Anda di halaman 1dari 16

KETERBUKAAN DIRI REMAJA PENGGUNA TWITTER BERDASARKAN

TAHAP PERKEMBANGAN REMAJA (REMAJA AWAL, REMAJA


TENGAH, DAN REMAJA AKHIR)

Natalia Konradus
Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma
natalia.ks_a2@yahoo.com

ABSTRAK

Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.
Perkembangan remaja dibagi menjadi tiga fase yaitu remaja awal, remaja tengah,
dan remaja akhir. Salah satu tugas perkembangan remaja diantaranya adalah
mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun
wanita. Salah satu cara untuk mengembangkan sebuah hubungan adalah dengan
membuka diri terhadap orang lain. Dengan adanya teknologi yang semakin maju,
keterbukaan diri dapat dilakukan juga di dunia maya, salah satunya di dalam
jejaring sosial twitter. Faktor-faktor keterbukaan diri yang diungkapkan oleh remaja
awal diduga berbeda dengan remaja tengah, dan akhir karena ketiga kelompok
tersebut memiliki karakteristik perkembangan yang cukup berbeda. Oleh karena itu,
penelitian ini ingin membuktikan apakah terdapat perbedaan faktor-faktor
keterbukaan diri yang diungkapkan antara remaja awal, tengah, dan akhir pengguna
twitter. Penelitian ini menggunakan satu set kuesioner yang terdiri dari lima
pengukuran tiap faktor yang dikembangkan oleh Magno, Cuason, dan Figueroa dari
De La Salle University, Manila. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode
purposive sampling yang melibatkan 95 responden, terdiri dari 32 orang remaja
awal, 33 orang remaja tengah, dan 30 orang remaja akhir. Teknik analisis yang
digunakan adalah one way anova yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.647
(p>0.05), sehingga hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang
signifikan pada keterbukaan diri remaja awal, tengah, dan akhir pengguna twitter,
demikian pula antara masing-masing faktor keterbukaan diri yang diungkapkan.
Keterbukaan diri pada tiap kelompok remaja pada penelitian ini berada pada tingkat
sedang, begitu pula pada masing-masing faktor keterbukaan diri yang diungkapkan
tiap kelompok remaja tersebut.

Kata kunci: Keterbukaan diri, remaja awal, remaja tengah, remaja akhir,
twitter.
SELF DISCLOSURE IN TWITTER USER ADOLESCENTS BASED ON
ADOLESCENTS DEVELOPMENTAL STAGE (EARLY ADOLESCENCE,
MIDDLE ADOLESCENCE, AND LATE ADOLESCENCE)

ABSTRACT

Adolescence is a transition from childhood into adulthood. Adolescent development is
divided into three phases, which are early adolescent, middle adolescent, and late
adolescent. One of adolescent developmental task is establishing a new and more
mature relationships with peers, both men and women. One way to develop a
relationship is to open up to others. The advance of technology, providing self-
disclosure in cyberspace, such as in social networking twitter. Self-disclosure factors
which expressed by early adolescents maybe different with middle and late
adolescents because the three groups had quite different developmental
characteristics. Therefore, this study wanted to know if there are differences in self-
disclosure factors expressed among early, middle, and late adolescents of twitter
users. This study used a set of questionnaire consisting of five measurements of each
factor developed by Magno, Cuason, and Figueroa from De La Salle University,
Manila. This quantitative study used purposive sampling method involving 95
respondents, consisting of 32 early adolescents, 33 middle adolescents, and 30 late
adolescents. The analysis technique used is one way anova resulting significance
value of 0647 (p>0.05), so that the results showed no significant differences in
adolescents self-disclosure among early, middle, and late adolescents of twitter
users, as well as between each of the factors of self-disclosure. Self-disclosure on
each group of adolescents in this study were at a moderate level, as well as in each of
the self-disclosure factor expressed by each group.

Key words: Self-disclosure, early adolescents, middle adolescents, late adolescents,
twitter.


