Anda di halaman 1dari 4

Laporan Praktikum Analisis Instrumental 1

POTENSIOMETRI DAN KONDUKTOMETRI


Hanhan Nur Handayani (G44124005), Nurul, Mulyati
Departemen Kimia FMIPA IPB
25 Maret 2014

Abstrak
Metode potensiometri dan konduktomerti dapat digunakan untuk menentukan suatu
konstanta ionisasi asam lemah. Prinsip percobaannya yaitu berdasarkan pada aktivitas ion
untuk metode potensiometri dan adanya spesi ion yang dianalisis akan digantikan oleh ion
lainnya yang memiliki perbedaan daya hantar yang signifikan untuk metode konduktometri.
Senyawa asam lemah yang digunakan pada percobaan adalah CH
3
COOH. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa Ka CH
3
COOH hanya diperoleh dari metode konduktometri yaitu
sebesar 2.74 x 10
-8
dengan ketepatan 0.16 %. Penentuan nilai Ka dengan metode
potensiometri tidak dapat ditentukan karena apabila menggunakan persamaan Nersnt untuk
penyelesaiannya tidak diketahui nilai potensial dari elektroda pembandingnya.
Kata kunci : potensiometri, konduktometri, konstanta ionisasi (Ka).
Pendahuluan
Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisiko-kimia yang
menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya
potensial elektroda indikator ini bergantung pada konsentrasi ion-ion tertentu dalam larutan.
Potensial indikator ini dihitung bersama-sama dengan elektroda pembanding (elektroda
referens) yang mempunyai harga potensial yang tetap selama pengukuran (Sudjadi 2010).
Metode potensiometri terdiri dari 2 jenis yaitu potensiometri langsung dan tidak langsung.
Potensiometri langsung mengukur konsentrasi atau aktivitas secara langsung. Aktivitas atau
konsentrasi ion ditentukan dengan suatu kurva kalibrasi atau teknik penambahan standar.
Potensiometri secara tidak langsung (titrasi potensiometri) dilakukan dengan menitrasi
komponen yang dianalisis dengan titran yang cocok dan elektroda indikator digunakan untuk
memonitor perubahan potensial selama titrasi (Bassett et al. 1994). Metode potensiometri
merupakan salah satu metode yang ekonomis namun bersifat selektif (Saprudin et al. 2010).
Konduktometri merupakan salah satu cara analisis kimia yang berdasarkan pada sifat
kelistrikan dari larutan elektrolit yaitu daya hantar listrik (konsuktivitas) (Djenar et al. 2001).
Daya hantar larutan bergantung pada jumlah, ukuran, muatan ion, dan sifat-sifat pelarut
seperti kekentalan. Ion yang berbeda diperkirakan memberikan pengaruh yang berbeda
terhadap daya hantar larutannya (Atkins dan Paula 2006). Titrasi konduktometri tidak perlu
mengetahui tetapan selnya karena hanya perubahan konduktan saja yang diukur selama titrasi
(Djenar et al. 2001).
Titrasi potensiometri dan konduktometri yang dilakukan pada percobaan ini
digunakan untuk menentukan konstanta ionisasi (Ka) suatu asam lemah. Kedua metode
tersebut dibandingkan untuk melihat metode mana yang lebih mendekati nilai teoritis dari Ka
asam lemah. Adapun senyawa asam lemah yang digunakan pada percobaan adalah asam
asetat (CH
3
COOH).


