Anda di halaman 1dari 21

1

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali
penduduk di negara kita. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan
bumi. Banyak yang ada di negara-negara berkembang dijumpai pasien batu buli-buli
sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian
atas, hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Di
Amerika Serikat 5 10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh
dunia rata-rata terdapat 1 12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
Batu ureter dikenal juga dengan Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di
dalam ureter merupakan penyumbatan saluran ureter oleh batu karena pengendapan
garam urat, oksalat, atau kalsium. Batu tersebut dapat terbentuk pada ginjal yang
kemudian batu yang kecil di pielum dapat turun ke ureter. Bila batu tidak dapat lolos ke
kandung kemih maka menyumbat ureter dan menimbulkan kolik. Batu ureter adalah
batu yang tidak normal didalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal
dan matriks organik tepatnya di ureter.
Secara epidemiologi terdapat Faktor intrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari
tubuh seseorang seperti, herediter umur paling sering pada usia 30-50 tahun dan jenis
kelamin laki-laki 3 kali lebih banyak daripada wanita. Faktor ekstrinsik Geografi,
yaitu daerah yang mengandung banyak kapur akan mempertinggi insiden terjadinya
batu saluran kemih, iklim dan temperature, asupan air yang kurang, diet tinggi purin
(kacang-kacangan), oksalat, kalsium dan juga pekerjaan yang banyak duduk serta
kurangnya melakukan aktifitas.

1.2 Rumusan masalah
Bedasarkan latar belakang diatas, berikut adalah masalah yang akan di bahas
dalam makalah ini :
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami Konsep Laporan Pendahuluan dan Asuhan
Keperawatan Batu Ureter.
2

2

1.2.2 Tujuan Khusus
1) Memaparkan konsep Laporan Pendahuluan dari batu ureter meliputi :
definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, komplikaso dan pemeriksaan
penunjang.
2) Mampu memahami Asuhan Keperawatan dari batu ureter meliputi :
pengkajian focus, pemeriksaan focus serta dalam menentukan diagnosa
dan perencaan, tindakan serta evaluasi.

1.4 Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi tentang Laporan Pendahuluan dan
Asuhan Keperawatan Batu Ureter, kami menggunakan data yang telah disediakan
dari bahan yang pernah diajarkan dan juga dari berbagai referensi baik melalui buku-
buku paket yang membahasa tentang Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan dan media internet.

1.5 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas serta untuk
menambah pengetahuan, wawasan para mahasiswa/mahasiswi keperawatan agar
dapat lebih mengerti dan memahami tentang Laporan Pendahuluan dan Asuhan
Keperawatan Batu Ureter.














3

3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Definisi
Menurut (Sudarth & Brunner, 1997) Batu ureter adalah keadaan dimana
terdapat batu saluran kencing, batu yang terbentuk ketika konsentrasi substansi
tertentu seperti kalium, oksalat, kalium fosfat, dan asam urat meningkat.
Batu saluran kemih (BSK) atau batu ureter adalah penyakit dimana didapatkan
batu disaluran kemih, yang di mulai dari kaliks sampai dengan uretra anterior.
(Nursalam & Baticaca, 2009)
Batu ureter merupakan suatu keadaan terdapatnya batu (kalkuli) di ureter.
Kondisi adanya batu pada ureter memberikan gangguan pada system perkemihan dan
memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien. (Muttaqin Arif & Kumala
Sari, 2012)
Batu ureter dikenal juga dengan Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di
dalam ureter merupakan penyumbatan saluran ureter oleh batu karena pengendapan
garam urat, oksalat, atau kalsium. Batu tersebut dapat terbentuk pada ginjal yang
kemudian batu yang kecil di pielum dapat turun ke ureter. Bila batu tidak dapat lolos ke
kandung kemih maka menyumbat ureter dan menimbulkan kolik. Batu ureter adalah
batu yang tidak normal didalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal
dan matriks organik tepatnya pada di ureter.
Ureter pada pria, terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus
deferens dan dikelilingi oleh leksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique
sepanjang 2 cm di dalam dinding vesikaurinaria pada sudut lateral dari trigonum
vesika. Sewaktu menembus vesika urinaria, dinding atas dan dinding bawah ureter
akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula)
dan mencegah pengambilan urine dan vesika urinanria.
Sedangkan ureter pada wanita, terdapat di belakang fossa ovarika dan berjalan
ke bagian medial dan ke depan bagian lateral serviks uteri bagian atas vagina untuk
mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter didampingi oleh arteri
iterina sepanjang 2,5 cm dan selanjutnya arteri ini menyilang ureter dan menuju ke
atas di antara lapisan ligamentum.

