Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS ASPEK LATAR SOSIAL BUDAYA DALAM NOVEL

PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI




















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan bagian dari kebudayaan, kelahirannya di tengah tengah
masyarakat tiada luput dari pengaruh sosial dan budaya. Pengaruh tersebut bersifat timbal balik,
artinya karya sastra dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat.
Karya sastra adalah gambaran kehidupan. Walaupun sebagai gambaran, karya sastra tidak
pernah menjiplak kehidupan. Karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan yang
berbentuk fiksi dan diciptakan oleh pengarang untuk memperluas, memperdalam dan
memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikannya (Saini
K.M, 1986:14-15). Pengarang adalah anggota masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian,
terciptanya sebuah karya sastra oleh seorang pengarang secara langsung atau tidak langsung
merupakan kebebasan sikap budaya pengarang terhadap realitas yang dialaminya. Oleh karena
itu, dalam proses penciptaan karya sastra lebih banyak disebabkan oleh kontinuitas kehidupan
yang tidak pernah habis antara nilai realitas sosial dengan nilai ideal dalam diri pengarang.
Sebagaimana pendapat Saini K.M di atas, Sapardi Djoko Damono menegaskan bahwa
sastra menampilkan gambaran kehidupan itu sebagai suatu kenyataan sosial yang menyangkut
hubungan masyarakat dengan orang perorang, antara manusia dan antara peristiwa yang terjadi
dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang
menjadi bahan.
sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat
(Sapardi Djoko Damono, 1984:1). Selaras dengan pendapat Sapardi Djoko Damono tersebut,
Jakob Sumardjo menyatakan bahwa perkembangan individu sastrawan banyak dipengaruhi oleh
faktor lingkungan, termasuk masyarakatnya. Seorang sastrawan belajar menjadi sastrawan dari
lingkungan masyarakatnya. Latar belakang sosial dan budaya masyarakat mempengaruhi bentuk
pemikiran dan ekspresi sastrawan (Jakob Sumardjo, 1999:1). Jadi, karya sastra seorang
pengarang mengandung nilai-nilai kognitif konteks budaya dan nilai-nilai ideal kehidupan
pengarang.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan
menampilkan serangkaian peristiwa secara tersusun. Namun, jalan ceritanya dapat menjadi suatu
pengalaman hidup yang nyata, dan lebih dalam lagi novel mempunyai tugas mendidik
pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia.
Novel lahir dan berkembang dengan sendirinya sebagai sebuah genre pada cerita atau
menceritakan sejarah dan fenomena sosial. Karya sastra termasuk novel mempunyai fungsi dulce
et utile yang artinya menyenangkan dan bermanfaat bagi pembaca melalui penggambaran
kehidupan nyata. Sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan
kehidupan yang ditawarkan. Oleh karena itu, novel harus tetap merupakan cerita menarik yang
mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik. Dengan
adanya unsur-unsur estetik, baik unsur bahasa maupun unsur makna, dunia fiksi lebih banyak
memuat berbagai kemungkinan dibandingkan dengan yang ada di dunia nyata. Semakin tinggi
nilai estetik sebuah karya fiksi, secara otomatis akan mempengaruhi pikiran dan perasaan
pembaca.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya
sastra yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai
kehidupan. Dengan demikian, sastra sebagai teks harus dilihat pula dalam konteks.
Seorang pengarang menciptakan novel dalam konteks tertentu, cerita yang dilukiskan di
dalamnya bersumber dari masyarakat imajiner yang dikehendaki atau ditolaknya. Oleh karena
itu, pengarang sebagai bagian dari masyarakat dengan kekuatan imajinasinya dapat melahirkan
sebuah karya sastra dari permasalahan social masyarakat yang melingkupinya. Ia selalu terikat
oleh pengalaman hidupnya, pengetahuannya, pendidikannya, tradisinya, wawasan seninya, dan
sebagainya. Ia hidup dan berelasi dengan orang-orang dan lingkungan sosial budaya di
sekitarnya, maka tak mengherankan kalau terjadi interaksi dan relasi antara pengarang dan
masyarakatnya. Kegelisahan masyarakat menjadi kegelisahan para pengarang. Begitu pula
harapan-harapan, penderitaan-penderitaan, aspirasi mereka menjadi bagian pola diri pribadi
pengarang-pengarangnya. Itulah sebabnya sifat dan persoalan suatu zaman dapat dibaca dalam
karya-karya sastranya (Jakob Sumardjo dan Saini K.M, 1991:3).
Pernyataan di atas menandakan bahwa suatu karya sastra tidaklah akan cukup diteliti dari aspek
strukturnya saja tanpa kerjasama dengan disiplin ilmu lain, karena masalah yang terkandung di
dalam karya sastra pada dasarnya merupakan masalah masyarakat. Adakalanya, seni sastra juga
dapat mewakili kehidupan masyarakat pada saat karya sastra itu diciptakan.
Berkaitan dengan hal tersebut, objek penelitian ini di antaranya aspek social yang memuat
masalah mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang terdapat dalam novel Perahu
Kertas karya Dewi Lestari, mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang bersifat
fungsional dan tipikal dalam novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari, mendeskripsikan
wujud aspek latar sosial budaya yang dominan pada novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari.

