Anda di halaman 1dari 15

SEORANG ANAK DENGAN INFEKSI PARASIT CACING TAMBANG

KELOMPOK VIII
YANUAR WIDYASTOKO 0302012283
SUCI WULANDARI 0302012263
ROSMANA APOLLA PUTERA 0302012243
REDY ROHMANSYAH 0302012201
OLVY SEKARSARI OCTAVIANA 0302012179
MUTIARA RIAHNA SITEPU 0302012179
MARIA MEGA SEKAR HUTAMI 0302012157
KAMIA PUSPITA SARDI 0302012137
IRMA FAJRIAH 0302012131
FITRIA AYU LESTARI 0302012109
DWI NIMAS 0302012087
CITRA DWI ARINI 0302012059
ATIKA ROSADA 0302012037
AMRI AGENG WINAHYU 0302012015
GEDE BANGUN SUDRAJAT 0302012115
PUTERY RIZKIA AMRY 0302012213


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
MARET 2013



PENDAHULUAN
Pada tanggal 19 Maret 2013 dan tanggal 22 Maret 2013, kami kelompok 8
mendapatkan kasus diskusi sesi pertama sesi 1 dan sesi 2 dengan topik mengenai anemia dan
infeksi parasit. Diskusi dilaksanakan selama 1 jam 50 menit dengan ketua Rosmana Apolla
Putera dan sekretaris Maria Mega Sekar Hutami pada sesi 1 dan ketua Gede Bangun Sudrajat
dan sekretaris Dwi Nimas pada sesi ke 2. Selama diskusi berlangsung semua peserta aktif
dengan bermacam-macam argumentasi dan tutor mendengarkan dengan seksama.
Infeksi parasit khususnya yang disebabkan oleh cacing masih menduduki angka
kejadian yang cukup tinggi di Indonesia. Dengan iklim tropis dan daerah perkebunan juga
tanah lapang yang masih banyak serta perilaku manusia yang mungkin masih kurang sadar
akan kebersihan merupakan beberapa faktor masih maraknya penyakit akibat cacing di
Indonesia. Parasit cacing ada beragam jenis, mulai dari cestoda, trematoda, dan nematoda
yang akan dibahas dalam kasus ini. Nematoda sendiri mempunyai beberapa klasifikasi yaitu
nematoda usus dan nematoda jaringan.
Secara khusus dalam makalah ini akan dibicarakan mengenai cacing tambang
(hookworm). Di Indonesia sendiri infeksi akibat cacing tambang mencapai prevalensi cukup
tinggi yaitu 40%. Gejala klinik dan patologi dari infeksi akibat cacing tambang ini dapat
menyebabkan berbagai keadaan mulai dari yang akut sampai kronis, salah satunya adalah
anemia. Dalam diagnosis penyakit, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk
membantu dokter menegakkan diagnosis, antara lain dengan pemeriksaan SADT (sediaan
hapus darah tepi) untuk melihat konstituen darah yang merupakan bagian vital dari
pemeriksaan akibat infeksi parasit. Serta tak lupa pemeriksaan feses dari pasien karena lokasi
hidup cacing dewasa adalah di usus halus, maka dengan pemeriksaan feses kita dapat
mengetahui spesies pasti cacing yang menginfeksi pasien.

LAPORAN KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, dibawa ibunya ke Puskesmas dengan keluhan
lekas capai, lemah dan kurang gairah bermain. Pasien tinggal di daerah dengan beberapa
tanah lapang dimana tanahnya gembur berpasir, tempat anak-anak bermain pada sore hari
selepas sekolah. Ditemukan jamban umum berupa lubang diujung tanah lapang tersebut . Dari
pemeriksaan fisik pasien tampak kurus, pucat dan sesak nafas. Mata conjunctiva anemis . Ibu
pasien membawa hasil pemeriksaan laboratorium dengan hasil sebagai berikut :
Hb : 9 gr %
Ht : 24 %
Lekosit : 3200/ul
Hitung jenis : 0/32/1/35/30/2
Trombosit : 225.000/ul
LED : 25 mm/ 1 jam
MCV : 70 MCH: 26, MCHC : 37,1
Pertanyaan :
1. Dari kasus ini apakah masalah-masalah yang perlu mendapatkan perhatian kita?
2. Kira-kira apa penyebab dari masalah tersebut diatas?
3. Dokter melakukan pemeriksaan laboratorium darah, dapatkah saudara
menginterpretasikan hasil laboratorium darah tersebut diatas?
4. Adakah anamnesis tambahan yang perlu ditanyakan?

