Anda di halaman 1dari 22

Laporan Tutorial Modul 4

Sistem Imun


Tutor : dr. Yusnam syarief
Disusun oleh : Kelompok 10

Kurniasih (2010730059)
Pria Adhi Yaksa (2010730085)
Nerhis Sydney Wisaka (2010730078)
Mira Muznillah (2010730070)
Dian Fitriany Suhardi (2010730025)
Aina Ullafa (2010730006)
Alief Leisyah (2010730007)
Liana Puspitasari (2010730060)
Ayu Indah Lestari ( 2010730016 )
Noerlailatul Fitrah (2010730080)
Aikardi (2007730007)
Gassan Samman (2007730083)


Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta


Autoimun
Autoimun adalah respon imun terhadap antigen jaringan sendiri yang disebabkan oleh
mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolelerance sel B,sel T
atau keduanya. Penyakit autoimun adalah kerusakakn jaringan atau gangguan fungsi
fisiologis yang ditimnulkan oleh respons autoimun..Perbedaan tersebut adalah penting, oleh
karena respons imun dapat terjdi tanpa disertai penyakit atau penyakit yang ditimbulkan
mekanisme lain(seperti infeksi).
Dalam populasi, sekitar 3,5 % orang menderita penyakit autoimun,94% dari jumlah tersebut
berupa penyakit Grave (hipertiroidism),diabetes melllitus tipe 1, anemia pernisiosa, artritis
reumatoid,tiroiditis,vitiligo, sklerosis, multiple, dan LES. Penyakit ini ditemukan lebih
banyak pada wanita (2,7 x dibanding pria). Diduga karena peran hormon.LES mengenai
wanita 10 kali lebih sering dibanding pria.
Referensi : Karnen Garna Baratawidjaja, Buku imunologi dasar FK UI
Faktor imun yang berperan pada autoimunitas
a. Sequestered antigen
b. Gangguan presentasi
c. Ekspresi MHC-II yang tidak benar
d. Aktivasi sel B poliklonal
e. Peran CD4 dan reseptor MHC
f. Keseimbangan Th1-Th2
g. Sitokin pada autoimunitas

A. Sequestered antigen
Adalah antigen sendiri yang karena letak anatominya, tidak terpajan dengan sel B atau sel
T dari sistem imun. Pada sequestered antigen dilindungi dan tidak ditemukan untuk
dikenal sistem imun. Perubahan anatomik dalam jaringan seperti inflamasi, dapat
memajankan sequestered antigen dengan sistem imun yang tidak terjadi pada keadaan
normal. Contohnya protein lensa intraokular, sperma dan MBP (major basic protein).
Uveitis pasca trauma dan orchitis pasca vasektomi diduga disebabkan respons autoimun
terhadap sequestered antigen. MBP yang dilepas oleh infeksi dan meningkat akan
mengaktifkan sel B dan T yang imunokompeten dan menimbulkan ensefalomielitis pasca
infeksi. Inflamasi jaringan dapat pula menimbulkan perubahan struktur pada self antigen
dan pembentukan determinan baru yang dapat memacu reaksi autoimun.
( Anatomic sequestration yaitu antigen yang tidak terpajan oleh sistem imun karena letak
anatominya (misalkan letak anatominya tersembunyi). Protein akan keluar ketika sel
rusak. Protein ini disebut protein fisik contoh penyakit yang disebabkan oleh anatomic
seguetration yaitu uveitis (radang saluran lapisan berpigmen pada mata) pasca trauma dan
orchitis (radang testis) pasca vasectomi).


B. Gangguan presentasi
Gangguan dapat terjadi pada presentasi antigen, infeksi yang meningkatkan respons MHC,
kadar sitokin yang rendah dan gangguan respons terhadap IL-1. Pengawasan beberapa sel
autoreaktif diduga bergantung pada sel Ts atau Tr. Bila terjadi kegagalan sel Ts atau Tr,
maka sel Th dapat dirangsang sehingga menimbulkan autoimunitas. Respons imun seleksi
timus normal nampaknya menghasilkan beberapa sel Th self reaktif. Kelainan dalam
proses ini dapat memproduksi sel Th self reaktif lebih bayak. Aktivasi sel T reaktif ini
terjadi melalui berbagai cara, baik sebagai aktivasi poliklonal sel B yang menginduksi
respons autoimun yang menghasilkan kerusakan jaringan. Kemungkinan besar berbagai
mekanisme terlibat pada setiap penyakit autoimun. Selular terhadap mikroba dan antigen
asing lainnnya dapat juga menimbulkan kerusakan jaringan di tempat infeksi atau pajanan
antigen.
C. Ekspresi MHC-II yang tidak benar
Sel pankreas pada penderita dengan IDDM (diabetes melitus tipe 1) mengekspresikan
kadar tinggi MHC-I dan MHC-II, sedang subyek sehat sel mengekspresikan MHC-I
yang lebih sedikit dan tidak mengekspresikan MHC-II sama sekali. Sama halnya dengan
sel kelenjar tiroid pada penderita Grave mengekspresikan MHC-II pada membran.
Ekspresi MHC-II yang tidak pada tempatnya itu yang biasanya hanya diekspresikan pada
APC dapat mensintesis sel Th terhadap peptida yang berasal dari sel atau tiroid dan
mengaktifkan sel atau Tc atau ThI terhadap self antigen.
D. Aktivasi sel B poliklonal
Autoimunitas dapat terjadi oleh karena aktivasi sel B poliklonal oleh virus (EBV), LPS
dan parasit malaria yang dapat merangsang sel B secara langsung yag menimbulkan
autoimunitas. Antibodi yang dibentuk terdiri atas berbagai autoantibodi.
E. Peran CD4 dn reseptor MHC
Gangguan yang mendasari penyakit autoimun sulit untuk diidentifikasi. Penelitian pada
model hewan menunjukan bahwa CD4 merupakan efektor utama pada penyakit autoimun.
Pada tikus EAE ditimbulkan oleh Th1 CD4 yang spesifik untuk antigen. Penyakit dapat
dipidahkan dari hewan yang satu ke yang lain melalui sel T hewan yang diimunisasi
dengan MBP atau PLP atau sel lain dari klori sel T asal hewan. Penyakit dapatjuga
dicegah oleh antibodi anti CD4. Sel T mengenal antigen melalui TCR dan MHC serta
peptida antigenik. Untuk seseorang menjadi rentan terhadap autoimunitas harus memiliki
MHC dan TCR yang dapat mengikat antigen sel sendiri.
F. Penyakit autoimun Th1-Th2
Penyakit autoimun organ spesifik terbanyak terjadi melalui sel T CD4. Ternyata
keseimbangan Th1-Th2 dapat mempengaruhi terjadinya autoimunitas. Th1 menunjukan
peran pada autoimunitas. Sedang pada beberapa penelitian Th2 tidak hanya melindungi
terhadap induksi penyakit, tetapi juga terhadap progres penyakit. Pada EAE sitokin Th1
(IL-2,TNF- dan IFN) ditemukan dalam SSP dengan kadar tertinggi pada penyakit.
G. Sitokin pada autoimunitas
Beberapa mekanisme kontrol melindungi efek sitokin patogenik, diantaranya adalah
adanya ekspresi sitokin sementara dan reseptornya serta produksi antagonis sitokin dan
inhibitornya. Gangguan mekanismenya menimbulkan upregulasi atau produksi sitokin
yang tidak benar sehingga tidak menimbulkan effek patofisiologik. Sitokin dapat
menimbulkan translasi berbagai faktor etiologis ke dalam kekuatan patogenik dan
mempertahankan inflamasi fase kronis serta destruksi jaringan. IL-1 dan TNF telah
mendapat banyak perhatian sebagai sitokin yang menimbulkan kerusakan. Kedua sitokin
ini menginduksi ekspresi sejumlah protease dan dapat mencegah pembentukan matriks
ekstraselular atau merangsang penimbunan matriks yang berlebihan.
Referensi : Karnen Garna Baratawidjaja, Buku imunologi dasar FK UI

