Anda di halaman 1dari 28

+

Demam Tifoid
Nuril Ilmi
C11110288
+
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. IS
Tanggal lahir : 30 Oktober 1976
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Biring Romang Makassar
No.RM : 651216
Tanggal Pemeriksaan : 15 Februari 2014
Dokter Jaga : dr. Denny
Dokter Muda : Nuril Ilmi
Nama RS : RS Wahidin Sudirohusodo
+
DATA SUBJEKTIF
Anamnesis : Autoanamnesis
Keluhan Utama : Demam
Anamnesis Terpimpin :
Demam dialami 8 hari yang lalu, demam dirasakan meningkat
terutama pada sore dan malam hari, disertai menggigil, demam
turun dengan pemberian obat panas.
Pasien juga mengeluh sakit kepala dirasakan hilang timbul,
seperti diremas.
Ada batuk, hilang timbul, tidak disertai lendir, tidak ada nyeri
menelan.
Tidak ada sesak ataupun nyeri dada.


+
Ada mual, tidak ada muntah. Ada nyeri ulu hati, tidak
ada riwayat sakit maag sebelumnya.
Badan terasa lemah dan nafsu makan menurun sejak
sakit.
BAK : Lancar kuning, kesan cukup.
BAB : encer, lebih dari 4x, sejak 1 hari yang lalu, ampas
(+), darah (-), lendir (-)

+
Riwayat :
Riwayat penyakit sebelumnya dengan keluhan yang sama disangkal.
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada.
Riwayat kebiasaan makan yang tidak bersih disangkal.
Riwayat perdarahan hidung dan gusi disangkal.
Riwayat dari daerah endemis malaria disangkal.
Riwayat hipertensi tidak ada, DM tidak ada.
Riwayat demam tifoid sebelumnya disangkal.
+
DATA OBJEKTIF

Status present
Derajat sakit : Sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Status Gizi : Gizi baik
BB = 50 kg,
TB = 155 cm,
IMT = 20,83 kg/m
2


Tanda Vital
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 72x/i
Pernafasan : 20x/i
Suhu : 38,8
o
C

+
Kepala
Ekspresi : Biasa
Deformitas : Tidak ada
Simetris Muka : Kiri sama dengan kanan
Rambut : Hitam, lurus, sukar dicabut

Mata
Eksoptalmus / Enoptalmus : Tidak ada
Gerakan : Ke segala arah
Tekanan bola mata : Dalam batas normal
Kelopak mata : Tidak ada edema palpebra
Konjungtiva : Tidak ada anemis
Kornea : Jernih,
Sklera : Tidak ada ikterus
Pupil : Bulat, Isokor

Telinga
Tophi : Tidak ada
Pendengaran : Dalam batas normal
Nyeri Tekan di Prosesus Mastoideus : Tidak ada

+

Hidung
Perdarahan : Tidak ada
Sekret : Tidak ada

Mulut
Bibir : Tidak pucat, kering
Lidah : Ada lidah kotor, tremor
Tonsil : T1 T1 Tidak hiperemis
Faring : Tidak hiperemis
Gigi geligi : Tidak ada caries
Gusi : Tidak ada perdarahan

Leher
Kelenjar Getah Bening : Tidak ada pembesaran
Kelenjar Gondok : Tidak ada pembesaran
DVS : R 2 cmH
2
O
Pembuluh Darah : Tidak ada kelainan
Kaku Kuduk : Tidak ada
Tumor : Tidak ada


+

Dada
Inspeksi : Simetris kiri sama dengan kanan
Bentuk : Normochest
Pembuluh darah : Tidak ada kelainan
Sela Iga : Tidak ada kelainan

Paru
Palpasi : Fremitus raba : Kiri sama dengankanan
: Nyeri tekan : Tidak ada
: Massa tumor : Tidak ada
Perkusi : Paru kiri : Sonor
: Paru kanan : Sonor
: Batas paru - hepar : ICS VI Dekstra ant.
: Batas paru belakang kanan : CV Thorakal
IX Dekstra
: Batas paru belakang kiri : CV Thorakal
X Sinistra
Auskultasi : Bunyi pernafasan : Vesikuler
: Bunyi tambahan : Tidak ada ronkhi,
Tidak ada wheezing


+
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak
Batas jantung : Batas kanan : Linea parasternalis Dekstra
Batas Kiri : Linea midclavicula Sinistra
Batas Atas : ICS II Sinistra
Batas Bawah : ICS V Sinistra
Auskultasi : BJ I/II : Murni, Reguler
: Bunyi tambahan : Bising tidak ada

Perut
Inspeksi : Datar ikut gerak nafas, tidak ada massa tumor
Auskultasi : Ada peristaltik, kesan meningkat
Palpasi : Ada nyeri tekan regio epigastrium, tidak ada massa tumor
: Hati : Tidak teraba
: Lien : Tidak teraba
Perkusi : Timpani

