Anda di halaman 1dari 16

Kerukunan Antar Umat Beragama | 1

Kata Pengantar

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
tugasMakalah Kerukunan Antar Umat Beragama ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama
Islam. Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui
berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad
lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran
keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kerukunan antar umat
beragama, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universiitas Gunadarma.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,
kepada dosen kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa
yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.


Jakarta, 28 April 2014



Penyusun



Kerukunan Antar Umat Beragama | 2

Daftar Isi

Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
Bab I Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3
Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Bab II Pembahasan Kerukunan Antar Umat Bearagama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
Pengertian Kerukunan Antar Umat Beragama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Tujuan Kerukunan Antar Umat Beragama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Wadah Kerukunan Antar Umat Beragama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
Kerja sama intern umat beragama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Pokok-Pokok Ajaran Islam Tentang Kerukunan Hidup Beragama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12
Pandangan Islam Terhadap Pemeluk Agama lain . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12
Kerukunan Intern Umat Islam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
Kerukunan Beragama Di Indonesia . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
Bab III Penutup . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16

Kerukunan Antar Umat Beragama | 3

Bab I
Pendahuluan

Latar Belakang

Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam Kata islam berarti damai, selamat, sejahtera,
penyerahan diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama islam adalah
agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan
hidup umat manusia pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya. Agama islam adalah
agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, Nabi pertama, yaitu Nabi Adam AS. Agama
itu kemudian Allah turunkan secara berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul-rasul
berikutnya.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama.
Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragaman agama itu mempunyai kecenderungan
kuat terhadap identitas agama masing- masing dan berpotensi konflik. Indonesia merupakan
salah satu contoh masyarakat yang multikultural. Multikultural masyarakat Indonesia tidak sauja
kerena keanekaragaman suku, budaya,bahasa, ras tapi juga dalam hal agama. Agama yang diakui
oleh pemerintah Indonesia adalah agama islam, Katolik, protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu.
Dari agama-agama tersebut terjadilah perbedaan agama yang dianut masing-masing masyarakat
Indonesia. Dengan perbedaan tersebut apabila tidak terpelihara dengan baik bisa menimbulkan
konflik antar umat beragama yang bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri yang
mengajarkan kepada kita kedamaian, hidup saling menghormati, dan saling tolong menolong.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kerukunan hidup antarumat beragama yang sejati, harus
tercipta satu konsep hidup bernegara yang mengikat semua anggota kelompok sosial yang
berbeda agama guna menghindari ledakan konflik antarumat beragama yang terjadi tiba-tiba.
Makalah ini akan membahas tentang pentingnya menciptakan kerukunan antar umat beragama
dilingkungan masyarakat.



Kerukunan Antar Umat Beragama | 4

Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah kerukunan antar umat beragama adalah
1. Apa definisi dari kerukunan?
2. Apakah definisi kerukunan antar umat beragama?
3. Bagaimana menjaga kerukunan hidup antar umat beragama?

Tujuan
Tujuan pada makalah kerukunan antar umat beragama adalah
1) Mengetahui definisi dari kerukunan
2) Mengetahui definisi kerukunan antar umat beragama
3) Mengetahui cara menjaga kerukunan hidup antar umat beragama

Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari menciptakan suasana rukun antar umat beragama
dilingkungan masyarakat yaitu dengan rasa aman, nyaman dan sejahtera.
Kerukunan Antar Umat Beragama | 5

BABII
PEMBAHASAN
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Pengertian Kerukunan Antar Umat Beragama

"Rukun" dari Bahasa Arab "ruknun" artinya asas-asas atau dasar, seperti rukun Islam.
Rukun dalam arti adjektiva adalah baik atau damai. Kerukunan hidup umat beragama artinya
hidup dalam suasana damai, tidak bertengkar, walaupun berbeda agama. Kerukunan dalam Islam
diberi istilah "tasamuh " atau toleransi. Sehingga yang di maksud dengan toleransi ialah
kerukunan sosial kemasyarakatan, bukan dalam bidang aqidah Islamiyah (keimanan), karena
aqidah telah digariskan secara jelas dan tegas di dalam Al- Qur'an dan Al-Hadits. Dalam bidang
aqidah atau keimanan seorang muslim hendaknya meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya
agama dan keyakinan yang dianutnya sesuai dengan firman Allah S WT. dalam Surat Al-Kafirun
(109) ayat 1-6 sebagai berikut:


Artinya: "Katakanlah, " Hai orang-orang kafir!". Aku tidak menyembah apa yang kamu
sembah. Dan tiada (pula) kamu menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku bukan
penyembah apa yang biasa kamu sembah Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku
sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku".