PENDAHULUAN

Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan sepanjang
kehidupannya. Pertumbuhan merupakan proses pertambahan secara kuantitatif,
seperti bertambahnya tinggi dan berat badan, sedangkan, perkembangan merupakan
proses pertambahan secara kualitatif, seperti misalnya kematangan dalam sistem
reproduksi atau kematangan dalam emosi. Fase perkembangan manusia merupakan
proses yang panjang, meliputi masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga lanjut
usia. Pada tiap fase perkembangan, manusia mengalami perubahan baik secara fisik
maupun psikologis serta memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan
pada tahap tersebut. Salah satu tahap perkembangan yang penting dalam kehidupan
manusia adalah masa remaja, dimana seseorang mulai meninggalkan masa kanak-
kanaknya untuk mulai mencapai kedewasaan.
Monks (1999) membagi remaja menjadi tiga fase, yaitu remaja awal (12-15
tahun), remaja pertengahan (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun). Pada masa
remaja awal, remaja mengalami pertumbuhan jasmani yang sangat pesat dan
perkembangan intelektual yang sangat intensif, sehingga minat remaja pada dunia
luar sangat besar dan pada saat ini remaja tidak ingin dianggap anak-anak lagi namun
belum bisa meninggalkan pola kekanak-kanakannya. Pada masa remaja pertengahan,
kepribadian remaja terkadang masih bersifat kekanak-kanakan. Namun, pada masa
ini remaja mulai menemukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap
pemikiran filosofis dan etis. Pada rentang usia ini mulai timbul kemantapan pada diri
sendiri. Rasa percaya diri pada remaja menimbulkan kesanggupan pada dirinya untuk
melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang telah dilakukannya. Sedangkan pada
masa remaja akhir, remaja sudah merasa mantap dan stabil. Remaja sudah mengenal
dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan sendiri. Remaja mulai
memahami arah kehidupannya, dan menyadari tujuan hidupnya.
Dengan sifat-sifat yang dimilikinya, remaja dituntut untuk melakukan tugas-
tugas perkembangan tertentu. Salah satu tugas perkembangan remaja menurut
Havinghust (dalam Hurlock, 1990) adalah mencapai hubungan baru yang lebih
matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, oleh karena itu remaja
memiliki keinginan yang tinggi untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di
sekitarnya.
Menurut Jourard (dalam Myers, 2005) sebuah hubungan ditandai dengan
adanya keterbukaan diri. Dengan membuka diri seseorang dapat mengembangkan
rasa saling percaya kepada orang lain sehingga hubungan yang dijalani akan semakin
baik. Keterbukaan diri memiliki arti membuka diri kepada orang lain mengenai
sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri (Higgins, 1982). Menurut Taylor, Peplau,
dan Sears (2009) keterbukaan diri dapat dikatakan sebagai mengungkapkan informasi
atau perasaan terdalam kepada orang lain.
Keterbukaan diri tidak hanya dapat dilakukan secara langsung dengan cara
tatap muka. Perubahan yang semakin cepat dalam teknologi komunikasi-informasi,
menyediakan suatu media yang memudahkan komunikasi antar manusia secara
global (Rahardjo, 2006). Kemajuan teknologi kini menyediakan suatu media
komunikasi yang memberikan fasilitas bagi seseorang khususnya remaja untuk dapat
membuka diri dan menjalin komunikasi dengan orang lain secara online, yaitu
melalui media internet.
Joinson (2001) mengemukakan bahwa komunikasi dalam internet ditandai
dengan adanya tingkat keterbukaan diri yang tinggi. Punnyanunt dan Carter (2006)
menyebutkan salah satu ciri hubungan interpersonal yang terbentuk melalui
komunikasi dalam dunia maya adalah keterbukaan diri. Hasil penelitian Punnyanunt
dan Carter tampak pada fenomena saat ini seperti berjamurnya para pengguna blog.
Banyak individu kini yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam dunia maya
melalui tulisan-tulisan artikel di blog atau situs-situs jejaring sosial seperti facebook,
frindster, twitter, dan lain-lain. Para pengguna blog dan situs jejaring sosial tersebut
memaparkan informasi mengenai dirinya dengan intensitas yang cukup sering.
Twitter merupakan situs jejaring sosial berupa micro-blogging, yang
memfasilitasi pengguna untuk dapat memberikan update (pembaruan) informasi
tentang diri pengguna, bisnis, dan lain sebagainya. Twitter dapat dijuluki SMS of the
internet atau Pesan pendek dalam internet, sebagai program aplikasi internet
untuk mengirim pesan pendek ke aplikasi-aplikasi lain. Pesan pendek tersebut disebut
juga tweet atau kicauan. Tweet adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang
ditampilkan pada halaman profil pengguna.
Masa-masa awal remaja merupakan masa yang sulit, karena remaja
mengalami perkembangan fisik yang cepat sehingga menyebabkan kecanggungan
dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. Hal ini sering menimbulkan perasaan
rendah diri, sehingga remaja akan bersifat lebih tertutup dan sulit untuk membuka diri
terhadap orang lain, Remaja cenderung akan berteman dengan teman sesama jenis
daripada dengan yang berlawanan jenis. Seiring dengan berjalannya waktu, ketika
memasuki masa remaja tengah dan akhir, remaja semakin mantap dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan yang dimilikinya. Emosi menjadi semakin stabil dan
pengungkapan akan identitas diri semakin terbuka.
Penelitian yang dilakukan oleh Papini, Farmer, Clark, Micka, dan Barnett
(1990) pada remaja awal yang berumur 12 15 tahun, menemukan remaja awal
dengan usia yang lebih muda, lebih memilih untuk membuka diri mengenai keadaan
emosionalnya kepada orang tua sedangkan remaja awal dengan umur yang lebih tua
memilih untuk membuka diri kepada teman dekat. Keterbukaan diri pada orang tua
berkaitan erat dengan persepsi remaja terhadap keterbukaan komunikasi dalam
keluarga, kelekatan keluarga, dan kepuasan terhadap hubungan keluarga.
Keterbukaan kepada teman berkaitan erat dengan harga diri remaja di dalam
kelompok kawan sebaya dan perkembangan identitas.
Penelitian yang dilakukan Alwardt (1995) menemukan bahwa remaja pada
usia sekolah menengah membuka diri dengan membicarakan topik-topik yang umum
dan yang khusus, sedangkan remaja pada usia mahasiswa membuka diri dengan
hanya membicarakan topik-topik yang khusus secara lebih mendetail. Selain itu,
dengan bertambahnya usia maka, topik-topik yang dibicarakan dalam usaha untuk
membuka diri kepada orang lain semakin bertambah. Selain itu, banyaknya waktu
dalam mendiskusikan suatu topik bertambah sejalan dengan bertambahnya usia.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui perbedaan
perilaku keterbukaan diri remaja pengguna twitter berdasarkan pada tahap
perkembangan remaja
METODE PENELITIAN

Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) tahapan
perkembangan remaja (sebagai variabel bebas), dan (b) keterbukaan diri (sebagai
variabel tergantung).
Tahapan perkembangan remaja pada penelitian ini mengacu pada pembagian
masa remaja, yang meliputi remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Variabel
tahapan perkembangan remaja dalam penelitian ini akan dikelompokkan berdasarkan
pembagian masa remaja menurut Monks, Knoers, Haditono, dan Rahayu (1999),
yaitu masa remaja awal adalah remaja yang berusia antara 12 sampai 15 tahun,
remaja tengah adalah remaja yang berusia antara 15 sampai 18 tahun, dan remaja
akhir adalah remaja yang berusia antara 18 sampai 21 tahun. Namun, pada penelitian
ini sampel remaja tengah akan diambil dari usia 16 sampai 18 tahun, sedangkan
remaja akhir diambil dari usia 19 sampai 21 tahun. Pengelompokan ini dilakukan
untuk mengontrol pengaruh masa transisi yang mungkin dapat mempengaruhi
kondisi-kondisi psikologis subjek penelitian.
Keterbukaan diri dalam penelitian ini adalah perilaku verbal dimana
seseorang mengungkapkan informasi pribadi mengenai diri sendiri kepada orang lain
secara sukarela berupa pikiran, pengalaman, dan perasaan. Variabel keterbukaan diri
dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan skala keterbukaan diri yang
berisi factor-faktor yang ada dalam keterbukaan diri dari Magno, Cuason, dan
Figueroa (2008) yaitu faktor beliefs (keyakinan), faktor relationships (hubungan) ,
faktor personal matters (masalah pribadi), faktor interest (minat atau ketertarikan),
faktor intimate feelings (perasaan intim). Semakin tinggi nilai skor, maka semakin
tinggi keterbukaan diri, sebaliknya semakin rendah nilai skor, maka semakin rendah
keterbukaan diri.

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah remaja awal, remaja tengah, dan remaja
akhir pengguna twitter yang tinggal di Jabodetabek. Sampel penelitian ini adalah
siswa SMP, SMA, mahasiswa dan karyawan berjenis kelamin pria dan wanita yang
tergolong remaja awal (usia 12-15 tahun), remaja tengah (usia 16-18 tahun), dan
remaja akhir (usia 19-21 tahun) sebanyak 95 orang. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah teknik purposive sampling.