Laporan Praktikum Analisis Instrumental 2

Metode Percobaan
Bahan dan Alat
Alat yang digunakan pada percobaan terdiri atas pH meter, konduktometer, elektroda
kaca kombinasi, pipet volumetrik 10 mL, gelas piala, buret, dan pengaduk magnet. Bahan
yang digunakan terdiri atas NaOH 0.1000 M, HCl 0.1000 M, CH3COOH 0.1000 N, larutan
KCl standar, asam oksalat, dan akuades.
Prosedur
Alat pH meter dikalibrasi terlebih dahulu dengan buffer pH 4 dan 7. Setelah itu
dilakukan standardisasi NaOH terlebih dahulu, sebanyak 0.3159 g dan 0.3152 g asam oksalat
untuk metode potensiometri dan 0.3154 g asam oksalat untuk metode konduktometri
ditimbang dan dilarutkan dengan akuades lalu dimasukkan dalam labu takar 50 mL dan
ditambahkan akuades hingga tanda tera kemudian dikocok, dihomogenkan. Setelah itu
sebanyak 10 mL asam oksalat dimasukkan dalam gelas piala dan ditambahkan akuades
hingga volume 100 mL lalu diukur potensialnya dengan penambahan NaOH 0,5 mL (1-9 mL).
0,1 mL (9-11mL) dan 0,5 mL (11-18mL) untuk potensiometri sedangkan untuk
konduktometri 1,00 mL (1-5 mL), 0,5 mL (5-15 mL) dan 1,00 mL (15-20 mL). Titrasi asam
kuat dengan basa kuat, sebanyak 10 mL HCl 0,1000 N dimasukkan dalam gelas piala dan
ditambahkan akuades 100 mL lalu dititrasi dengan NaOH yang telah distandardisasi.
Penambahan NaOH sebanyak 1,00 mL (1-5mL), 0,50 mL (5-9mL), dan 0,10 mL (9-20mL)
untuk potensiometri sedangkan untuk konduktometri 1,00 mL (1-5 mL), 0,5 mL (5-15 mL)
dan 1,00 mL (15-20 mL). Titrasi asam lemah dengan basa kuat, sebanyak 10 mL asam asetat
dimasukkan dalam gelas piala lalu ditambahkan akuades 100 mL kemudian dititrasi sambil
diaduk dengan stirer. Penambahan NaOH dilakukan sebanyak 0,5 mL (1-9 mL), 0,10 mL (9-
11mL), dan 0,50 mL (11-18 mL) untuk potensiometri sedangkan untuk konduktometri 0,10
mL (0,1-0,5 mL), 0,5 mL (5-15 mL) dan 1,00 mL (15-20 mL).

Hasil dan Pembahasan
Metode potensiometri yang dilakukan pada percobaan adalah potensiometri tidak
langsung (titrasi potensiometri) dengan elektroda indikator berupa elektroda kaca kombinasi
dan elektroda kalomel sebagai pembandingnya. Sebelum pH meter digunakan, alat dikalibrasi
terlebih dahulu menggunakan buffer pH 4 dan 7. Hal ini bertujuan untuk mencapai
ketelusuran pengukuran sehingga diketahui seberapa jauh perbedaan atau penyimpangan
antara nilai sebenarnya dengan nilai yang terukur. Larutan NaOH yang digunakan sebagai
titran disandardisasi terlebih dahulu dengan asam oksalat (COOH)
2
. Larutan NaOH
merupakan larutan baku sekunder yaitu larutan yang konsentrasinya dapat berubah-ubah dan
bersifat higroskopis serta mudah menyerap CO
2
sehingga membentuk natrium karbonat,
sedangkan asam oksalat merupakan bahan baku primer yaitu senyawa yang bersifat stabil
dalam keadaan biasa dan mempunyai berat ekuivalen yang tinggi.
Titik akihir titrasi tercapai pada saat nilai potensial dari sistem berubah sangat cepat
sehingga menghasilkan kurva yang tajam (Djenar et al. 2001). Hasil percobaan menunjukkan
bentuk kurva yang menurun pada standardisasi NaOH dengan asam oksalat, begitupun
dengan titrasi asam kuat maupun asam lemah dengan basa kuat. Nilai Ka CH
3
COOH tidak
berhasil diperoleh dengan menggunakan persamaan Nersnt karena tidak diketahui nilai
Laporan Praktikum Analisis Instrumental 3