4

4



Gambar 2.1 Anatomi pada ginjal dan ureter

2.1.2 Etiologi
Sampai saat sekarang penyebab terbentuknya batu belum diketahui secara
pasti. Beberapa faktor predisposisi terjadinya batu :
2.1.2.1 Ginjal
Tubular rusak pada nefron, mayoritas terbentuknya batu
2.1.2.2 Immobilisasi
Kurang gerakan tulang dan muskuloskeletal menyebabkan penimbunan
kalsium. Peningkatan kalsium di plasma akan meningkatkan pembentukan
batu.
2.1.2.3 Infeksi
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan
menjadi inti pembentukan batu.
2.1.2.4 Dehidrasi
Kurang minum : sangat potensial terjadi timbulnya pembentukan batu.
2.1.2.5 Pekerjaan
Pekerjaan dan kesibukan dengan banyak duduk lebih memungkinkan
terjadinya pembentukan batu dibandingkan pekerjaan seorang buruh atau
petani.


5

5

2.1.2.6 Iklim
Iklim : tempat yang bersuhu dingin (ruang AC) menyebabkan kulit
kering dan pemasukan cairan kurang. Tempat yang bersuhu panas, misalnya :
di daerah tropis, di ruang mesin menyebabkan banyak keluar keringat, akan
mengurangi produksi urin.
2.1.2.7 Makanan
Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu, keju,
kacang polong, kacang tanah dan coklat. Tinggi purin seperti : ikan, ayam,
daging, jeroan. Tinggi oksalat seperti : bayam, seledri, kopi, teh, dan juga
vitamin D.

Menurut (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012) Faktor-faktor yang
memungkinkan terbentuknya batu di ureter dapat dilihat kembali etiologi yang sama
pada batu ginjal.
1) Hiperkalsiuria adalah kelainan metabolic paling umum. Beberapa kasus
hiperkalsiuria berhubungan dengan gangguan usus meningkatnya penyerapan
kalsium dapat dikaitkan dengan kelebihan diet kalsium dan atau mekanisme
penyerapan kalsium terlalu aktif , beberapa kelebihan terkait dengan resorpsi
kalsium dari tulang (yaitu hiperparatiroidisme), dan beberapa yang
berhubungan dengan ketidakmampuan dari tubulus ginjal untuk merebut
kembali kalsium dalam filtrate glomerulus (ginjal kebocoran hiperkalsiuria).
2) Pelepasan ADH yang menurun dan peningkatan konsentrasi, kelarutan, dan
pH urine.
3) Lamanya Kristal terbentuk di dalam urine, dipengaruhi mobilisasi rutin.
4) Gangguan reabsorpsi ginjal dan gangguan aliran urine.
5) Infeksi saluran kemih.
6) Kurangnya asupan air dan diet yang tinggi mengandung zat penghasil batu.
7) Idiopatik

Sedangkan Menurut (Nursalam & Baticaca, 2009)
1) Fraktor dari dalam (intriksik), seperti keturunan, usia yang lebih banyak ada
usia 35-50 tahun, dan jenis kelamin yang lebih banyak terdapat pada pria.
2) Faktor dari luar (ekstrinsik), seperti geografi, cuaca dan suhu, asupan air (bila
jumlah air dan kadar mineral kalsium pada air yang diminum kurang), diet
6

6

banyak purin, oksalat (teh, kopi, minuman soda dan sayuran berwarna hijau
terutama bayam), kalsium (daging, susu, kaldu, ikan asin dan jeroan), dan
pekerjaan (kurang bergerak)
3) Gangguan aliran kencing (urine)
4) Infeksi saluran kemih
5) Kekurangan cairan (seperti pada penderita diare yang kekurangan cairan)