Teknik Pengumpulan Data
Daftar isian data diri subjek terdiri dari usia, status, agama, dan sejumlah
pertanyaan yang berhubungan dengan twitter. Usia digunakan untuk menentukan
remaja berada pada tahapan perkembangan remaja awal, remaja tengah, atau remaja
akhir.
Skala keterbukaan diri digunakan untuk mengumpulkan data mengenai
keterbukaan diri remaja. Skala keterbukaan diri yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan adaptasi alat ukur Self Disclosure Scale (SDS) yang dikembangkan oleh
Magno, Cuason, dan Figueroa (2008). Skala ini berisi faktor-faktor yang ada dalam
keterbukaan diri, meliputi faktor beliefs (keyakinan), faktor relationships (hubungan),
faktor personal matters (masalah pribadi), faktor interest (minat atau ketertarikan),
faktor intimate feelings (perasaan intim).

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adanya
perbedaan keterbukaan diri berdasarkan tahapan perkembangan remaja (remaja awal,
remaja tengah, dan remaja akhir) adalah teknik one way anova dengan bantuan
program IBM SPSS Statistic Ver. 20.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Hipotesis
Dari hasil analisis one way anova, diketahui nilai signifikansi keterbukaan diri
sebesar 0.647 (p > 0.05). Dengan demikian dari hasil tersebut terlihat tidak adanya
perbedaan keterbukaan diri antara kelompok remaja awal, remaja tengah, dan remaja
akhir. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis
yang berbunyi Terdapat perbedaan keterbukaan diri pada remaja awal, tengah, dan
akhir pengguna twitter, ditolak.

Uji Perbedaan tiap Faktor dalam Keterbukaan Diri
Dari hasil analisis one way anova, diketahui nilai signifikansi tiap faktor
dalam keterbukaan diri adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Nilai Signifikansi tiap Faktor dalam Keterbukaan Diri

No. Faktor Sig F
1. Belief 0.079 2.615
2. Relationships 0.318 1.162
3. Personal Matters 0.077 2.640
4. Interest 0.993 0.007
5. Intimate Feelings 0.495 0.709

Dengan demikian dari hasil tersebut terlihat tidak adanya perbedaan pada
masing-masing faktor dalam keterbukaan diri antara kelompok remaja awal, remaja
tengah, dan remaja akhir.

Kategorisasi Subjek Penelitian
Berdasarkan hasil deskripsi data penelitian dapat diuraikan mengenai
kategorisasi subjek penelitian. Kategorisasi subjek yang digunakan dalam penelitian
ini berdasarkan perbandingan rerata hipotetik dan rerata empiric. Hasil perbandingan
rerata hipotetik dan rerata empirik pada variabel keterbukaan diri dalam ketiga
kelompok tahapan perkembangan remaja pengguna twitter dapat dilihat pada tabel 1
berikut ini:
Tabel 2
Rerata Empirik dan Rerata Hipotetik Keterbukaan Diri

Kelompok Remaja Rerata Empirik Rerata Hipotetik Standar Deviasi
Hipotetik
Remaja Awal 91.16 92.5 18.5
Remaja Tengah 89.33 92.5 18.5
Remaja Akhir 91.73 92.5 18.5

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan bahwa keterbukaan diri pengguna
twitter baik remaja awal, remaja tengah, maupun remaja akhir termasuk dalam
kategori sedang.

Analisis Faktor dalam Keterbukaan Diri
Dari hasil deskripsi data penelitian dapat diuraikan lagi mengenai kategorisasi
subjek penelitian berdasarkan tiap faktor dalam keterbukaan diri. Kategorisasi per
faktor yang digunakan sama dengan kategorisasi keterbukaan diri secara keseluruhan,
yaitu berdasarkan perbandingan rerata hipotetik dan rerata empiric. Hasil
perbandingan rerata hipotetik dan rerata empirik pada tiap faktor keterbukaan diri
dalam ketiga kelompok tahapan perkembangan remaja pengguna twitter dapat dilihat
pada tabel 1 berikut ini:








