Anda di halaman 1dari 7

HEWAN KHAS DI INDONESIA

1.BEKANTAN (NASALIS LARVATUS)



Habitat atau tempat hidup bekantan adalah pada lahan basah. Mereka banyak ditemukan di
tepi sungai besar, hutan mangrove, dan hutan rawa gambut. Makanan mereka adalah buah-
buahan, dedaunan, dan pucuk-pucuk daun beberapa jenis pohon, di antaranya pohon rambai
(Sonneratia caseolaris), ketiau (Genus monleyana), dan beringin (Ficus sp). Aktivitas mencari
makan biasanya dilakukan saat subuh atau menjelang gelap pada sore hari.

2.JALAK BALI (LEUCOPSAR ROTHSCHILDI)

Di habitat aslinya, jalak bali sangat rawan perburuan sehingga populasinya diperkirakan tinggal belasan.
Selain itu, kerusakan lingkungan yang masih terjadi di Taman Nasional Bali Barat turut menghambat
pertumbuhan populasi burung ini. Tidak mengherankan bila survei terbaru yang dilakukan awal tahun
2005 hanya menemukan lima ekor jalak bali di alam .

3.BANTENG (BOS SONDAICUS)


Banteng hidup dari rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya
aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai
hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua
sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman
Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan
terakhir hewan asli Asia Tenggara ini .
4. GAJAH (ELEPHAS MAXIMUS)

Pernyebaran gajah di Asia meliputi India, Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat dan
Sabah (Malaysia Timur). Sedangkan gajah di Afrika pernyebarannya meliputi sebagian besar
daratan Afrika yang berupa padang rumput.

Di Indonesia, gajah terdapat di Sumatera (gajah
Sumatera) dan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (gajah Borneo)

5. BADAK SUMATRA (DECERORHINUS SUMATRENSIS)


Spesies badak di Afrika, badak ini memiliki dua cula. Badak Sumatra terdapat di Taman Nasional Kerinci
Seblat (Bengkulu).


TUMBUHAN KHAS DI INDONESIA
1.KERUING (DIPTEROCARPUS SP)

Keruing atau Dipterocarpus adalah marga pepohonan penghasil kayu pertukangan yang berasal
dari keluarga Dipterocarpaceae. Marga ini memiliki sekitar 70 spesies yang menyebar terutama
di Asia Tenggara; mulai dari India dan Srilanka di barat, melalui Burma, Indocina dan Cina
bagian selatan, Thailand, hingga ke kawasan Malesia bagian barat
[1]
. Di wilayah Malesia,
keruing tersebar di hutan-hutan Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Filipina, Jawa, Bali,
Lombok dan Sumbawa. Jadi umumnya tidak melewati garis Wallace, kecuali yang ditemukan di
Lombok dan Sumbawa
[1]
.
Tumbuhan ini merupakan komponen yang penting dari hutan dipterokarpa

2.MERANTI (SHOREA SP)


Shorea menyebar terutama di Asia Tenggara; ke barat hingga Srilanka dan India utara, dan ke timur
hingga Filipina dan Maluku. Marga ini tidak ditemukan di Nusa Tenggara, akan tetapi fosil kayunya
didapati di sana.
[1]
Di wilayah Malesia, marga ini dijumpai hingga sebanyak 163 spesies
[1]
, dan umumnya
mendominasi tajuk hutan hujan tropika. Pohon angiospermae tertinggi yang terdokumentasi di wilayah
tropika adalah Shorea faguetiana setinggi 88,3m di Taman Nasional Perbukitan Tawau, di Sabah, dan di
taman tersebut sekurangnya masih tercatat 5 spesies lain dari marga yang sama yang memiliki tinggi
pohon mencapai lebih dari 80m, yakni S. argentifolia, S. gibbosa, S. johorensis, S. smithiana and S.
superba
[2]
. Pulau Kalimantan juga merupakan pusat keragaman marga Shorea; sebanyak 138 spesiesnya
didapati di sana, dan 91 di antaranya bersifat endemik
[3

3.RAMIN (GONYSTYLUS BANCANUS)



4. POHON KAPUR (DRYOBALANOPS AROMATICA)

Pohon Kapur di Kalimantan disebut juga sebagai Ampadu, Amplang, Kapur, Kayatan, Keladan, Melampit,
Mengkayat, Mohoi, Muri, dan Sintok. Di Sumatera selain disebut Kapur atau Barus tanaman ini dinamai
Haburuan atau Kaberun.

5. ROTAN (CALAMUS SP )

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga,
dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai
alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak
dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan
mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas.
Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.
Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Malesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan
Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia,
Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.
Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu
menjaga kelestarian hutan, kaerna orang lebih suka memanen rotan daripada kayu .