Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Salah satu ciri dari makhluk hidup yaitu peka terhadap rangsang, respon makhluk
hidup terhadap lingkungannya. Mampu merespon berbagai impuls atau stimulus-
stimulus yang ada disekitar lingkungannya. Lingkungan memberikan segala sesuatu
yang ada disekitar makhluk hidup dan saling berinteraksi. Lingkungan sangat
berperan penting bagi semua makhluk hidup. Lingkungan meliputi lingkungan
abiotik maupun lingkungan biotik. Lingkungan abiotik itu sendiri terdiri dari suhu,
cahaya matahari, kelembapan, dan benda-benda mati lainnya yang tidak digunakan
sebagai sumber daya seperti batu, tanah sebagai tempat tinggal sedangkan
lingkungan biotik yaitu manusia, hewan dan tumbuhan (Pratiwi, 2007).
Hewan adalah organisme yang bersifat motil, artinya dapat berjalan dari satu
tempat ke tempat lain. Gerakannya disebabkan oleh rangsang-rangsang tertentu yang
datang dari lingkungannya.Jenis-jenis hewan pada umumnya dapat tinggal di suatu
lingkungan hidup yang sesuai dengan ciri-ciri kehidupannya. Jika hewan berjalan
atau berpindah ke tempat lain tidak mengalami perubahan bentuk, kecuali perubahan
sifat-sifat fisiologisnya. Faktor-faktor yang merangsang gerakan hewan adalah
makanan, air, cahaya, suhu, kelembaban, dan lain-lain. Beberapa hewan mampu
menempuh jarak tempuh itu dipengaruhi batas toleransinya untuk merespon
perubahan lingkungannya (Melles, 2004).
Lingkungan menggambarkan jumlah keseluruhan kondisi fisik dan biotik
yang memepengaruhi tanggapan makhluk. Lebih spesifik lagi, jumlah bagan
hidrosfer, litosfer, dan atmosfer yang merupakan tempat hidup mkhluk kemudian
disebut biosfer. Habitat adalah suatu perangkat kondisi fisik dan kimiawi (misalnya
ruang, iklim) yang mengelilingi suatu species tunggal, suatu kelompok species, atau
suatu komunitas besar. Biotop mendefinisikan suatu satuan menurut ruang atau
topografik dengan suatu perangkat stauan yang karakteristik mengenai kondisi fisik
serta kimiawi dan mengenai kehidupan tumbuhan dan hewan. Supaya makhluk dapat
ada mereka harus memberi tanggapan dan menyesuaikan diri pada kondisi
lingkungan mereka. Makhluk memberi tanggapan perbedaan dan perubahan dalam
lingkungannya dalam empat cara mendasar adalah adaptasi morfologik, penyesuaian
fisiologik, pola-pola kelakuan, dan hubungan komunitas (Adianto, 2004).
Berbagai faktor lingkungan misalnya suhu, kelembapan, maupun cahaya
matahari merupakan faktor yang diperlukan oleh hewan, namun kadang-kadang
dapat juga beroperasi sebagai salah satu faktor pembatas. Misalnya cahaya matahari
bagi hewan-hewan yang hidup di tempat terlindung dapat dianggap sebagai suatu
stimulus lain yang dapat menyebabkan hewan tersebut berespon menghindar
terhadap cahaya tersebut demikian pula sebaliknya (Pratiwi, 2007).
Gerak pada makhluk hidup dapat dipengaruhi karena adanya rangsang dari
luar atau rangsang dari dalam. Salah satu contoh gerak pada hewan yang dipengaruhi
oleh rangsang dari luar dalam arti berasal dari stimulus-stimulus makhluk hidup yang
ada di lingkungannya yaitu taksis. Taksis dapat dijumpai pada hewan-hewan
invertebrata. Pada hewan-hewan ivertebrata memiliki suatu reseptor yang peka
terhadap rangsang disekitarnya. Adapun rangsangan atau stimulus-stimulus yang
diterima hewan invertebrata baik itu dalam satu familii atau ordo bahkan gerak yang
diperlihatkan berbeda untuk setiap hewan karena ini dapat dipengaruhi lagi dari
faktor lingkungan dimana hewan tersebut berada fakktor lingkungan abiotik dapat
mempengaruhi seperti suhu, kelembapan dan cahaya matahari (Melles, 2004).
Beberapa hewan dapat berpindah dengan menempuh jarak berberapa meter
dari tempatnya semula, dan ada juga hewan yang tidak mampu melakukan itu
karena ada yang mempengaruhi yaitu batas toleransi untuk merespon suatu
perubahan lingkungan. Berdasarkan uraian diatas, maka praktikum ini perlu
dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon yang diperlihatkan hidup yang hidup
ditempat gelap terhadap stimulus berupa cahaya dan untuk mengetahui bagaimana
respon yang diperlihatkan hewan-hewan di tempat yang terang terhadap stimulus
berupa cahaya.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Rheotaksis adalah untuk mengetahui respon dari
berbagai rangsangan yang diberikanpada makhluk hidup.




















