Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Tingginya angka kejadian bronkitis kronis di Indonesia salah satunya
disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat terhadap masalah kesehatan
pernafasan yang baik (Notoatmodjo, 2007). Bronkitis kronis terjadi ketika unsur-
unsur iritan terhirup selama waktu yang lama. Unsur-unsur iritan ini menimbulkan
inflamasi dinding bronkus pada percabangan trakeobronkial yang menyebabkan
peningkatan produksi mukus dan penyempitan atau penyumbatan jalan napas. Jalan
napas menjadi tersumbat dan terjadi penutupan sehingga memicu timbulnya
inefektifan bersihan jalan napas (Kowalak, 2011:233).
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) DEPKES RI tahun
1992 angka kematian bronkitis kronis menduduki peringkat ke 6 dari 10 sebagai
penyebab tersering kematian di Indonesia. Menurut survei yang pernah dilakukan
PDPI pada penderita bronkitis kronis di 17 Puskesmas Jawa Timur, ditemukan angka
kesakitan 13,5% bronkitis kronik 7,7% (Chandra, 2010). Di RSUD Gambiran pada
tahun 2011 penderita bronkitis kronis sekitar 86 orang sedangkan di ruang sedap
malam prosentase penderita bronkitis kronis sekitar 7% pada tahun 2011.
Pada masalah keperawatan inefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan
dengan bronkitis kronis ini akan menimbulkan dampak penumpukan lendir dan sekresi
yang sangat banyak sehinga dapat menyumbat jalan napas. Protokol pengobatan tertentu
digunakan dalam kelainan ini. Sedangkan pada kenyataanya, segala faktor yang
mengganggu bernapas normal secara alamiah dapat mencetuskan ansietas, depresi, dan
perubahan perilaku ( Bruner & Suddarth, 2002:600).
Tujuan tindakan inefektifan bersihan jalan nafas adalah masalah inefektifan
bersihan jalan napas teratasi. Evaluasi yang dilakukan dengan memastikan tidak
adanya gangguan pada jalan napas dengan kriteria hasil suara napas bersih, tidak ada
sianosis, gelisah, dan dyspnea (Iqbal, 2008). Dalam kasus ini, peran perawat sangatlah
penting. Peran tersebut meliputi : mengajarkan teknik batuk efektif, mengajarkan
teknik relaksasi, memberikan informasi mengenai faktor predisposisi, tanda dan
gejala yang berkaitan dengan bronkitis kronis.
Dengan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk membuat riset tentang
asuhan keperawatan pada kasus inefektifas bersihan jalan napas pada klien dengan
bronkitis kronis.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut : Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus inefektifan bersihan
jalan napas pada klien dengan bronkitis kronis
3. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan pada klien
dengan masalah inefektifan bersihan jalan napas pada kasus bronkitis kronis.
b. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan :
1. Pengkajian dan interpretasi dan data prioritas klien untuk kasus inefektifan
bersihan jalan napas pada klien dengan bronkitis kronis
2. Menetapkan diagnosa atau masalah keperawatan dari kasus inefektifan
bersihan jalan napas pada klien dengan bronkitis kronis
3. Menetapkan tindakan segera (konsultasi, kolaborasi, merujuk) kasus
inefektifan bersihan jalan napas pada klien dengan bronkitis kronis
4. Menetapkan rencana asuhan keperawatan untuk kasus inefektifan bersihan
jalan napas pada klien dengan bronkitis kronis
5. Mengevaluasi efektifitas asuhan yang diberikan akan memperbaiki tindakan
yang dipandang perlu
4. Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini dapat dimanfaatkan oleh institusi maupun profesi dalam
upaya penyempurnaan asuhan keperawatan pada kasus inefektifan bersihan jalan
napas pada klien dengan bronkitis kronis.
a. Institusi
Hasil penulisan ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan penyempurnaan
penanganan klien dengan kasus inefektifan bersihan jalan napas pada klien
dengan bronkitis kronis.
b. Profesi
Sebagai sumbangan teoritis maupun aplikatif bagi profesi keperawatan
dalam asuhan keperawatan pada klien dengan kasus inefektifan bersihan jalan
napas pada klien dengan bronkitis kronis.