Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Diseluruh dunia, glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2%
penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma dapat juga didapatkan
pada usia20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih banyak diserang daripada wanita.
Di Amerika, kurang lebih 2 juta warganya menderita glaukoma. Insidens glaukoma
secara acak pada orang-orang diatas usia 40 tahun adalah 1,5 %. Penyakit ini terutama
didapatkan pada orang orang berkulit hitam yang prevalensinya pada usia 45 65 tahun adalah
15 kali orang orang kulit putih pada usia yang sama. Glaukoma akut (sudut tertutup)
merupakan10-15% kasus pada orang kaukasia. Pada etnis asia glaukoma sudut tertutup lebih
sering terjadi dibanding sudut terbuka, terutama diantara orang Burma dan Vietnam, karena
sudut kamera anteriornya lebih sempit.
1

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor 2 di Indonesia. Terdapat sejumlah 0,4
% penderita glaukoma di Indonesia yang mengakibatkan kebutaan pada 0,16 % penduduk.
Glaukoma terutama terdapat pada usia lanjut walaupun dapat mengenai semua umur. Dengan
makin bertambahnya populasi usia lanjut, maka prevalensi glaukoma akan meningkat.
Diperkirakan tahun 2020, akan terdapat 79,6 juta orang yang menderita glaukoma. Sebanyak
11,2 juta orang diantaranya buta kedua matanya yang saat ini sudah mencapai 4,5 juta orang.
1









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Glaukoma adalah kerusakan pada saraf optik yang disertai dengan defek lapang pandang
dan peningkatan tekanan intra okular.
2.1. Anatomi dan Fisiologi
Patofisiologi glaukoma berhubungan dengan aliran humor aqueous dan bagian-bagian yang
berhubungan, antara lain : korpus siliar, sudut bilik mata depan, dan aliran keluar humor
aqueous.
2
Sudut bilik mata yang terdiri atas korpus siliar,
sclera, trabekular meshwork, dan Schwalbes
line berperan penting dalam proses drainase
humor aqueous. Lebar nya sudut bilik mata
depan bervariasi pada setiap individu dan
berhubungan dalam patogenesis beberapa jenis
glaukoma. Pemeriksaan sudut bilik mata depan
dapat dilihat melalui pemeriksaan gonioskopi.
2
Gambar 1. Sudut Bilik Mata Depan
2
Tabel 1. Shaffers System of Grading the Angle Width
2
Grade
Angle
Width
Configuration
Chances of
Closure
Structure Visible on Gonioscopy
I 35 45 Wide open Nil SL, TM, SS, CBB
II 20 35 Open Angle Nil SL, TM, SS
III 20 Moderately
narrow
Possible SL, TM
IV 10 Very narrow High SL only
V 0 Closed Closed None of the angle structure is visible
SL : Schwalbes line; TM : Trabecular meshwork; SS: Scleral spur; CBB : Ciliary body band

Gambar 2. Grading the Angle Width
2

Humor aqueous dibentuk oleh
korpus siliar dan disekresi ke dalam
bilik mata belakang melewati pupil
menuju bilik mata depan. Karena iris
terbentang rata disepanjang permukaan
lensa, maka humor aqueous tidak dapat
mengatasi hambatan pupil sampai
menimbulkan tekanan yang cukup untuk
mendorong iris dari permukaan lensa.
3
Gambar 3. Fisiologi Aliran Humor Aqueous
3


Aliran humor aqueous terbagi atas 2 rute
2
:

1. Trabecular Meshwork
Sekitar 90% humor aqueous mengalir melalui rute ini menuju kanal schlemm. Pada dinding
bagian dalam kanal schleem terdapat ruang transelular yang ada pada endotel. Ruang ini akan
terbuka sebagai pori-pori terutama untuk berespon terhadap tekanan. Dari kanal schlemm air
diangkut melalui external collector channels menuju vena episklera yang dipengaruhi oleh
gradien tekanan antara intraokular dan tekanan vena intrasklera.
2. Uveoscleral
Sekitar 10% humor aqueous mengalir melalui rute ini melewati korpus siliar menuju ruang
suprakoroidal.
2.2. Glaukoma Sudut Tertutup Primer (Akut)
2.2.1. Faktor Predisposisi
4,6
1. Ras : Eskimo dan Asia Timur
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Usia : Pertengahan
4. Family History
5. Bilik mata depan dangkal
6. Axial length < 0.5 1 mm.
7. Lensa yang tebal (0.2 0.6
mm)
Gambar 4. Faktor Predisposisi Glaukoma Akut
3

2.2.2. Patogenesis
2,5

Apabila terdapat pupillary block yang sehingga aliran aqueous humor terhambat dan
menyebabkan meningkatnya tekanan di bilik mata belakang lalu iris bagian perifer
mengembang ke arah anterior (iris bombe) sehingga menghalangi sudut dan menyebabkan
peningkatan TIO.

