Anda di halaman 1dari 7

1

SKRINING PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR


DAPAT MENCEGAH TULI-BISU

DR. dr. Delfitri Munir SpTHT-KL(K)

Apabila Bunda menemukan si kecil memiliki kelainan pendengaran, jangan bersedih.
Meski tidak mudah, tetapi ini bukan akhir dari segalanya. Dengan dukungan orang tua, alat
bantu dan terapi yang tepat, buah hati anda dimungkinkan untuk hidup mandiri dan memiliki
kemampuan mendengar dan berbicara mendekati normal.

Gangguan pendengaran atau tuli sejak lahir akan menyebabkan gangguan perkembangan
bicara, bahasa, kognitif dan kemampuan akademik. Dari segi ekonomi pun, penelitian di AS
pada tahun 2003 menunjukkan bahwa seorang yang mengalami ketulian sejak lahir harus
mengeluarkan biaya tambahan sebesar 417.000 dolar AS selama hidupnya. Dampak yang
merugikan tersebut, harus dicegah atau dibatasi melalui program deteksi dini ketulian pada bayi.
Diperkirakan, 1-3 bayi lahir tuli dari 1000 kelahiran dan 5000 bayi Indonesia lahir setiap
tahun menderita tuli dengan derajat sedang sampai berat dan menetap. Penyebab gangguan
pendengaran bayi pada masa sebelum lahir dan setelah lahir disebabkan faktor genetik dan non-
genetik. Diperkirakan, 50% kasus gangguan pendengaran pada anak derajat sedang sampai berat
disebabkan faktor genetik. Gangguan pendengaran genetik bawaan dapat disertai kelainan lain
atau merupakan bagian dari sindrom seperti Down Syndrome. Gangguan pendengaran dapat
terjadi bersama dengan kelainan bawaan seperti telinga luar, mata, gangguan metabolik, tulang,
otot, kulit, ginjal dan sistem saraf. Anak dengan orangtua menderita ketulian keturunan juga
berisiko menderita gangguan pendengaran. Penyebab gangguan pendengaran sebelum lahir non-
genetik terjadi pada masa kehamilan terutama pada tiga bulan pertama kehamilan. Setiap
gangguan yang terjadi pada masa tersebut dapat menyebabkan ketulian pada anak seperti
kurangan gizi, infeksi bakteri maupun virus yang seringkali berakibat buruk pada bayi yang akan
dilahirkan.

SKRINING PENDENGARAN BAYI SANGAT PENTING
Karena gangguan pendengaran dapat berdampak besar pada perkembangan bayi dan
anak, maka semakin awal gangguan dikenali, hasil habilitasi akan semakin baik. Untuk itu,
identifikasi awal melalui skrining pendengaran pada bayi sangat dianjurkan. Deteksi dini adalah
pemeriksaan pendengaran yang dilakukan pada bayi baru lahir, yang dilaksanakan pada bayi
2

sebelum keluar rumah sakit. Tujuan deteksi dini adalah untuk menemukan sedini mungkin
kejadian gangguan pendengaran pada bayi. Deteksi dini dilakukan karena tuli berat sejak lahir
mempunyai dampak luas dalam perkembangan berbicara, berbahasa, gangguan kognitif,
perilaku, sosial-emosional dan kesempatan kerja. Dengan ditemukannya ketulian sejak dini,
maka intervensi dapat dilakukan sedini mungkin dan memberikan peluang perkembangan yang
lebih baik dibanding ketulian ditemukan pada umur anak lebih lanjut. Skrining sebaiknya
dilakukan pada semua bayi baru lahir normal maupun bayi lahir dengan risiko, karena telah
terbukti 50% dengan ketulian terjadi pada bayi normal tanpa resiko. Penemuan gangguan
pendengaran dibawah enam bulan akan memberikan respon yang sangat baik terhadap tumbuh
kembang anak. Sangat dianjurkan skrining dilakukan sampai umur satu bulan, dan diagnosis
ditegakkan sebelum usia tiga bulan serta intervensi dilakukan pada umur enam bulan. Hasil
habilitasi dengan interfensi seperti pemasangan alat bantu dengar, akan lebih baik apa bila
dilakukan pada usia lebih dini.
Setelah diketahui seorang anak menderita tuli, upaya habilitasi pendengaran harus
dilaksanakan sedini mungkin. Usia kritis ketika proses belajar mendengar dan berbicara adalah
sekitar 2-3 tahun. Anak dengan tuli saraf berat harus segera mulai memakai alat bantu dengar
yang sesuai. Anak dengan tuli saraf berat pada kedua telinga atau tuli total kedua telinga yang
tidak ada perbaikan dengan alat bantu dengar, disarankan untuk pemasangan implan koklea.
Pemasangan implan koklea sebaiknya dilakukan pada usia 2 tahun.