Kerukunan Antar Umat Beragama | 6

Sikap sinkritisme dalam agama yang menganggap bahwa semua agama adalah benar
tidak sesuai dan tidak relevan dengan keimanan seseorang muslim dan tidak relevan dengan
pemikiran yang logis, meskipun dalam pergaulan sosial dan kemasyarakatan Islam sangat
menekankan prinsip toleransi atau kerukunan antar umat beragama. Apabila terjadi perbedaan
pendapat antara anggota masyarakat (muslim) tidak perlu menimbulkan perpecahan umat, tetapi
hendaklah kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW.,
kerukunan sosial kemasyarakatan telah ditampakkan pada masyarakat Madinah. Pada saat itu
rasul dan kaum muslim hidup berdampingan dengan masyarakat Madinah yang berbeda agama
(Yahudi danNasrani). Konflik yang terjadi kemudian disebabkan adanya penghianatan dari
orang bukan Islam (Yahudi) yang melakukan persekongkolan untuk menghancurkan umat Islam.

Tujuan Kerukunan Antar Umat Beragama

Kerukunan umat beragama bertujuan untuk memotivasi dan mendinamisasikan semua
umat beragama agar dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa.

Landasan Hukum

1. Landasan Idiil, yaitu Pancasila (sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa).
2. Landasan Konstitusional, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29 ayat 1: "Negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Dan Pasal 29 ayat 2: "Negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu".
3. Landasan Strategis, yaitu Ketatapan MPR No.IV tahun 1999 tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara. Dalam GBHN dan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000,
dinyatakan bahwa sasaran pembangunan bidang agama adalah terciptanya suasana kehidupan
beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang penuh keimanan dan
ketaqwaan, penuh kerukunan yang dinamis antar umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, secara bersama-sama makin memperkuat landasan spiritual., moral dan
etika bagi pembangunan nasional, yang tercermin dalam suasana kehidupan yang harmonis, serta
Kerukunan Antar Umat Beragama | 7

dalam kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa selaras dengan penghayatan dan pengamalan
Pancasila.
4. Landasan Operasional
a. UU No. 1/PNPS/l 965 tentang larangan dan pencegahan penodaan dan penghinaan agama
b. Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI. No.01/Ber/Mdn/1969
tentang pelaksanaan aparat pemerintah
yang menjamin ketertiban dan kelancaran pelaksanaan dan pengembangan ibadah pemeluk
agama oleh pemeluknya.
c. SK. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri RI. No.01/1979 tentang tata cara pelaksanaan
pensyiaran agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga keagamaan swasta di
Indonesia.
d. Surat edaran Menteri Agama RI. No.MA/432.1981 tentang penyelenggaraan peringatan hari
besar keagamaan

Wadah Kerukunan Antar Umat Beragama

Kerukunan antar umat beragama adalah suatu kondisi sosial ketika semua golongan
agama bisa hidup bersama tanpa menguarangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan
kewajiban agamanya. Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan
damai. Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme
buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman dan perasaan orang lain. Tetapi dalam hal ini
tidak diartikan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama member ruang untuk
mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama yang berbeda , sebab hal tersebut akan merusak
nilai agama itu sendiri.

