Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Cronbach (1984), tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati
atau mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar
numerik atau sistem kategori. Menurut Suiono (199!), tes adalah alat prosedur yang dipergunakan
dalam rangka pengukuran dan penilaian. Menurut "nastasi dan #urabian (199$), tes diartikan
sebagai alat pengukur yang mempunyai standar obekti% sehingga dapat dipergunakan secara
meluas, serta dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah
laku indi&idu. 'adi, tes merupakan alat ukur yang banyak dipergunakan dalam dunia pendidikan
untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan obek ukur terhadap seperangkat konten dan materi
tertentu.
#es memiliki berbagai %ungsi dalam dunia pendidikan, antara lain ber%ungsi sebagai pengukur
prestasi belaar sis(a, sebagai moti&ator dalam pembelaaran, sebagai upaya perbaikan kualitas
pembelaaran, dan sebagai penentu keberhasilan pembelaaran. )asil ukur dalam tes ini
digambarkan oleh skor tes. *ada hakikatnya, penskoran ini adalah suatu proses pengubahan
a(aban instrumen menadi angka+angka yang merupakan nilai kuantitati% dari suatu a(aban
terhadap a(aban instrumen sehingga penskoran merupakan kuanti%ikasi terhadap a(aban
instrumen. ,engan memberi skor, dapat diperoleh deskripsi tentang seberapa nilai atau harga
suatu &ariabel untuk masing+masing unit analisis dalam penelitian. Selanutnya, dapat dilakukan
analisis kuantitati% dalam kaitannya dengan &ariabel lain dalam penelitian.
Skor memiliki perbedaan arti dengan nilai. Skor adalah angka yang diterima sis(a sebagai
hasil tes yang telah dilakukan, sedangkan nilai adalah skor akhir yang diterima sis(a berdasarkan
skor mentah yang diacu pada kriteria standar tertentu untuk menentukan kelulusan sis(a tersebut.
-emampuan sis(a adalah daya upaya yang dapat dilakukan oleh sis(a. -emampuan tersebut
terdiri atas kemampuan kogniti%, kemampuan a%ekti%, dan kemampuan psikomotorik. Sekor
diperoleh dari hasil ukur kemampuan tersebut. Misalnya, pada skala .+1.., terdapat sekor
responden 8/. "pa arti sekor 8/ ini 0 Cara pemberian arti yang paling umum adalah membanding+
kan sekor ini dengan suatu acuan.
Setelah dibandingkan dengan suatu acuan, sekor ini dapat diberi nilai baru pada acuan
tersebut. 1ilai baru ini dikenal sebagai tara (equivalent). "da beberapa enis acuan yang dapat
digunakan untuk menentukan tara pada sekor hasil ukur. "da acuan intuiti%, ada acuan ipsati%, ada
Analisis Kemampuan Siswa Page 1
acuan norma, dan ada acuan kriteria. Semua acuan ini akan dibahas, namun pada makalah ini lebih
di%okuskan pada acuan norma dan acuan kriteria sebagai acuan dalam penilaian kemampuan
sis(a.
1.2 Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang dinyatakan di atas, maka rumusan masalah dapat
dinyatakan sebagai berikut.
1. "pa arti dan makna kemampuan sis(a secara dalam 0
2. "cuan apa saa yang dapat digunakan dalam penilaian kemampuan sis(a
dan bagaimana cara menginterpretasikannya 0
3. 4agaimana cara menganalisis hasil penilaian kemampuan sis(a 0
1.3 Tujuan Penulisan
*enulisan makalah ini diharapkan dapat berman%aat bagi kami sebagai penulis makalah serta
bagi para pembaca. Secara terperinci tuuan+tuuan dari penulisan makalah ini, yaitu
1. Memahami arti dan makna kemampuan sis(a secara dalam.
2. Mendeskripsikan acuan yang dapat digunakan dalam penilaian
kemampuan sis(a dan cara menginterpretasikannya.
3. Mengkai cara menganalisis hasil penilaian kemampuan sis(a.
1. Met!"e Penulisan
5ntuk mendapatkan in%ormasi dibutuhkan, kami menggunakan metode re%erensi studi pustaka
yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas.
1.# $istematika Penulisan
*ada makalah ini, kami akan menelaskan hasil studi pustaka. ,imulai dari bab pendahuluan
sebagaimana yang telah dibahas, di dalamnya menguraikan beberapa pokok mengenai latar
belakang masalah, perumusan masalah, tuuan penulisan, metode penulisan, dan yang terakhir
tentang sistematika penulisan.
Analisis Kemampuan Siswa Page 2
)asil studi pustaka disaikan setelah bab pendahuluan, sebagai satu kesatuan yang tak
terpisahkan satu dan yang lainnya. *embahasan penting yang dibahas meliputi domain
kemampuan sis(a, de%inisi dan tuuan ana+lisis kemampuan sis(a, perbedaan antara skor dan
nilai, mongolah nilai, acuan penilaian, acuan norma, acuan kriteria, dan standar batas penguasaan.
Analisis Kemampuan Siswa Page 3
BAB II
PEMBAHA$AN
2.1 D!main %emam&uan $is'a
-emampuan adalah potensi dalam diri untuk berbuat sesuatu. 4eberapa atribut mental yang
termasuk dalam de%inisi kemampuan, meliputi bakat, inteligensi, dan penyesuaian diri. 4loom dan
rekan+rekannya mengembang+kan taksonomi atau sistem klasi%ikasi untuk mendeskripsikan
domain ke+mampuan sis(a. ,omain tersebut terdiri atas kemampuan kogniti%, a%ekti%, dan
psikomotorik.
a. D!main %!gniti(
,omain kogniti% mem%okuskan pada aspek ingatan dan penalaran. 6nam tingkatan domain
kogniti% yang disebutkan dalam taksonomi pemikir+an ini (4loom, 6ngelhart, 7rost, )ill, dan
-rath(ohl, 19/!), yaitu 8
1. Knowledge (pengetahuan) 8 Mengingat atau mengenali sesuatu tanpa harus memahami,
menggunakan, atau mengubahnya.
Contohnya, dalam materi tentang segitiga, sis(a yang memiliki tingkatan kogniti%
pengetahuan sudah mengenal segitiga.
2. Comprehension (pemahaman) 8 Memahami materi yang sedang di+komunikasikan tanpa
harus menghubungkannya dengan hal lain.
Contohnya, apabila sis(a memiliki tingkatan kogniti% pemahaman, maka dalam materi
tentang segitiga, sis(a sudah memahami bah(a segitiga adalah salah satu bidang datar
dalam ilmu matematika.
3. Application (aplikasi atau penerapan) 8 Menggunakan sebuah konsep umum untuk
menyelesaikan masalah tertentu.
Contohnya, apabila sis(a memiliki tingkatan kogniti% aplikasi, maka dalam materi
tentang segitiga, sis(a dapat mengaplikasikan dalam menghitung luas segitiga dengan
rumus 9 : 1;2 < alas < tinggi.
4. Analysis (analisis) 8 Membagi sesuatu menadi bagian+bagian.
Analisis Kemampuan Siswa Page 4
Contohnya, apabila sis(a memiliki tingkatan kogniti% analisis, maka dalam materi
tentang segitiga, sis(a dapat menganalisis mengapa luas segitiga memiliki rumus 9 : 1;2
< alas < tinggi. Setelah dianalisis, dapat dimengerti bah(a segitiga adalah 1;2 dari bangun
persegi panang. =leh karena itu, untuk menghitung luas segitiga, alas < tinggi harus
dibagi dua.
/. Synthesis (sintesis) 8 Menciptakan sesuatu yang baru dengan meng+kombinasikan
berbagai macam ide.
Contohnya, apabila sis(a memiliki tingkatan kogniti% sintesis, maka dalam materi tentang
segitiga, sis(a dapat mensintesis segitiga ke dalam berbagai bentuk, yaitu segitiga siku+
siku, segitiga sama kaki, dan segitiga sama sisi.
!. Evaluation (e&aluasi) 8 Mengukur nilai materi atau metode bila diterapkan dalam situasi
tertentu.
Contohnya, apabila sis(a memiliki tingkatan kogniti% e&aluasi, maka dalam materi
tentang segitiga, sis(a dapat mengambil keputusan tentang benar atau tidaknya kriteria
segitiga siku+siku yang memiliki sudut 9.
.
, segitiga sama kaki yang memiliki dua sudut
sama, dan segitiga sama sisi yang memiliki tiga sudut sama.
Sebuah re&isi taksonomi ini menambahkan bah(a proses+proses di atas dapat mendasarkan
diri pada empat enis pengetahuan, yaitu %aktual, kon+septual, prosedural, dan metakogniti%.
). D!main A(ekti(
#uuan pembelaaran ranah a%ekti% mem%okuskan pada aspek si+kap dan perasaan.
9ima tingkatan dasar yang disebutkan dalam taksonomi affective domain (ranah a%ekti%) 4loom,
yaitu 8
1. Receiving (menerima) 8 Menyadari atau memperhatikan sesuatu di lingkungan.
Contohnya, sis(a yang berada pada tingkatan ini akan bersedia untuk mendengarkan
penelasan guru dalam mata pelaaran tertentu, tapi tidak berani untuk menyukai mata
pelaaran tersebut.
2. Responding (merespons) 8 Memperhatikan perilaku baru sebagai hasil pengalaman.
Contohnya, sis(a menganggukkan kepala tanda mengerti hal yang diaarkan gurunya
dalam suatu mata pelaaran.
Analisis Kemampuan Siswa Page 5
3. Valuing (menghargai) 8 Menunukkan keterlibatan atau komitmen yang elas.
Contohnya, pada titik ini, sis(a lebih memilih untuk %okus mengikuti mata pelaaran
tertentu daripada membaca komik.
4. Organization (organisasi) 8 Mengintergrasikan nilai baru ke dalam peringkat nilai
seseorang secara umum, memberinya peringkat tertentu di antara prioritas+prioritas
orang itu secara umum. Contohnya, pada tingkatan ini, sis(a akan mulai membuat
komit+men angka panang untuk tetap konsisten mendalami konsep suatu mata
pelaaran tertentu .
/. Characterization y value (karakterisasi berdasarkan nilai) 8 4er+tindak dengan cara
yang konsisten dengan nilai baru itu.
