Anda di halaman 1dari 29

1

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
DIVISI INFEKSI

INFEKSI CACING PADA ANAK









Oleh:
Sri N. E. Simanjuntak
05 801 940


Penguji:
dr. Retno Hernik, Sp.A


SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSUD JAYAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
PAPUA
2012
2

DAFTAR ISI
Daftar Isi .......................................................... i
Daftar Tabel ...........................................................iii
Daftar Gambar ..........................................................iii
Referat
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................... 1
BAB II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN ........................................................... 3
2.1 Soil transmitted helminths ........................................................... 3
2.1.1 Ascaris Lumbricoides
a. Hospes dan nama penyakit ........................................................... 4
b. Epidemiologi ........................................................... 4
c. Morfologi dan daur hidup ........................................................... 5
d. Patologi dan gejala ........................................................... 6
e. Diagnosis ........................................................... 7
f. Pengobatan ........................................................... 7
g. Pencegahan ........................................................... 8
2.1.2 Trichuris trichiura
a. Hospes dan nama penyakit ........................................................... 8
b. Epidemiologi ........................................................... 8
c. Morfologi dan daur hidup ........................................................... 8
d. Patologi dan gejala ........................................................... 9
e. Diagnosis ........................................................... 10
f. Pengobatan ........................................................... 10
g. Pencegahan .......................................................... 11
2.1.3 Enterobius vermicularis
a. Hospes dan nama penyakit ........................................................... 11
b. Epidemiologi ........................................................... 11
c. Morfologi dan daur hidup ........................................................... 11
d. Patologi dan gejala ........................................................... 12
3

e. Diagnosis ................................................................. 12
f. Pengobatan ................................................................. 12
2.1.4 Cacing Tambang
a. Hospes dan nama penyakit ........................................................... 13
b. Epidemiologi .....................................................13
c. Morfologi dan daur hidup ........................................................... 13
d. Patologi dan gejala ........................................................... 14
e. Diagnosis ........................................................... 15
f. Pengobatan ........................................................... 15

2.2 Taeniasis
a. Definisi ................................................................ 15
b. Hospes ................................................................. 16
c. Sumber Penularan ................................................................. 16
d. Cara Penularan ................................................................. 16
e. Masa Tunas ................................................................. 17
f. Gejala Klinis ................................................................. 17
g. Diagnosis ................................................................. 18
h. Pengobatan ................................................................. 21
i. Pencegahan ................................................................. 22
BAB III. PENUTUP
KESIMPULAN ................................................................. 20
Daftar Pustaka ................................................................. 23






4

Daftar Tabel
Tabel 1. Infeksi Soil transmitted helminths pada manusia ................................ 3
Daftar Gambar
Gambar 1. Telur dan cacing Ascaris lumbricoides dewasa .................................. 5
Gambar 2. Siklus hidup Ascaris lumbricoides .................................................... 6
Gambar 3. Telur dan cacing Trichuris trichiura dewasa ...................................... 8
Gambar 4. Siklus hidup cacing Trichuris trichiura ............................................. 9
Gambar 5. Siklus hidup cacing tambang ...........................................................14
Gambar 6. Siklus hidup cacing Taenia solium ...................................................17



















5

BAB I
PENDAHULUAN

Infeksi kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya parasit (berupa
cacing) kedalam tubuh manusia, parasit ini mempunyai tubuh yang simestris bilateral dan
tersusun dari banyak sel (multi seluler). Cacing yang penting atau cacing yang sering
menginfeksi tubuh manusia terdiri atas dua golongan besar yaitu filum Platyhelmithes dan
filum Nemathelminthes
1
.
Filum Platyhelmithes terdiri atas dua kelas yang penting yaitu kelas Cestoda dan kelas
Trematoda, sedangkan filum Nemathelmithes kelasnya yang penting adalah Nematoda.
Cacing gelang, cacing cambuk, cacing tambang adalah kelas Nematoda yang selalu parasitik
pada tubuh manusia dan menjadikannya sebagai tempat hidup dan berkembang biak atau
hospes definitif.
Jenis cacing yang sering ditemukan dapat menimbulkan infeksi adalah cacing ascaris
lumbricoides (A. lumbricoides), cacing Trichuris trichiura (T. trichiura) dan cacing tambang
Necator americanus (N. americanus) dan Ancylostoma duodenalle (A. duodenalle) dan
cacing Strongyloides stercoralis (S. stercoralis) dimana cara penularanya melalui tanah atau
yang disebut dengan Soil Transmitted Helminths atau STH (Anonim, 2008). STH adalah
kelompok cacing golongan nematoda, yang dalam perkembanganya memerlukan tanah untuk
berkembang menjadi bentuk infektif
1
.

Di Indonesia infeksi kecacingan merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai.
Angka kejadian infeksi cacingan yang tinggi tidak terlepas dari keadaan Indonesia yang
beriklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi serta tanah yang subur yang merupakan
lingkungan yang optimal bagi kehidupan cacing. Infeksi cacingan tersebar luas, baik di
pedesaan maupun di perkotaan. Infeksi kecacingan ini berhubungan erat dengan perilaku
hidup sehat dan hygiene sanitasi lingkungan. Infeksi kecacingan bisa menyebabkan
morbiditas yang dapat menyerang semua golongan terutama golongan penduduk yang kurang
mampu sehingga beresiko terinfeksi oleh cacing. Infeksi parasit cacing merupakan problem
kesehatan yang masih sering terlewatkan begitu saja. Hal ini disebabkan karena minimnya
perhatian terhadap penyakit ini, meskipun jika diperhitungkan dapat berakibat yang sangat
merugikan. Memang secara klinis sering tidak menampakkan gambaran yang jelas dan
keluhan yang berarti, tetapi infeksinya yang bersifat menahun akan mengakibatkan terjadinya
6

ketidakseimbangan pemenuhan kecukupan gizi. Karena sifat parasitnya, maka cacing akan
mengambil jatah makan yang berasal dari intake yang sesungguhnya berfungsi untuk
mencukupi proses-proses metabolisme tubuh penderita
1
.