MEKANISME TERJADINYA AUTOIMUNITAS (ALIEF LEISYAH 2010730007)

Usaha perlindungan terhadap pejamu berjalan efektif jika semua tipe komponen ada dan
berfungsi sepenuhnya, dan masing masing berfungsi dengan semestinya. Kegagalan dalam
memberikan respon bisa terjadi jika ada satu subkelompok sel , reseptor, atau factor yang
disekresi menghilang.
Ada beberapa factor yang imun yang berperan seperti, genetic, sequested antigen, gangguan
presentasi, dan kehilangan toleransi.
Toleransi adalah Suatu keadaan saat seseorang tidak mampu mengembangkan suatu repons
imun melawan suatu antigen yang spesifik. Toleransi diri secara khusus menunjukan kurangnya
responsivitas imun terhadap antigen jaringannya sendiri. toleransi-diri semacam itu diperlukan jika
jaringan kita dapat hidup secara harmonis dengan pasukan limfosit yang merusak.
Mekanisme terjadinya autoimun adalah pada saat ada salah satu factor diatas yang tidak
terpenuhi, toleransi diri respon imun akan hilang kemudian sel sel system imun tidak dapat
mengenali sel sel tubuh sendiri. Sehingga sel tubuh sendiri di anggap sebagai antigen. Sel sel
system imun berproliferasi kemudian menuju jaringan yang cedera dan menyerang jaringan
tersebut.
Figure 18-6 Postulated mechanisms of autoimmunity. In this proposed model of an organ-specific T cell-mediated autoimmune disease, various genetic loci may confer
susceptibility to autoimmunity, in part by influencing the maintenance of self-tolerance. Environmental triggers, such as infections and other inflammatory stimuli, promote
the influx of lymphocytes into tissues and the activation of self-reactive T cells, resulting in tissue injury.
Downloaded from: StudentConsult (on 20 November 2007 06:33 AM)
2005 Elsevier

Figure 18-6 Postulated mechanisms of autoimmunity. In this proposed model of an organ-specific
T cell-mediated autoimmune disease, various genetic loci may confer susceptibility to
autoimmunity, in part by influencing the maintenance of self-tolerance. Environmental triggers,
such as infections and other inflammatory stimuli, promote the influx of lymphocytes into tissues
and the activation of self-reactive T cells, resulting in tissue injury.
Referensi : Karnen Garna Baratawidjaja, Buku imunologi dasar FK UI
Sylvia A. Price, Patofisiologi Jilid 1.
Slide Kuliah Autoimunitas dr. Syarifuddin
Faktor genetik (Ayu Indah Lestari 2010730016)

Penyakit autoimun multipel dapat berada dalam satu keluarga dan autoimun yang
bersifat subklinis lebih umum terdapat dalam anggota keluarga dibandingkan penyakit yang
nyata. Peran genetik dalam penyakit autoimun hampir selalu melibatkan gen multipel,
meskipun dapat pula hanya melibatkan gen tunggal. Beberapa defek gen tunggal ini
melibatkan defek pada apoptosis atau kerusakan anergi dan sesuai dengan mekanisme
toleransi perifer dan kerusakannya. Hubungan antara gen dengan autoimunitas juga
melibatkan varian atau alel dari MHC.
Beberapa peneliti menemukan adanya hubungan antara penyakit LES dengan gen
Human Leukocyte Antigen (HLA) seperti DR2, DR3 dari Major Histocompatibility Complex
(MHC) kelas II. Individu dengan gen HLA DR2 dan DR3 mempunyai risiko relatif menderita
penyakit LES 2-3 kali lebih besar daripada yang mempunyai gen HLA DR4 dan HLA DR5.
Peneliti lain menemukan bahwa penderita penyakit LES yang mempunyai epitop antigen
HLA-DR2 cenderung membentuk autoantibodi anti-dsDNA, sedangkan penderita yang
mempunyai epitop HLA-DR3 cenderung membentuk autoantibodi anti-Ro/SS-A dan anti-
La/SS-B. Penderita penyakit LES dengan epitop-epitop HLA-DR4 dan HLA-DR5
memproduksi autoantibodi anti-Sm dan anti-RNP.