2.1.3 Patofosiologi

Gambar 2.2 Lokasi terbentuknya batu ginjal dan batu ureter

Batu yang tidak terlalu besar di dorong oleh peristaltik otot-otot system
pelvikalises dan turun ke ureter menjadi batu ureter. Tenaga peristaltic ureter
mencoba untuk mengeluarkan batu hingga turun ke kandung kemih. Batu yang
ukurannya kecil (<5mm) pada umumnya dapat keluar spontan, sedangkan yang lebih
besar sering kali tetap berada pada di ureter dan menyebabkan reaksi peradangan,
serta menimbulkan obstruksi kronis berupa hidronefrosis dan hidroureter.
Batu yang terletak pada ureter maupun sistern pelvikalises mampu
menimbulkan obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur saluran
kemih sebelah atas. Obstruksi di ureter dapat menimbulkan hidroureter dan
hidronefrosis, batu di pielum dapat menumbbulkan hidronefrosis, dan batu di kaliks
mayor dapat menimbulkan pada kaliks yang bersangkutan. Kondisi adanya batu pada
ureter memberikan masalah keperawatan pada pasien dengan adanya berbagai respons
obstruksi, infeksi dan peradangan.



7

7

2.1.3.1 Patways (Menurut Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012)






















2.1.4 Manifestasi Klinik
2.1.4.1 Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria) dapat
terjadi dari iritasi batu yang terus menerus.
Beberapa batu menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit
fungsional (nefron) ginjal , nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan.

2.1.4.2 Batu di piala ginjal
1) Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.
2) Hematuri dan piuria dapat dijumpai.
Batu Ureter
Respons Obstruksi
Respons Infeksi dan
inflamasi akibat iritasi
batu
Respons edema
Nyeri kolik, Hematuria,
piuria,Sering miksi
Respons sestemik
akibat nyeri kolik
(mual, muntah,
anoreksia)
Peningkatan tekanan
hidrostatik dan distensi
piala ureter serta ureter
Nyeri akut
Gangguan eliminasi
urine
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
Pemeriksaan
Diagnostik
Prognosis
Pembedahan
Respons psikologis
Batu Ureter
8

8

3) Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri ke
bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
4) Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di area kostoveterbal, dan
muncul mual dan muntah.
5) Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini
akibat dari reflex renoinstistinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung
pancreas dan usus besar.

2.1.4.3 Batu yang terjebak di ureter
1) Menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar
ke paha dan genitalia.
2) Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang keluar
3) Hematuri akibat aksi abrasi batu.
4) Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5-1 cm

Menurut (Nursalam & Baticaca, 2009), manifestasi pada batu saluran kemih
atau batu ureter adalah :
1) Nyeri pinggang (kemeng) pada sudut kostovetebral
2) Nyeri kolik, dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah genitalia disertai mual
dan muntah.
3) Hematuria, baik mikroskopik dan makroskopik.
4) Disuria karena infeksi
5) Demam disertai menggigil
6) Retensi urine pada batu uretra atau leher buli-buli
7) Dapat tanpa keluhan (silent stone)

2.1.5 Komplikasi
1) Hidronefrosis
2) Pionefrosis
3) Uremia
4) Gagal ginjal (Mansjoer,2000).

9

9


Gambar 2.3 Ilustrasi batu di ureter dengan komplikasi hidronefrosis

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik
1) Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, berdarah. Secara umum menunjukkan
adanya sel darah merah, sel darah putih dan kristal (sistin,asam urat, kalsium
oksalat), serta serpihan, mineral, bakteri, pus, pH urine asam (meningkatkan
sistin dan batu asam urat) atau alkalin meningkatkan magnesium, fosfat
amonium, atau batu kalsium fosfat.
2) Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin
meningkat.
3) Kultur urine : menunjukkan adanya infeksi saluran kemih (stapilococus
aureus, proteus,klebsiela,pseudomonas).
4) Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat,
protein dan elektrolit.
5) BUN/kreatinin serum dan urine : Abnormal ( tinggi pada serum/rendah pada
urine) sekunder terhadap tingginya batu okkstuktif pada ginjal menyebabkan
iskemia/nekrosis.
6) Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan
penurunan kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
7) Hitung Darah lengkap : sel darah putih mungkin meningkat menunjukan
infeksi/septicemia.
8) Sel darah merah : biasanya normal.
9) Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia terjadi (
mendorong presipitas pemadatan) atau anemia(pendarahan, disfungsi ginjal).
10

10

10) Hormon paratiroid : mungkin meningkat bila ada gagal ginjal. (PTH
merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan
kalsium urine).
11) Foto rontgen : menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada
area ginjal dan sepanjang ureter.
12) IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis, seperti penyebab nyeri
abdominal atau panggul. Menunjukan abdomen pada struktur anatomik (
distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli.
13) Sistoureterokopi : visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat
menunjukan batu dan efek obstruksi.
14) CT Scan : mengidentifikasi/ menggambarkan kalkuli dan massa lain, ginjal,
ureter, dan distensi kandung kemih.
15) USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu.