Contohnya, pada tingkatan tertinggi a%eksi ini, sis(a memiliki komitmen yang sungguh+
sungguh untuk mencintai mata pelaaran tertentu dan mendemonstrasikannya secara
terbuka dan konsisten.
*. D!main &sik!m!t!rik
,omain psikomotorik mem%okuskan pada aspek koordinasi dan kemampuan %isik.
,omain psikomotorik terdiri atas intellectual s!ill (pe+ngetahuan keterampilan) dan motoric
s!ill (keterampilan motorik se+sungguhnya). *engetahuan keterampilan hanyalah memahami
tentang pengetahuan keterampilan suatu bidang, sedangkan keterampilan motorik
sesungguhnya dapat mengakomodasi dan mendayagunakan sesuatu dengan baik dan terampil.
,alam pembahasan ini, hanya dikai motoric s!ill (keterampilan motorik sesungguhnya). #uuh
tingkatan dasar yang disebutkan dalam taksonomi domain psikomotorik 4loom, yaitu 8
1. "erseption (persepsi)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a memiliki persepsi yang baik untuk memiliki niat
melakukan keterampilan sesuatu hal.
2. Ready (kesiapan)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a menyiapkan instrumen yang berkaitan dengan
keterampilan yang ia akan lakukan.
3. #uidance respons (gerakan terbimbing)
Analisis Kemampuan Siswa Page 6
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a mampu melakukan sesuatu setelah dicontohkan
atau diarahkan oleh orang lain.
4. $echanical response (gerakan biasa)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a mampu melakukan sesuatu tanpa bimbingan oleh
orang lain meskipun dalam tara% sederhana.
/. Comple% response (gerakan kompleks)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a mampu melakukan suatu hal yang rumit dengan
sendiri tanpa bantuan orang lain.
!. Ad&ustment (penyesuaian pola gerak)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a mampu terampil melakukan suatu hal dengan
penyesuaian pola gerak yang ia ciptakan sendiri.
$. Creativity (kreati&itas)
Contohnya, dalam tingkatan ini, sis(a mampu re%leks melakukan suatu hal dan
mengkreasikannya menadi suatu karya cipta sendiri.
2.2 De(inisi "an Tujuan Analisis %emam&uan $is'a
"nalisis kemampuan sis(a adalah suatu tindakan yang harus dialankan oleh guru dalam
menalankan tugas kepro%esionalitasnya untuk menggali dan mengkai seberapa luas dan dalam
tingkat kemampuan sis(a+sis(a dalam materi tertentu, baik dari aspek kogniti%, a%ekti%, dan
psikomotorik. 'adi, tuuan mendasar dari analisis kemampuan sis(a adalah mengeksplora+si kadar
penguasaan sis(a+sis(a untuk selanutnya ditelaah secara berkelan+utan dan dilakukan upaya
untuk mengoptimalisasi kemampuan tersebut.
2.3 Per)e"aan antara $k!r "an Nilai
Skor adalah hasil mentah (raw data) dari akti&itas menumlahkan angka+angka bagi setiap soal
tes yang dia(ab betul oleh sis(a pada pengukuran kemampuan kogiti% atau hasil mentah yang
diperoleh sis(a dari instrumen non tes untuk pengukuran a%ekti% dan psikomotorik, sedangkan
nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, biasanya acuan normal
atau acuan standar kriteria. *engubahan skor menadi nilai dapat dilakukan untuk skor tunggal,
misalnya sesudah menerima skor ulangan harian atau untuk skor gabungan (komposit) dari
beberapa ulangan untuk memperoleh nilai akhir rapor.
Analisis Kemampuan Siswa Page 7
Seorang sis(a yang memperoleh skor 4. bagi tes yang menghendaki skor maksimum 4.,
mempunyai arti bah(a sis(a tersebut sudah menguasai 1..> dari tuuan instruksional khusus
yang dirancangkan oleh guru. "kan tetapi, ika skor 4. tersebut diperoleh dari pengeraan soal tes
yang meng+hendaki skor maksimum 1.., maka skor 4. tersebut mencerminkan 4.> penguasaan
saa. ,engan demikian, angka 4. yang diperoleh dari seorang sis(a belum berbicara apa+apa
sebelum diketahui berapa skor maksimum yang diharapkan ika sis(a tersebut dapat
mengerakannya secara sempurna. "ngka 4. ini disebut sebagai skor mentah. "tas dasar itulah,
maka sebagai suatu prestasi belaar, guru di(aibkan untuk meng+ubah skor mentah menadi skor
berstandar 1...
Contoh8
Skor maksimum yang diharapkan 4.
" memperoleh skor 24
4erarti " hanya menguasai8 < 1..> : !. > dari tuuan instruksional khusus yang diinginkan.
'adi " memperoleh nilai !. sehingga tampak perbedaannya, 24 adalah skor dan !. adalah nilai.
1. Mensk!r
1ama lain dari menskor adalah memberi angka. ,alam hal pekeraan menskor atau memberi
angka, dapat digunakan 3 macam alat bantu, yaitu
1) *embantu menentukan a(aban yang benar disebut kunci a(aban.
2) *embantu menyeleksi a(aban yang benar dan yang salah disebut
kunci skoring.
3) *embantu menentukan angka disebut pedoman penilaian.
-unci 'a(aban dan kunci pemberian skor (skoring) untuk macam+macam bentuk tes adalah
sebagai berikut.
1. Tes )entuk )etul+salah
-arena dalam hal ini testee (tercoba) hanya diminta untuk melingkari huru% 4 dan S saa, maka
kunci a(aban yang disediakan hanya berbentuk urutan nomor dan a(aban benar (4) atau salah
(S). ,alam menentukan angka (skor) untuk tes 4+S ini dapat digunakan 2 cara seperti8
Tan&a hukuman atau tan&a "en"a ,tan&a &inalti-
Analisis Kemampuan Siswa Page 8
"pabila banyak angka yang diperoleh sis(a sebanyak a(aban yang cocok dengan kunci. 'ika
dalam 1. soal sis(a mena(ab betul sebanyak ! soal, maka skor sis(a tersebut adalah !.
Dengan hukuman atau "engan "en"a ,"engan &inalti-
-arena diragukan adanya unsur tebakan, maka digunakan dua macam rumus. Sebagai contoh 8
4anyaknya soal : 1. buah
4etul : 8 buah
Salah : 2 buah
?umus 18 $ . / 0 1
S : Score ? : Right @ : 'rong
'adi, skornya adalah 8 A 2 : !
?umus 28
$ . T +21
# : umlah total soal
'adi, skornya adalah 1. A 2 (2) : !
). Tes )entuk &ilihan gan"a ,multiple choice-
-unci a(aban untuk pilihan ganda dapat diberikan seperti berikut8
1. a b c d
2. a b c d
3. a b c d
4. a b c d
/. a b c d
,alam menentukan angka untuk tes bentuk pilihan ganda dikenal 2 macam cara, yakni tanpa
hukuman dan dengan hukuman. #anpa hukuman apabila banyaknya angka dihitung dari
banyaknya a(aban yang cocok dengan kunci a(aban. ,engan hukuman menggunakan rumus8
$ . / +
S : Score
? : Right
@ : 'rong
n : banyaknya pilihan a(aban
Analisis Kemampuan Siswa Page 9
Contoh8
4anyak soal 8 1. buah
4anyak betul 8 8 buah
Salah 8 2 buah
4anyak pilihan 8 3 buah
Maka skornya adalah8
S : 8 +
: 8 A 1 : $
2. Tes )entuk ja'a)an singkat ,short answer test-
Melihat namanya, maka a(aban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat+kalimat
panang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu pengertian. ,engan persyaratan
inilah maka bentuk tes ini dapat digolongkan ke dalam bentuk tes obekti%. #es bentuk isian,
dianggap setara% dengan tes a(ab singkat. -unci a(aban sesuai dengan nomornya.
Contoh8
1) 4erat enis
2) Mengembun
3) *opulasi
4) 6nergi
5ntuk pemberian skor, sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua) karena (alaupun usaha yang
dikeluarkan sis(a sedikit, tetapi lebih sulit dari pada bentuk tes betul+salah. ,apat uga pemberian
angka disamakan dengan angka pada tes bentuk betul+salah atau pilihan ganda ika memang
a(aban yang diharapkan ringan atau mudah. #etapi sebaliknya, ika a(abannya ber&ariasi,
misalnya lengkap sekali, lengkap dan kurang lengkap, maka angkanya dapat dibuat ber&ariasi pula
misalnya 2B 1,/B dan 1.
a. Tes menj!"!hkan ,matching-
*ada dasarnya tes bentuk menodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana a(aban+
a(aban diadikan satu, demikian pula pertanyaan+pertanyaannya. ,engan demikian, maka pilihan
a(abannya dibuat sedemikian rupa sehingga a(aban yang satu tidak diperlukan bagi pertanyaan
lain. -unci a(aban tes bentuk menodohkan dapat berbentuk deretan nomor yang diikuti oleh
huru%+huru% yang terdapat di depan alternati% a(aban.
Analisis Kemampuan Siswa Page 10
Contoh8
1. % 3. e /. d
2. c 4. a !. b
#es menodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks, maka angka yang
diberikan sebagai imbalan uga harus lebih banyak, minimal angka untuk tiap nomor adalah 2
(dua).
). Tes )entuk Uraian
Sebelum menyusun sebuah tes uraian, sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu pokok+pokok
a(aban yang kita kehendaki. ,engan demikian, maka akan mempermudah kita dalam pekeraan
mengoreksi tes itu.
#idak ada a(aban yang pasti terhadap tes bentuk uraian ini. 'a(aban yang kita peroleh akan
sangat beraneka ragam dari sis(a yang satu ke sis(a yang lain. 9angkah+langkah untuk
mempermudah dalam mengoreksi dan memberi angka tes bentuk uraian adalah sebagai berikut.
1) Membaca a(aban dari seluruh sis(a untuk mengetahui situasi a(aban. ,engan membaca
seluruh a(aban, kita dapat memperoleh gambaran lengkap tidaknya a(aban yang diberikan
sis(a secara keseluruhan.
2) Menentukan angka untuk soal pertama tersebut, misalnya ika a(aban+nya lengkap diberi
angka /, kurang sedikit diberi angka 4, begitu seterusnya sampai kepada a(aban yang paling
minim.