Menurut Muhammad Maftuh Basyuni dalam seminar kerukunan antar umat beragama
tanggal 31 Desember 2008 di Departemen Agama, mengatakan bahwa kerukunan umat
beragama merupakan pilar kerukunan nasional adalah sesuatu yang dinamis, karena itu harus
dipelihara terus dari waktu ke waktu. Kerukunan hidup antar umat beragama sendiri berarti
keadaan hubungan sesame umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian,
Kerukunan Antar Umat Beragama | 8

menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kerukunan antar umat beragama itu sendiri juga bias diartikan dengan toleransi antar
umat beragama. Dalam toleransi itu sendiri pada dasarnya masyarakat harus bersikap lapang
dada dan menerima perbedaan antar umat beragama. Selain itu masyarakat juga harus saling
menghormati satu sama lainnya misalnya dalam hal beribadah, antar pemeluk agama yang satu
dengan lainnya tidak saling mengganggu. Departemen agama juga menjadikan kerukunan antar
umat beragama sebagai tujuan pembangunan nasional bangsa Indonesia yang diarahkan dalam
tiga bentuk yaitu:

a) Kerukunan intern umat beragama.
b) Keukunan antar umat beragama.
c) Kerukunan antar umat beragama dengan pemerinatah.

Untuk itulah kerukunan hidup antar umat beragama harus kita jaga agar tidak terjadi
konflik-konflik antar umat beragama. Terutama di masyarakat Indonesia yang multikultural
dalam hal agama, kita harus bisa hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak
saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang secara tidak
langsung memberikan stabilitas dan kemajuan negara.

Kerja sama intern umat beragama

Persaudaraan atau ukhuwah, merupakan salah satu ajaran yang mendapat perhatian
penting dalam islam. Al-quran menyebutkan kata yang mengandung arti persaudaraan sebanyak
52 kali yang menyangkut berbagai persamaan, baik persamaan keturunan, keluarga, masyarakat,
bangsa, dan agama. Ukhuwah yang islami dapat dibagi kedalam empat macam,yaitu :
1. Ukhuwah ubudiyah atau saudara sekemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah insaniyah (basyariyah), dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara,
karena semua berasal dari ayah dan ibu yang sama;Adam dan Hawa.
3. Ukhuwah wathaniyah wannasab,yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
Kerukunan Antar Umat Beragama | 9

4. Ukhuwwah fid din al islam, persaudaraan sesama muslim.

Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan bentuk perhatian,
kepedulian, hubungan yang akrab dan merasa senasib sepenanggungan. Nabi menggambarkan
hubungan persaudaraan dalam haditsnya yang artinya Seorang mukmin dengan mukmin yang
lain seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh terluka, maka seluruh tubuh akan
merasakan demamnya. Ukhuwwah adalah persaudaraan yang berintikan kebersamaan dan
kesatuan antar sesama. Kebersamaan di akalangan muslim dikenal dengan istilah ukhuwwah
Islamiyah atau persaudaraan yang diikat oleh kesamaan aqidah.

Persatuan dan kesatuan sebagai implementasi ajaran Islam dalam masyarakat merupakan
salah satu prinsip ajaran Islam. Salah satu masalah yang di hadapi umat Islam sekarang ini
adalah rendahnya rasa kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan mereka menjadi lemah. Salah
satu sebab rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam adalah karena
randahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Islam. Persatuan di kalangan muslim tampaknya
belum dapat diwujudkan secara nyata. Perbedaan kepentingan dan golongan seringkali menjadi
sebab perpecahan umat. Perpecahan itu biasanya diawali dengan adanya perbedaan pandangan di
kalangan muslim terhadap suatu fenomena. Dalam hal agama, di kalangan umat islam misalnya
seringkali terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran mengenal sesuatu hukum yang kemudian
melahirkan berbagai pandangan atau madzhab. Perbedaan pendapat dan penafsiran pada
dasarnya merupakan fenomena yang biasa dan manusiawi, karena itu menyikapi perbedaan
pendapat itu adalah memahami berbagai penafsiran.

Untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam dan memantapkan ukhuwah islamiyah
para ahli menetapkan tiga konsep,yaitu :
1. Konsep tanawwul al ibadah (keragaman cara beribadah). Konsep ini mengakui adanya
keragaman yang dipraktekkan Nabi dalam pengamalan agama yang mengantarkan
kepada pengakuan akan kebenaran semua praktek keagamaan selama merujuk kepada
Rasulullah. Keragaman cara beribadah merupakan hasil dari interpretasi terhadap
perilaku Rasul yang ditemukan dalam riwayat (hadits).
Kerukunan Antar Umat Beragama | 10

