Anda di halaman 1dari 14

FISIOLOGI INTEGUMEN

A. TERMOREGULASI

Termoregulasi berasal dari kata Termo : Panas Regulasi : Pengaturan Termoregulasi
adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan produksi panas dan
kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. Termoregulasi
bekerja untuk menyeimbangkan perolehan panas dengan pelepasan panas.
Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan
koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan
perubahan suhu dingin atau hangat. Pusat pengaturan tubuh manusia ada di Hipotalamus, oleh
karena itu jika hipotalamus terganggu maka mekanisme pengaturan suhu tubuh juga akan
terganggu dan mempengaruhi thermostat tubuh manusia. Mekanisme pengaturan suhu tubuh
manusia erat kaitannya antara kerja sama system syaraf baik otonom, somatic dan endokrin.
Sehingga ketika membahas mengenai pengaturan suhu oleh system persyarafan maka tidak
lepas pula kaitannya dengan kerja system endokrin terhadap mekanisme pengaturan suhu
tubuh seperti TSH dan TRH. Adapun macam-macam suhu dalam termoregulasi yaitu :
Suhu inti (core temperature)
Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala, dada, abdomen) dan
dipertahankan mendekati 37C.
Suhu kulit (shell temperature)
Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini
berfluktuasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature)
Suhu ini merupakan suhu rata-rata gabungan suhu inti dan suhu kulit.




Asal Panas padaTubuh Manusia
Panas merupakan energi kinetik pada gerakan molekul. Tubuh manusia merupakan
organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu
lingkungan (mahluk berdarah panas). Suhu tubuh dihasilkan dari :
1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR)
2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot akibat
menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon lain,
misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan
simpatis pada sel.
5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama
bila temperatur menurun.

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh Manusia
Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh adalah suatu
kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yaitu: Preoptic area. Area ini
menerima impuls-impuls syaraf dari termoreseptor dari kulit dan membran mukosa serta dalam
hipotalamus. Neuron-neuron pada area peroptic membangkitkan impuls syaraf pada frekwensi
tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika suhu tubuh menurun. Impuls-
impuls syaraf dari area preoptic menyebar menjadi 2 bagian dari hipotalamus diketahui sebagai
pusat hilang panas dan pusat peningkatan panas, dimana ketika distimulasi oleh area preoptic,
mengatur kedalam serangkaian respon operasional yang meningkatkan dan menurunkan suhu
tubuh secara berturut-turut.
Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan
oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.



Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh . Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti
konstan pada 37C. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu
panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila
suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang
disebut titik tetap (set point). Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan
tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan
konstan.
Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu
suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga
pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37C). Selain itu, ada suhu
permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan
lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 30C sampai 40C.
Tabel Perbedaan derajat suhu normal pada berbagai kelompok usia

Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh:
1. The mercury-in-glass thermometer
2. The electrical digital reading thermometer
3. A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu timfani)

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
Dalam sistem pengaturan suhu tubuh, ada saja faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan suhu pada tubuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh yaitu :
1. Variasi diurnal
Suhu tubuh bervariasi pada siang dan malam hari. Suhu terendah manusia yang tidur pada
malam hari dan bangun sepanjang siang terjadi pada awal pagi dan tertinggi pada awal malam.
2. Kerja jasmani/ aktivitas fisik
Setelah latihan fisik atau kerja jasmani suhu tubuh akan naik terkait dengan kerja yang
dilakukan oleh otot rangka. Setelah latihan berat, suhu tubuh dapat mencapai 40C.
3. Jenis kelamin
Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih tinggi daripada wanita. Suhu tubuh
wanita dipengaruhi daur haid. Pada saat ovulasi, suhu tubuh wanita pada pagi hari saat bangun
meningkat 0,3-0,5C.
4. Lingkungan
Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Udara lingkungan yang lembab
juga akan meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan penguapan keringat,
sehingga panas tertahan di dalam tubuh.
Suhu tubuh merupakan pencerminan panas tubuh. Sebagaimana energi tubuh yang
mengikuti hukum termodinamika, panas tubuh sebagai salah satu bentuk energi juga mengikuti
hukum tersebut. Suhu tubuh merupakan hasil imbangan antara pembentukan panas dengan
kehilangan panas. Selain faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh diatas, masih ada
faktor-faktor lain yang tidak jauh berbeda atau lebih detilkan yaitu sebagai berikut :
1. Kecepatan metabolisme basal
2. Rangsangan saraf simpatis
3. Hormon pertumbuhan
4. Hormon tiroid
5. Hormon kelamin
6. Demam ( peradangan )
7. Status gizi
8. Aktivitas
9. Gangguan organ
10. Lingkungan

Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung pada tingkat
metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh:
1. BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid.
2. Aktivitas otot, terjadi penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan panas.
3. Termogenesis menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang merupakan upaya tubuh
untuk mempertahankan suhu tubuh selama terpapar dingin.
4. Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis)
Hal ini terjadi pada bayi baru lahir. Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada
bayi baru lahir, brown fat ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat berbeda
dengan lemak biasa, ukurannya lebih kecil, mengandung lebih banyak mitokondria, banyak
dipersarafi saraf simpatis, dan kaya dengan suplai darah.

Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh berubah ada 2, yaitu :
1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat (mekanisme yang diaktifkan oleh panas):
a. Vasodilatasi : disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior
(penyebab vasokontriksi) sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang
memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat
lebih banyak.
b. Berkeringat : pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui
evaporasi.
c. Penurunan pembentukan panas : Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti
termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.

2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun (mekanisme yang diaktifkan oleh dingin):
a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh : karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus
posterior.
b. Piloereksi : Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel
rambut berdiri.
c. Peningkatan pembentukan panas : sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme
menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi
tiroksin.

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit
Panas dapat hilang dan masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara konveksi, konduksi,
radiasi dan evaporasi :
1. Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah.
Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20
mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi
merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh
mekanisme kehilangan panas.
2. Konduksi
Proses perpindahan kalor secara konduksi bila dilihat secara atomik merupakan pertukaran
energi kinetik antar molekul (atom), dimana partikel yang energinya rendah dapat meningkat
dengan menumbuk partikel dengan energi yang lebih tinggi. Konduksi terjadi melalui getaran
dan gerakan elektron bebas. Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit
dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh.
3. Konveksi
Apabila seceret kopi diletakkan di atas kompor listrik yang panas maka enegi dalam ceret akan
meningkat yang disebabkan oleh konveksI. Apabila kalor berpindah dengan cara gerakan
partikel yang telah dipanaskan dikatakan perpindahan kalor secara konveksi. Aliran konveksi
dapat terjadi dikarenakan massa jenis udara panas sangat ringan dibandingkan massa jenis
udara dingin
4. Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu
gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58
kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar
450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12
16 kalori per jam.
Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara
terus menerus melalui kulit dan sistem pernafasan. Enegi panas mula-mula akan penetrasi
kedalam jaringan kulit dalam bentuk berkas cahaya (dalam bentuk radiasi atau konduksi)
kemudian akan menghilang didalam jaringan yang lebih dalam berupa panas, panas tersebut
kemudian diangkut ke jaringan lain dengan cara konveksi yaitu diangkut ke jaringan seluruh
tubuh melalui cairan tubuh, dan energi panas akan dikeluarkan melalui evaporasi (keringat)

Fisiologi Terkait Dengan Mekanisme Pengaturan Suhu

Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus
anterior dan hipotalamus posterior. Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan
hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat. Hipotalamus posterior (PH/ POA)
berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil, menggigil,
meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon tiroid dan mensekresi
epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal metabolisme rate. Jika terjadi
penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi mekanisme homeostasis yang membantu
memproduksi panas melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu
tubuh ke arah normal (Tortora, 2000). Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan
impuls syaraf ke area preoptic dan pusat peningkata panas di hipotalamus, serta sel
neurosekretory hipotalamus yang menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon)
sebagai tanggapan.hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang
sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk melepaskan TSH
(Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan
beberapa organ efektor. Berbagai organ efektor akan berupaya untuk meningkatkan suhu
tubuh untuk mencapai nilai normal, diantaranya adalah :
Impuls syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf sipatis yang menyebabkan
pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi menurunkan aliran
darah hangat, sehingga perpindahan panas dari organ internal ke kulit. Melambatnya
kecepatan hilangnya panas menyebabkan temperatur tubuh internal meningkatkan reaksi
metabolic melanjutkan untuk produksi panas.
Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal merangsang pelepasan
epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah. Hormon sebaliknya , menghasilkan
peningkatan metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas.
Pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang meningkatkan tonus otot dan
memproduksi panas. Tonus otot meningkat, dan terjadi siklus yang berulang-ulang yang
disebut menggigil. Selama menggigil maksimum, produksi panas tubuh dapat meningkat 4x
dari basal rate hanya dalam waktu beberapa menit.
Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan lebih hormon tiroid
kedalam darah. Peningkatan kadar hormon tiroid secara perlahan-lahan meningkatkan
metabolisme rate, dan peningkatan suhu tubuh.