II. TINJAUAN PUSTAKA

Pembawaan tubuh kea rah atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakan taksis pada
hewan. Hewan menunjukkan beberapa jenis taksis yang berbeda, fototaksis adalah
gerakkan terhadap cahaya, dan kemotaksismerupakan gerakkan terhadap kimia.
Sebagian serangga, misalnya kupu-kupu dan lalat, menunjukkan fototaksis; serangga
tersebut akan terbang terus kearah cahaya. Selalu serangga tersebut membawa
dirinya dengan mengarahkan tubuhnya hingga cahaya mengenai ke dua matanya.
Jika satu matanya buta, hewan akan bergerak dalam bentuk berputar-putar, selalu
coba mencari arah yang memungkinkan cahaya diimbangkan di antara ke dua mata.
Kemotaksis agak lazim di kalangan hewan.Serangga tertarik pada zat kimia yang
disebut feromon, yang dikeluarkan oleh anggota spesiesnya pada jumlah yang sangat
sedikit.Sejumlah semut akan mengikuti kesan feromon itu dan akan berputar-putar
sampai mati kelelahan.Vertebrata kadangkala sangat bereaksi terhadap zat kimia.
Anjing pemburu dpt melacak seseorang dengan mencium bau bajunya(Silvia,1995).
Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah
bahwa perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh
lingkungan (nature/pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai
nature bukanlah mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai
derajat sejauh mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi
sifat prilaku. Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku
memiliki komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan
fisiologis seekor hewan. Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu
kisaran variasi fenotifik (suatu norma reaksi) yang bergantung pada lingkungan, di
mana genotip itu diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya,
bentuk penyelesaian masalah yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi
yang sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik-
--perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron
yang tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah
filogenetik, dengan norma reaksi yang luas, ( Campbell, 2004).
Suatu rangsangan tingkah laku (iritabilitas) suatu organisme disebut juga daya
menanggapi rangsangan. Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungannya. Pada beberapa organisme terdapat sel-sel,
jaringan atau organ-organ yang berdiferensiasi khusus. Pada organisme yang
bergerak, tanggapan terhadap rangsangan disebut refleks. Suatu gerak taksis pada
organisme yang diberikan rangsangan akan bergerak menjauhi atau mendekati
rangsangan (Widiastuti, 2002).
Taksis adalah suatu gerakan hewan menuju atau menjauhi suatu rangsangan
yang terjadi. Taksis dibagi menjadi dua berdasarkan arah orientasi dan pergerakan,
yaitu taksis positif dan taksis negatif. Taksis menurut macam rangsangannya juga
dibedakan menjadi fototaksis (rangsangan cahaya), rheoaksis (rangsangan terhadap
arus air), kemotaksis (rangsangan terhadap bahan kimia) dan geotaksis (rangsangan
terhadap kemiringan tempat) (Michael, 1994):
1. Fototaksis adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh adanya rangsangan
dari sumber cahanya.
2. Rheotaksis adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh adanya arus air
pada suatu tempat.
3. Geotaksis adalah gerak taksis yang terjadi karena adanya kemiringan suatu
tempat.
4. Kemotaksis adalah gerak taksis yang terjadi karena adanya zat kimia.
Suatu gerak taksis dikatakan taksis positif jika respon yang terjadi adalh menuju atau
mendekati rangsangan, sedangkan taksis negatif jika respon yang terjadi adalah
menjauhi rangsangan (Virgianti, 2005).
Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus dari luar. Reseptor
diperlukan untuk mendeteksi stimulus itu, syarat diperlukan untuk
mengkoordinasikan respon dan efektor itulah yang sebenarnya melakukan aksi.
Perilaku dapat juga terjadi sebagai akibat stimulus dari dalam. Lebih sering terjadi,
perilaku suatu organisme merupakan akibat gabungan stimulus dari luar dan dalam
(Kimball, 1992).
Taksis adalah suatu bentuk sederhana dari respon hewan terhadap stimulus dengan
bergerak secara otomatis langsung mendekati atau menjauh dari atau pada sudut
tertentu terhadapnya atau dalam proses penyesuaian diri terhadap kondisi
lingkungannya (Suin, 1989).
Cacing Tanah
Cacing tanah menyukai lingkungan yang lembab dengan bahan organik yang
berlimpahan dan banyak banyak kalsium yang tersedia. Akibatnya, cacing tanah
terdapat paling melimpah dalam tanah berstruktur halus dan kaya bahan organik dan
tidak terlalu asam. Cacing tanah pada umumnya membuat liang dangkal dan hidup
mencerna bahan organik yang terdapat didalam tanah (Nukmal, 2012).
Perilaku cacing tanah dengan membuat liang yang dangkal merupakan respon
terhadap rangsang cahaya. Kelangsungan hidup suatu mahkluk hidup tergantung
pada kemampuannya dalam menanggapi rangsang dan bagaimana organisme (cacing
tanah) tersebut menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (Odum, 1993).
Pengaruh cahaya terhadap masing-masing perlakuan adalah berbeda. Untuk
perbedaan posisi atas dan bawah pengaruh cahaya jauh berbeda. Artinya pada posisi
atas cahaya yang diterima jauh lebih besar dibanding di bawah.
Pola ikan pada umumnya akan membentuk schooling pada saat terang dan menyebar
saat gelap dalam keadaan tersebar ikan akan lebih mudah dimangsa predator
dibandingkan saat berkelompok adanya pengaruh cahaya buatan pada malam hari
akan menarik ikan kedaerah dominansi sehingga memungkinkan mereka membentuk
schooling dan lebih aman dari predator ikan-ikan yang tergolong fototaksis positif
dan akan memberikan respon dengan mendekati sumber cahaya sedangkan ikan-ikan
yang bersifat fototaksis negatif akan bergerak menjauhi sumber cahaya (Hasan,
2000).
Pola kedatangan ikan di sekitar sumber cahaya berbeda-beda, tergantung
jenis dan keberadaan ikan di perairan. Pengamatan dengan menggunakan side scan
sonar colour tidak dapat mengetahui jenis ikan yang berada di perairan,namun
pergerakan kawanan ikan yang ada di sekitar bagan dapat diketahui. Hasil
pengamatan dengan menggunakan side scan sonar colour memperlihatkan bahwa
kawanan ikan berenang mendatangi sumber cahaya dari kedalamanan yang berbeda,
yaitu ada yang berenang pada kisaran kedalaman 20-30 m dan ada pula yang
berenang pada kisaran kedalam 5- 10 m. (Adianto, 2004).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Rheotaksis ini dilakukan pada hari Selasa tanggal 15 April 2014 di
Laboratorium Pendidikan IV jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum Rheotaksis yaitu triplek ganda
ukuran kertas HVS dengan engsel, cawan petri, kertas karbon, triplek penyangga
dengan sudut 25
o
, 30
o
, dan 45
o
, senter, kertas HVS, kertas milimeter, aquarium, dan
stopwatch. Bahan yang digunakan yaitu Pherettima sp., Poecilia reticulata, tepung
beras, dan air.
3.3. Cara Kerja
3.3.1. Rheotaksis
Disediakan aquarium dan diletakkan didekat air yang mengalir. Aquarium
dimiringkan dan diisi dengan air hingga air melimpah. Matikan kran air, kemudian
Poecilia reticulata dimasukkan sebanyak 20 ekor secara bersamaan dan hidupkan air
kembali. Amati pergerakkan dari Poecilia reticulata tersebut . lakukan tiga kali
pengulangan.
3.3.2. Fototaksis
Disediakan cawan petri, senter, kertas karbon , dan dua ekor cacing dengan ukuran
sama besar. Tutup sebagian cawan petri dengan kertas karbon dan sebagiannya lagi
dibiarkan terbuka. Letakkan dua ekor cacing didalam cawan petri dengan posisi
ditengah-tengah antara bagian yang gelap dan bagian yang gelap. Berikan cahaya
dari atas dengan senter. Amati arah perpindahan cacing antara bagian yang gelap
atau bagian yang terang dan catat waktu pada saat cacing sudah berpindah tempat.
Lakukan dengan tiga kali pengulangan.
3.3.3. Geotaksis
Disediakan triplek ganda dengan engsel, sudut penyangga, tepung, dan lima ekor
cacing. Letakkan sudut penyangga 25
o
, 30
o
, 45
o
pada triplek ganda. Tutupi
permukaan triplek tersebut dengan kertas HVS dan taburi kertas HVS dengan tepung
beras secara merata. Pada permukaan kertas yang sudah ditaburi dengan tepung beras
dibagi menjadi empat kuadran. Letakkan lima ekor Pherettima sp. ditengah-tengah
kuadran. Tunggu dan catat waktu pada saat Pherettima sp jatuh kebawah. Amati arah
dan dikuadran mana Pherettima sp tersebut jatuh. Lakukan tiga kali pengulangan
pada setiap sudut.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Rheotaksis
Berdasarkan paraktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa pergerakan Poecilia
reticulata dipengaruhi atau dirangsang oleh arus air. Dilihat dari arah pergerakannya
diketahui bahwa Poecilia reticulata merupakan rheotaksis positif. Poecilia reticulata
yang diamati saat praktikum bergerak melawan arus air. Menurut Virgianti (2005),
rheotaksis adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh adanya arus air pada
suatu tempat. Suatu gerak taksis dikatakan taksis positif jika respon yang terjadi
adalh menuju atau mendekati rangsangan, sedangkan taksis negatif jika respon yang
terjadi adalah menjauhi rangsangan.
Poecilia reticulata lebih cendrung bergerak kearah dasar air dikarenakan
arus pada dasar air lebih tenang dibandingkan dengan arus pada permukaan air. Hal
ini sesuai dengan pernytaan Hasan (2000), bahwa kecepatan arus mempengaruhi
keberadaan ikan ini. Habitat yang paling disukai Poecilia reticulata adalah perairan
tawar yang arusnya tidak terlalu deras.
Organisme di perairan terbagi ke dalam tiga jenis yaitu nekton, perifiton, dan
plankton. Nekton merupakan organisme yang bisa bergerak melawan arus air,
Poecilia reticulata merupakan hewan yang termasuk ke dalam tipe nekton. Perifiton
adalah organism yang tidak memiliki kemampuan melawan arus, namun dapat
menempel pada substrat untuk mempertahankan diri, contoh perifiton yaitu lumut.
Sedangkan plankton merupakan organism yang tidak memiliki kemampuan melawan
arus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pramudiyanti (2009), pergerakan dari suatu
organisme terbagi atas beberapa tipe yang pertama yaitu peryphyton (teritip/sesil)
yang organisme baik tumbuhan atau hewan yang hidupnya menempel pada benda
lain hidup atau mati (contoh lumut dan tiram). Tipe yang kedua yaitu benthos yang
merupakan organisme baik hewan atau tumbuhan yang hidup didasar permukaan
(kerang siput) epibentik tanah dasar. Tipe yang ketiga yaitu nekton (ikan)
merupakan semua organisme yang aktif bergerak dalam air.

4.2. Fototaksis
Dari praktikum fototaksis yang dilakukan pada Pherettima sp. didapatkan hasil pada
tabel berikut.
Tabel 1. Hasil pengamatan fototaksis pada Pherettima sp.
Pherettima
sp
Pengulangan (waktu) Keterangan
1 2 3
1 1 menit 2 detik 30 detik 36 detik Menjauhi
cahaya
2 1 menit 22 detik 1 menit 2 detik 2 menit 10 detik Menjauhi
cahaya
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa Pherettima sp. 1 bergerak menjauhi cahaya
dengan rata-rata waktu 43 detik. Sedangkan Pherettima sp. 2 bergerak menjauhi
cahaya dengan rata-rata waktu 73 menit. Berdasarkan hasil ini diketahui bahwa
cacing tanah selalu bergerak menjauhi cahaya, pada praktiku, cacing tanah ini selalu
bergerak ke tampat yang gelap. Perilaku cacing tanah sesuai dengan pernyataan
bahwa perilaku cacing tanah dengan membuat liang yang dangkal merupakan respon
terhadap rangsang cahaya. Kelangsungan hidup suatu mahkluk hidup tergantung
pada kemampuannya dalam menanggapi rangsang dan bagaimana organisme (cacing
tanah) tersebut menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (Odum, 1993).
Cacing tanah selalu menjauhi cahaya karena cacing tanah merupakan hewan
yang mwnyukai lingkungan yang lembab. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cacing
tanah menyukai lingkungan yang lembab dengan bahan organik yang berlimpahan
dan banyak banyak kalsium yang tersedia. Akibatnya, cacing tanah terdapat paling
melimpah dalam tanah berstruktur halus dan kaya bahan organik dan tidak terlalu
asam. Cacing tanah pada umumnya membuat liang dangkal dan hidup mencerna
bahan organik yang terdapat didalam tanah (Nukmal, 2012).

4.3. Geotaksis
Adapun hasil praktikum geotaksis yang dilakukan pada Pherettima sp adalah sebagai
berikut :
Tabel 2. Hasil pengamatan geotaksis pada Pherettima sp.
Sudut Spesies Pengulangan
Waktu Kuadran
1 2 3 1 2 3
25
o
1 6:07 6:32 6:17 IV III III
2 6:50 6:49 5:45 IV III III
3 13:02 14:02 14:03 IV IV IV
4 16:39 16:11 7:02 III III III
5 17:28 18:01 12:12 III III IV
30
o
1 2:03 2:26 3:26 III III IV
2 4:26 3:57 3:58 III III IV
3 4:43 5:05 5:48 III IV IV
4 5:10 6:29 2:16 IV IV III
5 7:02 8:10 6:43 III IV IV
45
o
1 1:10 1:22 1:35 III IV IV
2 3:05 2:13 5:45 IV IV III
3 4:46 3:33 4:02 IV III IV
4 6:25 5:19 5:41 III IV III
5 7:12 6:21 5:18 III IV III
Berdasarkan diketahui bahwa Pherettima sp. selalu bergerak kearah bawah,
pergerakan Pherettima sp. kea rah bawah yaitu pada sudut 45
0
, sedangkan
pergerakan Pherettima sp. jatuh kebawah yang paling lambat yaitu pada sudut 25
o
.
Berdasarkan hal ini diketahui bahwa ketinggian dan gaya gravitasi mempengaruhi
pergerakan Pherettima sp.. Menurut Michel (1994), geotaksis adalah gerak taksis
yang terjadi karena adanya kemiringan suatu tempat.
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pergerakan Pherettima sp.
merupakan geotaksis positif karena Pherettima sp. selalu bergerak ke arah bawah
atau kea rah sumber gravitasi bumi. Pergerakan Pherettima sp. dikatakan geotaksis
positif karena sesuai dengan pernyataan Virgianti (2005), bahwa suatu gerak taksis
dikatakan taksis positif jika respon yang terjadi adalah menuju atau mendekati
rangsangan, sedangkan taksis negatif jika respon yang terjadi adalah menjauhi
rangsangan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Tipe pergerakan dari Poecilia reticulata rheotaksis positif
2. Poecilia reticulata merupakan organism yang mampu melawan arus (nekton)..
3. Pherettima sp. Bergerak menjauhi cahaya dan menyukai lingkungan yang
4. Pherettima sp. merupakan contoh dari fototaksis negatif.
5. Pherettima sp. mengikuti arah grafitasi bumi.
6. Pherettima sp. merupakan contoh dari geotaksis pisitif