2.1.6 Penatalaksanaan
1) Pengurangan nyeri, mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan, morfin
diberikan untuk mencegah sinkop akibat nyeri luar biasa. Mandi air hangat di area
panggul dapat bermanfaat. Cairan yang diberikan, kecuali pasien mengalami muntah
atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan
pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang belakang batu
sehingga mendorong passase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari
mengurangi kosentrasi kristaloid urine, mengencerkan urine dan menjamin haluaran
urine yang besar.
2) Pengangkatan batu, pemeriksaan sistoskopik dan passase kateter ureteral kecil untuk
menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi (jika mungkin), akan segera
mengurangi tekanan belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri.
3) Terapi nutrisi dan Medikasi. Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu
ginjal. Masukan cairan yang adekuat sangat penting dan menghindari makanan
tertentu dalam diet yang merupakan bahan utama yang dapat terjadinya
pembentukkan batu (misalnya: kalsium), efektif untuk mencegah pembentukan batu
atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Minum paling sedikit 8
gelas/hari untuk mengencerkan urine, kecuali dikontraindikasikan. Batu kalsium,
pengurangan kandungan kalsium dan fosfor dalam diet dapat membantu mencegah
pembentukan batu lebih lanjut.
11

11

4) Lithotrupsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal, adalah prosedur noninvasive yang
digunakan untuk menghancurkan batu kaliks ginjal. Setelah batu itu pecah menjadi
bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan
5) Uteroskopi, mencakup visualisasi dan askes ureter dengan memasukan suatu alat
ureteroskop melalui sistoskop. Batu dihancurkan dengan menggunakan laser,
lithotripsy elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
6) Pelarutan batu, infuse cairan kemolitik, untuk melarutkan batu dapat dilakukan
sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain, dan
menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut (struvit).
7) Pengangkatan Bedah, sebelum adanya lithotripsy, pengankatan batu ginjal secara
bedah merupakan terapi utama. Jika batu terletak di dalam ginjal, pembedahan
dilakukan dengan nefrolitotomi (Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu atau
nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu di piala
ginjal diangat dengan pielolitotomi, sedangkan batu yang diangkat dengan
ureterolitotomi, dan sistostomi jika batu berada di kandung kemih., batu kemudian
dihancur dengan penjepit alat ini. Prosedur ini disebut sistolitolapaksi.
8) Penyuluhan, karena resiko kambuh yang tinggi, perawat harus memberikan pelajaran
mengenai batu ureter dan mencegah kekambuhan (Suddarth & Brunner, 1997).
















12

12

BAB 3
MANAJEMEN KEPERAWATAN

2.2 Konsep Dasar Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah upaya pengumpulan data secara lengkap dan simetris
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisa sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, social ekonomi, maupun spiritual dapat
ditentukan. Dalam tahap pengkajian ini terdapat lima kegiatan yaitu : pengumpulan
data, pengelohan data, analisis data, perumusan atau penentuan masalah kesehatan
dan prioritas masalah. (Mubarak, 2006:73)
Dalam tahap pengkajian dilakukan pengumpulan data dengan cara wawancara,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan dengan cara membaca ststus kesehatan
klien. Setelah pengumpulan data langkah berikutnya dalam pengkajian adalah
pengelompokan data yang terdiri dari: data pisiologi, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengelompokan data akan memudahkan perawat dalam pengelompokan masalah
keperawatan klien.
Menurut (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012), dalam pengkajian batu ureter
ada beberapa yang perlu dilakukan yaitu :
2.2.1.1 Pengkajian Anamnesis Fokus
Keluhan yang didapat pasien tergantung pada posisi atau letak batu,
besar batu, dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan utama adalah nyeri pada
pinggang. Nyeri ini mungkin bisa berupa nyeri kolik ataupun bukan kolik.
Nyeri kolik terjadi karena aktifitas peristaltic otot polos system kalises
ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu dari saluran
kemih. Peningkatan peristalitk tersebut menyebabkan tekanan inrtaliminalnya
meningkat sehingga terjadi akibat peregangan dari terminal syaraf yang
memberikan sesasi nyeri. Nyeri non-kolik terjadi akibat pereganan kapsul
ureter karena terjadi hidronefrosis atau infeksi pada ureter.
Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada
wanita kebawah mendekati kandung kemih, sedangkan pada pria mendekati
testis. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai keluhan nyeri di seluruh
area konsterverbal, dan keluhan gastintestinal serti mual dan muntah. Diare
13

