Anda di halaman 1dari 26

Analisis Asam Amino, Peptida dan Protein

Oleh
Kelompok I-3
Kelas I

1. Firdaus Kabiru Massey, NRP : 1130462
2. Rona Rihadah , NRP : 1130124
3. Fitriana Sani, NRP : 1130215
4. Ananda Kusuma Sejati, NRP : 1130209
5. Cynthia Kusumadewi, NRP : 1130005
6. Lolly widiya Srinita, NRP : 1120123
7. Dini Yuniati, NRP : 1120126



Laboratorium Biokimia
Fakultas Farmasi Universitas Surabaya
2014

Daftar isi

Daftar isi.1
BAB 1 : Tujuan percobaan 2
1.1 Tujuan umum... 2
1.2 Tujuan khusus.. 2
BAB 2 : Hasil dan Pembahasan. 3
2.1 Tabel hasil 3
2.2 Pembahasan..6
BAB 3 : Daftar pustaka 10
Lampiran 11





















BAB 1
Tujuan Percobaan

1.1 Tujuan Umum :
Untuk analisis atau identifikasi asam amino, peptida dan protein.

1.2 Tujuan Khusus :
1. Uji Biuret
Mendektesi ikatan peptida pada suatu bahan
2. Uji Millon
Identifikasi asam amino yang mengandung monohidroksi benzen
3. Uji Xantoprotein
Identifikasi asam amino tirosin, triptofan atau fenilalanin
4. Uji Heller
Menentukan adanya protein secara kualitatif
5. Uji Koagulasi Panas
Menentukan adanya protein secara kualitatif
6. Uji Pengendapan Protein dengan Logam Berat
Mengetahui pengaruh logam berat terhadap kelarutan protein
7. Pengendapan Protein oleh Garam-Garam Anorganik
Mengetahui pengaruh garam konsentrasi tinggi terhadap kelarutan protein
8. Uji Denaturasi Protein
Mengamati peristiwa denaturasi dan mengetahui faktor-faktor yang dapat
menimbulkan perubahan struktur pada protein








BAB 2
Hasil Pengamatan dan Pembahasan

2.1 Tabel Pengamatan :

Tabel 2.1.1 Hasil Pengamatan Uji Biuret dan Millon
Sampel Uji Hasil Pengamatan Kesimpulan
Reaksi Uji Biuret
Putih Telur positif, warna ungu Terdapat ikatan peptida
Susu positif, warna ungu Terdapat ikatan peptida
Gelatin positif, warna ungu Terdapat ikatan peptida
Air Liur positif, warna ungu Terdapat ikatan peptida
Reaksi Uji Millon
Putih Telur terbentuk endapan setelah dipanaskan,
warna endapan merah
Terdapat asam amino
yang mengandung
monohidroksi benzena
Susu terbantuk endapan setelah dipanaskan,
warna endapan merah
Terdapat asam amino
yang mengandung
monohidroksi benzena
Gelatin tidak terbantuk endapan setelah
dipanaskan
Tidak terdapat asam
amino yang
mengandung
monohidroksi benzena
Air Liur terbantuk endapan setelah dipanaskan,
warna endapan merah
Terdapat asam amino
yang mengandung
monohidroksi benzena