Di dunia saat ini, lebih dari 2 milyar penduduk terinfeksi cacing. Prevalensi yang
tinggi ditemukan terutama di negara-negara non industri (negara yang sedang berkembang).

Merid mengatakan bahwa menurut World Health Organization (WHO) diperkirakan 800
juta1 milyar penduduk terinfeksi Ascaris, 700900 juta terinfeksi cacing tambang, 500 juta
terinfeksi trichuris.

Di Indonesia penyakit cacing merupakan masalah kesehatan masyarakat
terbanyak setelah malnutrisi. Prevalensi dan intensitas tertinggi didapatkan dikalangan anak
usia sekolah dasar. Oleh sebab itu penting bagi kalangan masyarakat terutama orang tua
untuk mengetahui bagaimana infeksi kecacingan ini terjadi dan bagaimana cara mengobati
serta mencegahnya
2
.

Pembahasan kali ini adalah mengenai infeksi-infeksi cacing yang banyak ditemukan
di Indonesia, yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Oxyuris vermicularis, dan
Necator americanus et duodenale yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminth
yaitu kelompok cacing yang siklus hidupnya melalui tanah, dan kelompok Taenia Sp
3
.
















7


BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Penyakit infeksi kecacingan merupakan salah satu penyakit yang masih banyak terjadi
di masyarakat namun kurang mendapatkan perhatian (neglected diseases). Penyakit yang
termasuk dalam kelompok neglected diseases memang tidak menyebabkan wabah yang
muncul dengan tiba-tiba ataupun menyebabkan banyak korban, tetapi merupakan penyakit
yang secara perlahan menggerogoti kesehatan manusia, menyebabkan kecacatan tetap,
penurunan intelegensia anak dan pada akhirnya dapat pula menyebabkan kematian.
3


2.1 Soil Transmitted Helminths
Soil-transmitted helminths merupakan kelompok parasit cacing nematoda yang
menyebabkan infeksi pada manusia akibat tertelan telur atau melalui kontak dengan larva
yang berkembang dengan cepat pada tanah yang hangat dan basah di negara-negara subtropis
dan tropis di berbagai belahan dunia. Bentuk dewasa soil-transmitted helminths dapat hidup
selama bertahun-tahun di saluran percernaan manusia. Lebih dari dua milyar penduduk dunia
terinfeksi oleh paling sedikit satu spesies cacing tersebut, terutama yang disebabkan oleh A.
lumbricoides, T. trichiura dan cacing tambang (WHO, 2005; WHO, 2006).
4

Tabel 1. Infeksi soil-transmitted helminths pada manusia
4
(Sumber : Dewi S. Soil transmitted helmints. 2010. Diunduh dari:
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16639/4/chapter%20II.pdf)

Cacing Penyebab Utama di Seluruh Dunia Penyakit Perkiraan populasi
yang terinfeksi (juta)
Ascaris lumbricoides Infeksi cacing gelang 807-1221
Trichuris trichiura Infeksi cacing cambuk 604-795
Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale
Infeksi cacing tambang 576-740
Strongyloides strecoralis Infeksi cacing benang
(threadworm)
30-100
Enterobius vermicularis Infeksi cacing kremi 4-28% anak
8


2.1.1. Ascaris lumbricoides
a. Hospes dan nama penyakit
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Penyakit yang
disebabkannya disebut askariasis.
5
b. Epidemiologi
Ascaris lumbricoides merupakan nematoda usus terbesar. Angka kejadiannya
di dunia lebih banyak dari cacing lainnya, diperkirakan lebih dari 1 milyar orang di
dunia pernah terinfeksi dengan cacing ini. Hal ini disebabkan karena telur cacing ini
lebih tahan terhadap panas dan kekeringan.Tidak jarang ditemukan infeksi campuran
dengan cacing lain, terutama Trichuris trichiura
2,6
.
Menurut Bethony dkk, 2006 cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit
yaitu tersebar di seluruh dunia, frekuensi terbesar berada di negara tropis yang
lembab, dengan angka prevalensi kadangkala mencapai di atas 50%. Meskipun infeksi
cacing ini dapat terjadi pada segala usia, namun angka prevalensi dan intensitas
infeksi tertinggi terjadi pada anak usia sekolah, 5-15 tahun
4,5,6
.
Manusia dapat terinfeksi dengan cara menelan telur cacing yang infektif ( telur
yang mengandung larva ). Di daerah tropis, infeksi cacing ini mengenai hampir
seluruh lapisan masyarakat, dan anak lebih sering terinfeksi. Endemisitas perbedaan
insiden dan intensitas infeksi pada anak dan orang dewasa kemungkinan disebabkan
oleh karena berbeda dalam kebiasaan, aktivitas dan perkembangan imunitas yang
didapat
2
.
Pencemaran tanah oleh cacing lebih sering disebabkan oleh tinja anak. Di Indonesia,
kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja
di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat mencuci dan di tempat
pembuangan sampah
5
. Cara penularan pada manusia dari tangan ke mulut; jari-jari
yang terkontaminasi oleh kontak tanah. Cara lain, bahan makanan ( terutama segala
sesuatu yang dimakan mentah ) menjadi terinfeksi oleh pupuk manusia atau oleh lalat.
Endemisitas Askariasis dibantu oleh pengeluaran telur cacing yang sangat tinggi dan
resistensinya terhadap keadaan lingkungan yang tidak sesuai. Telur-telur terbukti
tetap infektif pada tanah selama berbulan-bulan dan dapat bertahan hidup di cuaca
yang lebih dingin (5-10C) selama 2 tahun. Penularan askariasis dapat terjadi
musiman atau sepanjang tahun
6,7
.

