Anda di halaman 1dari 12

1

AKUNTANSI PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF (PPAP)



Aktiva produktif (earning assets) adalah penanaman dana bank baik dalam valuta rupiah
maupun valuta asing dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antarbank, penyertaan,
termasuk komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administrative. Aktiva produktif
berfungsi untuk memperoleh pendapatan utama bank dengan risiko yang besar. Potensi kerugian
akibat memburuknya kolektibilitas asset dapat membawa kebangkrutan bank oleh karena itu bank
wajib membentuk PPAP berupa cadangan umum dan cadangan khusus guna menutup risiko
kerugian.
Dalam membentuk PPAP, bank akan memperhitungkan setiap jenis aktiva produktif bank
yang masih outstanding dari yang berkualitas lancar sampai yang macet, yang didasarkan pada
kriteria:
1. Ketepatan pembayaran kembali pokok dan bunga serta kemampuan peminjam yang ditinjau
dari keadaan usaha yang bersangkutan untuk kredit yang diberikan.
2. Tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan, untuk surat berharga.

A. Komponen Aktiva Produktif
Berikut beberapa jenis aktiva produktif dan komponen yang diperhitungkan dalam PPAP:
1. Kredit adalah Penyediaan uang/tagihan yang sama dengan itu, berdasarkan persetujuan /
kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang wajib dilunasi setelah
jangka waktu tertentu serta bunga.
2. Surat berharga adalah Surat pengakuan utang, wesel, obligasi, sekuritas kredit, atau
derivatifnya, atau kepentingan lain, atau suatu kewajiban dari penerbit, dalam bentuk yang
lazim diperdagangkan dalam apasar modal & pasar uang, seperti SBI, SPBU, dll.
3. Penempatan adalah Penanaman dana bank pada bank lainnya berupa giro, call money,
deposito berjangka,sertifikat deposito, kredit yang diberikan dan penempatan lainnya.
4. Penyertaan adalah Penanaman dana dalam bentuk saham pada perusahaan yang bergerak di
bidang keuangan yang tidak melalui pasar modal, serta dalam bentuk penyertaan modal
sementara pada perusahaan debitur untukik mengatasi akibat kegagalan kredit.
5. Transaksi rekening administratif adalah Komitmen & kontijensi yang teridri dari warkat
penerbitan jaminan, akseptasi, irrevocable Letter of Credit yang masih berjalan, akseptasi
wesel impor atas dasar L/C berjangka, penjualan surat berharga dengan syarat repurchase
agreement, serta transaksi derivatif yg mempunyai risiko kredit.

B. Metode Pengakuan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
Metode Pengakuan PPAP dapat didasarkan pada metode langsung atau metode cadangan.
Penggunaan metode ini didasarkan pada praktik yang lazim di bank bahwa terjadinya kerugian
aktiva produktif sering terjadi pada periode berikutnya setelah penempatan aktiva produktif,
padahal suatu laporan Laba /Rugi bank harus mencerminkan perbandingan antara pendapatan
dengan biaya yang harus diakui. Pengakuan aktiva produktif tidak perlu menunggu sampai
terjadinya kerugian tersebut muncul, namun bank harus mengakui pada periode yang sama
dengan terjadinya penempatan aktiva produktif dengan cara membentuk Cadangan Penyisihan
Aktiva Produktif.