PEDOMAN IDENTIFIKASI PENDENGARAN BAYI DAN ANAK
Para orang tua dapat melakukan sendiri identifikasi pendengaran terhadap bayi mereka.
Pedoman identifikasi terhadap pendengaran bayi dan anak adalah sebagai berikut.
1. Bayi normal umur 0-4 bulan akan terkejut terhadap suara ibu atau aktivitasnya berhenti
sebentar bila mendengar suara percakapan. Bayi yang sedang tidur akan terbangun kalau
mendengar suara keras.
2. Umur 5-6 bulan mulai meniru suara
3. Umur 7-12 bulan dapat merespons panggilan namanya, walau diucapkan dengan pelan.
4. Umur 13-15 bulan dapat menunjuk ke arah suara atau objek yang dikenal ketika ditanya.
3

5. Umur 16-18 bulan dapat mengikuti arah sederhana tanpa gerak isyarat atau isyarat visual
lainnya. Disamping itu dapat dilatih untuk mencapai ke arah mainan yang menarik ketika
suara disajikan.
6. Umur 19-24 bulan dapat menunjuk ke bagian tubuh ketika ditanya. Dapat mendengar bila
namanya dipanggil dari ruangan lain. Anak memberikan respons dengan bervokalisasi
atau bahkan datang kepada anda.

SKRINING PENDENGARAN BAYI ANDA SEBELUM PULANG
Penanggulangan ganguan pendengaran pada bayi secara garis besar terdiri dari deteksi
pendengaran, diagnosis pasti dan habilitasi (intervensi). Deteksi idealnya dilakukan pada bayi
usia 2 hari atau sebelum satu bulan. Nama tesnya adalah Oto acoustic emission (OAE). Bila pada
tes OAE hasil pendengaran bayi dalam kondisi normal (pass), maka anda bisa berlega hati.
Kecuali jika sikecil memiliki faktor risiko, meski hasilnya normal, sebaiknya tetap dipantau
perkembangan bicara dan pemeriksaan audiologi sekurang-kurangnya tiap 6 bulan selama 3
tahun. Sebaliknya, jika hasil OAE menunjukan ada kecurigaan kelainan (refer) maka tes akan
dilanjutkan dengan BERA (Brainstem evoked response audiometry). Pemeriksaan OAE dan
BERA disebut gold standard newborn hearing screening. Perlu diketahui bahwa, jika deteksi
sudah dapat dilakukan sejak bayi berusia 2 hari, maka diagnosis pasti baru dapat ditegakkan pada
saat bayi berusia 3 bulan jika diindikasikan bayi memiliki masalah pendengaran. Bila gangguan
pendengaran atau ketulian sudah diketahui sebelum usia 3 bulan, selanjutnya diberikan habilitasi
pendengaran mulai usia 6 bulan. Dengan cara ini ketika anak berusia 3 tahun perkembangan
bicara dan bahasanya dapat mendekati anak yang pendengarannya normal.

FAKTOR RISIKO BAYI TULI
Menurut American Joint Committee on Infant Hearing Statement (1994 ) pada bayi yang
berusia 0-28 hari, terdapat beberapa faktor risiko yang harus dicurigai kemungkinan adanya
gangguan pendengaran yaitu:
1. Riwayat keluarga dengan tuli kongenital (sejak lahir)
2. Infeksi prenatal TORCHS (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalo virus, Herpes dan sifilis )
3. Kelainan anatomi pada kepala dan leher
4. Sindrom yang berhubungan dengan tuli kongenital seperti Down Syndrome.
4

5. Berat badan lahir rendah (< 1500 gram)
6. Meningitis bakterialis
7. Bayi kuning (Hiperbilirubinemia)
8. Lahir tidak menangis (Asfiksia berat)
9. Pemberian obat ototoksik (Obat yang dapat merusak saraf telinga)
10. Mempergunakan alat bantu napas (ventilasi mekanik) lebih dari 5 hari di ICU

