dasarnya
merupakan fungsi dari proses koagulasi
bertujuan untuk menstabilkan koloid dan solid
tersuspensi yang halus serta membentuk
mikro flok. Setelah itu dilakukan pengadukan
lambat untuk menstabilkan mikro flok yang
halus menjadi makro flok yang besar-besar
dan stabil. J ika kecepatan pengadukan awal
terlalu lambat, maka menyebabkan
pencampuran bahan koagulan/pengemban
dengan larutan limbah berlangsung lambat
sehingga kation/anion uranium terlalu kecil
menempel/terikat Bila awal pengadukan
terlalu cepat juga tidak terlalu kuat
membentuk inti flok karena gerakan
ortokinetik/fluida akibat pengadukan terlalu
cepat. Untuk itu mengakibatkan waktu
kontak antara kation uranium dengan butir
endapan akan semakin kecil, sehingga koloid
tidak terdestabilisasikan, dan menurunkan
hasil FD dan EP. Akibatnya kation-kation
uranium dalam limbah yang harusnya dapat
terserap ke dalam butir endapan menjadi
tidak terikat dan terlepas. FeCl
3
yang
ditambahkan sebelumnya, dan pengadukan
cepat juga berpengaruh terhadap dispersi
dan distribusi NaOH yang ditambahkan ke
dalam limbah. J ika kecepatan pengadukan
lebih rendah NaOH tersebar dengan lambat
sehingga terjadi efek harga pH yang terlalu
tinggi di sekitar penambahan koagulan dan
pH rendah di titik yang lebih jauh. J ika
kecepatan pengadukan lebih tinggi akan
mencegah terkumpulnya ion-ion OH
-
di
sekitar titik penambahan koagulan dan
mempercepat tersebarnya ion-ion OH
-
tersebut ke seluruh volume larutan. Setelah
mencapai harga maksimum pada kecepatan
pengadukan 250 rpm EP dan FD cenderung
turun kembali jika kecepatan pengadukan
ditingkatkan. Tingkat kecepatan yang terlalu
tinggi akan mengurangi kebolehjadian kation-
kation uranium akan terserap ke dalam butir
endapan, serta menyebabkan ukuran butir
endapan yang terbentuk lebih kecil atau butir
koloid yang halus akan pecah kembali
sehingga flok yang mengendap akan
berkurang.

Dari Gambar 3. terlihat bahwa harga
EP dan FD meningkat dengan bertambah
lamanya pengadukan, dan mencapai harga
maksimum pada lama pengadukan selama
50 menit. Sebagai fungsi waktu, maka
semakin lama waktu pengadukan awal
hasilnya semakin besar. Bila lama waktu
pengadukan kurang dari batas optimum,
keboleh jadian pembentukan inti flok tidak
maksimal, karena itu waktu kontak terlalu
singkat. Sebaliknya semakin lama waktu
pengadukan cepat, sehingga sampai
melebihi waktu optimum justru menurunkan
harga FD dan EP, karena inti flok yang telah
terbentuk dapat mulai pecah kembali,
sehingga daya ikatnya terhadap ion-ion
uranium dalam limbah cenderung mulai
menurun
294
ISSN 1410-1998
Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV
PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998

.


Umpan limbah 50 ml, FeCl
3
300 ppm, 2 ml kecepatan
pengadukan cepat 250 rpm, kecepatan pengadukan
lambat 30 rpm.

Limbah yang diolah dengan memiliki
kandungan garam yang cukup tinggi
sehingga memerlukan waktu kontak sekitar
50 menit bagi reaksi pengadukan untuk
menyempurnakan fasa koagulasi. J ika lama
pengadukan cepat kurang dari 50 menit,
tingkat penyerapan uranium ke dalam
endapan lebih rendah karena proses terlalu
cepat dibawa ke fasa flokulasi sebelum fasa
koagulasi selesai sempurna. Selanjutnya
kecepatan pengadukan lambat yang melebihi
kecepatan Harga EP dan FD akan turun jika
pengadukan cepat lebih dari 50 menit,
karena tahap awal dari fasa flokulasi akan
berlangsung dengan tingkat kecepatan tinggi
yang mengakibatkan berkurangnya butir-butir
endapan saling bergabung membentuk flok
endapan

S I M P U L A N

Dari hasil percobaan dan
pembahasan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut : Pemisahan dan penurunan
kadar limbah uranium dengan cara
pembentukan flok dapat dilihat hasil yang
cukup baik diperoleh efisiensi pemisahan
dan faktor dekontaminasi pada pH 9,
kecepatan pengadukan cepat 250 rpm, lama
pengadukan lambat 50 menit dan didapatkan
efisiensi pemisahan 98,92 % serta faktor
dekontaminasi 92,20 , dapat menurunkan
aktivitas jenis kontaminan alpha dari 3,65 x
10
-4
Ci/ml menjadi 3,96 x 10
-6
Ci/ml.




