Anda di halaman 1dari 8

Michael Pasu Sinaga 110110100052

Damar Ariotomo 110110100056


BAB III ANALISIS HUBUNGAN HUKUM LETTER OF CREDIT
1. Hubungan Hukum Pemohon dan Penerima
Dalam bentuknya yang paling sederhana, di dalam pembukaan kredit itu terdapat 3 (tiga) pihak
yaitu: pembeli, penjual, dan bank
1
. Kontrak dasar yang mendasari penerbitan L/C ialah kontrak
penjualan. Kontrak Penjualan memuat hak dan kewajiban pembeli (yang dalam UCP menjadi pemohon)
dan penjual (yang dalam UCP menjadi penerima).Klausul cara pembayaran dalam kontrak penjualan
harus dituangkan menjadi L/C. L/C diterbitkan karena kontrak penjualan harus mengatur demikian. L/C
diterbitkan bank penerbit atas permintaan pemohon sesuai dengan kontrak penjualan.
Bank penerbit atau bank penerus bukan para pihak dalam kontak penjualan walaupun nama
kedua bank ini dimuat dalam kontrak penjualan. Para pihak dalam kontrak penjualan adalah pembeli
dan penjual. Sengketa mengenai barang yang menjadi subyek kontrak penjualan harus diselesaikan
antara pembeli dan penjual dengan merujuk pada kontrak penjualan.
L/C yang diterbitkan atas dasar kontrak penjualan, menurut hukum L/C merupakan kontrak yang
terpisah dari kontrak penjualan. Sengketa kontrak penjualan tidak boleh dikaitkan dengan L/C. L/C
adalah L/C. kontrak penjualan adalah kontrak penjualan. Pemisahan prinsip pemisahan kontrak atau
prinsip independensi L/C. Dalam pelaksanaannya kadang-kadang terjadi intervensi atas prinsip
pemisahan kontrak tersebut. Sengketa mengenai barang yang merupakan subyek kontrak penjualan
diikuti dengan penangguhan pembayaran yang merupakan subyek. Dalam kasus PT. Star Impactama
Indah Melawan Lucky Goldstar Jakarta Reprensetatif Office
2
, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
membenarkan keberadaan intervensi kontrak penjualan terhadap L/C. Sengketa atas barang diikuti
dengan penanggunahaan L/C.

Putusan Pengadilan Inggris
Sebaliknya, dalam kasus Hamzeh Malas & Sons v.s British Imex Industries Ltd, Hakim memutuskan
bahwa kontrak penjualan terpisah dari L/C, sehingga sengketa mengenai barang tidak boleh
menyebabkan dilakukannya penangguhan pembayaran atas L/C. dalam kasus ini hakim berpendapat
bahwa penerbitan Confirmed L/C merupakan persetujuan antara bank dan penjual yang membebankan
pada bank kewajiban mutlak (absolute obligation) untuk membayar terlepas daru ada atau tidak
sengketa antara pihak berkenaan dengan barang yang diperjanjikan dalam kontrak penjualan. Sistem

1
Emmy Pangaribuan S, S.H. Prof. Pembukaan Kredit Berdokumen (Documentary Credit Opening) ,
cetakan II, Penerbit Seksi Hukum Dagang, Fakultas Hukum UGM 1987 halaman 16
2
Putusan Sela Nomor: 207/Pdt.G/1994/PN.Jak.Sel
perdagangan yang rinci telah diciptakan atas landasan bahwa konfirmasi bank atas L/C adalah
merupakan karakter tersendiri dan pengadilan salah satu mencampurinya.