9


c. Morfologi dan daur hidup
Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan yang betina 22-35 cm. Stadium
dewasa hidup di rongga usus muda. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak
100.000-200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi.







Gambar 1. Telur dan cacing Ascaris lumbricoides dewasa
8

(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)

Telur yang dibuahi dalam lingkungan yang sesuai berkembang menjadi bentuk
infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh
manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju
pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti
aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding
alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan
bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan
pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam
esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing
dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu
kurang lebih 2 bulan.
5
10



Gambar 2. Siklus Hidup Ascariasis lumbricoides
8
1)Cacing dewasa, 2)Telur infertil dan telur fertil, 5)Larva yang telah menetas, 7)Larva matur

(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)
d. Patologi dan Gejala Klinis
Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan
larva. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang
penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan
berkurang, diare atau konstipasi.
5
Status nutrisi anak dengan askariasis dapat lebih
dipengaruhi oleh latar belakang sosioekonomik dan nutrisinya daripada oleh pengaruh
infeksi askaris
6,9
.
Morbiditas dapat bermanifestasi selama migrasi larva yang melalui paru-paru
atau dihubungkan dengan adanya cacing dewasa di usus halus.
Askariasis paru dapat terjadi paska pemajanan yang berat dan juga sering pada
individu yang hidup di daerah dengan penularan infeksi musiman. Tanda-tanda yang
paling khas adalah batuk, sputum berbercak darah dan eosinofilia. Pada foto thoraks
tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut
sindrom Loeffler
5,6
.
11

Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga
memperberat keadaan malnutrisi. Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing ini
menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus).

Adanya cacing
dewasa pada usus halus disertai dengan keluhan tidak jelas seperti nyeri perut dan
kembung. Obstruksi usus walaupun jarang, dapat karena massa cacing pada anak
yang terinfeksi berat; insiden puncak terjadi pada anak umur 1-6 tahun. Mulainya
biasanya mendadak dengan nyeri perut kolik berat dan muntah, yang dapat berbercak
empedu; gejala ini dapat memperburuk dengan cepat dan menyertai perjalanan yang
serupa dengan obstruksi usus akut etiologi lain apapun
6
.
e. Diagnosis
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara
langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis askariasis. Selain itu
diagnosis dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui mulut atau
hidung, maupun melalui tinja.
Diagnosis askariasis paru atau obstruktif didasarkan terutama pada data klinis
dan indeks kecurigaan tinggi
5,6
.
f. Pengobatan
Beberapa agen kemoterapeutik efektif melawan askariasis; namun tidak ada
yang berguna selama fase infeksi paru. Pengobatan, terutama dengan anak dengan
infeksi berat harus didekati dengan hati-hati. Pemberian Piperazin sitrat ( 150
mg/kgBB peroral dosis inisial, diikuti oleh 6 dosis masing-masing 65mg/kgBB
interval pemberian tiap 12 jam secara peroral), menyebabkan paralisis neuromuskular
parasit dan pengeluaran cacing relatif cepat, sehingga obat ini adalah obat pilihan
untuk obstruksi usus atau saluran empedu
6
.
Terapi pilihan untuk ascariasis gastrointestinal meliputi albendazole (400 mg
peroral dosis tunggal, untuk segala usia), mebendazole (100 mg 2 kali sehari peroral
selama 3 hari atau 500 mg peroral dosis tunggal untuk segala usia), atau pyrantel
pamoate (11 mg/kgBB peroral dosis tunggal, maksimum 1 gram). Karena
hipersentivitas sporadis dan reaksi neurotoksik telah dilaporkan dengan derivat
piperazin, obat-obat lain seperti mebendazol (100 mg dua kali sehari selama 3 hari)
harus digunakan untuk mengobati askariasis tidak terkomplikasi atau dengan
albendazol dosis tunggal 400 mg. Tindakan operatif mungkin diperlukan pada
keadaan dimana terjadi obstruksi yang berat.
6,10
.

12

g. Pencegahan
Anjuran mencuci tangan sebelum makan, menggunting kuku secara teratur,
pemakaian jamban keluarga serta pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan,
tidak menggunakan feses manusia sebagai pupuk dapat mencegah askariasis
5,6
.
2.1.2 Trichuris trichiura
a. Hospes dan nama penyakit
Manusia merupakan hospes cacing ini. Penyakit yang disebabkannya disebut
trikuriasis
5
.
b. Epidemiologi
Cacing ini bersifat kosmopolit; terutama ditemukan di daerah panas dan
lembab, dan juga di daerah-daerah dengan sanitasi yang buruk, cacing ini jarang
dijumpai di daerah yang gersang, sangat panas atau sangat dingin. Cacing ini
merupakan penyebab infeksi cacing kedua terbanyak pada manusia di daerah tropis.

Angka infeksi tertinggi pada anak terjadi pada usia 5-15 tahun. Penularan terjadi
melalui kontaminasi tangan, makanan (sayur atau buah yang dipupuki dengan pupuk
kotoran manusia) atau minuman. Transmisi juga dapat terjadi secara langsung melalui
lalat atau serangga lain
1,4,5,6
. Jumlah cacing dapat bervariasi, apabila jumlahnya
sedikit pasien biasanya tidak terpengaruh dengan adanya cacing ini
8
.
c. Morfologi dan daur hidup
Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan kira-kira 4
cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang
seluruh tubuh. Cacing dewasa ini hidup di kolon asendens dan caecum dengan bagian
anteriornya (spikulum) yang seperti cambuk masuk ke dalam mukosa usus. Di tempat
itulah cacing mengambil makanannya. Seekor cacing betina diperkirakan
menghasilkan telur setiap hari antara 3.000-10.000 butir
1,5,9
.