A : Relative Pupil Block; B : Iris Bombe Formation; C : Appositional Angle Closure
Gambar 5. Patogenesis Glaukoma Sudut Tertutup
2.2.3. Tanda dan Gejala
2,6, 7

1. Mata merah
2. Edema kornea
3. Penurunan tajam penglihatan mendadak
4. Bilik mata depan dangkal
5. Peningkatan tekanan intra okular
6. Ocular pain disertai mual
2.2.4. Pemeriksaan
3
1. Pemeriksaan bilik mata depan
2. Tonometri
3. Slit Lamp untuk mengevaluasi kedalam
bilik mata depan dan untuk melihat sudut Gambar 6. Pemeriksaan Bilik Mata Depan
bilik mata depan.
4. Gonioskopi untuk menilai sudut bilik mata depan.
5. Pemeriksaan Funduskopi untuk menilai ratio cup and disc dan warna papil serta melihat
nasalisasi pembuluh darah.
6. Pemeriksaan lapang pandang penglihatan



Gambar 7. Gambara Funduskopi Glaukoma Akut

Gambar 8. Defek Lapang Pandang pada Glaukoma Akut



2.2.5. Diagnosis Banding

Gambar 9. Diagnosis Banding Glaukoma Sudut Tertutup
8
2.2.6. Pengobatan
2,7
A. Medikamentosa
1. Agen hiperosmotik : mannitol intravena untuk menurunkan TIO.
2. Carbonic Anhydrase Inhibitor : Acetazolamide 500 mg intravena diikuti 250 mg tablet
3 kali sehari.
3. Analgesik dan Anti emesis.
4. Pilocarpine eyedrops diberikan saat TIO sedikit menurun oleh karena agen
hiperosmotik. Diberikan setiap 30 menit selama 1-2 jam, setelah itu setiap 6 jam.
5. Beta blockers eyedrops sebanyak 2 kali sehari untuk menurunkan TIO.
6. Corticosteroid eyedrops untuk mencegah inflamasi diberikan sebanyak 3-4 kali setiap
hari.
B. Bedah
1. Iridotomi Perifer diindikasi kan apabila persentasi sudut yang tertutup sebanyak 50%
dan untuk profilaksis pada mata sebelahnya.
2. Iridektomi Perifer
3. Trabekulektomi dilakukan dengan cara membuat jalan bagi aqueous humor dari dari
bilik mata depan menuju subkonjungtiva.

Daftar Pustaka

1. Rosita, CE. Glaukoma. Di unduh dari http://www.scribd.com/doc/35013418/refrat-mata-revisi
pada tanggal 11 Desember 2010, pukul 09.10 WIB
2. Khurana, AK. Glaucoma dalam Comprehensive Ophthalmology 4
th
Edition. New Delhi: New
Age International (P) Limited. 2007. page : 205-6
3. Lang, GK. Glaucoma dalam Ophthalmology. New York: Thieme New York, 333 Seventh
Avenue. 2000.

4. Myron, Y & Jay s, D. Glaucoma dalam Ophthalmology 3
rd
Edition. New York: Elsevier's
Department. 2004.
5. Kanski, JJ. Glaucoma dalam Clinical Ophthalmology 6
th
Edition. New York; Elseviers
Department. 2007.
6. K Weng, S and William, RL. Glaucoma dalam Ophthalmic Pathology. USA: Blackwell
Publishing Ltd. 2005.
7. Olver J and Cassidy L. Glaucoma dalam Ophthalmology at a Glance. USA: Blackwell
Publishing Ltd. 2005.
8. Zimmerman, TJ. Clinical Pathways in Glaucoma. New York: Thieme Medical Publisher, Inc.
2000.