Putusan pengadilan Inggris dalam kasus Hamzeh malas telah sejalan dengan prinsip pemisahan kontrak
yang dimuat daklam artikel 3 UCP 600. Sebaliknya, putusan pengadilan Indonesia belum sejalan dengan
artikel 3 UCP tersebut. Dampak putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bagi posisi perbankan
Indonesia sngat krusial yaitu pada satu sisi, sesuai UCP bank penerbit di Indonesia berkewajiban
melaksakan pembayaran L/C kepada penerima melalui bank pembayar sepanjang semua dokumen yang
diajukan penerima telah sesuai dengan persyaratan L/C. pada sisi lain bank penerbit di Indonesia
berkewajiban pula mematuhi putusan pengadialn Indonesia.
Pertanyaannya, bagaimana bank penerbit harus bersikap? UCP dan putusan pengadilan wajib diikuti
bank penerbit tetapi, keduanya bertentangan dalam pengaturan. Dari segi hukum nasional, bank
penerbit berhak menangguhkan pembayaran sesuai dengan putusan pengadilan, tetapi dari segi hukum
kebiasaan internasional, bank penerbit berkewajiban mematuhi UCP. Kenyataan seperti dihadapi
beberapa bank penerbit di Indonesia.

2. Hubungan Hukum Pemohon dan Bank Penerbit
Hubungan hukum antara pemohon dan bank penerbit didasarkan pada kontrak yang
dinamakan permintaan penerbitan L/C. Permintaan penerbitan L/C diperlukan dalam rangka
merealisasi cara pembayaran sebagaimana diatur dalam kkontrak penjualan. Jika bank penerbit setuju
untuk melaksanakan permintan pemohon,maka bank penerbit menerbitkan L/C. L/C dengan demikian
diterbitkan berdasarkan permintaan penerbitan L/C. permintaan penerbitan L/C dan kontrak penjualan
juga terpisah satu sama lain.
Putusan Pengadilan Inggris
Dalam kasus United City Merchants (Invetsment) Ltd. Vs Royal Bank of Canada, hakim mengatakan :
the contract between the buyer and the issuing bank under which the latter agrees to issue the
credit and either itself or throug a confirming bank to notify to the seller and to make paymenst to or the
seller (or to pay, accept or to of stipulated documenst: and the buyer agrees ton reimburse the
reimbursement the stipulated documents, if they include a document of title such as a bill of lading,
constitute a security available to the issuing bank.
Dalam kasus ini, kontrak antara pemohon yaitu United City Merchants (Investments) Ltd. Dan
bank penerbit yaitu Royal Bank of Canada merupakan dasar hubungan diantara keduanya. Kontrak ini
adalah permintaan penerbitan L/C. Kontrak hanya mengikat pemohon dan bank penerbit. Inti dari
kontrak tersebut, bank penerbit berjanji membayar kembali sebesar nilai L/C kepada bank penerbit.
Selain itu, pemohon juga berkewajiban membayar biaya penerbitan L/C kepada bank penerbit.





Permintaan penerbit L/C terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu format permintaan penerbitan L/C dan
perjanjian jaminan ganti kerugian ( Security Agreement ) . perjanjian jaminan ganti kerugian di
Indonesia dan dinegara lain ditetapkan oleh masing-masing bank penerbit secara sepihak. Artinya, jika
pemohon dapat menyetujuinya, pemohon tinggal membubuhkan tanda tangan perjanjian tersebut dan
jika pemohon ingin menambahkan ketentuan tambahan, maka hal tersebut terlebih dahulu disetujui
oleh bank penerbit. Perjanjian jaminan ganti kerugian memuat hak dan kewajiban pemohon dan bank
penerbit secara relaatif rinci.
Sementara, format permintaaan penerbitan L/C di Indonesia ditetapkan oleh Bank Indonesia
Sehingga keberadaannya seragam pada semua bank penerbit. Namun, terhitung sejak tanggal 4 juni
1996 Bank Indonesia
3
memberi kebebasan kepadan semua bank divisa untuk menambahkan klausul-
klausul lainnya sesuai kebutuhan bank penerbit dan pemohon, sehingga materi cakupan format
permintaan penerbitan L/C dapat diperluas. Format permintaan penerbitan L/C berisi hak dan kewajiban
pemohon dan bank penerbit yan melengkapi hak dan kewajiban pemohon dan bank penerbit
sebagaimana dimuat dalam perjanjian jaminan ganti kerugian
4
.
Bank penerbit menerbitkan L/C kepada penerima tidak boleh menyimpang dari permintaan
Penerbitan L/C. jika penerbit melakukan penyimpangan, maka bank penerbit bertanggung jawab akan
dampak negatif (resiko) yang mungkin timbul dari tindakannya. Pemohon hanya bertanggung jawab
sebatas isi permintaan penerbitan L/C. Pemohon berhak menolak pembayaran kembali kepada bank
penerbit terhadap L/C yang diterbitkan bank tersebut yang menyimpang dari permintaan penerbitan
L/C. Sikap ini sejalan dengan Trust Theory yang mengatakan bahwa dana pemohon yang dibayarkan
langsung kepada bak penerbit merpakan dana khusus yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai
pembayaran kepada pemegang wesel apakah penerima atau bank pengaksep yang telah melakukan
pembayaran L/C kepada penerima. Bank Penerbit berfungsi sebagai trusstee.
Dana pemohon tersebut sudah pasti hanya boleh digunakan oleh bank penerbit sepanjang bank
penerbit bertindak sesuai dengan isi permintaan penerbitan L/C yang telah disepakati antara pemohon
dan bank penerbit. Apabila bank penerbit bertindak diluar kesepakatan sehingga merugikan