13

dan ketidaknyamanan abdominak dan proksimitas anatomic ureter ke
lambung, pancreas dan usus besar.
Batu yang terjebak di ureter menyebabkan keluhan nyeri yang luar
biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genetalia. Pasien merasa
ingin berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasive batu. Keluhan ini di sebur koli
ureteral.
Respons ari nyeri biasanya didapatkan keluhan gastrointestinal,
meliputi keluhan anoraksia, mual dan muntah yang memberikan manifestasi
penurunan asupan nutrisi umum.
Pada pengkajian psikososial secara umum akan didapatkan adanya
kecemasan dan perlunya pemenuhan informasi, baik informasu tentang
keperluan intervebsi selanjurnya dan informasi tentang praoperatif.
2.2.1.2 Pemeriksaan Fisik Fokus
Pada pemeriksaan fisik didapatklan adanya perubahan TTV sekunder
dari nyeri krolik. Pasien terlihat sangat kesakitan, keringat dingin, nyeri ketuk
pada daerah kosto-vertebra, dan pada beberapa kasus bisa teraba ureter pada
sisi sakit akibat hidrinefrosis.
Pada pola eleminasi urine terjadi perubahan akibat adanya henaturia,
detensi urine dan sering miksi. Adanya nyeri kolik menyebabkan pasien
terlihat mual dan muntah.
2.2.1.3 Pengkajian Diagnostik
1) Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya: leukosituria, hematuria, dan
dijumpai Kristal-kristak pembentuk batu.
2) Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukan adanya pertumbuhan kuman
pemecah urea.
3) Pemeriksaan fungsi ureter untuk memonitor penurunan fungsi.
4) Pemeriksan elektrolit untuk keterlibatan penongkat penurunan fungsi.
5) Pemeriksaan foto polos abdomen, PIV, urogram, dan USG untuk menilai
posisi, besar, dan bentuk batu pada saluran kemih.
14

14


Gambar 2.4 Radiologis batu ureter.
Kiri: Foto polos. Tengah: USG ginjal normal. Kanan: Intravenous pyelogram (IVP)

2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik
yang aktual maupun potensial (Mubaraq, 2006:81)
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia dari kelompok atau individu dimana perawat secara akuntabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah.
Menurut (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012) diagnosa pada batu ureter antara
lain :
1) Nyeri krolik berhubungan dengan aktifivitas peristaltic otot polos system
kalises, peregangan dari terminal saraf sekunde dari adanya batu pada ginjal,
nyeri pascabedah.
2) Gangguan eleminasi urine berhubungan dengan retensi urine, sering BAK,
hematuria sekunder daru iritasi saluran kemih.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan port de entree luka pasca bedah
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah efek sekunder dari nyeri kolik.
5) Kecemasan berhubungan dengan prognosis pembedahan, tindakan infasif
diagnostik.
6) Pemenuhan informasi berhubungan dengan rencana pembedahan, tindakan
diagnostik invasif, ESWL, perncanaan pasien pulang.
15

15

7) Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya paparan
sumber informasi

2.2.3 Perencanaan/Intervensi
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan
yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien
(Mubaraq,2006:84).
Menurut (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012) Tujuan dari rencana
keperawatan adalah diharapkan pada evaluasi didapatkan penurunan stimulus nyeri,
membaiknya pola miksi, penurunan risiko infeksi pascabedah, penurunan kecemasan,
dan mempersiapkan klien secara optimal untuk dilakukan pembedahan.
Untuk intervensi pada masalah keperawatan pemenuhan informasi,
ketidakseimbangan nutrisi, perubahan pola miksi dan kecemasan dapat disesuaikan
denhan masalah yang sama pada pasien batu ginjal.
Untuk intervensi pada masalah keperawatan risiko tinggi infeksi, dapat
disesuaikan pada masalah yang sama pada batu ginjal.

