Anda di halaman 1dari 8

BAB V

HASIL PENELITIAN


Hasil penelitian mengenai hubungan antara konsentrasi protein total dan pH
saliva tanpa stimulasi pada penyandang diabetes melitus (DM) tipe 2 terkontrol
buruk. Jumlah subyek penelitian sebanyak 13 orang dari kelompok DM dan 16 orang
dari kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Berikut ini adalah tabel
mengenai keadaan umum subyek penelitian.

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Subyek Penelitian
Kelompok DM Kelompok kontrol
Jenis Kelamin
Jumlah % Jumlah %
Perempuan 12 92,3% 14 87,5%
Laki-laki 1 7,7% 2 12,5%

Penelitian dilakukan pada 13 orang (12 wanita dan 1 pria) dari kelompok DM dan 16
orang (14 wanita dan 2 pria) dari kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi.
Usia subyek penelitian berkisar antara 46 73 tahun dengan rata-rata 54,2.
Kelompok DM memiliki kisaran usia 47 71 tahun sedangkan kelompok kontrol
memiliki kisaran usia 46 73 tahun.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Usia Subyek Penelitian
Kelompok DM Kelompok kontrol
Usia
Jumlah % Jumlah %
40 49 1 7,7 1 6,25
50 59 6 46,15 6 3,75
60 69 4 30,77 7 43,75
70 79 2 15,39 2 12,5
28
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
Tabel 8. Hasil Pengukuran pH Saliva Tanpa Stimulasi pada Kelompok DM dan Kelompok
Kontrol
pH saliva tanpa stimulasi
DM Kontrol
N 13 16
Rata-rata 6,94615 6.91313
SD 0,545856 0,374584

Subyek penelitian pada kelompok DM memiliki rata-rata pH saliva tanpa
stimulasi 6,95 dengan pH saliva terendah 6,295 dan pH saliva tertinggi 7,870.
Kelompok kontrol memiliki rata-rata pH saliva tanpa stimulasi 6.91 dengan pH
saliva terendah 6.220 dan pH saliva tertinggi 7.540. Berdasarkan hasil uji komparasi
t-berpasangan antara pH saliva kelompok DM dan kelompok kontrol didapat p =
0,793 yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna antara pH saliva tanpa
stimulasi kelompok DM dan kelompok kontrol.

Tabel 9. Hasil Uji Korelasi Laju Alir Saliva dan pH Saliva Tanpa Stimulasi Kelompok DM
N P Rho
Laju aliran saliva tanpa stimulasi
pH saliva tanpa stimulasi
13 0,939 -0,024


Uji korelasi Pearson antara laju alir saliva tanpa stimulasi dan pH saliva pada
kelompok DM menunjukan p = 0,939 (p >0,05) yang berarti korelasi antara laju alir
saliva tanpa stimulasi dan pH saliva pada kelompok DM adalah korelasi yang tidak
bermakna. Nilai korelasi Pearson sebesar -0,024 menunjukan korelasi negatif
dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah.

Tabel 10. Hasil Pengukuran Konsentrasi Protein Total Saliva Tanpa Stimulasi Pada Kelompok
DM dan Kelompok Kontrol
Konsentrasi Protein Total
Saliva Tanpa Stimulasi

DM Kontrol
N 13 16
Rata-rata 99,1836 74.7858
SD 33,51169 67.23757

Rata-rata konsentrasi protein total saliva tanpa stimulasi pada kelompok DM
adalah 99,18 mg/ml dengan konsentrasi tertinggi 168,53 mg/ml dan konsentrasi
29
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
terendah 28,25 mg/ml. Sedangkan rata-rata konsentrasi protein total saliva tanpa
stimulasi pada kelompok kontrol adalah 74,79 mg/ml dengan konsentrasi tertinggi
197,72 mg/ml dan konsentrasi terendah 1,73 mg/ml. Dari hasil uji statistik perbedaan
konsentrasi protein total saliva tanpa stimulasi kelompok DM dengan kelompok
kontrol didapat p = 0,357 yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna
konsentrasi protein total saliva tanpa stimulasi antara kelompok DM dan kelompok
kontrol.