Kelas kelas HLA
HLA dikelompokkam\n menjadi tiga kelas MHC molekul
a) HLA kelas I yaitu glikoprotein yang ditemukan pada membran kebanyakan sel-sel
berinti.
1) Jenis HLA dikodekan oleh tiga gen : A, B, dan C
2) HLA ini terhubung dengan sel-sel sitotoksik (Tc) melalui CD8 dan
memaparkan epitop peptida kepada reseptor Tc spesifik dan dapat mengikat
beberapa epitop yang berbeda. .
3) Dua rantai membentuk struktur molekular kelas 1, yaitu rantai alfa, memiliki
tiga tempat, suatu segmen transmembran dan satu ekor sitoplasma, sedangkan
mikroglobulin beta dua adalah suatu protein yang tidak bervariasi.
4) Tempat perlekatan peptida, yang ditemukan antara alfa satu dan alfa dua,
mengikat peptida yang mengandung 8 sampai 10 asam amino
b) HLA kelas II adalah glikoprotein yang ditemukan pada sel-sel dendritik, makrofag,
sel-sel T teraktivasi, dan sel-sel B
1) HLA II Dikodekan oleh tiga gen : DP, DQ dan DR
2) HLA ini terhubung kepada sel Th melalui CD$ dan memaparkan epitop
peptida kepada reseptor Tc spesifik dan dapat mengikat beberapa epitop yang
berbeda.
3) Dua rantai, yaitu rantai alfa dan beta, masing-masing memiliki dua tempat,
ditambah suatu segmen transmembran dan satu ekor sitoplasma.
4) Tempat perlekatan peptida, yang dibentuk oleh alfa satu dan beta satu,dan
mengikat polipeptida yang mengandung 13 sampai 18 asam amino.
c) Mengendalikan protein serum tertentu, termasuk beberapa komponen komplemen dan
TNF. Molekul kelas III dikodekan oleh tiga gen, C4, C2, dan BF.
d) Poliformisme
1) Banyak alel kelas I dan kelas II ada pada setiap lokus pada kromosom 6
dan menjadi rintangan dalam transplantasi organ.
2) Haplotip dari kedua sel induk yang diturunkan dan dipaparkan sama
dominannya (kodominan).

Pengendalian TCR (genetik reseptor antigen sel T)
1. TCR merupakan suatu dimer dari rantai alfa dan beta (kira-kira 95 %) atau
gamma dan lambda (kira-kira 5 %)
2. Tidak memberikan respons terhadap antigen terlarut



HLA link immunolgic Diseases
Disease HLA allele RR
Rheumatoid Arthritis DR4 4
Insulin-Dep Diabetes DR3 5
DR4 5
DR3/DR4 25
Multiple sclerosis DR2 4
SLE DR2/DR3 5
Pemphigus vulgaris DR4 14
Ankylosing Spondylitis B27 90-100


Lokus kerentanan untuk penyakit autoimun. Lokus kromosom terkait dengan
beberapapenyakit autoimun yang akan ditampilkan. Lokasi gen
kandidat kepentingan kekebalanyang diindikasikan sebagai oval di sebelah
kiri kromosom. Ini oval adalah kode warnauntuk
menunjukkan penyakit yang gen terkait. SLE, lupus eritematosus sistemik; AITD,
penyakit tiroid autoimun, RA, rheumatoid arthritis; T1D, diabetes tipe 1. (Dimodifikasi
dari Yamada R dan K Ymamoto temuan terbaru tentang gen yang terkait dengan
penyakit inflamasi.. Mutasi Penelitian 573:136-151, Copyright 2005 dengan izin dari
Elsevier.)
Referensi : Karnen Garna Baratawidjaja, Buku imunologi dasar FK UI
Louise Ph.D, Buku saku Imunologi

KLASIFIKASI PENYAKIT AUTOIMUN (KURNIASIH 2010730059)
Penyakit auotimun merupakan sekelompok penyakit yang biasanya kurang jelas
patogenesisnya dan dengan suatu manifestasi fenomena autoimunitas. Biasanya
dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu: kelainan yang mekibatkan sejumlah system tubuh
(kelainan multisystem) atau Penyakit autoimun sistemik dan kelainan yang hanya melibatkan
sebuah organ saja (khas organ).
A. Pembagian penyakit autoimun menurut organ
Penyakit autoimun dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu yang organ spesifik dan
yang non organ spesifik.
I. Penyakit autoimun organ spesifik
Contoh alat tubuh yang menjadi sasaran penyakit autoimun adalah kelenjar
tiroid, kelenjar adrenal, lambung dan pancreas. Pada penyakit- penyakit
tersebut, dibentuk antibody terhadap jaringan alat tubuh. Adanya antibody
yang tumpang tindih (overlapping), misalnya antibody terhadap kelenjar tiroid
dan antibody terhadap lambung sering ditemukan pada satu penderita. Kedua
antibody tersebut jarang ditemukan bersamaan dengan antibody yang non-
organ spesifik seperti antibody terhadap komponen nucleus dan nukleuprotein.
II. Penyakit autoimun non- organ spesifik
Penyakit autoimun yang non- organ spesifik terjadi karena dibentuknya
antibody terhadap autoantigen yang tersebar luas di dalam tubuh, misalnya
DNA.
Pada penyakit autoimun yang non- organ spesifik, sering juga dibentuk
kompleks imun yang dapat diendapkan pada dinding pembuluh darah, kulit,
sendi dan ginjal,serta menimbulkan kerusakan pada alat tersebut. Tempat
endapan kompleks imun di dalam ginjal bergantung pada ukuran kompleks
yang ada di dalam sirkulasi
Perbedaan antara penyakit autoimun organ spesifik dengan yang non organ spesifik
Organ Spesifik Non- organ spesifik
Antigen Terdapat di dalam alat tubuh tertentu Tersebar di seluruh tubuh
Kerusakan Antigen dalam alat tubuh Penimbunan kompleks
sistemik terutama dalam
ginjal, sendi, dan kulit
Tumpang tindih Dengan antibody organ spesifik dan
penyakit lain
Dengan antibody non-organ
spesifik dan penyakit lain