Anamnesa Lanjutan
Didapat bahwa anak tersebut tidak demam, namun terkadang batuk-batuk ringan.
Pasien sering mengantuk dan kekurangan semangat dan mengalami penurunan berat badan.
Pasien sering mengeluh gatal pada kakinya setelah bermain di kebun dekat rumahnya. Pada
kaki pasien terdapat bekas garukan. Daerah tempat tinggal pasien adalah daerah dengan tanah
yang gembur berpasir dan pasien sering bermain di sekitar rumahnya tanpa menggunakan
alas kaki.
Pertanyaan:
5. Apakah masalah yang dihadapi pasien ini sekarang?
6. Keadaan apakah yang dapat menyebabkan masalah pada pasien ini?
7. Bagaimana patofisiologi terjadinya masalah pada pasien ini?
8. Adakah pemeriksaan laboratorium lain yang perlu dilakuhkan setelah hasil lab diatas?
Sediaan apus darah tepi :
Anemia hipochroom micrositer







Faeces : Telur cacing +







Pertanyaan :
1. Dari SADT diambil kesimpulan pasien mengalami Anemia hipochrom micrositer ,
apa yang terlihat sehingga dokter dapat mengambil kesimpulan tersebut ?Jelaskan
2. Dari pemeriksaan faeces ditemukan telur cacing , menurut saudara cacing apa kira-
kira yang dapat menimbulkan keadaan tersebut? Jelaskan
3. Jelaskan tentang teknik kato katz.
4. Jelaskan tentang teknik pembiakan larva harada mori
5. Apakah diagnosis kerja yang anda pikirkan?
6. Bagaimana siklus hidup penyebab infeksi tersebut?
7. Bagaimana pengobatannya?

















PEMBAHASAN
masalah-masalah yang perlu kita perhatikan adalah Lekas capai, lemah kurang
gairah bermain, Tampak kurus, Pucat, Sesak nafas, Mata konjungtiva, Ada jamban umum
berupa lubang diujung tanah lapang.
Penyebab dari masalah tersebut adalah anemia oleh karena adanya infeksi parasit.
Baik anemia maupun jenis parasit apa yang menginfeksi belum bisa ditegakkan diagnosisnya,
perlu beberapa pemeriksaan lanjutan dan penunjang untuk memperoleh diagnosis pasti.
Interpretasi Hasil Laboratorium Darah(1)
Pemeriksaan Nilai Normal Pasien Keterangan
Hb 12 14 g/dl 9 g/dl Menurun (anemia)
Leukosit 5.000 10.000/uI 3200/uI Menurun (leukopenia)
Ht 40-48% 24% Menurun
HitungJenis
Basofil 0 - 1 % 0 Normal
Eosinofil 1 - 3 % 32% Meningkat (eusinofilia)
NetrofilBatang 1 - 6 % 1% Normal
NetrofilSegmen 40 - 60 % 35% Menurun
Limfosit 20 - 40 % 30% Normal
Monosit 2 - 8 % 2% Normal
Nilai Eritrosit Rata-Rata
MCV 82 - 92 fL 70 Menurun (mikrositik)
MCHC 32 - 37% 26 Menurun (hipokromik)
MCH 27 - 31 pg 37,1
Meningkat
(hiperkromik)(1)

