Anda di halaman 1dari 608

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

i



SEMINAR NASIONAL
Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro 2013
STE 2013









"Pemanfaatan ICT Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran
dan Pemerataan Akses Pendidikan
dalam Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi"

Surabaya, 4 Desember 2013


Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
Universitas Negeri Surabaya
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

iii

SAMBUTAN KETUA PANITIA STE 2013

Yang terhormat:
Rektor Universitas Negeri Surabaya
Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya
Para pembicara Stadium Generale
Para panitia pengarah
Para tamu undangan
Para dosen, guru, mahasiswa dan semua peserta seminar yang berbahagia
Assalamu Alaikum Wr. Wb.,
Selamat datang di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan kepada kita
semua sehingga dapat menghadiri Acara Seminar ini dalam keadaan sehat wal afiat. Seminar ini
diadakan pada hari Rabu, 4 Desember 2013 yang bertempat di kampus tercinta Fakultas Teknik Unesa
Ketintang Surabaya. Seminar ini merupakan kegiatan rutin yang akan diadakan tiap 2 tahun sekali.
Seminar ini merupakan bagian dari kegiatan Dies Natalis Unesa yang ke-49 yang bertemakan
"Pemanfaatan I CT Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran dan Pemerataan Akses Pendidikan
dalam Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi". Tujuan pelaksanaan Seminar Teknik Elektro
2013 adalah sebagai forum komunikasi hasil penelitian, media berbagi (sharing) informasi dan
pengalaman antara pihak Perguruan Tinggi, Kement eri an Pendidi kan dan Kebudayaan,
Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Dunia Usaha/Industri (DU/DI) maupun Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK), yang terkait dengan bidang teknik elektro dan menjajaki kemungkinan terbentuknya
asosiasi para pakar, peneliti dan pemerhati dalam bidang teknik elektro serta para pakar pendidikan
teknologi dan kejuruan pada umumnya, dan pendidikan teknik elektro pada khususnya.
Makalah yang akan dipresentasikan pada seminar ini adalah 87 makalah yang berasal dari kurang
lebih 18 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang dibagi menjadi makalah yang berhubungan
dengan Pendidikan Teknik Elektro, Teknik Elektro dan Informatika.
Kami selaku ketua panitia, mengucapkan terimakasih kepada para pembicara Stadium Generale, para
pemakalah, peserta, anggota panitia pengarah, para sponsor dan seluruh anggota panitia pelaksana
yang telah memberikan konstribusinya, sehingga STE 2013 dapat berjalan dengan sukses. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada pihak Universitas dan Fakultas Teknik yang telah mendukung
pelaksanaan acara ini. Selaku ketua panitia kami juga memohon maaf bila dalam pelaksanaan
seminar ini terdapat kesalahan dan segala sesuatu yang tidak berkenan. Semoga Seminar ini dapat
memberikan alternatif solusi bagi permasalahan-permasalahan sosial yang telah berkembang saat ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Surabaya, 4 Desember 2013
Dr. IGP. Asto Buditjahjanto, S.T.,M.T.
Ketua Panitia STE 2013
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

v

SAMBUTAN REKTOR UNESA

Assalamu Alaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya
kepada kita. Saya mengucapkan selamat datang kepada peserta Seminar Teknik Elektro 2013 yang
berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, peneliti, praktisi pendidikan, SMU dan SMK di Indonesia.
Tujuan pelaksanaan Seminar Teknik Elektro 2013 adalah sebagai forum komunikasi hasil
penelitian, media berbagi (sharing) informasi dan pengalaman antara pihak Perguruan Tinggi,
Kement eri an Pendidi kan dan Kebudayaan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Dunia
Usaha/Industri (DU/DI) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang terkait dengan bidang
Teknik Elektro dan menjajaki kemungkinan terbentuknya asosiasi para pakar, peneliti dan pemerhati
dalam bidang Teknik Elektro serta para pakar pendidikan teknologi dan kejuruan pada umumnya,
dan Pendidikan Teknik Elektro pada khususnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini membawa
dampak yang sangat luas dalam semua sektor kehidupan. Dunia pendidikan merupakan salah satu
sektor yang mengalami pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu dan teknologi
khususnya teknologi informasi dan komputer (TIK). Sebagai lembaga yang akan memproses dan
menghasilkan lulusan, dunia pendidikan dituntut untuk mampu merencanakan, memprediksi,
mengembangkan, menganalisis dan mengevaluasi ilmu dan teknologi yang sesuai dengan
karakteristik dunia pendidikan, maka pada kesempatan ini Seminar Teknik Elektro yang merupakan
bagian dari kegiatan Dies Natalis Unesa ke-49 diharapkan dapat memberikan alternatif solusi akan
permasalahan-permasalahan diatas.
Dalam kesempatan ini Unesa berterimakasih kepada semua pihak (Jurusan Teknik Elektro Fakultas
Teknik, Panitia STE, peserta seminar, sponsor dan semua pihak yang mendukung acara ini). Akhir
kata, kami mengucapkan selamat berseminar dan sampai jumpa pada Seminar STE 2015 dua tahun
kedepan.
Wassalamu Alaikum, Wr. Wb.
Surabaya, 4 Desember 2013
Prof. Dr. Muchlas Samani
Rektor Unesa





Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

vii

STEERING COMMITEE

Advisory Committee
Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd
Drs. Tri Wrahatnolo, M.Pd., M.T.
Prof. Dr. Eko Hariadi
Puput Wanarti, S.T, M.T.

Technical Program Committee
Prof. Dr. Mohamad Nur (Unesa)
Prof. Dr. Supari Muslim, M.Pd (Unesa)
Prof. Dr. Ismet Basuki, M.Pd. (Unesa)
Prof. Dr. Soenarjo, M.Pd. (Unesa)
Prof. Dr. Munoto, M.Pd. (Unesa)
Dr. Meini Sondang Sumbawati, M.Pd. (Unesa)
Dr. Tri Riyanto, M.Pd, M.T. (Unesa)
Dr. Bambang Suprianto, M.T (Unesa)
Dr. Agus Budi Santoso, M.Pd (Unesa)
Dr. Euis Ismayati, M.Pd (Unesa)
Dr. I.G.P.A. Buditjahjanto, S.T.,M.T (Unesa)
Dr. Son Kuswadi, M.Eng (PENS)
Dr. Endra Pitowarno (PENS)
Prof. Dr. Achmad Jazidie (ITS)
Dr. Mohamad Hariadi (ITS)
Dr. I Ketut Eddy Purnama, ST, MT (ITS)
Dr. Achmad Affandi (ITS)
Dr. Gamantyo Herdiantoro (ITS)
Dr. Joko Purwanto (ITS)
Dr. Joko Lianto (ITS)
Dr. Royyana Muslim Ijtihadi, S.Kom, M.Kom (ITS)
Dr. Tohari Ahmad, S.Kom, MIT (ITS)
Dr. M. Aziz Muslim (Unbraw)
Dr. Drs. Bambang Supriyanto, M.T.(Unesa);
Dr. Lilik Anifah, S.T., M.T. (Unesa);

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

ix

SUSUNAN PANITIA


Penasehat : Drs. Tri Wrahatnolo M.Pd, MT
Penanggung Jawab : Puput Wanarti R, ST,MT

Ketua Panitia : Dr. IGP Asto Budi T
Sekretaris : Hapsari Peni A, S.Si, MT
Asmunin S.Kom
Ignatius Destuardi, S.T.,M.T.
Bendahara : Ir. Imam Agung

Sie Makalah dan Prosiding : Dr. Lilik Anifah, S.T, M.T.
Dwi Fatrianto S., S.Kom, M.Kom
Agus Prihanto, S.T.M.Kom

Sie Publikasi dan Dokumentasi : Wiyli Yustanti, S.Si, M.Kom
Joko Catur Condro, S.Si, M.T.
Aditya Prapanca, S.T., M.Kom.

Sie Perlengkapan dan Keamanan : Drs. J.A. Pramukantoro, M.Pd
Ari Kurniawan, S.T.,M.T.
Nur Kholis, S.T., M.T.

Sie Acara dan Persidangan : Subuh Isnur H., S.T., M.T.
Salamun Rohman N, S.Kom.,M.Kom
I Kadek Dwi Nuryana. S.T., M.Kom.

Sie Penggalangan Dana : M. Syariffudin Zuhri, S.Pd., M.T.
Dedy Rahman, S. Kom, M.Kom
I.G.L. Putra Eka P., S.T., M.M

Sie Konsumsi : Dra. Indrati Agustinah
Aries Dwi Indriyanti, S.Kom., M.Kom
Nurhayati, S.T., M.T.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xi

KEYNOTE SPEAKERS

Dr. Ikhsan
(Staf Ahli Setditjen Pendidikan Menengah)
Pengembangan Model Website Pendidikan Menengah Universal (PMU)

Dr. Ir. Ari Santoso, DEA
(Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi Pendidikan)
Memanfaatkan Rumah Belajar belajar.kemdikbud.go.id untuk Menyongsong Generasi Emas 2045

Dr. Ir. Endra Pitowarno, M.Eng
(Pakar Robotika)
Pengembangan Nano- satellite di PENS sebagai Wadah Pendukung Penelitian Infra Struktur Nasional
dalam Penguasaan TIK dibidang Satelit dan Keantariksaan

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xiii

DAFTAR ISI
SAMBUTAN KETUA PANITIA STE 2013 ........................................................................................ iii
SAMBUTAN REKTOR UNESA ........................................................................................................... v
STEERING COMMITEE .................................................................................................................... vii
SUSUNAN PANITIA ............................................................................................................................. ix
KEYNOTE SPEAKERS ........................................................................................................................ xi
DAFTAR ISI ......................................................................................................................................... xiii
MAKALAH UTAMA ............................................................................................................................. 1
Pengembangan Model Website Pendidikan Menengah Universal (PMU) ................................................... 3
Dr. Ikhsan
1
........................................................................................................................................................ 3
Pengembangan Nano-Satellite di PENS sebagai Wadah Pendukung Penelitian Infra Struktur Nasional
dalam Penguasaan TIK di bidang Satelit dan Keantariksaan ...................................................................... 11
Endra Pitowarno, Dr. Ir. M.Eng
1
.................................................................................................................... 11
MAKALAH PENDIDIKAN ................................................................................................................. 17
Tes Kinerja (Performance Test) Dalam Bidang Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan ........................... 19
Supari Muslim ................................................................................................................................................. 19
Identifikasi Kompetensi Lulusan D3 Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta Mengacu
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ....................................................................................................... 33
Muhamad Ali................................................................................................................................................... 33
Pemanfaatan Perangkat Lunak Open Source untuk Mendukung KBM dan Manajemen Sekolah ....... 37
Inte Christinawati Buull
1
, Immanuel Panjaitan
2
........................................................................................ 37
Pengembangan Perangkat Untuk Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Berorientasi Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan Standar Industri Bidang Perbaikan
Motor Listrik (PML) ......................................................................................................................................... 43
Gatot Widodo
1
, Joko
2
...................................................................................................................................... 43
Pengembangan Standar Kompetensi Perbaikan Motor Listrik Berbasis SKNI dan Kinerja di Industri
Listrik .................................................................................................................................................................. 53
Joko
1
, Gatot Widodo
2
, Subhan
3
...................................................................................................................... 53
Pengembangan E-book Interaktif Mata Kuliah Elektronika Digital ........................................................... 61
Lusia Rakhmawati
1
, Dhimas Ardhiansyah Pratama
2
.................................................................................... 61
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menerapkan Model Pembelajaraan Kooperatif Tipe Group
Investigation (Gi) Berbantuan Software Multisim Untuk Mencapai Kompetensi Mata Pelajaran Dasar
Kompetensi Kejuruan, Keterampilan Proses dan Keterampilan Sosial (Studi pada Kelas X SMK
Negeri 3 Boyolangu Tulungagung)................................................................................................................... 69
Nofida Suwita Sari
1
, Ismet Basuki
2
................................................................................................................ 69
Kompetensi Mahasiswa Unesa Sebagai Calon Guru Dalam Merencanakan Pembelajaran ................... 77
Meini Sondang Sumbawati
1
, Sudarmono
2
...................................................................................................... 77
Pengembangan Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran Kooperatif sebagai
Upaya Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa .................... 83
Puput Wanarti Rusimamto
1
, Achmad Imam Agung
2
, Indrati Agustinah
3
, Yosia Daniel
4
............................. 83
Menggubah Model Pembelajaran Konstruktivistik (Salah Satu Alternatif Mengatasi Masalah
Pembelajaran) .................................................................................................................................................... 89
Sudarmono
1
..................................................................................................................................................... 89
Pengaruh Pembelajaran Active Knowledge Sharing terhadap Hasil Belajar Siswa pada Standar
Kompetensi Memahami Sifat Dasar Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya ......................................... 97
Adi Sunaryo
1
, Rr. Hapsari Peni
2
..................................................................................................................... 97
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xiv

Pengembangan media pembelajaran aljabar relasional untuk perancangan query berbasis os android
............................................................................................................................................................................ 105
Wiyli Yustanti
1
, Bima Kharisma
2
................................................................................................................. 105
Teori Rancangan Pembelajaran di Kelas dengan Pembelajaran Mandiri Berbasis Teknologi
Pembelajaran .................................................................................................................................................... 113
Indrati Agustinah
1
......................................................................................................................................... 113
Media Pembelajaran Berbasis ICT
*)
.............................................................................................................. 125
Godlief Erwin Semuel
1
, I Made Parsa
2
........................................................................................................ 125
Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Mahasiswa Melalui Memberian Tugas Proyek Secara Mandiri
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak Mahasiswa D3 Manajemen Informatika Jurusan Teknik
Elektro Unesa ................................................................................................................................................... 129
Rina Harimurti
1
............................................................................................................................................. 129
Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa yang Memiliki
Motivasi Berprestasi Berbeda pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor ........... 135
Alfian Nur Dzul Qurnain
1
, Rr. Hapsari Peni A
2
........................................................................................... 135
Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran Matematika untuk Materi Bilangan dengan
Menggunakan Flash......................................................................................................................................... 145
Yuni Yamasari
1
............................................................................................................................................. 145
Pemanfaatan Software Animasi Kimia sebagai Media Pembelajaran pada Materi Larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit Mahasiswa Semester 1 Jurusan Teknik Elektro Unisla .............................................. 153
Cicik Herlina Yulianti
1
.................................................................................................................................. 153
Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika ........................................................................... 159
Wiryanto
1
....................................................................................................................................................... 159
Rancang Bangun Perangkat Pembelajaran Robotika Berbasis Computer Interactive Learning And
Computer Assisted Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Peserta Didik ..................................... 167
M. Syariffuddien Zuhrie
1
, Agung Prijo Budijono
2
, Adam Ridhianto
3
....................................................... 167
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Blended Learning pada Standar Kompetensi
Mengolah Hidangan Kontinental untuk Meningkatkan Hasil ................................................................... 173
Nelis Susanti
1
, Luthfiyah Nurlaela
2
, Ekohariadi
3
........................................................................................ 173
Pengembangan Modul Ajar Pemrograman Komputer Dengan Mengintegrasikan Algoritma
Pemrograman Berbasis Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Ketrampilan Peserta Didik
............................................................................................................................................................................ 181
Anita Qoiriah
1
, Bambang Sujatmiko
2
........................................................................................................... 181
MAKALAH ELEKTRO ..................................................................................................................... 185
Robot Pelacak Objek Bola Berbasis Sensor Kamera CMUCam3 ............................................................. 187
Didik Hariyanto
1
, Kuncoro Ariyo Wibowo
2
................................................................................................. 187
Karakateristik Potensi Energi Surya dan Energi Angin sebagai Alternatif dalam Menunjang Program
Agropolitan di Propinsi Gorontalo ................................................................................................................ 195
Lanto Mohamad Kamil Amali
1
, Dedi Ferinawan
2
........................................................................................ 195
Prediksi Redaman Hujan Spesifik pada Kanal Gelombang Milimeter untuk Frekuensi 10 50 GHz . 203
Naemah Mubarakah
1
, Soeharwinto
2
, Fakhruddin Rizal B.
3
, Candra V. Tambunan
4
................................... 203
Double Boost Converter Sebagai Optimalisasi Baterai Kendaraan Listrik. ............................................. 209
Ainur Rofiq
1
, Era Purwanto
2
, Aditya Rachman
3
.......................................................................................... 209
Purwarupa Kontrol Robot Inverted Pendulum menggunakan Fuzzy Logic ............................................. 215
Ahmadi
1,2)
M. Rameli
1)
Rusdhianto Effendie
1)
............................................................................................ 215
Pemanfaatan Cyclone sebagai Alternatif Penerangan ................................................................................. 223
Achmad Imam Agung
1
, Tim Ghora Vira A
2
................................................................................................ 223
Pemanfaatan Sistem Inferensi Fuzzy untuk Penentuan Tingkat Kerawanan Penyebaran Leptospirosis
di Kabupaten Bantul........................................................................................................................................ 227
Ariesta Damayanti
1
, Syamsumin Kurnia Dewi
2
........................................................................................... 227
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xv

Analisis Kedip Tegangan Akibat Pengasutan Motor Induksi (Aplikasi di Perusahaan Pengolahan Air
Bersih di Kota Medan) .................................................................................................................................... 233
Army Frans Tampubolon
1
, Syiska Yana
2
, Riswan Dinzi
3
, Zulkarnaen Pane
4
............................................. 233
Design of Model Free Adaptive Fuzzy Controller for Speed Control of BLDC Motor ........................... 237
Sabat Anwari
1
................................................................................................................................................ 237
Perancangan Kontrol PID pada Motor DC Shunt ....................................................................................... 243
Era Purwanto
1
,Ainur Rofiq Nansur
2
, Irwan Kusuma Nugraha
3
................................................................. 243
Ekstraksi Objek Citra Berbasis Pengaturan Threshold Alpha Matting Adaptive Menggunakan Analisa
Spectral.............................................................................................................................................................. 249
Jarir
1
, Mochamad Hariadi
2
............................................................................................................................ 249
Rancang Bangun Rangkaian Penstabil Tegangan Generator Sinkron Tiga Fasa 2 kVA Menggunakan
Peyearah Semi Terkontrol Satu Fasa Sebagai Rangkaian Suplay Eksitasi dengan Kontroler PI ......... 255
1
Noor Muttaqin Arrozzy,
2
Gigih Prabowo,
3
Renny Rakhmawati ................................................................ 255
Rancang Bangun Alat Selaras Nada Gamelan Pelog Jawa Timuran ....................................................... 263
Joko Catur Condro Cahyono *) .................................................................................................................... 263
Pengendalian Tegangan Pada Koordinasi Multi AVR Menggunakan Metode Sensitivitas .................... 267
Subuh Isnur Haryudo .................................................................................................................................... 267
Pendekatan Maju (Forward) Dynamic Programming Untuk Permasalahan MinMax Knapsack 0/1 .. 273
Ani D Rahajoe
1
, Arif Arizal
2
........................................................................................................................ 273
Duplikasi dan Extraksi Website atau Blog Secara Otomatis ...................................................................... 279
Zet Yulius Baitanu
1
, Andrea Stevens Karnyoto
2
.......................................................................................... 279
Membangun Aplikasi Hasil Penjualan Tiket Pesawat Berbasis Web Menggunakan YII Framework.. 289
Zet Zulius Baitanu
1
, I Made Parsa
2
, I Nyoman Bagia
3
................................................................................. 289
Pengembangan Sistem Pakar Untuk Menentukan Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman Kopi
Menggunakan Algoritma Fuzzy Ruled Based .............................................................................................. 301
Agus Hariyanto
1
, Surateno
2
, M. Munih DW
3
............................................................................................... 301
Evaluasi Kinerja Sistem Antijamming OFDM dengan Convolutional Coding dan Interleaving pada
Komunikasi Taktis ........................................................................................................................................... 307
Pradini Puspitaningayu
1
, Gamantyo Hendrantoro
2
....................................................................................... 307
Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Kesesuaian Wilayah Perairan untuk Budidaya Rumput Laut
Berbasis Sistem Informasi Geografi .............................................................................................................. 313
Hari Toha Hidayat
1
, Wiwiet Herulambang
2
................................................................................................. 313
Deteksi Cemaran Aflatoksin Pada Biji Jagung dengan Metode Backpropagation Jaringan Syaraf
Tiruan (Backpropagation Artificial Neural Network) ................................................................................ 319
Salmawaty Tansa
1
......................................................................................................................................... 319
Desain Sistem Monitoring Mobil Listrik dengan Tampilan Aplikasi Android pada Dashboard ........... 325
Era Purwanto
1
, Ainur Rofiq Nansur
2
, Muhammad Ridwan
3
........................................................................ 325
Pemanfaatan Sumber Energi Alternatif Tenaga Hybrid untuk Kafe Mandiri ........................................ 329
Renny Rakhmawati
1
, Priyambodo Arief Kurniawan
2
, Nani Setiyowati
3
..................................................... 329
Sistem Beban Penerangan Hemat Energi Pada Rumah Mandiri Energi .................................................. 335
Bara Yohantomo
1
, Suhariningsih
2
, Indhana Sudiharto
3
............................................................................... 335
Pengendalian Kecepatan Motor Sinkron Magnet Permanen (MSMP) Menggunakan Neural network
Controller (NNC) ............................................................................................................................................. 339
Richa Watiasih
1
, Kuspijani
2
.......................................................................................................................... 339
Analisa Fitur Citra X-Ray Osteoarthritis Berbasis Grey Level Co-Occurence Matrix dan Grey Level
Run Length Matrices ....................................................................................................................................... 345
Lilik Anifah
1
, Haryanto
2
.............................................................................................................................. 345
Penerapan Resolusi Rendah, Menengah dan Tinggi pada Tomografi Komputer ................................... 351
Nur Kholis
1
, Dedy Rahman Prehanto
2
.......................................................................................................... 351
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xvi

Performansi Sistem Modulasi BPSK pada Kanal Rayleigh untuk Sistem Komunikasi CDMA dengan
Simulink Matlab ............................................................................................................................................... 355
Nurhayati
1
, Gracia Gitavanni
2
....................................................................................................................... 355
Peningkatan Kemurnian Ethanol Dengan Pengontrolan Temperatur Pada Destilasi Model Batch
Sebagai Bahan Hidrogen DEFC ..................................................................................................................... 361
Nurhayati
1
...................................................................................................................................................... 361
Penggunaan Kamera CCTV Sebagai Sensor Pendeteksi Api Pada Robot Pemadam Api ...................... 367
Dwi Edi Setyawan
1
, Prihastono
2
................................................................................................................... 367
Penentuan Sindrom Jantung pada Traditional Chinese Medicine dengan menggunakan Expert System
............................................................................................................................................................................ 373
I.G.P. Asto Buditjahjanto .............................................................................................................................. 373
Simulasi Aplikasi Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) Pada Pengaturan Level Air
Dengan WINLOG ............................................................................................................................................ 381
Diana Rahmawati
1
, Miftachul Ulum
2
, Taqijuddin Alawy
3
, Iwan Nurfianto
4
.............................................. 381
Rancang Bangun Alat Pembuat Susu Kedelai Berbasis Mikrokontroler .................................................. 387
Renny Rakhmawati
1
, Irianto
2
, Febby Novetna
3
. ........................................................................................... 387
Pemanfaatan Serbuk TiO
2
untuk Menghasilkan Sumber Energi Alternatif yang Mudah, Cepat, dan
Murah ................................................................................................................................................................ 393
Aris Ansori
1
, Subuh Isnur Haryudo
2
, Indra Herlamba Siregar
3
................................................................. 393
Rancang Bangun Prototipe Sistem Absensi Otomatis dengan Teknologi RFID ..................................... 399
Albert Sagala
1
, Daniel Sitorus
2
, Michael Toby Sembiring
3
Titus Nainggolan
4
........................................... 399
Rancang Bangun Alat Otomatis Pemberi Pakan Ikan pada Tambak Ikan Berbasis PLC .................... 411
Renny Rakhmawati
1
, Agil Jeffry Aditya
2
, Mohamad Safrodin
3
. .............................................................. 411
Desain Monitoring Multi Generator Kapal Niaga M000236 dengan Automatic Meter Reading (AMR)
Nirkabel ............................................................................................................................................................. 417
Agus Kiswantono .......................................................................................................................................... 417
Main Kontrol Unit (ECU) Sebagai Estimator Kapasitas Baterai Dan Setting Driver Motor Pada Mobil
Listrik ................................................................................................................................................................ 421
Ainur Rofiq, Era Purwanto, Dimas Setia Budi ........................................................................................... 421
MAKALAH INFORMATIKA ........................................................................................................... 425
Pencarian Jalur Terpendek Menggunakan Multi Fungsi Pada Algoritma A* Berbasis Android ......... 427
Budi dwi Satoto
1
, Eza Rahmanita
2
................................................................................................................ 427
Aplikasi Kontrol dan Monitoring Jaringan Komputer Berbasis Mobile ................................................. 433
M. Basith Ardianto1, Koko Joni2, Miftachul Ulum3 ................................................................................... 433
Sistem Informasi Monitoring Tindakan Koreksi Dan Pencegahan Pada PT.Kline Air Service Indonesia
............................................................................................................................................................................ 441
Sejati Waluyo
1
, Dendy Afrianto
2
.................................................................................................................. 441
Aplikasi Pembayaran Pajak Untuk Perbankan ........................................................................................... 447
Lis Suryadi
1
................................................................................................................................................... 447
Pemodelan Evaluasi Terintegrasi Atas Penggunaan Sistem Informasi ..................................................... 453
Erna Yuliasari
1
, Wing Wahyu Winarno
2
, Bimo Sunarfri Hantono
3
............................................................. 453
Rancang Bangun Perangkat Lunak Perakitan Tes Otomatis Menggunakan lpsolve dan mySQL ........ 461
Ariadie Chandra Nugraha
1
, Rumyati
2
........................................................................................................... 461
Analisis Terhadap Peranan Audit Berbasis Cobit 4.1 Dalam Mengukur Produktifitas Penggunaan
Teknologi Informasi Dan Komunikasi .......................................................................................................... 467
Indri Sudanawati Rozas
1
, Awalludiyah Ambarwati
2
.................................................................................... 467
Pengalian Informasi Penting yang Tersembunyi dalam Tweet dari Data Stream Micro Blogging ....... 473
Arif Arizal
1
, Syariful Alim
2
.......................................................................................................................... 473
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xvii

Developed e-learning using Open Source Software Technology (Dokeos) Membangun e-learning
menggunakan Teknologi Open Source Software (Dokeos) ......................................................................... 477
Aditya Prapanca
1
........................................................................................................................................... 477
Game Congklak Digital sebagai Upaya Pelestarian Permainan Rakyat Tradisional .............................. 483
Agung Budi Prasetyo
1
, Pius Dian Widi Anggoro
2
....................................................................................... 483
Sistem Informasi Pengadaan Barang Studi Kasus: PT.Sinar Elektronika SEB ............................... 489
Agus Umar Hamdani
1
................................................................................................................................... 489
Analisis Pengukuran Kinerja Akses Data Jaringan 3G .............................................................................. 495
Hubbul Walidainy
1
M.Irhamsyah
2
Mohd. Citrawan Myza
3
........................................................................ 495
Kombinasi Logika Fuzzy dan Algoritma Genetika untuk Analisis Asosiasi pada Fasilitas Evaluasi
dalam Sistem e-Learning ................................................................................................................................. 501
Yuni Yamasari
1
............................................................................................................................................. 501
Pengaruh Penyelarasan Strategi TI COBIT DS4 (Ensure Continuous Service) terhadap Kinerja Niaga
Perusahaan BUMN Kelistrikan ...................................................................................................................... 507
I Kadek Dwi Nuryana
1
.................................................................................................................................. 507
Web Portal Pencarian Kost Terdekat untuk Mahasiswa di Sekitar Kampus ......................................... 513
Tiyan Wisesa
1
, I Kadek Dwi Nuryana
2
......................................................................................................... 513
Rancang Bangun Sistem Informasi Hotel ..................................................................................................... 521
Dedy Rahman Prehanto
1
, Tito Bangun Septian
2
.......................................................................................... 521
Implementasi Port-Knocking di Mikrotik dengan Menggunakan Komponen Delphi TcpClient .......... 533
Agus Prihanto
1
............................................................................................................................................... 533
Rancang Bangun Sistem Informasi pada Kifly Bakery ............................................................................... 539
Aris Dwi Indriyanti
1
, Yulia Dwi Wulandari
2
............................................................................................... 539
Analisis Unjuk Kerja Jaringan Ad Hoc pada Protokol Perutean AODV dan OLSR dengan Metode
Testbed .............................................................................................................................................................. 551
Deni Lumbantoruan
1
, Joko S. Siagian
2
, Jhon B. Sibuea
3
, Markus M. Panjaitan
4
........................................ 551
Ensiklopedia Busana Adat Nusantara Berbasis Multimedia Interaktif ................................................... 561
Iwan Sonjaya
1
................................................................................................................................................ 561
Analisis Time Series Untuk Meramalkan Omset Penjualan Dengan Algoritma ARIMA ....................... 567
Aries Dwi Indriyanti
1
, Gidyon Adi Wicaksono
2
......................................................................................... 567
VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik
............................................................................................................................................................................ 573
Aan Choesni Herlingga
1
, Agus Prihanto
2
..................................................................................................... 573
Pemanfaatan Virtualbox untuk Mensimulasikan Interkoneksi Jaringan OSPF dengan RouterOS
Mikrotik ............................................................................................................................................................ 579
Agus Prihanto
1
............................................................................................................................................... 579
Estimasi Local Motion Berbasis Pencarian Hexagonal ............................................................................... 585
Rosida Vivin Nahari
1
.................................................................................................................................... 585

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

xviii


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

1

MAKALAH UTAMA
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

3

Pengembangan Model Website
Pendidikan Menengah Universal (PMU)
Dr. Ikhsan
1
1
Staf Ahli Setditjen Pendidikan Menengah
Abstrak Kajian ini bertujuan untuk mengetahui
tentang kegunaan Website untuk meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU), bagaimana materi,
komponen, prototype, dan mekanisme pemanfaatan
Website untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU). Selain itu juga untuk mengetahui
bagaimana pengelolaan (ketenagaan, pendanaan,
sarana-prasarana, dan pengorganisasian) Website
untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU). Tujuan lainnya adalah untuk
mengetahui bagaimana prinsip-prinsip dan imlikasi
yang perlu diperhatikan dan antisipasi lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) memanfaatkan
Website untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU). Hasil penelitian ini menghasilkan
kebijakan dan pada lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) serta pihak-pihak terkait dalam
memanfaatkan ICT (Website) guna meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).
Kata Kunci : Model Website, Pendidikan Menengah
Universal, Mutu Pendidikan, dan
Pembelajaran.
I. PENDAHULUAN
Mendekati dekade kedua pada abad ke-21,
banyak orang yang menanyakan dampak Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam setiap aspek
kehidupan manusia. Menurut Klaus Schwab Direktur
Eksekutif Forum Ekonomi Dunia dalam Laporan
Informasi Teknologi Global Tahun 2008-2009
mengemukakan bahwa di seluruh penjuru dunia, TIK
telah memperkuat individu dengan akses pengetahuan
dan informasi, memberikan dampak penting dalam
penyediaan pendidikan dan akses pasar, praktek
bisnis, interaksi sosial dan lainnya. Pertanyaan yang
muncul adalah apakah sudah cukup kita
melakukannya, apakah sudah benar kita
melakukannya, dan bagaimana kita tahu.
The Regional Guidelines of Teacher Development
for Pedagogy-Technology Integration, yang
dipublikasikan oleh UNESCO 2005 memberikan
perhatian pada tiga pilar antara pendidikan, teknologi
dan pembangunan. Pengetahuan dapat diakses dalam
suatu masyarakat informasi melalui sistem pendidikan
formal, non-formal dalam rangka mengembangkan
potensi peserta didik dan sebaliknya untuk dapat
memberikan konstribusi terhadap pembangunan
berkelanjutan.
Pendidikan adalah kunci untuk mencapai tujuan
ini, inovasi dan manfaat dari TIK dalam pendidikan
dapat memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan
meningkatkan akses terhadap pendidikan dan
memacu kualitas pendidikan. Tantangan yang
dihadapi dalam mencapai tujuan tersebut adalah
bagaimana pemanfaatan teknologi secara adil dan
efektif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan
dan pendidikan untuk semua.
Menurut Prof. Nancy Law yang mengemukakan
bahwa penggunaan transformasi TIK sangat sulit
dalam keberlanjutannya karena ada gangguan dari
dalam lembaga. Mereka menginginkan perubahan
peraturan dan peran, praktik dan hubungan kekuatan
dalam perbedaan hirarki tingkatan institusi. Disisi lain
kita optimis dengan pendapat Prof. Jonathan
Anderson yang berbagi ke kita dengan prediksi
pengembangan TIK dalam pendidikan ke depan,
antara lain termasuk pengetahuan manusia yang
digital, dunia komputer, jejaring sosial, teknologi
layar sentuh, dan pencampuran mobile dan PC
teknologi.
Untuk pelatihan guru masa yang akan datang atau
pengembangan profesionalisme guru dalam praktik
sehari-hari yang terintegrasi dengan TIK, pembicara
dari Chile, China, India, Indonesia, Malaysia dan
Thailand yang berbagi pengalaman dengan mereka.
Dari pengalaman kami sendiri dengan UNESCO Next
Generation of Teacher Project adalah dengan adanya
kesadaran bahwa kami harus mengembangkan
profesionalisme pendidik atau tenaga kependidikan
dan dosen. Kami harus membangun semua kapasitas
institusi pendidikan, boleh jadi sekolah, institusi
pendidikan guru, dan institusi pendidikan tinggi.
Peran TIK pada pendidikan tinggi merefleksikan
pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, administrasi
dan penelitian, kegiatan ekstensi dan juga kolaborasi
dan pengelolaan institusi di banyak universitas. TIK
juga dimanfaatkan untuk memacu pendidikan non-
formal dan pendidikan seumur hidup. Pembelajaran
Mobile di Korea Selatan adalah pengiriman bahan
ajar tepat orangnya dan tepat waktunya dan cocok
pula tempatnya dalam penggunaan portable
electronic devices. Pakistan, mobile phone digunakan
untuk keterampilan keaksaraan antara keaksaraan
baru dan lingkungan yang non-keaksaraan. Filipina,
ada eSkwela Project yang menawarkan TIK dalam
kesempatan pendidikan pendidikan non-formal dan
informal orang tua dan orang muda.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

4

Dalam rangka merealisasikan misi Depdiknas
tersebut program pendidikan pada tahun 2005-2009
diarahkan untuk mewujudkan: (1) pemerataan dan
perluasan akses pendidikan; (2) peningkatan mutu,
relevansi dan daya saing; dan (3) penguatan tata
kelola, akuntabilitas, dan pencitraan public. Berkaitan
dengan konteks teknologi, untuk melaksanakan
kebijakan tersebut Depdiknas mengamanatkan agar
diperluas dan diintensifkan pemanfaatan ICT di
bidang pendidikan. Pertama, pendayagunaan ICT
dalam pengelolaan pendidikan melalui otomatisasi
pendataan, pengelolaan dan perkantoran dalam rangka
membantu manajemen pendidikan yang transparan
dan akuntabel; dan kedua pendayagunaan ICT sebagai
materi kurikulum dan sebagai media dalam proses
belajar mengajar interaktif.

Secara khusus, dalam upaya meningkatkan
pemerataan dan akses pendidikan, dicanangkan
pendayagunaan ICT untuk menjangkau pendidikan
daerah terpencil (Depdiknas: MPPNJP 2025). Dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan nasional,
Renstra Depdiknas 2005-2010 mencanangkan
perlunya pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi melalui multi media secagai cara yang
efektif dan menyampaikan informasi. Dalam pada itu,
secara khusus Mendiknas mengambil sembilan
terobosan, antara lain mempercepat terwujudnya
pemanfaatan TIK dalam pembelajaran dengan cara
penerapan TIK secara masal untuk e-pembelajaran
dan administrasi (Depdiknas 2008).
Seiiring dengan kebijakan Depdiknas,
Departemen Komunikasi dan Informasi
mencanangkan pula kebijakan akan tercapainya
masyarakat informasi Indonesia di masa depan yang
diarahkan pada tiga pilar, yakni pembangunan
infrastruktur informasi, pembuatan regulasi, serta
pembangunan sumberdaya manusia yang matang
(Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Departemen
Komunikasi dan Informasi, Kompas 25 April 2006:
Peluncuran situs Pendidikan). Upaya untuk mencapai
masyarakat informasi dengan SDM yang menguasai
ICT dapat dibangun melalui pendidikan.
Kebijakan pembangunan SDM yang mampu
menguasai ICT perlu segera diwujudkan secara
konsisten dan berkelanjutan. Berkaitan dengan hal
tersebut, Depdiknas senantiasa bekerjasama dengan
berbagai pihak untuk mewujudkan SDM yang
menguasai ICT dan mendayagunakan ICT guna
mencapai hasil belajar yang bermutu. Upaya tersebut
sekaligus untuk mengejar ketertinggalan dari negara
lain di bidang ICT.
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas
dirumuskan permasalahan kajian ini adalah
bagaimana model pendayagunaan dan pemanfaatan
ICT (Website) untuk meningkatkan mutu proses dan
hasil pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU). Secara khusus dirumuskan sebagai
berikut:
a. Bagaimanakah pengertian dan kegunaan
Website untuk meningkatkan mutu proses
dan hasil pembelajaran di lembaga
pendidikan menengah universal (PMU)?
b. Bagaimanakah materi, komponen, prototype,
dan mekanisme pemanfaatan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU)?
c. Bagaimanakah pengelolaan (ketenagaan,
pendanaan, sarana-prasarana,dan
pengorganisasian) Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU)?
d. Bagaimanakah prinsip-prinsip dan imlikasi
yang perlu diperhatikan dan diantisipasi
lembaga pendidikan menengah universal
(PMU) memanfaatkan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU)?

Kajian ini secara umum bertujuan untuk
memperoleh bahan rekomendasi kebijakan tentang
alternatif model pemanfaatan ICT khususnya Website
lembaga pendidikan menengah universal (PMU)
guna meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU).

Secara khusus kajian ini bertujuan untuk
memproleh data/informasi tentang:
a. Pemahaman dan kegunaan Website untuk
meningkatkan mutu proses pembelajaran dan
hasil pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).
b. Materi, komponen, prototype, dan
mekanisme pemanfaatan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).
c. Pengelolaan (ketenagaan, pendanaan, sarana-
prasarana,dan pengorganisasian) Website
untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).
d. Prinsip-prinsip dan imlikasi yang perlu
diperhatikan dan diantisipasi lembaga
pendidikan menengah universal (PMU)
memanfaatkan Website untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran di
lembaga pendidikan menengah universal
(PMU).

Ruang lingkup dari kajian ini adalah sebagai berikut:
1. Sasaran penerapan model ini difokuskan
pada satuan pendidikan SMA dan SMK.
Kendati demikian jenis dan jenjang lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) lain
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

5

dapat mengadopsinya, sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan sumberdaya
masing-masing.
2. Pemanfaatan ICT diarahkan untuk
pembelajaran; namun demikian, komponen
model ini juga memberikan peluang kepada
lembaga pendidikan menengah universal
(PMU) untuk memanfaatkannya secara
komprehensif guna pengelolaan administrasi
non-pembelajaran, misalnya untuk
pengelolaan kesiswaan, tenaga, sarana, dan
tenaga lembaga pendidikan menengah
universal (PMU).
3. Model pemanfaatan ICT (Website) ini akan
mencakup pengembangan model dengan
fasilitas internet maupun lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) yang
tidak memiliki fasilitas internet melalui
model jaringan intra-net.
4. Di sisi kajian, substansi yang dibahas dalam
kajian adalah kesiapan lembaga pendidikan
menengah universal (PMU) dalam
memanfaatkan website dan kajian tentang
kelayakan model ini dalam kaitan dengan
implementasinya di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).

Studi ini juga diharapkan dapat menghasilkan
Laporan Utama dan Laporan Eksekutif berisi
informasi bagi para pengambil kebijakan dan lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) serta pihak-
pihak terkait dalam memanfaatkan ICT (Website)
guna meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU).

II. KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Pembelajaran
Pembelajaran yang merupakan terjemahan dari
kata Instructional adalah suatu kegiatan yang di
dalamnya terdapat dua kegiatan yang saling
berinteraksi, yaitu kegiatan belajar dan kegiatan
membelajarkan. Kedua kegiatan ini saling menunjang
dan saling terkait. Kegiatan belajar ada karena adanya
kegiatan membelajarkan yang dilakukan guru.
Sebaliknya kegiatan membelajarkan dilakukan agar
terjadi kegiatan belajar pada diri siswa. Corey
mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu proses
dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola
untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah
laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.
Definisi ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran
yang dilakukan guru bukan mentrasfer ilmu
pengetahuan kepada siswa, tetapi lebih pada
penciptaan situasi dan kondisi yang memungkin siswa
melakukan kegiatan belajar.
B. Hakekat Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
adalah terjemahan dari Information and
Communication Technology (ICT) merupakan
gabungan dari tiga suku kata Teknologi, Informasi,
dan Komunikasi, menurut ensiklopedi elektronik
wikipedia: Information Technology is a broad
subject concerned with technology and other aspects
of managing and processing information, especially
in large organizations. In particular, IT deals with the
use of electronic computers and computer software to
convert, store, protect, process, transmit, and retrieve
information. With the arrival of the Internet and the
broadband connections to all schools, the application
of IT knowledge, skills and understanding in all
subjects became a reality. This change in emphasis
has resulted in a change of name from Information
Technology to Information and Communication
Technology (ICT). Sehingga secara sempit TIK sering
dikonotasikan dengan komputer, namun menurut
Alexey Semenov semua peralatan yang berkaitan
dengan media komunikasi seperti TV, Tape, radio,
loudspeaker dsb juga masuk dalam pengertian TIK itu
sendiri.
Adapun Information Technology (IT) atau dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai teknologi
informasi (TI) didefinisikan oleh beberapa ahli
sebagai berikut: Teknologi informasi, secara umum
didefinisikan mentransfer area teknologi dari system
informasi, hal ini termasuk hardware, database,
jaringan, dan sumber daya lainnya, merupakan
subsistem dari sistem informasi. Dapat juga teknologi
informasi didefinisikan sebagai cara untuk
mendeskripsikan sejumlah sistem informasi ,
pengguna, dan manajemen untuk kepentingan
organisasi. (Turban, Mclean, Wetherbe 2002).
Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang
membantu anda bekerja dengan informasi dan
melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan
pemrosesan informasi (Haag dan Keen, 1996)
Teknologi Informasi tidak hanya terbatas pada
teknologi komputer (perangkat keras, perangkat
lunak) yang digunakan untuk memproses dan
menyimpan informasi, melainkan juga mencakup
teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
(Martin 1999) Teknologi Informasi adalah teknologi
yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan
jalan komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa
data, suara, dan video. (Williams dan Sawyer 2003)
Teknologi Informasi juga dikenal ICT and Infocom di
Asia, adalah terfokus pada penggunaan teknologi
dalam mengendalikan dan memproses informasi,
khususnya dalam organisasi besar (Wikipedia).
C. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Pendidikan
Saat ini perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi telah banyak mendukung kemajuan
bidang pendidikan. Sebagaimana yang dicatat oleh
Subramanian (2005), TI semakin dianggap sebagai
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

6

keterampilan penting dalam dunia kerja, pendidikan,
dan kelangsungan hidup sehari-hari di dunia modern.
Yang lebih penting lagi, pengasosiasian ini seringkali
diartikan dengan pentingnya penguasaan keterampilan
TI bagi generasi muda sebagai bagian dari pendidikan
mereka dan persiapan menuju dunia modern. Ada 5
potensi utama pengadopsian TI dalam bidang
pendidikan, yaitu: memperluas akses,
mempromosikan efisiensi, meningkatkan kualitas
pembelajaran, meningkatkan kualitas pengajaran dan
memperbaiki sistem manajemen
D. Adopsi TI Pada Pendidikan Menengah di
Indonesia
Tanggung jawab lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) dalam memasuki era globalisasi
baru ini, yaitu harus menyiapkan siswa untuk
menghadapi semua tantangan yang berubah sangat
cepat dalam masyarakat. Kemampuan untuk berbicara
bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua
kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk
memasuki lapangan kerja baik di Indonesia maupun
diseluruh dunia. Hanya sekitar 20-30% lulusan
lembaga pendidikan menengah universal (PMU)
menengah yang melanjutkan ke tingkat pendidikan
lebih tinggi, maka dengan adanya komputer yang
telah merambah di segala bidang kehidupan manusia
hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi
bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan
kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran
komputer (http:// pendidikan. tv/ inter. html).
Oleh karena adanya prioritas yang tinggi untuk
membangun fasilitas komputer di seluruh lembaga
pendidikan menengah universal (PMU)-lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) di Indonesia
dan adanya jarak yang cukup jauh antara lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) provinsi di
Indonesia, sepertinya internet pilihan yang cukup baik
untuk mengembangkan komunikasi antar lembaga
pendidikan menengah universal (PMU), Kanwil,
Kandep, dan Depdiknas. Beberapa lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) telah
mengambil inisiatif untuk membangun fasilitas
mereka sendiri. Berdasarkan langkah yang sudah ada
ini, dan membiarkan hal itu berkembang sendiri yaitu
tetap konsisten akan kebutuhan belajar siswa kita,
maka internet sebagai strategi yang sesuai untuk
menjadi medium komunikasi yang sah
(http://pendidikan.tv/inter. html).
Masyarakat Informasi sedunia atau World
Summit on the Information Society (WSIS) 10-12
Desember 2003 di Geneva merekomendasikan
masing-masing negara agar berusaha mencapai target
pembangunan pada tahun 2015, yaitu seluruh desa,
lembaga pendidikan menengah universal (PMU) dan
perguruan tinggi, rumah sakit, serta kantor-kantor
pemerintahan, sudah terhubung dalam jaringan
komunikasi dan informasi. Pada waktu tersebut,
diharapkan 50% penduduk dunia sudah terhubung
dengan internet (www.amanah.or.id). Sebelum ada
kesepakatan WSIS, UNESCO (Oktober 2003 lalu),
juga memberikan perhatian khusus terhadap TI, dan
menyusun program yang disebut masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge-based society).
Indonesia sudah memiliki suatu wadah yang
menampung ketiga stakeholder tersebut, yaitu Tim
Koordinasi Telematika Nasional (TKTI) yang
ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 9
tahun 2003. Lembaga pendidikan menengah universal
(PMU) sebagai institusi pendidikan, perlu diberi
arahan, bagaimana memanfaatkan seoptimal mungkin
teknologi informasi dan komunikasi bagi
pengembangan pendidikan, termasuk bagaimana agar
setiap lembaga pendidikan menengah universal
(PMU) di Indonesia sudah terhubung dalam jaringan
pada tahun 2015 nanti (www.amanah.or.id).

III. METODOLOGI
A. Pendekatan dan Prosedur Pengembangan
Kajian ini bersifat studi penelitian dan
pengembangan dalam mencari solusi/ pemecahan
masalah mengenai pemanfaatan ICT (website) dalam
pembelajaran menggunakan pendekatan metode
analitis, dengan kerangka kerja dan prosedur/
tahapan dalam pengembangan model.
Prosedur/tahapan dalam pengembangan model
mengacu pada dasar pendekatan yang diarahkan oleh
Mulyono (1999), dan Soegijono (2006) disesuaikan
dengan keperluan kajian ini. Prosedur/ tahapan dalam
pengembangan model ini adalahi: (1) Pendefinisian
konsep, Perumusan Masalah, dan Penyusunan Disain,
(2) Penyusunan Model (Produk), dan alternatif
penyelesaian masalah (3) Validasi Model dan/atau
Ujicoba Model, dan (4) Perbaikan model. Dasar
pendekatan tersebut dikembangkan sebagai kerangka
kerja untuk menghasilkan model pengembangan
sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 1.
Prosedur kajian ini diawali dengan kegiatan
eksplorasi. Kegiatan eksplorasi diperlukan guna
menggali data dan informasi yang relevan dengan
permasalahan kajian ini, antara lain tentang konsep
dan pemahaman ICT, Web Site, Pembelajaran,
kebijakan ICT, dan secara empiris menggali
informasi tentang pelaksanaan pendidikan dengan
pemanfaatan ICT, dsb. Penggalian data dan informasi
dilakukan melalui studi kepustakaan dan dari nara
sumber yang relevan dengan kajian. Penggalian
melalui studi kepustakaan dengan mengumpulkan
bahan dari teks book (buku teks), hasil penelitian,
internet, dan dokumen peraturan perundang-undangan
yang relevan; sedangkan dari nara sumber adalah
personil yang menguasai dan ahli di bidang
pendidikan dan ICT, serta dari guru dan kepala
lembaga pendidikan menengah universal (PMU) yang
berhasil menerapkan ICT dalam pembelajaran
maupun dalam pengelolaan lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

7


Gambar 1. Prosedur/ Kerangka Kerja Pengembangan
Model

Tahap berikut adalah melakukan analisis terhadap
hasil studi eksplorasi, melibatkan para pakar
pendidikan. Analisis diarahkan untuk memfokuskan
pada identifikasi masalah dan merumuskan masalah
model pemanfaatan ICT (Website) guna
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di
lembaga pendidikan menengah universal (PMU).
Pada tahap ini disusun pula Disain pengembangan
yang memuat komponen-komponen utama antara lain
tentang permasalahan, tujuan, hasil, pengertian,
metodologi pengembangan model.
Berdasarkan eksplorasi dan analisis disusun
konsep model asumtif (Produk), yakni model
pemanfaatan ICT (Website) guna meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU). Konstruksinya
didasarkan pada perkiraan teoritis dan pengalaman
empiris yang belum divalidasi dan diverifikasi di
lapangan, sehingga belum diketahui tingkat
kelayakannya. Sesuai hasil analisis dan diskusi
dengan pakar diarahkan memuat komponen
permasalahan, tujuan dan manfaat ICT (Website)
guna meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran; Materi, komponen, prototype, dan
mekanisme pemanfaatan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di
lembaga pendidikan menengah universal (PMU);
Pengelolaan (ketenagaan, pendanaan, sarana-
prasarana,dan pengorganisasian) Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di
lembaga pendidikan menengah universal (PMU);
Prinsip-prinsip dan imlikasi yang perlu diperhatikan
dan diantisipasi lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) memanfaatkan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di
lembaga pendidikan menengah universal (PMU).
Guna mendapatkan tingkat kelayakan yang
memadahi, konsep model pemanfaatan ICT (Website)
guna meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) akan divalidasi di lapangan. Validasi
model dilakukan terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan (stake holder) guna memperoleh
masukan dan perbaikan konsep sehingga memperoleh
tingkat kelayakan untuk diimplemantasikan
(diujicobakan/ verifikasi). Verifikasi dilakukan
melalui teknik diskusi (FGD), dan wawancara
menggunakan Pedoman FGD, dan Pedoman
Wawancara. Selanjutnya, Konsep model diperbaiki
dan diperkaya dari hasil verifikasi sehingga
berpotensi untuk dapat diterapkan
(diimlementasikan).
B. Lokasi Validasi: Provinsi dan Kab/Kota
Lokasi kajian untuk validasi model dilakukan
secara bertahap berdasarkan pertimbangan keragaman
kondisi wilayah. Tahap pertama ditentukan provinsi
di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan
Timur Indonesia (Keppres RI Nomor 44 Tahun 2002:
ada 15 Provinsi di KTI), yang dapat
mempresentasikan daerah perkembangan
pembangunan, yakni KBI umumnya lebih maju
dibandingkan dengan KTI. Berdasarkan pembagian
wilayah tersebut dipilih secara purposif 9 (sembilan)
provinsi, masing-masing 6 (enam) provinsi di KBI
dan 3 (tiga) provinsi di KTI. Enam provinsi di KBI
ditentukan kabupaten kota sebagai berikut: Provinsi
Jawa Barat (Bandung), Provinsi Jawa tengah
(Semarang dan Purwokerto), DIY (Yogyakarta),
Jatim (Malang), Bali (Denpasar), dan Sumbar
(Padang). Adapun dan 3 (tiga ) provinsi di KTI. 5
(lima) provinsi di KBI adalah provinsi Kaltim
(Balikpapan, NTB (Mataram), dan Provinsi Sulsel
(Makasar).
C. Lembaga pendidikan menengah universal (PMU)
dan Responden
Di setiap kota/kabupaten sampel ditentukan
secara purposif terhadap 8 (delapan) lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) terdiri dari
SMA dan SMK negeri dan swasta dengan
mempertimbangkan lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) yang telah memiliki website. Setiap
lembaga pendidikan menengah universal (PMU) yang
dilibatkan dalam validasi adalah 8 (delapan) Kepala
Lembaga pendidikan menengah universal (PMU), 16
perwakilan Guru yang mengajar TIK dan guru mata
pelajaran yang di UN kan, serta 8 (delapan) siswa,
sehingga seluruhnya ada 32 responden pada setiap
kota/kabupaten. Tabel 2 tentang Jumlah Lembaga
pendidikan menengah universal (PMU) dan jenis
Responden dalam kegiatan Validasi di setiap
Kota/Kab.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

8

Tabel 1: Provinsi dan Kota/Kab Sasaran Validasi

Tabel 2. Jumlah Lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) dan jenis Responden dalam kegiatan
Validasi di setiap Kota/Kab


D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam kajian ini
dilakukan dengan beberapa pendekatan, sebagai
berikut.
1) Teknik pendekatan kepustakaan, yaitu
mengumpulkan data dari beberapa literatur, hasil
penelitian, majalah ilmiah, peraturan-peraturan,
dan bahan tertulis lainnya yang berhubungan erat
dengan ruang lingkup pengkajian yakni
pemanfaatan ICT (Website) guna meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran di lembaga
pendidikan menengah universal (PMU).
Pendekatan ini digunakan untuk menelusuri dan
memahami teori, konsep, dan difinisi berkenaan
dengan karier, profesionalisme, dan distribusi
guru serta aspek-aspek lain yang terkait guna
membangun dan memperjelas masalah dan model
penataan karier guru.
2) Pengumpulan data dan informasi dari lapangan
dilakukan dengan teknik diskusi menggunakan
pedoman Focus Group Discustion (FGD)
menggunakan pedoman FGD, melibatkan sumber
data dari lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) (Kepala Lembaga pendidikan
menengah universal (PMU), Guru, dan Siswa).
Data dan informasi yang diperlukan dari
responden tersebut adalah tingkat kelayakan
model dengan mengkonfirmasikan aspek-aspek
antara lain tentang: (1) Bagaimanakah pengertian
dan kegunaan Website untuk meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran di lembaga
pendidikan menengah universal (PMU), (2)
Bagaimanakah materi, komponen, prototype, dan
mekanisme pemanfaatan Website untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU), Bagaimanakah pengelolaan
(ketenagaan, pendanaan, sarana-prasarana,dan
pengorganisasian) Website untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran di lembaga
pendidikan menengah universal (PMU), dan
Bagaimanakah prinsip-prinsip dan imlikasi yang
perlu diperhatikan dan diantisipasi lembaga
pendidikan menengah universal (PMU)
memanfaatkan Website untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran di lembaga
pendidikan menengah universal (PMU), serta
saran lainnya untuk perbaikan.
3) Selain itu disiapkan angket untuk Kepala
Lembaga pendidikan menengah universal (PMU)
guna menggali informasi tentang sumberdaya
ICT di lembaga pendidikan menengah universal
(PMU), kebutuhan ICT, dan hambatan-hambatan
dalam penerapan ICT di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU).

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Data dan informasi hasil koreksi dan masukan
dari peserta FGD terhadap kelayakan model
pemanfaatan Website untuk meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran di lembaga pendidikan
menengah universal (PMU) dianalisis secara
diskriptif kualitatif sebagai bahan revisi dan perbaikan
model agar memiliki tingkat kelayakan yang lebih
tinggi, baik pada tataran konsep maupun
operasionalisasi di tingkat lapangan. Analisis
diarahkan dengan basis materi model yang
dikomparasikan dengan masukan FGD, kesesuaian
aturan perundang-undangan, kesiapan dan implikasi
model, didasarkan pada prinsip-prinsip peningkatan
karier guru sekaligus terjadinya distribusi guru di
wilayah kabupaten/kota.

V. KESIMPULAN
Penelitian ini menghasilkan kebijakan dan pada
lembaga pendidikan menengah universal (PMU) serta
pihak-pihak terkait dalam memanfaatkan ICT
(Website) guna meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran di lembaga pendidikan menengah
universal (PMU).

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

9

REFERENSI
[1]. Albirini, A. 2005. Cultural perceptions: The missing element
in the implementation of ICT in developing countries.
International Journal of Education and Development using
Information and Communication Technology, 2 (1): 49-65.
[2]. Daniel A. Wagner, Bob Day, et all 2005.
[3]. Monitoring and Evaluation of ICT in Education Projects: A
Handbook for Developing Countries , Washington. DC
[4]. Haddad, W. D., & Jurich, S. (?). ICT For Education: Potential
and Potency. Diakses dari situs:
http://cbdd.wsu.edu/edev/nigeria_tot/tr510/documents/
ICTforeducation_potential.pdf, pada Tanggal 24 Februari
2006
[5]. Hasani, S. 2004. Konsep Pengembangan Smart-School.
Diakses dari situs: http://www.Lembaga pendidikan
menengah universal
(PMU)2000.or.id/03/index.php?subaction=showfull&id
=1095746762&archive=&start_from=&ucat=3&, pada
Tanggal 24 Februari 2006
[6]. Hepp K., Hinostroza, E., Laval, E., & Rehbein, L. 2004.
Technology in Schools: Education, ICT and the Knowledge
Society. Diakses dari situs:
http://www1.worldbank.org/education/pdf/ICT_report_oct04a
.pdf, pada Tanggal 24 Februari 2006
[7]. http://pendidikan.tv/inter.html. Internet dan Pendidikan.
diakses pada Tanggal 24 Februari 2006
[8]. http://pendidikan.tv/inter.html. Komputer dan Pendidikan.
diakses pada Tanggal 24 Februari 2006
[9]. International Institute for Educational Planning 2004).
[10]. Adapting Technology for School Improvement : A Global
Perspective, Paris
[11]. Kulik, J.K, and Kulik, C-L.C. 1987. Review of recent research
literature on computer-based instruction. Contemporary
Education Review, 12, 222-230.
[12]. Liao, Y.K. 1992. Effects of computer-assissted instruction on
cognitive outcomes. In G.
[13]. Macleod, H. 2005. What role can educational multimedia play
in narrowing the digital divide? International Journal of
Education and Development using Information and
Communication Technology, 1 (4): 42-53.
[14]. Natawidjaja, R. S. 2005. Aplikasi Internet Untuk Penelitian
dan Pengajaran. Diakses dari situs: www.pasca.unpad.ac.id,
pada Tanggal 24 Februari 2006
[15]. Niemic, R.P. & Walberg, H.J. (1992). The effects of
computers on learning. International Journal of Educational
Research, 17, 99-108.
[16]. Pattiradjawane, R. L. 2004. Lembaga pendidikan menengah
universal (PMU) Web sarana menuju Masyarakat Adil dan
Modern. Diakses dari situs: http://www.lembaga pendidikan
menengah universal (PMU)2000.or.id/03/index.php?
subaction=showfull&id=1081461914&archive=&start_from=
&ucat=3&., pada Tanggal 24 Februari 2006
[17]. Ryan, A.W. (1991). Meta-analysis of achievement effects of
microcomputer applications in elementary schools.
Educational Administration Quartely, 27, 161-184.
[18]. Semenov Alexey (2005), Information And Communication
Technologies In Schools : A Handbook For Teachers,
Washington. DC
[19]. Subramanian, S. 2005. ICT learning: Is it more valuable for
the young? International Journal of Education and
Development using Information and Communication
Technology, 2 (1): 11-21.
[20]. Sugiono, 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung, Alfabeta.
[21]. The International Bank for Reconstruction and Development /
The World Bank,(2005) Knowledge Maps: ICTs in
Education , Washington. DC
[22]. Tim MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika UPI. (2001).
Strategi Pembelajaran
[23]. Matematika Kontemporer. JICA-UPI, Bandung
[24]. Toland, J., & Yoong, P. 2005. Learning Regions in New
Zealand: The role of ICT. International Journal of Education
and Development using Information and Communication
Technology, 1 (4): 54-68.
[25]. www.waspada.co.id. 2006. ICT Memacu Siswa Untuk Kreatif.
Diakses dari situs:
http://www.waspada.co.id/seni_&_budaya/putra_putri_medan
/artikel.php?article_id=75600, pada Tanggal 24 Februari 2006
[26]. www.amanah.or.id (?) Pemberdayaan Lab Komputer di Setiap
Lembaga pendidikan menengah universal (PMU) diakses dari
situs: http://www.amanah.or.id/cetakartikel.php?id=260, pada
Tanggal 24 Februari 2006

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

11

Pengembangan Nano-Satellite di PENS sebagai Wadah
Pendukung Penelitian Infra Struktur Nasional dalam
Penguasaan TIK di bidang Satelit dan Keantariksaan
Endra Pitowarno, Dr. Ir. M.Eng
1

1
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, E-mail: epit@eepis-its.edu
Abstrak - Dalam makalah ini dibahas tentang
pengembangan program nano-satellite di PENS sebagai
bagian dari program nasional dalam penelitian dan
pengembangan teknologi satelit di perguruan tinggi
melalui program IINUSAT (Indonesia INter University
SATellite). Program ini adalah salah satu upaya untuk
menguasai TIK nasional secara mandiri melalui
penguasaan teknologi satelit dan antariksa.
Pembahasan ditekankan pada outline pengembangan
sistem nano-satellite secara keseluruhan diikuti dengan
bahasan-bahasan sistem pendukung utamanya seperti
sistem pengendali sikap satelit ADCS (Attitude
Determination and Control System). Dalam topik ADCS
ini sensor IMU (Inertial Measurement Unit) dan sistem
pengendali sikap berbasis sistem benam prosesor yang
dikembangkan di PENS mendapat perhatian kajian.
Dari hasil desain dan eksperimen diperoleh kesimpulan
bahwa sistem ADCS dan IMU PENS ini cukup handal
untuk diterapkan pada satelit sesungguhnya.
Kata Kunci: nano-satellite, TI K (teknologi informasi &
komunikasi), ADCS, I MU

I. PENDAHULUAN
Program Nano-Satellite (Nanosat) IINUSAT di
bawah kegiatan Direktorat Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat (DP2M) DIKTI Kemdikbudnas
ini adalah sebuah kegiatan penelitian dan workshop di
bidang satelit yang diselenggarakan multi-year yang
beranggotakan berbagai perguruan tinggi di
Indonesia. Kegiatan Nanosat yang diinisiasi oleh
forum INSPIRE (Indonesian Nano Satellite Program
Initiative for Research and Education) dalam
workshop INSPIRE bulan Oktober 2009 di PENS ini
adalah sebuah langkah untuk menumbuhkan kembali
semangat menguasai dirgantara dan era kebangkitan
teknologi, khususnya di angkasa luar dan satelit
(space craft).


Gambar 1: Ilustrasi Struktur IINUSAT versi 2011
Hasil yang diperoleh pada tahun pertama
kegiatan ini (2010-2011) adalah dukumen PDR
(Preliminary Design Review) yaitu, suatu dokumen
yang berisi tentang hasil desain awal yang akan
dicoba direalisasikan [1]. Dalam desain di PDR ini
telah ditetapkan bentuk nanosat heksa dengan tinggi
sekitar 40 cm seperti nampak dalam Gambar 1.
Dalam gambar ini hanya diilustrasikan bentuk utama
struktur secara parsial (belum direkatkan) dan belu
termasuk rencana pemasangan antena komunikasi.
Desain IINUSAT versi awal secara keseluruhan
dilaporkan secara terintegrasi dalam dokumen PDR
IINUSAT yang terdiri dari setidak-tidaknya 4 bagian
utama, yaitu: Payload Communication & Tele-
Command Comm yang akan digarap oleh UI, Mission
Objective dan Bench Model oleh ITB, On Board Data
Handling (OBDH) oleh UGM, Ground Station oleh
ITS dan ADCS (Attitude Determination & Control
System) oleh PENS.
Dalam realisasinya di tahun 2012, dengan
berbagai kendala dan keterbatasan pengetahuan
tentang teknologi satelit bagi seluruh anggota forum
INSPIRE maka telah dilakukan berbagai eksperimen
awal oleh masing-masing tim anggota. PENS yang
kebagian tugas di ADCS merealisasikan kegiatan
praktis awal ini dengan membuat model fisik satelit
yang menyerupai aslinya dengan material yang
disesuaikan. Antara lain penggunaan material Dural
yaitu material yang biasa digunakan sebagai bahan
dasar struktur pesawat, dan merealisasikan bentuk
struktur tersebut seperti dalam ilustrasi Gambar 2
berikut ini.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

12


Gambar 2: IINUSAT versi 2012 tengah diuji coba sistem
telemetrinya di lapangan merah PENS.
Dalam evaluasi hasil kegiatan tahun 2012
diperoleh kesimpulan bahwa struktur versi 2011
ternyata memiliki dimensi yang terlampau tinggi
sehingga perlu dimodifikasi sesuai dengan mass
budget seperti dalam PDR [1]. Dalam modifikasi ini
tim PENS merealisasikan struktur nanosat menjadi
seperti dalam Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3: IINUSAT versi 2013 tipe heksa.
Dengan model mock-up semi engineering model
(EM) seperti pada Gambar 3 di atas maka kegiatan
nanosat yang pada tahun 2013 ini dipusatkan di PENS
memfokuskan desain realisasi sub-system mengikuti
struktur yang secara garis besar telah direalisasikan.
Hal ini termasuk desain instalasi antena UHF-VHF
yang akan menjadi peranti penerus sinyal TX-TX
untuk down-link dan up-link satelit.

II. DESAIN SISTEM ADCS NANOSAT
Outline sistem nanosat IINUSAT dapat
diilustrasikan seperti dalam Gambar 4 berikut ini.


Gambar 4: Outline sistem IINUSAT
Dalam Gambar 4 di atas nampak bahwa sistem
ADCS berfungsi secara parsial dan semi independen
terhadap fungsi keseluruhan yang dikendalikan oleh
OBDH. ADCS harus dapat berfungsi secara mandiri
ketika sistem OBDH tidak memberikan perintah,
yaitu dengan cara memberikan efek kendali low-level
[2] ketika satelit mengorbit dalam keadaan tumbling.
Sistem ADCS sendiri memiliki skema seperti
pada Gambar 5 berikut ini.


Gambar 5: Desain Sistem ADCS
Dalam Gambar 5 ditetapkan beberapa langkah
kerja dan batasan sebagai berikut:
- Sun Sensor: Satelit seharusnya selalu
mengarahkan bidang optimal panel suryanya ke
arah matahari selam mengorbit berdasarkan
sensor ini. Namun karena bentuk struktur panel
surya yang melekat pada sisi-sisi heksa maka Sun
Sensor ini dalam tahap awal belum perlu
diterapkan.
- Gyroscope (dan magnetometer): berfungsi untuk
menginformasikan sikap setiap saat satelit
terhadap bumi secara absolut.
- Accelerometer: berfungsi jika kendali sikap
menggunakan skema force/inertial control. Hal
ini baru akan dilaksanakan pada tahap tahun
berikutnya (2014).
- Aktuator Nutation Damper (Nut-Damp):
berfungsi untuk menghasilkan medan magnit
kutub dan berfungsi untuk mengarahkan satelit
ke bumi secara non-linier (on/off) seperti jarum
kompas. Dalam tahap awal ini aktuator Nut-
Damp dianggap sudah cukup sebagai pengawal
sikap, terutama untuk mengarahkan antena agar
selalu mendapatkan posisi optimal dalam
pengiriman dan penerimaan sinyal. Aktuator ini
dikenal juga sebagai magnetotorquer [4].
- Aktuator Reaction Wheel (R/W): aktuator ini ke
depan akan digunakan sebagai pengendali sikap
linier satelit jika muatan kamera (RSPL remote
sensing / camera surveillance payload)
dimuatkan ke satelit. Hingga tahap tahun 2013
RSPL belum didesain tuntas sehingga muatan
kamera belum didefinisikan dalam final-design.

ADCS terdiri dari dua bagian utama, yaitu ADS
(Attitude Determination System) dan ACS (Attitude
Control System). ADS berupa sensor IMU (Inertial
Measurement Unit) 9 d.o.f, yaitu akselerasi (x,y,z),
gyro (x,y,z) dan magnetometer (x,y,z), sedang ACS
ADCS
COMM
POWER
OBDH
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

13

memiliki aktuator Nut-Damp dan R/W. Sistem ADS
dilengkapi dengan prosesor terpisah yang memiliki
akses keluar (OBDH) melaui DB-9 dan atau FTDI
(miniUSB). Demikian juga pada ACS.
Bakal satelit yang diberinama IINUSAT
(Indonesia Inter University Satellite) ini direncanakan
berbobot sekitar 10 kg (kelas nano satellite) dan
diluncurkan ke orbit LEO (Low Earth Orbit) di
ketinggian sekitar 700 km.

III. ANALISIS GANGGUAN PADA ADCS
Selama fase awal peluncuran via roket secara
piggyback satelit akan mengalami rotasi acak
(tumbling) di luar angkasa hingga berhasil
dikendalikan. Dalam hal ini ADCS bertugas untuk
menjaga kestabilan satelit di orbit, mengubah
orientasi ke arah yang dikehendaki dan
mempertahankan posisi satelit.
Berikut adalah beberapa analisis gangguan yang
mungkin terjadi [3]:
Gravity gradient
Tipe gangguan: cyclic
Diperngaruhi oleh: orientasi satelit dan ketinggian
orbit.
Radiasi sinar matahari
Tipe gangguan : cyclic
Dipengaruhi oleh: geometri satelit, letak center of
gravity dan reflektifitas permukaan satelit
Medan magnet
Tipe gangguan: cyclic
Dipengaruhi oleh: ketinggian orbit, inklinasi orbit
dan sisa kutub magnet satelit
Gangguan Aerodinamika
Tipe gangguan: variable
Dipengaruhi oleh: ketinggian orbit, letak center of
gravity dan geometri satelit

IV. REALISASI SISTEM ADCS NANOSAT DAN HASIL
PENGUJIAN
Berikut ini disajikan beberapa hasil
pengembangan nanosat di PENS di tahun 2013,
utamanya yang berkaita dengan modifikasi struktur
nanosat, sistem IMU dan sistem aktuator (ACS)
berbasis magnetotorquer.
Bentuk outline realisasi sistem yang berkaitan
dengan ADCS secara keseluruhan dapat dilihat dalam
Gambar 6 berikut ini [4]:

Gambar 6: Blok Diagram realisasi ADCS
Dalam Gambar 6 di atas dapat dilihat bahwa
realisasi untuk tahap versi IINUSAT-1 dibatasi hanya
untuk yang berwarna hijau saja, yaitu gyro dan
accelerometer (plus magnetometer pada akhirnya) dan
aktuator Nut-Damp). Hal ini mengingat fungsi awal
sudah dapat dipenuhi dengan skema tersebut, yaitu
fungsi misi satelit untuk mengarahkan antena selalu
menghadap ke Ground Control Station di bumi.
Secara lebih rinci informasi dan gambar-gambar
berikut memberikan ilustrasi.
4.1 Realisasi Sistem Struktur
Struktur IINUSAT-1 versi 2013 dibangun dari
material duralumin dengan prinsip integrasi kokoh
sesuai dengan konsep analisis distribusi gaya. Gambar
7 menunjukkan sebagian struktur yang di-machining
menggunakan mesin CNC di Lab. Manufaktur PENS.

Gambar 7: Struktur pembentuk tubuh IINUSAT-1 versi 2013 tipe
Heksa.
4.2 Realisasi Sistem ADS (IMU)
Salah satu versi sistem IMU nanosat yang
dikembangkan dalam kurun tahun 2012-2013 di
PENS ditunjukkan dalam Gambar 8 berikut ini.


Gambar 8: Sistem IMU yang dipersiapkan untuk IINUSAT-1 tipe
Heksa.
Dalam Gambar 8 nampak bahwa sistem yg
dikembangkan ini sudah menggunakan teknologi
SMD (Surface Mounted Devices) yang relatif
kompleks cara soldering-nya jika dilakukan secara
manual. Oleh karena itu pada beberapa versi ujicoba
banyak ditemui kegagalan fungsi karena koneksi yang
tidak sempurna, misalnya karena persoalan
capasitance/inductance stray pada jalur yang sangat
sempit.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

14

4.3 Realisasi Sistem NUT-DAMP dan Pengujiannya
Sistem aktuator Nutation Damper pada
IINUSAT-1 dibangun menggunakan prinsip
Helmholtz Coil [5, 6]. Realisasi sistem pada versi
Heksa IINUSAT-1 dapat dilihat dalam Gambar 9
berikut ini.

Gambar 9: Realisasi Nut-Damp pada struktur IINUSAT-1 2013.
Sistem Nut-Damp seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar 9 di atas hingga makalah ini dibuat
belum berhasil diujicoba karena sistem pendukung
pengayun-bebas-friksi, yaitu sistem gimbal uji dan
perangkat pendukung air-bearing belum siap
dioperasikan. Namun sebagai ilustrasi bagaimana cara
kerja sistem ini telah dibuat juga miniatur sistem Nut-
Damp untuk simulator tipe pico-satellite [3] seberat
kurang dari 400 gram seperti pada gambar-gambar
berikut. Sebagai catatan: nanosat IINUSAT-1
beratnya berkisar antara 8 hingga 10 kg sesuai dengan
mass-budget seperti pada PDR [1].


Gambar 10: Sistem Uji Nut-Damp pada model pico-satellite [3]
Gambar 10 menunjukkan simulasi Nut-Damp
menggunakan model pico-satellite yang relatif jauh
lebih ringan dibanding dengan nanosat. Dengan
pendekatan ini dapat diderivasikan sistem desain Nut-
Damp untuk skala yang lebih besar.

Hasil pengujian sistem seperti pada Gambar 10
ditunjukkan dalam Gambar 11 berikut ini.

Gambar 11: Hasil Pengujian Nut-Damp pada model pico-satellite

Dari hasil uji di atas nampak bahwa orientasi
sikap yang diaktuasi oleh Nut-Damp cukup dapat
mengarahkan secara alami sistem massa satelit ke
arah sesuai dengan arah magnet bumi, yaitu Utara-
Selatan.

V. KESIMPULAN DAN RANGKUMAN EKSEKUTIF
Kegiatan Nanosat yang diinisiasi oleh forum
INSPIRE ini adalah sebuah langkah untuk
menumbuhkan kembali semangat di era kebangkitan
teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan dan
wahana satelit (space craft). Kebangkitan teknologi
yang dimaksud adalah kemampuan bangsa Indonesia
untuk berdiri di kaki sendiri dalam penguasaan
teknologi terutama teknologi dirgantara. Nanosat
IINUSAT-1 yang digagas memiliki bentuk
heksagonal dengan dimensi sisi heksagonal 15 cm
dan tinggi sekitar 45 cm. Berat total diharapkan tidak
lebih dari 10 kg. Misi utama adalah untuk Emergency
Communication, yaitu dapat bertidak sebagai satelit
repeater untuk komunikasi berbasis teks. Selain itu
juga akan dimuati dengan beberapa eksperimen,
seperti kontrol aktif berbasis reaction wheel, satelit
pengamat berbasis kamera dan beberapa eksperimen
lain yang dikembangkan seiring dengan kegiatan yang
diharapkan berlangsung multi-year ini, yaitu hingga
satelit dapat diorbitkan.

V. UCAPAN TERIMA KASIH
Kegiatan penelitian dan eksperimen nanosat di
PENS ini sepenuhnya didukung oleh DIKTI melalui
kegiatan NANOSAT 2013. Untuk itu diucapkan
terima kasih kepada DIKTI-Kemdikbudnas melalui
kegiatan di DP2M. Ucapan terima kasih juga
ditujukan kepada institusi PENS dan tim PENS yang
amat kompak, yaitu anggota Tim ADCS PENS 2013:
Bambang Sumantri, ST, M.Eng, R. Sanggar Dewanto,
ST, MT, Nofria Hanafi, SST, Muhammad Nasyir T,
SST, Niam Tamami, SST, dan Eko Budi Utomo, SST.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

15

REFERENSI:
[1]. INSPIRE Group, Dokumen Preliminary Design Review
(PDR) untuk Program nano-satellite IINUSAT, Dok. DTRC-
PENS, 2011.
[2]. Pitowarno, E., Robotika: Desain dan Kecerdasan Buatan.
Buku Teks, Penerbit ANDI, Jogjakarta, 2006
[3]. Tim ADCS PENS. (2012). Buku Laporan Kegiatan Nanosat
PENS: Sistem ADCS. Dok. Penelitian, DTRC - PENS.
[4]. Vincent Francois-Lavet , Study of passive and active attitude
control systems for the OUFTI nanosatellites, Master Thesis,
Faculty of Applied Sciences University of Lige; 2010.
[5]. Ovchinnikov, M. Y., Penkov, V. I., Ilyin, A. A. Magnetic
attitude control systems of the nanosatellite tns-series, 5th
IAA Symposium on Small Satellites for Earth Observation,
April 4 - 8, 2005, Berlin, Germany.
[6]. A.M. Si Mohammed, A. Boudjemai, S. Chouraqui,
Magnetorquer Control for Orbital Manoeuvre of Low Earth
Orbit Microsatellite, the 5th WSEAS International Conference
on Applied Computer Science, Hangzhou, China, April 16-18,
2006.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

17

MAKALAH PENDIDIKAN
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

19

Tes Kinerja (Performance Test)
Dalam Bidang Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan
Supari Muslim
Guru Besar Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya
Abstrak Ada banyak tulisan yang membahas
tentang bagaimana mengukur hasil belajar ranah
kognitif dan ranah afektif, tetapi masih sangat sedikit
yang membahas tentang bagaimana mengukur hasil
belajar ranah psikomotor. Untuk mengukur hasil
belajar ranah psikomotor pada dasarnya hanya ada
satu jenis tes, yaitu tes kinerja (performance test) yang
terdiri dari: (1) tes kinerja tertulis (paper-and-pencil
test), (2) tes identifikasi (identification test), (3) simulasi
kerja (simulation performance) dan (4) contoh kerja
(work sample). Hasil belajar ranah psikomotor dapat di
nilai dari dua acuan, yaitu acuan prosedur dan acuan
hasil.
Kata kunci: Hasil belajar ranah psikomotor, dan tes
kinerja
I. PENDAHULUAN
Setiap kegiatan pembelajaran, pasti memiliki
tujuan yang umumnya disebut sebagai tujuan
pembelajaran. Seberapa jauh tujuan pembelajaran
tersebut telah dicapai oleh para siswa, diperlukan
kegiatan yang disebut evaluasi hasil belajar. Menurut
Bloom (1986) bahwa hasil belajar mencakup tiga
ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah
psikomotor. Untuk mengetahui hasil belajar ketiga
ranah tersebut perlu diukur. Seperti kita ketahui
bersama, bahwa telah banyak yang menulis dan
membahas tentang bagaimana mengukur hasil belajar
ranah kognitif dan ranah afektif, tetapi masih sangat
sedikit yang membahas tentang bagaimana mengukur
hasil belajar ranah psikomotor. Meskipun mengukur
hasil belajar ranah kognitif dengan tes kinerja tertulis
agak berbeda dengan tes tulis tradisonal. Di bawah
ini akan diuraikan bagaimana mengukur hasil belajar
ranah psikomotor, yang oleh beberapa ahli disebut
sebagai tes kinerja (performance test).

II. PENGERTIAN HASIL BELAJAR RANAH PSIKOMOTOR
Menurut Gagne dan Briggs (1974) terdapat
lima klasifikasi kemampuan manusia yaitu: (1)
kecakapan intelektual, (2) strategi kognitif, (3)
informasi verbal, (4) keterampilan dan (5) sikap.
Romiszowski (1984) mengklasifikasikan hasil belajar
dalam empat kategori yaitu: (1) keterampilan kognitif;
(2) keterampilan psikomotor; (3) keterampilan reaktif;
dan (4) keterampilan interaktif. Menurut Simpson
seperti dikutip oleh Bloom, Madaus dan Hasting
(1981) hasil belajar ranah psikomotor dibagi menjadi
lima peringkat dari yang sederhana sampai dengan
peringkat yang kompleks yaitu: (1) persepsi
(perception), (2) merakit (set), (3) respons terpimpin
(guided response), (4) mekanisme (mechanism), (5)
respons yang kompleks (complex overt response).
Kelima peringkat ranah psikomotor menurut
Simpson seperti dikutip oleh Bloom, Madaus, dan
Hasting (1981) tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut: (1) persepsi adalah suatu peringkat
kemampuan siswa yang paling rendah, yaitu siswa
baru dapat mengetahui dan memahami tentang alat-
alat praktek dan cara-cara penggunaanya, peraturan-
peraturan keselamatan kerja dan sebagainya; (2)
merakit adalah peringkat kemampuan siswa untuk
menirukan apa yang dilakukan oleh instruktur dan
mencoba mengadakan penyesuaian seperlunya untuk
memperoleh pengalaman; (3) respon terpimpin adalah
suatu tingkat kemampuan dimana siswa mulai
mengembangkan keterampilannya dengan jalan
mengadakan percobaan dan kesalahan di bawah
pengawasan instruktor; (4) mekanisme adalah suatu
tingkat keterampilan di mana siswa memiliki
kepercayaan untuk melakukan praktek secara mandiri
meskipun keterampilannya belum mencapai derajat
yang tertinggi dan; (5) respon yang kompleks adalah
merupakan tingkat keterampilan yang tertinggi yaitu
siswa dapat melakukan kegiatan praktek secara
mandiri dengan keterampilan yang bersifat kompleks,
efisien serta rapi dengan waktu dan energi yang
minimum.
Klasifikasi lain hasil belajar ranah psikomotor di
buat oleh Dave (1967) yang membaginya dalam lima
peringkat, mulai peringkat sederhana sampai
peringkat yang kompleks yaitu: (1) imitasi, (2)
manipulasi, (3) presisi, (4) artikulasi, dan (5)
naturalisasi. Kelima peringkat ranah psikomotor
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) imitasi,
yaitu siswa dapat melakukan kegiatan dengan meniru
apa yang pernah dilihat; (2) manipulasi, yaitu siswa
dapat melakukan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar
petunjuk atau perintah dari instruktur; (3) presisi,
adalah kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan-
kegiatan yang sifatnya presisi meliputi unsur
ketelitian, ketepatan dan keseimbangan meskipun
kegiatan tersebut belum nampak sebagai keutuhan;
(4) artikulasi, yaitu siswa dapat mengkoordinasikan
serangkaian kegiatan yang sifatnya presisi dengan
menetapkan urutan secara tepat diantara kegiatan
yang berbeda-beda; dan (5) naturalisasi, merupakan
peringkat dimana siswa telah dapat melakukan
kegiatan yang urut secara alami dan kegiatan tersebut
dilakukan dengan energi yang minimum.
Untuk memperoleh keterampilan dalam bidang
teknik listrik, diperlukan penguasaan peringkat-
peringkat hasil belajar ranah psikomotor dari yang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

20

sederhana sampai pada peringkat yang kompleks.
Keterampilan motorik merupakan hasil belajar yang
penting dalam proses belajar teknik listrik secara
keseluruhan. Hasil belajar akan sempurna jika siswa
mampu mencapai tahap keterampilan psikomotor,
disamping penguasaan kognitif dan afektif yang
mendahuluinya (Gagne, 1974).

III. EVALUASI HASIL BELAJAR RANAH PSIKOMOTOR
Menurut Stake (Issac dan Michael,1983),
evaluasi adalah suatu penjelasan dan penilaian dari
suatu program pendidikan. Karena itu evaluasi hasil
belajar terdiri dari pengumpulan dan penggunaan
informasi tentang perubahan perilaku siswa untuk
membuat pertimbangan mengenai suatu program
pendidikan (Wiley, 1970). Bloom, Madaus, dan
Hasting (1981) memandang evaluasi sebagai
pengumpulan bukti yang sistematik untuk
menentukan apakah perubahan-perubahan tertentu
telah terjadi pada diri siswa. Agak berbeda dengan
ketiga batasan tersebut, Gronlund (1985) memandang
evaluasi sebagai suatu proses yang sistematis untuk
mengumpulkan, menganalisis, dan mengintrepretasi
bahan-bahan untuk menentukan keberadaan siswa
yang diberi tujuan intruksional.
Berdasarkan pendapat-pendapat seperti
dipaparkan di atas, yang di maksud evaluasi hasil
belajar adalah suatu proses atau cara yang sistematis
untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan
intruksional telah di capai oleh para siswa melalui
proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.

