Anda di halaman 1dari 16

Review Jurnal

COOPERATION AND CONFLICT


DO STATES PLAY SIGNALING GAMES?
(James Igoe Walsh)

Arifasjah Riza Wibawa
Arrafina Muslimah
Putri Quarta
Saarah Ayu

PENULIS:
James Igoe Walsh adalah profesor yang mengajar ilmu politik di Universitas of North
Carolina di Charlotte. Ia mendapat gelar doctor di American University, Washington, 1996.

Tulisan ini adalah review dari sebuah jurnal mengenai perilaku Negara yang
kompetitif dan konfliktual ketika berhubungan dengan negara lain, yang pada saat proses
pengambilan keputusan, setiap langkah sangat diperhitungkan. Proses pengambilan
keputusan tersebut, dipengaruhi oleh sinyal yang diberikan oleh Negara lain. Oleh karena
itu, hubungan yang terjadi antar Negara diibaratkan seperti Signaling Games.

SIGNALING GAMES
Dalam dunia internasional, interaksi yang terjadi antar negara yang dipelajari dalam
studi hubungan internasional, menempatkan negara pada dua pilihan; kerjasama dan
konflik. Perilaku antar negara yang kompetitif dan konfliktual dalam jurnal ini, diibaratkan
seperti permainan atau Game Theory. Studi tentang konflik internasional dan kerjasama telah
lama ada pada teori permainan (Game Theory) untuk wawasan bagi negara-negara dalam
berinteraksi dan membuat asumsi teori permainan ini menjadi lebih realistis. Game Theory
menggambarkan bagaimana proses penalaran berlangsung dalam pengambilan sebuah
keputusan. Sebelum proses pengambilan keputusan, Negara cenderung menganalisis situasi
dan melihat sinyal yang diberikan oleh Negara yang bersangkutan, hal inilah yang disebut
dengan Signaling Games (Permainan Sinyal). Signaling Games merupakan model strategi
dimana satu pemain hanya memiliki sedikit informasi, sehingga tidak yakin tentang
preferensi pemain lainnya. Sedangkan bagi pemain yang mempunyai informasi lebih, dapat
mengambil beberapa tindakan lebih awal sebelum pemain lainnya. Negara dalam
permainan ini merupakan satu kesatuan aktor yang memiliki kepercayaan dan preferensi
sendiri
Andrew Kydd memperdalam aplikasi realisme dari teori permainan sinyal untuk
kebijakan luar negeri suatu negara pada akhir Perang Dingin. Menurutnya, kebangkitan
Mikhail Gorbachev sebagai pemimpin Uni Soviet menimbulkan dilema bagi pemimpin-
pemimpin Amerika. Bagaimana Amerika Serikat menanggapi sinyal kooperatif dari
kebijakan luar negeri yang diprakarsai oleh Uni Soviet dibawah pimpinan Gorbachev.
Langkah ini menjelaskan bagaimana konflik politik antara aktor domestik mempengaruhi
kebijakan luar negeri negara tersebut.

ELEMEN-ELEMEN DASAR SIGNALING GAMES
Signaling Games merupakan model strategi dimana satu pemain hanya memiliki
sedikit informasi, sehingga tidak yakin tentang preferensi pemain lainnya. Perbedaan
preferensi antar Negara, menghasilkan tipe pemain yang berbeda pula. Setiap pemain
memahami tipe dirinya, tetapi tidak yakin akan tipe pemain lainnya. Ketidakyakinan ini
memiliki 3 konsekuensi penting yaitu: pertama, kepercayaan pemain memengaruhi
tindakannya. Informasi lengkap yang dimiliki pemain, maka pemain dapat memprediksi
tindakan yang akan dipilih pemain lain. Kedua, Informasi yang kurang lengkap,
mendorong pemain salah mengartikan sinyal yang diberikan pemain lain. Sebagai contoh,
ketika ada dua Negara yang memiliki itensi yang berbeda, dalam mengatasi suatu
permasalahan. Satu negara berniat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, di satu sisi
negara lain ingin mempertahankan status quo. Ketiga, kemungkin dalam salah mengartikan
sinyal, membuat dorongan yang kuat bagi para pemain untuk menggunakan semua
informasi yang tersedia untuk membentuk kepercayaan yang akurat tentang tipe pemain-
pemain lainnya. Sinyal yang disampaikan, haruslah tepat, sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman.