1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang terdapat dalam
novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari ?
2. Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang bersifat
fungsional dan tipikal dalam novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari?
3. Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang dominan pada
novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari?
1.3 Tujuan Penelitihan
1. mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang terdapat dalam novel
Perahu Kertas karya Dewi Lestari.
2. mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang bersifat fungsional dan tipikal
dalam novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari.
3. mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang dominan pada novel Perahu
Kertas karya Dewi Lestari.

1.4 Manfaat Penelitihan
1. Mampu mendeskripsikan wujud aspek latar social budaya yang terdapat dalam novel
perahu kertas karya Dewi Lestari.
2. Mampu mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang bersifat fungsional
dan tipikal dalam novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari.
3. Mampu mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang dominan pada novel
Perahu Kertas karya Dewi Lestari.
1.5 Definisi Operasional
1. Analisis, Yaitu penyelidikan terhadap suatu peristiwa atau karangan untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua,
1995).
2. Latar adalah tempat dan waktu terjadi peristiwa dalam cerita. (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2003: 887)
3. Sosial ialah segala sesuatu yang mengenai masyarakat atau kemasyarakatan.(Kamus
Umum Bahasa Indonesia milik W.J.S Poerwadarminta)
4. Budaya ialah segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal
budinya yang mengandung cinta, rasa dan karsa. Dapat berupa kesenian,
pengetahuan, moral, hukum, kepercayaan, adat istiadat ataupun ilmu.(Kamus Umum
Bahasa Indonesia milik W.J.S Poerwadarminta)
5. Sosial budaya adalah segala hal yang dicipta oleh manusia dengan pemikiran dan
budi nuraninya untuk dan/atau dalam kehidupan bermasyarakat. Atau lebih
singkatnya manusia membuat sesuatu berdasar budi dan pikirannya yang
diperuntukkan dalam kehidupan bermasyarakat. (Kamus Umum Bahasa Indonesia
milik W.J.S Poerwadarminta)
6. Novel yaitu, cerita hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran dan
penilaian tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam khayal pengarang yang
dihadirkan dalam para tokoh dalam bentuk yang panjang (Saleh Saad, 1967: 117)






BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Latar
2.1.1 Pengertian Latar
Berhadapan dengan suatu karya fiksi pada hakikatnya kita menghadapi sebuah dunia,
dunia dalam kemungkinan, dunia yang sudah dilengkapi dengan penghuni dan permasalahannya.
Namun hal itu masih kurang lengkap sebab tokoh dengan berbagai pengalaman kehidupannya itu
memerlukan ruang lingkup, tempat, dan waktu, sebagaimana halnya kehidupan manusia
dandunia nyata. Dengan kata lain, fiksi sebagai sebuah dunia, di samping membutuhkan tokoh,
cerita dan plot, juga membutuhkan latar.
Menurut Suharianto (1982:22) latar adalah tempat atau waktu terjadinya cerita. Suatu
cerita hakikatnya tidak lain adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan
oleh satu atu beberapa orang tokoh pada suatu waktu di suatu tempat. Karena manusia atau tokoh
cerita tidak pernah dapat lepas dari ruang dan waktu maka tidak mungkin ada cerita tanpa latar
atau setting.
Baribin (1985:62) berpendapat bahwa, latar atau landas lampu (setting) cerita adalah
lingkungan tempat peristiwa terjadi.
Nurgiantoro (2002:216) mengungkapkan latar atau setting disebut juga sebagai landas
tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Pendapat yang senada diutarakan Abdurrosyid (2009:04), latar adalah segala keterangan,
petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya
peristiwa dalam cerita.
Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok:
a. Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya
fiksi.
b. Latar waktu, berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang
diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
c. Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu
tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat
istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat,
waktu, dan suasana terjadinya peristiwa yang dijadikan latar belakang penceritaan oleh
pengarang yang keberadaannya harus integral dengan unsur lainnya dalam membangun keutuhan
makna cerita. Jadi, latar dalam cerita pendek salah satu unsur yang perlu diperhatikan karena
latar akan mendukung kemenarikan sebuah cerita pendek.

