Anda di halaman 1dari 15

DIKTAT Komunikasi Satelit

1
TRANSPONDER SATELIT
SIGIT KUSMARYANTO


Pendahuluan
Sinyal pembawa diterima oleh satelit pada level daya yang sangat
rendah karena jauhnya jarak yang ditempuh oleh gelombang radio. Satelit
memerlukan tambahan level daya sinyal sebelum mentransmisikan kembali
ke bumi untuk memastikan bahwa sinyal tersebut dapat dideteksi oleh
sebuah penerima stasiun bumi. Satelit komunikasi dapat dianggap sebagai
repeater jauh yang berfungsi untuk menerima pembawa uplink,
memrosesnya, dan mentransmisikan kembali informasi tersebut ke
downlink. Komunikasi satelit modern terdiri dari repeater
multikanal(Transponder) yang tersusun dari beberapa komponen, meliputi
filter, penguat, pengalih frekuensi, switch, multiplekser, dan hybrid. Repeater
tersebut memiliki fungsi yang sama dengan repeater relay radio gelombang
mikro line-of-sight pada sistem transmisi terestrial.

1. Fungsi Transponder
Gambar 1 menunjukkan diagram blok umum dari repeater multikanal
yang digunakan dalam satelit komunikasi modern. Garis edar tiap kanal dari
antena penerima ke antena pemancar dinamakan transponder. Istilah ini
muncul dari pemakaiannya dalam aeronautic ketika diaplikasikan pada
sebuah peralatan yang menerima sinyal dari stasiun bumi dan
mengembalikan sinyal balasan. Satelit komunikasi dapat berfungsi melalui
transpondernya. Jadi, fungsi dasar tiap transponder adalah :
- penguatan sinyal
- pemisahan kanal RF yang berdekatan
- pengalihan frekuensi.


DIKTAT Komunikasi Satelit
2












Gambar 1. Repeater Multitransponder

Tabel 1 menunjukkan alokasi frekuensi yang umumnya digunakan untuk
komunikasi satelit. Umumnya, semakin tinggi frekuensi, semakin rentan
terhadap redaman hujan, dan semakin mahal peralatan yang dibutuhkan.
Tetapi, kemacetan pada umumnya terjadi pada frekuensi rendah
selanjutnya naik ke operasi frekuensi yang lebih tinggi.
Frekuensi uplink dipisahkan dari frekuensi downlink untuk meminimalkan
interferensi antara sinyal pemancar dan penerima. Downlink biasanya
menggunakan frekuensi yang lebih rendah, yang mengalami redaman yang
lebih rendah sehingga mengurangi kebutuhan daya output satelit.
Bandwidth yang tersedia pada tiap transponder dapat digunakan oleh
pembawa jamak seperti FDMA atau pembawa tunggal seperti TDMA.

Tabel 1. Alokasi frekuensi satelit komunikasi (MHz)
Use Downlink freq. (MHz) Uplink freq.(MHz)

Commercial (C-band)
Millitary (X-band)
Commercial(K-band)
Domestic
Fixed service
3700-4200
7250-7750

11700-12200

5925-6425
7900-8400

14000-14500
Bandpass
filter
Switch
Receiver
Receiver
Hybrid
Bandpass
filter
Power
amplifier
1
3
5
7
9
11
12
10
8
6
4
2
Antenna
Transmit
antenna
DIKTAT Komunikasi Satelit
3
International



Maritime
Aeronautical
10950-11200
11450-11700
17700-21200
Mobile Service
1535-1542.5
1543.5-1558.8
Broadcast Service
2500-2535
11700-12750
Telemetry,Tracking,Command
137-138,401-412,1525-1540