Anamnesis tambahan yang perlu ditanyakan, antara lain :
Sejak kapan pasien menderita gejala gejala yang telah disebutkan. Selain itu, kita juga
harus menanyakan mengenai perilaku pasien, seperti:
apakah pasien selalu mencuci tangan setelah bermain lumpur dan sebelum
makan
Apakah pasien memakai alas kaki (sandal atau sepatu) saat bermain lumpur?
apakah pasien sering menggaruk kakinya karena gatal?
Karena pasien ini masih anak anak, kita boleh menanyakan anamnesa tersebut kepada
ibunya guna memperoleh keterangan yang valid. Setelah itu, kita sebagai seorang dokter yang
baik harus tetap memeriksa telapak kaki pasien tersebut apakah terdapat ground itch. Jika
ada, maka ground itch tersebut semakin memperkuat diagnosa bahwa pasien terinfeksi cacing
tambang, karena ground itch merupakan salah satu tanda adanya infeksi cacing tambang.(7)
Masalah yang dihadapi
1.Batuk-batuk ringan
2.Sering mengantuk dan kurang bersemangat
3.Berat badan menurun
4.Gatal pada kaki setelah main dikebun dekat rumah
5.Terdapat bekas-bekas garukan pada kakinya
6.Pasien sering bermain tanpa mengenakan alas kaki
Keadaan yang menyebabkan masalah pada pasien tersebut adalah Anemia Hipocrom
Mikrositer (AHM). Karena cacing tambang dewasa dapat menyebabkan nekrosis jaringan
usus dan menyebabkan dinding jaringan ususyang terluka oleh gigitan cacing dewasa,
gangguan gizi sehingga, penderita banyak kehilangan karbohidrat, lemak dan terutama
protein, bahkan banyak unsur besi (Fe) yang hilang akibatnya terjadi malnutrisi dan juga
gejala klinik berupa gangguan darah yakni penderita kehilangan darah, darah yang hilang
tersebut dikarenakan dihisap langsung oleh cacing dewasa yang berada di usus halus.
Patofisiologi terjadinya masalah pasien tersebut larva rabditiform tumbuh menjadi
larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah.
Setelah menembus kulit, larva ikut masuk melalui aliran darah menuju jantung terus ke paru-
paru. Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronkus lalu ke trakea dan
laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing
dewasa.(8)
Pemeriksaan laboratorium lain yang perlu dilakuhkan setelah interpretasi hasil lab
diatas yaitu dengan pemeriksaan feses. Pada infeksi yang berat, dengan pemeriksaan
langsung yang mudah dilakukan. Pada infeksi yang ringan, dapat dilakukan pemeriksaan
dengan pengendapan atau biakan. Untuk pemeriksaan cacing tambang sebaiknya dilakukan
kombinasi pemeriksaan langsung dengan cara Kato Katz sedangkan untuk meningkatkan
pemeriksaan digunakan teknik Harada Mori
Dari hasil SADT kelompok kami menyimpulkan anak tersebut terkena AHM (aniemia
Hipocrom Micrositer). Terlihat ukuran eritrosit lebih kecil dari normalnya yaitu kurang dari 6
m (micrositer) dan keseluruhan sel terutama bagian tengah dari eritrosit terlihat pucat
karena kurangnya hemoglobin, yang dapat disebabkan karena defisiensi Fe (hipokrom).
Manifestasi klinik infeksi cacing tambang terutama terjadi akibat kehilangan darah kronik
yang menyebabkan AHM dan hipoalbuminemia. Tingkat keparahan ditentukan oleh barbagai
faktor yang meliputi jumlah cacing, lama infeksi, serta kecukupan asupan besi dan protein.
AHM, eosinofilia, dan hipo-albuminaemia terjadi apabila asupan zat besi dan protein lebih
kecil daripada darah, protein yang hilang, serta cadangan besi dan protein penderita. Cacing
dewasa mengisap darah 0,2 ml per hari sehingga pada orang dewasa dengan 40-160 cacing
dapat terjadi penurunan kadar hemoglobin < 11 g/dl perhari.(4)
Telur cacing tambang berukuran kurang lebih 55 x 35 mikron, bentuknya bulat oval
dengan selapis dinding yang transparan dari bahan hialin. Sel telur yang belum berkembang
tampak seperti kelopak bunga. Dalam perkembangan lebih lanjut dapat berisi larva yang siap
untuk ditetaskan.
Terdapat 2 spesies cacing tambang yang hidup dalam tubuh manusia sebagai hospes
definitif nya Necator americanus dan Anchylostoma duodenale. Namun, kedua spesies cacing
tambang ini hanya bisa dibedakan jika telah mencapai tahap dewasa. Dengan kata lain, sulit
untuk membedakan telur dari kedua cacing ini.(5)
Teknik Kato Katz
Teknik Kato (juga disebut teknik Kato-Katz) merupakan metode laboratorium untuk
memproses secara rinci sampel feses manusia sebelum mencari dan mendeteksi kehadiran
telur parasit. Teknik ini bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi cacing dan untuk
mengetahui berat/ringannya infeksi tersebut dengan menghitung jumlah telur cacing pada
feses.(2)
Alat Dan Bahan :
Objek Glass
Selotip dengan tebal 40 m ukuran 3x3 cm
Kawat kasa
Karton yang tebal diberi lubang dengan volume tertentu
Lidi dan kertas minyak
Larutan Malachite Green\
Cara Kerja:
Sebelum pemakaian, pita selophane dimasukkan ke dalam larutan malachite green
selama + 24 jam
Letakkan tinja diatas objek glass sebesar sebutir kacang
Dengan lidi, ambil tinja yang sudah halus diatas kawat penyaring 30 mg, dengan
memakai cetakan karton yang berlubang, taruh diatas gelas preparat yang bersih
Kemudian ditutup dengan pita selofan dengan meratakan tinja di seluruh permukaan
pita selofan sampai sama tebal
Biarkan dalam temperature kamar selama 30 60 menit
Periksa seluruh permukaan dengan menghitung semua jumlah telur dengan
pembasaran lemah
Hasil:
Infeksi sangat ringan : 1-9 (15-149 butir telur)
Infeksi ringan : 10-24 (150-375 butir telur)
Infeksi sedang : 25-49 (376-749 butir telur)
Infeksi berat : >50 ( > 750 butir telur).
2