BELIEFS ARE NOT ENOUGH: DOMESTIC POLITICAL CONFLICT AND SIGNALING
Dalam literature penekanan pemain veto, perubahan kebijakan biasanya harus
diratifikasi tidak hanya oleh pemimpin cabang eksekutif, namun oleh pemain veto dalam
negeri sendiri seperti legislatif, peradilan yang independen, birokrasi pemerintah, atau
kelompok-kelompok kepentingan. Pilihan kebijakan adalah kompromi antara titik ideal dari
pemain veto. Pemain veto mungkin menginginkan untuk merespon sinyal asing dengan 2
alasan. Pertama, para pemain veto dapat memegang keyakinan yang sebelumnya atas
perbedaan tipe negara lain dan memimpin mereka untuk mendukung respon kebijakan
yang berbeda. Kedua, pemain veto dapat mengadvokasi kebijakan yang berbeda karena
mereka memegang pemesanan preferensi yang berbeda atas hasil interaksi internasional.
Setiap perubahan dalam kebijakan luar negeri kemungkinan akan menghasilkan manfaat
untuk mengubah perilaku ancaman dari negara lain.
Data berikut merupakan diskusi keyakinan dan preferensi sebuah negara untuk
mengembangkan hipotesis spesifik tentang bagaimana negara akan merespon sinyal dari
negara lainnya:
a. Preferensi dan Keyakinan Serupa
Kesepakatan antara para pemain veto akan respon yang tepat untuk sinyal
asing harus lebih mudah ketika mereka berbagi keyakinan dan preferensi yang
sama. Dalam situasi seperti ini, perdebatan dikalangan para pemain veto sangat
singkat dan harus terfokus pada taktik ketimbang strategi.
b. Preferensi Sama dan Keyakinan Berbeda
Para pemain veto memiliki preferensi yang sama mengenai akhir dari
kebijakan luar negeri yang mereka inginkan, namun mereka juga memiliki
keyakinan yang berbeda mengenai tipe sejati dari negara lain. Dalam situasi seperti
ini, perdebatan antar para pemain veto masih terjadi dan menimbulkan negosiasi
untuk menentukan kebijakan luar negerinya yang lebih baik.
c. Preferensi berbeda dan keyakinan sama
Dalam hal ini, upaya persuasi harus efektif antar pemain veto karena semua
pemain saling berbagi keyakinan yang sama mengenai konsekuensi dari perubahan
kebijakan luar negeri mereka.
d. Preferensi dan keyakinan berbeda.
Dalam situasi seperti ini, sebuah kesepakatan antara pemain veto akan sulit
untuk dicapai. Bukan hanya itu saja, kebijakan luar negeri yang baru juga akan sulit
untuk dilaksanakan.

ARGUMEN DAN PANDANGAN PENULIS
Argumen penulis adalah bahwa kecenderungan dalam literatur permainan signaling
untuk memperlakukan negara sebagai aktor kesatuan mengaburkan perbedaan-perbedaan
yang ada. Perbedaan-perbedaan ini adalah hasil dari konflik politik antara pemain veto
yang memiliki perbedaan keyakinan tentang negara lain yang mempunyai maksud
sebenarnya dari negara lain atau preferensi yang berbeda mengenai hasil interaksi
internasional. Permainan mengirimkan sinyal adalah cara yang sesuai ketika kebijakan hak
veto pemain memegang preferensi dan keyakinan yang sama, tetapi harus dilengkapi
dengan analisis konflik politik domestik ketika pembatasan tidak lagi terpegang.
Argumen penulis bukan menjelaskan bagaimana mengubah keyakinan menjadi
sesuatu kontribusi yang penting dalam permainan pendekatan sinyal. Sebaliknya, kita perlu
bergerak untuk menjelaskan bagaimana keyakinan berubah untuk menyelidiki bagaimana
dan kapan para pembuat keputusan mampu untuk menerjemahkan keyakinan baru mereka
dalam kebijakan komitmen. Pemahaman lengkap tentang interaksi negara harus mampu
menjelaskan mengapa mengubah keyakinan dan kondisi di mana keyakinan baru
melakukan dan tidak mempengaruhi kebijakan. Permainan mengirimkan sinyal ini
menyediakan model yang keras dalam berbicara pada proses pertama tetapi sangat tenang
dalam proses kedua.

