Anda di halaman 1dari 2

Proses Terjadinya Gempa Bumi

Adapun penyebab terjadinya gempa bumi adalah:


1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
4. Aktivitas gunung api
5. Ledakan nuklir
Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di
permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga
dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan
batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga
menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir
akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.
Pada dasarnya, para ahli membagi proses terjadinya gempa bumi atau asal muasal gempa ke dalam
dua kelompok besar yakni:
1. Teori Pergeseran Sesar
2. Teori Kekenyalan Elastis atau elastic rebound theory.
Menurut para ahli, gempa yang banyak terjadi disebabkan oleh pergeseran lempengan sepanjang
sesar dan terjadi secara tiba-tiba atau dikenal dengan istilah sudden slip. Hal ini terjadi pada lapisan
kerak bumi. Lebih lanjut para ahli berpendapat bahwa penyebab utama bencana gempa bumi prosesnya
diawali dengan sebuah gaya pergerakan yang terdapay di titik interior bumi. Gaya ini dikenal juga
dengan istilah gaya konveksi mantel. Proses gempa bumi ini dimulai dari gaya konveksi mantel yang
kemudian menekan bagian kerak bumi yang dikenal juga dengan nama outer layer. Kerak ini memiliki
sifat yang rapuh, dengan demikian saat ia tak lagi bisa menahan gaya konveksi mantel ini maka sebagai
akibatnya sesar akan bergeser dan dirasakan manusia sebagai sebuah gempa. Proses gempa bumi yang
satu ini masuk ke dalam jenis gempa tektonik. Tentu jika jenis gempanya vulkanik, buatan, tumbukan
serta runtuhan, maka prosesnya akan berbeda.
Namun, menurut para ahli, dari semua total gempa yang terjadi di seluruh dunia, jenis gempa
tektonik inilah yang mendominasi. Bahkan jenis gempa vulkanik sendiri pun hanya mencapai 7% dari
semua total gempa yang terjadi. Proses terjadinya gempa vulkanik dimulai dari pergerakan material
yang ada di dalam saluran fluida. Gerakan ini biasanya dirasakan sesaat sebelum sebuah gunung berapi
meletus. Untuk jenis gempa buatan yang menggunakan dinamit misalnya, prosesnya terjadi lantaran
ada tekanan yang bersumber dari dinamit tersebut. Ledakan dahsyat dari dinamit akan membuat
wilayah target terguncang dan terjadilah gempa buatan.
Sementara itu, proses terjadinya gempa bumi tumbukan selalu dimulai dari adanya benda luar
angkasa yang berhasil sampai ke permukaan bumi. Benda ini datang dengan kecepatan luar biasa
sehingga saat mencapai badan bumi, tekanan akan dirasasakan dalam bentuk gerakan atau getaran.
Tingkatannya tergantung penuh pada kekuatan benda luar angkasa tersebut.

Proses Terjadinya Tsunami

Tsunami selalu diawali suatu pergerakan dahsyat yang lazim disebut gempa. Meski diketahui bahwa
gempa ini ada beragam jenis, namun 90% tsunami disebabkan oleh pergerakan lempeng di dalam perut
bumi yang letaknya kebetulan ada di dalam wilayah lautan. Akan tetapi perlu juga disebutkan, sejarah
pernah merekam tsunami yang dahsyat akibat meletusnya Gunung Krakatau.
Gempa yang terjadi di dalam perut bumi akan mengakibatkan munculnya tekanan ke arah vertikal
sehingga dasar lautan akan naik dan turun dalam rentang waktu yang singkat. Hal ini kemudian akan
memicu ketidakseimbangan pada air lautan yang kemudian terdorong menjadi gelombang besar yang
bergerak mencapai wilayah daratan.
Dengan tenaga yang besar yang ada pada gelombang air tersebut, maka bangunan di daratan bisa
tersapu dengan mudahnya. Gelombang tsunami ini merambat dengan kecepatan yang tak
terbayangkan. Ia bisa mencapai 500-1000 kilometer per jam di lautan. Dan saat mencapai bibir pantai,
kecepatannya berkurang menjadi 50-30 kilometer per jam. Meski berkurang pesat, namun kecepatan
tersebut sudah bisa menyebabkan kerusakan yang parah bagi manusia.
Jika dicermati proses terjadinya tsunami, dapat dipahami bahwa tak ada campur tangan manusia di
dalamnya. Dengan demikian, manusia tidak memiliki kendali untuk mencegah penyebab tersebut.
Namun, dengan persiapan dan kewaspadaan yang maksimal, dapat meminimalisir dampak bencana
tsunami ini sendiri. Contoh yang baik sudah diperlihatkan Jepang. Meski rawan tsunami, namun
kesadaran rakyatnya mampu menekan jumlah korban akibat bencana tersebut.