3
Bank Indonesia, Himpunan Ketentuan prosedur Lalu Lintas Devisa (HKPLLD). Jakarta. 1997
4
Surat Edaran Bank Indonesia No. 18/1/ULN tanggal 17 April 1985
pemohon
5
,maka pembayaran yang telah dilakukan oleh bank penerbit kepada penerima baik lansung
melalui kuasanya menjadi tanggung jawab bank penerbit tidk boleh dibebankan kepada pemohon.
Permintaan penerbitan L/C diatur oleh hukum nasional masing-masing negara yang dalam hal-
hal tertentu dapat berada dari satu negara terhadap negara lainnya. Akan tetapi,hakikat permintaan
penerbitan sama secara internasional yaitu bank penerbitan menerbitkan L/C karena pemohon berjanji
membayar kembali nilai L/C kepada bank penerbit yangmelakukan pembayaran baik langsung maupun
melalui bank yang ditunjuk kepada penerima.
UCP yang mengatur hubungan hukum antara pemohon dan bank penerbit pada dasarnya
terbatas pada pelaksanaan prosedur yang meliputi instruksi penerbitan dan perubahan L/C. Instruksi
penerbitan L/C yang tidak jelas atau tidak lengkap, gangguan dalam penyampaian instruksi dan
gangguan dalam pelaksanaan instruksi. Selain UCP , hak dan keajiban pemohon dan bank penerbit
dalam rangka pelaksanaan prosedur juga didasarkan pada hukum kebiasaan internasional. Hukum
kebiasaan internasional diperlukan karena tidak semua masalah-masalah hukum dari transaksi L/C
diatur Dalam UCP
6
.
3. Hubungan Hukum Bank Penerbit dan Penerima
Hubungan hukum antara bank penerbit dan penerima lahir atas dasar L/C yang diterbitkan bank
penerbit yang disetujui penerima. Persetujuan penerima terhadap L/C diwujudkan melalui pengajuan
dokumen-dokumen yang dipersyaratkan L/C kepada bank penerbit. Tetapi, penerima tidak berkewajiban
untuk menyetujui L/C disetujui oleh penerima, maka L/C diterbitkan oleh bank penerbit. Sebelum L/C
disetujui oleh penerima, maka L/C merupakan kontrak sepihak bank penerbit yang tidak mengikat
penerima. L/C diterbitkan atas dasr permintaan penerbitan L/C, tetapi kedua kontrak ini terpisah satu
sama lain.
Hak dan kewajiban bank penerbit dan penerima diatur dalam UCP sepanjang L/C tunduk kepada
UCP
7
. Namun, walaupun L/C tunduk pada UCP tidak berarti bahwa semua ketentuan UCP harus berlaku
bagi L/C tersebut. L/C dapat memuat klauusul-klausul tersendiri terlep[as dari ada atau tidak
pengaturannya dalam UCP. Dalam hal klausul- klausul tersebut bertentangan dengan ketentuan
UCP,maka yang berlaku adalah klausul-klausul tersebut
8
. Namun, dalam hal klausul-klausul tersebut
tidak diatur dalam UCP maka dengan sedirinya klususul-klausul tersebut berlaku bagi L/C. pengaturan