IV. CIRI-CIRI ALAT UKUR HASIL BELAJAR RANAH
PSIKOMOTOR
Alat ukur hasil belajar ranah psikomotor, menurut
Leightbody dan Kidd (1966) harus memiliki ciri-ciri
sebagai berikut : (1) mengukur apa yang hendak
diukur; (2) mengukur dengan kecermatan yang
konsisten; (3) menilai secara obyektif dan; (4) dapat
dilaksanakan dan dinilai dengan mudah. Menurut
Tracey (1971) alat ukur yang baik memiliki tujuh ciri
yaitu : (1) absah, (2) andal, (3) obyektif, (4) mudah di
administrasikan, (5) baku, (6) komprehensif, dan (7)
ekonomis.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa ciri-ciri alat ukur hasil belajar ranah
psikomotorik yang baik adalah : (1) harus mengukur
apa yang hendak di ukur (absah); (2) dapat mengukur
dengan kecermatan yang konsisten (andal); (3) harus
dapat menilai secara obyektif, dan (4) dapat
dilaksanakan dan dinilai dengan mudah (praktis); (5)
bersifat baku; (6) bersifat komprehensif; dan (7) dapat
dilaksanakan dengan biaya yang tidak terlalu mahal
(ekonomis).
Alat ukur disebut valid atau basah, jika alat ukur
tersebut dapat mengukur apa yang hendak di ukur
(Andreson, Rall, dan Murphy, 1975; Tracey, 1971;
Popham, 1981). Menurut Gronlund (1982) konsep
keabsahan adalah: (1) menunjuk pada intrepetasi hasil
tes; (2) disimpulkan dari bukti-bukti yang tersedia; (3)
khusus untuk tujuan tertentu (seleksi, penentuan
kedudukan siswa, evaluasi belajar), dinyatakan
dengan derajat (tinggi, sedang , dan rendah). Terdapat
tiga jenis validitas yaitu: (1) validitas isi (content
validity); (2) validitas yang berhubungan dengan
kriteria (criterion-related validity); dan (3) validitas
konstruk (contruct validity) (Popham, 1981;
Fernandes, 1984).
Suatu tes dapat dinyatakan memiliki validitas isi,
jika tes tersebut mengukur tujuan khusus yang sejajar
dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.
Karena materi yang diajarkan tercantum dalam
kurikulum, maka validitas isi sering juga disebut
validitas kurikuler (Fernandes, 1984; Stamboel,
1990). Validitas ini menurut Gronlund (1982) dapat
ditingkatkan dengan cara: (1) mengidentifikasi topik-
topik pokok bahasan dan hasil tingkah laku yang akan
diukur, (2) membuat tabel spesifikasi, dan (3)
menyusun tes berdasarkan tabel spesifikasi itu.
Terdapat dua jenis validitas yang berhubungan
dengan kriterium (criterion-related validity) yaitu
validitas yang ada sekarang (concurrent validity) dan
(predictive validity). Concurrent validity adalah
bagaimana suatu tes mampu meramalkan keadaan
sekarang sehubungan dengan hasil pengukuran lain
yang disebut kriterium. Predictive validity adalah
bagaimana suatu tes mampu meramalkan keadaan
yang akan datang sehubungan dengan pengukuran
lain. Teknik perhitungan yang digunakan untuk
menganalisis validitas ini adalah dengan teknik
korelasi product moment.
Suatu tes dinyatakan memiliki validitas
konstruksi (contruct validity), jika butir-butir soal
yang membangun tes itu mengukur setiap aspek
berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan
instruksional khusus. Konstruksi merupakan rekaan
psikologis yang dibuat oleh para ahli ilmu jiwa yang
dengan cara tertentu merinci isi jiwa menjadi
beberapa aspek berpikir, seperti pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi
(ranah kognitif), atau imitasi, manipulasi, presisi,
artikulasi, dan naturalisasi (ranah psikomotor).
Validitas konstruksi dapat diperoleh dengan cara
merinci dan memasangkan setiap butir soal dengan
setiap aspek berpikir dalam tujuan intruksional
khusus.
Tes disebut memiliki sifat dapat dipercaya
(reliable), jika tes tersebut dapat memberikan hasil
yang kurang lebih sama jika digunakan pada siswa-
siswa atau kelompok siswa yang serupa yang telah
menerima pelajaran yang sama (Leighbody dan Kidd,
1966; Gronlund, 1982). Reliabilitas menunjuk pada
ketetapan atau konsistensi dari nilai yang diperoleh
sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda
dengan tes yang sama atau yang butir-butirnya
ekivalen (Stamboel, 1990).
Karena adanya kesalahan dalam pengukuran
(measurement error), maka variasi mengenai
penampilan dalam tes dari waktu ke waktu, dari satu
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

21

bagian tes ke bagian yang lain sehingga reliabilitas
skor tes secara umum dinyatakan dengan koefisien
keterandalan (r) atau patokan kesalahan pengukuran
(standard error of measurement). Besar kecilnya
kesalahan pengukuran dapat diketahui dari koefisien
korelasi antara hasil pengukuran pertama dan kedua.
Jika koefisien korelasi (r) dikuadratkan dan diperoleh
koefisien determinasi (coeffisient of determination)
yang merupakan petunjuk besarnya hasil pengukuran
yang sebenarnya. Makin tinggi koefisien korelasi,
makin rendah kesalahan pengukuran.
Koefisien keterandalan dapat diperoleh dengan:
(1) metode tes dan tes kembali (test-retest method;,
(2) metode bentuk tes yang seimbang (equivalent-
forms method) tanpa selang waktu (without time
interval); (3) metode bentuk tes yang seimbang
(equivalent-form method) dengan selang waktu (with
time interval;, (4) metode belah-dua(split-half
method); dan metode (5) metode Kuder-Richardson
(Kuder-Richardson method) (Gronlund, 1985).
Konsep reliabilitas mengandung tiga aspek nilai
ketetapan yaitu koefisien stabilitas, koefisien
ekuivalen dan homogenitas butir (Stamboel, 1990).
Koefisien stabilitas tes adalah kesalahan pengukuran
dari nilai tes yang pertama dan nilai tes yang kedua
(reliabilitas temporer). Reliabilitas temporer dapat
diperoleh melalui metode test-retest dengan
menggunakan tes yang sama sehingga koefisien
reliabilitas diperoleh melalui korelasi nilai yang
diperoleh peserta dalam dua kali test tersebut.
Koefisien ekuivalen adalah aspek reliabilitas yang
didasarkan atas dua bentuk tes yang paralel atau
ekuivalen sehingga koefisien reliabilitas dapat
dilakukan melalui metode belah-dua dengan
menggunakan teknik korelasi dari angka pada belahan
pertama dan angka pada belahan kedua dari tes
tersebut.
Homogenitas butir adalah menunjuk pada
ketetapan dalam penyelenggaraan tes tertentu untuk
menghadapi semua butir, yang akan menghasilkan
koefisien konsistensi butir. Konsistensi respon subyek
tehadap semua butir dapat dihitung dengan teknik
Kuder-Richardson (K-R 20 atau K-R 21). Dari
pengertian konsep reliabilitas seperti tersebut di atas,
maka yang sesuai untuk tes kinerja adalah teknik
Kuder-Richardson, karena teknik ini menunjuk pada
konsistensi respon subyek (homogenitas butir)
maupun ekuivalensi.
Tes disebut memiliki sifat yang obyektif, jika
dalam pelaksanaan tes tidak ada faktor subyektif yang
mempengaruhi (Arikunto, 1986; Leighbody dan Kidd,
1966). Jika dikaitkan dengan reliabilitas, maka
obyektivitas menekankan pada ketetapan
(consistency) dalam memberikan skor, sedangkan
reliabilitas menekankan kepada ketetapan dalam hasil
tes. Keobyektifan alat ukur hasil belajar ranah
psikomotor menurut Rasyid (1985) dapat ditingkatkan
dengan cara: (1) membuat kriteria penilaian yang
lebih rinci, (2) mengadakan penilaian secara terus
menerus, dan (3) membuat daftar pekerjaaan dan
skala penilaian.
Tes disebut memiliki sifat yang praktis, jika tes
tersebut dapat diberikan dan dinilai dengan mudah
(Leighbody dan Kidd, 1966; Jalinius dan Aziz, 1985;
Rasyid, 1985). Betapapun absah dan terandalnya
suatu alat pengukur, jika tidak di dukung oleh sarana
dan kemampuan, maka alat pengukur tersebut kurang
memiliki nilai kepraktisan. Namun demikian ciri
kepraktisan hendaknya tidak mengorbankan ciri
keabsahan dan keterandalan.
Tes bersifat baku (standard) jika contoh kinerja
diperoleh di bawah kondisi yang telah ditentukan dan
skor diperoleh dengan aturan yang pasti (Leighbody
dan Kidd, 1966).
Kebakuan tersebut meliputi semua kondisi untuk
semua peserta tes yang meliputi perlengkapan, alat-
alat, bahan-bahan, tingkat kesulitan, dan lingkungan
di mana tes dilaksanakan. Tes bersifat komprehensif,
jika tes tersebut merupakan sampel yang representatif
dari tujuan pengajaran, dan mencakup berbagai aspek
berpikir seperti yang dirumuskan dalam tujuan
pengajaran. Tes bersifat tidak mahal atau ekonomis,
jika tes tersebut tidak terlalu banyak menggunakan
waktu, perlengkapan, bahan-bahan dan personalia
untuk mengadministrasikannya.

V. BENTUK-BENTUK ALAT UKUR HASIL BELAJAR
RANAH PSIKOMOTOR
Untuk mengukur hasil belajar ranah psikomotor
pada dasarnya hanya ada satu jenis tes, yaitu tes
kinerja (performance test) (Leighbody dan Kidd,
1966; Tracey, 1971; Rasyid, 1985). Menurut Tracey
(1971), tes kinerja dapat diklasifikasikan dalam tiga
bentuk yaitu: (1) identifikasi (identification), (2)
simulasi (simulation), dan (3) contoh kerja (work
sample). Lebih lengkap dari pada Tracey, Gronlund
(1982) membagi tes kinerja menjadi empat bentuk
yaitu: (1) tes kinerja tertulis (paper-and-pencil test),
(2) tes identifikasi (identification test), (3) simulasi
kerja (simulation performance) dan (4) contoh kerja
(work sample).
Tes penampilan dengan kertas dan pensil (paper
and pensil test) berbeda dengan tes tertulis tradisional.
Tes ini lebih menekankan pada penggunaan
pengetahuan keterampilan pada suatu keadaan yang
disimulasikan. Kinerja tertulis dapat memberikan
langkah awal terhadap kinerja yang siap pakai.
Sebelum menggunakan suatu peralatan khusus
(mikrometer, oskiloskop) adalah sangat tepat jika
menyuruh para siswa untuk membaca berbagai
pernyataan gambar-gambar skalanya. Dalam hal ini,
tes tertulis akan sangat sesuai karena tes tersebut
dapat diberikan kepada sekelompok siswa secara
bersamaan. Menyusun tes penampilan dalam bentuk
tes tertulis menurut Gronlund (1982) dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)
menyusun tabel spesifikasi untuk satu satuan
pelajaran, (2) menyusun seperangkat butir pertanyaan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

22

yang sesuai dengan tabel spesifikasi, dan
(3)menyusun daftar jawaban untuk menilai tes.
Tes identifikasi (identification test), adalah
bentuk tes kinerja yang meminta siswa untuk
mengenali suatu alat atau perlengkapan dan
menunjukkan fungsinya. Tes identifikasi sering juga
digunakan sebagai alat pengukur secara tidak
langsung terhadap ketrampilan penampilan seseorang.
Tes identifikasi banyak digunakan pada pelatihan
industri, bidang kesenian, pendidikan fisik, dan
pendidikan bisnis.
Simulasi kerja (simulation performance)
merupakan bentuk ketiga dari tes kinerja yang lebih
menekankan pada prosedur. Pada tes bentuk ini
seorang siswa diminta melakukan gerakan-gerakan
yang sama sebagaimana yang di inginkan dalam
pelaksanaan kinerja yang sebenarnya, tetapi kondisi-
kondisi gerakan tersebut disimulasi. Dalam pelatihan
dan pelaksanaan pelajaran praktek, sering kali para
siswa dilatih dan di uji dengan memakai bahan-bahan
yang disimulasikan. Bahan-bahan simulasi
(simulator) tersebut dapat mencegah kemungkinan
terjadinya kesalahan fatal pada diri seseorang pada
waktu ia menghadapi peralatan yang mahal, di mana
ia masih berada pada masa-masa awal perkembangan
keterampilan. Bahan bahan simulasi juga banyak
digunakan dalam berbagai bentuk program-program
pelatihan dalam pekerjaan tertentu. Keterampilan
yang ada dalam suatu praktek yang disimulasikan
dapat menunjukkan adanya kesiapan dalam mencoba
merealisasikan kinerja yang sebenarnya (Gronlund,
1982).
Bentuk tes kinerja yang keempat adalah contoh
kerja (work sample). Dalam pelatihan di industri, tes
bentuk ini dilakukan dengan cara meminta siswa
untuk membuat suatu pekerjaan tertentu yang
meliputi seluruh langkah-langkah yang mungkin
ditemui dalam pekerjaan yang sesungguhnya di
antaranya merancang, memesan bahan-bahan dan
membentuk. Tes dengan bentuk ini juga dapat
dilakukan dengan cara meminta para siswa untuk
mengoperasikan alat-alat, perbaikan alat-alat dan
tugas-tugas laboratorium yang berorientasi pada kerja.

Seperti halnya bentuk tes yang lain, tes kinerja
juga memiliki keunggulan dan keterbatasan. Tracey
(1971) dan Subino (1987) mengulas keunggulan dan
keterbatasan dari tes kinerja. Menurut Tracey (1971)
keunggulan tes kinerja di antaranya adalah: (1)
memiliki validitas permukaan; (2) relevan dengan
pekerjaan; dan (3) memiliki keandalan yang tinggi.
Berbeda dengan itu, menurut Subino (1987)
keunggulan tes kinerja di antaranya dapat digunakan
untuk: (1) melihat keterampilan siswa dalam
melakukan pekerjaan; (2) mencocokkan kesesuaian
antara pengetahuan mengenai teori dan praktek; dan
(3) menghilangkan peluang untuk menyontek.
Keterbatasan tes kinerja menurut Tracey (1971) di
antaranya adalah: (1) hanya mencakup sebagian dari
keterampilan yang di ajarkan; (2) memerlukan banyak
waktu untuk mengadministrasikannya; (3)
memerlukan administrasi secara individual bagi para
siswa; (4) memerlukan banyak alat, perlengkapan,
dan bahan sesuai dengan materi yang di ujikan; dan
(5) merancangnya relatif sulit.
Subino (1987) memandang dari sudut yang lain
tentang keterbatasan tes kinerja di antaranya adalah:
(1) memerlukan waktu yang lama dan biaya yang
besar; (2) harus dilakukan secara penuh dan lengkap
dan jika tidak hasilnya sulit dipertanggung jawabkan;
(3) keterampilan yang di ujikan melalui tes kinerja
belum tentu sesuai dengan tuntutan dunia kerja, sebab
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu
lebih cepat dengan apa yang di ajarkan di sekolah.

VI. ELEMEN-ELEMEN HASIL BELAJAR RANAH
PSIKOMOTOR YANG DAPAT DI UKUR
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) elemen-
elemen hasil belajar ranah psikomotor yang dapat di
ukur meliputi: (1) keterampilan dalam menggunakan
alat-alat; (2) kemampuan merencanakan,
melaksanakan dan menganalisis sampai pekerjaan
terselesaikan; (3) kemampuan membaca gambar dan
simbol teknik; (4) kemampuan dalam membuat
keputusan dengan menggunakan teori yang diperoleh;
(5) waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan; dan (6) kualitas dari tugas yang
diselesaikan.
Micheels dan Karnes (1950) menyatakan bahwa
penilaian tes kinerja dapat dilakukan terhadap: (1)
kecepatan siswa dalam bekerja; (2) prosedur kerja
yang digunakan; dan (3) kualitas dari pekerjaan yang
dihasilkan. Lebih rinci dari beberapa pendapat
tersebut, Gronlund (1982) memandang bahwa hasil
belajar ranah psikomotor dapat di nilai dari dua
acuan, yaitu acuan prosedur dan acuan hasil.
Penialain hasil belajar ranah psikomotor beracuan
prosedur adalah penilaian terhadap kemampuan siswa
dalam hal-hal: (1) menyiapkan suatu rencana yang
rinci bagi suatu proyek; (2) menentukan jumlah bahan
yang dibutuhkan; (3) memilih alat-alat yang sesuai;
(4) mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi
masing-masing pelaksanaan; (5) menggunakan alat-
alat dengan baik dan terampil; (6) menggunakan
bahan-bahan tanpa penghamburan yang tak perlu; dan
(7) menyempurnakan pekerjaan dalam waktu yang
tepat. Penilaian hasil belajar ranah psikomotor
beracuan hasil adalah penilaian terhadap kualitas
pekerjaan siswa yang meliputi: (1) apakah produknya
bagus dan sempurna; (2) apakah pembagiannya sesuai
dengan rencana semula; (3) apakah hasil akhir sesuai
dengan spesefikasinya; dan (4) apakah rangkaian-
rangkaiannya berjalan dengan baik.
Dalam hal reliabilitas tes kinerja seperti
dipaparkan di atas, Leighbody dan Kidd (1966)
menyatakan bahwa salah satu cara yang perlu
dilakukan adalah dengan membagi pekerjaan (bahan
tes) ke dalam bagian-bagian yang dapat di ukur dan
kemudian menetapkan nilai berbentuk angka untuk
tiap-tiap bagian yang di ukur tersebut, meliputi: (1)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

23

urutan yang benar dalam merencanakan dan
menyelesaikan langkah-langkah di dalam proses
pekerjaan; (2) waktu yang diperlukan untuk
merencanakan dan membuat lay out pekerjaan; (3)
pemilihan alat-alat dengan benar; (4) teknik dalam
menggunakan alat-alat; (5) pemilihan bahan dengan
benar; (6) memperlakukan bahan dengan benar; (7)
pemeliharaan alat-alat yang digunakan dan yang tidak
digunakan; (8) kualitas dari pekerjaan yang di
selesaikan; dan (9) waktu yang di perlukan untuk
bekerja.
Berdasarkan pendapat Micheels dan Karnes,
Gronlund, serta Leighbody dan Kidd seperti
dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa
penilaian tes kinerja dapat dilakukan dengan pedoman
sebagai berikut: (1) mampu membaca gambar dan
symbol teknik; (2) menyiapkan rencana yang rinci
bagi suatu proyek; (3) merencanakan langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut; (4) merencanakan dan
membuat lay out pekerjaan dalam waktu yang tepat;
(5) mampu memilih bahan yang sesuai; (6)
menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan; (7)
mampu memilih alat-alat yang sesuai; (8)mengikuti
prosedur-prosedur yang benar bagi masing-masing
pelaksanaan; (9) menggunakan alat dengan baik dan
terampil ; (10) memperlakukan bahan dengan benar;
(11) mampu membuat keputusan dengan
menggunakan teori yang diperlukan; (12) mampu
bekerja dengan mengikuti prosedur kerja yang ada;
(13) mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu
yang disediakan; (14) mampu menganalisis pekerjaan
dengan prosedur yang benar; (15) membersihkan
tempat kerja, alat-alat dan mesin-mesin setelah
digunakan; (16) hasil pekerjaannya bagus dan
sempurna; (17) pelaksanaan sesuai dengan rencana
semula; (18) hasil akhir sesuai dengan spesifikasi
yang ditetapkan; (19) rangkaian dan bagian-
bagiannya berjalan dengan baik; dan (20) hasil
analisis pekerjaan benar. Penilaian tes kinerja dapat
dilakukan dengan pedoman seperti tampak pada
Lampiran 1 dengan petunjuk penggunaan seperti
tampak pada Lampiran 2.

VII. MERANCANG DAN MELAKSANAKAN TES
KINERJA
Merancang tes kinerja tertulis dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)
menentukan tujuan tes; (2) mengidentifikasi hasil
belajar yang akan diukur dengan tes; (3) merumuskan
hasil belajar yang dapat diamati dan diukur; (4)
mencatat garis besar isi mata pelajaran (subject
matter); dan (6) menggunakan tabel spesifikasi
sebagai dasar untuk menyiapkan tes.
Merancang tes kinerja dalam bentuk tes
identifikasi, simulasi kinerja, dan contoh kerja
menurut Gronlund (1982) adalah meliputi langkah-
langkah sebagai berikut: (1) menspesifikasikan hasil-
hasil kinerja yang dapat diukur; (2) memilih suatu
derajat kenyataan yang sesuai; (3) menyiapkan
pengajaran yang bisa menspesifikasikan situasi tes
dengan jelas; dan (4) menyiapkan format observasi
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja.
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) langkah-
langkah menyiapkan tes kinerja dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) menguraikan dengan pasti apa
yang akan diukur dengan mengacu kepada tujuan
pengajaran; (2) mengidentifikasi dan mendaftar tugas-
tugas yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang tercakup dalam pelajaran tersebut; (3)
memilih tugas yang perlu diselesaikan siswa meliputi
semua elemen-elemen yang akan diukur oleh tes itu;
(4) mendaftar semua bahan, alat-alat, pesawat dan
gambar yang diperlukan siswa untuk mengerjakan tes
itu; (5) menyiapkan petunjuk tertulis atau lisan
kepada siswa peserta tes; (6) menyiapkan sistem
penilaian yang akan digunakan; dan (7) memeriksa
kembali tes yang telah disusun untuk meyakinkan
bahwa tes tersebut dapat diberikan tanpa terlalu
banyak kesukaran dan tidak terlalu banyak memakan
waktu.
Merancang tes kinerja dalam bentuk tes
identifikasi, simulasi kinerja, dan contoh kerja
menurut Gronlund (1982) adalah meliputi langkah-
langkah sebagai berikut: (1) menspesifikasikan hasil-
hasil kinerja yang dapat diukur; (2) memilih suatu
derajat kenyataan yang sesuai; (3) menyiapkan
pengajaran yang bisa menspesifikasikan situasi tes
dengan jelas; dan (4) menyiapkan format observasi
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja.
Menurut Leighbody dan Kidd (1966) langkah-
langkah menyiapkan tes kinerja dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) menguraikan dengan pasti apa
yang akan diukur dengan mengacu kepada tujuan
pengajaran; (2) mengidentifikasi dan mendaftar tugas-
tugas yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang tercakup dalam pelajaran tersebut; (3)
memilih tugas yang perlu diselesaikan siswa meliputi
semua elemen-elemen yang akan diukur oleh tes itu;
(4) mendaftar semua bahan, alat-alat, pesawat dan
gambar yang diperlukan siswa untuk mengerjakan tes
itu; (5) menyiapkan petunjuk tertulis atau lisan
kepada siswa peserta tes; (6) menyiapkan sistem
penilaian yang akan digunakan; dan (7) memeriksa
kembali tes yang telah disusun untuk meyakinkan
bahwa tes tersebut dapat diberikan tanpa terlalu
banyak kesukaran dan tidak terlalu banyak memakan
waktu.
Tes kinerja dalam bentuk tes identifikasi,
simulasi kinerja, dan contoh kerja menurut Leighbody
dan Kidd (1966) dapat dilaksanakan dengan prosedur
sebagai berikut: (1) memperhatikan apakah siswa
telah memiliki semua bahan, alat-alat, pesawat,
referensi, gambar, atau hal-hal lain yang diperlukan;
(2) meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa
yang telah dilakukan dan berapa lama ia harus
bekerja; (3) meyakinkan bahwa siswa telah
memahami apa yang telah dilakukan dan berapa lama
ia harus bekerja; (4) mengusahakan kondisi kerja
untuk setiap siswa sesama mungkin; (5) meyakinkan
bahwa alat-alat, bahan-bahan, dan mesin-mesin
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

24

berbeda keadaannya antara siswa yang satu dengan
yang lain; (6) mengadakan pemantauan waktu dengan
cermat jika yang diuji adalah kecepatan; (7)
mengamati siswa pada saat ia bekerja dan mencatat
kesalahan-kesalahan yang dilakukan jika elemen-
elemen yang sedang diukur adalah kemampuan
merencanakan suatau pekerjaan; (8) menghindari
situasi tegang pada saat tes sedang berlangsung; (9)
memeriksa benda kerja dengan instrumen yang sama
atau alat-alat ukur yang digunakan siswa untuk
mengerjakan tugas tersebut jika tes meliputi ukuran-
ukuran; dan (10) tidak memberi bantuan kecuali
menjelaskan petunjuk-petunjuk selama tes sedang
berlangsung (periksa Lampiran 3).
Reliabilitas tes kinerja menurut Leighbody dan
Kidd (1966) dapat ditingkatkan dengan membagi
pekerjaan atau bahan tes ke dalam bagian-bagian
yang dapat diukur, kemudian menetapkan nilai
terbentuk angka untuk tiap-tiap bagian yang diukur
tersebut meliputi: (1) urutan yang benar dalam
merencanakan dan menyelesaikan langkah-langkah di
dalam proses pekerjaan; (2) waktu yang diperlukan
untuk merencanakan dan membuat lay out pekerjaan;
(3) pemilihan alat-alat dengan benar; (4) tehnik dalam
menggunakan alat-alat; (5) pemilihan bahan dengan
benar; (6) memperlakukan bahan dengan benar; (7)
pemeliharaan alat-alat dengan benar; (8) kualitas dari
pekerjaan yang diselesaikan; dan (9) waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

VIII. KESALAHAN DALAM PENILAIAN
Menurut Abramson, Tittle dan Cohen (1979)
kesalahan penilaian (rating errors) dapat di
klasifikasikan menjadi tiga yaitu: (1) kesalahan bahan
(error of standard); (2) kesalahan karena pengaruh
lingkaran (error of halo); dan (3) kesalahan logika
(logical error). Tracey (1971) mengklasifikasikan
kesalahan dalam penilaian menjadi empat kategori
yaitu: (1) kesalahan karena bersikap netral (error of
central tendency); (2) kesalahan baku (error of
standard); (3) kesalahan karena pengaruh lingkaran
(error of halo); dan (4) kesalahan logika (logical
error).
Ary, Yacobs dan Razavieh (1980)
mengklasifikasikan kesalahan dalam penilaian
menjadi empat klasifikasi tetapi dalam aspek yang
berbeda yaitu: (1) kesalahan karena pengaruh
lingkaran; (2) kesalahan karena terlalu murah hati
(generosity error); (3) kesalahan karena terlalu kikir
(error of severity); dan (4) kesalahan karena bersikap
netral (error of central tendency). Kesalahan karena
bersikap netral (error of central tendency) adalah
kecenderungan observer untuk menghindari penilaian
yang ekstrim dan menilai semua individu dengan
skala tengah-tengah. Kesalahan baku, adalah
kesalahan yang terjadi karena ada beberapa observer
menilai terlalu murah dan ada pula beberapa observer
menilai terlalu kikir.
Kesalahan ini bisa terjadi karena beberapa orang
observer memiliki kriteria yang terlalu tinggi,
sementara yang lain memiliki kriteria yang terlalu
rendah. Halo effect adalah kesalahan karena pengaruh
lingkaran, yaitu kesalahan yang terjadi jika dalam
menilai aspek khusus tingkah laku, penilai
terpengaruh oleh kesan umum subyek yang
bersangkutan. Logical error yang sering juga disebut
dengan errror of ambiguity terjadi jika dua atau lebih
sifat/kemampuan diberi nilai dalam satu angka.
Menurut Ahramson, Tittle, dan Cohen (1979),
untuk mengurangi kesalahan-kesalahan tersebut
penilai atau observer dapat menggunakan: (1) daftar
cek (checklist); (2) skala angka (numerical scale); (3)
skala deskripsi (desciptive scale); dan (4) skala grafik
(graphic scale). Sehubungan dengan hal tersebut di
atas, Ary, Jacobs, dan Rezavieh (1980) menyarankan
agar: (1) penilai dilatih dahulu sebelum menjalankan
tugas untuk menilai; (2) para penilai mempunyai
cukup waktu untuk mengamati peserta tes; dan (3)
tingkah laku yang akan dinilai dan titik-titik pada
skala penilaian itu dirumuskan dengan jelas dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati.

REFERENSI
[1]. Abramson T.,Tittle C.K, & Cohen L. (1979). Handbook of
vocational education evaluation. London: Sage Publications.
[2]. Anderson, Scarvia B., Ball, Samuel, Murphy & Richard T.
(1975). Encyclopedia of educational evaluation, concepts and
techniques for evaluating education and training programs.
San Francisco: Jossey Bass Publishers.
[3]. Arikunto, Suharsimi. (1986). Dasar-dasar evaluasi pendidikan.
Yogyakarta: Bina Aksara.
[4]. Ary, Donald, Jacobs, Lucy Cheser & Razavieh, Asghar.
(1982). Pengantar penelitian pendidikan. Penterjemah A.
Furchan. Surabaya: Usaha Nasiional.
[5]. Bloom, B.S., Madaus, G.F., & Hasting, J.T. (1981).
Handbook of formative and summative evaluation of student
learning. New York: McGraw Hill Book Company.
[6]. Bloom, B.S. (1986). Taxonomy of educational objectives
Book 1. Cognitive domain. London: Longman Group.
[7]. Dave, R.H. (1967). Taxonomy of educational objectives and
achievement testing. London: University of London Press.
[8]. Fernandes. (1984). Testing and measurement. Jakarta:
National Educational Planning.
[9]. Gagne, Robert M. & Briggs, Leslie J (1974). Principle of
instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston,
Inc.
[10]. Gronlund, Norman E. (1982). Constructing achievement test.
Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall, Inc.
[11]. ________. (1985). Measurement and evaluation in teaching.
New York: Macmillan Publishing Company.
[12]. Isaac, S. & Michael, W.B. (1983). Handbook in research and
evaluation for education and behavioral sciences. San Diego:
EDITS Publisher.
[13]. Leighbody, Geral B. & Kidd, Donald M. (1966). Methods of
teaching shop and technical subjects. New York: Delmar
Publisher, Inc.
[14]. Micheels,W.J. & Karnes M.R. (1950). Measuring educational
achievement. New York: McGraw-Hill Book Company.
[15]. Rasyid, Mardi. (1985). Evaluasi pelajaran keterampilan dalam
evaluasi hasil belajar. Padang: UPT Pusat Media FPTK IKIP
Padang.
[16]. Subino. (1987). Konstruksi dan analisis tes, suatu pengantar
teori tes dan pengukuran. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

25

[17]. Tracey, W.R. (1971). Designing training and development
systems. New York: American Management Association, Inc.
[18]. Jalinus, N. dan Azis, N. (1985). Jenis-jenis tes dan cara-cara
pembuatannya dalam evaluasi hasil belajar. Padang: FPTK
IKIP Padang.
[19]. Popham, James W. (1981). Modern educational measurement.
Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, Inc.
[20]. Romiszowski. (1984). Producing instructional
system.london:Kogan Page
[21]. Stamboel, Conny Semiawan. (1990). Prinsip dan teknik
pengukuran dan penilaian di dalam pendidikan. Jakarta:
Mutiara Sumber Widya.
[22]. Wiley, D.E. (1970). Design and analysis of evaluation studies
dalam The evaluation of instruction: Issues and problems, p.
259-269. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc










Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

26

Lampiran 1

PEDOMAN PENILAIAN TES KINERJA

A.Skala Penilaian Acuan Prosedur
Seberapa jauh nilai kinerja (performance) siswa dalam masing-masing persoalan di bawah
ini.
1. Mampu membaca gambar dan simbol teknik (3) 1 2 3 4 5
2. Menyiapkan rencana yang rinci bagi suatu 1 2 3 4 5
proyek (10)
3. Merencanakan langkah-langkah proses 1 2 3 4 5
pekerjaan secara urut (2)
4. Merencanakan dan membuat lay out pekerjaan 1 2 3 4 5
dalam waktu yang tepat (5)
5. Mampu memilih bahan yang sesuai (2) 1 2 3 4 5
6. Menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan (5) 1 2 3 4 5
7. Mampu memilih alat-alat yang sesuai (2) 1 2 3 4 5
8. Mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi 1 2 3 4 5
masing-masing pelaksanaan (2)
9. Menggunakan alat dengan baik dan terampil 1 2 3 4 5
(2)
10. Memperlakukan bahan dengan benar (5) 1 2 3 4 5
11. Mampu membuat keputusan dengan 1 2 3 4 5
menggunakan teori yang diperlukan (5)
12. Mampu bekerja dengan mengikuti prosedur 1 2 3 4 5
kerja yang ada (2)
13. Mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 1 2 3 4 5
yang disediakan (5)
14. Mampu menganalisis pekerjaan dengan 1 2 3 4 5
prosedur yang benar (8)
15. Membersihkan tempat kerja, alat-alat dan 1 2 3 4 5
mesin-mesin setelah digunakan (2)

B.Skala Penilaian Acuan Hasil/Produk
Seberapa jauh hasil pekerjaan siswa dapat menyesuaikan dengan standar di bawah ini.

16. Hasil pekerjaannya bagus dan sempurna (10) 1 2 3 4 5
17. Pelaksanaan sesuai dengan rencana semula (5) 1 2 3 4 5
18. Hasil akhir sesuai dengan spesifikasi yang 1 2 3 4 5
ditetapkan (5)
19. Rangkaian dan bagian-bagiannya berjalan 1 2 3 4 5
dengan baik (10)
20. Hasil analisis pekerjaan benar (10) 1 2 3 4 5

..,..20.
Guru/Penilai
.
NIP.
Keterangan :
Angka dalam kurung di belakang masing-masing butir penilaian, merupakan bobot dari butir
penilaian yang bersangkutan.


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

27

Lampiran 2

PETUNJUK PENGGUNAAN PEDOMAN PENILAIAN TES KINERJA

Di bawah ini diberikan petunjuk penggunaan pedoman penilaian tes kinerja yang meliputi Skala
Penilaian Acuan Prosedur (no. 1 s/d 15 ) dan Skala Penilaian Acuan Hasil (no. 16 s/d 20 ). Setiap
butir penilaian diberikan kriteria penilaian, Anda perlu membaca petunjuk ini secara cermat sebelum
menilai hasil belajar ranah psikomotor dari para siswa.

A.Skala Penilaian Acuan Prosedur
1.Kemampuan membaca gambar dan simbol teknik.
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membaca maksimal 30% dari gambar dan simbol teknik yang
diberikan
Nilia 2 = jika siswa hanya mampu membaca 31-50% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 3 = jika siswa hanya mampu membaca 51-69% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 4 = jika siswa hanya mampu membaca 70-84% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
Nilia 5 = jika siswa hanya mampu membaca 85-100% dari gambar dan symbol teknik yang
diberikan
2.Menyiapkan rencana yang rinci bagi suatu proyek
Nilia 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 30% dari rencana secara rinci
yang harus dibuat.
Nilia 2 = jika siswa hanya mampu membuat 31-50% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 3 = jika siswa hanya mampu membuat 51-69% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 4 = jika siswa hanya mampu membuat 70-84% dari rencana secara rinci yang harus dibuat.
Nilia 5 = jika siswa hanya mampu membuat 85-100% dari rencana secara rinci yang harus
dibuat.
3.Merencanakan langkah-langkah proses pekerjaan secara urut
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 30% dari langkah-langkah proses
pekerjaan secara urut
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 31-50% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 51-69% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 70-84% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu membuat rencana maksimal 85-100% dari langkah-langkah
proses pekerjaan secara urut
4.Merencanakan dan me lay out pekerjaan dalam waktu yang tepat
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 130% dari waktu yang disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 121-130% dari waktu yang disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 111-120% dari waktu yang disediakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 101-101% dari waktu yang disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu membuat rencana dan lay ouy pekerjaan dengan
menggunakan waktu lebih dari 100% dari waktu yang disediakan
5.Mampu memilih bahan yang sesuai
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 30% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 31-50% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 51-69% dari bahan yang harus disediakan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

28

Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 70-84% dari bahan yang harus disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 85-100% dari bahan yang harus disediakan
6.Mampu menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan
Nilai 1 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 30% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 2 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 31-50% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 3 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 51-69% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 4 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 70-84% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 5 = jika siswa hanya mamapu memilih maksimal 85-100% dari alat-alat yang dibutuhkan
7.Mampu memilih alat-alat yang sesuai
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 30% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 31-50% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 51-69% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 70-84% dari alat-alat yang dibutuhkan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memilih maksimal 85-100% dari alat-alat yang dibutuhkan
8.Mengikuti prosedur-prosedur yang benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 30% dari prosedur-prosedur yang benar
bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 31-50% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 51-69% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 70-84% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu mengikuti maksimal 85-100% dari prosedur-prosedur yang
benar bagi masing-masing pelaksanaan
9.Menggunakan alat-alat dengan baik dan terampil
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 30% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 31-50% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 51-69% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 70-84% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu mengunakan maksimal 85-100% dari alat-alat dengan baik dan
terampil
10.Memperlakukan bahan dengan benar
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 30% dari bahan yang
ada
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 31-50% dari bahan
yang ada
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 51-69% dari bahan
yang ada
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 70-84% dari bahan
yang ada
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memperlakukan dengan benar maksimal 85-100% dari bahan
yang ada
11.Mampu membuat keputusan dengan mengggunakan teori yang diperlukan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 30% dari teori
yang diperlukan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 31-50% dari teori
yang diperlukan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 51-69% dari teori
yang diperlukan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

29

Nilai 4 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 70-84% dari teori
yang diperlukan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu memutuskan dengan mengunakan maksimal 85-100% dari
teori yang diperlukan
12.Mampu bekerja dengan mengikuti peraturan keselamatan kerja yang ada
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 30% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 31-50% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 51-69% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 70-84% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu bekerja dengan mengikuti maksimal 85-100% dari peraturan
keselamatan kerja yang ada
13.Mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang disediakan
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 130% dari
waktu yang disediakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 121-130%
dari waktu yang disediakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 111-120%
dari waktu yang disediakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 101-101%
dari waktu yang disediakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih dari 100% dari
waktu yang disediakan
14.Mampu menganalisis pekerjaan dengan prosedur yang benar
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 30% dari prosedur yang
benar
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 31-50% dari prosedur yang
benar
Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 51-69% dari prosedur yang
benar
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 70-84% dari prosedur yang
benar
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menganalisis pekerjaan maksimal 85-100% dari prosedur yang
benar
15.Membersihkan tempat kerja, alat-alat dan mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 1 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 30% dari tempat kerja, alat-alat dan mesin-
mesin setelah digunakan
Nilai 2 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 31-50% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 3 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 51-69% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 4 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 70-84% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan
Nilai 5 = jika siswa hanya mambersihkan maksimal 85-100% dari tempat kerja, alat-alat dan
mesin-mesin setelah digunakan

A. SKALA PENILAIAN ACUHAN HASIL
16.Hasil pekerjaanya bagus dan sempurna
Nilai 1 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 30% dari yang seharusnya
Nilai 2 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 31-50% dari yang
seharusnya
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

30

Nilai 3 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 51-69% dari yang
seharusnya
Nilai 4 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 70-84% dari yang
seharusnya
Nilai 5 = jika siswa hanya mampu menyelesaikan pekerjaan maksimal 85-100% dari yang
seharusnya
17.Pelaksanaan sesuai dengan rencana semula
Nilai 1 = jika pelaksanaan hanya maksimal 30% dari rencana semula
Nilai 2 = jika pelaksanaan hanya maksimal 31-50% dari rencana semula
Nilai 3 = jika pelaksanaan hanya maksimal 51-69% dari rencana semula
Nilai 4 = jika pelaksanaan hanya maksimal 70-84% dari rencana semula
Nilai 5 = jika pelaksanaan hanya maksimal 85-100% dari rencana semula
18.Hasil akhir sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan
Nilai 1 = jika hasil akhir hanya maksimal 30% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 2 = jika hasil akhir hanya maksimal 31-50% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 3 = jika hasil akhir hanya maksimal 51-69% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 4 = jika hasil akhir hanya maksimal 70-84% dari spesifikasi yang seharusnya
Nilai 5 = jika hasil akhir hanya maksimal 85-100% dari spesifikasi yang seharusnya
19.Rangkaian dan bagian-bagiannya berjalan dengan baik
Nilai 1 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimalhanya 30% yang dapat berjalan dengan
baik
Nilai 2 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 31-50% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 3 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 51-69% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 4 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 70-84% yang dapat berjalan
dengan baik
Nilai 5 = jika rangkaian dan bagian-bagiannya maksimal hanya 85-100% yang dapat berjalan
dengan baik
20.Hasil analisis pekerjaan benar
Nilai 1 = jika hasil analisis pekerjaan benarmaksimal hanya 30%
Nilai 2 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 31-50%
Nilai 3 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 51-69%
Nilai 4 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 70-84%
Nilai 5 = jika hasil analisis pekerjaan benar maksimal hanya 85-100%






Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

31

Lampiran 3

Prosedur Pelaksanaan Tes Kinerja
(dalam bentuk identification test, Simulation test dan Work Sample)
No Deskripsi Pelaksanaan Tes Kinerja Ya Tidak
1 Memperhatikan apakah siswa telah memiliki semua bahan, alat-alat,
pesawat, referensi, gambar, atau hal-hal lain yang diperlukan;

2 Meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa yang telah
dilakukan dan berapa lama ia harus bekerja;

3 Meyakinkan bahwa siswa telah memahami apa yang telah
dilakukan dan berapa lama ia harus bekerja;

4 Mengusahakan kondisi kerja untuk setiap siswa sesama mungkin;
5 Meyakinkan bahwa alat-alat, bahan-bahan, dan mesin-mesin
berbeda keadaannya antara siswa yang satu dengan yang lain

6 Mengadakan pemantauan waktu dengan cermat jika yang diuji
adalah kecepatan;

7 Mengamati siswa pada saat ia bekerja dan mencatat kesalahan-
kesalahan yang dilakukan jika elemen-elemen yang sedang diukur
adalah kemampuan merencanakan suatau pekerjaan;

8 Menghindari situasi tegang pada saat tes berlangsung;
9 Memeriksa benda kerja dengan instrumen yang sama atau alat-alat
ukur yang digunakan siswa untuk mengerjakan tugas tersebut jika
tes meliputi ukuran-ukuran;

10 Tidak memberi bantuan apapun, kecuali menjelaskan petunjuk-
petunjuk selama tes sedang berlangsung.


Keterangan:
- Isi kolom sebelah kanan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan
memberi tanda (V) pada kolom yang bersangkutan.
- Selamat Bekerja


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

33

Identifikasi Kompetensi Lulusan D3 Teknik Elektro
Universitas Negeri Yogyakarta
Mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Muhamad Ali
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT, UNY, E-mail: muhal.uny@gmail.com
Abstract - Program Studi Diploma Tiga (D3)
TeknikElektroFT UNY didesain untuk menghasilkan
lulusan yang siap bekerjasebagai teknisi listrik atau
teknisi instrumentasi di industri. Untuk itu mereka
perlu dibekali dengan pengetahuan, keterampilan dan
sikap kerja sesuai dengan tingkatan yang dibutuhkan di
dunia kerja. Artikel ini akan membahas identifikasi
kompetensi lulusan D3 Teknik Elektro mengacu pada
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Identifikasi kompetensi bidang teknik elektro
dilakukan melalui kajian pustaka, pengamatan dan
analisis pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan
dunia teknik elektro pada berbagai industri. Analisis
dilakukan secara kualitatif untuk menentukan dan
mengidentifikasi kompetensi utama dan kompetensi
pendukung yang perlu dikembangkan dalam rangka
penyiapan tenaga kerja lulusan D3 Teknik Elektro.
Hasil kajian menunjukkan bahwa lulusan D3
Teknik Elektro perlu dibekali dengan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja pada level 5 KKNI
dengan jabatan di dunia kerja adalah sebagai teknisi.
Kompetensi ini dapat diberikan melalui pembelajaran,
pembiasaan, penanaman kesadaran dan latihan guna
membangun lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Kata kunci:kompetensi, d3 teknikelektro, kkni
I. PENDAHULUAN
Kompetensi didefinisikan sebagai akumulasi
kemampuan seseorang dalam melaksanakan suatu
deskripsi kerja secara terukur melalui asesmen yang
terstruktur, mencakup aspek kemandirian dan
tanggung jawab individu pada bidang kerjanya
(Mega, 2010). Berdasarkan pengertian ini,
kompetensi merupakan gabungan antara pengetahuan
(knowledge), keterampilan kerja (skill), sikap kerja
(attitude) yang dimiliki oleh seseorang dan didukung
oleh pengalamannya guna menyelesaikan pekerjaan
pada bidang tertentu. Untuk mendapatkan
kompetensi, seseorang perlu melakukan pendidikan,
pelatihan, magang kerja, pengalaman kerja atau cara
lainnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
melalui pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dalam memberikan bekal
kompetensi kepada mahasiswa dan lulusannya
berpegang pada kurikulum yang digunakan sebagai
acuan dalam pembelajaran dan penilaian apakah
mahasiswa sudah memenuhi kompetensi yang
diharapkan atau belum. Peraturan Pemerintah No. 17
Tahun 2010 Pasal 97 memberikan arahan bahwa
kurikulum perguruan tinggi yang dikembangkan dan
dilaksanakan harus berbasis pada kompetensi (KBK).
Payung hukum ini menguatkan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 232 Tahun 2002 tentang
pedoman penyusunan kurikulum perguruan tinggi dan
penilaian hasil belajar mahasiswa serta
Kepmendiknas No. 45 Tahun 2002 tentang kurikulum
di perguruan tinggi. Mengacu pada dasar hukum ini,
Program Studi D3 Teknik Elektro FT UNY sudah
mencoba melakukan perbaikan kurikulum lama
(1997) untuk dikembangkan dengan kurikulum
berbasis kompetensi pada tahun 2002 yang
dilaksanakan pada tahun 2004. Seiring dengan
perubahan ilmu dan teknologi di bidang Teknik
Elektro khususnya perkembangan elektronika,
komputer dan teknologi informasi, kurikulum KBK
yang disusun pada tahun 2002 dikembangkan dengan
melakukan revisi pada beberapa bagian dan
diberinama kurikulum 2009.
Walaupun Program Studi D3 Teknik Elektro FT
UNY sejak tahun 2004 telah mengembangkan dan
melaksanakan KBK, namun demikian pada
kenyataannya masih banyak pembelajaran yang
dilakukan sama dengan kurikulum sebelumnya.
Penerapan KBK sesuai dengan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 dan No
045/U/2002 masih belum dapat dilaksanakan dengan
baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara
lain masih beragamnya pemahaman dosen tentang
makna KBK serta bagaimana implementasinya dalam
pembelajaran. Perumusan kompetensi lulusan masih
berdasar pada persepsi dan pengetahuan masing-
masing dosen sebagai pengampu mata kuliah tanpa
adanya suatu kerangka acuan yang jelas. Dengan
ditetapkannya Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI) oleh pemerintah melalui Perpres
No. 8 Tahun 2012 sebagai acuan dalam penyusunan
capaian pembelajaran lulusan dari setiap jenjang
pendidikan secara nasional, Program Studi D3 Teknik
Elektro menyikapinya dengan kembali mengkaji,
merumuskan dan menetapkan capaian pembelajaran
dan membangun struktur kurikulum yang mengacu
pada KKNI.

II. KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA
Berdasarkan Perpres No. 8 Tahun 2012,
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau yang
dikenal dengan singkatan KKNI didefinisikan sebagai
kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang
dapat menyandingkan, menyetarakan, dan
mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

34

bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam
rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai
dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI
memberikan kepastian pengakuan pemakai tenaga
kerja berdasarkan tingkat pendidikan formal,
pendidikan non formal, pengalaman kerja dan
keahlian yang dimilikinya untuk bekerja pada
berbagai sektor baik di dalam maupun luar negeri.
KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri
Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan
dan pelatihan nasional (Mega, 2012). Perguruan
tinggi sebagai pencetak calon tenaga kerja perlu
memahami konsep KKNI sehingga dapat
merumuskan capaian pembelajaran (learning
outcomes) sesuai dengan tingkat pendidikannya.


Gambar 1. KKNI sebagai penyetaraan kerangka kualifikasi dunia
KKNI terdiri atas 9 (sembilan) jenjang kualifikasi
yang dimulai dari jenjang 1 (satu) sebagai jenjang
terendah sampai dengan jenjang 9sebagai jenjang
tertinggi. Struktur KKNI terdiri dari 3 pilar yaitu
tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan sertifikasi
kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Desain
KKNI dapat dijelaskan seperti yang ditunjukkan pada
gambar 1 (Endrotomo, 2012).Level 1 sampai dengan
level 3 dikelompokkan dalam jabatan operator dengan
pendidikan antara SMP, SMA dan Diploma 1 (D1).
Jenjang 4 sampai dengan jenjang 6 dikelompokkan
dalam jabatan teknisi atau analis dan Jenjang 7
sampai dengan jenjang 9 dikelompokkan dalam
jabatan ahli.Pengalaman kerja dan sertifikat
kompetensi yang dimiliki oleh seseorang dapat
meningkatkan jenjang pengakuan di dunia kerja.
Sebagai contoh seorang pekerja dengan ijasan D3
akan masuk pada level 5 KKNI dan tergolong pada
kategori teknisi. Dengan pengalaman kerja dan
sertifikat kompetensi yang dimiliki, maka
pengakuannya dapat meningkat sampai kepada ahli
walaupun pendidikannya masih D3.

Gambar 2. Level KKNI melalui beberapa jalur

III. PROFIL LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO FT UNY
Lulusan Program Studi D3 TeknikElektroFT
UNY didesain dan dikembangkan untuk siap
memasuki dunia kerja. Berdasarkan KKNI, jenjang
Diploma (D3) berada pada level 5 dengan jabatan di
dunia kerja adalah sebagai teknisi. Profil lulusan
ditentukanmelalumekanismepenggabunganvisiakade
mik yang dilakukanmelalui analisisevaluasi diri
dengan teknik SWOT (Strengths, Weakness,
Oppurtunities and Threats) dan analisis kebutuhan
pasar melalui tracer studi kepada alumni dan juga
masukan dari asosisasi profesi dan industri
(Muhamad Ali dkk , 2012). Untuk itu perguruan
tinggi perlu melibatkan semua dosen, alumni,
pemakai lulusan dari dunia usaha dan industry serta
asosiasi profesi yang terkait dengan bidang ilmu.
Dunia usaha dan industri yang menyerap lulusan D3
Teknik Elektrojumlahnya sangat banyak, mulai dari
industri jasa konsultan, industri proses maupun
industri manufaktur sehingga perlu diidentifikasi
dunia industri yang akan dibidik oleh program studi.
Sedangkan asosiasi profesi yang berkaitan dengan
dunia teknik elektro diantaranya adalah Asosiasi
Ketenagalistrikan Indonesia (AKLI), Asosiasi Profesi
Teknik Elektro Indonesia (APTEI), Pekerjaan Dalam
Keadaan Bertegangan (Gema PDKB), Masyarakat
Kendali Indonesia (Masdali) dan lain sebagainya.
Program Studi D3 Teknik Elektro mempunyau 2
konsentrasi yang mencerminkan spesialisasi keahlian
yang akan dikembangkan kepada mahasiswa dan
lulusan yaitu Teknik Tenaga Listrik dan Teknik Tekni
Instrumentasi dan Kendali (Tim, 2009). Dari
konsentrasi inilah kemudian dibuatlah profil lulusan
yaitu profesi atau jabatan yang akan ditempati oleh
lulusan setelah mereka masuk dunia kerja. Profil
pekerjaan yang banyak dijumpai oleh lulusan D3
Teknik Elektro adalah:
- Teknisi Listrik (electrical)
- Teknisi Instrumentasi dan Kendali
(instrumentation and control)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

35

- TeknisiLaboratorium
- Teknisi Umum

IV. LEARNING OUTCOMES
Learning outcome atau kompetensi lulusan
diturunkan dari profil yang telah ditetapkan.
Penetapan learning outcome ini dilakukan melalui
diskusi yang melibatkan dosen, alumni, industri
pemakai lulusan dan asosiasi profesi. Kompetensi
yang perlu dikuasai oleh lulusan Program Studi D3
Teknik Elektro terdiri dari kompetensi utama dan
kompetensi pendukung. Selain kompetensi utama dan
kompetensi pendukung, lulusan juga perlu dibekali
dengan karakter kebangsaan dan kemampuan untuk
hidup bermasyarakat sesuai dengan ideologi Negara
dan budaya Bangsa Indonesia yaitu:
- Memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa
- Memiliki moral, etika dan kepribadian yang
baik
- Memiliki karakter kebangsaan dan
kewarganegaraan
- Menjunjung tinggi penegakan hukum serta
memiliki semangat untuk mendahulukan
kepentingan bangsa serta masyarakat luas
- Mampu bekerja sama dan memiliki
kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi
terhadap masyarakat dan lingkungan
- Menghargai keanekaragaman budaya,
pandangan, kepercayaan, dan agama serta
pendapat/temuan orisinal orang lain
- Menumbuhkembangkan kode etik profesi
ahli madya teknik elektro
Secara umum, KKNI telah memberikan
gambaran tentang kompetensi yang harus dimiliki
oleh calon tenaga kerja lulusan D3 yaitu:
- Mampu menyelesaikan pekerjaan di
bidangterkait yang berlingkup luas dan
mendalam pada sub bidang tertentu.
- Mampu memilih alat / metode yang sesuai
dari beragam pilihan yang sudah maupun
belum baku melalui analisis data.
- Mampu menunjukkan kinerja dengan mutu
dan kuantitas yang terukur terhadap hasil
kerja sendiri, orang lain, dan kelompok,
yang menjadi tanggungjawab pengawasan
di lingkup bidang kerjanya.
- Menguasai konsep teoretis bidang keilmuan
secara umum tetapi mendalam di bidang
bidang tertentu, serta mampu
memformulasikan penyelesaian masalah
prosedural.
- Memiliki kemampuan mengelola kelompok
kerja keteknikan dan menyusun laporan
tertulis secara komprehensif.
- Bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri
dan dapat diberi tanggungjawab atas
pencapaian hasil kerjaorganisasi.

Berdasarkan deskripsi generik KKNI level 5,
maka kompetensi utama yang harus dimiliki oleh
lulusan D3 Teknik Elektro konsentasi Teknik listrik
dan Konsentrasi Teknik Instrumentasi dan Kendali
adalah sebagai berikut:
- Mampu menjelaskan konsep pembangkitan,
penyaluran dan pendistribusian tenaga
listrik dengan baik
- Mampu menguasai prinsip sistem proteksi
tenaga listrik (proteksi peralatan dan
manusia)
- Mampu membaca dan membuat gambar
teknik
- Mampu melakukan pengukuran besaran-
besaran listrik dan mengintepretasikan hasil
pengukuran secara tepat
- Mampu menggunakan dan memilih
metode/alat yang terbaik untuk membantu
menyelesaikan pekerjaan.
- Mampu mengoperasikan peralatan-peralatan
listrik berdasarkan pedoman yang ada.
- Mampu menginstalasisistemtenaga listrik
sesuai dengan standar yang berlaku
- Mampu melakukan troubleshootingsistem
tenaga listrik berdasarkan prosedur operasi
standar dan instruksi kerja.
- Mampu melakukan pengujian sistem
kelistrikan
- Mampu merencanakan dan mengelola
sumberdaya dalam pekerjaan
keteknikelektroan dan bekerjasama dengan
orang lain
- Mampu bekerja secara mandiri dan
melakukan pengawasan pekerjaan orang
lain di lingkup bidang kerjanya
- Menguasai konsep dan prinsip bidang ilmu
teknikelektro secara umum
- Mampu mengkomunikasikan hasil
pekerjaannya secara lisan maupun tertulis
- Mampu menyusun laporan hasil pekerjaan
yang menjadi tugasnya.
Kompetensi pendukung yang perlu dikuasai oleh
lulusan D3 Teknik Elektro konsentasi Teknik listrik
dan Konsentrasi Teknik Instrumentasi dan Kendali
adalah sebagai berikut:
- Mampu menguasai teknologi informasi dan
komunikasi
- Mampu menguasai dan mengembangkan
jiwa enterprenuership
- Mampunyai kemampuan berkomunikasi
- Mampu bekerja secara tim
- Mampu mengimplementasikan K3 di
tempat kerja
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

36

- Mampu menguasai konsep dasar
manajemen yang efektif
V. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa
kesimpulan berkaitan dengan kompetensi lulusan D3
Teknik Elektro FT UNY yaitu:
- Lulusan Program Studi D3 Teknik Elektro
FT UNY harus memiliki kompetensi yang
dibutuhkan oleh dunia kerja yang dalam
KKNI masuk kategori level 5 dengan
jabatan teknisi dengan kompetensi utama,
kompetensi pendukung dan memiliki jiwa
nasionalisme, religious dan ketaatan
terhadap hukum dan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia.
- Kompetensi utama Lulusan Program Studi
D3 Teknik Elektro FT UNY berkaitan
dengan penguasaan bidang ilmu teknik
elektro khususnya teknik listrik, teknik
instrumentasi dan kendali. Kompetensi
pendukung berkaitan dengan penguasaan
ICT, kemampuan berkomunikasi, jiwa
enterpreneurship, bekerja secara aman dan
menguasai dasar-dasar manajemen.

REFERENSI
[1]. Endrotomo, 2012, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,
Materi Sosialisasi KKNI di Perguruan Tinggi, disampaikan di
Hotel Ina Garuda Yogyakarta.
[2]. Mega, 2010, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,
Materi Sosialisasi KKNI di Perguruan Tinggi disampaikan
pada Workshop Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi
Mengacu pada KKNI, di UNY, 2012.
[3]. Muhamad Ali, dkk, (2012), Laporan Penyusunan Kurikulum
Program Studi Teknik Elektro FT UNY Berbasis Kompetensi
Mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
[4]. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 dan
No 045/U/2002
[5]. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010, Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK)
[6]. Presiden Republik Indonesia, 2012, Peraturan Presiden
Perpres No tahun 2012, Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI),
[7]. Kepmendiknas No. 45 Tahun 2002 tentang kurikulum di
perguruan tinggi

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

37

Pemanfaatan Perangkat Lunak Open Source
untuk Mendukung KBM dan Manajemen Sekolah
Inte Christinawati Buull
1
, Immanuel Panjaitan
2

1,2
Institut Teknologi Del, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara,
E-mail : inte@del.ac.id
1
, immanuel@del.ac.id
2

Abstrak-Teknologi informasi dan komuniasi (TIK)
untuk mendukung kegiatan proses belajar mengajar di
sekolah saat ini menjadi suatu kebutuhan. Bukan saja
dapat meningkatkan citra suatu sekolah, namun yang
paling utama dirasakan adalah dukungan TIK yang
baik dapat meningkatkan kualitas proses belajar
mengajar.
Masih banyak sekolah yang belum memiliki
dukungan TIK berupa sistem informasi atau web site
terutama di rural area. Salah satu penyebabnya adalah
tidak adanya dana dan sumber daya manusia yang
memadai untuk mengembangkan perangkat lunak yang
mereka butuhkan.
Melalui kajian ini diperkenalkan beberapa
perangkat lunak tidak berbayar dan open source yang
dapat digunakan oleh sekolah. Perangkat lunak
tersebut adalah aplikasi Moodle, Jibas, SENAYAN, dan
CMS Balitbang. Keempat perangkat lunak tersebut
sudah berhasil diimplementasikan di SMA Unggul Del.
Kata kunci: open source, J ibas, Moodle, SENAYAN,
slims, e-learning, CMS BALI TBANG,
teknologi informasi.
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Besarnya dukungan TIK untuk meningkatkan
mutu pendidikan telah lama disadari pemerintah.
Salah satu kebijakan strategis Kementerian
Pendidikan Nasional adalah pemanfaatan secara
optimal berbagai sarana seperti radio, televisi,
komputer dan perangkat Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) lainnya untuk digunakan sebagai
media pembelajaran[1]. Kehadiran TIK dalam
pendidikan bisa dimaknai dalam tiga cara pandang,
yaitu (1) TIK sebagai alat atau berupa produk
teknologi yang bisa digunakan dalam pendidikan, (2)
TIK sebagai konten atau sebagai bagian dari materi
yang bisa dijadikan isi dalam pendidikan, dan (3) TIK
sebagai program perangkat lunak atau alat bantu
untuk manajemen pendidikan yang efektif dan
efisien. Terkait dengan poin pertama dan ketiga, saat
ini sudah banyak perangkat lunak tidak berbayar dan
open source yang tersedia baik yang disediakan oleh
non pemerintah maupun yang dikelola pemerintah.
Beberapa di antaranya, yang dapat digunakan untuk
mendukung proses-proses yang berlangsung di
sekolah adalah Moodle, Jibas, SENAYAN, dan CMS
Balitbang.Pada bab selanjutnya dipaparkan lebih
detail fitur dari Moodle, Jibas, SENAYAN, dan CMS
Balitbang. Kemudian pada bab 3 dijelaskan mengenai
implementasi perangkat lunak open source di SMA
Unggul Del.

II. PERANGKAT LUNAK OPEN SOURCE UNTUK DUNIA
PENDIDIKAN
2.1 Moodle
Moodle adalah CMS yang mengkhususkan diri
untuk kegiatan belajar berbasis internet dan website.
Perangkat lunak ini dapat digunakan secara bebas
sebagai produk open source di bawah lisensi GNU.
Moodle (Modular Object-Oriented Dynamic Learning
Environment) salah satu LMS (Learning Management
System) yang mengotomatisasi dan memvisualisasi
proses belajar mengajar[2]. Beberapa fitur yang
disediakan pada Moodle adalah:
a. Manajemen pengguna dan hak akses pengguna,
fitur ini penting dan sangat membantu untuk
merepresentasikan interaksi antar pengguna di
dunia nyata, contohnya guru dan siswa.
b. Manajemen peserta suatu course dan juga
grouping peserta.
c. Manajemen materi baik berupa text, presentasi,
dokumen, video, audio.
d. Manajemen pengumpulan dan penilaian tugas,
kuis, atau test lainnya.
e. Manajemen kuisioner, survey, forum.
f. Fitur monitoring, pelaporan dan fitur log yang
lengkap.
2.2 Jibas
Jibas singkatan dari Jaringan Bersama Antar
Sekolah adalah perangkat lunak open source yang
dikelola oleh Yayasan Indonesia Membaca. Misi
Jibas adalah membangun jaringan informasi dan
komunitas pendidikan yang bisa mewadahi interaksi
dan aktifitas setiap elemen pendidikan dari siswa,
guru, orang tua, yayasan, pemerintah dan masyarakat
umum.
Road Map Jibas (Gambar 1) yang dapat diakses
dari website resmi Jibas menunjukkan tingginya
dukungan Yayasan Indonesia Membaca pada
perangkat lunak ini. Selain itu instalasi dan
penggunaan perangkat lunak Jibas yang mudah
dibandingkan perangkat lunak sejenis lainnya
menyebabkan tingginya minat lembaga pendidikan
dalam dan bahkan luar negeri untuk menggunakan
perangkat lunak ini. Tercatat sudah lebih dari 4000
lembaga pendidikan yang menggunakan/ mengunduh
perangkat lunak Jibas.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

38



Gambar 1 Road Map pengembangan Jibas[2]
Berikut beberapa modul/fitur yang ada pada
perangkat lunak Jibas [3]:
a. Manajemen sekolah
i. Modul akademik, hanya dapat diakses oleh
pegawai tertentu yang mengurus kepegawaian.
Modul ini terintegrasi dengan modul
keuangan, perpustakaan, info guru, info siswa,
pelaporan. Modul ini terdiri dari fungsi
penerimaan siswa baru, manajemen guru dan
pelajaran, pembuatan jadwal belajar mengajar,
pendataan siswa, pencatatan kehadiran guru
dan siswa, manajemen penilaian, pengaturan
kelulusan dan mutasi siswa.
ii. Modul keuangan, hanya dapat diakses petugas
di bagian keuangan. Modul ini terintegrasi
dengan modul akademik, perpustakaan, dan
pelaporan. Modul ini terdiri dari fungsi
pencatatan penerimaan keuangan,
pengeluaran keuangan, jurnal umum, laporan
akuntansi, laporan audit data.
iii. Modul perpustakaan, hanya dapat diakses
oleh petugas perpustakaan. Modul ini
terintegrasi dengan modul info guru, info
siswa dan pelaporan eksekutif. Modul ini
terdiri dari fungsi pendataan barang pustaka,
peminjaman pustaka, pengembalian pustaka,
aktifitas perputakaan.
iv. Modul Kepegawaian, hanya dapat diakses
petugas di bagian kepegawaian. Modul ini
terintegrasi dengan modul akademik, info
guru, dan pelaporan eksekutif. Modul ini
terdiri dari fungsi pendataan data pegawai,
statistik kepegawaian, jadwal agenda
kepegawaian.
v. Fitur Photo Take disediakan untuk
memudahkan pembuatan dan upload pas foto
siswa dan guru dan pegawai lainnya.
b. Interaksi Sekolah
i. Modul InfoGuru, terintegrasi dengan modul
akademik, kepegawaian, dan perpustakaan.
Modul ini hanya dapat diakses oleh guru
menggunakan NIP/NIDN sebagai user nama
dan password yang dikelola sendiri oleh guru.
Berikut adalah beberapa fungsi modul ini:
Sebagai media komunikasi dengan
adanya fungsi manajemen berita.
Sebagai media pembelajaran siswa
karena guru dapat menyimpan materi-
materi pembelajaran yang dapat diakses
siswa melalui modul info siswa.
Sebagai media bagi guru untuk dapat
mengakses informasi akademik.
Pengelolaan personal information baik
data pribadi maupun pengaturan agenda
pribadi guru.
ii. Modul InfoSiswa, terintegrasi dengan modul
akademik, perpustakaan serta pelaporan.
Modul ini hanya dapat diakses oleh siswa
menggunakan NIS sebagai username dan pin
yang telah disediakan oleh sistem sebagai
password. Berikut adalah beberapa fungsi
pada modul InfoSiswa:
Sebagai media komunikasi sekolah
untuk mengabarkan berita ke siswa.
Sebagai media pembelajaran siswa,
karena siswa dapat mengakses materi
pembelajaran yang disimpan oleh guru.
Akses informasi akademik, siswa dapat
mengakses informasi akademik seperti
jadwal pelajaran, nilai.
Pengelolaan personal information baik
data pribadi maupun pengaturan agenda
pribadi siswa.
c. Pelaporan
i. Pelaporan melalui sms gateway, hanya dapat
digunakan oleh pengguna tertentu yang
ditunjuk misalnya bagian akademik. Modul
ini terintegrasi dengan modul akademik,
keuangan, dan perpustakaan. Berikut
beberapa fungsi yang ada pada modul
pelaporan ini:
Manajeman pengiriman sms yang berisi
pengumuman, nilai, kehadiran dan
pembayaran siswa. Penerima sms dapat
diatur dengan mudah.
Fitur SMS Autoresponse yang membalas
sms yang berisi pesan ataupun
pertanyaan seputar nilai, kehadiran dan
info pembayaran siswa.
ii. Pelaporan Eksekutif, hanya dapat diakses oleh
pimpinan di lembaga pendidikan. Modul ini
terintegrasi dengan modul akademik,
kepegawaian, perpustakaan.
d. Informasi Online
Pengelola Jibas menyediakan sejumlah server
yang dapat digunakan secara gratis oleh lembaga
pendidikan untuk mem-publish informasi sekolah
ke internet.
i. Sinkronisasi data, modul ini digunakan untuk
sinkronisasi data di server lokal sekolah
dengan server Jibas.
ii. Jendela Sekolah, perangkat lunak berbasis
web yang disediakan oleh Jibas untuk
menampilkan informasi sekolah yang sudah
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

39

melakukan sinkronikasi data dengan server
Jibas.
iii. Jendela Sekolah mobile
e. Pemeliharaan
i. Back up & Restore
ii. Live Update

Gambar 2 Jibas
2.3 SENAYAN
SENAYAN adalah perangkat lunak web-based
tidak berbayar dan open source untuk kebutuhan
automasi perpustakaan. Perangkat lunak ini pertama
kali dikembangkan dan digunakan oleh Perpustakaan
Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Informasi
dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan
Nasional. Perangkat lunak SENAYAN dibangun
dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan
pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, SENAYAN
mendapat penghargaan tingkat pertama dalam ajang
INAICTA 2009 untuk kategori open source.


Gambar 3 SENAYAN
Beberapa fitur SENAYAN adalah sebagai berikut
[4]:
a. Online Public Access Catalog (OPAC) dengan
pembuatan thumbnail yang di-generate on-thefly.
b. Thumbnail berguna untuk menampilkan cover
buku.
c. Mode penelusuran tersedia untuk yang sederhana
(Simple Search) dan tingkat lanjut (Advanced
Search)
d. Detail record juga tersedia format XML
(Extensible Markup Language) untuk kebutuhan
web service.
e. Manajemen data bibliografi yang efisien
meminimalisasi redundansi data.
f. Manajemen masterfile untuk data referensial
seperti GMD (General Material Designation),
Tipe Koleksi, Penerbit, Pengarang, Lokasi,
Supplier, dan lain-lain.
g. Sirkulasi dengan fitur: Transaksi peminjaman
dan pengembalian, Reservasi koleksi, Aturan
peminjaman yang fleksibel, Informasi
keterlambatan dan denda.
h. Manajemen keanggotaan.
i. Inventarisasi koleksi (stocktaking)
j. Laporan dan Statistik
k. Pengelolaan terbitan berkala
l. Dukungan pengelolaan dokumen multimedia
(.flv,.mp3) dan dokumen digital. Khusus untuk
pdf dalam bentuk streaming.
m. Senayan mendukung beragam format bahasa
termasuk bahasa yang tidak menggunakan
penulisan selain latin.
n. Menyediakan berbagai bahasa pengantar
(Indonesia, Inggris, Spanyol, Arab, Jerman).
o. Dukungan Modul Union Catalog Service
p. Counter Pengunjung perpustakaan
q. Member Area untuk melihat koleksi sedang
dipinjam oleh anggota
r. Modul sistem dengan fitur: Konfigurasi sistem
global, Manajemen modul, Manajemen User
s. (Staf Perpustakaan) dan grup, Pengaturan hari
libur, Pembuatan barcode otomatis, Utilitas untuk
backup
2.4 CMS Balitbang
CMS Balitbang adalah perangkat lunak yang
disediakan secara gratis untuk mengembangkan dan
memublikasikan manajemen sekolah dan
pembelajaran berbasis website dengan metode yang
sangat mudah.
Salah satu kegiatan yang dilakukan Balitbang
Kemdiknas untuk mendukung renstra Depdiknas
adalah Pembuatan Model Website Sekolah sejak
Tahun 2009. Hingga saat ini model tersebut telah
dipergunakan oleh lebih dari 400 sekolah di
Indonesia.


Gambar 4 CMS Balitbang
Berikut beberapa fitur yang ada pada CMS
Balitbang [5]:
a. Manajemen pengguna
b. Manajemen agenda, artikel, banner, berita, buku
tamu, forum diskusi, galeri foto, info almni, info
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

40

sekolah, jajak pendapat, materi uji, materi ajar,
prestasi, silabus.
c. Manjemen data daftar hadir siswa, data BP/BK,
laporan, materi, nilai, SPP/DSP.
d. Manajemen data guru dan siswa
e. Pengontrolan dan log.

III. PELAKSANAAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai implementasi
perangkat lunak Moodle, Jibas, SENAYAN, dan
CMS Balitbang di SMA Unggul Del.
3.1 Tentang SMA Unggul Del
SMA Unggul Del adalah sekolah di bawah
naungan Yayasan Del, yang berdiri pada tahun 2012.
Visinya menjadi sekolah unggul yang terpanggil,
terdidik, dan teruji dalam mendidik pribadi anak
bangsa dan misinya adalah mendidik anak bangsa
yang handal untuk memiliki kompetensi akademik
yang tinggi secara global dan berbudi pekerti.
Sekolah ini berlokasi di desa Sitoluama, Laguboti,
Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara.
Strategi pembelajaran yang diterapkan adalah T4
(Telaah, Teliti, Tata, dan Tutur). Untuk mendukung
strategi tersebut dibutuhkan bantuan teknologi
informasi sehingga metode pembelajaran yang
diberikan kepada siswa menjadi lebih lengkap dan
variatif. Jaringan LAN dan internet perlu disediakan
demikian juga dengan perangkat lunak pendukung
antara lain perangkat lunak pendukung proses belajar
mengajar, administrasi akademik, perpustakaan, dll.
3.2 Rencana Pelaksanaan
Berdasarkan paparan pada bab sebelumnya mengenai
fitur yang ada pada masing-masing perangkat lunak,
terdapat beberapa kesamaan fitur antara satu
perangkat lunak dengan perangkat lunak yang lain.
Berikut pemaparannya:
a. Baik Moodle, Jibas, dan CMS Balitbang
mempunyai fitur manajemen materi ajar.
Namun dari ketiganya, Moodle memberikan
fitur manajemen materi yang paling lengkap.
b. Fitur perpustakaan dapat ditemukan di Jibas,
namun fungsi-fungsi yang diberikan masih
sederhana dibandingkan fitur-fitur yang
disediakan oleh SENAYAN.
c. Jibas dengan modul Jendela Sekolah dapat
dimanfaatkan untuk mem-publish informasi
sekolah. Namun dengan alasan SMA Unggul
memiliki jaringan dan perangkat yang memadai
maka untuk keperluan tersebut akan digunakan
CMS Balitbang. Dengan demikian semua data
dikelola secara mandiri oleh sekolah.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka keempat
perangkat lunak tersebut digunakan secara
bersamaan, dengan pemfungsian sebagai berikut:
a. Moodle digunakan sebagai LMS dan hanya dapat
diakses di dalam lingkup jaringan SMA Unggul.
Semua materi ajar akan disimpan di Moodle.
Demikian juga tugas dan pengujian serta
pemberitahuan nilai akan dikelola menggunakan
moodle. Moodle juga digunakan sebagai media
evaluasi kinerja guru dengan memanfaatkan fitur
kuesioner. Selain itu akan digunakan sebagai
media diskusi antara guru dan siswa terkait suatu
materi ajar atau pengujian
b. Jibas digunakan sebagai Sistem Informasi
Sekolah (Gambar 2). Modul-modul yang akan
digunakan adalah modul akademik, kepegawaian,
keuangan, info guru, info siswa, dan pelaporan.
c. Senayan, digunakan sebagai Sistem Informasi
Perpustakaan SMA Unggul, menggantikan
modul perpustakaan yang ada pada Jibas
(Gambar 3).
d. CMS Balitbang digunakan sebagai template
website SMA Unggul. Untuk saat ini template
CMS Balitbang digunakan tanpa modifikasi
berarti pada tampilannya (Gambar 4).
Saat ini data pada keempat perangkat lunak
belum terintegrasi. Kedepan, diharapkan keempat
perangkat lunak tersebut sudah terintegrasi dengan
baik. Sehingga data siswa yang disimpan di Jibas
dapat otomatis dilihat dari SENAYAN dan, tidak
perlu ada perulangan/redundansi input data,
pengolahan data lebih cepat dan akurat.
3.3 Instalasi
Untuk keperluan instalasi perangkat lunak, SMA
Unggul Del menyediakan dua buah server. Masing-
masing diinstal dengan sistem operasi yang berbeda
yaitu Centos dan Windows 2003 server. Pada server
dengan sistem operasi Centos diinstal Moodle.
Sementara di server yang lainnya diinstal Jibas,
SENAYAN, dan CMS Balitbang.
Berikut adalah perangkat lunak yang perlu
diinstall pada server:
- XAMPP
- MySQL Workbench
- Editor

Instalasi Moodle cukup mudah, yaitu:
a. Setelah memdownload Moodle terbaru dari
http://moodle.org, extract Moodle di
\xampp\htdocs
b. Buat folder moodledata di \xampp. Kemudian
klik kanan folder tersebut, pilih Properties. Pada
tab security, klik Edit. Pilih "User/", centang
allow pada "Full control" setelah itu klik OK.
c. Buat file config.php isinya: show config.php.
Simpan file tersebut di \xampp\htdocs\moodle
d. Pada localhost/phpmyadmin buatklah database
baru: dbmoodle, dengan MySQL connection
collation:utf8_unicode_ci
e. Buka localhost/moodle dan ikuti langkah
instalasi.

Untuk keperluan instalasi Jibas diperlukan
perangkat lunak tambahan yang perlu diinstal
yaitu .Net. Perangkat lunak ini dibutuhkan untuk
menjalankan modul SMS Gateway.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

41

a. Setelah mendownload Jibas versi terbaru dari
http://www.jibas.net, extract Jibas di
\xampp\htdocs.
b. Buatlah database jibasDB di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
jibas_db.sql.
c. Ubah konfigurasi pada file jibas/config.ini
sebagai berikut:
$db_host = 'localhost:3306'; // Alamat
dan port database yang digunakan
$db_user = 'root'; // Database user yang
digunakan
$db_pass = 'kebersamaan'; // Isi dengan
password database
$G_SERVER_ADDR = '192.168.1.1/jibas'; //
Ubah dengan alamat server
$FS_UPLOAD_DIR =
'C:\GMS\JIBAS\xampp\htdocs\filesharing';
// Sesuaikan dengan direktori instalasi
filesharing
$G_OS = 'win'; // Isikan win atau lin
$G_LOKASI = 'Bandung'; //Lokasi sekolah
d. Buka file php.ini ubah nilai (semua) variabel
berikut sehingga menjadi
short_open_tag = On
error_reporting = E_ALL & ~E_NOTICE &
~E_DEPRECATED & ~E_WARNING\
register_global=On
e. Buka aplikasi jibas dengan mengetik alamat
berikut di browser http://localhost/jibas. Gunakan
username: jibas, password: password.

Instalasi SENAYAN adalah sebagai berikut:
a. Download SENAYAN terbaru dari
http://slims.web.id. Ekstrak filenya dan
pindahkan isi folder slims ke folder senayan di
dalam \xampp\htdocs.
b. Buatlah database senayanDB di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
senayan.sql.
c. Ubah konfigurasi sysconfig.local.inc.php sesuai
dengan nama dan password database.
d. Buka aplikasi SENAYAN dengan mengetik
alamat berikut di browser
http://localhost/senayan. Untuk dapat mengakses
halaman admin, gunakan username: admin,
password: admin.

Instalasi CMS Balitbang juga tidak rumit, berikut
langkah-langkahnya:
a. Download CMS Balitbang terbaru dari
http://www.kajianwebsite.org. Ekstrak filenya
dan pindahkan isi foldernya ke folder website di
dalam \xampp\htdocs.
b. Buatlah database websiteDB di
localhost/phpmyadmin dan import isi file
webtemp35baru.sql
c. Ubah konfigurasi website/lib/config.php sesuai
dengan nama dan password database serta data
sekolah yang menggunakan CMS Balitbang.
d. Buka aplikasi SENAYAN dengan mengetik
alamat berikut di browser http://localhost/website.
e. Untuk mengubah isi CMS Balitbang, silakan
membuka http://localhost/website/admin/
gunakan username: admin, password: admin.
3.4 Pemanfaatan
Sesuai dengan paparan pada bagian rencana
pelaksanaan, Moodle, Jibas, SENAYAN, dan CMS
Balitbang telah digunakan di SMA Unggul Del.
Akibat dari proses pelatihan yang belum tuntas,
pemanfaatan keempat perangkat lunak tersebut saat
ini belum maksimal.
Sebagai contoh, saat ini aplikasi Moodle telah
dimanfaatkan untuk penyimpanan materi ajar, tempat
penyetoran tugas, media komunikasi guru dan siswa,
serta dimanfaatkan untuk mengevaluasi performansi
guru dengan memanfaatkan fitur kuesioner.
Pemanfaatan Moodle sebagai sarana ujian online
belum digunakan saat ini karena pelatihan guru
terkait penggunaan fitur tersebut belum selesai.
Modul-modul yang telah digunakan di Jibas adalah
modul kepegawaian, akademik, keuangan, Info guru,
Info siswa dan modul pelaporan eksekutif. Modul
SMS Gateway masih belum digunakan saat ini karena
semester pertama belum berakhir sehingga pelaporan
nilai belum dapat dilakukan.