Tabel 2.1.1 Hasil Pengamatan Uji Xantoprotein, Heller, Koagulasi Panas,
Pengendapan dengan Logam
Sampel
Uji
Hasil Pengamatan Kesimpulan
Reaksi Uji Xantoprotein
Air Liur Air Liur + asam sitrat + NaOH 10 %
kuning keruh, endapan kuning
Terdapat gugus aromatic
(benzene) yang berupa
asam amino tirosin,
triptofan dan fenilalanin.
Gelatin Gelatin + asam sitrat + NaOH 10 %
tidak berubah warna
Tidak gugus aromatic
(benzene) yang berupa
asam amino tirosin,
triptofan dan fenilalanin.
Susu Susu + asam sitrat + NaOH 10 %
kuning orange, ada gumpalan
Terdapat gugus aromatic
(benzene) yang berupa
asam amino tirosin,
triptofan dan fenilalanin.
Reaksi Uji Heller
Air Liur
encer
Air Liur + asam nitrat prespitasi
putih, tidak berwarna
Positif
Susu Susu + asam sitrat prespitasi putih
ada kuning oleh gumpalan
Positif
Putih
Telur
Putih Telur + asam sitrat prespitasi
putih ada kuning oleh gumpalan
Positif
Reaksi Uji Koagulasi Panas
Gelatin Gelatin + Asam asetat endapan Negatif
Susu Susu + Asam asetat endapan Positif
Putih
Telur
Putih Telur + Asam asetat endapan Positif
Reaksi Uji Pengendapan Protein dengan Logam Berat
Gelatin Filtrat :
+ Pb Asetat 10% larutan jernih
Logam berat tidak dapat
melarutkan protein
+ CuSO
4
larutan teap jernih
Endapan :
+ Pb Asetat 10% tidak ada endapan
CuSO
4
tidak ada endapan
Logam berat tidak dapat
melarutkan protein
Susu Filtrat :
+ Pb Asetat 10% larutan putih
+ CuSO
4
hijau tosca
Logam berat dapat
melarutkan protein
Endapan :
+ Pb Asetat 10% terdapat endapan
putih
+ CuSO
4
endapan putih
Logam berat dapat
melarutkan protein
Putih
Telur
Filtrat :
+ Pb Asetat 10% warna putih keruh
+ CuSO
4
larutan berwarna putih
keruh
Logam berat dapat
melarutkan protein
Endapan :
+ Pb Asetat 10% terdapat endapan
putih
+ CuSO
4
terdapat endapan putih
Logam berat dapat
melarutkan protein

Tabel 2.1.3 Hasil Pengamatan Uji Pengendapan Protein dengan Garam Anorganik
Tabung 1 2 3
Sampel +
(NH
4
)
2
SO
4

Susu Putih telur Gelatin
Endapan Ada Ada Tidak ada
Pisahkan endapan dengan menyaring
Uji Biuret :
Filtrat Ungu Ungu Biru jernih
Endapan Ungu Ungu -
Uji millon :
Filtrat Tak berwarna + Endapan putih Tak berwarna
endapan merah
Endapan Merah Merah -



Tabel 2.1.4 Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein
Tabung 1 2 3 4
Larutan Sampel Susu Putih telur Minyak Larutan
pati
Penambahan
Alkohol
Endapan / tidak
Endapan Endapan Endapan Endapan
Uji Biuret



-endapan


-filtrat

Endapan
Ungu (+)


- Filtrat
Ungu (+)



-Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)




- Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)



- Endapan
Putih
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)
Penambahan asam
asetat
Endapan / tidak
Endapan Endapan Tidak Tidak
Uji Biuret
-endapan


- Endapan
Ungu (+)

- Endapan
Ungu (+)

- Endapan
Bening

- Endapan
Bening



-filtrat



- Filtrat
Ungu (+)




- Filtrat
Ungu (+)

(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)

(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)

Penambahan
NaOH
Endapan / tidak
Endapan Tidak (albunin
melarut )
Endapan Tidak
Uji Biuret
-endapan




-filtrat

- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)


- Endapan
Bening (Tidak
ada endapan)


- Filtrat
Ungu (+)


- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)


- Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)

Penambahan
Buffer Asetat
Endapan / tidak
Endapan Endapan Endapan Tidak
Uji Biuret
-endapan




-filtrat

- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat

- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat

- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat

Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Ungu (+)

Ungu (+)

Ungu (+)

Bening
(Tidak ada
endapan)


Penambahan air
mendidih
Endapan / tidak
Endapan Tidak

Tidak Tidak
Uji Biuret

-
endapan



-filtrat
- Endapan
Ungu (+)


- Filtrat
Ungu (+)

- Endapan
Bening (Tidak
ada endapan)

- Filtrat
Ungu (+)


-
Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan

-
Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)

Penambahan
deterjen
Endapan / tidak
Endapan Endapan Endapan Tidak
Uji Biuret

-Endapan




-filtrat


- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)


Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)