B. Pembagian penyakit autoimun menurut mekanisme
Autoantibody meningkat dengan usia dan hal ini tidak selalu disertai dengan penyakit
autoimun. Autoantibody dapat primer, langsung menimbulkan penyakit (sindrom
Goodpasture) atau timbul sekunder akibat kerusakan jaringan rusak dan melepas self
antigen yang dapat menimbulkan respon yang sementara (misalnya akibat infark
jantung).
Penyakit autoimun dapat dibagi menurut mekanisme sebagai berikut:
1. Penyakit autoimun melalui antibody
a. Anemia hemolitik autoimun
Salah satu sebab menurunnya jumlah sel darah merah dalam sirkulasi
ialah destruksi oleh antibody terhadap antigen pada permukaan sel
tersebut. Destruksi dapat terjadi akibat aktivasi komplemen dan hal ini
akan menimbulkan Hb dalam urin (hemoglobinuria). Destruksi sel
dapat pula terjadi melalui opsonisasi oleh antibody dan komponen
komplemen lainnya. Dalam hal ini, sel darah merah yang dilapisi
antibody dimakan makrofag(yang memiliki reseptor Fc dan C3).
Antibody yang dapat menimbulkan anemia hemolitik autoimun dibagi
dalam 2 golongan yang berdasarkan atas sifat fisiknya sebagai berikut:
i. Antibody panas
Antibody panas bereaksi secara optimal pada suhu 37
0
C.
Seseorang dengan anemia hemolitik autoimun dapat diketahui
dengan tes Coombs yang dapat menemukan IgG pada
permukaan sel.
ii. Antibody dingin
Antibody dingin hanya diikat oleh sel darah merah pada suhu
di bawah 37
0
C dan dilepas bila suhu naik di atas 37
0
C.bentuk
anemia hemolitik autoimun lain ialah yang dicetuskan oleh
obat. Obat seperti penisilin (hapten) dapat diikat oleh protein
pada permukaan sel darah merah (carrier) dan menimbulkan
terbentuknya Ig. Antibody yang terbentuk bereaksi dengan
obat pada permukaan sel dan menimbulkan lisis atau
fagositosis. Dalam hal ini penyakit membaik bila obat
dihentikn.
b. Miastenia gravis
Dalam hal ini yang menjadi sasaran ialah reseptor asetilkolin pada
hubungan neuromuskuler. Reaksi antara reseptor dan Ig akan
mencegah penerimaan impuls saraf yang dalam keadaan normal
dialirkn oleh molekul asetilkolin. Hal ini menimbulkan kelemahan otot
yang berat yang ditandai dengan gejala sulit mengunyah dan napas dan
dapat menimbulkan kematian akibat gagal napas. Timbulnya miastenia
gravis berhubungan dengan timus. Pada umumnya penderita
menunjukkan timoma atau hipertrofi timus dan bila kelenjar timus
diangkat, penyakit kadang- kadang dapat menghilang .
c. Tirotoksikosis
Autoantibody dibentuk terhadap reseptor hormone. Di sini dibentuk
antibody terhadap reseptor thyroid stimuling hormone. Autoantibody
dapat menembus plasenta sehingga ibu dengan tirotoksikosis dapat
melahirkan bayi dengan hiperreaktifitas tiroid. Bila autoantibody pada
bayi tersebut dihancurkan beberapa minggu kemudian; tanda- tanda
hiperreaktivitas tiroid juga akan hilang.

2. Penyakit autoimun melalui kompleks imun
a) Lupus Eritematosus Sistemik (LSE)
Gambaran klinik penyakit SLE sangat beraneka ragam, sehingga lebih
merupakan kumpulan sindrom daripada gambaran klinik penyakit
yang khas. Pada beberapa kasus, manifestasi penyakit tersebut sangat
parah, bahkan dapat menyebabkan kematian walaupun diobati secara
intensif, sedang pada pihak lain gambaran klinik penyakit tersebut
dapat sangat ringan.
b) Arthritis Reumatoid (AR)
Manifestasi pokok pada penyakit RA yaitu adanya radang sendi yang
biasanya mengenai banyak sendi secara bersama- sama atau
bergantian.

3. Penyakit autoimun melalui sel T
Hashimoto thyroiditis
Penyakit kelenjar tiroid yang sering ditemukan pada wanita dewasa tu
adalah goiter (pembesaran kelenjar tiroid) atau hipotiroidsm yang
mengakibatkan rusaknya fungsi kelenjar.

4. Penyakit autoimun melalui komplemen
Oleh sebab yang belum jelas, defisiensi komplemen dapat menimbulkan
penyakit autoimun seperti LES. Disamping itu beberapa alotipe dari
komplemen memudahkan timbulnya autoimunitas.
Referensi : Karnen Garna Baratawidjaja, Buku imunologi dasar FK UI
Prof. Dr. Subowo M.sc, Ph.D, Imunologi Klinik
Mengapa timbul kemerahan pada wajah yang menetap sejak 5 hari yang lalu dan tidak
hilang sampai sekarang? (MIRA MUZNILLAH 2010730070)
Jawaban
Kemerahan itu sendiri ialah Ruam Diskoid, yaitu bercak eritematosa menonjol
dengan skuama keratosis dan sumbatan folikel, disertai jaringan parut atrofi yang
menimbulkan lesi dalam waktu yang lebih lama.
Serangan pada kulit ini terjadi pada sebagian besar pasien yang biasa di temukan di
atas eminentia malaris dan jembatan hidung ( pola kupu kupu / butterfly rash).
Pajanan terhadap sinar matahari ( sinar ultraviolet ) akan memperburuk eritema (
disebut dengan foto sensitivitas ), karena dapat merusak DNA dan meningkatkan jejas
jaringan yang akan melepaskan kandungan sel dan meningkatkan pembentukan kompleks
imun DNA / anti-DNA. Ruam serupa dapat di temukan di setipa tempat pada ekstremitas dan
badan, tetapi lebih sering pada daerah yang terpajan sinar matahari terutama wajah.
Secara histologist, terjadi degenerasi likueaktif (pencairan) pada lamina basalis
epidermis, edema pada dermoepidermal junction, serta infiltrat mononuklear di sekeliling
pembuluh darah dan bagian kulit.
Reaksi Hipersensitivitas tipe III
Reaksi hipersensitivitas kompleks imun / reaksi Arthus
3-10 jam setelah terpapar antigen
Diperantarai kompleks imun (antigen-antibodi)
Antigen eksogen (bakteri, virus, atau parasit)/endogen (SLE)
Contoh: serum sickness,SLE,rx Arthus,lupus nephritis,RA,dll
Terbentuk kompleks antigen-antibodi (toksik terhadap jaringan di tempat mereka
diendapkan seperti ginjal / paru-paru) infiltrasi dinding pembuluh darah kecil
aktivasi kaskade komplemen pelepasan bahan aktif secara biologis, termasuk
faktor-faktor yang menarik sel-sel fagosit yang akan menfagositosis kompleks
tersebut
Referensi : Patologi edisi 7, Robbins Kumar Cotran