Gambar 3. Telur dan Cacing dewasa T. Trichiura
8
(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)
13

Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan
dengan semacam peninjolan yang jernih pada kedua kutub. Telur yang dibuahi
dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3-
6 minggu dalam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat
yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif.
Di dalam tanah, memerlukan sekurang-kurangnya 3 - 4 minggu untuk menjadi
embrio
2,5
. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang.
Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus.di dalam usus
dapat menetap selama 3-10 hari. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke bagian
distal dan masuk ke daerah kolon, terutama caecum. Jadi cacing ini tidak mempunyai
siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa
betina meletakkan telur kira-kira 30-90 hari.
5

















Gambar 4. Siklus hidup cacing Trichuris trichiura
8
(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)

d. Patologi dan Gejala klinik
Cacing Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di caecum, akan
tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat terutama pada anak-
14

anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum. Kadang-kadang terlihat di
mucosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu
defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi
trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat
perlekatannya dapat terjadi perdarahan. Disamping itu cacing ini ini mengisap darah
hospesnya, sehingga dapat menyebabkan anemia
5,9
.
Pendeita terutama anak dengan infeksi trichuris yang berat dan menahun,
memunjukkan gejala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom
disentri, anemia, berat badan turun, hipoproteinemia dan kadang-kadang disertai
prolapsus rekti
2,4,5,6
.
e. Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja.
5
f. Pengobatan
Mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari atau dosis tunggal 500 mg untuk
segala usia adalah obat yang aman dan efektif
5,6
; obat ini mengurangi pengeluaran
telur sekitar 90-99% dan angka kesembuhannya mencapai 70-90%
6
.
Obat alternatif yang digunakan yaitu Albendazol dosis tunggal 400 mg peroral
untuk segala usia
5
atau 400 mg peroral perhari selama 3 hari
9,10
.
Pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2008 oleh Yunus.R, mengenai
keefektifan albendazole pemberian sekali sehari selama 1, 2 dan 3 hari dalam
menanggulangi infeksi T. Trichiura pada anak sekolah dasar di Kecamatan Medan
Tembung, didapatkan hasil bahwa Cure Rate pemberian Albendazole dosis tunggal
selama 3 hari lebih efektif dibanding pemberian dosis tunggal selama 1 atau 2 hari.
Angka Egg Reduction Rate (ERR) mencapai 99,64% dan Cure Rate (CR) mencapai
95,65% untuk infeksi intensitas ringan. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Sirivichayakul C, dkk tahun 2003 yang menyarankan pemakaian
Albendazole selama 3 hari untuk menanggulangi infeksi cacing cambuk intensitas
ringan, sedangkan untuk infeksi berat diperlukan pengobatan selama 5 hingga 7
hari
10
.
Alternatif lain yaitu Pirantel pamoat dosis tunggal 10-15 mg/kgBB
5
.
Terdapat lisensi terapi yang terbaru saat ini yaitu Nitazoxanide, obat ini telah
menunjukkan angka penyembuhan yang lebih tinggi dibanding dengan albendazol
dosis tunggal.

15

Dosis yang dipakai yaitu:
1 3 tahun : 2 x 100 mg selama 3 hari ( peroral )
4 11 tahun : 2 x 200 mg selama 3 hari ( peroral )
Dewasa : 2 x 500 mg selama 3 hari ( peroral )
6
.
g. Pencegahan
Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan personal,
meningkatkan kondisi sanitasi dan mengeliminasi penggunaan feses manusia sebagai
pupuk
6
.

2.1.3 Enterobius vermicularis - Pinworm (Oxyuris vermicularis)
a. Hospes dan nama penyakit
Manusia adalah satu-satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobiasis atau
oksiuriasis
5
.

b. Epidemiologi
Parasit ini kosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada
di daerah panas.
5
Prevalensi infeksi ini paling tinggi terjadi pada anak antara umur 5-
14 tahun. Pada umumnya berada di sekitar tempat tinggal, tempat bermain anak atau
pada anak yang tidur secara bersama-sama, hal-hal tersebut dapat memfasilitasi
transmisi telur cacing. Autuinokulasi dapat terjadi pada individu yang memiliki
kebiasaan memasukkan atau mengisap-isap jari
6
.

c. Morfologi dan daur hidup
Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Cacing jantan berukuran 2 5
mm. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga caecum, usus besar dan di usus halus
yang berdekatan dengan rongga caecum. Makanannya adalah isi dari usus.
Cacing betina yang gravid mengandung 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi ke
daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-
telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur
menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan.
Telur resisten terhadap desifektan dan udara dingin, dala keadaan lembab telur dapat
hidup sampai 13 hari.