*. %un*i ja'a)an "an kun*i &em)erian sk!r untuk tugas
-unci a(aban untuk memeriksa tugas merupakan pokok+pokok yang harus termuat di dalam
pekeraan sis(a. )al ini menyangkut kriteria tentang isi tugas. 1amun sebagai kelengkapan dalam
pemberian skor, digunakan suatu tolak ukur tertentu, yaitu sebagai berikut.
1) -etepatan (aktu penyerahan tugas
2) 4entuk %isik pengeraan tugas yang menandakan keseriusan mahasis(a dalam mengerakan
tugas.
3) Sistematika yang menunukkan alur keruntutan pikiran.
4) -elengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
/) Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis+garis yang sudah ditentukan oleh dosen.
Analisis Kemampuan Siswa Page 11
,alam pemberian skor, perlu dipikirkan peranan masing+masing aspek kriteria tersebut,
misalnya8
"1 A ketepatan (aktu diberi bobot 2
"2 A bentuk %isik diberi bobot 1
"3 A sistematika, diberi bobot 3
"4 A kelengkapan isi diberi bobot 3
"/ A Mutu hasil, diberi bobot 3
2. Meng!lah Nilai
4eberapa skala penilaian adalah sebagai berikut8
a. $kala Be)as
Skala bebas adalah skala yang tidak tetap, ada kalanya skor tertinggi 2., lain kali 2/, dan
lain kali lagi /.. Cni semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. 'adi angka tertinggi tidak
selalu sama.
). $kala 1+ 12
,alam skala 1+1., guru arang memberikan angka pecahan, misalnya /,/. "ngka /,/
tersebut dibulatkan menadi !. *adahal angka !,4 pun akan dibulatkan menadi !. ,engan
demikian, maka rentangan angka /,/ sampai dengan !,4 akan keluar di rapor dalam satu (aah
yaitu angka !.
*. $kala 1+122
,engan menggunakan skala 1+1.., maka bilangan bulat yang ada masih menunukkan
penilaian yang agak kasar. "da sebenarnya hasil prestasi yang berada diantara kedua angka
bulat itu. 5ntuk itulah maka, dengan menggunakan skala 1+1.., dimungkinkan melakukan
penilaian yang lebih halus karena terdapat 1.. bilangan bulat. 1ilai /,/ dan !,4 dalam skala 1+
1. yang biasanya dibulatkan menadi !, dalam skala 1+1.. dapat dituliskan dengan // atau !4.
". $kala Huru(
Selain menggunakan angka, pemberian nilai uga dapat dilakukan dengan huru% ", 4, C,
, dan 6. Sebenarnya sebutan DskalaE di atas ini ada yang mempersoalkan, arak antara " dan
4 tidak dapat digambarkan sama dengan arak antara 4 dan C atau antara C dan ,. ,alam
menggunakan angka dapat dibuktikan dengan garis bilangan bah(a arak antara 1 dan 2 sama
Analisis Kemampuan Siswa Page 12
dengan arak antara 2 dan 3. ,emikian pula arak antara 3 dan 4, serta 4 dan /. "kan tetapi
ustru alasan inilah lalu timbul pikiran untuk menggunakan huru% sebagai alat penilaian. 5ntuk
menggambarkan kelemahan dalam menggunakan angka adalah dengan angka dapat dita%sirkan
sebagai nilai perbandingan. Sis(a " yang memperoleh angka 8 dalam searah tidak berarti
memiliki kecakapan sebanyak 2 kali lipat kecakapan sis(a 4 yang memperoleh angka 4 dalam
rapor. 'adi sebenarnya, menggunakan angka hanya merupakan simbol yang menunnukkan
urutan tingkatan. Sis(a " yang memperoleh angka 8 memiliki prestasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sis(a 4 yang memperoleh angka 4.
)uru% terdapat dalam urutan abad. *enggunaan huru% dalam penilaian akan terasa lebih
tepat digunakan karena tidak dita%sirkan sebagai arti perbandingan. )uru% tidak menunukkan
kuantitas, tetapi dapat digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan kualitas. =leh karena
itu, dalam mengambil umlah atau rata+rata akan diumpai kesulitan. *adahal dalam pengisian
rapor, kita tidak dapat terlepas dari pekeraan mengambil rata+rata.
"da satu cara yang digunakan untuk mengambil rata+rata dari huru%, yaitu dengan
mentrans%er huru% tersebut menadi nilai angka dahulu. Satu nilai huru% itu me(akili satu
rentangan nilai angka.
Angka 122 Angka 12 IP Huru( %eterangan
8. A 1.. 8,. A 1.,. 8,1 A 1. " 4aik sekali
!! A $9 !,! A $,9 !,! A 8,. 4 4aik
/! A !/ /,! A !,/ /,! A !,/ C Cukup
4. A // 4,. A /,/ 4,1 A /,/ , -urang
3. A 39 3,. A 3,9 . A 4,. 6 Fagal
2.# A*uan Penilaian
,alam melakukan penilaian, ada beberapa acuan yang digunakan untuk interpretasi hasil, yaitu
acuan intuiti%, acuan ipsati%, acuan sempurna, dan acuan kriteria.
2.#.1 A*uan Intuiti(
"cuan intuiti% menggunakan pakar yang berpengalaman. *akar itu menggunakan
kepakarannya dan pengalamannya untuk secara intuiti% mem+beri arti kepada sekor. )asilnya
adalah tara intuiti% dalam bentuk, misalnya " sampai 6 atau 4 sampai .. Cara ini sangat subekti%
sehingga hasilnya bisa berbeda+beda dari pakar satu ke pakar lainnya. 5ntuk mengatasinya, dapat
digunakan lebih dari satu pakar dan taranya direratakan.
2.#.2 A*uan I&sati(
Analisis Kemampuan Siswa Page 13
Cpse adalah diri sendiri sehingga acuan ipsati% adalah acuan terhadap diri responden
bersangkutan. Caranya adalah mencari hasil masa lalu dari responden bersangkutan, serta
membandingkan hasil sekarang dengan hasil masa lalu itu. Misalnya, sekor responden adalah 8/.
*ada masa lalu, responden bersangkutan memiliki sekor $. sehingga tara ipsati% adalah G1/,
tetapi bila pada masa lalu, responden memiliki sekor 9/, maka tara ipsati%+nya adalah +1..
2.#.3 A*uan $em&urna
"cuan sempurna memiliki kriteria sempurna. 'arak di antara sekor responden dengan kriteria
sempurna menentukan tara sempurna. #ara sempurna dapat menggunakan, misalnya " samapai 6
atau 4 sampai .. Misalnya, kriteria sempurna adalah 1.., sedangkan sekor responden adalah 8/.
'arak di antara 8/ dan 1.. ini, misalnya " atau 4.
2.#. A*uan N!rma
"cuan norma memerlukan suatu kelompok pembanding yang dinama+kan kelompok norma.
-edudukan sekor responden pada sekor kelompok norma itu menghasilkan tara. #ara pada acuan
norma yang banyak diguna+kan adalah tara peringkat persentil, tara nilai baku, dan khusus untuk
bidang pendidikan, tara tingkat kelas, dan tara umur.
2.#.# A*uan %riteria
"cuan kriteria memerlukan deskripsi tentang kriteria, misalnya kriteria penguasaan akan
bongkar+pasang mesin. "cuan kriteria uga memerlukan standar ketuntasan penguasaan dengan
hasil telah menguasai atau belum menguasai. "cuan kriteria memerlukan alat ukur khusus yang
memenuhi kriteria yang digunakan. ,engan alat ukur ini, diperoleh hasil ukur yang diacu ke
standar. "cuan ke standar ini menghasilkan ketuntasan penguasa+an, sudah menguasai atau belum
menguasai.
2.3 A*uan n!rma
)asil penilaian acuan norma dapat digambarkan menurut kur&a distribu+si normal, seperti
gambar di ba(ah ini.
Analisis Kemampuan Siswa Page 14
4am)ar 2.1 Ilustrasi %ur5a Distri)usi N!rmal
,istribusi normal adalah tipe distribusi khusus yang sangat berguna ketika
menginterpretasikan skor uian. ,istribusi normal yang digambarkan sebagai kur&a normal
(Fausian) atau kur&a bentuk lonceng adalah sebuah distribusi yang mengkarakterisasikan banyak
&ariabel yang teradi di alam. *ada kur&a distribusi normal kita uga dapat melihat suatu skor uian
yang luas condong DtertimbunE sekitar tengah distribusi.
-ur&a distribusi normal merupakan kur&a distribusi berbentuk simetris, unimodal, di mana
skor rata+rata : median : modus. -ur&a distribusi normal berbentuk simetris karena ika kita
membagi distribusi menadi dua bagian, maka akan terbagi menadi dua bagian yang sama
sehingga karakteristik paling berguna dari distribusi normal adalah proporsi yang dapat diprediksi
teradi pada skor yang spesi%ik dalam distribusi.
,engan acuan norma, hasil tes seseorang dibandingkan dengan kelompoknya sehingga
dapat diketahui posisi seseorang. "cuan ini biasanya digunakan pada tes untuk seleksi karena
sesuai dengan tuuannya tes seleksi adalah untuk membedakan kemampuan seseorang dan untuk
mengetahui hasil belaar seseorang.
#uuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensi% dan meliputi
suatu bidang isi dan tugas belaar yang besar. *ada pendekatan acuan norma, standar kinera yang
digunakan bersi%at relati%, artinya tingkat kinera seorang sis(a ditetapkan berdasarkan pada posisi
relati% dalam kelompoknya. "rtinya, seorang yang memperoleh nilai di atas rata+rata kelompoknya
maka sis(a tersebut memperoleh skor yang tinggi, begitu uga sebaliknya. Salah satu keuntungan
dari standar relati% ini adalah penempatan skor (kinera) sis(a dilakukan tanpa memandang
kesulitan suatu tes secara teliti. -ekurangan dari penggunaan standar relati%8
,ianggap tidak adil
Membuat persaingan yang tidak sehat diantara sis(a
Analisis Kemampuan Siswa Page 15
Contoh D"E acuan norma dalam menentukan nilai sis(a.