7. Mengapa terjadi kekakuan pada sendi-sendi kaki dan jari tangan ? (AIKARDI
2007730007)
Jawaban
Limfosit B synovial memproduksi IgG yang abnormal. IgG ini disebat faktor
rheumatoid. Antibody ini membentuk kompleks imun dan biasanya kompleks imun
dibentuk diserum atau dicairan synovial. Selama diserum dia tidak terjadi apa-apa tapi
jika dikompleks imun menempel di kartilago sendi dia akan memancing sel killer.
Jika terpancing dan membaca antigen itu dia akan melakukan penyerangan dan
mengeluarkan cytokine ke kartilago sehingga mengalami kerusakan. Dan terjadi
artrithis dan kekakuan.

8. Mengapa kekakuan sering timbul pada pagi hari dan berkurang menjelang
siang hari ? (AIKARDI 2007730007)
Jawaban
Kekakuan sendi biasanya akibat desakan cairan yang berada disekitar jaringan yang
mengalami inflamasi (kapsul sendi, synovial,bursa). Kaku sendi makin nyata pada
pagi hari atau setelah istirahat. Setelah digerak-gerakkan, cairan akan menyebar dari
jaringan yang mengalami inflamasi dan paasien merasa terlepas dari ikatan.
Inflamasi akan menyebabkan terjadinya imobilisasi persendian dan jika berlangsung
lama akan mengurangi pergerakan sendi baik aktif maupun pasif.
Referensi : Sylvia A. Price, Patofisiologi Jilid 2
Pengaruh BB dengan Penyakit Sekarang (SLE ) (DIAN FITRIANI SUHADI
2010730025)
Pada penyakit ini terdapat gejala-gejala konstitusional diantaranya :
a. Demam
b. Rasa Lelah
c. Berkurangnya BB
berkurangnya BB ini biasanya timbul pada awal penyakit dan dapat berulang pada
perjalanan penyakit ini. Tetapi pada penyakit ini juga bisa terjadi berat badan yang berat
badan yang berlebih karena menumpuknya cairan bukan karena lemak.
Kesimpulan : jadi berkurangnya BB pada skenario itu ada hubungannya terhadap penyakit ini
,karena pasien mengalami luka pada bibirnya ,pasien kesusahan untuk makan sehingga
asupan yang masuk ke dalam sedikit dan otomatis berat badannya pun menurun.
Referensi : Sylvia A. Price, Patofisiologi Jilid 1.