Artikel Pembanding
OTOKRASI AUDIENCE COSTS: TIPE REZIM DAN PENYELESAIANNYA (JESSICA L.
WEEKS)
Dalam suatu bentuk pemerintahan, demokrasi pada saat ini memiliki keunggulan
yang bersifat aksiomatis atau dapat diterima sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian.
Hal ini dikarenakan rakyat berada pada kekuasaan tertinggi. Pemimpin akan mendapat
hukuman atau ancaman publik berupa penyerahan, yang diyakini oleh rakyat dapat
meningkatkan kemampuan pemimpin dalam menyelenggarakan aspirasi rakyat. Dalam
demokrasi aspirasi-aspirasi atau sumbangan-sumbangan rakyat dalam menjalankan tujuan
negara dianggap lebih tinggi, sehingga lembaga-lembaga demokrasi meningkatkan
kemungkinan bahwa pemimpin benar-benar akan menghadapi hukuman untuk mundur.
Oleh karena itu, para sarjana biasanya berpendapat bahwa demokrasi memiliki keuntungan
lebih dari jenis rezim lain dalam perundingan krisis dan membuat komitmen yang
terpercaya.
Di dalam artikel ini, penulis tidak hanya mendukung adanya audience costs dalam
pemerintahan otokrasi, tetapi juga mendapati teori Schultz yang berpendapat bahwa
persaingan partai dalam masyarakat, yang sah dan dilembagakan, dipercaya dapat
membantu negara mengungkapkan permasalahan krisis, tidak dapat menjelaskan temuan
penulis bahwa rezim partai tunggal juga dapat menghasilkan ancaman/kerugian yang
dipercaya seperti yang dilakukan oleh rezim demokrasi. Analisis ini menyatakan bahwa
rezim-rezim otokratis juga dapat mencapai kredibilitas internasional bahkan ketika
mayoritas penduduknya secara resmi dikeluarkan dari partisipasi politik.
Temuan-temuan penulis juga menunjukkan bahwa masih banyak yang harus
dipelajari tentang perbedaan politik dalam negeri yang ada di negara rezim non-demokrasi,
dan bagaimana rezim-rezim tersebut berpengaruh dalam hubungan internasional. Fearon
menyatakan, bagaimanapun juga, audience costs dalam negeri dapat mengurangi security
dilemma dengan meningkatkan kemampuan negara untuk menyampaikan keinginannya.
Kebijakan konvensional tentang hubungan antara demokrasi dan audience costs
mendukung pandangan bahwa demokratisasi dapat meningkatkan perdamaian, namun
analisis penulis menunjukkan bahwa fokus saat ini pada demokratisasi sebagai cara untuk
mendorong kerjasama internasional membutuhkan pengawasan yang lebih lanjut, penulis
menemukan bahwa tidak hanya rezim yang paling otokrasi yang mampu menghasilkan
audience costs seperti rezim demokrasi, tetapi demokrasi baru secara signifikan lebih
cenderung membuat konsolidasi rezim demokratis untuk membangkitkan reaksi militer
dari lawan mereka. Selain itu, non-demokratik interregna (negara yang baru saja menjalani
perubahan rezim, tetapi tetap dibawah ambang batas demokrasi) sama-sama tidak dapat
menunjukkan jalan keluar/penyelesaiannya.
Implikasi keseluruhan dari analisis penulis ini adalah bahwa para sarjana dan
pembuat kebijakan sudah salah dalam menaruhkan perhatian, ketika mereka hanya fokus
pada kompetisi pemilu dan unsur-unsur lain dari demokrasi, dan bukan hanya berteori
tentang kurang normatifnya bentuk persaingan politik. Pimpinan otokratik, sementara
mereka dapat melakukan kontrol besar terhadap rakyatnya, biasanya tidak lepas dari
ancaman dalam negeri mengenai masa jabatan mereka. Analisis ini menunjukkan dengan
menganalisis perbedaan antara rezim non-demokrasi, adalah untuk mempertanyakan
asumsi tentang hubungan antara demokrasi dan hubungan internasional. Bahkan mungkin
lebih penting lagi, yaitu untuk menganalisa efek dari politik dalam negeri di negara rezim
non-demokrasi, serta untuk mendapatkan wawasan di dalam perilaku/tindakan
internasional.
Dalam review kedua artikel diatas, korelasi yang terjadi adalah setiap negara
bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas di ranah internasional. Dalam menentukan
kebijakan luar negerinya, negara juga membutuhkan peran rakyat untuk bagaimana mereka
menjalankan negaranya tersebut.