potensial dari elektroda pembandingnya, pada saat praktikum seharusnya dilihat nilai
potensial dari elektroda kalomel. Hal ini menjadi faktor kesalahan dalam percobaan ini.
Prinsip titrasi konduktometri adalah dengan mengukur daya hantar larutan
berdasarkan suatu pergerakan ion dalam larutan dengan bantuan sel elektroda (Djenar et al.
2001). Sebelum digunakan, alat dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan larutan KCl karena
K dan H memiliki jari-jari ion yang sama dan sifatnya pun tidak berubah-ubah serta tidak
bergantung pada suhu dan relatif stabil (Harjadi 1986). Kalibrasi ini bertujuan untuk
mengecek kondisi alat. Alat yang baik menunjukkan konduktivitas saat pengaklibrasian
sebesar 447 S/cm, namun jika lebih dari itu dan menghasilkan selisih yang besar maka alat
dalam kondisi kurang baik untuk digunakan.Standardisasi NaOH juga dilakukan pada
percobaan konduktometri dengan konsentrasi NaOH rerata yang diperoleh sebesar 0,0207 N
dengan nilai %RSD 6.28%. Hal ini menunjukkan bahwa keterulangannya kurang baik.
Menurut Prihatini (2010), RSD sangat teliti (RSD ), teliti (1% < RSD 2%), ketelitian
sedang (2% < RSD 5%), dan kurang atau tidak teliti(RSD > 5%).
Titrasi asam kuat dengan basa kuat diperoleh bentuk kurva seperti huruf V dan tajam
atau curam (Gambar 25, 26, dan 27). Hal ini terjadi karena sebelum TE H
+
akan digantikan
oleh Na
+
dan Cl
-
oleh OH
-
. Mobilitas H
+
lebih tinggi dibandingkan dengan Na
+
sehingga
terjadi perubahan dari nilai konduktan yang tinggi menjadi rendah yang mengakibatkan kurva
menjadi curam (Djenar et al. 2001). Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
Titrasi asam lemah dengan basa kuat diperoleh bentuk kurva yang lebih landai (Gambar 28)
daripada kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat karena ada penambahan awal basa yang
akan menghasilkan buffer sehingga [H
+
] berkurang dan bersamaan dengan itu terjadi
kenaikan [Na
+
] dan [CH
3
COO
-
] (Djenar et al. 2001). Nilai konduktan naik seiring dengan
bertambahnya OH
-
dan Na
+
karean sifat dari mobilitas OH
-
lebih rendah. Reaksi yang terjadi
sebagai berikut:
NaOH + CH
3
COOH CH
3
COONa + H
2
O
Hasil percobaan menunjukkan nilai konsentrasi dari HCl dan CH
3
COOH yaitu
sebesar 1.60 x 10
-3
N, dan 5.10 x 10
-5
N dengan nilai Ka asam asetat sebesar 2.74 x 10
-8
dengan
nilai %ketepatan yang kecil yaitu 0.16 %. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada
saat percobaan yaitu saat pembacaan miniskus, penambahan volume NaOH, dan pembacaan
nilai konduktan yang kurang tepat.

Simpulan
Hasil percobaan menunjukkan bahwa Ka CH
3
COOH hanya diperoleh dari metode
konduktometri yaitu sebesar 2.74 x 10
-8
dengan ketepatan sebesar 0.16 %. Penentuan nilai Ka
dengan metode potensiometri tidak dapat ditentukan karena apabila menggunakan persamaan
Nersnt untuk penyelesaiannya tidak diketahui nilai potensial dari elektroda pembandingnya.



Laporan Praktikum Analisis Instrumental 4

Daftar Pustaka
Atkins P, Paula J. 2006. Physical Chemistry. Ed ke-8. Great Britain (GB): W. H. Freeman
and Company.
Basset J., et al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta (ID):
Buku Kedokteran EGC.
Djenar NS, Widiastuti E, Marlina A. 2001. Kimia Analitik Instrumentasi. Bandung (ID)
Politeknik Negeri Bandung.
Prihatini. 2010. Pereaksi terbaik untuk pengabuan basah pada penentuan kadar timabal dan
kadmium tanah dengan kadungan C-organik berbeda [skripsi]. Bogor(ID): Institut
Pertanian Bogor.
Saprudin D, Buchari, Iswantini D. 2010. Sintesis 4-dodecandioylbis(1-phenyl-3-methyl-5-
pyrazolone) sebagai ionofor sensor lutesium(iii) untuk penentuan ion lutesium(iii)
secara potensiometri. 5:27-29
Sudjadi. 2010. Analisis Kimia Farmasi. Yogyakarta (ID): Pustaka Pelajar.