Tabel 11. Hasil Uji Korelasi Antara Konsentrasi Protein Total Saliva dan pH Saliva Tanpa
Stimulasi Pada Kelompok DM
N P Rho
Konsentrasi protein total saliva tanpa stimulasi
pH saliva tanpa stimulasi
13 0,524 0,195

Uji Pearson antara konsentrasi protein total saliva dan pH saliva tanpa
stimulasi pada kelompok DM menunjukan p = 0,524 (p > 0,05) yang berarti korelasi
antara konsentrasi protein total saliva dan pH saliva tanpa stimulasi pada kelompok
DM adalah korelasi yang tidak bermakna. Nilai korelasi Pearson sebesar 0,195
menunjukan korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah.

30
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
BAB VI

PEMBAHASAN


Penelitian dilakukan pada 22 pasien DM tipe 2 terkontrol buruk rawat jalan di
Poliklinik Metabolik-Endokrin Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta selama bulan NovemberDesember 2006 dan 24 orang kelompok kontrol.
Subyek yang memenuhi kriteria penelitian pada kelompok DM (GDN 126 mg/dl
dan HbA1c > 8 %) sebanyak 14 orang sedangkan subyek yang memenuhi kriteria
kelompok kontrol (GDN < 100 mg/dl) sebanyak 16 orang. Pada kelompok DM salah
satu subyek tidak diikutsertakan dalam pengukuran pH saliva karena sampel saliva
subyek tidak memenuhi jumlah minimum. Jumlah akhir subyek penelitian menjadi
13 orang (12 wanita dan 1 pria) kelompok DM dan 16 orang (14 wanita dan 2 pria)
kelompok kontrol. Usia subyek penelitian terbanyak pada kisaran usia 50-59 tahun
untuk kelompok DM sedangkan usia terbanyak kelompok kontrol berada pada
kisaran usia 6069 tahun. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa penyandang DM tipe
2 umumnya berusia di atas 40 tahun.
2,8,19

Dari hasil penelitian didapat rata-rata pH saliva tanpa stimulasi pada
kelompok DM adalah 6,96 0,55 sedangkan rata-rata pH saliva tanpa stimulasi
pada kelompok kontrol adalah 6.91 0.37. pH normal berkisar antara 67, yang
berarti bahwa pH normal cenderung asam.
7
Pada keadaan tanpa stimulasi, pH normal
berkisar antara 5,76,2.
25
Rata-rata pH normal adalah 6,8.
22
Jadi, meskipun
kelompok DM memiliki pH yang cenderung lebih basa daripada kelompok kontrol,
namun keduanya masih berada pada rentang pH yang normal.
Setelah dianalisa dengan uji statistik didapat kesimpulan bahwa tidak
terdapat perbedaan bermakna antara pH saliva kelompok DM dan pH saliva
31
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
kelompok kontrol walaupun ada kecenderungan pH saliva kelompok DM lebih basa
daripada kelompok kontrol.
Faktor yang berperan terhadap perubahan pH saliva dan kapasitas daparnya
antara lain irama sirkadian, diet, dan perangsangan kecepatan sekresi saliva.
14
Saat
pagi hari (bangun tidur), pH saliva tinggi tapi kemudian cepat turun. Setelah
stimulasi mekanik (seperempat jam setelah makan) pH saliva tinggi tapi akan turun
kembali dalam waktu 30 60 menit.
16
Diet kaya karbohidrat akan menaikkan
metabolisme produksi asam oleh bakteri mulut, sedangkan protein yang juga dapat
menjadi sumber makanan bakteri yang akan menghasilkan produk basa seperti
amonia. Kecepatan sekresi akan mempengaruhi pH saliva karena pada kenaikan
kecepatan sekresi akan diikuti oleh kenaikan sekresi dapar saliva yang akan
menaikan pH saliva.
14,27