Mekanisme kerusakan jaringan kulit di mulut (M. GASSAN SAMAN 2007730083)
Antibodi IgG mengikT desmoglein 3 di sel kreatinosit kemudian terbentuk plasminogen
aktivator yang merubah plasminogen menjadi plasmin yang mengakibatkan kerusakan
desmosom akibatnya penarikan tonofilamen dari sitoplasma keratosit yang menjadi
akantolisis akhirnya terjadi kerusakan jaringan pada mulut.
Referensi : Text book dermatologi Vol. 3, edisi 6, dr. Blackwell Skins Ph.D, 2008
Langkah diagnostik pada autoimun (PRIYA ADHIYAKSA 2010730085)
Berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR) 1982, diagnosis SLE dapat
ditegakkan secara pasti jika dijumpai empat kriteria atau lebih dari 11 kriteria, yaitu
1. Ruam didaerah malar ( butterfly rash )
2. Ruam diskoid ( luka dikulit disertai peradangan )
3. Fotosensitivitas
4. Ulkus pada mulut
5. Artritis: tidak erosif, pada dua atau lebih sendi-sendi perifer
6. Serositis: pleuritis atau perikarditis
7. Gangguan pada ginjal: proteinuria persisten yang kebih dari 0,5 g/hari, atau adanya
silinder selular
8. Gangguan neurologik: kejang-kejang ataupsikosis
9. Gangguan hematologik: anemia hemolitik, leukopenia, limfoponia, atau
trombositipenia
10. Gangguan imunologik: sel-sel lupus eritematosus ( LE ) positif, anti-DNA, atau anti-
SM atau suatu uji serologik positif palsu untuk sifilis.
11. Antibodi antinuklear ( ANA ) positif
Langkah langkah diagnonosis
1. Anamnesis
Gejala umum yang biasa terjadi pada seperti: Kelelahan, demam kadang-kadang
menggigil, penurunan berat badan, sakit kepala, epistaksis, kulit menjadi sensitif pada sinar
matahari ( fotosensitivitas ) sendi-sendi kaku ( terutama pada pagi hari ) dan berkurang pada
siang hari, rambut gugur/rontok, lalu ditemukan fenomena Raynaud, dan vaskulitis seperti
urtikaria,
2. Pemeriksaan fisik
Ditemukan ruam pada wajah, ruam diskoid, luka di langit-langit mulut yang tidak
nyeri, radang sendi ditandai adanya pembengkakan serta nyeri tekan sendi, kelainan paru,
kelainan jantung, kelainan ginjal,
3. Pemeriksaan laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium meliputi
- LED,CRP meningkat
Pemeriksaan khusus
- LE sel
- ANA, ENA (anti dsDNA)
- Komplemen c3 dan c4 menurun
- Anti SM
- Biopsi kulit dan ginjal
- Radiologi
- USG
Referensi : Panduan praktis penyakit dalam diagnosis dan terapi, Prof. Dr. dr. Halim Mubin,
M.Sc,KPTI
Faktor penyebab Penyakit Autoimun (AINA ULLAFA 2010730006)
Etiologi dan patogenesis dari penyakit autoimun sebenarnya belum jelas betul, tetapi
formasi dari autoantibodi dan aktifasi sel T berdasarkan suatu mekanisme yang sama dengan
reaksi imun tehadap benda asing. Ketika sistem imun secara terus menerus memproduksi
autoantibodi (AAB) atau sel T aktif melawan antigen endogen, maka hal ini akan
menyebabkan kerusakan jaringan atau organ (penyakit autoimun).
Beberapa hal dibawah ini merupakan beberapa mekanisme yang dianggap
bertanggung jawab terhadap terjadinya penyakit autoimun:
1. Predisposisi genetik yang disebabkan beberapa alel HLA II : pembawa alel HLA II
DR3+DR4 sebagai contoh, 500 kali lebih mungkin menyebabkan diabetes melitus tipe
1 dibandingkan pembawa DR2 +DR2.
2. Jalur seksual terutama pada penyakit autoimun yang dipengaruhi oleh hormonal,
contohnya perbandingan kejadian lupus eritematosus sistemik antara perempuan dan
laki-laki adalah 10:1, dan sebaliknya pada penyakit ankylosing spondylitis adalah 1 : 3.
3. Autoantigen dari daerah yang sesuai (otak, testis, uterus) masuk ke sistemik (melalui
pembuluh darah, tetapi tidak melalui sistem limfatik) dan berinteraksi dengan sel T,
tetapi hal ini biasanya tidak memicu penyakit autoimun, karena auto antigen disertai
TGF. Ini bertanggung jawab pada aktifasi sel Th2 (disamping destruksi sel Th1). Tidak
satupun dari daerah ini yang memiliki autoantigen menyebabkan penyakit autoimun,
contohnya protein berbasis myelin dari otak yang menyebabkan multiple sclerosis,
salah satu penyakit autoimun yang banyak dikenal. Dapat dilihat pada penelitian yang
menggunakan binatang bahwa produksi myelin tidak dapat ditoleransi atau anergi sel T
tetapi lebih pada sesuatu immunological ignorance; dan akan menjadi penghancuran
myelin ketika terdapat myelin spesifik (oleh karena suatu infeksi), hal ini disebabkan
oleh inflamasi karena sel Th1 yang diaktifkan dimana-mana dan kemudian penetrasi ke
otak. Infertilitas yang disebabkan adanya autoantibodi terhadap sperma sebagai contoh
lain. Secara normal embrio atau fetus yang membawa sejumlah antigen asing yang
berasal dari bapak ditoleransi dengan baik, melalui proses anergi dari limfosit ibu yang
diinduksi plasenta. Ketidakmampuan plasenta mentolerir hal ini maka akan
menyebabkan aborsi.
4. Infeksi sangat mungkin menyebabkan penyakit autoimun. Contohnya, sel T spesifik
untuk myelin teraktifasi oleh kehadiran bakteria. Patogen ini mungkin menyebabkan
sinyal kostimulasi. Sebagai tambahan, antibodi yang melawan beberapa antigen tertentu
atau sel T yang bereaksi silang dengan autoantigen, seperti antibodi untuk
melawan Streptococcus dengan autoantigen di hati (endokarditis), sendi (arthritis
rheumatoid), dan ginjal (glomerulonefritis)
5. Kesalahan regulasi pada sistem imun yang sebabnya tidak diketahui, kemungkinan
karena tidak adanya sel yang mengandung CD8 yang membunuh sel yang mengandung
CD4. Mekanisme imun dari penyakit autoimun yang berhubungan dengan reaksi
hipersensitivitas tipe II-V. Salah satu yang dapat menjelaskan adalah kejadian penyakit
autoimun yang sistemik contohnya lupus eritematosus sistemik (reaksi tipe III) yang
merupakan penyakit autoimun spesifik organ dan spesifik jaringan. Contoh dari reaksi
tipe II adalah anemia hemolitik autoimun dan sindrom Goodpasture; arthritis
rheumatoid, multiple sclerosis dan diabetes melitus tipe I (dimana sel T-CD8 yang
merusak sel B pankreas) adalah contoh reaksi tipe IV. Sedangkan contohnya reaksi tipe
V terdapat pada aktifasi reseptor hormon (penyakit Grave) atau blok pada reseptor
hormon (myasthenia gravis).
Jurnal :
1. dr.Eka Ginanjar*
2. Sumaryono**
3. Siti Setiati***
4. Bambang Setyohadi**
Ket: *Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM
**Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM
***Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM
Korespondensi : Dr Eka Ginanjar, email: ekginanjar@yahoo.com


12. Bagaiman DD pada skenario ? (Nerhis Sydney Wisaka 2010730078)
Jawab :
SLE ( Lupus Eritmatosus Sistemik )
Definisi :
Penyakit inflamasi kronik, sistemik (multiorgan) dan ditemukan pada wanita
muda. ( Imunologi dasar edisi ke-6, Karnen Garna Baratawidjaja )
Epidemiologi :
Prevalensi bbervariasi 2,9-400 / 100.000. lebih sering ditemukan pada ras Cina,
Negro, dan Filipina. Paling banyak terjadi pada usia 15-40

th (masa produksi).
Perbandingan wanita dan pria berkisar antara 5,5-9 : 1. ( buku ajar IPD FKUI
edisi kelima jilid ketiga)