Tabel 3
Rerata Empirik dan Rerata Hipotetik Faktor-faktor dalam Keterbukaan Diri

No. Faktor Kelompok
Remaja
Rerata
Empirik
Rerata
Hipotetik
Standar
Deviasi
Hipotetik
1 Belief Remaja Awal 9.47 10 2
Remaja Tengah 9.73 10 2
Remaja Akhir 10.43 10 2
2 Relationships Remaja Awal 22.88 25 5
Remaja Tengah 23.24 25 5
Remaja Akhir 24.20 25 5
3 Personal
Matters
Remaja Awal 15.13 15 3
Remaja Tengah 13.82 15 3
Remaja Akhir 14.30 15 3
4 Interest Remaja Awal 17.47 17.5 3.5
Remaja Tengah 17.45 17.5 3.5
Remaja Akhir 17.40 17.5 3.5
5 Intimate
Feelings
Remaja Awal 26.22 25 5
Remaja Tengah 25.09 25 5
Remaja Akhir 25.40 25 5

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan bahwa tiap faktor keterbukaan diri
yang diungkapkan pengguna twitter baik remaja awal, remaja tengah, maupun remaja
akhir termasuk dalam kategori sedang.

Interpretasi Terhadap Hasil
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan keterbukaan
diri pada remaja pengguna twitter ditinjau berdasarkan tahapan perkembangan remaja
yang meliputi remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Hasil analisis
menemukan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam keterbukaan diri pada
remaja awal, tengah, dan akhir pengguna twitter. Hal ini mungkin disebabkan karena
twitter memang merupakan tempat berbagi informasi, sehingga setiap remaja baik itu
remaja awal, tengah, maupun akhir yang menggunakan twitter akan cenderung untuk
membagikan informasi mengenai dirinya, meskipun ketiga kelompok remaja ini
memiliki karakteristik perkembangan yang cukup berbeda.
Keterbukaan diri subjek dalam ketiga kelompok, yaitu kelompok remaja awal,
remaja tengah, dan remaja akhir pada penelitian ini berada pada tingkat sedang. Hal
ini berarti pada usia remaja awal, tengah, dan akhir dalam penelitian ini memiliki
kecenderungan untuk mengungkapkan informasi pribadi mengenai diri sendiri kepada
orang lain berupa pikiran, pengalaman, dan perasaan di dalam twitter. Namun mereka
dapat memilih dan menentukan informasi-informasi pribadi mana yang dapat
diungkapkan dan mana yang tidak dapat diungkapkan di dalam twitter.
Penulis juga mencoba untuk melihat apakah ada perbedaan antara masing-
masing faktor dalam keterbukaan diri pada remaja awal, tengah, dan akhir pengguna
twitter. Berdasarkan uji One Way Anova, ditemukan tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara faktor-faktor yang terdapat dalam keterbukaan diri pada remaja awal,
tengah, dan akhir pengguna twitter. Analisis lebih lanjut menemukan bahwa kelima
faktor yang terdapat dalam keterbukaan diri, yaitu faktor belief (keyakinan), faktor
relationships (hubungan), faktor personal matters (masalah pribadi), faktor interest
(minat atau ketertarikan), dan faktor intimate feelings (perasaan yang intim) pada
ketiga kelompok remaja pada penelitian ini berada pada tingkat sedang, yang artinya
remaja awal, tengah, dan akhir mengungkapkan berbagai aspek pada diri mereka
dengan cukup terbuka.
Hal ini mungkin terjadi karena ada beberapa anggapan bahwa keterbukaan
diri yang berlebihan kurang baik. Menyampaikan semua informasi pribadi, baik itu
berupa pikiran maupun perasaan secara terang-terangan dianggap kurang pantas,
apalagi kepada orang-orang yang belum dikenal secara langsung. Teman-teman
(follower) di dalam twitter mungkin saja bukan merupakan teman akrab dari
pengguna twitter, melainkan hanya sekedar kenalan yang bahkan belum pernah
bertemu sebelumnya. Sehingga pengguna twitter merasa kurang nyaman untuk
mengungkapkan informasi mengenai dirinya. Selain itu, di dalam twitter tidak hanya
follower saja yang dapat melihat status (tweet) pengguna, namun semua orang yang
bahkan tidak memiliki twitter pun dapat melihatnya, kecuali jika twitter pengguna
diproteksi.
Faktor-faktor dalam keterbukaan pada penelitian ini memang berada pada
kategori sedang. Namun, jika dilihat dengan lebih teliti berdasarkan posisi dan rerata
empirik dari masing-masing faktor, ada faktor yang berada pada kategori sedang yang
cenderung menuju kategori tinggi, dan ada yang cenderung menuju kategori rendah.
Faktor belief pada remaja awal dan remaja tengah berada pada tingkat sedang
menuju pada kategori rendah, sedangkan pada remaja akhir berada pada tingkat
sedang yang menuju pada kategori tinggi. Hal ini mungkin terjadi mengingat remaja
akhir sudah mulai memiliki pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu
mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya, termasuk yang
berhubungan dengan keyakinan, prinsip, serta kepercayaan, sehingga remaja akhir
lebih mudah untuk berbagi mengenai hal-hal tersebut.
Faktor relationships pada remaja awal, tengah, dan akhir sama-sama berada