27500-31000



1635-1644
1645-1660

2655-2690


2. Implementasi Transponder
2.1. Transponder Quasilinier
Istilah quasilinier menggambarkan kenyataan bahwa penguat
transponder satelit, seperti semua penguat, menunjukkan respon nonlinear
yang mendekati daya output maksimum dan respon yang lebih linear pada
level daya lebih rendah. Gain total transponder diperoleh dengan meng-
kaskade beberapa tingkat penguatan yang memberikan level operasi untuk
memenuhi kebutuhan internal, seperti ditunjukkan dalam gambar 2.
Gambar 2 menunjukkan diagram blok umum tranponder quasilinier.
Transponder quasilinier menerima, memisahkan, dan menguatkan
pembawa uplink, menerjemahkan frekuensi ke band downlink, dan
menguatkan sinyal untuk transmisi kembali ke downlink. Tingkat output
daya-tinggi akhir transponder biasanya berasal dari travelling wave tube
amplifier (TWTA).






LNA
F
i
l
t
e
r
F
i
l
t
e
r
Uplink
frequency
band
Amp.
L.O.
Amp.
Frequency
converter
Amp.
Downlink
frequency
band


DIKTAT Komunikasi Satelit
4
Gambar 2. Transponder quasilinier konversi tunggal

Biasanya, perangkat pada tahap-tahap awal transponder digunakan
bersama oleh lebih dari satu kanal frekuensi-radio. Tahap-tahap awal ini
biasanya terdiri dari filter untuk menghilangkan energi di luar band operasi,
Low Noise Amplifier (LNA), dan konverter frekuensi broadband untk
menggeser seluruh band operasi dari alokasi frekuensi uplink ke downlink.
Kemudian bandwidth operasi penuh dipisahkan oleh filter band kanal
transponder masing-masing. Bandwidth transponder bervariasi dari
beberapa megahertz sampai 100 MHz atau lebih, meskipun bandwidth
umumnya adalah 36 dan 75 MHz untuk satelit komunikasi komersial. Tiap
sinyal band kanal dikuatkan oleh High-Power Amplifier (HPA). Keluaran
tiap HPA dilewatkan melalui filter bandpass, yang menghilangkan produk
out-of-band karena ketidak-linearan penguat. Keluaran HPA beberapa
kanal kemudian digabung dalam multiplekser keluaran dan diumpankan ke
sistem antena bersama untuk pentransmisian. Pada prakteknya, sistem
antena tunggal digunakan untuk sinyal tyerima dan pancar. Dalam kasus
ini, diplexer digunakan untuk memisahkan lintasan terima dan pancar.
Desain transponder yang lain adalah tipe konversi-dual, yang berguna
untuk aplikasi tertentu. Gambar 3 melukiskan sistem operasi dua band, A
dan B. Tiap band yang diambil terpisah dapat dikuatkan dan dipancarkan
menggunakan penerjemahan frekuensi sederhana antara band uplink dan
downlink yang terkait. Keluaran switch yang ditujukan ke downlink band B
harus dikonversi frekuensi dari band A ke B sebelum penguatan akhir.











DIKTAT Komunikasi Satelit
5
Gambar 3. Transponder konversi dual
2.2. Repeater Regeneratif
Dalam aplikasi transmisi digital mungkin digunakan transponder satelit
yang lebih kompleks untuk mendapatkan peningkatan kinerja. Gambar 4
adalah diagram blok transponder sebagai repeater regeneratif. Repeater
regeneratif melakukan fungsi penerimaan dan pentransmisian seperti
repeater quasilinear. Akan tetapi, regenerator terdiri dari demodulator yang
mendemodulasi sinyal uplink ke sinyal baseband digital dan modulator yang
mendemodulasi ulang sinyal pembawa downlink.