Patofisiologi
Atas dasar yang belum jelas, pasien SLE membentuk imunoglobolin terhadap
beberapa komponen badan misalnya DNA. Hal ini merupakan tanda utama dari
SLE. Kadang-kadang akan dibentuk Ig terhadap denatureted, single stranded
DNA atau neoleohiston. Diduga Ig tersebut membentuk kompleks DNA yang
berasal dari degenerasi sel normal. Sensitivitas pasien SLE terhadap sinar
ultraviolet diduga berdasarkan hal ini.
Agregat kompleks imun akan disaring di ginjal dan mengendap di membran basal
glomerulus. Kompleks lainnya mungkin mengaktifkan komplemen, dan menarik
granulosit dan menimbulkan reaksi inflamasi sebagai glomerulonefritis.
Kerusakan ginjal menimbulkan proteinuri dan kadang-kadang perdarahan.
Derajat gejala penyakit dapat berubah-ubah sesuai dengan kadar komples imun.
Imunisasi binatang dengan kapsel bakteri Klebsiella dapat menimbulkan Ig yang
beraksi silang dengan DNA. Jadi mungkin sekali SLE ditimbulkan oleh
mikroorganisme yang umum terdapat dalam lingkungan.

Gejala/ gambbaran klinik :
Gambaran klinik pada umumnya berupa malaise, panas, letargi, berat badan
menurun. Berbagai jaringan juga dilibatkan seperti kulit, membrane mukosa,
ginjal, otak, sistem kardiovaskular. Cirri khasnya dalah ruam kulitmuka bentuk
kupu-kupu. Kelainan kulit lainnya berupa discoid, bentuk psoriasis,
makulopapuler, dan kelainan bulosa. Keterlibatan ginjal ditemukan pada 50%
pasien dengan SLE, glomerulonefritis difus proliferative dan membranosa sering
ditemukan. Manifestasi Susunan Saraf Pusat (SSP) ditemukan pada 50% pasien
seperti depresi, psikosis, kejang-kejang, neuropati sensorimotor. ( Imunologi
dasar edisi ke-6, Karnen Garna Baratawidjaja )
Manifestasi klinis SLE
Sangat beragam awal penyakit sering tidak diketahui
Manifestasi klinis tidak bersamaan
Dapat berupa nyeri sendi berpindah2 tanpa adanya keluhan lain
Kemudian diikuti klinis lain : fotosensitifitas hingga memenuhi kriteria
diagnosis
Gejala muskuloskeletal 90%
GEJALA KONSTITUSIONAL
# Kelelahan / fatique
Sering ditemukan, mendahului manifestasi klinis lainnya
Harus disingkirkan penyebab lain
Gejala ikutan
Efek obat (glukokortikoid, klorokuin, anti hipertensi dll)
# Penurunan berat badan
Sering ditemukan pada pasien LES
Terjadi setelah beberapa bulan diagnosis LES ditegakkan
Disebabkan karena turunnya nafsu makan atau diakibatkan gejala
Gastrointestinal
# Demam
Sulit dibedakan dengan kausa infeksi, kadang mencapai 40 derajat celcius, tapi
umumnya tidak disertai menggigil
Gejala lain : rambut rontok, pembesaran kelenjar getah bening, sakit kepala,
mual dan muntah
MANIFESTASI MUSKULOSKELETAL
Paling sering ditemukan > 90%
Dapat berupa : myalgia, atralgia, artritis.
Nyeri sendi ini sering dianggap suatu AR karena artritis bersifat simetris dan
banyak sendi2 kecil yang terlibat
Membedakan nyeri sendi dgn AR : radang sendi bisa sampai pd DIP, tidak ada
deformitas sendi
Biasa bersama2 dgn penyakit autoimun lain MCTD
MANIFESTASI KULIT
Ruam kulit pada LES sejak abad 19
Lesi mukokutaneus fotosensitifitas
Ruam pada kulit butterfly rash, diskoid, subacute cutaneus lupus
erithematosus (SCLE), alopesia, lupus profundus / panikulitis
Lesi vasculer : eritema periungual, livido retikularis, fenomena Raynauds
Bercak eritema pada palatum mole dan durum
MANIFESTASI PARU
Berupa pneumonitis, emboli paru, hipertensi pulmonum, perdarahan paru
Pneumonitis lupus : dapat akut maupun berlanjut kronis
Pneumonitis akut perlu dibedakan dengan pneumonia bakterial bilasan
bronkho-alveolar
Pneumonitis lupus : sesak, batuk kering, dijumpai di ronkhi basal
Deposisi kompleks imun pada alveolus
Berespon baik dengan pemberian steroid
MANIFESTASI KARDIOLOGI
Perikarditis harus dicurigai bila nyeri substernal, friction rub EKG
Myokarditis : aritmia, gangguan konduksi, kardiomegali, takikaridi
PJK : angina pektoris, infark myokard atau gagal jantung kongestif
Valvulitis krn vegetasi kompleks imun dikatub, gangguan konduksi, HT
Bising jantung sistolik dan diastolik
MANIFESTASI RENAL
40 75% pada LES terjadi setelah 5 thn
Rasio wanita : pria 1:10, puncak insidensi usia 20 30 tahun
Gejala tdk khas SN atau Gagal ginjal
Protein urin > 500 mg/24 jam atau 3+, adanya cetakan granuler (torak silinder)
Serum kreatinin meningkat
Standar baku emas biopsi WHO 6 klas
MANIFESTASI GASTROINTESTINAL
Tidak spesifik, bisa merupakan cerminan dari keterlibatan organ lain
Esofagitis, IBD, pankreatitis, penyakit hati
Dispepsia + 50% berhubungan dgn penggunaan steroid
Nyeri abdominal inflamasi peritoneum
Pankreatitis sekitar 8%
Hepatomegali, peningkatan SGOT/PT aktifitas penyakit
MANIFESTASI NEUROPSIKIATRIK
Sulit ditegakkan luasnya gbr klinis
Dikelompokkan berupa neurologik dan psikiatrik
Keterlibatan SSP epilepsi, lesi saraf kranial, hemiparesis, lesi BO
SST neuropati perifer, myastenia gravis
Ggn psikiatrik ggn mental organik/non organik
MANIFESTASI HEMIK-LIMFATIK
Limfadenopati generalisata atau lokal
Kel limfa aksila dan servikal
Organ limfoid lain splenomegali disertai hepatomegali
Anemia imun dan non imun
Anemia non imun : peny kronik, def Fe
Anemia imun : pure red cell aplasia, aplastik, hemolitik
KRITERIA DIAGNOSIS LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK
MENURUT ACR 1982
1. Ruam malar
2. Ruam discoid 4 DARI 11 KRITERIA
3. Fotosensitifitas DIAGNOSIS LES DAPAT
4. Ulserasi di mulut atau nasofaring DITEGAKAN
5. Artritis
6. Serositis (pleuritis, perikarditis)
7. Kelainan ginjal (proteinuria persisten > 0,5 gr/hr,
silinder)
8. Kelainan neurologik (kejang, atau psikosis)
9. Kelainan hematologik (anemia hemolitik, atau
lekopeni, atau limfopeni, atau trombositopeni)
10. Kelainan imunologik (Sel LE +,atau anti DNA +,
atau anti Sm + atau STS + palsu)
11. ANA (+)