PUSTAKA
[1]. ARTHUR, P., SMITH, O.M., Semimicro
Qualitative Analysis, 2
nd
ed., Mc Graw
Hill Book Company INc., New York,
(1942).
[2]. GARLEY, M. CAULY K.W Cs
Advanced Management Methods for
Medium Active Waste, ISSN 0275-727,
1981.
[3]. IAEA, Technology of Radioactive
Waste Management Avoiding
environmental Disposal, Techinical
Reports , I A E A, Vienna,, Series No.
27, (1964).
[4]. IAEA, Chemical Treatment of
Radioactive Wastes, Techinical
Reports, IAEA, Vienna, Series No. 89,
(1968).
[5]. KRAUSE, H., Factor To Be Considered
in Establishing A Radwaste
Management System, J oint German-
Indonesian Seminar on Public
Acceptance, Waste Management
Nuclear Safety, J akarta, (1986).
[6]. STUMM, W, MORGAN, J .J ., Chemical
Aspects of Coagulation, J ournal
American Water Works, vol 54- 8, Parte
Ave, New York, (1962).
[7]. 7. WARREN, J K, MORTON, IG U The
removal of radioactive Anions By water
treatment, Cambridge, 1951.


TANYA JAWAB

Fathurrachman
Teknologi ini diterapkan kepada U
berpengkayaan rendah atau U alami.
Apabila hanya untuk U alami apa
manfaat penerapan teknologi ini, karena
daya endapnya rendah sekali.
Bagaimana tindak lanjut teknologi endap
ini, setelah U terikat oleh ferri lalu dipilin,
disimpan/dibuang bersama-sama atau U
dipisahkan lagi dengan ferri khlorida.
Apabila setelah U terikat bukankah akan
menambah limbah baru mengandung
ferri.
Bagaimana kalau limbah U bercampur
ion Fluor.







295
Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir IV
PEBN-BATAN Jakarta, 1-2 Desember 1998
ISSN 1410-1998

Prayitno
Teknologi ini diterapkan pada uranium
fasa air yang banyak mengandung air
dan juga menguntungkan untuk
mengolah limbah radioaktif cair dengan
aktivitas rendah sebelum diolah dengan
cara penukar ion dan evaporasi. Selain
itu para peneliti lebih suka melakukan
penelitian yang berkaitan dengan proses
kimia limbah cair pemancar (U, Pu dan
Am).
Setelah uranium terikat oleh flok
selanjutnya dilakukan proses pemadatan
dengan semen, vitrifikasi untuk
penyimpanan selanjutnya.
Untuk penelitian lanjutan akan dicoba
uranium dicampur dengan fluor. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui
seberapa jauh koagulan garam ferri
dapat mengikat uranium dengan
campuran fluor tersebut kemudian
dibandingkan dengan uranium saja.
Dalam hal ini fluor juga ikut terendapkan
bersama-sama dengan uranium dalam
flok ferri hidroksida.

































Indro Yuwono
Mohon dipertimbangkan pemakaian kata
optimum dalam karya ilmiah, karena
optimum harus ditinjau dari segala aspek.
Mohon dijelaskan fenomena yang terjadi
dalam grafik yang bentuknya selalu
cembung/melengkung ke atas.

Prayitno
Saran diterima, optimum akan diganti
hasil yang cukup baik dari penelitian ini.
Fenomena yang terjadi adalah
meningkatnya FD + EP secara tajam
pada kondisi yang cukup baik, setelah
kondisi tersebut akan mengalami
penurunan FD + EP sebagai akibat
adanya pengaruh pH, pengadukan cepat
dan lama pengadukan setelah kondisi
yang cukup baik. Tercapainya harga
tertinggi kemudian cenderung turun
kembali, karena konsentrasi yang
berlebihan akan menempati lapisan difusi
endapan sehingga mempertebal lapisan
terluar tersebut. Dengan demikian, pH
semakin tinggi akan memperbesar hasil
penurunan dan waktu kontak semakin
lama juga akan menurunkan hasil FD
dan EP.










296