IDENTITY, POWER, AND THREAT PERCEPTION
Dalam artikel ini, persepsi ancaman dapat dilihat melalui power (kekuasaan) dan
identitas. Realis dalam hubungan internasional (HI), mempunyai argumentasi bahwa
persepsi ancaman dalam konflik antargrup adalah adanya kekuatan yang asimetris
antargrup akan secara otomatis memicu ancaman dan konflik antargrup. Sebaliknya,
konstruktivis sosial mempunyai argumen bahwa berbagi identitas dapat mengurangi
persepsi ancaman antargrup.
Literatur HI terlah membangun dan melakukan tes percobaan mengenai konstruksi
model ancaman pada level individu. 4 temuan kunci yang muncul dalam percobaan
tersebut adalah:
1) Posisi yang lemah dalam militer akan meningkatkan persepsi ancaman seperti yang
diprediksi oleh realis;
2) Berbagi identitas mengurangi persepsi ancaman, seperti yang diprediksi oleh
konstruktivis;
3) Hubungan yang interaktif antara identitas dan kekuatan muncul dalam dua studi
dari 3 studi yang ada;
4) Berbagi identitas meningkatkan kerjasama dalam bidang kebijakan ekonomi
Dalam literatur HI ancaman didefinisikan sebagai situasi dimana satu agen atau
grup memiliki kapabilitas atau niat untuk menimbulkan konsekuensi negatif terhadap agen
atau grup lain. Ancaman dapat dipisahkan menjadi dua kategori; pertama, ancaman
terhadap individu, ancaman ini dapat menimbulkan konsekuensi negatif bagi orang lain
yaitu terhadap; keamanan fisik, pendapatan dan kekayan individu, serta kepercayaan dan
nilai individu. Kedua, ancaman terhadap kumpulan individu, ancaman ini terbagi lagi ke
dalam tiga bentuk, yaitu: ancaman militer, ancaman ekonomi, dan ancaman budaya. Dalam
beberapa kasus, ancaman terhadap kolektif juga merupakan ancaman personal terhadap
individu. Contohnya adalah seorang pekerja Amerika yang berkerja di industria tekstil
melihat kemajuan Cina sebagai ancaman ekonomi kolektif terhadap Amerika dan
pendapatan pribadi terhadap dirinya sendiri.
Dahl (1957) mendefinisikan power (kekuasaan) sebagai kemampuan aktor A untuk
mempengaruhi aktor B untuk melakukan apa yang diinginkan aktor A. Definisi Dahl fokus
pada konflik yang dapat diamati diantara kedua aktor. Bachrach dan Baratz( 1962, 1963)
melengkapi visi kekuasaan dengan kekuasaan di balik adegan, seperti pengaturan agenda.
Pada akhirnya, Lukes (1974) berargumen bahwa kekuasaan harus diperluas untuk
mencakup preferensi. Jika individua atau kelompok dapat merubah preferensi aktor lain
untuk menerima preferensi aktor itu sendiri melalui sosialisasi dam bujukan, maka tidak
akan ada konflik yang dapat diamati dan tidak perlu memanipulasi agenda.
Dalam hubungan internasional, Balace of Power (keseimbangan kekuatan) antar
negara biasanya diukur dengan Ukuran populasi dan teritori, kapabilitas ekonomi,
ketersediaan sumber daya, kekuatan militer, stabilitas politik, dan kompetensi. Untuk
realis, keseimbangan militer adalah ukuran terbaik dari kemampuan satu aktor atau satu
aliansi untuk memengaruhi aktor atau aliansi lain.
Menurut Simpson dan Yinger, pada level nasional yang berhubungan dengan
pekerjaan, kompetisi ekonomi dan politik antar negara dapat berujung pada persepsi
ancaman. Ketika power tidak didistribusikan secara merata, dapat menimbulkan konflik
pada kedua pihak dalam hubungan yang asimetris.
Teori Identitas sosial mempunyai dua penjelasan untuk konstruksi identitas dan
presepsi ancaman. Kedua teori menjelaskan sikap diskriminasi dan perilaku merugikan
terhadap anggota di luar kelompok (out-group). Munculnya persepsi ancaman dimulai
karena adanya prasangka yang diasosiasikan dengan ketakutan bahwa out-group memiliki
kapabilitas atau niat untuk menimbulkan konsekuensi yang negatif pada in-group.
SIT (Tafjel dan Turner 1979) berasumsi bahwa individu secara otomatis
menggolongkan dirinya ke dalam kategori-kategori tertentu. Meskipun kecepatan dalam
penggolongan diri dapat bervariasi, penempatan individu ke dalam suatu kategori akan
menciptakan self (diri sendiri) dan other''(yang lain), ( Brewer dan Brown 1998 ). Tajfel
berpendapat bahwa kategorisasi secara otomatis memicu kebutuhan untuk melihat
kelompok sendiri secara positif. Motivasi ini menyebabkan perilaku dimana anggota dalam
disukai daripada anggota luar. SCT ( Turner et al. 1987) sama halnya seperti SIT,
memprediksi bahwa proses pengkategorisasi tersebut akan menimbulkan perilaku yang
merugikan dan diskriminasi terhadap anggota luar, serta membangun gambaran (image)
terhadap anggota luar.
Konstruksi model ancaman klaim bahwa persepsi ancaman dimulai ketika tercipta
garis antara anggota dalam dan anggota luar. Model ini memprediksi bahwa kekuasaan
mempengaruhi persepsi ancaman orang setelah identitas di antara self dan other
muncul. Bagaimanapun, semakin intens level berbagi identitas antara self dan other,
semakin berkurang ancaman yang akan timbul.