Gambar 4. Remodulasi atau repeater satelit regeneratif

Dalam perhitungan rekayasa sistem menggunakan repeater regeneratif,
kinerja diukur dalam istilah laju error bit keseluruhan dalam segmen space
link end-to-end. Misalkan P
U
dan P
D
adalah probabilitas bit yang error pada
uplink dan downlink. Maka probabilitas bit yang tidak error dalam link end-
to-end diberikan oleh
P
C
= (1- P
U
) (1- P
D
) = 1 (P
U
+ P
D
) + P
U
P
D
(1)

Oleh karena itu, probabilitas error bit dalam link end-to-end adalah
P
E
= P
U
+ P
D
P
U
P
D
(2)

Selama laju error cukup rendah, laju total adalah
P
E
= P
U
+ P
D
(3)
LNA
Amp.
Processing
L.O.
Demodulator
Demodulator
Filter
A
m
p
.
L.O.
A
m
p
.
A
m
p
.
Filter
IF
RF
DIKTAT Komunikasi Satelit
6
2.3 Karakteristik Perangkat
2.3. 1 Filter
Filter merupakan perangkat yang penting dalam semua rangkaian
komunikasi, dan karakteristiknya mempengaruhi level pelemahan transmisi.
Gambar 5 menunjukkan karakteristik amplitudo terhadap frekuensi dari filter
ideal dengan karakteristik passband, dan fasa linear yang sempurna.













Gambar 5. Respons frekuensi filter ideal

2.3.2. High-power Amplifier
Semua penguat, baik tipe output level-rendah dan berdaya-tinggi,
memberikan karakteristik input/output seperti yang ditunjukkan dalam
gambar 6. Bila level input dinaikkan, penguat mencapai keadaan saturasi
yang berhubungan dengan output daya maximum yang tersedia. Selama
penguat hanya memroses satu pembawa tunggal, penguat dapat
dioperasikan mendekati saturasi tanpa menyebabkan pelemahan yang
serius. Akan tetapi, dalam operasi pembawa jamak, pelemahan yang
disebabkan peningkatan respons nonlinear yang mendekati saturasi
menghasilkan peningkatan distorsi intermodulasi yang tidak diinginkan.




DIKTAT Komunikasi Satelit
7



















Gambar 6. Rantai penerima gelombang mikro
Dalam aplikasi pembawa jamak, link RF didesain untuk menge-set titik
operasi HPA dalam daerah yang cukup linear untuk menghasilkan
pelemahan nonlinear yang rendah. Hal ini dicapai dengan mengurangi level
input relatif terhadap saturasi. Hal ini menghasilkan reduksi output dari level
output daya saturasi ke titik yang mengurangi efek nonlinear sampai level
yang dapat diterima. Gambar 7 menunjukkan fungsi alih penguat melalui
range operasi yang lebar untuk menggambarkan tingkah laku produk
intermodulasi sebagai fungsi back-off saturasi. Dalam kasus pembawa
jamak, hasil output daya-lebih rendah daripada kasus pembawa tunggal.
Selama beberapa tahun HPA menggunakan travelling wave tube (TWT)
sebagai penguat daya output. Desain transponder yang lebih baru lebih
memilih solid-state power amplifier (SSPA) pada C-band. Pada Ku band,
TWTA masih lebih diutamakan. TWTA lebih efisien (50%) daripada SSPA
(30%). Kedua tipe penguat daya memberikan gain 60 dB dan bahkan 70
dB.
Pada prinsipnya, karakteristik keandalan dan usia SSPA diharapkan
melebihi TWTA, tetapi pada prakteknya belum membuktikannya.


DIKTAT Komunikasi Satelit
8
Low-noise Amplifier. Sisi depan repeater satelit komunikasi
menggunakan low-noise amplifier (LNA) yang didesain khusus. Desain
transponder terdahulu menggunakan penguat transistor bipolar dan diode
tunnel sebagai komponen dasar LNA. Desain yang modern menggunakan
HEMT (high electron mobility transistor) efek medan yang memakai
teknologi gallium arsenide (AlGaAsFET). Gain dan noise-figure yang dapat
dicapai dengan teknologi ini terur meningkat.
Oscillator. Oscillator juga mempunyai peranan yang penting dalam
desain transponder. Desain oscillator yang teliti dan pemilihan kristal
digunakan untuk mengurangi dan meminimalkan efek-efek jangka panjang.