16

Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan
mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur.
Infeksi cacing kremi terjadi bila menelan telur matang, atau bila larva dari telur
menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Waktu yang diperlukan
untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing
dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu
sampai 2 bulan. Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited), bila tidak
ada reinfeksi, tanpa pengobatanpun infeksi dapat berakhir
5
.

d. Patologi dan gejala klinis
Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti.
Gejala klinis yang menonjol disebabkan oleh stimulasi mekanik dan iritasi di sekitar
anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah
tersebut sehingga menyebabkan pruritus lokal
5,6
.
Gejala klinis yang paling umum adalah rasa gatal dan kesulitan tidur oleh
karena pruritus nokturnal. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke
usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga
menyebabkan gangguan di daerah tersebut.
5

e. Diagnosis
Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di sekitar
anus pada waktu malam hari. Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dan cacing
dewasa. Telur cacing dapat diambil dengan mudah denagn alat anal swab yang
ditempelkan di sekitar anus pada waktu pagi hari sebelum anak buang air besar atau
membilas setelah buang air besar
5
.

f. Pengobatan
Obat antihelmintik sebaiknya diberikan kepada individual yang terinfeksi juga
kepada seluruh anggota keluarganya. Dosis tunggal mebendazol (100 mg peroral
untuk segala usia) diberikan, lalu diulang pada 2 minggu, angka kesembuhan dapat
mencapai 90-100%.
Regimen alternatif lainnya yaitu albendazol dosis tunggal (400 mg peroral
untuk segala usia) diulang kembali setelah 2 minggu atau pirantel pamoat (11
mg/kgBB peroral) dosis tunggal.
6

17

Mebendazol efektif terhadap semua stadium perkembangan cacing kremi,
sedangkan pirantel dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium muda.
5
Membiasakan
anak mandi pagi akan menyingkirkan telur cacing ini dalam porsi besar. Frekuensi
mengganti pakaian dalam, perlengkapan tempat tidur, sprei akan mengurangi resiko
lingkungan tempat tinggal yang terinfeksi telur cacing dan mengurangi resiko
terjadinya autoinfeksi.
6

2.1.4 Infeksi cacing tambang
a. Hospes dan nama penyakit
Manusia adalah hospes parasit ini. Parasitnya terdiri dari Necator americanus
dan Necator duodenale. Penyakitnya disebut necatoriasis dan ankilostomiasis
5
.

b. Epidemiologi
Kedua parasit ini diberi nama cacing tambang karena pada zaman dahulu
cacing ini ditemukan di Eropa pada pekerja pertambangan, yang belum mempunyai
fasilitas memadai
5
. Penyebaran cacing ini di seluruh daerah khatulistiwa dan di
tempat lain dengan keadaan yang sesuai, misalnya di daerah pertambangan dan
perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan. Antara
tahun 1972-1979 prevalensi di berbagai daerah di Indonesia adalah 50%. Pada survei-
survei yang dilakukan Departemen Kesehatan di sepuluh propinsi di Indonesia antara
tahun 1990-1991 hanya didaptkan 0 - 24,7%. Infeksi N. Americanus lebih luas
penyebarannya dibandingkan A. Duodenale, dan spesies ini juga merupakan
penyebab utama infeksi cacing tambang di Indonesia
3,5
.

c. Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa berbentuk silindris dengan kepala membengkok tajam ke
belakang. Terdapat 2 stadium larva yaitu larva rhabditiform yang tidak infektif dan
larva filariform yang infektif. Penularannya melalui kontak dengan tanah. Cacing
betina N. americanus dapat memproduksi 10.000 telur sehari dan A. duodenale
memproduksi 20.000 telur sehari
3,4
.




18
















Gambar 5. Siklus hidup cacing tambang
8
(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)
d. Patologi dan gejala klinis
Infeksi ringan cacing ini biasanya ditandai dengan sedikit gejala atau tanpa
gejala sama sekali. Pada infeksi yang berat, kelainan patologi yang terjadi disebabkan
oleh 3 fase sebagi berikut:
1. Fase cutaneus, yaitu cutaneus larva migrans, berupa efek larva menembus kulit.
Larva ini menyebabkan dermatitis yang disebut Ground itch. Timbul rasa nyeri dan
gatal pada tempat penetrasi
4,5
.
2. Fase pulmonary, berupa efek yang disebabkan oleh migrasi larva dari pembuluh
darah kapiler ke alveolus. Larva ini menyebabkan batuk kering, asma yang disertai
dengan wheezing dan demam
4
.
3. Fase intestinal, berupa efek yang disebabkan oleh perlekatan cacing dewasa pada
mukosa usus halus dan pengisapan darah. Cacing ini dapat mengiritasi usus halus
menyebabkan mual, muntah, nyeri perut, diare, dan feses yang berdarah dan berlendir.
Anemia defisiensi besi dijumpai pada infeksi cacing tambang kronis akibat
kehilangan darah melalui usus akibat dihisap oleh cacing tersebut di mukosa usus.
Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status
besi tubuh dan gizi penjamu, beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita),
19

serta spesies cacing tambang dalam usus. Infeksi A. Duodenale menyebabkan
perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N. Americanus
3
. Jumlah darah yang
hilang per hari per satu ekor cacing adalah 0,03 mL pada infeksi Necator americanus
dan 0,15 mL pada infeksi Ancylostoma duodenale. Jumlah darah yang hilang setiap
harinya adalah 2 mL/1000 telur/gram tinja pada infeksi Necator americanus dan 5
mL/1000 telur/gram tinja pada infeksi Ancylostoma duodenale, sehingga kadar
hemoglobin dapat turun mencapai level 5 gr/dl atau lebih rendah
4
.

e. Diagnosis
Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa dilakukan untuk
menemukan telur cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses.
Pemeriksaan feses basah dengan fiksasi formalin 10% dilakukan secara langsung
dengan mikroskop cahaya. Tanda-tanda anemia defisiensi besi yang sering dijumpai
adalah anemia mikrositik hipokrom, kadar besi serum yang rendah, kadar total iron
binding capacity yang tinggi
3
.

f. Pengobatan
Mebendazole dikatakan dapat bekerja pada semua stadium nematoda usus.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat efikasi mebendazole ini seperti
Abadi (1985) pada pemberian mebendazole 500 mg dosis tunggal mendapat angka
penyembuhan 93,4%, 77,6%, dan 91,1% untuk A. Lumbricoides, T. Trichiura dan
cacing tambang
4
. Dalam hal ini pada pengobatan infeksi cacing tambang, 100 mg obat
diminum pada pagi dan malam hari selama 3 hari berturut-turut atau dengan dosis
tunggal 500 mg
7
. Apabila belum sembuh, dosis ini dapat diulang 3 minggu
kemudian
4
.