Teknik Harada Mori
Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva infektif dari
Ancylostoma duodenale, Necator americanus, Strongyloides stercoralis dan Trichostrongyli
ssp. Dengan teknik ini, telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas
saring basah. Larva ini akan ditemukan di dalam air yang terdapat pada ujungkantong
plastik.(3)
Alat dan Bahan:
Kantong Plastik ujung sempit dan tertutup 17x 3 cm
Kertas Saring dengan ujung runcing 15 x 2.5 cm
Air Bersih
Api Lilin
Lidi
Bahan pemeriksaan tinja
TeknikPemeriksaan:
1. Oleskan sejumlah tinja pada bagian tengah kertas saring
2. Masukkan kertas saring yang sudah dioles tinja ke dalam kantong plastik
dengan ujung runcing lebih dahulu sehingga ujung runcing kertas saring
masuk bagian sempit kantong plastic
3. Tambahkan air kurang lebih 2 cc dalam kantong plastik, kertas saring menjadi
basah dan air akan tertampung di dalam ujung kantong plastik
4. Tutuplah kantong plastic dengan memakai api lilin
5. Guntinglah kantong plastik dengan jepitan kertas dengan ujung runcing
sebelah bawah
6. Biarkan pada suhu kamar (25-30 derajat C) selama 7 hari
7. Periksalah larva pada air di kantong plastik dengan mikroskop binokuler
pembesaran kecil (3x,2x).
3

Diagnosis kerja
1. Memastikan bahwa cacing itu adalah cacing tambang berdasarkan hasil kato
katz dan harada mori.
2. Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa dilakukan dan dapat
menemukan telur cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses.


Siklus Hidup Cacing Tambang

1. Telur keluar bersama feses dari dalam usus manusia.
2. Telur dari kedua cacing tersebut ditemukan di dalam tinja
3. Telur menetas di dalam tanah setelah mengeram selama 1-2 hari.
4. Dalam waktu 1-2 hari,di tempat lembab dan becek, telur menetas menjadi larva yang
disebut Rhabditiform, larva Rhabditiform dilepaskan dan hidup di dalam tanah.
5. Larva Rhabditiform, Dalam 5-8 hari akan tumbuh menjadi larva infektif filariform
dan dapat tetap hidup dalam tanah untuk beberapa minggu (7-8 minggu).
6. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi
oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit
7. Setelah masuk ke dalam kulit, pertama-tama larva di bawa aliran darah vena ke
jantung bagian kanan kemudian ke paru-paru. Larva menembus alveoli, bermigrasi
melalui bronki ke trakea dan faring, kemudian tertelan
Dan masuk ke saluran cerna.(6)