,alam kelas matematika, peserta tes terdiri dari 9 orang dengan skor mentah /., 4/, 4/, 4.,
4., 4., 3/, 3/, dan 3.. 'ika menggunakan pendekatan penilaian acuan normal (*"1), maka
peserta tes yang mendapat skor tertinggi (/.) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 1.,
sedangkan mereka yang mendapat skor di ba(ahnya akan mendapat nilai secara proporsional,
yaitu 9, 9, 8, 8, 8, $, $, !.
Skor /. dikon&ersi menadi nilai 1. sebagai nilai tertinggi yang di+capai peserta tes, yang
diperoleh dengan cara8 < 1. : /.. *enentuan nilai dengan skor di atas dapat uga dihitung
terlebih dahulu persentase a(aban benar, lalu yang memperoleh persentase tertinggi diberikan
nilai tertinggi.
"cuan norma memerlukan kelompok norma. -elompok norma boleh lebih dari satu
sehingga diperoleh tara untuk setiap kelompok norma. #ara pada kelompok norma dapat saa
berbeda+beda.
2.3.1 Data %el!m&!k N!rma
5ntuk dapat menentukan tara pada acuan norma diperlukan in%ormasi dari setiap kelompok
norma. Semua sekor pada kelompok norma perlu diketahui sehingga dapat dipakai sebagai acuan
pada sekor responden. Semua sekor ini adalah populasi data kelompok norma.
"da kalanya populasi data kelompok norma tidak dapat diperoleh. #anpa populasi data ini,
tara tidak dapat ditentukan. 5ntuk mengatasi tiadanya populasi data kelompok norma, sering
digunakan sampel data kelompok norma. Cara penarikan sampel supaya memenuhi ketentuan
yang ditentukan oleh teknik pensampelan. ,iharapkan bah(a tara pada populasi kelompok norma
akan sama dengan tara pada sampel kelompok norma sehingga sampel kelompok norma dapat
digunakan untuk menggantikan kedudukan populasi kelompok norma.
2.3.2 %e"u"ukan "an Ukuran %el!m&!k N!rma
-edudukan kelompok norma diartikan sebagai seberapa luasnya ke+lompok norma itu
dikenal orang. -elompok norma hasil uian #=679, misalnya, dikenal hampir di seluruh dunia.
-elompok norma 5ian 1asional di Cndonesia, dikenal di seluruh Cndonesia.
Analisis Kemampuan Siswa Page 16
-arena tara pada acuan norma terkait dengan kelompok norma, maka tara itu akan dikenal
banyak orang sekiranya kelompok normanya uga dikenal oleh orang banyak. #ara pada acuan
norma yang berasal dari kelom+pok norma yang tidak dikenal luas, tidak akan ada artinya bagi
masyarakat luas yang membacanya. Ctulah sebabnya, kelompok norma yang dipilih
adalah kelompok norma yang dikenal luas, seperti Sea Fames pada olahraga atau =limpiade. "da
beberapa macam ukuran kelompok norma. 4erapa besar pun ukurannya, diharapkan bah(a ukuran
itu tidak terlalu kecil. Sela+in kegunaannya sangat kecil, ukuran kelompok norma yang kecil uga
tidak dikenal orang sehingga taranya tidak memiliki arti bagi banyak orang.
2.3.3 Trans(!rmasi Linier $k!r Mentah Menja"i $k!r $tan"ar
2.3.3.1 z-scores
z(scores adalah %ormat skor standar paling sederhana dan mengindikasikan seberapa auh
skor mentah di atas atau di ba(ah rata+rata distribusi dalam unit standar de&iasi. *ersamaan untuk
menentukan z(scores
z(scores (H
i
A H)
S,
<
di mana H
i
: Skor mentah setiap indi&idual i
H : ?ata+rata skor mentah
S,
<
: Standar de&iasi skor mentah
z(scores memiliki skor rata+rata . dan standar de&iasi 1. Semua skor di atas rata+rata akan
menadi positi% dan semua skor di ba(ah rata+rata akan menadi negati%. Contohnya, z(scores 1,!
artinya 1,! standar de&iasi di atas skor rata+rata dan z(scores +1,! artinya 1,! standar de&iasi di
ba(ah skor rata+rata. Sedikit tes yang mempublikasikan laporan z(scores. Meskipun demikian,
peneliti biasa menggunakan z(scores karena skor rata+rata . dan standar de&iasi 1 membuat
%ormula statistika lebih mudah untuk dikalkulasi.
2.3.3.2 T-scores
)(scores memiliki skor rata+rata /. dan standar de&iasi 1.. ,ibandingkan dengan z(scores,
)(scores memiliki kelebihan, yaitu semua memiliki skor positi% dan tanpa desimal. Contohnya,
skor !! adalah 1,! standar de&iasi di atas skor rata+rata dan skor 34 adalah 1,! standar de&iasi di
ba(ah skor rata+rata. *ersamaan untuk menentukan )(scores 8
)(scores : /.

G 1. . (H
i
A H)
S,
<
Analisis Kemampuan Siswa Page 17
di mana H
i
: Skor mentah setiap indi&idu yang mengambil uian i
H : ?ata+rata skor mentah
S,
<
: Standar de&iasi skor mentah
2.3.3.3 1e*hsler I6
5kuran kecerdasan @echsler menggunakan suatu %ormat skor standar dengan rata+rata 1..
dan standar de&iasi 1/. Seperti )(scores, %ormat @echsler CI meninggalkan skor desimal dan
negati%. Contohnya, skor 124 adalah 1,! standar de&iasi di atas rata+rata dan skor $! adalah 1,!
standar de&iasi di ba(ah rata+rata.
2.3.3. $tan(!r"+Binet I6
5kuran kecerdasan Stan%ord+4inet sampai kini digunakan suatu %ormat skor standar
dengan rata+rata 1.. dan standar de&iasi 1!. Cni mirip dengan %ormat yang diambil dari ukuran
@echsler, tetapi standar de&iasi ini 1!, bukan 1/. ,engan ukuran Stan%ord+4inet, skor 12! adalah
1,! standar de&iasi di atas rata+rata dan nilai $4 adalah 1,! standar de&iasi di ba(ah rata+rata. 4aik
@echsler CI, maupun Stan%ord+4inet CI, persamaan umum untuk menentukan rasio CI, yaitu M"
; C" < 1.., di mana M" ($ental Age) dan C" (Chronological Age).
2.3.3.# 7EEB Scores ,$AT84/E-
7ormat ini dikembangkan oleh College Entrance E%amination *oard dan digunakan
dengan tes Scholastic Assesment )est (S"#) dan the #raduate Record E%amination (F?6). Skor
C644 memiliki rata+rata /.. dan standar de&iasi 1... ,engan %ormat ini, skor !!. adalah 1,!
standar de&iasi di atas rata+rata dan skor 34. adalah 1,! standar de&iasi di ba(ah rata+rata.
Secara elas, %ormat penentuan skor standar sangatlah penting. Misalkan, suatu skor standar
$.. 'ika ini adalah )(score, skor $. merepresentasikan suatu skor 2 standar de&iasi di atas rata+
rata. 'ika ini adalah @echsler CI, skor $. merepresentasikan suatu skor 2 standar de&iasi di ba(ah
rata+rata. )ubungan di antara perbedaan %ormat skor baku dapat disimpulkan seperti tabel di
ba(ah ini.
Analisis Kemampuan Siswa Page 18
Ta)el 2.1 Hu)ungan "i antara Per)e"aan 9!rmat $k!r Baku
*ersamaan untuk mengkon&ersi di antara beberapa skor baku di atas, yaitu
Skor baku : (H
i
A H)
S,
Misalkan, kita akan mengkon&ersi skor baku z(scores 1,! menadi skor )(scores, CI @echsler, dan
C664, maka caranya 8
a. -on&ersi z(scores menadi )(scores (rata+rata /. dan standar de&iasi 1.)
1,! : H
i
+ /. H
i
: skor dalam )(scores : !!
1.
b. -on&ersi z(scores menadi CI @echsler
(rata+rata 1.. dan standar de&iasi 1/)
1,! : H
i
A 1.. H
i
: skor dalam CI @echsler : 124
1/
c. -on&ersi z(scores menadi C664 (rata+rata /.. dan standar de&iasi 1..)
1,! : H
i
+/.. H
i
: skor dalam C664 : !!.
1..
2.3. Trans(!rmasi N!n+linier $k!r Mentah Menja"i $k!r $tan"ar
2.3..1 Staine Scores ,Standard Nine-
Analisis Kemampuan Siswa Page 19
Staine scores membagi distribusi menadi 9 bagian. Staine scores memiliki skor rata+rata /
dan standar de&iasi 2. -arena staine scores hanya menggunakan 9 skor untuk merepresentasikan
keseluruhan angkauan, maka staine scores tidak tepat dalam menunukkan %ormat skor.
2.3..2 Percentile Rank ,Peringkat Persentil-
Salah satu cara yang mudah dimengerti untuk menginterpretasikan suatu skor uian adalah
peringkat persentil. *eringkat persentil mere%leksi+kan persentase suatu skor terhadap skor lain
dalam suatu distribusi. *ering+kat persentil skor menunukkan kedudukan relati% skor tersebut
tanpa mem+pedulikan skor rata+rata dari standar de&iasi kelompok.
Skor yang mempunyai peringkat persentil : $. menunukkan bah(a skor itu berada di atas
$. > skor lainnya dan hanya terdapat 3. > skor yang lebih tinggi. 'adi, peringkat persentil
merupakan peringkat kedudukan skor.
2.3..2.1 Tara Peringkat Persentil
Salah satu tara pada acuan norma adalah #ara *eringkat *ersentil (#**). #ara ini
menggunakan ukuran persentase antara . > sampai 1.. >.
2.3..2.1.1 Peringkat Persentil ,PP- &a"a %el!m&!k N!rma
*eringkat persentil merupakan salah satu bentuk trans%ormasi sekor nonlinier.
*eringkat persentil adalah letak sekor itu di dalam kelom+pok sekor responden yang menyatakan
bah(a sekor itu lebih tinggi dari se+kian persen sekor responden lainnya. ,i dalam
penggunaannya, trans%or+masi persentil yang banyak digunakan adalah ** semi+inklusi%. Sebagai
langkah pertama, sekor di dalam populasi kelompok norma atau sampel kelompok norma disusun
ke dalam peringkat semi+inklusi%. Contoh ini me+nunukkan kelompok norma yang disusun ke
dalam peringkat semi+inklusi%.