Bayi dengan tiga macam faktor risiko tersebut diatas punya kecenderungan
menderita ketulian 63 kali lebih besar dibanding bayi yang tidak punya risiko. Pada bayi baru
lahir yang dirawat di ruang intensif (ICU), mempunyai risiko mengalami ketulian 10 kali lipat
dibanding bayi yang tidak dirawat di ICU. Biasanya jenis ketulian yang terjadi akibat faktor
sebelum dan setelah lahir adalah tuli saraf dengan derajat ketulian berat atau sangat berat pada
kedua telinga. Meski demikian, apabila bayi Anda memiliki salah satu atau beberapa faktor
resiko di atas, bukan berarti pasti akan mengalami kelainan pendengaran. Beberapa penelitian
melaporkan dari sejumlah bayi yang mengalami ketulian, hanya 50% saja yang memiliki faktor
risiko. Oleh sebab itu, sangat penting dilakukan skrining pendengaran pada bayi baru lahir.
Infeksi virus lain seperti campak dan parotitis juga dapat menyebabkan ketulian.
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu (prematur) juga berisiko terjadinya
gangguan pendengaran atau ketulian. Disamping itu tindakan dengan alat pada proses kelahiran
seperti ekstraksi vakum atau forsep juga mempunyai risiko tuli pada bayi.
Skrining pendengaran bertujuan menemukan kasus gangguan pendengaran atau
ketulian sedini mungkin sehingga dapat dilakukan habilitasi segera, agar dampak cacat dengar
bisa dibatasi. Dengan menemukan secara dini gangguan pendengaran pada bayi, kesempatan
untuk memperoleh perkembangan linguistik dan komunikasi dapat lebih optimal. Menurut
penelitian Yoshinaga Itano (1998), bila gangguan pendengaran atau ketulian sudah diketahui
sebelum usia 3 bulan, selanjutnya diberikan habilitasi pendengaran mulai usia 6 bulan, maka
pada saat anak berusia 3 tahun perkembangan bicara dan bahasanya dapat mendekati anak yang
pendengarannya normal. Konsep Yoshinaga Itano (1998) dijadikan acuan oleh American Joint
Committee on Infant Hearing (2000) sebagai prinsip skrining pendengaran pada bayi baru lahir.
Skrining pendengaran bayi sudah harus dimulai sebelum pulang dari rumah sakit (umur 2 hari).
5

Bila kelahiran terjadi di fasilitas lainnya, skrining sudah harus dilakukan selambat lambatnya
pada usia 1 bulan.
Skrining pendengaran mulai diperkenalkan oleh Marion Downs pada 1970an walaupun
belum melembaga. Kemudian pada 1980an, skrining pendengaran dikelola secara institusional.
Pada 1982, American Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) merekomendasikan
pelaksanaan identifikasi bayi yang berisiko mengalami gangguan pendengaran, melakukan
skrining, dan melakukan evaluasi audiologi lanjutan sampai diagnosa pasti bisa ditegakkan. Baru
pada tahun 2000, skrining pendengaran dilakukan secara universal pada semua bayi baru lahir.
Skrining pendengaran pada bayi baru lahir dibedakan menjadi Universal Newborn
Hearing Screening (UNHS) yang dilakukan pada semua bayi baru lahir, sebelum bayi
meninggalkan rumah sakit. Targeted Newborn Hearing Screening dilakukan khusus pada bayi
yang mempunyai faktor risiko terhadap ketulian.
Informasi yang diperoleh dari orang tua mengenai respons anak terhadap suara dan
kemampuan berbicara pada saat anak datang di klinik dapat di perkirakan derajat ketuliannya.
Suara anak yang melengking tinggi tanpa bisa mengontrol kekerasan suara dan hanya mampu
mengeluarkan suara huruf hidup, kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran derajad
berat sejak dilahirkan. Apabila kwalitas suaranya lebih baik kemungkinan gangguan
pendengaran terjadi kemudian setelah anak mampu berbicara.
Beberapa gejala gangguan pendengaran pada anak yang bisa diamati sehari-hari oleh
orang tua adalah:
1. Kurang responsif terhadap suara-suara yang ada disekitarnya seperti vacum cleaner,
klakson mobil dan petir.
2. Anak kelihatannya kurang perhatian terhadap apa yang terjadi disekitarnya, kecuali yang
bisa dinikmati dengan melihat.
3. Anak tidak mudah tertarik dengan pembicaraan atau suara-suara yang ada
disekelilingnya.
4. Cenderung berusaha melihat muka lawan bicara dengan tujuan mencari petunjuk dari
gerak bibir dan ekspresi muka guna mendapat informasi tambahan apa yang diucapkan.
5. Anak kurang responsif diajak bicara apabila tidak diberi kesempatan melihat muka lawan
bicara.
6. Sering minta kata-kata diulang lagi.
6