Endapan
Ungu (+)



Filtrat
Ungu (+)


Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)

Dilakukan
pengunjangan
Endapan / tidak
Endapan

endapan

Tidak

Endapan
Uji Biuret
-endapan





-Filtrat
- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)



- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)



-Endapan
Bening
(Tidak ada
endapan)

- Filtrat
Bening
(Tidak ada
endapan)



- Endapan
Ungu (+)



- Filtrat
Ungu (+)



2.2 Pembahasan :

1. Uji biuret
Digunakan sebagai uji untuk mendeteksi ikatan peptida pada suatu bahan.
Uji ini adalah cara klasik yang diperkenalkan oleh Riegler pada tahun 1914
melalui observasi substansi yang mengandung dua atau lebih ikatan peptida yang
membentuk warna ungu dengan tembaga di dalam larutan alkalin. Uji biuret
merupakan uji yang mudah, cepat dan tidak mahal. Pada larutan alkali, protein
mereduksi Cupric (Cu2+) menjadi Cuprous (Cu+) yang beraksi dengan ikatan
peptida.
Uji biuret dilakukan dengan sampel (putih telur, susu, gelatin, Air liur)
sebanyak 2 ml yang dimasukkan didalam tabung reaksi, dengan menambahkan 2
ml natrium Hidroksida 10% kemudian ditambahkan larutan tembaga sulfat
(CuSO4) 0,1% 1ml. Hasil yang terbentuk dalam 4 sampel praktikum kami yaitu
berwarna ungu. Hal tersebut menunjukkan adanya rangkaian peptida didalam 4
sampel kami. Hal ini Ikatan peptida dapat ditunjukkan (salah satunya) dengan
warna spesifik yang dihasilkan dari reaksi antara ikatan peptida dengan larutan
NaOH dan CuSO
4
. NaOH akan berfungsi sebagai katalis, karena ion OH
-
dari
NaOH akan menarik salah satu ion H
+
dari -NH2
-
protein, sehingga
memungkinkan protein membentuk kompleks dengan Cu
2+
dari CuSO
4
. kompleks
antara protein dengan CuSO
4
inilah yang kemudian membentuk warna ungu pada
sampel.

2. Uji Millon
Digunakan untuk mendeteksi tirosin pada sampel protein. Prinsip kerjanya
adalah kelompok phenol atau monohidroksi benzene dari tirosin bereaksi dengan
ion merkuri pada kondisi asam dari sodium nitrit, menghasilkan warna merah
kompleks. Pada percobaan kami, sampel putih telur, susu, gelatin dan air liur
menghasilkan warna merah. Artinya adalah keempat sampel tersebut positif
memiliki gugus phenol pada ikatan proteinnya.

3. Uji Xantoprotein
Digunakan untuk identifikasi protein yang mengandung residu asam
aminod dengan radikal fenil dalam struktur kimianya (protein yang mengandung
asam amino fenilalanin atau tirosin).

Asam nitrat pekat bereaksi dengan cincin fenil untuk memberi warna
kuning. Penambahan larutan alkali menyebabkan warna jingga pada sampel.

Hasil dari uji pada sampel kami (susu, gelatin, dan air liur) adalah : susu
dan air liur mempunyai gugus fenil dengan memberi warna kuning/jingga
sedangkan pada gelatin tidak memberi hasil positif.


4. Uji Heller
Uji ini dilakukan degan mencampurkan susu, putih telur dan air liur
dengan HNO
3
pekat sehingga hasilnya akan terbentuk endapan yang berwarna
putih pada permukaan larutan. Hal ini menandakan bahwa di dalam semua sampel
terkandung protein. Protein pecah kemudian mengalami denaturasi oleh HNO
3
.
Protein jika terkena asam pekat (HNO
3
) akan terjadi denaturasi protein di
permukaan, tetapi jika berlangsung lama, denaturasi akan berlangsung terus-
menerus sampai cincin putih menghilang .
Hasil dari pemeriksaan protein terhadap semua sampel menggunakan tes
heller yaitu dengan penambahan asam nitrat pekat pada sampel yang jika terdapat
protein akan membentuk suatu lapisan terpisah dan ditunjukkan dengan
terbentuknya endapan putih. Hasil pemeriksaan dengan menggunakan tes heller
menunjukkan hasil pemeriksaan yang positif (+). Hal ini menunjukkan bahwa
semua sampel yang diperiksa terdapat protein..


