Anda di halaman 1dari 3

Risky Febrian

17010110049 - A
Hukum Humaniter
2014

Kasus Ekstradisi Westerling
Latar Belakang
Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan
rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot
Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Peristiwa ini terjadi
pada bulan Desember 1946 - Februari 1947 selama operasi militer Counter
Insurgency (penumpasan pemberontakan). Westerling sendiri baru tiba di Makassar
pada tanggal 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST.
Dia mendirikan markasnya di Mattoangin. Di sini dia menyusun strategi untuk
Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan
tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele
Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di
bidang Politik dan Polisional), di mana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen
serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. Suatu buku pedoman resmi untuk
Counter Insurgency. Saat inilah terjadi peristiwa Pembantaian Westerling.
Pada 24 Februari kantor berita Perancis Agence France Presse
memberitakan bahwa Westerling telah dibawa oleh militer Belanda dengan pesawat
Catalina dari MLD ke Singapura. Setelah itu pemberitaan mengenai pelarian
Westerling ke Singapura muncul di majalah mingguan Amerika, Life. Pada 26
Februari 1950 ketika berada di tempat Chia Piet Kay, Westerling digerebeg dan
ditangkap oleh polisi Inggris kemudian dijebloskan ke penjara Changi. Setelah
mendengar bahwa Westerling telah ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura,
Pemerintah RIS mengajukan permintaan kepada otoritas di Singapura agar
Westerling diekstradisi ke Indonesia.
Pengertian Ekstradisi
Ekstradisi adalah suatu proses pengembalian seseorang yang disangka atau
dituduh melakukan suatu kejahatan. Ekstradisi baru dapat terlaksana setelah
Negara tempat si pelaku berada (seterusnya disebut sebagai Negara
Diminta/Requested State) telah mengadakan perjanjian internasional mengenai
ekstradisi tersebut dengan Negara yang meminta (selanjutnya disebut Negara
Risky Febrian
17010110049 - A
Hukum Humaniter
2014
Peminta/Requesting State), karena Negara Peminta memiliki kewenangan untuk
mengadili si pelaku. Kewenangan ini didapatkan oleh Negara Peminta karena
Negara Peminta merupakan Locus Delicti.
Ekstradisi dibuat dengan tujuan agar pelaku kejahatan bertanggung jawab
atas perbuatan yang telah dilakukannya, karena adalah suatu hal yang bertentangan
dengan keadilan jika seorang penjahat tidak dihukum atas perbuatannya. Jika tidak
ada ekstradisi, maka pelaku kejahatan yang melarikan diri keluar negeri tidak akan
mendapatkan hukuman karena Negara tempatnya tersebut tidak memiliki yurisdiksi
untuk itu.
Selain dari keharusan adanya perjanjian internasional antara Negara-negara
yang berkaitan, ekstradisi juga dapat terlaksana melalui proses timbal balik (asas
resiprositas). Artinya, tanpa perjanjian internasional, sebuah Negara dapat
memulangkan seorang pelaku ke Negara Peminta, asal saja kemudian perbuatan itu
dibalas oleh Negara Diminta.
Pada dasarnya, ekstradisi merupakan suatu proses yang sangat sulit, rumit,
dan berbelit-belit. Oleh karena itu terlihat bahwa persoalan ekstradisi ini bukanlah
persoalan yang sederhana, namun suatu persoalan yang sangat besar, rumit dan
berbelit, yang melibatkan negara-negara. Selain itu dalam proses ekstradisi terkait
kepentingan suatu Negara, baik kepentingan ekonomi, politik, dan kepentingan
lainnya, sehingga suatu proses ekstradisi dapat mengakibatkan hal-hal lain seperti
membaik atau memburuknya hubungan antar negara, dan sebagainya.
Proses Kasus Westerling
Pada 15 Agustus 1950, dalam sidang Pengadilan Tinggi di Singapura, Hakim
Evans memutuskan, bahwa Westerling sebagai warganegara Belanda tidak dapat
diekstradisi ke Indonesia. Dalam kasus ini, ekstradisi yang diminta oleh Indonesia
tidak dapat berjalan karena dianggap bahwa belum pernah ada perjanjian ekstradisi
yang terjadi antara Inggris dan Indonesia. Vans J dalam artikelnya mengatakan
bahwa tidak pernah ada perjanjian ekstradisi antara Inggris dan Indonesia.
Perjanjian ekstradisi yang telah disahkan adalah perjanjian ekstradisi antara
Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda, yakni pada Anglo-Netherlands Extradition
Treaty tahun 1898. Pemerintah Kerajaan Inggris melihat bahwa walaupun Indonesia
Risky Febrian
17010110049 - A
Hukum Humaniter
2014
dianggap sebagai suksesor langsung dari Kerajaan Belanda, perjanjian ekstradisi
antara dua kerajaan tersebut tidak dapat diturunkan dan tidak dapat menjadi
landasan gugatan dalam kasus Westerling ini. Namun, Indonesia menganggap
Anglo-Netherlands Extradition Treaty mencakup pemberian hak-hak oleh Belanda
kepada Indonesia. Seperti yang dituliskan oleh Evan T., ia menyetujui bahwa pada
kenyataannya melalui perjanjian tersebut, Indonesia merupakan suksesor Belanda
dan oleh karenanya segala hal di dalam perjanjian tersebut juga berlaku bagi
hubungan antara Kerajaan Inggris dan Indonesia.
Sebelumnya, sidang kabinet Belanda pada 7 Agustus telah memutuskan,
bahwa setibanya di Belanda, Westerling akan segera ditahan. Pada 21 Agustus,
Westerling meninggalkan Singapura sebagai orang bebas dengan menumpang
pesawat Australia Quantas dan ditemani oleh Konsul Jenderal Belanda untuk
Singapura, Mr. R. van der Gaag, seorang pendukung Westerling. Westerling sendiri
ternyata tidak langsung dibawa ke Belanda, namun (dengan izin van der Gaag) dia
turun di Brussel, Belgia. Awal April 1952, secara diam-diam Westerling masuk ke
Belanda. Keberadaannya tidak dapat disembunyikan dan segera diketahui, dan
pada 16 April Westerling ditangkap di rumah Graaf A.S.H. van Rechteren.
Mendengar berita penangkapan Westerling di Belanda, pada 12 Mei 1952 Komisaris
Tinggi Indonesia di Belanda Susanto meminta agar Westerling diekstradisi ke
Indonesia, namun ditolak oleh Pemerintah Belanda, dan bahkan sehari setelah
permintaan ekstradisi itu, pada 13 Mei Westerling dibebaskan dari tahanan. Putusan
Mahkamah Agung Belanda pada 31 Oktober 1952, menyatakan bahwa Westerling
adalah warga negara Belanda sehingga tidak akan diekstradisi ke Indonesia.