2.2 Taeniasis
a. Definisi
Cacing ini dikenal dengan nama umum cacing pita. Yang penting di indonesia
yaitu taenia saginata dan taenia solium. Penyakitnya disebut Taeniasis. Taeniasis ialah
penyakit zoonosis parasiter yang disebkan oleh cacing pita yang tergolong dalam
genus Taenia (Taenia saginata, Taenia solium) pada manusia.
20

Sistiserkosis (Cysticercosis) ialah infeksi oleh bentuk larva Taenia solium
(Cysticercus Cellulosa) pada manusia. Apabila infeksi tersebut berlangsung pada
sistim saraf pusat, maka disebut Neurosistiserkosis ( Neurocysticercosis )
11
.

b. Hospes
Hospes definitif dari Taenia Sp hanya manusia, kecuali untuk Taenia Solium,
manusia juga berperan sebagai hospes perantara. Sedangkan hewan (hospes) perantara
ialah babi untuk Taenia Solium dan sapi untuk Taenia saginata
5,11
.

c. Sumber Penularan
Sumber penularan taeniasis/sistiserkosis :
1. Penderita teaniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau proglotid cacing
pita.
2. Hewan (terutama) babi, sapi yang mengandung larva cacing pita (cysticercus).
3. Makanan / minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur-telur cacing pita.

d. Cara Penularan
Seseorang bisa terkena infeksi cacing pita (taeniasis) melalui makanan yaitu
memakan daging yang mengadung larva, baik larva yang terdapat pada daging sapi
(Cysticercus bovis) maupun larva Taenia Solium (Cysticerosis cellulosa) yang
terdapat pada daging babi. Sedangkan penularan sistiserkosis / neurosistiserkosis pada
manusia adalah melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh telur-telur cacing
Taenia Solium. Penularan dapat juga terjadi karena autoinfeksi, yaitu langsung
melalui ano-oral akibat kebersihan tangan yang kurang dari penderita Taniasis solium,
atau autoinfeksi internal akibat adanya gerakan antiperistatik dari usus. Telur Taenia
saginata tidak menimbulkan sistiserkosis pada manusia.








21



















Gambar 6. Siklus hidup cacing Taenia Solium
8
(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm)

e. Masa Tunas
Masa tunas infeksi cacing berkisar antara 8-14 minggu. Cacing pita dewasa
dapat tahan hidup sampai 25 tahun dalam usus.

f. Gejala Klinis
Taeniasis
Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak patognomonis (khas).
Sebagian kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatik). Gejala klinis dapat timbul
sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut
antara lain rasa tidak enak pada lambung , nausea (mual), badan lemah, berat badan
menurun, nafsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi (sukar buang air besar),
pusing, diare, dan pruiritus ani (gatal pada lubang pelepasan). Pada pemeriksaan darah
tepi (hitung jenis) terjadi peningkatan eosinofil (eosinofilia) Gejala klinis taeniasis
solium hampir tidak dapat dibedakan dari gejala klinis taeniasis saginata
10
.
22

Secara psikologis penderita dapat merasa cemas karena adanya segmen /
proglotid pada tinja dan pada Taenia saginata segmen dapat lepas dan bergerak
menuju sphincter anal yang merupakan gerakan spontan dari segmen.
Sisterkosis
Gejala klinis yang timbul tergantung dan letak jumlah, umur, dan lokasi dari
kista. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala atau dapat ditemukan
adanya nodul subkutan. Sistiserkosis serebri sering menimbulkan gejala epilepsi atau
gejala tekanan intrakranial meninggi dengan sakit kepala dan muntah yang
menyerupai gejala tumor otak. Pada kasus yang berlangsung lama dapat dijumpai
bintik kalsifikasi dalam otak.

g. Diagnosis
Taeniasis
Diagnosa taeniasis dapat ditegakkan dengan 2 ( dua ) cara yaitu :
a) Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis).
Didalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah
mengeluarkan proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar
maupun secara spontan. Bila memungkinkan sambil memperhatikan contoh potongan
cacing yang diawetkan dalam botol transparan.
b) Pemeriksaan tinja
Tinja yang diperiksa adalah tinja sewaktu berasal dari defekasi spontan.
Sebaiknya diperiksa dalam keadaan segar. Bilamana ditemukan telur cacing Taenia
Sp, maka pemeriksaan menunjukkan hasil positif taeniasis.
Pada pemeriksaan tinja secara makroskopis dapat juga ditemukan proglotid jika
keluar.
Dinyatakan penderita taeniasis, taeniasis, apabila ditemukan telur cacing Taenia Sp
pada pemeriksaan tinja secara mikroskapis dan / atau adanya riwayat mengeluarkan
progloid atau ditemukan prohlotid pada pemeriksaan tinja secara makroskopis dengan
atau tanpa disertai gejala klinis
11
.