2

C. Penentuan Penyisihan Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan
Pengakuan penyisihan aktiva produktif dengan menggunakan metode cadangan akan membawa
konsekuensi pada penentuan besarnya penyisihan dan cadangan yang akan disajikan dalam
neraca maupun laporan L/R. Untuk menentukan besarnya cadangan, ada dua pendekatan:
a. Pendekatan Rugi Laba
Penentuan besarnya penyisihan aktiva produktif yang akan disajikan dalam laporan
L/R ditentukan terlebih dahulu.
b. Pendekatan Neraca
Penentuan besarnya cadangan penghapusan aktiva produktif yang akan disajikan
dalam neraca ditentukan terlebih dahulu.
Tingkat PPAP yang harus dibentuk berupa cadangan umum dan cadangan khusus:
1. Cadangan umum PPAP ditetapkan sekurang-kurangnya 1% dari aktiva produktif yang
digolongkan lancar, tidak termasuk SBI dan surat utang pemerintah.
2. Cadangan khusus ditetapkan sekurang-kurangnya :
a. 5% dari aktiva produktif yang digolongkan dlam perhatian khusus.
b. 15% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar setelah dikurangi dengan nilai
agunan.
c. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan
d. 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet setelah dikurangi nilai agunan.
Agunan yang dipergunakan sebagai pengurang dalam pembentukan PPAP adalah:
Giro, deposito, tabungan, dan setoran jaminan dalam mata uang rupiah dan valuta asing
diblokir disertai dengan surat kuasa pencairan.Untuk nilai ini setingi-tinggginya sebesar
100% yang dapat digunakan sebagai pengurang
Seritifikat Bank Indonesia dan Surat Utang Pemerintah Untuk nilai agunan ini setinggi-
tingginya 100% yang dapat digunakan sebagai pengurang
Surat berharga yang aktif diperdagangkan di pasar modal. Untuk nilai agunan ini setinggi-
tingginya 50% yang dapat digunakan sebagai pengurang
Tanah, gedung , rumah tinggal, pesawat udara, dan kapal laut. Untuk nilai agunan ini untuk
penilaian belum melampaui 6 bulan sebesar 70%; antara 6-18 bulan sebesar 50%; 18-30
bulan sebesar 30%; dan lebih dari 30 bulan sebesar 0%
Penilaian-penilaian agunan
Dalam penilaian agunan dikenal beberapa terminologi :
1. Nilai pasar : jumlah uang yang diperkirakan dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau
hasil penukaran suatu asset pada tanggal penilaian setelah dikurangi biaya-biaya transaksi,
pihak penjual dan pembeli tidak mempunyai ikatan, memiliki pengetahuan tentang asset
yang diperdagangkan dan melakukan transaksi tidak dalam keadaan terpaksa,
2. Kalkulasi biaya : perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi aktiva yang baru
setelah dikurangi dengan penyusutan akibat kerusakan fisik dan penurunan nilai ekonomis.
3

3. Kapitalisasi pendapatan : nilai tunai penerimaan kas masa depan dari pendapatan akan
diterima dalam jangka waktu 5-10 tahun.
Contoh: bank ABCD pada tanggal 31 Desember 2011 memilki saldo-saldo (pada neraca).
Misalnya kita ingin menentukan PPAP untuk kredit yang diberikan, maka kita harus melihat
saldo terakhir pelaporan kredit yang diberikan. Dalam neraca sebesar Rp11.242.000
PT Bank ABCD
Neraca Per 31 Desember 2011
No Rekening Jumlah (Rp) No Rekening Jumlah (Rp)
1 Kas 400.000.000 1 Giro 700.000.000
2 Giro BI 600.000.000 2 SBI
Diterbitkan
450.000.000
3 Bank-Bank
Lai
450.000.000 3 Tabungan 2.000.500.000
4 PPAP-BBL -30.000.000 4 Deposito 8.000.000.000
5 Sekuritas
Jangka
Pendek
1.500.000.000 5 Pinjaman
Diterima
4.000.000.000
6 PPAP-SJP -100.000.000 6 Kewajiban
Lainnya
500.000.000
7 Kredit
Diberikan
11.242.000.000
8 PPA-Kredit
Diberikan
-545.000.000
9 Penyertaan 4.000.000.000
10 PPAP-
Penyertaan
-447.000.000
11 Aktiva
Tetap
1.000.000.000 7 Modal 2.176.500.000
12 Akumulasi
Penyusutan
-243.000.000
Jumlah 17.827.000.000 Jumlah 17.827.000.000

Saldo penyisihan penghapusan kredit yang diberikan telah dibentuk tahun sebelumnya sebesar
Rp545.000.000, sedangkan pada akhir tahun 2011 PPAP yang wajib dibentuk sebesar
Rp1.209.700.000. dengan demikian perlu ditambah Rp664.700.000

4


Maka jurnal pencatatannya

Dengan demikian saldo Penyisihan Penghapusan Kredit pada tanggal 31 Desember 2011 jika
ditampilkan pada LK adalah Rp1.209.700.000
Penghapusbukuan kredit macet
Pencatatan penghapusbukuan atas kredit macet sebesar Rp300.000.000 dan tunggakan bunga
sebesar Rp30.000.000 sbb:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Penyisihan Penghapusan Kredit 330.000.000
Kredit yang Diberikan 30.000.000
Pendapatan Bunga yang akan Diterima 300.000.000