pada kategori sedang yang menuju ke arah rendah, demikian pula dengan faktor
interest.
Fakktor personal matter pada remaja awal berada pada kategori sedang
menuju ke arah tinggi, sedangkan pada remaja tengah dan akhir faktor personal
matter berada pada tingkat sedang mengarah pada kategori sedang. Remaja awal
merasa cemas terhadap dirinya sendiri karena merasa kurang mendapat perhatian dari
orang lain atau bahkan merasa tidak ada orang yang mempedulikanya sehingga
mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar. Remaja pada usia ini
merasa memiliki banyak masalah yang cukup sulit berkaitan dengan perubahan
dirinya secara jasmani sehingga mungkin inilah yang menyebabkan remaja awal lebih
terbuka mengenai masalah pribadi mereka.
Faktor intimate feelings pada remaja awal, remaja tengah, dan akhir,
ketiganya berada pada tingkat sedang yang menuju ke arah kategori tinggi. Dalam hal
ini, ketiga kelompok remaja lebih cenderung memilih membuka diri mereka
berkenaan dengan perasaan-perasaan yang sedang mereka rasakan, seperti perasaan
senang maupun perasaan sedih.
Dengan membuka diri, remaja dapat meningkatkan kedekatan dan keintiman
dalam hubungan (Derlega, dkk, dalam Rotternberg, 1995). Namun, keterbukaan diri
yang berlebihan dapat menimbulkan dampak yang kurang baik. Pada Februari 2010,
ada dua orang pelajar Indonesia, Rana dan Marsha, yang menjadi bintang secara
mendadak di twitter, nama mereka sempat masuk ke dalam deretan trending topics
dunia. Rana, siswi SMP di Jakarta, menulis komentar berisi hinaan kepada para
pengguna BlackBerry. Rana menyebut pengguna gadget yang sedang naik daun ini
sebagai alay alias anak layangan (sebutan untuk orang yang dianggap kampungan).
Sedangkan Marsha, siswi SMA swasta di Jakarta, sempat menghina dan
menjelekkan-jelekkan sekolah negeri dan sekolah internasional. Kedua remaja
tersebut mendapat balasan berupa hujatan bertubi-tubi dari pengguna twitter lainnya
(tekno.kompas.com).
Twitter memang merupakan salah satu jenis CMC yang memfasilitasi remaja
untuk dapat berhubungan dengan orang lain, baik teman maupun kenalan yang berada
di dalam maupun luar negeri. Hal ini didukung oleh deskripsi subjek dalam penelitian
ini, yaitu sebanyak 51 dari total 95 subjek atau sebesar 53.68% mengatakan alasan
membuat akun twitter adalah untuk memperluas jaringan pertemanan. Dengan
keterbukaan diri yang sewajarnya, memilih informasi apa saja yang dapat dibagikan,
dan informasi apa saja yang tidak seharusnya dibagikan di dalam twitter, remaja
dapat menjalin hubungan pertemanan yang baik tanpa harus mengalami dampak
negatif seperti yang telah dialami kedua remaja di atas.
Namun, tidak dapat dipungkiri fungsi twitter bukan hanya untuk mencari
teman, melainkan juga dapat digunakan untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan
public figure, mempopulerkan web atau blog yang dimiliki, media advertise, mencari
dukungan politik, mendapatkan informasi secara realtime, serta dapat digunakan
untuk mencari uang (Juju dan MataMaya, 2009). Mengingat fungsi twitter tersebut,
mungkin saja remaja menggunakan twitter untuk salah satu hal di atas, misalnya
untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan public figure yang ia sukai atau untuk
mendapatkan informasi secara realtime, contohnya saja informasi mengenai beasiswa,
sehingga aktivitas yang dilakukan remaja dalam twitter bukan untuk membagikan
informasi pribadinya namun sebaliknya untuk mendapatkan informasi tertentu.
Terkadang juga, pengguna saling berteman di dalam twitter karena memiliki
hobi atau ketertarikan yang sama akan sesuatu hal, misalnya saja menyukai artis
tertentu. Sehingga interaksi yang mereka lakukan dalam twitter hanya sebatas
membagikan informasi mengenai artis tersebut dan bukan mengenai informasi
pribadi masing-masing. Meskipun demikian, remaja tetap dapat menjalin komunikasi
yang baik dan berkenalan dengan pengguna twitter lain.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil analisis menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan
pada keterbukaan diri antara remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir pengguna
twitter. Keterbukaan diri subjek dalam ketiga kelompok, yaitu kelompok remaja awal,
remaja tengah, dan remaja akhir pada penelitian ini berada pada tingkat sedang.
Analisis lebih lanjut menunjukkan, kelima faktor yang terdapat dalam
keterbukaan diri, yaitu faktor belief (keyakinan), faktor relationships (hubungan),
faktor personal matters (masalah pribadi), faktor interest (minat atau ketertarikan),
dan faktor intimate feelings (perasaan yang intim) pada ketiga kelompok remaja pada
penelitian ini berada pada tingkat sedang.