2. Konsep al mukhtiu fi al ijtihadi lahu ajrun (yang salah dalam berijtihad pun
mendapatkan ganjaran). Konsep ini mengandung arti bahwa selama seseorang mengikuti
pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa, bahkan tetap diberi ganjaran oleh Allah ,
walaupun hasil ijtihad yang diamalkannya itu keliru. Di sini perlu dicatat bahwa
wewenang untuk menentukan yang benar dan salah bukan manusia, melainkan Allah
SWT yang baru akan kita ketahui di hari akhir. Kendati pun demikian, perlu pula
diperhatikan orrang yang mengemukakan ijtihad maupun orang yang pendapatnya
diikuti, haruslah orang yang memiliki otoritaskeilmuan yang disampaikannya setelah
melalui ijtihad.
3. Konsep la hukma lillah qabla ijtihadi al mujtahid (Allah belum menetapkan suatu
hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan seorang mujtahid). Konsep ini dapat kita pahami
bahwa pada persoalan-persoalan yang belum ditetapkan hukumnya secara pasti, baik
dalam al-quran maupun sunnah Rasul, maka Allah belum menetapkan hukumnya. Oleh
karena itu umat islam,khususnya para mujtahid, dituntut untuk menetapkannya melalui
ijtihad. Hasil dari ijtihad yang dilakukan itu merupakan hukum Allah bagi masing-masing
mujtahid, walaupun hasil ijtihad itu berbeda-beda.

Ketiga konsep di atas memberikan pemahaman bahwa ajaran Islam mentolelir adanya
perbedaan dalam pemahaman maupun pengalaman. Yang mutlak itu hanyalah Allah dan firman-
fiman-Nya,sedangkan interpretasi terhadap firman-firman itu bersifat relatif. Karena itu sangat
dimungkinkan untuk terjadi perbedaan. Perbedaan tidak harus melahirkan pertentangan dan
permusuhan. Di sini konsep Islam tentang Islah diperankan untuk menyelesaikan pertentangan
yang terjadi sehingga tidak menimbulkan permusuhan, dan apabila telah terjadi, maka islah
diperankan untuk menghilangkannya dan menyatukan kembali orang atau kelompok yang saling
bertentangan.

Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak selalu
hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan dalam
masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai yang bersifat universal.
Kendatipun dapat dipahami bahwa Isalam yang hakiki hanya dirujukkan kepada konsep al-quran
dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag lahirdari pelaksanaan ajaran isalam secara
Kerukunan Antar Umat Beragama | 11

konsekwen ddapat dirasakan oleh manusia secara keseluruhan. Demikian pula pada tataran yang
lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa,nilai-nilai ajaran Islam menjadi sangat relevan untuk
dilaksanakan guna menyatukan umat manusia dalam suatu kesatuan kebenaran dan keadilan.

Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan pengingkaran terhadap makna Islam,
sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat universal. Universalisme
Islam dapat dibuktikan anatara lain dari segi, dan sosiologo. Dari segi agama, ajaran Islam
menunjukkan universalisme dengan doktrin monoteisme dan prinsip kesatuan alamnya. Selain
itu tiap manusia, tanpa perbedaan diminta untuk bersama-sama menerima satu dogma yang
sederhana dan dengan itu ia termasuk ke dalam suatu masyarakat yang homogin hanya denga
tindakan yang sangat mudah ,yakni membaca syahadat. Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak
ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali
yang merugikan umat Islam.

Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu ditujukan
kepada semua manusia agar mereka menganut agama islam, dan dalam tingkat yang lain
ditujukan kepada umat Islam secara khususu untuk menunjukan peraturan-peraturan yang harus
mereka ikuti. Karena itu maka pembentukan masyarakat yang terpisah merupakan suatu akibat
wajar dari ajaran Al-Quran tanpa mengurangi universalisme Islam. Melihat Universalisme Islam
di atas tampak bahwa esensi ajaran Islam terletak pada penghargaan kepada kemanusiaan secara
univarsal yang berpihak kepada kebenaran, kebaikan,dan keadilan dengan mengedepankan
kedamaian, menghindari pertentangan dan perselisian, baik ke dalam intern umat Islam maupun
ke luar. Dengan demikian tampak bahwa nilai-nilai ajaran Islam menjadi dasar bagi hubungan
antar umat manusia secara universal dengan tidak mengenal suku,bangsa dan agama. Hubungan
antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam, kecuali bekerja
sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kedua persoalan tersebut merupakan hak intern umat
Islam yang tidak boleh dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu
dalam kerja samayang baik.

Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia
yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama ydalam bidang-bidang
Kerukunan Antar Umat Beragama | 12

ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam
ruang lingkup kebaikan.

Pokok-Pokok Ajaran Islam Tentang Kerukunan Hidup Beragama

Kerukunan hidup umat beragama di Indonesia adalah program pemerintah sesuai
dengan GBHN tahun 1999 dan Propenas 2000 tentang sasaran pembangunan bidang agama.
Kerukunan hidup di Indonesia tidak termasuk aqidah atau keimanan menurut ajaran agama yang
dianut oleh warga negara Indonesia, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
Setiap umat beragama di beri kesempatan melakukan ibadah sesuai dengan keimanan dan
kepercayaan masing-masing.

Pandangan Islam Terhadap Pemeluk Agama lain

a) Darul Harbi (daerah yang wajib diperangi) Islam merupakan agama rahmatan lil-'alamin
yang memberikan makna bahwa perilaku Islam (penganut dan pemerintah Islam)
terhadap non muslim, dituntut untuk kasih sayang dengan memberikan hak dan
kewajibannya yang sama seperti halnya penganut muslim sendiri dan tidak saling
mengganggu dalam masalah kepercayaan. Islam membagi daerah (wilayah) berdasarkan
agamanya atas Darul Muslim dan Darul Harbi. Darul Muslim adalah suatu wilayah yang
didiami oleh masyarakat muslim dan diberlakukan hukum Islam. Darul Harbi adalah
suatu wilayah yang penduduknya memusuhi Islam. Penduduk Darul Harbi selalu
mengganggu penduduk Darul Muslim, menghalangi dakwah Islam, melakukan
penyerangan terhadap Darul Muslim. Terhadap penduduk Darul Harbi yang demikian
bagi umat Islam berkewajiban melakukan jihad (berperang) melawannya, seperti
difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Mumtahanah (60) ayat 9
Kerukunan Antar Umat Beragama | 13


Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu
orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan
membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai
kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim".

b) Kufur Zimmy. Dalam suatu perintah Islam, tidaklah akan memaksa masyarakat untuk
memeluk Islam dan Islam hanya disampaikan melalui dakwah (seruan) yang merupakan
kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan pemikiran wahyu yang menyatakan bahwa:
"Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam". Kufur Zimmy ialah individu atau
kelompok masyarakat bukan Islam, akan tetapi mereka tidak membenci Islam, tidak
membuat kekacauan atau kerusakan, tidak menghalangi dakwah Islam. Mereka ini
dinamakan kufur zimmy yang harus dihormati oleh pemerintah Islam dan diperlakukan
adil seperti umat Islam dalam pemerintahan serta berhak diangkat sebagai tentara dalam
melindungi daerah Darul Muslim dan yang demikian adalah meneladani pemerintahan
Islam "Negara Madinah". Adapun agama keyakinan individu atau kelompok kufur
zimmy adalah diserahkan mereka sendiri dan umat Islam tidak diperbolehkan
mengganggu keyakinan mereka. Adapun pemikiran Al-Qur'an dalam masalah kufur
zimmy, seperti dalam Al-Qur'an Surat Al- Mumtahanah (60) ayat 8,

yang artinya: "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari
negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil".
c) Kufur Musta'man, Kufur Musta'man ialah pemeluk agama lain yang meminta
perlindungan keselamatan dan keamanan terhadap diri dan hartanya. Kepada mereka
Pemerintah Islam tidak memberlakukan hak dan hukum negara. Diri dan harta kaum
musta'man harus dilindungi dari segala kerusakan dan kebinasaan serta bahaya lainnya,
Kerukunan Antar Umat Beragama | 14

selama mereka berada di bawah lindungan perintah Islam. d. Kufur Mu'ahadah Kufur
Mu'ahadah ialah negara bukan negara Islam yang membuat perjanjian damai dengan
pemerintah Islam, baik disertai dengan perjanjian tolong-menolong dan bela-membela
atau tidak.