Apabila ternyata kredit tersebut dilunasi, maka harus dibukukan kembali dalam rekening efektif
yaitu:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Kredit yang Diberikan 300.000.000
Pendapatan Bunga yang akan
Diterima
30.000.000
Penyisihan Penghapusan Kredit 330.000.000







Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Biaya Penyisihan Penghapusan
Kredit
664.700.000
Penyisihan Penghapusan Kredit 664.700.000
5

AKTIVA TETAP
Aktiva tetap adalah aktiva tidak produktif sehingga jumlahnya perlu dibatasi atau pada
umumnya jumlahnya relatif kecil dibandingkan aktiva produktif bank. Penempatan dana pada
aktiva tetap dan inventaris yang berlebihan akan membahayakan bank itu sendiri karena
disamping akan kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari nilai penempatan tersebut,
juga akan berakibat pada kesulitan likuiditas. Walaupun demikian aktiva tetap dalam batas-batas
tertentu sangat diperlukan.
Pengadaan aktiva tetap bisa dilakukan oleh kantor pusat ataupun kantor cabang. Pada
pembelian aktiva tetap yang nilainya relatif besar misalnya tanah untuk usaha, umunya menjadi
kewenangan kantor pusat. Kewenangan kantor pusat tersebut selanjutnya didelegasikan ke
kantor cabang. Sedangkan pengadaan aktiva tetap yang jumlahnya relatif kecil akan ditangani
langsung oleh kantor cabang.
A. Pengeluaran Untuk Memperoleh Aktiva Tetap
Pada prinsipnya aktiva tetap yang diperoleh akan dicatat sebesar harga perolehannya
yaitu harga beli ditambah biaya-biaya yang terjadi untuk menempatkan aktiva tersebut pada
kondisi dan tempat yang siap dipergunakan. Biaya-biaya dimaksud misalnya biaya
pemasangan, bea masuk, biaya pengangkutan, biaya balik nama dan sebagainya.
Penempatan aktiva tetap tersebut selanjutnya dinilai sebesar harga buku yaitu harga
perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan.
a. Pengeluaran Modal
Pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh manfaat
yang akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran-pengeluaran seperti ini
harus dikapitalisasi ke dalam rekening aktiva yang bersangkutan. Contoh pengeluaran ini
adalah pembayaran untuk pembelian mobil, baiya balik nama dan sebagainya.

b. Pengeluaran pendapatan
Pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk
memperoleh manfaat yang hanya bisa dirasakan dalam periode akuntansi yang
bersangkutan. Pengeluaran-pengeluaran ini akan akan dibukukan dalam rekening tersendiri
yaitu rekening biaya. Contoh pengeluaran jenis ini adalah pembelian oli, bensin, reparasi.

B. Perolehan Aktiva Tetap

1. Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pembelian
Pembelian aktiva tetap bisa dilakukan secara tunai maupun secara kredit. Dalam hal
perolehan aktiva tetap melalui pembelian, harga perolehan aktiva tetap terdiri dari harga beli
aktiva tersebut ditambah biaya-biaya yang dibebankan kepada pembeli hingga ktiva tersebut
siap digunakan. Kalau aktiva tersebut merupakan barang impor, maka biaya pembukuan
surat kredit berdokumen menjadi bagian dari harga perolehan. Pembelian aktiva tetap yang
relatif besar, umunya akan mendapatkan diskon. Potongan harga ini merupakan pengurang
terhadap harga beli yang selanjutnya menurunkan harga perolehan.
a. Pembelian Tunai
6

Apabila pembelian dilakukan secara tunai, bank akan membayar sebesar harga
perolehan. Pembelian tersebut bisa dilakukan (dibayar) oleh kantor pusat atau kantor
cabang.
Contoh:
Bank ABC cabang Semarang membeli tanah seluas 300M2 @Rp. 1.000.000. Biaya perataan
tanah Rp. 5.000.000, biaya notaris Rp.7.500.000, biaya perantara Rp.15.000.000 semuanya
secara tunai. Pencatatannya adalah:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Dr. Aktiva tetap dan inventaris-tanah 327.500.000
Cr Kas 327.500.000

b. Pembelian Secara Kredit
Aktiva tetap dapat diperoleh secara kredit. Perolehan aktiva tetap secara kredit akan
menimbulkan biaya bunga. Untuk itu perlu dipisahkan antara pengeluaran modal dengan
pengeluaran pendapatan. Biaya bunga merupakan pengeluaran penadapatan, sehingga tidak
dikapitalisasikan dalam harga perolehan aktiva. Biaya bunga harus dicatat tersendiri.

2. Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pertukaran dengan Surat Berharga
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan cara ditukar dengan surat berharga. Dengan cara
ini, aktiva tetap yang diperoleh dinilai sebesar nilai wajar. Bila tidak diperoleh nilai wajar
aktiva tetap, maka didasarkan pada nilai pasar sekuritas. Jadi tergantung aktiva mana yang
lebih layak berdasarkan bukti yang tersedia. Sedangkan perbedaan nilai pasar sekuritas
dengan nilai nominal dicatat sebagai agio atau disagio. Disagio sekuritas adalah selisih nilai
pasar sekuritas di bawah nilai nominal sekuritas. Sekuritras yang dapat dipertukarkan
misalnya saham, obligasi.
Contoh:
Bank ABC membeli sebidang tanah seluas 500 m2 dengan cara ditukar dengan saham biasa
10.000 lembar. Harga kurs pada saat pertukaran 102%. Maka pencatatan transaksi ini
adalah:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Aktiva tetap dan inventaris-tanah 1.020.000.000
Saham biasa 1.000.000.000
Agio saham 20.000.000

3. Pertukaran Aktiva Tetap dengan Aktiva yang Tidak Sejenis
Pertukaran aktiva dengan aktiva yang berbeda jenis artinya aktiva yang berbeda
fungsinya, selain sekuritas. Perbedaan jenis bukan dilihat dari fisiknya. Perlakuan
akuntansinya adalah pertukaran aktiva tetap dinilai sebesar nilai wajar dari aktiva yang
diperoleh atau aktiva yang diserahkan tergantung mana yang lebih layak berdasarkan bukti
7

atau data yang tersedia. Perbedaan antara nilai buku aktiva yang diserahkan dengan nilai
wajar yang digunakan pada tanggal transaksi harus dicatat sebagai laba atau rugi pertukaran.
Contoh:
Bank ABC akan membuka kantor cabang. Untuk itu bank ABC membeli tanah seluas
300m2 dengan harga Rp.1.000.000/m2. Perolehan tanah tersebut dengan cara ditukar
dengan mobil seharga Rp.300.000.000 yang telah disusut sebesar Rp.60.000.000. Di
samping menyerahkan mobil, Bank ABC juga membayar dengan tunai Rp.40.000.000.
Transaksi ini akan diperhitungkan laba ruginya dulu seperti di bawah ini:
Keterangan Jumlah (Rp) Jumlah (Rp)
Harga tanah 300.000.000
Penyerahan uang tunai 40.000.000
Harga buku mobil = 300.000.000 - 60.000.000

240.000.000
Niali aset yang diserahkan 280.000.000
Laba pertukaran 20.000.000

Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Aktiva tetap dan inventaris-tanah 300.000.000
Akumulasi depresiasi mobil 60.000.000
Aktiva tetap dan inventaris mobil
300.000.000
Kas 40.000.000
Laba pertukaran 20.000.000

4. Pertukaran Aktiva Tetap Dengan Aktiva Yang Sejenis
Dalam pertukaran aktiva tetap yang sejenis, perlakuan akuntansinya untuk aktiva
tetap yang diperoleh melalui transaksi pertukaran aktiva non moneter dinilai sebesar nilai
wajar dari aktiva yang diperoleh atau aktiva yang diserahkan yang lebih layak berdasarkan
bukti/ data yang tersedia. Perbedaan antara nilai buku aktiva yang diserahkan dengan nilai
wajar aktiva yang diterima dalam hal terjadi kerugian maka langsung diakui sedangkan bila
terjadi laba maka harus ditangguhkan
Contoh : pertukaran yang menimbulkan laba tetapi tidak menimbulkan penerimaan uang.
Sebuah mobil Sedan A seharga Rp120.000.000 dan telah disusut Rp40.000.000 ditukar
dengan mobil Sedan B seharga Rp100.000.000. Maka laba pertukaran diperhitungkan dari
harga mobil A dikurangi harga buku sedan B yaitu Rp100.000.000 (Rp 120.000.000
Rp40.000.000) = Rp20.000.000
8

Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Dr. Aktiva tetap dan inventaris- mobil B 80.000.000
Akumulasi depresiasi mobil A 40.000.000
Akt. Tetap dan inventaris- mobil A 120.000.000

Jika pertukaran menimbulkan rugi:
Contoh:
Mobil kijang (Lama) seharga Rp40.000.000 , telah disusut Rp10.000.000, ditukar dengan
mobil kijang (Baru) seharga Rp150.000.000 . Selain itu bank menambah pembayaran tunai
Rp130.000.000.
Maka perhitungan ruginya:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Aktiva tetap dan inventaris-mobil (baru) 150.000.000
Akumulasi depresiasi mobil (lama) 10.000.000
Rugi pertukaran 10.000.000
Aktiva tetap dan inventaris mobil (lama) 40.000.000
Kas 130.000.000

5. Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pembuatan sendiri
Untuk memperoleh aktiva tetapdan invetaris, suatu bank dapat membuat sendiri.
Contoh pembuatan almari, meja dan perabot lain. Bank dapat mempekerjakan tukang kayu
untuk membuatnya sesuai desain yang diinginkan bank. Bila ini yang dilakukan bank, maka
harga perolehan aktiva tetap yang dibuat atau dibangun sendiri meliputi semua biaya yang
terjadi berkenaan dengan pembuatan aktiva tersebut hingga siap digunakan. Biaya-biaya
yang timbul dan menjadi komponen harga perolehan adalah bahan baku, biaya tenaga kerja,
dan biaya overhead. Umtuk biaya overhead bisa dibebankan berdasarkan tarif atau
berdasarkan kenaikan atau tambahan biaya overhead akibat pembuatan aktiva tersebut.
6. Perolehan Aktiva Tetap dari Sumbangan/Hibah/Hadiah
Perlakukan akuntansi untuk aktifa tetap yang diperoleh dengan cara ini agak
menyimpang dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. pencatatan
aktiva dari hibah/hadiah sebesar harga pasarnya, tetapi bila untuk memperoleh aktiva ini
perlu pengorbanan maka bank hanya akan menerima nilai bersihnya.
Contoh:
Bank ABC menerima hibah dari pemerintah berupa tanah dan gedug, harga pasar tanah Rp.
400.000.000, harga gedung Rp. 200.000.00, maka pencatatannya adalah:
9

Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Aktiva tetap dan inventaris-tanah 400.000.000
Aktiva tetap dan inventaris-gedung 200.000.000
Modal hibah
600.000.000

Kalau untuk menerima hadiah/hibah itu bank mengeluarkan biaya Rp. 50.000.000, maka
pencatatannya adalah:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Aktiva tetap dan inventaris-tanah 400.000.000
Aktiva tetap dan inventaris-gedung 200.000.000
Modal hibah
550.000.000
Kas 50.000.000

C. Pencatatan Biaya Untuk Menggunakan Aktiva Tetap
Untuk menggunakan aktiva bank, maka diperlukan biaya. Biaya-biaya ini
merupakan pengeluaran pendapatan sehingga dibukukan tersendiri. Biaya-biaya dimaksud
misalnya biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya penggatian yang relatif kecil dan
sebagainya. Jurnal yang diperlukan untuk membukukan pengeluaran ini adalah:
Bila biaya pemeliharaan dan reparasi tidak menambah umur.
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Dr. Biaya reparasi dan pemeliharaan
Cr Kas


Bila biaya pemeliharaan dan reparasi menambah umur aktiva tetap.
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Dr. Akumulasi aktiva tetap
Cr Kas

Khusus biaya penggantian yang relatif besar maka harus diperhitungkan nilai
komponen aktifa tetap yang diganti. Nilai yang diganti tersebut harus dikeluarkan dahulu
dari buku dan kemudian memasukkan/mencatat nilai penggantian yang baru ke dalam buku.
Contoh:
10

Bank telah melakukan penggantian salah satu bagian mobil yang telah disusut 80%. Sebuah
suku cadang sekitar 10% diganti dengan harga Rp. 50.000.000, secara tunai. Sementara
harga mobil pada waktu pembelian Rp. 400.000.000
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Akumulasi peny. Akt. Tetap-mobil 32.000.000
Rugi pergantian 8.000.000
Aktiva tetap-mobil 40.000.000