+

Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan

Anus dan Rektum
Tidak dilakukan pemeriksaan

Punggung
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa tumor, tidak ada
deformitas
Nyeri ketok : Tidak ada
Auskultasi : Vesikuler, Tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing
Gerakan : Dalam batas normal
Lain lain : Tidak ada skoliosis

Ekstremitas
Edema : Tidak ada
Eritema palmaris : Tidak ada
Rumpe leede test : Tidak ada

+
E
L
E
K
T
R
O
L
I
T

D
A
R
A
H

F
U
N
G
S
I

H
A
T
I

&

G
I
N
J
A
L

D
A
R
A
H

R
U
T
I
N

WBC
10,5
x10
3
/uL
RBC
4,46
x10
6
/uL
HGB
12,3 g/dL
HCT
37,3 %
PLT
294 x
10
3
/uL
SGOT
18 U/L
SGPT
20 U/L
Ureum
22 mg/dL
Creatinin
0,90
mg/dL
Natrium
138 mmol
Kalium
4,0 mmol
Klorida
111 mmol
Pemeriksaan Laboratorium
+
Darah Rutin








Jenis Pemerikaan Hasil Nilai Rujukan



DARAH
RUTIN

WBC 10,5 x10
3
/uL 4 - 10 x 10
3
/uL
RBC 4,46 x10
6
/uL 4 6 x 10
6
/uL
HGB 12,3 g/dL 14 - 18 g/dL
HCT 37,3 % 40 54%
MCV 84 pl 80 100 pl

MCH 27,5 pg 27 32 pg
MCHC 32,9 g/dl 32 36 g/dl
PLT 294 x 10
3
/uL 150-400x 10
3
/uL
RDW-SD 15,2 % 11 - 16 %
MPV 7,8 um
3
6.00-11.0 um
3

NEUT 72,2x10
3
/uL 52-75 x 10
3
/uL
LYMPH 20,4x10
3
/uL 20-40 x 10
3
/uL
MONO 5,1x10
3
/uL 2-8 x 10
3
/uL
EO 1,5x10
3
/uL 1-3 x10
3
/uL
BASO 0,6 x 10
3
/uL 0-10 x 10
3
/uL

+
Kimia Hati


Fungsi Ginjal


Elektrolit Darah


Jenis Pemerikaan Hasil Nilai Rujukan
Ureum 22 mg/dL 10-50 mg/dL
Creatinin 0,90 mg/dL <1,1 U/L

Jenis Pemerikaan Hasil Nilai Rujukan
Natrium 138 mmol 136 145 mmol
Kalium 4,0 mmol 3.5 5.1 mmol
Klorida 111 mmol 97-111 mmol

Jenis Pemerikaan Hasil Nilai Rujukan
SGOT 18 U/L < 38 U/L
SGPT 20 U/L < 41 U/L

+
Pemeriksaan Penunjang lainnya
T
u
b
e
x

T
e
s

W
i
d
a
l

Salmonella
typhi
O : 1/160
H : 1/320
Salmonella
paratyphi
OB : 1/160
HB : 1/160

Skala 6
(Indikasi
kuat
demam
tifoid
+
Diagnosis
Demam Tifoid

+
Penatalaksanaan :
Tirah Baring sampai hari ke 7, bebas demam.
Diet lunak rendah serat
IVFD NaCL 0,9 % 32 tetes/menit
Paracetamol 500 mg 3x1
Ceftriaxone 2gr/ 24 jam / drips dalam NaCL 0,9% 100cc
Ranitidin 1 amp/12jam/IV
Paracetamol 500mg 3x1

Rencana Pemeriksaan:
Darah rutin control
IgG dan IgM anti dengue

+
Prognosis
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Bonam
Ad Vitam : Bonam

+
RESUME



Seorang wanita, 38 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan
demam. Demam dialami sejak 8 hari yang lalu, dirasakan terus
menerus, demam meningkat pada malam hari, dan kadang
disertai menggigil, demam menghilang dengan paracetamol.
Sakit kepala (+), dirasakan hilang timbul, kualitas nyeri seperti
diremas. Batuk (+) dirasakan hilang timbul, tidak disertai lendir
dan tidak ada nyeri menelan. Tidak didapatkan sesak maupun
nyeri dada. Nyeri epigaster (+), riwayat penyakit maag disangkal.
Mual (+), muntah (-). Lemah badan (+), penurunan nafsu makan
(+), dialami sejak sakit. Buang air besar encer sejak 1 hari yang
lalu, frekuensi 4x, ampas (+) darah (-) lendir (-) . Buang air kecil
kesan lancar, volume kesan normal , warna kuning jernih.