Sistiserkosis
Dinyatakan tersangka sistiserkosis apabila pada
a) Anamnesis :
1. Berasal dari / berdomisili didaerah endemis taeniasis / Sistiserkosis
23

2. Gejala taeniasis ( )
3. Riwayat mengeluarkan proglotid ( )
4. Benjolan ( nodul subkutan ) pada salah satu atau lebih bagian tubuh ( + )
5. Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya ( )
6. Riwayat / gejala epilepsi ( - )
7. Gejala peninggian tekanan intra kranial ( - )
8. Gejala neurologis lainnya (- )

b) Pemeriksaan fisik :
1. Teraba benjolan /nodul sub kutan atau intra muskular satu lebih
2. Kelainan mata ( oscular cysticercosis ) dan kelainan lainnya yang disebabkan oleh
sistiserkosis ( )
3. Kelainan neurologis ( - )

c) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja secara makroskopis : Proglotid ( )
2. Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : telur cacing taenia sp ( )
3. Pemeriksaan serologis : sistiserkosis ( + )
4. Pemeriksaan biopsi pada nodul subkutan gambaran menunjukkan patologi anatomi
yang khas untuk sistiserkosis (+)

Paling sedikit gejala klinis yang harus ditemukan pada tersangka sistiserkosis
ialah teraba benjolan/nodul subktan atau intra muskular baik satu atau lebih pada
orang yang berasal dari/berdomisili di daerah endemis taeniasis / sistiserkosis.
Dinyatakan penderita sistiserkosis apabila pada tersangka sistiserkosis sudah
dipastikan diagnosisnya dengan pemeriksaan serologis danatau pemeriksaan biopsi.
Pemeriksaan serologis dilakukan dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immuno
Sorbent Assay) dan atau Immunoblot Spesimen yang diperiksa berupa serum (darah
vena yang diambil kurang lebih 5ml).
Pada tersangka sistiserkosis yang menunjukkan respon positif terhadap obat
sistiserkosis, membantu menegakkan diagnosis (dapat dianggap sebagai penderita
sistiserkosis)
11
.


24

Neurosistiserkosis
Dinyatakan tersangka neurosistusekosis apabila :
a) Anamnesis
1) Berasal dari / berdomisili didaerah endemis
2) Gejala taeniasis ( )
3) Riwayat mengeluarkan proglotid ( )
4) Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya ( )
5) Riwayat /gejala epilepsi ( +)
6) Gejala peninggian tekanan intra kranial ( )
7) Gejala neurologis lainnya ( )

b) Pemeriksaan fisik
Teraba benjolan / nodul sub kutan atau intra muskular satu atau lebih,
Kelainan mata ( ocular cysticercosis ) dan kelainan lainnya yang disebabkan
cysticercosis ( ),
Kelainan neurologis ( ).

c) Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan secara tinja makroskopis : proglotid (+)
2) Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : telur cacing Taenia sp ( + )
3) Pemeriksaan darah tepi : Hb , leukosit ( leukositosis ), Eritrosit, hitung jenis
(Eosinofilia), laju endap darah / LED ( meningkat ) dan gula darah
4) Punksi lumbal : sel ( eosinofil meningkat 70 % ), Protein ( meningkat 100
% ) glukosa ( menurun 70 % dibandingkan dengan glukosa darah ) NaCI
5) Pemeriksaan serologi ( ELISa dan atau Immunoblot ) : sistiserkosis (+)
Spesimen yang diperiksa berupa cairan otak ( LCS ) kurang lebih sebanyak 2-
3 cc.
6) Bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan foto kepala (untuk kista yang
sudah mengalami kalsifikasi) dan lebih baik lagi pemeriksaan CT Scan
(Computerized tomography scanning) atau MRI (magnetic resonance
imaging).


25

Paling sedikit gejala klinis yang harus ditemukan pada tersangka
neurosistiserkosis adalah adanya riwayat epilepsi / gejala epilepsi dengan atau tanpa
disertai sakit kepala yang berlangsung lebih dari dua minggu, serta mual dan / atau
muntah pada orang yang berasal dari / berdomisili di daerah endemis.

h. Pengobatan
1. Pengobatan taeniasis
Penderita Taeniasis diobati ( secara massal ) dengan Praziquantel , Dosis 100
mg / kg , dosis tunggal. Cara pemberian obat praziquantel adalah sebagai berikut:
a) Satu hari sebelum pemberian obat cacing, penderita dianjurkan untuk makan
makanan yang lunak tanpa minyak dan serat.
b) Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa.
c) Keesokan harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi obat cacing. Dua
sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris (MgS O4) 7,5 gram
untuk anak anak, sesuai dengan umur, yang dilarutkan dalam sirup (pemberian
sekaligus). Penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah
buang air besar , penderita diberi makan bubur.
d) Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang
berisi formalin 5-10 % untuk pemeriksaan telur Taenia sp.
e) Proglotid dan skoleks dikumpulkan dan disimpan dalam botol yang berisi alkohol
70 % untuk pemeriksaan morfologi yang sangat penting dalam identifikasi spesies
cacing pita tersebut.
f) Pengobatan taeniasis dinyatakan berhasil bila skoleks Taenia Sp. dapat ditemukan
utuh bersama proglotid.

