Anda di halaman 1dari 5

Pendidikan Islam di Filipina

Asia tenggara adalah sebutan untuk wilayah daratan Asia bagian timur yang terdiri
dari jazira Indo-Cina dan kepulauan yang dilingkupi oleh Negara Indonesia dan Filipina. Dan
secara demografi tersebar berbagai suku, diantaranya meliputi: 80% suku Filiphina, 10 %
suku Tionghoa, 5% suku Indo-Arya, 2 % suku Eropa dan Amerika, 2 % suku Arab, dan 2 %
suku lainnya.
Islam masuk ke Filipina sebellum penjajahan Spanyol menginjakkan kaki di tanah ini.
Itu dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti Yuan
pada tahun 1280-1368.
Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro. Mereka umumnya
berdiam di pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina), Kepulauan Sulu, Palawan,
Basilan, dan pulau- pulau sekitarnya. Secaara geografis, gugusan pulau-pulau ini berada di
selatan Filipina,sedangkan bagian utara negeri ini adalah gugusan Kepulauan Luzon.
Sejumlah literatur menyabutkan, istilah Moro merujuk kepada kata Moor, Mariscor,
atau Muslim. Kata Moor berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering
digunakan orang- otang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair Barat dan
Maroko. Ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang
memiliki agama adat dan istiadat seperti orang-orang Moor ddi Spanyol Andalusia, mereka
mulai menyebut orang-orang di Filipina dengan istilah Moro.
Dalam sejarahnya, Islam masuk ke Filipina,tidak lama setelah Islam berkembang di
dunia melayu. Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan
Mindanao pada 1380 M yang dibawa oleh seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul al
Makhdum (Syeikh Makhdum). Kedatangan Islam di Filipina jauh lebih awal daripada
kedatangan kolonial Barat, khususnya bangasa Spanyol yang masuk ke kawasan itu pada
1566M. Raja Baguinda, seorang pangeran dari minangkabau, Sumatra Barat, tercatat sebagai
orang pertama yang menyebarkan ajaran islam di kepulauan tersebut. Raja Baguinda tiba di
kepulauan Sulu setelah berhasil mendakwah Islam di kepulauan Zamboanga dan Basilan.
Atas kerja kerasnya, Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, pun
akhirnya memeluk islam peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis.
Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintah dan peraturan hukum,yaitu
Manguindanao Code Of Law, atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-
Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Miratu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang
Datuk yang berkuasa di Provinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu,
Iskam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya.
Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada di bawah kekuasaan pemimpin-
pemimpin Islam yang bergelar datuk atau raja.

Versi lain menyabutkan, Islam datang di kepulauan Filipina jauh sebelum kedatangan
Villalobos-seorang penjajah Spanyol yang memasuki Filipina pada 1542. Islam sudah dikenal
di beberapa daerah di Filipina pada abad ke-8 sampai 10, yakni tatkala Islam
mengembangkan sayap ke segenap penjuru dunia. Ketika itu, saudagar-saudagar Arab sudah
menginjakkan kaki ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Kepulauan Filipina. Ini
dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengambara Cina pada zaman Dinasti Yuan
(1280-1368).
Disebukan bahwa pada kurun ini Kepulauan Jolo di barat daya Mindanao, sudah
menjadi pusat perdagangan, disinggahi saudagar-saudagar Arab, Muangthai, Indonesia, dan
India. Di Jolo, kebudayaan Islam berkembang pesat sementara penduduk asli Filipina
lainnya, termausuk Mindanao, masih terbilang primitif. Para saudagar Arab pun
memperlihtkan pengaruh besr. Mereka pula yang mula-mula mendirikan kesultanan Islam.
Syeikh Abu Bakar, orang Arab kelahiran Makkah, pada 1450 mendirikan
pemerintahan di Buansa (Jolo). Di bawah pemerintahan Abu Bakar, pengkajian Islam mulai
dilaksanakan secara luas. Awal abad ke-15, Raja Baguinda mendirikan kesultanan di tepi
sungai Kotabato. Islam terus menjalar ke utara dan pada abad ke-16 pengaruhnya sampai ke
Kepulauan Visayas, Teluk Manila. Kemudian, disanalah terjadi bentrtokan dengan orang
Spanyol.
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, penduduk pribumi telah mencium
adanya maksud lain dibalik ekspedisi ilmiah Ferdinand de Magellans. Spanyol menaklukan
wilayah utara dengan mudah tanpa pelawanan berarti, tapi tidak demikian dengan wilayah
selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat
gigih, berani, dan pantang menyerah. Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian
dengan jarak kilometer demi kilometer untuk mecapai Mindanao-Sulu. Kesultanan Sulu pada
akhirnya takluk pada 1876 M.
Sekalipun gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap wilayah itu
merupakan bagian dari teritorialnya. pada 1898 M, Spanyol kemudian menjual Filipina
kepada Amerika Serikaat melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan
menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Ini dibuktikan
dengan ditandatanganinya Traktat Bates(20 Agustus 1898 M) yang menjanjikan kebebasan
beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, serta kebebasan mendapatkan pendidikan
bagi bangsa Moro.
Namun taktat tersebur dianggap hanya taktik mengambil hati orang-otang islamagar
tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan
pemberontakan kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu
bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian
(1903M) Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah Provinsi Moroland dengan alasan
untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu.