IV. PENUTUP
Keempat perangkat lunak tersebut saat ini sudah
berjalan dengan baik dan masih dalam tahap
penyempurnaan isi. Pemberian pelatihan baik kepada
guru, staf dan siswa masih terus dilakukan. Beberapa
kendala ditemukan pada saat penggunaan keempat
perangkat lunak tersebut, seperti beberapa fungsi
yang disediakan perlu dimodifikasi sehingga sesuai
dengan kebutuhan SMA Unggul Del, belum
terintegrasinya data pada keempat perangkat lunak
sehingga data harus disimpan secara terpisah pada
setiap perangkat lunak.
Implementasi perangkat lunak tak berbayar dan
open source di SMA Unggul Del dapat dijadikan
contoh bagi sekolah-sekolah lainnya yang terkendala
dengan sumber daya manusia ataupun dana untuk
mengembangkan perangkat lunak pendukung
kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing
khususnya perangkat lunak pendukung kegiatan
belajar mengajar.
Kesiapan sekolah untuk menggunakan dukungan
TIK dalam kegiatannya menjadi poin penting.
Kesiapan yang dimaksud dalam hal ini adalah
kemauan untuk berubah ke arah penggunaan TIK,
tersedianya infrastuktur, dan tersedianya sumber daya
manusia yang memadai untuk mengoperasikan
perangkat lunak.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

42

REFERENSI
[1]. Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Rencana Strategis
Departemen PendidikanNasional 2005-2009. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
[2]. Jason Cole, Helen Foster, "Using Moodle - Teaching with the
Popular Open Source Course Management System", O'Reilly
(http://moodle.org)
[3]. Presentasi Jibas.ppt (http://www.jibas.net)
[4]. Dokumentasi SLiMS Berdasarkan SLiMS-5(MERANTI).pdf
(http://slims.web.id)
[5]. Komponen Utama CMS
Balitbang.doc(http://www.kajianwebsite.org)


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

43

Pengembangan Perangkat Untuk Model Pembelajaran
Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Berorientasi Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan
Standar Industri Bidang Perbaikan Motor Listrik (PML)
Gatot Widodo
1
, Joko
2

2
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: gwid.unesa@yahoo.co.id
1
Jurusan Teknik
Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: unesa_joko@yahoo.com
Abstrak - Model pembelajaran yang diterapkan di
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) relatif masih
menggunakan model pembelajaran konvensional, yaitu
ceramah dan sebagian dilanjutkan sebagian
praktik.Pelaksanaannya belum terintegrasi dan belum
sesuai tuntutan dunia industri atau usaha (DI/DU) dan
belum memenuhi Standar Kompetensi Nasional (SKNI),
termasuk mata pelajaran kejuruan (MPK) PML.Proses
pembelajaran juga belum mengoptimalkan siswa pada
ranah keterampilan kognitif, keterampilan pemecahan
masalah, dan keterampilan psikomotorik atau belum
relevan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)
PML di DI/DU industri. Akibatnya kompetensi siswa
setelah belajar PML masih terpotong-potong atau
belum terintegrasi dan hasil produk PML yang
dihasilkan juga belum menyeluruh atau terpotong-
potong.Akibatnya kompetensi siswa dalam PML setelah
pembelajaran belum sesuai SKNI dan standar
kompetensi pada DI/DU PML yang ada di dunia nyata
atau kehidupan sehari-hari, termasuk hasil produk
PML yang dihasilkan siswa. Tujuan penelitian ini
adalah mengembangkan perangkat pembelajaran
dengan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
(MPBP)yang implementatif bagi guru dan siswadalam
rangka mengoptimalkan kompetensi atau hasil belajar
siswa ranah keterampilan kognitif, keterampilan
pemecahan masalah, dan keterampilan psikomotorik
atau sesuai kompetensi yang ada pada SKNI dan SOP
PML di industri, serta produk PML yang dihasilkan
sesuai standar hasil PML di DI/DU. Metode yang
digunakan menggunakan Riset and Development
(R&D). Penelitian diawali dengan mengembangkan
perangkat pembelajaran dengan MPBP, selanjutnya
dilakukan validasi pada keduanya pada ahli terkait.
Hasil evaluasi dan perbaikannya berdasarkan masukan
dari validator digunakan sebagai bahan Focus Group
Discusion (FGD).dan selanjutnya berdasarkan hasil
FGD dilakukan perbaikan lagi berdasarkan masukan
yang ada dan dilakukan publikasi ilmiah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang dikembangkan
layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran
dengan model pembelajaran berbasis proyek.
Persentase validator yang menyatakan atau menilai
sangat valid 71,87% dan sisanya 28,14% menyatakan
valid, sedangkan masukan pada saat FGD dan validasi,
hanya pada aspek tata tulis.
Kata kunci: pengembangan, model pembelajaran berbasis
proyek, dan perangkat pembelajaran
I. PENDAHULUAN
Perubahan paradigma pembelajaran, dari
berpusat pada guru (teacher centered learning)
menjadi strategi pembelajaran yang berpusat pada
siswa(student centered learning) adalah merupakan
salah satu upaya penting untuk mengoptimalkan
proses pembelajaran yang menumbuhkan siswa
menjadi lebih aktif belajar.
Menurut Dimyati & Mujiono (2006), dalam suatu
kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi
aktivitas belajar apabila adanya proses perubahan
perilaku pada diri sebagai hasil dari suatu
pengalaman. Selanjutnya Uno (2008) juga
menjelaskan bahwa siswa yang belajar harus berperan
secara aktif membentuk pengetahuannya.Dari kedua
pandangan tersebut, dapat dikatakan bahwa seorang
siswa harus menunjukkan perubahan tindakan
belajarnya sebagai wujud nyata terhadap
tanggungjawabnya, dan ini juga menuntut perubahan
paradigma bagi guru.
Kegiatan belajar dapat dilakukan dengan baik,
benar, tepat, dan berhasil optimal jikaguru memiliki
strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa
mengoptimalkan kegiatan belajarnya. Pandangan ini
sejalan dengan Degeng (2007), yang menyatakan
bahwa strategi belajar yang digunakan oleh siswa
sangat menentukan proses dan hasil belajar.
Sedangkan menurut (Slavin 2000), strategi belajar
harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
karakteristik siswa. Pemilihan strategi pembelajaran
yang tepat dapat membuat siswa melakukan aktivitas
belajarnya secara bebas, menyenangkan, dan
bermakna bagi proses perkembangan hasil belajarnya.
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dapat
dinilai dari tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif
dan psikomotorik (Devies, 1986; Jarolimek & Foster,
1981). Ranah kognitif mencakup kemampuan
intelektual terkait kegiatan atau proses mental yang
berawal dari kategori rendah sampai kategori paling
tinggi. Sedangkan Penilaian hasil belajar kognitif
mengacu pada teori Anderson, et.al. (2001). Ranah
kognitif terdiri dari dua dimensi, yaitu: (1) dimensi
proses kognitif (cognitive process dimension) dan (2)
dimensi pengetahuan (knowledge dimension).
Dimensi proses kognitif disusun secara berjenjang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

44

meliputi mengingat (remember), mengerti
(understand), memakai atau menerapkan (apply),
menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan
mencipta (create). Sedangkan dimensi pengetahuan
(knowledge dimension) terdiri atas fakta (factual),
konsep (conceptual), prosedur (procedural), dan
metakognisi (metacognitive).
Hakikat pengetahuan prosedural atau
keterampilan pemecahan masalah adalah mempelajari
langkah-langkah dan mengikuti persyaratan sesuai
yang ditentukan pada suatu pemecahan masalah.
Merril (1983) menyatakan bahwa tipe isi hasil belajar
meliputi empat kategori, yaitu fakta, konsep,
prosedur, dan prinsip. Sedangkan ranah afektif
meliputi receiving phenomena, responding to
phenomena, valuing, organization, dan internalizing
values. Sedangkan untuk aspek psikomotor meliputi
reflex movements, fundamental movements,
perception, physical abilities, skilled movements, dan
no discursive communication.
Banyakguru telah berupaya menemukan model
pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Sejumlah
penelitian dilakukan dan berbagai strategi
pembelajaran diusulkan untuk menjawab pertanyaan
"bagaimana membelajarkan lebih efektif". Proses ini
dimulai dengan pendekatan behaviorisme,
dilanjutkan kognitivisme, dan berakhir dengan
pendekatan konstruktivisme. Konstruktivisme
mendapat perhatian karena beberapa alasan, seperti
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa
dan siswa aktif berpartisipasi (Frank, Lavy, & Elata,
2003; Richardson, 2003).
Dengan implementasi konstruktivistis,siswa
memiliki kesempatan untuk belajar dengan
melakukan, meningkatkan keterampilan kritis
mereka, dan terciptanya kondisi peran aktif siswa
dalam belajar. Model pembelajaran berbasis proyek
adalah salah satu metode yang didasarkan pada
konstruktivisme yang mendukung keterlibatan siswa
dalam situasi pemecahan masalah (Doppelt, 2003).
Siswa dalam pembelajaran berbasis proyek terlibat
langsung di lingkungan kehidupan nyata dalam
memecahkan masalah, sehingga pengetahuan yang
diperoleh lebih permanen. Hal ini sekaligus dapat
menjadikan jawaban atas kekhawatiran akan
kemampuan lulusan siswa, khususnya siswa SMK.
Menanggapi kekhawatiran para pemimpin
industri dan profesional teknik bahwa lulusan tidak
memiliki kemampuan untuk mensintesis dan
menerapkan pengetahuan mereka untuk masalah
dunia nyata, guru harus menerapkan model
pembelajaran berbasis proyek.Ini merupakan
perkembangan yang positif mengingat pada
pendidikan teknik yang menonjol adalah
keterampilan mekanis, meskipun penting juga untuk
menyadari bahwa globalisasi dan teknologi telah
mengakibatkan tuntutan baru pada jenis keterampilan
kerja yang diperlukan.
Secara khusus, ada kebutuhan meningkat untuk
lulusan untuk secara holistik menerapkan
keterampilan mereka dalam lingkungan kerja yang
berorientasi proyek (Traylor,2003; Moore,2003).
Untuk memastikan bahwa praktik pembelajaran
berbasis proyek masih tetap diperlukan saat ini,
atribut -atributnya perlu disertakan sebagai suatu
bagian kegiatan yang tidak terpisahkan.
Selain itu juga perlu mempertimbangkan akan
pentingnya soft skill. Sedangkan kemampuan
komunikasi sebelumnya dipandang tidak begitu
penting, padahal sebagian besar profesional dan
pemberi kerja sekarang menganggap kemampuan
komunikasi menjadi penting selain kemampuan
bekerjasama yang merupakan bagian dari kerja tim.
Penyelenggara pendidikan teknik menyadari perlunya
keterampilan komunikasi yang kuat, tetapi banyak
yang enggan untuk memasukkan keterampilan ini.
Hal ini disebabkan karena sebagian guru hanya
menganggap menjadi beban kerja tambahan saja dan
prospek untuk konten teknis berkurang (Yelvac,
2007).
Untuk membantu mengembangkan softskill,
diantaranya siswa perlu diberikan keterampilan
memecahkan masalah, keterampilan teknis, dan
keterampilan kognitif, maka metode pembelajaran
berpusat pada siswa seperti pembelajaran berbasis
proyek (project based learning-PBL) adalah tepat.
Implikasinya perlu adanya perubahan secara
menyeluruh berkaitan pelaksanaan administrasi top-
down dan perubahan administrasi secara ekstensif
untuk mengakomodasi modifikasi struktur
kurikulum. Implementasi sepenuhnya sering tidak
layak dan pendekatan metode pedagogis ini tetap
dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan
siswa.
Sebelum mengadopsi model pembelajaran
berbasis proyek, ada dua elemen kunci yang
perludipertimbangkan, yaitu bahwa metode ini
memerlukan implementasi pembelajaran berpusat
pada siswa yangdirancangdengan benar dan
disesuaikan untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan. Pertimbangan kedua adalah pertanyaan
tentang bagaimana struktur dan
mengimplementasikan kegiatan untuk menjamin
motivasi yang tepat. Hal ini penting karena
pembelajaran yang berpusat pada proyek adalah
menemukan konsep, sehingga harus menarik
agartingkat kenyamanan lebih tinggi daripada model
pembelajaran tradisional.
Pembelajaran berbasis proyekadalah salah satu
model atau pendekatan pembelajaran yang
menekankan pada peningkatan kemampuan analytical
and critical thinking siswa.explorative, team work
and communication skills menjadi landasan untuk
berkembangnya kedua skill tersebut. Skill tersebut
juga menjadi landasan siswa sebagai long live
learners. Dalam model pembelajaran ini,
sekelompok siswa diminta untuk mengerjakan suatu
proyek dengan keluaran yang jelas. Guru bertindak
sebagai supervisor atau fasilitator, memberikan feed
back secara bertahap, menilai proses dengan kisi-kisi
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

45

penilaian terkait dengan menumbuhkan skills
tersebut.
Selain pemilihan model pembelajaran yang tepat,
karakteristik dari mata pelajaran yang berbeda juga
memberikan pengaruh dalam keberhasilan
belajar.Dengan mencermati karakteristik tipe mata
pelajaran yang dibelajarkan, maka seorang guru dapat
memilih model pembelajaran yang dapat membantu
siswa dalam mengembangkan strategi belajarnya
dalam mencapai hasil belajar yang optimal.
Mata pelajaran kejuruan PML pada Komli TITL
dengan 200 jam pelajaran terdiri dari lima kompetensi
dasar, yaitu: (1) memahami cara perbaikan motor
listrik; (2) membongkar kumparan motor; (3) melilit
kumparan motor; (4) memeriksa hasil lilitan kembali;
dan (5) melakukan uji fungsi motor hasil lilitan
ulang. Dari karakteristik standar kompetensi kejuruan
ini, dapat dijelaskan bahwa siswa diharapkan dapat
memiliki kemampuan hasil belajar antara lain: (1)
untuk dimensi proses kognitif (pengetahuan
prosedural) berada pada dua kategori yaitu mengerti
dan (memakai); (2) dimensi afektif; (3) dimensi
psikomotorik; dan (4) produk yang dihasilkan sesuai
standar hasil produk yang dihasilkan industri atau
usaha jasa perbaikan dinamo. Tampak bahwa dalam
pembelajarannya bukan saja dapat menggunakan
aktivitas mental dalam mengerjakan tugas-tugas
belajar, tetapi juga keaktifan fisik dan sikap dalam
mengerjakan tugas-tugas belajar.
Meskipun ada beberapa hasil penelitian tentang
hasil belajar, tetapi belum banyak hasil kajian empirik
tentang penerapan model pembelajaran berbasis
proyekterhadap hasil belajar (kinerja keterampilan
teknis, kinerja keterampilan proses atau kemampuan
memecahkan masalah, dan kinerja keterampilan
kognitif) khususnya SMK di Indonesia, yang juga
belum banyak menerapkan model pembelajaran
berbasis proyek.
Dari hasil survey bulan Agustus sampai
desember 2012 pada tiga SMK Negeri di Surabaya,
pelaksanaan pembelajaran perbaikan motor listrik
pada kelas XII. Temuan lain adalah: (1) penilaian
hasil belajar hanya berkaitan pada produk akhir dan
belum didasarkan pada standar hasil produk; (2)
strategi pembelajaran masih konvensional atau
berpusat pada guru sehingga siswa terpola melakukan
aktivitas belajar dengan cara mendengar, memandang
papan tulis disertai mencatat berdasarkan materi di
buku teks yang dipakai guru, dalam hal ini guru
merupakan sumber informasi vital, cenderung
menggunakan metode ceramah dan sesuai urutan. Hal
ini juga sesuai dengan pendapat Meier (2002), yang
menyatakan bahwa strategi pembelajaran tradisional
cenderung bersifat kaku, serius, mementingkan
materi, dikontrol oleh guru dan bersifat behavioristis;
(3) siswa banyak bersikap pasif dan melakukan tugas
sesuai petunjuk kerja pada job sheet; (4) tugas yang
diberikan kepada siswa banyak dikontrol oleh guru,
baik tugas perorangan maupun kelompok, teori
maupun praktik. Dampaknya, hasil belajar siswa
mulai tahun akademik 2007/2008 s.d 2009/2010
yang dicapai siswa secara umum belum optimal
hasilnya (rata-rata 6,5 sebelum dilakukan kegiatan
remidi).
Mengingat kebebasan merupakan unsur esensial
dalam lingkungan belajar, maka perlu disediakan
berbagai pilihan tugas untuk siswa disediakan pilihan
cara untuk memperhatikan keberhasilan, disediakan
waktu untuk memikirkan dan mengerjakan tugas;
jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah
ditetapkan waktunya, disediakan kesempatan untuk
berfikir ulang; dan dilibatkan pengalaman-
pengalaman konkret siswa (Degeng, 2007).
Berdasarkan beberapa uraian di atas, peneliti
akan melakukan penelitian dengan judul:
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Untuk
Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Berorientasi
Standar Kompetensi Nasional (SKNI) dan Standar
Industri Bidang Perbaikan Motor Listrik (PML) .
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah mendeskribsikan apakah
perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat
diimplementasikan.Sedangkan urgensi(keutamaan)
penelitian ini adalah menghasilkan perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang dapat
digunakan mengoptimalkan hasil belajar siswa ranah
keterampilan kognitif, afektif, dan keterampilan
pemecahan masalah, dan keterampilan psikomotorik;
dapat menjadi acuan bagi guru PML dalam
menerapkembangkan pembelajaran dengan MPBP;
sebagai masukan kepada Kepala SMK untuk
mendorong guru menerapkan pembelajaran dengan
MPBP dan melengkapi alat dan bahan dengan
berorientasi pada DI/DU; serta dapat menjadi acuan
bagi Direktorat PSMK Kemendiknas, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi dan
Kabupaten/Kota dalam penataan, pengembangan dan
pembangunan pendidikan di SMK.Adapun temuan
atau inovasi yang ditargetkan adalah menghasilkan
perangkat pembelajaran PML dengan MPBP yang
implementatif bagi SMK. Selain itu hasil penelitian
ini dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan
model pembelajaran berbasis proyek, khususnya pada
mata pelajaran kejuruan perbaikan motor listrik dan
mata pelajaran lain yang karakteristinya menyerupai.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan sebuah
model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif,
menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-
kegiatan kompleks (Cord, 2001; Thomas,
Mergendoller, & Michaelson, 1999; Moss, Van-
Duzer, Carol, 1998).Pembelajaran berbasis proyek
dapat didefinisikan secara singkat sebagai "model
pembelajaran yang mengorganisasikan proyek"
(Thomas, 2000,hal. 1).Meskipun menugaskan proyek-
proyek untuk siswa di kelas tradisional bukanlah
fenomena baru, pembelajaran berbasis proyek sangat
berbeda dari aplikasi biasa. Thomas memasukkan
lima besar kriteria metode pembelajaran untuk
disebut pembelajaran berbasis proyek, yaitu: (1)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

46

pembelajaran berbasis proyek merupakan inti bukan
bagian muka kurikulum; (2) pembelajaran berbasis
proyek difokuskan pada pertanyaan atau masalah
yang mendorong siswa untuk menemukan konsep-
konsep utama dan prinsip-prinsip secara disiplin; (3)
melibatkan siswa dalam penyelidikan proyek
konstruktif; (4) proyek mendorong siswa sampai
tingkat tertentu yang signifikan; dan (5) proyek
realistis, tidak seperti sekolah.Peran instruktur dalam
implementasi pembelajaran berbasis proyek
didefinisikan oleh Frank, Lavy, dan Elata (2003)
seperti ketika "... belajar siswa pasif diubah dengan
motivasi mendorong, membimbing, menyediakan
menye-diakan sumber daya, dan membantu
siswauntuk membangun pengetahuan mereka sendiri
".
Pembelajaran berbasis proyek siswa belajar
lebihbaikdan mereka lebih aktif bertindak dalam
pembelajaran. Di sisi lain, instruktur bekerja di
belakang siswa yang mengerjakan proyek-proyek
mereka. Hal ini ternyata peserta menjadikan siswa
aktif menyelesaikan masalah dalam proyek,bukan
penerimapasifpengetahuan.SelanjutnyaThomas(2000)
mendefinisikan isu tentang dampak positif
daripembelajaran berbasis proyekbagi siswa sebagai
pengembangan sikap positif terhadap proses belajar
mereka, rutinitas pekerjaan, kemampuan pemecahan
masalah, dan harga diri. Demikian pulaPanitz (2000)
mencatat bahwa siswa menyelesaikan proyek mereka,
mereka melakukan refleksi individu proses
berdasarkan pengalaman mereka dalam
pembelajaranberbasisproyek . Selain itu, siswa
menyadari kesamaan antara apa yang mereka pelajari
dan apa yang terjadi di luar gedung sekolah.
Meskipun siswa mengalami kendala pada tahap
awal pelaksanaanpembelajaran berbasis proyek
diprogram studi mereka, sebagian besar siswa merasa
lebih termotivasi selama dalam pembelajaran berbasis
proyek.Karena pembelajaran berbasis proyek
memberi kesempatan pada siswa untuk
mengimplementasikan kebebasan mereka dalam
lingkungan belajar ,mereka menghentikan kebiasaan
menunggu langkah-demi-langkah pembelajaran
berbasis perintah (Lenschow, 1998).
Lebih lanjut Lenschow(1998) menyarankan
menerapkan pendekatan trial-and-error sebelum
pindah untuk sebuah pembelajaran berbasis proyek
proyek skala besar. Sebuah pembelajaran berbasis
proyek skala kecil terdiri atas lima sampai lima belas
siswa akan menjadi upaya untuk melihat efek
kepuasan pada siswa dan isu-isu terkait dengan
pelaksanaannya. Pada skala kecil akan membantu
guru menyadari tantangan pembelajaran berbasis
proyek. Misalnya, Frank dan Barzilai (2003)
memberikan daftar panjang kemungkinan kendala
menggunakan pembelajaran berbasis proyek, yaitu:
Teachers content knowledge, students lack of
experience in this new approach and their preference
for traditional-structured approach; their preference
for learning environment which require less effort on
their part;and problems arising from time stress.
Students struggling with ambiguity, complexity, and
unpredictability and are liable to sense frustration in
an environment of uncertainty, where they have no
notion of how to begin or in which manner to
proceed. (p. 43).
Sedangkan Heckendorn(2002) menjelaskan
bahwa dalam model pembelajaran berbasis proyek
memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan
masalah yang kompleks sesuai dalam lingkungan
kehidupan nyata. Selain itu pembelajaran berbasis
proyek memfokuskan perhatian, baik pada produk
akhir maupun pengalaman selama proses. Karena
penekanannya pada proyek, pilihan perhatian
utamanya pada instruktur. Proyek memiliki
tanggungjawab melatih siswa dan membawanya ke
dalam kehidupan nyata dan membaginya ke dalam
langkah-langkah spesifik dan lebihkecil
lagi(Solomon,2003). Untuk itu, Ozdener dan zoban
(2004) menekankan bahwaproyekdapat diterapkandi
tingkat pribadi atau kelompok, siswa menggunakan
pemikiran dan keterampilan kreativitasnya dalam
memecahkan masalah.
Lenschow (1998) mengusulkan, proyek adalah
sedekat mungkin dengan realitas, untuk menutupi
kesenjangan antara lingkungan kehidupan nyata dan
sekolah, Selain itu Heckendorn (2002) menegaskan
bahwa bataswaktu harusditekankan dalam
pembelajaran berbasis proyek seperti lingkungan
dalam dalam situasi kehidupan nyata. Selain itu,
teori dan aplikasinya harus diatur dengan jelelas
sesuai tingkat kompetensi siswa. Selain itu, lama
waktu proyek harus disesuaikan sehingga
siswadapat berkonsentrasi pada bagian-bagian
proyek.

Karakteristik pembelajaran berbasis proyek
Fokus pembelajaran berbasis proyek adalah pada
konsep-konsep, prinsip-prinsip inti dari suatu disipli
nstudi, membutuhkan tugas-tugas kompleks,
berdasarkan pertanyaanatau masalah menantang,
melibatkan siswa dalam desain, pemecahan masalah,
pengambilan keputusan, atau kegiatan investigasi,
memberikan kesempatan siswa untuk bekerja secara
mandiri dengan periode waktu relatif lebih lama , dan
berakhir pada produk yang realistis, refleksi atau
presentasi (Thomas, 2000). Karakteristik model atau
pendekatan pembelajaran berbasis proyek berbeda
dengan model pembelajaran yang telah banyak
dikembangkan dan dilakukan guru dalam
pembelajaran, yaitu dengan metode pelatihan.Pada
pembelajaran tradisional, guru memberikan
penjelasan teori singkat, selanjutnya siswa melakukan
tugas sesuai dengan job sheet didampingi guru, dan
pada akhir pembelajaran pembelajar menilai hasil
pekerjaan siswa.Prosedur lebih menekankan aspek
keterampilan motorik semata tanpa memperhatikan
kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan
kognitif siswa.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

47

Pada pembelajaran berbasis proyek, fokus pada
pengembangan produk atau unjuk kerja.Siswa
umumnya bekerja secara kolaboratif dalam kelompok
kecil. Mereka menemukan sumber-sumber,
melakukan penelitian, dan satu sama lain bertanggung
jawab ataspembelajaran dan penyelesaian tugas. Guru
berperan membantu siswa dengan memberikan
bimbingan yang cukup dan umpan balik. guru harus
lebih teliti menjelaskan semua tugas-tugas yang harus
diselesaikan, memberikan petunjuk
rinciuntukbagaimana mengembangkan proyek, dan
keliling di dalam kelas untuk menjawab pertanyaan
danmendorongmotivasisiswa. Untuk sukses dalam
menciptakan pembelajaran berbasis proyek, guru
harus merencanakan dengan baik dan fleksibel. Pada
pendekatan ini, peranguru sering menampakkan diri
mereka dalam kelompok siswa. Guru dapat menilai
hasis pembelajaran berbasis proyek dengan
kombinasi tes objektif, daftar, dan rubrik, namun, ini
sering dilakukan hanya mengukur tugas selesai.
Dimasukkannya reflektif memberi peluang siswa
melakukan evaluasi diri.
Menurut Andi Stix and Frank Hrbek (2006),
secara umum pembelajaran berbasis proyek dilakukan
melalui sembilan tahapan (tentu saja guru harus
dapat memodifikasi sesuai dengan tugas yang harus
dipenuhi siswa), yaitu:(1)guru melakukan seting
untuk siswa agar proyek yang dikerjakan otentik atau
sesuai dengan kondisi nyata dalam kehidupan. Guru
membawa siswa ke dalam kehidupan nyata tentang
proyek yang akan mereka lakukan; (2) siswa
mengambil peran mendesain proyek, jika
memungkinkan perlu membentuk forum untuk
menampilkan atau kompetisi; (3) siswamembahas
dan mengumpulkan informasi latarbelakangyang
diperlukan untuk desain mereka; (4) guru dan siswa
melakukan negoisasi kriteria untuk mengevaluasi
proyek; (5) siswa mengumpulkan bahan yang
diperlukan untuk proyek yang dikerjakan; (6) siswa
membuat proyek mereka; (7) siswa mempersiapkan
diri untuk mengerjakan proyek mereka; (8) siswa
mempresentasikan proyek mereka; dan (9). siswa
merefleksikan proses dan mengevaluasi proyek
berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada langkah
(4). Tabel 1 menunjukkan contoh prosedur dan
strategi pembelajaran berbasis proyek hasil
pengembangan dari Seungyeon Han and Kakali
Bhattacharya, 2012.

Tabel 1. Prosedur dan Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek
Konteks Prosedur dan Strategi Perspective Siswa Perspective Guru
Planing
1. Merancang kondis
isecara
menyeluruh
Penciptaan lingkungan yang
mendorong penyelidikan
Penciptaan keterkaitan
dengan dunia nyata
Berikan waktu yang cukup untuk
mengerjakan proyek
Memberikan masukan untuk pertanyaan
penciptaan, pendekatan dan artefak
Memahami isi proyek untuk
membantu siswa Penciptaan
suasana terbuka
Memfasilitasi pembelajaran
2. Penyelidikan
Pemilihan topik
Penemuan sumber
Pengorganisasian kolaborasi
Mengajukan dan
menyempurnakan pertanyaan
Merumuskan tujuan
Rencana prosedur
Debat ide
Menyertakan metode "Jigsaw"
Memberikan pengetahuan
awal sebelum proyek
dimulai
Menyediakan serangkaian
struktur tahapan tindakan
penyelidikan bagi siswa
Creating
1. Analisis data
Pembuatan prediksi
Desain rencana dan
pelaksanaan percobaan
Pengumpulan dan analisis
data
Panduan untuk menganalisis data
Menyertakan model bantuan teknis

2. Bekerja
sama dengan
yang lain
Pengkomunikasian Memiliki kemampuan yang dibutuhkan
untuk kolaborasi dan pengetahuan
mengeksplorasi pertanyaanyang muncul
Tekankan individu
dan proses belajar kelompok
Menyediakan norma
akuntabilitas individu
3. Mengembangkanp
emikiran & pen
dokumentasian
Pembuatan artefak
Pemvisualisasian dan
pembangunan ide-ide
Mengajukan pertanyaan baru
Menarik kesimpulan
Desain kegiatan
Menyediakan sumber-
sumber
Berikan saran untuk
siswa demi kemajuan proye
k-proyek mereka
Proses
1. Menyajikan peng
etahuan dan
artefak
Memantau apa yang diketahui Mendemonstrasikan secara lengkap
serangkaian kompetensi
Memadukan
kesempatan presentasidenga
n melibatkan pihak luar
Perlu performance kriteria
lebih dari satu
(misalnya kolaborasi, penjel
asan, demonstrasi, laporan
diri)
2. Refleksi & tindak
lanjut
Penilaian
Evaluasi teman sejawat
Memahami metode evaluasi guru
Menyepakati norma penilaian awal
Menciptakan
budaya kelas yang sering
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

48

Konteks Prosedur dan Strategi Perspective Siswa Perspective Guru
Evaluasi diri
Penilaian portofolio
yang telah dibuat
Merefleksikan pembelajarannya
sendiri
Berbagi dan memperoleh berbagai
perspektif
mendukung umpan
balik dan asesmen
Menemukan cara bagi
siswa untuk
membandingkan pekerjaan
mereka dengan yang lain
Sumber:Dikembangkan dari Seungyeon Han and Kakali Bhattacharya, 2012

Hasil belajar
Suatu perubahan tingkah laku terjadi akibat
proses belajar, dan perubahan tingkah laku sebagai
hasil belajar memiliki 3 (tiga) domain: kognitif,
afektif dan psikomotor (Anderson, 2001). Sedangkan
menurut Mclean, R. (2008), menyimpulkan bahwa
pengembangan kecakapan kerja harus melalui
pengembangan program ketenagakerjaan, tidak hanya
keahlian ketenagakerjaan secara spesifik, tetapi
kecakapan kerja secara umum mencakup keahlian
motorik, sosial, dan intelektual. Kecakapan kerja
tersebut merupakan keahlian atau kompetensi
seseorang dalam ketenagakerjaan yang diperoleh
melalui proses pembelajaran di lembaga pendidikan
dan latihan. Dua hal di atas menunjukkan bahwa
hasil belajar untuk SMK khususnya meliputi tiga
domain, yaitu domain kognitif, afektif dan
psikomotor.
Dimensi proses kognitif atau aspek belajar
difokuskan pada dua kategori, yaitu mengerti dan
memakai. Kategori mengerti (understand), kategori
pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk
menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah
diketahui dengan kata-kata sendiri atau komunikasi
lisan dan kategori memakai (apply), penerapan
merupakan kemampuan untuk menggunakan atau
menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam
situasi yang baru serta memecahkan masalah sehari-
hari. Dimensi pengetahuan (knowledge dimension)
meliputi pengetahuan fakta (knowledge factual),
pengetahuan konsep (conceptual knowledge),
pengetahuan prosedur (procedural knowledge),
pengetahuan prosedur (procedural knowledge), dan
pengetahuan metakognisi. Secara ringkas,
pengetahuan diuraikan secara berturut-turut sebagai
berikut: (1) pengetahuan fakta sebagai pengetahuan
seseorang tentang elemen-elemen dasar suatu topik;
(2) pengetahuan konsep (conceptual knowledge),
yaitu pengetahuan seseorang tentang saling-
keterkaitan diantara elemen-elemen dasar; (3)
pengetahuan prosedur (procedural knowledge) adalah
pengetahuan tentang how to do something (bagaimana
cara melakukan sesuatu); dan (4) pengetahuan
metakognisi (metacognitive knowledge) merupakan
pengetahuan seseorang tentang kognisi secara umum
maupun kesadaran tentang proses-proses kognitif
sendiri.
Gagne & Briggs (1979), menjelaskan bahwa
lima kategori kapabilitas hasil belajar yang bisa
diukur pada diri siswa, yaitu: (1) keterampilan
intelektual (intelectual skills); (2) strategi kognitif
(cognitive strategy); (3) informasi verbal (verbal
information); (4) keterampilan motorik (motor skills);
dan (5) sikap (attitudes). Salah satu titik perhatian
dari kelima kategori tersebut adalah keterampilan
intelektual. Menurut Degeng (1989) bahwa si
pebelajar akan menggunakan suatu keterampilan
intelektual apabila beriteraksi dengan lingkungan.
Dua bentuk simbul, bahasa dan angka dapat
digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti
membedakan, mengkalsifikasikan, menjumlah, dan
mengenal fungsi motor listrik dan bagian utama.
Perubahan kemampuan dapat dilihat dari perubahan
perilaku seseorang yang berupa peningkatan
kapabilitas (kemampuan tertentu) pada berbagai jenis
kinerja, sikap, minat atau nilai.Jenkins & Unwin
(1996) menegaskan bahwa siswa mampu
mengerjakan sesuatu sebagai hasil belajar akibat
kapabilitasnya.
Domain afektif menurut (Krathwohl, Bloom,
Masia, 1973), mencakup cara bagaimana
menangani hal-hal emosional, seperti perasaan, nilai-
nilai, apresiasi, antusiasme, motivasi, dan
sikap.Lima kategori utama dari perilaku
sederhana sampai yang paling rumit adalah:(1)
receiving phenomena,kesadaran, kesediaan untuk
mendengar dan memperhatikan dengan baik; (2)
responding to phenomena, partisipasi aktif dari
siswa, hadir memberikan reaksi terhadap fenomena
tertentu. Hasil pembelajaran menekankan kepatuhan
dalam memberikan tanggapan, kemauan untuk
merespon, atau kepuasandalam
menanggapi (motivasi); (3) valuing, nilai layak yang
melekat pada seseorang pada objek tertentu,
fenomena atau perilaku menghargai didasarkan pada
internalisasi dari serangkaian nilai-nilai tertentu,
indikator nilai-nilai dinyatakan dalam perilaku
keterbukaan siswa yang teridentifikasi; (4)
organization, mengorganisasikan prioritas nilai-
nilai yang bertentangan dan berbeda,menyelesaikan
konflik diantara mereka, dan menciptakansebuah
sistem nilai yang unik. Penekanannya pada
membandingkan,mengkaitkan dan mensintesisnilai-
nilai. misalnya, mengakui perlunya keseimbangan
antara kebebasan dan perilaku yang bertanggung
jawab, menerimatanggungjawab atas apa yang
diperbuat, menjelaskanperan perencanaan sistematis
dalam memecahkanmasalah, menerima standar etika
profesional, membuatrencana hidup selaras dengan
kemampuan, minat, dan keyakinan, memprioritaskan
waktu secara efektif untuk memenuhi kebutuhan
organisasi,keluarga dan diri sendiri; dan (5)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

49

internalizing values(karakterisasi), apakah sistem
nilai mengendalikan perilaku mereka. Perilaku ini
mendalam, konsisten, dapat diprediksi, dan yang
paling penting karakteristik dari peserta didik.
Sedangkan domain psikomotor, meliputi gerakan
fisik, koordinasi, dan penggunaan keterampilan
bidang motorik. Pengembangan keterampilan ini
memerlukan latihan dan diukur dalam hal kecepatan,
ketepatan, jarak, prosedur, atau teknik dalam
pelaksanaan. Kategori utamadari perilaku mulai dari
yang sederhana sampai yang paling rumit adalah: (1)
perception, kemampuan untuk menggunakan isyarat-
isyarat sensoris dalam memandu aktivitas motorik.
Hal ini berkisar dari rangsangan indra, melalui
pemilihan isyarat, menterjemahkan; (2) set, kesiapan
untuk bertindak, meliputi mental, fisik, dan
emosional. Ketiga set tersebut adalah disposisi respon
seseorang untuk situasi yang berbeda yang ditetapkan
sebelumnya (disebut juga pola pikir); (3) guided
response, tahap awal dalam mempelajari
keterampilan yang kompleks yang mencakup imitasi
dan trial and error. Kecukupan kinerja dicapai
dengan berlatih; (4) mechanism, merupakan tahap
peralihan dalam belajar keterampilan yang kompleks.
Siswa terbiasa memberikan respon dan gerakan-
gerakan yang dilakukan dengan kemampuan dan
keyakinan; (5) complex overt response, kinerja
terampil sebagai penggerak tindakan yang melibatkan
pola gerakan kompleks. Kemahiran ditunjukkan
dengan kinerja cepat, akurat, dan sangat
terkoordinasi, serta membutuhkan energi minimal.
Kategori ini termasuk melakukan kerja tanpa ragu-
ragu dan otomatis; (6) adaptation, keterampilan yang
dikembangkan dengan baik dan individu dapat
memodifikasi pola pergerakan sesuai persyaratan
khusus ; dan (7) origination, membuat pola gerakan
baru agar sesuai dengan situasi tertentu atau masalah
khusus.
Berdasarkan beberapa uraian dan penjelasan serta
hasil penelitian di atas, dapat dikatakan hasil belajar
merupakan suatu perolehan yang dimiliki siswa
setelah melalui proses pembelajaran dimensi: (1)
proses kognitif, meliputi mengerti, memakai dan
pengetahuan prosedur (keterampilan intelektual); (2)
afektif, meliputi: (a) receiving phenomena,
kesadaran, kesediaan untuk mendengar dan
memperhatikan dengan baik; (b) responding to
phenomena, berpartisipasi dalam diskusi kelas,
melakukan presentasi, mengetahui aturan dan praktik-
praktik keselamatan kerja;(c)valuing, menunjuk-kan
kemampuan untuk mengatasi masalah, mengusul-kan
rencana untuk perbaikan sosial dan menjalankannya
dengan komitmen; dan (d) organization,mengakui
perlunya keseimbangan antara kebebasan dan
perilaku yang bertanggung jawab, menerima
tanggungjawab atas apa yang diperbuat, menjelaskan
peran perencanaansistematis dalam memecahkan
masalah, menerima standar etika profesional,
membuat rencana hidup selaras dengan kemampuan,
minat, dan keyakinan, memprioritaskan waktu secara
efektif ; dan (e) internalizing values, hasil
pembelajaran menekankan apakah sistem nilai
mengendalikan perilaku mereka, misalnya
menampilkan kemandirian ketika bekerja secara
mandiri, bekerja sama dalam kegiatan kelompok ,
menggunakan pendekatanobjektif dalam pemecahan
masalah, menampilkan komitmen profesional untuk
praktik etika setiap hari, memperbaiki nilai dan
perubahan perilaku ditunjukkan dengan bukti-bukti
baru; (3) psikomotorik, berkaitan dengan hasil belajar
keterampilan memasang dan membongkar lilitan,
memerlukan latihan dan diukur dalam hal kecepatan,
ketepatan, jarak, prosedur, atau teknik dalam
pelaksanaan.

II. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian Riset and
development (R&D). Riset & Development (R & D).
Langkah penelitian yang dilakukan pada penelitian ini
adalah mengadopsi langkah-langkah penelitian
menurut Sugiono (2011). Dari 10 langkah, hanya
diadopsi sampai 6 langkah, yaitu: (1) Potensi dan
masalah.Berupa kesenjangan antara hasil belajar PML
di SMK dengan SKNI dan standar industri; (2)
pengumpulan data.Dilakukan dengan analisis
penyebab kesenjangan, meliputi: (a) analisis jurnal
hasil pembelajaran dengan MPBP, dilanjutkan survey
ke SMK (survey pembelajaran dan analisis hasil
pembelajaran di SMK); (b) analisis SNKI PPML; dan
(c) survey dan analisis standar kompetensi atau
keahlian PML di industri; (3) Desain
produk.Diwujudkan dalam bentuk: (a) pengembangan
perangkat pembelajaran dengan MPBP,(b) pengadaan
alat dan bahan pembelajaran, dan pengembangan
perangkatpembelajaran bagi guru dan siswa; (4)
Validasi desain.Dilakukan oleh dosen ahli desain
perangkat pembelajaran, evaluasi pembelajaran,
MPBP, dan media pembelajaran serta guru SMK dan
pihak dari DI/DU.; (5) Revisi desain.Hasil validasi
dilakukan untuk perbaikan perangkat pembelajaran,
kuantitas dan kualitas alat dan bahan pembelajaran,
dan panduan kegiatan pembelajaran bagi guru dan
siswa; dan (6) Revisi produk.Dilakukan setelah hasil
penelitian dianalisis dan dilakukan Focus Group
Discussion (FGD) melibatkan pakar pendidikan, guru
SMK, dan pihak dinas pendidikan dan kebudayaan.
Berdasarkan hasil FGD dilakukan perbaikan atau
revisi perangkat pembelajaran, alat dan bahan
pembelajaran.
Luaran kegiatan penelitian adalah perangkat
pembelajaran PML dengan MPBP yang sudah
diperbaiki dan siap diuji cobakanatau digunakan.
Lokasi penelitian ini adalah SMK Negeri 2 dan
SMK Negeri 7 Surabaya Program Keahlian (Progli)
Teknik Ketenagalistrikan pada Kompetensi Keahlian
(Komli) Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL).
Waktu penelitian Mei-Juni 2013.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
untuk guru terdiri dariSilabus, Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP),Bahan Ajar, Lembar Kegiatan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

50

Siswa (LKS)dilengkapiKunci LKS, dan Perangkat
Penilaian, sedangkan perangkat pembelajaran bagi
siswa adalah bahan ajar dan LKS.
Sedangkan indikator perangkat pembelajaran
bagi guru dan siswadikatakan berkualitas, jika hasil
validasi ahli minimal valid (rata-rataminimal 75) atau
kategori baik dan sangat baik.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil penelitian
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
bagi guru terdiri dari RPP, bahan ajar, LKS beserta
kuncinya, dan perangkat penilaian, sedangkan
perangkat belajar bagi siswa terdiri dari bahan ajar
dan LKS.
Setelah perangkat atau panduan pembelajaran
bagi guru dan siswa selesai dikembangkan,
selanjutnya dilakukan validasi. Pelaksanaan validasi
pada 1 dosen ahli PML, 1 dosen ahli ahli teknologi
pembelajaran, dan 6 guru ahli isi materi PML.
Aspek yang divalidasi pada rencana
pelaksanaan pembelajaran, meliputi: (1) tujuan
pembelajaran, (2) kegiatan pembelajaran, dan (3)
kemutakhiran. Ringkasan hasil validasi RPP
ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Ringkasan Hasil Validasi Rpp
No Aspek
Hasil Validasi
1 2 3 4 5
1 Tujuan pembelajaran 0 0 0 2 6
2 Kegiatan pembelajaran 0 0 0 3 5
3 Kemutakhiran 0 0 0 1 7
Jumlah 0 0 0 6 18
Rata-rata 0 0 0 2 6
Persentase 0 0 0 25 75
Keterangan: 1 Sangat tidak valid; 2 Tidak valid, 3 cukup valid, 4
valid, dan 5 sangat valid
Berdasarkan Tabel 2, tampak bahwa 75%
validator menyatakan sangat valid dan sisanya 25%
validator menyatakan valid, sehingga RPP yang
dikembangkan dapat dinyatakan valid atau layak
digunakan pada pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyek.
Sedangkan hasil validasi dan aspek yang
divalidasi pada bahan ajar ditunjukkan Tabel 3
berikut ini.
Tabel 3. Ringkasan Hasil Validasi Bahan Ajar
No Uraian Ada
Skala Penilaian
1 2 3 4 5
1. Kesesuaian antara judul bab
dengan pengembangan materi
bahan ajar.
v 0 0 0 2 6
2. Kejelasan kerangka isi.sruktur
materi.
v 0 0 0 2 6
3. Kesesuaian antara kompetensi
dasar dengan indikator hasil
belajar.
v 0 0 0 2 6
4. Kejelasan kata kunci di setiap bab. v 0 0 0 2 6
5. Kesesuaian antara indikator hasil
belajar dan struktur materi.
v 0 0 0 2 6
6. Kejelasan uraian materi. v 0 0 0 1 7
7. Kebenaran fakta dan konsep dalam
pengembangan materi.
v 0 0 0 2 6
8. Kejelasan contoh-contoh atau
lembar kerja yang diberikan.
v 0 0 0 3 5
9. Kesesuaian antara materi dengan
tugas/latihan/lembar kerja.
v 0 0 0 1 7
10. Kejelasan tugas/latihan soal-
soal/lembar kerja.
v 0 0 0 2 6
11. Kesesuaian antara tugas//lembar
kerja dengan indikator hasil
belajar.
v 0 0 0 2 6
12. Daftar pustaka relevan dengan
materi yang disajikan.
v 0 0 0 3 5
Jumlah 12 0 0 0 24 72
Rata-Rata 1 0 0 0 2 6
Persentase 100 0 0 0 25 75
Tampak bahwa hasil validasi terhadap bahan
ajar juga pada kategori sangat valid dan valid. Dari 12
aspek yang dinilai menunjukkan bahwa 6 (75%)
validator menyatakan valid, dan sisanya 2 (25%)
validator menyatakan valid, sehingga bahan ajar yang
dikembangkan dapat atau layak digunakan.
Lembar kerja siswa yang telah dikembangkan
juga dilakukan validasi, khusus untuk guru dilengkapi
dengan kunci LKS.Aspek yang divalidasi dan hasil
validasi terhadap LKS ditunjukkan Tabel 4.Tampak
bahwa hasil validasi terhadap hasil LKS yang
dikembangkan pada kategori valid dan sangat valid,
sehingga LKS yang dikembangkan dapat atau layak
digunakan.

Tabel 4. Ringkasan Hasil Validasi LKS
No Uraian Ada
Skala Penilaian
1 2 3 4 5
1 Kesesuaian antara
kompetensi dasar dengan
indikator hasil belajar.
v 0 0 0 4 4
2 Kesesuaian antara
indikator hasil belajar
dengan kegiatan siswa.
v 0 0 0 3 5
3 Kejelasan petunjuk LKS. v 0 0 0 2 6
4 Kesesuaian dengan
materi pokok
pembelajaran.
v 0 0 0 2 6
5 Mencakup sebagian besar
konsep utama materi ajar.
v 0 0 0 2 6
6 Kesesuaian dengan sintak
model pembelajaran.
v 0 0 0 3 5
7 Kejelasan dan keruntutan
langkah-langkah LKS.
v 0 0 0 4 4
8 Kecukupan materi
pendukung dan sumber
belajar.
v 0 0 0 4 4
9 Kejelasan sumber belajar
yang ditunjukkan.
v 0 0 0
3 5
10 Kecukupan waktu untuk
setiap langkah/kerja
siswa.
v 0 0 0
3 5
Jumlah 10 0 0 0 30 50
Rata-rata 1 0 0 0 3 5
Persentase 100 0 0 0 37,5 63,5
Ringkasan hasil validasi lembar penilaian hasil
belajar siswa selama pembelajaran dengan model
pembelajaran berbasis proyekditunjukkan Tabel
5.Tampak bahwa hasil validasi terhadap bahan ajar
juga pada kategori sangat valid dan valid. Dari 12
aspek yang divalidasi, 2 (25%) validator menyatakan
valid, dan sisanya 6 (75%) validator menyatakan
valid, sehingga bahan ajar yang dikembangkan dapat
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

51

atau layak digunakan.Aspek yang divalidasi adalah
ranah materi, ranah materi, dan ranah bahasa.

Tabel 5. Ringkasan Hasil Validasi Perangkat Penilaian Hasil
Belajar Siswa
No.
Aspek yang
divalidasi
Kategori

1 2 3 4 5
1 Ranah materi 0 0 0 1 6
2 Ranah konstruksi 0 0 0 2 6
3 Ranah Bahasa 0 0 0 3 6
Jumlah 0 0 0 6 18
Rata-rata 0 0 0 2 6
Persentase 0 0 0 25 75
Tampak bahwa hasil validasi pada aspek
perangkat penilaian hasil belajar siswa juga pada
kategori valid dan sangat valid, sehingga perangkat
penilaian yang dikembangkan layak digunakan.
Pelaksanaan FGD untuk penyempurnaan
perangkat pembelajaran yang dikembangkan.
Pelaksanaan FGD dilakukan tanggal 28 Oktober 2013
dengan melibatkan 10 guru Teknik Instalasi tenaga
Listrik dan 2 Ketua Program Studi Teknik Instalasi
tenaga Listrik.
Masukan dan saran dari hasil FGD antara lain
adalah perlunya menambahkan materi terkait dengan
prinsip kerja motor listrik. Selain itu bahasa yang
digunakan pada bahan ajar tidak terlalu tinggi,
sehingga siswa dapat lebih cepat memahami materi
pembelajaran.
Peserta kegiatan FGD menyadari perlunya
menyusun perangkat dan sarana dan prasarana dalam
pembelajaran dan mengusulkan pentingnya
memaparkan saran bagi pimpinan sekolah untuk lebih
memfasilitasi guna membiasakan guru melaksanakan
pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis
proyek.
3.2 Pembahasan
Perangkat pembelajaran bagi guru terdiri dari
RPP, bahan ajar, LKS dilengkapi kunci LKS, dan
perangkat penilaian, sedangkan perangkat belajar bagi
siswa terdiri dari bahan ajar dan lembar kerja siswa
dilakukan validasi kepada 1 dosen ahli isi PML, 1
dosen ahli ahli teknologi pembelajaran, dan 6 guru
ahli isi materi PML.
Hasil validasi pada rencana pelaksanaan
pembelajaran, meliputi: (1) tujuan pembelajaran; (2)
kegiatan pembelajaran; dan (3) kemutakhiran.
Ringkasan hasil validasi RPP.Hasilnya 75% validator
menyatakan sangat valid dan sisanya 25% validator
menyatakan, sehingga RPP yang dikembangkan dapat
dinyatakan valid atau layak digunakan pada
pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis
proyek.
Sedangkan aspek yang divalidasi pada bahan
ajar, meliputi: (1) kesesuaian antara judul bab dengan
pengembangan materi bahan ajar; (2) kejelasan
kerangka isi/struktur materi; (3)kesesuaian antara
kompetensi dasar dengan indikator hasil belajar; (4)
kejelasan kata-kata kunci di setiap bab; (5) kesesuaian
antara indikator hasil belajar dan struktur materi; (6)
kejelasan uraian materi; (7) kebenaran fakta dan
konsep dalam pengembangan materi; (8) kejelasan
contoh-contoh atau lembar kerja yang diberikan; (9)
kesesuaian antara materi dengan tugas/latihan/lembar
kerja; (10) kejelasan tugas/latihan soal-soal/lembar
kerja; (11) kesesuaian antara tugas/latihan/lembar
kerja dengan indikator hasil belajar; dan (12) Daftar
Pustaka relevan dengan materi yang disajikan. Hasil
validasi terhadap bahan ajar juga pada kategori sangat
valid dan valid. Dari 12 aspek yang dinilai
menunjukkan bahwa 6 (75%) validator menyatakan
valid, dan sisanya 2 (25%) validator menyatakan
valid, sehingga bahan ajar yang dikembangkan dapat
atau layak digunakan.
Untuk LKS yang telah dikembangkan juga
dilakukan validasi, khusus untuk guru dilengkapi
dengan kunci LKS. Aspek yang divalidasi meliputi:
(1) kesesuaian antara kompetensi dasar dengan
indikator hasil belajar; (2) kesesuaian antara indikator
hasil belajar dengan kegiatan siswa; (3) kejelasan
petunjuk LKS; (4) kesesuaian dengan materi pokok
pembelajaran; (5)mencakup sebagian besar konsep
utama materi ajar; (6) kesesuaian dengan sintak
model pembelajaran; (7) kejelasan dan keruntutan
langkah-langkah LKS; dan (8) kecukupan materi
pendukung dan sumber belajar. Hasil validasi
terhadap hasil LKS yang dikembangkan juga pada
kategori valid dan sangat valid, sehingga LKS yang
dikembangkan dapat atau layak digunakan.
Dari hasil validasi perangkat penilaian hasil
belajar siswa pada aspek materi, konstruksi, dan
ranah bahasa pada kategori valid dan tidak valid,
sehingga perangkat penilaian yang dikembangkan
layak digunakan setelah direvisi.
Jika hasil validasi dari ke empat perangkat
pembelajaran dirata-rata, dari 8 guru yang
menyatakan valid 28,13% dan sangat valid 71,87%
(Tabel 6).
Tabel 6. Ringkasan Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran MPBP
No Hasil validasi
Hasil Validasi
1 2 3 4 5
1 RPP 0 0 0 2 6
2 Bahan Ajar 0 0 0 2 6
3 LKS 0 0 0 3 5
4
Perangkat penilaian
hasil belajar siswa
0 0 0 2 6
Jumlah 0 0 0 9 23
Persentase 0 0 0 28,13 71,87
Keterangan: 1 sangat tidak valid; 2 tidak valid, 3 cukup valid, 4
valid, dan 5 sangat valid
Sehingga dapat dinyatakan bahwa perangkat
pembelajaran yang dikembangkan, meliputi RPP,
Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat penilaian hasil
belajar siswa layak dan dapat digunakan karena hasil
validasi valid dan sangat valid.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

52

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Perangkat pembelajaran PML denganMPBP yang
dikembangkan layak dan dapat digunakan dalam
pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis
proyek.
2. Persentase validator yang menyatakan atau
menilai sangat valid 71,87% dan sisanya 28,14%
menyatakan valid.
3. Masukan pada saat FGD dan validasi, hanya pada
aspek tata tulis.
4.2 Saran
1. Karena hasil validasi dan FGD menyatakan layak
dan dapat digunakan pada pembelajaran PML
dengan MPBP, maka perlu dilakukan uji coba
dalam penerapannya.
2. Model perangkat pembelajaran atau panduan
pembelajaran dapat menjadi acuan bagi guru PML
dalam menerapkembangkan pembelajaran dengan
MPBP.
3. Perangkat pembelajaran PML dengan MPBP dapat
digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran untuk materi yang
memiliki karakteristik yang sama atau hamper
sama.
4. Kepala SMK dapat mendorong dan memotivasi
guru menerapkan pembelajaran dengan MPBP,
dengan memfasilitasi melalui penambahan sarana
dan prasarana pembelajaran alat dan bahan
dengan berorientasi pada DI/DU.
5. Perangkat pembelajaran atau panduan
pembelajaran dapat menjadi acuan bagi Direktorat
PSMK Kemendiknas, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Propinsi dan Kabupaten/Kota dalam
penataan, pengembangan dan pembangunan
pendidikan di SMK, khususnya mengubah mindset
guru, jika ingin menerapkan model pembelajaran
berbasis proyek.

REFERENSI
[1]. Anderson, et.al., 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching
and Assesing: A Revision of Blooms Taxonomy of
Educational Obejectives. (Eds) Abridged Edition. New York:
Longman.
[2]. Andi Stix and Frank Hrbek, 2006. Teachers as Classroom
Coaches: How to Motivate Students Across the Content
Areas. Chapter X1.Copyright 2006 by Andi Stix and Frank
Hrbek. All rights reserved.
[3]. Chungfang Zhou, et al., (2009). Group creativity development
in engineering students in a problems and based learning
environment. Proceedings, of the 2nd International research
Symposium on PBL, 3-4 Desember 2009, Melbourne,
Australia.
[4]. Degeng, I.N.S. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel.
Jakarta: Depdikbud, Ditjendikti, P2LPTK.
[5]. Degeng, I.N.S. 1993. Teori Pembelajaran Terapan. Malang:
Program Magistrer Manajemen Pendidikan Universitas
Terbuka.
[6]. Degeng, I.N.S. 2007.Paradigma Pendidikan Behaviorisme ke
Konsruktivisme. Bahan Presentasi. Universitas Negeri
Malang.
[7]. Dimyati & Mujiono, 2006.Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Rineka Cipta.
[8]. Domblesky, J., "Project Assisted Learning in Engineering - A
Manufacturing Example", ASEE Upper Midwest Conference,
October 2009, Marquette University, Milwaukee, WI.
Proceedings of the 2009 ASEE North Midwest Sectional
Conference, 1-9.
[9]. Doppelt, Y. (2003). Implementation and assessment of
project-based learning in a flexible environment.International
Journal of Technology and Design Education, 13, 255272.
[10]. Edens, K. M. 2008. The Intraction of Pedagogical Approach,
Gender Self Regulation and Goal Orentation.Using Student
Response System Tecnology.Journal of Research on
Tecnology in Education .41 (2): 161-171.
[11]. Elliot, S.N.; Kratchwill, T.R., Cook, J.L., Traver, J.E.
(2000).Educational Psychology: Effective Teaching, Effective
Learning.Third Edition. Boston: McGraw-Hill Higher
Education.
[12]. Frank, M., Lavy, I. & Elata, D. (2003).Implementing the
project-based learning approach in an academic engineering
course.International Journal of Technology and Design
Education, 13, 273288.
[13]. Gagne, R.M. & Briggs, L.J. 1979.Principles of Instructional
Design. New York: McGraw-Hill.
[14]. Gagne, R.M., Briggs, L.J. & Wager, W.W. 1992 Principles of
Instuctional Desigen 5th (Eds). New York: HBJ College &
Scholl Division.
[15]. Han, T. 2012. A Meta-Analysis of The Effects of Adventure
Programming on Locus of Control. Journal of Contenporary
Psychotherapy. 30 (1): 33-60.
[16]. Joko, Supari Muslim. 2011. Desain dan Implementasi Alat
Penguji Kualitas Inti Stator Mesin Listrik Berbasis Komputer
Untuk Meningkatkan Kualitas Hasil Perkuliahan Perencanaan
dan Pelaksanaan Membelit Motor Listrik. Disajikan Dalam
Seminar Hasil Penelitian Strategis Nasional Tahun
2011.Diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Kementrian Pendidikan Nasional di Hotel Millenium Jakarta
Tanggal 25-26 Juli 2011.
[17]. Jenkins, A. & Unwin, D. 1996. How to Write Learning
Outocemes. New Yotk: McGraw Hill.
[18]. Joseph P. Domblesky, 2009. Project Assisted Learning in
Engineering A Manufacturing Example. Department of
Mechanical Engineering Marquette University Milwaukee,
Wisconsin 53233. Proceedings of the 2009 ASEE North
Midwest Sectional Conference, 1-9
[19]. Maclean, R. (2008). The Future of work and Skill
development for Employability: Implications for Tecnical and
Vocational Education Training. Seameo Voctech Journal, 8
pages.
[20]. Meier, D. 2002. The Accelerated Learning Handbook. New
York: McGraw-Hill.
[21]. Michael L. Crawford, 2001. Teaching Contextually Research,
Rationale, and Techniques for Improving Student Motivation
and Achievement in Mathematics and Science. Published and
distributed by: CCI Publishing, Inc.
[22]. Mergendoller, J. & Thomas, J. (2000). Managing project
based learning: Principles from the field.
http://www.bie.org/index.php/site/RE/pbl_research/29.
Diakses tanggal 13 November 2012.
[23]. Merrill, 1983. Component Display Theory. Dalam Reigeluth,
C.M. (Ed). Insructional-Desigen Theories and Models: An
Overerview of their Current Status. New Jersey: Lawrence
Erlbaum Associates Publisher.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

53

Pengembangan Standar Kompetensi Perbaikan Motor Listrik
Berbasis SKNI dan Kinerja di Industri Listrik
Joko
1
, Gatot Widodo
2
, Subhan
3

1
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: unesa_joko@yahoo.com
2
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: gwid.unesa@yahoo.co.id
3
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa, E-mail: sbhn_ok@yahoo.com

Abstrak - Standar kompetensi hasil belajar
perbaikan motor (PML) di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) masih mengutamakan faktor
kehadiran siswa, kerapian dan hasil produk motor
listrik. Untuk aspek lainnya belum dioptimalkan dan
belum berbasis pada Standar Kompetensi Nasional
Indonesia (SKNI) PML dan standar PML di
industri.Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan
standar kompetensi PML yang harus dimiliki siswa
SMK Program Studi Teknik Instalasi Tenaga Listrik
(TITL).Metode penelitian menggunakan Risearch and
Development (R&D). Subyek penelitian Guru PML
SMK, Kepala SMK, Pengawas SMK, Pimpinan Industri
PML, dan Instruktur PML.Penelitian diawali dengan
analisis standarkompetensi PML di SMK, SKNI, dan
kenerja PML di industri. Datakompetensi PML yang
diperolehselanjutnya divalidasi untuk memperbaiki
rumusan standar kompetensi PML. Rumusan standar
kompetensi PML selanjutnya digunakan sebagai bahan
Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan
masukan dalam menyempurnakan rumusan
Standar kompetensi PML yang
dikembangkan.Analisis data dilakukan dengan statistik
deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar
kompetensi PML meliputi pengujian awal (pre-
inspection) untuk menentukan kerusakan bagian
mekanis dan kelistrikan motor listrik stator
tertutup,pembongkaran dan pengujian bagian mekanik
(dismantling data) dan bagian kelistrikan (electrical
inspection) untuk menentukan kerusakan bagian
mekanik serta kelistrikan; membongkar dan menguji
atau mendata belitan (stripping coil) untuk merancang
belitan baru,membuat dan memasang belitan baru serta
pengujian hasilnya. Sedangkan kompetensi yang
dibutuhkan adalah apa yang harus dilakukan pada saat
PML, keterampilan dalam melakukan PML,
kemampuan, dan sikap di dalam melakukan PML.
Kata kunci: Pengembangan, kompetensi PML, SKNI , dan
Standar Proses dan Produk PML.
I.PENDAHULUAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan
adanya tuntutan kompetensisiswa atau lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar sesuai
dengan tuntutanlapangan kerja.Siswa harus diberikan
pengalaman belajar yang sesuai dengantuntutan dunia
usaha dan industri (du/di). Pengalaman belajar
tersebut dapat diupayakanmelalui penerapan
pendekatan pembelajaran competency based training
(CBT) dan production based training (PBT), yang
berimplikasi pada perumusan standar kompetensi
didalam mengukur hasil belajar siswaagar sesuai
dengan Standar KompetensiNasional Indonesia
(SKNI), yaitu mengadaptasi dari model competency
based assessment (CBA), serta penilaian kompetensi
di industri.
Untuk mengetahui kesesuaian lulusan dengan
tuntutan du/di dibutuhkanalat penilaian yang dapat
mengukur capaian kompetensi siswa yang
sesuaidengan standar kompetensi nasional, sehingga
capaian kompetensi lulusanmemperoleh pengakuan
dari pihak industri (stakeholders). Berdasarkan
pemikirandi atas, penelitian ini bertujuan untuk
merumuskan standar kompetensi yang dibutuhkan
siswa dalam melakukan PML berbasis SKNI dan
standar proses dan produk di industri PML.
Dalam mengembangkan rumusan standar
kompetensi melalui penelitian menggunakan
pendekatanpenelitian dan pengembangan (Research
and Development), melalui tahapan: (1)studi
pendahuluan; (2) perumusan kompetensi PML, dan
(3) validasi hasil rumusan standar kompetensi PML
yang dikembangkan, dan dilanjutkan dengan FGD.
Subjek dan lokasi penelitian ini adalah adalah
guru SMK, Kepala SMK, Pengawas SMK, Pimpinan
du/di PML, dan instruktur PML. Pelaksanaan bulan
Juni-Juli 2013.
Untuk mengetahui kompetensi dapat dinilai
secara tes tertulis dan tes tindakan, serta pengujian
produk. Sedangkan pelaksanaan penilaian meliputi
tahappreparation, collecting, judging, deciding,
moderation, certification dan atau award.
Permasalahan kompetensi pada penelitian ini
adalah: (1) kemampuan awal apa saja yang
dibutuhkan pada PML, (2) pekerjaan utama apa saja
yang harus dikerjakan dalam melakukan PML, (3)
apa saja yang harus dilakukan pada PML, (4)
keterampilan apa saja yang diperlukan dalam PML,
(5) kemampuan apa saja yang dibutuhkan dalam
PML, dan (6) bagaimana sikap yang diperlukan pada
pekerjaan PML.
Permasalahan-permasalahan tersebut sangat
relevan dengan sistem pendidikan kejuruan.Karena
pendidikan kejuruan sebaiknya mampu
mencerminkan proses memanusiakan manusia. Siswa
diberi kesempatan secara optimal membelajarkan diri
untuk mengaktualisasikan semua potensi yang
dimilikinya menjadi kemampuan profesional yang
dapat dimanfaatkan dalam dunia kerja. Pendapat ini
sesuai dengan sebagian pendapat Finch dan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

54

Crunkilton (1984:13), yang menyatakan bahwa hasil
belajar atau kemampuan yang telah dikuasai
diharapkan dapat memberikan kontribusi pada
pengembangan diri peserta didik, sehingga mereka
mampu bekerja sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Pendidikan kejuruan sebagai pendidikan khusus,
direncanakan untuk menyiapkan siswa yang mampu
memasuki dunia kerja dan mengembangkan sikap
profesional di bidang kejuruan. Lulusannya
diharapkan menjadi individu produktif yang mampu
bekerja menjadi tenaga kerja menengah dan memiliki
kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja sesuai
dengan bidang keahlian secara kompetitif dan
profesional.
Gambaran kualitas lulusan pendidikan kejuruan
menurut Finch dan Crunkilton (1984 : 13)
menerapkan ukuran ganda, yaitu kualitas menurut
ukuran sekolah dan kualitas menurut ukuran
masyarakat. Kriteria pertama meliputi aspek
keberhasilan siswa dalam memenuhi tuntutan
kurikuler yang telah diorientasikan pada tuntutan
dunia kerja, sedangkan pada kriteria kedua meliputi
keberhasilan siswa yang ditunjukkan pada unjuk
kerja sesuai dengan SKNIPML dan standar PML di
industri setelah bekerja. Tetapi kenyataannya SMK
belum mempersiapkan lulusan siap kerja. Hal ini
sesuai dengan Suparno (2008:1), yang menyatakan
bahwa kompetensi para pencari kerja belum link and
match dengan industri. Lapangan kerja bagi lulusan
SMK sebenarnya cukup banyak peluang yang dapat
dimanfaatkan, karena masih banyak industri yang
membutuhkan lulusan SMK.
Untuk mengatasinya, maka perlu menyiapkan
tenaga kerja yang kompeten sesuai tuntutan du/di
dapat dimulai pada saat siswa menempuh pendidikan
di SMK masing-masing melalui pengalaman belajar
dan penilaian hasil belajar yang tepat.
Pelaksanaan kurikulum di SMK menerapkan
pendekatan CBT dan PBT. Implikasinya adalah
kompetensi yang dilatihkan harus benar-benar
memenuhi standar. Selain itu dalam melakukan
penilaian hasil belajar di dalam mengukur kompetensi
siswaharus menerapkan model CBA. Hal ini sesuai
dengan Departemen Pendidikan Nasional (2006:1),
yang menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan
dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum
sangat berpengaruh terhadap sistem penilaian yang
dilaksanakan.
Kompetensi level kualifikasi merupakan capaian
kompetensi siswa sebagai hasil belajar, pada
umumnya belum mengakomodasi tuntutan SKNI dan
du/di, termasuk standar kompetensi PML bagi siswa
SMK. Kompetensi yang dirancang dan digunakan
oleh guru masih heterogen pada setiap SMK. Kondisi
tersebut menuntut perlunya standar kompetensi PML
yang mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotor, termasuk pada penilaiannya. Hal ini
sejalan dengan hasil penelitian Jubaedah (2005:134)
yang berkatian dengan implementasi competency
cased traning berdasarkan Standar Kompetensi
Nasional pada kegiatan pembelajaran di SMK,
menyimpulkan guru paket keahlian Tata Busana
belum siap untuk melaksanakan penilaian secara
komprehensif pada keberhasilan belajar peserta didik.
Keberhasilan belajar yang komprehensif tersebut
meliputi kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif
dalam pembuatan busana. Ketidaksiapan tersebut
teramati dari cara guru dalam melakukan penilaian di
dalam kegiatan praktikum, khususnya pada penilaian
proses kerja belum menggunakan alat penilaian yang
sesuai dengan tuntutan SKNI. Hasil penelitian ini
juga didukung hasil penelitian Usam Sutarja (2010),
tentang persepsi industri terhadap kompetensi lulusan
SMK program keahlian teknik Otomotif dalam
memenuhi tuntutan kompetensi kerja industri. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa standar penilaian
kompetensi peserta didik yang di sekolah (SMK)
secara keseluruhan belum sesuai dengan (marginally
relevant) tuntutan standar proses penilaian di industri.
Beberapa uraian tersebut menunjukkan perlunya
dilakukan optimalisasi pelaksanaan penilaian hasil
belajar siswa, termasuk kompetensi yang harus
dimiliki siswa.
Optimalisasi pelaksanaan penilaian hasil belajar
yang komprehensif sesuai tuntutan kompetensi di
industri penting karena SMK memiliki peranan dalam
menyiapkan tenaga kerja kompeten, sehingga dapat
mengeliminir angka pengangguran. Pelaksanaan
penilaian hasil belajar berbasis kompetensi diarahkan
untuk mengukur dan menilai kinerja siswa dalam
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor, baik
pada saat belajar maupun secara tidak langsung, yaitu
melalui bukti hasil belajar (evidence of learning)
sesuai dengan kriteria kinerja maupun secara
langsung. Kriteria kinerja tersebut harus sesuai
dengan tuntutan dunia industri yang telah dirumuskan
dalam standar kompetensi nasional dan standar proses
dan produk di industri.
Hasil belajar siswa secara umum terdiri dari tiga
ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ketiga ranah tersebut sering tidak dapat dipisahkan
secara eksplisit, karena dalam pembelajaran ada mata
pelajaran yang mungkin lebih menekankan ranah
kognitif atau ranah afektif, dan atau ranah
psikomotorik saja.Misalkan pada mata pelajaran
PML, cenderung lebih menekankan pada pada ranah
psikomotorik walaupun juga mengandung ranah
afektif maupun kognitif.
Ranah psikomotor, berhubungan dengan hasil
belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan
memanipulasi dengan melibatkan otot dan kekuatan
fisik. Singer (1972), menyatakan bahwa mata
pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah
mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan
dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik dan
keterampilan tangan. Psikomotorik berkaitan dengan
tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau
sekumpulan tugas tertentu. Menurut Mardapi (2003),
keterampilan psikomotor terdiri atas enam tahap,
yaitu: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

55

perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan
komunikasi nondiskursif.
Pada proses pembelajaran PML di SMK,
keterampilan yang dibelajarkan masih sepotong-
sepotong atau tidak utuh seperti pada proses PML di
industri. Akibatnya kinerja hasil PML tidak optimal
karena siswa belum dibelajarkan mengoptimalkan
keterampilan psikomotoriknya. Hal ini juga didukung
penelitian Usam Sutarja (2010), yang menunjukkan
bahwa materi kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) secara keseluruhan belum sesuai (marginally
relevant) dengan pekerjaan di industri. Selain itu
hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa standar
penilaian kompetensi peserta didik di sekolah (SMK)
secara keseluruhan belum sesuai dengan (marginally
relevant) dengan tuntutan standar proses penilaian di
industri.
Penilaian bertujuan untuk memperoleh informasi
tentang hasil belajar atau ketercapaian kompetensi
siswa. Evaluasi menurut Hasan (1988:13) adalah
suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai
dan arti dari sesuatu yang dipertimbangkan. Menurut
Oliva (1992:445), assessment dan evaluasi memiliki
pengertian berbeda. Assessment adalah proses dalam
mengumpulkan informasi tentang berapa banyak
siswa tahu, sedangkan evaluasi diartikan sebagai
penggunaan informasi untuk menentukan keputusan
atau judgement yang pada akhirnya digunakan
dalam pengambilan keputusan. Dapat disimpulkan
bahwa penilaian merupakan bagian dari evaluasi di
dalam melakukan evaluasi kurikulum dan hasilnya
akan menjadi bahan pertimbangan dalam
pengembangan kurikulum selanjutnya, karena
komponen dalam pengembangan kurikulum meliputi
tujuan, isi, strategi dan evaluasi. Evaluasi berkaitan
dengan keseluruhan kurikulum termasuk hasil belajar
dan siswa, sedangkan penilaian terbatas pada hasil
belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasan
(2008:18), yang menyatakan bahwa assessment
adalah bagian dari evaluasi kurikulum.
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai
hasil belajar psikomotor. Ryan (1980), menyatakan
bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur
melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian
tingkah laku siswa selama proses pembelajaran
praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti
pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes
kepada siswa untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah
pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan
kerjanya.
Dari beberapa uraian di atas, dapatdisimpulkan
bahwa dalam hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan
produk. Penilaian dilakukan pada saat proses
berlangsung, yaitu pada waktu siswa melakukan
praktik, atau sesudah proses berlangsung (termasuk
produk yang dihasilkan).

II. METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
Penelitiandan Pengembangan atau Research and
Development (R&D) yang disarikan dari Borg & Gall
(2003:775) mencakup 10 langkah,yang dalam
penelitian ini disederhanakan menjadi tiga tahap
(Sukmadinata, 2005:184), yaitu: (1) studi
pendahuluan; (2)pengembangan standar kompetensi,
dan (3) uji model.
Studi pendahuluan dilakukan dengan metode
survei, bertujuan untukmenggali kompetensi yang
dibutuhkan pada PML. Hasil studi pendahuluan
digunakan sebagai sumber acuan dalam merancang
desain awal pengembangan standarkompetensi PML
sesuai SKNIdan standar di industriPML. Selanjutnya
hasil pengembangan standar kompetensi PML
divalidasi pada oleh ahli PML dan teknologi
pembelajaran teknik dan setelah itu dilakukan FGD
untuk menyempurnakan hasil pengembangan standar
kompetensi PML yang dibuat.
Uji atau validasi rumusan standar kompetensi
yang dikembangkan dilakukan untuk menemukan
rumusan standar kompetensi keahlian PML berbasis
SKNI PMLdan standar proses dan produk di
industriPML. Tujuan dari validasi terhadap rumusan
standar kompetensi yang dikembangkan adalah: (1)
menentukan tingkat kelayakan rumusanl, apakah
kompetensi yang dirumuskan benar-benar sesuai
dengan SKNI dan kinerja di industri PML, serta
cocok untuk SMK,(2)menyimpulkan apakah rumusan
kompetensi PML yang dikembangkan lebih efektif
memberikan dampakterhadap capaian kompetensi
siswa maupun pelaksanaan tugas guru
sebagaipembelajar dibandingkan dengan rumusan
kompetensi yang ada sampai dengan saat ini.
Penelitian dilaksanakan di SMK Progli TITL di
Surabaya dan telahmenerapkan model pendekatan
CBT dan PBTdalam proses pembelajaran kelompok
produktif, di/du perbaikan motor listrik, dan lembaga
pelatihan motor listrik.
Pengumpulan data diawali dari studi
pendahuluan, pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dengan
menggunakan alat berupa pedoman wawancara,
pedoman observasi dan pedoman studi dokumentasi
untuk selanjutnya digunakan bahan mengembangkan
muskan kompetensi PML.
Pada tahap merumuskan kompetensi PML
dilakukan berdasarkan hasil analisis data yang telah
diperoleh. Setelah rumusan standar kompetensi PML
yang dikembangkan selesai, selanjutnya dilakukan
validasi, diperbaiki sesuai masukan validator, maka
langkah selanjutnya adalah hasilnya dipakai sebagai
bahan FGD untuk memperoleh masukan guna
perbaikan rumusan kompetensi PML yang
dikembangkan. Subyek yang terlibat pada penelitian
ini ditunjukkan Tabel 1.



Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

56

Tabel 1 Subyek yang Terlibat dalam Penelitian
No
Sekolah/I
nstansi
Personel Jum Keterangan
1 SMKN 2 Guru TITL 2 Validator, guru
PML, dan
peserta FGD
Kaprodi TITL 1 Validator dan
pelaksana FGD
2 SMKN 7 Guru TITL 1 Validator, guru
PML, dan
peserta FGD
Kaprodi TITL 1 Validator dan
pelaksana FGD
3 Dinas P
& K
Pengawas
SMK
1 Validator dan
peserta FGD
4 DU/DI Direktur
Teknik ABB
Sakti Industri
1 Validator dan
peserta FGD
Instruktur
YASCO
College
Surabaya
1 Validator dan
peserta FGD
5 Dosen
JTE
Ahli PML
Ahli
Teknologi
Pembelajaran
1
1
Validator
Validator
Pada tahap studi pendahuluan, temuan rumusan
kompetensi PML yang dibelajarkan guru di SMK
yang dilakukan saat ini, dideskripsikan dalam bentuk
sajian data naratif,kemudian dianalisis secara
kualitatif, sedangkan pada tahap pengembangan
rumusan kompetensi PML, data kualitatif
dideskripsikan dalambentuk sajian data naratif, yang
kemudian dianalisis secara kualitatif. Sedangkan hasil
FGD digunakan untuk masukan dalam
menyempurnakan rumusan kompetensi PML yang
dikembangkan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian
1. Kemampuan awal yang dibutuhkan pada PML
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam PML,
meliputi: memiliki pengetahuan dasar tentang motor
listrik, pengetahuan dasar tentang geometri,
pengetahuan dasar tentang penggunaan alat ukur
(mekanik dan listrik), pengetahuan dasar tentang
penggunaan alat kerja mekanik, dan kesehatan dan
keselamatan kerja (K3).
2. Kompetensi utama dalam PML
Kompetensi utama pada PML, meliputi: (a)
pengujian awal untuk menentukan kerusakan bagian
mekanis dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
tertutup, (b) pengujian bagian mekanik dan bagian
kelistrikkan untuk menentukan kerusakan bagian
mekanik dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
terbuka, (c) membongkar dan menguji atau mendata
belitan untuk merancang belitan baru motor induksi 3
phasa, dan (d) membuat dan memasang belitan baru
pada stator motor induksi 3 phasa dan pengujian
hasilnya.
3. Yang harus dilakukan pada saat PML
Yang harus dilakukan pada PML, meliputi: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku cadang
bahan, (d) melakukan pendataan dan mencatat,(e)
melakukan pengujian, ( f) memeriksa sambungan, (g)
memasang kembali, (h) mencatat lama waktu bekerja,
( i) membaca name plate, (j) membandingkan data
dengan ketentuan atau aturan dan memutuskan, (k)
memeriksa, membersihkan, merawat dan menyimpan
peralatan, dan( l) memeriksa dan mencatat bahan
yang digunakan serta mengembalikan sisa bahan pada
tempatnya.
4. Keterampilan dalam PML
Keterampilan dalam PML, meliputi: (a)
menentukan jenis alat untuk kebutuhan untuk
melakukan PML, (b) menentukan jenis bahan yang
dibutuhkan untuk melakukan PML, (c) melakukan
pengujian PML menggunakan alat (termasuk
spesifikasi) yang sesuai kebutuhan, (d) melakukan
pengujian menggunakan bahan (termasuk spesifikasi)
sesuai yang dibutuhkan, (e) menentukan penyebab
kesalahan atau kerusakan bagian-bagian kelistrikan
dan memutuskan apa yang harus dilakukan, (f)
melakukan pemeliharaan pada peralatan dan
menentukan kapan serta apa jenis perawatan yang
dibutuhkan, (g) menginstal peralatan, motor listrik,
kabel, atau program untuk memenuhi spesifikasi, (h)
menggunakan logika dan penalaran untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari
alternatif solusi untuk menyimpukan atau
memecahkan masalah dalam menentukan kerusakan
bagian mekanik dan kelistrikan stator tertutup, ( i)
memahami kalimat tertulis dan paragraf dalam
dokumen (SOP) terkait pekerjaan pengujian (standar
tahanan resistansi dan tahanan isolasi), (j) mengatur
waktu bagi dirinya dan waktu orang lain dalam
kelompok ketika bekerja pada sebuah proyek
pengujian, (k) menentukan lama waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan proyek pengujian, (l)
memahami informasi baru dan implikasinya dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m) memberi
perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa yang
akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang sesuai,
dan tidak menginterupsi pada waktu yang tidak tepat,
dan (n) mengindahkan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam bekerja.
5. Kemampuan atau abilities
Kemampuan atau abilities,meliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara tepat
gerakan satu tangan atau kedua tangannya untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek yang
sangat kecil, (b) kemampuan untuk menggerakkan
tangan dengan cepat, tangan dan lengan bersama-
sama, atau dua tangan untuk menangkap,
memanipulasi, atau merakit objek, (c) kemampuan
untuk mengetahui saat terjadinya sesuatu kesalahan
atau mungkin kesalahan yang akan terjadi. (tidak
mencakup pemecahan masalah, tetapi hanya
mengenali ada masalah, (d) kemampuan untuk
menjaga kestabilan tubuh pada saat tangan dan
lengannya bergerak atau sambil memegang tangan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

57

dan lengan dalam satu posisi, (e) kemampuan untuk
mengatur hal-hal atau tindakan dalam urutan atau
pola tertentu sesuai dengan aturan tertentu atau
seperangkat aturan misalnya pola angka-angka, huruf,
kata, gambar, operasi matematika, (f) kemampuan
untuk menggabungkan informasi-informasi terpisah
untuk membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
6. Sikap dalam PML
Sikap dalam PML yang dibutuhkan, meliputi: (a)
memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama,(d) kegigihan, (e) inisiatif, (f)
pengendalian diri, (g) berprestasi, ( h) berfikir
analistis, dan (i) dan inovatif.
7. Hasil validasi hasil rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan
Ringkasan hasil validasi terhadap rumusan
standar kompetensi PML yang dikembangkan
ditunjukkan Tabel 2..Validasi dilakukan terhadap
aspek penggunaan bahasa, kesesuaian konstruksi
kompetensi dengan tujuan kompetensi, kesesuaian
rumusan standar kompetensi dengan indikator dan
rinciannya, dan kesesuaian subtansi kompetensi
dengan subtansi tujuan kompetensi, kebenaran
subtansi rumusan kompetensi, ketepatan waktu untuk
melakukan kompetensi, dan kebermaknaan.
Tabel 2 Hasil Validasi LK-TKPPML-P1-P4
No Aspek SV V CV TV STV
1 Penggunaan bahasa 6 4 0 0 0
2
Kesesuaian
konstruksi
kompetensi dengan
tujuan kompetensi
6 4 0 0 0
3
Kesesuaian rumusan
kompetensi dengan
indikator dan
rinciannya
6 4 0 0 0
4
Kesesuaian subtansi
kompetensi dengan
subtansi tujuan
kompetensi,
kebenaran subtansi
rumusan kompetensi
6 4 0 0 0
5
Kebenaran subtansi
rumusan kompetensi
6 4 0 0 0
6
ketepatan waktu
untuk melakukan
kompetensi
6 4 0 0 0
7 Kebermaknaan 6 4

Rata-rata 6 4 0 0 0
Persentase 60 40 0,0 0,0 0,0
Berdasarkan Tabel 2, tampak bahwa hasil
validasi menunjukkan 20,0% validator menyatakan
valid dan 80,0% validator menyatakan sangat valid.
Hal ini menunjukkan bahwa rumusan kompetensi
PML yang dikembangkan layak dan dapat digunakan.
Adapun saran dan masukan validator banyak
pada tata tulis. Saran dan masukan yang diberikan
validator telah diakomodasi peneliti dan telah
dilakukan perbaikan.
8. Hasil FGD
Pelaksanaan FGD dilakukan di Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri 2 di Jalan Tentara Geni
Pelajar No 1 Surabaya.sSubyeperti telah dipaparkan
pada Tabel 1, bahwa peserta dan pelaksana FGD 8
orang. Perlaksanaan FGD selama 6jam, mulai pukul
08.00-14.00 tanggal 9 September 2013.Peserta diberi
kesempatan untuk memberikan kritik, saran dan
masukan.
Hasil FGD menunjukkan bahwa peserta lebih
mencermati pada penulisan dan tatabahasa pada
rumusan kompetensi yang.