5.2. Saran
Pada praktikum selanjutnya diharapkan pada setiap objek percobaan dikerjakan
dengan sungguh-sungguh, dan memahami materi tentang objek yang akan
dipraktikumkan sebelumnya.











DAFTAR PUSTAKA

Adianto, 2004, Pengaruh Inokulasi Cacing Tanah (Pontoscolex corethurus) Er Mull
Terhadap Sifat Fisika Kimia Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Kacang
Hijau (Vigna raelata) Varietas Walet, Jurnal Matematika dan Sains, 20
oktober 2010.
Campbell,dkk. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Hasan, A. Dan I. Widipangestu, 2000. Uji Coba Penggunaan Lampu Lacuba Tenaga
Surya pada Bagan Apung Terhadap Hasil Tangkapan Ikan di Pelabuhan
Ratu, Jabar, Jurnal Ekologi dan Perikanan, 20 oktober 2010.

Kimball, J. 1983. Biologi, Edisi kelima, Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Silvia, S. 1995. Biologi Evolusi, Keanekaragaman, dan Lingkungan.
Kucica. Malaysia

Michael, P., 1994, Metode Penelitian untuk Ekologi Penelitian Ladang dan
Laboratorium. UI Press, Jakarta.

Melles, M. C. Jr. 2004. Ecology Concepts and Applications. Third edition. Mc Graw
Hill. New Mexico.

Nukmal, Nismah.2012. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Bandar Lampung.

Odum, Eugene, 1993, Dasar-dasar Ekologi, Edisi ketiga. UGM. Yogyakarta

Pramudiyanti.2009. Biologi Umum. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Pratiwi, D.A. Sri Maryanti & Srikini. 2007. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta

Suin N. M. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Bandung

Virgianti, D.P. dan Hana A. P., 2005, Perdedahan Morsin Terhadap Perilaku Massa
Prasapih Mencit. FMIPA. Bandung.

Widiastuti, Endang L. 2002. Buku Ajar Fisiologi Hewan I. Universitas Lampung.
Bandar lampung.






LAPORAN PRAKTIKUM
RHEOTAKSIS

OLEH :

KELOMPOK : 2 (GENAP)
ANGGOTA KELOMPOK : MASDALENA MARPAUNG
MUHAMMAD RAFI
AINUL MARDIAH
ISMAYENI
DEMONA SILVIA
ASISTEN PENANGGUNG JAWAB:








LABORATORIUM PENDIDIKAN IV
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2014