A ,$ek!r- 9rekuensi : Pr!&!rsi ; : Pr!&!rsi PP
2 2. 4 4 2
3 4. 8 12 8
4 $. 14 2! 19
/ 9. 18 44 3/
! 13. 2! $. /$
$ 1.. 2. 9. 8.
8 /. 1. 1.. 9/
T!tal /.. 1..
Analisis Kemampuan Siswa Page 20
Ta)el 2.2 7!nt!h Peringkat Persentil &a"a $uatu %el!m&!k N!rma
Sekor responden !, misalnya, memiliki #** yang sama dengan ** pada sekor ! di kelompok
norma sehingga #**
!
: /$. 'adi, responden yang memiliki sekor ! lebih tinggi dari /$ > sekor
responden lain.
2.< A*uan %riteria
4erbeda dengan acuan norma, pada acuan kriteria, hasil pengukuran tidak diacu ke kelompok
norma, melainkan diacu ke kriteria penguasaan akan sesuatu. ,ari acuan itu dapat ditentukan
penguasaan responden akan sesuatu itu. 4iasanya pengukuran dilakukan melalui uian yang
disesuaikan dengan kriteria penguasaan. -etentuan tentang penguasaan responden akan sesuatu
dilakukan melalui standar penguasaan. 'adi, tara acuan kriteria terdiri atas belum menguasai dan
sudah menguasai (tuntas).
"cuan kriteria berasumsi bah(a hampir semua orang bisa belaar apa saa, namun (aktunya
yang berbeda. -onsekuensi acuan ini adalah adanya program remedial. *ena%siran skor hasil tes
selalu dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu. )asil tes ini dinilai lulus
atau tidak. 9ulus berarti bisa melakukan, tidak lulus berarti tidak bisa melakukan.
"cuan ini banyak digunakan untuk bidang sains dan teknologi serta mata kuliah praktik. #uuan
penggunaan acuan kriteria untuk menyeleksi (secara pasti) status indi&idual mengenai domain
perilaku yang ditetapkan atau dirumuskan dengan baik. )al itu dimaksudkan untuk mendapat
gambaran yang elas tentang kinera peserta tes, tanpa memperhatikan bagaimana kinera tersebut
dibandingkan dengan kinera yang lain.
,alam pendekatan dengan acuan kriteria, penentuan tingkatan didasarkan pada skor+skor
yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk presentase. 5ntuk mendapatkan nilai " atau 4,
seorang sis(a harus mendapatkan skor tertentu sesuai dengan batas yang ditentukan tanpa
terpengaruh oleh kinera (skor) yang diperoleh sis(a lain dalam kelasnya. Salah satu kelemahan
dalam menggunakan standar absolut adalah skor sis(a bergantung pada tingkat kesulitan tes yang
mereka terima. "rtinya, apabila tes yang diterima sis(a mudah maka para sis(a akan mendapat
nilai " atau 4, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan maka,
kemungkinan untuk mendapatkan nilai " atau 4 akan sangat kecil.
,alam menginterpretasi skor mentah menadi nilai dengan mengguna+kan pendekatan acuan
kriteria, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas+batas nilai kelulusan.
5mumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut8
Analisis Kemampuan Siswa Page 21
Contoh D4E di ba(ah ini, mempunyai data yang sama dengan contoh D"E, ika digunakan
penilaian acuan kriteria, maka langkah pertama yang dilakukan adalah menetapkan kriteria,
misalnya sebagai berikut8
/entang $k!r Nilai
9. s.d 1.. 1.
8. s.d 89 9
$. s.d $9 8
!. s.d !9 $
/. s.d /9 !
4. s.d 49 /
3. s.d 39 4
2. s.d 29 3
1. s.d 19 2
. s.d 9 1
Setelah kriteria ditetapkan, langkah berikutnya adalah mengkon&ersi skor mentah ke nilai.
5ntuk skor 8
/. dikon&ersi menadi nilai !
4/ dikon&ersi menadi nilai /
4. dikon&ersi menadi nilai /
Analisis Kemampuan Siswa Page 22
/entang $k!r Nilai
8. s.d 1.. "
$. s.d $9 4
!. s.d !9 C
4/ s.d /9 ,
J 4/ 6
3/ dikon&ersi menadi nilai 4
3. dikon&ersi menadi nilai 4
$k!r
Mentah
Nilai Pen"ekatan
N!rma %riteria
/. 1. !
4/ 9 /
4. 8 /
3/ $ 4
3. ! 4
Ta)el 2.3 $k!r Mentah= Nilai Pen"ekatan N!rmal= "an %riteria
Mencermati tabel di atas, tampak bah(a teradi perbedaan yang berarti antara in%ormasi
yang disaikan oleh kedua pendekatan yang digunakan. 5ntuk skor /., seorang sis(a akan
mendapatkan nilai 1. ika menggunakan pendekatan acuan penilaian norma, tetapi akan
memperoleh nilai ! ika menggunakan pendekatan acuan penilaian kriteria.
2.<.1 $tan"ar Batas Penguasaan
#ara acuan kriteria memerlukan standar batas penguasaan sebagai ru+ukan. Standar batas ini
perlu ditetapkan dan bahkan perlu disusun terlebih dahulu. "da berbagai metode yang dapat
digunakan untuk menyusun stan+dar batas penguasaan, yaitu metode penilaian secara pro%esional,
Metode 1edelsky, Metode "ngo%%, Metode -elompok -ontras, atau Metode 4ook+mark. ,i sini,
sebagai dasar penentuan standar adalah tara% sukar butir uian dan tingkat penguasaan responden.
4utir yang relati% sukar bagi responden memiliki standar berbeda dari butir yang relati% mudah
bagi responden.
2.<.1.1 Met!"e Penilaian $e*ara Pr!(esi!nal
Metode ini menggunakan pakar berpengalaman untuk menentukan penguasaan responden.
Setelah melihat alat ukur, maka berdasarkan pe+ngalaman mereka, secara intuisi, ditetapkan batas
nilai penguasaan. ,i atas batas nilai penguasaan itu, responden dinyatakan sudah menguasai dan di
ba(ah batas nilai itu, responden dinyatakan belum menguasai. -elemahan dari metode ini adalah
penentuan batas penguasaan dilakukan secara sangat subekti%. =leh karena itu, biasanya
digunakan beberapa orang pakar, misal+nya tiga orang pakar untuk menentukan batas. ?erata dari
keputusan pakar diadikan batas penguasaan.
2.<.1.2 Met!"e Ne"elsk>
Analisis Kemampuan Siswa Page 23
Metode ini dikemukakan oleh 9. 1edelsky pada tahun 19/4. Meto+de ini berlaku untuk
a(aban pilihan ganda dengan satu a(aban betul. ,asar metode ini adalah peluang mena(ab
betul. #anpa memandang pe+nguasaan responden, peluang untuk mena(ab betul adalah satu dari
ba+nyaknya pilihan ganda. Misalkan, ada n pilihan, maka peluang untuk me+milih a(aban betul
adalah 1 dari n.
Menurut 1edelsky, kalau tingkat penguasaan pada responden ikut diperhatikan, maka
mungkin saa peluang untuk mena(ab betul menadi berkurang. Mungkin ada butir yang dapat
dia(ab betul oleh responden dengan penguasaan minimum. 'ika pilihan itu tidak dihitung, maka
peluang untuk memilih a(aban betul akan berkurang, misalnya menadi 1 dari n+1 atau dari n+2.
Misalnya, pertanyaan tentang tentang geogra%i berikut.
Cbukota Mongolia adalah...
(") 5lanbator (C) #ashkent
(4) 5runKi (,) 9ondon
*ada butir tentang nama ibukota Mongolia, semula terdapat 4 pilihan a+(aban. 1amun, orang
dengan pengetahuan geogra%i minimum uga me+ngetahui bah(a 9ondon tidak mungkin menadi
ibukota Mongolia sehingga sebenarnya tinggal 3 pilihan a(aban. *eluang mena(ab betul dari 1
di antara 4 menadi 1 di antara 3. 4erikut ini adalah contoh penggunaannya.
Butir Pilihan Pr!)a)ilitas Pilihan Pr!)a)ilitas
1 4 L 3 1;3
2 4 L 3 1;3
3 4 L 2 1;2
4 4 L 1 1
/ 4 L 3 1;3
! 4 L 1 1
$ 4 L 2 M
8 4 L 1 1
T!tal 32 2 1! /
Ta)el 2. 7!nt!h Peluang Menja'a) Betul &a"a ? Butir
Sebelumnya, dengan 4 pilihan a(aban, untuk 8 butir, batas penguasaannya adalah 2. Setelah
dikurangi oleh pakar, maka untuk 8 butir yang sama, batas penguasaannya adalah /. 'adi, nilai di
atas / sudah di atas terkaan dianggap sudah menguasai. 5ntuk mengurangi %aktor subekti% pakar
dalam mengu+rangi pilihan a(aban, maka digunakan lebih dari satu pakar, misalnya tiga pakar.
)asil dari pakar itu direratakan untuk diadikan batas penguasaan.
Analisis Kemampuan Siswa Page 24
2.<.1.3 Met!"e Ang!((
Metode "ngo%% dalam penentuan standar batas penguasaan telah dipakai secara luas.
Metode ini menggunakan pakar yang mempelaari butir uian serta menggunakan kelompok
responden tertentu yang sudah diketahui penguasaannya, sepert contoh di ba(ah ini.
Butir Taksiran
1 8. >
2 4. >
3 1. >
4 !. >
/ 8. >
! 1.. >
$ 1.. >
8 /. >
9 /. >
1. $. >
/erata !4 >
Ta)el 2.# 7!nt!h $tan"ar Batas Penguasaan
Menurut Pakar &a"a Met!"e Ang!((
,engan kepakaran dan pengalamannya, secara intuisi, pakar menentukan persentase responden
dengan penguasaan minimum. ,ari persentase ini, ditentukan nilai batas penguasaan, yaitu !4 >.