Pengobatan
Perawatan umum : Memberikan nutrisi yang baik, suplemen preparat besi untuk pasien
gejala berat terutama bila ditemukan dengan anemia.
Pengobatan spesifik
Albendazol, diberikan dengan dosis tunggal 400 mg.
Mebendazol, diberikan dengan dosis 100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari.
Tetrakloretilen, dosis yang diberikan 0,12 ml/kg berat badan, dosis tunggal tidak
boleh lebih dari 5 ml. Pemberian obat ini sebaiknya dalam keadaan perut kosong
disertai 30 g MgSO4. Kontraindikasi pada pasien alkoholisme, kelainan pencernaan,
konstipasi.
Befanium hidrosinaftat, dosis yang diberikan 5 g 2 kali sehari selama 3 hari. Obat ini
pilihan utama dan baik untuk pengobatan missal pada anak dan relatif tidak toksik.
Pirantel pamoat, dosis yang diberikan 10 mg/kg berat badan per hari sebagai dosis
tunggal.(8)











KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat kami menyimpulkan bahwa infeksi yang
disebabkan oleh cacing tambang (Ancylostoma duodenale). Penyebaran cacing terutama di
daerah pedesaan, yang sanitasi lingkungannya buruk. Infeksi A.duodenale merupakan
penyebab terpenting anemia defisiensi besi. Selain itu infeksi cacing tambang juga
merupakan penyebab hipoproteinemia yang terjadi akibat kehilangan albumin, karena
perdarahan kronik pada saluran cerna. Gejala klinik yang disebabkan oleh cacing tambang
dewasa dapat berupa nekrosis jaringan usus, gangguan gizi dan gangguan darah. Diagnosa
klinik penyakit cacing ini tidak dapat diketahui dengan tepat, sebab efek infeksi cacing
tambang tidak memberikan gambaran yang jelas, dengan demikian untuk membantu
menegakkan diagnosa perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pada infeksi yang berat,
dengan pemeriksaan langsung yang mudah dilakukan. Pada infeksi yang ringan, dapat
dilakukan pemeriksaan dengan pengendapan atau biakan. Untuk pemeriksaancacing tambang
sebaiknya dilakukan kombinasi pemeriksaan langsungdengan cara Kato sedangkan untuk
meningkatkan pemeriksaan digunakan teknik Harada Mori










DAFTAR PUSTAKA
1. Hidayat Adi. Modul Diagnostik Laboratorium dan Terapi Farmakologi:Diagnostik
Laboratorik. 19 Maret, 2013:360-379.
2. Kato Katz. [Internet]. available from: http://www.labsaya.com/2012/11/pemeriksaan-
telur-cacing-metode-kato.html" target="_blank">PemeriksaanTelurCacingMetode
Kato Katz</a>. accesed on March, 21 2013
3. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran. Jakarta : EGC.2009
4. AHM [Internet]. Available from: http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2011/edisi-no-
05-vol-xxxvii-2011/314-editorial/598-nilai-diagnostik-anemia-hipokrom-mikrositer-dan-
eosinofilia-pada-infeksi-cacing-tambang . Accesed on March, 21 2013
5. Handimulya,Dean.Parasitologi .2006. (diakses tanggal 06 Agustus 2011) diunduh
dari:http://www.kuliah.esaunggul.ac.id/mod/resource/view.php?id=7526 Heru
Prasetyo,R..Pengantar Praktikum Helmintologi Kedokteran. Jakarta
6. J.Hotez, Pieter, dkk.Infeksi Cacing Tambang . (diakses tanggal 06 Agustus
2011)diunduh dari:http//www.scribd.com/doc/56387929/Infeksi-Cacing-Tambang
7. Sehatman. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Diagnosa Infeksi Cacing
Tambang .Departemen Kesehatan RI Badan Penelitian danPengembangan
Kesehatan:Jakarta
8. Shivekar, Sunil. Soil Transmitted Helminths In A Rural Population Of Puducherry- A
Hospital Based Study. 2011 (diakses tanggal 08 Agustus 2011) diunduh dari:
www.ijpbs.net/vol-2_issue-3/bio_science/35.pdf