3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis awal pada jurnal
ilmiah, SKNI, kinerja PML di industri, dan penilaian
PML di Sekolah, diperoleh:
1. Kemampuan awal apa saja yang dibutuhkan
pada PML
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam PML ,
adalah memiliki pengetahuan tentang dasar tentang
motor listrik, pengetahuan dasar tentang geometri,
pengetahuan dasar tentang penggunaan alat ukur
(mekanik dan listrik), pengetahuan dasar tentang
penggunaan alat kerja mekanik, dan kesehatan dan
keselamatan kerja (K3).
Tampak bahwa pada PML diperlukan
kemampuan awal agar hasil PML lebih
optimal.Dengan memiliki pengetahuan awal tentang
dasar tentang motor listrik, pengetahuan dasar tentang
geometri, pengetahuan dasar tentang penggunaan alat
ukur (mekanik dan listrik), pengetahuan dasar tentang
penggunaan alat kerja mekanik, dan kesehatan dan
keselamatan kerja (K3). Pelaksanaan PML akan
optimal hasilnya. Pekerjaan PML tidak cukup hanya
bermodalkan pada keterampilan fisik dan sikap, tetapi
juga pengetahuan awal tentang motor listrik karena
ada besaran-besaran motor listrik tidak nampak secara
kasat mata.
Pengetahuan dasar tentang trigonometri
diperlukan karena pada pekerjaan PML, dimensi fisik
dari motor listrik sangat bervariasi. Sehingga dalam
melakukan perbaikan perlu ketelitian dan perlakuan
yag berbeda untuk motor yang berbeda. Demikian
juga pentingnya pengetahuan tentang penggunaan alat
ukur mekanik dan listrik, karena dalam PML
memerlukan pekerjaan melakukan pengukuran
besaran mekanik (kecepatan putaran, panjang, sudut,
dan lainnya) dan listrik (arus listrik, tegangan, dan
lainnya). Hal lain yang penting adalah menyangkut
keselamatan kerja, baik keselamatan benda kerja,
lingkungan kerja, maupun keselamatan manusia.
2. Kompetensi utama dalam PML
Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya,
bahwa kompetensi utama pada PML adalah: (a)
pengujian awal untuk menentukan kerusakan bagian
mekanis dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
tertutup, (b) pengujian bagian mekanik dan bagian
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

58

kelistrikkan untuk menentukan kerusakan bagian
mekanik dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
terbuka, (c) membongkar dan menguji atau mendata
belitan untuk merancang belitan baru motor induksi 3
phasa, dan (d) membuat dan memasang belitan baru
pada stator motor induksi 3 phasa dan pengujian
hasilnya.
Dengan dapat melaksanakan pekerjaan utama
pada PML seperti di atas, maka siswa tidak akan
mengalami kesulitan jika mendapatkan tugas kelak
terjun di masyarakat. Kompetensi utama tersebut
tidak semata hanya berpengaruh pada dapat atau tidak
dapatnya siswa melakukan pekerjaan tersebut, tetapi
juga berkaitan dengan efisiensi waktu, efektif
penggunaan peralatan, efektif dalam menggunakan
bahan atau suku cadang, ekonomis, serta hemat
tenaga.
3. Yang harus dilakukan pada saat PML
Siswa dalam melakukan PML, harus dapat: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku cadang
bahan, (d) melakukan pendataan dan mencatat, (e)
melakukan pengujian, (f) memeriksa sambungan, (g)
memasang kembali, (h) mencatat lama waktu bekerja,
(i) membaca name plate, (j) membandingkan data
dengan ketentuan atau aturan dan memutuskan, (k)
memeriksa, membersihkan, merawat dan menyimpan
peralatan, dan(l) memeriksa dan mencatat bahan yang
digunakan dan mengembalikan sisa bahan pada
tempatnya.
Dengan dapat melakukan apa yang dapat
diuraikan di atas, maka secara tidak langsung siswa
telah dapat belajar mengelola dirinya dalam
melakukan PML, sehingga secara otomatis dapat
melakukan yang terbaik tentang apa yang seharusnya
dilakukan.
4. Keterampilan dalam PML
Dalam melakukan PML, siswa harus memiliki
keterampilan dalam: (a) menentukan jenis alat untuk
kebutuhan untuk melakukan PML, (b) menentukan
jenis bahan yang dibutuhkan untuk melakukan PML,
(c) melakukan pengujian PML menggunakan alat
(termasuk spesifikasi) yang sesuai kebutuhan, (d)
melakukan pengujian menggunakan bahan (termasuk
spesifikasi) sesuai yang dibutuhkan, (e) menentukan
penyebab kesalahan atau kerusakan bagian-bagian
kelistrikan dan memutuskan apa yang harus
dilakukan, (f) melakukan pemeliharaan pada
peralatan dan menentukan kapan serta apa jenis
perawatan yang dibutuhkan, (g) menginstal peralatan,
motor listrik, kabel, atau program untuk memenuhi
spesifikasi, (h) menggunakan logika dan penalaran
untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari
alternatif solusi untuk menyimpukan atau
memecahkan masalah dalam menentukan kerusakan
bagian mekanik dan kelistrikan stator tertutup, (i)
memahami kalimat tertulis dan paragraf dalam
dokumen (SOP) terkait pekerjaan pengujian (standar
tahanan resistansi dan tahanan isolasi), (j) mengatur
waktu bagi dirinya dan waktu orang lain dalam
kelompok ketika bekerja pada sebuah proyek
pengujian, (k) menentukan lama waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan proyek pengujian, (l)
memahami informasi baru dan implikasinya dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m) memberi
perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa yang
akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang sesuai,
dan tidak menginterupsi pada waktu yang tidak tepat,
dan (n) mengindahkan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam bekerja,
Dengan memiliki keterampilan sebagaimana
tersebut di atas, maka siswa tidak hanya terampil
dalam segi fisik saja, tetapi juga terlatih kemampuan
berfikirnya dan akan terampil dalam memecahkan
masalah terkait dengan PML.
5. Kemampuan atau abilities
Kemampuan atau abilitiesmeliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara tepat
gerakan satu tangan atau kedua tangannya untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek yang
sangat kecil; (b) Kemampuan untuk menggerakkan
tangan dengan cepat, tangan dan lengan bersama-
sama, atau dua tangan untuk menangkap,
memanipulasi, atau merakit objek; (c) kemampuan
untuk mengetahui saat terjadinya sesuatu kesalahan
atau mungkin kesalahan yang akan terjadi. (tidak
mencakup pemecahan masalah, tetapi hanya
mengenali ada masalah; (d) Kemampuan untuk
menjaga kestabilan tubuh pada saat tangan dan
lengannya bergerak atau sambil memegang tangan
dan lengan dalam satu posisi, (e) kemampuan untuk
mengatur hal-hal atau tindakan dalam urutan atau
pola tertentu sesuai dengan aturan tertentu atau
seperangkat aturan misalnya pola angka-angka, huruf,
kata, gambar, operasi matematika,(f) kemampuan
untuk menggabungkan informasi-informasi terpisah
untuk membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
Dengan terbiasa memiliki memiliki kemampuan
di atas, maka memiliki reflex atau aksi yang cepat
dalam menghadapi aksi yang dihadapinya. Selain itu
dengan semakin terlatihnya kemampuan-kemampuan
tersebut juga akan menumbuhkan kemampuan untuk
mengambil keputusan.
6. Sikap dalam PML
Sikap dalam PML yang dibutuhkan adalah: (a)
memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama; d) kegigihan;( e) inisiatif; (f)
pengendalian diri; (g) prestasi, (h) berfikir analistis,
dan (i) dan inovatif.
Sikap-sikap di atas akan berpengaruh terhadap
keberhasilan dalam melakukan PML. Walaupun
sikap pada diri seseorang sulit untuk diubah, namun
dengan pembiasaan secara berkelanjutan maka akan
dapat duga mengubah sikap seseorang. Karena
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

59

sesungguhnya sikap-sikap tersebut memiliki nilai
yang mulia, sehingga secara manusiawi pada
hakekatnya manusia suka sikap-sikap yang meiliki
nilai positip.
7. Hasil validasi rumusan standar kompetensi PML
yang dikembangkan
Validasi terhadap rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan dilakukan terhadap aspek
penggunaan bahasa, kesesuaian konstruksi
kompetensi dengan tujuan kompetensi, kesesuaian
rumusan kompetensi dengan indikator dan
rinciannya, dan kesesuaian subtansi kompetensi
dengan subtansi tujuan kompetensi, kebenaran
subtansi rumusan kompetensi, ketepatan waktu untuk
melakukan kompetensi, dan kebermaknaan.
Dari 10 validator, 6 (60%) validator menyatakan
sangat valid dan sisanya 4 (40%) menyatakan valid.
Adapun saran dan masukan validator banyak pada
tata tulis. Saran dan masukan yang diberikan validator
telah diakomodasi peneliti dan telah dilakukan
perbaikan.Hal ini menunjukkan bahwa rumusan
kompetensi PML yang dikembangkan layak atau
dapat digunakan.
8. Hasil FGD
Hasil FGD menunjukkan bahwa peserta lebih
mencermati pada penulisan dan tata bahasa pada
rumusan kompetensi yang dikembangkan. Hal ini
juga memperkuat bahwa rumusan standar kompetensi
PML yang dikembangkan layak dan dapat digunakan,
apalagi jika saran, masukan dan kritik diperhatikan
dengan cara memperbaiki atau menyempurnakan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, hasil validasi
dan FGD, rumusan kompetensi PML yang
dikembangkan layak dan dapat digunakan, beberapa
kesimpulan lainnya adalah:
Kemampuan awal yang dibutuhkan dalam PML,
adalah memiliki pengetahuan dasar tentang motor
listrik, geometri, penggunaan alat ukur (mekanik dan
listrik), penggunaan alat kerja mekanik, dan
kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
Kompetensi utama pada PML adalah: (a)
pengujian awal untuk menentukan kerusakan bagian
mekanis dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
tertutup, (b) pengujian bagian mekanik dan bagian
kelistrikkan untuk menentukan kerusakan bagian
mekanik dan kelistrikan motor induksi 3 phasa stator
terbuka, (c) membongkar dan menguji atau mendata
belitan untuk merancang belitan baru motor induksi 3
phasa, dan (d) membuat dan memasang belitan baru
pada stator motor induksi 3 phasa dan menguji
hasilnya.
Dalam melakukan PML, harus dapat: (a)
menyiapkan alat yang dibutuhkan, (b) menyiapkan
bahan yang dibutuhkan, (c) menyiapkan suku cadang
bahan,(d) melakukan pendataan dan mencatat,(e)
melakukan pengujian, ( f) memeriksa sambungan, (g)
memasang kembali, (h) mencatat lama waktu bekerja,
(i) membaca name plate, (j) membandingkan data
dengan ketentuan atau aturan dan memutuskan, (k)
memeriksa, membersihkan, merawat dan menyimpan
peralatan; dan( l) memeriksa dan mencatat bahan
yang digunakan dan mengembalikan sisa bahan pada
tempatnya.
Dalam melakukan PML, siswa harus memiliki
keterampilan dalam: (a) menentukan jenis alat untuk
kebutuhan untuk melakukan PML; (b) menentukan
jenis bahan yang dibutuhkan untuk melakukan
PML;(c) melakukan pengujian PML menggunakan
alat (termasuk spesifikasi) yang sesuai kebutuhan; (d)
melakukan pengujian menggunakan bahan (termasuk
spesifikasi) sesuai yang dibutuhkan; (e) menentukan
penyebab kesalahan atau kerusakan bagian-bagian
kelistrikan dan memutuskan apa yang harus
dilakukan, (f) melakukan pemeliharaan pada
peralatan dan menentukan kapan serta apa jenis
perawatan yang dibutuhkan; (g) menginstal peralatan,
motor listrik, kabel, atau program untuk memenuhi
spesifikasi, (h) menggunakan logika dan penalaran
untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari
alternatif solusi untuk menyimpukan atau
memecahkan masalah dalam menentukan kerusakan
bagian mekanik dan kelistrikan stator tertutup, (i)
memahami kalimat tertulis dan paragraf dalam
dokumen (SOP) terkait pekerjaan pengujian (standat
tahanan resistansi dan tahanan isolasi), (j) mengatur
waktu bagi dirinya dan waktu orang lain dalam
kelompok ketika bekerja pada sebuah proyek
pengujian; (k) menentukan lama waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan proyek pengujian, (l)
memahami informasi baru dan implikasinya dalam
pengambilan keputusan, baik untuk memecahkan
masalah saat ini dan yang akan dating, (m) memberi
perhatian apa yang dikatakan orang lain,
menggunakan waktu jeda untuk memahami apa yang
akan dilakukan, mengajukan pertanyaan yang sesuai,
dan tidak menginterupsi pada waktu yang tidak tepat,
dan (n) mengindahkan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam bekerja,
Kemampuan atau abilities meliputi: (a)
kemampuan untuk melakukan koordinasi secara tepat
gerakan satu tangan atau kedua tangannya untuk
menangkap, memanipulasi, atau merakit objek yang
sangat kecil; (b) kemampuan untuk menggerakkan
tangan dengan cepat, tangan dan lengan bersama-
sama, atau dua tangan untuk menangkap,
memanipulasi, atau merakit objek; (c) kemampuan
untuk mengetahui saat terjadinya sesuatu kesalahan
atau mungkin kesalahan yang akan terjadi. (tidak
mencakup pemecahan masalah, tetapi hanya
mengenali ada masalah; (d) Kemampuan untuk
menjaga kestabilan tubuh pada saat tangan dan
lengannya bergerak atau sambil memegang tangan
dan lengan dalam satu posisi; (e) kemampuan untuk
mengatur hal-hal atau tindakan dalam urutan atau
pola tertentu sesuai dengan aturan tertentu atau
seperangkat aturan misalnya pola angka-angka, huruf,
kata, gambar, operasi matematika, (f) kemampuan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

60

untuk menggabungkan informasi-informasi terpisah
untuk membentuk aturan umum atau kesimpulan.
Termasuk mencari hubungan antara munculnya
kejadian-kejadian yang tidak saling terkait, dan (g)
kemampuan mengatasi kondisi darurat di tempat
kerja.
Sikap dalam PML yang dibutuhkan, meliputi: (a)
memiliki keteguhan, (b) perhatian, (c) mampu
bekerjasama,(d) kegigihan, (e) inisiatif, (f)
pengendalian diri, (g) berprestasi, (h) berfikir
analistis, dan (i) dan inovatif.
Berdasarkan hasil validasi dan FGD, rumusan
standar kompetensi PML yang dikembangkan layak
dan dapat digunakan.
4.2 Saran
Dalam menerapkan rumusan kompetensi PML
yang telah dikembangkan, seyogyanga sekolah
melengkapi sarana dan prasarana yang memadai agar
hasilnya lebih optimal.
Desain dan model pengembangan kompetensi
psikomotorik PML yang dikembangkan, dapat
diterapkan pada mata pelajaran yang memiliki
kemiripan karakterisik, terutama untuk menerapkan
kurikulum 2013.
Untuk menggunakan rumusan standar
kompetensi yang dikembangkan, guru seyogyanga di
dalam pembelajaran menerapkan model pembelajaran
yang berbasis saintific, diantaranya discovery
learning, problem based learning, dan project based
learning agar hasilnya optimal.

REFERENSI
[1]. Calhoun, C.C. dan Finch, A.V. (1982). Vocational Education:
Concept and Operations. California: Wads Worth Publishing
Company.
[2]. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Petunjuk Teknis
Penyusunan Perangkat Uji: Ujian Nasional Komponen
Produktif dengan Pendekatan Project Work.
[3]. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (2003). Standar
Kompetensi Nasional Bidang Ketenagalistrikan Jakarta:
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
[4]. Finch, C. dan Crunkilton, J.R. (1984). Curriculum
Development in Vocational and Technical Education:
Planning,Content and Implementation. Boston: Allyn and
Bacon, Inc.
[5]. Fletcher, S. (1992). Competence-Based Assessment
Techniques. Kogan Page, UK.
[6]. Gall, M.D., Gall, J.P. dan Borg, W.R. (2003). Educational
Research : An Introduction. San Fransisco: Pearson
Education.
[7]. Hasan, S.H. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
[8]. Jubaedah, Y. (2005). Telaah Implementasi Pendekatan
Competency Based Training Berdasarkan Standar
Kompetensi Nasional Pada Kegiatan Pembelajaran diSekolah
Menengah Kejuruan Kelompok Pariwisata. Bandung:
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
[9]. Mills, H.R. 1977. Teaching and training. London: The
Macmillan Press, Ltd.
[10]. National Centre For Competency Based Training. (1995).
Developing Competency Based Training Materials. National
Centre For Competency Based Training.
[11]. Oliva, P.F. (1992). Developing the Curriculum. America:
Harper Collins Publishers.
[12]. Pitman, Bell dan Fyfe (2000). Assumptions and Origin of
Competency-Based Assessment : New Challenges for
Teachers. Queensland: Board of Senior Secondary School
Studies.
[13]. Ryan, D.C. 1980. Characteristics of teacher. A Research
study: Their description, comparation, and
appraisal. Washington, DC: American Council of Education.
[14]. Singer,R.N. 1972. The Psychomotor Domain: Movement
behavior. London: Henry Kimton Publisher.
[15]. Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[16]. ________ (2001). Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[17]. Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung
Dunia Pendidikan dan Industri.
http://www.Edubenchmark.com/Diakses tanggal 10
Desember 2009 pukul 16.00
[18]. Usam Sutarja. (2010). Persepsi Industri Terhadap Kompetensi
lulusan SMK Program Keahlian Teknik Otomotif dalam
Memenuhi Tuntutan Kompetensi Kerja
Industri.ttprepository.upi.eduoperatoruploads
[19]. _e0551_060862 _abstract.pdf. Diakses 12 Januari 2013 pukul
19.00
[20]. Wosnop, P.J. (1993). Competency Based Training: How To
Do it For Trainers.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

61

Pengembangan E-book Interaktif Mata Kuliah Elektronika Digital
Lusia Rakhmawati
1
, Dhimas Ardhiansyah Pratama
2
1
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, lusia.rakhmawati@gmail.com
2
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, dhimas.08@gmail.com

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk
menghasilkan media pembelajaran e-book interaktif
yang valid ditinjau dari kriteria materi, media, dan
bahasa sehingga dapat digunakan dalam kegiatan
belajar mengajar pada mata kuliah elektronika digital
di jurusan Teknik Elektro Unesa. Selain itu, juga untuk
mengetahui respon mahasiswa terhadap media
pembelajaran yang dihasilkan. Metode penelitian yang
digunakan adalah pengembangan 4-D yaitu
pendefinisian (define), perancangan (design),
pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate).
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan
melakukan validasi media kepada masing-masing ahli
materi, media, bahasa dan menggunakan lembar angket
mahasiswa, dan tes yang dianalisis menggunakan uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-book interaktif
pada mata kuliah elektronika digital di jurusan Teknik
Elektro Unesa dengan materi setelah UTS sampai UAS
telah valid. Hasil validasi meliputi materi 86,25%,
media 80%, bahasa 80%, hasil angket respon siswa
70,75%.
Kata Kunci - E-book interaktif, media pembelajaran.
I. PENDAHULUAN
Pengertian media sesuai dengan pernyataan
Sadiman, dkk.[8], ialah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa
sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dengan menggunakan media pembelajaran dalam
proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan
membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap
siswa [1]. Sehingga dengan adanya media
pembelajaran ini, diharapkan dosen lebih mudah
dalam menyampaikan materi dengan menggunakan
simulasi pada media dan mahasiswa dapat lebih
mudah memahami materi yang disampaikan.
Dalam taksonomi Leshin, dkk. Terdapat
bermacam-macam media, yaitu media berbasis
manusia, berbasis cetakan, berbasis visual, berbasis
audio visual, dan media berbasis komputer [1]. Sesuai
dengan perkembangan teknologi, media pembelajaran
mengalami perubahan yang cukup signifikan. Media
pembelajaran yang digunakan tidak hanya dalam
bentuk visual ataupun bentuk audio tetapi sudah
berbentuk audio visual. Dari berbagai macam media
yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran,
salah satu bentuk media yang dapat dijadikan pilihan
adalah media berbasis komputer untuk menyajikan
materi sebagai media interaktif. pada penelitian ini,
peneliti akan mengembangkan e-book interaktif yang
dapat digunakan sebagai alternatif dalam kegiatan
belajar mengajar pada mata kuliah elektronika digital.
Mata kuliah elektronika digital adalah mata
kuliah yang membahas konsep dasar teknik digital,
sistem bilangan, gerbang logika, Aljabar boolean,
perancangan rangkaian kombinasional, rangkaian
sekuensial, counter, dan register serta aplikasinya
dalam kehidupan sehari-hari. pada kegiatan
pembelajaran elektronika digital terdapat berbagai
macam buku wajib yang digunakan, namun
kebanyakan mahasiswa hanya mengandalkan slide
PowerPoint yang hanya berisi ringkasan dari materi
sebagai media belajarnya, maka menyebabkan
kurangnya sumber belajar dan apabila dosen
berhalangan hadir untuk memberikan perkuliahan
juga akan menyebabkan tertundanya pembelajaran.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah
media pembelajaran yang mampu menjembatani
permasalahan keterbatasan tersebut dalam proses
belajar mengajar. Berdasarkan uraian di atas, maka
perlu dikembangkan media pembelajaran yang
dikhususkan untuk mata kuliah Elektronika Digital
sebagai alternatif dalam pelaksanaan proses belajar
mengajar sehingga mahasiswa mendapatkan materi
yang utuh dan mendapatkan sumber belajar yang
dapat digunakan ketika dosen berhalangan hadir. dan
diharapkan mampu mendukung sistem pembelajaran
yang sudah ada.
Dalam Encyclopedia Britannica Ultimate
Reference Suite menjelaskan bahwa e-book adalah file
digital yang berisi teks dan gambar yang sesuai untuk
didistribusikan secara elektronik dan ditampilkan di
layar monitor yang mirip dengan buku cetak. Pada
Oxford Advanced Learners Dictionary menyatakan
bahwa e-book adalah buku yang ditampilkan di layar
komputer bukannya dicetak di kertas. Menurut [4] e-
book berisi jaringan unit informasi digital yang terdiri
dari teks, grafik, video, animasi atau suara. Maka e-
book atau electronic book adalah buku dalam bentuk
digital, yang terdiri dari teks, gambar, atau keduanya.
Sehingga hasil dari penelitian ini adalah e-book
yang berisi materi elektronika digital disertai dengan
simulasi yang dapat dan layak digunakan dalam
pembelajaran. Pada e-book interaktif akan disediakan
menu atau link opsional untuk menuju ke bagian atau
materi lain dari e-book. Diharapkan dengan media
yang atraktif dapat menarik minat mahasiswa dalam
belajar pada materi Elektronika Digital. E-book juga
memiliki kelebihan dibandingkan dengan buku cetak
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

62

antara lain lebih mudah disimpan dan mudah
diduplikasi.

II. METODE PENELITIAN
2.1Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan menggunakan model 4-D. dalam
penelitian ini akan dikembangkan media
pembelajaran interaktif pada materi elektronika
digital yang berisi materi dan simulasi rangkaian.
Penelitian pengembangan ini disebut model 4-D
karena proses pengembangannya dibagi menjadi 4
tahapan, yaitu define, design, develop, dan
disseminate atau pendefinisian, perancangan,
pengembangan, dan penyebaran. Langkah-langkah
penelitian dan pengembangan ditunjukkan pada
Gambar 1 [13].

Define
(Pendefinisian)
Design
(Perancangan)
Develop
(Pengembangan)
Disseminate
(Penyebaran)


Gambar 1. Langkah-langkah penelitian 4-D berdasarkan
Thiagarajan, dkk.
2.2 Langkah-Langkah Penelitian
Pada penelitian ini akan dihasilkan produk berupa
media pembelajaran e-book interaktif pada mata
kuliah elektronika digital di jurusan Teknik Elektro
Unesa. Tahapan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendefinisian (define), perancangan (design),
pengembangan (develop), dan penyebaran
(disseminate).
Penjelasan untuk masing-masing tahapan di atas
adalah sebagai berikut:

1. Define (Pendefinisian)
Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan
mendefinisikan tentang hal yang diperlukan untuk
mengembangkan media pembelajaran yang akan
digunakan pada mata kuliah elektronika digital.
Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu
analisis ujung depan (front-end analysis), analisis
pebelajar (learner analysis), analisis tugas (task
analysis), analisis konsep (concept analysis) dan
perumusan tujuan pembelajaran (specifying
instructional objectives) [13].

a. Analisis ujung depan
Analisis ujung depan adalah penelitian pada
masalah dasar yang dihadapi [13]. Dengan analisis ini
akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan
alternatif penyelesaian masalah dasar, yang
memudahkan dalam penentuan atau pemilihan bahan
ajar yang dikembangkan.
Masalah dasar yang dihadapi, berdasarkan
pengalaman penulis, pada kegiatan pembelajaran
elektronika digital terdapat berbagai macam buku
wajib yang digunakan, namun kebanyakan mahasiswa
hanya mengandalkan slide PowerPoint yang hanya
berisi ringkasan dari materi sebagai media belajarnya,
maka menyebabkan kurangnya sumber belajar dan
apabila pendidik berhalangan hadir untuk
memberikan perkuliahan juga akan menyebabkan
tertundanya pembelajaran.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah
media pembelajaran yang mampu menjembatani
permasalahan keterbatasan tersebut dalam proses
belajar mengajar di dalam kelas. Berdasarkan uraian
di atas, maka perlu dikembangkan media
pembelajaran yang dikhususkan untuk mata kuliah
Elektronika Digital sebagai alternatif dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga
mahasiswa mendapatkan materi yang utuh dan
mendapatkan sumber belajar yang dapat digunakan
ketika pendidik berhalangan hadir. dan diharapkan
mampu mendukung sistem pembelajaran yang sudah
ada.

b. Analisis pebelajar
Analisis pebelajar merupakan telaah tentang
karakteristik pebelajar yang sesuai dengan desain
pengembangan perangkat pembelajaran. Analisis
pebelajar dilakukan untuk mendapatkan gambaran
karakteristik pebelajar, antara lain: tingkat
kemampuan atau perkembangan intelektualnya [13].
Rata-rata usia pebelajar pada jurusan Teknik
Elektro angkatan 2011 adalah 19 tahun. Apabila
ditinjau dari tahap perkembangan kognitif Piaget
sudah mencapai tahap operasional formal.
Kemampuan kognitif yang diperoleh pada tahap
operasional formal antara lain berpikir dengan
gagasan-gagasan; yang artinya tidak hanya
menggunakan fakta-fakta tapi juga pernyataan-
pernyataan atau gagasan-gagasan yang berisi data
kongkrit. Dapat menggunakan konsep-konsep abstrak
dengan mudah. Dan pada tahap ini, mereka
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan
membuat kombinasi antar variabel [6].
Sehingga dengan kemampuan kognitif tersebut,
pebelajar mampu memahami simbol-simbol logika
pada materi dan dapat membandingkan dengan
bentuk komponen nyata pada datasheet. Mampu
memahami simulasi berdasarkan penjelasan pada
materi.

c. Analisis tugas
Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi
ketrampilan-ketrampilan utama yang diperlukan akan
dikaji oleh peneliti dan menganalisisnya ke dalam
himpunan ketrampilan tambahan yang mungkin
diperlukan [13].
Analisis tugas untuk media pembelajaran yang
dikembangkan adalah sebagai berikut :
Rangkaian kombinasional, yang mencakup dasar
adder, parallel binary adder, comparator, decoder,
encoder, kode konverter, multiplexer (data selector),
demultiplexer.Tujuan:
- Dapat menggunakan full-adder untuk
multibit paralel binary adder
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

63

- Dapat menggunakan komparator magnitudo
untuk menentukan hubungan antara kedua
bilangan biner dan menggunakan
komparator kaskade untuk membandingkan
bilangan besar
- Dapat mengimplementasikan dasar decoder
biner
- Dapat menggunakan dekoder BCD-to-7-
segment dalam sistem tampilan
- Dapat mengaplikasikan multiplexer pada
seleksi data, multiplexed display,
pembangkitan fungsi logika, dan sistem
komunikasi sederhana
- Dapat menggunakan dekoder sebagai
demultiplexer

Rangkaian sekuensial, yang mencakup SR flip-
flop, D flip-flop, JK flip-flop, Master-Slave flip-flop.
Tujuan:
- Dapat menggunakan gerbang logika untuk
membangun dasar Flip-flop
- Dapat mengaplikasikan Flip-flop dalam
aplikasi-aplikasi dasar
Counter, yang mencakup operasi asynchronous
counter, operasi synchronous counter, up/down
synchronous counter, desain synchronous counter,
cascaded counter. Tujuan:
- Dapat menggunakan up/down counter untuk
membangkitkan urutan biner maju dan
mundur
- Dapat menggunakan kaskade counter untuk
menghasilkan modulo yang besar
- Dapat mendesain counter sesuai deret yang
ditentukan

Register, yang mencakup fungsi dasar register
geser, register serial in/serial out, register serial
in/parallel out, register parallel in/ serial out, register
parallel in/ parallel out , shift register counter.
Tujuannya adalah dapat menggunakan register
sebagai perangkat waktu tunda

d. Analisis konsep
Analisis konsep dilakukan untuk
mengidentifikasi konsep pokok yang akan digunakan,
menyusunnya dalam bentuk hirarki, dan merinci
konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan
yang tidak relevan. Analisis ini membantu
mengidentifikasi kemungkinan contoh dan bukan
contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses
pengembangan [13]
Analisis-analisis yang dilakukan adalah analisis
standar kompetensi berdasarkan GBRP yang
bertujuan untuk mengumpulkan materi yang akan
digunakan dalam menyusun media pembelajaran.
Berdasarkan dosen mata kuliah elektronika digital
belum terdapat e-book yang dikembangkan pada
materi mata kuliah elektronika digital di jurusan
Teknik Elektro Unesa setelah UTS sampai UAS maka
materi yang digunakan adalah rangkaian
kombinasional, rangkaian sekuensial, counter, dan
register dengan rincian sebagai berikut:
Rangkaian kombinasional, yang mencakup dasar
adder, parallel binary adder, comparator, decoder,
encoder, kode konverter, multiplexer (data selector),
demultiplexer. Tujuannya adalah untuk membedakan
antara half-adder dan full-adder
Rangkaian sekuensial, yang mencakup SR flip-
flop, D flip-flop, JK flip-flop, Master-Slave flip-flop.
Tujuan:
- Dapat menjelaskan perbedaan S-R Flip-
flop , D Flip-flop, JK Flip-flop
- Dapat memahami operasi Master- Slave
Flip-flop
- Dapat memahami karakteristik operasi Flip-
flop
Counter, yang mencakup operasi asynchronous
counter, operasi synchronous counter, up/down
synchronous counter, desain synchronous counter,
cascaded counter. Tujuan:
- Dapat menggambarkan perbedaan antara
counter sinkron dan asinkron
- Dapat menganalisa diagram waktu counter
- Dapat menganalisa rangkaian counter
- Dapat menentukan modulo counter
Register, yang mencakup fungsi dasar register
geser, register serial in/serial out, register serial
in/parallel out, register parallel in/ serial out, register
parallel in/ parallel out , shift register counter. Tujuan:
- Dapat mengidentifikasi bentuk dari
pergeseran data pada register
- Dapat menjelaskan operasi register serial
in/serial out, serial in/paralel out, parallel
in/serial out, dan parallel in/parallel out.
Sumber materi yang akan digunakan untuk
membuat e-book adalah buku Teknik Digital
karangan Ir. Wijaya Widjanarka dan buku Digital
Fundamentals, karangan Thomas L. Floyd.

2. Design (Perancangan)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang
media pembelajaran e-book interaktif untuk mata
kuliah elektronika digital di jurusan Teknik Elektro
Unesa dengan rentang materi setelah UTS sampai
sebelum UAS seperti yang telah dijelaskan pada
analisis konsep. langkah yang dilakukan pada tahap
ini dirincikan sebagai berikut:

a. Media selection (Pemilihan media)
Pemilihan media adalah pemilihan media
pembelajaran yang relevan dengan materi. Media
dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep,
karakteristik target pengguna, dan sumber pembuatan
[13]. Pemilihan media dilakukan untuk
mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

64

pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di
kelas.
Pemilihan media yang digunakan berupa media
pembelajaran e-book interaktif di mana dalam media
e-book tersebut tidak hanya berisi tulisan dan gambar,
tetapi terdapat simulasi yang menggambarkan apa
yang dijelaskan pada e-book tersebut. Materi pada
media tersebut disesuaikan dengan GBRP mata kuliah
elektronika digital di jurusan Teknik Elektro di Unesa
dengan rentang setelah UTS sampai sebelum UAS.

b. Format selection (Pemilihan format)
Pemilihan format dalam pengembangan
perangkat pembelajaran ini dimaksudkan untuk
pemilihan media pembelajaran [13]. Format yang
dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik,
memudahkan dan membantu dalam pembelajaran dan
dalam penelitian ini, format yang dipilih adalah
berbasis komputer.
Pada media tersebut terdapat 4 materi yang pada
tiap-tiap materi terdapat tombol navigasi untuk
menuju ke materi selanjutnya atau kembali ke materi
sebelumnya. Dengan panel daftar isi, pengguna dapat
langsung menuju materi manapun. Diagram alur
untuk media pembelajaran tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2.

Halaman Utama
Materi 1 Sub Materi 1
Materi 2 Sub Materi 2
Materi 3 Sub Materi 3
Materi 4 Sub Materi 4
Program
Java Aktif?
Menginstal
Program Java
Tidak
Ya
Menggunakan Media Tanpa Simulasi
Ya
Tidak
Panduan

Gambar 2. Diagram Alur Media Pembelajaran.
c. I nitial design (Rancangan awal)
adalah penyajian dari instruksi melalui media
yang tepat dan dalam urutan yang sesuai
(Thiagarajan, dkk., 1974: 7). Pada tahap ini akan
dilakukan pembuatan media e-book pembelajaran
interaktif. Produk yang akan dihasilkan nanti berupa
e-book media pembelajaran interaktif dengan yang
dijalankan di komputer dengan menggunakan web
browser.

3. Develop (Pengembangan)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk memodifikasi
rancangan desain. media yang telah dihasilkan
dianggap sebagai versi awal yang akan diubah
sebelum dapat menjadi versi akhir yang efektif. Dua
langkah dalam tahap ini adalah sebagai berikut.

a. Expert appraisal (Validasi ahli)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh saran
untuk pengembangan media. Beberapa ahli akan
diminta untuk mengevaluasi media, sehingga dapat
diketahui kelemahannya. Berdasarkan saran dari para
ahli, media akan dimodifikasi untuk membuatnya
lebih tepat, efektif, dan bermanfaat [13].
Data yang diperoleh pada tahap ini dikumpulkan
dengan cara memberikan lembar validasi kepada para
ahli sebagai validator dengan menggunakan
instrumen penelitian. Instrumen penelitian digunakan
untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Instrumen
dalam penelitian ini meliputi lembar validasi untuk
ahli bahasa, ahli materi, dan ahli media.

1) Tahap Validasi Media Pembelajaran
Pada tahap ini, Sebelum diuji cobakan, media
akan divalidasi oleh ahli.
2) Analisis Penilaian Validator
Setelah memperoleh nilai dari hasil validasi, akan
dilakukan analisis terhadap penilaian tersebut.
Penilaian tingkat kevalidan (validitas) media
pembelajaran dan angket respon mahasiswa
dilakukan dengan cara memberikan tanggapan
dengan menggunakan skala Likert di mana setiap
jawaban pada setiap item instrumen mempunyai
gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif
[12].

Dari hasil lembar validasi media pembelajaran
dapat diketahui tingkat kevalidan dari media
pembelajaran yang telah dibuat. Jawaban lembar
validasi yang akan digunakan untuk menilai adalah
sangat valid, valid, cukup valid, tidak valid dan sangat
tidak valid. Kemudian dianalisis dengan menghitung
rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban
validator. Uraian untuk analisis untuk penilaian
validator adalah sebagai berikut:

a. nilai untuk masing-masing skor adalah sebagai
berikut:
5 = Sangat Valid
4 = Valid
3 = Cukup Valid
2 = Tidak Valid
1 = Sangat Tidak Valid
[12]


b. Analisis skor penilaian
Mengalikan banyaknya item penilaian (n) dengan
skor, kemudian menjumlahkan hasilnya. Cara
perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jumlah untuk n item dengan skor 5 = n x 5
Jumlah untuk n item dengan skor 4 = n x 4
Jumlah untuk n item dengan skor 3 = n x 3
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

65

Jumlah untuk n item dengan skor 2 = n x 2
Jumlah untuk n item dengan skor 1 = n x 1
Skor Item =

Setelah diketahui jumlah total, kemudian dihitung
tingkat kevalidan sebagai berikut:







Keterangan :
Skor Ideal = Jumlah Skor Ideal untuk seluruh item
= 5 x n [7].
Langkah berikutnya adalah mengambil
kesimpulan atas hasil rata-rata tingkat kevalidan.
Kriteria interpretasi skor untuk tingkat kevalidan
(validitas) adalah sebagai berikut:
84% nilai < 100% = Sangat Valid
68% nilai < 84% = Valid
52% nilai < 68% = Cukup Valid
36% nilai < 52% = Tidak Valid
20% nilai < 36% = Sangat Tidak Valid

b. Developmental testing (Uji coba pengembangan)
Uji coba produk yang melibatkan pebelajar untuk
memperoleh masukan berupa respon, reaksi, dan
komentar pebelajar terhadap media pembelajaran
yang telah disusun [13]
1) Subyek Penelitian.
Subyek penelitian yang digunakan adalah
mahasiswa yang akan mengikuti mata kuliah
elektronika digital. Pemilihan subyek tersebut karena
belum pernah mendapat materi elektronika digital
untuk mengetahui penilaian dari mahasiswa terhadap
media pembelajaran dan hasil uji coba soal pada
materi yang baru dipelajari. Mata kuliah elektronika
digital adalah mata kuliah untuk prodi elektro
komunikasi (elkom) semester 4 maka diambil sample
mahasiswa elkom semester 3 yaitu kelas elkom 1
angkatan 2011.

2) Pengumpulan data
Tahap uji coba untuk pengumpulan data akan
dilakukan selama 2 jam pelajaran sehingga peneliti
akan menggunakan waktu kuliah pengukuran
elektronika yang terdiri dari 2 SKS. Untuk melakukan
pengumpulan data, mahasiswa dibagikan media
pembelajaran dan diberi waktu 1 jam untuk membaca
media pembelajaran sambil diberi tau akan dilakukan
tes tentang materi register dan mengisi angket respon
tentang media pembelajaran untuk 1 jam terakhir.
Setelah membaca materi selama 1 jam,
mahasiswa dibagikan soal tentang materi register dan
angket respon mahasiswa yang akan diisi selama 1
jam terakhir Analisis Uji Coba Pengembangan
Setelah dilakukan uji coba, akan dilakukan
analisis terhadap hasil uji coba tersebut. Analisis yang
dilakukan adalah analisis hasil angket respon
mahasiswa dan analisis soal uji coba yang akan
dijelaskan di bawah ini.

a) Analisis Hasil Angket Respon Mahasiswa
Setelah memperoleh hasil angket respon
mahasiswa, akan dilakukan analisis terhadap
penilaian tersebut. Penilaian angket respon mahasiswa
dilakukan dengan cara memberikan tanggapan dengan
menggunakan skala Likert di mana setiap jawaban
pada setiap item instrumen mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif [12].
Dari hasil angket respon mahasiswa dapat
diketahui respon mahasiswa terhadap perangkat
pembelajaran yang telah dibuat. Tingkat respon yang
akan digunakan untuk menanggapi media
pembelajaran adalah sangat valid, valid, cukup valid,
kurang valid dan tidak valid. Kemudian dianalisis
dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan
skoring setiap respon mahasiswa. Berikut ini uraian
analisis untuk penilaian dimana nilai untuk masing-
masing skor adalah sebagai berikut:
5 = Sangat Valid
4 = Valid
3 = Cukup Valid
2 = Tidak Valid
1 = Sangat Tidak Valid [7]

Setelah itu, menghitung rata-rata jawaban
berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden:
Setelah diketahui jumlah total, kemudian dihitung
rata-rata tingkat kevalidan sebagai berikut:






Keterangan :
Skor Ideal = Jumlah Skor Ideal untuk seluruh item
= 5 x n
Setelah diketahui rata-rata tingkat kevalidan
untuk tiap rincian penilaian, kemudian dijumlahkan
seluruhnya dan menghitung rata-rata tingkat
kevalidan untuk semua kriteria penilaian





[7].
langkah berikutnya adalah mengambil kesimpulan
atas hasil rata-rata tingkat validitas. Kriteria
interpretasi skor untuk rata-rata tingkat validitas
adalah sebagai berikut:
84% nilai < 100% = Sangat Valid
68% nilai < 84% = Valid
52% nilai < 68% = Cukup Valid
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 5 = n x 5
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 4 = n x 4
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 3 = n x 3
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 2 = n x 2
Jumlah untuk n mahasiswa dengan skor 1 = n x 1
jawaban mahasiswa =
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

66

36% nilai < 52% = Tidak Valid
20% nilai < 36% = Sangat Tidak Valid



4. Disseminate (Penyebaran)
Proses penyebaran merupakan suatu tahap akhir
pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk
mempromosikan produk pengembangan agar bisa
diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok,
atau sistem [13]
Produk yang telah dikembangkan yaitu media
pembelajaran e-book interaktif pada mata kuliah
elektronika digital di jurusan Teknik Elektro Unesa
yang dikemas dalam bentuk CD (Compact Disc).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Media pembelajaran e-book yang dihasilkan
terdiri dari 2 kolom. yaitu kolom sebelah kiri
merupakan daftar isi, terdapat 4 bab utama, yaitu
rangkaian kombinasional, rangkaian sekuensial,
counter, dan register, dan masing-masing bab
memiliki sub-bab. Sedangkan kolom sebelah kanan
merupakan isi materi. Gambar 3 menunjukkan hasil
tampilan e-book.



Gambar 3. Tampilan e-book
Pada isi materi dalam media ini terdapat simulasi
rangkaian digital yang sesuai dengan materi yang
sedang dibahas. Pengguna dapat menggunakan atau
menampilkan simulasi dengan menekan tombol
buka/tutup seperti ditunjukkan pada Gambar 4 dan
Gambar 5.


Gambar 4 Tampilan isi sebelum simulasi ditampilkan.

Gambar 5. Tampilan isi setelah simulasi ditampilkan

Gambar 6. Grafik hasil validasi instrumen penelitian.

IV. KESIMPULAN
Hasil validasi untuk media pembelajaran dan
angket respon mahasiswa menunjukkan bahwa nilai
validasi materi pada media pembelajaran adalah
86,25% dinyatakan sangat valid. Nilai validasi media
adalah 80% dinyatakan valid. Nilai validasi bahasa
pada media pembelajaran adalah 80% dinyatakan
valid. Hasil angket respon mahasiswa terhadap media
pembelajaran adalah 70,85% dinyatakan valid, serta
berdasarkan angket respon mahasiswa menunjukkan
bahwa media yang dikembangkan dapat diterima oleh
mahasiswa baik dalam kriteria media dan simulasi.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

67

REFERENSI
[1]. Arsyad, Azhar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta.
Rajagrafindo Persada.
[2]. Agus, Suprijono. 2009. Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[3]. Dimury , Ricky Ompu. 2011. Pendidikan Merupakan
Kebutuhan. (Online), http://pendidikan-dimasa-yang-
akandatang.blogspot.com/2011/12/pendidikan-merupakan-
kebutuhan.html , diakses 5 Oktober 2012).
[4]. Djan, Ohen. 2003. Personalising Electronic Books. (Online),
(http://journals.tdl.org/jodi/article/viewArticle/88/87, diakses
29 Juli 2012).
[5]. Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran: Sebuah
Penedekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press.
[6]. Nursalim, Mochamad. dkk. 2007. Psikologi Pendidikan.
Surabaya: Unesa University Press.
[7]. Riduwan. 2011. Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.
[8]. Sadiman, S. Arief. dkk. 2007. Media Pendidikan: Pengertian,
Pengembangan, Dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
[9]. Sastrawijaya, Tresna. 1991. Pengembangan Program
Pengajaraan. Jakarta: Rineka Cipta.
[10]. Shiratuddin. 2003. E-Book Technology and Its Potential
Applications in Distance Education. (Online),
(http://journals.tdl.org/jodi/article/viewArticle/90/89, diakses
29 Juli 2012).
[11]. Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1997. Media Pengajaran
(Penggunaan Dan Pembuatannya. Bandung: Sinar Baru.
[12]. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
[13]. Thiagarajan, dkk. 1974. Instruction Development For
Training Teachers Of Exceptional Children. Indiana: Indiana
University.
[14]. ____. 2008. KBBI Daring. (Online),
(http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/, diakses 29 Juli
2012).
[15]. ____. 2009. Interactive media. (Online),
(http://en.wikipedia.org/wiki/Interactivemedia, diakses 29 Juli
2012).
[16]. [_____. 2010. Oxford Advanced Learner's Dictionary 8th
edition [Computer software]. Great Clarendon Street: Oxford
University Press.
[17]. [_____. 2012. Encyclopdia Britannica Ultimate Reference
Suite 2012 [Computer software]. India: Magic Software..
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

69

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menerapkan Model
Pembelajaraan Kooperatif Tipe Group Investigation (Gi)
Berbantuan Software Multisim Untuk Mencapai Kompetensi
Mata Pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan,
Keterampilan Proses dan Keterampilan Sosial
(Studi pada Kelas X SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung)
Nofida Suwita Sari
1
, Ismet Basuki
2
1,2
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya,.
E-mail: Nofida.suwitasari@ymail.com
Abstrak - Tujuan dari penelitian ini adalah
mengembangkan perangkat pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI
berbantuan software Multisim. Penelitian ini juga akan
mendeskripsikan kualitas perangkat pembelajaran yang
ada di sekolah, potensi siswa yang meliputi
keterampilan berfikir dan motivasi berprestasi, kualitas
perangkat pembelajaran GI berbantuan software
Multisim, aktivitas siswa, keterlaksanaan pembelajaran,
respon siswa, dan kompetensi siswa dalam mata
pelajaran DKK yang meliputi hasil belajar kognitif
produk, keterampilan proses, dan keterampilan sosial.
Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap, yakni
(1) studi pendahuluan; (2) mendesain perangkat
perangkat pembelajaran GI dengan mengacu model
pengembangan Research and Development (R & D; (3)
validasi dan revisi; (4) mengujicobakan perangkat
pembelajaran. Rancangan ujicoba menggunakan One-
Group Pretest-Posttest Design.
Temuan hasil penelitian yakni kualitas perangkat
di SMK Negeri 3 Boyolangu cukup baik sehingga
peneliti mengadaptasi perangkat pembelajaran tersebut.
Persentase keterampilan berfikir siswa menujukkan
bahwa 12.5% siswa memiliki keterampilan berfikir
tingkat ingatan dan 87,5% siswa memiliki keterampilan
berfikir tingkat dasar. Persentase siswa yang
menyatakan sangat setuju dengan pernyataan
mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru
dapat menunjang kesuksesan dalam belajar sebesar
69,7% dan setuju sebesar 30,3%, sehingga disimpulkan
siswa memiliki motivasi berprestasi berorientasi sukses.
Hasil valiadasi perangkat pembelajaran menunjukkan
bahwa silabus berkategori baik dengan koefisiean
reliabilitas sebesar 0,862, RPP berkategori baik dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8667, LKS berkategori
baik dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,8947, LP
berkategori baik dengan koefisien reliabilitas sebesar
0,9524. Sedangkan keterlaksanaan pembelajaran dapat
terlaksana dengan kategori baik (rata-rata
keterlaksanaan 3,82%). Aktivitas siwa yang paling
tinggi adalah aktivitas menganalisis sebesar 8,6225%
dan aktivitas memecahkan masalah sebesar 8,105%.
Persentase respon siswa menunjukkan 21,875% siswa
sangat setuju dan 75% siswa setuju dengan pernyataan
belajar dengan model pembelajaran GI membuat siswa
senang dan tertarik terhadap mata pelajaran DKK.
Persentase ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif
produk sebesar 90,625%. Ketuntasan klasikal
keterampilan menggunakan software Multisim sebesar
100%. Ketuntasan klasikal keterampilan proses sebesar
100%. Keterampilan sosial siswa sosial berkategori
tinggi atau memuaskan.
Kata-kata kunci: model pembelajaran kooperatif Group
I nvestigation, software Multisim, eterampilan
proses, dan keterampilan sosial.
I. PENDAHULUAN
Menurut Permendiknas Nomor 54 tahun 2013
Standar Kompetensi Lulusan pada satuan pendidikan
menengah kejuruan bertujuan agar peserta didik
memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang
beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia. Memiliki pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena
dan kejadian. Memiliki kemampuan pikir dan tindak
yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan
konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di
sekolah secara mandiri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per
Agustus 2010, tercatat lulusan SMK yang tidak
terserap dunia kerja jumlahnya mencapai 538.000
orang. Lebih lanjut, banyak dunia usaha atau industri
yang menolak para pelamar yang berasal dari lulusan
SMK karena tidak memenuhi kualifikasi yang
dibutuhkan oleh industri. Ini merupakan fakta bahwa
masih banyak peserta didik yang tidak mampu
menguasai kompetensi yang diharapkan.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh
peneliti, prestasi belajar siswa Teknik Elektronika
Industri di SMK Negeri 3 Boyolangu tahun ajaran
2012/2013 belum seluruhnya mencapai hasil yang
optimal. Penguasaan mata pelajaran Dasar
Kompetensi Kejuruan belum mencapai prestasi yang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

70

optimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal
(KKM) yang telah ditentukan oleh guru berdasarkan
kurikulum sekolah sebesar 75. Lebih lanjut pada
kompetensi keahlian tersebut, diperlukan perangkat
pembelajaran yang berkualitas baik berupa media
pembelajaran maupun bahan ajar (silabus, RPP, LKS,
dan lembar penilaian) sebagai alat bantu dalam
penyampaian materi. Ketersediaan perangkat
pembelajaran yang beragam dan berkualitas
dibutuhkan untuk membantu siswa mencapai
kompetensi yang telah ditentukan. Hal ini sesuai
dengan Permendiknas Nomor 65 Tahun 2013 tentang
standar proses di mana Untuk itu setiap satuan
pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian
proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Lebih lanjut, selain perangkat pembelajaran di
dalam proses pembelajaran diperlukan sebuah model
pengajaran yang baik. Berdasarkan observasi awal
yang dilakukan oleh peneliti, pembelajaran di SMK
Negeri 3 Boyolangu saat ini berbentuk ceramah
(lecturing). Pada saat proses pembelajaran di kelas,
aktivitas siswa sebatas mendengarkan dan membuat
catatan. Guru berperan utama dalam pencapaian hasil
pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya
sumber ilmu. Pola pembelajaran di mana seorang
guru lebih berperan aktif dan tidak memberikan
kesempatan siswa untuk berperan aktif memiliki
efektivitas pembelajaran yang rendah. Pembelajaran
yang diterapkan di SMK Negeri 3 Boyolangu saat ini
lebih berfokus pada pemahaman materi saja daripada
mengajarkan siswa mengaplikasikan pengetahuan
yang diperoleh dalam kehidupan nyata guna
memenuhi tuntutan dunia kerja.
Oleh karena itu diperlukan suatu model
pembelajaran yang inovatif, salah satunya adalah
model pembelajaran kooperatif. Referensi [1]
Suprijono menyebutkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation merupakan salah
satu model pembelajaran kooperatif yang menuntut
pelibatan siswa secara penuh dari awal penentuan
topik pembelajaran sampai evalusi di akhir
pembelajaran, selain itu juga menuntut siswa untuk
memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi dan bekerja kelompok. Pembelajaran
kooperatif tipe ini menekankan pada partisipasi dan
aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi
(informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia hal ini sesuai dengan ide
utama kurikulum 2013 yaitu siswa aktif mencari tahu.
Oleh karena itu model pembelajaran ini cocok
digunakan dalam proses pembelajaran agar siswa
dapat mencapai KKM yang diinginkan serta
menguasai keterampilan-keterampilan lain seperti
keterampilan proses dan keterampilan sosial.
Referensi [2] Inal menyebutkan bahwa
keterampilan proses terdiri dari berpikir kreatif dan
kritis yang berhubungan dengan cara berfikir ilmiah.
Lebih lanjut beberapa penelitian mengakui bahwa
keterampilan proses memiliki hubungan erat dengan
keterampilan berfikir tingkat tinggi. Referensi [3]
Monica dalam studinya menyatakan bahwa
keterampilan proses dan keterampilan berpikir
memiliki hubungan yang erat. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa melatihkan keterampilan proses
pada siswa SMK akan meningkatkan keterampilan
berpikir seperti berpikir kritis, membuat keputusan,
dan memecahkan masalah.
Selanjutnya untuk memenuhi tuntutan dunia kerja
siswa SMK tidak hanya dibekali dengan kemampuan
akademik namun juga harus memiliki keterampilan
sosial yang tinggi. Dengan keterampilan sosial siswa
diharapkan mampu mengembangkan dan
menyesuaikan diri dengan masyarakat dan dunia
kerja.
Dalam bidang pendidikan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi sangat berkaitan dengan
penggunaan hardware dan software. Salah satu
software yang dapat digunakan sebagai media
pembelajaran interaktif adalah Multisim. Software
Multisim ditunjukkan sebagai alat bantu pengajaran
dalam bidang elektronika, program ini dapat
digunakan untuk merancang dan menganalisa
rangkaian tanpa menggunakan breadboard,
komponen nyata atau instrumenasi asli.
Berdasarkan pertimbangan itulah, peneliti ingin
mengembangkan perangkat pembelajaran
menerapkan model pembelajaraan kooperatif tipe GI
berbantuan software Multisim untuk mencapai
kompetensi mata pelajaran DKK, keterampilan
proses, dan keterampilan sosial.
Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan
perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS, LP)
yang mengacu pada kurikulum 2013. Oleh karena itu,
keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari aspek
kualitas dan efektifitas perangkat pembelajaran
tersebut. Perangkat pembelajaran dikatakan
berkualitas apabila berdasarkan penilain ahli
perangkat tersebut telah sepenuhnya menerapkan
kurikulum 2013 serta memperoleh skor validasi yang
tinggi dan memiliki koofesien reliabilitas yang tinggi
pula. Lebih lanjut perangkat pembelajaran dikatakan
efektif apabila dapat meningkatkan kompetensi siswa
pada mata pelajaran DKK (hasil belajar kognitif
produk, keterampilan menggunakan software
Multisim, keterampilan proses, dan keterampilan
sosial) serta efektifitas pembelajaran (keterlaksanaan
pembelajaran, aktivitas siswa, dan respon siswa).

II. KAJIAN PUSTAKA
Sebelum membuat perangkat pembelajaran
Group Investigation berbantuan software Multisim
peneliti melakukan observasi mengenai kualitas
perangkat pembelajaran yang ada di SMK Negeri 3
Boyolangu menggunakan analisis ujung depan (front-
end analysis). Referensi [4] Trianto menyebutkan
bahwa analisis ujung depan bertujuan untuk
memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

71

dihadapi dalam pembelajaran di SMK sehingga
dibutuhkan pengembangan bahan pembelajaran.
Lebih lanjut peneliti melakukan analisis siswa
(learner analysis) yang meliputi keterampilan berfikir
dan motivasi berprestasi. Referensi [5] Nur
menyatakan bahwa istilah berfikir mencakup suatu
rentang proses-proses penalaran dari mengingat
sederhana sampai pemecahan masalah kompleks dan
pengambilan keputusan. Keterampilan berfikir dibagi
menjadi empat, yaitu (1) tingkat ingatan; (2) tingkat
dasar; (3) tingkat kritis; (4) tingkat kreatif.
Keterampilan berfikir yang paling rendah adalah
keterampilan berfikir tingkat ingatan dan
keterampilan berfikir yang paling tinggi adalah
keterampilan berfikir tingkat kreatif.
Referensi [6] Nur menyebutkan bahwa motivasi
adalah suatu komponen paling penting dari
pembelajaran dan satu komponen yang paling sukar
untuk diukur. Motivasi sebagai suatu proses internal
yang mengaktifkan, membimbing, dan
mempertahankan perilaku dalam rentang waktu
tertentu. Lebih lanjut satu jenis motivasi paling tinggi
dalam psikologi pendidikan adalah motivasi
berprestasi atau achievement motivation yaitu
kecenderungan berupaya sampai berhasil dan memilih
kegiatan yang mengarah pada tujuan dan mengarah
pada keberhasilan/kegagalan.
Referensi [7] Kagan menyebutkan bahwa Group
Investigation adalah strategi pembelajaran kooperatif
di mana siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk
"menyelidiki" topik pembelajaran. Model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
terdiri dari beberapa sintaks, yaitu (1)
mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa
ke grup penelitian; (2) perencanaan tugas belajar; (3)
penyelenggaraan investigasi; (4) mempersiapkan
laporan akhir; (5) menyajikan laporan akhir; (6)
evaluasi.
Referensi [8] Muslich menyebutkan bahwa
perangkat pembelajaran adalah kumpulan dari sumber
belajar yang memungkinkan guru dan siswa
melakukan kegiatan pembelajaran. Menurut Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan
pembelajaran meliputi penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media
dan sumber belajar, perangkat penilaian
pembelajaran, dan skenario pembelajaran.
Penyusunan silabus dan RPP disesuaikan pendekatan
pembelajaran yang digunakan.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah silabus merupakan acuan penyusunan
kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian
mata pelajaran. Silabus paling sedikit memuat aspek-
aspek, yaitu (1) identitas mata pelajaran dan identitas
sekolah; (2) Kompetensi Inti (KI) di mana (KI-1)
untuk kompetensi inti sikap spiritual, (KI-2) untuk
kompetensi inti sikap sosial, (KI-3) untuk kompetensi
inti pengetahuan, (KI-4) untuk kompetensi inti
keterampilan; (3) Kompetensi dasar (KD); (4) tema;
(5) materi pokok; (6) pembelajaran; (7) penilaian; (8)
alokasi waktu; (9) sumber belajar.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap
muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP paling
sedikit memuat aspek-aspek, yaitu (1) identitas mata
pelajaran dan identitas sekolah; (2) materi
pembelajaran; (3) alokasi waktu; (4) tujuan
pembelajaran dengan format ABCD dan
mencerminkan kemampuan siswa dalam mencari tahu
dan berfikir tingkat tinggi (higher order thingking);
(5) model pembelajaran yang mengacu pada student
centered active learning; (6) media dan sumber
belajar; (7) langkah-langkah pembelajaran yang
terdiri dari pendahuluan, inti, dan penutup; (8)
penilaian hasil belajar yang autentik (authentic
assessment).
Referensi [4] Trianto menyebutkan bahwa
Lembar Kegiatan Siswa adalah panduan siswa yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan
atau pemecahan masalah. Komponen-komponen LKS
meliputi (1) judul eksperimen; (2) teori singkat
tentang materi; (3) alat dan bahan; (4) prosedur
eksperimen; (5) data pengamatan; (6) pertanyaan dan
kesimpulan untuk bahan diskusi.
Referensi [9] Badan Standar Nasional Pendikan
(BSNP) menjelaskan bahwa penilaian merupakan
serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses
dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan. Referensi [10] Ruseffendi penilaian hasil
belajar peserta didik harus memperhatikan prinsip-
prinsip, yaitu (1) sahih (valid); (2) objektif; (3) adil;
(4) terpadu; (5) terbuka; (6) menyeluruh dan
berkesinambungan; (7) sistematis; (8) akuntabel.
Referensi [11] Arikunto menyebutkan bahwa
penilaian kelas meliputi 7 bentuk, yaitu (1) tes
tertulis; (2) tes lisan; (3) unjuk kerja; (4) produk; (5)
proyek; (6) portofolio; (7) penilaian diri. Dalam
penelitian ini penilaian secara tertulis diterapkan pada
hasil belajar kognitif produk dan keterampilan proses,
penilaian unjuk kerja diterapkan pada hasil belajar
psikomotor yaitu keterampilan menggunakan
software Multisim, serta untuk penilaian diri (secara
pengamatan) diterapkan pada keterampilan sosial.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
41 Tahun 2007 Tentang standar proses menyebutkan
bahwa standar proses adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

72

pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai
kompetensi lulusan. Keterlaksanaan proses
pembelajaran berkaitan erat dengan aktivitas siswa
dan aktivitas guru.
Referensi [12] Mujib menyebutkan bahwa pada
prinsipnya belajar adalah melakukan suatu kegiatan
atau aktivitas untuk mencapai tujuan. Aktivitas
belajar secara kognitif ada pada otak dan hal itu tidak
dapat dilihat secara langsung. Aktivitas belajar secara
psikomotor dan afektif dapat dilihat dari tingkah laku
seseorang yang belajar tersebut.
Referensi [13] Suherman menyatakan bahwa
minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, jika
siswa tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka
tidak dapat diharapkan akan berhasil baik. Jadi jika
siswa belajar sesuai minatnya, maka hasilnya akan
lebih baik.
Lebih lanjut, menurut Permendikbud No. 65
Tahun 2013 tentang Standar Proses menyebutkan
Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup
pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan
pendidikan. Referensi [15] Anderson menyebutkan
bahwa kompetensi menurut dimensi kognitif Bloom
dapat dikalsifikasikan ke dalam dimensi pengetahuan
dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan
terdiri dari (1) fakta (factual); (2) konsep
(konseptual); (3) prosedur (procedural); (4)
metakogitif (metacognitive). Dimensi proses kognitif
dibedakan menjadi (1) mengingat (remember); (2)
memahami (understand); (3) menerapkan (apply); (4)
menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate);
(6) menciptakan (create).
Referensi [4] Trianto menyatakan bahwa
keterampilan proses merupakan keseluruhan
keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif,
maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk
menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori,
untuk mengembangkan konsep yang telah ada
sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan
terhadap suatu penemuan atau flasifikasi.
Referensi [14] Cartledge dan Milburn
menyatakan bahwa social skills are ones or society
number ability with establishing relationship with
other and his problems solving ability with which a
harmoniuous society can be achived.

III. METODE
Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Research and Development (R & D). Referensi
[15] Anderson Borg & Gall, bahwa prosedur
penelitian dan pengembangan pada dasarnya terdiri
dari dua tujuan utama, yaitu (1) pengembangan
produk, (2) menguji kualitas dan efektivitas produk
dalam mencapai tujuan.
Prosedur penelitian dan pengembangan ini terdiri
dari empat tahap, yakni (1) studi pendahuluan; (2)
mendesain perangkat perangkat pembelajaran dengan
mengacu model pengembangan Research and
Development (R & D); (3) validasi dan revisi
perangkat pembelajaran; (4) mengujicobakan
perangkat pembelajaran. Desain Penelitian
ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.


Gambar 1. Desain Penelitian
Aktivitas studi pendahuluan difokuskan pada (1)
meneliti kualitas perangkat pembelajaran yang ada di
SMK Negeri 3 Boyolangu dengan analisis ujung
depan (front-end analysis) di mana dari analisis
tersebut akan diambil keputusan yaitu mengadopsi,
mengadaptasi, atau menolak perangkat pembelajaran
tersebut; (2) meneliti tingkat berfikir siswa dan
motivasi siswa SMK Negeri 3 Boyolangu dengan
analisis siswa (learner analysis).
Mendesain perangkat pembelajaran dilkukan
secara mandiri oleh penulis dengan mengacu pada
hasil studi pendahuluan. Perangkat pembelajaran yang
disusun menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe Group Investigation dan menerapkan kurikulum
2013. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
meliputi (1) silabus yang akan dikembangkan adalah
silabus untuk mata pelajaran Dasar Kompetensi
Kejuruan dengan Kompetensi Dasar menjelaskan
sifat-sifat komponen elektronika pasif dan aktif yaitu
resistor, kapasitor, diode, dan transistor; (2) dibuat 4
RPP untuk 1 kompetensi dasar; (3) LKS yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah LKS
eksperimen yang melatihkan keterampilan proses
meliputi melaksanakan eksperimen, merumuskan
hipotesis, mengidentifikasi variabel, mendefinisikan
operasional variabel, membuat tabel data,
menganalisis, dan menarik kesimpulan; (4) lembar
penelitian yang akan dikembangkan meliputi lembar
penilaian kognitif produk (LP produk), lembar
penilaian keterampilan proses (LP proses), lembar
penilaian psikomotor (LP psikomotor), dan lembar
penilaian keterampilan sosial.
Perangkat pembelajaran draf I yang telah dibuat
diajukan kepada validator yaitu dosen Universitas
Negeri Surabaya dan guru SMK Negeri 3 Boyolangu
yang merupakan pakar dalam bidang perangkat
pembelajaran dan pakar dalam bidang mata pelajaran
tersebut. Setelah di validasi, dapat diketahui










Studi Pendahuluan
1. Analisis Ujung
Depan (front-end
analysis).
2. Analisis Siswa
(learner
analysis).

Instrument
1. Evaluasi
perangkat
pembelajaran.
2. Wawancara,
memberikan
angket, dan
memberikan
tes.
hasil
1. Tingkat kualitas
perangkat yang
ada di SMK
Negeri 3
Boyolangu.
2. Potensi siswa
yang meliputi
keterampilan
berfikir dan
motivasi
berprestasi.
Merancang desain
perangkat
pembelajaran
1. Kerja individu.

Perangkat
Pembelajaran Draf I
Validasi dan revisi
Perangkat
pembelajaran Draf
II
1. Peer rewiew.
2. Kerja individu.
3. Revisi
perangkat
berdasarkan
masukan ahli.
Uji coba empiris
dan revisi
1. Desain uji
coba empiris
OX O
2. Kerja individu
Perangkat
pembelajaran final
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

73

kelemahan dan kekurangan perangkat pembelajaran
draf I sehingga dapat direvisi.
Perangkat pembelajaran draf II di ujicobakan di
SMK Negeri 3 Boyolangu. Ujicoba lapangan
dilakukan untuk memperoleh data berupa
keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas siswa, respon
siswa, dan kompetensi siswa yang meliputi hasil
belajar kognitif produk, keterampilan menggunakan
software Multisim, keterampilan proses, dan
keterampilan sosial. Ujicoba perangkat pembelajaran
dilakukan selama 4 kali pertemuan dengan desain uji
coba empiris yaitu One-Group Pretest-Posttest
Design seperti di tunjukkan oleh Gambar 2 di bawah
ini.

Gambar 2. Desain Uji Coba Empiris
Subjek penelitian ini meliputi tiga kelompok,
yaitu (1) kelompok ahli bidang pembelajaran yang
terdiri dari satu dosen Universitas negeri Surabaya;
(2) kelompok guru yang terdiri dari satu orang guru
mata pelajaran Bahasa Indonesia dan satu orang guru
mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan SMK
Negeri 3 Boyolangu; (3) kelompok peserta didik yaitu
32 siswa kelas X TEI 1 SMK Negeri 3 Boyolangu
Semester Ganjil tahun ajaran 2013/2014.
Pengumpulan data studi pendahuluan yang
meliputi kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu dilakukan dengan teknik
observasi menggunakan instrumen lembar observasi
perangkat pembelajaran SMK Negeri 3 Boyolangu
yang telah divalidasi dengan rata-rata hasil validasi
sebesar 3.67. Sedangkan pengumpulan data tingkat
berfikir siswa dilakukan dengan teknik tes tulis
menggunakan instrumen AKKB (Asesmen
Keterampilan-keterampilan Berfikir) yang diadaptasi
dari adaptasi dari Think Skills Asessment (TSA) dan
untuk memperoleh data motivasi berprestasi
dilakukan dengan teknik angket menggunakan
instrumen angket motivasi siswa yang telah divalidasi
dengan rata-rata hasil validasi sebesar 3.33.
Lebih lanjut pengumpulan data kualitas perangkat
pembelajaran Group Investigation dilakukan dengan
teknik validasi menggunakan instrumen lembar
validasi perangkat pembelajaran menerapkan valitidas
konstruk, validitas isi, validitas muka, dan reliabilitas.
Reliabilitas perangkat pembelajaran di hitung dengan
Rumus percentage of agreement seperti yang
ditunjukkan Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Rumus Reliabiltas Perangkat Pembelajaran

Lebih lanjut pengumpulan data keteralaksanaan
pembelajaran dilakukan dengan teknik observasi
menggunkan instrumen lembar observasi
keteralaksanaan pembelajaran. Pengumpulan data
aktivitas siswa dilakukan dengan teknik observasi
menggunakan instrumen lembar observasi aktivitas
siswa. Pengumpulan data respon siswa dilakukan
dengan teknik angket dengan instrumen angket respon
siswa. Semua instrumen tersebut menerapkan
valitidas konstruk, validitas isi, validitas muka, dan
reliabilitas. Sedangkan untuk rata-rata hasil validasi
masing-masing instrumen berturut-turut adalah
sebesar 3,14; 3,14; 3.4.
Data kompetensi siswa dibagi menjadi 4, yaitu
(1) hasil belajar kognitif produk di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik tes tulis dengan
menggunakan instrumen LP 1 Kognitif Produk
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
butir, validitas muka, dan reliabilitas; (2)
keterampilan menggunakan software Multisim di
mana data tersebut dikumpulkan dengan teknik tes
kinerja dengan menggunakan instrumen LP 3
Psikomotor menerapkan valitidas konstruk, validitas
isi, validitas butir, validitas muka, dan reliabilitas; (3)
keterampilan proses di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik tes tulis dengan
menggunakan instrumen LKS LP 2 Proses
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
butir, validitas muka, dan reliabilitas; (3)
keterampilan sosial di mana data tersebut
dikumpulkan dengan teknik pengamatan dengan
menggunakan instrumen LP 4 Keterampilan Sosial
menerapkan valitidas konstruk, validitas isi, validitas
muka;
Data dari kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu, keterampilan berfikir siswa,
motivasi berprestasi siswa, kualitas perangkat
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation,
keterlakasanaan pembelajaran, aktivitas siswa, dan
respon siswa dianalisis menggunakan teknik analisis
deskriptif. Sedangkan kompetensis siswa yang
meliputi hasil belajar kognitif produk, keterampilan
menggunakan software Multisim, keterampilan
proses, dan keterampilan sosial dianalisis
menggunakan analisis ketuntasan klasikal, analisis
ketuntasan individual, dan analisis ketuntasan tujuan
pembelajaran serta uji t paired sample t-test untuk
mengetahui peningkatan kompetensi siswa sebelum
dan sesudah diberikan perangkan pembelajaran
kooperatif GI berbantuan software Multisim dan one
sample t-test untuk mengetahui apakah kompetensi
siswa memenuhi KKM yang telah ditetapkan sekolah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Tahap 1 Studi Pendahuluan
Perangkat pembelajaran SMK Negeri 3
Boyolangu di telaah oleh satu pakar bidang
pendidikan Teknik Elektro. Berdasarkan penilaian
dan telaah validator tersebut diputuskan untuk
mengadaptasi perangkat pembelajaran di SMK Negeri
3 Boyolangu. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan
diantaranya yaitu, (1) bahan ajar tidak disertai daftar
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

74

tujuan pembelajaran; (2) tujuan pembelajaran sangat
ambigu dan terlampau luas; (3) kondisi materi yang
digunakan cukup terbaru; (4) tujuan pembelajaran
tidak menggunakan format ABCD; dll.
Setelah dilakukan tes keterampilan berfikir
diperoleh informasi secara umum tentang
keterampilan berfikir siswa yaitu 12,5% siswa
memiliki keterampilan berfikir tingkat ingatan, 87,5%
siswa memiliki keterampilan berfikir tingkat dasar.
Lebih lanjut tidak ada siswa yang memilki
keterampilan berfikir tingkat kritis dan tingkat kreatif.
Berdasarkan hasil analisis angket motivasi
berprestasi diketahui bahwa persentase siswa yang
menyatakan sangat setuju pada pernyataan
mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru
dapat menunjang kesuksesan dalam belajar adalah
sebesar 69,7% sedangkan yang menyatakan setuju
adalah 30,3%. Lebih lanjut siswa menyatakan sangat
setuju pada pernyataan bahwa semua mata pelajaran
itu penting adalah sebesar 54,5% sedangkan yang
menyatakan setuju sebesar 39,4%. Berdasarkan data
tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki
motivasi berorientasi sukses.
3.2 Tahap 2 Merancang Desain Perangkat
Pembelajaran
Berdasarkan data hasil studi pendahuluan,
peneliti membuat perangkat pembelajaran dengan
mencantumkan beberapa aspek, yaitu (1)
pengembangan perangkat pembelajaran mengacu
pada kuurikulum 2013; (2) penggunaan bahasa yang
tidak teralu rumit sehingga siswa mudah memahami
materi yang diberikan oleh guru; (3) memberikan
gambaran secara nyata mengenai materi yang
diajarkan dalam bentuk gambar atau simulasi
menggunakan software sehingga pemahaman siswa
bisa tidak abtrak; (4) penyajian materi dengan
gambar-gambar yang menarik dan jelas sehingga
siswa tertarik untuk mempelajari materi tesebut.
3.3 Tahap 3 Validasi dan Revisi
Silabus yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8621 sehingga silabus
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan silabus berkatagori valid
dan reliabel.
RPP yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8667, sehingga RPP
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan RPP berkatagori valid
dan reliabel.
LKS yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,8947, sehingga LKS
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan LKS berkatagori valid
dan reliabel.
LP yang dikembangkan berkatagori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,9524 sehingga LP
tersebut dapat digunakan. Lebih lanjut instrumen
lembar validasi dan masukan LP berkatagori valid
dan reliabel
3.4 Tahap 4 Uji Coba Empiris dan Revisi
Secara umum keterlaksanaan pembelajaran dalam
penelitian ini dapat dikatagorikan baik (rata-rata
keterlaksanaan 3.82). Selanjutnya untuk perhitungan
reliabilitas, secara berturut-turut dari pertemuan
pertama sampai pertemuan keempat diperoleh nilai
0,74; 0,79; 0,84; dan 0,89 sehingga dapat diperoleh
realibilitas rata-rata sebesar 0,82.
Aktivitas yang paling tinggi adalah aktivitas
mental yaitu aktivitas menganalisis sebesar 8,62%
dan aktivitas memecahkan masalah sebesar 8,11%.
Lebih lanjut aktivitas siswa mendengarkan penjelasan
guru dan memperhatikan penjelasan guru adalah
sebesar 7,32% dan 7,44%. Lebih lanjut siswa
melakukan aktivitas mencatat sebesar 7,52%,
menanggapi sebesar 6,71%, melakukan pengamatan
sebesar 70,7%, menghargai pendapat teman sebesar
6,98%.
Persentase siswa sangat setuju dengan pernyataan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe GI
membuat siswa mudah memahami materi
pembelajaran adalah sebesar 21,88% sedangkan yang
menyatakan setuju adalah sebesar 71,88%. Lebih
lanjut persentase siswa menyatakan sangat setuju
dengan pernyataan bahwa software Multisim dapat
membantu siswa belajar merakit komponen
elektronika dengan mudah dan efisien adalah sebesar
53,12% sedangkan yang menyatakan setuju adalah
sebesar 46,88%. Selanjutnya persentase siswa
menyatakan sangat setuju dengan pernyataan bahwa
siswa senang dengan keterampilan proses yang
diajarkan oleh guru karena dengan keterampilan
proses siswa dapat melakukan sebuah penelitian dan
membuat kesimpulan adalah sebesar 40,63%
sedangkan yang menyatakan setuju adalah sebesar
59,37%.
Untuk data kompetensi siswa dapat dilihat pada
Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Data Kompetensi siswa
Jenis Kompetensi
Ketuntasa Klasikal
Pretest Postest
Hasil belajar kognitif produk 0% 90,625%
Keterampilan menggunakan
software Multisim
0% 100%
Keterampilan proses 0% 100%

Pada data hasil belajar kognitif produk 28 siswa
secara klasikal dikatakan tuntas dengan persentase
ketuntasan sebesar 90,625%. Indikator 1 sampai 7
tuntas dan indikator 9-11 tuntas sedangkan untuk
indikator 8 tidak tuntas. Indikator dikatakan tuntas
apabila proporsi skor yang diperoleh siswa 0,75.
Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas
diketahui bahwa data bersifat tidak normal dan tidak
homogen oleh karena itu data harus tidak bisa
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

75

dianalisis menngunakan uji t paired sample t-test dan
one sample t-test sehingga harus diuji non parametrik
yang setara dengan uji t yaitu sign test dan binomial
test. Dari uji sign test diperoleh nilai Z sebesar -5.480
dan signifikansi sebesar 0.000 sehingga H
0
ditolak
dan H
1
diterima dan dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil
belajar kognitif produk siswa sebelum dan sesudah
diberikannya model pembelajaran kooperatif GI. Dari
uji Binomial diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000
sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima dan dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif produk
siswa > KKM yang ditentukan sekolah yaitu 75.
Pada keterampilan menggunakan software
Multisim seluruh siswa mendapatkan nilai 75. Hal
ini menunjukkan bahwa skor keterampilan
menggunakan software Multisim yang diperolah oleh
32 orang siswa secara klasikal dapat dikatakan tuntas
dengan presentase 100%. Seluruh indikator soal di tes
keterampilan tuntas karena proporsi skor yang
diperoleh siswa pada setiap indikator 0,75.
Pada data keterampilan proses 32 siswa secara
klasikal dikatakan tuntas dengan persentase
ketuntasan sebesar 100%. Indikator 1 sampai 10
Indikator dikatakan tuntas apabila proporsi skor yang
diperoleh siswa 0,75. Berdasarkan uji normalitas
dan homogenitas diketahui bahwa data bersifat tidak
normal dan tidak homogen oleh karena itu data harus
tidak bisa dianalisis menngunakan uji t paired sample
t-test dan one sample t-test sehingga harus diuji non
parametrik yang setara dengan uji t yaitu sign test dan
binomial test. Dari uji sign test diperoleh nilai Z
sebesar -5.480 dan signifikansi sebesar 0.000
sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima dan dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara keterampilan proses siswa sebelum
dan sesudah diberikannya model pembelajaran
kooperatif GI. Dari uji Binomial diperoleh nilai
signifikansi sebesar 0.000 sehingga H
0
ditolak dan H
1

diterima dan dapat disimpulkan bahwa keterampilan
proses siswa > KKM yang ditentukan sekolah yaitu
75.
Keterampilan sosial bertanggung jawab
mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.00 atau berada
pada kategoti tinggi (memuaskan), keterampilan
sosial menyumbang ide atau berpendapat
mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.10 atau berada
pada kategori tinggi (memuaskan), keterampilan
sosial menjadi pendengar yang baik mendapatkan
skor rata-rata sebesar 3.14 atau berada pada kategori
tinggi (memuaskan), dan keterampilan sosial
bekerjasama mendapatkan skor rata-rata sebesar 3.09
atau berada pada kategori tinggi (memuaskan).
Pembahasan
Tingkat kualitas perangkat pembelajaran SMK
Negeri 3 Boyolangu yang masih kurang disebabkan
oleh pembuatan perangkat pembelajaran di SMK
tersebut belum mengacu pada Standar Isi Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sebagian besar siswa berada pada tingkat berfikir
dasar di mana siswa yang memiliki tingkat berfikir
dasar hanya sekedar bisa menguasai pemahaman dan
penalaran konsep-konsep matematika seperti
penjumlahan atau pengurangan dan aplikasinya dalam
masalah-masalah serta memahami konsep dan
mengenali suatu konsep ketika konsep tersebut berada
dalam suatu setting.
Siswa memiliki motivasi berorientasi sukses,
berorientasi kedepan, suka tantangan, dan tangguh.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa
memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Hal ini
sangat bagus karena motivasi adalah suatu komponen
yang paling penting dari pembelajaran. Dengan
adanya motivasi yang tinggi siswa akan terdorong
untuk mengikuti pembelajaran.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan
meliputi Silabus, RPP, LKS, LP di mana perangkat
pembelajaran tersebut secara umum dapat
dikategorikan baik dan reliabel. Dalam hal ini
perangkat pembelajaran dapat memiliki kualitas yang
baik karena dalam pengembangannya perangkat
pembelajaran mengacu pada metode Research and
Development (R & D) dan Permendiknas No.65
Tahun 2013.
Lebih lanjut berdasarkan data keterlaksanaan
pembelajaran, didapat data bahwa semua sintaks pada
model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation dapat dilaksanakan dan mendapatkan
skor yang baik sehingga sehingga RPP yang
dikembangkan memberikan kemudahan bagi guru
untuk mengajar dan menyampaikan materi serta
memberikan kemudahan siswa untuk berhasil
menyelesaikan pembelajaran.
Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
didominasi oleh aktivitas keterampilan proses. Dari
data tersebut diketahi bahwa aktivitas yang paling
tinggi adalah aktivitas mental yaitu aktivitas
menganalisis sebesar 8.6225% dan aktivitas
memecahkan masalah sebesar 8.105%. Aktivitas ini
membuktikan bahwa siswa terlibat aktif pada proses
pembelajaran terutama pada proses pembelajaran
keterampilan proses. Keterlibatan siswa secara aktif
dalam pembelajaran menunjukkan bahwa pola
pembelajaran yang dilaksanakan di kelas berpusat
pada siswa (student centered active learning) sesuai
dengan penyempurnaan kurikulum 2013.
Menurut data respon siswa dalam proses
pembelajaran siswa merasa senang karena diberikan
kesempatan untuk menanggapi, mengingatkan,
bertanya kepada teman atau guru. Hal ini sesuai
dengan tujuan pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI), yaitu tidak hanya menuntut
pelibatan siswa secara penuh dari awal sampai
evaluasi di akhir pembelajaran, namun juga menuntut
siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi dan bekerja kelompok.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

76

Keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi
yang diharapkan ini didukung oleh beberapa hal, yaitu
(1) ketersediaan perangkat pembelajaran yang utama
yang meliputi Silabus, RPP, LKS, dan LP yang baik
dan reliabel yang mengacu pada kurikulum 2013
dengan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu
dan/atau saintifik dan/atau inkuiri serta melatihkan
siswa untuk mencari tahu; (2) kemudahan guru dalam
melaksanakan pembelajaran sehingga pembelajaran
dapat berlangsung dengan baik; (3) keterlibatan siswa
secara aktif dalam pembelajaran; (4) respon positif
siswa; (5) indikator soal yang dibuat mencerminkan
HOT (Higher Order Thingking); (6) menggunakan
penilaian secara autentik.

V. PENUTUP
Kualitas perangkat pembelajaran kooperatif tipe
Group Investigation berbantuan software multisim,
yaitu (1) silabus yang dikembangkan berkategori baik
atau berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik)
dengan reliabilitas sebesar 0,86 di mana instrumen
telaah dan masukan silabus berkatagori valid dan
reliabel; (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang dikembangkan berkategori baik atau
berada pada tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan
reliabilitas sebesar 0.86 di mana instrumen telaah dan
masukan RPP berkatagori valid dan reliabel; (3)
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dikembangkan
berkategori baik atau berada pada tingkat kualitas
yang tinggi (baik) dengan reliabilitas sebesar 0.89 di
mana instrumen telaah dan masukan LKS berkatagori
valid dan reliabel; (4) Lembar Penilaian (LP) yang
dikembangkan berkategori baik atau berada pada
tingkat kualitas yang tinggi (baik) dengan reliabilitas
sebesar 0.95 di mana instrumen telaah dan masukan
LP berkatagori valid dan reliabel.
Perangkat pembelajaran menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
berbantuan software Multisim ini telah terbutkti dapat
meningkatkan hasil belajar kognitif produk,
keterampilan menggunkan software Multisim,
keterampilan proses, dan keterampilan sosial sehingga
guru dapat mengadopsi dan berlatih untuk
menerapkan perangkat pembelajaran ini di sekolah.
Selain itu guru diharapkan terus mengembangkan
perangkat pembelajara yang berkualitas yang
menerapkan media lain yang inovatif yang menunjang
proses belajar siswa.