2.<.1. Met!"e %el!m&!k %!ntras
*ada metode kelompok kontras digunakan dua kelompok kontras. Satu kelompok adalah
responden yang diambil dari mereka yang sudah menguasai dan kelompok lainnya adalah
responden yang belum menguasai.
Analisis Kemampuan Siswa Page 25
4am)ar 2.2 7!nt!h Nilai %el!m&!k %!ntras
,ari contoh gambar di atas, didapat nilai perpotongan antara kelompok yang sudah menguasai dan
belum menguasai adalah 13. Maka, nilai 13 inilah sebagai nilai batas penguasaan. ,i atas nilai itu,
responden sudah menguasai dan di ba(ah nilai itu, responden belum menguasai.
2.<.1.# Met!"e Bookmark
*ada metode oo!mar!, butir pada uian diurut dari mudah ke yang sukar dan disusun
berurutan, seperti halaman buku. -emudian para pakar berunding untuk seperti menyelipkan tanda
pada halaman buku, menentu+kan nilai batas penguasaan sebagai standar batas penguasaan. ,alam
pelak+sanaan, penentuan ini dapat dilakukan beberapa kali dan oleh beberapa kelompok sampai
teradi kesepakatan di antara mereka tentang nilai batas penguasaan. "da uga yang menggunakan
teori responsi butir untuk menen+tukan tara% sukar butir. Setelah diurutkan dari yang mudah ke
sukar, nilai batas ditentukan pada tara% sukar butir dengan probabilitas a(aban betul sebesar .,!$.
2.? A*uan N!rma= A*uan %riteria atau %e"uan>a @
Sangatlah mungkin sebuah tes menggunakan acuan norma dan acuan kriteria sekaligus. "cuan
norma dapat diaplikasikan pada enis tes yang memiliki angkauan materi lebih luas dibandingkan
dengan acuan kriteria. "cuan norma dapat diterapkan pada #es *er%ormansi Maksimal
($a!simum "erformance )est, seperti tes bakat dan prestasi) dan #es *er%ormansi #ipikal (typical
response, seperti tes minat, sikap dan tingkah laku), namun acuan kriteria secara khusus hanya
dapat diterapkan pada #es *er%ormansi Maksimal. -arena skor yang menggunakan acuan kriteria
menggambarkan kemampuan peserta tes pada materi tertentu, maka tidak logis ika meng+gunakan
acuan kriteria untuk mengukur kepribadian.
Mengingat acuan kriteria memiliki %okus pada pende%inisian kemampu+an, acuan kriteria
kebanyakan digunakan pada tes prestasi belaar atau tes
lain yang didesain untuk menilai penguasaan atau kemampuan sis(a. -onstruksi, seperti sikap dan
intelegensi biasanya lebih luas dan lebih tepat bila menggunakan acuan norma. 4ahkan, penguian
prestasi sering diguna+kan kerangka acuan norma dibandingkan dengan acuan kriteria karena
dapat mencakup pengetahuan dan materi yang lebih luas.
@alaupun pembahasan seauh ini lebih menekankan kepada perbedaan antara kerangka acuan
norma dan acuan kriteria, keduanya tidak saling asing. #es dapat dikembangkan dengan
menggunakan acuan norma dan kri+teria karena keduanya memiliki karakteristik tersendiri dan
memberikan in+%ormasi yang berman%aat. "cuan 1orma memberikan in%ormasi penting ten+tang
bagaimana kedudukan seorang sis(a dalam kelompoknya, sedangkan acuan kriteria memberikan
Analisis Kemampuan Siswa Page 26
in%ormasi penting tentang seberapa besar tingkat seorang sis(a menguasai pengetahuan atau
materi tertentu. -arakteristik acuan norma dan acuan kriteria dapat dilihat pada tabel diba(ah ini.
A*uan N!rma A*uan %riteria
Membandingkan kemampuan seseorang dengan
kemampuan dalam kelompok, bersi%at relati%
Membandingkan kemampuan seseorang dengan
sesuatu tingkatan atau kriteria khusus, bersi%at
mutlak
"gar interpretasinya berman%aat, diperlukan
suatu acuan kelompok yang rele&an
"gar interpretasinya berman%aat, diperlukan
de%inisi pengetahuan atau materi secara hati+
hati
4iasanya mengui cakupan pengetahuan atau
materi lebih luas
4iasanya mengui cakupan materi yang lebih
terbatas dan sempit
Memuat lebih sedikit umlah butir untuk
mengukur setiap tuuan tes
Memuat lebih banyak butir untuk mengukur
setiap tuuan tes
4utir soal dipilih dengan tingkat kesulitan
menengah. 4utir soal dengan tingkat kesulitan
mudah dan sulit biasanya dihilangkan
4utir soal dipilih dapat mencakup seluruh
materi yang ada. #ingkat kesulitan butir soal
disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi
Contoh8 *eringkat persentil. *ering+kat persentil
8. menunukkan bah(a dalam kelompoknya, ada
8.> peser+ta tes lainnya yang memiliki kemam+
puan kurang atau sama dengan kemampuan
peserta tes tersebut
Contoh8 *ersentase skor a(aban benar
+percent corrent). *ersentase skor a(aban
benar 8. menunukkan bah(a peserta tes
berhasil mena(ab secara benar 8.> dari butir
tes yang diuikan
Ta)el 2.3 %arakteristik A*uan N!rma "an A*uan %riteria
(,ikutip dari ?eynolds, et al. dalam -usaeri,suprananto. 2.12848)
2.A. Perhitungan Penilaian "engan A*uan %riteria "an A*uan N!rma
5ntuk menelaskan bagaimana proses penilaian yang dilakukan dengan acuan norma dan
kriteria, berikut ini diberikan sebuah contoh. Sebanyak 2. orang sis(a mengikuti tes hasil belaar
berbentuk obekti% sebanyak 1.. bu+tir. ,ari pengukuran (testing), diperoleh hasil sebagai berikut.
$is'a $k!r
1 !.
2 8$
3 $3
4 $!
/ $1
! !$
$ 84
8 !/
9 !3
1. 8!
11 94
12 8/
13 8/
14 $8
1/ $9
1! 91
1$ 92
18 82
19 83
2. $/
Analisis Kemampuan Siswa Page 27
*enilaian yang dilakukan menggunakan acuan kriteria dengan skala . s.d 1.. dan batas
minimal ketuntasan belaar adalah !., maka perhitungan nilai dan pengambilan keputusan dapat
dilakukan sebagai berikut.
$is'a $k!r Nilai Batas Lulus %e&utusan
1 !. !. !. 9ulus
2 8$ 8$ !. 9ulus
3 $3 $3 !. 9ulus
4 $! $! !. 9ulus
/ $1 $1 !. 9ulus
! !$ !$ !. 9ulus
$ 84 84 !. 9ulus
8 !/ !/ !. 9ulus
9 !3 !3 !. 9ulus
1. 8! 8! !. 9ulus
11 94 94 !. 9ulus
12 8/ 8/ !. 9ulus
13 8/ 8/ !. 9ulus
14 $8 $8 !. 9ulus
1/ $9 $9 !. 9ulus
1! 91 91 !. 9ulus
1$ 92 92 !. 9ulus
18 82 82 !. 9ulus
19 83 83 !. 9ulus
2. $/ $/ !. 9ulus
)asilnya akan berbeda apabila penilaian menggunakan acuan norma. Misal+kan skala yang
digunakan adalah .+4 atau "+6, acuan yang digunakan ada+lah acuan norma dan sis(a dinyatakan
lulus bila memperoleh nilai minimal 2 atau C, maka perhitungan nilai dan pengambilan keputusan
dapat dila+kukan dengan langkah+langkah sebagai berikut.
1. Men>ajikan ta)el
Data (i
!.+!9 4
$.+$9 !
8.+89 $
9.+1.. 3
'umlah 2.
2. Menghitung rata+rata
Data B
i
(
i
(
i
B
i
!.+!9 !4,/ 4 2/8
$.+$9 $4,/ ! 44$
8.+89 84,/ $ /91,/
Analisis Kemampuan Siswa Page 28
9.+1.. 94,/ 3 283,/
'umlah 2. 1/8.



3. Menghitung $tan"ar De5iasi
Data B
i
B (
i
,B
i
C B-
2
(i,B
i
C B-
2
!.+!9 !4,/ $9 4 21.,2/ 841
$.+$9 $4,/ $9 ! 2.,2/ 121,/.
8.+89 84,/ $9 $ 3.,2/ 211,$/
9.+1.. 94,/ $9 3 24.,2/ $2.,$/
'umlah 2. 189/

. Menentukan /entang Nilai
-arena ada ! standar de&iasi dalam kur&a normal dan / rentang nilai
("+6 atau .+4) yang dicapai, maka pembagian standar de&iasi :
! ; / : 1,2
Analisis Kemampuan Siswa Page 29
N!. /entang $k!r
Angka Huru(
1. H + 3 S, sampai H + 1,8 S, : . 6
49,81 sampai !1,49
2. H + 1,8 S, sampai H + .,! S, : 1 ,
!1,49 sampai $3,1!
3. H + .,! S, sampai H G .,! S, : 2 C
$3,1! sampai 84,84
4. H G .,! S, sampai H G 1,8 S, : 3 4
84,84 sampai 9!,/1
/. H G 1,8 S, sampai H G 3 S, : 4 "
9!,/1 sampai 1..
Nilai

#. Menghitung Nilai "an Mem)uat %e&utusan
$is'a $k!r Angka Huru( %e&utusan
1 !. . 6 #idak lulus
2 8$ 3 4 9ulus
3 $3 1 , #idak lulus
4 $! 2 C 9ulus
/ $1 1 , #idak lulus
! !$ 1 , #idak lulus
$ 84 2 C 9ulus
8 !/ 1 , #idak lulus
9 !3 1 , #idak lulus
1. 8! 3 4 9ulus
11 94 3 4 9ulus
12 8/ 3 4 9ulus
13 8/ 3 4 9ulus
14 $8 2 C 9ulus
1/ $9 2 C 9ulus
1! 91 3 4 9ulus
1$ 92 3 4 9ulus
18 82 2 C 9ulus
19 83 2 C 9ulus
2. $/ 2 C 9ulus
4erdasarkan kedua sistem penilaian di atas (kriteria dan norma), dapat dilihat bah(a acuan
yang berbeda dapat menghasilkan keputusan penilaian yang berbeda. *ada penilaian dengan acuan
kriteria, semua sis(a dinyata+kan lulus dengan karena seluruh sis(a mencapai batas minimal
ketuntasan. Sebaliknya, pada penilaian dengan acuan norma terdapat enam sis(a yang dinyatakan
tidak lulus karena berada pada keadaan yang auh di ba(ah rata+rata kelompoknya.
,ari pembahasan ini, secara garis besar dapat diuraikan bah(a hasil pengukuran berupa
skor belum mempunyai arti untuk dapat digunakan dalam membuat keputusan. Skor hanya
bermakna dan dapat digunakan untuk membuat keputusan setelah diubah menadi nilai melalui
Analisis Kemampuan Siswa Page 30
proses penilaian. ,alam mengubah skor menadi nilai, proses penilaian mengguna+kan acuan
tertentu. =leh karena itu, pemberian makna pada nilai dalam mengambil keputusan harus
mempertimbangkan acuan yang dapat diguna+kan untuk mengubah skor menadi nilai.
2.12 Pen"ekatan Pem)elajaran Contextual Teaching and Learning
$e)agai Alternati( Pen"ekatan Eks&l!rasi %emam&uan $is'a
-emampuan sis(a+sis(a beragam dan tidak dapat disamaratakan anta+ra satu dengan yang
lainnya. *endekatan Conte%tual )eaching and ,earning (C#9) ini hadir sebagai alternati%
pendekatan pembelaaran untuk meng+eksplorasi lebih dalam tentang keunggulan masing+masing
sis(a sehingga dapat menunang guru untuk bersikap adil dalam menilai seluruh kom+petensi
sis(a. *endekatan pembelaaran C#9 ini melibatkan tuuh kom+ponen utama dari pembelaaran
produkti%, yaitu konstrukti&isme (construc(tivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry),
masyarakat belaar (learning community), pemodelan (modelling), re%leksi (reflection) dan pe+
nilaian autentik (authentic assessment) (,epdiknas,2..3).
1. %!nstrukti5isme ,Constructivism-
Setiap indi&idu dapat membuat struktur kogniti% atau mental berdasar+kan pengalaman
mereka maka setiap indi&idu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai
konstrukti&isme ("teec, 2...). 7ungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui
metode penemuan (self(discovery), inquiri dan lain sebagainya, sis(a berpartisipasi secara akti%
dalam membentuk ide baru. Menurut *iaget pendekatan konstruk+ti&isme mengandung empat
kegiatan inti, yaitu 8
1) Mengandung pengalaman nyata (E%perience)B
2) "danya interaksi sosial (Social interaction)B
3) #erbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense ma!ing)B
4) 9ebih memperhatikan pengetahuan a(al ("rior Knowledge).
-onstrukti&isme merupakan landasan berpikir (%iloso%i) pendekatan kontekstual, yaitu bah(a
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks
yang terbatas.
*engetahuan bukanlah seperangkat %akta+%akta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat.
Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Analisis Kemampuan Siswa Page 31
4erdasarkan pada per+nyataan tersebut, pembelaaran harus dikemas menadi proses Dmeng+
konstruksiE bukan menerima pengetahuan (,epdiknas, 2..3).
2. Bertan>a ,uestioning-
4ertanya merupakan strategi utama dalam pembelaaran kontekstual. -egiatan bertanya
digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir sis(a,
sedangkan bagi sis(a kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
pembelaaran yang berbasis inquiry. ,alam sebuah pembelaaran yang produkti%, kegiatan ber+
tanya berguna untuk 8
1) Menggali in%ormasi, baik administrati% maupun akademis.
2) Mengecek pengetahuan a(al sis(a dan pemahaman sis(a.
3) Membangkitkan respon pada sis(a.
4) Mengetahui seauh mana keingintahuan sis(a.
/) Mem%okuskan perhatian sis(a pada sesuatu yang dikehendaki guru.
!) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari sis(a.
$) Menyegarkan kembali pengetahuan sis(a.
3. Menemukan ,!n"uir#-
Menemukan merupakan inti dari pembelaaran C#9. *engetahuan dan ke+terampilan yang
diperoleh sis(a bukan hasil mengingat seperangkat %akta+%akta, tetapi hasil dari menemukan
sendiri (,epdiknas, 2..3). Menemukan atau inquiri dapat diartikan uga sebagai proses
pembelaaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
Secara umum, proses inquiry dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu 8
1) Merumuskan masalah.
2) Mengaukan hipotesis.
3) Mengumpulkan data.
4) Mengui hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.
Analisis Kemampuan Siswa Page 32
/) Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan sis(a memiliki sikap ilmiah, rasional, dan
logis untuk pembentukan kreati&itas sis(a.
. Mas>arakat )elajar ,Learning Communit#-
-onsep ,earning Community menyarankan agar hasil pembelaaran di+peroleh dari kerasama
dengan orang lain. )asil belaar itu diperoleh dari sharing antarsis(a, antarkelompok, dan antar
yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat
uga berperan disini dengan berbagi pengalaman (,epdiknas,2..3).
#. Pem!"elan ,$odeling-
*emodelan dalam pembelaaran C#9 merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu
dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau
guru memberi contoh cara mengerakan sesuau. ,alam arti guru memberi model tentang
Dbagaimana cara belaarE. ,alam pembelaaran kontekstual, guru bukanlah satu+satunya model.
Model dapat dirancang dengan melibatkan sis(a. Menurut 4andura dan @alters, tingkah laku
sis(a baru dikuasai atau dipelaari mula+mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model
yang dapat diamati atau ditiru sis(a digolongkan menadi 8
1. -ehidupan nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.
2. Simbolik (symolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk
gambar.
3. ?epresentasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat+alat
audio&isual, misalnya tele&isi dan radio.
3. /e(leksi ,Re%lection-
?e%leksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelaari atau berpikir kebelakang
tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Sis(a mengendapkan apa yang baru
dipelaarinya sebagai struktur penge+tahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini
merupakan pengayaan atau re&isi dari pengetahuan sebelumnya (,epdiknas, 2..3). *ada kegiatan
pembelaaran, re%leksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelaar+an. Furu menyisakan
(aktu seenak agar sis(a dapat melakukan re%leksi yang realisasinya dapat berupa 8
1. *ernyataan langsung tentang apa+apa yang diperoleh pada pembelaaran yang baru saa
dilakukan.
Analisis Kemampuan Siswa Page 33
2. Catatan atau urnal di buku sis(a.
3. -esan dan saran mengenai pembelaaran yang telah dilakukan.
<. Penilaian >ang $e)enarn>a ,&uthentic &ssessment-
*enilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belaar sis(a agar guru dapat memastikan apakah sis(a telah mengalami
proses belaar yang benar. *e+nilaian autentik menekankan pada proses pembelaaran sehingga
data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerakan sis(a pada saat
melakukan proses pembelaaran.
-arakteristik authentic assessment menurut ,epdiknas (2..3) di antara+nya dilaksanakan
selama dan sesudah proses belaar berlangsung, bisa di+gunakan untuk %ormati% maupun sumati%.
*engukuran tentang keterampilan dan sikap dalam belaar bukan mengingat %akta,
berkesinambungan, ter+integrasi, dan dapat digunakan sebagai feedac!. Authentic assessment
biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, *?, kuis, karya sis(a, prestasi atau penampilan sis(a,
demonstrasi, laporan, urnal, dan karya tulis.
2.11 !ndividual 'i%%erences "an Im&likasi Analisis %emam&uan $is'a
-ndividual differences (perbedaan indi&idu) adalah perbedaan atribut yang yang ditunukkan
oleh setiap indi&idu, dalam hal ini sis(a, baik se+belum, selama, atau setelah proses pembelaaran.
*erbedaan atribut ini da+pat meliputi perbedaan kemampuan, keberhasilan, atau kepribadian.
,alam pembahasan ini, khusus akan dipaparkan perbedaan indi&idu yang ditinau dari perbedaan
kemampuan. 4erdasarkan karakteristik kemampuan, ke+mampuan dibedakan menurut
tingkatannya, yaitu kemampuan rendah di ba+(ah rata+rata, kemampuan rata+rata, dan kemampuan
tinggi di atas rata+rata, seperti gambar kur&a kemampuan dalam distribusi normal di ba(ah ini.
Analisis Kemampuan Siswa Page 34

4am)ar 2.3 %ur5a %emam&uan "alam Distri)usi N!rmal
Setiap guru yang berperan sebagai pendidik perlu melakukan pendekat+an pola pembelaaran
yang berbeda pada masing+masing sis(a sesuai karak+teristik kemampuannya. Sis(a
berkemampuan rata+rata dikuali%ikasikan da+pat mengikuti kegiatan pembelaaran sesuai alokasi
terad(al, akan tetapi sis(a berkemampuan di ba(ah rata+rata perlu diberikan treatment khusus,
seperti remedial teaching (program perbaikan pembelaaran) agar kemam+puannya dapat
mendekati atau di atas rata+rata, sedangkan sis(a ber+kemampuan di atas rata+rata hanya perlu
enrichment program (program pe+ngayaan) saa karena telah memiliki dasar kemampuan yang
bagus. "pabila kegiatan pembelaarannya disamakan dengan sis(a berkemampuan rata+rata, maka
sis(a ini akan menunukkan geala perilaku psikologi yang me+nyimpang dalam pendidikan,
seperti nakal atau merasa paling tahu. #rans%er ilmu yang dilakukan guru terhadap sis(a+sis(anya
diibaratkan seperti air
dalam teko yang dituangkan ke dalam gelas. Masing+masing sis(a memiliki kapasitas kemampuan
yang berbeda dalam proses penyerapan ilmu selama proses pembelaaran. )al ini tergambarkan
melalui ilustrasi berikut.