Dari telusan diatas, begitu kentara bahwasanya islam masuk Filipina dengan jalan
yang tidak mulus, berliku dan harus menghadapi rintangan dan hambatan dari dalam maupun
luar negri. Imbasnya, maka pada awal tahun 1970-an, Islam di Filipina merupakan komunitas
minoritas. Dengan suatu konsekuensi bagi kaum minoritas Islam bersebrangan dengan
kepentingan pemerintah, hingga timbullah konflik yang berkepanjangan antara pemerintah
dan komunitas muslim.
Agaknya Amerika memandang bahwa peperangan tidak cukup efektif meredam
bangsa Moro, maka Amerika akhirnya menerapkan strategi melalui kebijakan pendidikan.
Kebijakan ini disempurnakan oleh Amerika sehingga menjadi strategi yang sangat efektif.
Namun pada akhirnya kesatuan antara politik dan masyarakat Muslim mengalami
perpecahan. Hal ini menyebabkan pemerintah tidak lagi membaurkan kaum muslim dalam
arus masyarakat Filipina dan mengasimilasikan antara kaum muslim ke dalam tradisi dan
kebiasaan kristen, namun pemerintah Amerika sudah mulai memikirkan perluasan
kekuasaannnya terhadap wilayah Filipina. Dalam hal pendidikan, hampir sebagian jumlah
penduduk Filipina produktif dalam pendidikan seperti menulis dan membaca. Hal ini
menjadikan negara ini lebih maju di Asia tenggara, kendatipun pendidikan tetap menjadi
persoalan yang cukup meruncing. Salah satu masalah adalah masalah yang berkaitan dengan
masalah bahasa. Misalnya Bahasa Ingris, merupakan bahasa yang sulit mereka gunakan
dalam pengantar dan sistem pembelajaran. Pengguna bahasa Inggris sebagai pengantar
bahasa asing dirasa sulit oleh anak-anak, meskipun sistem dan cara-cara pengajaran telah
diperbiki. Namun tetap saja, hampir 50% anak yang lulus pada level tinggi. Hal ini menjadi
persoalan yang mendasar, sehingga Filipina tetap menjadikan bahasa daerah mereka sebagai
bahasa pengantar pendidikan.
Permasalahan llain menyangkut bidang pendidikan adalah, persoalan uang yang turut
menghambat mutu pelajaran. Misalnya dengan jumlah 25% penduduk yang berpenghasillan
lumayan tidak mampu mengkaji guru-guru yang bekerja lebih dari biasanya untuk sokolah-
sekkolah pemerintah (sekolah awam), berbeda dengan sekolah-sekolah yang dikelola swasta
kurang lebih 60% dari jumlah murid yang terdaftar pada dasarnya institusi mampu mengerut
keuntungan.