+
Pada pemeriksaan fisis didapatkan : Tanda vital: Tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 72 per menit, pernapasan 20x per menit,
suhu axilla 38,8C. Pada pemeriksaan lidah didapatkan lidah
kotor (+), tremor (+), pada pemeriksaan palpasi abdomen
didapatkan Nyeri tekan (+), regio epigastrium.

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan : Widal : Salmonella
typhi O = 1/160 H = 1/320, Salmonella paratyphi OB = 1/320 HB
= 1/160 Tubex : Skala 6 (indikasi kuat demam tifoid).

Berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan maka diagnosis
pasien ini adalah demam typhoid.

+
Demam Tifoid
DEFINISI
Demam tifoid (Typus abdominalis atau typoid fever), ialah penyakit infeksi akut
yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala
demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan
dengan atau tanpa gangguan kesadaran.
1,2
EPIDEMIOLOGI
Surveilans Departemen Kesehatan RI. Frekuensi kejadian demam tifoid di
Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 peningkatan
frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survei berbagai rumah sakit
di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan
jumlah penderita sekitar 35,8% yaitu dari 19.596 menjadi 26.606 kasus.
2


+
ETIOLOGI
Salmonella typhi merupakan basil gram-negatif, bersifat aerob, bergerak
dengan rambut getar dan bersifat tidak berspora. Kuman ini mempunyai 3
macam antigen, yaitu :
1

Antigen O (somatic), terletak pada lapisan luar yang mempunyai komponen
protein, lipopolisakarida (LPS) dan lipid. Sering disebut endotoksin.
Antiegn H (flagella), terdapat pada flagella, fimbriae dan pili dari kuman ,
berstruktur kimia protein.
Antigen Vi (antigen permukaan), pada selaput dinding kuman untuk
melindungi fagositosis dan berstruktur kimia protein.


+
PATOGENESIS

Kuman juga mengeluarkan endotoksin yang dapat menempel di
reseptor sel endotel kapiler sehingga dapat timbul komplikasi seperti
gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernapasan, dan lain-lain. Kuman
dapat menetap atau bersembunyi pada 1 tempat dalam tubuh penderita. Hal ini
mengakibatkan terjadinya relaps atau karier.
4
7
PATHWAY
bakteri Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi masuk ke saluran cerna
sebagian dimusnahkan asam lambung sebagian masuk usus halus
peningkatan asam lambung di ileum terminalis membentuk
limfoid plaque peyeri
mual, muntah
sebagian hidup sebagian menembus
intake kurang dan menetap lamina propria
gangguan nutrisi perdarahan masuk aliran limfe
perforasi masuk ke kelenjar
limfe mesenterikus
PERITONITIS menembus aliran darah
nyeri tekan masuk hepar dan lien
hepatomegali, splenomegali
infeksi Salmonella typhi,
paratypi, dan endotoksin
dilepasnya zat pirogen
oleh leukosit
DEMAM TIFOID
+
GEJALA KLINIS
Minggu ke-1 penderita mengalami demam (suhu berkisar
antara 39-40
o
C), nyeri kepala, epistaksis, batuk, anoreksia,
mual, muntah konstipasi, diare, nyeri perut, nyeri otot, dan
malaise. Minggu ke-2 pasien mengalami demam, lidah khas
warna putih (lidah kotor), bradikardi relatif, hepatomegali,
splenomegali, meteorismus, dan bahkan gangguan kesadaran.
Pada minggu ke-3 apabila tidak diobati, dan keadaan
memburuk maka dapat timbul gangguan kesadaran dan
komplikasi perdarahan dan perforasi.
+

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Hematologi
2. Urinalisis
3. Kimia klinis
4. Imunoserologi
Uji Widal
Uji Typhidot
Uji Tubex
Kultur darah
+
PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring dan mobilisasi
Hari 1 : duduk 2 x 15 menit
Hari 2 : duduk 2 x 30 menit
Hari 3 : jalang
Hari 4 : pulang
2. Diet : makanan lunak rendah serat
3. Antibiotik
Klomrafenikol, dosis 4x500mg. Diberikan sampai dengan 7 hari bebas
panas.
Tiamfenikol : dosis dan efektivitas sama dengan kloramfenikol.
Seftriakson, dosis 3-4 gr/hari dalam dekstrosa 100cc diberikan selama
jam perinfus sekali sehari diberikan selama 3 5 hari.
Ciprofloxacin 2x500 mg/hari selama 6 hari.
Levofloxacin 1x500 mg/hari selama 7 hari.
Kotrimoksazol, untuk orang dewasa adalah 2 x 2 tablet diberikan selama 2
minggu.
Ampisilin dan amoksisilin, dosis 50-150mg/kgBB digunakan selama 2
minggu.
+
KOMPLIKASI

Komplikasi intestinal : perdarahan usus, perforasi usus,
ileus paralitik.
Komplikasi lain : neuropsikiatri / tifoid toksik, meningitis,
ensefalopati.

+