Anda di halaman 1dari 15

Cahyaning Suryaningrum

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah


Malang
csuryaningrum@yahoo.co.id
Abstrak
Pendahuluan
Metode
Penelitian
Hasil
Penelitian
Simpulan
Obsesive complusif Disorder
(OCD)
Prognosis

Prevalensi gangguan obsesif-komplusif relatif
sedikit,tetapi pasien tidak merasakan
kenyamanan dan ketenangan dalam hidupnya

Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui apakah
Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif untuk
mengatasi gangguan obsesif-komplusif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cognitive
Behavior Therapy (CBT) dapat mengurangi
simptom OCD, yang ditunjukkan dengan
menurunnya tingkat kecemasan,
pemikiran negatif dan perilaku kompulsif.
Perbedaan dengan orang normal

Orang normal mampu menghentikan pemikiran-
pemikiran tersebut dan tidak sampai
menganggu.
OCD tidak mampu mengatasi
OCD
Obsesif
Komplusif
dorongan-dorongan yang tidak
bisa ditolak untuk melakukan
tingkah laku tertentu secara
berulang seperti mandi berulang-
ulang, mencuci tangan atau baju
berulang-ulang
pikiran-pikiran yang persisten
dan mengganggu, yang
menimbulkan kecemasan dan
di luar kemampuan individu
untuk mengendalikannya.
Definisi
Gangguan Obsesif-Komplusif
Obsesif Kecemasan
Kompulsif jawaban/ respon dari pikiran obsesif
untuk mengurangi kecemasan

Kompulsi
Ritual
checking
Ritual
cleaning
Etiologi
Cognitive Behavior Therapy untuk Mengatasi
Gangguan Obsesif-Kompulsif

1. depresi atau selalu cemas dalam kesehariannya
2. tendensi berpikir moralitas dan kaku pikiran-pikiran negatif
adalah sesuatu yang tidak dapat diterima
3. Kegagalan dalam mengontrol pikiran dan menerima kenyataan
CBT digunakan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif
dengan tekhnik yang selama ini dilakukan yaitu tekhnik exposure
with response prevention dengan restrukturisasi kognitif, latihan
relaksasi dan modeling
Subyek





Metode pengumpulan data




mahasiswa yang memiliki ciri-ciri / simptom gangguan obsesif-
kompulsif berusia 20 tahun,
berjenis kelamin perempuan,
mengalami OCD selama 5 tahun.
ABA design
Wawancara
Observasi
Quesioner
Prosedur CBT
Penilaian dan Pengukuran
1. Latihan Relaksasi
untuk memperhatikan bagaimana rasa tegang dan rileks
2. Restrukturisasi kognitif
untuk mengurangi tingkat kecemasan dan agar berpikiran
lebih positif
3. Exposure with response prevention
untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif.

Pra terapi
Selama terapi
Pasca terapi
Setelah terapi dihentikan
Pemikiran yang muncul
di awal exposure ke-1 subyek masih memiliki pemikiran yang obsesif,
Hari ke 2-5 pemikiran sudah lebih rasional
aktivitas mencuci baju subyek masih membutuhkan waktu lebih lama
Frekuensi perilaku kompulsif
Exposure selama 8 haru berturur-turut perilaku komplusif menurun
Tingkat Kecemasan


Tingkat kecemsan menurun perlahan
Penurunan berarti pada kecemasan saat melakukan ritual checking dan ritual cleaning
Pada teknik terapi Cognitive Behavior Therapy (CBT)
dapat juga diterapkan untuk perilaku/ tindakan obsesif-kompulsif
lainnya di luar fokus terapi selama memenuhi simptom gangguan
obsesif-kompulsif.
Pada dasarnya teknik-teknik terapi dapat diterapkan sendiri oleh
subyek di luar perilaku yang menjadi fokus terapi (self help)
tanpa bantuan terapis karena keterampilan yang telah dibekalkan
kepadanya. Hal ini sesuai dengan saran Butler (1999), yaitu lebih
baik mengajari sesorang daripada mengobatinya. Subyek sendiri
(dari asesmen pasca terapi) juga memiliki keyakinan akan dapat
menerapkan sendiri teknik-teknik yang telah dipelajari tanpa
bantuan terapis setelah terapi dihentikan.
Cognitive Behavior Theraphy (CBT)
dengan teknik relaksasi, restrukturisasi kognitif dan exposure with respon
prevention
efektif untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif.
Saran :
1. Penambahan subjek
2. Memperpanjang sesi terapi
3. Tindak lanjut dan teru memonitor perkembangan subyek setelah
terapi
4. Mencoba menerapkan exposure dengan kehadiran therapist
Terima Kasih