1) Nyeri kolik b.d aktifitas peristaltik otot polos sistem kalises, peregangan dari terminal
saraf efek sekunder dari adanya batu pada ginjal, ureter
Tujuan :
- Nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi
- Tampak rileks dan tenang
Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu klien dengan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
dan noninvasif
Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan
nonfarmakologi lainnya telah menunjukan
keefektifan dalam mengurangi nyeri
Lakukan manajemen nyeri
keperawatan:
- Istirahat klien.


- Manajemen lingkungan tenang dan
Istirahat akan menurunkan kebutuhan O
2

jaringan perifer sehingga akan meningkatkan
suplai darah kejaringan.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
nyeri eksternal dam menganjurkan klien untuk
beristirahat dan pembatasan pengunjung akan
16

16

batasi pengunjung.





- Beri kompres hangat pada
pinggang.


- Lakukan teknik stimulasi
perkutaneus.



- Dekatkan orang terdekat.

- Ajarkan teknik relaksasi
pernapasan dalam.

- Ajarkan teknik distraksi pada saat
nyeri.
membantu meningkatkan kondisi O
2
ruangan
yang akan berkurang apabila banyak
pengunjung yang berada di ruangan dan
menjaga privasi klien.
Vasodilatasi dapat menurunkan spasme otot
dan kontraksi ototpinggang sehingga
menurunkan nyeri.
Salah satu metode distraksi untuk menstimulasi
pengeluaran endorfin-enkafalin yang berguna
sebagai analgenetik internal untuk memblok
rasa nyeri.
Eksplorasi stimulus eksternal untuk
menurunkan stimulus nyeri.
Meningkatkan asupan O
2
sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan prodyuksi endorfin
dan enjafelin yang dapat memblok deseptor
nyeri untuk ridakk dikirimkan ke korteks
serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.

Kolaborasi dengan dokter, pemberian
analgentik.
Analgenetik memblok lintasan nyeri sehingga
nyeri akan berkurang
Kolaborasi dalam pemberian
antimetik.
Menurunkan respons negatif gastroinstestinal
sekunder dari nyeri krolik

2) Gangguan eleminasi urine berhubungan dengan retensi urine, sering BAK, hematurua
sekunder dan iritasi saluran kemih.
Tujuan :
- Mempertahankan fungsi ginjal secara adekuat
- Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya
- Tidak mengalami tanda obstruksi
17

17

Intervensi Rasional
Observasi pemasukan dan pengeluaran
dan karakteristik urine


Memberikan informasi tentang fungsi ginjal,
dan adanya komplikasi contoh : infeksi dan
perdarahan
Tetapkan pola berkemih normal klien
dan perhatikan variasi
Kalkulus dapat menyebabkan eksibilitas saraf,
sehingga menyebabkan sensasi kebutuhan
berkemih segera.
Dorong peningkatan intake cairan

Peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah,
dan dapat membantu lewatnya batu
Lakukan pemeriksaan semua urine,
warna urine dan catat adanya batu
Penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe
dan jenis batu untuk pilihan terapi selanjutnya

3) Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya paparan
sumber informasi
Tujuan :
- Memberikan informasi tentang proses penyakitnya / prognosis dan kebutuhan
pengobatan menyatakan pemahaman proses penyakit.
- Melakukan perubahan perilaku yang perlu dan berpastrisipasi dalam program
pengobatan.
Intervensi Rasional
Kaji pengetahuan pasien tentang
penyakitnya

Mempermudah dalam meberikan penjelasan
pada pasien.
Jelaskan tentang proses penyakitnya (
pengertian, tanda-gejala, penyebab dan
cara pencegahan / penanganan) dengan
menggunakan alat penyuluhan : leaflet
Meningkatkan pengetahuan dan juga
mengurangi rasa cemas
Tanyakan kembali pengetahuan pasien
dan keluarganya tentang pengertian,
tanda-gejala, penyebab dan cara
pencegahan / penanganan
Untuk mengulang kembali apa yang sudah
dijelaskan oleh perawat apakah pasien dan
keluarga sudah mengerti





18

18

2.2.4 Implementasi
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang
telah disusun ( Mubaraq, 2006:87 )

1) Nyeri kolik b.d aktifitas peristaltik otot polos sistem kalises, peregangan dari
terminal saraf efek sekunder dari adanya batu pada ginjal, ureter
Implementasi :
1. Menjelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
dan noninvasif
2. Melakukan manajemen nyeri keperawatan:
- Istirahat klien.
- Manajemen lingkungan tenang dan batasi pengunjung.
- Beri kompres hangat pada pinggang.
- Lakukan teknik stimulasi perkutaneus.
- Dekatkan orang terdekat
- Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam.
- Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
3. Mengkolaborasikan dengan dokter, pemberian analgentik.
4. Mengkolaborasikan dalam pemberian antimetik.