REFERENSI
[1]. A. Suprijono, Cooperatif learning teori dan aplikasi paikem.
Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009.
[2]. A. Inal, Assessing basic science prosess skills in practical
science and technology using simple manufacture objects,
Australian Journal of Engineering Education, pp.6, 2003.
[3]. K. M.M. Monica, Development and validation of a test of
integrated science process skills for the further education and
training learners, Dissertation, Faculty of Natural and
Agricultural Science University of Pretoria South Africa,
2005.
[4]. Trianto, Model pembelajaran terpadu: konsep, strategi, dan
implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
[5]. M. Nur, dkk, Pemetaan kemampuan logika, keterampilan
proses dan keterampilan berfikir siswa dan guru YLPI Al-
Hikmah. Surabaya: Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Negeri Surabaya, 2009.
[6]. M. Nur, Pemotivasian siswa untuk belajar. Surabaya: Pusat
Sains dan Matematika Universitas Negeri Surabaya, 2008.
[7]. S. Kagan, M. Kagan, Kagan cooperative learning. San
Clemente: Kagan Publishing, 2009.
[8]. M. Muslich, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2007.
[9]. BSNP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar
dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas, 2007.
[10]. E.T. Ruseffendi, Statistika penilisan karya ilmiah. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia, 1998.
[11]. S. Arikunto, Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara, 2012.
[12]. A. I. Mujib, Keefektifan pembelajaran kooperatif dengan
pendekatan strukturak di SMU, Program Pasca Sarjana
Universitas Negeri Surabaya, 2004.
[13]. E. Suherman, Evaluasi proses dan hasil belajar matematika.
Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdikbud, 1993.
[14]. G. Cartledge, & Milburn, J.F, Teaching sosial skill to
children. New York: Pergamon Press, 1993.
[15]. L. W. Anderson, Krathwohl, D.R & Bloom, B.S, Taxonomy
for learning, teaching and assessing: a revision of blooms
taxonomy of educational objectives. NY: Addison Wesley
Longman Inc, 2001.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

77

Kompetensi Mahasiswa Unesa Sebagai Calon Guru Dalam
Merencanakan Pembelajaran
Meini Sondang Sumbawati
1
, Sudarmono
2
1,2
Jurusan Teknik Elektro, Unesa
Abstrak-Beberapa kelemahan mahasiswa S1
Pendidikan Teknik Elektro pada mata kuliah
Perencanaan Pengajaran semester genap tahun
2011/2012, diantaranya: (1) mahasiswa belum mengerti
silabus dan RPP, (2) mahasiswa lemah dalam
penguasaan kompetensi dasar kejuruan Teknik Audio
Video, sehingga mahasiswa kesulitan dalam menyusun
perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS, modul dan
lembar penilaian yang mencerminkan penguasaan
teknik audio video, (3) mahasiswa belum memahami
keterampilan mengajar. Di sisi lain, mahasiswa wajib
lulus mata kuliah Perencanaan Pengajaran sebagai
persyaratan untuk menempuh mata kuliah PPL
(Program Pengalaman Lapangan). Rumusan masalah
penelitian ini adalah: (1) bagaimana upaya mahasiswa
S1 Prodi Elektronika Komunikasi 2010 Unesa
menyusun perencanaan pembelajaran dengan Model
Pembelajaran Langsung (MPL) dan Model
Pembelajaran Kooperatif (MPK)? (2) Bagaimana hasil
belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika Komunikasi
2010 Unesa dalam mensimulasikan model MPL dan
MPK di kelas?
Subyek penelitian adalah mahasiswa S-1 Program
Studi Elektronika Komunikasi Jurusan Pendidikan
Teknik Elektronika angkatan 2010 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran. Jenis penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan
pendekatan siklus berkelanjutan sebanyak tiga siklus,
siklus pertama digunakan sebagai dasar perbaikan pada
siklus kedua, dan siklus ketiga merupakan perbaikan
siklus ke dua. Simpulan: (1) penyusunan perencanaan
pembelajaran dengan Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK)
dalam bentuk RPP dan perangkat pembelajaran 85%
baik, setelah melalui pembimbingan yang intensif dan
beberapa kali revisi, dan kemudian disimulasikan; (2)
Hasil belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa dalam mensimulasikan model
MPL dan MPK di kelas, 18 orang (32%) mendapatkan
nilai tertinggi yaitu A, sedangkan nilai terendah B (9%).
Saran: (1) pembelajaran untuk materi pendidikan,
sebaiknya diajarkan secara terintegrasi, artinya
pengertian tentang materi pendidikan
diimplementasikan dengan materi keteknikannya; dan
(2) penguasaan materi Teknik Audio Video perlu terus
ditingkatkan.
Kata Kunci: Pembelajaran; RPP, PTK
I. PENDAHULUAN
Mahasiswa pada dasarnya memiliki potensi untuk
dikembangkan. Untuk itu, sangat diharapkan peran
dosen untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
mahasiswa. Salah satu cara adalah mengelola
pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk lebih aktif dan kreatif, baik
dalam menemukan ide dan gagasan, menyelesaikan
masalah dengan mengekspresikan segala potensi yang
dimilikinya.
Perguruan tinggi akan mencetak lulusan-lulusan
yang berdaya tinggi dan produktif agar mereka dapat
hidup sukses di masa depan dan mampu menghadapi
perubahan-perubahan. Dengan kata lain, manusia
yang berdaya adalah manusia yang produktif,
sedangkan manusia produktif adalah manusia yang
mampu memperbaiki kualitas hidupnya (Sondang,
2002). Unesa sebagai penyelenggara pendidikan di
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
mendapat amanat mencetak calon-calon guru untuk
mencerdaskan anak bangsa, yang menguasai
pengetahuan dan keterampilan sebagai kecakapan
hidup yang dapat dijadikan sebagai sumber
penghidupan. Jurusan Teknik Elektro yang mencetak
lulusan sebagai calon guru SMK, dituntut mampu
membekali mahasiswa untuk memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan sikap keguruan, yang dipadukan
dengan keahlian kejuruan. Sesuai dengan amanat UU
Guru dan Dosen, maka setiap calon guru harus
menguasai kompetensi pedagodi, kepribadian,
profesional, dan sosial, dan mampu mengikuti
kemajuan ipteks dan perkembangan dunia pendidikan.
Bagaimana menyiapkan guru yang baik, menguasai
konsep keilmuan, mampu mengelola pembelajaran,
menghargai kemampuan setiap individu, dan dapat
berinteraksi dengan siswa secara efektif.
Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro pada
semester genap tahun 2011/2012 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran telah ditemukan
beberapa kelemahan, diantaranya: (1) belum
memahami silabus dan RPP, dan (2) lemah dalam
penguasaan kompetensi dasar kejuruan Teknik Audio
Video, (3) belum memahami keterampilan mengajar.
Kelemahan tersebut berdampak pada kesulitan untuk
menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS
dan Lembar Penilaian yang penyusunannya
terintegrasi dengan penguasaan teknik audio video.
Masalah atau kelemahan mahasiswa tersebut
perlu diatasi melalui penelitian tindakan kelas ini,
karena mahasiswa wajib lulus mata kuliah
Perencanaan Pengajaran sebagai persyaratan untuk
menempuh mata kuliah PPL (Program Pengalaman
Lapangan). Standar kompetensi mata kuliah
Perencanaan Pengajaran yang tercermin pada GBPP
(Garis Besar Program Perkuliahan) adalah
mengembangkan perangkat RPP yang mengacu
Spektrum Keahlian di SMK dengan menggunakan
model-model pembelajaran yang inovatif. Model
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

78

pembelajaran yang wajib dipahami dan mampu
diterapkan yaitu Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK).
Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1)
bagaimana hasil belajar mahasiswa S1 Prodi
Elektronika Komunikasi 2010 Unesa dalam
mensimulasikan model MPL dan MPK di kelas? (2)
bagaimana upaya mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa menyusun perencanaan
pembelajaran dengan Model Pembelajaran Langsung
(MPL) dan Model Pembelajaran Kooperatif (MPK)?
Pemecahan masalah yang direncanakan dalam
penelitian ini, yaitu melakukan pembimbingan
penyusunan perangkat pembelajaran melalui beberapa
tahap:
- mahasiswa mendeskripsikan landasan
teoretis dan empiris MPL dan MPK;
- mendeskripsikan lingkungan pembelajaran
MPL dan MPK;
- mendeskripsikan asesmen dan evaluasi
MPL dan MPK;
- mengamati VCD MPL dan MPK;
- mahasiswa diberi tugas untuk mencari
silabus SMK Kejuruan Teknik Audio Video
yang berlaku pada SMK di Surabaya atau
Sidoarjo, dan kemudian menyusun RPP
dengan memilih standar kompetensi (SK)
dan kompetensi dasar (KD);
- mengembangkan perangkat RPP dengan
model pembelajaran MPL dan MPK pada
kompetensi keahlian Teknik Audio Video
dengan bimbingan dosen secara intensif;
- mendiskusikan RPP, untuk mengetahui
tingkat pemahaman mahasiswa tentang
materi teknik audio video.
- mengembangkan perangkat RPP yaitu LKS,
dan Lembar Penilaian beserta kunci
jawaban.
- Mensimulasikan model MPL dan MPK
sesuai dengan perangkat RPP yang disusun.
1.1 Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui
bagaimana hasil belajar mahasiswa S1 Prodi
Elektronika Komunikasi 2010 dalam mensimulasikan
perangkat pembelajaran model MPL dan MPK di
kelas. (2) untuk mengetahui bagaimana upaya
mahasiswa S1 Prodi Elektronika Komunikasi 2010
Unesa menyusun perangkat pembelajaran RPP
dengan menerapkan model Pembelajaran langsung
(MPL) dan model pembelajaran Kooperatif (MPK).
1.2 Kontribusi Penelitian
- Memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran, khususnya mata kuliah
Perencanaan Pengajaran yang indikator
keberhasilannya adalah mahasiswa dapat
menyusun perangkat pembelajaran yang
sesuai dengan Spektrum Keahlian di SMK.
- Meningkatkan pemahaman dan
keterampilan mahasiswa dalam penguasaan
teknik audio video.
- Membimbing mahasiswa untuk praktik
mengajar dengan model MPL dan MPK
melalui simulasi mengajar di kelas sesuai
dengan perangkat pembelajaran yang
disusun.

II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran
Learning is the process through which we
become the human beings we are, the process by
which we internalize the external world and through
which we construct our experiences of that world
(Peter Jarvis, John Holford, & Colin Griffin, 2003).
Pembelajaran atau proses belajar mengajar
mempunyai makna lebih luas dari mengajar, artinya
ada serangkaian kegiatan antara guru dan siswa atas
dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam
situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Moh.
Uzer Usman, 1994). Pembelajaran adalah upaya
untuk membelajarkan orang (siswa, mahasiswa,
peserta diklat), atau upaya untuk membuat orang
menjadi belajar. Pembelajaran atau proses belajar
mengajar mempunyai makna lebih luas dari mengajar,
artinya ada satu kesatuan kegiatan antara dosen yang
mengajar dan mahasiswa yang belajar untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam kegiatan
pembelajaran tugas dosen secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) merencanakan
pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran, dan
(3) mengevaluasi proses pembelajaran dan hasil
belajar. Ketiga kegiatan tersebut merupakan kegiatan
yang saling kait-mengkait dan tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya. Dalam konteks
tersebut perencanaan pembelajaran merupakan
kegiatan yang paling strategis, karena pelaksanaan
dan evaluasi pembelajaran sebagian besar bergantung
pada perencanaan pembelajaran yang telah dibuat
sebelumnya. Menurut Nawawi (2003), perencanaan
yaitu (1) perencanaan adalah pemilihan sejumlah
kegiatan untuk ditetapkan sebagai keputusan tentang
apa yang harus dilakukan, kapan, dan bagaimana
melaksanakannya, serta siapa pelaksananya, (2)
perencanaan adalah penetapan secara sistematik
pengetahuan tepat guna untuk mengontrol dan
mengarahkan kecenderungan perubahan menuju
tujuan yang telah ditetapkan, (3) perencanaan adalah
kegiatan persiapan yang dilakukan melalui perumusan
dan penetapan keputusan, yang berisi langkah-
langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan
suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan
tertentu.
2.2 Model-Model Pembelajaran
Model adalah bagian dari struktur pembelajaran
yang memiliki cakupan yang luas. Di dalamnya
terdapat pendekatan, strategi, metode, dan teknik
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

79

(DBE2-USAID, 2010). Salah satu aspek penting dari
sebuah model pembelajaran adalah sintaks, yang
merupakan langkah-langkah baku yang harus
ditempuh dalam implementasi model tersebut. Sintaks
ini seharusnya tercermin dalam langkah-langkah
pembelajaran khususnya yang dirinci dalam kegiatan
inti pembelajaran. Seel & Dijkstra (2004)
mengungkapkan bahwa: instruction refers to methods
of teaching and the learning activities used to help
students master the content and objectives specified
by a curriculum and attain the standards that have
been prescribed. Instruction encompasses the
activities of both teachers and students. It can be
carried out by a variety of methods, sequences of
activities, and topic orders. Mohamad Nur (2011b)
juga mengungkapkan hal yang sama tentang istilah
model pengajaran yang mempunyai empat ciri khusus
yaitu (1) rasional teoritik yang logis dan kuat yang
disusun oleh pengembangnya, (2) landasan pemikiran
tentang apa dan bagaiman siswa belajar, (3) tingkah
laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut
dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan (4)
lingkungan belajar yang diperlukan.

1. Model Pembelajaran Langsung
Model Pembelajaran Langsung (MPL) atau
model pengajaran langsung (direct instruction)
bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi prilaku dan
teori belajar sosial khususnya tentang permodelan
(modelling). Tujuan model Pembelajaran Langsung
adalah (1) membantu mahasiswa untuk memperoleh
pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang
bagaimana melakukan sesuatu, (2) membantu untuk
memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan
tentang sesuatu (Kardi dan Nur, 2005). MPL
dirancang untuk membelajarkan siswa tentang
pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan dapat
diajarkan secara langkah-demi-langkah, sehingga
tidak dimaksudkan untuk mengembangkan
keterampilan sosial dan berpikir tingkat tinggi (Nur,
2011b:17).

2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang menuntut kerjasama siswa dan
saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan,
dan hadiah (Ibrahim, M dkk., 2000). Muhamad Nur
(2011a) mengungkapkan bahwa model pembelajaran
kooperatif (MPK) dapat digunakan guru setiap hari
untuk membantu siswa belajar mulai dari
keterampilan-keterampilan dasar sampai pemecahan
masalah yang kompleks. Tiga konsep utama dalam
MPK, yaitu: (1) penghargaan tim, (2) tanggung jawab
individual, dan (3) kesempatan yang sama untuk
berhasil. Menurut Wina Sanjaya (2006) ada empat
unsur pokok dalam strategi pembelajaran kooperatif,
yaitu (1) adanya peserta dalam kelompok, (2) adanya
aturan kelompok, (3) adanya upaya belajar setiap
anggota kelompok, dan (4) adanya tujuan yang harus
dicapai.
Dalam pembelajaran MPK tipe Jigsaw, berbagai
materi disajikan kepada mahasiswa dalam bentuk
teks, dan setiap mahasiswa dalam kelompok
bertanggung jawab mempelajari satu bagian materi.
Anggota tim yang berbeda dan memiliki materi sama
berkumpul membentuk tim ahli untuk belajar dan
saling membantu mempelajari materi tersebut.
Mereka lalu kembali ke kelompok awal dan
menjelaskan sesuatu yang telah mereka pelajari dalam
pertemuan tim ahli. (Ibrahim, 2005: 21-22). Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share,
dosen mengajukan pertanyaan atau isu dan meminta
setiap mahasiswa memikirkan jawaban atau
penjelasannya. Selanjutnya, mahasiswa diarahkan
untuk berpasangan dan mendiskusikan jawaban atau
penjelasan tadi. Beberapa pasangan mahasiswa,
diminta menyampaikan kepada mahasiswa lainnya
secara klasikal, tentang hasil yang telah didiskusikan
dalam pasangan mereka (Ibrahim, 2005: 26-27).
2.3 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran seperti silabus dan
rencana pembelajaran, alat evaluasi merupakan
prasyarat yang sangat penting disusun,
dikembangkan, dan disiapkan oleh guru dan dosen.
Silabus terdiri dari perencanaan tugas dan jadwal
aktivitas setiap pelajaran selama kurun waktu tertentu.
Silabus terdiri dari hal-hal yang terkait waktu, tempat,
siswa, sumber yang tersedia, dan alat evaluasi yang
akan digunakan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) merupakan rencana mengajar guru yang
mengimplementasikan suatu model pembelajaran
tertentu, sehingga aktivitas guru tercermin sesuai
sintaks model pembelajaran yang dipilih, demikian
juga kegiatan siswanya mencerminkan bagaimana
perilaku model yang dipersyaratkan. Pengembangan
RPP dan perangkat pembelajaran lainnya, merupakan
tugas guru, sebagai salah satu kompetensi yang wajib
dimiliki.

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah mahasiswa S-1 Program
Studi Elektronika Komunikasi Jurusan Pendidikan
Teknik Elektronika angkatan 2010 yang memprogram
mata kuliah Perencanaan Pengajaran. Penelitian ini
akan dikembangkan dan diterapkan dengan rancangan
penelitian tindakan kelas (classroom action research)
dengan pendekatan siklus berkelanjutan.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini penelitian tindakan kelas, dan
direncanakan sebanyak tiga siklus, siklus pertama
digunakan sebagai dasar perbaikan pada siklus
kedua, dan siklus ketiga merupakan perbaikan
siklus satu dan dua. Setiap siklus selalu dilakukan
secara partisipatif dan kolaboratif antara peneliti
dengan dosen mitra. Setiap siklus terdapat empat
tahapan yang meliputi (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

80

Siklus ke satu, mahasiswa menyusun perangkat
pembelajaran dengan model pembelajaran MPL,
dan siklus dua, menyusun perangkat
pembelajaran dengan model pembelajaran MPK,
serta siklus ke tiga, mahasiswa mensimulasikan
model MPL dan MPK sesuai dengan perangkat
pembelajaran yang disusun.

Siklus 1
Siklus1 terdiri dari tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Indikator keberhasilan siklus 1 adalah: membuat RPP
model MPL, dan perangkat RPP (LKS, lembar
penilaian (LP), dan kunci jawaban).

Siklus 2
Setelah pembahasan antara peneliti dan dosen
mitra maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap
tahapan-tahapan pembimbingan yang disusun dalam
perencanaan siklus 2. Siklus 2 menekankan
penyusunan perangkat pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif (MPK). Indikator
keberhasilan siklus 2 adalah: membuat silabus, RPP
model MPKdan perangkat RPP (LKS, lembar
penilaian, dan kunci jawaban).

Siklus 3
Pada siklus 3, mahasiswa mensimulasikan model
MPL atau MPK sesuai dengan perangkat
pembelajaran yang disusun. Indikator keberhasilan
siklus 3 adalah: mensimulasikan RPP model
pembelajaran MPL dan MPK.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan (1) metode observasi untuk mengamati proses
pembelajaran secara langsung di kelas maupun di
laboratorium ketika mahasiswa melakukan tugas-
tugasnya (menyusun perangkat RPP dan berdiskusi
dalam kelompoknya) untuk ranah kognitif,
psikomotor dan kemampuan keterampilan proses, (2)
memberi tugas membuat perangkat pembelajaran
seperti RPP, LKS, LP dan kunci jawaban, untuk
mengetahui kompetensi dan keterampilan mahasiswa
dalam mengembangkan perangkat pembelajaran
sesuai model MPL dan MPK, yang terkait dengan
pemahaman materi Teknik Audio Video, (3) tes
pilihan ganda dan tes essay, dan (4) tes kinerja untuk
menilai presentasi MPL atau MPK.
Kriteria penilaian untuk tugas perangkat
pembelajaran berdasarkan tiga komponen yaitu: (1)
kelengkapan perangkat pembelajaran, dengan nilai
maksimum 40, (2) kesesuaian dengan nilai
maksimum 30, dan (3) kebenaran dengan nilai
maksimum 30. Penilaian hasil belajar berbentuk tes
tertulis dan tes kinerja. Tes tertulis, untuk mengukur
kemampuan mahasiswa dalam memahami model
pembelajaran baik MPL maupun MPK. Tes kinerja
untuk mengukur kemampuan mahasiswa
mensimulasikan MPL dan MPK sesuai RPP dan
perangkat pembelajaran yang disusunnya, dan
mengacu pada Penilaian Kinerja Guru (PKG) pada
kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik ini
terdiri dari tujuh kompetensi, yaitu (a) menguasai
karakteristik peserta didik, (b) menguasai teori belajar
dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (c)
pengembangan kurikulum, (d) kegiatan pembelajaran
yang mendidik, (e) pengembangan potensi peserta
didik, (f) komunikasi dengan peserta didik, dan (g)
penilaian dan evaluasi. Namun dalam penelitian ini
hanya menilai sebagian dari kompetensi tersebut,
yaitu (a) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik, (b) kegiatan
pembelajaran yang mendidik, dan (c) komunikasi
dengan peserta didik. Masing-masing butir soal diberi
penilaian secara rinci mengenai penskoran. Penskoran
pada tes kinerja 1 terdiri dari skor 4, skor 3, skor 2,
dan skor 1, sedangkan penskoran pada tes kinerja 2
terdiri dari skor 0, skor 1, dan skor 2. Penilaian
kinerja untuk menilai mahasiswa mengajar dengan
MPK dan kesesuaian dengan RPP, menggunakan
format penilaian kinerja guru dengan skor antara 0
sampai dengan 2.
3.4 Teknik Analisis Data
Analisis data untuk penelitian ini dilakukan
secara kuantitatif dan deskriptif. Analisis diskriptif
untuk menggambarkan hasil observasi dan refleksi
selama pembimbingan penyusunan perangkat
pembelajaran dan kemampuan mahasiswa dalam
mensimulasikan MPL atau MPK. Analisis kuantitatif
digunakan untuk menilai hasil belajar yang meliputi
nilai-nilai tes pilihan ganda, tes essey, tes kinerja, dan
penilaian perangkat pembelajaran. Hasil belajar
mengacu pedoman penilaian yang berlaku di Unesa.
Nilai akhir = ((2 x P) + (3xT) + (2xUSS) +
(3xUAS))/10.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Siklus 1
1. Perencanaan
Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam
pelaksanaan pembelajaran Perencanaan Pengajaran
selama ini. Selanjutnya bersama dengan dosen mitra
membahas alternatif pemecahannya.
Masalahnya:
- jumlah mahasiswa yang banyak, yaitu 56
orang.
- perlu dibentuk kelompok supaya lebih
efektif, maka dibagi menjadi 17 kelompok
yang terdiri dari tiga atau empat orang per
kelompok.
- menentukan ruang lingkup Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar
(KD) yang dibagi ke setiap kelompok. SK
dan KD mengacu pada kejuruan Teknik
Audio Video (TAV) di SMK

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

81

Menyusun contoh RPP yang digunakan sebagai
panduan pembuatan RPP Model Pembelajaran
Langsung (MPL) untuk mahasiswa.

Menyusun instrumen penelitian, yaitu: (1) tes
tulis pilihan ganda dan essay; (2) tes kinerja; dan (3)
lembar pengamatan video

2. Pelaksanaan Tindakan
Mahasiswa diberikan materi MPL dengan metode
melalui pemodelan mengamati VCD MPL
Pemberian tugas kepada mahasiswa untuk
menyusun RPP dengan MPL yang sesuai dengan SK
dan KD yang tercantum pada Spektrum SMK Teknik
Audio Video. Setiap kelompok dibagi SK dan KD,
kemudian dilanjutkan untuk mencari materi
pendukungnya.
Membimbing mahasiswa secara intensif dalam
menyusun RPP dan perangkatnya yaitu LKS, lembar
penilaian (LP), kunci jawaban LP dengan struktur dan
substansi materi yang menjadi target capaian suatu
kompetensi dasar.

3. Tahap observasi
Dosen mitra (dalam hal ini, anggota peneliti)
mengamati, membimbing, dan mencatat semua
masalah yang muncul baik yang mendukung maupun
yang menghambat.
Mencatat dan merekam masalah tersebut dalam
lembar observasi.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti dan dosen
mitra mendiskusikan kekurangan dan kelemahan
mahasiswa.

4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian yang
sesuai terhadap kompetensi mahasiswa secara
individu maupun kelompok dalam proses penyusunan
maupun hasil dalam bentuk seperangkat RPP.
Peneliti dan dosen mitra mengkaji kelemahan-
kelemahan mahasiswa dalam menyusun RPP selama
siklus 1, dan melakukan revisi terhadap rencana awal
siklus 2.
Siklus 1 dinilai dari tes essay MPL dan
pengamatan video MPL. Nilai tes essay tertinggi 100
dan terendah 65 dari 56 orang mahasiswa, dengan
rata-rata 85,41. Nilai tertinggi 95 dan terendah 65
untuk pengamatan video MPL, sedangkan rata-
ratanya 85,54.

Siklus 2
1. Perencanaan
Mempelajari materi Model Pembelajaran
Kooperatif (MPK) dan mempersiapkan bentuk tugas.
Menyusun contoh RPP model pembelajaran
kooperatif (MPK).

2. Pelaksanaan Tindakan
Menjelaskan MPK, kemudian mahasiswa
mengamati VCD MPK.
Mahasiswa diberi tugas untuk menyusun RPP
dengan MPK yang sesuai dengan SK dan KD yang
tercantum pada Spektrum SMK Teknik Audio Video.
Membimbing mahasiswa untuk menyusun RPP
dan perangkatnya agar sesuai kompetensi dasar yang
dipilih.

3. Tahap observasi
Peneliti dan dosen mitra mengamati aktivitas
mahasiswa dalam proses penyusunan RPP dan
perangkatnya. Mencatat kejadian-kejadian yang
mendukung maupun yang menghambat proses
pembelajaran.

4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian yang
sesuai terhadap kompetensi mahasiswa secara
individu maupun kelompok dalam proses penyusunan
maupun hasil dalam bentuk seperangkat RPP.
Peneliti dan dosen mitra mengkaji kelemahan-
kelemahan mahasiswa dalam menyusun RPP selama
siklus 2, dan melakukan revisi terhadap rencana awal
siklus 3.
Penilaian didasarkan pada tes essay dan pilihan
ganda, serta pengamtan video MPK. Data tertinggi
untuk nilai tes Essay adalah 100 dan terendah 65, dan
nilai rata-rata 88,57. Nilai tertinggi untuk pengamatan
video MPK sebesar 100, sedangkan nilai terendah 70.
Nilai rata-rata 84,32. Nilai tes pilihan ganda tidak
setinggi nilai yang lain, nilai tertinggi 78 dan nilai
terendah 54, serta nilai rata-rata 68,68.

Siklus 3
1. Perencanaan
Merancang instrumen penilaian simulasi MPL
dan MPK yang mengacu pada Penilaian Kinerja Guru
(PKG) pada kompetensi pedagogik. Kompetensi
pedagogik ini terdiri dari tujuh kompetensi, tetapi
yang digunakan dalam penelitian ini hanya menilai
kompetensi: (a) menguasai teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik, (b) kegiatan
pembelajaran yang mendidik, dan (c) komunikasi
dengan peserta didik.
Menentukan kelompok simulasi MPL dan MPK.

2. Pelaksanaan Tindakan
Mahasiswa diberi kesempatan untuk menentukan
simulasi MPL atau MPK. Kemudian peneliti
menjelaskan kriteria penilaian simulasi kepada
mahasiswa, agar mereka dapat mempersiapkan
kelompoknya untuk mendapatkan nilai yang baik.
elaksanaan simulasi ditentukan waktunya setiap
kelompok 40 menit, termasuk presentasi dan tanya
jawab, serta komentar dari peneliti.

3. Tahap observasi
Peneliti dan dosen mitra yang memberi penilaian
kepada kelompok yang simulasi.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

82

Mencatat dan merekam aktivitas mahasiswa yang
aktif bertanya dan memberi pendapat dalam lembar
observasi.

4. Tahap refleksi
Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian
terhadap kelengkapan RPP dan perangkatnya
berdasarkan: (1) kelengkapan perangkat
pembelajaran, dengan nilai maksimum 40, (2)
kesesuaian dengan nilai maksimum 30, dan (3)
kebenaran dengan nilai maksimum 30.
Hasil simulasi cukup bervariasi dari nilai
tertinggi 90 dan terendah 60, sehingga nilai rata-rata
mencapai 81,16.

4.2 Pembahasan
Simulasi dilakukan berkelompok, setiap
kelompok terdiri dari 3-4 orang, tetapi yang mengajar
(presentasi sebagai guru) hanya satu orang dan yang
lainnya membantu mempersiapkan pembelajaran.
Beberapa kekurangan yang ditemukan pada saat
simulasi, yaitu (1) belum menerapkan langkah-
langkah sesuai sintak MPL atau MPK, (2) aktivitas
kelompok dalam MPK belum kondusif, (3)
penguasaan materi teknik audio video masih lemah,
dan (4) kemampuan memberi pertanyaan terbuka
masih jarang dilakukan. Untuk mengatasi kelemahan
tersebut, setiap selesai simulasi perkelompok diberi
masukan untuk perbaikan bagi kelompok yang
lainnya. Tidak semua kelompok punya kekurangan,
karena ada beberapa kelompok yang sangat baik
mempersiapkan simulasinya dan kerjasamanya cukup
baik.
Penyusunan RPP dan perangkat
pembelajarannya, pada umumnya ditemukan
kelemahan yaitu: (1) menyusun indikator, (2)
membedakan indikator proses dan psikomotor, (3)
menyusun tujuan pembelajaran yang mengacu teori
ABCD, (4) menyusun lembar penilaian yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dan (5) menyusun LKS
yang mencakup keluasan dan kedalaman KD yang
akan dicapai. Pembimbingan untuk menyusun RPP
dan perangkat pembelajaran dilakukan secara
kelompok secara intensif pada waktu terstruktur.

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penyusunan perencanaan pembelajaran dengan
Model Pembelajaran Langsung (MPL) dan Model
Pembelajaran Kooperatif (MPK) dalam bentuk RPP
dan perangkat pembelajarannya lebih dari 85% baik,
setelah melalui pembimbingan yang intensif dan
beberapa kali revisi, dan kemudian disimulasikan.
Hasil belajar mahasiswa S1 Prodi Elektronika
Komunikasi 2010 Unesa dalam mensimulasikan
model MPL dan MPK di kelas. Berdasarkan data nilai
akhir diperoleh 18 orang (32%) mendapatkan nilai
tertinggi yaitu A, sedangkan nilai terendah B (9%).
5.2 Saran
Pembelajaran untuk materi pendidikan, sebaiknya
diajarkan secara terintegrasi, artinya pengertian
tentang materi pendidikan diimplementasikan dengan
materi keteknikannya.
Penguasaan materi elektronika khususnya Teknik
Audio Video perlu terus ditingkatkan.
Kemampuan mengajar mahasiswa perlu
ditingkatkan, terutama keberanian tampil di depan
dan kemampuan komunikasi yang baik.

REFERENSI

[1]. DBE2-USAID. 2010. Pembelajaran Aktif di Perguruan
Tinggi (ALIHE) Paket TOT Nasional ALFHE Decentralized
Basic Education 2- USAID.
[2]. Ibrahim, Muslimin, dkk. 2005. Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah Universitas
negeri Surabaya.
[3]. Jarvis, Peter; John Holford, & Colin Griffin. 2003. The Theory
and Practice of Learning. London and Sterling: Kogan Page
[4]. Kardi, S & Nur M. 2005. Pengajaran Langsung. Surabaya:
University Press
[5]. Nawawi, H. Hadari. 2003. Manajemen Strategik; Organisasi
Non Profit Bidang Pemerintahan Dengan Ilustrasi di Bidang
Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[6]. Nur, Mohamad. 2011a. Model Pembelajaran Kooperatif.
Edisi Kedua. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa.
[7]. Nur, Mohamad. 2011b. Model Pembelajaran Langsung. Edisi
Kedua. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa.
[8]. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
[9]. Seel, Norbert M. dan Dijkstra, Sanne, 2004. Curricullum,
Plans, and Process in Instructional Design. London:
Lawrence Erlbaum Associates
[10]. Usman, Moh. Uzer. 1994. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

83

Pengembangan Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II
untuk Model Pembelajaran Kooperatif sebagai Upaya
Meningkatkan Kualitas Hasil Pembelajaran
di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa
Puput Wanarti Rusimamto
1
, Achmad Imam Agung
2
, Indrati Agustinah
3
, Yosia Daniel
4
1,2,3,4
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik - Unesa, Surabaya
Abstrak - Kompleknya aplikasi ilmu Fisika dalam
bidang Teknik Elektro menjadi bahan pertimbangan
penting dalam penelitian ini karena mempunyai tujuan
agar topiktopik serta bahan ajar yang disampaikan
selama pembelajaran dapat memberikan kontribusi
maksimum terhadap kesesuaian ilmu yang diperoleh
dengan aplikasinya di lapangan dan meningkatkan
mutu lulusan Jurusan Teknik Elektro Unesa. Dengan
adanya modul tersebut diharapkan dapat digunakan
oleh para pendidik dalam menyampaikan bahan ajar
dengan praktis dan sebagai salah satu rujukan untuk
mengajar mata kuliah Fisika II. Penggunaan modul ini
bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar
mampu dalam menerapkan teori ilmu Fisika yang
diperoleh selama kuliah ke dalam bidang Teknik
Elektro.
Hasil penilaian kelayakan terhadap Modul Ajar
Mata Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran
Kooperatif Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas
Hasil Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT
Unesa yang dikembangkan adalah sebagai berikut: hasil
analisa yang didapatkan dari validator adalah 85,1%
untuk modul dan 89% untuk trainer, dari respon
mahasiswa adalah 83,9% untuk modul dan 84,8%
untuk trainer. Sehingga Modul Ajar Mata Kuliah Fisika
II untuk Model Pembelajaran Kooperatif yang
dikembangkan boleh dan layak diterapkan pada
perkuliahan mata kuliah Fisika II.
Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, modul ajar, hasil
pembelajaran.
I. PENDAHULUAN
Ruang lingkup Teknik Elektro sangat luas. Mata
kuliah yang satu dengan yang lain saling
berkesinambungan dan tidak bisa dipisahkan,
khususnya mata kuliah Fisika Teknik dengan
beberapa mata kuliah lain di Jurusan Teknik Elektro.
Mata kuliah Fisika adalah mata kuliah umum yang
menjadi dasar dalam memahami mata kuliah
keterampilan di bidang Teknik Elektro. Kurangnya
pemahaman terhadap materi fisika akan
mempengaruhi pencapaian target proses belajar
mengajar. Banyaknya aplikasi ilmu fisika dalam
bidang Teknik Elektro menuntut peserta didik harus
mampu memahami ilmu Fisika yang telah didapat
selama kuliah dan kemudian mengerti aplikasinya di
lapangan. Melihat begitu pentingnya mata kuliah ini
diharapkan peran penting dosen serta media
pembelajaran yang memadai termasuk Lab. Fisika
Teknik dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam
mempelajari ilmu Fisika.
Menyongsong pembangunan Laboratorium
Terpadu di Fakultas Teknik Unesa di mana
ditargetkan akan selesai pada semester genap tahun
ajaran 2012-2013 ini, semua jurusan dihimbau untuk
mempersiapkan diri. Jurusan Teknik Elektro sekarang
ini mempunyai 13 laboratorium, laboratorium Fisika
Teknik yang berada di gedung A7 lantai 2, sekarang
ini kondisinya digabung dengan laboratorium
komputer. Hal ini karena komputer yang merupakan
hibah dari dana APBNP harus segera terserap
penggunaannya. Mempelajari rencana jurusan Teknik
Elektro untuk pengembangan laboratorium, di mana
akan mendapatkan tambahan 11 laboratorium di lab
terpadu tersebut diantaranya laboratorium Fisika
Teknik, maka Tim pengajar Fisika Teknik juga
mempersiapkan diri membuat rencana pengembangan
laboratorium fisika teknik.
Untuk menjawab permasalahan tersebut salah
satunya adalah melakukan penelitian ini untuk
menyusun modul praktikum mata kuliah Fisika II
dengan menggunakan media trainer berbasis
pembelajaran kooperatif berorientasi industri.
Diharapkan dari hasil penelitian ini peserta didik
mengetahui dan memahami aplikasi ilmu fisika dalam
bidang Teknik Elektro. Selain itu, juga dapat
menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa dalam
mengikuti perkuliahan. Hal ini sangat menunjang
kompetensi mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja,
khususnya untuk lulusan Jurusan Teknik Elektro
UNESA yang nantinya akan berprofesi sebagai guru
SMK atau terjun ke dunia Industri.
Agar tingkat kualitas hasil pembelajaran
mahasiswa tinggi, maka menuntut peran dosen dalam
menerapkan metode pembelajaran dengan Model
Pembelajaran Kooperatir (MPK) secara benar dengan
ditunjang modul praktikum dengan benar. Modul
dalam penelitian ini adalah Modul Praktikum Sensor
Tekanan yang terdiri dari Modul Mahasiswa, Modul
Dosen beserta dan trainer. Modul Mahasiswa berisi
(1) Peta kedudukan modul dan kemampuan prasyarat;
(2) Pendahuluan yang meliputi deskripsi, prasyarat,
petunjuk penggunaan modul, kompetensi dan
indikator; (3) Kegiatan pembelajaran, di mana setiap
kegiatan belajar meliputi kompetensi dan indikator,
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

84

uraian materi, lembar kegiatan mahasiswa dan tes
formatif yang tidak disertai jawabannya dan (4)
Evaluasi yang meliputi ranah kognitif, afektif dan
psikomotor.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Trianto (2007), pembelajaran yang
bernaung dalam teori konstruktivis adalah kooperatif.
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa
siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami
konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi
dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam
kelompok untuk saling membantu memecahkan
masalah masalah yang kompleks. Jadi hakikat sosial
dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek
utama dalam pembelajaran kooperatif.
Menurut Sugiyanto (2010), pembelajaran
kooperatif (Cooperative Learning) sendiri adalah
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pada
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja
sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk
mencapai tujuan belajar.
Menurut Lie (dalam Sugiyanto, 2010), pada
pembelajaran kooperatif ada beberapa elemen yang
harus diketahui. Elemen elemen tersebut adalah : 1)
Saling ketergantungan positif. Dalam pembelajaran
kooperatif, guru menciptakan suasana yang
mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.
Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang
dimaksud dengan saling ketergantungan positif. 2)
Interaksi tatap muka. Interaksi tatap muka akan
memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok
sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya
dilakukan dengan guru. Interaksi semacam itu sangat
penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari
sesamanya. Ini juga mencerminkan konsep
pengajaran teman sebaya. 3) Akuntabilitas individual.
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya
dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk
mengetahui penguasaan siswa terhadap materi
pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara
individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada
kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui
siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan
dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Nilai
kelompok didasarkan atas rata rata hasil belajar
semua anggotanya, karena itu tiap anggota kelompok
harus memberikan sumbangan demi kemajuan
kelompok. Penilaian kelompok yang didasarkan atas
rata rata penguasaan semua anggota kelompok
secara individual ini yang dimaksud dengan
akunbilitas individual. 4) Keterampilan menjalin
hubungan antar pribadi. Ketrampilan sosial seperti
tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,
mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani
mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi
orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang
bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi
(interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan
tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak
dapat menjalin hubungan antara pribadi akan
memperoleh teguran dari guru juga dari sesama
siswa.
2.2 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di
dalam pelajaran yang mengguanakan pembelajaran
kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru
menyampaikan tujuan pelajaran dan memotiviasi
siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian
informasi, sering kali dengan bahan bacaan daripada
secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke
dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan
guru pada saat siswa berkerja bersama untuk
menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakir
meliputi presentase hasil akhir kerja kelompok atau
evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan
memberi penghargaan terhadap usaha-usaha
kelompok maupun individu.
2.3 Pengertian Modul
Modul ialah unit program belajar-mengajar
terkecil yang secara terinci menggariskan: a) Tujuan
instruksional umum, b) Tujuan intruksional khusus, c)
Pokok-pokok materi yang akan dipelajari dan
diajarkan, d) Kedudukan fungsi satuan dalam
kesatuan program yang akan dipakai, e) Kegiatan
belajar-mengajar, f) Lembaran kerja yang akan
dikerjakan selama proses belajar berlangsung
(Wijaya: 1996). Selanjutnya menurut Nasution (1982:
205) modul ialah suatu unit yang lengkap yang berdiri
sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan
belajar yang disusun untuk membantu siswa
mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara
khusus dan jelas.
Menurut Mulyasa (2004:148) modul adalah suatu
proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan
tertentu yang disusun secara sistematis, operasional
dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik,
disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para
guru.
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki
karakteristik sebagai berikut: 1) Setiap modul harus
memberikan informasi dan memberikan petunjuk
pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus
dilakukan oleh peserta didik, bagaimana
melakukannya, dan sumber belajar apa yang harus
digunakan. 2) Modul merupakan pembelajaran
individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan
sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. 3)
Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk
membantu peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran seefektif dan seefesien mungkin, serta
memungkinkan peserta didik untuk melakukan
pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca
dan mendengar, tetapi lebih dari itu, modul
memberikan kesempatan untuk bermain peran (role
playing), simulasi dan berdiskusi. 4) Materi
pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis,
sehingga peserta didik dapat mengetahui kapan dia
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

85

memulai dan kapan mengakhiri suatu modul, dan
tidak menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang
harus dilakukan atau dipelajari. 5) Setiap modul
memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian
tujuan belajar peserta didik, terutama untuk
memberikan umpan balik/respon bagi peserta didik
dalam mencapai ketuntasan belajar.
Format modul menurut Mulyasa (2004: 44)
adalah sebagai berikut: 1) Pendahuluan. Bagian ini
berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan,
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan
dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal
yang harus dimiliki untuk mempelajari modul
tersebut. 2) Tujuan pembelajaran. Bagian ini berisi
tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang harus
dicapai oleh setiap peserta didik setelah mempelajari
modul. 3) Tes awal. Tes ini berguna untuk
menetapkan posisi peserta didik, dan mengetahui
awalnya, untuk menentukan dari mana ia harus
memulai belajar, adan apakah perlu untuk
mempelajari modul tersebut atau tidak. 4)
Pengalaman belajar. Bagian ini merupakan rincian
materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, yang
berisi sejumlah materi, diikuti dengan penilaian
formatif sebagi balikan bagi peserta didik tentang
tujuan belajar yang dicapainya. 5) Sumber belajar.
Pada bagian ini disajikan tentang sumber-sumber
belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh
peserta didik. Penetapan sumber belajar ini perlu
dilakukan dengan baik oleh pengembang modul,
sehingga peserta didik tidak kesulitan
memperolehnya. 6) Tes akhir. Tes akhir ini
instrumennya sama dengan isi tes awal hanya lebih
difokuskan pada tujuan terminal setiap modul.
Menurut OMeara (dalam Basuki, 2004) kualitas
modul ditentukan berdasarkan empat indikator utama,
yaitu : format, konsep/materi, bahasa dan ilustrasi.
Dari indikator format, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Setiap
seksi/bagian dapat teridentifikasi secara jelas. 2)
Sistem penomoran jelas. 3) Terdapat keseimbangan
antara teks dan ilustrasi. 4) Secara visual, modul
menarik untuk dibaca. 5) Tata letak (teks dan
ilustrasi) sistematis.
Dari indikator konsep, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut. 1) Konsep/materi
modul ditulis secara akurat. 2) Konsep
dikelompokkan secara logis. 3) Konsep relevan
dengan kurikulum. 4) Konsep didukung sumber
belajar yang memadai. 5) Konsep dapat
menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. 6)
Konsep dapat melatih peserta didik dalam berfikir
secara sistematis. 7) Tidak bias (gender, etnis, religi,
geografi, budaya, dll)
Dari indikator bahasa, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut. 1) Menggunakan
tata bahasa yang benar. 2) Menggunakan bahasa yang
sesuai dengan tingkat perkembangan mental peserta
didik. 3) Menumbuhkan motivasi untuk membaca
lebih lanjut. 4) Setiap terminology didefinisikan
secara jelas. 5) Menggunakan struktur kalimat yang
sederhana dan jelas. 6) Petunjuk-petunjuk ditulis
secara jelas.
Dari indikator ilustrasi, modul yang berkualitas
memenuhi kriteria sebagai berikut. 1) Ilustrasi
mendukung pemahaman konsep. 2) Terkait langsung
dengan konsep yang tertulis pada teks. 3) Secara
visual konsep menarik. 4) Jelas. 5) Mudah dipahami.
6) Tidak bias (gender, etnis, religi, geografi, budaya,
dll)
Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji
kompetensi mahasiswa yang dilakukan secara teori
dan praktik dengan cara menjawab pertanyaan yang
ada dan untuk praktik dengan cara
mendemonstrasikan kompetensi.
2.4 Indikator Lembar Validasi Instrumen
Indikator indikator instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini mengacu pada format indikator
instrumen Fauzi Amin dalam Siara (2004) dikutip
Purdiana (2004: 28). Adapun indikator instrumen
tersebut meliputi, Lembar validasi modul dan Angket
Respon Mahasiswa.

III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan. Pada penelitian pengembangan
modul ajar ini digunakan model pengembangan dari
Thiangarajan, Samuel dikutip oleh Trianto (2007:65)
yang disebut 4-D (Four D model), yang terdiri dari 4
tahapan yaitu: 1) Define (Pendefinisian), 2) Design
(Perancangan), 3) Develop (Pengembangan), 4)
Disseminate (Penyebarluasan).
Model ini dipilih karena langkah-langkah
pengembangannya mudah dipahami. Tahap-tahap
tersebut dijelaskan di bawah ini:
3.1 Define (Pendefinisian)
Tahap ini adalah merupakan syarat-syarat yang
diperlukan dalam pengembangan. Fokus dari tahap
ini adalah menganalisis situasi yang dihadapi dosen
dan konsep yang diajarkan.
Tahap define pada dasarnya merupakan tahap
penentuan format dan substansi produk yang akan
disusun (profil kecakapan hidup, topik-topik esensial
materi ajar, penyusunan modul bahan ajar). Dalam
hal ini dilakukan melalul lima sub-tahap, yaitu
analisis muka-belakang (front-end analysis), analisis
perkembangan kognitif peserta didik (leaner analysis)
dan analisis konsep (concept analysis). Analisis muka
belakang merupakan studi pustaka dan survai
lapangan. Studi pustaka dilakukan dengan
mencermati Kurikulum Jurusan Teknik Elektro FT
UNESA untuk dilakukan sinkronisasi materi
kurikulum relevan dengan aplikasi di lapangan kerja
atau dunia industri. Survai lapangan merupakan need
assessment yang dilakukan dengan wawancara
terbuka dan diskusi kelompok terfokus para pengelola
kalangan dunia usaha dan industri dan ahli
pendidikan kejuruan dan teknologi pembelajaran
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

86

untuk menggali pendapat tentang kompetensi dan
sub-kompetensi yang relevan dalam bidang Teknik
Elektro yang seharusnya dikuasai. Hasil kedua
metoda tersebut kemudian digabungkan, sehingga
dihasilkan buram format kompetensi dan sub--
kompetensi yang telah sinkron dan relevan
aplikasinya dalam bidang Teknik Elektro.
Analisis peserta didik digunakan untuk mengkaji
tingkat perkembangan kognitif mereka, sehingga
nantinya dapat digunakan sebagai bahan menelaah
buram pokok bahasan kompetensi dan
sub-kompetensi serta kemampuan dasar peserta didik.
Analisis dilakukan dengan mengkaji berbagai hasil
riset yang terkait dengan tingkat perkembangan
kognitif peserta didik, baik di Indonesia dan di negara
berkembang lainnya melalui referensi yang diperoleh.
Analisis konsep diterapkan untuk menganalisis
pokok bahasan hasil kajian Kurikulum SMK. Analis
konsep menggunakan kriteria bahwa kompetensi dan
subkompetensi esensial memuat sub-sub kompetensi
penting yang belum dikuasal peserta didik dan sulit
dipelajarl dari sumber lain, serta diperlukan sebagal
bekal bekerja. Kompetensi dan subkompetensi inilah
yang selanjutnya disebut sub-kompetensi esensial
yang akan dituangkan dalam materi pembelajaran dan
pada modul bahan ajar.
Untuk menjamin content dan face validity dan
pokok-pokok sub-kompetensi esensial tersebut
direviu dalam diskusi kelompok terfokus (focus group
discussion) dan diteruskan dengan penilaian oleh
pakar (expert judgment). Pakar yang dilibatkan dalam
diskusi kelompok terfokus dan expert judgment
adalah pakar diberbagai bidang, mencakup
pendidikan kejuruan Teknik Elektro dengan ahli
Fisika. Dengan demikian pada tahap define akan
dihasilkan kerangka dasar produk penelitian yang
telah melalui tahap pembahasan, mencakup: format,
modul, dan pokok-pokok sub-kompetensi esensial
yang sinkron dan relevan dengan dunia kerja serta
industri.
3.2 Design (Perancangan)
Tahap ini dilakukan setelah selesai tahap
pendefinisian, adapun langkah-langkah yang terdapat
dalam perancangan modul ini adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan kriteria tes. Tahap ini dilakukan
setelah mendapatkan hasil analisis mahasiswa Teknik
Elektro angkatan 2012 yang telah mengikuti
perkuiahan. Berdasarkan hasil analisis dari
mahasiswa yang telah mahasiswa mengikuti
perkuliahan Fisika II, ternyata proses pembelajaran
kurang terlaksana dengan baik, khususnya proses
belajar mengajar praktikum karena kurangnya
fasilitas modul ajar yang mudah dipahami, maka
dibuatlah kriteria tes yang sesuai dengan
permasalahan yang dihadapi mahasiswa. 2) Pemilihan
Media dan Format. Setelah mendapatkan uraian di
atas maka didapatkan cara untuk membantu proses
praktikum mahasiswa, yaitu dipilih media
pembelajaran yang sesuai dan diharapkan dapat
membantu praktikum yang berupa modul sesuai
format ditetapkan. 3) Perancangan Awal. Tahap ini
dilakukan penyuntingan gambar yang dianggap
relevan dengan meteri yang akan digunakan sebagai
modul praktikum Fisika II. Kegiatan dalam tahap ini
terfokus pada penulisan modul ajar dan pembuatan
trainer, konsultasi dengan dosen yang berkompeten,
membaca acuan-acuan terkait yang relevan, dan
dengan mengadopsi modul praktikum yang ada.
3.3 Develop (Pengembangan)
Tahap pengembangan ini menghasilkan modul
ajar yang telah divalidasikan ke para ahli dan direvisi
sehingga layak digunakan untuk uji coba terbatas.
Tahap pengembangan terdiri dari tahap penilaian ahli
dan tahap uji coba lapangan. Penjelasan tahap-tahap
tersebut adalah sebagai berikut: 1) Validasi ahli atau
penilaian ahli. Penilaian ahli merupakan teknik dalam
memperoleh saran dan masukan yang selanjutnya
digunakan untuk merevisi modul ajar dan trainer
yang telah disusun. Saran dan masukan diperoleh
dari para ahli yang berkompeten khususnya pembina
mata kuliah fisika, sehingga dihasilkan modul yang
tepat dan efektif. Selain memberikan saran-saran dan
masukan, para ahli dimohon memberikan penilaian
validitas terhadap modul ajar dan trainer yang telah
disusun sesuai indikator yang ada (lembar validitas).
Hasil validasi tersebut kemudian dilakukan analisis
dan selanjutnya modul ajar dan trainer direvisi sesuai
saran dan masukan dari validator. 2) Uji
Pengembangan. Pada uji pengembangan, peneliti
melakukan uji coba lapangan yang dilakukan untuk
memperoleh respon, reaksi, dan komentar dari
lapangan terhadap modul ajar dan trainer, dalam
tahap ini diperoleh hasil respon dari mahasiswa.
Keefektifan modul dan perangkat pembelajaran
Fisika Teknik berbasis kooperatif akan dianalisis
dengan statistik inferensial, berupa uji beda (t-test dan
anova).
3.4 Disseminate (Penyebaran)
Tahap penyebaran bertujuan untuk melaksanakan
uji coba modul yang disusun dan telah melalui tahap
validasi, analisis, dan revisi. Tujuan pelaksanaan uji
coba ini adalah untuk mengetahui efektifitas
pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan modul
ajar dan trainer. Pada tahap ini pada pelaksanaan
pembelajaran dilengkapi dengan lembar pengamatan
dan observasi serta penilaian kinerja mahasiswa.
Modul akan diberikan kepada dosen pengampu mata
kuliah, dosen ahli modul, dan mahasiswa serta
observer.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Pada tahap ini disajikan deskripsi data hasil
validasi penelitian media trainer dan hasil validasi
penelitian media modul.
4.2 Hasil Validasi Penilaian Trainer
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

87

Dari Gambar 1 dapat dilihat perolehan hasil
validasi media trainer.


Gambar 1. Grafik Validator Trainer
4.3 Hasil Validasi Modul
Dari Gambar 2 dapat dilihat hasil validasi modul.


Gambar 2. Grafik Validator Modul
4.4 Hasil Respon Mahasiswa untuk Trainer
Data respon mahasiswa diperoleh dengan
menggunakan lembar angket respon mahasiswa untuk
trainer. Pada penelitian ini instrumen lembar angket
respon untuk trainer di isi oleh mahasiswa S1
Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Negeri Surabaya
Dari Gambar 3 dapat dilihat perolehan hasil
respon mahasiswa untuk trainer.


Gambar 3. Grafik Respon Mahasiswa untuk Trainer
4.5 Hasil Respon Mahasiswa untuk Modul
Dari Gambar 5 dapat dilihat perolehan hasil
respon mahasiswa untuk modul.


Gambar 5. Grafik Respon Mahasiswa untuk Modul
4.6 Pembahasan
Proses pembuatan media modul dan trainer
aplikasi sensor loadcell ini mengunakan transduser
mechanic sebagai sensor dan microkontroller untuk
unit prossesing center atau CPU. Dalam media trainer
aplikasi sensor loadcell ini terdapat beberapa fungsi
antara lain untuk kalibrasi timbangan, mengukur
beban, menjumlah total beban, menghitung jumlah
barang yang mempunyai berat yang sama dan
pengukuran input dan output. Untuk modul
pembuatannya mengacu berdasarkan Buku Pedoman
Fakultas Teknik Unesa 2008 2009 untuk Jurusan S1
Teknik Elektro pada mata kuliah Fisika II. Dalam
media modul terdapat materi tentang macam - macam
transducer mechanic, pengenalan trainer aplikasi
loadcell, penggunaan aplikasi sensor loadcell,
pengukuran aplikasi sensor loadcell tes formatif,
daftar pustaka, dan datasheet dari loadcell.
Modul dan trainer aplikasi sensor loadcell yang
telah selesai dibuat dilakukan validasi oleh validator
yang teriri dari 4 validator yaitu 4 validator dari dosen
TE Universitas Negeri Surabaya. Untuk hasil validasi
modul aplikasi sensor loadcell dari validator tentang
perwatakan dan tata letak 85%, ilustrasi 82,5%,
bahasa 92,5%, isi 78% dan huruf dan ukuran bahan
87,5%. Sehingga hasil keseluruhan validasi media di
lihat dari 5 aspek adalah 85,1%.
Hasil validasi trainer aplikasi sensor loadcell
yaitu tampilan trainer 95%, pemilihan ukuran dan
bentuk papan trainer 90%, kinerja trainer 85%,
bahasa pada trainer mudah dipahami 90%, dan
keterkaitan modul dengan trainer 85%. Sehingga rata-
rata hasil keseluruhan validasi trainer dari ke-5 bagian
diatas sebesar 89%.
Dari hasil respon mahasiswa diketahui bahwa
hasil rating tampilan tainer 84%, pemilihan ukuran
dan bentuk papan trainer 86%, kinerja trainer 86%,
bahasa pada trainer mudah dipahami 84%, dan
keterkaitan media sesuai dengan modul 84%.
Sehingga dari keseluruhan respon mahasiswa
terhadap trainer sebesar 84,8%. Sedang respon
mahasiswa tentang modul adalah sebagai berikut,
perwatakan dan tata letak 82,67%, ilustrasi 81%,
bahasa 91%, isi 78% dan huruf dan ukuran bahan
87%. Sehingga hasil keseluruhan validasi media di
lihat dari 5 aspek adalah 83,9%.
Dari hasil semua respon yang dikategorikan
sangat baik tersebut bisa diambil kesimpulan. Bahwa
mahasiswa sangat tertarik trainer tersebut dan ingin
sekali memahami lebih dalam mempelajari trainer
aplikasi sensor loadcell untuk menambah wawasan
tentang sensor dan transducer.
Aspek
Hasil Validasi Trainer

Tampilan
Ukuran dan
bentuk
Kinerja
Bahasa
Aspek
Hasil Validasi Modul

Tata Letak
Ilustrasi
Bahasa
Isi
Bentuk huruf
Respon Trainer
Tampilan
Ukuran dan
bentuk
Kinerja
Respon Modul
Tata Letak
Ilustrasi
Bahasa
Isi
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

88


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan,
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. 1)
Telah berhasil dikembangan Modul Ajar Mata Kuliah
Fisika II untuk Model Pembelajaran Kooperatif
Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hasil
Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT Unesa
yang dirancang menggunakan metode 4-D (four D
model) pada mata kuliah fisika teknik. 2) Hasil
penilaian kelayakan terhadap Modul Ajar Mata
Kuliah Fisika II untuk Model Pembelajaran
Kooperatif Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas
Hasil Pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro FT
Unesa yang dikembangkan adalah tinggi. Hasil
analisa yang didapatkan dari validator adalah 85,1%
untuk modul dan 89% untuk trainer. Dari respon
mahasiswa adalah 83,9% untuk modul dan 84,8%
untuk trainer. Sehingga Modul Ajar Mata Kuliah
Fisika II untuk Model Pembelajaran Kooperatif yang
dikembangkan boleh dan layak diterapkan pada
perkuliahan mata kuliah Fisika II.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis dari data penelitan dan
simpulan serta kondisi nyata penelitian selama di
lapangan, maka peneliti dapat memberikan saran
sebagai berikut. Modul Ajar Mata Kuliah Fisika II
untuk Model Pembelajaran Kooperatif sudah terbukti
layak dan sesuai untuk digunakan di dalam
pembelajaran mata kuliah Fisika II pada semester-
semester selanjutnya.

REFERENSI
[1]. Arsyad, Azhar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
[2]. Basuki, Ismet. (2004). Pengembangan Buku Ajar Berbasis
Kompetensi. Surabaya: UNESA.
[3]. Basuki, Ismet. (2003). Analisis Buku Ajar. Surabaya:
UNESA.
[4]. Buku Pedoman Unesa Kurikulum 2012 2013, Unipress
Unesa 2012
[5]. Basuki, Ismed. 24 Juli 2006. Penulisan Modul Berbasis
Kompetensi. Pamekasan: UNIRA.
[6]. Budiharto, Widodo dan Firmansyah Sigit. 2004. Elektronika
Digital dan Mikroprosesor. Yogyakarta: C.V. ANDI
OFFSET.
[7]. Ibrahim, Muslimin. 2005. Pembelajaran Kooperatif, Unesa
University press, Surabaya
[8]. Musfiqon. 2012. Pengembangan Media dan Sumber
Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
[9]. Samsyuri, Hasan. 2005. Analisis Perakitan Trainer Unit
Berdasarkan Aplikasi Konsep Refrigerasi Pada Mata Kuliah
Sistem Pendingin. Dalam
file.upi.edu/Direktori/...HASAN/.../artikel_trainer_refr_1.pdf,
diakses 15 Juni 2012. 15 Juni 2012.
[10]. Thiagarajan, Sivasailam.Gemmmel, Dorothy S. dan Semmel,
Melviyn I. 1974. Instruction Development For Training
Teachers Of Exceptional Children. Minnesota: Indiana
University.
[11]. Metcalfe, J & Kornell, N. 2005. A Region of Proximal
Learning Model of Study Time Allocation. Journal of
Memory & Language. 5: 563-477.
[12]. Meyers, C., and Jones, T.B. (1993). Promoting Active
Learning, Jossey-Bass Publishing Co., San Francisco, 59-74.
[13]. Moore, D.J. (2003). Curriculum for an Engineering
Renaissance, IEEE Transactions on Education, 46(4), 452-
455.
[14]. Panitz. 2000. Comparing Traditional Teaching and
Colaborative Learning. Journal of Educational
Psychology.82: 71- 80.
[15]. Slavin, R.E. 2000. Educational Psychologycal: Theory and
Practice. (Eds). Sixth Edition. Boston: Allyn & Bacon.
[16]. Thomas, J. (2000). A Review of the Research on Project-
Based Learning. The Autodesk Foundation Autodesk
Foundation 111 McInnis Parkway San Rafael, California
94903
[17]. Traylor, R.L., Heer, D., and Fiez, T.S. (2003). Using an
Integrated Platform for Learning to Reinvent Engineering
Education, IEEE Transactions on Education, 46(4), 409-419.
[18]. Uno, H.B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses
Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi
Aksara.
[19]. Yelvac, B., Smith, H.D., Troy, J.B., and Hirsch, P., 2007.
Promoting Advanced Writing Skills in an Upper-Level
Engineering Class, Journal of Engineering Education, 96(2),
117-129.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

89

Menggubah Model Pembelajaran Konstruktivistik
(Salah Satu Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran)
Sudarmono
1

1
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik - Unesa, Surabaya
Abstrak - Menyikapi fenomena abat yang
menghendaki perubahan, dalam proses pembelajaran
kita perlu mengubah fokus dari apa yang perlu
dipelajari menjadi bagaimana cara mempelajari, dari isi
menjadi proses. Untuk mengatasi perubahan yang
terjadi secara terus menerus, salah satu alternatif yang
dapat digunakan adalah paradikma konstruktivistik.
Konstruktivistik adalah proses pembelajaran yang
menerapkan bagaimana pengetahuan disusun dalam
pikiran manusia. Aspek adapsi terhadap lingkungan
dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi
untuk membentuk atau memodifikasi skemata baru
melalui schaffolding yang terjadi pada daerah
perkembangan terdekat. Menggubah model
pembelajaran konstruktivistik adalah menggubah
pengelolaan kelas, rancangan, dan strategi. Prinsip
dasar pembelajaran kostruktivistik adalah belajar
bersama yaitu pembelajaran yang menekankan kerja
kelompok. Model pembelajaran yang didukung oleh
teori pembelajaran konstruktivistik adalah: STAD,
CIRT, Jigsaw, TGT, TAI
Kata kunci : Asimilasi, Akomodasi, Skemata, Schaffolding
I. PANDANGAN UMUM
Abad XXI disebut juga abad millennium atau
abad digital, suatu abad yang menghendaki
perubahan-perubahan yang radikal dan revolusionir.
Degeng I Nyoman Sudana (1998), mengatakan bahwa
abad XXI memerlukan manusia-manusia yang benar-
benar unggul, yaitu manusia-manusia yang memiliki
kompetensi: (1) Berpikir kreatif-produktif, (2)
Pengambilan Keputusan, (3) Pemecahan masalah, (4)
Belajar bagaimana belajar, (5) Kolaborasi, (6)
Pengelolaan diri.
Alternatif pendekatan pembelajaran yang sedang
menempatkan reformasi sebagai wacana kehidupan
berbangsa dan bernegara (Indonesia), bukan hanya di
bidang pembelajaran, melainkan juga pada segala
bidang. Selama ini, wacananya adalah behavioristik
yang berorientasi pada penyeragaman yang pada
akhirnya membentuk manusia yang sangat sulit
menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih
dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum,
karena sudah terjangkit virus kesamaan, virus
keteraturan, dan lebih jauh virus inilah yang
mengendalikan perilaku kita dalam berbangsa dan
bernegara.
Menyikapi fenomena di atas, kita perlu
mengubah fokus dari apa yang perlu dipelajari
menjadi bagaimana caranya untuk mempelajari.
Perubahan yang harus terjadi adalah perubahan dari
isi menjadi proses. Belajar bagaimana cara belajar
untuk mempelajari sesuatu menjadi suatu hal yang
lebih penting daripada fakta-fakta dan konsep-konsep
yang dipelajari itu sendiri. Sehingga pembelajaran
harus mempersiapkan para individu untuk siap hidup
dalam sebuah dunia di mana masalah-masalah muncul
jauh lebih cepat daripada jawaban dari masalah
tersebut, ketidakpastian dan ambiguitas dari
perubahan dapat dihadapi secara terbuka, individu
memiliki keterampilan-keterampilan yang
dibutuhkan.
Kebutuhan akan orientasi baru dalam
pembelajaran terasa kuat dan nyata dalam berbagai
bidang studi. Pembelajar, praktisi pembelajaran dan
kita semua, mau tidak mau harus merespon perubahan
yang terjadi dengan mengubah paradigma
pembelajaran. Untuk menjawab dan mengatasi
perubahan yang terjadi secara terus-menerus, salah
satu alternatif yang dapat digunakan adalah
paradigmna konstruktivistik.

II. AKAR SEJARAH KONSTRUKTIVISTIK
Konsep konstruktivistik ditulis Mark Baldwin
dan dipopulerkan Jean Piaget (Von Glasersfeld) dan
didahului oleh seorang ahli epistemology dari Itali
bernama Giambatistuta Vico. Vico menjelaskan
bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana
membuat sesuatu , ini menunjukkan bahwa
seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat
menjelaskan unsur-unsur apapun yang membangun
sesuatu itu. Cukup lama gagasan Vico tidak diketahui
orang dan seakan dipendam. Selanjutnya Piaget
menuliskan gagasan konstruktivistik dalam teori
perkembangan kognitif. Dikatakannya, bahwa
pengetahuan itu kita peroleh dari adaptasi struktur
kognitif kita terhadap lingkungan, seperti suatu
organisme harus beradaptasi dengan lingkungannya
agar dapat melangsungkan kehidupannya.
Tokoh lain sebagai pengembang ide-ide
konstruktivistik modern adalah Vygotsky. Keduanya
menekankan bahwa, perubahan kognitif hanya terjadi
jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami pebelajar
sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan
dalam upaya memahami hakekat sosial dari belajar.
Keduanya menyarankan untuk menggunakan
kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan
anggota kelompok yang berbeda-beda dalam
mengupayakan perubahan konseptual.
Konstruktivistik adalah proses pembelajaran yang
menerapkan bagaimana pengetahuan disusun dalam
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

90

pikiran manusia. Unsur-unsur konstruktivistik
sebenarnya sudah dipraktikkan dalam pembelajaran
pada satuan pembelajaran dan di universitas tetapi
tidak begitu tampak dirasakan. Namun demikian,
pada decade sepuluh tahun yang lalu, di Indonesia
sebagian besar menggunakan pendekatan
behavioristik, sebagian menerapkan gabungan antara
behavioristik dengan konstruktivistik dan sebagian
kecil murni menerapkan pendekatan konstruktivistik.
Paham konstruktivistik memandang ilmu
pengetahuan sekolah bukan memindahkan dari
pembelajar kepada pebelajar dalam bentuk secara
sempurna. Pebelajar mengolah pengetahuan tersebut
berdasarkan pengalaman dari masing-masing
individu. Pembelajaran dihasilkan dari upaya
pebelajar dan pembelajar tidak memberikan materi
pelajaran secara keseluruhan. Pikiran pebelajar tidak
berdasarkan realitas yang disediakan, tetapi lebih
banyak dikembangkannya sendiri karena pebelajar
telah memiliki ide dan pengalaman yang membentuk
struktur kognitif terhadap lingkungannya sendiri.
Untuk membantu pebelajar membina konsep atau
pengetahuan baru, pembelajar mengambil kaitan
struktur kognitif yang telah ada pada diri mereka. Jika
pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk
dijadikan sebagai pegangan kuat mereka, barulah
kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu
pengetahuan dapat dibina. Proses ini dinamakan
konstruktivistik.
Beberapa ahli konstruktivistik terkemuka,
berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu
bermula dengan pengetahuan atau pengalaman awal
para pebelajar. Pebelajar mempunyai ide sendiri
tentang hampir semua masalah, ada yang betul dan
juga ada yang salah. Jika pemahaman dan
miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan
baik, pemahaman atau kepercayaan mereka itu akan
tetap melekat pada diri pebelajar, walaupun mungkin
dalam pengecekan mereka tidak memberi jawaban
seperti apa yang dikehendaki pembelajar. Pembelajar
yang baik harus melaksanakan pembelajaran dan
pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina
pengalaman mereka secara berkelanjutan atau
kontinyu dan selalu melibatkan diri di dalam setiap
aktivitas pembelajaran.
Dari persepektif epistemology, disarankan dalam
konstruktivistik fungsi pembelajar berubah.
Perubahan akan berlaku dalam teknik pembelajaran,
penilaian, dan cara melaksanakan pembelajaran
kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan
mengubah kaidah pembelajaran yang bertumpu pada
keberhasilan pebelajar meniru dengan tepat apa saja
yang disampaikan oleh pembelajar kepada kaidah
pembelajaran yang bertumpu kepada keberhasilan
pebelajar membina skema konsep berdasarkan pada
pengalaman yang aktif. Pembelajar juga akan
mengubah model penyelidikan dan dasar pembinaan
dari kaca mata pembelajar kepada pembelajaran
sesuatu konsep dari kaca mata pebelajar sendiri.
Teori konstruktivistik sebagai pembelajaran
bersifat generatif, artinya tindakan mencipta sesuatu
maksud dari apa yang mereka pelajari.
Konstruktivistik sebenarnya bukan merupakan ide
baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama
ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman
demi pengalaman, sehingga seseorang mempunyai
pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

III. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Berikut ini akan dipaparkan karakteristik
pembelajaran konstruktivistik menurut beberapa
pakar. Selain berkaitan dengan kegiatan pembelajaran
secara praktis, juga dipaparkan karakteristik
pembelajaran konstruktivisitik dari sudut ilmu
pembelajaran,
Jonassen (1991), menyatakan bahwa banyak
pembelajar, teknologi pembelajaran dan psikolog
kognitif telah mengaplikasikan konstruktivistik dalam
usaha mengembangkan pembelajaran. Dari uraian
tersebut, ia mencatat prinsip-prinsip desain
pembelajaran konstruktivisitik sebagai berikut: (1)
menciptakan lingkungan dunia-nyata dengan
menggunakan masalah dunia yang relevan untuk
belajar; (2) berfokus pada pendekatan realistis untuk
memecahkan masalah dunia nyata; (3) pembelajaran
adalah membimbing dan menganalisis strategi yang
dipakai dalam memecahkan masalah; (4) menekankan
antar hubungan konseptual, menyediakan representasi
atau perspektif ganda tentang isi; (5) tujuan
pembelajaran harus dinegosiasikan dan tidak
dipaksakan; (6) evaluasi harus merupakan alat analisis
bagi diri sendiri; (7) menyediakan alat dan lingkungan
yang membantu pebelajar di dalam
menginterpretasikan perspektif ganda atas dunia; dan
(8) belajar harus dikontrol secara internal (oleh
pebelajar sendiri) dan dimediasi oleh pembelajar.
Selanjutnya Wilson dan Cole (1991),
memberikan deskripsi model belajar kognitif yang
mendorong menjadikan konsep konstruktivistik. Dari
deskripsi tersebut, kita dapat menunjukkan konsep
intinya guna mendesain dan merancang pembelajaran
konstruktivistik. Diskripsi yang dimaksudkan adalah:
(1) menjadikan belajar berada di dalam sebuah
lingkungan pemecahan masalah otentik yang kaya;
(2) menyediakan konteks otentik berhadapan dengan
akademik untuk kegiatan belajar; (3) memberikan
peluang kontrol ada pada pebelajar; dan (4)
menggunakan kesalahan sebagai mekanisme masukan
ke pemahaman pebelajar. Selain itu, untuk
mendukung pembelajaran konstruktivistik, diperlukan
adanya lingkungan yang sesuai.
Lebih lanjut Honebien (1996), mendeskripsikan 7
hal terkait dengan lingkungan belajar yang
mendukung pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1)
menyediakan pengalaman untuk proses konstruksi
pengetahuan; (2) menyediakan pengalaman dan
apresiasi untuk menumbuhkan perspektif ganda atas
realitas; (3) menjadikan belajar dalam konteks yang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

91

realistik dan relevan; (4) mendorong kepemilikan dan
ide-ide dalam proses belajar; (5) mendorong
penggunaan berbagai macam model representasi; (6)
memasukkan belajar pada pengalaman sosial; dan (7)
mendorong kesadaran diri dalam proses konstruksi
pengetahuan.
Konstruktivistik memiliki akar yang sangat kuat
dalam perjalanan dunia pembelajaran. Perkembangan
konstruktivistik dalam kegiatan pembelajaran tidak
terlepas dari usaha Jean Piaget dan Vygostky. Kedua
tokoh ini menekankan bahwa perubahan kognitif ke
arah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep
yang sebelumnya ada mulai tergeser karena adanya
informasi baru yang diterima melalui proses
ketidakseimbangan. Selain itu, Jean Piaget dan
Vygostky juga menekankan pada pentingnya
lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan
bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kelompok
akan dapat meningkatkan perubahan secara
konseptual.

IV. HAKIKAT PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK
Salah satu teori atau pandangan yang berkaitan
dengan teori belajar konstruktivistik adalah teori
perkembangan mental atau teori perkembangan
intelektual (teori perkembangan kognitif). Teori
belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan pebelajar
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap
perkembangan intelektual mulai dari lahir hingga
dewasa. Menurut Ruseeffendi (1988), setiap tahapan
perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi
dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu
pengetahuan. Misalnya pada tahap sensorik motorik.
Pebelajar berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
Pengetahuan tersebut dibangun pada pikiran pebelajar
melalui asimilasi dan akomodasi, asimilasi
merupakan penyerapan informasi baru dalam
pikiran. Akomodasi adalah menyusun kembali
struktur pikiran karena adanya informasi baru atau
proses mental yang meliputi pembentukan skema baru
yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada agar sesuai
dengan rangsangan yang ada.
Pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, tetapi melalui suatu tindakan. Bahkan,
perkembangan kognitif pada pebelajar bergantung
pada mereka dalam aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan,
perkembangan kognitif sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang ketidakseimbangan dan
keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999:61). Dari
pandangan tentang tahap perkembangan kognitif,
dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu maupun
kemampuan pebelajar mengkonstruksi ilmu berbeda-
beda berdasarkan kematangan intelektualnya.
Berkaitan dengan pebelajar dan lingkungan
belajarnya. menurut pandangan konstruktivistik
Susan, Marilyn dan Tony (1995), mengusulkan
karakteristik sebagai berikut: (1) pebelajar tidak
dipandang sebagai sesuatu yang pasif tetapi memiliki
tujuan; (2) belajar mempertimbangkan seoptimal
mungkin proses keterlibatan pebelajar; (3)
pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar,
melainkan dikonstruksi secara personal; (4)
pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan,
melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas; dan
(5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan
seperangkat pembelajaran, materi dan sumber.
Pandangan tentang pebelajar dari kalangan
konstruktivistik yang lebih mutakhir dikembangkan
dari teori belajar kognitif. Ilmu pengetahuan dibangun
dalam pikiran seorang pebelajar dengan kegiatan
asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang
dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk
mengembangkan schemata. Pengertian tersebut
menunjuklkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas
yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern
pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau
lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah
laku.
Belajar lebih diarahkan pada experimental
learning, yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan
berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium,
diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian
dikontemplasikan dan dijadikan ide dan
pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi
dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada
pembelajar melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian
pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1)
mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata
dalam konteks yang relevan; (2) mengutamakan
proses; (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks
pengalaman sosial, dan (4) pembelajaran dilakukan
dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.
Hakikat pembelajaran konstruktivistik secara
umum, pengetahuan adalah non-objective, bersifat
temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar
dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari
pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi
serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan
agar pebelajar termotivasi dalam menggali makna
serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini,
maka pebelajar akan memiliki pemahaman yang
berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada
pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam
menginterpretasikannya.
Dalam teori konsruktivistik, pebelajar harus
menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-
aturan itu tidak sesuai. Bagi pebelajar, agar benar-
benar memahami dan menerapkan pengetahuan,
mereka harus bekerja keras memecahkan masalah,
dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya. Lebih
lanjut dikatakan bahwa prinsip teori konsruktivistik,
bahwa pembelajar tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada pebelajar, pebelajar harus
membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.
Pembelajar dapat memberikan kemudahan untuk
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

92

proses ini, dengan memberikan kesempatan pebelajar
untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka
sendiri, dan pebelajar menjadi sadar dan secara sadar
menggunakan strategi yang dipunyai untuk belajar
secara mandiri. Pembelajar dapat memberi pebelajar
tangga yang dapat membawa pebelajar ke
pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan bahwa
pebelajar harus memanjat pebelajar tangga tersebut
sendiri.

V. ASPEK-ASPEK DALAM MENGGUBAH
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK
Beberapa aspek dalam teori konstruktivitik
adalah sebagai berikut: adaptasi, konsep pada
lingkungan, dan pembentukan makna. Dari ketiga
aspek tersebut oleh Jean Piaget bermakna, yaitu
adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua
proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana
seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang
sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi sebagai suatu
proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru
dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini
berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan
perubahan atau pergantian skemata melainkan
perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu
proses individu dalam mengadaptasikan dan
mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru
pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau
pengalaman baru seseorang tidak dapat
mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan
skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru
itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema
yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan
mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk
membentuk skema baru yang cocok dengan
rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang
telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan
berjenjang ini oleh Vygotsky dalam Slavin (2000)
disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti
memberikan kepada seorang individu sejumlah besar
bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan
kemudian mengurangi bantuan tersebut dan
memberikan kesempatan kepada pebelajar tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar
segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan
yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk,
peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam
bentuk lain yang memungkinkan pebelajar dapat
mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori
pencapaian pebelajar dalam upayanya memecahkan
permasalahan, yaitu (1) pebelajar mencapai
keberhasilan dengan baik; (2) pebelajar mencapai
keberhasilan dengan bantuan; dan (3) pebelajar gagal
meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya
pembelajar untuk membimbing pebelajar dalam
upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan
pembelajar sangat dibutuhkan agar pencapaian
pebelajar ke jenjang yang lebih tinggi menjadi
optimum.
Konstruktivistik Vygotsky memandang bahwa
pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar
individu dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh
setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan
melalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial
budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan
pengkonstruksian pengetahuan secara intra individu,
yaitu melalui proses regulasi diri internal. Dalam
hubungan ini, para konstruktivis Vygotsky lebih
menekankan pada penerapan teknik saling tukar
gagasan antar individu.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori
Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan
pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang
dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign)
sampai kepada tukar menukar informasi dan
pengetahuan; dan (2) zona of proximal development.
Pembelajar sebagai mediator memiliki peran
mendorong dan menjembatani pebelajar dalam
upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan
kompetensi.
Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia
berasal dari interaksi sosial masing-masing individu
dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa
pembelajaran terjadi saat pebelajar bekerja menangani
tugas-tugas yang belum dipelajari. Tugas-tugas
tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau
tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal
development mereka. Zona of proximal development
adalah daerah antar tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan
memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat
perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi jika
seseorang terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif
dalam percobaan-percobaan dan pengalaman.
Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.
Pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman
fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang
dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang
sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul
ketika pebelajar bekerja sama untuk mencapai tujuan
belajar yang diinginkan oleh pebelajar. Pengelolaan
kelas menurut cooperative learning bertujuan
membantu pebelajar untuk mengembangkan niat dan
kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pebelajar
yang lain.

VI. MENGGUBAH KONSTRUKTIVISTIK DALAM
PENGELOLAAN KELAS
Pada kelas model pembelajaran konstruktivistik,
pembelajar sebagai guide bagi para pebelajar.
Pebelajar dimotivasi mengembangkan kemampuan
metakognitifnya, seperti berpikir reflektif, memiliki
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

93

teknik-teknik pemecahan masalah yang baik.
Pebelajar juga dibimbing untuk menjadi mandiri dan
mampu menggeneralisasikan, menemukan,
membangun, dan mengembangkan kerangka
pengetahuannya. Brooks & Brooks (1993)
menyampaikan perbandingan atau perbedaan antara
kelas tradisional dan kontruktivistik, seperti
ditunjukkan tabel di bawah ini.
KELAS
TRADISIONAL
KELAS
KONSTRUKTIVISTIK
Pebelajar bekerja sendiri
Pebelajar bekerja dalam
kelompok
Kurikulum disampaikan
dari bagian ke
keseluruhan, yang
menekankan pada
kemampuan dasar
Kurikulum disampaikan dari
keseluruhan ke bagian, yang
menekankan pada konsep
utama
Pembelajaran 100%
mengacu pada kurikulum
Pembelajaran berkembang
sesuai keadaan
Pembelajaran text book Pembelajaran kontekstual
Pebelajar dipandang
sebagai kertas kosong
yang sepenuhnya harus
diisi tulisan oleh
pembelajar
Pebelajar dipandang sebagai
pemikir yang mampu
mengembangkan pola pikir
sendiri
Pembelajar bersikap
didaktik
Pembelajar bersikap interaktif
Penilaian belajar
pebelajar dipisahkan dari
pembelajaran dan hampir
sepenuhnya melalui
serangkaian tes
Penilaian pebelajaran dilakukan
sambil berjalan seiring dengan
kegiatan pembelajaran melalui
pengamatan, unjuk kerja dan
portofolio

Terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan
dalam pengelolaan kelas, yaitu: pengelompokan,
semangat kooperatif dan penataan kelas.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita
mengambil simpulan bahwa pembelajaran
konstruktivistik dapat dibagi tiga, yaitu: zone of
proximal development, cognitive apprenticeship, dan
scaffolding.
- Zone of proximal development atau zona
perkembangan terdekat adalah ide bahwa
pebelajar belajar konsep paling baik jika
konsep itu berada dalam zona
perkembangan terdekat mereka.
- Cognitive apprenticeship, konsep lain yang
diturunkan dari teori Vygotsky menekankan
pada dua-duanya hakikat sosial dari belajar
dan zona perkembangan terdekat adalah
pemagangan kognitif.
- Scaffolding atau mediated learning,
menekankan bahwa scaffolding atau
mediated learning atau dukungan tahap
demi tahap untuk belajar dan pemecahan
masalah
Prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivistik
telah banyak digunakan dalam pembelajaran sains dan
matematika. Prinsip yang sering digunakan dari
konstruktivistik antara lain:
- Pengetahuan dibangun oleh pebelajar secara
aktif,
- Penekanan proses pembelajaran terletak
pada pebelajar,
- Membelajarkan adalah membantu pebelajar
belajar,
- Tekanan dalam proses belajar lebih pada
proses dan bukan pada hasil belajar,
- Kurikulum menekankan pada partisipasi
pebelajar, dan
- Pembelajar adalah fasilitator.
- Konstruktivistik ini digunakan oleh
pembelajar dalam kegiatan pembelajaran.
Bentuk yang dapat dilakukan diantaranya
konsep pembelajaran mandiri dan belajar
kelompok. Pembelajar hanya sebagai
mediator, selanjutnya pebelajar secara
sendiri-sendiri maupun kelompok aktif
untuk memecahkan persoalan yang
diberikan oleh pembelajar, sehingga mereka
dapat membangun pengetahuan.

VII. MENGGUBAH RANCANGAN PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Pembelajaran dapat dirancang dengan model
pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:
Pertama, identifikasi prior knowledge dan
miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan
intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya
dijaring untuk mengetahui kemungkinan-
kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang
menghinggapi struktur kognitif pebelajar. Identifikasi
ini dilakukan melalui tes awal dan interview.
Kedua, penyusunan program pembelajaran.
Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk
satuan pelajaran yang disusun setelah kegiatan
pembelajaran selesai dilaksanakan.
Ketiga, orientasi dan elisitasi. Situasi
pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan
sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal
pembelajaran untuk membangkitkan minat pebelajar
terhadap topik yang akan dibahas.
Keempat, refleksi. Berbagai macam gagasan-
gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada
tahap orientasi dan elisitasi direfleksikan dengan
miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal.
Miskonsepsi ini diklasifikasikan berdasar tingkat
kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan
merestrukturisasikannya.
Kelima, restrukturisasi ide. Terdiri dari: (a)
Tantangan, pebelajar diberikan pertanyaan-pertanyaan
tentang gejala-gejala yang kemudian dapat
diperagakan atau diselidiki dalam praktikum.
Pebelajar diminta untuk meramalkan hasil percobaan
dan memberikan alasan untuk mendukung
ramalannya itu; (b) Konflik kognitif dan diskusi
kelas; dan (c) Membangun ulang kerangka
konseptual.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

94

Keenam, aplikasi. Menyakinkan pebelajar akan
manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi
menuju konsepsi ilmiah.
Ketujuh, review. Dilakukan untuk meninjau
keberhasilan strategi pembelajaran yang telah
berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi
yang muncul pada awal pembelajaran.

VIII. MENGGUBAH STRATEGI PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Slavin (2000 : 257) membagi strategi belajar,
antara lain adalah sebagai berikut :
Top down processing, pebelajar belajar dimulai
dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan,
kemudian menghasilkan atau menemukan
keterampilan yang dibutuhkan,
Cooperative learning, pebelajar akan lebih
mudah menemukan pemahaman secara komprehensif
jika mendiskusikan dengan pebelajar yang lain, dan
Discovery learning, pebelajar dimotivasi untuk
belajar mandiri dengan diberikan konsep-konsep atau
prinsip-prinsip tertentu. Pembelajar memotivasi
pebelajar untuk memiliki pengalaman dan
melaksanakan percobaan-percobaan, sehingga mereka
menemukan prinsip-prinsip tersebut secara mandiri.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam kegiatan kegiatan
ini adalah :
Memberikan pertanyaan-pertanyaan pembuka
(leading questions),
Menggunakan materi dan permainan-permainan
yang bervariasi,
Membiarkan pebelajar puas dengan rasa ingin
tahunya masing-masing terlebih dahulu, meskipun
belum sesuai dengan isi materi yang disampaikan, dan
Menggunakan banyak ragam contoh yang
bertolak belakang dengan materi yang disampaikan.

IX. MENGGUBAH MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Prinsip dasar pembelajaran konstruktivistik
adalah belajar bersama atau cooperative learning,
yaitu pembelajaran yang menekankan pada
pentingnya kerja kelompok. Beberapa model
cooperative learning adalah sebagai berikut:
Student teams achievement divisions (STAD)
Dalam model pembelajaran ini, pebelajar
dikelompokkan menjadi empat kelompok belajar
yang merupakan kombinasi tingkatan, jenis kelamin
dan etnik. Pembelajar memberikan pelajaran,
sementara pebelajar bekerja dalam kelompok,
kemudian masing-masing mereka mengambil quis
secara individu yang harus mereka kerjakan sendiri-
sendiri.
Cooperative integrated reading and composition
(CIRC)
Model ini lebih dikhususkan dalam pembelajaran
membaca dan menulis pada tingkatan dasar ke atas.
Pebelajar bekerja dalam 4 kelompok, mereka
melakukan serangkaian kegiatan, termasuk membaca
satu sama lain, membuat prediksi, menyimpulkan
cerita, menulis respon atas cerita, dan lain sebagainya.
Jigsaw
Pada model pembelajaran ini, pebelajar dibagi
menjadi enam kelompok, mereka mempelajari materi
yang telah dirinci menjadi beberapa bagian. Seperti
pada saat pebelajar sedang belajar tentang sistim
pernafasan. Maka, masing-masing kelompok belajar
materi yang berbeda, ada yang belajar tentang hidung,
paru-paru dan lain sebagainya.
Beberapa model lain seperti group investigation,
coopeative scripting, prinsipnya juga tidak terlalu
berbeda, yakni menekankan model pembelajaran yang
melibatkkan kerjasama individu maupun kelompok.
Selain itu, beberapa model lain menurut Slavin
mengakar pada model pembelajaran konstruktivistik
adalah: learning together, group investigation dan
cooperative scripting. Ketiga model pemelajaran
tersebut pada prinsipnya sama dengan ke tiga model
yang sudah disebutkan di atas. Prinsipnya
mengedepankan kerja dalam tim, menemukan
pemahaman secara komprehensif setelah bekeja
dalam kelompok.

X. KRITIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISTIK
Tidak ada model pembelajaran yang paling
sempurna dan dapat diimplementasikan pada setiap
situasi dan kondisi. Banyak faktor pendukung
diperlukan untuk dapat melaksanakan kegiatan
pembelajaran yang ideal. Selain itu, kondisi sosial
budaya para pebelajar juga sangat heterogen.
Mereka memerlukan bimbingan dan arahan untuk
mencapai kondisi belajar yang ideal. Model
pembelajaran konstruktivistik adalah model
pembelajaran yang tidak terstruktur. Salah satu
konsep pembelajaran konstruktivistik juga
mengimplementasikan learning by doing, padahal
learning by doing lebih tepat diimplementasikan pada
pebelajar yang sudah memiliki pengetahuan lebih.
Model pembelajaran konstruktivistik ini tidak begitu
banyak berguna bagi pebelajar pemula karena mereka
masih memerlukan bimbingan dan arahan untuk dapat
mengembangkan potensi diri mereka secara
maksimal.

XI. PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, maka untuk
mengatasi beraneka ragam persoalan dalam
pembelajaran yang semakin rumit, khususnya teori
pembelajaran behavioristik yang telah digunakan
selama bertahun-tahun, tampaknya tidak sepenuhnya
mampu lagi menjawab semua persoalan
pembelajaran. Maka alternatifnya adalah pendekatan
konstruktivistik seperti yang telah diuraikan di atas.
Karena pendekatan ini menghargai perbedaan,
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

95

keunikan invidu, keberagaman dalam menerima dan
memaknai pengetahuan.


REFERENSI
[1]. Baharuddin, Wahyuni Esa Nur, 2007. Teori belajar dan
pembelajaran. Ar Ruzz Media, Yogjakarta.
[2]. Degeng, I Nyoman Sudana, 1998. Teori pembelajaran.
Universitas Terbuka, Jakarta.
[3]. Poedjiadi, A. 1999. Pengantar filsafat ilmu bagi pembelajar.
Yayasan Cendrawasih, Bandung.
[4]. Ruseffendi, E.T. 1988. Pengantar kepada membantu
pembelajar mengembangkan kompetensinya dalam
pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Tarsito,
Bandung.
[5]. Slavin, Robert E, 2000, Educational psychology, theory and
practice, 6
th
. A pearson Ecucation Company, United States of
America.
[6]. Susan, C., Marilyn, L. dan Tony, T. 1995. Learning to teach in
the secondary school. Routledge, London.


















Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

97

Pengaruh Pembelajaran Active Knowledge Sharing terhadap
Hasil Belajar Siswa pada Standar Kompetensi Memahami
Sifat Dasar Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya
Adi Sunaryo
1
, Rr. Hapsari Peni
2
1
Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail: adisunaryo890@gmail.com
2
Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, E-mail: hapsari_peni@yahoo.co.uk
Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pembelajaran active knowledge sharing
terhadap hasil belajar siswa lebih tinggi dibandingkan
dengan model pembelajaran langsung dan mengetahui
keterlaksanakan model pembelajaran active knowledge
sharing pada standar kompetensi memahami sifat dasar
sinyal audio
Metode penelitian yang digunakan adalah quasi
experiment dengan rancangan penelitian yang
digunakan yaitu Nonequivalen Control Design.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TAV
SMK Negeri 2 Surabaya. Di ambil sampel sebanyak 2
kelas dengan kelas X TAV-1 sebagai kelas eksperimen
dan X TAV-2 sebagai kelas kontrol. Sedangkan untuk
mengetahui perbedaan hasil belajarnya digunakan
teknik analisis data uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji-t
pretest kelas eksperiment dan kontrol tidak ada
perbedaan. Sedangkan hasil uji-t posttest kelas
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas
kontrol sehingga pengaruh pembelajaran active
knowledge sharing lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran langsung. Dalam pelaksanaan proses
keterlaksanaan pembelajaran Active Knowledge Sharing
di SMKN 2 Surabaya peneliti menemukan beberapa
kendala diantaranya; sulit mengkondisikan siswa,
dikarenakan siswa belum mengerti tentang
pembelajaran Active Knowledge Sharing. Setelah
dilakukan beberapa pertemuan dengan menggunakan
pembelajaran Active Knowledge Sharing siswa mulai
terangsang dalam melakukan aktifitas belajar individu
atau kelompok pada pembelajaran serta menumbuhkan
sikap sosial, dan solidaritas dan sistem belajar yang
komunikatif. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran aktif active knowledge sharing dapat
digunakan pada proses kegiatan belajar mengajar di
SMK Negeri 2 Surabaya.
Kata kunci: Pembelajaran Active Knowledge Sharing,
Pembelajaran Langsung, Hasil Uji-t Pretest
dan Posttest Siswa.
I. PENDAHULUAN
Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh
kinerja dari proses pembelajaran, yang berarti bahwa
berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
bergantung pada bagaimana proses belajar yang
dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam
kegiatan belajar mengajar siswa adalah sebagai subjek
dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena
itu proses pembelajaran tidak lain adalah kegiatan
belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran tentu saja akan
dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif
untuk mencapainya. Untuk mendapatkan hasil belajar
yang maksimal, keaktivan siswa dalam belajar sangat
diperlukan, karena jika anak didik pasif, atau hanya
berperan sebagai penerima dari guru atau pengajar,
ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang
telah diberikan dalam pembelajaran.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama Praktek
Pengalaman Lapangan (PPL) II tahun 2011
pembelajaran yang dilakukan di SMK Negeri 2
Surabaya masih menggunakan pembelajaran
langsung, diskusi dan latihan soal dimana siswa masih
menggunakan buku LKS untuk membantu siswa
dalam proses pembelajaran, hal ini cenderung
menimbulkan kebosanan siswa dalam menerima
pelajaran, selain itu hasil belajar siswa cenderung
kurang memuaskan. Hal ini dikuatkan juga oleh
pendapat guru dan siswa SMK Negeri 2 Surabaya.
Guru menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran
menggunakan pembelajaran langsung, diskusi dan
latihan soal. Selain itu sebagai alat bantu siswa dalam
menerima materi siswa diberikan LKS. Sedangkan
siswa menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran
terjadi kebosanan yang disebabkan pembelajaran
kurang variatif (catatan penulis, 2011). Sebagai
upaya dalam meningkatkan minat belajar dan hasil
belajar siswa, maka diperlukan lingkungan
pembelajaran yang lebih optimal dari berbagai aspek
pembelajaran terutama model pembelajaran,
mengingat hasil belajar yang dicapai siswa tidak
hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan guru
terhadap materi pelajaran yang diajarkan, tetapi juga
metode pembelajaran yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
Metode Active Knowledge Sharing merupakan
bagian dari active learning yaitu suatu strategi
pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar
secara aktif menggunakan otak, baik untuk
menemukan ide pokok dari materi, memecahkan
masalah atau mengkorelasikan apa yang mereka
pelajari ke dalam masalah dikehidupan mereka.
Dengan belajar aktif siswa diajak turut serta dalam
semua proses pembelajaran, baik mental maupun
fisik. Dengan demikian mereka akan menemukan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

98

suasana yang menyenangkan sehingga keberhasilan
pembelajaran diharapkan dapat lebih maksimal.
Namun dalam proses belajar mengajar tidak
cukup hanya menguasai strategi pengorganisasian isi
atau penyampaian pembelajaran saja, tetapi guru juga
harus mampu menguasai dan menerapkan strategi
pengelolaan pembelajaran. Selama proses
pembelajaran, guru diharapkan mampu
menumbuhkan, menjaga atau mempertahankan, dan
meningkatkan motivasi belajar siswa. Tanpa adanya
motivasi belajar siswa yang tinggi, maka guru akan
sulit untuk mencapai hasil pembelajaran yang
optimal.
Beberapa permasalahan dilapangan peneliti
menanggulangi kemungkinan kendala tersebut dengan
beberapa persiapan untuk menunjang keberhasilan
pembelajaran, seperti menyusun perangkat
pembelajaran yang terdiri dari : (1) rencana
pelaksanaan pembelajaran, (2) modul, (3) tes evaluasi
pembelajaran. Untuk memperoleh perhatian kelas
peneliti berusaha mengkodisikan kelas dengan
pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
Bedasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan
penelitian dengan judul Pengaruh Pembelajaran
Active Knowledge Sharing (Saling Tukar
Pengetahuan) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Standar Kompetensi Memahami Sifat Dasar
Sinyal Audio di SMK Negeri 2 Surabaya, yang
mana diharapkan sebagai bahan masalah dan bahan
pertimbangan bagi guru-guru SMK untuk
mengembangkan pola pembelajaran yang lebih efektif
digunakan dalam proses pembelajaran.
Mengacu pada pembatasan masalah yang telah
peneliti kemukakan di atas, maka masalah yang akan
diteliti adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengaruh pembelajaran Active Knowledge
Sharing terhadap hasil belajar siswa lebih tinggi
dibandingkan dengan model pembelajaran
langsung pada standar kompetensi memahami sifat
dasar sinyal audio di kelas X TAV SMKN 2
Surabaya?
2. Bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran Active
Knowledge Sharing pada standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio di kelas X TAV
SMKN 2 Surabaya?
Mengacu pada rumusan masalah diatas maka
tujuan yang di harapkan peneliti dari mengadakan
peneliatian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Active
Knowledge Sharing terhadap hasil belajar siswa
dibandingkan dengan model pembelajaran
langsung pada standar kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio di kelas X TAV SMK
Negeri 2 Surabaya.
2. Untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran
Active Knowledge Sharing pada standar
kompetensi memahami sifat dasar sinyal audio di
kelas X TAV SMKN 2 Surabaya.
Penelitian dan pengembangan ini diharapkan
bermanfaat :
1. Bagi Peneliti
a. Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya
ilmu pengetahuan pembelajaran di SMK
khususnya dalam keterlaksanaan
pembelajaran Active Knowledge Sharing
untuk meningkatkan kerja sama antar siswa
dan hasil belajar.
b. Penelitian ini sebagai jalan untuk
menyelesaikan tugas skripsi yang merupakan
salah satu syarat untuk kelulusan dalam
menempuh pendidikan di Universitas Negeri
Surabaya.
2 Bagi pengajar
a. Membantu guru dalam menyampaikan materi
khususnya standar kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio.
b. Memberi masukan kepada guru untuk
meningkatkan kreativitas dan mendorong
dalam meningkatkan kinerja guru.
c. Menambah kemampuan guru untuk
melaksanakan pembelajaran yang inovatif,
efektif dan menyenangkan.
3 Bagi siswa
a. Dengan diterapkan pembelajaran Active
Knowledge Sharing, siswa diharapkan
mampu mencapai tujuan pembelajaran
dengan hasil belajar yang memuaskan.
b. Memberikan kesempatan dan kebebasan
kepada siswa untuk belajar bersama sehingga
memudahkan siswa meningkatkan kerjasama
dengan teman sekelasnya untuk
meningkatkan hasil belajar.
Agar penelitian ini dapat diketahui arahnya,
maka peneliti perlu memberikan batasan-batasan
masalah sebagai berikut :
1. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X TAV
di SMK Negeri 2 Surabaya.
2. Materi yang disampaikan hanya pada standar
kompetensi memahami sifat dasar sinyal audio
pada kompetensi dasar :
a. Memahami elemen gelombang, jenis-jenis
dan interaksi gelombang
b. Memahami sifat dan kegunaan penguat
c. Menjelaskan attenuasi gelombang
3. Hasil belajar siswa yang digunakan hanya pada
ranah kognitif.

II. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen
yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
siswa pada Standar Kompetensi Memahami Sifat
Dasar Sinyal Audio. Penelitian ini merupakan suatu
penelitian Quasi Experimental Design. (Sugiyono,
2011:77)
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 2
Surabaya dan waktu penelitian pada semester genap
2012/2013.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

99

Dalam penelitian ini sebagai populasinya adalah
siswa SMK yang belajar standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio.
Sampel penelitian yang diambil adalah 2 kelas,
yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol pada
program keahlian teknik audio video sebanyak 2 kelas
yaitu kelas X TAV-1 dan X TAV-2.
Dalam penelitian ini rancangan penelitian yang
digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan
menggunakan bentuk Nonequivalent Control Group
Design. Desain ini hampir sama dengan pretest-
posttest control group design, hanya saja pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol
tidak dipilih secara random. Paradigma penelitiannya
dapat digambarkan sebagai berikut :

KELAS POLA
ESKPERIMEN O1 x O2
KONTROL O3 O4
Dimana :
O
1
=

Kemampuan awal siswa sebelum diberi materi
O
2
=

Kemampuan siswa setelah diberi perlakuan dan
materi
O
3
=

Kemampuan awal siswa sebelum diberi materi
O
4
=

Kemampuan siswa setelah diberi materi
x = Perlakuan/penerapan metode Active Knowledge
Sharing

Pada penelitian ini, instrumen penelitian
meliputi:1) Lembar validasi perangkat pembelajaran,
dan 2) Tes hasil belajar. Data yang diperoleh dalam
penelitian ini dikumpulkan dengan cara memberikan
lembar validasi kepada para ahli sebagai serta tes
hasil belajar kepada siswa yang terdiri dari pretest dan
posttest
Dari hasil lembar validasi perangkat
pembelajaran dapat diketahui kelayakan media
pembelajaran yang telah dibuat. Untuk menganalisis
jawaban validator dan respon siswa digunakan
statistik deskriptif hasil rating yang diuraikan sebagai
berikut:
1. Penentuan ukuran penilaian beserta bobot
nilainya. Adapun penentuannya adalah :

Tabel 3.5 Ukuran Penilaian Kualitatif
Validasi Media Butir Soal Interpretasi Bobot nilai
Sangat baik
Baik
Kurang baik
Tidak baik
Sangat baik
Baik
Kurang baik
Tidak baik
76 100 %
51 75 %
26 50 %
0 25 %
4
3
2
1
(Riduwan, 2009:85)

2. Menentukan jumlah nilai tertinggi aspek media
Penentuannya adalah banyaknya validator/
responden kali bobot nilai tertinggi pada penilaian
kuantitatif kali banyaknya indikator penilaian
Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut:
Jumlah Nilai Tertinggi Aspek Media = n x i
max

Dimana : n = banyaknya validator/responden.
i
max
= bobot nilai tertinggi penilaian
kualitatif

3. Hasil Rating (HR).
Setelah melakukan penjumlahan jawaban nilai
aspek media, langkah berikutnya adalah
menentukan hasil rating dengan rumus dapat
dilihat pada persamaan berikut :


HR =

Sesuai dengan instrumen penelitian maka hasil
belajar siswa diukur dengan melakukan pretest dan
postest. Hasil tes evaluasi yang diperoleh dianalisis
menggunakan uji-t. Data diperoleh dari penelitian di
kelas X TKJ 1 (kontrol) dan X TKJ2 (eksperimen)
SMKN 3 Buduran Sidoarjo .

1. Pretest dan Postest
Pada penelitian ini digunakan uji normalitas
dan uji homogenitas sampel berdasarkan nilai pre-
test yang terdapat dalam lampiran 3, pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Untuk analisis data
penelitian, peneliti menggunakan beberapa uji
antara lain:
a. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan terhadap skor pre-
test kelas eksperimen dan kelas kontrol.Uji
yang digunakan yaitu uji chi kuadrat. Langkah-
langkah dalam uji normalitas:
1) Merumuskan hipotesis
2) Menentukan taraf signifikan = 0,05
3) Menentukan daftar distribusi frekuensi
untuk setiap kelompok data.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas varians digunakan untuk
mengetahui apakah varians sampel-sampel
yang diambil homogen (sama). Uji
homogenitas dilakukan pada skor
pretest.Langkah-langkah yang dilakukan
adalah:

1) Merumuskan hipotesis
2) Menentukan taraf signifikan = 0,05
3) Uji statistik
Untuk menguji homogenitas digunakan
rumus:
F
hitung
=


c. Uji Hipotesis
Sudjana (2005: 238) menjabarkan langkah-
langkah dan rumus-rumus pengujian kesamaan
rata-rata sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis
b. Menentukan taraf signifikan yang akan
digunakan. Untuk penelitian ini digunakan
taraf 5%.
c. Uji statistika
Untuk uji statistika ini menggunakan uji-t,
berikut ini rumus uji-t yang digunakan :

% 100
max
4
0
x
i x n
i x n
i
i
=
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

100

dengan
2 1
2 1
1 1
n n
s
x x
t
+

=

Dimana :
t : uji t
1
x : mean kelompok eksperimen
2
x : mean kelompok kontrol
s
2
: simpangan baku
s
1
2
: varians nilai kelompok kontrol
s
2
2
: varians nilai kelompok eksperimen
n
1
: banyaknya sampel kelompok kontrol
n
2
: banyaknya sampel kelompok eksperimen

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian
1. Penyajian Data Hasil Validasi Buku Ajar
Gambar 4.1 Hasil Data Validasi Buku Ajar
2. Penyajian Data Hasil Validasi RPP

Gambar 4.2 Hasil Data Validasi RPP
3. Penyajian Data Hasil Validasi Butir Soal
Gambar 4.3 Hasil Data Validasi Butir Soal
4. Penyajian Data Hasil Belajar Belajar Siswa
a. Analisis Pretest
Perhitungan untuk mengetahui tingkat prestasi
awal belajar siswa menggunakan perhitungan uji-t
dengan SPSS versi 15 adalah sebagai berikut:
1) Uji Normalitas
Tabel 4.6 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
eksperimen kontrol
N 30 30
Normal Parameters
a
Mean 38.8000 40.2667
Std. Deviation 6.99951 7.83860
Most Extreme Differences Absolute .254 .186
Positive .254 .150
Negative -.146 -.186
Kolmogorov-Smirnov Z 1.389 1.021
Asymp. Sig. (2-tailed) .042 .248


Dari hasil tabel dapat disimpulkan bahwa data
nilai pretest berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji Kolmogolov-
Smirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai
0,042 dan kelas kontrol yang bernilai 0,248 lebih
besar dari = 0,05. Dengan hipoetesis yaitu :
H
0
= sampel berdistribusi normal
H
1
= sampel berdistribusi tidak normal
2) Sehingga H
0
yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H
1
yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal
ditolak Uji Homogenitas pada Nilai Pretest
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah kedua sampel memiliki varian yang sama.
Pada penelitian ini penulis menggunakan uji
Levene Statistic (menggunakan software SPSS
versi 15.0) yang ditunjukkan pada Tabel seperti
berikut:

Tabel 4.7 Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Eksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
2.362 3 22 .099

Tabel 4.8 Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Kontrol
Levene Statistic df1 df2 Sig.
2.091 6 21 .098

Nilai signifikansi < 0,05 maka varian tidak
homogen
Nilai signifikansi > 0,05 maka varian homogen
Dari uji homogenitas di atas diperoleh
signifikansi kelas eksperimen adalah 0,098 dan
kontrol adalah 0,99 dengan demikian sampel
dalam penelitian ini adalah homogen dengan taraf
signifikan 0,05. Dengan hipotesis yaitu :
H
0
= sampel homogen
H
1
= sampel tidak homogen
Maka H
0
yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H
1
yang menyatakan
bahwa sampel tidak homogen, ditolak.
3) Uji Hipotesis pada Nilai Pretest
Hasil pretest dalam penelitian ini digunakan
untuk mengetahui kemampuan akademik awal
siswa dalam standar kompetensi menjelaskan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

101

dasar-dasar sinyal video pada masing-masing
kelompok, baik kelompok kelas eksperimen
maupun kelompok kelas kontrol. Setelah
terpenuhinya syarat-syarat pengujian statistika
parametrik, maka berikut ini hasil perhitungan
menggunakan data pretest kelas XI TAV 1 dan
kelas XI TAV 2 SMK Negeri 2 Surabaya.
Rumus untuk melakukan pengujian hipotesis
yang telah diajukan adalah menggunakan uji-t,
seperti yang telah dibahas pada sub teknik analisis
data
Tabel 4.9. Perhitungan Hasil Pretest
Group Statistik
Kelas N Mean
Std.
Deviation
Std.
Error
Mean
Nilai kontrol
eksperimen
30
30
40.2667
38.8000
7.83860
6.99951
1.43113
1.27793

Dari data perhitungan hasil pretest
(menggunakan software SPSS versi 15.0)
diperoleh hasil sebagai berikut:
Rata-rata kelas X TAV 2 (kontrol) : 38.80
Rata-rata kelas X TAV 1 (eksperimen): 40.27
S
1
(kontrol) : 6.999 : S
1
2
= 48.986
S
2
(eksperimen) : 7.838 : S
2
2
= 61.434
n : 30
Jenis data pada penelitian ini adalah 2 sampel
independen yaitu kelas Kontrol dan kelas
eksperimen. Dengan mengacu pada hasil uji
normalitas dan uji homogenitas dengan
menggunakan program SPSS yang menunjukkan
bahwa data normal dan homogen maka
selanjutnya dilakukan analisis uji-t (Independent
Samples Test) dan hasilnya dapat dilihat pada
Tabel 4.10.
Tabel 4.10. Perhitungan Uji-t Hasil Pretest

Berdasarkan hasil analisis nilai pretest dengan
menggunakan teknik uji-t seperti pada tabel 4.10,
diperoleh nilai t
hitung
sebesar 0,765 dengan taraf
signifikansi sebesar 1,000. Sedangkan diketahui
nilai t
tabel
sebesar 1,67 dengan taraf signifikansi
sebesar 0,05. Hasil perhitungan uji-t dengan
menggunakan software SPSS versi 15 diperoleh
t
hitung
(0,765) lebih kecil daripada hasil t
tabel

(1,671).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H
0
diterima

yang artinya tidak terdapat perbedaan antara rata-
rata hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan
rata-rata hasil belajar kelas kontrol, maka dapat
disimpulakan bahwa nilai pretest kelas kontrol
dengan menerapkan pembelajaran langsung adalah
sebesar 40,27, dan rata-rata nilai pretest kelas
eksperimen dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing adalah sebesar 38,80.
b. Analisis Posttest
Sebagaimana ketentuan yang telah ada, untuk
melakukan analisis statistika parametrik
diperlukan beberapa syarat.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
1) Uji Normalitas pada Nilai Posttest
Tabel 4.11 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
eksperimen kontrol
N 30 30
Normal Parameters
a
Mean 80,0667 76,5000
Std. Deviation 4,97014 5,59402
Most Extreme Differences Absolute ,173 ,138
Positive ,113 ,096
Negative -,173 -,138
Kolmogorov-Smirnov Z ,947 ,754
Asymp. Sig. (2-tailed) ,331 ,621

Dari hasil Tabel 4.11 dapat disimpulkan bahwa data
nilai posttest berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji Kolmogolov-
Smirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0,331
dan kelas kontrol yang bernilai 0,621 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipoetesis yaitu :
H
0
= sampel berdistribusi normal
H
1
= sampel berdistribusi tidak normal
Sehingga H
0
yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H
1
yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
2) Uji Homogenitas pada Nilai Postest
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah kedua sampel memiliki varian yang sama.
Pada penelitian ini penulis menggunakan uji
Levene Statistic (menggunakan software SPSS
versi 15.0) yang ditunjukkan pada Tabel seperti
berikut:
Tabel 4.12 Perhitungan Uji Homogenitas Eksperimen
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,771 6 21 ,154

Tabel 4.13 Perhitungan Uji Homogenitas Kontrol
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,322 7 22 ,287

Kriteria untuk uji homogenitas adalah:
Nilai signifikansi < 0,05 maka varian tidak
homogen
Nilai signifikansi > 0,05 maka varian homogen
Dari uji homogenitas di atas diperoleh
signifikansi kelas eksperimen adalah 0,287 dan
kontrol adalah 0,154 dengan demikian sampel
dalam penelitian ini adalah homogen dengan taraf
signifikan 0,05. Dengan hipotesis yaitu
H
0
= sampel homogen
H
1
= sampel tidak homogen
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

102

Maka H
0
yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H
1
yang menyatakan
bahwa sampel tidak homogen, ditolak.
3) Uji Hipotesis pada Nilai Posttest
Setelah terpenuhinya syarat-syarat pengujian
statistika parametrik, maka berikut ini hasil
perhitungan menggunakan data posttest kelas X
TAV 1 dan kelas X TAV 2 SMK Negeri 2
Surabaya.
Tabel 4.14 Perhitungan Hasil Posttest
Kelas N Mean
Std.
Deviation
Std. Error
Mean
nilai Eksperimen 30 80,0667 4,97014 ,90742
Kontrol 30 76,5000 5,59402 1,02132

Dari data perhitungan hasil posttest
(menggunakan software SPSS versi 15.0)
diperoleh hasil sebagai berikut:
Rata-rata kelas X TAV 1 (eksperimen) : 80.07
Rata-rata kelas X TAV 2 (kontrol) : 76.5
S
1
(eksperimen) : 4.970; S
1
2
= 24,7
S
2
(kontrol) : 5.594; S
2
2
= 31,29
n : 30
Jenis data pada penelitian ini adalah 2 sampel
independen yaitu kelas kontrol dan kelas
eksperimen. Dengan mengacu pada hasil uji
normalitas dan uji homogenitas dengan
menggunakan program SPSS yang menunjukkan
bahwa data normal dan homogen maka hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 4.15
Tabel 4.15 Hasil Perhitungan Uji t
Independent Samples Test

Berdasarkan hasil SPSS, dapat diketahui
bahwa nilai t sebesar 2.611dengan nilai
signifikansi sebesar 0,456, maka 0,456> 0,05 yang
berarti dapat disimpulkan bahwa H
0
ditolak yang
artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara
kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai rata-
rata kelas eksperimen adalah 80.07, sedangkan
nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 76.5. Sehingga
didapat 80.07>76.5 dan dapat disimpulkan bahwa
H
0
yang menyatakan hasil belajar antara siswa
yang menggunakan pembelajaran Active
Knowledge Sharing lebih rendah dibandingkan
dengan siswa yang menggunakan pembelajaran
langsung ditolak dan H
1
yang menyatakan hasil
belajar antara siswa yang pembelajaran Active
Knowledge Sharing lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang menggunakan pembelajaran
langsung diterima. Sehingga prioritas H
0
ditolak
dan H
1
diterima. T
test
menunjukkan nilai positif,
maka ada perbedaan yang signifikan antara hasil
belajar siswa yang diajarkan pembelajaran Active
Knowledge Sharing dengan hasil belajar siswa
yang diajarkan menggunakan pembelajaran
langsung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-
rata nilai posttest kelas kontrol dengan
menerapkan pembelajaran langsung adalah
sebesar 76,5 dan rata-rata nilai posttest kelas
eksperimen dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing adalah sebesar 80,07.

3.1 Pembahasan
3.1.1 Validasi Instrumen
1. Penyajian dan Pembahasan Hasil Validasi Buku
Ajar
Hasil validasi oleh para validator terhadap
buku ajar pada Standar Kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio. Adapun aspek penilaian
ini yang terdiri dari: 1) Aspek Cover, 2) Aspek
Ilustrasi, 3) Aspek Bahasa, dan 4) Aspek Isi
Materi.
a. Hasil validasi buku ajar yang di lihat dari
beberapa aspek dengan rincian: 1) Aspek
Cover 86,3%, 2) Aspek Ilustrasi 77,1%, 3)
Aspek Bahasa 76,25%, dan 4) Aspek Isi
Materi 81,7%. Hasil keseluruhan buku ajar
yang dirancang untuk standar kompetensi
memahami sifat dasar sinyal audio dinyatakan
baik dengan hasil rating sebesar 80,33%.
b. Hasil validasi rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang di lihat dari beberapa
aspek dengan rincian: 1) Aspek Cover 78,75%,
2) Aspek Ilustrasi 79,2%, 3) Aspek Bahasa
76,25%, dan 4) Aspek Isi Materi 79,5%%.
Hasil keseluruhan RPP yang dirancang untuk
standar kompetensi memahami sifat dasar
sinyal audio dinyatakan baik dengan hasil
rating sebesar 78,35%.
c. Hasil validasi butir soal yang dilihat dari
beberapa aspek dengan rincian: 1) Aspek
Materi78,1%, 2) Aspek Konstruksi 76,1%, dan
3) Aspek Bahasa 75%. Hasil keseluruhan
validasi butir soal yang dirancang untuk
standar kompetensi memahami sifat dasar
sinyal audio dinyatakan baik dengan hasil
rating sebesar. 76,4%.
3.1.2 Uji Hipotesis
1. Pembahasan Data Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dilihat
bahwa nilai rata rata pretest kelas kontrol dengan
menerapkan pembelajaran langsung adalah
sebesar 40,27, dan rata-rata nilai pretest kelas
eksperimen dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing adalah sebesar 38,80.
Sedangkan rata-rata nilai posttest kelas kontrol
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

103

dengan menerapkan pembelajaran langsung adalah
sebesar 76,5 dan rata-rata nilai posttest kelas
eksperimen dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing adalah sebesar 80,07.
2. Keterlaksanaan pembelajaran Active Knowledge
Sharing
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran Active
Knowledge Sharing di SMKN 2 Surabaya peneliti
menemukan beberapa kendala diantaranya; sulit
mengkondisikan siswa, dikarenakan siswa belum
mengerti tentang pembelajaran Active Knowledge
Sharing. Sebagian besar pengetahuan siswa masih
minim sehingga sering dalam proses sharing
kadang berjalan pasif. Setelah dilakukan beberapa
pertemuan dengan menggunakan pembelajaran
Active Knowledge Sharing siswa mulai terangsang
dalam melakukan aktifitas belajar individu atau
kelompok pada pembelajaran serta menumbuhkan
sikap sosial, dan solidaritas dan sistem belajar
yang komunikatif.
Berdasarkan pelaksanaan proses pembelajaran
Active Knowledge Sharing hasil belajar siswa
meningkat 41,27% dari hasil penilaian pretest dan
posttest. Pembelajaran Active Knowledge Sharing
sangat berguna untuk mengembangkan potensi
yang dimiliki siswa karena dapat meningkatkan
solidaritas dan kerja sama dalam menyelesaikan
permasalahan yang ada. Wawasan akan suatu
pengetahuan dapat lebih luas karena dapat dari
berbagai sumber yang ada serta akan membentuk
sistem belajar yang lebih komunikatif.

IV. PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka
dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut:
3. Dari analisis hasil uji-t nilai pretest di ketahui
bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
tidak ada perbedaan. Selanjutnya dari analisis hasil
uji-t untuk nilai posttest diketahui bahwa nilai
posttest kelas eksperimen lebih tinggi daripada
kelas kontrol. Dari data tersebut ditunjukkan
bahwa pengaruh pembelajaran active knowledge
sharing lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran langsung.
4. Dalam pelaksanaan proses keterlaksanaan
pembelajaran Active Knowledge Sharing di SMKN
2 Surabaya peneliti menemukan beberapa kendala
diantaranya; sulit mengkondisikan siswa,
dikarenakan siswa belum mengerti tentang
pembelajaran Active Knowledge Sharing. Sebagian
besar pengetahuan siswa masih minim sehingga
sering dalam proses sharing kadang berjalan pasif.
Setelah dilakukan beberapa pertemuan dengan
menggunakan pembelajaran Active Knowledge
Sharing siswa mulai terangsang dalam melakukan
aktifitas belajar individu atau kelompok pada
pembelajaran serta menumbuhkan sikap sosial,
dan solidaritas dan sistem belajar yang
komunikatif.

4.2 Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka
disarankan untuk:
1. Pembelajaran active knowledge sharing ini dapat
dijadikan alternatif dalam proses belajar mengajar
agar proses belajar mengajar lebih menarik.
Karena pembelajaran active knowledge sharing
lebih optimal diterapkan pada kemampuan
kognitif, maka pembelajaran active knowledge
sharing lebih tepat digunakan pada sesi teori
pengantar pada setiap kompetensi kejuruan.
2. Untuk mendapatkan penelitian yang relevan,
diharapkan untuk para peneliti yang lain agar
mengembangkan penelitian ini sehingga diperoleh
hasil yang lebih maksimal.

REFERENSI
[1]. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta T. Reneka Cipta.
[2]. Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian . Jakarta:
Rineka Cipta
[3]. Fitra, Pandu. (2012). Pengaruh Pembelajaran Aktif dengan
Metode Peer Lessons Terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Standar Kompetensi Menjelaskan Dasar-dasar Sinyal Video
di SMK Negeri 1 Madiun. Skripsi S-1 yang tidak di
publikasikan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
[4]. Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
[5]. Riduwan. 2006. Belajar Mudah Penelitian. Bandung:
Alfabeta.
[6]. Slameto. 2010. Belajar dan faktor faktor yang
mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
[7]. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
[8]. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
[9]. Sulistyono, Agung. (2012). Pengembangan perangkat
pembelajaran menggunakan model Active Learning dengan
strategi Class Concern pada standart kompetensi memahami
sifat dasar sinyal audio di SMK Negeri 3 Surabaya. Skripsi S-
1 yang tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya.
[10]. Tim Penyusun. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian
Skripsi. Surabaya: University Press.
[11]. Tim Penyusun. 2010. Bahasa Indonesia untuk Karangan
Ilmiah. Malang: UMM Press.
[12]. Zaini, Hisyam, Munthe Bermawy dan Aryani Sekar Ayu.
2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka
Insan Madani.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

105

Pengembangan media pembelajaran aljabar relasional untuk
perancangan query berbasis os android
Wiyli Yustanti
1
, Bima Kharisma
2
1
Jurusan Teknik Elektro, Unesa, Surabaya, wiyli.yustanti@gmail.com
2
Jurusan Teknik Elektro, Unesa, Surabaya, bima.kharisma@gmail.com
Abstrak Dalam dunia pendidikan telah banyak
beredar aplikasi untuk sarana pendukung belajar
mahasiswa secara mandiri. Aljabar relasional
merupakan sub materi dalam mata kuliah Sistem Basis
Data yang penting, pemahaman terhadap materi ini
sangat urgen terkait dengan konsep perancangan query.
Dengan membuat aplikasi aljabar relasional ini
diharapkan bisa membantu para mahasiswa untuk
memahami tentang aljabar relasional sehingga para
mahasiswa dapat menyusun sintaks aljabar relasional
dengan benar. Dalam membuat aplikasi aljabar
relasional ini langkah yang diperlukan adalah
menginvestigasi munculnya suatu masalah, menganalisa
masalah tersebut, mendesain aplikasi,
mengimplementasikan hasil desain aplikasi. Dari hasil
implementasi sistem dapat disimpulkan bahwa aplikasi
aljabar relasional cukup membantu pemahaman
mahasiswa, hal ini didukung oleh hasil analisis
deskriptif data survey yang dilakukan melalui angket
kuisioner. Data yang diperoleh menunjukkan proporsi
sebesar 81,24% responden mengatakan bahwa
penggunaan media ini sangat baik sebagai penunjang
pemahaman terhadap materi aljabar relasional.
Kata Kunci : Aljabar Relasional, Android, Media
Pembelajaran.
I. PENDAHULUAN
Saat ini perkembangan teknologi perangkat
bergerak berjalan dengan sangat pesat. Dimana
perkembangan perangkat bergerak saat ini menuju ke
arah mobile smartphone yang memungkinkan untuk
melakukan komunikasi serta terdapat juga fungsi
Personal Digital Assistant (PDA) didalamnya dan
memiliki kemampuan layaknya komputer. Android
merupakan sebuah sistem operasi untuk perangkat
mobile berbasis linux yang mencakup sistem operasi,
middleware dan aplikasi. Android itu sendiri adalah
platform yang sangat lengkap baik itu sistem
operasinya, aplikasi dan perangkat pengembangan,
market aplikasi android serta dukungan yang sangat
tinggi dari komunitas open source di dunia, sehingga
android terus berkembang pesat baik dari segi
teknologi maupun dari segi jumlah device yang ada di
dunia. Android juga menyediakan platform terbuka
bagi pengembang untuk menciptakan aplikasi
mereka. [9]
Terkait dengan perkembangan aplikasi di pasar
aplikasi dengan menggunakan platform android,
terlihat bahwa aplikasi dalam kategori untuk
pendidikan sangat banyak. Setelah melakukan
pengamatan, ditemukan bahwa aplikasi yang
ditujukan bagi pendukung kegiatan pembelajaran di
universitas masih kurang. Dalam hal ini terutama
aplikasi pembelajaran untuk mata kuliah sistem basis
data sub materi aljabar relasional.
Materi aljabar relasional ini sangat penting
karena merupakan kunci pemahaman kerja internal
DBMS relasional, pemahaman aljabar relasional
merupakan hal yang esensi dalam merancang query
SQL yang diolah secara efisien. Aljabar relasional
banyak digunakan pada optimasi query dan
pengolahan query tersebar. Aljabar relasional
mendefinisikan sekumpulan operator dan rumus
untuk memanipulasi himpunan data. Dalam
menyusun aljabar relasional yang benar dibutuhkan
suatu pemahaman tentang pemakaian simbol-simbol
yang digunakan. [3].
Melihat kondisi ini, maka terdapat sebuah
peluang untuk mengembangkan aplikasi yang bias
digunakan secara mandiri oleh mahasiswa agar dapat
melatih kemampuanya dalam merancang query
melalui simbol-simbol aljabar relasional dengan
menggunakan aplikasi sederhana dalam smartphone
berbasis system operasi android.

II. DASAR TEORI
A. Basis Data Relasional
Basis data (database) relasional adalah kumpulan
dari berbagai data yang saling berhubungan satu
dengan yang lainnya. Basis data tersimpan di
perangkat keras, serta dimanipulasi dengan
menggunakan perangkat lunak. Pendefinisian basis
data meliputi spesifikasi dari tipe data, struktur dan
batasan dari data atau informasi yang akan disimpan.
Database merupakan salah satu komponen yang
penting dalam sistem informasi, karena merupakan
basis dalam menyediakan informasi pada para
pengguna atau user. Penyusunan basis data meliputi
proses memasukkan data kedalam media
penyimpanan data dan diatur dengan menggunakan
perangkat Sistem Manajemen Basis Data (Database
Management System DBMS). Manipulasi basis data
meliputi pembuatan pernyataan (query) untuk
mendapatkan informasi tertentu, melakukan
pembaharuan atau penggantian (update) data, serta
pembuatan report data. Tujuan utama DBMS adalah
untuk menyediakan tinjauan abstrak dari data bagi
user. Jadi sistem menyembunyikan informasi
mengenai bagaimana data disimpan dan dirawat,
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

106

tetapi data tetap dapat diambil dengan efisien.
Pertimbangan efisien yang digunakan adalah
bagaimana merancang struktur data yang kompleks,
tetapi tetap dapat digunakan oleh pengguna yang
masih awam, tanpa mengetahui kompleksitas struktur
data.
Basis data menjadi penting karena munculnya
beberapa masalah bila tidak menggunakan data yang
terpusat, seperti adanya duplikasi data, hubungan
antar data tidak jelas, organisasi data dan update
menjadi rumit. Jadi tujuan dari pengaturan data
dengan menggunakan basis data adalah menyediakan
penyimpanan data untuk dapat digunakan oleh
organisasi saat sekarang dan masa yang akan datang.
Kemudahan pemasukan data, sehingga meringankan
tugas operator dan menyangkut pula waktu yang
diperlukan oleh pemakai untuk mendapatkan data
serta hak-hak yang dimiliki terhadap data yang
ditangani. Pengendalian data untuk setiap siklus agar
data selalu up-to-date dan dapat mencerminkan
perubahan spesifik yang terjadi disetiap sistem.
Pengamanan data terhadap kemungkinan
penambahan, pengubahan, pengerusakan dan
gangguan-gangguan lain.

B. Aljabar Relasional
Terdapat lima operasi dasar dalam aljabar
relasional, yaitu:
1. Selection ( )
2. Projection ( )
3. Cartesian Product ( X, juga disebut sebagai
Cross Product )
4. Union ( )
5. Set Difference ( - )
6. Rename ( )
Operasi operasi turunan dari operasi operasi dasar
tersebut adalah :
1. Set Intersection ( )
2. Theta Join ( )
3. Equi Join (*)
5. Division ( )

Berikut merupakan penjelasan tentang operator-
operator dasar pada Aljabar Relasional :

1. Selection ( )
Selection / Select () adalah operasi untuk
menyeleksi tupel tupel yang memenuhi suatu
predikat, kita dapat menggunakan operator
perbandingan (<, >, >=, <=, =, #) pada predikat.
Beberapa predikat dapat dikombinasikan menjadi
predikat majemuk menggunakan penghubung AND
( ) dan OR ( ).


B =b
(R) Relasi R Relasi S





Gambar 1. Contoh Selection

2. Projection ( )
Projection / Project () adalah operasi untuk
memperoleh kolom-kolom tertentu. Operasi project
adalah operasi unary yang mengirim relasi argumen
dengan kolom-kolom tertentu. Karena relasi adalah
himpunan, maka baris-baris duplikasi dihilangkan.
Sintak yang digunakan dalam operasi proyeksi ini
adalah sebagai berikut :

C,A
(R) Relasi R


Gambar 2. Contoh Projection

3. Cartesian Product (X)
Cartesian product (X),adalah operasi untuk
menghasilkan tabel hasil perkalian kartesian. Sintak
yang digunakan dalam operasi proyeksi ini adalah R
X S = {(x,y) | xR dan yS}. Operasi ini
memungkinkan kita mengkombinasikan informasi
beberapa relasi, operasi ini adalah operasi biner.
Sebagaimana telah dinyatakan bahwa relasi adalah
subset hasil cartesian product dan himpunan domain
relasi-relasi tersebut. Dalam penerapan operasi ini,
maka harus dipilih atribut-atribut untuk relasi yang
dihasilkan dari cartesian product.

Relasi S Relasi R R X S










Gambar 3. Contoh Cartesian Product.

4. Union ( )
Union () adalah operasi untuk menghasilkan
gabungan tabel dengan syarat kedua tabel memiliki
atribut yang sama, yaitu domain atribut ke-i masing-
masing tabel harus sama. Sintak yang digunakan
dalam operasi union ini adalah R S = {x | xR atau
X S}.Operasi ini dapat dilaksanakan apabila R dan
S mempunyai atribut yang sama sehingga jumlah
komponennya sama.



Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

107

Relasi R Relasi S R S


Gambar 4. Contoh Union

5. Set Difference ( - )
Set difference ( - ) adalah operasi untuk
mendapatkan tabel pada suatu relasi, tapi tidak ada
pada relasi yang lainnya. Sintak yang digunakan
dalam operasi union ini R S = { x | xR dan X
S}. Operasi ini dapat dilaksanakan apabila R dan S
mempunyai atribut yang tidak sama yang akan
ditampilkan, artinya adalah atribut R yang tidak ada
di S akan ditampilkan, sedangkan atribut yang sama
tidak ditampilkan.

Relasi R Relasi S R S


Gambar 5. Contoh Set Difference

6. Rename ( )
Rename (), adalah operasi untuk menyalin table
lama kedalam table yang baru. Sintaks yang
digunakan dalam operasi union ini adalah
[nama_tabel] (tabel_lama).

7. Set Intersection ( )
Operasi ini dinotasikan dengan R S. Hasilnya
adalah berisi nilai yang memenuhi baik pada tupel
(baris) R dan S (sebagai irisan). Bisa dicari dari
operasi dasar: R (R S).

Relasi R Relasi S R S


Gambar 6. Contoh Intersection.


8. Theta Join (

)
Membentuk suatu relasi dari dua relasi yang
terdiri dari kombinasi yang mungkin dari relasi
relasi dengan kondisi tertentu. Misalnya C = A


B .
R S RB<D S =
B <D
(RXS)
A B C D E A B C D E
1 2 3 4 6 1 2 3 4 6
4 5 6 7 8 1 2 3 7 8
7 8 9 4 5 6 7 8

Gambar 7. Contoh Theta Join

9. Equi Join (*)
Kasus khusus dari kondisi theta join dimana
kondisi c hanya berisi kesamaan (nilai yang sama dari
kedua relasi). Skema hasil hampir sama dengan cross-
product, tapi hanya berisi satu copy field yang
mempunyai kesamaan dari field yang sudah
ditentukan. Natural join adalah Equi-join pada semua
fields.

10. Division ( )
Untuk memndapatkan nilai yang ada pada salah
satu atribut dari relasi pembilang yang nilai
atributnya sama dengan nilai atribut relasi
penyebut.

R S R S
A B C D C D A B
a b e c e f e d
b c d f
e d c d
e d e f
a b d e

Gambar 8. Contoh Division
C. Android
Android adalah sistem operasi yang berbasis
Linux untuk telepon seluler seperti telepon pintar dan
komputer tablet. Android menyediakan platform
terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan
aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh
bermacam peranti bergerak. Awalnya, Google Inc.
membeli Android Inc., pendatang baru yang membuat
peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk
mengembangkan Android, dibentuklah Open Handset
Alliance, konsorsium dari 34 perusahaan peranti
keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, termasuk
Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, T-Mobile,
dan Nvidia. Pada saat perilisan perdana Android, 5
November 2007, Android bersama Open Handset
Alliance menyatakan mendukung pengembangan
standar terbuka pada perangkat seluler. Di lain pihak,
Google merilis kode-kode Android di bawah lisensi
Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan standar
terbuka perangkat seluler.
Di dunia ini terdapat dua jenis distributor sistem
operasi Android. Pertama yang mendapat dukungan
penuh dari Google atau Google Mail Services (GMS)
dan kedua adalah yang benar-benar bebas
distribusinya tanpa dukungan langsung Google atau
dikenal sebagai Open Handset Distribution (OHD).
[10].

D. JDK (Java Development Kit)
JDK (Java Development Kit) adalah suatu modal
utama ketika kegiatan progamming menggunakan
Java menjadi pilihannya karena JDK berisi satu
bundled KIT, dimana proses kompilasi source code
java menjadi byte class dilakukan dengan
menggunakan JDK ini. Netbean atau JCreator
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

108

hanyalah IDE (Integrated Development Editor).
Ketika melakukan kompilasi melalui Netbean
sebenarnya JDK yang sudah terpasang di dalam
komputerlah yang dipanggil, hanya saja proses
kompilasi dipermudah dengan cara memanggil
langsung lewat IDE.

E. SDK (Software Development Kit)
Android SDK adalah sebuah software yang
diciptakan untuk pengembangan aplikasi di sistem
operasi Android. Perangkat lunak ini berguna untuk
mensimulasikan sistem operasi Android pada PC.
Selain untuk fungsi pengembangan, emulator ini juga
dapat digunakan untuk mencoba aplikasi-aplikasi
yang disediakan oleh para developer sistem operasi
tersebut. Walau emulator ini memiliki keterbatasan
dalam penggunaan marketnya dan keterbatasan dalam
requirements saat menginstal aplikasi tertentu.

F. ADT (Android Development Tools)
Android Development Tools adalah plugin yang
di desain untuk IDE Eclipse yang memberikan
kemudahan dalam mengembangkan aplikasi android
dengan menggunkan IDE Eclipse. Dengan
menggunakn ADT untuk Eclipse akan memudahkan
dalam membuat aplikasi project android, membuat
GUI aplikasi, dan menambahkan komponen-
komponen yang lainnya, begitu juga dapat dilakukan
running aplikasi menggunakan Android SDK melalui
eclipse. Semakin tinggi platform Android yang
digunakan di anjurkan menggunakn ADT yang lebih
terbaru, karena biasanya munculnya platform baru
diikuti dengan munculnya versi ADT yang terbaru.
Untuk download ADT dapat di lakukan di
http://www.developer.android.com /sdk/eclipse-
adt.html.

G. Eclipse
Eclipse adalah sebuah IDE (Integrated
Development Environment) untuk mengembangkan
perangkat lunak dan dapat dijalankan di semua
platform (platform-independent). Berikut ini adalah
sifat dari Eclipse:
a. Multi-platform. Target sistem operasi Eclipse
adalah Microsoft Windows, Linux, Solaris, AIX,
HP-UX dan Mac OS X.
b. Multi-language. Eclipse dikembangkan dengan
bahasa pemrograman Java, akan tetapi Eclipse
mendukung pengembangan aplikasi berbasis
bahasa pemrograman lainnya, seperti C/C++,
Cobol, Python, Perl, PHP, dan lain sebagainya.
c. Multi-role. Selain sebagai IDE untuk
pengembangan aplikasi, Eclipse pun bisa
digunakan untuk aktivitas dalam siklus
pengembangan perangkat lunak, seperti
dokumentasi, tes perangkat lunak, pengembangan
web, dan lain sebagainya.

Eclipse pada saat ini merupakan salah satu IDE
favorit dikarenakan gratis dan open source, yang
berarti setiap orang dapat melihat kode pemrograman
perangkat lunak ini. Selain itu, kelebihan dari Eclipse
yang membuatnya populer adalah kemampuannya
untuk dapat dikembangkan oleh pengguna dengan
komponen yang dinamakan plug-in.

III. METODOLOGI
Pada pengembangan aplikasi ini digunakan tahapan
dalam rekayasa perangkat lunak yang meliputi
tahapan analisis, perancangan, implementasi, uji coba
dan evaluasi perangkat lunak yang dibuat.
A. Analisis Sistem
Permasalahan yang mendasar dari aplikasi ini
adalah sulitnya memahami model pembelajaran
konvensional tentang penyusunan aljabar relasional
dalam penerapan pembelajaran di mata kuliah sistem
basis data pada umumnya. Hal pertama yang perlu
dilakukan adalah menyiapkan sebuah basis data yang
berisi beberapa tabel dimana tabel tersebut nantinya
akan dijadikan contoh kasus dalam aplikasi Aljabar
Relasional ini. Data yang digunakan yaitu data yang
diperoleh dari sebuah contoh kasus basis data
universitas yang berisi tabel dosen, tabel mata_kuliah,
tabel jurusan dan tabel mengajar. Setelah data
diperoleh, data siap digunakan pada sistem aplikasi.
Kebutuhan software yang diperlukan untuk
aplikasi Aljabar Relasional berbasis Android yaitu
Java Development Kit (JDK) dan Eclipse IDE yang
merupakan lingkungan pemrograman untuk menulis
program-program aplikasi dan applet java. Serta
didukung plugin Android Development Tools (ADT)
yang berfungsi untuk mengembangkan apilkasi
Android. Serta untuk desain tampilan diperlukan
software editing Adobe Photoshop.

B. Desain Sistem
Diagram gambaran alur program yang digunakan
sebagai perencanaan pembuatan aplikasi dapat dilihat
pada gambar 9.



Gambar 9. Flowchart Aplikasi

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

109


Aplikasi Aljabar Relasional ini akan berjalan dimana
pada tampilan pertama aplikasi user akan dihadapkan
pada tiga pilihan menu yaitu BELAJAR, LATIHAN
dan KELUAR. Pada pilihan menu BELAJAR akan
ditampilkan sub menu materi dari Aljabar Relasional
dimana nanti user bisa memilih materi-materi dari
Aljabar Relasional tersebut. Sedangkan pada menu
LATIHAN, user akan memilih soal yang ada dan
kemudian dapat masuk ke form untuk menjawab soal
tersebut. Alur aplikasi pada menu latihan dapat dilihat
pada gambar 10.



Gambar 10. Flowchart Menu LATIHAN

C. Implementasi Sistem
Hasil dari impelementasi aplikasi ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.


1. Menu Utama
Untuk menjalankan menu utama diperlukan dua
komponen yaitu Main.xml dan
MenuActivity.java. File Main.xml digunakan
untuk membuat layout Menu Utama sedangkan
MenuActivity.java merupakan class yang
berisi perintah-perintah untuk menjalankan Menu
Utama.

2. Menu Belajar
Untuk menjalankan menu belajar ini, terdapat
tiga komponen yang digunakan yaitu
Belajar.xml, Belajar Activity.java
dan ListBelajar.java. File Belajar.xml
digunakan untuk membuat Layout Menu Belajar
sedangkan Belajar Activity.java berisi
perintah-perintah untuk menjalankan menu Belajar.
Dan ListBelajar.java merupakan komponen
yang berisi perintah-perintah untuk membuat list
menu Belajar.

3. Isi Materi
Untuk menampilkan isi dari materi dibutuhkan
dua kompunen yaitu Materi.xml dan
MateriActivity. java. File Materi.xml
digunakan untuk membuat layout untuk menampikan
Isi Materi. Sedangkan Materi Activity.java
berisi perintah-perintah untuk menampilkan materi.
Dalam MateriActivity.java isi dari materi-
materi disimpan di dalam Array. Jika user memilih
menu materi yang diinginkan maka materi yang
tersimpan dalam array secara otomatis akan
dikeluarkan sesuai dengan alamat array yang dipilih
atau dipanggil.

4. Menu Soal Latihan
Untuk menjalankan Menu Soal Latihan ini,
terdapat dua komponen yaitu Pilih.xml dan
PilihActivity.java. Pilih.xml digunakan
untuk membuat Layout Menu Soal Latihan sedangkan
PilihActivity.java berisi perintah-perintah
untuk menjalankan Menu Soal Latihan.

5. Latihan
Untuk menjalankan Latihan ini dibutuhkan tiga
komponen yaitu Latihan.xml,
Isi_slading.xml dan
LatihanActivity.java. Latihan.xml
digunakan untuk membuat Layout untuk menjawab
soal latihan. Isi_slading.xml digunakan untuk
membuat tombol-tombol simbol aljabar relasional
untuk menjawab soal latihan nanti. Sedangkan
LatihanActivity.java berisi perintah-perintah
inti dari aplikasi ini yaitu pengecekan jawaban
terhadap soal yang telah disediakan. dalam
pengecekan jawaban berlaku kondisi jika jawaban
yang dimasukkan oleh user benar maka akan diminta
untuk menampilkan tabel. Dalam
LatihanActivity.java semua jawaban dan
soal sudah disediakan sebelumnya dan disimpan di
dalam Array.

D. Uji Coba dan Evaluasi Sistem
Uji coba aplikasi dilakukan melalui survey
dengan mengambil sampel mahasiswa D3
Manajemen Informatika sebanyak 30 responden yang
memiliki smartphone dengan system operasi
Android.. Responden melakukan instalasi aplikasi
dan melakukan pengisian angker yang mengukur
parameter mengenai performansi aplikasi yang
meliputi :
1) Aspek Perangkat Lunak
2) Aspek GUI
3) Aspek Konten Materi
4) Aspek Konten Latihan Soal

Analisa hasil kuesioner dilakukan dengan metode
skoring. Penggolongan skor penilaian dilakukan
berdasarkan skor ideal dimana nilainya tergantung
pada jumlah responden yang ingin dilihat, sehingga
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

110

prosentase penggolongan skor penilaian adalah
(Jumlah Skor/Skor Ideal) x 100%. [8]

IV. PEMBAHASAN
Hasil implementasi dari pengembangan aplikasi
ini dapat dilihat sebagai berikut :

1. Menu Utama
Berisi materi-materi Aljabar Relasional dan
contoh-contoh soal pada umumnya, bertujuan untuk
memberikan pemahaman pada user agar bisa
menyusun Aljabar Relasional dengan mudah dan
benar.Penggunaannya dengan cara langsung masuk
kedalam daftar menu-menu materi yang tersedia
untuk membaca materi-materi Aljabar Relasional.
Pertama kali aplikasi ini dijalankan, maka pada layar
akan tampak tampilan splash screen dan kemudian
menu utama aplikasi Media Pembelajaran Aljabar
Relasonal akan terlihat seperti pada Gambar 11.


Gambar 11. Menu Utama

2. Menu BELAJAR
User memililh menu BELAJAR untuk
membaca materi-materi dasar Aljabar Relasional
yang tersedia, materi yang tersedia adalah operasi-
operasi dasar dalam Aljabar Relasional. Tampilan
yang ditemui saat user memilih menu BELAJAR
seperti pada gambar 12.


Gambar 12. Menu Materi BELAJAR

Sebagai contoh, jika user memilih materi
SELECTION maka akan tampil uraian materi
operasi selection seperti yang ditampilkan pada
gambar 13.

Gambar 13. Isi Materi SELECTION

3. Menu LATIHAN
Pada menu LATIHAN, user diminta untuk
memilih soal yang telah disediakan. Terdapat enam
soal yang dapat dipilih dan setiap soal memiliki
tingkat kesulitan sendiri. Setelah memilih soal mana
yang dipilih, kemudian masuk ke form untuk
menjawab soal tersebut. Yang perlu diperhatikan
dalam menjalankan latihan ini di sebelah kiri layar
terdapat tombol-tombol yang berfungsi untuk
menjawab soal yang tersedia. Ada beberapa tombol
slider yang harus dimengerti penggunaannya. Di
dalam button tabel Dosen, MataKuliah, Jurusan dan
Mengajar berisi pilihan atau checkbox untuk memilih
yang dibutuhkan untuk menjawan soal. Setelah
mengisi checkbox tekan Pilih.



Gambar 14. Pilihan Tabel/Field
Jika pilihan Tabel Dosen ditekan, maka akan muncul
seperti yang terlihat pada Gambar 15. User bisa
memilih atribut-atribut dalam tabel Dosen yang
tersedia dengan cara memberikan tanda centang pada
checkbox sebelah kanan.


Gambar 15. Pilihan Atribut pada Tabel Dosen

Selain itu, user dapat memberikan velue atau nilai
jika diperlukan. Sebagai ilustrasi untuk menjawab
persoalan menampilkan daftar dosen yang memiliki
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

111

alamat di Jakarta atau Bogor, maka user harus
memberikan sebuah nilai pada operator aljabar
relasional yang digunakan. Pada saat berhadapat
dengan soal latihan tersebut, user akan membaca
terlebih dahulu pertanyaannya lalu kemudian memilih
langkah selanjutnya yaitu memilih operator atau nama
tabel dan memasukkan kriteria/nilai.


Gambar 16. Form Masukan Nilai


Setelah user memilih tombol = user akan diminta
apakah memberikan value atau nilai sebagai kriteria
atau tidak. Kriteria ini berfungsi untuk memberikan
batasan atau nilai yang ditentukan agar hasil yang
ditampilkan nanti bisa sesuai dengan kriteria yang
ditentukan. Kemudian user akan menjawab dengan
cara menekan menu-menu yang sudah tersedia.
Setelah ditekan maka simbol yang ditekan tersebut
akan masuk ke dalam textfield jawaban. Ilustrasinya
dapat dilihat pada gambar 17.


Gambar 17. Form Soal

Setelah user selesai memasukkan jawaban, kemudian
user harus menekan tombol Check untuk mengetahui
apakah jawaban yang dimasukkan benar atau salah.
Jika jawaban benar akan muncul message box seperti
Gambar 17.



Gambar 18. Message Box Jawaban Benar
Setelah selesai , maka akan tampil hasil dari eksekusi
aljabar relasional yang ditulis seperti gambar 19.
Selanjutnya, user boleh memilih tombol Tutup atau
Kembali untuk memilih soal lain atau meneruskan
soal berikutnya. Begitu seterusnya sampai semua soal
altihan berhasil terjawab dengan benar.



Gambar 19. Hasil Eksekusi Aljabar Relasional

4. Analisis Hasil Kuesioner
Nilai rata-rata dari hasil pengamatan minat
penggunaan aplikasi aljabar relasional secara
menyeluruh adalah 81,24% dari skala 1-5 dengan
predikat sangat baik. Ini menunjukkan bahwa minat
responden sudah puas dengan aplikasi aljabar
relasional berbasis android.

V. PENUTUP
Dari hasil impelemntasi dan ujicoba yang sudah
dilakukan didapatkan sebuah kesimpulan bahwa
aplikasi media pembelajaran untuk materi aljabar
relasional dalam mata kuliah system basis data ini
dapat diterima dan digunakan sebagai media belajar
mandiri oleh mahasiswa dengan tingkat kepuasan
sebesar 81,24% dari total responden yang disurvey.
Sebagai tindak lanjut perbaikan aplikasi ini ini, maka
dapat dilakukan perbaikan dari sisi jumlah variasi
soal yang lebih kompleks dan tema yang berbeda.
Dengan demikian , dari hasil penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan titik awal untuk dilakukan
pengembangan media dalam mempelajari semua
topik dalam perkuliahan sistem basis data secara
interaktif dan user friendly.

REFERENSI
[1]. Arifianto, Teguh. 2011. Membuat Interface Aplikasi Android
Lebih Keren dengan LWUIT. Yogyakarta: Andi Offset
[2]. Christian, Derry. 2012. Smartphone di Indonesia Melonjak,
Android Menggeliat, (Online),
(http://infotekno.co.id/news/Gadget/2012/03/27 /smartphone
_di_indonesia_melonjak_android_menggeliat, diakses 19 juli
2012)
[3]. FTI. 2007. Edisi 1 Sistem Basis Data. Jakarta : URINDO.
[4]. Hermawan, Stephanus. 2011. Mudah Membuat Aplikasi
Android. Yogyakarta: Andi Offset
[5]. Kadir, Abdul. 2002. Konsep & Tuntunan Praktis Basis Data.
Yogyakarta : Andi Offset.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

112

[6]. Kurniadi, Hary. 24 Mei 2010. Permasalahan Proses Belajar
Mengajar Bahasa Indonesia di SD, (Online),
(http://www.papantulisku.com/
[7]. 2010/05/ permasalahan-proses-belajar-mengajar.html diakses
22 September 2011)
[8]. Mulyanto, Ainur R.. 2008. Rekayasa Perangkat Lunak Jilid 1.
Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
[9]. Nazir, Moh. 2009. Metodologi Penelitian. Bogor : Ghalia
Indonesia.
[10]. Safaat, Nazruddin. 2011. Pemograman Aplikasi Mobile
Smartphone dan Tablet PC Berbasis Android. Bandung :
Informatika Bandung.
[11]. Sulistyanto, Andhie. 27 Februri 2012. Sejarah Android
(Sistem Operasi), (Online),
(http://andhiequest.com/article/read/293/sejarah-android-
sistem-operasi).
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

113

Teori Rancangan Pembelajaran di Kelas dengan Pembelajaran
Mandiri Berbasis Teknologi Pembelajaran
Indrati Agustinah
1

1
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unesa
Abstrak - Tujuan utama pengembanagn teori ini
adalah untuk membantu pengembangan pembelajaran
mandiri antara siswa dan guru, (baik tanpa komputer,
berbantuan komputer, maupun berbasis internet). Hal
lain yang berhubungan dengan pembelajaran mandiri
adalah pengembangan potensi guru sebagai inovator,
pemberi solusi atau pemecahan masalah dan
pengalaman yang diperoleh siswa. Prasyarat utama
adalah situasi lingkungan, di mana pembelajaran
mandiri merupakan tujuan yang penting dan terdapat
waktu yang cukup untuk mengembangkan keahlian
manajemn diri yang dimiliki oleh pelajar atau siswa.
Kata kunci : rancangan pembelajaran, pengembangan
pembelajaran
I. PENDAHULUAN
Makalah ini disusun dari makalah pokok yang
ditulis Lyo Corno dan Judi Randi dengan dilengkapi
artikel atau makalah serta jurnal hasil
penelitian.Unsur-unsur yang ada sesuai dengan teori
ini adalah sebagai berikut: (1)pembelajaran mandiri
siswa, baik sebagai tujuan maupun cara guna
mendukung kompetensi mata pelajaran yang
dikembangkan; (2) mendukung usaha siswa dalam
pencapaian tujuan pembelajaran; (3) khusus guru,
self-regulation untuk pengembangan model mereka
dalam membelajarkan siswa secara mandiri; (4)
peningkatan profesionalisme yang menitikberatkan
keahlian guru dalam melakukan penelitian dan
menemukan praktik pembelajaran yang baru; (5)
mengkaitkan antara penelitian dan praktik; dan (6)
pembelajaran berbasis ICT,

II. METODE
Untuk dapat menciptakan pembelajaran yang
dapat mendorong siswa untuk belajar mandiri seorang
guru, perlu bekerja sama dengan peneliti untuk
menciptakan metode yang tepat dan membantu
pengembangan pembelajaran mandiri. Guru
jugaharus dapat mendampingi dalam mengkondisikan
kelas untuk pembelajaran mandiri, yaitu
memperhatikan kembali sistem evaluasi untuk
menitikberatkan pada aspek-aspek kualitatif kerja
siswa, daripada membuat peringkat dengan memakai
acuan nilai angka, terutama pada tahap awal
pembelajaran keahlian baru dan mendorong siswa
untuk membuat kriteria dan memilih tugas.
Sedangkan peranan guru di dalam mendampingi
siswadalam pembelajaran adalah: (a) mempersiapkan
siswa untuk melakukan evaluasi diri dan evaluasi
teman sebaya; (b) memberikan instruksi yang jelas
dalam merancang evaluasi diri atau pengamatan
mandiri dan manajemen sumber; dan (c)
membelajarkan siswa bagaimana mencari bantuan
ketika siswa membutuhkan.
Dalam pembelajaran, guru memberikan
kesempatan yang luas bagi siswa untuk berperan aktif
dalam self-regulated learning (SRL) atau
pembelajaran mandiri sampai mereka merasa sukses,
dalam bentuk: (1) bagi siswa yang membutuhkan
bantuan, guru memberikan instruksi yang jelas dan
menyampaikan strategi-strategi manajemen diri dari
awal. Bagi siswa-siswa lainnya, guru memberi contoh
dan menyampaikan strategi-strategi pembelajaran
manajemen diri hanya ketika merespon atas usaha-
usaha yang dilakukan siswa; (2) menyuruh siswa
secara induktif mengenal strategi-strategi manajemen
diri dalam bahasa yang mudah dimengerti dan
melalui pengalaman yang siswa alami sendiri (diskusi
kelompok dan presentasi di kelas); (3) menyuruh
siswa melakukan sendiri belajar mandiri dan
menyarankan strategi-strategi SRL sebelum siswa
mengembangkan strategi SRL mereka sendiri
(misalnya, membuat strategi manajemen diri tentang
watak dalam sastra sebelum mereka menulis tentang
pengalaman pribadi); (4) menyuruh siswa menulis
esai tentang pengalaman manajemen diri mereka dan
menganalisisnya sendiri guna menunjukkan
bagaimana strategi tersebut dipakai; (5) mendorong
siswa memilih teman kerja atau diskusi yang akan
berbagi pandangan dan praktik yang berhubungan
dengan kebiasaan-kebiasaan SRL; (6) memberikan
nilai kualitatif pada hasil kerja siswa yang
memperagakan atau memberi contoh strategi-strategi
SRL; (7) secara berkelanjutan, menilai kesiapan siswa
dan memperbaiki instruksi untuk mendukung siswa
yang membutuhkannya dan memberi kelonggaran
pada siswa yang lain; dan (8) merancang tugas akhir
dengan memberi keleluasaan bagi siswa untuk
mengaitkannya dengan sesuatu yang berhubungan
dengan kehidupan.
Adapun peneliti, peranannya adalah mendorong
guru untuk berperan serta dalam pembelajaran
mandiri berkaitan dengan metode pembelajaran,
meliputi: (1) menggunakan alur proses dari
merencanakan, membuat, dan menggunakannya
dalam pembelajaran; (2) mengenalkan guru dengan
beragam metode pembelajaran (model-model
pembelajaran); (3) membantu guru menyesuaikan diri
dengan metode-metode tersebut di kelas; (4)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

114

membantu guru menilai metode pembelajaran baru,
terutama tberkaitan dengan siswa; (5) mendorong
guru untuk memberikan opini mereka tentang apa
yang mereka pelajari dan bagaimana mereka
melakukannya, guna mengantarkan guru pada
penggunaan strategi manajemen diri mereka pada
tingkat sadar; (6) membantu guru untuk menyatukan
metode pembelajaran baru mereka dengan metode
yang lama atau sebelumnya; dan (7) mendorong
kepercayaan, melalui percobaan dan pemecahan
masalah.
Dengan melakukan pendekatan penelitian
bersama guru, akan tercipta sebuah peluang untuk
bekerja sama dalam berbagai keahlian. Kerjasama
tersebut dalam hal mengembangkan cara baru dalam
pengumpulan data dan cara penilaian baru terhadap
efek pembelajaran. Selain itu juga dapat melakukan
penelitian kolaborasi dan cara pengumpulan data
yang baru untuk menambah pengetahuan SRL.

III. TEORI RANCANGAN PEMBELAJARAN DI
KELAS DALAM PEMBELAJARAN MANDIRI
Tinjauan Singkat Penelitian Pembelajaran Mandiri
Satu cara untuk mendukung pencapaian tujuan
siswa adalah membelajarkan strategi khusus yang
dapat mereka gunakan untuk membantu dalam
menyelesaikan tugas akademik. Menanyakan pada
diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ketika membaca
seperti apa ide pokok bacaan ini? atau pemecahan
masalah seperti sudahkah saya menggunakan
semua informasi yang diberikan?. Kedua pertanyaan
tersebut adalah contoh. Untuk mencapai tujuan, siswa
juga perlu belajar mengatur waktu dan memberi
penghargaan pada diri mereka untuk pekerjaan yang
dikerjakan dengan baik. Manfaatnya kebiasaan
pembelajaran yang dapat dikenali dan strategi
manajemen diri adalah memudahkan, karena
pembelajaran pada akhirnya menjadi kurang kognitif
dan beban perilaku (Corno dan Mandinach, 1983).
Walaupun terdapat banyak definisi tentang self-
regulated learning yang berbeda, tetapi semuanya
melibatkan pengetahuan yang berhubungan dengan
belajar dan strategi manajemen diri ke dalam tugas,
dan menitikberatkan kecenderungan pemanfaatan
mereka secara tepat (Zimmerman & Schunk, 1989).
Pembelajaran mandiri juga dapat dipahami sebagai
sebuah dimensi, di mana siswa berbeda, beberapa
siswa lebih mudah menggunakan belajar mandiri
daripada siswa yang lain. Hal ini penting bahwa
belajar mandiri menjadi lebih meluas, akan tetapi
dikarenakan fungsinya, pada prinsip menjadikan
siswa ke arah beragam bentuk pencapaian prestasi
pendidikan, berada di luar kondisi yang ada di
sekolah.
Penelitian tentang belajar mandiri sebelumnya
telah banyak dilakukan yang mengacu pada tujuan,
metode ilmiah dihubungkan dengan cara pandang
positivistic. Contohnya, program penelitian prediktif
oleh Pintrich (Pintrich & DeGroot, 1990; Pintrich &
Garcia, 1991), C. Weinstein (Weinstein & Meyer,
1991), dan Zimmerman (Zimmerman & Martinez-
Pons, 1986;1988) yang menekankan pada
penggunaan strategi yang jelas pada lingkungan
akademik dan mengkaitkan laporan mandiri siswa
dengan hasil belajar, seperti nilai dan ujian prestasi.
Hasil penelitian ini menyimpulkan belajar mandiri:
(a) diukur dengan laporan mandiri, (b) berbeda
dengan kemampuan kognitif secara umum dan aspek-
aspek motivasi lainnya seperti keinginan, dan (c)
memprediksi hasil pencapaian pendidikan yang
penting pada masa remaja dan setelahnya.
Penelitian lain beralih dari penelitian
pembelajaran mandiri yang prediktif dan analitis
dalam tugas kelas ke arah model, evaluasi, prosedur
dan model pembelajaran (Harris & Graham,
1985;1992 yang berkenaan dengan pembelajaran
khusus; dan Bereiter, 1990 dan Bereiter &
Scardamalia, 1987 berkenaan dengan pembelajaran
menulis). Peneliti-peneliti ini menitiberatkan pada
pengembangan model pembelajaran untuk
membelajarkanperlunya prinsip dan strategi
manajemen pada diri siswa terhadap materi yang
dipelajarinya guna mendukung penguasaan mata
pelajaran mereka. Secara umum, Pembelajaran
semacam itu berhasil. Bahkan siswa cacat mampu
belajar mengatur dan memotivasi dirinya untuk
menyelesaikan tugas-tugas sekolah secara benar.
Usaha sejenis untuk melengkapi hasil penelitian
strategi belajaradalah hasil penelitian Palinesar dan
Brown (1984; Palinesar, 1986), Pressley, dkk.
(Pressley, Forrest-Pressley, Elliott-Faust, & Miller,
1985; Pressley, Goodchild, Fleet, Zajchowski, &
Evans, 1989; Borkowski, Carr, Rellinger, & Pressley,
1990; Brown & Pressley, 1994), dan lainnya (Dole,
Duffy, Roehler, & Pearson, 1991). Hasil dari
beberapa penelitian teknis tersebut diringkas oleh
Pressley dalam beberapa buku dan artikel yang
berjudul penggunaan model strategi yang baik.
Strategi belajar bermanfaat banyak bagi siswa dalam
membaca, meskipun beberapa penelitian gagal
mendapatkan manfaat strategi belajar pada tugas-
tugas yang lain.
Penelitian interpretatif-kualitatif dan etnografis,
dilakukan baru-baru ini memberikan bentuk berbeda
tentang bukti dan model penelitian alternatif guna
mendukung penilaian praktis secara eksplisit tentang
strategi manajemen diri pada konteks mata pelajaran.
Penelitian kualitatif juga banyak menyoroti
pembelajaran dan tantangan pendidikan guru
(Trawick & Corno, 1995), seperti ditunjukan Tabel 1.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

115

Tabel 1 :Tantangan Pendidikan Guru pada Penerapan Strategi
Belajar yang Baik
- Guru tidak diajari tentang pengolahan informasi.
- Perspektif strategi pembelajaran memberi tanggung
jawab yang besar bagi guru.
- Strategi pembelajaran membutuhkan metode
pembelajaran yang menuntut banyak persyaratan.
- Pemanfaatan strategi yang dapat bertahan lama sering
tidak mengacu pada strategi pembelajaran.
- Kurangnya data evaluasi menyebabkan para pendidik
kesulitan dalam memilih bahan strategi pembelajaran
yang efektif.
- Para pendidik memiliki akses informasi yang terbatas
tentang strategi.
Sumber: Tantangan Pembelajaran Strategi Kelas, oleh
M.Pressley, F. Goodchiled, J. Fleet, R. Zajchowski, dan E. Evans,
1989, Jurnal Sekolah Dasar, 89, halaman 309-322.
PendidikanProfesi Guru
Pembelajaran mandiri merupakan pendekatan
baru ditinjuau secara teoritis maupun praktis guna
mengkaji masalah tentang pembelajaran siswa
mandiri secara luas. Tetapi, penekananya tetap pada
manajemen diri guru, khususnya dalam menghadapi
tantangan situasi dalam membelajarkan.
Berdasarkan pengalamannya, guru diminta
melengkapi inovasi yang dapat dikembangkan di luar
kelas mereka (Corno, 1977). Pada pengembangan
profesi cara lama, guru dipandang sebagai pembelajar
pasif yang menjalankan tugas-tugas dibantu dengan
pelatihan keahlian, mengajar dan dukungan
implementasi (Mclaughlin & Marsh, 1978).
Permintaan guru supaya menjadi reflektif dan
guru-peneliti (Cochran-Smith & Lytle, 1992;Schon,
1983) memberi bentuk baru pengembangan
professional guru yang memandang guru sebagai
pembelajar aktif (Lieberman, 1995).
Guru belajar bersama-sama dengan peneliti
tentang pembelajaran siswa secara mandiri, memberi
dasar pada guru untuk mengkaji pembelajaran
mandiri. Penelitian interpretatif-kualitatif, mampu
menyingkap usaha-usaha manajemen diri guru dan
strategi-strategi yang guru pakai untuk menjelaskan
manajemen diri pada siswa (Gudmundsdottir, 1997).
Tujuannya adalah untuk membuka cara baru dalam
mengamati dan menilai gagasan belajar mandiri. Sifat
kolaboratif memungkinkan merekam proses
manajemen diri selama pembelajaran yang dilakukan
oleh guru dan pemecahan masalah ketika mereka
berusaha memberikan pengalaman pembelajaran yang
lebih maju kepada siswa-siswanya.
Bentuk pembelajaran professional guru ini,
collaborative innovation (inovasi kolaboratif),
sebagaimana yang dikatakan Reigeluth (1996),
cenderung mengambil hasil pembelajaran sebelum
digagas, mendekontruksi mereka, dan kemudian
menggunakan sumber-sumber yang ada dengan cara
yang unik selama pembelajaran. Hal tersebut sesuai
dengan jenis pembelajaran professional guru yang
disebut di dalam literatur pembaharuan baru-baru
ini (Lieberman, 1995), collaborative innovation
mendukung penemuan guru, daripada penerapan
gagasan-gagasan yang lain (Randi, 1996; Corno &
Randi, 1997).
Definisi dan Tujuan Collaborative I nnovation
Collaborative innovationadalah proses cara
guru bekerja bersama-sama dengan sekolah yang
mengikutsertakan peneliti untuk membangun,
menilai, menjelaskan praktik kelas baru sesuai
dengan kebutuhan siswa-siswa yang bervariasi. Oleh
karena itu, collaborative innovation mendukung guru
untuk mengubah model yang dipakai, menyesuaikan
diri dan membuat praktik pembelajaran baru. Karena
inovasi guru sangat disesuaikan dengan keadaan
kelas, sehingga model collaborative innovation tidak
hanya membutuhkan unsur pokok motivasi guru
tetapi juga pengembangan praktik pembelajaran baru
disesuaikan dengan perbedaan individu siswa.
Collaborative innovation diwujudkan dengan
kedinamisan praktik. Sekolah dan kelas dewasa ini
berubah dari waktu ke waktu (McLaughlin, 1993).
Tujuan penting collaborative innovation adalah untuk
meningkatkan potensi guru sebagai inovator dan
memecahkan masalah. Tujuan yang lain adalah
menjelaskan pengembangan pembelajaran mandiri
kepada siswa. Dalam proses ini, guru dipandu peneliti
untuk mengartikulasikan apa yang telah mereka
pelajari, sehingga pada akhirnya mereka mampu
memandu siswa-siswa mereka pada pengalaman
pembelajaran serupa.
Collaborative innovation bertujuan untuk
meningkatkan pembelajaran eksperimental guru.
Pembelajaran eksperimental dianggap memiliki
peranan penting di dalam pembelajaran orang dewasa
(Brookfield, 1996). Collaborative innovation
mendukung upaya guru ketika belajar
mengkondisikan pembelajaran, mendorong mereka
mengartikulasikan pengetahuan mereka.
Gambaran Collaborative I nnovation`
Corno & Randi (1997); Guthrie & Wigfield
(1997) menitikberatkan pada siswa sebagai pebelajar
dan guru menciptakan lingkungan kelas yang
mendukung siswa menjadi pebelajar mandiri.
Pembelajaran Mandiri Guru Melalui Kajian
Pustaka
Mengeksplorasi tema-tema lama tentang
kebebasan dan kepercayaan diri dengan mengkaji
nilai pada bacaan dan film kemanusiaan, melihat
bagaimana kurikulum bisa memberi sebuah model
atau contoh implisit pembelajaran dalam
pembelajaran mandiri.Sedangkan di luar kurikulum,
untuk melengkapi struktur kelas yang memberikan
banyak cara bagi siswa untuk berperan aktif dalam
pembelajaran mandiri. Siswa boleh melakukan
pembelajaran mandiri melalui studi pustaka dan pada
waktu yang bersamaan mereka mempelajari strategi
manajemen diri secara induktif. Pembelajaran
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

116

induktif mereka menyangkut analisis karakter
kesusasteraan yang menunjukkan ciri/sifat pribadi,
karakteristik pembelajar sendiri.
Menciptakan Kelas yang Memudahkan Belajar
Mandiri
Guna membantu siswa belajar bagaimana
menjadi siswa dan bagaimana berjuang setelah belajar
sebagaimana yang diharapkan pada pembelajaran
mandiri, hal yang penting adalah menciptakan sebuah
struktur kelas yang memungkinkan belajar mandiri
berjalan. Mereka diajari merencanakan dan
bagaimana memantau belajar mereka sendiri, siswa
juga diarahkan tahap demi tahap untuk mencapai
keberhasilan dalam situasi belajar yang semakin
menantang.
Unsur yang mempengaruhi perasaan sukses
siswa adalah cara di mana evaluasi dipakai untuk
memberi penghargaan dan membantu siswa dalam
menghadapi tantangan yang semakin bertambah.
Contoh, sebelumnya siswa-siswa ini diajari
bagaimana mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri
dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan
contoh dan kriteria yang diberikan. Dengan demikian,
siswa didorong untuk mengevaluasi pekerjaan mereka
secara objektif dan jujur. memperbaiki pekerjaan
mereka setelah dievaluasi, atau diberi penghargaan
ekstra ketika penjelasan dan evaluasi mereka sesuai
dengan jawaban guru.
Seperti unsur keberhasilan yang lain, siswa
didorong mendiskusikan kriteria dan tugas agar tugas
yang diberikan lebih menyenangkan. Mempersingkat
dan menambah tugas merupakan strategi
mengendalikan motivasi belajar mandiri yang dapat
dipakai guna mempertahankan usaha ke arah tujuan
yang ingin dicapai (Corno, 1993).
Untuk mendorong belajar mandiri, memperjelas
orientasi tujuan, dan meminimalkan kejenuhan siswa
dalam mengerjakan tugas yang sulit, siswa diberi
instruksi yang jelas dalam perencanaan dan
manajemen sumber, misalnya bagaimana mencari
bantuan dari teman, cara untuk menyusun daftar
sumber yang memungkinkan, dan alternatif
merencanakan tindakan atau mengikutinya. Siswa
diberi rekan kerja dan diminta memeriksa bersama
dengan rekan mereka pada saat mereka melupakan
tugas atau membutuhkan bantuan. Struktur kelas,
selama pembelajaran induktif dalam penggunaan
strategi, menguatkan perintah bahwa tanggung jawab
belajar bergantung pada siswa sendiri.
Pelajaran Dimasukkan di dalam Kurikulum
Hal tersebut dimasukkan di dalam kondisi
lingkungan kelas yang disusun dengan tujuan
tertentu, mengeksplorasi kemungkinan strategi belajar
manajemen diri secara khusus implisit dalami
kurikulum, memulai rencana menyatukan struktur
dan konten atau isi, pengantar dan perintah. Cronbach
(1989) dalam tulisan, hasil dan proses strategi
pembelajaran mandiri secara implisit melalui isi
kurikulum memuat tujuan guru: mengembangkan
pembelajaran mandiri lebih eksplisit dan lebih dapat
dimengerti oleh siswa. Manajemen diri dan strategi
belajar yang digunakan belajar mandiri: tetap
berusaha dalam mengerjakan tugas yang sulit,
memfokuskan perhatian pada tugas yang harus
dikerjakan, mengingat kesuksesan sebelumnya pada
situasi yang sama, mengatur waktu dan sumber,
mengubah prioritas, dan memprediksi pencapaian
tujuan akhir yang selama ini diinginkan.
Analisis literatur dalam konteks pengalaman
tentang model untuk membangkitkan usaha
manajemen diri pada siswa terbukti berguna. Di
dalam kegiatan semacam ini, siswa diminta
menciptakan karakter bayangan 3 sifat orang Roma
yang ditunjukkan oleh pahlawan, Aeneas, di Aeneid
Virgil. Sifat orang Roma, yakni kesetiaan,
kesungguhan pada tujuan, dan ketekunan dijadikan
sebagai sasaran oleh guru untuk tugas ini karena
mereka diajarkan supaya menunjukkan usaha
manajemen diri.
Pada kegiatan berikutnya, siswa
mengartikulasikan strategi manajemen diri dalam
menguraikan bagaimana pahlawan mengatasi segala
rintangan tanpa kehilangan tujuan mereka. Terutama,
siswa diminta menyebutkan, mengkategorikan, dan
memberi nama aneka macam strategi. Kategori atau
kelompok dan nama yang dikenal dan digagas siswa
serupa dengan strategi metakognitif, motivasi dan
pengendalian emosi.
Setiap siswa di kelas ini menunjukkan
penggunaan strategi manajemen diri di dalam esai
yang mereka tulis. Perencanaan, pengendalian emosi,
dan evaluasi diri merupakan bukti. Contoh strategi
manajemen diri ditunjukkan Tabel 1.