Kenaikan pH saliva pada kelompok DM walaupun tidak bermakna mungkin
disebabkan oleh peningkatan laju alir saliva karena peningkatan laju alir saliva akan
meningkatkan sekresi bikarbonat yang akan menaikkan nilai pH. Peneliti lain dari
kelompok peneliti yang sama melaporkan bahwa rata-rata laju alir saliva tanpa
stimulasi lebih besar pada kelompok DM dibandingkan pada kelompok kontrol
walaupun tidak terdapat perbedaan bermakna di antaranya.
Berdasarkan uji korelasi didapat kesimpulan bahwa ada korelasi yang tidak
bermakna antara laju alir saliva dengan pH saliva tanpa stimulasi pada kelompok
DM. Keterbatasan jumlah sampel yang mungkin kurang mewakili populasi
berpengaruh terhadap hasil penelitian. Selain itu, tidak adanya penyeragaman diet
pada subyek penelitian juga dapat mempengaruhi hasil penelitian. Pengontrolan
terhadap obat-obatan subyek juga tidak dilakukan padahal beberapa obat-obatan
dapat mempengaruhi laju alir saliva yang nantinya akan mempengaruhi pH saliva.
33

Kemungkinan lain yaitu adanya angka semu untuk laju alir saliva. Pengukuran laju
alir saliva pada penelitian ini diukur setelah mengalami proses penyimpanan.
Penelitian Eunike

menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna
antara pH saliva kelompok DM dan pH saliva kelompok kontrol.
16
Kesamaan antara
hasil penelitian dengan penelitian Eunike ini mungkin disebabkan oleh lokasi
penelitian yang sama yaitu di Poliklinik Metabolik-Endokrin RSUPN Cipto
32
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
Mangunkusumo Jakarta dan PSTW Budhi Darma. Kemungkinan ada beberapa
subyek yang sama walaupun metode pengukuran yang dilakukan berbeda. Pada
penelitian Eunike dilakukan pengukuran pH saliva dengan pH indikator strip
(Merck) sedangkan pada penelitian ini dilakukan pengukuran menggunakan pHmeter
Mettler Toledo.
Lopez yang meneliti tentang karakteristik saliva pada anak-anak usia 315
tahun penyandang DM melaporkan bahwa pH saliva lebih asam pada kelompok DM
dibandingkan kelompok kontrol.
11
Sementara pada penelitian Suyono disebutkan
penyandang DM tipe 2 memperlihatkan pH saliva yang lebih rendah dibandingkan
pH saliva orang normal.
15
Perbedaan hasil penelitian dengan Lopez mungkin disebabkan oleh
perbedaan usia dan jumlah sampel serta cara pengukuran pH saliva. Jumlah sampel
pada penelitian Lopez terdiri dari kelompok DM sebanyak 20 orang dan kelompok
kontrol sebanyak 21 orang. Lopez menggunakan pHmeter Corning-PS30 dengan
waktu pengukuran yang dilakukan segera setelah sampel dikumpulkan, sedangkan
penelitian ini menggunakan pHmeter Mettler Toledo pada sampel yang telah
mengalami proses penyimpanan. Pengukuran menggunakan pHmeter digital
membutuhkan volume sampel yang cukup (minimal 3 ml) agar elektroda dapat
terbasahi oleh sampel. Kesulitan dalam penelitian ini adalah beberapa volume sampel
tidak mencukupi untuk membasahi seluruh permukaan elektroda. Hal ini disebabkan
adanya penurunan laju alir saliva pada kelompok DM dan kontrol yang mungkin
berhubungan dengan faktor usia, obat-obatan, dan menopause.
Perbedaan hasil penelitian dengan Suyono mungkin disebabkan oleh
perbedaan desain penelitian (pada penelitian Suyono tidak digunakan kelompok
kontrol jadi nilai pH saliva normal didapat dari literatur).
Berdasarkan hasil penelitian didapat rata-rata konsentrasi protein total saliva
tanpa stimulasi pada kelompok DM adalah 99,18 33,51 mg/ml sedangkan rata-rata
konsentrasi protein total saliva tanpa stimulasi pada kelompok kontrol adalah 74.79
67.24 mg/ml. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa hasil rata-rata konsentrasi protein
total saliva tanpa stimulasi pada kelompok DM lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Setelah dianalisa ternyata perbedaan konsentrasi protein total
33
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
saliva pada kelompok DM dan kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan bermakna
walaupun ada kecenderungan konsentrasi protein total saliva lebih tinggi pada
kelompok DM dibandingkan kelompok kontrol.
Konsentrasi protein total saliva yang meningkat pada penyandang DM
memang sering dilaporkan.
10,11
Peningkatan konsentrasi protein total saliva mungkin
disebabkan oleh sekresi protein meningkat namun sekresi cairan saliva berkurang
atau akibat peningkatan rembesan protein melalui membran basalis yang
permeabilitasnya meningkat (membranopati diabetik).
8
Yavuzyilmaz menyatakan
bahwa konsentrasi protein total saliva mengalami peningkatan bermakna pada
penyandang diabetes melitus tipe 1 dan 2 dibandingkan kelompok kontrol.
12