5. Uji Koagulasi Protein
Salah satu faktor yang menyebabkan denaturasi protein adalah perubahan
temperature. Memasak putih telur merupakan contoh denaturasi protein yang
tidak reversible. Suatu putih telur adalah cairan tidak berwarna yang mengandung
albumin, yakni protein globular yang larut. Pemanasan putih telur itu
mengakibatkan albumin membuka lipatan dan mengendap, dihasilkan suatu zat
padat putih. Itu adalah contoh dari penggumpalan protein akibat pemanasan.
Penambahan asam pada protein juga mengakibatkan denaturasi, sehingga
terjadi penggumapalan. Ikatan garam pada protein adalah ionik dan terjadi karena
gaya tarik menarik antara gugus karboksil dan NH3 yang berdekatan.
Pada percobaan, digunakan pemanasan dengan air mendidih serta
penambahan asam asetat. Perubahan yang terjadi adalah timbulnya endapan. Hasil
yang kami peroleh yaitu susu dan putih telur positif mengendap sedangkan gelatin
tidak mengendap.

6. Uji Pegendapan Protein dengan Logam Berat
Dasar reaksi ini adalah penetralan muatan. Pengendapan akan terjadi
apabila protein berada pada daerah alkalis terhadap titik isoelektrknya, yang mana
protein bermuatan negatif. Dengan adanya ion positif dari logam berat, terjadilah
penetralan dan terjadi garam proteinat yang mengendap.
Logam berat yang dipakai dalam percobaan adalah Pb asetat dan Copper
sulfat (CuSO4). Sedangkan sampel yang kami pakai adalah susu, putih telur dan
gelatin. Hasil yang diperoleh yaitu susu dan putih telur positif mengendap
sedangkan gelatin tidak mengendap.