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

117

Tabel 1. Contoh Strategi Manajemen Diri

Elaine H. J. Yew dan Henk G. Schmidt (2009)
melalui penelitiannya bertujuan meningkatkan
pemahaman tentang learning oriented interaksi
verbal yang terjadi antar siswa selama siklus
problem-based learning (PBL). Interaksi verbal dari
satu kelompok PBL dari lima siswa di seluruh siklus
PBL intensif dicatat dalam transkrip verbatim yang
terdiri dari 1.000 lebih ucapan-ucapan dianalisis
untuk menyelidiki apakah dan bagaimana PBL
merangsang siswa terhadap pembelajaran yang
konstruktif, mandiri dan kolaboratif. Hasilnya
menunjukkan terjadinya pemahaman tentang learning
oriented interaksi verbal 53,3% kejadian kolaboratif,
27,2% mandiri, dan 15,7% konstruktif.
Martin H. Jones & David B. Estell & Joyce M.
Alexander, (2007) juga melakukan penelitian yang
hampir mirip Elaine dkk ingin memahami hubungan
antara diskusi kelompok di dalam dan di luar kelas
dalam belajar mandiri. Penelitian dilakukan pada
delapan puluh delapan siswa SMA tahun pertama
untuk menjawab pertanyaan apakah siswa belajar
mandiri terkait dan melaporkan frekuensi diskusi
dengan rekan-rekan, baik di dalam maupun di luar
kelas dalam pengaturan belajar mandiri. Hasilnya
menunjukkan bahwa ada perbedaan antara frekuensi
self-egulation diskusi dengan rekan-rekan di dalam
dan luar kelas, terutama untuk diskusi tentang
motivasi. Diskusi dengan rekan-rekan yang lebih
dekat di luar kelas. Pembelajaran mandiri diatur dari
diskusi dengan rekan-rekan di kelas. Selain itu,
pendirian kelompok dengan tingkat rata-rata lebih
tinggi mengatur belajar secara individu lebih tinggi
dalam mengatur belajarnya sendiri. Hasil penelitian
juga menyoroti perlunya penelitian lanjutan tentang
kemungkinan-kemungkinan mekanisme diskusi
kelompok yang terkait dengan pengaturan belajar
mandiri.
SedangkanMaria Ainley & Patrick Lyn, 2006
melalui penelitian yang berjudul proses pengaturan
pembelajaran mandiri melalui pelacakan pola
kegiatan interaksi siswa dengan prestasi kerja.
Dengan pendekatan pada level rendah untuk
mempelajari hubungan antar komponenproses dengan
mendiskripsikan pengaturan belajar mandiri siswa
menggunakan pendekatan proses pengaturan belajar
mandiri melalui pelacakan pola interaksi siswadengan
kegiatan prestasi, kontingensi antara proses self-
regulatted dapat diidentifikasi dan wawasan faktor-
faktor yang mendorong penggunaan self-regulated
siswa dapat diselidiki. Bukti yang disajikan
menunjukkan bagaimana pengaruh pencapaian tujuan
penguasaan spesifik pengerjaan tugas dapat
dimediasi oleh interes awal siswa. Selanjutnya
pengembangan pedekatan ini membutuhkan
pertimbangan pada masalah pengukuran terkait
dengan penggunaan item tunggal untuk mengukur
Strategi Manajemen Diri dan yang Ditunjukkan
Siswa
Strategi Serupa yang Ditunjukkan Pahlawan
Strategi Siswa Strategi Pahlawan
Kontrol
Metakognitif
Berpikir langkah pertama untuk
mengambil dan memulai dengan
benar
Perencanaan Odysseus berpikir tentang apa yang dia butuhkan untuk memperdaya
Polyphemus dan melarikan diri
Menyusun beberapa tujuan
yang bisa dicapai
Pengawasan atau
menyusun nilai
Odysseus harus membunuh pelamar sebelum dia memperoleh
kedudukannya sebagai raja Ithaca
Mengecek pekerjaan ketika
akan pergi;mencari feedback
Evaluasi tujuan atau
kemajuan
Odysseus mengambil satu rintangan pada satu waktu
Odysseus terpaksa mempertimbangkan kembali pentingnya tujuannya
ketika Calypso menawarinya peluang pelanggaran susila
Kontrol
Motivasi
Membayangkan melakukan
pekerjaan dengan baik
Fokus atau berpikir
positif
Odysseus membayangkan berada di rumah dengan istrinya Penelope
dan anak laki-lakinya Telemachus
Memberi instruksi dan perintah
sendiri tentang ketetapan waktu
dan memberi penghargaan pada
diri sendiri untuk kerja keras
Kesabaran atau
kepercayaan diri
Odysseus berbicara pada dirinya ketika sendiri di atas rakit; dia
menyuruh dirinya tetap tinggal di atas rakit sampai dia bisa berenang
menepi dengan aman
Kontrol Emosi Mengingat: aku telah
mengerjakan hal ini
sebelumnya
Visualisas atau
bayangan pikiran
Di atas rakit Calypso, Odysseus mengingat banyaknya penderitaan
yang ia pikul sebelumnya
Membayangkan saat indahnya
pada saat itu
Setelah Athena menunjukkan Odysseus gambaran kesuksesannya,
Odysseus siap menjadi pelamar
Mengendalikan
kondisi tugas
Mengumpulkan materi dan
orang sebelum memulai kerja
Penggunaan
sumber jelas
Odysseus menggunakan ramuan gaib untuk menetralkan mantera circe
Mempersingkat tugas sehingga
lebih mudah dan mengerjakan
tugas lebih sedikit; menambah
tantangan atau menghiasi tugas
agar lebih menyenangkan.
Menggunakan
kepandaian atau
tipu daya
Odysseus membiarkan dirinya mendengar lagu sirens tetapi tidak putus
asa atas pencarian kampung halamannya: pengawalnya mengikat dia
di tiang kapal jadi dia tidak tergoda untuk melompat keluar kapal
Mengendalikan
lain-lain dalam
penyusunan
tugas
Meminta bantuan dari guru.

Mendapatkan
bantuan dari teman
karib
Odysseus mendapat bantuan dari Athena
Menyuruh anak-anak diam jika
mereka menggangguku; pindah
ke tempat yang tenang
Mengendalikan
pengawal-
pengawalnya
Odysseus mencoba mencegah pengawalnya dari memakan sapi suci
dan menghindari kemarahan Helios, dewa matahari.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

118

status tugas yang dilakukan. Bukti untuk keandalan
dan status validitas item tunggal dianggap ada
kaitannya dengan bidang penyelidikan psikologis
yang secara teratur menggunakan langkah-langkah
item tunggal-item dan disimpulkan bahwa
perkembangan lebih lanjut dari jenis ukuran memiliki
potensi untuk memperluas pemahaman tentang
pengaturan belajar mandiri.
Peran Guru
Guru bertindak sebagai fasilitator. Sesuai
dengan tujuan untuk mengajari manajemen diri
secara implist, siswa diarahkan oleh guru untuk
mengenali sifat-sifat yang dicontohkan oleh pahlawan
pejuang dan membuat hubungan antara perjuangan
pahlawan dengan perjuangan mereka dalam mencapai
tujuan. Oleh karena itu, pertama-pertama siswa
mengenali dan menjelaskan strategi manajemen diri
dengan kata-kata mereka sendiri. Pemahaman siswa
lalu diberi nama dan diperkuat oleh guru melalui
pemberian contoh dan kegiatan berikutnya
menitikberatkan pada pengartikulasian strategi
pembelajaran mandiri, seperti identifikasi strategi
siswa dalam menulis.
Kutipan ini mengartikulasikan perlunya
pembelajaran yang disesuaikan dengan perbedaan
individu tiap-tiap siswa (Cronbach & Snow, 1977).
Secara umum, hasil pengamatan pada jurnal Randi
mempunyai perhatian rangkap pada: (a) data yang
dikumpulkan tentang kemajuan siswa terkait
pembelajaran mandiri dan (b) cara dia (guru)
menganalisis dan menggunakan data tersebut
menitikberatkan pada apa yang ia rasa perlu diubah.
Tipe pengembangan kurikulum ini tidak mungkin
muncul dalam model pembelajaran cara lama.
Belajar mandiri dapat ditanamkan oleh guru
yang membelajarkan isi kurikulum yang sesuai
melalui cara-cara yang tepat.Bagian-bagian teori
pembelajaran tersebut, adalah sebagai berikut: (1)
kelas diatur dengan hati-hati untuk memungkinkan
belajar mandiri berlangsung dan untuk memudahkan
pembelajaran kognitif yang baru dan strategi
manajemen diri; (2) siswa didampingi guru untuk
mengambil bagian dalam tantangan dalam unit ini.
Walaupun semua siswa berkemampuan rata-rata,
masing-masing disiapkan untuk evaluasi sendiri dan
evaluasi teman sebaya; (3) evaluasi dipakai untuk
mengarahkan siswa pada pencapaian tujuan daripada
sekedar pertimbangan prestasi siswa; (4) guna
memastikan keberhasilan dan meminimalkan rasa
ketidakpuasan dalam pembelajaran, siswa diberi
instruksi eksplisit dalam merencanakan dan
manajemen sumber; (5) kesempatan yang luas bagi
siswa untuk belajar dan mempraktikan belajar
mandiri. (6) tugas akhir merupakan pekerjaan rumah;
(7) guru peka pada perbedaan individu tiap siswa dan
bentuk-bentuk respon; (8) kurikulum kemanusiaan itu
sendiri menyediakan literatur bermanfaat dan tema-
tema yang dapat dipakai sebagai dasar diskusi dan
belajar tentang manajemnen diri; dan (9) kolaboratif
mampu menciptakan penilaian yang komprehensif
dan multi cara terhadap gagasan pembelajaran
mandiri pada siswa.
Bagaimana Collaborative Innovation Mendukung
Pembelajaran Mandiri
Inovasi guru merupakan bagian integral dari
pembelajaran tetapi kurang mendapat dukungan.
Merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan
perbedaan individu siswa dan memaksimalkan setiap
potensi siswa sebagai pembelajar mandiri.
Selain itu, bekerja bersama-sama untuk memasukkan
hasil penelitian ke dalam kurikulum dan
pembelajaran di kelas memberi kesempatan bagi studi
kasus dalam penelitian tindakan kelas pada guru kelas
tradisional untuk pengembangan profesionalisme.
Ditemukan bahwa strategi pembelajaran baru
dihasilkan dari interaksi antar peneliti.
Collaborative innovation pada proyek ini,
memberi model alternatif untuk mengesahkan
keefektifan strategi pembelajaran inovatif yang
dikembangkan oleh guru yang lain. Khususnya,
penggabungan data yang didapatkan dari studi kasus
meliputi jenis penilaian multi cara, penarikan banyak
contoh, dan kelengkapan ukuran yang diusulkan oleh
ahli pengukuran terkait dengan validitas konstruk
(Snow, Corno, & Jackson, 1996).
Strategi belajar mandiri penting bagi siswa
dalam belajar. Namun, pengetahuan bagaimana cara
belajar berharga di tempat kerja juga penting
sebagaimana berharganya di kelas (Corno & Kanfer,
1993). Guru, seperti halnya siswa, sering tertinggal
untuk mendapatkan pengetahuan yang tidak
tertulis,tacit knowledge (Schon, 1983) atau
pengetahuan bagaimana berhasil di tempat kerja
dengan sedikit bantuan dari orang lain (Sternberg,
1995). Kemampuan mendapatkan pengetahuan yang
sama sangat penting dilakukan (Sternberg & Wagner,
1993). Meskipun program pengembangan pegawai
membantu guru berinovasi dalam pembelajaran, dan
menurut pengalaman lalu, guru didorong untuk
menerapkan inovasi-inovasi lainnya, terdapat
beberapa bukti bahwa beberapa guru belajar
berinovasi secara implisit dengan membiasakan diri
dengan model yang diberikan pada mereka (Randi &
Corno, 1997).
Di kelas yang terstruktur secara tradisional,
seperti pada pengembangan pegawai cara lama,
terdapat sedikit kesempatan bagi siswa untuk
mempelajari manajemen diri. Namun, beberapa siswa
(dan beberapa guru) dengan jelas belajar strategi
belajar mandiri. Guru dan orang tua (Xu, 1994)
mempraktekkan strategi manajemem diri tetapi tidak
diijinkan memberikan strategi ini pada siswa
(pebelajar). Dengan demikian, beberapa siswa
dirugikan dalam memperoleh strategi yang pada
umumnya dipakai oleh siswa yang baik. Karena
tidak belajar dari pengalaman sebelumnya, beberapa
guru sangat dirugikan (Olson, 1997). Collaborative
innovation membantu guru belajar tentang
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

119

pembelajaran mereka dengan mendorong penemuan
guru yang muncul dari keadaan kelas yang khas, serta
artikulasi apa yang telah mereka pelajari. Oleh sebab
itu, collaborative innovation membuat penggunaan
strategi guru ke tingkat sadar serta memungkinkan
guru untuk memberi nama strategi mereka pada
siswa.Proses kolaboratif membiarkan guru ikut serta
dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru dan siswa
memperoleh manfaat dari pembelajaran dengan
strategi belajar mandiri secara implisit sesuai dengan
pengalaman mereka.
I novasi Guru dalam Pembelajaran Mandiri
Beberapa penelitian menjelaskan bahwa guru
sebagai pembelajar mandiri (Gallimore, Dalton, &
Tharp, 1986; Manning & Payne, 1993). Cara yang
bisa membuat guru menjadi mandiri adalah melalui
interaksi dengan inovasi pembelajaran mereka atau di
lingkungan belajar. Demikian juga, guru belajar
menemukan praktek mengajar yang baru dari model-
model pembelajaran yang diberikan pada mereka
(Randi, 1996). John L. Nietfeld & Li Cao & Jason W.
Osborne (2006) dalam penelitiannya yang berjudul
pengaruh latihan pemantauan terdistribusi dan umpan
balik terhadap kinerja, akurasi pemantauan, dan self-
efficacy. Pemantauan proses seseorang secara akurat
adalah penting dalam self-regulated. Hasilnya
menunjukkan kesesuaian mengintegrasikan
terdistribusikannnya latihan metakognitif di kelas dan
peran fundamental kemampuan dalam pemantauan
hasil pelatihan berbasis kinerja dan self-efficacy.
Selanjutnya Paul R. Pintrich and Elisabeth V.
De Groot. (1990), melakukan penelitian dengan judul
motivational and self-regulated learning components
of classroom academic performance. Permasalahan
yang diteliti adalah: (1) Bagaimana tiga komponen
motivasi berhubungan dengankomponen pengaturan
belajar mandiri?; (2) Apakah interaksi antara ketiga
komponen motivasi dan hubungannya dengan
pengaturan komponen pembelajaran mandiri?; dan
(3) Bagaimana motivasi dan komponen pengaturan
belajar mandiri berhubungan dengan kinerja tugas
akademis murid di kelas?. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa self efficacy siswa, nilai
intrinsik, uji kecemasan, self-regulated, dan
penggunaan strategi belajaryang diberikan, dan data
kinerja yang diperoleh dari tugas kelas.Self-efficacy
dan nilai intrinsik positif terkait dengan keterlibatan
kognitif dan kinerja. Analisis regresi mengungkapkan
bahwa, pada ukuran hasil, self-regulation, self-
efficacy, dan kecemasan pada saat tes muncul sebagai
prediktor kinerja yang terbaik. Nilai intrinsik tidak
memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja tetapi
terkait erat dengan self-regulated dan penggunaan
strategi kognitif, terlepas dari prestasi pada
tingkatakurasi.
Menciptakan Lingkungan Guru
Karena meyakini bahwa guru mendapat
keuntungan dari lingkungan belajar yang berkualitas
yang memberi tantangan pada waktu yang sama
mendorong pengambilan resiko, maka diperlukan
kesempatan belajar bagi guru. Cronbach (1955)
antara lain menyarankan, dengan memberi lebih
banyak pengalaman tipe tertentu daripada yang
dialami..dan dengan membantu orang tersebut
untuk menuliskan kesimpulannya dengan cepat
(halaman 79).Daripada menerapkan program
pengembangan staff seperti yang ditentukan, guru
menyesuaikan diri dengan model yang diberikan pada
mereka atau membuat strategi pembelajaran sendiri
sesuai dengan keadaan kelas mereka. Hasilnya,
penyesuaian diri dan penemuan mereka dilakukan
dengan sengaja: guru dengan jelas mengetahui
perbedaan antara praktik pembelajaran dan model
yang mereka kenal sebagai sumber ide mereka.
Proses penelitian kolaboratif mendukung
inovasi guru pada beberapa hal penting dalam teori
ini. Pertama, proses penelitian sejalan dengan proses
perencanaan pembelajaran yang dipakai guru pada
umumnya. Contohnya, wawancara dan pengamatan di
mana guru berperan serta, sementara peneliti berperan
dalam pertimbangan, pembuatan, serta pemikiran
tindakan yang dideskripsikan pada pembuatan
kurikulum individu guru (Connelly & Clandinin,
1988). Oleh sebab itu, pada proses siklus ini, guru
melanjutkan evaluasi dan merevisi pekerjaan mereka.
Kedua, guru diminta mendeskripsikan pelajaran
mereka dan menjelaskan bagaimana mereka
membedakannya dengan model yang mereka kenal
sebagai sumber ide mereka. Maka dari itu, penemuan
mereka diakui sebagai bentuk pengetahuan yang
logis. Akhirnya, proses kolaboratif mendukung guru
dalam mengatasi masalah berdasarkan keadaan,
menggagas pengetahuan baru tentang pembelajaran
dan pembelajaran, serta menyatukan praktik
pembelajaran baru mereka dengan ide-ide lama
yang tetap dominan di luar kelas mereka.
Komponen Ajar untuk Pembelajaran Profesional
Guru
Sepuluh prinsip pembelajaran professional guru
timbul dari kerjasama dengan para guru. Proses
kolaboratif dipakai memberi beberapa contoh
bagaimana guru belajar di lingkungan mengajar
mereka, termasuk bagaimana pembelajaran guru
dapat ditingkatkan dengan menyediakan lingkungan
pembelajaran yang berkualitas. Ringkasnya, prinsip
komponen ajar yang mengacu pada teori
collaborative innovation yang lebih formal sebagai
bentuk pembelajaran professional guru, yaitu: (1)
penemuan guru (teacher invention), (2)pilihan guru
(teacher choice). Inonasi yang kolaboratif
(collaboration innovation) memberi kesempatan pada
guru untuk membuat model pembelajaran sesuai
pilihannya sendiri, (3) evaluasi model pembelajaran
baru(evaluating new practices),: (4) pembuatan siklus
kurikulum (cyclical curriculum naking)(5)
pemecahan masalah (problem solving),
(6)pembelajaran konteks (learning-in-context),(7)
siswa sebagai fokus (students as focus).(8)
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

120

membangun pengetahuan (knowledge construction),
(9)kerja sama sementara (collaborative
apprenticeship), dan (10) resiko rendah dan tantangan
tinggi (low risk and high challenge).
Collaborative I nnovation Sebagai Pembelajaran
Profesional Guru
Walaupun collaborative innovation
menggabungkan bentuk-bentuk baru pembelajaran
profesional guru yang disebutkan dalam literatur
pengembangan pegawai baru-baru ini (Lieberman,
1995), collaborative innovation tidak tepat di semua
situasi. Beberapa guru, sama seperti siswa,
mendapatkan manfaat dari bentuk pembelajaran yang
lebih tepat. Selanjutnya, tidak semua guru
berkeinginan bekerja seperti yang dilakukan; hal ini
bisa bertentangan dengan tujuan untuk memaksakan
collaborative innovation kepada guru. Akan tetapi,
banyak guru yang mendapatkan manfaat dari jenis
kolaborasi yang dijelaskan tidak memiliki
kesempatan membentuk kerja sama dengan peneliti,
walaupun kolaborasi semacam itu sangat umum.
Pasti ada cara lain untuk menjelaskan
pembelajaran mandiri kepada guru dengan baik.
Collaborative innovation sebagai suatu cara
membangun lingkungan pembelajaran yang
berkualitas bagi guru, guru diberi jenis pembelajaran
yang sama dan diharapkan mereka merancang untuk
siswanya. Ironisnya, guru jarang diberi arahan.
So, Hyo-Jeong, Kim Bosung. 2009 melakukan
penelitian tentang: Learning about problem based
learning:Student teachers integrating technology,
pedagogy and content knowledge (TPCK).
Permasalahan yang diteliti adalah apa yang harus
menjadi basis pengetahuan guru-guru yang
diharapkan di masa depan untuk dapat
mengintegrasikan teknologi, pedagogis dan konten
pengetahuan. Sembilan puluh tujuh pre-service guru
dalam studi ini terlibat dalam sebuah proyek desain
kolaboratif pembelajaran. Mereka menerapkan
pengetahuan pedagogis tentang PBL untuk
merancang teknologi pembelajaran terpadu pada
daerah subjek mereka mengajar. Data dikumpulkan
dari dua sumber survei dan pelaksanaan desain
pembelajaran. Peserta yang terlibat dalam proyek
kolaborasi desain pembelajaran, mereka merancang
pelajaran konten tertentu yang didasarkan pada
pemahaman mereka tentang integrasi PBL dan ICT.
Tujuan utama dari proyek desain ini adalah
membantu guru membuat hubungan erat antara
konten, pedagogi, dan teknologi pembelajaran,
merancang artifak bersama mitra. Dara dari survei
dan desain pelajaran artefak dianalisis untuk
mengidentifikasi pemahaman peserta, persepsi, dan
aplikasi dari TPCK.
Analisis data mengungkapkan bahwa sementara
peserta memiliki pemahaman teoritis pedagogis
pengetahuan tentang PBL, desain pelajaran mereka
menunjukkan ketidakcocokan di antara alat-alat
teknologi, konten, dan strategi pedagogis. Temuan
lain adalah adanya pertentangan
dalammengintegrasikan pedagogis,rancangan konten
pengetahuan dalam pedagogis dan pengintegrasian
teknologi dalam pembelajaran. Desain pelajaran
dianalisis untuk mengetahui bagaimana pre-service
guru menerapkan pengetahuan mereka pada
pedagogi, konten dan teknologi ke dalam desain.
Meskipun skor rata-rata desain pedagogis dan
teknologi sangat mirip antar kelompok, tetapi skor
pada setiap kriteria bervariasi.
Secara keseluruhan, hasil dari analisis desain
artefak terungkap pre-service guru kurang memahami
tiga bidang utama, desain yaitu teknologi, pedagogis,
dan keterkaitannya dengan desain pelajaran. Hasil
dari studi ini adalah mengetahui persepsi guru pre-
service TPCK dan mereka kesulitan kognitif dalam
menerapkan TPCK ke dalam desain pelajaran yang
sebenarnya. Peserta yang terlibat dalam proyek,
mereka merancang konten pelajaran tertentu yang
didasarkan pada pemahaman mereka dalam
mengintegrasikan PBL dan ICT.

IV. A MODEL FOR SELF-REGULATED
LEARNING IN TECHNOLOGY EDUCATION
(SRLT)
Bagian ini mengusulkan sebuah model sebagai
pengembangan SRL menjadi self-regulated learning
technology(SRLT).Dalam Moshe Barak (2009), terdiri
dari domain kognitif, metakognitif dan motivasi.
Diskusi terpusat pada domain kognitif pemecahan
masalah dan kreativitas, dengan fokus akhir pada
kebutuhan untuk melibatkan siswa dalam tugas
terbuka dalam konteks informal dan metode untuk
mengajar mereka, strategi dan heuristik untuk inventif
desain dan pemecahan masalah, daripada membiarkan
mereka mencari secara acak untuk ide-ide atau
dengan menggunakan metode trial-and-error.
Gagasan metakognisi berkaitan dengan kemampuan
masyarakat untuk menyadari dan mengendalikan
pemikiran mereka sendiri, misalnya, bagaimana
mereka memilih tujuan belajar mereka, menggunakan
pengetahuan sebelumnya atau sengaja memilih
strategi pemecahan masalah.
Self-regulated sangat berkorelasi dengan
motivasi individu untuk menangani menantang tugas,
dan dengan kepuasan internalnya terlibat dalam tugas
yang memberikan kontribusi lebih untuk kreativitas
daripada konstribusi eksternal. Faktor penting lainnya
adalah kepercayaan seorang individu (self-efficacy)
dalam kemampuan mereka untuk menangani tugas
yang sangat menuntut engalaman positif sebelumnya
dalam tugas-tugas yang sama dan keberadaan
lingkungan sosial dan emosional yang mendukung.
Model SRLT menyoroti keterkaitan antara aspek
kognitif, metakognitif dan motivasi belajar,
pemecahan masalah dan penemuan. Sebagai contoh,
siswa belajar strategi pemecahan masalah dapat
membantu mereka menyelesaikan tugas,
meningkatkan kemampuan mereka untuk memantau
mereka sendiri berpikir dan merenungkan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

121

pembelajaran mereka, dan meningkatkan self-efficacy
tentang masalah-pemecahan dan kreativitas. Para
guru berperan dalam mengenalkan SRLT dan arah
untuk penelitian lebih lanjut juga perlu dibahas.
Para sarjana di bidang teknologi pembelajaran,
serta dalam disiplin lain, menjadi semakin menyadari
kebutuhan untuk desain pembelajaran menggunakan
teori belajar yang dapat membantu dalam memahami
bagaimana orang belajar dan bagaimana keterampilan
intelektual dikembangkan. Menurut Zimmerman
(2008), teknologi pembelajaran dapat membantu
dalam mengeksplorasi tujuan dan metode
pembelajaran secara jelas, teori pembelajarannya
harus lebih luas, dan peran teknologi pembelajaran
dapat memberikan pemahaman lebih mendalam
dalam memberdayakan kompetensi intelektual siswa,
dan lainnya.
Lebih lanjut Zimmerman (2008), menekankan
bahwa self-regulated bukan kemampuan mental atau
keterampilan prestasi akademis, seperti inteligensi
atau kemahiran semata. Sebaliknya, SRL mengacu
pada proses self-regulated diarahkan melalui
mengubah pelajar akan kemampuan mental mereka
menjadi keterampilan akademik. Sebuah model untuk
mengatur belajar mandiri melalui teknologi
pembelajaran (SRLT). Konsep SRL tidak memiliki
satu atau sama persis definisi, tetapi sering disajikan
sebagai suatu proses siklus yang dipengaruhi oleh
kombinasi kognitif dan faktor sosial. Dalam tulisan
Moshe Barak (2009), menyarankan model umum
SRLT ditandai oleh tiga dimensi utama: kognisi,
metakognisi dan motivasi, seperti yang diilustrasikan
pada Gambar 1.
Teori SRL menunjukkan suatu kerangka
komprehensif untuk memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi individu transisi dari bergantung ke
pelajar otonom. Kami telah melihat model SRLT
terdiri dari domain kognitif, metakognitif dan
motivasi, dan menganalisis bagaimana pendidikan
teknologi berhubungan dengan kompetensi
mengembangkan orang dalam masing-masing domain
ini.

Gambar 1. A Model for Self-Regulated Learning in technology
Education (SRLT)
Self Regulated Learning Berbasis I nternet
Dalam beberapa tahun terakhir, yang meminati SRL
telah berkembang pesat. Sedangkan kegiatan SRL
dikendalikan kognitif mereka lebih dari pemantauan
kegiatan kognitif. Motivasi dan proses emosional
juga penting dalam belajar dan mereka juga perlu
mengaturnya, Pada saat yang sama, program
komputer multimedia dan internet telah memainkan
peran penting dalam suatu dalam lingkungan belajar.
Karl, Steffen (2001) dalam penelitian yang berjudul
self-regulation and computer based learning hasilnya
menunjukkan bahwa lingkungan belajar berbasis
komputer dan web mengklaim dapat
mengembangkan keterampilan self-regulateddalam
menghasilkan keterampilan kognitif dan metakognitif
saja tetapi juga menghasilkan efek non-kognitif. Cox
(1997), misalnya, penelitian mengenai pengaruh ICT
pada motivasi siswa di Inggris, menemukan bahwa
penggunaan ICT meningkatkan minat siswa dalam
belajar, difasilitasi self-directed learning dapat
meningkatkan harga diri mereka dan meningkatkan
potensi untuk mencapai tujuan.
Lebih lanjut menurut Karl, Steffen (2001),
bahwa untuk dapat merancang komponen perancah
pengaturan-diri non-kognitif secara baik, perlu
memiliki pemahaman yang sangat tepat tentang
bagaimana fungsi proses metamotivational pada
tingkat yang sangat halus. Hal yang sama harus
memperhatikan komponen yang memfasilitasi
metakognitif selt-regulation. Model self-regulated
yang disajikan sebelumnya masih relatif kasar. Self
regulatedjauh lebih kompleks, meskipun mungkin
akhirnya memperolehnya pada tingkat yang sangat
fine-grained dari bagaimana manusia benar-benar
melakukan pengaturan-diri mereka, mungkin secara
teknis terlalu sulit dan terlalu rumit untuk
menerapkan pengetahuan dalam pembelajaran
berbasis komputer.
Selanjutnya Elaine H. J. Yew dan Henk G.
Schmidt (2009) melalui penelitiannya bertujuan
meningkatkan pemahaman tentang learning
orientedinteraksi verbal yang terjadi antara
mahasiswa selama siklus problem-basedlearning
(PBL) siklus. Interaksi verbal interaksi dari satu
kelompok PBL dari lima siswa di seluruh siklus PBL
seluruh data intensif dicatat dalam transkrip
verbatimterdiri dari lebih dari 1.000 ucapan-ucapan
dianalisis untuk menyelidiki apakah dan bagaimana
PBL merangsang siswa terhadap pembelajaran yang
konstruktif, mandiri dan kolaboratif. Hasilnya
menunjukkan terjadinya pemahaman tentang learning
oriented interaksi verbal 53,3% kejadian kolaboratif,
27,2% mandiri dan 15,7% konstruktif.
Penelitian Helge I. Strms & Brten Ivar,
(2009), hasilnya menunjukkan bahwa dimensi
keyakinan epistemis internet khusus ditemukan untuk
menjelaskan variasi unik dalam pencarian berbasis
internet, membantu mencari, dan strategi regulasi diri
masing-masing. Secara khusus, siswa menekankan
bahwa pengetahuan yang berkaitan di internet terdiri
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

122

dari fakta yang spesifik dan rincian pencarian dan
evaluasi hasil pencarian menjadi kurang bermasalah
dan dilaporkan membantu mencari dan menggunakan
strategi self-regulated selamapembelajaran berbasis
internet. Selain itu, siswa percaya bahwa klaim
pengetahuan berbasis internet harus diperiksa dari
sumber-sumber lain, akal, dan pengetahuan
sebelumnya dilaporkan lebih cenderung
menggunakan strategi self-regulatotedketika
menggunakan internet selama belajar.
Hasil penelitian Ton Mooij (2009) yang
berjudul: Education and ICT-based self-regulation in
learning: Theory, design and implementation,
hasilnya siswa mencapai standar yang relatif rendah
atau tinggi dibandingkan dengan sebagian besar
lainnya, siswa mungkin akan mengalami masalah
motivasi dan prestasi menjelang lulus dari
pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut,
pendidikan dengan pendekatan sistemik disajikan.


Gambar 2. Self-Regulation Cycle of Learning TaskSelection ,
Coaching and Assessment
(Ton Mooij, 2009)
Aspek kognitif, sosial, motivasi dan mengatur
dirinya dari tugas belajar dan proses pembelajaran
yang berkaitan dengan pembelajaran dan konteks
pendidikan yang lebih luas. Hasilnya adalah 'teori
belajar kontekstual' yang menentukan tiga set kondisi
pendidikan untuk meningkatkan pembelajaran: (1)
diferensiasi materi belajar dan prosedur; (2) integrasi
dan dukungan ICT, dan (3) strategi untuk
meningkatkan pengembangan dan pembelajaran.
Penelitian modelpembelajaran berbasis ICT yang
terkait dengan SRL juga dilakukan Ton Mooij (2009)
ditunjukkan Gambar 2.
Secara umum menunjukkan bahwa bakat kinerja
siswa dapat membaik. Yang diperlukan proses
pengajaran dan pembelajaran dapat dirancang
terutama oleh siswa sendiri, dengan bantuan dan
secara bertahap dikurangi bantuannya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Untuk dapat menciptakan pembelajaran yang
dapat mendorong siswa untuk belajar mandiri
seorang guru, perlu bekerja sama dengan peneliti
untuk menciptakan metode yang tepat dan
membantu pengembangan belajar mandiri.
2. Peranan guru di dalam mendampingi siswa dalam
pembelajaran adalah: (a) mempersiapkan siswa
untuk melakukan evaluasi diri dan evaluasi teman
sebaya; (b) memberikan instruksi yang jelas dalam
merancang evaluasi diri atau pengamatan mandiri
dan manajemen sumber; dan (c) membelajarkan
siswa bagaimana mencari bantuan ketika siswa
membutuhkan.
3. Peranannya peneliti dalam kolaborasi inovatif
adalah mendorong guru untuk berperan serta
dalam belajar mandiri berkaitan dengan metode
pembelajaran.
4. Dengan melakukan pendekatan penelitian bersama
guru, akan tercipta sebuah peluang untuk bekerja
sama dalam berbagai keahlian. Kerjasama tersebut
dalam hal mengembangkan cara baru dalam
pengumpulan data dan cara penilaian baru
terhadap efek pembelajaran. Selain itu juga dapat
melakukan penelitian kolaborasi dan cara
pengumpulan data yang baru untuk menambah
pengetahuan SRL.
5. Model pembelajaran SRL berbasis teknologi dan
internet, umum menunjukkan bahwa kinerja
pendidikan siswa berbakat dapat membaik. Yang
diperlukan proses pengajaran dan pembelajaran
dapat dirancang pertama-tama oleh siswa sendiri
dengan bantuan dan secara bertahap dikurangi
bantuannya

SARAN
Di era sekarang, model pengembangan SRL di
sekolah-sekolah sebaiknya lebih diarahkan menjadi
self-regulated learning technology (SRLT) dan
internet

REFERENSI
[1]. Adv in Health Sci Educ, (2009). Evidence for constructive,
self-regulatory, and collaborative processes in problem-based
learning. Adv in Health Sci Educ (2009) 14:251273 Volume
14:251273
[2]. Charles M. Reigeluth, 1999. Instructional-design theories and
models volume II A paradigm of instructional theory.
Lawrence Erlbaum Associates, Publishers Mahwah, New
Jersey London.
[3]. Helge I. Strms & Brten Ivar, 2009. The role of personal
epistemology in the self-regulation of internet-based learning.
Metacognition Learning DOI10.1007/s11409-009-9043-7
[4]. John L. Nietfeld & Li Cao & Jason W. Osborne, 2006. The
effect of distributed monitoring exercises and feedback on
performance, monitoring accuracy, and self-efficacy. Educ
Psychol Rev 18:267286.
[5]. Karl, Steffen, 2001. Self-regulation and computer based
learning. Attuurio de Psicologu. Facultat de Psicologia
Universitat de Barcelona vol. 32- 2 page 77-94.
[6]. Maria Ainley & Patrick Lyn, 2006. Measuring self-regulated
learning processes through tracking patterns of student
interaction with achievement activities. Educ Psychol Rev
18:267286
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

123

[7]. Martin H. Jones & David B. Estell & Joyce M., Alexander,
2007. Friends, classmates, and self-regulated learning:
discussions with peers inside and outside the
classroom.Metacognition Learning (2008) 3:115.
[8]. Moshe Barak, 2009. Motivating self-regulated learning in
technology education. Int J Technol Des Educ.
Departement of Science and Technology, Ben-Gurion
university of the Negev Beer Sheva, Israel.
[9]. Paul R. Pintrich and Elisabeth V. De Groot. 1990.
Motivational and self-regulated learning components of
classroom academic performance. Journal of Educational
Psychology. Vol. 82, No. 1,33-40
[10]. So, Hyo-Jeong, Kim Bosung. 2009. Learning about problem
based learning: Student teachers integrating technology,
pedagogy and content knowledge. Australian Journal of
Educational Technology, 25(1), 101-116.
[11]. Ton Mooij, 2009. Education and ICT-based self-regulation in
learning: Theory, design and implementation. Educ Inf
Technol (2009) 14:327





































Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

125

Media Pembelajaran Berbasis ICT
*)

Godlief Erwin Semuel
1
, I Made Parsa
2
1,2
Lab. Tek. Elektro, PTK FKIP Universitas Nusa Cendana, Kupang
Email :
1
godlieverwin@yahoo.com,
2
md_parsa@yahoo.co.id

Abstrak Setiap guru mempunyai target dalam
proses pembelajaran untuk mata pelajaran yang
diasuhnya seperti yang termuat dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berbagai metode
diterapkan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang
telah ditargetkan mengingat syarat kelulusan UN yang
semakin berat tiap tahunnya. Banyak kendala yang
dihadapi para guru dan murid (terlebih kesulitan
dihadapi oleh siswa yang bersekolah pada siang hari)
dalam mencapai kompetensi pembelajaran. Kesulitan
bukan hanya pada mata pelajaran eksakta tetapi juga
mata pelajaran umum, sosial dan bahasa. Setelah diteliti
(saat pra kegiatan pengabdian), salah satu penyebab
kegagalan siswa untuk mencapai kompetensi adalah
media ajar yang dipakai guru dalam penyampaian
materi dirasakan kurang menarik. Selain itu siswa tidak
dapat berkonsentrasi karena mengantuk, guru dalam
menyampaikan materi dianggap membosankan dan
monoton, guru seperti berpidato dan kurang
berinteraksi dengan siswa .Guru kemudian diberikan
pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis ICT.
Output dari pelatihan ini adalah masing-masing peserta
harus membuat media pembelajaran yang berbasis ICT
untuk mata pelajaran yang diasuhnya untuk kemudian
dijadikan sebagai media dalam proses pembelajarandi
sekolah. Dari hasil tes, observasi dan wawancara dengan
para siswa, ada peningkatan hasil belajar karena siswa
merasa tertarik dengan media pembelajaran yang
menyenangkan dan interaktif.
Kata kunci : kompetensi,media, pembelajaran, I CT
I. PENDAHULUAN
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan
dapat merangsang pikiran, membangkitkan semangat,
perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat
mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri
siswa. Media pembelajaan yang dibuat harus mampu
membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan.
Untuk menggunakan media sesuai dengan materi
pelajaran perlu dikatahui terlebih dahulu jenis-jenis
media yang ada yaitu media audio, video dan grafis.
Media yang dipakai harus mampu menunjang tujuan
yaitu pencapaian kompetensi, tepat guna,
menyesuaikan dengan keadaan siswa, ketersediaan
media dan biaya.
Dasar pemilihan media yang juga perlu
dipertimbangkan adalah memilih alat bantu yang
sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan
kelompok, memilih alat bantu secara tepat untuk
kegiatan pembelajaran, mempertahankan
keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih,
menghindari alat bantu yang berlebihan, serta
mempertanyakan apakah alat bantu tersebut
diperlukan dan dapat mempercepat pembelajaran atau
tidak [1]. Media pembelajaran berbasis ICT
mempunyai dampak yang sangat luas dan banyak
apabila digabungkan dengan internet.
Manfaat media pembelajaran berbasis ICT dalam
dunia pendidikan bagi siswa antara lain :
1) Sebagai sumber belajar alternatif,
2) Dapat lebih memahami materi yang disampaikan
guru karena ada gambar dan animasi yang menarik
perhatian,
3) Dapat berlatih soal dengan menanfaatkan uji
kompetensi,
4) Cara belajar lebih efisien,
5) Wawasan bertambah,
6) Meringankan dalam membuat contoh soal,
7) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi
dan info-info lain yang berhubungan dengan
bidang studi,
8) Membantu siswa dalam mempelajari materi secara
individu selain disekolah,
9) Membantu siswa melek ICT
Manfaat ICT bagi guru antara lain sebagai media
untuk membuat alat bantu penyampaian materi,
peningkatan profesionalisme guru, berbagi ilmu dan
ide dengan rekan guru, mempublikasikan hasil karya
dan dapat berdiskusi dalam forum maya.
Dari berbagai manfaat yang diperoleh,terlihat
bahwa penerapan ICT dalam dunia pendidikan
dapat meningkatkan kualitas guru, siswa serta model
bahan ajar.

II. KOMPUTER SEBAGAI MEDIA
Aplikasi komputer dalam pembelajaran
memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara
individual (individual learning). Pemakai komputer
atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan
sumber informasi. Komputer yang berjejaring
(internet) memungkinkan pemakainya melakukan
interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan
informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk interaksi
pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya
medium komputer. Beberapa lembaga pendidikan
jarak jauh di sejumlah negara yang telah maju
memanfaatkan medium ini sebagai sarana interaksi.
Pemanfaatan ini didasarkan pada kemampuan yang
dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan
balik (feedback) yang segera kepada pemakainya.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

126

Contoh penggunaan internet dalam dunia pendidikan
adalah penyelenggaraan e-learning, salah satunya
yang berbasis Moodle.
A.. Kelebihan Komputer
Ada beberapa kelebihan dan juga kelemahan yang
ada pada medium komputer. Aplikasi komputer
sebagai alat bantu proses belajar memberikan
beberapa keuntungan. Komputer memungkinkan
siswa/mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan
dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan
informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer
dalam proses belajar membuat siswa/mahasiswa dapat
melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya.
Penggunaan komputer dalam lembaga pendidikan
jarak jauh memberikan keleluasaan terhadap
siswa/mahasiswa untuk menentukan kecepatan belajar
dan memilih urutan kegiatan belajar sesuai dengan
kebutuhan.
Kemampuan komputer untuk menayangkan
kembali informasi yang diperlukan oleh pemakainya,
yang diistilahkan dengan "kesabaran komputer", dapat
membantu siswa /mahasiswa yang memiliki kecepatan
belajar lambat. Dengan kata lain, komputer dapat
menciptakan iklim belajar yang efektif bagi
siswa/mahasiswa yang lambat (slow learner), tetapi
juga dapat memacu efektivitas belajar bagi
siswa/mahasiswa yang lebih cepat (fast learner).
Disamping itu, komputer dapat diprogram agar
mampu memberikan umpan balik terhadap hasil
belajar dan memberikan pengukuhan (reinforcement)
terhadap prestasi belajar siswa/mahasiswa. Dengan
kemampuan komputer untuk merekam hasil belajar
pemakainya (record keeping), komputer dapat
diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor
hasil belajar secara otomatis.
Komputer juga dapat dirancang agar dapat
memberikan preskripsi atau saran bagi
siswa/mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar
tertentu. Kemampuan ini mengakibatkan komputer
dapat dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran
yang bersifat individual (individual learning).
Kelebihan komputer yang lain adalah kemampuan
dalam mengintegrasikan komponen warna, musik dan
animasi grafik (graphic animation). Hal ini
menyebabkan komputer mampu menyampaikan
informasi dan pengetahu-an dengan tingkat realisme
yang tinggi. Hal ini me-nyebabkan program komputer
sering dijadikan sebagai sarana untuk melakukan
kegiatan belajar yang bersifat simulasi. Lebih jauh,
kapasitas memori yang dimiliki oleh komputer
memungkinkan penggunanya menayangkan kembali
hasil belajar yang telah dicapai sebelumnya. Hasil
belajar sebelumnya ini dapat digunakan sebagai dasar
pertimbangan untuk melakukan kegiatan belajar
selanjutnya.
Keuntungan lain dari penggunaan komputer
dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar
dengan penggunaan waktu dan biaya yang relatif
kecil. Contoh yang tepat untuk ini adalah program
komputer simulasi untuk melakukan percobaan pada
mata kuliah sains dan teknologi. Penggunaan program
simulasi dapat mengurangi biaya bahan dan peralatan
untuk melakukan percobaan.
B. Kekurangan Komputer
Disamping memiliki sejumlah kelebihan,
komputer sebagai sarana komunikasi interaktif juga
memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama
adalah tingginya biaya pengadaan dan pengembangan
program komputer, terutama yang dirancang khusus
untuk maksud pembelajaran. Disamping itu,
pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan komputer
yang meliputi perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software) memerlukan biaya yang
relatif tinggi. Oleh karena itu pertimbangan biaya dan
manfaat (cost benefit analysis) perlu dilakukan
sebelum memutuskan untuk menggunakan komputer
untuk keperluan pendidikan. Masalah lain adalah
compatability dan incompability antara hardware dan
software. Penggunaan sebuah program komputer
biasanya memerlukan perangkat keras dengan
spesifikasi yang sesuai. Perangkat lunak sebuah
komputer seringkali tidak dapat digunakan pada
komputer yang spesifikasinya tidak sama. Disamping
kedua hal di atas, merancang dan memproduksi
program pembelajaran yang berbasis komputer
(computer based instruction) merupakan pekerjaan
yang tidak mudah. Memproduksi program komputer
merupakan kegiatan intensif yang memerlukan waktu
banyak dan juga keahlian khusus.
Jaringan komputer/internet memberi
kemungkinan bagi pesertanya untuk melakukan
komunikasi tertulis dan saling bertukar pikiran tentang
kegiatan belajar yang mereka lakukan. Jaringan
komputer dapat dirancang sedemikian rupa agar
guru/dosen dapat berkomunikasi dengan
siswa/mahasiswa dan siswa/mahasiswa dapat
melakukan interaksi belajar dengan siswa/mahasiswa
yang lain. Interaksi pembelajaran dengan
menggunakan jaringan komputer tidak saja dapat
dilakukan secara individual, tetapi juga untuk
menunjang kegiatan belajar kelompok. Pemanfaatan
jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh
dikenal juga dengan istilah Computer Conferencing
System (CCF). Biasanya sistem ini dilakukan melalui
surat e-mail. Beberapa kelebihan pemanfaatan
jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh
yaitu: dapat memperkaya model-model tutorial, dapat
memecahkan masalah belajar yang dihadapi
siswa/mahasiswa dalam waktu yang lebih singkat dan
dapat mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam
memperoleh informasi. CCF memberi kemungkinan
bagi mahasiswa dan dosen untuk melakukan interaksi
pembelajaran langsung antar individu, individu
dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
C.. Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang berbasis ICT berfungsi
untuk :
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

127

- Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa
yang terjadi pada masa lampau
- Media pembelajaran dapat mengatasi
keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh
para peserta didik.
- Media pembelajaran dapat melampaui
batasan ruang kelas
- Media pembelajaran memungkinkan adanya
interaksi langsung antara peserta didik
dengan lingkungannya
- Media dapat menanamkan konsep dasar
yang benar, konkrit, dan realistis
- Media membangkitkan motivasi dan
merangsang anak untuk belajar
- Memperoleh gambaran yang jelas tentang
benda/hal-hal yang sukar diamati secara
langsung karena ukurannya yang tidak
memungkinkan
D. Mengola Materi Menjadi Berbasis ICT
Materi ajar konvensional perlu diolah ulang agar
modelnya berubah tanpa tetapi tidak merubah makna
atau inti dari materi itu sendiri. Dengan kata lain,
kemasan berubah tetapi isinya tetap. Materi ajar diolah
dengan tahapan:
1. Seleksi buku. Memilih sebuah buku yang akan
menjadi acuan dengan pertimbangan isi materi, tingkat
kesulitan, metodologi instruksional dan integritas
keilmuan penulis.
2. Strukturisasi. Sturkturisasi diawali dengan
membuat proposisi dari teks dasar.
Setelah menentukan proposisi utama, makro, dan
mikro, langkah selanjutnya adalah mengalihkannya ke
bentuk outline, sehingga didapatkan sebuah model
representasi teks.
3. Seleksi. Seleksi materi yang sesuai kebutuhan
siswa. Tidak semua materi yang ada pada topik/materi
diperlukan oleh siswa. Oleh karena itu dibutuhkan
pemilihan kembali terhadap materi yang sesuai
dengan tuntutan kurikulum.
4. Reduksi. Reduksi pada materi yang akan
diajarkan dilakukan dengan cara penyederhanakan
bahasa, visualisasi, dan penggunaan teknik historis
dalam pemaparannya. Penyederhanaan bahasa
dilakukan dengan mengabaikan hal-hal kurang relevan
dengan kebutuhan siswa. Visualisasi dilakukan
dengan memberikan gambar dari suatu proses yang
terjadi. Akan lebih mudah dipahami jika disajikan
dalam bentuk gambar (visual).

III. METODE PENERAPAN
Metode penerapan ICT sebagai basis dalam
pembuatan media pembelajaran di beberapa sekolah di
Kota/Kabupaten Kupang diawali dengan melakukan
survei mengenai SDM guru dibidang ICT, sarana
penunjang yang tersedia dan media pembelajaran yang
dipakai. Hasil survey kemudian dituangkan dalam
bentuk proposal pengabdian untuk dibiayai
pelaksanaannya. Dari semua peserta, dipilih secara
acak 10 orang guru yang akan dijadikan sampel untuk
dinilai. Materi yang diberikan untuk tiap sekolah
berbeda. Dengan bekal software program aplikasi
yang telah disampaikan, guru didampingi untuk
menuangkan materi ajarnya kedalam bentuk teks,
grafik, audio dan video. Materi pembelajaran berupa
pemaparan teori serta tes dan kunci jawaban yang
interktif. Selanjutnya guru melakukan tes awal kepada
siswa sebelum memberikan materi dalam media yang
baru. Data kemajuan penerapan media pembelajaran
berbasis ICT didapat dari hasil observasi, wawancara
dan diskusi serta nilai pada tugas, tes harian, tes
tengah semester dan tes akhir.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah guru dilatih untuk membuat media
pembelajaran yang berbasis ICT dan diterapkan saat
sebelum tengah semester untuk dipantau
perkembangannya, didapat data sebagai berikut [1]:

Tabel 1. Gambaran peserta dan hasil pelatihan
No Sekolah Jlh Peserta Penguasaan ICT awal Materi
Kualitas Media
Yang Dibuat
1 SMAN 1 10 25 % Moodle Baik
2 SMAN 7 14 20 % Flash & P.Point Baik
3 SMAN 8 11 25 % Flash & P.Point Baik
4 SMAN 9 10 25 % Flash & P.Point Baik
5 SMPN 1 15 20 % Wordpress Baik
6 SMA Advent 12 20 % Blogger Baik

Tabel 2. Sampel hasil penerapan media pembelajaran berbasis ICT
No Sekolah Tes Awal
Penerapan ICT
Progres
Tes Harian Tes Mid Tes Akhir
1 SMAN 1 75 77 78 80 Baik
2 SMAN 7 68 75 79 81 Baik
3 SMAN 8 70 70 80 80 Baik
4 SMAN 9 65 80 80 80 Baik
5 SMPN 1 70 80 79 80 Baik
6 SMA Advent 68 80 80 80 Baik
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

128


Dari hasil yang ada, terlihat bahwa dengan
merubah atau mengembangakan bahan ajar, dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa terlihat
begitu antusias menyimak paparan materi karena
disajikan dengan cara yang berbeda dan tes yang
dikerjakan juga mempunyai kunci jawaban dan terasa
menyenangkan karena bersifat interaktif. Saat
diwawancarai, banyak yang senang mengulang-ulang
mengerjakan tes interaktif karena mereka seperti
bermain game Who Wants To Be Milionare

V. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penerapan media pembelajaran
berbasis ICT antara lain :
- Guru yang terus mengembangkan bahan
ajar mengikuti perkembangan teknologi
akan merasa puas karena kompetensi yang
ditargetkan untuk tiap pokok bahasan dapat
dicapai oleh siswa.
- Materi yang diajarkan akan lebih mudah
dipahami siswa karena bahan ajar yang
menarik.
- Bahan ajar berbasis ICT yang menarik
membuat siswa bersemangat untuk terus
mengulang-ulang mengerjakan tes karena
terasa menyenangkan.
- Bahan ajar berbasis ICT membuat siswa
dapat belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu
serta dapat menyesuaikan dengan kecepatan
penalarannya.
REFERENSI
[1]. London H.H. (1999), Principles and techniques of voca-
tional guidance, Columbus, OH.: Charless E. Merrill
Publishing Co.
[2]. Mager, Robert F. & Beach, Venneth M. (2006). Developing
vocational instruction. Columbo: Flarson Publishers.
[3]. Manning, Chris. (2008). Struktur pekerja sektor informal.
Yogyakarta: Puslit Kependudukan UGM.
[4]. Masinambow, E.K.M. (2001). "Perubahan kebudayaan dan
pola-pola transformasi struktural". Makalah. Disampaikan
dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V. LIPI
Jakarta, 7 September 1991.
[5]. Mige, G.Erwin S.(2013),L aporan Akhir IbM 2011-2013,
LPM Undana, Kupang.
[6]. Muchlas. (2007). Unjuk kerja karyawan industri kecil jenis
logam di sentra industri logam waru sidoarjo jawa
timur. Tesis. Tidak diterbitkan. Pasca Sarjana IKIP Jakarta.
[7]. Muhadjir, Noeng. (2008). Perencanaan dan
kebijakan pendidikan. Yogyakarta: Rake Sarasin.
[8]. Mulyani A., Nurhadi. (2000). Perencanaan pendidikan dalam
menyiapkan tenaga kerja produktif dan permasalahan-
nya. Pidato Ilmiah dalam Dies Natalis XXVI IKIP
Yogyakarta. Yogyakarta, 21 Mei 1990.
[9]. Nolker, Helmut. (2003).Pendidikan kejuruan.
Jakarta: PT.Gramedia.
[10]. Noto Widodo dkk. (2006). Relevansi kurikulum
STM otomotif dengan kebutuhan kemampuan kerja
industri otomotif.Laporan Penelitian DPPM Ditjen Dikti
Depdikbud. Tidak Diterbitkan. Perpustakaan IKIP
Yogyakarta.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

129

Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Mahasiswa Melalui
Memberian Tugas Proyek Secara Mandiri Praktikum
Rekayasa Perangkat Lunak Mahasiswa D3 Manajemen
Informatika Jurusan Teknik Elektro Unesa
Rina Harimurti
1

1
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.
E-mail: rina.harimurti@gmail.com
Abstrak - Dengan model pemberian tugas yang
tepat diharapkan akan didapatkan gambaran
hasil yang lebih jelas tentang seberapa
pemahaman mahasiswa terhadap materi
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak. Oleh
karena itu diupayakan pemberian tugas proyek
secara mandiri dapat mengasah keterampilan
mahasiswa dalam hal pemecahan masalah,
mendesain sampai dengan menghasilkan produk
jadi/setengah jadi untuk kebutuhan rekayasa
perangkat lunak.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan
sebanyak 3 siklus, siklus pertama digunakan
sebagai dasar perbaikan siklus kedua demikian
juga siklus ketiga dijadikan dasar perbaikan
siklus kedua. Setiap siklus terdapat empat
tahapan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Sedangkan pokok bahasan
yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian
ini adalah (1) pembuatan ERD (Entity
Relationship Diagram), (2) pembuatan DFD (Data
Flow Diagram), dan (3) pembuatan Use Case
Diagram.
Pada siklus 1 didapatkan hasil 90%
mahasiswa melakukan analisis ERD dengan betul
dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Pada
siklus 2 didapatkan hasil 75% mahasiswa mampu
menyelesaikan tugas proyek pembuatan DFD
tepat pada waktunya juga dengan analisis yang
betul dan pada siklus 3 didapatkan hasil 75%
mahasiswa mampu menyelesaikan tugas proyek
pembuatan Use Case diagram dengan betul dan
tepat pada waktunya. Kesimpulan dari 3 siklus
yang dilaksanakan rata-rata tingkat pemahaman
dan analisis mahasiswa terhadap tugas proyek
yang diberikan bagus, yang berarti 80%
mahasiswa mampu mencapai nilai yang
diharapkan. Demikian juga dari hasil tes dan
asesmen kinerja mahasiswa, rata-rata mampu
mencapai nilai yang diharapkan yaitu diatas 75%.
Nilai yang diharapkan adalah rentang A B.
Kata kunci : Kedisiplinan, Tugas Proyek Mandiri,
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak.
I. PENDAHULUAN
Berbagai upaya perbaikan sistem pendidikan
di Indonesia saat ini banyak sekali macamnya,
perubahan pada sistem belajar mengajar, media
pembelajaran dan juga sarana dan prasarana
yang disediakan. Pendidikan adalah salah satu
upaya pembinaan kepribadian dan kemajuan
manusia baik jasmani maupun rohani. Hasil
pendidikan dianggap tinggi mutunya apabila
mampu meningkatkan harkat dan martabat
manusia.
Pendidikan menduduki posisi penting untuk
menuju perkembangan dan kemajuan suatu bangsa.
Sehingga tujuan pendidikan nasional akan dapat
tercapai apabila ada tanggung jawab dari semua
pihak, baik mahasiswa, orang tua, dosen, pemerintah,
lembaga pendidikan serta masyarakat. Pendidikan
bukan hanya tanggung jawab dari satu pihak saja
melainkan tanggung jawab bersama.
Pelaksanaan usaha dalam mencapai tujuan
pendidikan di atas dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah upaya peningkatan hasil belajar,
hal ini dimaksudkan agar dapat dijadikan bekal oleh
mahasiswa untuk mempersiapkan kemampuan dan
keahlian apabila terjun pada dunia kerja yang akan
mereka hadapi.
Ini berarti perspektif yang baru pun harus terjadi
dalam sistem proses belajar mengajar lebih khususnya
adalah pemberian tugas yang punya pengaruh
signifikan terhadap penilaian dan hasil belajar.
Evaluasi bisa dilakukan dengan melihat model
pembelajaran dan pemberian tugas selama ini.
Satu hal yang bisa dijadikan dasar untuk model
pemberian tugas mandiri adalah data awal yang
menunjukkan kurangnya disiplin mahasiswa untuk
pengumpulan tugas. Hampir 40% dari jumlah
mahasiswa yang memprogram mata kuliah selalu
terlambat mengumpulkan tugas, baik tugas mandiri
maupun tugas kelompok. Jumlah tersebut bisa
diperinci bahwa mahasiswa memang belum
mengerjakan sama sekali (mengumpulkan pada hari
berikutnya) dan selebihnya mengerjakan pada saat
proses belajar mengajar dilakukan. Dari data tersebut
di atas, diupayakan sebuah model pemberian tugas
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

130

yang mampu membuat mahasiswa merasa memiliki
tanggung jawab untuk menyelesaikan tepat waktu.
Dengan model pemberian tugas yang tepat
diharapkan akan didapatkan gambaran hasil yang
lebih jelas tentang seberapa pemahaman mahasiswa
terhadap materi Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak. Menggunakan berbagai macam instrumen
yang valid dan reliabel dapat membantu
mengkomunikasikan kepada orang lain kemampuan
mahasiswa. Selanjutnya setelah pemberian tugas
tersebut efektif, bisa dilihat dari hasil penilaian dalam
proses pembelajaran. Sistem penilaian biasanya
didominasi satu metode yaitu tes tertulis. Melalui tes
tertulis, dapat dinilai banyak hal, tapi tidak semua
hasil proses belajar yang penting dapat dinilai dengan
tes tertulis. Banyak situasi penilaian yang
membutuhkan non-tes tertulis untuk mendapatkan
informasi tentang kemampuan peserta didik.
Selama ini dalam pembelajaran Rekayasa
Perangkat Lunak, cenderung lebih dominan dosen
yang aktif, sedangkan mahasiswa hanya pasif
mendengar. Mahasiswa jarang mendapatkan tugas
yang berhubungan dengan penemuan atau pemecahan
masalah. Oleh karena itu diupayakan pemberian
tugas proyek secara mandiri dapat mengasah
keterampilan mahasiswa dalam hal pemecahan
masalah, mendesain sampai dengan menghasilkan
produk jadi/setengah jadi untuk kebutuhan rekayasa
perangkat lunak.
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas,
dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai
berikut:
Apakah pemberian tugas proyek secara mandiri
pada mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak dapat meningkatkan kedisiplinan mahasiswa
dan prestasi hasil belajar mahasiswa?
Penelitian ini bertujuan: meningkatkan
kedisiplinan mahasiswa dengan cara memberikan
sebuah model tugas untuk melihat keterampilan
mahasiswa dalam hal pemecahan masalah, mendesain
sampai dengan menghasilkan produk jadi/setengah
jadi untuk kebutuhan rekayasa perangkat lunak, dan
yang kedua mengetahui hasil belajar mahasiswa dari
pemberian tugas proyek secara mandiri
Pemecahan Masalah
Dalam penelitian ini upaya peningkatan disiplin
dan tugas proyek mandiri dalam bentuk:
a) pemberian tugas proyek secara mandiri yang
didalamnya mengandung aspek identifikasi
masalah, perumusan masalah dan teknik
pemecahan masalahnya
b) tugas proyek ini direncanakan berlangsung secara
berkelanjutan mulai dari pokok bahasan pertama
sampai dengan ketiga sesuai dengan 3 siklus yang
direncanakan, dengan perincian:
- Siklus 1, pokok bahasan Entity Relationship
Diagram (ERD. Tugas proyek yang diberikan
kepada mahasiswa adalah Pembuatan sebuah
ERD)
- Siklus 2, pokok bahasan DFD (Data Flow
Diagram). Tugas proyek yang diberikan
kepada mahasiswa adalah Pembuatan DFD
- Siklus 3, pokok bahasan konsep dan
komponen Use Case Diagram. Tugas proyek
yang diberikan kepada mahasiswa adalah
Pembuatan UML (Unified Modelling
Language) merupakan bahasa pemodelan yang
dapat digunakan secara luas dalam pemodelan
bisnis, pemodelan perangkat lunak dari semua
fase pembentukan dan semua tipe sistem, dan
pemodelan secara umum dari berbagai
pembentukan/konstruksi yang memiliki dua
perilaku yaitu baik statis maupun dinamis
c) Indikator keberhasilan mahasiswa meliputi
ketepatan waktu penyelesaian tugas, kebenaran
pemilihan metode pemecahan masalah,
keberhasilan mahasiswa menyelesaikan tugas dan
penilaian akhir

II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Disiplin
Disiplin merupakan istilah yang sudah
memasyarakat diberbagai disiplin ilmu, ada disiplin
belajar, disiplin menyelesaikan tugas dan macam-
macam disiplin lainnya. Masalah disiplin yang
dibahas dalam penelitian ini difokuskan pada disiplin
penyelesaian tugas proyek secara mandiri. Disiplin
yang dimaksud dalam hal ini adalah disiplin yang
dilakukan oleh mahasiswa dalam kegiatan
penyelesaian tugas secara mandiri baik di
kampus/laboratorium maupun di rumah.
Seorang mahasiswa perlu memiliki sikap disiplin
dengan melakukan latihan yang memperkuat dirinya
sendiri untuk selalu terbiasa patuh dan mempertinggi
daya kendali diri. Disiplin menurut beberapa ahli
dapat dikemukakan sebagai berikut:
Disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan
sikap mental individu atau masyarakat dalam
mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap
peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan
kesadaran yang muncul dari dalam hatinya. (Maman
Rachman, 1999:168)
Adapun disiplin sendiri ada bermacam-macam,
sedangkan dalam penelitian ini difokuskan pada
disiplin penyelesaian tugas proyek secara mandiri.
Mengerjakan tugas merupakan salah satu rangkaian
kegiatan dalam proses belajar mengajar, yang
dilakukan di dalam maupun di luar jam kuliah.
Tujuan dari pemberian tugas biasanya untuk
menunjang pemahaman dan penguasaan materi kuliah
yang disampaikan.
2.2 Tugas Proyek Mandiri
Tujuan utama dari pemberian tugas secara
mandiri adalah untuk melihat kemampuan dan
kemauan mahasiswa dalam penyelesaian sebuah
masalah, selain itu juga konsep belajar mandiri benar-
benar bisa dilakukan. Menurut Prof. Dr. Mohamad
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

131

Nur (2004:8) pebelajar mandiri atau self-regulated
learner, yang mengacu pada belajar yang dapat
melakukan 4 hal penting berikut ini:
- Secara cermat mendiagnose suatu situasi
pembelajaran tertentu.
- Memilih suatu strategi belajar tertentu untuk
menyelesaikan masalah belajar tertentu yang
dihadapi.
- Memonitor keefektifan strategi tersebut.
- Cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi
belajar tersebut sampai masalah tersebut
terselesaikan.
Berdasarkan pada pendapat tersebut di atas, maka
pemberian tugas proyek mandiri ini dimaksudkan
agar mahasiswa mampu menyelesaikan beban tugas
yang diberikan pada saat proses belajar mengajar
mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak.
Adapun tugas yang diberikan bersifat berkelanjutan
dari mulai pokok bahasan pertama sampai ketiga
sesuai dengan rencana penelitian yang akan
dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa tugas proyek
tersebut merupakan sebuah produk desain Rekayasa
Perangkat Lunak.
2.3 Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak
Mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak adalah merupakan mata kuliah wajib pada
Prodi D-3 Manajemen Informatika. Mata kuliah ini
akan membekali mahasiswa mengenai konsep-konsep
rekayasa perangkat lunak yang dapat diaplikasikan
secara nyata dalam siklus pengembangan perangkat
lunak. Sehingga diperlukan pemahaman mengenai
rekayasa perangkat lunak, Rekayasa Sistem
Komputer, Dasar dari analisis requirement, Dasar
desain perangkat lunak, Software quality guarantee.
Adapun tiga pokok bahasan yang akan dipakai
dalam penelitian ini adalah:
- Entity Relationship Diagram (ERD), yang akan
menjelaskan pengertian serta manfaat ERD. Tugas
proyek yang diberikan kepada mahasiswa adalah
Pembuatan ERD
- Menjelaskan pengertian serta manfaat DFD, yang
akan menjelaskan tentang pengertian serta
manfaat Data Flow Diagram (DFD). Tugas proyek
yang diberikan kepada mahasiswa adalah
Pembuatan DFD
- Use Case Diagram, yang akan menjelaskan
tentang konsep pembuatan Use case Diagram dan
komponen-komponen yang terdapat pada Use
Case Diagram. Tugas proyek yang diberikan
kepada mahasiswa adalah Pembuatan Use Case
diagram dengan penggunaan UML (Unified
Modelling Language) yaitu merupakan bahasa
pemodelan yang dapat digunakan secara luas
dalam pemodelan bisnis, pemodelan perangkat
lunak dari semua fase pembentukan dan semua
tipe sistem, dan pemodelan secara umum dari
berbagai pembentukan/konstruksi yang memiliki
dua perilaku yaitu baik statis maupun dinamis
III. METODE PENELITIAN
3.1 Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah mahasiswa D-3
Program Studi Manajemen Informatika angkatan
2009 Kelas A yang memprogram mata kuliah
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak. Penelitian ini
akan dikembangkan dan diterapkan dengan metode
pemberian tugas secara mandiri di laboratorium
komputer yang dirancang dengan action research
(tindakan kelas) dengan pendekatan siklus
berkelanjutan.
3.2 Jenis Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebanyak 3
siklus, setiap siklus selalu dilakukan secara
partisipatif dan kolaboratif antara peneliti dengan
dosen mitra. Setiap siklus terdapat empat tahapan
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi,
dan refleksi. Tahapan yang dilakukan pada ketiga
siklus adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
- Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam
pelaksanaan pembelajaran, pemberian materi
dan waktu tatap muka, pemberian tugas mandiri,
dan permasalahan penilaian akhir.
- Menyusun rencana pembelajaran dan satuan
acara perkuliahan (SAP)
- Merencanakan tugas praktikum yang sesuai
dengan rencana pembelajaran yang telah
disusun.
- Menyusun pedoman pengamatan dan kriteria
penilaian terhadap kegiatan praktikum.
2. Pelaksanaan Tindakan
- Menjelaskan tentang mekanisme pelaksanaan
tugas proyek mandiri kepada mahasiswa
- Pembagian tugas proyek mandiri kepada
mahasiswa dan menetapkan batas waktu
penyelesaian proyek
- Mahasiswa diminta mencatat semua kegiatan
dan membuat laporan tertulis
3. Tahap observasi
- Dosen melakukan pengamatan dan mencatat
semua kejadian baik yang mendukung maupun
yang menghambat.
- Mencatat dalam lembar observasi.
- Peneliti dan dosen mitra mendiskusikan
kekurangan dan kelemahan mahasiswa
berdasarkan hasil pada lembar observasi
4. Tahap refleksi
- Peneliti dan dosen mitra memberi penilaian yang
sesuai terhadap tugas proyek mandiri yang telah
dikerjakan mahasiswa.
- Peneliti dan dosen mitra membahas semua
permasalahan dan mempertimbangkan kendala-
kendala yang terjadi selama siklus 1, dan
melakukan revisi terhadap rencana awal.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

132

Pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini dilakukan dengan cara (1) metode
observasi yaitu untuk mengamati proses pembelajaran
secara langsung di laboratorium komputer ketika
mahasiswa melaksanakan praktikum untuk
menyelesaikan tugas proyek secara mandiri, (2)
metode kuesioner dilakukan untuk mengumpulkan
data tentang tanggapan mahasiswa terhadap tugas
proyek secara mandiri, serta kendala-kendala yang
mereka alami selama penyelesaian tugas tersebut, dan
(3) tes, untuk mengetahui kemampuan mahasiswa
menyerap materi praktikum rekayasa perangkat
lunak, (4) asesmen kinerja untuk menilai proses dan
produk dari masing-masing tugas proyek dari
mahasiswa.
3.4 Teknik Analisis Data
Analisis data untuk penelitian ini dilakukan
secara kualitatif untuk mengambarkan hasil observasi
dan tanggapan maupun kendala yang dialami selama
pembelajaran berlangsung . Analisis kuantitatif juga
dilakukan untuk instrumen tes yang dilakukan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Siklus 1
Pada siklus 1, waktu pelaksanaan lebih panjang
karena pada awal dimulainya pelaksanaan Tugas
Proyek Mandiri ini harus disosialisasikan terlebih
dahulu kepada mahasiswa. Pada siklus 1 mahasiswa
diberi tugas untuk membuat ERD (Entity
Relationship Diagram). Menentukan masalah yang
akan dibuat ERD, kemudian dilihat model analisis
yang digunakan. Di dalam pembuatan ERD poin yang
paling menentukan adalah memilih kardinalitas
(cardinality) yang dikehendaki sebagai relasi antara
dua entity yang direlasikan. Ada 4 macam
kardinalitas yaitu: One to One, One to Many, Many to
One dan Many to Many. Melihat hasil dari tugas ERD
mahasiswa, 90% mahasiswa (dari 44 orang yang
mengambil mata kuliah Praktikum RPL) melakukan
analisis dengan betul dan mengumpulkan tugas tepat
waktu. Dalam arti pemilihan relasi kardinalitas antar
dua entitas yang digunakan adalah betul. Sedangkan
selebihnya yaitu 10% belum mampu melakukan
analisis dengan benar.
4.2 Siklus 2
Pada awal pelaksanaan siklus 2 dilakukan
penyempurnaan dari pelaksanaan siklus 1. Pada siklus
2 mahasiswa diberi tugas membuat Data Flow
Diagram (DFD). Penilaian analisis pada pembuatan
DFD lebih ditekankan pada:
1. Membuat Process Analyst Model (PAM) adalah
membuat Proses Utama (root process). Ini
merupakan kumpulan dari semua Fungsi
(Function) dalam sistem yang akan di analisa
2. Membuat Decomposisi Proses yaitu memecah
proses utama ke dalam proses lain yang levelnya
lebih rendah dengan analisa lebih detail dari proses
utama.
3. Membuat Data Item dan Domain. Data Item
adalah unsure dasar informasi dalam Process
Analyst Model (PAM). Sedangkan Domain
menyatakan tipe dari data item dalam project.
Membuat Data Store yaitu menyimpan dan
menyetujui akses untuk data item.
Dari 4 kriteria penilaian keberhasilan tugas
proyek mahasiswa tersebut didapatkan hasil rata-rata
75% mahasiswa dapat memenuhi kriteria tersebut. 25
% sisanya tidak mampu menyelesaikan tugasnya, atau
belum menyelesaikan 4 kriteria yang diharuskan. Bisa
disimpulkan bahwa dari keseluruhan mahasiswa yang
memprogram mata kuliah, 75% mahasiswa mampu
menyelesaikan tugas proyek pembuatan DFD tepat
pada waktunya.
4.3 Siklus 3
Pada awal pelaksanaan siklus 3 dilakukan
penyempurnaan dari pelaksanaan siklus 2. Beberapa
poin yang dijadikan sebagai bahan perbaikan adalah
ketepatan waktu penyelesaian tugas proyek, dan
prosentase penurunan hasil kinerja mahasiswa dari
siklus 1 ke siklus 2. Hal ini bisa disebabkan karena
faktor materi mata kuliah dan indikator analisis yang
lebih kompleks. Pada siklus 3 adalah membuat Use
Case Diagram, tugas proyek yang diberikan kepada
mahasiswa adalah penggunaan UML (Unified
Modelling Language) merupakan bahasa pemodelan
yang dapat digunakan secara luas dalam pemodelan
bisnis, pemodelan perangkat lunak dari semua fase
pembentukan dan semua tipe sistem, dan pemodelan
secara umum dari berbagai pembentukan yang
memiliki dua perilaku yaitu baik statis maupun
dinamis. Penilaian analisis pada siklus 3 lebih
ditekankan pada:
Komponen utama dari sebuah Model Use-case
(Actor, Use Case, Relationship)
- Membuat Use case
- Membuat komunikasi Association
(Communicates Associations)
- Membuat Include Relationships
- Membuat Extended Relationships
- Hasil akhir pembuatan Use Case Diagram
Dari 6 kriteria penilaian keberhasilan tugas
proyek mahasiswa tersebut didapatkan hasil rata-rata
75% mahasiswa dapat memenuhi kriteria tersebut. 25
% sisanya tidak mampu menyelesaikan tugasnya, atau
belum menyelesaikan 6 kriteria yang diharuskan. Bisa
disimpulkan bahwa dari keseluruhan mahasiswa yang
memprogram mata kuliah, 75% mahasiswa mampu
menyelesaikan tugas proyek pembuatan Use Case
diagram tepat pada waktunya.
4.4 Kuesioner
Metode kuesioner ini untuk mengumpulkan data
tanggapan mahasiswa terhadap tugas proyek mandiri.
Skala sikap yang digunakan adalah skala Likert.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

133

Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang
diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif,
dinilai oleh subjek dengan Setuju, Kurang Setuju,
Ragu-ragu, Tidak Setuju. Skor yang diberikan
terhadap pilihan tersebut bergantung pada penilai,
asal penggunaannya konsisten. (Sudjana,2006:80).
Hasil pengambilan data dari kuesioner tersebut
pada indikator kedisiplinan penyelesaian tugas
didapatkan kesimpulan bahwa 20 orang mahasiswa
setuju bahwa tugas harus dikumpulkan tepat waktu
dan tugas proyek praktikum akan dikerjakan pada
saat mata kuliah sedang berlangsung (di kampus).
Terkait dengan pelaksanaan tugas proyek mandiri
didapatkan data tanggapan dari mahasiswa bahwa ada
kecenderungan mahasiswa menyukai tugas yang
diberikan secara mandiri, karena mahasiswa merasa
bahwa beban penyelesaian tugas kelompok seringkali
tidak berimbang (30 mahasiswa). Dan dengan adanya
tugas proyek secara mandiri membuat pemahaman
dan penguasaan materi kuliah menjadi mudah (23
mahasiswa). Dan indikator ketiga yaitu penilaian
hasil akhir didapatkan kesimpulan bahwa dengan
pemberian tugas proyek mandiri semacam ini dapat
melatih kemampuan analisis mahasiswa, mahasiswa
cenderung menyukai penilaian hasil akhir dari
laporan tugas proyek saja (26 mahasiswa) tanpa harus
dilakukan demo tugas.
Hasil rekapitulasi pengambilan data dengan
menggunakan kuesioner dari masing-masing
indikator adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Kuesioner

4.5 Hasil Tes
Tes disini untuk mengetahui kemampuan
mahasiswa menyerap materi praktikum rekayasa
perangkat lunak. Dalam hal ini adalah nilai akhir
semester mahasiswa yang mengambil mata kuliah
Praktikum Rekayasa Perangkat Lunak. Dari 44
mahasiswa tersebut didapatkan 75% mahasiswa
mendapatkan nilai A dan B. Sedangkan selebihnya
25% mahasiswa mendapatkan nilai C, D dan E.
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa rata-rata
pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dibahas
pada mata kuliah Praktikum Rekayasa Perangkat
Lunak cukup bagus.
4.6 Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja untuk menilai proses dan
produk dari masing-masing tugas proyek dari
mahasiswa. Dalam hal ini diambil dari nilai akhir
tugas yang berasal dari nilai unjuk kerja tugas proyek
(demo tugas) dan laporan akhir dari tugas proyek
tersebut. Dari penilaian asesmen kinerja tersebut
didapatkan 80% mahasiswa mendapatkan nilai dalam
rentang 70-85. Sedangkan selebihnya yaitu 20%
mendapatkan nilai dibawah 70. Dengan demikian bisa
disimpulkan bahwa sebagian besar unjuk kerja tugas
proyek mandiri mahasiswa tersebut bagus.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Pada siklus 1 didapatkan hasil 90% mahasiswa
melakukan analisis ERD dengan betul dan
mengumpulkan tugas tepat waktu. Pada siklus 2
didapatkan hasil 75% mahasiswa mampu
menyelesaikan tugas proyek pembuatan DFD tepat
pada waktunya juga dengan analisis yang betul dan
pada siklus 3 didapatkan hasil 75% mahasiswa
mampu menyelesaikan tugas proyek pembuatan Use
Case diagram dengan betul dan tepat pada waktunya.
Dari 3 siklus yang dilaksanakan tersebut maka
kesimpulannya adalah rata-rata tingkat pemahaman
dan analisis mahasiswa terhadap tugas proyek yang
diberikan bagus, yang berarti 80% mahasiswa mampu
mencapai nilai yang diharapkan.
Demikian juga dari hasil tes dan asesmen kinerja
mahasiswa, rata-rata mampu mencapai nilai yang
diharapkan yaitu diatas 75%. Nilai yang diharapkan
adalah rentang A B.
5.2 Saran
Model pemberian tugas proyek semacam ini bisa
dilanjutkan untuk mata kuliah praktikum atau mata
kuliah produk yang lainnya
Memungkinkan untuk membuat model/metode
pemberian tugas yang lain sehingga dapat
membangkitkan gairah belajar dan jiwa kompetisi
yang sehat dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Nur, Muhamad. 2004. Strategi-strategi Belajar Edisi 2.
UNESA UNIVERSITY PRESS SURABAYA
[2]. Prijodarminto, Soegeng. 1994. Disiplin Kiat Menuju Sukses.
Jakarta : Abadi
[3]. Rachman, Maman. 1999. Manajemen Kelas. Jakarta :
Depdiknas, Proyek Pendidikan Guru SD
[4]. Setia Tunggal, Hadi. 2003. Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta : Harvarindo
[5]. Tuu, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi
Siswa. Jakarta : Grasindo



Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

135

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching
Terhadap Hasil Belajar Siswa yang Memiliki Motivasi
Berprestasi Berbeda pada Standar Kompetensi
Menerapkan Sistem Mikroprosesor
Alfian Nur Dzul Qurnain
1
, Rr. Hapsari Peni A
2
1,2
Pendidikan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.
Email:alfiannurdzulqurnain@yahoo.co.id
Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk: 1)
mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang
diajar menggunakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan siswa yang diajar menggunakan
Model Pembelajaran Langsung pada mata diklat
menerapkan sistem mikroprosesor, 2) mengetahui
perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki
motivasi berprestasi rendah pada mata diklat
menerapkan sistem mikroprosesor kelas X TEI, 3)
mengetahui ada tidaknya interaksi antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil
belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi
experiment dengan design penelitian Nonequivalent
Control Group Design. Subyek dalam penelitian ini
adalah siswa kelas X TEI 1 sebagai kelas kontrol dan X
TEI 2 sebagai kelas eksperimen SMK Negeri 1 Jetis.
Kemudian untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
hasil belajar antara teknik pembelajaran Quantum
Teaching dan Model Pembelajaran Langsung, ada
tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang
memiliki motivasi berprestsi rendah, serta untuk
mengetahui ada tidaknya interaksi model pembelajaran
dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa
dilakukan analisis varian dua jalur.
Kata kunci: Quantum Teaching, Model Pembelajaran
Langsung, Motivasi Berprestasi, Quasi
Experiment, Hasil Belajar
I. PENDAHULUAN
Kondisi jam pelajaran yang lama tentu membuat
suasana belajar di dalam kelas menjadi sangat
menjenuhkan, apalagi jika jenis pelajaran yang
disampaikan adalah pelajaran yang bersifat teori.
Ditambah lagi motivasi berprestasi dalam diri siswa
yang tentunya beraneka ragam, ada siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi juga ada siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah.
Motivasi berprestasi menurut Mohamad Nur
(2001:27) adalah keinginan untuk mengalami
keberhasilan dan peran serta dalam kegiatan dimana
keberhasilan bergantung pada upaya dan kemampuan
seseorang.
Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan
mudah menyerah meskipun menghadapi masalah
yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan.
Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung
memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik
dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi
afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan
diterima)cenderung memilih mitra yang ramah.
Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang
memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih
lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang
motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung
menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya
upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat
diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor
eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran.
Bisa dibayangkan bagaimana jika siswa dengan
motivasi rendah mendapat pembelajaran yang
menjenuhkan dengan durasi jam belajar yang lama,
tentunya hasil belajar yang didapat siswa dengan
motivasi berprestasi rendah akan semakin jauh
dengan yang diharapkan.
Berangkat dari permasalahan tersebut peneliti
mecoba menerapkan teknik pembelajaran yang
menyenangkan sehingga siswa mampu melewati
kegiatan belajar di kelas dengan durasi jam belajar
yang lama dengan penuh suka cita dan
menyenangkan, selain itu motivasi berprestasi dalam
suatu pelajaran juga ikut meningkat dan berdampak
pada hasil belajar yang maksimal. Maka pada
penelitian ini peneliti mengangkat judul Pengaruh
Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap
Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi
Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi
Menerapkan Sistem Mikroprosesor.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1)
Apakah ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang
dibelajarkan dengan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dan kelas yang dibelajarkan dengan Model
Pembelajaran?; (2) Apakah ada perbedaan hasil
belajar mata diklat Menerapkan Sistem
Mikroprosesor pada siswa yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen
maupun kelas kontrol?; (3) Apakah ada interaksi
antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar?
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui
perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan
dengan teknik pembelajaran Quantum Teaching dan
kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

136

Langsung pada standar kompetensi Menerapkan
Sistem Mikroprosesor kelas X TEI; (2) Mengetahui
perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan
Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol; (3)
Mengetahui ada tidaknya interaksi antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil
belajar mata diklat Menerapkan Sistem
Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI pada kelas
eksperimen maupun kelas kontrol.
Pada penilitian ini dipilih teknik pembelajaran
Quantum Teaching karena teknik ini dinilai peneliti
mampu menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan. Quantum adalah pengubahan belajar
yang meriah dengan segala nuansanya. Kata quantum
berarti interaksi yang mengubah energi menjadi
cahaya, dengan demikian Quantum Teaching adalah
pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di
dalam dan di sekitar momen belajar
(DePorter,2003:3).
Dalam teknik pembelajaran Quantum Teaching
tidak hanya cara mengajarnya atau pembawaannya
yang diperhatikan, namun penataan lingkungan kelas
(konteks) juga sangat diperhatikan dengan
pemasangan poster ikon, poster afirmasi penataan
bangku, penggunaan musik, keakraban antara guru
dengan siswa juga dijalin untuk menghilangkan
jurang antara guru dengan siswa yang selama ini
banyak terlihat di dalam dunia pendidikan. Hal ini
sesuai dengan azas Quantum Teaching yaitu Bawalah
Dunia Mereka ke Dunia Kita. Hal-hal seperti inilah
yang membedakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan model pembelajaran yang lain,
sehingga dapat diduga siswa akan lebih nyaman di
kelas, keluh kesah siswa entah tentang pelajaran atau
masalah sosial juga dapat tersampaikan pada guru.
Berikut disajikan sintak teknik pembelajaran
Quantum Teaching.
Tabel 1. Sintak Teknik Pembelajaran Quantum Teaching
Perilaku Guru
Tahap 1:
Tumbuhkan

Berarti menumbuhkan minat belajar
siswa dengan cara memberitahukan
manfaat materi yang akan dipelajari.
Bertujuan untuk menumbuhkan minat
siswa dan menimbulkan pertanyaan
"Apa Manfaatnya Bagiku" (AMBAK)
dalam diri siswa.
Tahap 2:
Alami
Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memperoleh pengalaman-
pengalaman umum yang dapat
dimengerti oleh mereka. Memberikan
pengalaman baru pada siswa dengan
cara melakukan percobaan untuk
membuktikan suatu konsep. Pengajar
juga memberikan masalah atas konsep
yang telah diperoleh sebagai bahan
diskusi kelompok yang telah dibentuk
sebelumnya. Hal ini dapat menciptakan
kerjasama antar siswa dan memberikan
kebebasan siswa untuk berfikir.
Perilaku Guru
Tahap 3:
Namai
Guru menyediakan kata kunci, data,
nama saat minat memuncak. Sehingga
membuat siswa penasaran dan penuh
pertanyaan mengenai pengalaman.
Tahap 4:
Demonstrasi
kan
Guru menyediakan kesempatan bagi
siswa untuk dapat menunjukkan
kemampuannya. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
mempresentasikan hasil percobaan dan
diskusi sehingga memberi kesempatan
pada siswa untuk menunjukkan bahwa
mereka tahu.
Tahap 5:
Ulangi
Guru menunjukkan kepada siswa cara
cara mengulang materi dan menegaskan
bahwa mereka benar-benar tahu akan
apa yang dipelajari. Merekatkan gambar
keseluruhan. Dalam tahap ini dapat
dilakukan dengan mengajarkan ke
kelompok lain atau mengerjakan soal
posttest
Tahap 6:
Rayakan
Jika layak dipelajari, maka layak pula
dirayakan. Perayaan menambatkan
pengalaman belajar dengan asosiasi
positif. Dapat berupa pujian, bernyanyi
berama atau tepuk tangan.