KODE OPERASIONAL MAO ZEDONG: DEFENSIVE OR OFFENSIVE REALIST
Mao Zedong merupakan fenomena penting dalam perkembangan teori revolusi.
Pemikiran-pemikirannya merupakan alternatif bagi revolusi model Soviet yang bertumpu
pada kekuatan dan kepemimpinan kaum buruh. Seperti halnya Vladimir Lenin, Mao
memang merupakan bagian kecil dari sedikit teoritisi dan sekaligus praktisi revolusi
sosialis. Ia mampu mengangkat latar belakang sosial ekonomi dan kultural untuk
mendukung obsesi revolusioner. Mao belajar banyak dari Lenin. Mao percaya bahwa partai
yang disiplin, kohesif dan didukung struktur kepemimpinan yang hierarkis merupakan
syarat berhasilnya revolusi sosialis. Peranan kader partai sebagai penggerak mobilisasi
massa menjadi faktor penting. Dalam pandangan Mao, kegagalan revolusi petani Taiping
dan Nien adalah karena tidak adanya ideologi yang sistematik yang memberi pengarahan
pada apa yang seharusnya dilakukan oleh para petani.
Namun berbeda dengan Lenin, Mao telah menjadi revolusioner jauh sebelum
menjadi seseorang yang meneguk Marxisme. Sebab itu, ia bukanlah teoritisi yang
konservatif dalam menafsirkan ajaran Marxisme, bahkan ia memberi kesan sangat anti-
dogmatis. Ia sengaja menafsirkan proletariat dari padananya dalam bahasa Cina, wu-chan
chieh-chi (lapiasan sosial yang hanya memiliki sedikit harta), dan sampai pada kesimpulan
bahwa petani dapat menjadi kekuatan revolusioner. Sebelum berhasilnya revolusi Cina,
kaum Marxis memandang rendah pada potensi kaum tani sebagai penyanggah utama
revolusi. Gagasan-gagasan dan politik Mao bukan saja mengawali pertikaian Sino-Soviet
selama lebih dari tiga puluh tahun, tetapi juga memberikan harapan baru di beberapa
negara berkembang.
Satu hal yang mungkin menyebabkan Mao "lebih besar" dari Lenin adalah
gagasannya mengenai "perang gerilya". Teori desa mengepung kota yang dikemukakan
tahun 1927 mempunyai banyak penganut. Che Guevara dan FidelCastro, dalam Revolusi
Kuba pada penghujung 1950-an, serta Regis Debraydi Aljazair menggunakan teori yang
sama. Di Indonesia, Dipa Nusantara Aidit mencoba menerapkan dan memperkaya teorinya
di awal dasawarsa1960-an. Dengan beberapa modifikasi, apa pun namanya, prinsipnya
serupa, yaitu menciptakan kekacauan di desa-desa kecil untuk pada akhirnya
menumbangkan kekuasaan pusat. Castro dan Che Guevera baru saja melumpuhkan
pemerintahan Batista di Havana setelah menguasai Sierra Maestra dan Santiago. Seperti
terlihat dalam Resolusi 5 Oktober 1928, Mao mengakui bahwa Cina adalah kasus tersendiri.
Ia mengatakan bahwa desa mengepung kota hanya dapat dilakukan di suatu negara yang
secara ekonomi terbelakang dan berada di bawah pemerintahan tidak langsung (indirect
rule) penguasa kolonial atau rezim yang sedang mengalami fragmentasi elit. Tulisan-tulisan
Mao tahun 1926-1927 disunting kembali dengan menambahkan semangat ideologi. Mulai
muncul istilah-istilah "dibawah kepemimpinan partai komunis". Untuk pertama kalinya
Mao mengakui peranan pemberontakan Taiping sebagai inspirasi teori Mao. Namun pada
saat yang sama, ia juga menghapus fakta sejarah, misalnya mengganti istilah "berjuang
karena upah" dengan "berjuang karena kesadaran". Semua itu barangkali merupakan
keinginan Mao untuk menggunakan revolusi Cina sebagai model revolusi sosialis di negara-
negara berkembang, selain untuk mendapat tempat tersendiri dalam sejarah Cina.
Beberapa kontribusi Mao, dan kemudian Lin Bao, pada teori perang gerilya.
Menurut Mao, ada tiga syarat yang diperlukan agar "kepungan" itu berhasil. Pertama,
pelaksanaan teori itu memerlukan basis geografis yang aman. Jika tidak, pasukan inti dan
kader bersenjata tidak akan dapat mengangkat kekacauan itu menjadi sesuatu yang lebih
besar. Usaha Mao untuk mengorganisir revolusi dalam dasawarsa 1930-an gagal karena
basis gerakannya, Kiangshi (di lembahYangtze), tidak aman dari pukulan-pukulan pasukan
Chiang Kaishek. Mao terpaksa memindahkan markas Partai Komunis Cina dari Kiangshi.
Secara militer, perjuangan Mao baru berhasil setelah melakukan long march ke Shensi yang
dilindungi oleh perbukitan sulit Mongolia Utara yang beradadi bawah kekuasaan Uni
Soviet. Hijrah yang menempuh jarak ratusan kilometer itu bukan hanya mampu
mengundang simpati rakyat. Tetapi juga memancangkan Mao sebagai praktisi revolusi
terbesar abad 20.
Kedua, teori desa mengepung kota hanya dapat terjadi di negara yang besar dan
dengan jaringan komunikasi yang buruk. Mao berulang kali menekankan faktor ini dalam
tulisan-tulisannya. Ia mengakui bahwa dalam sebuah negara yang kecil, atau di suatu
negara yang memiliki jaringan komunikasi yang baik sehingga pemerintah dengan mudah
dapat melakukan mobilisasi kekuatan, strateginya menjadi tidak efektif. Karena menguasai
dengan baik medan lokal, termasuk memperoleh dukungan luas dari masyarakat setempat,
komunikasi yang buruk akan membendung penetrasi pihak penguasa. Ketiga, yang
tampaknya merupakan sumbangan terbesar Mao, keberhasilan gerilya mengepung kota
memerlukan ideology yang sistematik.
Tidak mudah menelusuri apakah "desa mengepung kota" sekedar merupakan
teorimiliter untuk mengalahkan pihak lawan yang jauh lebih kuat atau dapat digunakan
untuk mencapai tujuan politik terbentuknya suatu negara [komunis] dengan kader anti-
establishment yang menggunakan cara-cara clendestine. Mao telah menunjukkan kepada
dunia betapa kreatifitas memainkan peranan penting dalam mencapai tujuan. Dogmatisme,
ortodoksidan konservatisme dalam memegang suatu gagasan akan mencapai
kegagalan.Teori Mao pun mengalami perkembangan dan bukan hanya meliputi strategi
militer. Lin Bao menggunakan istilah yang sama dalam konteks politik internasional dengan
mengindentisifikasikan negara-negara berkembang diAsia, Afrika dan Amerika Latin
sebagai "kampung" dan negara-negara maju sebagai "kota". Hal yang sebaliknya dapat
terjadi, menimbulkan kekacauan di desa-desa untuk merongrong legitimasi dan
otoritaspemerintah pusat.