7. Pengendapan protein oleh Garam-garam anorganik
Langkah awal dalam uji protein ini ialah menentukan bahan alam yang
akan diproses. Penentuan ini didasarkan pada kadar protein yang terkandung di
dalamnya. Tentu saja dipilih bahan alam yang mempunyai kadar protein tinggi
dan mudah diperoleh. Analisis terhadap kadar protein dalam bahan alam tersebut
perlu dilakukan untuk memperoleh data tentang kadar protein yang akan uji.
Pengendapan protein dengan garam dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
pH, temperatur, konsentrasi protein, dan garam yang digunakan. Konsentrasi
protein merupakan faktor terpenting dalam scaling-up karena pemurnian skala
besar memberikan hasil yang lebih banyak dibanding skala laboratorium (Walker
dkk., 1988). Pengendapan protein dalam ekstrak sel dan jaringan dapat dilakukan
dengan penambahan reagen.
Pada uji pengendapan dengan garam, larutan protein dijenuhkan hingga
keruh menggunkan (NH
4
)
2
SO
4
. penambahan garam tersebut maka akan
terbbentuk endapan. Hal ini sesuai menurut Stryer. Menurut Stryer Daya larut
kebanyakan protein dalam larutan garam dengan konsentrasi tinggi menjadi
rendah. Efek ini dikenal dengan salting out (Stryer, 2000). Hubungan daya larut
protein dengan kadar garam berbeda antara satu protein dengan protein lainnya.
Amonium sulfat merupakan garam yang umum digunakan dalam
pengendapan protein secara salting out karena memiliki kelarutan yang tinggi
Pada percobaan kami larutan susu dan putih telur memberikan hasil positif
dengan indikasi terdapatnya endapan putih ataupun larutan yang menjadi putih
keruh sedangkan pada gelatin didapatkan hasil negatif dengan indikasi tidak
terdapatnya endapan dari hasil tersebut terjadi karena ammonium sulfat memiliki
tingkat kelarutan yang lebih tinggi daripada protein. Sehingga pada saat
penambahan ammonium sulfat, ammounium sulfat akan melarut dalam air atau
pelarutnya dan mendesak protein keluar, kembali dalam bentuk solidnya, sehingga
terbentuklah protein yang terendapkan.
Setelah kami mendapatkan hasil berupa endapan larutan yang kami uji
akan kami saring guna memisahkan endapan dan fitratnya. Dan dilanjutkan
dengan uji biuret dan uji millon.
Salah satu cara menguji adanya protein dalam makanan adalah dengan
melakukan uji biuret. Biuret merupakan persenyawaan dengan dua gugus karbonil
dan tiga gugus amino dan membentuk ikatan koordinat dengan CU
2+
dengan cara
yang sama dengan protein. Uji ini dapat digunakan untuk menguji senyawa-
senyawa yang memiliki ikatan peptida. Itulah sebabnya uji biuret dapat digunakan
untuk mengetahui ada tidaknya protein di dalam makanan. Adanya protein
ditandai dengan terbentuknya warna ungu.
Dari hasil uji kami dari 3 sampel (susu, putih telur, dan gelatin) yang
memberikan hasil positif yaitu susu dan putih telur dengan indikasi terbentuknya
warna ungu pada endapan dan fitratnya yang artinya susu dan putih telur memiliki
iktan peptida. Sedangkan pada gelatin tidak terdapat ikatan peptide karena tidak
terbentuknya warna ungu pada endapat maupun pada fitratnya.
Setelah melakukan uji biuret kelompok kami melakukan uji millon yang
bertujuan untuk identifikasi asam amino yang mengandung monohidroksi benzen.
Pereaksi millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat.
Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan
endapan putih yang akan berubah menjadi warna merah oleh pemanasan. Pada
dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa
merkuri dengan gugus hidroksifenil yang bewarna. Protein yang mengandung
tirosin akan memberikan hasil positif
Dari hasil praktikum kami didapatkan hasil positif untuk endapan dan
filtrat susu dan putih telur. Sedangkan pada gelatin tidak terdapat perubahan
warna merah.

8. Uji Denaturasi Protein
Denaturasi protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh
terkacaunya ikatan hydrogen dan gaya-gaya skunder lain yang memutuskan
molekul protein. Akibat dari suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat sifat
biologis suatu protein (Fessenden 1989).
Salah satu penyebab denaturasi protein adalah perubahan temperatur, dan
juga perubahan pH. Perubahan pH yang terjadi karena penambahan asam atau
basa dapat merusak ikatan garam yang terdapat pada protein tersebut. Ikatan
garam dalam molekul protein adalah senyawa ionik dan terjadi Karen gaya tarik
menarik antara COO- dan NH
3
yang berdekatan. Penambahan asam berarti
penambahan ion H
+
dan mengubah COO- menjadi COOH dan mengakibatkan
gaya tarik menarik hilang atau kerusakan ikatan garam dalam molekul protein.
Penambahan basa yang berarti penambahan OH akan mengubah NH
3+
menjadi
NH
2+
dan air.
Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan denaturasi protein adalah
deterjen, radiasi zat pengoksidasi atau pereduksi, dan perubahan jenis pelarut.
Denaturasi dapat bersifat reversible, jika suatu protein hanya dikenai kondisi
denaturasi yang lembut seperti perubahan pH. Jika protein dikembangkan ke
lingkungan alamnya, hal ini untuk memperoleh kembali struktur lebih tingginya
yang alamiah dalam suatu proses yang disebut denaturasi. Denaturasi umumnya
sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali (Fessenden 1989).
Denaturasi protein juga dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan
hidrogen, ikatan garam atau bila susunan ruang atau rantai polipeptida suatu
molekul protein berubah. Dengan kata lain denaturasi adalah terjadi kerusakan
struktur primer, skunder, tersier, dan struktur kuartener, tetapi struktur primer
(ikatan peptida) masih utuh. Susunan protein dapat dilhat sebagai hirarki, yaitu
berupa struktur primer (tingkat I), skunder (tingkat II), tersier (tingkat III), dan
kuartener (tingkat IV).
Pada percobaan kami menggunakan alkohol, asam asetat, NaOH, buffer
asetat 1 M, pemanasan air mendidih, penambahan deterjen dan pengguncangan
intensif sebagai faktor denaturasi. Lalu setelah terjadi pengendapan, filtrat
disaring dan diuji biuret untuk membuktikan adanya protein. Begitu juga pada
endapan yang dilakukan uji biuret.
Hasil yang diperoleh adalah