Jika suhu tubuh meningkat diatas normal maka putaran mekanisme feed back negatif
berlawanan dengan yang telah disebutkan diatas. Tingginya suhu darah merangsang
termoreseptor yang mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic, dimana sebaliknya
merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat peningkatan panas. Impuls syaraf
dari pusat penurun panas menyebabkan dilatasi pembuluh darah di kulit. Kulit menjadi hangat,
dan kelebihan panas hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi bersamaan dengan
peningkatan volume aliran darah dari inti yang lebih hangat ke kulit yang lebih dingin. Pada
waktu yang bersamaan, metabolisme rate berkurang, dan tidak terjadi menggigil. Tingginya
suhu darah merangsang kelenjar keringat kulit melalui aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat
air menguap melalui permukaan kulit, kulit menjadi lebih dingin. Respon ini melawan efek
penghasil panas dan membantu mengembalikan suhu tubuh kembali normal.




B. TERMODINAMIKA DAN METABOLISME
Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa total energy di dunia adalah konstan,
energy tidak dapat diciptakan maupun dihancurkan. Oleh karena itu semua energy yang ikut
andil dalam hidup kita dapat dihitung.
Energy tubuh = energy masuk energy keluar
Energy masuk merupakan energy yang berasal dari makanan yang merupakan sumber energy.
Energy didapatkan dari ikatan kimia pada makanan yang diuraikan untuk kemudian dalam
bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi pada ATP. Energy ini dapat digunakan untuk melakukan
kerja biologis atau disimpan didalam tubuh untuk kebutuhan nanti.
Energy keluar merupakan jumlah energy yang dikeluarkan oleh tubuh, yang merupakan
kombinasi antara kerja dan panas yang dilepaskan kelingkungan. Persamaan untuk energy
keluar sebagai berikut : n, sedan
Energy keluar = kerja + panas yang dilepaskan

Kerja dapat dibagi dua yaitu kerja eksternal dan internal. Kerja eksternal merupakan energy
yang dikeluarkan saat otot rangka berkontraksi untuk menggerakkan objek eksternal atau
menggerakkan tubuh terhadap lingkungkungan, sedangkan kerja internal merupakan
pengukuran energy biologis yang tidak berhubungan dengan kerja mekanik diluar tubuh. Kerja
internal mencakup dua tipe aktivitas yaitu kerja otot rangka selain kerja mekanik, seperti
postural dan menggigil, dan energy untuk mempertahankan hidup, seperti kerja jantung dan
bernapas, yang biasa juga disebut metabolic cost of living .
Tidak semua energy yang keluar tubuh merupakan suatu kerja. Energy keluar yang tidak
digunakan untuk mendukung kerja merupakan panas yang dilepaskan atau energy termal. Dari
total energy yang masuk ke dalam tubuh, sekitar 75 % menjadi panas dan hanya 25 % yang
dimanfaatkan untuk bekerja. Akan tetapi panas yang dihasilkan tersebut tidak sia-sia., karena
sebagian besarnya digunakan untuk mempertahankan temperature tubuh.

Terdapat tiga kemungkinan bentuk keseimbangan energy, antara lain :
Keseimbangan energy netral :
Keseimbangan yang terjadi apabila energy yang masuk ke dalam tubuh sama persis dengan
energy yang keluar. Pada kondisi ini berat pada akan tetap.
Keseimbangan energy positif
Keseimbangan yang terjadi apabila jumlah energy yang masuk tubuh lebih besar daripada
energy yang keluar. Energy yang masuk kedalam tubuh dan tidak digunakan akan disimpan
didalam tubuh, terutama sebagai jaringan adiposa, sehingga berat badan bertambah.

METABOLISME
Manusia memerlukan energi yang berasal dari lingkungannya untuk kehidupannya. Energy,
didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja. Sumber energi tubuh adalah
karbohidrat, lemak, protein (termasuk vitamin, mineral dan air). Agar dapat digunakan, sumber
energi harus dirubah menjadi ATP (adenosin triphosphat) melalui bantuan katalisator berupa
enzim. ATP merupakan komponen berenergi tinggi yang diperlukan untuk kontraksi otot dan
melaksanakan fungsi sel yang lain. Perubahan sumber energi dilaksanakan melalui rantai
metabolisme. Energi dalam tubuh dibutuhkan untuk :
1. kinerja (bio)-kimiawi, untuk mensintesis komponen sel yang diperlukan,
menempertahankan dan mengubah sumber energi di dalam tubuh,
2. Kinerja mekanis, untuk kerja otot;
3. Transport work pumping of substances across membrane
4. Kinerja elektrokimia, untuk kerja saraf, otot, transpor aktif, pertukaran ion, membentuk
perbedaan konsentrasi ion, dan transmisi impuls syaraf.
Energi dapat dijumpai dalam beberapa macam, antara lain :
(1) Energi potensial : adalah kapasitas melakukan kerja,
(2) Energi kinetik : adalah energi untuk bergerak,
(3) Energi termal : berupa panas (berasal dari transfer energi ke ATP),
(4) Energi kimia: adalah energi potential molekules yang dapat diukur dengan satuan Kalori
(=Kal).
Beberapa reaksi kimia yang memerlukan energi ATP hanya menggunakan beberapa ratus kalori
dari 8 kkal yang tersedia untuk kerja, sehingga sisa energi ini akan dirubah dalam bentuk panas.
Mekanisme umum perubahan zat gizi (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi energi di semua
sel pada dasarnya sama, yaitu menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama untuk
membentuk energi. Energi digunakan untuk membentuk sejumlah besar Adenosine
TriPosphate (ATP). Selanjutnya, ATP tersebut digunakan sebagai sumber energi bagi banyak
fungsi sel. ATP merupakan senyawa kimia labil yang terdapat di semua sel, dan semua
mekanisme fisiologis yang memerlukan energi untuk kerjanya mendapatkan energi langsung
dari ATP. ATP adalah suatu nukleotida yang terdiri dari basa nitrogen adenin, gula pentosa
ribosa dan tiga rantai fosfat. Dua rantai fosfat yang terakhir dihubungkan dengan bagian sisa
molekul oleh ikatan fosfat berenergi tinggi yang sangat labil sehingga dapat dipecah seketika
bila dibutuhkan energi untuk meningkatkan reaksi sel.
Enzim-enzim oksidatif yang mengkatalis perubahan Adenosine Diphospate (ADP) menjadi ATP
dengan serangkaian reaksi menyebabkan energi yang dikeluarkan dari pengikatan hidrogen
dengan oksigen digunakan untuk mengaktifkan ATPase dan mengendalikan reaksi untuk
membentuk ATP dalam jumlah besar dari ADP. Bila ATP di urai secara kimia sehingga menjadi
ADP akan menghasilkan energi sebesar 8 kkal/mol, dan cukup untuk berlangsungnya hampir
semua langkah reaksi kimia dalam tubuh.
Dalam produksi energi, terdapat dua macam metabolisme, yaitu:
1. Anaerob (tanpa oksigen), hanya untuk karbohidrat, terjadi di sitosol.
2. Aerob (dengan oksigen), karbohidrat, lemak, dan protein, terjadi di mitokondria.
Setiap mol glukosa dalam proses anaerob yang terjadi di sitoplasma/sitosol menghasilkan 2
ATP, sedangkan pada proses aerob yang terjadi di mitokondria menghasilkan 36 ATP, sehingga
total produksinya sebanyak 38 ATP (304 kkal/mol). Tiap mol glukosa dapat memberikan energi
sebesar 686 kkal, sehingga energi yang tersisa dirubah dalam bentuk panas, kecuali di otot yang
digunakan untuk melakukan beberapa bentuk kerja di luar tubuh. Hasil dari proses
metabolisme yang terjadi di otot, berupa kumpulan proses kimia yang mengubah bahan
makanan menjadi dua bentuk, yaitu energi mekanik dan energi panas. Proses dari pengubahan
makanan dan air menjadi bentuk energi. Sedangkan untuk setiap mol lemak menghasilkan 2340
kkal (3,5 kali dibanding glukosa) atau sebanyak 146 ATP.
Laju Metabolikbolik
Laju Metabolikbolik adalah laju dipergunakannya energy oleh tubuh baik untuk kerja eksternal
maupun internal . laju metabolic secara normal dinyatakan sebagai laju panas yang dibebaskan
selama terjadinya berbagai reaksi kimia disemua sel tubuh. Laju metabolic dapat dirumuskan
melalui persamaan berikut.
laju metabolic : Energi keluar / Satuan Waktu
eleh karena kebanyakan energy keluar tapak sebagai panas, maka untuk perhitungannya
digunakan satuan panas, yaitu kalori atau kilokalori (1000xkalori;kcal). Energy yang dihasilkan
oleh oksidasi karbohidrat dan protein adalah 4 kcal/g. sedangkan dar lemak adalah 9 kcal/g.
laju metabolic dapat diukur dengan mengukur jumlah total panas yang dihhasilkan tubuh dalam
kurun waktu tertentu. Pengukuran total panas tubuh secara langsung sangat sulit dilakukan,
oleh karena itu dilakukan beberapa metode tidak langsung. Salah ssatu metodde tidak langsung
yang sering dilakukan adalah mengukur laju pemakaian oksigen. Metode ini dilakukan karena
metode pembentukan ATP paling efisien dilakukan dengan penggunakan oksigen.

C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H20 + ENERGY
Sebagian besar energi yang dirubah menjadi panas digunakan untuk :
membentuk panas inti di dalam tubuh.
menyiapkan suhu optimal untuk kerja enzim.
merenggangkan sistem arteri sehingga menyebabkan reservoar energi potensial. Pada saat
darah mengalir melalui pembuluh darah kapiler, gesekan dari lapisan darah yang mengalir satu
sama lain terhadap dinding pembuluh mengubah energi ini menjadi panas.

Jalur Reaksi Metabolisme
Sebagian besar jalur reaki metabolisme terjadi secara reversibel. Berdasarkan reaksi
metabolisme ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu :
(1) Biosynthetic atau ANABOLISME sintesis molekul menjadi molekul yang lebih besar; mem-
butuhkan energi; dan merupakan reaksi endergonik
(2) Degradative atau KATABOLISME memecah molekul besar menjadi mulekul yang lebih
kecil; menghasilkan energi; merupakan reaksi eksergonik; dan respirasi aerobik.
Enzim merupakan molekul katalitik (biological catalysts); yang berfungsi mempercepat reaksi
bikimiawi; tersusun dari protein dan beberapa dari RNA. Fungsi enzim semakin meningkat
ketika lingkungan sel berada dalam temperatur, pH dan salinitas yang sesuai dengan kerja
masing-masing enzim.
Metabolisme Karbohidrat
Metabolisme karbohidrat meliputi : (1) Glikolisis (2) Glukoneogenesis, (3) glikogenolisis, (4)
Glicogen synthesis, (5) metabolism Galaktose, (6) metabolism fruktose and manose, (7)
Glyoxylate pathway, dan (8) siklus asam sitrat (Krebs) (lihat teksbook biokimia).


Metabolisme Lemak
Reaksi metabolisme lemak meliputi : (1) Lipolisis (hormone sensitive lipase), (2) Carnitine shuttle
(fatty acid uptake), (3) Mitochondrial -oxidation, (4) Peroxisomal -oxidation, (5) Glycerol
catabolism, (6) Fatty acid synthesis, (7) Fatty acid elongation and desaturation, (8)
Triacylglyceride synthesis, (9) Phospholipids biosynthesis, (10) Synthesis and utilization of
ketone bodies, (11) Sphingolipid and ceramide synthesis (lihat teksbook biokimia).
Metabolisme Energi
Reaksi metabolisme energi terjadi melalui : (1) Posporilasi Oksidative, dan (2) sintesis ATP (lihat
teksbook biokimia).

Kecepatan Metabolisme
Kecepatan metabolisme adalah jumlah energi total yang dibutuhkan per unit waktu.
Pengukuran kecepatan metabolisme menggunakan Basal metabolic rate (BMR). BMR adalah
kecepatan metabolisme dalam keadaan standar (subjek dalam keadaan fisik dan dan mental
istirahat tetapi tidak tidur dalam temperatur nyaman dan tidak makan selama 12 jam). Pada
kondisi BMR, energi sebagian besar digunakan untuk mempertahankan kondisi vegetatif tubuh
atau untuk aktivitas kelenjar, jantung, liver, ginjal dan otak.
Proses metabolisme juga dikontrol oleh hormon-hormon. Hormon yang ikut meregulasi
metabolisme adalah hormon tiroid, glukagon, epinephrine, kortisol, dan hormon pertumbuhan.
1. Hormon Tiroid, dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas pada
sebagian besar jaringan tubuh, yang disebut dengan efek kalorigenik, melalui
mengurangan produksi ATP
2. Epinephrine, meningkatkan BMR dengan efek kalorigenik. Epinephrine menstimulasi
katabolisme glikogen dan triasilgliserol.
3. Glukagon, merangsang pembongkaran simpanan glukosa hingga gula darh kembali
normal (glikogenolisis), dan meningkatkan penggunaan lemak (lipolisis).
4. Kortisol, menghambat metabolisme lemak dan karbohidrat, dengan menstimulasi
proses glukoneogenesis dan lipolisis, meningkatkan protein katabolisme, menurunkan
penyerapan glukose pada sel otot dan sel lemak, dan meningkatkan pemecahan
triasilgliserol.
5. Growth hormone, menstimulasi pertumbuhan dan anabolisme protein.