"ir 3. m9 "ir /. m9 "ir 8. m9
Felas ke+ 1 Felas ke+2 Felas ke+3
4am)ar 2. Ilustrasi %a&asitas %emam&uan Ber)e"a
&a"a $is'a+sis'a
Semua gelas di atas memiliki kapasitas penampungan 1.. m9 air. Felas ke+1 yang berisi air 3.
m9 diibaratkan seperti kelompok berkemampuan rendah di ba(ah rata+rata. "pabila gelas ini
diberikan air /. m9, maka air yang ditampung semakin banyak dan mencapai 8. m9 air (di atas
rata+rata meskipun tidak mencapai batas maksimum penampungan air). =leh karena itu, agar
sempurna, perlu tambahan air yang diberikan (dalam hal ini sis(a berkemampuan di ba(ah rata+
rata perlu tambahan remedial teaching untuk menyempurnakan kapasitas kemampuannya). Felas
ke+2 yang berisi air /. m9 diibaratkan seperti kelompok ber+kemampuan rata+rata. "pabila gelas
ini diberikan air /. m9, maka air yang ditampung penuh dan mencapai 1.. m9 (kapasitas
maksimum). 'adi, kadar ad(al pembelaaran yang dialokasi+kan untuk sis(a berkemampuan rata+
rata sudah tepat untuk mencapai tuuan pembelaaran yang ideal, sedangkan gelas ke+3 yang berisi
Analisis Kemampuan Siswa Page 35
air 8. m9 apabila diberikan air /. m9, maka air yang ditampung akan berkelebihan dan meluap
keluar gelas. )al ini diibaratkan seperti sis(a berkemampuan di atas rata+rata yang diberikan
ad(al atau materi pembelaaran yang sama dengan sis(a berkemampuan rata+rata, maka sis(a ini
akan meluapkan perasaannya melalui tindakan+tindakan yang menyimpang, seperti nakal atau
merasa paling tahu dan sikap+sikap yang bertentangan dengan nilai+nilai, seperti malas belaar.
Seharusnya, sis(a berkemampuan di atas rata+rata hanya perlu diberikan program pengayaan saa
untuk meningkatkan kemampuannya yang sudah bagus. =leh karena itu, pelaksanaan kegiatan
pembelaaran ini perlu menadi %okus perhatian bagi guru sebagai pendidik untuk dapat
menyesuaikan kegiatan pembelaaran sesuai dengan karakteris+tik kemampuan dan kebutuhan
sis(a agar tuuan pembelaaran dapat terlaksana dan dicapai dengan hasil terbaik.
,engan memantau perkembangan kemampuan sis(a, guru dapat memetakan sis(a
berdasarkan kemampuannya. Sis(a yang unggul atau berkemampuan tinggi tidak lagi diberikan
materi dari dasar, tetapi disaikan materi pelaaran yang bersi%at eksplorati% untuk menggali dan
mengasah kemampuan yang sudah dimilikinya. Sis(a berkemampuan sedang atau rata+rata dapat
mengikuti ad(al pembelaaran yang dialokasikan, sedang+kan sis(a yang kurang atau di ba(ah
rata+rata hendaknya disaikan materi dari dasar dan diberikan (aktu tambahan remedial teaching
yang berguna untuk memperkuat dan menaamkan materi pembelaaran. Semua ini dilakukan
dengan satu tuuan, yaitu kegiatan pembelaaran berhasil mem+bentuk sis(a berkemampuan
optimum sesuai dengan kapasitas a(al ke+mampuannya masing+masing.
Furu sebagai seorang pendidik perlu memberikan layanan pendidik+an yang berbeda
pada masing+masing sis(a sesuai tingkat kelompok kemampuannya agar semua potensi sis(a
dapat tumbuh dan berkembang secara optimum. Furu dapat mengidenti%ikasi tingkatan
kemampuan sis(anya melalui pre(test yang diberikan sebelum pelaaran dimulai. ,ari hasil pre(
test inilah guru mendapat gambaran tentang tingkat kapasitas kemampuan a(al masing+masing
sis(anya.
Setelah diketahui gambarannya, mulailah guru mengelompokkan sis(a yang
berkemampuan rendah di ba(ah rata+rata, berkemampuan sedang rata+rata, dan berkemampuan
tinggi di atas rata+rata. Masing+masing kelompok ini diberikan perlakuan (teratment) yang
berbeda, di mana ke+lompok berkemampuan rendah di ba(ah rata+rata diperlakukan sesuai alo+
kasi terad(al dengan tambahan remedial teaching yang diimbangi dengan tugas terstruktur untuk
memaksimalkan potensi kelompok sis(a tersebut. -elompok berkemampuan sedang rata+rata
cukup dapat diperlakukan sesuai alokasi terad(al, sedangkan kelompok berkemampuan tinggi di
atas rata+rata pada proses pembelaaran hanya diberikan enrichment program, yaitu akselerasi
belaar atau sesuai alokasi terad(al, namun dapat dikembangkan potensinya menadi tutor sebaya
di dalam kelas.
Analisis Kemampuan Siswa Page 36
Setelah proses pembelaaran selesai, guru melakukan pengukuran kembali untuk mengui
kemampuan sis(a setelah proses pembelaaran. "gar tercapai pemerataan hasil belaar optimum,
sebaiknya kelompok ber+kemampuan tinggi diberikan tambahan umlah butir soal uian dalam
(aktu yang sama dengan kelompok lainnya atau diberikan umlah butir soal uian yang sama,
namun memiliki tara% kesukaran yang lebih tinggi sehingga diharapkan, baik potensi kelompok
berkemampuan rendah di ba(ah rata+rata, sedang rata+rata, dan tinggi dapat berkembang secara
optimum.
9ayanan pendidikan berbeda yang direalisasikan dalam program+program pembelaaran
yang diberikan merupakan suatu stimulasi agar hasil belaar suatu bidang disiplin ilmu dapat
tercapai secara optimum menuu kemauan hasil pendidikan ke arah lebih positi% sehingga prinsip
pendidikan yang berbeda untuk indi&idu yang berbeda ini dapat diterapkan di mana saa, kapan
saa, dan untuk siapa saa. "kan tetapi, yang perlu menadi perhatian guru adalah bah(a setiap
indi&idu memiliki kadar potensi yang berbeda sehingga memiliki kekuatan potensi kemampuan
dalam bidang tertentu dan kelemahan dalam bidang lainnya.
#eori )o(ard Fardner tentang multiple intelligences mengatakan bah(a ada delapan
macam kemampuan manusia. Seorang indi&idu dapat memiliki kekuatan atau kelemahan di salah
satu bidang atau beberapa bidang, seperti tabel berikut.
Inteligensi ,ke*er"asan- %!m&!nen+k!m&!nen Inti
,ogical(mathematical (logis+matematis) -emampuan untuk melihat pola+pola logis atau
numerik
,inguistic (linguistik) -emampuan untuk memaknai kata+kata dan %ungsi
bahasa
$usical (musikal) -emampuan mengapresiasi bentuk+bentuk ekspresi
musikal
Spatial (spasial) -emampuan untuk memersepsi du+nia &isual+
spasial secara akurat
*odily(!inesthetic (asmani+kinestetik) -emampuan mengontrol gerak+gerik tubuh dan
obek
-nterpersonal -emampuan merespons dengan tepat suasana
perasaan orang lain
-ntrapersonal -emampuan untuk mengakses pe+rasaan+perasaan
pribadi
.aturalist -emampuan untuk mengenali alam dan makhluk
hidup sekitarnya

-arena setiap indi&idu memiliki tingkat kemampuan masing+masing sesuai potensi inteligensinya,
maka setiap indi&idu dapat unggul dalam bidang tertentu dan lemah dalam bidang lainnya. 'adi,
Analisis Kemampuan Siswa Page 37
guru sebagai pendidik harus bersikap biak dan tepat dalam mengelompokkan dan memberikan
layanan pendidikan pada sis(a+sis(anya agar optimum di setiap hasil belaarnya.
%E$IMPULAN
1. 4erdasarkan #aksonomi 4loom, kemampuan sis(a terdiri atas kemam+puan koginti%, a%ekti%,
dan psikomotorik.
2. Skor adalah hasil menumlahkan angka+angka bagi setiap soal tes yang dia(ab betul oleh
sis(a, sedangkan nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan 8 acuan
normal atau acuan standar. Cara memberikan skor bergantung dari enis tes 8 obekti% atau
subekti%
3. "cuan penilaian 8 nilai acuan kriteria atau nilai acuan norma
4. ,engan norm(referenced score interpretation, skor standar sering diubah menadi tipe skor
lain yang diturunkan.
/. Skor standar yang dapat ditrans%ormasikan secara linier dari skor standar, yaitu z(scores, #+
scores, @echsler CI, Stan%ord+4inet CI, dan C664 scores (S"#;F?6)
!. Skor standar yang dapat ditrans%ormasikan secara non+linier dari skor standar, yaitu staine
scores dan percentile ran! (peringkat persentil)
$. "cuan 1orma memberikan in%ormasi penting tentang bagaimana ke+dudukan seorang sis(a
dalam kelompoknya, sedangkan acuan kriteria memberikan in%ormasi penting tentang
seberapa besar tingkat seorang sis(a menguasai pengetahuan atau materi tertentu.
8. Furu sebagai pendidik harus bersikap biak dan tepat dalam menge+lompokkan dan
memberikan layanan pendidikan pada sis(a+sis(a yang berbeda kemampuannya agar
optimum di setiap hasil belaarnya.
Analisis Kemampuan Siswa Page 38
DA9TA/ PU$TA%A
,epdiknas. 2..3. "ende!atan Konte!stual/'akarta8,epdiknas
,aali.2..8."engu!uran dalam "endidi!an.'akarta8Framedia
@idiasarana Cndonesia
*ur(anto.2..8.Evaluasi 0asil *ela&ar.Nogyakarta8*ustaka 4elaar
"rikunto,Suharsimi.2..9.1asar(dasar Evaluasi "endidi!an.'akarta8
4umi "ksara
?eynolds, Cecil ?.2..9.$easurement and Assessment Second Edition.
Singapura8*earson 6ducation
@ol%olk,"nita.Educational "sychology (peneremah )elly *raitno Soetip+to dan Sri Mulyantini
Soetipto) edisi kesepuluh pertama.Nogyakarta8 *ustaka 4elaar,2..9
Santun 1aga,,ali.2.12.)eori Se!or pada "engu!uran $ental.'akarta8
*# 1agarani Citrayasa
-usaeri dan Suprananto.2.12."engu!uran dan "enilaian "endidi!an.
Nogyakarta8Fraha Clmu
Analisis Kemampuan Siswa Page 39