Pada beberapa penelitian peningkatan konsentrasi protein total saliva pada
kelompok DM juga tidak bermakna.
8,9,13
Penelitian Dodds mengenai efek kontrol
glikemik pada laju alir saliva dan komposisi protein pada penyandang DM tipe 2
menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi protein total tidak bermakna pada
kelompok DM tipe 2 dibanding kelompok kontrol.
8
Kesamaan antara hasil penelitian
ini dengan penelitian Dodds mungkin disebabkan oleh kesamaan jenis sampel yaitu
pada kedua penelitian ini digunakan sampel penyandang DM tipe 2 terkontrol buruk.
Kemungkinan lain disebabkan oleh jumlah sampel yang sedikit sehingga hasil
kurang dapat mewakili populasi. Tidak dilakukannya pengontrolan diet khususnya
diet yang mengandung protein mungkin juga mempengaruhi hasil. Pengontrolan diet
protein yang dilakukan dalam penelitian Lopez mungkin mempengaruhi hasil
sehingga didapatkan perbedaan yang bermakna antara protein total kelompok DM
dan kontrol.
11

Hasil uji korelasi antara konsentrasi protein total saliva dan pH saliva tanpa
stimulasi pada kelompok DM menyatakan bahwa terdapat korelasi yang tidak
bermakna antara konsentrasi protein total saliva dan pH saliva tanpa stimulasi pada
kelompok DM dan kelompok kontrol kontrol walaupun ada kecenderungan
peningkatan konsentrasi protein total saliva diikuti oleh peningkatan pH saliva.
Komposisi elektrolit saliva terutama susunan bikarbobat menentukan pH dan
kapasitas dapar.
14
Komposisi lainnya seperti fosfat, urea, dan protein juga dapat
mempengaruhi kapasitas dapar dan pH.
14,31-33
Namun karena jumlah protein di
34
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
plasma hanya sepertigapuluh maka asam amino yang ada terlalu sedikit untuk
memberi efek dapar yang signifikan pada pH normal.
33

Pada keadaaan istirahat, pH saliva total ditentukan oleh pH saliva mukus,
misalnya musin dan protein kaya histidin, yang tetap kurang lebih netral bahkan
cenderung asam.
14
Pada penelitian ini didapatkan bahwa ada kecenderungan
konsentrasi protein saliva total dan kecenderungan peningkatan pH namun pH saliva
tetap berada dalam kisaran pH normal. Korelasi yang tidak bermakna antara
konsentrasi protein total saliva dan pH saliva mungkin disebabkan oleh tidak semua
protein saliva dapat mengubah pH saliva dan peningkatan konsentrasi protein total
saliva pada kelompok DM belum cukup untuk mengubah pH secara nyata.


35
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia