Anda di halaman 1dari 36

INFEKSI UROGENITALIA

(P.FOURNIER,
UROSEPSIS,CANCHROID)
INDRANU NANGGALA PRATAMA
111.0211.004
Peny. Fournier
PENYAKIT
FOURNIER
PENDAHULUAN
Gangrene fournier pertama kali dilaporkan o/
baurienne 1764, hebber 1848.
Jean Alferd Fournier adalah orang yang
menghubungkan keadaan penyakit ini di
daerah khusus di tubuh, yaitu skrotum
Tanda kardinal:
Onset mendadak
Cepat berkembang menjadi gangrene
Idiopatik

DEFINISI
Bentuk dari fasitis nekrotikan yang terdapat di
sekitar genitalia eksterna pria, onset sangat
mendadak, cepat berkembang, dapat menjadi
gangren yang luas dan dapat terjadi septikemia
Fasitis nekrotikan infeksi fulminan dan
membentuk gas pada fasia superfisialis dan
profunda, menyebabkan trombosis pembuluh
subkutan dan gangren yang cepat meluas pada
jaringan dibawahnya
ETIOLOGI
13-50% infeksi kolorektal
Abses (perianal,perirektal,isorektal)
Perforasi(kanker kolon,instrumentasi,divertikulus)
17-87% infeksi urogenitalia
Striktura uretra (ekstravasasi
urin,balanitis,instrumentasi uretra)
Trauma lokal
Infeksi kulit di sekitar genitalia
Lain-lain(DM,alkoholisme,higiene skrotum (<),
AIDS) f.predisposisi
GEJALA KLINIS
Demam sampai tinggi
toksemia,syok dan delirium
Lokalisasi tampak edem, nyeri,
teraba hangat, eritematosus
Gangren berbau menjalar ke
perineum dan abdomen
Luka infeksi progesif ( 2-3
cm/jam) krepitasi (infeksi
kuman pembentuk gas) fase
lanjut terjadi gangrene
nekrosis luas, plak berwarna
hitam dan hijau, sekret sangat
bau
Terdapat infeksi polimikroba

MO gram -,gram +, anaerobik
Gangren terjadi dalam 2 bentuk :
Setelah infeksi MO aerobik dan anaerobik diikuti
DM atau luka operasi
Infeksi streptokokus A dengan infeksi sekunder
stafilokokus aureus, E.coli
TERAPI
Antibiotik sprektum luas penisilin, klindamisin atau
aminoglikosida
Debridement
Pemberian oksigen
Perawtan luka dengan hidroterapi + rendam duduk
hangat
Pemberian hidrogen peroksida
Madu belum diproses membersihkan jaringan
nekrotik secara enzimatik, mengurangi
bau,mensterilkan luka, menyerap air dari luka,
memperbaiki oksigenasi jaringan dan meningkatkan re-
epitelisasi
UROSEPSIS
DEFINISI
keadaan Kriteria
SIRS (systemic
inflamasi Respon
Syndrome)
2 dari beberapa kriteria ini:
Suhu >38c atau <36c
N>90
R >20 atau PaC02 <32
Leukosit darah >12000 atau <4000/dl atau >10% bentuk
leukosit muda
Sepsis SIRS dengan tanda2 infeksi
Sepsis berat Sepsis disertai dengan hipotensi (sistol<90mmhg), atau
terdapat disfungsi organ, atau hipoperfusi pada salah satu
gejala ( hipoksemi, peningkatan as. Laktat, oligouri)
Syok septic Sepsis disertai dengan hipotensi dan hipoperfusi
DEFINISI
Sepsis yang disebabkan oleh mikobakteria
yang berasal dari saluran urogenitalia
EPIDEMIOLOGI
Di AS (1979-2000) peningkatan rata2 8,7%
/tahun
laki2>wanita
Angka mortalitas 17,9%
Bila diikuti disfungsi organ multiple 70%
Bila tidak 15%
ETIOLOGI
Bakteri gram (-) flora normal pada saluran
gastrointestinal 30-80%
Bakteri gram (+) 5-14%
E. coli tersering menyebabkan sepsis
Pseudomonas dan Klebsiella paling viluren
FAKTOR RESIKO
Obstruksi saluran kemih (batu saluran
kemih,hiperplasia prostat, keganasan)
hidronefrosis pionefrosis
DM
Usia tua
Imunocompremised
instrumensi
PATOFISIOLOGI
OBSTRUKSI kurangnya mengeliminasi MO
dari trak. Urinarius mudah berkembang
biak menembus mukosa saluran
kemihsirkulasi darah menghasilkan
endositoksin (komponen lipid A) yang
menyebabkan
Aktifasi monosit atau makrofag shg menghasilkan
beberapa sitokin :
TNF dan Il-1 sepsis sepsis berat syok
sepsis disfungsi multi organ (MODS)
Sistem komplemen c3a dan c5a agregasi trombosit
dan produksi radikal bebas naiknya faktor koagulasi
Perubahan metabolisme (karbo,lemak,protein,oksigen)
Resistensi sel terhadap insulingluko tidak dapat maasuk
ke dalam jaringanterjadi glukoneogenesis (katabolisme
lemak dan protein)

GEJALA KLINIS (tabel)
Demam,menggigil,hipotensi,takikardi dan
takipneu yang diawali o/:
Sistisis
Pielonefritis
Epididimitis
Prostatitis akut
Nyeri pinggang
Keluhan miksi
Pasca katerisasi atau pembedahan pada sal. kemih

Bila sepsis berlanjut
Kardiovaskuler : syok akibat menurunnya
resistensi arteriole
Ginjal : nekrosis pada tubulus ginjal ditandai
oleh azotemi, oligiuri,anuria
Pencernaan : disfungsi hepar ikterus akibat
kolektasis, peningkatan bilirubin sampai 10 g/dl
bilirubin direk 80%, peningkatan fosfatase
alkali perdarahan saluran cerna, dan gangguan
perfusi pada mukosa sal. Cerna
Pernafasan : takipneu bila berlanjut ARDS
Saraf : bingung, letargi stupor dan koma
DIAGNOSIS
Anamnesis gejala klinis
Kultur darah bakteri sama dengan pada urin
Px labolatorium dan ISK complicated
Antibiotik spektrum luas dan mencakup semua
kuman yang sering menyebabkan urosepsis yaitu
golongan
aminoglikosida (gentamisin, tobramisin atau amikasin)
golongan ampicilin yang dikombinasi dengan asam
klavulanat atau sulbaktam,
golongan sefalosforin generasi ke III atau golongan
florokuinolon. Sefalosforin generasi ke-3 dianjurkan
diberikan 2 gr dengan interval 6-8 jam dan untuk
golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan
interval 12 jam.

Antibiotik spektrum luas dan
mencakup semua kuman yang
sering menyebabkan urosepsis
yaitu golongan
aminoglikosida (gentamisin,
tobramisin atau amikasin)
golongan ampicilin yang
dikombinasi dengan asam
klavulanat atau sulbaktam,
golongan sefalosforin generasi
ke III atau golongan
florokuinolon. Sefalosforin
generasi ke-3 dianjurkan
diberikan 2 gr dengan interval
6-8 jam dan untuk golongan
cefoperazone dan ceftriaxone
dengan interval 12 jam.


Aminoglikosida
Bersifat nefrotoksik sehingga
perlu dilakukan penyesuaian
dosis dengan memprpendek
atau memperpanjang interval
dengan kaidah rule of eight
(trobamisin dan gentamisin)
jika kadar kreatinin 3, maka
8x3=24 jam sekali
Rule of nine ( amikasin)
9x3=27 jam sekali
pemberian dilanjutkan hingga
3-4 hari setelah pasien bebas dari
panas
Penelitian oleh Naber et al membuktikan bahwa
pemberian antibiotik injeksi golongan florokuinolon
dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk
terapi urosepsis.
Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini
terhadap levofloksasin membuktikan bahwa
levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek
pada ekskresi renal dan tersedia dalam bentuk injeksi
intravena dan oral

Resusitasi cairan, elektrolit dan asam basa,
Bila penderita dengan hipotensi atau syok (tensi <>2O dan diberikan
larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.4,8
Bila K serum 7 meq/L atau lebih perlu dilakukan hemodialisa.
Hemodialisa juga diperlukan bila terdapat Kreatinin serum > 10
mg%, BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru.
Drainase yang segera perlu dikerjakan bila terdapat timbunan
nanah misalnya pyonefrosis atau hidronefrosis berat (derajat IV).
Pyonefrosis dan hidronefrosis yang berat menyebabkan terjadinya
iskemia sehingga mengurangi penetrasi antibiotika. Drainase dapat
dikerjakan secara perkutan atau dengan operasi biasa (lumbotomi).
TERAPI SUPORTIF TERHDAP PENYULIT
SEPSIS
GANGGUAN ORGAN TINDAKAN SPESIFIK
Hemodinamik (syok) Ekspansi cairan dengan kristaloid (RL) 1000 ml 15-20
menit dengan monitor CVP, jika CVP <14 cm H20
diteruskan 20-30 menit
Pemberian dopamin secara titrasi 2-5 ug/kg/menit
dengan monitor TD dan urine
Ginjal Jika hidrasi cukup namun produksi urine masih kurang
diberikan manitol iv 12,5 g dalam 5 menit atau
flurosemid 240 mg hingga produksi 30-40 ml/jam
Hemodialisis jika perlu
Gagal jantung Digitalisasi ( oleh ahli kardiologi)
Paru- paru Ventilasi O2 5-8 l/ menit, keseimbangan asam basa dan
elektrolit paO2 dipertahankan 70-90mmHg dan PaCO2
32-40 mmHg
DIC Dextran 1-2 unit naiknya vol. intravaskuler dan
menurunkan viskositas darah
Pemberian heparin 1v. 1000-2000 u/ 4-6 jam
Keseimbangan asam basa
dan elektrolit
Koreksi asam basa dan elektrolit
CANCHROID
DEFINISI
Penyakit infeksi genital akut, setempat, dapat
inokulasi sendiri (auto-inoculable), disebabkan
oleh Haemophilus ducreyi (Streptobacillus
ducreyi), dengan gejala klinis khas berupa
ulkus pada tempat masuk dan seringkali
disertai supurasi kelenjar getah bening
regional.

ETIOLOGI
H.Ducreyi
Bentuk : batang pendek dengan ujung
bulat, tidak bergerak
Susunan : rantai pendek maupun
panjang atau berpasangan
secara parallel
Warna : -
Sifat : parasit atau patogen
Pewarnaan : gram (-)

Sistem klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria
Order : Pasteurellales
Family : Pasteurellaceae
Genus : Haemophilus
Species : H. ducreyi
Binominal name : Haemophilus ducreyi
FAKTOR RESIKO
Banyak terdapat di daerah tropis dan
subtropis.
Kebersihan dan hygiene berperan penting
dalam penyebaran penyakit.
Imunosupresed (HIV)

GEJALA KLINIS
Masa inkubasi sekitar 1-5 hari.
Lesi mula-mula berbentuk
macula atau papul yang segera
berubah menjadi pustule yang
kemudian pecah membentuk
ulkus yang khas, antara lain:
Multiple.
Lunak.
Nyeri tekan.
Dasarnya kotor dan mudah
berdarah.
Tepi ulkus menggaung.
Kulit sekitar ulkus berwarna
merah.


Lokasi ulkus pada pria terletak di daerah preputium,
glans penis, batang penis, frenulum dan anus;
sedangkan pada wanita terletak di vulva, klitoris,
serviks, dan anus. Lokasi ekstragenital pada lidah, bibir,
jari tangan, payudara, umbilicus, dan konjungtiva.
Pembesaran kelenjar limfe inguinal tidak multiple,
terjadi pada 30% kasus yang disertai radang akut.
Kelenjar kemudian melunak dan pecah dengan
membentuk sinus yang sangat nyeri disertai badan
panas.
ulkus pada penis

KLASIFIKASI
Giant chancroid: ulkus hanya satu
dan meluas dengan cepat serta
bersifat destruktif.
Transient chancroid: ulkus kecil
sembuh sendiri setelah 4-6 hari,
disusul perlunakan kelenjar limfe
inguinal 10-20 hari kemudian.
Ulkus mole serpiginosum: terjadi
inokulasi dan penyebaran dari lesi
yang konfluen pada preputium,
skrotum, dan paha. Ulkus dapat
berlangsung bertahun-tahun.

Ulkus mole gangrenosum: suatu
varian yang disebabkan superinfeksi
dengan bakteri fusosprikhetosis,
sehingga menimbulkan ulkus
fagedenik. Dapat menyebabkan
destruksi jaringan yang cepat dan
dalam.
Ulkus mole folikularis (follicularis
chancroid): timbul pada folikel
rambut, terdiri atas ulkus kecil
multiple. Lesi ini dapat terjadi di
vulva atau pada daerah genitalia yang
berambut. Lesi ini sangat superficial.
Ulkus mole popular (ulcus molle
elevatum): terdiri atas papul yang
berulserasi dan granulomatosa, dapat
menyerupai donovanosis atau
kondiloma lata sifilis stadium II.

PEMERIKSAAN LAB
Pemeriksaan langsung bahan
ulkus yang diambil dengan
mengorek tepi ulkus yang
diberi pewarnaan gram. Pada
sediaan yang positif
ditemukan kelompok basil
yang tersusun seperti barisan
ikan.
Kultur pada media agar coklat,
agar Muller Hinton atau media
yang mengandung serum
dengan vancomysin. Positif
bila kuman tumbuh dalam
waktu 2-4 hari (dapat sampai 7
hari).

Tes serologi ito-Reenstierna,
caranya 0,1 ml antigen
disuntikkan intradermal pada
kulit lengan bawah. Positif bila
setelah 24 jam atau lebih
timbul indurasi yang
berdiameter 5 mm. Hasil
positif setelah infeksi
berlangsung 2 minggu akan
terus positif seumur hidup.
Tes ELISA dengan
menggunakan whole lysed H.
ducreyi.
Tes lain yang dapat digunakan
adalah tes fiksasi komplemen,
presipitin, dan agglutinin.

DIAGNOSIS BANDING
Herpes genitalis: kelainan kulitnya berupa vesikel
berkelompok dan jika memecah menjadi erosi.
Sifilis stadium I: ulkusnya bersih, indolen,
terdapat indurasi, dan tanda-tanda radang akut
tidak ada.
Limfogranuloma venerium: afek primer tidak
spesifik dan ceat hilang. Terjadi pembesaran
kelenjar getah bening inguinal, perlunakannya
tidak serentak.
Granuloma inguinale: ulkus dengan granuloma,
tidak tampak badan Donovan.

PENYULIT
Adenitis inguinal.
Fimosis atau parafimosis.
Fistel uretra.
Fistel rektovagina.

PENATALAKSANAAN
Obat sistemik
Azitromycin 1 gr, oral, single dose.
Seftriakson 250 mg dosis tunggal,
injeksi IM.
Siprofloksasin 2x500 mg selama 3
hari.
Eritromisin 4x500 mg selama 7
hari.
Amoksisilin + asam klavunat
3x125 mg selama 7 hari.
Streptomisin 1 gr sehari selama
10 hari.
Kotrimoksasol 2x2 tablet selama
7 hari.


Obat local
Kompres dengan larutan normal
salin (NaCl 0,9%) 2 kali sehari
selama 15 menit.

Aspirasi abses transkutaneus
dianjurkan untuk yang berukuran 5
cm atau lebih dengan fluktuasi
ditengahnya.