3. Pelemahan Transmisi
Tabel 2 menunjukkan klasifikasi pelemahan transmisi tipe linier dan
nonlinier baik untuk operasi transponder tunggak maupun jamak.
Pelemahan linier utamanya disebabkan oleh respon amplitudo dan fasa
jaringan yang digunakan dalam transponder, seperti halnya thermal noise
yang biasanya mendominasi garis tujuan dari satelit penerima.

Tabel 2. Klasifikasi Pelemahan Transmisi
Single Transponder Multiple Transponder
Liinier
impairments
Thermal noise (uplink)

Group-delay distortion
Amplitude/frequency
distortion
Dual-path
group-delay, delay, distortion
Nonlinier
impairments
Intermodulation (including
AM-PM)

Intelligible crosstalk
Adjacent
Transponder, intermodulation
Intelligible
Out-of-band, crosstalk

3.1. Pelemahan Linear
Noise termal merupakan pelemahan linear yang dominan dalam link
satelit. Kinerja uplink didominasi oleh noise termal, yang menimbulkan rasio
DIKTAT Komunikasi Satelit
9
carrier-to-noise. Rugi-rugi dalam saluran transmisi antara antena dan
penerima menambah temperatur noise dan karena itu harus dijaga agar
minimum. Penerima satelit umumnya mempunyai temperatue noise dalam
range 1000 sampai 3000 K, berhubungan dengan 5 sampai 10 dB noise
figure.

3.2. Pelemahan Nonlinear
Distorsi intermodulasi. Semua penguat, termasuk penguat solid-state,
mempunyai karakteristik nonlinear bila dioperasikan mendekati daya output
saturasinya. Gambar 7 merupakan salah satu contoh distorsi intermodulasi.
Pada kenyataannya, pembawa termodulasi mewakili lebar spektrum
terbatas. Mempunyai dua atau lebih pembawa membuat masalah ini lebih
pelik, membuat memperhatikan efek perkalian orde tinggi dan perbedaan
semua frekuensi pada sinyal campuran. Komponen-komponen yang tidak
diinginkan pada penjumlahan dan perbedaan frekuensi asal disebut
perkalian intermodulasi. Gambar 7 menunjukkan banyaknya komponen
yang tidak diinginkan yang mungkin menyebabkan nonlinieritas.














Gambar 7. Timbulnya distorsi intermodulasi


DIKTAT Komunikasi Satelit
10
Pendekatan matematis paling sederhana untuk memodelkan
nonlinieritas transponder mengasumsikan bahwa karakteristik transfer
transponder dapat dituliskan sebagai deret Taylor:
k
k
e a e a e a e + + + = ...
3
3 1 0
(4)

dimana e adalah tegangan input dan e
0
adalah tegangan output. Koefisien
a
k
. Untuk input n pembawa,

= =
= =
n
i
i
n
i
i
t A t A e
1 1
cos cos (5)
dengan daya input total P
i
(normalisasi untuk impedansi rangkaian 1 )
2
2
1
nA . Dengan mensubstitusi persamaan (5) ke persamaan (4) dan operasi
aljabar dan trigonometri, dapat diturunkan pernyataan berikut.

Untuk tiap n pembawa,
(
(

+ |

\
|
+ |

\
|
+ |

\
|
+ ...
3
2
2
3
15
2
1
3 1
2
2
2
1
5
1
3
n n
n
P
a
a
n
n
P
a
a
n
P
a A
i i i
i n
(6)

Berikut ini adalah perkalian intermodulasi yang penting:
1. Perkalian dari bentuk (2f
1
f
2
), yang beramplitudo
[ ]
)
`