Artikel ini disajikan atas apakah Mao Zedong pidato itu memberikan tanda perilaku
yang rasional dalam konteks situasi krisis dan noncrisis yang kondisi dan konsisten dengan
perilaku Cina berikutnya seperti yang didefinisikan oleh rasionalitas berikat norma dalam
budaya strategis Cina dan perhitungan tenaga dalam teori hubungan internasional realis.
Hasilnya menunjukkan bahwa Mao diikuti rasionalitas realisme, tetapi ia adalah seorang
realis defensif dan tidak realis ofensif, yang menyalahkan klaim dari Johnston bahwa tradisi
parabellum didominasi Mao keyakinan tentang perang dan perdamaian. Kode operasional
analisis diringkas berikut memenuhi syarat Johnston klaim bahwa Mao adalah seorang
realis parabellum dan bukan pemimpin Konfusianisme. Penulis menganalisis statistik yang
menunjukkan bahwa Mao pada umumnya cenderung menggunakan koperasi taktik seperti
hadiah, banding, atau janji. Pandangan alam semesta politik Mao adalah jelas bermusuhan.
Namun operasional kode Mao berkeyakinan mungkin terutama hasil dari lingkungan
eksternal yang bermusuhan dan ancaman. Kondisi perang atau krisis, Mao ditampilkan
bermusuhan dalam keyakinan beroperasional kodenya dan lebih siap untuk menggunakan
kekerasan. Mao riil politik keyakinan itu tidak ofensif di alam di luar periode krisis atau
perang.
Dua point penting dari penulis jurnal ini adalah satu; Johnston tidak lagi muncul
untuk menerapkan pandangannya tentang Mao Mao penerus atau untuk berlangganan ke
sebuah interpretasi budaya Cina. Kedua, meskipun posisi Johnston sendiri telah berubah,
orang lain dalam akademis dan kebijakan masyarakat terus mengklaim bahwa Cina
mengangkat kekuasaan dengan maksud yang tidak baik. Para ulama, pejabat, dan pakar
terus mengkritik Cina untuk yang menentang norma-norma internasional dalam hal
kedaulatan, perdagangan bebas, nonproliferasi dan pengendalian senjata, penentuan nasib
sendiri, dan hak asasi manusia. Johnston menunjukkan tiga masalah dengan karakterisasi
yang saat ini status Cina sebagai status quo atau keadaan revisionis. Pertama, ada masalah-
masalah dari bukti empiris yang mendukung klaim bahwa Cina revisionis negara. Kedua,
diplomasi Cina dalam beberapa terakhir dekade menampilkan beberapa status quo yang
berorientasi: pada periode, 1980-an dan 1990-an terjepit antara Maois Revisionisme dan
beberapa posting-Jiang kuasi fasisme." Ketiga, dua masalah di atas hasil langsung dari
ambiguitas dalam kerangka analitis wujud yaitu ambiguitas dalam penggambaran teori-
teori realis revisionis (ofensif) atau Serikat status quo (defensif) sebagai sebagian besar statis.
Oleh karena itu, Johnston sekarang berpendapat bahwa klaim bahwa Cina adalah negara
revisionis prematur dan tidak waras. Namun Johnston tidak mengklaim bahwa Cina
bukanlah sebuah negara revisionis. " tidak adanya bukti jelas upaya aktif oleh RRC secara
fundamental mengubah distribusi kekuasaan Regional atau global tidak berarti bahwa
keinginan tidak ada." Dalam pandangannya, mungkin dalam satu periode transisi
diperlukan dari periode Mao waktu posting-Jiang. Oleh karena itu, Cina mungkin
mengubah contingently bahkan jika sekarang lebih berorientasi ke arah status quo.
Domestik masalah dan krisis intensif atas Taiwan antara Cina dan Amerika Serikat, atau
beberapa lainnya keamanan dilema dinamika, dapat memicu Revisionisme Cina.