5
Soeprijo Andhibroto. Tata laksana Ekspor Impor Indonesia. Semarang: penerbit UP.ASRI 1989
halaman 63

6
UCP 600, Artikel 5, 12, 16, dan 18
7
Adolf Huala dan A Chandrawulan . Masalah-Masalah Hkum dalam Perdagangan
Internasional Jakarta . PT Raja Grafindo Persada.1995

8
ibid halaman 127
klausul-klausul demikian dalam L/C sesuai dengan asas kebiasaan berkontrak yang dikenal secara
internasional.
Hak dan kewajiban bank penerbit dan penerima terutama berkanan dengan masalah-masalah
L/C yang tidak diatur dalam UCP dan L/C tunduk pada hukum nasional. Penentuan hukum nasional
tersebut dilakukan atas dasar klausul pilihan hukum dalam L/C atau berdasarkan teori penentuan hukum
nasional yang berlaku bagi L/C tunduk atau tidak pada UCP dan hukum nasional, hakikat dri L/C adalah
janji pembayaran dari bank penerbit kepada penerima. Bank penerbit melakukan pembayaran kepada
penerima sepanjang ia mengajukan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan L/C. Hal ini Agency Theory
dan Sellers Offer Theory.
Menurut Agency Theory, dalam kontrak penjualan terdapat kuasa secara tersirat dari penjual
kepada pembel untuk melakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan pembayaran dalam kontrak
penjualan. Sehubungan dengan itu, pembeli yang mengupayakan penerbitan L/C untuki kepentingan
penjual dapat dianggap sebagai agen penjual. L/C tetrsebut merupakan tambahan terhadap
kontrakpenjualan atas dasar mana bank berjanji untuk membayar harga penjualan kepada penjual
sepanjang penjual menyerahkan document of title dari barang yang bersangkutan. Sementara menurut
Sellers offer Theory, penjual, dengan mengatur dalam kontrak penjualan ketentuan L/C yang tidak
dapat dibatalkan menawarkan untuk menyerahkan document of title atas barang kepada bank
pembayar yang membayar wesel penjual.
Selama realisasi pembayaran L/C berjalan lancar,maka tidak perlu dipermasalahkan referensi
hukum dari L/C yang bersangkutan. Akan tetapi, jika terjadi kebalikannya maka referensi hukum
tersebut merupakan sarana pemecahannya.
4. Hubungan Hukum Bank Penerbit dan Bank Penerus
Hubungan hukum antara bank penerbit dan bank penerus didasarkan pada instruksi bank
penerbit kepada bank penerus yang disetujui bank penerus. Bank penerbit memberi instruksi kepada
bank penerima dan bank penerus untuk meneruskan L/C
9
. Hubungan hukum antara bank penerbit dan
bank penerus hubungan keagenan dimana bank penerbit bertindak sebagai prinsipal dan bank
penerus sebagai agen. Hak dan kewajiban kedua bank ini diatur dalam instruksi bak penerbit yang
dimuat dalam L/C. Selain itu, hak dan kewajiban kedua bank juga diatur dalam UCP. UCP mengatur hak
dan kewajiban bank penerbit dan bank penerus dalam melakukan penerusan dan perubahan L/C kepada
penerima. Bank penerus tidak berkewajiban melakukan pembayaran, negoisasi,atau akseptasi wesel
penerima.
Tanggung jawab bank penerbit dan bank pengkorfirmasi terhadap pembayaran L/C sama yaitu
pembayaran dapat dimintakan kepada salah satu dari kedua bank ini. Jika pengkorfirmasi tidak bersedia
melakukan pembayaran L/C dengan alasan-alasan tertentu, maka bank penerbit tetap berkewajiban
menggantinya dan demikian sebaliknya. Pembayaran yang dilakukan pengkorfirmasi wajib dibayar

9
Letter of Credit Dalam Bisnis Ekspor Impor. Jakarta. PT Pustaka Binaman Pressindo, 1995
kembali oleh bank penerbit atau bank reimburs (reimbursing bank ) yang ditunjuk bank penerbit kartena
bank pengkonfirmasi adalah agen dari bank penerbit.



Putusan Pengadilan Amerika
Dalam kasus Banco De Vizcaya S.A. First National Bank, hakim memutus bahwa apakah bank
penerus sebagai bank pengkorfirmasi atau bukan ditentukan oleh maksud bank penerbit dan penerima.
Maksud bank penerbit tersebut pada dasarnya ditegaskan dalam L/C yang diterbitkannya. Sementara,
maksaud penerima kepada bank penerus untuk bertindak sebagai bank pengkorfirmasi. Konfirmasi yang
demikian ini jika disetujui oleh bank penerus lazim dinamakan konfirmasi diam-diam( Silent
confirmation). Artinya, konfirmasi diberikan oleh bank pengkorfirmasi diluar persyaratan L/C. dengan
lain perkataan, konfirmasi diam-diam diperjanjikan antara bank pengkorfirmasi dan penerima tanpa
sepengetahuan bank penerbit.
Bank penerus berdasarkan permintaan bank penerbit dalam L/C, dapat pula berfungsi sebagai
bank penegoisasi (negotiating bank). Dalam kapasitasnya sebagai bank penegoisasi bank ini
berkewajiban melakukan penelitian ats dokumen-dokumen yang diajukan dan melakukan pembayaran
dengan cara membeli negoisasi) dokumen-dokumen tersebut jka tidak ada penyimpangan. Bank
penegoisasi melakukan pembelian dokumen-dokemen dengan hak regres tetrhadap penerima, tetapi,
sebagai bank penegoisasi bank ini turut menjamin pembayaran L/C sebagaimana halnya bank
pengkorfirmasi. Bank penegoisasi berhak melakukan pembelian dokumendokumen L/C atau
menolaknya.
Kemudian, bank penerus dalam L/C dapat juga diminta oleh bank penerbit untuk bertindak
sebagai bank pembayar (paying bank). Sebagai bank pembayar, bank ini melakukan pembayaran
kepada penerima yang mengajukan dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C. bank
pembayar melakukan pembayaran tanpa hak regres terhadap penerima atas beban rekening valuta
asing bank penerbit yang ada pada bank pembayar atau atas pembayaran kembali dari bank penerbit
atau atas beban rekening bank penerbit pada bank pereimburs yang ditunjuk bank penerbit.
Selanjutnya, bank penerus di dalam L/C dapat juga diminta oleh bank penerbit melakukan fungsi
sebagai bank pengaksep ( accepting bank). Sebagai bank pengaksep, bank ini diminta melakukan
akseptasi atas wesel berjangka yang diajukan penerima dan melakukan pembayaran atas wesel
berjangka tersebut kepada penerima atau pemegang yang sah ( bonafide holder ) pada saat
pembayaran jatuh tempo. Bank pengaksep meminta pembayaran kembali dari bank penerbit atau bank
perimburs.
Bank yang diberi kuasa oleh bank penerbit menjadi bank penerus tidak harus sekaligus menjadi
bank pengkorfirmasi , bank pembayar, bank penegoisasi, atau bank pengaksep. Artinya, bank penerus
dapat berfungsi murni hanya sebagai bank penerus atau bank lain untuk melakukan pembayaran,
negoisasi atau akseptasi merupakan kontrak yang mengikat ( binding contract) terhadap bank penerbit
sepanjang persyaratan dipenuhi.
Bank penerbit dapat juga berfungsi sebagai bak pembayar, bank penegoisasi , atau bank
pengaksep. Dalam hal bank penerbit berfungsi demikian, hal ini dapat berarti bahwa bank penerbit tidak
memberi kuasa kepada bank lain untuk menjalankan fungsi sebagai bank pembayar, bank penegoisasi
atau bank pengaksep. Hal sebaliknya dapat juga terjadi dalam arti bank lain yang diberi kuasa oleh bank
penerbit tidak bersedia menjadi bank pembayar, bank penegoisasi , atau bank pengaksep. Dalam hal ini ,
bank penerbit akan melakukan fungsi tersebut. Akan tetapi, bank penerbit tidak berfungsi sebagai bank
pengkonfirmasi karena konfirmasi dari bankn pengkonirmasi merupakan janji pembayaran dari bank
penerbit. Namun, jaminan pembayaran dan janji pembayaran ini terpisah satu sama lain, tetapi hakikat
keduanya sama yaitu realisasi pembayaran L/C. kewajiban utama dari bank pengkonfirmasi sama
dengan kewajiban utama dari bank penerbit yaitu merealisasi pembayaran L/C. akan tetapi, kedua
kewajiban tersebut harus dilihat secara sendiri sendiri.
Jaminan pembayaran dan janji pembayaran dalam pelaksanaan L/C sama kwalitasnya dalam hari
pembayaran L/C dapat dimintakan oleh penerima atas dasar jaminan pembayaran dari bank
pengkorfirmasi atau atas dasar janji pembayaran dari bank penerbit. Penerima boleh pilih salah satu.
Namun dalam praktek, penerima merealisasi pembayaran L/C pada bank pengkonfirmasi. Hal ini terjadi
karena pada umumnya antara penerima dan bank pengkonfirmasi berada dalam satu kota atau satu
negara. Realisasi L/C dalam kondisi demikian lebih efektif dari pada realisasi L/C oleh bank penerbit,
bank pengkonfirmasi juga dapat berfungsi sebagai bank pembayar, bank penegoisasi, atau bank
pengaksep.

5. Hubungan Hukum Bank Penerus dan Penerima
Hubungan hukum antara bank penerus dan penerima tergantung dari fungsi yang lakukan oleh
bank penerus sesuai dengan persyaratan L/C. Bank penerus dapat berfungsi sebagai bank penerus
semata-mata, bank pengkonfirmasi, bank penegoisasi, bank pembayar, atau bank pengaksep
10
. Dalam
hal bank penerus murni menjalankan fungsinya sebagai bank penerus, maka kewajibannya terhadap
penerima hanya terbatas pada penerusan L/C dan penerus perobahannya. Oleh karena itu, penerima
tidak berhak untuk meminta pembayaran L/C dari bank penerus. Tetapi, dalam hal penerus juga sebagai
bank pengkonfirmasi maka selain L/C kepada penerima bank ini juga melakukan konfirmasi atas L/C
tersebut. Konsekuensinya ,penerima dapat meminta pembayaran L/C kepada bank pengkonfirmasi
dimaksud karen kewajiban bank pengkonfirmasi merupakan tambahan terhadap kewajiban pembayaran
dari bank penerbit terhadap penerima. Kemudian, jika bank penerus bertindak pula sebagai bank
penegoisasi maka kewajiban bank ini yaitu selain meneruskan L/C juga melakukan pembelian dokumen-
dokumen yang diajukan penerima.

10
Amir M.S. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri . Jakarta:PT Pustaka Binaman Pressindo, 1996
halaman 42
Seterusnya apabila bank penerus diminta pula sebagai bankpembayar kepada penerima. Selanjutnya,
apabila bank penerus bertindadk pula sebagai bank pengaksep, maka kewajiban bank ini selain
meneruskan L/C kepada penerima juga melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diajukan
penerima dan membayarnya pada saat pembayaran jatuh tempo.


Pelaksanaan pembayaran L/C tunduk pada UCP dan hukum nasional yang berkaitan dengan L/C. UCP
hanya sebagai payung terhadap pelaksanaan pembayaran L/C, sedangakn teknis realisasi
pembayarannya diatur hukum nasional. Di Indonesia teknis pembayaran L/C diatur oleh surat keputusan
Direksi Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia dan Kitab undang-undang hukum dagang.
Sementara, di Amerika diatur dalam Uniform Commercial Code (UCC) dan Inggris diatur dalam Bills of
Exchange Act 1882. UCP dan hukum nasional saling melengkapi dalam mewujudkan pembayaran L/C.
Khusus di Amerika, fungsi UCP sebagai payung bahkan dapat digantikan oleh UCC.