+ + + |

\
|
= ... ) 2 ( 15 5 . 12
3
2
1
2
4
3
3
5
3
2
3
n
n
P
a
a
n
P
a I
i i
n
(7)
yang berkurang menjadi
) (
2
4
3
2
3
3 i n
i
n
P F
n
P
a I |

\
|
= (8)

2. Perkalian dari bentuk (f
1
+ f
2
f
3
), yang beramplitudo
)
`

+
(

+ + |

\
|
= ... ) 3 (
2
3
10 1
2
2
3
3
5
3
'
2
3
n
n
P
a
a
n
P
a I
i i
n
(9)
yang berkurang menjadi
) (
2
2
3
'
3
'
2
3
i n
i
n
P F
n
P
a I |

\
|
= (10)
DIKTAT Komunikasi Satelit
11
Perlu diperhatikan bahwa a
3
mengubah 3 dB setiap perubahan 1-dB dari
daya masukan. Juga untuk bentuk (f
1
+f
2
-f
3
) amplitudonya 6 dB lebih besar
daripada bentuk (2f
1
-f
2
).
Untuk (2f
1
-f
2
), distorsi komponen :

( ) { ( ) [ ]( ) }
r n
Dn
n v 1 1 1
2
1
2
2
1
=
(11)
Untuk (f
1
+f
2
-f
3
), distorsi komponen :

( ) ( ) [ ] ( ) [ ]( )
r n n
Dn
n r n v
+
+ + = 1 1 1
2
1
5 3
4
1
1
2
1
'
2
(12)
Pada saat r=n/2:

2
2
=
n
v
Dn

( )( )
8
4 3 2
'

=
n n
v
Dn
(13)
Carrier to total intermodulation ratio. Diasumsikan bahwa perkalian
intermodulasi adalah nonkoheren. Secara umum dapat ditulis,
2 ' ' 2
2
n Dn n Dn
n
n
I v I v
A
I
C
+
= |

\
|
(14)
Substitusi untuk A
n
, dapat ditulis

( )
) 4 ( 9
/ 4
2 ' ' 2 2
2
0
2
3 1
2
n Dn n Dn i
n
n
F v F v P
F a a n
I
C
+
= |

\
|
(15)
menggunakan pers. (6), (8), dan (10).

Konversi AM-ke-PM. Pelemahan nonlinier lain yang berhubungan dekat
dengan distorsi intermodulasi disebabkan oleh konversi AM-ke-PM. Banyak
penguat, terutama TWTA, memiliki pergeseran fasa total yang merupakan
fungsi level input TWTA adalah rentan terhadap efek ini karena TWTA
inheren dalam mekanisme penguatan cavity-coupled. Untuk tujuan praktis,
pengaruh AM-ke-PM dapat diperlakukan sama seperti distorsi
intermodulasi.
Pendekatan level-sistem terhadap distorsi yang disebabkan oleh
konversi AM-ke-PM dapat dilakukan dengan menggunakan data yang
DIKTAT Komunikasi Satelit
12
tersedia. Data sheet TWTA biasanya berisi nilai parameter yang dikenal
sebagai koefisien konversi AM-ke-PM, K.
Persamaan berikut menyatakan rasio carrier to interference terhadap
konversi AM-to-PM sebagai fungsi dari banyaknya pembawa :
( ) ( )( ) 1 2 3
8
1516 . 0
2
2

=
|
|

\
|
n n K
n
I
C
n
PM AM
(16)
Dengan pendekatan nilai K sebagai fungsi back-off dan K tidak
berkurang dengan cepat seiring berkurangnya daya, diperhatikan bahwa
dengan n yang bertambah persamaan tersebut menjadi :
2
116
K I
C
n
PM AM
=
|
|

\
|
(17)
Gambar 8 digunakan atas menunjukkan variasi K sebagai fungsi dari
back-off.