Jika penataan lingkungan kelas sudah cukup
maka pelajaran dimulai dengan alur sesuai sintak
yaitu :
1. Tahap Tanamkan Teknik Pembelajaran Quantum
Teaching
Guru menumbuhkan siswa dengan
menampilkan video yang berisi berbagai aplikasi
mikroprosesor dalam berbagai bidang sehingga
mampu menumbuhkan motivasi berprestasi siswa
untuk mempelajari mata diklat menerapkan
sistem mikroprosesor (Fase 1 Quantum Teaching)
2. Fase 3 MPK Tahap Alami Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
a. Guru mengelompokkan siswa dalam
kelompok besar (anggotanya seluruh kelas)
untuk mengurangi resiko belajar, kemudian
guru memberikan video terkait dengan
pelajaran yang akan disampaikan selanjutnya
siswa diminta untuk memperhatikan video
tersebut dan mencatat informasi yang
didapatkan, siswa diperbolehkan saling
bertukar informasi dengan teman-teman satu
kelas. (Fase 2 Quantum Teaching)
b. Guru mengelompokkan siswa dalam
kelompok yang lebih kecil (mengurangi
resiko), terdiri dari 4-5 orang.
Pengelompokkan ini dibagi-bagi sesuai
kemampuan modalitas siswa yang diketahui
dengan mengerjakan instrumen modalitas
yang terdapat pada lampiran buku ajar.
Kemudian guru kembali memberikan video
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

137

terkait dengan pelajaran yang akan
disampaikan dan meminta siswa
memperhatikan dan merangkum dari hasil
menyimak video tersebut. (Fase 2 Quantum
Teaching)
3. Fase 4 MPK Tahap Namai Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
Guru membimbing siswa menyelesaikan
masalah yang diberikan untuk mempertegas
informasi yang mereka dapat dengan
memperhatikan kelompok-kelompok modalitas.
Untuk kelompok visual guru menjelaskan dengan
gambar-gambar melalui media powerpoint dan
membuat rangkuman. Untuk kelompok auditorial
guru menjelaskan secara lisan. Untuk kelompok
kinestetik guru memberikan perumpamaan
dengan mengaitkan pada kehidupansehari-hari,
misalkan untuk menjelaskan berapa kapasitas
memori yang mampu ditangani oleh suatu
mikroprosesor jika memiliki jumlah penyemat 4
saluran , maka dengan membuat kartu A0-A4
dimana pada kartu A0 memiliki bobot

dst.
Maka didapat jumlah total yang menunjukkan
jumlah kapasitas memori yang mampu
dialamati.(Fase 3 Quantum Teaching)
4. Fase 5 MPK Tahap Demontrasikan Teknik
Pembelajaran Quantum Teaching
Guru meminta siswa sesuai kelompoknya
mempresentasikan informasi yang diperoleh
dengan media powerpoint guna menambah
pemahaman. (Fase 4 Quantum Teaching)
5. Fase 5 MPK Tahap Ulangi Teknik Pembelajaran
Quantum Teaching
a. Guru meminta kelompok lain untuk memberi
tanggapan (Fase 5 Quantum Teaching)
b. Guru membantu siswa untuk mengkaji ulang
hasil yang diperoleh siswa. (Fase 5 Quantum
Teaching)
c. Guru membagi lagi kelompok-kelompok kecil
tersebut menjadi individu, sehingga walaupun
resiko besar namun setidaknya setiap individu
sudah memiliki bekal informasi dari
kelompok besar dan kelompok kecil tadi,
kemudian guru mengadakan evaluasi. (Fase 5
Quantum Teaching)
6. Fase 6 MPK Tahap Rayakan Teknik
Pembelajaran Quantum Teaching
a. Memberi penghargaan kepada siswa dan
merayakan atas penampilan penyelesaian,
partisipasi, pemerolehan keterampilan dan
ilmu pengetahuan dengan menyanyi bersama,
bertepuk tangan bersama atau pemberian
permen. (Fase 6 Quantum Teaching)
b. Dengan melibatkan siswa menutup pelajaran
dengan berdoa dan merapikan laboratorium
bersama-sama untuk menjalin kemitraan dan
kerjasama dengan siswa. (Fase 6 Quantum
Teaching)
Yang membedakan teknik pembelajaran Quantum
Teaching dengan model pembelajarn yang lain adalah
adanya upaya mengurangi resiko belajar yaitu dengan
memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari
pengalaman dan informasi dalam kelompok besar
terlebih dahulu (anggota seluruh kelas) baru dibagi-
bagi menjadi kelompok kecil sehingga modal
informasi yang diperoleh siswa semakin banyak
sehingga kelak pada saat evaluasi untuk tiap individu
siswa akan menjadi lebih siap karena telah memiliki
modal informasi yang banyak
Selain itu yang membedakan adalah pada
pembagian kelompok kerja dilakuakan pengukuran
modalitas terlebih dahulu, sehingga siswa
dikelompokkan sesuai dengan kemampuan modalitas
yang dimiliki siswa. Pengukuran kemampuan
modalitas menggunakan intrumen pengukuran
modalitas yang telah disediakan, terlampir pada
skripsi. Pengelompokan yang disesuaikan dengan
kemampuan modalitas ini bertujuan agar pemberian
bimbingan oleh guru bisa disesuaikan dengan
kemampuan modalitas yang dimiliki oleh siswa,
sehingga bimbingan yang diberikan guru akan lebih
mengena dan lebih dipahami oleh siswa.
Selain itu pemberian motivasi pada siswa tidak
hanya secara verbal, dalam penelitian ini siswa pada
awal pelajaran diberikan waktu sekitar 10-20 menit
untuk bermain game atau mendengarkan lagu, hal ini
bertujuan agar siswa nyaman terlebih dahulu di dalam
kelas dan merasa dekat dengan guru sehingga
penyampaian pelajaran akan lebih mudah.
Pemberian penghargaan dilakukan bukan pada
ketepatan hasil, namun pada proses yang telah
dilakukan siswa entah salah maupun sudah benar. Hal
ini dikarenakan pemberian penghargaan yang hanya
pada ketepatan hasil akan membuat siswa merasa
takut mengutarakan pendapat pada kesempatan
selanjutnya. Siswa akan takut menutarakan
pendapatnya jika merasa pendapat yang dimiliki
belum terlalu benar, dan siswa baru mau
mengutarakannya jika mereka sangat yakin
jawabannya benar.
Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik-
teknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap
hari untuk membantu siswa belajar setiap mata
pelajaran, mulai dari keterampilan-keterampilan dasar
sampai pemecahan masalah yang kompleks
(Nur,2011:1).
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih
luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk
bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan guru (Suprijono,2011:54). Secara umum
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

138

pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan
oleh guru, dimana guru menetapkan tugas,
pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-
bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu
peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.
Adapun fase-fase dalam model pembelajaran
kooperatif tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Sintak Model Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase Perilaku Guru
Fase 1 : present goals and set
Menyampaikan tujuan dan
memper siapkan peserta didik
Menjelaskan tujuan
pembelajaran dan
mempersiapkan peserta didik
siap belajar.
Fase 2 : present information
Menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi
kepada paserta didik secara
verbal.
Fase 3 : organize students into
learning teams
Mengorganisir peserta didik ke
dalam tim tim belajar
Memberikan penjelasan kepada
peserta didik tentang tata cara
pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok
melakukan transisi yang efisien.
Fase 4 : assist team work and
study
Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim- tim belajar
selama peserta didik
mengerjakan tugasnya.
Fase 5 : test on the materials
Mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta
didik mengenai berbagai materi
pembelajaran atau kelompok-
kelompok mempresentasikan
hasil kerjanya.
Fase 6 : provide recognition
Memberikan pengakuan atau
penghargaan
Mempersiapkan cara untuk
mengakui usaha dan prestasi
individu maupun kelompok.
(Agus Suprijono, 2011:65)
Model pembelajaran langsung adalah sebuah
pendekatan yang mengajarkan keterampilan-
keterampilan dasar dimana pelajaran sangat
berorientasi pada tujuan dan lingkungan pembelajaran
yang terstruktur secara ketat. Model pengajaran
langsung ditujukan pada pencapaian dua tujuan utama
siswa yaitu penuntasan konten akademik yang
terstruktur dengan baik dan perolehan seluruh jenis
keterampilan (Nur,2011:16).
Namun kritik utama terhadap model pengajaran
langsung adalah penekanan pengajaran pada ceramah
atau bicara guru. Kebanyakan pengamat mengklaim
bahwa bicara guru menyita waktu antara setengah dan
tiga perempat dari tiap periode kelas. Model ini hanya
terbatas untuk mengajarkan keterampilan-
keterampilan dasar dan informasi tingkat rendah dan
bahwa model itu tidak berguna bagi pencapaian
tujuan tingkat tinggi.
Adapun fase-fase dalam model pengajaran
langsung tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Sintak Model Pengajaran Langsung
Fase Perilaku Guru
Fase 1 :
Klarifikasi tujuan
dan memotivasi
siswa
Guru mengkomunikasikan garis
besar tujuan pelajaran tersebut,
memberi informasi latar
belakang, dan menjelaskan
mengapa pelajaran itu penting.
Mempersiapkan siswa untuk
belajar
Fase 2 :
Mempresentasikan
pengetahuan atau
mendemonstrasikan
keterampilan
Guru-mendemonstrasikan
keterampilan tersebut dengan
benar atau mempresentasikan
informasi langkah demi langkah
Fase 3 :
Memberi latihan
terbimbing
Guru memberi latihan awal
Fase 4 :
Mengecek
pemahaman dan
memberi umpan
balik
Guru mengecek untuk mencari
tahu apakah siswa melakukan
tugas dengan benar dan
memberi umpan balik
Fase 5 :
Memberi latihan
lanjutan dan
transfer

Guru mempersiapkan kondisi
untuk latihan lanjutan dengan
memusatkan perhatian pada
transfer keterampilan dan
pengetahuan tersebut ke situasi-
situasi lebih kompleks

Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2011:71-
72), motivasi adalah perubahan energi dalam diri
seorang yang ditandai dengan munculnya feeling
dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya
tujuan.
Menurut McClelland dan Atkinson dalam
Mohamad Nur (2001:27). Suatu jenis motivasi paling
penting dalam psikologi pendidikan adalah motivasi
berprestasi atau achievement motivation,
kecenderungan berupaya sampai berhasil dan memilih
kegiatan yang mengarah pada tujuan dan mengarah
pada keberhasilan/kegagalan. Motivasi berprestasi
menurut Mohamad Nur (2001:27) adalah keinginan
untuk mengalami keberhasilan dan peran serta dalam
kegiatan dimana keberhasilan bergantung pada upaya
dan kemampuan seseorang. Menurut Atkinson dalam
Hamzah (2008:8), motivasi berprestasi dimiliki oleh
setiap orang, sedangkan intensitasnya tergantung pada
kondisi mental orang tersebut.
Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan
mudah menyerah meskipun menghadapi masalah
yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan.
Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung
memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik
dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi
afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan
diterima)cenderung memilih mitra yang ramah.
Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang
memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih
lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang
motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung
menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

139

upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat
diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor
eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran.
Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka
yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:
- Ada perbedaan hasil belajar antara kelas
yang dibelajarkan dengan teknik
pembelajaran QuantumTeaching dan kelas
yang dibelajarkan dengan Model
Pembelajaran Langsung pada standar
kompetensi Menerapkan Sistem
Mikroprosesor kelas X TEI;
- Ada perbedaan hasil belajar antara siswa
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi
dengan siswa yang memiliki motivasi
berprestasi rendah kelas X TEI pada standar
kompetensi Menerapkan Sistem
Mikroprosesor pada kelas eksperimen
maupun kelas kontrol;
- Terdapat interaksi antara teknik
pembelajaran Quantum Teaching dan Model
Pembelajaran Langsung dengan motivasi
berprestasi terhadap hasil belajar siswa pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
II. METODE
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis
penelitian eksperimen. Penelitian dilaksanakan di
kelas X TEI SMK Negeri 1 Jetis Mojokerto pada
semester ganjil pada tahun ajaran 2013/2014. Dengan
sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yang
diambil dari populasi yaitu kelas X TEI 1 sebagai
kelas kontrol dan kelas X TEI 2 sebagai kelas
eksperimen.Metode penelitian yang dipakai adalah
Quasi Experimental Design. Dengan desain penelitian
yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group
Design. Rancangan penelitian ini digambarkan
sebagai berikut (Sugiono,2011:79).


Keterangan :
E : Kelas eksperimen
K : Kelas kontrol
O1 : Observasi Pre-test kelas eksperimen
O2 : Observasi Post-test kelas eksperimen
O3 : Observasi Pre-test kelas kontrol
O4 : Observasi Post-test kelas kontrol
X : Perlakuan pada kelas eksperimen (model
kooperatif Teknik Quantum Teaching)
- : Perlakuan pada kelas kontrol (Model
Pembelajaran Langsung)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah teknik
pembelajara yang digunakan dalam proses
pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif
dengan menggunakan teknik pembelajaran Quantum
Teachinguntuk kelas eksperimen dan model
pemngajaran langsung untuk kelas kontrol. Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah materi
pembelajaran, alokasi waktu KBM dan soal pretest-
postest. Variabel moderator dalam penelitian ini
adalah motivasi berprerstasi.
Prosedur dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga
tahap yaitu: (1) Tahap persiapan dan perencanaan
penelitian meliputi: (a) survei ke sekolah; (b)
menyusun proposal skripsi; (c) menyusun perangkat
pembelajaran; (d) menyusun instrumen penelitian; (e)
validasi instrumen. (2) Tahap pelaksanaan penelitian;
dan (3) Tahap penyajian hasil penelitian meliputi
analisis data dan penyusunan laporan penelitian.
Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil
pretest-postest dari kelas kontrol dan kelas
eksperimen, sedangkan untuk mengukur motivasi
berprestasi pada masing-masing siswa digunakan
angket motivasi berprestasi dengan skala likert.
Teknik analisis data dalam penelitian ini
meliputi analisis validitas perangkat pembelajaran,
untuk melihat validitas perangkat pembelajaran
digunakan kriteria validitas dari hasil rating(HR)
(Riduwan,2006:48).
Analisis instrumen hasil belajar pada
penelitian ini menggunakan program Anates V4
supaya lebih praktis dan tepat dalam melakukan
analisis butir soal, butir soal yang akan dianalisis
yaitu:
1) Taraf kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu
mudah atau tidak terlalu sukar. Setelah soal
dianalisis dengan program anates V4 dan
diketahui indeks tingkat kesukarannya maka
indeks tingkat kesukaran di intepretasikan pada
tabel berikut.
Tabel 4. Penafsiran Taraf Kesukaran
Indeks Kesukaran (P) Penafsiran Taraf Kesukaran
0,90 1,00
0,70 0,90
0,30 0,70
0,10 0,30
0,00 0,10
Sangat mudah
Mudah
Sedang
Sukar
Sangat sukar
(Arikunto , 2006:210)
2) Daya pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan
sesuatu soal untuk membedakan antara siswa
berkemampuan tinggi dengan siswa
berkemampuan rendah. Setelah butir soal
dianalisis dengan program anates V4 maka
akan diketahui indeks daya pembeda,
kemudian diintepretasikan pada tabel berikut.




Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

140

Tabel 5. Penafsiran Daya Pembeda Tes
Indeks Diskriminasi (D) Penafsiran Daya Beda Soal
0,70 1,00
0,40 0,70
0,20 0,40
0,00 0,20
negatif 0,00
Baik sekali
Baik
Cukup baik
Jelek perlu revisi
Jelek dan dibuang
(Arikunto,2006:218)
3) Analisis Reliabilitas Instrumen
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai
taraf kepercayaan yang tinggi jika tes
tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.
Maka pengertian reliabilitas tes,
berhubungan dengan masalah ketepatan hasil
tes. Atau seandainya hasil berubah-ubah
perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak
berarti (Arikunto, 2006:86).
Dalam menetukan reliabilitas tes hasil
belajar ini dilakukan dengan program anates
V.4. Kemudian hasil hitung reliabilitas yang
diperoleh dengan program anates
dibandingkan dengan r
tabel
dengan kriteria:
jika r
hitung
> r
tabel
item dikatakan reliabel.
Analisis data pretest berfungsi untuk mengetahui
kemampuan awal siswa pada standar kompetensi
menerapkan sistem mikroprosesor. Pada analisis data
pretest dilakukan uji normalitas dengan uji
kolmogorov-smirnov, uji homogenitas dan uji-t. Pada
penelitian ini analisis data dilakukan dengan bantuan
SPSS v.19.
Analisis data postest berfungsi untuk menganalisis
uji hipotesis penelitian hasil belajar pada kelas
eksperimen dan kontrol baik siswa yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi dan rendah serta untuk
melihat interaksi antara teknik pembelajaran, motivasi
berprestasi dan hasil belajar siswa.
Pada penelitian ini digunakan uji anava dua jalur
untuk menganalisis data postest dengan bantuan SPSS
v.19. Berikut disajikan tabel penolong anava 2 x 2.

Tabel 6. Tabel penolong anava 2 x 2
Jenis Motivasi
Berprestasi
Pembelajaran
Quantum
Teaching
Model
Pembelajaran
Langsung
Motivasi Berprestasi
Tinggi
11 21
Motivasi Berprestasi
Rendah
12 22

Anova dua jalur digunakan apabila kita ingin
mengetahui ada atau tidaknya perbedaan beberapa
variabel bebas dengan sebuah variabel terikatnya
dimana masing-masing variabel mempunyai dua
subvariabel atau lebih (Usman,2006:177).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis validasi perangkat pembelajaran
didapatkan hasil sebagai berikut: (1) validasi terhadap
buku ajar diperoleh prosentase rata-rata 78.57%
meliputi tiga aspek penilaian yaitu aspek fisik, materi
dan bahasa. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil
validasi buku ajar dikategorikan baik dengan kriteria
memenuhi sehingga buku ajar layak digunakan. (2)
validasi terhadap tes hasil belajar diperoleh prosentase
rata-rata 78.125% meliputi tiga aspek penilaian yaitu
aspek materi, konstruksi dan bahasa. Maka dapat
disimpulkan bahwa hasil validasi tes hasil belajar
dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi
sehingga tes hasil belajar layak digunakan. (3)
validasi terhadap RPP diperoleh prosentase rata-rata
76.44% meliputi tujuh aspek penilaian yaitu
kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran,
bahasa, format, kegiatan belajar mengajar dan alokasi
waktu. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil validasi
RPP dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi
sehingga RPP layak digunakan.
Sebelum dilakukan penelitian untk mengetahui
keampuhan instrumen diberikan soal terlebih dahulu
kepada siswa kelas XI TEI 2 dengan jumlah soal 45
dan siswa telah mendapatkan materi menerapkan
sistem mikroprosesor lalu dilakukan Analisis.
Analisis yang dilakukan tiga macam, yaitu analisis
tingkat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas butir
soal yang semuanya di analisis menggunakan Anates
V4.
Dari hasil Anates V4 hasil uji reliabilitas, nilai
reliabilitas instrumen tes hasil belajar 0,93 dengan
butir soal yang gugur sebanyak 5 soal dari 45 butir
soal 5 soal yang di analisis memiliki indeks daya
pembeda kurang dari (< 0.20) sehingga soal
dikategorikan jelek . Dinyatakan ke 40 butir tes
reliabel dan dapat digunakan semua karena memenuhi
persyaratan r
hitung
> r
tabel
yaitu 0.93 > 0.3388
Setelah itu soal diuji cobakan pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui
kemampuan nilai akademik awal siswa berikut hasil
deskriptif statistik awal (pretest) pada Tabel 7.
Tabel 7. Deskriptif Data Pretest
N Min Max Mean
Std.
Deviation
Kontrol 36 15 50 31.73 8.86
Eksperimen 36 20 50 35 8.38

Uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov
dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data
hasil pretes disajikan sebagai berikut.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

141

Tabel 8. Perhitungan Uji Kolmogolov-Smirnov Dengan SPSS 19.0

Dari hasil Tabel 8, dapat disimpulkan bahwa data
nilai pre-test berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji Kolmogolov-
Smirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.998
dan kelas kontrol yang bernilai 0.554 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu :

H
0
= sampel berdistribusi normal
H
1
= sampel berdistribusi tidak normal

Dan kriteria pengujian tolak H
0
jika
( ) .
Maka H
0
yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H
1
yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui
apakah sampel memiliki varian yang sama. Pada uji
homogenitas ini H
0
akan diuji dengan H
1
dengan
hipotesis awal yaitu:
H
0
= sampel homogen
H
1
= sampel tidak homogen
dan taraf signifikan yang ditentukan = 0,05 kriteria
pengujiannya yaitu tolak H
0
jika
( )
. Dalam hal lainnya, H
0
diterima. Berikut
disajikan tabel uji homogenitas pretest dengan SPSS
v.19.

Tabel 9. Perhitungan Uji Homogenitas Nilai Pretest Dengan SPSS
Levene Statistic df1 df2 Sig.
.003 1 70 .954

Dari tabel di atas ditunjukkan nilai signifikansi
sebesar 0.954 yang lebih besar dari 0.05. Maka H
0

diterima yaitu varians sama atau homogen. Jadi dapat
disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian ini
homogen dengan taraf signifikan 5%.
Berikut ini akan dijelaskan analisis uji-t dengan
menggunakan software SPSS versi 19 yang
ditunjukkan oleh Tabel 10 sebagai berikut:
Tabel 10. Perhitungan Uji-t Nilai Pretest

Dengan hipotesis awal yaitu
H
0
= Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol adalah sama
H
1
= Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol adalah berbeda
Kemudian untuk kriteria pengujiannya adalah
dengan taraf signifikan o = 0,05 , terima H
o
jika t
hitung

< t
tabel
. Dalam hal lainnya H
0
ditolak. Diperoleh nilai
t
hitung
dari

tabel 10 sebesar 1.605 sedangkan dengan
nilai df = 70 dan tingkat signifikansi sebesar 0.05
maka dengan menggunakan uji dua sisi pada tabel t
didapat nilai t tabel = 1.994.
Karena t hitung terletak di antara range dari -1.994
sampai +1.994 maka H
0
diterima yaitu kemampuan
awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
adalah sama. Dan kesimpulannya adalah kemampuan
awal antara siswa kelas eksperimen maupun kelas
kontrol pada standar kompetensi menerapkan sistem
mikroprosesor adalah sama.
Angket motivasi berprestasi diberikan baik pada
kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Terdapat dua
kategori intepretasi dalam mengkategorikan siswa
dalam pengukuran motivasi berprestasi ini yaitu siswa
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa
yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Berikut
ini adalah hasil motivasi berprestasi yang dijadikan
dalam Tabel 11.

Data didapat dari hasil uji posttest setelah
masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan.
Kelompok eksperimen diberikan model pembelajaran
kooperatif teknik pembelajaran Quantum Teaching
dan untuk kelompok kontrol diberikan Model
Pembelajaran-Langsung.
Berikut adalah paparan deskriptif data hasil
belajar nilai posttest siswa yang dihitung
menggunakan software SPSS 19.0 pada tabel 12
sebagai berikut :
Tabel 11. Motivasi Berprestasi Siswa
Test of Homogeneity of Variances
Nilai Pretest
Levene Statistic df1 df2 Sig.
.003 1 70 .954
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

142

Tabel 12. Deskriptif Data Posttest

Tabel 13 berikut menunjukkan hasil perhitungan
uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov
dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data
hasil posttest.
Tabel 13. Perhitungan Uji Kolmogorov-Smirnov Nilai Postest
Dengan SPSS 19.0


Dari hasil Tabel 13, dapat disimpulkan bahwa
data nilai postest berdistribusi normal. Ini dibuktikan
dengan nilai signifikansi hasil uji Kolmogolov-
Smirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.579
dan kelas kontrol yang bernilai 0,920 lebih besar dari
= 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu :

H
0
= sampel berdistribusi normal
H
1
= sampel berdistribusi tidak normal

Sehingga H
0
yang menyatakan bahwa sampel
berdistribusi normal diterima dan H
1
yang
menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak.
Tabel 14 berikut menunjukkan hasil
perhitungan uji homogenitas dengan bantuan
software SPSS versi 19.0 untuk data hasil posttest.

Tabel 14. Perhitungan Uji Homogenitas Postest Dengan SPSS 19.0

Dengan hipotesis awal yaitu:
H
0
= sampel homogen
H
1
= sampel tidak homogen

Dan kriteria pengujiannya yaitu tolak H
0
jika
( )
, dalam hal lainnya, H
0
diterima. Dari tabel di
atas ditunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.120 yang
artinya lebih besar dari 0.05.
Maka H
0
yang menyatakan bahwa sampel
adalah homogen diterima dan H
1
yang menyatakan
sampel tidak homogen ditolak.
Setelah diketahui sampel berdistribusi normal
dan memiliki varian homogen selanjutnya dilakukan
uji analisis anava untuk uji hipotesisnya. Dalam
penelitian ini yang digunakan adalah uji anva dua
jalur dikarenakan terdapat beberapa variabel bebas
dengan sebuah variabel terikatnya dimana masing-
masing variabel mempunyai dua subvariabel atau
lebih (Usman,2006:177). Berikut ini adalah tabel
deskriptif statistik kelas eksperimen dan kontrol
dengan motivasi berprestasi berbeda.
Tabel 15. Deskriptif Statistik Kelas Eksperimen dan Kontrol
Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Berdasarkan tabel 15 diketahui rata-rata nilai
pada kelas eksperimen atau kelas yang dibelajarkan
dengan teknik Quantum Teaching dan memiliki
motivasi berprestasi tinggi memiliki rata-rata 88.625
dengan jumlah siswa 20, dan yang bermotivasi rendah
memiliki rata-rata 77.031 dengan jumlah siswa 16.
Dengan rat-rata total untuk kelas eksperimen sebesar
83.472 Sedangkan rata-rata nilai pada kelas kontrol
atau kelas yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung dan memiliki motivasi
berprestasi tinggi memiliki rata-rata 74.853 dengan
jumlah siswa 17 dan yang bermotivasi berprestasi
rendah memiliki rata-rata 76.184 dengan jumlah
siswa 19. Dengan rata-rata total keseluruhan kelas
kontrol sebesar 75.556. Total keseluruhan siswa kelas
eksperimen dan kontrol berjumlah 72 siswa.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

143

Dari output SPSS pada Tabel 15 terdapat
deskriptif statistik hasil belajar siswa keseluruhan
yang menunjukkan rata-rata motivasi berprestasi
tinggi = 82.297 dan rata-rata keseluruhan siswa
dengan motivasi berprestasi rendah = 76.571, maka
hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi
tinggi lebih unggul daripada hasil belajar siswa yang
memiliki motivasi berprestasi rendah.
Kemudian untuk uji hipotesis dengan uji anava
dua jalur didapatkan output seperti tabel berikut ini.
Tabel 16. Uji Anava Dua Jalur


Gambar 1. Plot interaksi Model Pembelajaran dengan Motivasi
Berprestasi
Pada uji hipotesis ini H
0
akan diuji dengan H
1.
Dengan taraf signifikansi yang ditentukan = 0,05
kriteria pengujiannya yaitu-tolak-H
0-
jika-
( ) .
Dalam hal lainnya H
0
diterima.
Pada tabel 16 terlihat nilai signifikansi untuk
variabel hubungan antar kelas = 0.001 yang lebih
kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak
H
0
dan terima H
1
yaitu terdapat perbedaan hasil
belajar antara yang mendapat perlakuan model
pembelajaran kooperatif teknik Quantum Teaching
dan model pembelajaran langsung.
Kemudian untuk interaksi motivasi
ditunjukkan nilai signifikansinya untuk motivasi =
0.015 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat
disimpulkan untuk tolak H
0
dan terima H
1
yaitu
terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang
memiliki motivasi berprestasi rendah.
Pada interaksi antara kelas dan motivasi
terhadap hasil belajar ditunjukkan nilai signifikansi =
0.002 lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H
0
ditolak
dan terima H
1
yaitu terdapat pengaruh interaksi antara
model pembelajaran dan motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar siswa.

IV. PENUTUP
Simpulan
- Berdasarkan hasil hitung uji anava dengan
batuan SPSS 19.0 untuk menguji pengaruh
penerapan model pembelajaran terhadap
hasil belajar siswa, seperti yang
ditunjukkan tabel 16 didapatkan nilai
signifikansi = 0.001 yang lebih kecil dari
0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak H
0

dan terima H
1
yaitu terdapat perbedaan
hasil belajar antara yang mendapat
perlakuan model pembelajaran kooperatif
teknik Quantum Teaching dan model
pembelajaran langsung. Sedangkan dari
tabel 15 deskriptif statistik kelas eksperimen
dan kontrol dengan motivasi berprestasi
berbeda didapatkan nilai rata-rata untuk
siswa kelas eksperimen (Quantum
Teaching) = 83.47, dan untuk rata-rata nilai
kelas kontrol (MPL) = 75.56. Artinya model
pembelajaran kooperatif teknik
pembelajaran Quantum Teaching lebih
unggul daripada Model Pembelajaran
Langsung.
- Berdasarkan hasil uji anava dengan bantuan
software SPSS 19.0 untuk menguji
pengaruh motivasi terhadap hasil belajar
siswa, seperti yang ditunjukkan tabel 16
didapatkan nilai signifikansi = 0.015 yang
lebih kecil dari 0.05 maka dapat
disimpulkan untuk tolak H
0
dan terima H
1

yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara
siswa yang memiliki motivasi berprestasi
tinggi dan siswa yang memiliki motivasi
berprestasi rendah. Dengan rata-rata nilai
pada masing-masing motivasi berprestasi
seperti pada tabel 15 terlihat rata-rata nilai
keseluruhan untuk siswa dengan motivasi
berprestasi tinggi = 81.739 dan rata-rata
nilai siswa dengan motivasi berprestasi
rendah = 76.608 maka terlihat hasil belajar
siswa yang memiliki motivasi berprestasi
tinggi lebih unggul daripada hasil belajar
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

144

siswa yang memiliki motivasi berprestasi
rendah.
- Berdasarkan tabel 16 terdapat hasil
perhitungan uji anava dua jalur dengan
menggunakan SPSS 19.0 untuk pengaruh
interaksi antara model pembelajaran dan
motivasi berprestasi terhadap hasil belajar
yaitu dengan nilai signifikansi = 0.002 yang
lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H
0
ditolak dan terima H
1
yaitu terdapat
pengaruh interaksi antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi
terhadap hasil belajar siswa. Pada gambar 1
juga terlihat ada perpotongan garis yang
menunjukkan adanya hubungan interaksi
antara model pembelajaran dengan motivasi
berprestasi siswa. Dengan demikian terdapat
interaksi terhadap hasil belajar antara model
pembelajaran dan motivasi berprestasi yang
dilakukan peneliti di SMKN 1 Jetis.

Saran
- Penerapan teknik pembelajaran Quantum
Teaching sangat cocok diterapkan untuk
suasana kelas yang kurang kondusif dengan
jam belajar yang lama. Terbukti dengan
keadaan yang lebih kondusif dengan
diterapkannya teknik ini dikarenakan
keikutsertaan siswa dalam pembelajaran
sehingga tanpa terasa jam belajar yang lama
dilalui siswa begitu saja.
- Teknik pembelajaran Quantum Teaching
sangat cocok untuk meningkatkan hasil
belajar pada siswa dengan motivasi
berprestasi rendah. Terbukti dengan
kemajuan belajar siswa dengan motivasi
berprestasi rendah pada kelas Quantum
Teaching lebih unggul dibanding dengan
siswa bermotivasi berprestasi tinggi pada
kelas dengan Model Pembelajaran
Langsung.
- Kemampuan penguasaan kelas sangat
dibutuhkan untuk berjalannya teknik
pembelajaran ini, sehingga benar-benar
tercipta suasana pembelajaran yang
menyenangkan dan kondusif. Sehingga
untuk penelitian selanjutnya diharapkan
peneliti membawa rekan sejawat yang
kompeten agar dapat mengorganisasikan
kelas dengan baik sehingga suasana kelas
tidak ramai dan berjalan kondusif.

REFERENSI
[1]. Arikunto, Suharsimi.2006.Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara
[2]. DePorter, Bobbi.2003.Quantum Teaching.Bandung:Kaifa
[3]. Kurikulum SMK Negeri 1 Jetis. 2013. Silabus Kompetensi
Kejuruan Kompetensi Keahlian: Teknik Elektronika Industri.
[4]. Nur, Mohamad.2001.Pemotivasian Siswa Untuk
Belajar.Surabaya:Universitas Negeri Surabaya
[5]. Nur, Mohamad.2011.Model Pengajaran
Langsung.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa
[6]. Nur, Mohamad.2011.Model Pembelajaran
Kooperatif.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah
Unesa
[7]. Riduwan.2006.Dasar-dasar Statistika.Bandung: Alfabeta
[8]. Sardiman, A. M. 2011. Interaksi & Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
[9]. Simanjuntak, Henri.2001.Dasar-dasar
Mikroprosesor.Yogyakarta:Kanisius
[10]. Siwo Wardoyo, 2004, BPK Mikroprosesor,
Surakarta:POLITAMA.
[11]. Sudjana.2005.Metoda Statistika.Bandung:Tarsito
[12]. Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D.Bandung:Alfabeta
[13]. Sugiyono.2012.Metode Penelitian Administrasi.Bandung:
Alfabeta
[14]. Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi Paikem. Surabaya: Pustaka Pelajar
[15]. Uno, B.Hamzah.2008. Teori Motivasi dan
Pengukurannya.Jakarta:Bumi Aksara
[16]. Usman Husaini., Akbar, Purnomo Setiadi.2006.Pengantar
Statistika.Jakarta:Bumi Aksara
[17]. Yoyo Somantri & Erik Haritman, 2006, Hand Out Bahan
Kuliah, Bandung: UPI.


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

145

Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran Matematika
untuk Materi Bilangan dengan Menggunakan Flash
Yuni Yamasari
1
1
Jurusan Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya. E-mail: yamasari2000@yahoo.com
Abstrak - Dalam matematika, materi bilangan
termasuk materi yang mendasar. Materi ini akan
menjadi dasar dari materi-materi berikutnya. Oleh
karena itu, materi ini harus dipahami dan dikuasai
siswa dengan baik agar pemahaman materi-materi
berikutnya tidak mengalami kesulitan. Namun, guru
seringkali kesulitan dalam pencapaian tujuan tesebut.
Siswa kesulitan memahami dan menguasai materi
tersebut. Selain matematika bersifat abstrak, metode
penyampaian oleh guru yang kurang menarik dianggap
sebagai penyebabnya.
Oleh karena itu kehadiran media pembelajaran
matematika berbasis TIK untuk materi bilangan
ditujukan agar metode penyampaian guru lebih
menarik dan tidak membosankan. Media pembelajaran
yang menarik dapat dibangun dengan menggunakan
flash. Flash merupakan tool yang mempunyai
kemampuan dalam pembuatan animasi dan gambar
vektor. Selain itu, flash juga mempunyai lingkungan
pemrograman yaitu actionscript. Sehingga media
pembelajaran yang akan dihasilkan lebih interaktif.
Kata kunci: Media pembelajaran, matematika, bilangan,
flash.
I. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) merambah ke segala bidang,
termasuk bidang pendidikan. Penerapan teknologi di
bidang ini dapat dilakukan untuk proses
pembelajaran. Salah satu bentuk pemanfaatannya
adalah pembuatan media pembelajaran berbasis TIK.
Pemanfaatan komputer dalam bidang pendidikan saat
ini sudah mulai dikembangkan. Penggunaan media
komputer dalam bidang pendidikan memiliki banyak
keuntungan antara lain dengan teknologi ini ilmu
pengetahuan akan lebih mudah diakses, disebar, dan
disimpan[5].
Perkembangan teknologi ini dapat dimanfaatkan
untuk menunjang proses belajar mengajar khususnya
dalam bidang matematika supaya matematika tidak
lagi menjadi suatu hal yang abstrak. Dikatakan
abstrak, karena obyek matematika tidak bisa dilihat
maupun diraba, obyek tersebut hanya ada dalam
pikiran kita. Melalui kecanggihan dan kemampuan
komputer saat ini memungkinkan dalam penyampaian
informasi secara cepat, tepat dan menarik. Dengan
kemampuan komputer dalam bentuk multimedia
menjadikan komputer dapat mengubah skenario
pembelajaran matematika yang membosankan karena
keabstrakannya menjadi lebih menarik dan
menyenangkan bagi siswa. Dengan hal ini harapannya
dapat menjadi alternatif dalam menyampaikan
pelajaran. Berdasarkan hal tersebut perlu
dikembangkan media pembelajaran matematika
berbasis TIK agar belajar matematika lebih menarik
khususnya untuk materi bilangan. Mengingat
pentingnya materi bilangan yang akan mendasari
materi-materi berikutnya. Makalah ini berkaitan
dengan makalah yang berjudul Pengembangan
Media Pembelajaran Matematika Berbasis ICT yang
Berkualitas yang membahas tentang ujicoba media
pembelajaran matematika ini sebagai perangkat
pembelajaran dan dari hasil ujicoba menunjukkan
keefektifan tercapai dengan ditunjukkan 80% lebih
siswa tuntas dalam belajar serta menunjukkan respon
positif dari angket yang diberikan[1].

II. LINGKUNGAN FLASH
Dalam dunia digital,image dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu image bitmap dan image vector. Sebelumnya
yang dikenal dalam dunia animasi adalah selalu
imagebitmSalah satu tool untuk memap.
Perkembangan selanjutnya, flash menggunakan image
vector. Keuntungan image vector jika dibandingkan
dengan bitmap adalah sebagai berikut:
- Secara umum image vector mempunyai
ukuran file yang kecil.
- Image vector mudah dibawa diubah-ubah
ukurannya tanpa mengurangi kualitas
gambar, sedangkan bitmap memiliki range
pembesaran yang kecil. Jika terlalu
diperbesar maka tampilannya menjadi kasar
dan tidak jelas. Apabila diperkecil maka
gambar akan menggumpal(ngeblok).
- Sedangkan kekurangan dari image vector
dibanding bitmap adalah ketika
menampilkan gambar foto atau tekstur
lukisan makaimage vector kurang bagus.
Media pembelajaran matematika ini dibuat
dengan menggunakan tool adalah flash. Selain
kelebihan flash dalam penggunaan image vector, tool
ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:
Segi grafis dan animasi yang berbasis vektor
grafis yang mempunyai kecepatan dan kualitas yang
tinggi walau dapat diisi dengan bitmap yang diimpor
dari program lain.
Flash movie dapat melakukan hubungan
interaktif dengan pengguna.
Pembuatan movie akan lebih menarik karena
grafis statis dibuat dengan efek yang seolah-olah
nampak bergerak
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

146

Tool ini mempunyai panel-panel dan fasilitas
yang dapat menunjang pembuatan movie dengan
lebih baik. Lingkungan dari tool flash ini dapat dilihat
pada gambar 1.
Lingkungan flash pada gambar 1 terdiri dari
beberapa bagian penting antara lain:
- Stage, yaitu bidang segi empat dimana
movie dimainkan
- Timeline adalah tempat dimana obyek
gambar yang diletakkan pada frame diatur
tampilannya berdasarkan urutan waktunya
- Simbol merupakan media aset dari movie
yang dapat dipakai ulang

Gambar 1. Lingkungan Flash
- Library window adalah tempat dimana
obyek-obyek diorganisasikan
- Movie explorer merupakan tempat dimana
kita dapat melihat keseluruhan movie
beserta strukturnya.
- Panel-panel merupakan bagian dari flash
yang memuat berbagai elemen dalam
movie.
- Actions adalah tempat menuliskan scripting
language pada flash
Beberapa bagian penting diatas sangat menunjang
dalam pembuatan flash movie terutama timeline.
Timeline ini mempunyai struktur sebagai berikut:



Dengan struktur timeline seperti diatas, flash
movie yang dihasilkan akan lebih menarik dan lebih
interaktif dengan pengguna. Sehingga kelebihan yang
dimiliki tool flash ini dapat dioptimalkan untuk
pembuatan media pembelajaran berbasis TIK ini.

III. PERANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Media ini dirancang untuk pembelajaran
matematika materi bilangan untuk SMP kelas 1
semester 1. Pemilihan materi bilangan ini
dilatarbelakangi kebutuhan akan media pembelajaran
untuk materi dasar yang lebih menarik dan lebih
interaktif sehingga materi dasar yang akan
disampikan guru dapat dipahami siswa dengan lebih
baik.
Media pembelajaran berbasis TIK ini dirancang
dengan menggunakan flowchart (diagram alir/alur).
Alur pembuatan media pembelajaran diperlihatkan
pada gambar 3.



Gambar 3. Alur Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis TIK
Dari gambar 3 diperlihatkan 3 tahapan utama
untuk pembuatan sebuah aplikasi. Ketika membuat
aplikasi harus mendefinisikan input(masukan), proses
dan output(keluaran).
Tahap input(masukan) adalah materi bilangan
yang akan dibuat. Materi bilangan yang dibuat
dikhususkan untuk bilangan bulat. Oleh karena itu
media pembelajaran ini materinya terdiri dari
bilangan bulat, operator-operator pada bilangan bulat,
sifat-sifat operasi bilangan bulat dan eksponen.
Tahapan kedua adalah mendefinisikan proses
yang harus dilakukan agar perancangan dan
pembuatan media terarah pada keluaran dan
implementasi mudah dilakukan. Diagram alir pada
perancangan digunakan untuk menggambarkan alur
dari fitur-fitur media pembelajaran berbasis TIK ini
yang ditunjukkan pada gambar 4, 5 dan 6. Sedangkan
pembuatan media dilakukan dengan implementasi
perancangan menggunakan flash yang mempunyai
kelebihan seperti dijelaskan pada sub bab
sebelumnya.













Materi
bilangan
Perancangan
dg Flowchart
Implementasi Flowchart
dg flash
Media Pembelajaran
berbasis ICT
input output
proses
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

147


Gambar 4. Diagram Alir Perancangan Fitur-Fitur Media
Pembelajaran III



Gambar 5. Diagram Alir Perancangan Fitur-Fitur Media
Pembelajaran II




IV IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Media pembelajaran Matematika untuk materi
bilangan yang sudah dirancang pada pembahasan
sebelumnya, akan diimplementasikan dengan
menggunakan tool flash. Implementasi dilakukan
untuk semua fitur yang sudah dirancang. Beberapa
fitur saja yang akan dibahas dimakalah ini. Fitur
fitur tersebut antara lain:
Tampilan utama merupakan tampilan
pendahuluan yang disajikan dengan animasi judul
dari media pembelajaran matematika dengan
soundtrack yang sesuai agar siswa tertarik
menggunakan media sejak awal. Tampilan
pendahuluan ini diperlihatkan pada gambar 7.


Gambar 7. Tampilan Utama
Tampilan standar kompetensi merupakan
tampilan tentang standar kompetensi dari materi
bilangan kelas 7 semester 1 yaitu memahami sifat-
sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya
dalam pemecahan masalah yang diperlihatkan pada
gambar 8.

Gambar 8. Tampilan Standar Kompetensi dari Bilangan
Tampilan pengertian bilangan dan penggambaran
bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tampilan
ini mempergunakan tokoh kartun doraemon dari

Pangkat pada
Pembagian
Pangkat dengan
pangkat
C
B
Sifat Asosiatif
Pada Penjumlahan
BB
Elemen Identitas
Pada Penjumlahan
BB
Elemen Invers
Pada Penjumlahan
BB
Perkalian
BB positif dg
positif
Perkalian
BB positif dg
Perkalian
BB negatif dg
Perkalian
BB negatif dg
negatif
Sifat komutatif
pada Perkalian
BB
Sifat Asosiatif pada
Perkalian
BB
Elemen Identitas
pada Perkalian
BB
Pembagian
BB_1
Pembagian
BB_2
Contoh Pangkat
dalamsehari-hari

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

148

negara jepang yang mengenal 4 musim. Ketika musim
salju maka suhu digambarkan dengan bilangan negatif
misal -10 derajat celcius (10 derajat dibawah 0),
seperti terlihat pada gambar 9.


Gambar 9. Tampilan Pengertian dan Penggambaran
Tampilan letak bilangan pada garis bilangan.
Pada tampilan menjelaskan pengertian bilangan
positif dan negatif serta penggambaran bilangan pada
garis bilangan. Tampilan diperlihatkan pada gambar
10.

Gambar 10. Tampilan Letak Bilangan pada Garis Bilangan







Gambar 11. Tampilan Contoh Operasi Penjumlahan Bilangan
Positif dengan Positif.
Tampilan contoh operasi pada bilangan bulat
positif dan positif ditunjukkan pada gambar 11,
sedangkan operasi bilangan bulat negatif dengan
negatif diperlihatkan pada gambar 12.

Gambar 12. Tampilan Contoh Operasi Penjumlahan Bilangan
Negatif dengan Negatif.
Operasi pada bilangan bulat ini menggunakan
animasi tentara penjaga yang mondar-mandir agar
lebih dipahami siswa.
Tampilan tentang sifat-sifat penjumlahan
bilangan bulat diperlihatkan pada gambar13. Sifat-
sifat itu antara lain: sifat ketertutupan, sifat komutatif,
sifat asosiasi, elemen identitas dan elemen invers.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

149


Gambar 13. Tampilan Sifat-Sifat Penjumlahan Bilangan Bulat

Tampilan tentang penjelasan mengenai
pengertian sifat keterrtutupan pada penjumlahan
bilangan bulat diperlihatkan pada gambar 14.


Gambar 14. Tampilan Pengertian Sifat Ketertutupan pada
Penjumlahan Bilangan Bulat


Gambar 15. Penjumlahan bilangan
Tampilan tentang penjelasan mengenai
pengertian sifat komutatif pada penjumlahan bilangan
bulat diperlihatkan pada gambar 15.
Penggunaan animasi doraemon ketika membagi
jeruk dalam 2 keranjang bertujuan agar penjelasan
lebih menarik sehingga siswa mudah memahami sifat
tersebut.
Tampilan tentang penjelasan mengenai
pengertian sifat asosiatif pada penjumlahan bilangan
bulat diperlihatkan pada gambar 16.

Gambar 16. Tampilan Pengertian Sifat Asosiatif pada Penjumlahan
Bilangan Bulat






Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

150


Gambar 17. Tampilan Pengertian Elemen Identitas pada
Penjumlahan Bilangan Bulat

Tampilan mengenai pengertian elemen identitas
pada penjumlahan bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 17.


Gambar 18. Tampilan Pengertian Elemen Invers pada Penjumlahan
Bilangan Bulat

Tampilan mengenai pengertian elemen invers
pada penjumlahan bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 18.


Gambar 19. Tampilan Pengertian Perkalian pada Bilangan Bulat

Tampilan mengenai perkalian pada bilangan bulat
diperlihatkan pada gambar 19. Animasi balon untuk
menjelaskan perkalian ditujukan agar siswa lebih
mudah memahami perkalian.
Tampilan mengenai pengertian sifat komutatif
pada perkalian bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 20. Penggunaan animasi kucing yang dibagi
jadi 6 bagian menjadikan media pembelajaran lebih
menarik dan siswa mudah memahami sifat tersebut.


Gambar 20. Tampilan Sifat Komutatif pada Perkalian Bilangan
Bulat
Tampilan mengenai pengertian sifat asosiatif
pada perkalian bilangan bulat diperlihatkan pada
gambar 21. Penggunaan animasi ditujukan agar
pembelajaran matematika lebih menarik dan siswa
mudah memahami sifat tersebut.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

151

Tampilan mengenai pengertian eksponen pada
bilangan bulat diperlihatkan pada gambar 22 dan
contoh penggunaan eksponen pada gambar 23 .


Gambar 21. Tampilan Sifat Asosiatif pada Perkalian Bilangan
Bulat

Gambar 23. Tampilan Contoh Penggunaan Eksponen
Penambahan suara dan teks pada media ini
ditujukan agar siswa lebih memahami materi yang
disampaikan. Selain itu, penggunaan animasi
doraemon dimaksudkan agar siswa lebih tertarik pada
media pembelajaran ini.
Evaluasi dimulai dengan tampilan gambar 24
tentang aturan evaluasi dan siswa diminta untuk
menulis nama dan kelasnya. Tampilan soal evaluasi
diperlihatkan pada gambar 25. Evaluasi ini terdiri
dari 15 soal. Hasil evaluasi siswa diperlihatkan
padagambar 26.


Gambar 24. Peraturan Evaluasi

Gambar 25. Soal Evaluasi


Script yang ditambahkan dalam implementasi ini
antara lain:
on (release) {
pilih = "B";
temp=0;
jawaban[0]=pilih;
flatih=_currentframe-2
jb=klatih[flatih]
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

152

if (pilih == jb) {
nilai=nilai+10;
tellTarget ("bs") {
gotoAndPlay("benar");
}
} else {
count=count+1;
temp=1;
jawabanslh[count]=temp;
tellTarget ("bs") {
gotoAndPlay("salah");
}
}
tellTarget ("TABIR") {
gotoAndPlay(2);
}
}

V. KESIMPULAN
Penggunaan flash untuk mengimplementasikan
perancangan media pembelajaran telah dapat
menghasilkan media pembelajaran berbasis TIK yang
lebih menarik dan interaktif. Hasil ini tercapai karena
flash memiliki kemampuan dalam pembuatan animasi
dan gambar vektor. Penggunaan flash untuk
membangun media pembelajaran matematika berbasis
TIK ini ditujukan agar proses pembelajaran
matematika lebih menarik dan tidak membosankan
sehingga siswa akan lebih memahami materi yang
disampaikan khususnya materi bilangan yang
merupakan materi dasar.

REFERENSI
[1]. Yuni Yamasari, Pengembangan Media Pembelajaran
Matematika Berbasis ICT yang Berkualitas, Seminar
Nasional Pascasarjana X ITS , Agustus 2010, Pascasarjana
ITS.
[2]. Ismail, Atik Wintarti, Yuni Yamasari, Pengembangan Media
Pembelajaran Matematika Berbasis ICT (Information and
Communication Technology) untuk Menumbuhkan Minat dan
Motivasi Siswa dalam Memahami Konsep Matematika di
SMP, Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains
FMIPA Unesa, 2009
[3]. Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
[4]. Wahyono, Teguh. 2006. 36 Jam Belajar Komputer Animasi
dengan Macromedia Flash 8.0. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
[5]. Zain, Ismail. 2001. Pendidikan Bertaraf Dunia ke Arah
Pembestarian Dalam proses Pengajaran. (online)
(www.tutor.com.my/tutor/motivasi/index.asp?pg=artikel/pend
idikan_bertaraf_dunia1.htm-34k diakses 27 April 2007)


Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

153

Pemanfaatan Software Animasi Kimia
sebagai Media Pembelajaran pada Materi Larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit Mahasiswa Semester 1
Jurusan Teknik Elektro Unisla
Cicik Herlina Yulianti
1

1
Universitas Islam Lamongan (UNISLA), E-mail: cicikherlina@gmail.com
Abstrak Ruang lingkup mata kuliah kimia dasar
di jurusan elektro Unisla ditekankan pada fenomena
alam yang berhubungan dengan elektrokimia, salah
satu bahasan dalam mata kuliah kimia dasar ini adalah
larutan elektrolit dan non elektrolit. Penekanan tersebut
tidak hanya pada tahapan mengetahui saja, namun
mahasiswa diharapkan mampu memahami fenomena
larutan elektrolit dan non elektrolit secara utuh. Akan
tetapi selama ini banyak ditemui kendala dalam
memahami fenomena-fenomena kimia, termasuk konsep
larutan elektrolit dan non elektrolit, karena fenomena
yang terjadi pada peristiwa larutan elektrolit dan non
elektrolit bersifat mikroskopik sehingga mahasiswa sulit
membayangkan bagaimana proses yang terjadi pada
larutan elektrolit dan nonelektrolit, oleh sebab itu
mahasiswa perlu mendapatkan gambaran dengan
media sederhana misalnya dengan animasi kimia yang
berhubungan dengan larutan elektrolit dan non
elektrolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemanfaatan software animasi kimia
terhadap hasil belajar mahasiswa pada topik larutan
elektrolit dan nonelektrolit.
Bentuk penelitian ini adalah eksperimen, yaitu
membandingkan hasil belajar antara kelompok kelas
eksperimen dan kelas kontrol, dengan metode analisis
datanya secara kuantitatif. Pengumpulan data
menggunakan instrumen tes, dan angket tanggapan
terhadap pemanfaatan software animasi kimia sebagai
media pembelajaran. Perbandingan penyebaran nilai
hasil belajar mahasiswa dari kelas eksperimen lebih
tinggi daripada kelas kontrol. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa software animasi kimia yang
digunakan sebagai media pembelajaran dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil belajar kimia
mahasiswa pada topik materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit.
Kata Kunci : animasi kimia, eksprimen, elektrolit, non
elektrolit.
I. PENDAHULUAN
Mata kuliah kimia merupakan salah satu mata
kuliah yang dianggap sulit bagi sebagian mahasiswa.
Salah satu kendala yang dihadapi mahasiswa dalam
mempelajari ilmu kimia adalah banyaknya konsep
kimia yang bersifat abstrak yang harus diserap
mahasiswa dalam waktu relatif terbatas. Pada
umumnya mahasiswa cenderung belajar dengan
hafalan daripada aktif mencari pemahaman terhadap
konsep kimia. Ada juga sebagian mahasiswa yang
sangat paham pada konsep-konsep kimia, namun
tidak mampu mengaplikasikan konsep tersebut dalam
kehidupan sehari-hari (Iskandar, 2009).
Kendala yang lain adalah dalam proses
perkuliahan, tidak seluruhnya pesan/informasi yang
disampaikan dosen dapat diserap oleh mahasiswa
dengan optimal. Terkadang dalam proses perkuliahan
terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi kuliah
atau pesan yang disampaikan dosen tidak dapat
diterima mahasiswa dengan optimal, atau tidak
seluruh materi kuliah dapat dipahami dengan baik
oleh mahasiswa. Disamping itu, kurangnya partisipasi
dosen dalam merancang dan menerapkan berbagai
media yang inovatif, yaitu kurangnya variasi dalam
pengajaran serta jarangnya penggunaan media yang
dapat memperjelas pemahaman mahasiswa tentang
materi-materi kimia menjadikan materi kimia sulit
dan tidak menarik untuk dipelajari sehingga dapat
menyebabkan motivasi belajar kimia yang rendah
dalam diri mahasiswa.
Media pembelajaran seperti software animasi
kimia disusun dan diimplementasikan oleh
pembuatannya sebagai media belajar yang dapat
membantu memudahkan mahasiswa atau pelajar
dalam memahami materi-materi kimia.
Ruang lingkup mata kuliah kimia dasar di jurusan
elektro Unisla ditekankan pada fenomena alam yang
berhubungan dengan elektrokimia, salah satu bahasan
dalam mata kuliah kimia dasar ini adalah larutan
elektrolit dan non elektrolit. Penekanan tersebut tidak
hanya pada tahapan mengetahui saja, namun
mahasiswa diharapkan mampu memahami fenomena
kimia secara utuh. Akan tetapi selama ini banyak
ditemui kendala dalam memahami fenomena-
fenomena kimia, termasuk konsep larutan elektrolit
dan non elektrolit, karena fenomena yang terjadi pada
peristiwa larutan elektrolit dan non elektrolit bersifat
mikroskopik sehingga mahasiswa sulit
membayangkan bagaimana proses yang terjadi pada
larutan elektrolit dan nonelektrolit, oleh sebab itu
mahasiswa perlu mendapatkan gambaran dengan
media sederhana misalnya dengan animasi kimia yang
berhubungan dengan larutan elektrolit dan non
elektrolit, sebelum dilakukan praktikum secara
langsung di laboratorium.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

154

II. DASAR TEORI
2.1 Software Animasi Sebagai Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin medium yang
berarti perantara atau penyalur. Menurut Yusufhadi
Miarso (1984) media pembelajaran adalah sesuatu
yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar
pada diri mereka yang belajar. Media yang menarik
tentunya sangat membantu dalam pemahaman suatu
materi pelajaran, karena sesuatu yang menarik dapat
menimbulkan minat peserta didik, meningkatkan
aktivitas berpikir, dan mem-pertinggi daya ingat.
Menurut Edgar Dale, pengalaman belajar
manusia itu 75% diperoleh melalui indera
penglihatan, 13% melalui indera pendengaran dan 12
% melalui indera lainnya. Pendapat ini memberikan
arti bahwa pembelajaran dengan alat bantu (media)
selain dapat menarik perhatian peserta juga sekaligus
meningkatkan pemahaman karena melibatkan indera
penglihatan (Oemar Hamalik, 1994). Lebih lanjut
Oemar Hamalik mengemukakan bahwa penggunaan
media juga dapat membangkitkan minat dan motivasi
belajar siswa, memperjelas pengertian, memberikan
pengalaman yang menyeluruh. Pendapat lain
dikemukakan Nasution (1987), menurutnya cara
penyampaian informasi dengan media jauh lebih
bermutu daripada hanya ceramah.
Secara umum manfaat media dalam pembelajaran
adalah memperlancar interaksi guru dan siswa
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara
optimal. Menurut Kemp dan Daytom (1985) yang
dikutip oleh Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001)
beberapa manfaat media yang lebih khusus untuk
tujuan pembelajaran adalah :
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat
diseragamkan.
2. Proses pembelajaran menjadi menarik.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan
kapan saja.
7. Sikap positif siswa terhadap bahan belajar maupun
terhadap proses belajar itu sendiri dapat
ditingkatkan.
8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih
positif dan produktif.

Setiap jenis media memiliki karakteristik dan
kemampuan dalam menayangkan pesan dan
informasi. Karakteristik dan kemampuan masing-
masing media perlu diperhatikan oleh para guru agar
mereka dapat memilih media yang tepat sesuai
dengan kondisi & kebutuhan. Menurut Heinich dalam
Benny Agus Pribadi dan Dewi Padmo Putri (2001),
media pembelajaran dapat diklasifikasikan : (1) media
yang tidak diproyeksikan (non projected media),
seperti : realita (benda nyata), model (benda tiga
dimensi), bahan grafis (gambar-gambar atau visual-
visual yang penampilannya tidak diproyeksikan), dan
display (bahan pameran atau medium yang
penggunaannya dalam ilmu kimia di tempat tertentu),
(2) media yang diproyeksikan (projected media),
seperti : Over Head Transparansi (OHT) dan slide,
(3) media Audio, (4) media Video, (5) media berbasis
komputer (computer based media).

2.2 Software Animasi Kimia
Software animasi kimia dengan topik larutan
elektrolit dan nonelektrolit yang digunakan dalam
penelitian ini adalah software animasi yang dibuat
oleh pustekkom tahun 2003. Software ini dapat
digunakan untuk membantu mempelajari materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit. Software ini
memberikan gambaran awal tentang larutan elektrolit
dan nonelektrolit dengan penjelasan yang mudah
dipahami disertai dengan animasi percobaan dan tes
untuk mengetahui tingkat pemahaman. Tampilan
software animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit
ditunjukkan oleh rangkaian Gambar 1 hingga Gambar
4 berikut ini. Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut:
Gambar 1 menunjukkan tampilan utama software
animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Pada
tampilan utama ini terdapat 4 menu yaitu,
kompetensi, materi, simulasi dan test. Materi
kompetensi berisi penjelasan mengenai jenis larutan
serta sifat larutan berdasarkan daya hantarnya.

Gambar 1. Tampilan Utama Software Animasi Larutan Elektrolit
dan Nonelektrolit
Sedangkan pada menu materi terdiri dari 5
pembahasan, yaitu: alat uji elektrolit, larutan
elektrolit, larutan nonelektrolit, teori elektrolit, dan
latihan. Gambar 2 menunjukkan tampilan alat uji
yaitu rangkaian percobaan yang digunakan dalam
animasi larutan elektrolit dan nonelektrolit,
dilanjutkan dengan penjelasan materi larutan
elektrolit, nonelektrolit, teori elektrolit, dan latihan.
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

155


Gambar 2. Alat Uji Percobaan
Menu berikutnya adalah simulasi yang
ditunjukkan pada Gambar 3, yaitu untuk mengetahui
pemahaman mahasiswa mengenai materi yang sudah
dijelaskan pada menu sebelumnya. Pada menu
simulasi ini mahasiswa diminta menebak daya hantar
larutan yang ditanyakan, kemudian memberikan
kesimpulan apakah termasuk larutan elektrolit atau
nonelektrolit.

Gambar 3. Tampilan Menu Simulasi
Gambar 4 adalah menu terakhir yaitu menu test,
Pada menu ini mahasiswa diminta untuk menuliskan
nama serta mengerjakan 5 soal yang berkaitan dengan
materi yang telah dijelaskan pada menu-menu
sebelumnya.

Gambar 4. Tampilan Menu Test
2.3 Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai
ke dalam bentuk ion-ionya. Zat yang jumlahnya lebih
sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau
solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak
dari pada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut
atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam
larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan
pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau
solvasi. Larutan terdiri dari larutan nonelektrolit dan
larutan elektrolit. Larutan nonelektrolit adalah larutan
yang tidak menghantarkan arus listrik, sedangkan
larutan elektrolit adalah larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik dengan mudah. Ion-ion
merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit
dapat berupa senyawa garam, asam, atau amfoter.
Beberapa gas tertentu dapat berfungsi sebagai
elektrolit, hal ini terjadi pada kondisi tertentu
misalnya pada suhu tinggi atau tekanan rendah.
Elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam.
Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion atau
kovalen polar. Sebagian besar senyawa yang
berikatan ion merupakan elektrolit sebagai contoh
adalah garam dapur atau NaCl. NaCl dapat menjadi
elektrolit dalam bentuk larutan dalam simtem aqueous
dan lelehan, sedangkan dalam bentuk padatan
senyawa ion tidak dapat berfungsi sebagai elektrolit
(Riyanto, 2013).

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Variabel Penelitian
Variabel bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah
adalah pemanfaatan media software animasi kimia
pada topik larutan elektrolit dan nonelektrolit

Variabel terikat
Sedangkan variabel terikatnya adalah hasil
belajar mahasiswa jurusan Elektro semester satu pada
topik materi larutan elektrolit dan nonektrolit.

3.2 Alat dan Bahan
- Komputer atau Labtop
- LCD Projector
- Software kimia
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

156

3.3 Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen,
yaitu untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan
software animasi kimia terhadap hasil belajar
mahasiswa pada topik materi larutan elektrolit dan
nonektrolit.
Penelitian ini dititik beratkan pada pemanfaatan
software animasi kimia sebagai media perkuliahan.
Analisis datanya secara kuantitatif, yaitu dengan
membandingkan nilai belajar mahasiswa pada kelas
yang mendapatkan perkuliahan dengan metode
ceramah saja tanpa disertai pemanfaatan software
animasi kimia dengan nilai belajar mahasiswa setelah
mendapatkan perkuliahan dengan pemanfaatan
software animasi kimia, serta data quisioner
tanggapan mahasiswa. Adapun desain eksperimen
yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Kelas A:
a) Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari dosen
mengenai materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit;
b) Mahasiswa diajak aktif dengan melontarkan
pertanyaan kepada dosen mengenai materi
tersebut;
c) Mahasiswa mencatat pokok bahasan yang
dianggap penting;
d) Mahasiswa menarik kesimpulan dari hasil
perkuliahan.
e) Tes untuk mengetahui tingkat pemahaman
mahasiswa terhadap materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit

2. Kelas B:
a) Mahasiswa menyimak dengan seksama materi
yang dijelaskan melalui media software animasi
kimia dengan metode diskusi;
b) Mahasiswa menulis materi yang dinggap penting
dari penjelasan dosen terhadap materi tersebut;
c) Mahasiswa saling bertukar informasi dari hasil
catatannya masing-masing;
d) Mahasiswa menarik kesimpulan dan mencatat
dari hasil diskusi;
e) Mahasiswa memaparkan hasil diskusinya.
f) Tes untuk mengetahui tingkat pemahaman
mahasiswa terhadap materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit

Desain eksperimen yang dilakukan dapat dilihat
pada flowchart berikut :
Dosen memberikan
ceramah mengenai materi
larutan elektrolit dan
nonelektrolit
Dosen memberikan
kesempatan bertanya
kepada mahasiswa
mengenai materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit
Mahasiswa mencatat
pokok bahasan yang
dianggap penting
Mahasiswa menarik
kesimpulan hasil
perkuliahan
Tes untuk mengetahui
tingkat pemahaman
terhadap materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit
Dosen menggunakan
software animasi kimia
untuk menjelaskan materi
larutan elektrolit dan
nonelektrolit
Mahasiswa menulis materi
yang dinggap penting dari
pembelajaran
menggunakan software
animasi kimia
Mahasiswa berdiskusi dan
saling bertukar informasi
hasil catatannya masing2
Mahasiswa menarik
kesimpulan dan mencatat
hasil diskusi
Tes untuk mengetahui
tingkat pemahaman
terhadap materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit
KELAS A KELAS B
data tes hasil belajar dan angket
tanggapan

Gambar 5. Flowchart desain penelitian yang dilakukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Sebelum Penelitian
Hasil observasi awal, kondisi mahasiswa Elektro
semester 1 Unisla dalam proses perkuliahan Kimia
dasar cenderung pasif. Mahasiswa terbiasa
mendengarkan penjelasan dari dosen, menulis hasil
perkuliahan dan bertanya. Namun, mahasiswa yang
dapat bertanya kepada dosennya pun hanya beberapa
mahasiswa saja. Dan terkadang hanya mahasiswa
yang sama yang dapat mengajukan pertanyaan.
Kondisi perkuliahan yang demikian dapat berdampak
negatif pada hasil belajar yang diperoleh mahasiswa,
yaitu tujuan perkuliahan tidak tercapai dan mahasiswa
tidak dapat memenuhi standar nilai yang ditentukan.
Mencermati permasalahan perkuliahan dengan
model ceramah ini, maka mahasiswa membutuhkan
suatu perkuliahan yang lebih aktif terutama pada
materi yang dianggap sulit karena bersifat
mikroskopik seperti pada topik larutan elektrolit dan
nonelektrolit. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba
memberi alternatif perkuliahan menggunakan media
software animasi kimia. Media yang digunakan
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

157

disesuaikan dengan materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit. Sehingga dalam perkuliahan ini,
diharapkan akan membangkitkan motivasi mahasiswa
karena media software animasi kimia akan
memberikan gambaran tentang materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit, yang kemudian
perkuliahan tersebut disertai dengan praktikum.
Dengan praktikum inilah akan memperjelas lagi
konsep yang telah diterima oleh setiap mahasiswa.
Sehingga mahasiswa dapat mengalami secara
langsung, mengikuti dan mengamati prosesnya serta
dapat menganalisis hasil yang telah diperoleh.
4.2 Perbandingan Penyebaran Nilai
Perbandingan penyebaran nilai belajar mahasiswa
dilakukan setelah mahasiswa mendapatkan
perkuliahan dengan metode ceramah saja tanpa
disertai penggunaan software animasi kimia dengan
nilai belajar mahasiswa setelah mendapatkan
perkuliahan dengan menggunaan software animasi
kimia.
Hasil perbandingan penyebaran nilai dapat dilihat
pada grafik berikut:


Gambar 2 Grafik Perbandingan Penyebaran Nilai
Pada grafik di atas, perkuliahan yang
menggunakan software animasi kimia memiliki
penyebaran nilai hasil belajar mahasiswa yang lebih
tinggi dibandingkan perkuliahan yang tanpa
menggunakan software animasi kimia. Nilai hasil
belajar mahasiswa dapat dipengaruhi oleh faktor
internal mahasiswa, maupun faktor eksternal
mahasiswa yaitu penggunaan media software animasi
untuk menunjang perkuliahan.
Fakta ini selaras dengan berbagai studi yang
dilaksanakan diberbagai negara mengenai
dampak/pengaruh positif media belajar dalam
menunjang perkuliahan dengan metode diskusi antara
lain bahwa audiovisual dapat: (a) meningkatkan
pengetahuan; (b) menumbuhkan keinginan atau
motivasi untuk memperoleh informasi dan
pengetahuan lebih lanjut; (c) meningkatkan
perbendaharaan kosakata, istilah, dan kemampuan
berbahasa secara verbal dan nonverbal; (d)
meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas; (e)
meningkatkan kekritisan daya pikir karena
dihadapkan pada dua relitas gambar dunia; dan (f)
memicu minat baca dan motivasi belajar.
Pun setelah perkuliahan dengan memanfaatkan
software kimia, materi diulas kembali dengan metode
diskusi. Dimana metode diskusi sendiri, sangat efektif
apabila digunakan dalam proses perkuliahan. Hal ini
dikarenakan mahasiswa dapat aktif bertukar informasi
dengan mahasiswa yang lain. Sehingga pendalaman
terhadap materi akan lebih dikuasai dan optimal.
Dibandingkan dengan metode ceramah yang
diterapkan dalam penelitian ini. Hal ini lebih
dikarenakan karena motivasi mahasiswa yang
menurun sejak awal perkuliahan sehingga
berpengaruh pada perkuliahan berikutnya.
4.3 Hasil Angket Tanggapan Mahasiswa
Tabel 1 Rekap Angket Tanggapan Mahasiswa
N
o
Pertanyaan
Jawaban
Prosentase
(%)
Y T Y T
1
Mahasiswa senang belajar kimia
karena menarik
21 6 78 22
2
Mahasiswa tidak suka belajar kimia
karena rumit.
8 19 30 70
3
Mahasiswa merasa bosan belajar
kimia karena penyampaian materi
melalui metode ceramah kurang dapat
menjelaskan materi dengan jelas
10 17 37 63
4
Mahasiswa merasa bosan belajar
kimia karena dosen kurang aplikatif
sehingga materi sulit dipahami
12 15 44 56
5
Mahasiswa lebih paham setelah dosen
menerangkan materi dengan
memanfaatkan software animasi kimia
27 0 100 0
6
Mahasiswa tertarik belajar kimia
dengan alat peraga yang digunakan
dalam pembelajaran
27 0 100 0
7
Mahasiswa merasa senang belajar
kimia karena media yang diterapkan
lebih inovatif
27 0 100 0
8
Bagaimana interaksi antara dosen dan
mahasiswa dalam perkuliahan apakah
lebih interaktif setelah memanfaatkan
software animasi kimia?
26 1 96 4
9
Mahasiswa lebih semangat melakukan
praktikum setelah mendapatkan
perkuliahan menggunakan software
animasi kimia yang dapat memberikan
gambaran materi yang dipelajari.
27 0 100 0

Tabel di atas menunjukkan hasil rekap tanggapan
mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan dengan
menggunakan software animasi kimia. Dari tabel di
atas dapat diketahui bahwa mahasiswa Elektro
semester 1 yang menyenangi mata kuliah kimia,
sebanyak 78%, hasil ini menunjukkan bahwa
sebenarnya mahasiswa Elektro semester 1 banyak
yang menyenangi mata kuliah kimia, sedangkan yang
tidak menyenangi mata kuliah kimia sebanyak 22%.
Adapun mahasiswa yang tidak senang belajar kimia
kemungkinan disebabkan karena beberapa kendala,
antara lain: karena rumit sebanyak 70%, penyampaian
materi kuliah oleh dosen melalui metode ceramah
kurang jelas sebanyak 37%, sehingga tidak seluruh
materi kuliah dapat dipahami dengan baik oleh
mahasiswa, serta dalam perkuliahan dengan motode
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

158

ceramah kurang diberikan contoh-contoh yang
aplikatif sebanyak 44%.
Sedangkan hasil tanggapan mahasiswa terhadap
metode perkuliahan kimia yang diharapkan adalah:
memanfaatkan software animasi kimia sebanyak
100%, hasil ini menunjukkan bahwa semua
mahasiswa Elektro semester 1 setuju penggunaan
software animasi kimia dapat membantu memberikan
pemahaman terhadap materi yang dipelajari,
penggunaan alat peraga yang digunakan untuk
mempermudah penyampaian materi sebanyak 100%,
dan penggunaan media lain yang lebih inovatif
sebanyak 100%. Yang lebih menarik adalah
tanggapan mahasiswa terhadap interaksi dosen dan
mahasiswa ketika perkuliahan menggunakan software
kimia lebih interaktif sebanyak 96%, hal ini karena
penggunaan software animasi kimia dalam
perkuliahan mampu membangkitkan motivasi
mahasiswa untuk bertanya dan berdiskusi. Disamping
itu, perkuliahan menggunakan software animasi kimia
dapat memberikan gambaran materi yang dipelajari
sehingga dapat meningkatkan semangat mahasiswa
dalam melakukan praktikum sebanyak 100%.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada
mahasiswa jurusan Elektro Unisla, semester 1 pada
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit diperoleh
kesimpulan, sebagai berikut :
1. Software animasi kimia yang digunakan sebagai
media perkuliahan dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi
larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hal ini dapat
dilihat dari perbandingan nilai hasil belajar kelas
eksperimen, yaitu yang dalam perkuliahannya
menggunakan software animasi kimia lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai hasil belajar kelas
kontrol yang hanya menggunakan metode ceramah
saja.
2. Perkuliahan dengan menggunakan software
animasi kimia dapat berpengaruh positif pada
motivasi belajar mahasiswa terhadap materi-materi
kimia daripada perkuliahan dengan menggunakan
metode ceramah saja.
5.2 Saran
Hendaknya media sofware animasi dapat
diterapkan pada mata kuliah yang lain. Sehingga
media software animasi dapat membangkitkan
motivasi belajar mahasiswa.

REFERENSI
[1]. Benny Agus Pribadi dan Dewi Padmo Putri (2001). Ragam
Media dalam Pembelajara, Depdiknas, Jakarta.
[2]. Iskandar (2009), Psikologi Pendidikan (Sebuah Orientasi
Baru), Gaung Persada, Ciputat.
[3]. Nasution, S. (1987), Berbagai Pendekatan dalam Proses
Belajar-Mengajar, Bina Aksara, Jakarta
[4]. Oemar Hamalik. (1994), Media Pendidikan, Alumni, Jakarta.
[5]. Riyanto (2013), Elektrokimia dan aplikasinya, edisi ke-1,
Graha Ilmu, Yogyakarta
[6]. Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001), Media Sederhana,
Depdiknas, Jakarta.
[7]. Yusufhadi Miarso. (1984). Teknologi Komunikasi Pendidikan,
Pengertian dan Pengem-bangannya, Media Pembelajaran,
Rajawali, Jakarta.

Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

159

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika
Wiryanto
1

1
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Email : wiryantoro29@yahoo.co.id
Abstrak Upaya pembentukan karakter sesuai
dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata
hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian
kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi
juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan,
seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras,
cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya.
Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan
tentang hal-hal yang benar dan salah, akan tetapi juga
mampu merasakan terhadap nilai yang baik dan tidak
baik, serta bersedia melakukannya dari lingkup terkecil
seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas
di masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu
ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada
akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan
yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter
karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan
melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah
(school culture). Untuk itu diperlukan suatu upaya
terencana, kontinu, dan sistematis dalam pembelajaran
matematika. Perencanaan pembelajaran yang memuat
tujuan membentuk karakter siswa harus dengan
disengaja (by design) bukan sekedar sebagai dampak
pengiring saja (by chance)..
Kata kunci: pendidikan karakter, pembelajaran
matematika.
I. PENDAHULUAN
Peran pembelajaran matematika dalam
pembentukan karakter bangsa telah diamanatkan
dalam pendidikan UUD 1945 (versi amandemen),
Pasal 31 ayat 3 menyebutkan Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan
dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan
undang-undang. Pernyataan ini secara ekplisit
mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan nasional
adalah untuk membangun kedidupan bangsa yang
cerdas berlandaskan atas nilai-nilai keimanan,
ketakwaan, serta ahlak mulia. Dengan demikian,
karakter bangsa yang ingin kita bangun melalui
pendidikan adalah karakter cerdas yang didasari nilai
keimanan, ketakwaan, dan ahlak mulia. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecerdasan dimaknai
sebagai kesempurnaan perkembangan akal budi,
ketajaman pikir, serta kesempurnaan pertumbuhan
fisik.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
pasal 3, antara lain disebutkan bahwa pendidikan
nasaional bertujuan untuk perkembangan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Pengembangan potensi peserta
didik tersebut meliputi tataran individu, kolektif,
maupun untuk kepentingan eksistensi bangsa.
Mengingat tujuan pendidikan nasional adalah untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar
berkarakter cerdas, sementara pembelajaran
matematika berkaitan dengan pengembangan potensi
peserta didik dalam berolah pikir, maka pembejaran
matematika memiliki potensi besar dan strategis
dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional
tersebut. Agar pembelajaran matematika dapat
berkontribusi secara nyata dalam pencapaian tujuan
tersebut, maka kita perlu mengidentifikasi faktor-
faktor utama yang perlu menjadi fokus kajian
khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran
matematika.
Karakter cerdas yang menjadi orientasi utama
dari pembelajaran matematika menurut tujuan
pendidikan yang dituntut undang undang, didasarkan
atas nilai-nilai tertentu yang juga perlu menjadi fokus
kajian guru maupun para peneliti. Karena
pembelajaran terjadi pada konteks sosial, maka nilai-
nilai yang relevan dengan pembelajaran matematika
sebenarnya sangat memungkinkan dikembangkan
melalui interaksi sosial yang bisa terjadi melalui
pembelajaran. Dengan demikian, desain interaksi
(hubungan pedagogis) merupakan hal penting yang
layak menjadi fokus kajian pembelajaran matematika
yang berkarakter.
Berdasarkan uraian tersebut, karakter cerdas yang
menjadi tujuan pendidikan di Indonesia, antara lain
dapat diupayakan melalui pembelajaran matematika
yang dapat membentuk karakter bangsa. Dengan
demikian, melalui kesempatan ini yang berorientasi
pada pengembangan kualitas materi ajar matematika
dan diharapkan dapat mendorong optimalisasi potensi
siswa, perlu menjadi alternatif dalam upaya
pengkajian pembelajaran matematika yang
berkarakter. Salah satu yang penulis tawarkan melalui
seminar ini adalah melalui pembelajaran matematika
dapat membentuk karakter bangsa.

II. PENDIDIKAN KARAKTER
Berkowitz (2002) menjelaskan bahwa karakter
dapat dipandang sebagai suatu ukuran atau sarana
mengukur kebaikan atau keeksentrikan seorang
individu yang berkaitan moralitas. Selain itu, juga
dapat berkaitan non moralitas (seperti fungsi-fungsi
kognitif). Berkowitz mendefinisikan karakter sebagai
an individuals set of physchological characteristics
Prosiding Seminar Teknik Elektro dan Pendidikan Teknik Elektro (STE 2013)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, 4 Desember 2013

160

that affect that persons ability and inclination to
function morally. Artinya karakter adalah suatu
kumpulan karakteristik psikologis individu yang
memberi dampak terhadap kemampuan seseorang dan
peningkatan fungsi-fungsi moralitas. Dengan
demikian makna karakter dapat diartikan sebagai
tabiat, watak, atau aspek-aspek psikologi lain yang
melekat pada seorang individu. Karakter
membimbing dan mengarahkan seseorang untuk
menilai sesuatu yang dilakukan baik atau buruk.
Fungsi-fungsi moral menurut Berkowitz (2002)
tersebut dinamakan moral anatomy yang meliputi (1)
moral behaviour (perilaku moral), (2) moral values
(nilai-nilai moral), (3) moral personality
(personalitas moral), (4) moral emotion (emosi
moral), (5) moral reasoning (penalaran moral), (6)
moral identity (identitas moral), dan (7) foundational
characteristics (karakteristik-karakteristik dasar).
Fungsi-fungsi tersebut memberi gambaran bahwa
karakter merupakan suatu konsep psikologi yang
kompleks. Karakter meliputi kemampuan berpikir
membedakan yang baik dan benar, mengalami
emosi-emosi moral (bersalah, empati, sadar diri),
melibatkan diri dalam tindakan-tindakan (berbagi,
berderma, berbuat jujur), meyakini moralitas yang
beradab dan bermartabat, dan menunjukkan
kejujuran, kebaikan hati, dan tanggung jawab.
McElmeel (2002) dalam bukunya memfokuskan
nilai-nilai karakter terdiri dari peduli, percaya diri,
tertantang, ingin tahu, fleksibel, kebersamaan
(friendship), terencana (goalsetting), hormat
(humility), ceria (humor), inisiatif, integritas, sabar,
tekun, sikap positif, pemecah masalah, disiplin, dan
kerjasama (teamwork). Nilai-nilai tersebut diperlukan
dalam menghadapi dunia kerja dan saling terkait
dengan nilai-nilai yang lain.
Tim Pengembang, Depdiknas (2010) menuliskan
bahwa karakter merupakan perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan
yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma
disebut insan berkarakter mulia. Karakter mulia
berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi
dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti
reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis,
kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat,
bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati,
rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur,
menepati janji, adil, rendah hati, dan nilai-nilai
lainnya. Individu juga memiliki kesadaran untuk
berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga
mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya
tersebut.
Kementrian Pendidikan Nasional dalam Desain
Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010)
menyebutkan bahwa karakter adalah nilai-nilai yang
unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, dan
nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri
dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara
koheren memancar dari hasil olahpikir, olahhati,
olahrasa dan olahkarsa, serta olahraga seseorang atau
sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas
seseorang atau sekelompok orang yang mengandung
nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran
dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Pengertian ini secara lengkap menggabungkan
karakter sebagai nilai-nilai, kemampuan, kapasitas
moral, keyakinan, dan tindakan.
Berdasar pembahasan sebelumnya dapat
dikatakan bahwa karakter merupakan suatu kumpulan
karakteristik individu yang khas dalam berpikir,
berperilaku, dan bertindak dalam hidup, bergaul,
bekerjasama, maupun memecahkan masalah di
lingkungannya. Karakteristik tersebut dapat berkaitan
dengan aspek psikologis (seperti bawaan, emosi,
kepribadian, budi pekerti, sifat, tabiat, temperamen,
atau watak), aspek moral (berupa nilai-nilai yang
disadari dan diyakini), dan aspek kognitif (gaya
berpikir, penalaran, ataupun berbahasan). Dengan
demikian, karakter sebenarnya tidak hanya berupa
nilai-nilai, tetapi juga kemampuan, keyakinan,
moralitas, pengendalian emosi dan pengarahannya,
serta perwujudan perilaku yang sebenarnya.
Untuk menanamkan karakter tersebut dilakukan
melalui pendidikan. Pendidikan yang mengarahkan
dan menanamkan karakter tersebut dinamakan
pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan
upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara
sistematis untuk menanamkan nilai-nilai perilaku
peserta didik yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan
adat istiadat (Kemendiknas, 2010).
Pendidikan karakter dalam lingkup pembelajaran
di kelas dapat diartikan sebagai upaya merancang dan
melaksanakan suatu strategi atau model-model
pembelajaran yang bertujuan mengembangkan
k