Saran

Bagi Remaja
Bagi remaja disarankan agar dapat memanfaatkan twitter sebagai sarana
komunikasi dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja pengguna
twitter memiliki keterbukaan yang cukup baik dalam twitter. Dengan adanya
keterbukaan diri dalam batas yang sewajarnya remaja dapat memperluas jaringan
pertemanan sehingga memungkinkan remaja untuk mendapatkan banyak
pengetahuan dari teman dan kenalan dalam twitter, tanpa harus mendapat anggapan
atau dampak negatif dari pengguna twitter lainnya.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti perbedaan keterbukaan
diri remaja awal, tengah, dan akhir yang tidak menggunakan twitter. Selain itu,
peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat melakukan analisis mendalam untuk
menjaring faktor-faktor apa saja yang mungkin dapat mempengaruhi perbedaan
keterbukaan diri dalam komunikasi online, khususnya twitter.

DAFTAR PUSTAKA

Alwardt, N. C. (1995). Can we talk? gender and age differences in self-disclosure
among close friends. Thesis. Illinois: Eastern Illinois University Charleston.

Derlega, V. J. (1993). Self disclosure. London: SAGE Publication.

Higgins, J. M. (1982). Human relations concepts and skill. United States: Random
House.
http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/02/18/09054237/Fenomena.Indones
ia.di.Belantara.Trending.Topics.Twitter

Hurlock, E. B. (1990). Psikologi perkembangan:suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan (edisi kelima). Jakarta: Erlangga.

Joinson, A. N. (2001). Self-disclosure in computer mediated communication: the role
of self-awarenerss and visual anonymity. European Journal of Social
Psychology. United Kingdom: The Open University.

Juju, D., Studio, M. (2009). Twitter: tunggu apa lagifollow me! Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.

Magno, C., Cuason, S., Figueroa, C. (2008). The development of the self-disclosure
scale. Manila: De La Salle University.

Monks, F. J., Knoers, A.M.P., Haditono, Rahayu, S. (1999). Psikologi perkembangan
pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Myers, D. G. (2005). Social psychology. New York: Mc.Graw Hill.

Papini, D.R., Farmer, F.F., Clark, S.M., Micka, J.C., Barnett, J.K. (1990). Early
adolescent age and gender differences in pattern of emotional self disclosures
to parents and friends. Journal of developmental psychology. Macomb:
Department of Psychology, Western Illinois University

Punyanunt. N.M, Carter. (2006). An analysis of college students self disclosure
behaviors on the internet. USA: Texas Tech University.

Rahardjo, W., Hutahean, E.S.H., & Mufattahah, S. (2006). Kontribusi kebutuhan
afiliasi dan privasi terhadap self-disclosure pada pengguna internet relay
chat (irc). Jurnal Psikologi Sosial. Depok: Fakultas Psikologi Universitas
Gunadarma.

Taylor, S. E, Peplau, L. A, Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial (edisi ke-12). Jakarta:
Prenada Media Group.

Zulkarnain, I. (2010). Fenomena indonesia di belantara trending topics twitter.
November 1, 2012.