7. Anak sering memberikan jawaban yang salah dengan pertanyaan atau perintah sederhana.
8. Anak sulit menangkap huruf mati (konsonan).
9. Anak hanya memberikan respons terhadap suara tertentu atau dengan kekerasan tertentu.
10. Anak memberikan respons tidak konsisten pada waktu yang berbeda.
11. Ucapan anak yang sulit dimengerti karena tidak mampu menangkap semua elemen
pembicaraan dengan jelas sehingga akan mengalami kesulitan meniru ucapan dengan
betul dan baik.
12. Bicara anak dengan gangguan pendengaran lemah atau bahkan terlalu keras. Hal ini
menunjukkan bahwa anak tidak mendengar suaranya sendiri
13. Anak yang bicaranya pelan kemungkinan mengalami tuli konduktif karena dapat
menangkap suaranya sendiri melalui jalur hantaran tulang sekalipun hantaran udaranya
mengalami gangguan
14. Anak dengan tuli sensorineural akan berbicara lebih keras supaya bisa menangkap
suaranya sendiri
15. Kemampuan berbicara dan pemahaman kata-kata terbatas
16. Nilai di sekolah menurun atau dibawah rata-rata kelas.
17. Terdapat masalah tingkah laku, baik disekolah maupun dirumah.
18. Kesulitan menangkap pembicaraan didalam ruangan yang ramai.

Metode sederhana yang dapat dilakukan untuk skrining pendengaran pada neonatus
adalah dengan mengamati refleks Moro atau refleks Startle. Prosedur tes dapat dilakukan dengan
stimulasi suara pada waktu bayi sedang tidur didalam tempat tidur di ruangan yang sunyi.
Sebaiknya tanpa selimut sehingga gerakan-gerakan anggota tubuhnya dapat diamati lebih jelas.
Tidak ada definisi yang khusus mengenai reaksi bayi terhadap suara. Respons bayi terhadap
stimulus suara yang selama ini dipakai adalah berupa respons motorik gerakan berupa sentakan
tangan atau kaki, tangan terangkat kesamping, jari-jari tangan mengembang, kaki terangkat dan
kepala tergerak ke arah belakang. Pada bayi dengan pendengaran normal, refleks startle timbul
pada intensitas yang agak tinggi yaitu sekitar 85 dB. Dengan intensitas yang lebih tinggi 105-115
dB dapat menimbulkan refleks auro-palpebral berupa kedipan mata atau mata lebih terpejam
sebagai respons terhadap stimulus suara.
7

Habilitasi pendengaran yaitu memberikan fungsi pendengaran yang seharusnya dimiliki
seseorang untuk bayi atau anak yang belum memiliki kemampuan mendengar sebelumnya.
Habilitasi dilakukan abila bayi atau anak sudah dipastikan mengalami ketulian. Program ini
berupa memperkeras input suara (amplifikasi) misalnya melalui berbagai pilihan alat bantu
dengar (hearing aid). Bila tidak berhasil perlu dipertimbangkan implantasi koklea yaitu
memasukkan kabel elektroda ke dalam koklea melalui operasi. Program selanjutnya adalah
latihan mendengar (auditory training) dan latihan bicara (speech therapy).
Dengan diterapkanya deteksi dini ketulian melalui skrining pendengaran pada bayi
baru lahir, maka habilitasi pendengaran dapat dilakukan lebih dini sehingga kemampuan
mendengar dan bicara anak akan mendekati normal.

Medan 12 November 2010


Penulis adalah staf pengajar Dept. Ilmu Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara