Anda di halaman 1dari 30

LIMBAH PERTAMBANGAN

DAN PENGOLAHANNYA
Raditya Budi Nuryudha
21100110141056

2013

Pertambangan
Pertambangan merupakan suatu aktivitas
penggalian, pembongkaran serta pengangkutan
suatu endapan mineral yang terkandung dalam
suatu area berdasarkan beberapa tahapan
kegiatan secara efektif dan ekonomis.

Pertambangan termasuk dalam suatu industri
yang mengolah sumber daya alam dengan
memproses bahan tambang untuk
menghasilkan berbagai produk akhir yang
dibutuhkan umat manusia.
Dampak Pertambangan
1. Perubahan Vegetasi penutup

o Proses land clearing pada saat operasi
pertambangan dimulai menyebabkan hilangnya
vegetasi alami.
o Jika kegiatan pertambangan dilakukan di dalam
kawasan hutan lindung, maka hilangnya vegetasi
akan berdampak pada perubahan iklim,
keanekaragaman hayati (biodiversity) dan habitat
satwa menjadi berkurang.
o Selain itu juga dapat memperbesar kemungkinan
terjadinya erosi dan sedimentasi saat hujan.
2. Perubahan Topografi

Perubahan topografi yang tidak teratur atau
membentuk lereng yang curam akan
memperbesar laju aliran permukaan dan
meningkatkan erosi.
Kondisi bentang alam/topografi yang
membutuhkan waktu lama untuk terbentuk,
dalam sekejap dapat berubah akibat aktivitas
pertambangan dan akan sulit dikembalikan
dalam keadaan semula.



Perubahan topografi akibat pertambangan
3. Perubahan Pola Hidrologi

Kondisi hidrologi daerah sekitar tambang
terbuka mengalami perubahan akibat
hilangnya vegetasi yang merupakan salah
satu kunci dalam siklus hidrologi.
Setelah tambang tidak beroperasi, aktivitas
sumur pompa pertambangan dihentikan
maka tinggi muka air tanah berubah yang
menandakan pengurangan cadangan air
tanah untuk keperluan lain dan berpotensi
tercemarnya badan air akibat tersingkapnya
batuan yang mengandung sulfida sehingga
kualitas menurun.

4. Kerusakan Tubuh Tanah

Dapat terjadi saat pengupasan dan
penimbunan kembali tanah pucuk untuk
proses reklamasi.
Kerusakan juga terjadi akibat tercampurnya
tubuh tanah secara tidak teratur sehingga
akan mengganggu kesuburan fisik, kimia dan
biologi tanah.
Hal ini tentunya membuat tanah sebagai
media tumbuh tak dapat berfungsi dengan
baik bagi tanaman nantinya.
Pencemaran
Pencemaran merupakan sesuatu yang
ditimbulkan karena adanya limbah yang
keluar dan mengandung bahan beracun
dan berbahaya (B-3). Bahan pencemar
keluar bersama-sama dengan bahan
buangan (limbah) melalui media udara,
air, dan tanah yang merupakan
komponen ekosistem alam.

Pencemaran itu terjadi berdasarkan jenis
dan jumlah bahan pencemar yang
dikeluarkannya, tergantung pada bahan
baku yang digunakan. Pencemaran
terjadi akibat bahan beracun dan
berbahaya dalam limbah lepas masuk ke
dalam lingkungan, sehingga terjadi
perubahan tehadap kualitas lingkungan.
Limbah
Limbah adalah buangan yang
kehadirannya pada suatu saat dan
tempat tertentu tidak dikehendaki
lingkungannya karena tidak mempunyai
nilai ekonomi dan mengandung bahan
pencemar yang bersifat racun dan
bahaya atau dikenal B3 (bahan beracun
dan berbahaya).
Bahan ini dirumuskan sebagai bahan
dalam jumlah relatif sedikit tapi
mempunyai potensi
mencemarkan/merusakkan lingkungan k
ehidupan dan sumber daya.

Beberapa kriteria berbahaya dan
beracun telah ditetapkan antara lain
mudah terbakar, mudah meledak,
korosif, oksidator dan reduktor, iritasi
bukan radioaktif, mutagenik, patogenik,
mudah membusuk dan lain-lain.
Tingkat bahaya keracunan yang
disebabkan limbah tergantung pada jenis
dan karakteristiknya baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
Dalam jangka waktu relatif singkat tidak
memberikan pengaruh yang berarti, tapi
dalam jangka panjang cukup fatal
bagi lingkungan.
Jenis Limbah

1. Limbah cair
2. Limbah padat
3. Limbah gas dan partikel
1. Limbah Cair

Limbah cair merupakan sisa pengolahan
produksi dengan banyak penggunaan air
di dalam sistem prosesnya.
Air dalam proses pengolahan juga
ditambahkan bahan kimia tertentu dalam
proses pengolahan kemudian dibuang
misalnya ketika dipergunakan untuk
mencuci suatu bahan sebelum diproses
lanjut.
Kemudian setelah diproses, air akan
dibuang. Semua jenis perlakuan ini
mengakibatkan buangan air dan
menjadikan suatu limbah.

Air asam tambang (acid mine drainage )
Merupakan limbah cair yang bersifat
asam dan mengandung berbagai logam
berat yang berbahaya bagi lingkungan.
Air asam tambang terbentuk karena
adanya kontak antara mineral sulfida
dengan oksigen dan air yang
menyebabkan terbentuknya reaksi kimia
yang menghasilkan air asam dan air
asam ini akan melarutkan logam-logam
berat yang terkandung di batuan sekitar
maupun dari alat-alat berat yang
bersentuhan dengan air asam tersebut.
2. Limbah Padat

Limbah padat adalah hasil buangan suatu
industri berupa padatan, lumpur, bubur
yang berasal dari sisa proses pengolahan.
Limbah padat dalam pertambangan
mengandung unsur kimia beracun
dan berbahaya harus diolah terlebih dahulu
sebelum dibuang ke tempat-tempat
tertentu.
Tailing merupakan limbah yang
dihasilkan dari proses penggerusan
batuan tambang (ore) yang mengandung
bijih mineral untuk diambil mineral
berharganya.
Tailing umumnya memiliki komposisi
sekitar 50% batuan dan 50% air
sehingga sifatnya seperti lumpur (slurry).
Sebagai limbah, tailing dapat dikatakan
sampah dan berpotensi mencemarkan
lingkungan baik dilihat dari volume yang
dihasilkan maupun potensi rembesan
yang mungkin terjadi pada tempat
pembuangan tailing.

3. Limbah Gas dan Partikel

Pada umumnya limbah gas bersumber
dari penggunaan bahan baku, proses,
dan hasil serta sisa pembakaran.
Pada saat pengolahan pendahuluan,
limbah gas maupun partikel timbul
karena perlakuan bahan-bahan sebelum
diproses lanjut.
Limbah yang terjadi disebabkan
berbagai hal antara lain karena reaksi
kimia, kebocoran gas, hancuran bahan-
bahan dan lain-lain.


Jenis gas yang bersifat racun antara
lain SO2, CO, NO, timah hitam,
amoniak, asam sulfida dan
hidrokarbon.

Pencemaran yang terjadi dalam udara
dapat merupakan reaksi antara dua
atau lebih zat pencemar. Misalnya
reaksi fotokimia, yaitu reaksi yang
terjadi karena bantuan sinar ultra
violet dari sinar matahari.
Pengolahan Limbah Cair

1. Pengenceran (disposal by dilution)
2. Sumur Resapan (Cesspool)
3. Kolam Oksidasi
(Self purification/oxidation ponds)

Pengolahan secara primer terdiri atas:

Screen (saringan). Kotoran yang besar
disaring.
Grit Chamber. Detritus berupa lapisan air,
kerikil dan pasir, aliran air diperhambat
dengan grit channel.
Primary sedimentation tank. Endapan
crude sludge dialirkan ke sludge digestion
tank dan menghasilkan gas metana.
Desinfeksi dengan kaporit (10kg/1 juta air
limbah) untuk membunuh mikroba patogen.
Cairan yang tertinggal dialirkan sebagai
primary effluent ke pengolahan sekunder.

Pengolahan sekunder terdiri dari :

Cairan yang bersal dari primary treatment dialirkan ke
bak biological treatment kemudian dialirkan ke tangki
pengendapan terakhir (final sedimentation tank). Dari
total volume endapan lumpur aktif (activated sludge)
yang dihasilkan, 25%-nya akan digunakan kembali
sehingga dimasukkan lagi kedalam tangki aerasi,
sedangkan yang 75%-nya akan dibuang.
Air yang tertinggal cukup jernih sehingga dapat
langsung disalurkan ke badan-badan air setelah
mengalami proses klorinasi.
Crudge sludge dialirkan ke sludge digestion tank
untuk diubah menjadi gas metana yang akan
digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik.
Endapan lumpur dalam sludge digestion tank
dikeringkan dengan alat pengering lumpur.

Pengolahan Limbah Tailing

1. Low TemperatureThermal Desorption
(LTTD)
2. Phytoremediation

Low TemperatureThermal Desorption (LTTD)

Sistem thermal desorption material diuraikan pada
suhu rendah (< 300
o
C) dengan pemanasan
Limbah akan mengalami pemanasan tidak langsung
dengan kondisi tekanan udara lebih kecil dari 1
atmosfer
Polutan merkuri dan arsen akan menguap (desorpsi),
digunakan wet scrubber dan filter karbon
Material yang telah terpisah akan lebih mudah untuk
dikumpulkan kembali dengan cara dikondensasikan,
diadsorbsi menggunakan filter, maupun larutan
Untuk menangkap ion-ion merkuri dan arsen dapat
digunakan larutan hidroksida (OH
-
) sulfida (S
2
) yang
akan mengendapkan ion-ion tersebut.
Phytoremediation

Phytostabilization : polutan distabilkan di dalam
tanah oleh pengaruh tanaman.
Phytostimulation : akar tanaman menstimulasi
penghancuran polutan dengan bantuan bakteri
Rhizosphere
Phytodegradation : tanaman mendegradasi polutan
dengan atau tanpa menyimpannya di dalam daun,
batang atau akarnya untuk sementara waktu.
Phytoextraction : polutan terakumulasi dijaringan
tanaman terutama daun.
Phytovolatilization : polutan oleh tanaman diubah
menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga
dapat dilepaskan ke udara.
Rhizofiltration : polutan diambil dari air oleh akar
tanaman pada sistem hidroponik.

Pengolahan Limbah Gas dan Partikel

1. Settling chamber
2. Cyclone (siklon)
3. Electrostatic precipitation
4. Wet collector (scrubber)

Settling chamber
Prinsip dari alat ini adalah pengendapan
berdasarkan gaya gravitasi.
Alat ini terdiri dari sebuah chamber
(kamar/ruang) besar yang terintegrasi dalam
aliran pipa gas pertambangan yang
mengandung partikel debu yang akan
dipisahkan.
Cyclone (siklon)
Prinsip kerja pengendap siklon
adalah pemanfaatan gaya
sentrifugal dari udara / gas
buangan yang sengaja
dihembuskan melalui tepi
dinding tabung siklon sehingga
partikel yang relatif berat
akan jatuh ke bawah.
Electrostatic precipitation
Alat ini digunakan untuk membersihkan udara
yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif
besar dan pengotor udaranya adalah aerosol
atau uap air.
Alat ini mampu memisahkan partikel
berdiameter di bawah 10 nm dengan efisiensi
mencapai 99,5%.

Wet collector (scrubber)
Prinsip kerja filter basah adalah
membersihkan udara yang kotor dengan
cara menyemprotkan air dari bagian atas
alt, sedangkan udara yang kotor dari
bagian bawah alat. Pada saat udara yang
berdebu kontak dengan air, maka debu
akan ikut semprotkan air turun ke bawah.