Sejarah Islam Asia Tenggara 38
Akar Sejarah Minoritas Muslim Filipina
Secara geografis wilayah Filipina terbagi dalam dua wilayah kepulauan besar yaitu
gugusan kepulauan Luzon disebelah utara dan gugusan kepulauan Mindanao di sebelah
selatan. Minoritas muslim Filpina atau lebih dikenal dengan muslim Moro adalah komunitas
Islam yang mendiami kepulauan Mindanao-Sulu beserta gugusannya di Filipina sebagian
selatan.
Islam masuk ke wilayah Filipina selatan khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao
pada tahun 1380. Seorang Tabib dan Ulama Arab bernama Kamirul Makhdum dan Raja
Baguida tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, raja Baguida adalah seorang pangeran dari Minangkabau.
Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di kepulauan
Zamboanga dan Barsilan. Atas hasil kerja kerasnya juga akhirnya Kebungsuwan
Manguindanao memeluk Islam. Dari sinilah awal peredaban Islam di wilayah ini mulai
dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan konfikasi hukum yaitu
Manguindanao Code Of Law atau Lawuran yang didasarkan atas Minhaj dan Fath al-Qarrib
al-Intifa dan Mirat al Thullab.
Islam kemudian tersebar ke pulau lanao dan bagian utara zamboanga serta daerah
pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawa
kekuasaan pemimpin-pemimpin islam yang bergelar Datu atau Raja, bahkan setelah
kedatangan Orang-orang Spanyol komnon menurut para ahli sejarah kata Manila (Ibukota
Philipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (Negeri Allah yang aman). Pendapat ini bisa
jadi benar mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat Islam Su-Kontinen
(anak benua India).
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Philipina pada 16 Maret 1521, kaum Muslim
Mindanao-Sulu berbeda dengan wilayah Utara yang mudah ditaklukkan tanpa perlawanan
yang berarti melakukan perlawanan sangat gigih terhadap Spanyol. Tentara kolonial Spanyol
harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao Sulu
(Kesultanan Sulu takluk tahun 1876). Mereka juga menghabiskan lebih dari 375 tahun masa
kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum muslim. Walaupun demikian,
kaum muslim tidak pernah dapat ditundukkan secara total.
Selama masa kolonial Spanyol menerapkan politik devide and rule (pecah belah dan
kuasai) serta mission sacre (misi suci Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Bahkan
orang-orang Islam di Stigmatisasi (diberi julukan yang berkonotasi buruk) sebagai moor
(Moro) artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan buramentados (tukang
bunuh).sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang mendiami kawasan
Philipina selatan tersebut.


Tahun 1578 terjadi perang besar yang melibatkan orang Philipina sendiri. Penduduk
pribumi wilayah utara yang telah di kristenkan dilibatkan dalam ketentraan kolonial Spanyol
kemudian diadu domba dan disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan.
Sehingga terjadilah peperangan antar Filipina sendiri dengan mengatasnamakan misi suci.
Dari sinilah kemudian timbullah kebencian dan rasa curiga orang-orang kristen Philipina
terhaadap bangsa Moro yang Islam hingga sekarang.
Sekalipun gagal mendudukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedu
wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Secara tidak sah dan tidak bermoral Spanyol
kemudian menjual Philipina kepada Amerika Serikat seharga USS 20 juta pada tahun 1898
melalui traktik Paris. Di bawah kolonialisasi Amerika Serikat akhirnya menerapkan strategi
penjajahan melalui kebijakan pendidikan dan bujukan karena memandang peperangan tidak
cukup efektif untuk meredam perlawanan bangsa Moro. Sebagai hasil dari kebijakan ini
kohesitas politik dan kesatuan diantara masyarakat muslim mulai berantakan dari basis
budaya mulai diserrang oleh norma-norma barat. Pada dasarnya kebijakan ini lebih
disebabkan oleh keinginan Amerika untuk memasukkan kaum Muslim kedalam arus utama
masyarakat Philipina di Utara dan mengasimilasi kaum muslim ke dalam tradisi dan
kebiasaan orang-orang Kristen. Seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik paara sultan
dan ber pindahnya kekuasaan serve bertahap ke Manila pendekatan ini dikit demi sedikit
menngancam tradisi kemandirian yang selama ini dipelihara oleh masyarakat muslim.
Masa pra kemerdekaan ditandai dengan masa peralihan kekuasaan dari penjajah
Amerika ke pemerintah Kristen Filipina di utara. Banyak kebijakan yang dikeluarkan yang
menjadi cikal bakal permasalahan dan problema minoritas muslim dibagian Selatan
khususnya tentang tanah dan pemukiaman. Ketentuan tentang hukum tanah misalnya pada
intinya merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum muslim (tanah adat dan ulayat) oleh
pemerintah kolonial AS danFilipina di Utara yang menguntungkan para kapitalis. Berkaitan
dengan pemukiman seorang sentor Manuel L.Quezonpada tahun 1936-1944 gigih
mengkampanyekan program pemukiman besar-besaran orang utara dengan tujuan untuk
menghancurkan keragaman (bomogeneity) dan keunggulan jumlah Bangsa Moro di
Mindanao serta berusaha mengintegrasikan mereka kedalam masyarakat Filipinaa secara
umum.
Untuk menarik banyak pemukiman dari Utara ke Mindanao pemerintah membangun
koloni-koloni yang disubsidi lengkap dengan seluruh alat bantumyang diperlukan. Konsep
penjajahan melallui koloni ini diteruskan oleh pemerintah Filipina begitu AS hengkang dari
negeri tersebut. Sehingga perlahan tapi pasti orang-orang Moro menjadi minoritas di tanah
kelahiran merka sendiri.



Sejarah Islam Asia Tenggara 68