2. Pengobatan sistiserkosis
a) Praziquantel dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, dosis tunggal /dibagi 3 dosis per oral
selama 15 hari, atau
b) Albendazole 15 mg/kg BB/hari, dosis tunggal dibagi 3 dosis per oral selama 7 hari
Untuk pengobatan dengan praziquantel maupun albendazole, reaksi dari tubuh dapat
dikurangi dengan memberikan kortikosteroid (prednison 1mg/kg BB/hari dosis
tunggal / dibagi 3 dosis atau dexamethasone dengan dosis yang setara dengan
prednison). Pemberian praziquantel maupun albendasole harus dibawah pengawasan
petugas kesehatan atau dilakukan dirumah sakit.
26

3. Penderita /tersangka neurosistiserkosis dirujuk ke rumah sakit
Pengobatan penderita neurosistiserkosis rumah sakit adalah sebagai berikut :
a) Preziquantael dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, dosis tunggal dibagi 3 dosis,
diberikan per oral selama 15 hari, atau
b) Albendazole 15 mg/kg BB/hari, dosis tunggal/dibagi 3 dosis, per oral
selama 30 hari.
Untuk mengurangi reaksi dari tubuh diberikan dexamethasone (atau prednison
dengan dosis yang setara dengan dexamethasone) selama 45 hari , diturunkan
bertahap :
1) 15 hari pertama diberikan 3x5 mg/hari, per oral
2) 15 hari kedua diberikan 2x5 mg/hari, per oral
3) 15 hari ketiga diberikan 1x5 mg/hari, per oral
Obatobat lain yang diberikan adalah obat-obat simptomatik dan suportif.

j. Pencegahan
1. Usaha untuk menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita taenasis
2. Pemakaian jamban keluarga ,sehingga tinja manusia tidak dimakan oleh babi dan
tidak mencemari tanah atau rumput.
3. Pemelihara sapi atau babi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan
sehingga tidak dapat berkeliaran.
4. Pemeriksaan daging oleh dokter hewan/mantri hewan di RPH, sehingga daging
yang mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor
dengan dinas Peternakan).
5. Daging yang mengandung kista tidak boleh dimakan. Masyarakat diberi gambaran
tentang bentuk kista tersebut dalam daging, hal ini penting dalam daerah yang banyak
memotong babi untuk upacara-upacara adat seperti di Sumatera Utara, Bali dan
Papua.
6. Menghilangkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah
matang atau mentah.
7. Memasak daging sampai matang ( diatas 57 C dalam waktu cukup lama ) atau
membekukan dibawah 10 selama 5 hari . Pendekatan ini ada yang dapat diterima
tetapi dapat pula tidak berjalan, karena perubahan yang bertentangan dengan adat
istiadat setempat akan mengalami hambatan. Untuk itu kebijaksanaan yang diambil
dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah tersebut
11
.
27

BAB III
PENUTUP
Infeksi kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya parasit (berupa
cacing) ke dalam tubuh manusia. Jenis cacing yang sering ditemukan dapat menimbulkan
infeksi terutama adalah cacing Ascaris lumbricoides, cacing Trichuris trichiura, cacing
Oxyuris vermicularis dan Cacing tambang yang termasuk dalam kelompok Soil-trnasmitted
helminths dan cacing Taenia solium.
Secara umum prognosa dari infeksi kecacingan ini adalah baik, jikalau anak tidak
mendapatkan suatu komplikasi yang lain dan diobati secara tepat. Penyakit infeksi cacing
sering diabaikan karena tidak selalu memberikan gejala klinis pada awal infeksi, namun
dampak jangka panjangnya selalu merugikan. Untuk mencegah penularan dari infeksi cacing
ini sendiri, diperlukan peran serta seluruh masyarakat untuk memutuskan rantai penularan
cacing yaitu melalui pola hidup yang bersih dan sehat, menghilangkan kebiasaan
menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk, juga menghindari kebiasaan memakan
makanan yang kurang matang.


















28

Daftar pustaka
1. Wiwied S. Infeksi cacing pada anak. Majalah panasea 2009. Tersedia dari: URL:
http://www.heqris.com/2009/08/infeksi-cacing-pada-anak-cacingan.html. [Diunduh
1 Januari 2012]
2. Ginting SA. Hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian cacingan
pada anak sekolah dasar di desa suka kecamatn tiga panah, kabupaten karo,
propinsi sumatra utara. 2002. Tersedia dari: URL:
http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-sri%20alemina.pdf. [Diunduh 1 Januari
2012]
3. Sumanto D. Faktor resiko infeksi cacing tambang pada anak sekolah. 2010.
Tersedia dari: URL: http://eprints.undip.ac.id/23985/1/DIDIK_SUMANTO.pdf.
[Diunduh 1 Januari 2012]
4. Dewi S. Soil transmitted helmints. 2010. Tersedia dari: URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16639/4/chapter%20II.pdf.
[Diunduh 03 Januari 2012]
5. Margono SS, Alisah S. Nematoda usus. Dalam: Gandahusada S, Ilahude H, Pribadi
W. (Penyunting) Parasitologi kedokteran. Jakarta: Gaya baru; 2006: 8-37
6. Dent AE, Kazura JW. Helminthic disease. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM,
Jenson HB, Stanton. (Penyunting) Nelson textbook of pediatrics, 18th ed.
Philadelphia: WB Saunders company; 2007. Part XVI section 16.
7. Hkelek M. Nematode infections. Tersedia dari: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/224011-overview. (Updated: Dec 5, 2011).
[Diunduh 03 Januari 2012]
8. Anonim. Laboratory identification of parasites of public health concern. 2011.
Parasite image library. Tersedia dari: URL:
http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Image_Library.htm. [Diunduh 16 januari
2012]
9. Siregar B. Definisi kecacingan. 2010. Tersedia dari: URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16404/4/Chapter%20II.pdf.
[Diunduh 6 Januari 2012]
10. Yunus R. Keefektifan albendazole pemberian sekali sehari selama 1, 2 dan 3 hari
dalam menanggulangi infeksi Trichuris trichiura pada anak sekolah dasar di
kecamatan medan tembung. 2008. Tersedia dari: URL:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6244. [Diunduh 10 Januari 2012]
29

11. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk pemberantasan
taeniasis/sistiserkosis di Indonesia. Tersedia dari: URL:
www.depkes.go.id/downloads/Taeniasis.pdf. [Diunduh 10 Januari 2012]