2.1.2 Definisi Sosial Budaya

Sosial Budaya terdiri dari 2 kata, yang pertama definisi sosial, menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia milik W.J.S Poerwadarminta, sosial ialah segala sesuatu yang mengenai
masyarakat atau kemasyarakatan atau dapat juga berarti suka memperhatikan kepentingan umum
(kata sifat). Sedangkan budaya dari kata Sans atau Bodhya yang artinya pikiran dan akal budi.
Budaya ialah segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang
mengandung cinta, rasa dan karsa. Dapat berupa kesenian, pengetahuan, moral, hukum,
kepercayaan, adat istiadat ataupun ilmu.
Maka definisi sosial budaya itu sendiri adalah segala hal yang dicipta oleh manusia dengan
pemikiran dan budi nuraninya untuk dan/atau dalam kehidupan bermasyarakat. Atau lebih
singkatnya manusia membuat sesuatu berdasar budi dan pikirannya yang diperuntukkan dalam
kehidupan bermasyarakat.

2.2.3 Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan
Terciptanya sebuah kebudayaan bukan hanya dari buah pikir dan budi manusia, tetapi juga
dikarenakan adanya interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya. Suatu interaksi dapat
berjalan apabila ada lebih dari satu orang yang saling berhubungan atau komunikasi. Dari
interaksi itulah terjadi sebuah kebudayaan yang menyangkut lingkungan sekitar dan oleh sebab
itu pula kita mempunyai beragam kebudayaan.
Perubahan kebudayaan bisa saja terjadi akibat perubahan sosial dalam masyarakat, begitu pula
sebaliknya. Manusia sebagai pencipta kebudayaan dan pengguna kebudayaan, oleh karena itu
kebudayaan akan selalu ada jika manusia pun ada.

2.2.4 Peran dan Dampak Negatif Sosial Budaya

Kebudayaan pun memiliki peran dalam kehidupan social manusia, diantaranya adalah :
a) Sebagai pedoman dalam hubungan antara manusia dengan komunitas atau kelompoknya.
b) Sebagai simbol pembeda antara manusia dengan binatang.
c) Sebagai petunjuk atau tata cara tentang bagaimana manusia harus berperilaku dalam
kehidupan sosialnya.
d) Sebagai modal dan dasar dalam pembangunan kehidupan manusia.
e) Sebagai suatu cirri khas tiap kelompok manusia.

Tidak berarti pula penciptaan sosial budaya itu kemudian tak memiliki dampak negatif. Bila
kebudayaan yang ada kemudian menimbulkan akses negatif bagi kehidupan sosial adalah sesuatu
yang perlu dipikirkan ulang, jika ingin menciptakan sebuah budaya. Beberapa dampak negative
kebudayaan bagi kehidupan sosial manusia, antara lain:
a) Menimbulkan kerusakan lingkungan dan kelangsungan ekosistem alam.
b) Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang kemudian menjadi penyebab munculnya
penyakit-penyakit sosial, termasuknya tingginya tingkat kriminalitas.
c) Mengurangi bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang biasanya dekat
dalam hubungan sosial antar masyarakat.
2.2.5 Wujud dan komponen
a) Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas,
dan artefak.
Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau
disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga
masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan,
maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para
penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan
manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya
konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam
kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan
dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan
memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
b) Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli
antropologi Cateora, yaitu :
Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk
dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian
arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga
mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung
pencakar langit, dan mesin cuci.
Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan
berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan
menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia
pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja
pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota kota besar hal tersebut terbalik, wajar
seorang wanita memilik karier
Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan
terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat.
Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan
kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari tarian,
yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya
memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan
yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan
bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning
dan buah buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti
Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan
Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan
komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang
hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa
ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh
nilai empati dan simpati dari orang lain.

