2) Gangguan eleminasi urine berhubungan dengan retensi urine, sering BAK,
hematurua sekunder dan iritasi saluran kemih.
Implementasi :
1. Mengobservasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine
2. Menetapkan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi
3. Mendorong peningkatan intake cairan
4. Melakukan periksaan semua urine, warna urine dan catat adanya batu

3) Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya paparan
sumber informasi
Implementasi :
1. Mengkaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya
19

19

2. Menjelaskan tentang proses penyakitnya ( pengertian, tanda-gejala,
penyebab dan cara pencegahan / penanganan) dengan menggunakan alat
penyuluhan : leaflet
3. Menanyakan kembali pengetahuan pasien dan keluarganya tentang
pengertian, tanda-gejala, penyebab dan cara pencegahan / penanganan

2.2.5 Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan
pedoman atau rencana proses tersebut ( Mubaraq, 2006:88 )
Menurut (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012) Hasil yang diharapkan setelah
mendapatkan intervensi daradalah sebagai berikut :
1) Penurunan skala nyeri.
2) Pola eliminasi urine terpenuhi.
3) Tidak terjadi infeksi pada luka pascabedah.
4) Asupan nutrisi terpenuhi.
5) Terpenuhinya informasi kesehatan.
6) Kecemasan berkurang.
7) Informasi/pengetahuan dapat terpenuhi















20

20

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Batu ureter dikenal juga dengan Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam
ureter merupakan penyumbatan saluran ureter oleh batu karena pengendapan garam urat,
oksalat, atau kalsium. Batu tersebut dapat terbentuk pada ginjal yang kemudian batu yang kecil
di pielum dapat turun ke ureter. Bila batu tidak dapat lolos ke kandung kemih maka menyumbat
ureter dan menimbulkan kolik. Batu ureter adalah batu yang tidak normal didalam saluran
kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya di ureter.
Penyebab baru ureter antara lain Fraktor dari dalam (intriksik), seperti keturunan, usia
yang lebih banyak ada usia 35-50 tahun, dan jenis kelamin yang lebih banyak terdapat pada
pria. Faktor dari luar (ekstrinsik), seperti geografi, cuaca dan suhu, asupan air (bila jumlah air
dan kadar mineral kalsium pada air yang diminum kurang), diet banyak purin, oksalat (teh,
kopi, minuman soda dan sayuran berwarna hijau terutama bayam), kalsium (daging, susu,
kaldu, ikan asin dan jeroan), dan pekerjaan (kurang bergerak) dan adanya gangguan aliran
kencing (urine), infeksi saluran kemih dan juga kekurangan cairan (seperti pada penderita
diare yang kekurangan cairan).
Biasanya pada pasien batu ureter terdpatnya nyeri pinggang (kemeng) pada sudut
kostovetebral, nyeri kolik, dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah genitalia disertai
mual dan muntah, demam disertai menggigil.
Pada batu uterer dapat dilakukan dengan pengurangan nyeri, mengurangi nyeri
sampai penyebabnya dapat dihilangkan, mandi air hangat di area panggul dapat bermanfaat,
pengangkatan batu, terapi nutrisi dan medikasi dan anjurkan untuk minum paling sedikit 8
gelas sehari untuk mengencerkan urine, kecuali dikontraindikasikan serta penyuluhan, karena
resiko kambuh yang tinggi, perawat harus memberikan pelajaran mengenai batu ureter dan
mencegah kekambuhan (Suddarth & Brunner, 1997).

3.2 Saran
Umumnya pencegahan dapat berupa menhindai dehidrasi dengan minum cukup dan
usahakan produksi urine sebanyak 2-3 liter/hari, diet untuk mengurangi kadar zat-zat
komponen pembentuk baru, aktifitas harian yang cukup dengan berolahraga secara teratur
dan pemberian medikamentosa. Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi
kekambuhan adalah diet rendah protein karena protein akan memacu ekskresi kalsium urin
21

21

dan menyebabkan suasana urin menjadi lebih asam. Diet dengan rendah oksalat, diet rendah
garam karena natriuresis akan memicu timbulnya hiperkalsium dan diet rendah purin.