Kerukunan Intern Umat Islam

Kerukunan intern umat Islam di Indonesia harus berdasarkan atas semangat ukhuwah
Islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) yang tinggal di Negara Republik Indonesia, sesuai
dengan firm dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 10:


Artinya : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat.

Kesatuan dan persatuan intern umat Islam diikat oleh kesamaan aqidah (keimanan),
akhlak dan sikap beragamanya didasarkan atas Al-Qur'an dan Al-Hadits. Adanya perbedaan
pendapat di antara umat Islam adalah rahmat asalkan perbedaan pendapat itu tidak membawa
kepada perpecahan dan permusuhan (perang). Adalah suatu yang wajar perbedaan pendapat
disebabkan oleh masalah politik, seperti peristiwa terjadinya golongan Ahlu Sunnah dan
golongan Syi'ah setelah terpilihnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga munculnya partai- partai
Islam yang semuanya menjadikan Islam sebagai asas politiknya.



Kerukunan Antar Umat Beragama | 15

Kerukunan Beragama Di Indonesia

Kondisi keberagamaan rakyat Indonesia sejak pasca krisis tahun 1997 sangat
memprihatinkan. Konflik bernuansa agama terjadi di beberapa daerah seperti Ambon dan Poso.
Konflik tersebut sangat mungkin terjadi karena kondisi rakyat Indonesia yang multi etnis, multi
agama dan multi budaya. Belum lagi kondisi masyarakat Indonesia yang mudah terprovokasi
oleh pihak ketiga yang merusak watak bangsa Indonesia yang suka damai dan rukun. Sementara
itu krisis ekonomi dan politik terus melanda bangsa Indonesia, sehingga sebagian rakyat
Indonesia sudah sangat tertekan baik dari segi ekonomi, politik maupun beragama. Terakhir
peristiwa dihancurkannya gedung World Trade Centre pada tanggal 11 September 2001 dan bom
Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang menewaskan 180 orang, yang berdampak
diidentikkannya umat Islam dengan teroris dan dituduhnya Indonesia sebagai sarang teroris.
Dalam menghadapi konflik seperti di atas dan sesuai prinsip-prinsip kerukunan hidup beragama
di Indonesia, kebijakan umum yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Kebebasan beragama tidak membenarkan menjadikan orang lain yang telah menganut
agama tertentu menjadi sasaran propaganda agama yang lain.
2. Menggunakan bujukan berupa memberi uang, pakaian, makanan dan lainnya supaya
orang lain pindah agama adalah tidak dibenarkan.
3. Penyebaran pamflet, majalah, buletin dan buku-buku dari rumah ke rumah umat
beragama lain adalah terlarang.
4. Pendirian rumah ibadah harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan umat dan
dihindarkan timbulnya keresahan penganut agama lain kerena mendirikan rumah ibadah
di daerah pemukiman yang tidak ada penganut agama tersebut.







Kerukunan Antar Umat Beragama | 16

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pentingnya kerukunan hidup antar umat beragama adalah terciptanya kehidupan masyarakat
yang harmonis dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak saling bermusuhan agar
agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang secara tidak langsung memberikan
stabilitas dan kemajuan Negara. Cara menjaga sekaligus mewujudkan kerukunan hidup antar
umat beragama adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama yang di dalamnya
membahas tentang hubungan antar sesama umat beragama. Selain itu ada beberapa cara menjaga
sekaligus mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama antara lain:
a) Menghilangkan perasaan curiga atau permusuhan terhadap pemeluk agama lain
b) Jangan menyalahkan agama seseorang apabila dia melakukan kesalahan tetapi salahkan
orangnya.
c) Biarkan umat lain melaksanakan ibadahnya jangan mengganggu umat lain yang sedang
beribadah.
d) Hindari diskriminasi terhadap agama lain.

Saran
Saran yang dapat diberikan untuk masyarakat di Indonesia supaya menanamkan sejak dini
pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama agar terciptanya hidup rukun antar sesama
sehingga masyarakat merasa aman, nyaman dan sejahtera.