BAB III
METODELOGI PENELITIHAN
3.1 Metodelogi Penelitihan
Secara ringkas yang dimaksud metodelogi penelitihan adalah cara kerja yang digunakan
oleh seseorang dalam objek yang menjadi sasaran penelitihan. Karena sasaran penelitihan berikut
ini adalah sastra, maka metode yang digunakan adalah metode yang mempertimbangkan
keberadaan karya sastra.
Penelitihan ini menggunakan pendekatan Kualitafif,oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan dua metode, yaitu:
3.1.1 Metode Pustaka
Metode yang digunakan untuk menelaah data-data pustaka yang berkaitan dengan
penelitihan pustaka tentang sastra, psikologi dan sebagainya. Langkah yang ditempuh adalah
mencari dan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan penelitihan ini. Sedangkan cara
pengumpulan data-data yang berhubungan dengan penelitihan ini. Sedangkan cara pengumpulan
datanya menggunakan studi pustaka melalui Novel Perahu Kertas. Adapun langkah yang
ditempuh dalam mendeskripsikan Latar Sosial Budaya dari setiap lakuan, dialog, dan monolog.

3.1.2 Metode Analisis Deskriptif
Metode yang dipakai saat analisis data dilakukan pada saat itu, pula deskripsi diterapkan
karena itu, metode ini dinamakan metode analisis deskriptif.
Analisis dan Deskriptif ini dilakukan untuk menganalisis data yang ditarik dari macam-macam
fakta yang telah berhasil dikumpulkan yang sesuai dengan permasalahan yang berhubungan
dengan Latar Sosial Budaya. Tentu saja dengan disikapi oleh landasan teori yang telah
ditetapkan.
Metode Deskripsi digunakan untuk memberikan dan menjelaskan hasil analisis secara
terinci. Menurut Ali (1987) metode deskripsi digunakan untuk memberikan data yang ada.
Metode penelitihan penelitihan deskripsi digunakan dengan tujuan membuat gambaran tentang
suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskripsi situasi. Dari pendeskripsian akan
menghasilkan simpulan tentang Latar Sosial Budaya Karya Dewi Lestari.

3.2 Sumber Data
Objek penelitihan ini adalah Sebuah Novel yang berjudul Perahu Kertas dan menggunakan
film Perahu yang digunakan untuk memperjelas pemahaman dan juga menggunakan novel
Perahu Kertas yang diterbitkan cetakan pertama Agustus 2009 dan cetakan ke-8 Januari 2011.
Oleh Bentang Pustaka, yogyakarta. Novel tersebut terdiri atas 444 halaman. Sampul depan
bergambar dua perempuan dan dua laki-laki tokoh utama pemain.Warna dasar sampul berwarna
biru muda dan gambar warna perahu merah.
Data yang lain adalah sumber data yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
Tabel 3.1. Instrumen pencatatan Latar Sosial Budaya
No UNSUR YANG DITELITI
1.

2.

3.
Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang terdapat dalam novel
Perahu Kertas karya Dewi Lestari ?
Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang bersifat fungsional dan
tipikal dalam novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari?
Bagaimana mendeskripsikan wujud aspek latar sosial budaya yang dominan pada novel
Perahu Kertas karya Dewi Lestari?


Tabel 3.1. Instrumen pencatatan Latar Sosial Budaya rekap dari data yang ditemukan
Metode analisis deskripsi digunakan saat menganalisis data. Dengan menggunakan landasan
teori yang sudah terpapar pada bab terdahulu, data dianalisis.
Hasil analisis kemudian dideskripsikan.analisis dan deskripsi ini dilakukan secara akumulatif.
Artinya keduanya diterapkan secara serentak dan terpadu. Pada saat analisis data dilakukan, pada
saat itulah deskripsi ditetapkan.karena itu metode ini disebut analisis deskriptif.
3.3 Langkah Kerja
3.3.1 Persiapan
Pada tahap pertama ini, langkah yang pertama kali ditempuh adalah membaca buku-buku
yang sesuai dengan judul yang telah dipilih. Dari sejumlah literatur tersebut, kemudian dibuat
rancangan penelitihan.
3.3.2 Pelaksanaan
Dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data-data dari Novel Perahu Kertas. Data-data
tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teori tentang Latar Sosial Budaya.
3.5.3 Penyelesaian
Setelah mengadakan analisis, maka langkah selanjutnya adalah mengakhiri dengan
kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari analisis tersebut.











BAB IV
ANALISIS DATA