BAB 3
KESIMPULAN
1. Pada Uji Biuret, albumin, kasein, gelatin, dan air liur menghasilkan warna
lembayung/ungu, ini menunjukkan terdapat ikatan peptida pada semua
bahan tersebut.
2. Pada Uji Milon, susu, putih telur, dan air liur ditambahkan dengan
pereaksi milon menghasilkan endapan, dan setelah dipanaskan berubah
warna menjadi warna merah muda, sedangkan gelatin tidak mengalami
perubahan sama sekali. Hal tersebut menunjukkan susu, putih telur, dan air
liur mengandung monohidroksi benzene, sedangkan gelatin tidak.
3. Pada Uji Xantoprotein, susu dan putih telur menghasilkan warna kuning
jingga, gelatin tetap berwarna bening, menunjukkan susu dan putih telur
menghasilkan cincin benzene sedangkan gelatin tidak.
4. Pada Uji Heller, susu, putih telur, dan air liur encer menghasilkan endapan
putih, menunjukkan terdapat protein semua bahan tersebut.
5. Pada Uji Koagulasi Panas, susu dan putih telur menghasilkan endapan
setelah didihkan dan ditetesi asam asetat menunjukkan susu dan putih telur
positif mengandung protein. Gelatin tidak.
6. Pada Uji Pengendapan Protein dengan Logam Berat, susu setelah
ditambahkan Pb asetat menghasilkan endapan putih susu, pada putih telur
setelah ditambahkan Pb asetat menghasilkan endapan putih, dan pada
gelatin ditambahkan Pb asetat menghasilkan larutan putih agak keruh.
Pada penambahan CuSO
4
susu menghasilkan endapan putih susu, putih
telur menghasilkan endapan putih kuning dan gelatin tetap bening. Hal itu
menunjukkan susu dan putih telur mengendapkan logam berat.
7. Pengendapan protein oleh garam-garam anorganik
Setelah ditambahkan (NH
4
)
2
SO
4
susu menghasilkan endapan, putih telur
menghasilkan sedikit endapan, dan gelatin tidak menghasilkan endapan.
Dilakukan uji biuret pada endapan susu menghasilkan warna ungu dan
filtrate susu menghasilkan warna ungu, begitu juga pada endapan dan
filtrate putih telur dilakukan uji biuret, endapan putih telur tidak berwarna,
sedangkan filtrate putih telur menghasilkan warna ungu. Hasil-hasil
tersebut menunjukkan filtrate dan endapan susu mengandung peptide,
begitu juga dengan filtrate putih telur,
Denaturasi Protein
a. Penambahan Alkohol
Susu, putih telur dan , sedangkan minyak dan larutan pati tidak. Saat
dilakukan uji biuret filtrate serta endapan susu dan putih telur
menghasilkan warna ungu, filtrate larutan pati berwarna bening
endapannya berwarna putih.
b. Penambahan Asam Asetat
susu dan putih telur yang menghasilkan endapan sedangkan minyak,
dan larutan pati tidak. Saat dilakukan uji biuret, filtrate dan endapan
susu menghasilkan warna ungu, endapan putih telur bening, filtrate
putih telur menghasilkan warna ungu, sedangkan pada minyak dan
larutan pati menghasilkan endapan dan filtrate yang bening.
c. Penambahan NaOH
Susu dan minyak menghasilkan endapan, sedangkan putih telur dan
larutan pati tidak. Saat dilakukan uji biuret filtrate dan endapan susu
menghasilkan warna ungu, pada putih telur filtratnya menghasilkan
warna ungu tetapi endapannya bening, sedangkan pada larutan pati
menghasilkan endapan dan filtrate yang bening.
d. Penambahan buffer asetat
Susu dan putih telur menghasilkan endapan, sedangkan minyak, dan
larutan pati tidak. Saat dilakukan uji biuret filltrat dan endapan putih
telur dan susu menghasilkan warna ungu, sedangkan pada minyak dan
larutan pati hanya menghasilkan filtrate yang berwarna kuning dan
bening.
e. Penambahan air mendidih
Susu menghasilkan endapan, sedangkan putih telur, minyak, dan
larutan pati tidak. Saat dilakukan uji biuret filtrate dan endapan susu
menghasilkan warna ungu, begitu juga dengan filtrate putih telur
menghasilkan warna ungu, sedangkan larutan yang lain hanya
menghasilkan warna bening.
f. Penambahan deterjen
Susu putih telur dan minyak menghasilkan endapan, sedangkan
larutan pati tidak. Setelah dilakukan uji biuret filtrate dan endapan
pada susu, putih telur dan minyak menghasilkan warna ungu,
sedangkan pada larutan pati berwarna bening.
g. Penambahan gunjangan
Susu dan putih telur menghasilkan endapan, sedangkan minyak dan
larutan pati tidak. Setelah dilakukan uji biuret filtrate dan endapan susu
menghasilkan warna ungu, begitu juga filtrate putih telur
menghasilkan warna ungu, tetapi endapan putih telur berwarna bening
sama dengan filtrate dan endapan dari minyak dan larutan pati.





