Aktiva tetap-mobil 50.000.000
Kas 50.000.000

Perhitungan:
Keterangan Jumlah (Rp)
Harga perolehan suku cadang diganti 10% x 400.000.000 40.000.000
Akumulasi penyusutan 80% x 40.000.000 32.000.000
Rugi penggantian 8.000.000

D. Depresiasi Aktiva Tetap
Penggunaan aktiva tetapyang dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan
aktiva tetap aus. Untuk itu nilai aktiva tetap harus dialokasikan setiap periode untuk
mengimbangi penurunan manfaat yang telah diberikan. Secara umum dapat dijelaskan
bahwa depresiasi aktiva tetap dilakukan oleh bank karena:
a. Faktor fisik, artinya aktiva tetap tersebut dipakai terus menerus sehingga aus baik karena
umur atau karena kerusakan.
b. Faktor fungsional, faktor ini dikaitkan dengan ketidakmampuan untuk memenuhi
produktivitas sehingga perlu diganti atau memang adanya perkembangan teknologi
yang menuntut aktiva tetap tersebut harus diganti.
Dengan pertimbangan tersebut, maka selanjutnya perlu mengalokasikan harga perolehan
kedalam biaya depresiasi. Untuk mengalikasikan biaya depresiasi setiap periode pelaporan,
harus diketahui:
a. Harga Perolehan
Harga perolehan adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap
tersebut hingga siap digunakan.
b. Umur Ekonomis
Umur ekonomis adalah taksiran suatu aktiva tetap secara ekonomis dapat memberikan
manfaat.
c. Nilai Residu
Nilai residu adalah nilai sisa suatu aktiva apabila dijual kembali atau ditukarkan, ketika
aktiva tersebut tidak mampu lagi memberikan manfaat ekonomis.

a. Metode Garis Lurus (Straigth Line Method)
11

Dalam metode ini bank akan menghitung depresiasi setiap periode dengan jumlah
yang sama. Rumus untuk metode ini adalah:
Depresiasi = Harga Perolehan Nilai Residu
Umur ekonomis
Metode ini paling sederhana, namun penerapan metode ini harus memenuhi asumsi:
1. Kegunaan aktiva yang bersangkutan akan menurun secara proporsional setiap periode.
2. Biaya reparasi dan pemeliharaan setiap periode relatif tetap.
3. Kegunaan ekonomis berkurang karena lewatnya waktu.
4. Kapasitas penggunaan setiap periode relatif tetap.
Contoh:
Mobil dengan harga Rp. 400.000.00, ditaksir mempunyai umur ekonomis 5 tahun dengan
nilai residu Rp. 50.000.000. contoh ini bisa ditentukan depresiasinya yaitu:
Depresiasi= (400.000.00 50.000.000) : 5 = Rp. 70.000.000
Pencatatan depresiasi ini adalah:
Tgl Rekening D (Rp) K (Rp)
Biaya peny. Akt. Aktiva tetap-mobil 70.000.000
Akum peny. Akt. Tetap-mobil 70.000.000

b. Metode Jam Jasa ( Service Hours Method)
Dalam metode jam jasa diasumsikan bahwa aktiva tetap yang bersangkutan akan
lebih cepat rusak kalau digunakan secara penuh. Beban depresiasi disini sangat tergantung
kepada jumlah jam kerja yang digunaka.Rumus untuk metode ini adalah:
Depresiasi = ( Harga perolehan Nilai residu) / Jam jasa
c. Metode Jumlah Angka Tahun ( Sum of Years Digit Method )
Dalam metode ini diasumsikan bahwa aktiva tetap yang baru akan dapat digunakan
dengan lebih efisien dibandingkan dengan aktiva tetap yang lebih tua. Untuk itu biaya
reoarasi pada awal-awal tahun akan relatif kecil dan akan naik mengikuti umur aktiva tetap
tersebut. Sebaiknya pada awal periode umur aktiva tetap, depresiasi diasumsikan lebih besar
dan akan menurun seiring dengan tingkat manfaat yang diberikan aktiva tetap tersebut.









12

Akuntansi Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
(PPAP) & Aktiva Tetap



Disusun oleh:

KELOMPOK 4
Ester Ariantini ( 115020301111043)
Melania Septin T. (115020301111048)
Rakhmah Harum K. (115020305111009)
Dinda Amelia K. (115020307111003)


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Anda mungkin juga menyukai