THE EMERGING FOURTH WAVE OF DETTERENCE THEORY
Maksud tulisan ini adalah untuk meninjau perkembangan empiris dan teoritis dalam
studi pencegahan. Dulu gelombang yang muncul untuk pertanyaan-pertanyaan
cenderung pada (realism dan nuklir), penulis menyimpulkan bahwa gelombang ini terdiri
dari dua kecenderungsn, yang pertama adalah teoritis dan ini terbukti melalui munculnya
penelitian pencenggahan interpretative (pengertian), kedua adalah empiris dan berkembang
pada bagaimana pencenggah teroris dan negara-negara yang nakal untuk mencegah konflik
etnis dan bagi penulis, dua kecenderungan di atas memiliki sangat sedikit pengaruh pada
satu sama lain.
Pada dasarnya studi pencegahan dapat lebih khusus lagi dengan hukuman.
Gelombang pertama dari teori pencegahan dikembangkan setelah perang dunia ke II,
implikasi atau pengaruh strategis senjata nuklir pada pemikiran ini, ide studi pencegahan
relatif, tidak berpengaruh atau berpengaruh kecil terhadap kebijakan yang dibuat,dan tidak
memiliki sistematisasi. Gelombang ke-2 muncul pada akhir 1950-an dan dimasukkan pada
signaling games, kebijakan yang diambil konvensional atau diakui/sah, dan memungkinkan
para ahli untuk mengetahui taktik yang akan diambil aktor, tetapi hanya sedikit bukti atau
informasi yang mendukung ide ini. Gelombang ke-3 hampir sama dengan gelombang ke
dua yang berkutit pada kurangnya bukti pendukung atau informasi yang ada, menurut
penelitian empiriS, teori pencegahan perlu diubah karna resiko seperti salah presepsi,
probabilitas, politic domestic, dan juga demokrasi.
Tiga gelombang di atas sangat mempengaruhi pembuatan kebijakan,dan membantu
dalam strategi dan hubungan dari negara-negara adidaya, khususnya strategi MAD yang
bertujuan menstabilkan hubungan anatar lawan, dengan kata lain, pencegahan alat heuristic,
solusi untuk masalah kebijakan luar negeri yang rumit. Konsep pencegahan dapat memaksa
rasionalitas pada pengambilan keputusan sehingga praktik pencegahan menjadi
meyakinkan. Teori pencegahan menghadapi 3 masalah yaitu teoritis, metodologis, dan
empiris. Tantangan yang belum terselesaikan selanjutnya adalah pencegahan teori
metodologis artinya masalah ini juga terkait dengan beberapa tantangan empiris kenapa
strategi pencegahan lebih sukses menjelang akhir perang dingin dari pada di tahap awal?,
letusan perang dingin sendiri adalah pengenalan senjata nuklir, dan dominasi paradigm
yang signifikan maju tahap awal studi pencegahan. Tren impiris dan teoritis yang agak
terisolasi realis terus memanfaatkan kerangka kerja pencegahan mereka, konstruktivis dan
interpretative lainnya berfokus terutama pada pencegahan nuklir antara negara adidaya,
asal-usul studi dimensi interpretattif pencegahan dapat di telusuri di tahun 1950-an dan
1960-an contoh : bertemunya ilmuwan sosial dengan perwira di Inyokern,California, untuk
memberikan teory kompherhensif, pencegahan, hasil pertemuannya adalah kritik pahit
yang di lontarkan dari pemikiran tentang strategi amerika dan sangat mirip dengan yang di
usulkan oleh kontruktivis saat ini,intinya adalah pencegahan dan dampaknya pada
menghindari kekerasan.
Freedom menyiratkan bahwa pencegahan dan dampaknya pada menghindari
kekerasan, freed man mengingatkan bahwa norma-norma dan pencegahan dapat memiliki 3
jenis koneksi,yaitu : struktur yang mengingatkan peluang keberhasilan pencegahan ke titik
bahwa ancaman ini tidak lagi di perlukan,norma perilaku dapat di interalisasi oleh ancaman
pencegahan ke titik bahwa ancaman ini tidak lagi di perlukan,pencegahan itu sendiri adalah
norma bagaiman norma merupakan bagaian dari praktir pencegahan.
Pengenalan senjata nuklir membantu menyatukan pemikiran strategis tentang
pencegahan kepada teori, terutama membantu presepsi pencegahan dengan hukuman.
Beberapa orang berpendapat bahwa perubahan ini menjadi signifikan hanya setelah
pengenalan bom hodrogen(misalahnya kraticwhil), kehancuran dari senjata-senjata baru
membantu menjelaskan dan menyederhanakan gagasasan pencegahan. Namun demikian,
meskipun banyak strategi datang untuk argumentasi ini, pergeseran strategi pencegahan
belum terjadi pada pemerintahan amerika pada tahun 1950-an,senjata nuklir tidak secara
otomatis penantang potensial,juga tidak menjamin penerapan strategi ini,agar hubungan
para actor yang terlibat dan kemampuan mereka untuk mempromosikan praktik
pencegahan, agen-agen sosial harus terlebih dahulyu berhasil menyebarjab interpretasi
mereka atas imolikasi dari senjata ini membantu untuk membangun sosial bagaimana
senjata tersebut harus di gunakan.
Di lihat dari jurnal utama,dapat di simpulkan bahwasannya setiap negara yang akan
mengambil kebijakan untuk menghadapi masalah ataupun kepentingan lainnya tidak
melalu fase yang singkat dan tidak berbelit,tetapi mengambil kebijakan harus melalu fase
yang panjang agar tidak merugikan negara itu sendir dan negara lainnya, seperti halnya
informasi atau sinyal, semakin kita menguasai dan mengerti sinyal yang di berikan negara
atau informasi yang di berikan negara, maka sudah pasti kebijakan yang di ambil akan lebih
fokus dan tepat tidak costly sinyal atau terlalu lemah yaitu weakly sinyal,pada artikel
pebanding saya menemukan adanya 3 gelombang teori pencegahan,gelombang pertama
yang menyatakan bahwa pada implikasi senjata nuklir pada studi pencegahan relative tidak
berpengaruh artinya,dengan nuklir tidak menjanjikan informasi dan sinyak yang tepat dan
tidak menjamin juga tidak adanya perang,contoh perangnya adalah adalah antara aliansi
nya amerika dan Russia,yang ke-dua pada tahun 1950-an,ini lebih baik karna
memungkinkan para ahli untuk mengetahui taktik para actor maka dalam pengambilan
kebijakan lebih baik lagi tetapi masa ada kekurangan yaitu bukti yang kurang kuat untuk
mendukung ide ini,dan yang ke-tiga adalah hampir sama dengan yang ke dua tidak begitu
banyak bukti yang mendukung,tetapi menurut penelitian empiris teori pencegahan harus
diubah karna resiko seperti salah presepsi yang dapat mengakibatkan bukanya malah
bekerja sama malah konflik atau jadi cacat hubungan antara dua negara tersebut,dan tiga
gelombang di atas sangat mempengaruhi pembuatan kebijakan seuatu negara dalam
hubungan negara adidaya.