Daftar Pustaka

Digilib.unimus.ac.id diakses pada 31 Maret 2014 pukul 10.51 WIB
Fessenden & Fessenden. 1986. Kimia Organik edisi ketiga. Diterjemahkan oleh
Aloysius Hadyana Pudjaatmakan, Ph.D. Jakarta : Erlangga
Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran & Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta:EGC
Bintang, Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta : Erlangga
























Lampiran

Hasil Pengamatan Uji Biuret
Putih telur Susu Gelatin Air liur


Hasil Pengamatan Uji Millon
Putih telur Susu Gelatin Air liur


Hasil Pengamatan Uji Xantoprotein
Hasil Pengamatan Uji Heller
Hasil Pengamatan Uji Koagulasi Panas
Hasil Pengamatan Uji Pengendapan dengan Logam Berat

Hasil Pengamatan Uji Pengendapan Protein dengan Garam Anorganik
Susu Putih Telur Gelatin

Filtrat
Susu Putih Telur Gelatin
Biuret Millon Biuret Millon Biuret Millon

Endapan
Susu Putih Telur
Biuret Millon Biuret Millon


Hasil Pengamatan Uji Denaturasi Protein
Susu
+ alkohol

Uji biuret endapan






+ asam asetat

Uji biuret endapan

+ NaOH

Uji biuret endapan

Uji biuret filtrat

+buffer asetat

Uji biuret endapan

+ air mendidih

Uji biuret filtrat

+ deterjen

Uji biuret filtrat




Putih telur
+ alkohol

+ asam asetat

+buffer asetat

+ deterjen

Pengunjangan

Minyak
+ deterjen +buffer asetat + asam asetat + NaOH + air mendidih

Pengujangan














Pertanyaan
1. Apakah yang di maksud dengan salting in dan salting out ?



Salting in adalah peristiwa dimana adanya zat terlarut tertentu yang
menyebabkan kelarutan zat utama di dalam solvent menjadi lebih besar.
Dengan kata lain zat yang awalnya sukar larut menjadi mudah larut dengan
adanya zat terlarut tertentu. Contoh : Riboflavin tidak larut air, tetapi larut
dalam larutan yang mengandung nicotinamid.
Salting out adalah peristiwa dimana adanya zat terlarut tertentu yang
mempunyai kelarutan lebih besar disbanding zat utama sehingga
menyebabkan penurunan kelarutan zat utama (terbentuk endapan karena
adanya reaksi kimia).Contoh : reaksi antara papaverin HCl dengan Solutio
Charcot menyebabkan kelarutan papaverin base menurun.