Gambar 8. Koefisien konversi AM-ke-PM terhadap input back-off

Crosstalk. Efek gabungan lekukan dan riak gain dalam tahapan
mendahului efek konversi AM-ke-PM dalam TWT menghasilkan kategori
efek yang disebut crosstalk. Dapat dikatakan mengganggu jika level

DIKTAT Komunikasi Satelit
13
gangguan menjadi cukup besar untuk dirasakan, karena spektrum sumber
pengganggu jatuh pada kanal yang dimaksud. Untuk kasus tersebut,
produk palsu dapat didengar seperti bicara yang dikenali, juga dinamakan
intelligible crosstalk. Level sinyal ini harus benar-benar dikontrol, dalam
orde 65 dB dibawah level bicara yang diinginkan.
Pernyataan yang berguna untuk intelligible crosstalk dalam lingkungan
pembawa jamak diberikan sebagai berikut;
(

=
2 1
1
3 . 57
2
log 20
P P
P
gf k
IXTK
p
(18)
dimana
k
p
= koefisien konversi AM-ke-PM dalam
o
/dB
g = lekukan gain dalam dB/MHz
f = frekuensi baseband maksimum
P
1
, P
2
= level daya pembawa pengganggu dan yang diinginkan
(mW)

Pernyataan ini menentukan berapa level intelligible crosstalk di bawah
level sinyal yang diinginkan. Nilai P
1
dan P
2
bergantung pada daerah
pemasukan dan penolakan dari karakteristik filter demultiplekser.
Perlu juga diperhatikan bahwa intelligible crosstalk pada akhirnya akan
dianggap kecil karena tiga pertimbangan: (1) transmisi digital akan menjadi
mode utama dalam transmisi satelit. (2) Meningkatnya penggunaan pe-
linear transponder akan mengurangi efek nonlinearitas, termasuk konversi
AM-ke-PM, dan (3) transponder solid-state (SSPA) akan menjadi umum.

4. Aspek lain dari Transponder
4.1 Frekuensi Reuse dan Pengaturan Gain Transponder
Satelit komunikasi modern sering menyediakan kemampuan untuk
menggandakan bandwidth satelit yang tersedia (500 MHz) dengan
menyediakan antenna pamancar dan penerima yang terpolarisasi ganda
serta dua set transponder, satu set untuk rangkaian yang dapat diatur oleh
komando bumi melalui range yang lebar. Untuk optimasi daya pemancar
DIKTAT Komunikasi Satelit
14
stasiun bumi dan kerugian karena ukuran dan kapasitas range yang sangat
lebar dari stasiun bumi mungkin dapat digunakan transponder dengan gain
tetap. Teknik ini menggandakan kapasitas sistem satelit dan efektif selama
polarisasi isolasi sekitar 30 dB.

4.2 Operasi Cross-Band
Pada beberapa aplikasi satelit, transponder harus menghubungkan
stasiun yang beroperasi dalam dua band frekuensi yang berbeda.
Contohnya, operasi pada satelit maritime yang melayani operasi pada
band L mempunyai hubungan dengan satelit tetap yang melayani operasi
pada band C. Transmisi dari kapal di laut ke pantai diterima satelit pada
uplink band 1.6 GHz dan ditransmisikan ke pantai pada band 4 GHz.
Transmisi dari pantai ke kapal di laut diterima pada band 6 GHz dan
ditransmisikan ke kapal pada band 1.5 GHz. Untuk tiap tujuan transmisi
selalu disediakan transponder terpisah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dennis,Roddy.1996. Satellite Communications. USA :Mc.Graw Hill Company Inc
2. Henry G, Robert A, Wilbur L.1993. Satellite Communication Systems Engineering,
Prentice Hall PTR, New Jersey
3. Roody, Denis and John Coolen. 1997. Electronic Communication, Third Edition .
Alih bahasa : Kamal Idris, Penerbit Erlangga. Jakarta
4. Kusmaryanto, Sigit. Komunikasi Satelit:Diktat, Jurusan Teknik Elektro Universitas
Brawijaya, Malang







DIKTAT Komunikasi Satelit
15