Artrithis Reumatoid
Definisi :
Artrithis rheumatoid adalah penyakit kronik, inflamasi sendi yang sistemik
dan berhubungan HLA-DR4. ( Imunologi dasar edisi ke-6, Karnen Garna
Baratawidjaja )
Epidemiologi :
Prevalensi AR relative konstan yaitu berkisar 0,5-1%. Lebih banyak
ditemukan pada perempuan dengan rasio 3:1 yang terjadi pada semua umur
terutama decade keempat dan kelima.
Etiologi :
- Faktor genetik berperan penting dan resorpsi tulang dan terapi AR (karena
aktivitas enzim contohnya thiopurine methyltransferase untuk metabolism
methotrexate dan azathioprine
- Hormone dan sex : wanita lebih sering terkena AR karena terjadi
perbaikan gejala AR pada saat kehamilan yang diduga karena adanya
aloantibodi dalam sirkulasi maternal yang menyerang HLA-DR sehingga
terjadi hambatan fungsi epitop HLA-DR yang mengakibatkan perbaikan
penyakit. Dan adanya perubahan profil hormone.
- Faktor infeksi : beberapa virus dan bakteri diduga menjadi agen penyebab
penyakit ini. Organism ini dduga menginfeksi sel induk semang (host) dan
merubah reaktivitasi sel T sehingga mencetuskan timbulnya penyakit.
Patofisiologi
RA merupakan contoh penyakit aytoimun lain. Di sini dibentuk Ig yang berupa
IgM(RF) ang spesifik terhadap fraksi fc dari molekul IgG. Kompleks RF dan IgG
ditimbun di sinovial sendi dan mengaktifkan komplemen yang melepas mediator
dengan sifat kemotaktik dan lisis jaringan setempat. Respons inflamasi yang disertai
peningkatan permeabilitas vaskuler menimbulkan pembengkakan sendi sakit bila
eksudat bertambah banyak.
Enzim hidrolitik yang dilepas pada reaksi ini dapat pula meinmbulkan destruksi
permukaan sendi sehingga mengganggu fungsi normal sendi tersebut.
Akibat inflamasi yang berulang-ulang, terjadi penimbunan fibrin dan penggantian
tulang rawan oleh jaringan ikat sehingga sendi menyatu (ankilosis) yang menjadi sulit
untuk digerakkan.
Factor risiko
- Jenis kelamin
- Ada riwayat keluarga yang menderita AR
- Umur lebih tua
- Paparan salisilat dan merokok
- Konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari
Keluhan dan gejala
Sebagian besar pasien arthritis reumatoid yang berusia lanjut menderita penyakit
tersebut sebagai suatu proses yang tengah berlangsung dan sudah dimulai.Kalau
arthritis reumatoid baru terjadi ketika seseorang sudah berusia lanjut, onsetnya dapat
timbul perlahan atau terjadi secara akut. Pada kebanyakan pasien, keadaan artritis
disertai dengan gejala konstitutional yang ringan atau sedang.
Biasanya arthritis reumatoid terutama ditemukan pada persendian yang kecil pada
tangan (yaitu di artikulasio interfalangeal proksimal, metakarpofalangeal), kemudian
kaki (pada artikulasio metatarsofalangeal, interfalangeal) dan pergelangan tangan, baru
kemudian penyakit ini mengenai persendian yang besar (misalnya sendi siku, bahu,
lutut). Kalau onsetnya terjadi secara tiba-tiba selama waktu beberapa hari saja, pasien
sering mengalami gejala malaise, anoreksia, penurunan berat badan dan depresi. Gejala
panas dan perspirasi malam hari kadang-kadang dikemukakan. Pada akhirnya, arthritis
reumatoid akan menjadi penyakit tambahan yang simetris persendian seperti halnya
arthritis reumatoid pada pasien yang berusia muda

Gejala Khas
1. Rasa kaku dan lemah pada pagi hari yang berlansung lebih dari 30 menit
2. Mengenai sendi sendi kecil seperti sendi sendi jari tangan,jari kaki,sendi
pada rahang,siku,lutut selain itu dapat menyerang otot,paru
paru,kulit,pembuluh darah,syaraf,dan mata
3. Cenderung mengenai wanita dari pada laki laki terutama wanita usia produktif
Diagnosis
Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi
berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.
Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:
1. Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)
2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi
3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
4. Arthritis yang simetris
5. Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
6. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari
tujuh kriteria ini terpenuhi harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.
Pemeriksaan Penunjang
1. LED,CRP
2. Analisis cairan sendi
3. Radiologi tangan dan kaki
4. Biopsi sinovium
Terapi
1. Penyuluhan
2. Proteksi sendi
3. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS)
4. Obat remitif (DMARD)
5. Fisioterapi
6. Operasi

Referensi : Slide Kuliah dr. Faridin, Systemic Lupus Eritematous