KESIMPULAN
Signaling games adalah sebuah permainan dengan informasi yang tidak lengkap
dimana setidaknya ada 1 pemain yang ragu-ragu mengenai pesan preferensi pemain lain
akan hasil dari permainan. Negara menggunakan signaling games untuk membuat
konsekuensi dalam mengambil kebijakan luar negeri. Negara menggunakan signaling
games untuk membuat konsekuensi dalam mengambil kebijakan luar negeri. Walaupun
informasi-informasi yang didapat oleh negara tidak lengkap, namun signaling games
membuat keyakinan negara pada tindakan yang diamati dari negara lain yang dapat
menjadi alasan penting bagi perubahan perilaku kebijakan luar negeri suatu negara.
Tujuan signaling games adalah untuk mendapat kredibilitas internasional. Sedangkan
Signaling games tidak bisa dilepaskan dari politik dalam negeri suatu negara. Signaling
games bisa dilakukan apabila keadaan politik dalam negeri suatu negara sudah bisa
dikatakan stabil. Dalam proses menstabilkan politik dalam negeri, audience costs cukup
berpengaruh. Audience costs adalah suatu kondisi dimana terdapat sumbangan-
sumbangan dari rakyat dalam menjalankan tujuan suatu negara.
Sebagai contoh bagi negara demokrasi yang tingkat audience costsnya tinggi maka
negara tersebut lebih mudah mendapatkan kredibilitas internasional, sedangkan di negara-
negara otoriter walaupun juga bisa mencapai kredibilitas internasional namun kesempatan
tersebut cenderung lebih sulit dicapai. Sehingga semakin tinggi tingkat audience costs suatu
negara maka semakin tinggi pula kecenderungan negara tersebut untuk mendapatkan
kredibilitas internasional, dimana kredibilitas internasional tersebut
Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan-permasalahan
yang didapati dalam signaling games penyelesaiannya adalah dengan audience costs.
Sehingga audience costs memiliki korelasi yang erat dan tidak bisa dilepaskan dari signaling
games.


Kritik/Tanggapan
1. Salah satu kekurangan dalam teori permainan ini adalah adanya pengakuan bahwa
setiap pemain masih kurang lengkap dalam mengumpulkan dan menerima
informasi tentang elemen penting dari permainan itu sendiri, seperti preferensi dan
kemampuan yang dimiliki orang lain. Dalam permainan sinyal tersebut, para
pemain membentuk keyakinan yang sebelumnya ada mengenai unsur permainan
dimana mereka tidak memiliki informasi yang lengkap dan selama interaksi, para
pemain memperbarui keyakinan mereka berdasarkan pada tindakan yang diamati
dari pemain lain yang dapat menjadi alasan penting bagi perubahan perilaku
kebijakan luar negeri suatu negara